Posted in Adult, Campus Life, Fiction, Friendship, KiSoo FF "WHATTA MAN", PG-17, Romance

WHATTA MAN – His Past, His Weakness

wp-1486179652568.jpeg

Adult, Campus Life, Friendship, Romance

PG-17

before :: [0] Wild Class | [1] Attention | [2] Bad Man | [3] Just Started | [4] Warn You | [5] My Zone | [6] How Are You? | Protected: [7] I Hate You | [8] I’m Sorry | [9] Confusing Moments | [10] She Is Back

Clue :: I.H.U [Spoiler]

“I’m blowing up right now.”

H A P P Y      R E A D I N G

.


ELVABARI©2017

.

SOO RIN menyeret mundur kaki-kakinya tanpa sadar, ketika matanya melebar disertai napas tercekat melihat secara nyata bagaimana Ahn Hye Min mendatangi Kim Ki Bum dan langsung memeluk pria itu. Tangan yang menggenggam ponsel milik wanita itu mengepal begitu saja. Sebelum akalnya menghilang akibat perasaan tak biasa hinggap di benaknya, buru-buru Soo Rin berbalik, di detik itu juga ia terperanjat mendapati seorang wanita ternyata sudah berdiri di dekatnya.

Hey, Dear! What are you doing in here?” Jae menyapa dengan senyum menawan. “Do you wanna meet Kim? He’s there—ow…” raut wajahnya langsung berubah ketika dia nyaris menunjuk pria yang ternyata sedang berhadapan dengan seorang wanita, lalu matanya kembali melirik keadaan gadis berkacamata yang sudah menurunkan pandangannya.

“A-aku tidak mau bertemu dengannya.” Soo Rin agak terbata, tangannya kemudian terulur di mana ponsel di genggaman itu terbawa ke hadapan Jae. “Aku hanya ingin mengantar ini pada wanita yang sedang bersamanya. Dia, tidak sengaja meninggalkannya. Jadi, bisakah aku minta tolong padamu untuk menyerahkan padanya? Aku … masih ada urusan.”

Penjelasan bercampur permintaan tolong dari Soo Rin sudah cukup bagi Jae untuk memelajari kondisi gadis itu saat ini. Makanya ia langsung mengabulkan dengan menerima benda tersebut.

“Akan aku pastikan ini sampai ke tangannya.” Jae tersenyum tepat kala gadis itu mendongak beberapa saat. Kemudian tangannya mengusap poni si gadis bermaksud sedikit memulihkan aura yang menguar. “Kalau begitu berhati-hatilah di jalan. Aku adalah orang yang selalu mengkhawatirkan keadaanmu.”

Soo Rin tertegun mendengarnya. Tidak mengerti mengapa wanita cantik ini bicara demikian. Tetapi Soo Rin masih sadar bahwa dirinya tidak boleh berlama-lama di sini. Itulah mengapa dia segera menunduk sopan dan berpamitan pada Jae.

Langkah-langkahnya membawa diri Soo Rin sampai ke halte. Dia sampai tidak berpikir bagaimana bisa dirinya berjalan tanpa memerhatikan sekitar dan untungnya menyeberang jalan dengan selamat. Pikirannya sudah terlanjur dipenuhi dengan bayangan beberapa saat lalu. Ia menangkup tangannya di dada, terdiam, merasakan dadanya bergemuruh tidak menentu sampai harus menelan saliva kepayahan.

Ada apa ini? Kenapa dengan benaknya? Rasanya tidak menyenangkan sekali. Soo Rin seperti merasakan kesedihan bercampur ketidaksenangan dan ini sungguh tidak biasa. Kenapa dia harus tidak senang ketika bayangan Ahn Hye Min memeluk Kim Ki Bum berputar-putar di kepalanya?

“Ada apa denganku?” Soo Rin menekan dadanya sendiri, mencoba meresapi di dalam sana ternyata semakin bergemuruh di mana perasaan tidak mengenakkan itu justru bagai semakin memenuhi isi batinnya.

Dia merasakan dadanya berubah sesak. Padahal Soo Rin tidak memiliki riwayat penyakit pernapasan.

“Park Soo Rin.”

Panggilan tak terduga itu menyentakkan Soo Rin. Iris di balik kacamatanya mengerjap sebagaimana dengan munculnya sorot terpana mendapati pemuda itu sudah berdiri di depannya. Soo Rin merasa takjub sendiri karena tidak menyadari ada mobil sudah terparkir di depan halte tempat dirinya duduk saat ini.

“Hong Ji Soo? Kenapa—” suara Soo Rin tercekat. Memilih tidak melanjutkan lantaran pemuda itu mendekat hingga hanya menyisakan ujung sepatu mereka sebagai jarak.

“Masuklah. Biar kuantar kau pulang.” Ji Soo bagai menghipnotis Soo Rin untuk mengikuti titahan halusnya. Dia pun segera kembali ke kursi kemudi setelah berhasil mengantar gadis itu duduk di sebelah tempatnya kini.

Hening menyelimuti untuk beberapa saat setelah Ji Soo melajukan mobilnya menjauh dari area tersebut. Pemuda itu memang membiarkan gadis di sebelahnya tenang terlebih dulu. Karena terbaca sekali bahwa Park Soo Rin butuh waktu untuk memulihkan diri.

“Bagaimana kau bisa tahu … aku ada di sana?” Soo Rin membuka suara pada akhirnya, menengok sebentar yang sejurus kemudian pemuda itu membalasnya.

“Aku tidak sengaja melihatmu berada di sana.” Ji Soo menjawab dengan tatapan kembali lurus. “Sedang apa kau di sana?”

“Tidak ada,” jawaban yang cukup cepat keluar dari mulut Soo Rin. Sadar akan hal itu Soo Rin pun segera memalingkan wajah ke luar jendela.

Ji Soo menyadari itu. Makanya sudut bibirnya sedikit terangkat meski bukan menjadi sebuah senyuman.

“Apa saja yang kaubicarakan bersama dosen itu?”

Seketika Soo Rin menoleh, kaget tentunya mendengar pertanyaan telak dari Hong Ji Soo. “K-kau menguntit kami, ya?”

“Menguntitmu, lebih tepatnya.”

“Ke-kenapa?”

“Kenapa aku harus menjawab di saat aku sudah bertanya lebih dulu?”

“Kenapa kau ingin tahu?”

Ji Soo akhirnya menengok rupa Soo Rin, sudah ada tatapan menuntut untuknya dari gadis itu. “Kau baru saja bertemu dengan orang yang pernah berurusan denganku.”

“Begitu…” Soo Rin justru merasa dirinya baru saja mendapat lampu hijau untuk mengajukan kurioritasnya. “Jadi kau pernah mengenal Dosen Ahn?”

Sayangnya tidak ada jawaban berarti dari Ji Soo. Memancing Soo Rin untuk bicara lagi.

“Dia mengatakan bahwa kalian pernah saling mengenal. Tetapi sepertinya kau sudah melupakannya karena itu dia tidak bisa mengatakan sesuatu padamu.”

“Sesuatu apa?”

“Aku tidak tahu. Kenapa tidak kautanyakan langsung padanya?” Soo Rin kini menatap penuh pemuda di sampingnya. “Kau menyimpan dendam padanya, ya?”

Dengusan cepat meluncur begitu saja dari mulut Ji Soo, menarik bibirnya membentuk sunggingan yang baru kali ini Soo Rin lihat tersemat di sana.

“Tidak.”

“Tidak?” Soo Rin mengulang jawaban Ji Soo. “Lalu?”

“Kau penasaran?”

“Kau yang memancingku untuk bicara akan hal ini. Jadi, sepertinya tidak ada larangan untukku agar berhenti penasaran.”

“Tapi rasa penasaranmu bisa mengantarmu pada situasi yang tidak seharusnya kausambangi, Park Soo Rin. Apa itu tidak masalah?”

Soo Rin mengerjap, diam untuk beberapa saat sementara Ji Soo merasa leluasa untuk mengemudikan mobilnya.

“Kau mengajukan pertanyaan yang salah. Seharusnya itu ditujukan untukmu bukan aku. Apa tidak masalah jika aku bertanya hal yang berhubungan dengan masa lalumu?”

“Kau benar.” Ji Soo menggumam di kala mata fokusnya mulai menerawang. “Tapi semua itu ada hubungannya dengan Dosen Kim. Apa kau tidak keberatan dengan itu?”

Soo Rin terdiam lagi. Memberi kesempatan Ji Soo untuk bicara lagi.

“Aku menebak kau sudah tahu bahwa dosen itu juga mengenal Dosen Kim. Dan kurasa, kau juga penasaran akan hubungan mereka.”

Lalu Soo Rin berdeham. “Aku tidak penasaran dengan hubungan mereka. Hanya ingin tahu mengapa kau terlihat tidak menerima kehadiran Dosen Ahn.”

“Karena semua itu ada kaitannya dengan Dosen Kim, Park Soo Rin.”

“Ah, sudahlah! Tidak seharusnya aku banyak bertanya.” Soo Rin mengibaskan tangan. “Maaf aku sudah ikut campur.”

Ji Soo mengamati gadis yang kembali memalingkan wajah darinya. Memilih tidak bersuara lagi dan mengalihkan fokus ke depan lagi.

“Sepertinya apa yang mereka katakan itu benar, bahwa aku terkena kutukan si dosen itu.”

Merupakan suara terakhir yang keluar dari mulut Soo Rin dan masih bisa didengar oleh Ji Soo. Tidak ada komentar, tetapi Ji Soo mengerti maksud terselubung dari gumaman melirih dari gadis itu.

Karena itu Ji Soo hanya bisa mengeratkan pegangannya di roda kemudi dalam diam.

****

“Sudah bertemu dengan si dosen baru?”

Soo Jin membuka percakapan di sela makan malam bersama adiknya. Melirik gadis berkacamata yang tengah menyuap sesendok bibimbap dengan lahap. Tidak bisa ditahan lagi, Soo Jin yang sebenarnya selalu memerhatikan cara makan Soo Rin yang selalu membuka mulut lebar-lebar tiap menyantap masakan andalannya ini berhasil membuatnya gemas, karena kemudian Soo Jin harus membersihkan sudut-sudut bibir adiknya yang belepotan itu.

Hng!” hanya begitu, mengangguk sekali dibarengi senyum sebelum kembali berkutat dengan mangkuk bibimbap-nya.

“Hanya itu? Tidak ada kesan menarik?”

“Dia sangat ramah,” Soo Rin menyuap mulutnya lagi, “dan mengenal baik para mahasiswanya.”

“Telan dulu,” tegur Soo Jin yang dibalas senyum polos dari sang adik.

“Berapa banyak Eonni bercerita soal aku pada Hye Min Eonni? Dia bahkan sampai mengajakku keluar kampus hanya untuk mengobrol denganku,” ujar Soo Rin setelah berhasil menelan makanannya.

“Itu kabar yang sangat baik.” Soo Jin melebarkan senyum. “Tidak banyak. Sudah kubilang kalau dia sudah tahu Eonni memiliki adik yang pintar. Dosen mana yang tidak tertarik pada mahasiswa yang pintar?” lanjutnya sambil mengaduk-aduk makanannya sendiri. “Tapi Eonni tidak menyangka bahwa kalian akan cepat dekat. Kau bahkan sudah memanggilnya dengan sebutan Eonni.”

“Dia memang teman mengobrol yang menyenangkan,” kekehan diselingi cengiran menjadi penutup Soo Rin sebelum kembali menyuap makanannya. Untuk beberapa saat ruang makan mungil itu diselimuti keheningan biasa. Tetapi sebenarnya Soo Rin sedang menimbang-nimbang di dalam hati mengenai rasa ingin tahunya yang mungkin saja bisa dijawab oleh sang kakak. “Um … Eonni…

Hm?”

“Apa … Hye Min Eonni pernah memiliki kekasih?”

“Tentu saja pernah. Hye Min ‘kan wanita dewasa dan dia sangat cantik.” Soo Jin menjawab dengan santai. “Tapi untuk sekarang Eonni tidak tahu apakah dia sudah berkencan lagi atau belum. Sewaktu dia belum pindah, Eonni hanya tahu bahwa dia memiliki kekasih dan sudah menjalani hubungan itu cukup lama. Sekitar … hampir tiga tahun? Eonni tidak yakin, dia cukup tertutup untuk urusan seperti itu. Setelahnya Eonni hanya mendengar kabar bahwa dia sudah putus dengan kekasihnya itu begitu dia pindah ke luar negeri.”

“Aah, begitu…” Soo Rin mengangguk lemah, kepalanya tertunduk begitu saja sehingga Soo Jin tidak menangkap perubahan ekspresinya.

“Hanya saja … Hye Min yang dulu punya kehidupan yang sedikit bebas. Eonni pernah sesekali menemaninya pergi minum di tempat—kautahu itu. Itu bukanlah hal yang salah mengingat kami sudah cukup dewasa saat itu. Lagipula dia memang hanya sebatas minum dan bertemu dengan kekasihnya di sana. Dan Eonni memang sempat melihat kekasihnya itu. Hanya sebentar. Dia—”

Soo Rin yang sedari tadi menunduk, tertarik untuk melirik kakaknya yang tiba-tiba berhenti bercerita. Kemudian mengerjap mendapati ekspresi Soo Jin sudah berubah, terpaku seolah tengah memikirkan suatu hal yang mengejutkan.

Eonni kenapa berhenti?” Soo Rin mengernyit bingung, ia pun melambaikan tangan di hadapan wajah Soo Jin dan berhasil. “Eonni tidak apa-apa? Ada apa?”

“O-oh … ah, t-tidak ada. Eonni hanya—” mendadak Soo Jin kehilangan kata-kata. Ia membasahi bibirnya lalu tampak meneguk saliva. “Aah, tidak seharusnya Eonni bercerita masa lalu seseorang di saat dia sudah berubah. Kenapa juga kau tiba-tiba ingin tahu soal itu, huh?” kekehan hambar menjadi penutup sebelum Soo Jin meraih segelas air putih miliknya untuk kemudian diteguknya.

Soo Rin tersenyum tanggung, membenarkan ucapan kakaknya meski dalam hati ia kurang puas dengan cerita soal wanita itu. Kalau memang tebakannya benar, itu berarti Ahn Hye Min memiliki hubungan dengan Kim Ki Bum, mungkin juga Hong Ji Soo.

Sedangkan Soo Jin sendiri terpaksa menunduk di saat otaknya mulai mengingat masa lalu temannya yang sempat terlupakan. Benar juga, pantas saja Soo Jin merasa tidak asing lagi dengan pria yang pernah mengantar adiknya pulang dalam keadaan terluka. Ternyata pria yang mengaku sebagai dosen adiknya itu adalah mantan kekasih temannya, Ahn Hye Min.

Dan mereka sekarang berada di lingkungan yang sama. Bersama adiknya.

****

Hari berikutnya, Soo Rin terlihat tidak seperti biasanya. Dia yang terkenal bersemangat jika akan menghadapi mata kuliah apapun, kali ini memasuki area fakultasnya dengan kepala tertunduk lesu. Lisa dan Sandara dikabarkan masih bermalas-malasan di flat mereka mengingat jadwal kuliah pertama di hari ini di pukul sepuluh—masih ada sekitar satu jam lagi. Sedangkan Hong Ji Soo, sudah ada kelas sejak pagi mengingat betapa rajinnya pemuda itu mengejar kredit semester. Jadi Soo Rin tidak memiliki teman mengobrol maupun teman untuk mengerjakan tugas apapun itu dan akhirnya memilih untuk singgah ke perpustakaan.

“Park Soo Rin!”

Tapi panggilan yang terdengar tidak asing itu menghentikan niat Soo Rin lalu sirna begitu saja begitu mendapati ternyata Ahn Hye Min menghampirinya. Mau tidak mau Soo Rin berbalik menyambut sapaan dosen baru itu dengan bungkukan sopan. Dia masih ingat di mana mereka sekarang.

“Sedang senggang?”

“Ya, jadwal kuliahku hari ini sedikit santai.” Soo Rin mencoba tersenyum. “Omong-omong, ada perlu apa Dosen Ahn memanggilku?”

Hye Min paham akan cara bicara Soo Rin yang sudah berubah formal. Namun ia sudah lebih dulu dibuat penasaran akan suatu hal.

“Soal kemarin, kau yang mengantarkan ponselku ke—” Hye Min sengaja tidak melanjutkan ucapannya, berharap gadis di hadapannya mengerti.

“Ya. Aku yang mengantarnya karena aku yang menemukannya. Tapi kemarin aku tidak berani masuk jadi aku meminta tolong seseorang. Aku bersyukur ponselnya sampai kepada Dosen Ahn.”

Hye Min mengangguk sejenak. “Tapi sepertinya orang yang mengantarkan ponselku sudah mengenalmu.”

“Y-ya?”

“Dia menyebut soal dirimu begitu akrab. Dan dia mengatakan sesuatu mengenai kau … bersama Kim Ki Bum.”

Soo Rin terhenyak dalam diam, meneguk saliva kepayahan, tepat setelah wanita itu menyebut satu nama yang bagai memojokkannya. Terlebih muncul tatapan tak biasa keluar dari mata indah wanita itu, tertuju untuknya.

“Do-Dosen Kim? A-aku tidak begitu mengenalnya, mungkin orang itu sedang mengada-ngada.”

“Tapi dia cukup mengenal Kim Ki Bum, dan kau.” Hye Min semakin menunjukkan sorot curiga, melihat perubahan ekspresi Soo Rin yang makin kentara. “Apa, kau pernah terlibat sesuatu bersama Kim Ki Bum?”

“Tidak!” Soo Rin menggeleng cepat, matanya langsung bergerak tak menentu ke bawah. “Aku tidak begitu mengenal Dosen Kim, apalagi orang itu. Kemarin, aku hanya asal memilih orang dan kebetulan aku mendapatkan wanita yang cukup baik. Itu saja.”

Tapi Hye Min tahu, Soo Rin tidak sepenuhnya berkata jujur. Terbaca sekali bahwa gadis itu tidak pandai berbohong. Itu justru memancing Hye Min untuk mencari tahu, mengingat bagaimana Kim Ki Bum kemarin langsung pergi meninggalkannya hanya karena mendengar kabar dari wanita bernama Jae itu bahwa seseorang yang disebut sebagai gadis milik pria itu sempat datang. Hye Min tidak bisa menebak siapa lagi orang yang dimaksud jika bukan sosok yang kini berdiri tidak nyaman di hadapannya.

“Park Soo Rin.”

Suara berat itu menengahi, mereka menoleh kompak dan bereaksi sama. Menemukan pria itu mendekat dengan tatapan tertuju hanya pada pemilik nama yang baru saja disebutkan.

Soo Rin jelas tidak bisa mengelak apalagi berencana kabur. Kim Ki Bum seperti menghipnotisnya untuk tidak bergerak satu senti pun dari tempatnya berdiri hingga pria itu berdiri di hadapannya, mengabaikan seseorang yang terperangah akan tindakannya yang tidak mengalihkan pandangan ke mana pun. Hanya pada gadis berkacamata itu.

“Ke ruanganku. Sekarang juga.” Satu tarikan napas, begitu dalam dan penuh penekanan yang jelas tidak boleh dibantah, barulah Ki Bum berlalu begitu saja.

Soo Rin mulai dirundung kepanikan. Pasalnya dia baru saja membantah semua tuduhan tak langsung dari Hye Min mengenai dirinya bersama Kim Ki Bum, tetapi pria itu justru memperparah dengan mengajukan perintah seperti itu. Soo Rin bagai orang bodoh yang terpaksa menurut dan langsung undur diri dari wanita itu.

Hye Min hanya sebatas mengantar kepergian Soo Rin, mengikuti jejak pria yang hanya sempat ia pandang tanpa adanya balasan berarti. Dilihat dari cara pria itu menatap Park Soo Rin, Hye Min semakin dirundung gelisah akan segala kemungkinan yang bermunculan di pikirannya. Yang baginya itu tidak mungkin terjadi dan tidak seharusnya terjadi.

Memasuki ruangan Kim Ki Bum, Soo Rin langsung disuguhi pemandangan di mana pria itu berdiri tegak tepat di depan meja, menghadap ke arahnya seolah menunggu kedatangannya, dihiasi ekspresi yang tidak biasa di mata Soo Rin. Tetapi Soo Rin berusaha bersikap normal, menutup kembali pintu ruangan perlahan lalu berdiri tiga langkah di hadapan pria itu. Berdeham pelan.

“Ada apa memanggilku?”

“Bagaimana kau bisa melakukan hal itu kemarin?” tanpa basa-basi, Ki Bum langsung menjatuhkan interogasi. Soo Rin jelas agak kelabakan.

“Apa maksudmu?”

“Aku tahu otak pintarmu bisa mencerna dengan cepat maksud dari pertanyaanku.” Ki Bum menatap lurus-lurus gadis itu. “Atau memang perlu kuperjelas lagi? Bagaimana kau bisa memegang ponsel wanita itu dan berani menginjakkan kakimu di sana lagi?”

“Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sana?” sejurus kemudian Soo Rin menyesal telah bertanya demikian. “Pasti wanita bernama Jae itu yang memberitahumu,” dumalnya pelan namun masih bisa didengar oleh Ki Bum.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” suara tanpa intonasi namun jelas tengah menuntut Soo Rin sudah cukup membuat gadis itu mendengus jengah.

“Aku dan Dosen Ahn sempat bertemu dan dia tidak sengaja meninggalkan ponselnya. Aku hanya melakukan apa yang semestinya kulakukan.”

“Sudah sejauh mana pertemuanmu dengannya?”

“Apa itu penting untukmu, Dosen Kim?”

“Aku mengajukan pertanyaan padamu, Park Soo Rin, yang perlu kaulakukan hanyalah menjawabnya bukan berbalik bertanya.”

“Jika kau memang ingin tahu, kenapa tidak kau tanyakan saja pada Dosen Ahn sendiri? Aku tidak mau asal menjawab karena bisa dituduh sudah menjilat seorang dosen.”

Tanpa diduga, Ki Bum membuka kaki-kakinya dengan lebar, menghapus jarak mereka hanya dalam sekejap di mana Soo Rin jelas tidak siap menerima sehingga ia nyaris terjungkal kalau saja Ki Bum tidak menahan satu lengannya, mencengkeram hingga Soo Rin terkejut berkali lipat tidak percaya menemukan tatapan mencenungkan itu.

“Jika kau memang enggan menjawab, maka biarkan aku mengatakan sesuatu padamu,” Ki Bum sengaja melakukan jeda, mengamati perubahan air wajah gadis berkacamata itu dengan mata tajamnya. “Jangan pernah mencoba-coba berurusan dengan wanita itu di luar kampus.”

“Atas dasar apa kau mengajukan ultimatum seperti itu, Dosen Kim?” Soo Rin memertahankan raut datarnya. “Jika itu berhubungan dengan masalah pribadimu, aku tidak bisa menurutinya karena jelas aku tidak ikut campur dengan masalah tersebut.”

“Cukup ikuti saja perintahku, Park Soo Rin!”

“Perintah?” suara Soo Rin nyaris bergetar, terpengaruh dengan suara Ki Bum yang mulai meninggi. “Kau memerintahku untuk menjauhi seorang dosen tanpa alasan yang jelas? Jangan bercanda, Dosen Kim! Aku masih sadar kalau aku masih dalam masa hukumanmu tetapi bukan berarti kau memiliki hak untuk melakukan hal itu hanya demi kepentinganmu!”

“Aku tidak menerima bantahan darimu!!”

Soo Rin tak mampu mengatup mulutnya, terkejut akan bentakan tak terduga keluar dari mulut Kim Ki Bum. Keheningan mendadak mencekam keduanya, di mana Ki Bum tampak menahan marah sedangkan Soo Rin mengepal kedua tangan terlampau kuat di kedua sisi tubuhnya.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau begini hanya karena aku bisa mengenal Dosen Ahn? Apa kau tidak terima aku bisa mengenal seseorang yang memiliki hubungan denganmu?” dengusan singkat menjadi jeda untuk Soo Rin. “Aku tidak tahu hubungan macam apa yang kaumiliki bersama Dosen Ahn tapi aku tidak peduli karena itu bukan urusanku. Jadi jika kau melarangku untuk melakukan hal yang jelas tidak aku mengerti maksudnya, kau terlalu berlebihan, Dosen Kim!”

Tepat ketika memutar tubuhnya, saat itu juga Soo Rin tersadar bahwa ia baru saja berkata bohong. Hatinya berteriak mengatakan bahwa dirinya jelas ingin tahu apa yang terjadi antara Ahn Hye Min dengan Kim Ki Bum. Bayang-bayang di mana ia melihat wanita itu memeluk Ki Bum di club kemarin kembali menghantui pikirannya yang sedang jauh dari kondisi jernih.

Dan seolah pria itu tahu benar keadaannya, Soo Rin ditarik kembali menghadap sang pelaku, bertemu dengan netra hitam kelam itu bagai menikam telak matanya bagai laser.

If I tell you who she is, I wonder if you will change your mind or not. (Jika aku memberitahumu siapa dia, aku penasaran apakah kau akan berubah pikiran atau tidak.)” Ki Bum mengatakannya dengan gigi mengatup di balik bibirnya. “Or should I bring his name in this case? (Atau haruskah aku membawa namanya dalam hal ini?) Hong Ji Soo?

Mata Soo Rin berkilat dan Ki Bum mampu menangkapnya, yang saat itu juga Ki Bum melepas cengkeramannya dari Soo Rin, “Ternyata kau baru akan bereaksi jika aku menyebut namanya,” ada sirat kegetiran di sana diiringi seringai tak biasa, kemudian menyibak rambutnya dengan jemari hingga berantakan, menarik mundur dirinya satu langkah dari Soo Rin.

Sedangkan gadis itu terpaksa diam. Bukan karena membenarkan, tetapi karena terlanjur terpana dengan segala ekspresi yang keluar dari wajah Kim Ki Bum. Bibirnya mendadak kelu hingga tak mampu sebatas berkata, “Bukan begitu,” berganti batinnya yang menyerukan dua kata tersebut.

Seperti ada yang menohok jantungnya melihat Kim Ki Bum baru saja menunjukkan kelemahan di hadapannya.

Dan ia tidak bisa mengelak seterusnya karena pintu ruangan ini sudah terbuka, menampakkan Hwang Se Ra melenggang masuk tanpa basa-basi dibarengi senyum penuh arti ditujukan pada Kim Ki Bum.

“Oh, aku tidak tahu jika kau sedang kedatangan seorang murid.” Se Ra mendekat dengan percaya diri, berdiri rapat di dekat pria itu. Matanya tertuju pada Soo Rin yang memang tengah menatap kaget dirinya.

Soo Rin tahu akan adanya isyarat mengusir dari tatapan wanita itu. Itulah mengapa ia segera menetralkan mimik wajah dan memisahkan diri. “K-kalau begitu, aku pamit keluar, Dosen Kim.”

Dia sudah membungkuk sesopan mungkin, nyaris berbalik, namun muncul cekalan di tangannya, meloncatkan jantungnya ketika melihat sendiri bagaimana tangan besar itulah pelakunya.

“Siapa yang menyuruhmu keluar di saat aku belum selesai denganmu?”

Jelas saja Soo Rin mulai kelabakan. Melirik Se Ra yang memang tangah menajamkan tatapannya pada apa yang seharusnya tidak terlihat. Mengisyaratkan Ki Bum agar berhenti, tapi nyatanya Soo Rin justru merasakan cekalan itu mengetat di sana.

“Ada apa ini, Dosen Kim? Apa mahasiswi terpintar kita sedang ada masalah?”

“Ya, dia sedang ada masalah denganku. Jadi bisakah kau keluar sebelum aku benar-benar mengusirmu?”

Jawaban penuh penekanan dari Ki Bum cukup membuat Se Ra tertegun, tetapi wanita itu pandai menyembunyikannya dengan senyum menawan dan justru mulai berani menyentuh lengan pria itu. Soo Rin bisa melihatnya, bagaimana jemari lentik itu melakukan gerakan berarti sebelum bergelayut di bagian yang kekar milik Kim Ki Bum dan entah mengapa itu memancing rasa ketidaksukaan.

Easy, Mr. Kim. Sepertinya masalah yang kaumaksud cukup serius, ya? Tapi aku tidak menyangka bahwa mahasiswi pintar kita bisa membuat masalah, dengan seorang dosen?” Se Ra melirik gadis berkacamata itu, ada kilat menghakimi bercampur meremehkan ditujukan pada si gadis, yang tidak seharusnya dia tunjukkan dalam statusnya sebagai seorang dosen.

Apa karena ini bukan berada dalam konteks perkuliahan maka sikapnya yang selalu elegan di depan kelas itu lenyap begitu saja? Tapi dengan begitu, Soo Rin akhirnya menyadari bahwa wanita bernama Hwang Se Ra ini tidaklah sebaik yang selalu dia lihat selama ini. Mengingatkannya akan kata-kata frontal dari Lisa tempo lalu.

“Itulah mengapa aku tidak suka dengan Dosen Hwang … She is a real bitch, you know?”

Dan sepertinya kini Soo Rin menyetujuinya.

Ki Bum lantas tidak tinggal diam. Menepis tangan wanita itu dari lengannya yang otomatis jarak mereka terenggang. Matanya yang sedari tadi menyimpan banyak emosi akhirnya mencuat begitu saja untuk Hwang Se Ra, mengejutkan wanita itu akan apa yang dilakukan berikutnya.

“Sepertinya kau cukup bodoh untuk mencerna maksud perkataanku, Miss Hwang. Apa kau tidak lihat?” Ki Bum mengangkat tangan Soo Rin yang masih ia genggam sehingga gadis itu terpaksa mendekat, “Aku sedang mencoba menyelesaikan masalah dengan gadisku tetapi kau justru mengganggu.”

Tidak hanya Se Ra, Soo Rin pun tidak kalah untuk terkejut berkat kalimat terakhir yang meluncur mulus dari mulut—sialan—Kim Ki Bum. Gadis itu mulai meronta yang justru semakin dirasakan cekalan tersebut bagai mencekiknya.

“A-apa yang kaubicarakan, Dosen Kim? Jangan mengada-ngada!”

“Mengada-ngada?” tatapan tajam itu jatuh kembali pada netra berbingkai milik Soo Rin. “Kapan aku pernah mengada-ngada? Aku tidak pernah melakukannya jika itu berkaitan denganmu, Park Soo Rin. Kau masih tidak mau menerima kenyataan?”

“Apa-apaan ini?” Se Ra akhirnya menemukan kembali suaranya. Dia mendengus tidak percaya, menatap Ki Bum maupun Soo Rin bergantian. “Kau mengatakan bahwa dia adalah gadismu? Jangan bercanda, Dosen Kim. Aku tahu kau sedang ada masalah dengannya tapi sepertinya kau—”

“Tapi sepertinya kau memang benar-benar bodoh dalam mencerna ucapanku.” Ki Bum menyambar telak. “Kau berlaga tahu soal diriku tapi sebenarnya pengetahuanmu benar-benar kosong. Jangan berpikir seolah aku menganggapmu spesial hanya karena pernah berbagi ciuman denganku. Itu jelas tidak ada artinya bagiku, sama sekali.”

Ki Bum menarik Soo Rin semakin mendekat. Gadis itu bagai bocah tak berdaya, bungkam seribu bahasa dan memilih melarikan pandangannya ke bawah. Karena dia tahu, wanita itu sudah melaser tajam dirinya bagai ingin melubangi kepalanya.

“Jika kau memang tidak ada niat untuk keluar, biar aku dan gadisku yang melakukannya,” begitu saja. Mengajak Soo Rin untuk mengikuti langkah-langkah cepatnya keluar, meninggalkan wanita yang berdiri kaku dengan tangan-tangan terkepal di ruangannya.

Hwang Se Ra jelas merasakan harga dirinya habis diinjak oleh pria itu. Terlebih dirinya seperti baru saja dikalahkan oleh gadis yang jelas-jelas bukanlah selera seorang pria dewasa dan panas seperti Kim Ki Bum. Bagaimana mungkin? Dia tersaingkan oleh seorang mahasiswi kutu buku?

“Aku tidak terima ini,” desisnya, sarat akan ketidaksukaan.

.

Sedangkan di luar sana, beberapa mahasiswa yang berlalu-lalang di sepanjang koridor, mulai menaruh atensi pada keduanya. Pemandangan yang sungguh tidak biasa mengenai Dosen Kim menggandeng seorang gadis dan dia adalah Park Soo Rin si mahasiswi kutu buku, sudah cukup mengundang ketertarikan bercampur penasaran mereka.

“Dosen Kim, tolong lepaskan tanganmu!” Soo Rin masih berusaha melepas diri. Suaranya mulai timbul gemetar lantaran merasakan sendiri begitu banyak pasang mata menghujam dirinya, berhasil membuat wajahnya memucat. Belum lagi masih harus mengimbangi langkah-langkah cepat nan lebar pria itu hingga Soo Rin harus berlari-lari kecil, cukup untuk memroduksi keringat dingin di sisi-sisi wajahnya.

Sayangnya Ki Bum bagai sudah tak peduli dengan nasib yang bisa saja menimpa Soo Rin. Dia sudah terlanjur digerogoti rasa marah. Kepalanya terasa panas sampai ke ubun-ubun, dia akan berterima kasih pada Hwang Se Ra yang berhasil memancing emosi yang sedari tadi ditahannya menjadi pecah menjalar sekarang. Dan sebelum dia melakukan sesuatu terhadap gadis-yang-seharusnya-tidak-dilibatkan ini, ada baiknya untuk membawa sang gadis ke tangan sementara.

Menuju sebuah ruangan di mana banyak mahasiswa berhambur keluar dari sana, menerobos begitu saja hingga menemukan sosok yang dicari. Lagi-lagi kedatangan tiba-tiba seorang Kim Ki Bum sambil menggandeng tangan Park Soo Rin berhasil membuat sebagian dari mereka melipir ke arah jendela hanya demi menyaksikan apa yang terjadi di dalam sana.

Hong Ji Soo nyaris menunjukkan keterkejutannya secara gamblang, melihat bagaimana pria itu mengantar Soo Rin hingga berdiri di sebelahnya, dan Ji Soo langsung menangkap gadis itu karena nyaris hilang keseimbangan. Bisa dilihat betapa pucatnya wajah Soo Rin yang berhasil memancing kecemasannya.

Watch her for a while. I’m blowing up right now. (Jaga dia sementara. Aku sedang marah sekarang)” lalu Ki Bum berlalu begitu saja, bagai meninggalkan suara beratnya yang sarat akan emosi mendalam kala mengatakannya hingga menancap tepat pada gadis yang nyaris tak berkutik saat ini.

Ji Soo menyadari itu. Pria yang baru saja menunjukkan sesuatu secara tersirat padanya, sudah cukup membuat Ji Soo kini memandang Soo Rin dengan kilat tak terbaca di matanya.

Sedangkan Soo Rin, hanya bisa terpaku oleh kata-kata yang berhasil menohok pikirannya untuk semakin kacau di dalam kepala.

****

“Apa yang telah terjadi, Park Soo Rin?”

Soo Rin mendongak dari minumannya, berpindah pada Hong Ji Soo yang menatap penuh ingin tahu pada dirinya. Mereka sudah berada di kafeteria, duduk saling berhadapan dalam kondisi sedikit canggung. Soo Rin menjadi gadis yang terus menundukkan kepala sejak kejadian tadi.

“Aku tidak yakin harus mengatakannya padamu atau tidak,” balas Soo Rin hampir menuju taraf mencicit. Untung saja pendengaran Ji Soo sangat tajam.

“Kurasa jika itu berurusan dengan Dosen Kim, aku harus mendengarkannya.” Ji Soo menyematkan senyum kala gadis itu kembali menatapnya. “Melihatnya bersikap seperti tadi, aku rasa sudah seharusnya untuk tahu. Dia tidak mungkin menyerahkanmu kepadaku begitu saja seperti tadi. Apalagi, itu adalah kali pertama aku melihatnya begitu, semenjak kami melakukan perang dingin di masa lalu.”

Soo Rin tertarik untuk mendengar. Perang dingin? Sebenarnya masalah apa yang pernah menimpa mereka di masa lalu? Mengingat Kim Ki Bum sempat menyinggung nama pemuda di hadapannya kini, mungkinkah itu juga berkaitan dengan Ahn Hye Min?

“Dia memerintahku untuk tidak terlalu berurusan dengan Dosen Ahn.” Soo Rin mengamati mimik wajah Ji Soo. Kemudian melanjutkan, “Aku tidak tahu apa alasannya, tapi setelah itu dia sempat menyinggung namamu. Lalu dia terlihat begitu marah.”

“Begitu?” Ji Soo menggumam, tidak ada perubahan ekspresi yang berarti. Pemuda itu justru menyesap minumannya dengan tenang. “Seharusnya kau turuti saja permintaannya. Dia begitu karena memikirkan keadaanmu ke depannya nanti, Park Soo Rin.”

“Memang apa hubungannya Dosen Ahn dengan keadaanku? Itu adalah masalahnya, seharusnya dia tidak melibatkanku.”

“Kau memang sudah terlibat.”

“Apa?” Soo Rin mengerjap kaget. “Aku bahkan tidak tahu masalah apa yang sedang menimpa kalian, jadi bagaimana aku bisa terlibat?”

“Karena kau mengenal Dosen Kim dan aku.” Ji Soo melakukan jeda, matanya kembali menumbuk ke dalam netra berbalut kacamata milik Soo Rin. “Tidak hanya itu, kau sedang berada dalam genggaman Dosen Kim, lalu kau mengenal wanita yang menjadi kunci dari masalah kami—entah bagaimana caranya, dan kau juga berteman denganku. Dosen Kim memintamu melakukan hal demikian karena dia tahu, wanita itu sedang kembali mengejarnya di saat dia sedang mengejarmu. Jika dia tahu bahwa kau adalah orang yang sudah membuat Dosen Kim berpaling, kau bisa dalam masalah serius.”

Ji Soo melihat adanya kilat terpana di mata Soo Rin. Mata tajamnya menyendu kala ia terpaksa melontarkan sesuatu kembali.

“Kau sedang berada di tengah-tengah orang yang belum bisa berdamai dari satu masa lalu, Park Soo Rin.”

Dan Soo Rin hanya bisa menelan saliva dengan pahit. Kembali menundukkan kepala, merenung dengan tatapan kosong pada minumannya.

****

Entah sudah kali keberapa ponsel Soo Rin bergetar panjang. Namun sebanyak itu pula Soo Rin hanya sebatas menatap layar benda pintarnya alih-alih menjawab segala panggilan dari Lisa maupun Sandara. Hanya sebatas membaca pesan-pesan singkat dari kedua temannya yang bisa disimpulkan bahwa mereka mengkhawatirkannya saat ini.

Soo Rin-ah, kenapa tidak menjawab panggilanku?

Kau di mana? Aku dan Lisa tidak bisa menemukanmu di sudut kampus manapun!

Ya, Soo Rin-ah! Kelas sudah dimulai! Kau ke mana? Astaga!

Dosen Jung menanyakan keberadaanmu. Kau ada di mana, sih?!

Park Soo Rin, kau baik-baik saja? Kau ada di mana sekarang?

Dari sekian banyak pesan singkat dari kedua temannya yang bertanya hal sama hanya dengan diksi berbeda-beda, terselip satu pesan dari Hong Ji Soo yang semakin membuat Soo Rin gelisah sendiri. Ya, sejak pembicaraan bersama pemuda itu Soo Rin memilih untuk menyendiri. Namun Soo Rin juga tidak percaya bahwa dirinya berani membolos kelas pertama. Dia bahkan sudah tidak berada di kampus melainkan sudah terdampar di suatu trotoar jalan raya.

Super sekali.

Dia memang pernah tidak menghadiri kelas bahkan tidak hadir satu hari penuh, tetapi ini adalah kali pertama Soo Rin tidak hadir dalam dalih melarikan diri. Karena pada nyatanya, Soo Rin sadar diri bahwa saat ini otaknya sedang tidak bisa dibuat untuk bekerja sama. Bukannya menyimak di kelas, bisa-bisa Soo Rin mendapat teguran keras karena melamun terus-terusan.

Sekarang saja Soo Rin berjalan tidak tahu arah, di tengah-tengah keramaian orang juga kendaraan berlalu-lalang, hanya kebisingan yang menusuk pendengarannya yang sudah tidak fokus. Semua bagai berdengung absurd dan Soo Rin hanya sebatas menghela napas panjang.

Pembicaraannya bersama Hong Ji Soo terus saja memenuhi otaknya. Soo Rin sendiri tidak menyangka bahwa dia akan menyerapnya dengan baik di saat selama itu dia lebih banyak melamun memikirkan Kim Ki Bum. Begitu sesak di dalam kepalanya sampai Soo Rin kewalahan sendiri. Bagaimana mungkin Soo Rin menjadi terlalu menghiraukan masa lalu pria itu padahal selama ini dia selalu tidak peduli akan apa saja yang berhubungan dengan seorang Kim Ki Bum?

Apa karena kehadiran Ahn Hye Min? Sosok yang secara tidak langsung menggerakkan suatu rasa asing di dalam hati Soo Rin yang selama ini nyaris tidak pernah dirasakannya? Hanya karena melihat wanita itu mendatangi Kim Ki Bum dan langsung memeluk pria itu sudah cukup memancing semacam rasa cemburu di dalam benak Soo Rin. Itu sungguh tidak terduga.

Astaga, apa sekarang Soo Rin mengakui bahwa dirinya cemburu pada seorang wanita yang berhubungan dengan pria itu?

“Apa-apaan ini?” Soo Rin menangkup wajahnya yang tiba-tiba terasa panas. Darah serasa mengalir deras menuju kepala hingga ia mengerang di balik tangan-tangannya. Saking tidak tahannya, Soo Rin akhirnya berjongkok dan menyembunyikan seluruh wajahnya di lipatan kedua tangannya. Sungguh tidak dipedulikannya lagi segala tatapan aneh dari mereka yang melewatinya karena Soo Rin lebih peduli dengan perasaannya yang sudah terlanjur kacau.

Karena Kim Ki Bum. Semua ini karena Kim Ki Bum. Si dosen sialan itu benar-benar sudah memengaruhi pikirannya hingga sejauh ini! Benar-benar sialan!

Dan Soo Rin hampir menggeram marah karena lagi-lagi ponsel di saku jaketnya bergetar panjang. Tidak ada sinkronisasi yang baik di dalam dirinya sebab di saat ia menggerutu di dalam hati, tangannya dengan serampang mengambil benda tersebut hingga barulah ia benar-benar terdiam.

Kim Ahjusshi’s calling.

Detik berikutnya, Soo Rin bagai mendengar detakan jantungnya yang berubah drastis, bertambah tempo begitu saja, hanya karena melihat nama itu tertera di layar ponselnya. Semakin membuat Soo Rin tidak nyaman sampai-sampai ia berniat untuk mengabaikannya saja. Tapi sayangnya, benda pintar itu terus saja bergetar yang membuat Soo Rin mengeluh sendiri.

“Apa?!” percayalah, Soo Rin hanya ingin sedikit menggertak si pemanggil namun justru suaranya tidak terkontrol dan meninggi begitu saja.

“What are you doing in there?”

Soo Rin justru mengatup bibir, mendadak ia lamban dalam mencerna maksud pertanyaan di seberang sana.

“Kenapa kau meringkuk seperti orang hilang di sana, Park Soo Rin?”

Barulah muncul reaksi di mimik wajahnya. Soo Rin mendongak, menengok arah kanan maupun kirinya hingga terdengar dengusan bagai sedang mengejeknya. Jelas saja Soo Rin tersinggung.

Ya! Berhenti bertingkah seolah kau sedang menguntit—” suara tersisip nada kesal dari Soo Rin langsung tertelan ke dalam tenggorokan, begitu matanya yang masih mengedar ke segala arah akhirnya berhenti tepat di seberang jalan. Menemukan sosok yang tanpa sadar ingin segera dilihatnya sudah berdiri di sana, menggerakkannya untuk segera berdiri bak menyambut pria itu dari tempatnya kini.

“Aku memang sedang menguntitmu,” suara Ki Bum mengalun menembus gelombang telepon, mata tajamnya sudah tidak beralih sejak dirinya mengikuti ke mana gadis itu pergi. “Tunggu di situ. Aku akan datang sebentar lagi.”

Hanya dengan begitu sudah cukup membuat jantung Soo Rin semakin berdebar tak terkendali.

“Bagaimana kau bisa berada di sana?”

Soo Rin memilih membuka suara, setelah begitu lama dia terdiam di tiap langkahnya mengikuti ke mana pria di sebelahnya ingin pergi. Memberanikan diri untuk memulai percakapan ketika dirasa pria itu tidak akan membuka mulutnya sampai akhirnya mereka menginjakkan kaki di sebuah taman tak jauh dari pertemuan tak terduga tadi.

“Aku sudah mengatakannya, bukan? Aku menguntitmu,” jawaban Ki Bum terdengar kalem. Namun sudah cukup membuat Soo Rin berdeham salah tingkah.

“Kukira kau hanya asal menjawab tadi.”

“Aku juga sudah mengatakan bahwa aku tidak pernah main-main terhadapmu.”

Yee,” Soo Rin mengalah meski pada nyatanya ia sudah berani memutar bola mata di dekat pria itu. Tapi percayalah, dia lakukan itu hanya demi menutupi kegugupannya yang entah sudah sejak kapan menggerayangi benaknya.

Lalu keheningan kembali menjadi teman mereka. Soo Rin dibuat gelisah, pasalnya ini tidaklah seperti biasanya tiap dia bertemu dengan Kim Ki Bum. Pria ini pasti akan banyak bicara yang mana selalu saja membuat emosinya terpancing seperti ikan terkail. Sedangkan kali ini, Kim Ki Bum nyaris enggan bersuara jika bukan Soo Rin yang memulai lebih dulu.

“K-kau, baik-baik saja?” akhirnya Soo Rin mengalah lagi, menekan gengsinya dan memberanikan untuk mendengak hanya agar matanya menangkap bagaimana rupa pria di sebelahnya.

“Mengkhawatirkanku?”

Nah, baru saja Soo Rin berhasil menenggelamkan egonya, tetapi pria itu dengan mudah kembali memancingnya ke permukaan.

“Aku hanya merasa heran kenapa kau menjadi irit bicara. Jika kau sedang marah padaku, perlu kautahu bahwa aku lebih terima dicerca daripada didiamkan apalagi dicampakkan seperti yang kaulakukan tadi di kampus.”

Berikutnya, Soo Rin melihat sudut bibir itu tertarik sebelum menoleh, mengunci tatapannya seketika dan Soo Rin terpaksa terpana melihat bagaimana Kim Ki Bum menyematkan senyum tak biasa.

“Aku tidak mencampakkanmu, Park Soo Rin. Itu adalah tindakan terbaikku untuk menghindarimu dari kelabilanku saat itu.” Ki Bum sedikit memutar tubuhnya hingga kini menghadap Soo Rin. “Aku bisa saja mendapat tamparanmu lagi jika memertahankanmu untuk tetap berada di dekatku.”

“Tapi perbuatanmu benar-benar membuatku tersinggung. Kau sudah membuatku menjadi bahan tontonan namun setelahnya aku dibiarkan begitu saja di kerumunan. Kalau saja aku bodoh, mungkin aku sudah menyumpahimu menjadi pria pengecut.”

“Jadi bersyukurlah menjadi gadis yang pintar, Nona Park.” Ki Bum tidak diam lagi, mengeluarkan satu tangannya yang sedari tadi tersimpan di saku celana untuk mendarat di puncak kepala Soo Rin, mengusak-usak rambut gadis itu hingga timbul erangan tidak terima. Namun ia justru menikmati reaksi si gadis berkacamata ini. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku sudah tidak apa-apa sekarang.”

Jika beberapa detik lalu hatinya menggerutu akan perbuatan Kim Ki Bum, kali ini Soo Rin merasakan ada desiran hangat yang meredam di dalam benaknya. Tanpa bisa dicegah ia menatap lurus pria yang sedari tadi memamerkan senyum yang sungguh tidak biasa. Sungguh tidak disangka bahwa pria yang selama ini dia sebut sebagai hidung belang ternyata bisa menyematkan ulasan teduh bercampur manis seperti itu. Namun di sisi lain, Soo Rin bagai mampu menerjemahkan tatapan yang juga tak biasa itu sedang menunjukkan arti lain dari ucapan terima kasih yang sempat dilontarkan. Begitu kelam bagai mengundang Soo Rin untuk menelusuri lebih dalam lagi akan apa yang sebenarnya sudah dialami oleh pria ini.

Seperti muncul rasa ingin menghibur di dalam diri Soo Rin sehingga begitu saja ia tergerak. Tangannya yang tampak kecil itu terangkat, mendarat di sisi kepala Ki Bum, merasakan lembutnya rambut hitam pria itu yang semakin mengundang Soo Rin untuk menyapukan jemarinya di sana. Matanya beralih mengamati bagaimana tangannya bekerja, lalu kembali pada iris hitam yang ternyata sudah menunjukkan sorot lain.

Ki Bum sungguh terperangah, tidak pernah menduga bahwa Park Soo Rin akan melakukan hal tersebut padanya. Belaian terlalu hati-hati itu justru bagai sengatan telak menghujam sisi terdalam benaknya, menghentikan seluruh syaraf yang ada dan menyebabkan tubuhnya mematung. Namun kembali bertemu dengan sorot iris kecoklatan yang begitu jernih dan tampak lugu itu justru membuat si pelaku menghentikan perbuatannya.

Soo Rin segera menarik kembali tangannya, terperanjat akan perbuatannya sendiri sampai matanya melebar, memandangi tangannya sendiri lalu terkepal begitu saja. “M-maaf, a-aku … tidak bermaksud … hanya…” ia tergeragap, mendadak kerongkongannya kering hingga suaranya tersendat-sendat. Sementara jantungnya bagai nyaris meloncat keluar dari rusuknya.

Ya Tuhan, apa yang baru saja Soo Rin lakukan? Bagaimana bisa dia tidak sadar sudah melakukan hal tidak sopan seperti barusan? Tangan ini, bagaimana bisa dia bergerak sendiri?! Kim Ki Bum jadi menarik kembali tangan ini dan sekali lagi mengejutkan Soo Rin karena pria itu menuntunnya untuk kembali ke tempat sebelumnya.

“Aku sudah lelah untuk marah, jadi kali ini aku akan membiarkanmu.” Ki Bum belum melepas tangan Soo Rin di kepalanya, sampai dia yakin bahwa gadis itu tidak akan menariknya lagi. “Lagipula, ternyata aku membutuhkan ini sekarang.”

Wajah Soo Rin menghangat, hatinya terenyuh tanpa bisa ditahan. Kalimat terakhir dari bibir yang kembali menunjukkan betapa pria itu tengah dalam keadaan berbeda sudah menggerakkan Soo Rin untuk kembali melakukannya. Seperti ada dorongan dari dalam dirinya untuk menyeka kesenduan tersirat yang terpancar di mata tajam itu. Karena di sisi lain, dia kembali mengingat segala ucapan si pemuda itu.

“Karena kau mengenal Dosen Kim dan aku … Kau sedang berada di tengah-tengah orang yang belum bisa berdamai dari satu masa lalu, Park Soo Rin.”

“Apa itu kembali memberatkan pikiranmu?” gumaman pelan dari Soo Rin secara langsung mencenungkan Ki Bum. Pria itu menyelami lebih dalam akan arti dari tatapan Soo Rin, di mana ia semakin tidak bisa menahan diri untuk bertingkah baik-baik saja.

Hm…

Satu silabel berdengung dari Ki Bum justru semakin meredupkan sinar yang ada. Memancing Soo Rin kembali membuka mulutnya.

“Apa kau merasa baik dengan begini saja?”

“Kalau begitu aku boleh memelukmu?”

Hening menjadi jeda yang ditunggu Ki Bum dengan sabar, mengamati mimik wajah Soo Rin yang ternyata tidak menunjukkan reaksi berarti.

“Jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik.”

Jawaban tak terduga dari Soo Rin sudah cukup menggempur relung hatinya. Bagai lampu hijau menyala terang di depan mata, Ki Bum seolah tidak ingin melewatkannya sehingga begitu saja ia menarik gadis itu ke dalam dekapan. Seperti ada yang membuncah di dalam dirinya. Melebur bersama derasnya darah mengalir. Seperti ada kelegaan tersendiri di mana dirinya bisa mengikat tubuh yang ternyata begitu pas untuk dijadikannya sandaran sehingga begitu saja ia terlarut.

Sedangkan Soo Rin sudah tidak peduli betapa kerasnya jantung di balik rusuknya berdegub, merasakan dirinya tenggelam dalam lingkaran mengetat yang entah mengapa semakin membuatnya terhanyut. Merasakan hembusan napas memberat itu bagai tengah melepas segala sesuatu di sisi kepalanya, menerbangkan beberapa anak rambutnya yang lepas dari ikatan, lalu getaran itu tak terelakkan ketika Kim Ki Bum menjatuhkan dagunya di satu bahu kecilnya, tepat setelah dirinya memberanikan diri untuk membalas pelukan pria itu.

Tidak menyadari bahwa hanya dengan begini, sudah cukup menumbuhkan rasa yang akan terus berkembang, bisa menjadi sangat dalam dan terlalu berat untuk dilepaskan.

wp-1486180224517.jpeg

[To Be Continued]

Nah, yang ini baru panjang. Berasa ngga? tampar nih kalo engga //ditamparduluan//?

tapi aku rada minder juga sih ini nyambung atau engga, maafin ya kalo alurnya jadi absurd. Jujur, aku ada ngadat-ngadat nulis part ini, berasa udah kehabisan kata-kata. Jadi sekali lagi mohon maaf ya kalo jatuhnya jadi membosankan :”

Gitu aja sih. Pokoknya mah ga jauh-jauh dari rasa terima kasih untuk kalian yang masih bersedia mengikuti cerita ini heheheh

i luv u so much :’) see u next time yaa~

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

18 thoughts on “WHATTA MAN – His Past, His Weakness

  1. ya kan ya kan belum apa2 bawaanya serius pen jambak ahn hyemin wkwkwk sebel aku tu ><

    kim kibum just need a hug huhu gemesssss :3

    ini tu bisa jadi cinta segi banyak yaa hahahhaha XD

  2. Huahhhhh, akhirny soo rin menyadari kalo sebenarnya dia juga ada rasa sama ki bum :))

    Makin seru kesininyaaa, semangat ngelanjutinnya kakk

  3. akhr ny Soorin mlai sdar dkit ma prasaan ny 😢😢😢
    panjang sist jd puas bca ny.he3x…
    pnasaran ma pa yg sbnr ny trjadi 😯😯😯
    next sist…
    tlong tu cwe ular dibuang ja ya…
    g ska aq 😤😤😤
    smangat trus 😉

  4. Semakin ke sini, jalan ceritanya semakin membuat penasaran, ada masalah apa antara kibum, jisoo dan hyemin, belum lagi sepertinya soojin juga tahu masalahnya, shizuka-san, kapankah masalahnya terungkap?

  5. wah sepertinya akn ada kemajuan pd hubungan meteka.. apa hye mi itu semengerikan ygv jisoo blg pd soo rin? mkn penasaran sm masa lalu mereka.

  6. Aduh tolong Hong Jisoo di kondisikan .. lemah aku Josh
    Degdegan suer .. tiap baca perchapternya tih selalu memacu jantung bekerja dua kali lipat ..
    Fix cerita chapt ini keren .. suka .. suka banget ..

  7. Wit wiw,, ciee yang mulai menyadari perasannya colek soorin..

    Aw mau dong di peyyuukk kibum

    konfliknya kayanya bakalan rumit bangt,,penasaran tingkat galon

    ditunggu ditunggu next nya,,

    semangat semangat..! 🙂

  8. Aku.. aku.. what r u doing to me eon? Waaaaaaaaaa aku baru ngeliat pagi ini dan why eonni? Why do u bikin aku pagi2 udah berbaper ria? Itu aku udah penasaran, terus kzl sama hyemin, terus kzl lagi karena aku gatau what’s happened sama mereka, terus zbl juga karena mendadak soorin jadi pusat perhatian, terus baper lagi karena akhirnya — literally akhirnya — soorin bisa semanis itu sama Kibum 💕💕💕 unch unch unch sayang banget dah sama mereka semua, tapi lebih sayang lagi dong sama eonni ehe ehe *ini kode biar ceper dipost next part* *gadeng* *beneran sayang eonni kok* HEHE 😊😊😊😊

  9. Part ini blm dikasih tahu sama Siska masalah masa lalu mereka…penasarannya jd bertambah: ) Kim kibum kalo marah ternyata seperti itu toh… akhirnya Soo rin nyadar jg sama perasaannya…iblis wanitanya jd 2 deh Hye min sama si Hwang itu…
    See you next yah Siska, moga dipart selanjutnnya semua masalah mereka dibahas …

  10. udah baca lama, baru bisa komen sekarang 😀
    makin seru, tu soo rin akhirnya menyadari perasaanya ke kim bum yesss
    makin penasaran ditunggu ya kelanjutannya selaluuuuu
    semangatttttt :))

  11. aw aw aw ini nyenengin yaa endingnya bikin senyum tak terkendali hukssss x”)))
    btw haaaaii siskachi batu semalem kubilang kangen kisyukisyu sekarang baru obrakabrik wp nya siskachi hwhw
    Maapin yaaaak kalo semisal aku bakal nyepam disini :”) /memaksimalkan liburpendekini/
    ini panjang kusuka♡ ah ampun aku kangen serius baca ffnya siskachi, dengan gaya tulis yang ga neko2 tapi bisa bikin deg2an teyus. Serius kusuka bagian akhirnyaa hiks somehow batasan ttg mereka dosen-mahasiswa itu ilang, sampe2 no pelukan kek, usap rambut kek, kerasa as normal as another loveydovey couple♡ johaaaaaa♡♡♡♡

  12. Ughhh.. Msih pnasaran gimana masa lalu kibum ><
    Tapi untunglah soorin memberanikan diri membalas pelukan kibum yg kesepian itu hwhwhw
    Mangat terus kak, ditunggu eps slanjutnya ciayo 😆💪

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s