Posted in Adult, Campus Life, Fiction, Friendship, KiSoo FF "WHATTA MAN", PG-17, Romance

WHATTA MAN – She Is Back

1485664258343

Adult, Campus Life, Friendship, Romance

PG-17

before :: [0] Wild Class | [1] Attention | [2] Bad Man | [3] Just Started | [4] Warn You | [5] My Zone | [6] How Are You? | Protected: [7] I Hate You | [8] I’m Sorry | [9] Confusing Moments

Clue :: I.H.U [Spoiler]

“Who are you?”

H A P P Y      R E A D I N G

.


ELVABARI©2017

.

HONG JI SOO berdiri tegang di kedua kakinya. Mata sipitnya yang tajam menyorot penuh keterkejutan bercampur nyalang. Pun dengan tangan-tangannya yang mengepal penuh gemetar di kedua sisi tubuh menjulangnya.

Melihat wanita yang tidak pernah diharapkan untuk muncul kini sudah berada di hadapannya, ikut menatap kaget dirinya.

Is that you, Josh?” Ahn Hye Min menarik sudut-sudut bibirnya, ingin tersenyum namun terasa kaku sebab kemudian pemuda itu membuka langkah.

Ji Soo secepat mungkin pergi dari sana. Niat awalnya yang hendak pergi ke kantin terpaksa sirna begitu saja dengan dirinya berbelok ke koridor lain.

Josh, wait!

Merasakan sentuhan di pergelangannya, Ji Soo menghempasnya begitu saja. Berbalik dengan sorot mata berubah marah pada wanita itu.

“Maaf, kurasa Anda salah orang. Aku bukan Joshua atau Josh,” tiap kata yang keluar dari mulut Ji Soo menyiratkan emosi mendalam. Dia kembali membuka langkah yang kali ini wanita itu tidak mengejar.

Hanya menatap nanar punggungnya dengan satu tangan tertangkup di dada, gemetar begitu mengingat kembali bagaimana kasarnya Hong Ji Soo menolak sapaannya.

Ji Soo sendiri menyadari akan perubahan dalam dirinya. Itulah mengapa dia langsung membasahi seluruh wajah begitu sampai di toilet, menyadari napasnya memberat dan ia nyaris menggeram begitu otaknya bagai roll film memutar bayang-bayang yang seharusnya tenggelam di bawah sadar paling dalam.

“Don’t…”

“Relax, Josh. Your body is so hot, I will cool you down.”

“No, don’t touch me!”

Ji Soo mengerang, mencengkeram kepalanya yang mendadak penuh dengan bayangan tak diinginkan. Padahal dia mengira sudah benar-benar melupakannya, tetapi hanya dengan melihat sosok itu kembali muncul di hadapannya, semua yang sudah ia tenggelamkan mendadak berlomba muncul kembali ke permukaan ingatannya.

Umpatan tak pelak keluar dari mulutnya. Menarik perhatian orang yang kebetulan masuk kemari dan langsung menghampirinya.

“Ji Soo, kau tidak apa-apa?” pemuda bernama Kwon Soon Young itu menepuk pundak Ji Soo, meneliti teman satu ruangannya itu. “Ji Soo-ya, kau kenapa?”

Tapi tidak disangka, Ji Soo akan menepis tangan Soon Young hingga pemuda berambut pirang itu langsung melangkah mundur. Melihat bagaimana mata Hong Ji Soo melotot tajam padanya seketika ia mengangkat kedua tangan.

Easy, Dude. Aku hanya menanyakan keadaanmu. Kau terlihat tidak baik.” Soon Young membela diri.

“Pergi.” sorot mata Ji Soo yang sungguh tidak biasa sudah cukup membuat Soon Young untuk semakin mundur. “Jangan ganggu aku.”

“Baiklah. Aku akan pergi.” Soon Young agak terbata, lalu membuka pintu toilet dan pergi dari sana.

Meninggalkan Ji Soo yang kembali tenggelam dalam ingatannya. Mengerang, menggeram, dan nyaris merenggut otaknya jika saja bisa dilakukan. Ji Soo tersungkur begitu saja di bawah wastafel, membiarkan napas memburunya mendominasi keheningan dalam ruangan kecil ini. Karena pada nyatanya hal ini memang tidak bisa dihindari olehnya. Dan tak pernah disangka bahwa ingatan terkelamnya itu masih menimbulkan reaksi bak trauma untuk dirinya sendiri.

Pupil mata Ki Bum membesar, menatap penuh menuntut pada pemuda yang baru saja mengatakan hal sederhana namun sudah cukup dicerna dengan baik oleh otaknya. Dia melangkah maju, melewati Soo Rin yang masih berdiri di antara mereka begitu saja dan berhenti tepat di depan wajah Ji Soo.

What do you mean?” suara beratnya berubah, melantunkan nada tak biasa yang ternyata diterjemahkan dengan baik oleh Ji Soo. Namun di kala mulut sang pemuda terbuka hendak bicara, Ki Bum menyela, “What do you mean that she is here?

In this college,” Ji Soo nyaris terbata, jakunnya bergerak sebelum melanjutkan, “I saw her, and met her.

Maybe you got the wrong person.

I swear, Hyung! She’s here! She is—” Ji Soo menelan kembali suaranya, ketika pandangannya tak sengaja berlari pada gadis yang masih berdiri di sana.

Menarik perhatian Ki Bum untuk menoleh ke belakang dan mendapati Park Soo Rin menatap kebingungan dirinya juga Ji Soo. Sekejap baik dirinya maupun Ji Soo seperti baru saja tersadar dari dunia mereka, kembali ke dunia nyata dan menghujami Soo Rin yang mulai merasa canggung.

“Uh … maaf, sepertinya, aku sudah mengganggu. Jadi, aku pergi dulu.” Soo Rin membungkuk kaku untuk keduanya, terutama si dosen itu. Lalu pergi melewati mereka, berusaha untuk tidak menoleh ke belakang sampai dirinya berbelok ke koridor lain.

Namun Soo Rin terpaksa berhenti. Ada yang mengganjal di dalam batinnya, semacam kurioritas tak biasa yang memenangkan gerak tubuhnya hingga kini ia berbalik, melihat dua orang itu masih berdiri saling berhadapan di sisi koridor sebelumnya. Kondisi koridor lantai dasar yang terbuka memang memudahkan Soo Rin untuk mengamati bagaimana pria itu kemudian meninggalkan Ji Soo dengan langkah-langkah lebar, disertai ekspresi tak biasa menghiasi rupa tegasnya. Soo Rin menahan napas tanpa sadar begitu pria itu ternyata berbelok ke persimpangan lain. Lalu mendesah pelan, tanpa sadar pula menyesali kepergian pria itu yang entah ke mana.

Ada apa dengan Kim Ki Bum? Apa yang membuat pria itu menjadi terburu-buru dan seperti tengah menahan sesuatu seperti itu? Soo Rin … mulai dirundung rasa penasaran.

****

Wanita itu melangkah penuh keyakinan memasuki sebuah kelas, penampakannya yang asing dengan  blouse putih membalut tubuh semampainya, dipadu blazer hitam juga celana panjang berwarna senada serta pantofel hitam, berhasil melenyapkan keramaian kelas tersebut. Menghipnotis para mahasiswa untuk segera duduk di tempat masing-masing dengan tatapan tertuju padanya.

Good afternoon, Class!” wanita itu menebarkan senyum ramah begitu sampai di depan kelas. “Perkenalkan, aku pengganti Dosen Cho Jin Young, namaku Ahn Hye Min. Salam kenal, semuanya.”

Kemudian kelas berubah riuh. Kebanyakan dari mereka melebarkan sudut-sudut bibir tanda menerima kehadiran wanita yang akan menjadi pengajar pengganti dosen yang baru saja pensiun itu.

“Tidak kusangka penggantinya adalah seorang wanita dan sangat cantik.”

“Mataku kembali segar.”

“Tidakkah dia seksi? Aku jadi bergairah.”

“Hentikan otak kotormu itu, Lee Seok Min!”

Kemudian tawa menggema di kelas ini. Ahn Hye Min pun tidak ketinggalan untuk bergabung dan menanggapi dengan santai. Setelah meletakkan barang-barangnya di meja, ia kembali berdiri di depan murid-muridnya.

“Nah! Karena ini adalah hari pertamaku berada di sini dan kalian akan menjadi kelas mengajar pertamaku, bagaimana jika kita manfaatkan hari ini dengan saling mengenal?”

“Aku setuju! Tidak saling mengenal maka kita tidak akan saling mencintai!”

Sorakan meremehkan ditujukan pada Lee Jung Chan yang baru saja berseru demikian sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Lagi-lagi Ahn Hye Min tertawa melihat kelakuan mereka. Rasanya dia seperti sedang berada di kelas anak sekolah, bukan perkuliahan. Dia kembali menenangkan mereka dan mulai mengabsen berpanduan secarik kertas berisi daftar nama di kelas ini.

“Jung Chae Yeon?”

Gadis yang duduk di barisan belakang mengangkat tangan, menunjukkan dirinya pada Hye Min yang baru saja memanggilnya.

“Aah, jadi kau si primadona di fakultas ini?”

“Aah, tidak.” Chae Yeon menunduk malu-malu, terlebih beberapa pemuda mulai bersiul kepadanya.

She such a little bitchy, Ma’am,” celetuk pemuda bernama Choi Han Sol yang mengundang gelak tawa pemuda lainnya, termasuk beberapa gadis namun sengaja disembunyikan sebab Chae Yeon langsung melotot pada mereka.

Hye Min hanya tersenyum, kembali menekuri daftar nama di tangannya sebelum menyebutkan lagi, “Lalisa Min?” lalu melihat gadis dengan rambut pirang panjang itu mengangkat tangannya. “Are you foreigner?

Err, yes! With her!” Lisa menunjukkan cengirannya sambil menggaet Sandara di sampingnya.

“Enak saja! Bukan aku!”

“Ayolah, temani aku menjadi warga asing!”

“Apa-apaan kau ini?!”

“Sudah, sudah,” Hye Min tertawa kecil menengahi dua gadis yang sepertinya berteman akrab itu. Terlebih mendapati seorang gadis berkacamata yang juga duduk di dekat mereka itu ikut menengahi sambil mendesiskan sesuatu.

Tidak disangka bahwa sesi perkenalan akan semenyenangkan ini. Tak pelak mereka juga merasa takjub bahwa si dosen baru cukup mengetahui julukan untuk masing-masing dari mereka. Secerdas itukah otak Ahn Hye Min dalam menerima informasi hanya dalam kurang dari satu hari?

“Park Soo Rin?”

Merasa gilirannya, Soo Rin mengangkat tangan dan menemukan wanita itu tersenyum lembut padanya.

“Jadi kau si mahasiswi pintar di sini?”

Soo Rin hanya tersenyum sungkan sementara teman-temannya membenarkan.

“Dia aset berharga kami!” ujar Lisa bangga yang kembali dibenarkan oleh lainnya.

Di sisi lain, Chae Yeon tampak mencibir bersama teman-temannya. “She’s a pretty liar,” desisnya pelan.

It’s nice to see you, Park Soo Rin.” Hye Min kembali mengabsen setelah tersenyum sekali lagi pada gadis berkacamata itu. Detik berikutnya ia melenyapkan ulasan di bibir merahnya begitu menemukan nama setelah Park Soo Rin. “Hong Ji Soo.”

Hening untuk beberapa saat. Karena tidak ada satu pun dari mereka yang mengacungkan tangan, menggerakkan mereka untuk menengok si pemilik nama yang hanya diam di tempat duduknya.

Ya, Ji Soo, kau dipanggil!” Seok Min yang berada di sebelahnya langsung menyenggol pemuda itu. “Astaga, kau ini tidak sopan sekali. Ada dosen baru tetapi kau asyik menyumpal telinga!” decaknya yang disambut kekehan sebagian dari mereka.

Ji Soo mendongak, menatap wanita yang berdiri di depan sana tanpa ada niatan untuk melakukan hal semestinya. Seperti orang setengah hati, Ji Soo kembali menekuri buku di atas mejanya, tanpa melepas headset di telinga dan sebatas berucap, “Hadir,” berintonasi datar.

Seok Min berdecak lagi. “Apa-apaan dia? Tidak seperti biasanya bersikap begini. Sedang tidak mood, ya?”

“Kurasa dia sedang bersedih hati karena ditinggal Dosen Cho,” celetuk lainnya yang ditanggapi kekehan beberapa.

“Maaf, Dosen Ahn, si cerdas Hong sedang tidak bergairah hari ini.”

Hye Min sebatas menyungging senyum, sedangkan matanya terus tertuju pada pemuda yang tampak enggan melihat dirinya. Sebelum mereka menyadari akan adanya binar kesenduan di matanya, buru-buru Hye Min mengontrol diri dan kembali melanjutkan sesi mengabsen.

Namun Soo Rin menyadarinya, bagaimana sikap Hong Ji Soo tampak tidak seperti biasanya, juga menangkap adanya sorot aneh pula di dosen baru itu, membuat Soo Rin menerka-nerka bahwa … mungkinkah mereka pernah saling mengenal?

****

“Dosen Ahn ternyata menyenangkan!” Sandara berseru ceria sambil merangkul Soo Rin dan Lisa keluar dari kelas, tentunya setelah si sumber pembicaraan pergi terlebih dulu. “Baru kali ini aku menemui dosen seramah dan seasyik dia. Kalian bisa merasakannya juga, bukan?”

“Ini hanya permulaan. Kurasa dia akan bersikap sama saja seperti dosen-dosen lainnya. Apalagi, dia terlihat sangat cantik dan seksi. Aku jamin dia akan digoda oleh dosen pria maupun mahasiswa hidung belang nantinya,” celoteh Lisa yang segera mendapat senggolan keras dari Sandara.

“Berpikirlah positif. Kurasa dia dosen yang sangat baik. Aku bisa melihat auranya yang sangat positif,” ujar Soo Rin yang langsung dibalas anggukan Sandara, namun decakan jengah dari Lisa.

“Ya, ya, dia memang terlihat ramah dan jeli, dan peka terhadap kita semua. Tapi itu bisa menjadi bumerang untuk kita nantinya. Seperti kau dan Ji Soo, kalian akan menjadi sasaran empuk jika ada salah satu dari kalian yang menyimpang dari julukan kalian itu.”

Mau tidak mau Sandara membenarkan omongan Lisa. Gadis yang selalu bersikap was-was terhadap dosen mana pun ini selalu memiliki alasan yang masuk akal untuk berhati-hati. Dan Soo Rin hanya sebatas mengiyakan demi menyenangkan hati temannya itu.

“Park Soo Rin?”

Langkah-langkah mereka terhenti begitu saja, tertegun mendapati wanita itu ternyata yang baru saja menyapa satu di antara mereka. Tentu saja Soo Rin lebih terheran karena mendapati Ahn Hye Min menemuinya.

“Syukurlah, aku masih bisa menemukanmu. Apa kau ada waktu luang?”

Mereka langsung saling melempar pandang, terutama memandang penuh heran pada Soo Rin yang sudah melongo kebingungan. Tidak menyangkan akan mendapat ajakan tersirat dari si dosen baru yang kini sudah menebar senyum dan menunggu.

Well, kurasa kau punya.” Sandara langsung menyingkir sambil mengikutsertakan Lisa. Ia mengedip beberapa kali pada Lisa sebelum melempar cengiran pada Soo Rin.

“Kalau begitu aku dan Sandara pergi dulu. Sampai nanti!” Lisa yang mengerti berganti menarik Sandara untuk segera pergi meninggalkan Soo Rin bersama si dosen baru.

“Jadi mereka teman-temanmu, ya?” Hye Min membuka suara setelahnya, memandang Soo Rin yang mulai salah tingkah. “Bisa kita bicara di tempat lain?”

Soo Rin jelas tidak bisa menolak.

Dan tidak disangka bahwa wanita itu akan membawa Soo Rin keluar dari area kampus. Memang tidak jauh, hanya bertandang di sebuah kafe yang pernah Soo Rin kunjungi bersama Sandara dan Lisa. Apalagi ini memang sudah waktunya untuk pulang mengingat hari mulai sore, sepertinya maksud ajakan ini adalah bersifat santai.

“Aku hampir lupa kalau Dosen Ahn adalah orang yang dimaksud oleh kakakku.” Soo Rin membuka suara, berhasil mencairkan suasana canggung.

“Jadi kakakmu sudah bercerita soal diriku?” Hye Min menggeser Choco Latte untuk Soo Rin. “Sudah sejauh mana?”

“Hanya sebatas memberi tahu bahwa Dosen Ahn akan menjadi dosenku.” Soo Rin menerima pemberian wanita itu. “Dan sepertinya kakakku juga bercerita soal diriku pada Dosen Ahn.”

Hye Min terkekeh pelan, begitu anggun dipandang. “Ya, begitulah. Dan omong-omong, bisakah kau berhenti memanggilku Dosen Ahn? Kita sudah berada di luar kampus. Aku ingin kita bicara dengan santai.”

“Jadi, aku harus memanggil bagaimana? Ahn Hye Min-sshi? Hye Min-sshi saja?”

Hye Min menggeleng tidak setuju. “Aku teman kakakmu. Jadi, Eonni lebih baik,” lalu Hye Min melihat sorot agak tertegun di mata berbingkai kaca gadis itu. “Aku ingin mengakrabkan diri padamu,” lanjutnya meyakinkan.

Dan Soo Rin mencoba menerimanya. Ternyata Ahn Hye Min tidak hanya ramah di dalam area kampus, tetapi di sini pun juga, bahkan kelihatannya wanita berusia akhir 20-an tahun ini memang asyik menjadi teman mengobrol. Ada saja topik yang diangkat sehingga mengajak Soo Rin untuk terus bersuara.

“Boleh aku bertanya satu hal padamu?”

Soo Rin baru saja menyesap minumannya untuk kesekian kali, lalu mengangguk mengizinkan disertai ulasan sopan.

“Apa, kau mengenal dekat Hong Ji Soo?”

Tanpa bisa dicegah, Soo Rin tertegun mendengarnya. Hye Min bisa melihat itu.

“Ya, aku berteman dengannya. Beberapa kali kami selalu terlibat dalam tugas kelompok.” Soo Rin mendapati Hye Min mengangguk disertai sorot matanya yang berubah. Mengundang rasa penasaran di dalam batinnya. “E-Eonni pernah mengenal Hong Ji Soo sebelumnya?”

“Apakah itu terlihat?”

Soo Rin mengusap tengkuknya, salah tingkah. “Yah, hanya kebetulan aku merasa demikian.”

“Ya. Aku sempat mengenalnya, begitu juga dia, tapi sepertinya sekarang dia sudah melupakanku.”

“Apa Eonni pernah menjadi Noona untuk Hong Ji Soo dulu?”

Tidak disangka bahwa Hye Min akan tertawa. Soo Rin sendiri agak merasa pertanyaannya begitu aneh.

“Jauh dari itu.” Hye Min menurunkan pandangannya ke minumannya yang baru seperempat kosong. Termangu di sana. “Sulit untuk dijelaskan, tapi saat ini aku ingin mengatakan sesuatu padanya, namun sepertinya tidak bisa.”

Soo Rin terdiam, mencermati air wajah Hye Min yang tiba-tiba meredup. Dugaannya sebelum ini ternyata benar bahwa Hong Ji Soo mengenal wanita ini. Tapi dalam konteks yang seperti apa, Soo Rin belum menemukan itu. Apalagi mengingat bagaimana Hong Ji Soo tampak pias mengatakan suatu hal pada Dosen Kim yang baru disadari Soo Rin bahwa itu mengenai Ahn Hye Min.

Tunggu…

Mengingat kejadian tadi, ada reaksi tak biasanya juga datang dari pria itu. Soo Rin masih mengingatnya bagaimana pria itu tampak menahan tegang pergi meninggalkan Ji Soo entah ke mana.

Apakah, wanita di hadapannya ini … juga ada hubungannya dengan Kim Ki Bum?

“Ah, maaf, aku jadi terbawa suasana.” Hye Min memecah keheningan sesaat mereka. Kembali ia memasang raut ceria yang khas di wajahnya, begitu lembut dan memesona. “Sepertinya waktu kita sudah habis. Aku masih ada urusan setelah ini, tidak apa-apa jika aku tinggal?” lanjutnya setelah memeriksa jam tangannya.

“Tidak apa-apa. Senang bisa berbicara dengan Eonni.” Soo Rin pun berdiri sebagai bentuk sopan kala wanita itu berdiri hendak pergi. “Hati-hati di jalan, Eonni!”

Hye Min merengkuh sejenak wajah Soo Rin, tanda salam perpisahan darinya. “Kau juga,” barulah ia beranjak pergi.

Soo Rin menghabiskan minumannya, mengingatkannya bahwa dia belum berterima kasih pada traktiran Hye Min untuknya. Buru-buru ia membereskan tasnya dan beranjak dari duduk ketika ekor matanya mendapatkan sesuatu.

Astaga, itu ‘kan ponsel Hye Min Eonni!

“Kenapa bisa tertinggal?!” desis Soo Rin sambil mengambil benda tipis yang tergeletak di sofa tempat Hye Min duduk sebelumnya lalu berlari keluar dari kafe.

Sayangnya, Soo Rin baru hendak membuka pintu kafe ketika melihat Hye Min sudah masuk ke dalam taksi dan pergi. Tanpa berpikir panjang Soo Rin memberhentikan taksi berikutnya dan meminta sang sopir untuk mengikuti kendaraan yang membawa wanita itu.

Ponsel adalah benda berharga di jaman sekarang. Dan Soo Rin merasa bahwa dia tidak mungkin membiarkan Hye Min merasa kehilangan meski hanya sehari. Jadi, ada baiknya ia menyusul dan memberikan pada pemilik ponsel di tangannya kini segera mungkin.

****

Sayangnya Soo Rin harus tercengang melihat tempat bertandang Ahn Hye Min berikutnya. Soo Rin tahu betul tempat ini karena pernah berkunjung sebanyak dua kali. Pikirannya mulai menerka segala kemungkinan yang sayang sekali telah dia lewatkan sebelumnya.

Benar, Ahn Hye Min adalah wanita dewasa. Dia cantik, memiliki tubuh semampai dan seksi meskipun berbalut pakaian tertutup. Seharusnya bukan hal tabu lagi jika wanita dewasa seperti dia mendatangi club malam seperti ini. Mungkin saja dia hanya sebatas ingin minum untuk melepas penat.

Tapi Soo Rin meragu. Haruskah dia menyusul wanita itu ke dalam sana?

Soo Rin membawa diri untuk masuk pada akhirnya. Masa bodo jika ada yang melihat apalagi mengenalnya, karena yang dia utamakan saat ini adalah mengantarkan ponsel milik Ahn Hye Min.

Hanya saja, Soo Rin terpaksa berhenti dan mengurung diri. Ketika berhasil masuk ke area tersebut, napasnya tercekat melihat wanita itu menghampiri seseorang. Tanpa dia mau, ada rasa mencelos hinggap begitu saja melihat keduanya bertatap wajah lalu berpelukan.

Ki Bum sudah menghabiskan dua botol beer hanya dalam waktu setengah jam. Namun tidak ada efek berarti yang bisa meredakan pening di kepalanya. Bukan pening dalam arti sesungguhnya, melainkan pikiran yang terasa begitu memberatkan.

Dia sudah memastikan. Melihat sendiri bahwa orang yang Ji Soo maksud benar-benar ada. Kembali kemari, bahkan satu lingkungan dengannya. Entah mana dulu yang harus dikhawatirkannya, perasaannya sendiri atau justru kondisi Ji Soo.

Memori kelam itu kembali memenuhi otaknya. Ki Bum tahu, tidak hanya dirinya, tetapi Ji Soo juga terlibat. Dia tidak mungkin membiarkan trauma itu kembali. Melihat bagaimana pemuda itu pucat dan gemetar meski berusaha disembunyikan, Ki Bum tahu benar bahwa pemuda itu masih merasakan guncangan yang sama.

Bloody hell!” umpatan kasar keluar begitu saja dari mulut Ki Bum yang baru saja menghabiskan gelas kesekian minumannya.

Tanpa meminta, sang bartender sudah lebih dulu memberikan botol ketiga untuknya. Semua petugas di sini sudah tahu betul siapa dirinya. Dan mereka hanya cukup melayani dalam diam sampai pria itu merasa puas sendiri.

Oppa.

Tapi Ki Bum seolah tidak dibiarkan tenang. Dia nyaris terbelalak begitu menoleh langsung menemukan sosok yang sedari tadi mengusik pikirannya. Tersenyum lembut dan langsung memeluk dirinya.

“Aku sudah menduga bahwa Oppa ada di sini.” Hye Min mengeratkan pelukannya, menenggelamkan diri. “Aku merindukanmu, Oppa.”

Raut wajah Ki Bum sudah berubah datar. Sedangkan tangan-tangannya mengepal tanda menahan diri. Bukan untuk membalas, tetapi untuk mendorong wanita itu menjauh. Sampai dia sendiri yang menjauh. Menatap Ki Bum begitu lekat dengan sorot menyiratkan kerinduan.

But I am not. I don’t even know you. Who are you?

Hye Min memertahankan senyumnya meski sadar ucapan dingin Kim Ki Bum cukup menohoknya. “Aku minta maaf, Oppa. Aku ingin menebus semua kesalahanku. Aku—”

Don’t you hear me?” Ki Bum mendengus sinis. Kali ini dia berani menepis tangan yang masih berani menyentuh lengannya. “Aku tidak mengenalmu dan tidak mau mengenalmu. Jadi menyingkir dari hadapanku.”

Ki Bum nyaris pergi jika saja wanita itu tidak menahannya, meraih lengan kekarnya dengan kedua tangan bahkan mencengkeramnya. “Aku masih mengharapkanmu, Oppa! Aku mohon!”

“Jika itu yang kaumau,” Ki Bum nyaris mencuatkan emosi yang sedari tadi ditekannya setengah mati, melemparkan tatapan sengit untuk wanita itu seraya berkata penuh penekanan, “maka kembalikan Joshua terlebih dahulu.”

Seketika cekalan Hye Min mengendur, membebaskan Ki Bum yang segera menjauh sementara dirinya berdiri gamang. Tidak perlu penjelasan lebih lanjut, dia mengerti benar maksud ucapan Kim Ki Bum. Menceloskan batinnya sekali lagi akan rasa bersalah yang begitu mendalam.

Hi, Kim!

Jae datang di waktu yang tepat. Dengan balutan minim yang membentuk lekuk tubuh seksinya, melenggak-lenggok menghampiri dan langsung memeluk mesra Ki Bum sambil tak lupa mendaratkan kecupan di pipi pria itu. Hanya untuk formalitas karena ekor matanya mengawasi hal lain.

“Sepertinya kau sudah datang dari tadi. Maaf, aku terlambat karena sibuk berdandan supaya terlihat semakin cantik di matamu,” Jae sengaja mengatakannya dengan nyaring, mengerling nakal hanya untuk meyakinkan seorang saksi yang sudah berdiri kaku di belakang pria yang masih dirangkulnya kini.

Just bring me out of here.” Karena pada nyatanya, Ki Bum sudah berubah pias, sengaja membalas pelukan Jae hanya untuk berpegangan agar dia tidak terlihat terguncang.

Okay, Darling! Tapi tunggu sebentar!” Jae pun menarik tangan-tangannya dari pundak Ki Bum, beralih menghampiri wanita tersebut sembari menyerahkan sesuatu yang sebenarnya sedari tadi digenggamnya. “Ada titipan untukmu. Seseorang baru saja mengantarkan barang milikmu yang katanya tertinggal.”

Ekspresi Hye Min bercampur, namun kali ini lebih mendominasi keterkejutan kala menerima ponsel yang ternyata miliknya, sudah ada di tangan seorang wanita asing yang sayangnya baru saja menyentuh Kim Ki Bum dengan berani.

“Tapi omong-omong, bagaimana kau bisa mengenal gadis kecilku? Dia bahkan sampai rela datang kemari hanya untuk mengantar itu.”

Di saat Hye Min kebingungan dengan maksud pertanyaan Jae, Ki Bum sudah lebih dulu mencerna dengan baik sehingga detik berikutnya pria itu melesat pergi.

Oppa!” Hye Min hendak mengejar, namun Jae sudah lebih dulu mencekalnya.

“Aku belum selesai bicara padamu, Nona.” Jae berubah, sorot penuh kerlingan manja itu sudah lenyap berganti penuh peringatan, “Dia sedang mengejar gadisnya, jadi tolong jangan mengusik.”

“A-apa?” Hye Min tentu saja terhenyak. Tidak percaya akan ucapan wanita cantik itu. Apalagi berikutnya Jae kembali berubah dengan senyum ramah yang menghiasi wajah penuh pesonanya itu.

“Jadi, bagaimana jika kita minum terlebih dulu? Kau bisa minum apa saja yang ada di sini bukan?”

Ki Bum nyaris seperti orang hilang akal. Berlari keluar dari gedung tersebut dengan mata bergerak liar ke segala arah. Berkat ucapan Jae, Ki Bum langsung menebak bahwa Park Soo Rin sempat datang kemari, mengantarkan sesuatu milik wanita bernama Ahn Hye Min dan menggusarkan pikirannya mengenai bagaimana Park Soo Rin bisa memegang barang milik wanita itu.

Jika memang tebakan Jae tadi benar, Ki Bum akan mengumpat berkali-kali lagi karena bisa-bisanya hal seperti itu terjadi!

Dan Ki Bum akan segera memeringatkan Soo Rin begitu ia berhasil menemukannya setelah ini. Untuk tidak berurusan dengan wanita itu jika bukan berada di area kampus.

Gadis yang dicari ternyata dia dapati sedang duduk seorang diri di halte bus seberang jalan raya sana, Ki Bum terpaksa menunggu lampu hijau untuk menyeberang menyala. Ada gemuruh hebat menyarang di dalam dada kala melihat Soo Rin menunduk di sana bagai tengah merenungkan sesuatu. Seperti ingin segera menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan melepas ketakutan tanpa sebab yang muncul berkat pertemuan tak diharapkan seperti tadi.

Tapi di saat yang sama, Ki Bum harus memupuskan pikiran berlebihnya sebab muncul mobil sedan yang sudah familiar di mata jelinya. Kemudian tangan-tangannya mengepal begitu saja menyaksikan Hong Ji Soo keluar dari sana, dan menghampiri Park Soo Rin untuk kemudian dibawa pergi dengan kendaraan sialannya itu.

.

.

[To Be Continued]


Ini pendek, berasa ngga? Hehehehe

Iya emang sengaja. Soalnya di sini Ki Bum ga ketemu Soo Rin, dan kemungkinan part selanjutnya juga begitu, yah ga tau juga sih, masih kebayang doang di otak belum dituang. Pasti kalian bosan sama part ini huhuhu mudah-mudah selanjutnya engga ya 🙏🙏

Dan di sini aku ga nyelipin translate, kira-kira masih bisa dimengerti kan ya? Lagipula di sini pendek-pendek dan kurasaitublepotan jadi semoga masih bisa dibaca ya bhaks 😂😂

so, masih mau lanjut?

see u next time, then!! :’)

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

28 thoughts on “WHATTA MAN – She Is Back

  1. Begitulah resiko orang yang selalu taat pada lalu lintas, bisa kehilangan kesempatan..😄😄😄
    Jadi??
    Gak biasanya posting jam segini??
    Biasanya menjelang tengah malam..🤔🤔

  2. ini pendek waeeeeeeeeeee??? TTTT
    tapi meskipun pendek berasa banget deh emosi2 tokohnya 😉 si joshua kenapa? 😦 aku gakenal sih sama mukanya dia kek gimana, tapi somehow bisa ngerasain sedihnya dia, kesian gitu kek kena trauma sama hyemin 😥
    huuu mau baca lanjutannyaa TT kimkibum tuh kenapa banyak banget sih deket sama cewe? aku ngasianin soorinnya, katanya suka tapi sering nyakitin secara ga langsung 😥 aku ngeship joshua-soorin ajah boleh ga di ff yang ini? :'(((( huhuuu maapkeun aku siskachii TT aku suka ffnya, pls dilanjut :”)))) /peluks

    1. gapapa, terserah Poku mo bayangin Joshua kek gimana x))
      yakin ngeship mereka ajah? ga nyesel ntar? hmm… iya gapapa (lagi) dehh, sometimes aku juga suka pengen soorin sama joshua aja sih gyahahaha 😂😂
      tapi kita lihat saja nanti~ jadi makasih udah baca dan mau nungguin~~aku bakal lanjutin iniii 😣😣 //peluksjuga//

      1. pokonya anggepanku dia ganteng gitu aja wkwk. Huhuuu habisnya si ibum suka deket2 cewe lain siii huhu, biarkan soorin bahagia pls pls dia udah sering sedih di ff chapter siskachii yang lain hiks 😥 TTTT /ditendang ibum ke antartika

      2. yaampun, seolah-olah kalo soorin selalu tersakiti di tiap ff 😂😂 tenang sajah, dia akan berakhir bahagia kok………tapi gatau sama siapa kalo di sini (?) //loh//looh//lhooooh// ><

  3. Pendek tapi berasa banget emosi tokohnya
    Di otak udh ada tebakan tentang hubungan antara hye min ki bum & ji soo.
    Kasian ji soo trauma jumpa hye min.
    Penasaran next episode
    Fighting author!!

  4. g ska ma hyemin…
    kya ny bkal ganggu deh tu org 😡😡😡
    apa jisoo prnah di “apa2in” ya ma tu org???
    g iklas aq klo dia ngejar2 kibum😤😤😤
    kok jd emosi gni ya.he3x…
    kren sist…
    lnjut…
    mdah2an soorin g slah pham…
    smangat 😉

  5. Apa yh dilakukan Hye in di masa lalu sampe2 bisa Ji soo trauma liat dia, jg gemetar sebegitunya…abang Ki bum gak ketemu sama Soo rin di part ini keduluaan sama Ji soo…penasaran…penasaran…semoga cepet dilanjut Siska…

  6. makin penasaran sm msa lalu ji soo, ki bum sm dosen ahn. cie soo rin cemburu ya liat kibum dipeluk2 ce lain.hehehe
    semoga soo rin lekas sadar dgn perasaannya.

  7. INI APA EON? APA? KENAPA PENDEK? *maap terbawa suasana* HEHE 😂😂😂😂
    Itu padahal aku udah penasaran banget si hyemin ngapainin (?) si joshie (?) *aku punya temen namanya Joshua tapi sering kupanggil joshie jadi kebawa sama ff ini* *maap curhat* WQWQWQ di sini emosinya berasaaaaaaa banget, panjangin lagi napa eon HUEHUEHUE lanjutin dong ya ya ya? 😂😂😂

  8. Tuing tuing *Tandatanyabesar

    Kok aku suka sama Jae ya? hehe..
    Sepertinya harus berdamai dengan masa lalu dulu, baru kejar masa depan 😀

  9. Pendekk……
    Loh jisoo knpa..?

    Ada apa antara jisoo kibum sama yemin di masa lalu..? Ko jisoo ampe ketakutan gitu..

    Penasaran penasaran
    di next ya,, di tunggu :p

  10. /diem/
    /scroll lagi/
    /diem/
    . . . t b c. . .
    whyyyyyyyyyyyy T.T
    tegaaaa kamu tega menggantungkan rasa penasaranku author sayangggg T.T

    kok aku belum2 udah mau jambak ahn hyemin aja ya bawaannya wkwkkwk

  11. Aghhh penuh dengan teka teki. Tapi tetep the best dah meskipun pendek. Hehe
    Kira-kira apa masa lalu Ji Soo dan Dosen Ahn itu .? Dan ada hubungan apa sama Ki Bum. Ahhh pokoknya ditunggu di setiap partnya. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s