Posted in Fiction, Fluff, PG, Slice of Life, Vignette

Her Problem

Fluff, Slice of Life

PG

Vignette

||KiSoo’Area||

“Testpack?”

.


ELVABARI©2017

.

KETUKAN pintu terdengar memecahkan lamunan Soo Rin. Suara gemericik air keran kembali terdengar yang segera menggerakkan Soo Rin untuk mematikannya. Ditangkupnya wajah sedikit piasnya yang sudah mengering setelah sebelumnya sempat dibasuh.

“Soo Rin-ah, kau baik-baik saja?”

Suara berat dari balik pintu kamar mandi ini menambah poin kesadaran Soo Rin. Entah sudah berapa lama dirinya termenung begini hingga pria itu kini berdiri di luar sana. Tarikan napas Soo Rin justru semakin memberat terlebih pandangannya kembali menemukan tiga benda berjenis sama di sisi wastafel di hadapannya.

Sumber masalahnya saat ini.

“Soo Rin-ah, jawab aku. Kau baik-baik saja di dalam?”

E-eo … tunggu sebentar,” jawaban Soo Rin menjadi akhir aksi diamnya sebelum keluar dari sana. Menyambut sosok yang berdiri di depan pintu dengan raut bingung bercampur heran begitu mendapati dirinya.

“Ada apa? Kenapa wajahmu memprihatinkan seperti ini?” Ki Bum segera menangkup wajah Soo Rin, mengamatinya lebih dekat. Padahal dia hampir menuntut penjelasan kenapa Soo Rin begitu lama sampai dia rela menunda makan malamnya. “Kau sakit? Katakan padaku mana yang sakit.”

Tetapi gelengan pelan dari Soo Rin menjadi pertanda tak baik, sebelum akhirnya Ki Bum tidak sengaja melarikan matanya ke bawah lalu menemukan sesuatu yang tengah digenggam gadis itu.

“Apa ini?” Mendapatkannya tanpa perlawanan, sinar ketertegunan sempat melintas di mata tajamnya. “Testpack? Kenapa kau menggunakan benda ini? Bahkan ketiganya menunjukkan hasil—“

Belum selesai Ki Bum bicara, Soo Rin sudah menubruknya dengan pelukan erat. Gadis itu bahkan menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah ke balik dada pria itu sebelum mulai melontarkan apa yang menjadi beban pikirannya saat ini.

“Kim Ki Bum … bagaimana jika aku mandul?”

Mwo?!

****

Butuh cukup waktu untuk menenangkan Soo Rin. Kini Ki Bum kembali dari dapur membawakan segelas teh hangat beraroma mint untuk Soo Rin yang duduk termangu di ruang tengah. Melihat kondisi gadis kesayangannya yang tampak dirundung kecemasan, tidak memungkinkan bagi mereka untuk memulai makan malam bersama kali ini.

Minum ini. Jernihkan pikiranmu terlebih dulu.”

Soo Rin menerima gelas pemberian Ki Bum. Menyeruputnya sedikit kemudian menjadikannya penghangat di tangannya yang sedari tadi terasa dingin. Ki Bum yang sudah duduk di sampingnya pun ikut memberi kehangatan berupa rangkulan lembut. Memberi waktu bagi Soo Rin untuk mengolah ulang pikirannya yang semrawut.

Mengapa nalarmu bisa sampai sejauh itu? Terlambat cukup lama bukan berarti kau sudah tidak bisa berproduksi,” pembicaraan dibuka oleh Ki Bum setelah memastikan gadisnya ini mulai tenang.

Ki Bum sempat mendengar cerita yang menjadi titik masalah Soo Rin. Gadis itu sudah terlambat datang bulan terlalu lama. Bukan sebulan namun lebih. Bahkan ini sudah maksud bulan ketiga. Sebanyak itu pula Soo Rin memeriksa urinnya sendiri dengan testpack—alat tes kehamilan manual—karena mengira dirinya hamil, namun hasilnya selalu satu garis alias negatif.

Padahal, untuk statusnya yang sudah menikah tentu saja kehamilan menjadi faktor utama terlambatnya datang bulan. Tetapi Soo Rin tidak mendapatkannya. Itulah mengapa dia mengira ada yang tidak beres dengan rahimnya bahkan sampai mengira bahwa dia sudah pada masa menopause dini.

“Habisnya, ini tidak seperti biasanya. Jika terlambat datang bulan setidaknya hanya hitungan hari, tetapi ini sudah berbulan-bulan. Bahkan di awal sebelumnya aku sudah mendapatkan proses yang tidak lancar, datang bulanku sudah tersendat-sendat di hari pertama. Kukira itu hal yang wajar tetapi hingga selesai terus begitu dan berakhir seperti ini,” keluh Soo Rin tanpa ragu lagi.

Nada sedihnya semakin terasa begitu ia memandangi perutnya seraya mengelus-elusnya pelan. “Kupikir perutku sudah isi, itulah mengapa aku selalu memeriksanya dengan testpack. Tetapi hasilnya selalu negatif. Aku jadi berpikir pasti ada yang tidak beres di dalam sini.”

Ki Bum memindahkan gelas yang sudah habis seperempat di tangan Soo Rin ke atas meja. Berganti tangannya yang mengisi kekosongan di sana, bagai pancingan Soo Rin untuk menatap mata tajamnya yang tengah memandang dirinya begitu teduh.

“Ada faktor lain yang menyebabkan siklus datang bulanmu tidak lancar, Soo Rin-ah. Apa yang sedang kaulakukan selama berada di kantor akhir-akhir ini, hm?”

“Apa ada hubungannya datang bulan dengan kantor?”

“Tentu saja ada.” Ki Bum meletakkan telunjuknya ke kening berponi Soo Rin. “Bekerja di bawah tekanan itu sangat memengaruhi produktivitas hormon yang berkaitan. Jika kau merasa tertekan, hormon yang mengatur siklus datang bulanmu bisa tidak berproduksi. Intinya, stres bisa menjadi faktor mengapa kau tidak berovulasi.”

“Stres?” Soo Rin mengerjap bingung.

“Selain itu, pola hidup dan olahraga. Kau yang sibuk bekerja menyebabkan pola hidupmu menjadi tidak berturan. Apalagi kau jarang sekali berolahraga, semua itu memengaruhi siklus datang bulanmu.” Ki Bum melihat bagaimana Soo Rin tertunduk merenungi ucapannya. “Aku melihat belakangan ini kau memang tampak sibuk dan selalu terlihat lelah. Waktu kerjamu juga lebih padat sampai beberapa kali harus lembur. Kurasa itu merupakan alasan mengapa kau mengalami keterlambatan datang bulan hingga seperti ini.”

Helaan napas berat terdengar dari mulut Soo Rin. Pada akhirnya ia menyerah untuk tetap tegak dan beralih jatuh ke pelukan Ki Bum, melepas kesedihannya di sana serta membiarkan tangan-tangan kokoh Kim Ki Bum melingkupi.

Himdeuro jinjja….” (Ini sangat sulit)

“Apa yang sulit, hm?” Ki Bum mengusap kepala Soo Rin dengan sayang, bahkan memberikan kecupan lembut di sana. “Ayo ceritakan padaku.”

“Terlalu banyak deadline yang harus kukejar. Setiap bulannya kantor akan menerbitkan sampai lima buku. Aku selalu mendapat jatah memantau sekaligus finishing. Aku harus mondar-mandir ruang penyuntingan lalu melapor ke manager. Aku lelah, Kim Ki Bum….”

Soo Rin semakin menenggelamkan diri di dekapan hangat prianya, terisak pelan namun ia masih berusaha untuk tidak menangis.

“Mungkin kau benar, aku sedang dalam masa stres, hanya saja aku tidak sadar bahwa aku sedang stres. Hanya berpikir bahwa aku lelah dengan pekerjaanku tetapi aku tidak bisa melarikan diri.”

Ki Bum merasakan tangan-tangan Soo Rin meremat bagian belakang pakaiannya. Menggerakkannya untuk menepuk punggung kecil gadisnya yang lemas.

“Kenapa kau tidak menceritakannya padaku sejak awal? Kesibukanmu juga bisa mengganggu kesehatanmu yang rentan. Seharusnya aku bisa memantaumu untuk masalah itu.”

Soo Rin menggeleng pelan. “Hanya, aku tidak mau merepotkanmu,” ia melepas diri, mendongak hingga matanya bertemu manik hitam milik Ki Bum. “Aku tahu kau juga sedang sibuk di rumah sakit akhir-akhir ini. Awalnya aku berpikir jika itu terjadi maka aku bisa memberi kejutan untukmu, tetapi kemudian aku tidak bisa mengeluh karena mengira ini adalah masalahku seorang.”

Dengusan pelan mengiringi jemari Ki Bum yang tengah merapikan poni Soo Rin, turun membelai sisi wajah Soo Rin yang masih mengumbar ekspresi sedih bercampur cemberutnya.

“Masalahmu adalah masalahku juga, Soo Rin-ah. Kau adalah prioritas utamaku. Sesibuk apapun aku tetap harus tahu apa yang sedang terjadi padamu. Jadi tidak seharusnya kau menyembunyikan hal seperti ini sendirian.”

Mianhae…. wajah Soo Rin kembali tertunduk. Antara merasa bersalah sekaligus terharu.

Kim Ki Bum tidak pernah lupa bahwa Soo Rin adalah sumber utama kehidupannya, seharusnya begitu juga sebaliknya.

“Kalau begitu, bagaimana jika besok kau periksa ke dokter? Aku memiliki kenalan di rumah sakit seorang dokter spesialis kandungan. Dia bisa membantumu mencari solusi lebih tepat untuk mengembalikan siklus datang bulanmu.”

“Benarkah?”

Ki Bum mengangguk meyakinkan Soo Rin yang tampak tertarik. “Akan aku tanyakan padanya untuk meluangkan waktu bertemu denganmu besok. Jika bisa, aku akan menjemputmu di siang harinya.”

“Bagaimana jika aku tidak diizinkan keluar kantor di siang hari?”

“Maka aku akan menuntut bosmu itu agar memberikan cuti beberapa hari untukmu.”

Yaa, memangnya itu solusi terbaik? Kau mengatakannya seolah itu perkara mudah. Kau itu bukan pemilik kantor tempatku bekerja,” gerutu Soo Rin sembari menyusut hidungnya.

“Memang bukan, tetapi aku tentu bisa melakukannya jika itu menyangkut dirimu.” Ki Bum mencubit pucuk hidung Soo Rin sebelum mengusak rambutnya penuh sayang. “Sudah merasa baik? Ingin memulai makan malam sekarang?”

Soo Rin mengangguk disertai senyum kecil. Dia biarkan Ki Bum menggandeng tangannya, mengajaknya berpindah ke ruang makan di mana deretan hidangan sudah menunggu di meja.

“Tapi, Kim Ki Bum, bagaimana kau bisa mengerti masalah itu?”

“Masalah apa?”

“Masalah yang sedang menimpaku. Euh … kau tahu bahwa itu masalah pribadi wanita tetapi sepertinya kau cukup mengerti.”

“Aku adalah dokter, tentu saja aku harus tahu masalah semacam itu.” Ki Bum menghentikan langkah tepat di dekat meja makan, berbalik memandangi Soo Rin yang tampak keheranan. “Meski tidak secara mendalam, aku harus tahu dasarnya.”

“Apa semua dokter dari berbagai bidang juga harus tahu?”

“Tentu saja. Di dunia medis, semua problematik dalam fisik maupun psikis manusia itu saling berkaitan. Seorang dokter harus mengerti agar bisa mengambil tindakan pertolongan.” Ki Bum menyematkan senyum teduhnya, “Apalagi aku memilikimu. Sebagai suami, aku tidak boleh tidak tahu jika hal seperti ini terjadi. Siapa lagi yang akan menenangkanmu seperti ini jika bukan aku?”

Decakan pelan keluar dari bibir mengerucut Soo Rin. Pipinya memerah tersipu berkat ucapan Ki Bum. “Geurae, nae nampyeon-i neomu jjang-ida! (Baiklah, suamiku memang yang terbaik)” ujarnya antara memuji juga menggerutu.

Tentu saja tingkat kegemasan Kim Ki Bum meroket hingga begitu saja dirinya mencium bibir Soo Rin yang cemberut itu, bertahan hitungan detik sebelum membawa mereka kembali ke realita.

Bab meokja!” (Ayo makan)

F I N

*) Menopause :: masa di mana seorang wanita tidak lagi berproduksi dan menstruasi akan berhenti secara permanen. Normalnya terjadi di usia lanjut antara 45-50 tahun. Namun bila hal ini terjadi sebelum usia 40 tahun kemungkinan adanya kelainan seperti kegagalan ovarium dini sehingga disebut sebagai menopause dini.


alohaa, lama tak bersuaa 😄

waduh, ini blog udah berdebu kayaknya ya .. ga pernah dikunjungi sama penulis maupun pembacanya gyahahah I miss you, readers-nim 😣 // but readers miss kisukisu I know that hwhw

cerita di atas berisi curhatan aku sendiri sebenernya .. yah mungkin aku emang lagi stres tapi aku sendiri ga sadar sedangkan tubuh sadar beneran makanya siklus jadi ga normal begitu 😢

So bagi yang merasa sebagai perempuan, jaga kesehatan yaa, jaga pola makan dan rajinlah berolahraga, jangan kayak saya yang gerak aja mager ga ketulungan gyahahah

dan maaf ya, aku kembali malah bawa cerita ini. Aku tau ada utang di sini tapi aku juga takut buat ngasih janji manis kesekian kalinya .. jadi yah, aku berharap kalian masih bersedia ngasih apresiasi untuk kemunculan mereka kembali heheheh 😅😅

thank you for reading! 💞💞

sincerely,
Elvabari

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

17 thoughts on “Her Problem

  1. Miss miss you sikaci
    and miss kisukisu jga 🙂

    ikhhh kibum makin love love dehhh 🙂

    sweet bingit dahhh …

  2. demi apa????
    kisukisu akhr ny update stelah skian lma trlantar…ha3x…
    lmayan bsa bwat obatin kgn di hati 😆😆😆
    lg sist yg pnjang gtu…
    klo bsa buatin crta waktu kibum tw soorin hmil…
    pnasaran ma reaksi ny 😄😄😄
    smangat trus ya 😉

  3. Wellcome back kisukisu 🙏
    Nah kan .. ada info lagi dari author~nim 😆😆 pengetahuannya nambah lagi 😁😁
    semoga ide buat kisukisu nya lancar ya 😘😘😘😘

  4. Hallo eonni aku rindu sekali dengan ceritamu ehe jadi akutu juga ngerasain gitu tau siklus ga lancar dan emang aku stres kulya hehehehe aku kok berasa kek lagi curhat beneran sama Kibum HAHAHAHA kutunggu cerita eonni yang lain hehe

  5. Yawlaahhhh menunggu terus akhirnya menetas 😢😢 ku rindu sangat pada mereka ini .. lah ngomong apa saya yaa .. pokonya kangen aja titik(.) 😂😂

  6. Udah lama ga update akhirnya muncul juga miss miss 😙
    Ayoo eonni buat SooRin hamil, gemes akunya mereka produksi terus tapi ga jadi2 hehehe

  7. udah lama enggak liat moment mereka akhirnya update juga miss you so much, duh…duh kapan nih soorin hamil yang sabar ya nungguinnya, kalau belom dapet mungkin masih waktunya mesra mesraan sama kim kibum

  8. Wahhh dari judulnya aku berharap bgt soorin hamil 😂 but it’s ok aku harap soorin cepet sembuh begitu juga dgn ka elvabari semoga siklus bulanannua lancar lagi dan makin semangat nulis!^^

  9. Do you know ? I really miss to read this story I mean your story, it’s been along time I haven’t read your story and now I read it, the first time I saw “testpack” as soon as I reading it ㅋㅋㅋ. You always good usually and I like it ^^
    Keep writing and I’ll always waiting for the next and another story. 파이팅 !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s