Posted in Fiction, Fluff, PG-17, Romance, Vignette

What You Are Hiding From Me

photogrid_1485086378124

Fluff-Romance

PG-17

Vignette

||KiSoo’Spam||

“Lalu apa gunanya aku bersamamu?”

H A P P Y      R E A D I N G

.


ELVABARI©2017

.

PARK SOO RIN harus kebingungan lantaran tidak menemukan Kim Ki Bum di ruangannya. Dia sudah bertanya pada Suster Jung yang kebetulan ditemuinya dan perempuan itu mengatakan si Dokter Kim baru saja menyelesaikan tugas kontrol dan mungkin pergi ke ruangannya.

Dia juga sempat bertemu dengan Dokter Jae Kyung namun dokter cantik itu bertanya balik, “Bukankah dia ada di ruangannya? Aku melihat dia pergi ke sana setelah kita selesai kontrol.”

Soo Rin memasang raut resahnya. Bertanya-tanya ke mana pria itu pergi padahal biasanya dia akan menunggu Soo Rin atau setidaknya mengabarinya untuk menunggu atau apalah. Tetapi ini?

“Hai, Nona Kim!”

Panggilan nyaring itu menggerakkan Soo Rin untuk menoleh, menemukan sosok pria berjubah putih tengah melambai sekaligus menghampirinya. Mengingatkan Soo Rin bahwa mungkin saja orang itu tahu.

“Dokter Tan!”

Tan Han Kyung merubah ekspresinya, menjadi bingung melihat gadis itu berlari mendekat seperti orang linglung.

“Apa kau tahu di mana Kim Ki Bum?”

“Aah, si Dokter Kim itu?” Han Kyung tampak menimbang-nimbang, berhasil membuat Soo Rin menyipit curiga. “Sebelumnya biar kutanya satu hal padamu, Nona Kim. Bagaimana jika priamu ternyata melakukan sesuatu yang tidak kau ketahui di belakangmu?”

Soo Rin agak tertegun mendengarnya. “Maksudmu?”

Well, sepertinya kau harus mencari jawaban langsung darinya,” gumam Han Kyung serius. “Belakangan ini dia selalu pergi ke sana seorang diri,” Han Kyung menunjuk ke atas, “untuk membunuh rasa jenuh dengan yang lebih menyenangkan lagi, mungkin?”

Membunuh rasa jenuh dengan yang lebih menyenangkan lagi.

Kalimat itu terus terngiang di kepala Soo Rin. Meresahkan batinnya hingga kedua tangannya menangkup di depan dada. Memangnya hal seperti apa yang disembunyikan Kim Ki Bum darinya? Soo Rin tidak ada ide lain selain hal buruk di pikirannya seperti, bersama perempuan lain?

“Tidak, tidak mungkin. Kim Ki Bum tidak mungkin begitu. Kalau memang begitu sudah dari dulu dia akan mencampakkanku,” gumam Soo Rin menyugestikan diri. “Benar. Dia mungkin sudah mencampakkanku sejak dulu…”

Ia menggigit bibir, rasa-rasanya kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya seperti bukan opini lagi.

Ting!

Soo Rin seperti merasakan kembali kaki-kakinya menapak, menyadari dirinya masih berada di dalam lift yang membawa dirinya menuju lantai teratas. Soo Rin langsung melangkah keluar, menuju pintu yang pernah dia lalui dan sayangnya harus dilupakannya, tidak terpikirkan bahwa pria itu akan ada di baliknya.

Benar saja, Soo Rin memang menemukannya. Pria itu sedang berdiri di sana, bersandar pada pembatas atap gedung ini dan seorang diri. Soo Rin mungkin bisa bernapas lega karena ternyata keadaannya tidak seperti di bayangan buruknya. Hanya saja selanjutnya Soo Rin dibuat tidak percaya karena melihat pria itu baru saja menjatuhkan sesuatu yang sempat terselip di sela-sela jemarinya, menginjaknya sejenak sebelum akhirnya tatapan mereka bertemu.

Kim Ki Bum menemukan keberadaannya. Dan sempat muncul sorot terperangah sebelum disembunyikan dengan sangat baik oleh raut andalannya. Sambil menyimpan kedua tangannya ke dalam saku jubah dokternya lalu menyambut Soo Rin.

“Bagaimana kau tahu aku ada di sini?”

Soo Rin tidak langsung menjawab. Pasalnya dia sudah terlanjur terkejut berkat pemandangan barusan. Hanya bisa berdiri di atas kaki-kakinya sambil menelan saliva.

Kim Ki Bum bukanlah tipe pria yang gampang kelabakan jika dirinya tertangkap basah melakukan sesuatu. Ketenangan yang dimilikinya sudah terlatih dengan baik sehingga ia memilih memasang raut datarnya untuk menutupi perasaan sebenarnya. Di mana ia cukup terkejut karena Park Soo Rin akan muncul di saat ia sedang melakukannya.

“Apa yang baru saja kaulakukan?” suara Soo Rin mengalun pelan, matanya berlari ke bawah, berharap menemukan sesuatu pada tangan-tangan yang bersembunyi di sana. “Kau … kau merokok?”

Hm.” Ki Bum sebatas menggumam singkat, lebih tertarik mengamati ekspresi Soo Rin saat ini yang tampak silih berganti.

Bingung, kaget, mungkin juga marah.

Ki Bum kemudian menarik Soo Rin menjauh dari pintu sebelum akhirnya mengeluarkan satu tangannya lagi dari saku jubahnya, menunjukkan satu bungkus rokok yang entah tinggal berapa isinya.

“Ini bungkus kedua.”

Soo Rin ternganga. “Sejak kapan kau mengonsumsinya?”

“Baru kemarin.”

“Dan kau sudah menghabiskannya sebanyak itu? Yaa!” Soo Rin marah tentu saja, ia nyaris merampas benda tersebut di kala Ki Bum justru bergerak lebih cepat. “Berikan itu padaku, Kim Ki Bum! Kau harus berhenti!”

“Tidak untuk saat ini.”

“Kenapaa?” Soo Rin menuntut pria itu melalui sorot tidak sukanya. Bagaimana dia tidak marah kalau prianya ternyata melakukan kebiasaan yang seharusnya sudah tidak pernah dilakukan lagi sejak dulu.

Sejak mereka bertemu kembali setelah berpisah tiga tahun lamanya.

Dan itu mengingatkan Soo Rin kembali akan alasan mengapa Kim Ki Bum nekat merokok.

“Aku sempat berpikir untuk melakukannya dengan cara pergi ke club bersama teman-temanku dan minum sepuasnya sampai aku tidak merasakan itu lagi. Tapi aku sadar bahwa aku bisa saja menarik gadis lain dan melepas hasratku yang akan berujung fatal jika aku melakukannya.”

Benar. Itu tidak ada bedanya dengan Kim Ki Bum yang sedang…

“Banyak pikiran?” Soo Rin beralih menatap penuh tanda tanya pada Ki Bum. “Kau sedang banyak pikiran, ya?”

Sudut bibir penuhnya tertarik membentuk ulasan samar. Terlebih gadisnya mulai menunjukkan tatapan khawatir padanya. Karena memang, Park Soo Rin mulai memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.

“Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku?” Soo Rin kemudian teringat, hampir saja melupakan tabiat Kim Ki Bum yang jarang sekali mau bercerita padanya jika itu menyangkut soal pekerjaannya. Soo Rin jadi tidak banyak tahu mengenai apa saja yang dilakukan prianya selama bekerja dan apa saja yang sudah dilewati prianya selama bekerja sampai berakhir seperti ini. “Kau tidak mau bercerita padaku dan memilih untuk bercerita pada rokok itu, begitu?”

Tanpa diduga Kim Ki Bum akan terkekeh setelahnya. Ia kemudian meletakkan satu tangannya di sisi kepala Soo Rin, mengusap surai panjang gadisnya di sana.

“Bukan masalah terlalu besar. Aku hanya sedikit kewalahan karena minggu ini pekerjaanku semakin menumpuk. Daripada aku semakin stres jadi sejak kemarin aku selalu melarikan diri kemari.”

“Dan berkeluh-kesah dengan rokokmu itu,” sambar Soo Rin mencibir meski di sisi lain cukup takjub mendengar penjelasan Ki Bum. Namun tidak menampik bahwa dirinya justru semakin dirundung kecemasan untuk pria itu sehingga tangannya mengayun ke atas.

Melakukan seperti yang dilakukan Kim Ki Bum, mengusap sisi kepala pria itu penuh perasaan. Dengan begitu Soo Rin semakin mendekat pada prianya hingga jarak mereka hanya sebatas ujung alas kaki masing-masing.

Mianhae…

Ki Bum mengerjap sekali. “Kenapa kau meminta maaf?”

“Karena aku tidak tahu bahwa kau sudah seperti ini.” Soo Rin cemberut sedih. “Seharusnya aku lebih peka lagi dan menyadari bahwa kau sedang kesulitan saat ini.”

Tentu saja Ki Bum tidak bisa menyembunyikan senyum. Ia meraih tangan halus itu untuk dibawa ke sisi wajahnya, lalu menghirupnya untuk kemudian diciumnya telapak tangan si gadis. “Aku justru tidak ingin melihatmu khawatir padaku.”

“Lalu apa gunanya aku bersamamu?”

Kali ini Ki Bum tergelak. Dia tahu itu sebenarnya pertanyaan serius tetapi melihat cara Soo Rin yang mengajukannya disertai ekspresi menggemaskan, Ki Bum justru merasa takjub karena ternyata gadisnya bisa melontarkan pertanyaan demikian dengan caranya sendiri.

“Kau mengatakan bahwa aku semacam penyemangatmu, tetapi kau justru tidak mau berbagi dan tidak membiarkanku menjadi yang semestinya.”

“Kapan aku pernah bicara begitu?”

“Sering!” Soo Rin nyaris menjinjit, saking gemasnya dengan pria di hadapannya. “Kau selalu berkata bahwa aku pengisi dayamu, itu sama dengan penyemangat, Kim Ki Bum!”

“Aah, Charger?”

“Iya! Eh?”

Mengerjap, mengerjap, sekali lagi mengerjap, kemudian blush … timbul rona memerah di mana Soo Rin mulai gelagapan.

“Bu-bukan charger! Tapi pengisi daya!”

“Pengisi daya itu arti dari charger, Soo Rin-ah.”

“Maksudku, arti yang lain!” Soo Rin sungguh malu sekarang. Merasa bodoh dengan omongannya sendiri. Sampai ia harus mendorong pundak tegap prianya sendiri. “Ya, Kim Ki Bum, aku ‘kan sedang bicara serius padamu! Jangan mengajakku bergurau!”

“Memang kapan aku mengajakmu bergurau?”

Melangkah mundur, Soo Rin nyaris berbalik jika saja Ki Bum tidak langsung menariknya kembali dan memeluknya, melepas tawa di atas kepala gadisnya sembari menghirup wangi khas di sana. Hanya melakukan ini, kepenatan parahnya berangsur berkurang dan bisa dirasakan adanya keringanan mulai bermunculan di dalam kepala.

“Baik itu penyemangat maupun pengisi daya, kau menyandang keduanya, bahkan lebih dari itu. Jadi seharusnya aku memanfaatkan semuanya.” Wajah Ki Bum turun, menuju sisi kepala gadisnya dan tenggelam di antara surai panjangnya, “Maaf karena aku tidak pandai berbagi denganmu.”

Mendengar ucapan parau Kim Ki Bum sungguh menggerakkan benak Soo Rin untuk terenyuh. Dia pun membalas pelukan prianya dan berusaha memberi kenyamanan.

“Jangan disembunyikan lagi…”

Hm. Aku akan berusaha bercerita padamu ke depannya.”

Jinjja?

Hm.

“Kalau begitu aku akan membuangnya.”

Ki Bum terperangah tentu saja. Tidak menyadari bahwa Park Soo Rin baru saja berhasil mencuri satu bungkus rokok dari saku jubahnya sebelum kemudian melepas pelukan mereka. Ada raut kepuasan di wajah cantiknya, seolah menyampaikan bahwa ia berhasil mengecoh Ki Bum.

Geurae, hae. (Baik, lakukan saja)”

Tetapi mendengar perizinan Ki Bum justru membingungkan Soo Rin. “Kau tidak marah? Aku akan membuang ini. Semua ini. Seperti ini!” Soo Rin menggoyang-goyangkan bungkus rokok di tangannya. Memraktekan gerakan ingin melempar benda tersebut jauh-jauh.

Dan Ki Bum mengangguk. “Hae,” ucapnya lagi, sambil kembali menghapus jarak mereka dan kembali berkata, “Tapi kau harus menggantinya dengan ini.”

Soo Rin yang tidak siap, limbung ke dalam pelukan tiba-tiba dari Kim Ki Bum, merasakan sentuhan lembut di bibir mana kala pria itu menciumnya. Tidak ada gerakan, namun menekan lembut dan bertahan dalam hitungan detik sebelum Ki Bum melepasnya. Barulah Soo Rin kembali tersadar.

“Ka-kau … beraroma rokok,” ucapan jujur, karena memang begitulah yang Soo Rin rasakan.

“Benarkah?” dan Ki Bum meresponnya dengan berpura-pura terkejut, mengerjap-kerjap seperti pemuda yang baru saja ketahuan berbuat salah, “Haruskah aku berkumur terlebih dulu? Atau sikat gigi? Atau—”

“Tidak perlu,” sambar Soo Rin sambil menggeleng cepat. “Biar aku hilangkan.”

Tidak diduga oleh Ki Bum bahwa Soo Rin akan melakukannya lebih dulu. Sambil memejamkan mata rapat-rapat, memertemukan bibir mereka sekali lagi. Tapi tentunya Ki Bum tidak mungkin tinggal diam, tidak mungkin pula membiarkan Park Soo Rin yang mengambil alih sebab gadis itu hanya sebatas menempel.

Jadi Soo Rin bisa merasakan adanya pergantian andil di mana pria itu menarik kedua tangannya untuk masuk ke balik jubah, membuat tubuhnya yang jauh lebih kecil dari si pria untuk tenggelam, bersamaan adanya gerakan di bibirnya sehingga Soo Rin terbuai begitu saja. Menepis aroma tembakau yang menyerang indera penciumannya dan memilih untuk mendengak hingga memudahkan si ahli mencium semakin mendominasi. Membuka celah bibirnya dengan lihai untuk kemudian menyesap bagian bawahnya begitu dalam. Memberinya kesempatan untuk mengecup bibir atas prianya yang malah menimbulkan intensitas napas berat itu memburu, membentur keras wajahnya yang berefek cukup besar.

Soo Rin makin menahan napasnya.

“Kau semakin berani membalasku.” Ki Bum mengalunkan suara seraknya, di depan bibir gadisnya yang sudah basah, melihat bagaimana mata jernih itu membuka ragu-ragu sebagaimana dengan cara membalas tatapannya.

“Tidak boleh?” Soo Rin mencicit, merasa pertanyaannya terlalu konyol untuk dilontarkan namun kenyataannya dia memang ingin tahu jawabannya.

Dan Ki Bum mengabulkan, mengecup lagi candunya, menerpa dengusan samar untuk gadisnya sambil menyimpul senyum. Melontarkan dua kata yang cukup untuk memecah keraguan gadisnya.

“Aku menyukainya.”

Karena Kim Ki Bum memang selalu menyukai segala tindakan Park Soo Rin terhadapnya.

img_20170122_193351

F I N


iya, segitu doang, absurd seperti biasa dengan judul yang gaje seperti biasa juga 😅😅

selingan karna whatta man belum kelar hehehehehe //nyengir//

moga suka yaa 😳😳

salam lewat (?)

cyw0m8zxgaap4_u
Doctor Tan

see u next time kesayanganku semuaaah 😙😙

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

20 thoughts on “What You Are Hiding From Me

  1. lagi sist…
    yg pnjang…
    syock bgt kibum ngerokok lg…
    pdhl da soorin yg siap sdia jd pngganti rokok alias charger…
    dah lma si charger g mncul.skali nya mncul jd geli sndiri.he3x…

    1. gimana soorin yg lebih syok liat sendiri kalo kibum ngrokok ya? 😂😂
      dududuuhh, istilah charger jadi membekas sekali rasanya (?) 😫😫
      yg panjang ya.. hmm…kita lihat nanti deh ya(?) makasiiih krn masih mau baca merekaa 😣

  2. Bcany sambl ngebayangin cium aroma rokok, ugh….

    Soorin tahan bgt sma aroma rokoknya…. Pdhl klau ngbrol aja sm org yg bru slsai merkok aja aromany sdh kuat….

  3. kenapa kibum rokok lg sih? gak suka kalo dia jd rokok lg. mending rundingan sm soo rin dong ya mungkin dulu dia rokok krn gak bisa ketemu soo rin tp sekarang kan soo rin ada bersamanya. secara kasar bisa diapa2in jg.xixixi #kenavirus mesum kibum.

    1. “secara kasar bisa diapa-apain” yawlaa kuterbahak 😂😂 maafin ya kimkibum udah nyebar virus yg engga-engga duuhh
      iya entar dirundingin lagi deh ya (?) hihihihi

  4. Ckckck kok aku jadi geli sendiri, astaga soorin aku suka gaya mu kalo perlu grep grep Kibum ?? Eh hahahaha

    Tanggung jawab eon pikiran ane udah gak waras nih 😂😂😂

  5. huaahhh kangen kibum-soorin yang manis begini huhu
    lagi donk lagi wkwkkw /ditoyor/ banyak minta gue XD

    kita sehati loh park soorin, lelaki yg merokok its a no no u,u

  6. eiyy aku udah baca ini kemarin sebenernya 😉
    iiiih~ chuurin chiii udah berani popo popo duluan yaaa sekaraaaang hihihiii 😉
    duh aku kirain apa coba yang lebih menyenangkan dari PSR buat kibum tuh kkkkkkk~ anywayy aku ga tahan bayangin soorin ngerasain tembakau di mulutnya kibum ungh~ jangan bolehin kibum ngerokok lagiiii kan, dia dokter 😉 heheheheheee btw maapin deh ini gapenting banget reviewnya 😥 😉

  7. Ki Bum ga boleh ngerokok 😈
    Ahh SooRin selalu menggemaskan polos dan menggairahkan diwaktu bersama, bagaimana Ki Bum ga klepek klepek coba 😂😊😊😊

  8. Aah jinjja aku baru baca ini,sekian lama gk buka fb ekkeke kngen kisukisu dirimu kak eheheh 😂

    Ey kimkibum knpa dengan rokok,soo rin kan ada kekeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s