Posted in Adult, Campus Life, Fiction, Friendship, KiSoo FF "WHATTA MAN", PG-17, Romance

WHATTA MAN – Confusing Moments

1484117265137

Adult, Campus Life, Friendship, Romance

PG-17 | for harsh words

before :: [0] Wild Class | [1] Attention | [2] Bad Man | [3] Just Started | [4] Warn You | [5] My Zone | [6] How Are You? | Protected: [7] I Hate You | [8] I’m Sorry

Clue :: I.H.U [Spoiler]

“You look more beautiful.”

H A P P Y    R E A D I N G

.


 ELVABARI©2017

.

.

PEMUDA itu mendudukkan diri di kursi panjang sebuah taman. Penampilannya yang mengenakan seragam sekolah itu tampak berantakan, pun dengan rambutnya yang hitam—begitu pas dengan kulit putihnya—tampak tidak tertata seolah dibiarkan acak-acakan begitu saja, belum cara duduknya yang tergolong semena-mena dengan satu bersila di atas kakinya yang lain.

Garis wajahnya yang tegas itu menunjukkan raut teramat dingin, menguarkan aura di mana siapapun akan merasa enggan untuk berada dalam radius satu meter darinya. Bibir penuhnya terkatup keras, matanya yang condong sipit tidak kalah tajam dengan iris hitam pekatnya. Ia menghentak kasar napasnya sambil mendengakkan kepala, menatap sekilas langit senja yang memayungi sebelum merogoh salah satu kantung celananya. Meraih sebungkus rokok yang sudah menjadi konsumsi rutinnya.

Hampir berhasil mengambil satu puntungnya, harus dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang langsung merampas kebutuhannya itu, memancing emosinya yang rentan kambuh dan hampir meneriaki si pelaku jika saja ia tidak melihat rupa juga wujud orang itu.

Stop smoking, I’ve told you.

Dengusan penuh kesal itu keluar begitu saja dari mulutnya. Memilih untuk memalingkan wajah di kala orang itu justru mendudukkan diri di sebelahnya.

Like you care,” cibirnya, suara beratnya begitu dalam menyirat ketidaksukaannya terhadap pria di sebelahnya.

“Aku sungguh tidak mau melihatmu merusak dirimu sendiri,” pria itu membalas, sambil mengambil satu puntung rokok hasil rampasannya dari si pemuda lalu menyelipkannya ke mulut.

“Bicaramu seolah menunjukkan bahwa hidupmu sudah benar,” si pemuda merampas kembali rokok miliknya, “Mengurus jalang-jalangmu itu lebih baik dibandingkan menjadi penasehatku,” lanjutnya menyindir.

Pria itu hanya tertawa kecil. Membiarkan si pemuda bertindak sesukanya. Sedangkan dirinya  menyulut ujung rokok di mulutnya lalu menyerahkan pemantik miliknya pada si pemuda. “Dan salah satunya berhasil menjeratmu.”

Di saat pria itu menyesap rokok lalu mengepulkan asap tembakau di mulutnya, sang pemuda melempar pemantik pemberian pria itu begitu saja, meletakkan rokok tersebut tanda minatnya sudah menghilang. Mulutnya terbuka, mengeluarkan dengusan sinis tersirat akan kekecewaan yang entah seberapa dalam.

You trapped me, and destroyed me,” pemuda itu menggeram. Takut emosinya membludak, dia menurunkan satu kakinya agar mampu menumpu tubuh menjulangnya. “I don’t wanna make a deal with you anymore, so don’t talk to me again,” ujarnya tajam sebelum hengkang dari sana.

Berlama-lama di dekat pria itu hanya akan membuat traumanya kambuh.

“Aah, bagaimana ini? Aku sudah memiliki hak atas dirimu.”

Pemuda itu berhenti di langkah ketiga, memutar tubuhnya hingga kembali menemukan sosok yang tengah memamerkan senyum miring untuknya, menjatuhkan rokoknya sebelum diinjaknya, lalu berdiri demi mendekatinya dengan tangan-tangan tersimpan dalam saku. Dia memang lebih menjulang dari pria itu, namun tubuh yang kekar itu sudah mampu melawan presensinya.

“Kau lolos seleksi dan diterima di tempatku. Jadi berkemaslah karena aku yang akan menjadi walimu. Kau tidak mungkin mengandalkan orangtuamu yang bahkan tidak peduli dengan nasib masa depanmu, bukan?”

Pemuda itu mengepalkan tangan sekuat mungkin. Dia tidak tersinggung akan ucapan si pria yang sudah menghina orangtuanya—toh dia sendiri juga tidak peduli dengan mereka yang hanya sebatas mengirim uang padanya—melainkan tidak suka akan keputusan yang dilontarkan oleh pria yang memang jauh lebih tua darinya itu.

“Aku lebih memilih menjadi gelandangan daripada harus berada di bawah kewenanganmu,” selesai berkata demikian, dia segera berbalik pergi dari sana. Langkah-langkah besarnya berhasil menjauhkan diri dari pria yang ternyata hanya sebatas memandang punggung nya.

“Tapi aku tidak akan menyia-nyiakan kewenanganku.”

&&&

Hanya dalam hitungan sekon, Ji Soo segera menyadari perbuatannya. Dia segera melepas Soo Rin dari pelukannya, menatap bersalah gadis yang tampak terkaget-kaget. Buru-buru Ji Soo mundur meski selangkah, mengatur gejolak emosinya seraya menelan saliva.

“Maaf, aku … aku hanya … tidak bermaksud…” Ji Soo kepayahan, otak cerdasnya bagai berhenti mengolah diksi seperti biasanya. Apalagi melihat ekspresi Soo Rin bak tengah melihat dirinya bukan seperti dirinya saat ini.

“Y-ya, aku mengerti…” Soo Rin bersuara, di sela-sela mengontrol keterkejutannya, ia berusaha menyematkan senyum untuk pemuda di hadapannya. “Aku yang minta maaf. Kau, pasti sudah melihat kejadian kemarin. Itu…”

“Tidak, Park Soo Rin. Aku yang minta maaf. Aku…” Ji Soo mendesah gusar, ia bahkan sampai membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering, “aku mengkhawatirkan keadaanmu. Mengenai semalam, aku tidak bisa mengantarmu pulang, jadi…”

“Tidak apa-apa. Aku justru khawatir sudah merepotkanmu, jadi, aku minta maaf,” Soo Rin menyambar.  “Ugh, kenapa kita menjadi saling meminta maaf?” kelakarnya mencoba mencairkan suasana canggung yang menyelimuti mereka. Berdiri saling berhadapan di koridor lengang seperti ini, membuat Soo Rin yang biasa lancar bicara menjadi kehabisan kata-kata berkat kejadian beberapa saat lalu.

Ji Soo sendiri memilih untuk mengakhiri, menarik napas dalam masih dengan tetap menatap Soo Rin. Jakunnya bergerak naik-turun sebagaimana dengan dirinya menelan saliva kepayahan.

“Kau benar tidak apa-apa? Maksudku, kemarin malam, kau dibawa pulang oleh…”

Soo Rin menyadari adanya keraguan di balik suara Ji Soo. Pemuda itu pasti tahu karena dia ada di lokasi kejadian, bukan? Apalagi, mengingat pengakuan Lisa dan Sandara belum lama ini, mengenai Hong Ji Soo dan Kim Ki Bum.

“Kemarin, dia memang membawaku pulang … ke apartemennya … tetapi aku tidak bertemu dengannya setelah itu. Adiknya yang merawatku, jadi seperti yang kaulihat, aku masih baik-baik saja.”

Ji Soo menyadari dirinya baru saja mendesah lega setelah mendengar klarifikasi Soo Rin. Tanpa terkontrol lagi bibirnya tertarik, sekaligus tangannya yang sudah mengudara namun berhasil ditahannya, hampir saja kelepasan, maka dari itu segera dialihkan menuju pundak kecil Soo Rin, menepuknya pelan namun penuh rasa di sana.

“Aku bersyukur kau mengatakannya padaku. Itu sudah cukup,” ujar Ji Soo penuh arti. Dan ia tidak bisa menyembunyikan perasaan itu ketika melihat gadis berkacamata itu tersenyum teduh padanya. Membuat kecemasannya berangsur lenyap. “Lebih baik kau bicara padaku jika terjadi sesuatu, Park Soo Rin.”

Soo Rin hanya bisa mengangguk dan tersenyum tanggung.

Di sisi lain, ada yang menyaksikan interaksi mereka dengan tangan-tangan terkepal. Raut wajahnya yang rupawan mengeras dengan mulut terkatup rapat. Napasnya pun mulai memburu dan ia hampir merusak dress yang dikenakannya akibat remasan kepalannya.

“Tenangkan dirimu, Chae Yeon-ah.” Na Young yang berdiri di samping sang primadona, mencoba menenangkan bersama Do Yeon di sisi lain, namun nyatanya, yang ditegur malah menghentak high heels-nya teramat keras.

Jika sudah tidak sadar diri di mana posisinya saat ini, Chae Yeon pasti akan berteriak kencang demi melampiaskan amarahnya yang sungguh menyesakkan dada.

“Lihat saja nanti, Park Soo Rin. Kaupikir hidupmu sudah tenang setelah aku tahu apa yang kausembunyikan di balik kacamata tebalmu itu?” Chae Yeon menyeringai. Hanya kedua temannya yang tahu, apa yang sedang berputar di dalam otaknya.

Karena baik Na Young maupun Do Yeon mengangguk sebagai tanda persetujuan ucapan sang primadona.

****

Soo Jin baru saja keluar dari tempat bekerjanya dan memilih mampir ke sebuah kafe. Sambil menunggu antrian yang cukup ramai mengingat ini waktu jam pulang kerja, ia menyempatkan diri memainkan ponselnya demi mengirimi pesan singkat untuk sang adik.

Kau sudah di rumah? Eonni sebentar lagi pulang. Mau camilan?

Tak lama setelah pesan singkatnya terkirim, muncul balasan dari kontak yang sudah diberinya nama My Rin yang cukup panjang.

Kafe? Kalau begitu aku pesan Choco Green Tea! Perbanyak krim-nya, ya! Sedikit kue tidak buruk ㅋㅋㅋ Tapi jangan terlalu banyak jajanan, Eonni! Aku sudah membuat nasi goreng kimchi!

Decihan halus keluar dari bibir Soo Jin, tersenyum tanpa sadar sembari mengetikkan sesuatu dan hampir mengakhirinya dengan menyentuh tanda kirim ketika ada yang menginterupsi.

“Park Soo Jin?”

Saat itu juga pikiran Soo Jin teralihkan dan berganti rasa terkejut melihat siapa yang baru saja menyapanya.

“Ahn Hye Min?”

.

.

.

latte-macchiato

Wanita cantik berambut panjang itu tersenyum manis sembari menyerahkan satu gelas latte macchiato ke atas meja tepat di hadapan Soo Jin, kemudian mendudukkan tubuh semampainya tepat di seberang dengan tatapan tak lepas dari Soo Jin.

“Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?”

Soo Jin melemparkan senyum ramahnya pada wanita itu. “Ya, tidak terasa sekali. Bisa kaulihat bahwa aku tampak sangat baik. Bagaimana denganmu, Hye Min? Kapan kau pulang? Kenapa tidak mengabariku jika kau sudah pulang?”

Hye Min terkekeh sejenak. “Aku senang melihatmu antusias melihatku. Aku jadi makin merindukanmu,” kelakarnya.

“Ya, aku juga. Empat tahun tidaklah terasa dan aku kembali melihatmu dalam keadaan tampak semakin baik.”

“Begitu juga denganmu, Soo Jin-ah. Aku senang kau terlihat sejahtera.”

Well, aku mencintai profesiku sekarang.” Soo Jin ikut terkekeh melihat teman lamanya terkekeh mendengar jawabannya. “Hei, kau belum menjawab pertanyaanku, kapan kau pulang? Apa kau hanya sekadar liburan atau akan menetap lagi di sini, huh?”

“Aku sudah menyelesaikan studi magisterku dan baru mendarat tiga hari lalu. Sebelumnya aku sudah melamar pekerjaan di sini dan tidak kusangka akan diterima. Jadi sepertinya aku akan menetap lagi di tanah kelahiran.”

“Benarkah? Pekerjaan apa?”

“Yah, karena aku sempat mengajar di Jepang, aku akan mengajar juga di kampus mulai besok.”

“Benarkah? Kau akan menjadi dosen? Hebat sekali! Selamat, Hye Min-ah!” Soo Jin tampak antusias sekali mendengar kabar baik tersebut. “Di mana kau akan mengajar?”

“Universitas Inha, di Fakultas Humaniora. Karena kebetulan sekali ada dosen Linguistik yang baru saja mengundurkan diri, aku akan menggantikannya di sana.”

“Universitas Inha?” Soo Jin melebarkan senyumnya. “Adikku berkuliah di sana, di fakultas yang sama. Sepertinya kau akan bertemu dengannya di sana.”

“Benarkah? Adikmu Park Soo Rin itu?” Hye Min pun turut melebarkan senyumnya. “Aih, aku jadi gugup. Adikmu itu sudah pintar, bagaimana jika aku kalah berdebat dengannya nanti?”

Soo Jin tertawa disusul Hye Min, menikmati candaan kecil sekaligus pertemuan kali pertama setelah cukup lama berpisah. Bernostalgia akan pengalaman yang diam-diam menyeruak ke permukaan ingatan namun terasa enggan untuk dibahas dalam situasi seperti sekarang.

****

“Benarkah? Teman Eonni akan mengajar di tempatku?”

Iris kecoklatan di balik kacamata Soo Rin melebar setelah mendengar cerita singkat dari sang kakak. Mereka sudah berkumpul di meja makan mungil yang telah dipenuhi menu makan malam ini termasuk jajanan yang dijanjikan Soo Jin.

“Ya. Dia juga berkata ingin segera bertemu denganmu di kampus. Sepertinya kau akan menemukan dosen menyenangkan satu lagi,” ujar Soo Jin penuh arti sembari menyendok nasi goreng kimchi buatan adiknya tersebut.

Eii, Eonni bercerita soal diriku, ya?”

“Hanya sedikit. Lagipula dia sudah tahu bahwa Eonni memiliki adik pintar. Hanya tinggal bertemu langsung denganmu untuk memenuhi rasa penasarannya itu.”

Eonni berlebihan,” gumam Soo Rin lalu menyumpal mulutnya dengan sesuap nasi goreng.

“Jadi, bersikap baiklah dengannya. Mengerti?”

“Aku selalu bersikap baik dengan dosen yang mengajarku, Eonni.” Soo Rin berkata acuh tak acuh. Ketika dirasa ucapan kakaknya hanya formalitas, tidak disangka jawaban darinya malah membuat otaknya memutar bayangan pria yang sudah membuat dirinya bertingkah konyol di hari ini.

Ya, Soo Rin memang selalu bersikap baik dengan dosen yang mengajarinya, tetapi pria yang acapkali dipanggil Dosen Kim dan menjadi sumber ketidaktenangannya itu sepertinya sudah menjadi pengecualian.

****

Jae hanya menggoyang-goyangkan gelas bir di tangannya, sesekali melirik pria yang sedari tadi bertahan dengan posisi sama di sebelahnya dan tampak tidak memedulikan kehadirannya sama sekali. Membosankan sekali rasanya. Dia hanya bisa sebatas merangkul mesra pria itu tiap kali ada wanita seksi melirik kemari, bentuk perlindungan untuk si pria agar tidak ada satu kaum pun yang berani duduk di sini.

“Lebih baik kau pulang saja, Kim. Berada di sini sepertinya tidak akan membantumu sama sekali. Yang ada aku semakin bosan dan mungkin suatu saat akan menciummu habis-habisan.”

Tidak menyahut, Ki Bum malah meneguk sisa bir di gelasnya hingga tandas, meletakkannya di atas meja begitu saja. Dia lebih tertarik memijat keningnya yang mulai terasa pening. Niatnya datang kemari adalah menghilangkan rasa penat, tetapi kondisi hingar bingar club ini justru membuatnya frustasi sendiri.

Perhatian Jae teralihkan kala tiba-tiba pria di sebelahnya melemparkan sesuatu ke atas meja. Membuatnya mengernyit tidak mengerti setelah tahu benda apa itu.

“Aku tidak bisa memberikan itu padanya. Lebih baik kausimpan lagi saja.”

Barulah Jae mendengus merasa paham akan ucapan Ki Bum. “Jadi ini yang membuatmu terlihat frustasi hari ini, huh?” tanyanya sembari mengacungkan obat salep tersebut. “Gosh! Aku tidak percaya ini, seorang Kim Ki Bum bahkan tidak mampu sebatas menyerahkan ini pada seorang gadis. Memang apa susahnya memberikan ini?”

“Menjadi sulit karena dia langsung menamparku.”

Jae menatap tidak percaya, tahu benar maksud jawaban pria di sebelahnya itu. Makanya tanpa berpikir dua kali Jae memukul kepala Ki Bum hingga pria itu mengerang sakit. Untungnya saja teriakan memalukan itu teredam oleh bisingnya club jadi Ki Bum tidak perlu merasa harga dirinya baru saja diinjak oleh wanita itu.

Why did you hit me?!” tapi tidak menampik bahwa Ki Bum akan marah berkat perbuatan yang didapatnya.

What have you done to her?! I’ve warned you to don’t touch her like always you do to your bitches, Stupid Jerk!” (Aku sudah memeringatimu untuk jangan menyentuhnya seperti yang sering kaulakukan pada jalan-jalangmu.) tentunya Jae tidak merasa takut untuk melawan. Kalau perlu dia akan memukul kepala pria itu lebih keras lagi.

I didn’t touch her!” Ki Bum berkelit namun sambil memalingkan wajah. “Just … almost, is that wrong?

Lalu Jae memukul pria itu lagi. Kali ini di punggung lebarnya yang terasa empuk untuk dijadikan sasaran. Dan Ki Bum berteriak lagi.

Goddammit, Jae! Could you not using all your fuckin’ strength to me?! It’s so hurt!” (Bisakah kau tidak menggunakan semua kekuatanmu padaku? Ini sangat sakit!)

“Lebih sakit mana jika dibandingkan dengan tamparan gadis itu, huh?” semprot Jae sungguh tidak peduli dengan tatapan Ki Bum yang mulai menyala. “Itu tidak seberapa dibandingkan dengan perasaan gadis itu yang pasti merasa dilecehkan olehmu! Haish! Si brengsek bodoh ini!

Ki Bum langsung waspada, menepis tangan Jae yang kembali mengayun seperti hendak menjatuhkan pukulan lagi padanya. Sungguh sial, di tempat seperti ini, Jae sudah berani-beraninya membuat dirinya tampak tidak berdaya seperti ini. Tapi mendengar cercaan Jae sudah cukup mengalihkan fokus Ki Bum hingga kini dirinya mengacak-acak rambutnya sendiri. Seperti ada yang baru saja menohok perasaannya sampai pikirannya dihantui oleh bayangan gadis berkacamata itu.

Jae sendiri tidak menampik mengetahui arti tingkah Ki Bum. Selama ini, Jae hampir tak pernah melihat Kim Ki Bum yang terlalu dipengaruhi oleh lawan jenis sampai-sampai pria itu bahkan tidak mampu memberikan salep yang sempat diminta darinya untuk gadis itu. Merupakan kebodohannya juga yang sudah seenaknya memerlakukan gadis terlalu lugu itu dengan kebiasaan brengseknya yang sudah akut. Bagaimana Jae tidak marah hanya dengan mendengar klarifikasi tersirat seperti tadi? Otaknya yang sudah terlalu berwawasan luas tentu saja mampu mencerna maksudnya.

“Aku hanya tidak tahu bagaimana cara menyerahkannya. Padahal dia terus berada di hadapanku hingga hari ini tapi sialnya aku lebih tertarik membuatnya kesal.”

“Itulah kebodohanmu, Kim Ki Bum,” imbuh Jae telak. Ia bersedekap dengan dagu terangkat. “Kau sudah terlalu banyak menggoda wanita sampai-sampai hampir menyamakan gadis seperti dia dengan perlakuan tak jauh berbeda.”

“Ya, kau benar.” Ki Bum menghempas punggungnya pada sandaran sofa, terlihat tidak tersinggung seperti beberapa saat lalu. Matanya menerawang ke atas. “Aku memang harus membuatnya mau kusentuh dan itu membutuhkan waktu yang sangat lama.”

Jae memutar bola mata, merasa lucu dengan pemilihan diksi yang terlontar dari mulut Ki Bum.

“Lebih tepatnya buat dia mau membuka hati dan mau memandangmu! Astaga si brengsek ini, kenapa menjadi terlihat bodoh sekali, sih?” Jae menggeleng-gelengkan kepala penuh heran. Meraih kembali obat salep tersebut untuk ia masukkan ke dalam kantung kemeja Ki Bum, lalu menepuk pundak pria itu seraya melanjutkan, “Kalau kau memang serius mengincarnya, menyerah bukanlah gaya yang keren, Kim Ki Bum. Dan belajarlah mengontrol hormon liarmu itu jika tidak mau ditampar lagi olehnya.”

Ki Bum mendesis kesal disertai lirikan tajam untuk Jae, namun tak pelak bahwa batinnya membenarkan nasehat wanita itu, makanya ia memilih mengalah.

“Jae, antarkan aku pulang. Aku sedang tidak mood menyetir.”

Berganti membuat wanita itu kembali kesal namun tidak bisa menolak perintahnya. Hanya bisa menggerutu di kala Ki Bum melempar kunci mobil kepadanya.

****

Hari ini, mereka tengah berkumpul di perpustakaan demi mengerjakan tugas kelompok dari Dosen Choi beberapa waktu lalu. Baik Lisa juga Sandara yang biasanya jarang mampir ke tempat ini justru mulai betah karena tertarik dengan sifat dua teman sekelompoknya kali ini.

Ada yang berbeda dari cara Ji Soo dan Soo Rin berinteraksi. Seperti ada kecanggungan di setiap kalimat yang mereka lontarkan satu sama lain, bahkan mereka tampak segan tiap kali bertatap muka. Meski tidak begitu kentara, Lisa dan Sandara yang sudah terbiasa melihat mereka dalam keadaan apapun—lebih tepatnya karena selalu bersama Soo Rin—mereka bisa dengan mudahnya menemukan celah yang tak biasa.

Um … aku rasa bagian ini masih kurang,” suara Soo Rin mengalun pelan, menunjuk layar laptop yang tengah dihadap Ji Soo mengingat kini giliran pemuda itu yang mengetik.

“Di sini?” Ji Soo menggerakkan kursornya, memastikan. Melihat dari sudut matanya bahwa gadis itu mengangguk, barulah Ji Soo menoleh ke arah lain. “Sandara, di mana kau mendapatkan jawaban dari kasus nomor tiga?”

“Oh? Uh, sebentar.” Sandara yang sedari tadi mencoba berkutat dengan buku-buku tampak kelabakan. Lalu hampir berseru karena berhasil menemukannya di balik tumpukan buku yang lain.

Soo Rin menerimanya, membaca halaman yang sudah ditunjukkan Sandara sembari sesekali memeriksa layar datar di depannya. Keningnya mengernyit jelas nenandakan bahwa ia begitu serius menekuri sampai tidak menyadari bahwa pemuda itu mendekat.

“Ini. Tapi kurasa penjabaran untuk teorinya dibutuhkan contoh lain yang lebih spesifik dari kasus nomor ini agar meyakinkan.” Ji Soo berkata sembari menunjuk sesuatu di atas buku yang dihadapi Soo Rin.

“Kau benar. Ini biasanya diterapkan di dalam kasus yang sama seperti—”

Soo Rin terpaksa menelan kembali suaranya, akibat dirinya menoleh secara spontan, tidak sengaja mendapati wajah Ji Soo agak begitu dekat dengan wajahnya. Tidak jauh berbeda, pemuda itu pun ikut tertegun hingga tak pelak mereka larut dalam kesunyian mendadak.

Namun Soo Rin yang bereaksi lebih dulu, berdeham pelan seraya menyerahkan buku tersebut pada Ji Soo sambil berkata, “Kalau begitu, aku akan mencari buku lagi,” lalu berdiri dari duduknya demi melesat pergi dari sana tanpa bisa dicegah.

Ji Soo sendiri hanya mengantar kepergian Soo Rin yang menghilang di balik rak-rak menjulang, menghela napas panjang seraya mengacak-acak belakang rambutnya. Entah ia menyadarinya atau tidak bahwa gerak-geriknya diperhatikan oleh dua gadis di dekatnya.

Sandara yang mencoba kembali fokus harus merasa terusik dengan ponselnya yang tiba-tiba bergetar di dalam saku. Menandakan adanya pesan singkat masuk.

Aku semakin yakin bahwa sudah terjadi sesuatu di antara mereka!

Lalu Sandara menengok pada Lisa—si pengirim pesan tersebut—yang mengangguk penuh yakin padanya.

.

.

.

Aisshi! Kenapa menjadi begini?”

Soo Rin menggerutu di sepanjang langkah-langkahnya. Merutuki sikapnya yang tiba-tiba menjadi canggung menghadapi Hong Ji Soo. Padahal dia sudah meyakinkan batinnya untuk menganggap tidak ada yang terjadi di antara mereka, tapi tiap mencoba berbicara pada pemuda itu memori di hari lalu berputar begitu saja di kepalanya.

Yah, Soo Rin akui bahwa itu adalah kali pertama mendapat perlakuan demikian dari Hong Ji Soo. Tapi seharusnya Soo Rin bisa menanggapi hal tersebut dengan santai. Bukankah Ji Soo sendiri sudah meminta maaf bahkan terlihat biasa saja? Seharusnya Soo Rin juga bisa!

“Tidak. Tidak begitu. Aku justru bertanya-tanya kenapa Hong Ji Soo melakukannya? Memangnya sebesar apa kekhawatirannya itu sampai-sampai berbuat seperti itu padaku?”

Gumaman Soo Rin menemani kegiatannya yang mulai menghadapi deretan buku yang tertata rapi di salah satu rak. Fokusnya memang menjadi terbagi karena pada dasarnya dia sendiri bingung ingin mencari apa.

“Apa dia sebenarnya pria melankolis? Tapi mana mungkin pria seperti Hong Ji Soo mudah terbawa suasana hatinya sendiri? Itu terlalu kontras dengan tampangnya.” Soo Rin berkacak pinggang. Sungguh, fokusnya memang sudah melayang ke segala arah. “Dia tidak mungkin sekhawatir itu padaku. Hanya karena aku hilang kesadaran dan lupa apa yang sudah terjadi di malam itu. Benar, bukan?”

“Mungkin saja.”

Ah kkamjjak—” Soo Rin melompat tanpa sadar. Untung saja seruannya langsung teredam oleh bekapan tangan seseorang yang sudah mengejutkannya hingga kini Soo Rin beralih melotot kaget begitu melihat siapa pelakunya.

“Kau ternyata memang mudah sekali terkejut,” desis Ki Bum sedikit tidak nyaman dengan reaksi gadis itu barusan. Kalau saja gerak refleknya tidak bekerja, bisa-bisa ada yang datang kemari karena tertarik dengan teriakan Park Soo Rin.

Gadis itu langsung melepas paksa bekapan di mulutnya, menatap tidak suka pria itu seraya mendesis kesal, “Ini juga karenamu yang gemar sekali muncul seperti hantu!”

“Kaunya saja yang tidak waspada dengan sekitar, Park Soo Rin. Tabiatmu itu sangat mudah menarik perhatian penculik kalau saja kau tidak memiliki sifat pemarah itu.”

“Kau baru saja mengakui dirimu adalah penculik, Dosen Kim.”

“Dan kau mengakui dirimu memiliki sifat pemarah.”

Soo Rin mengerutkan bibir, mengangkat dagunya dengan berani dan melebarkan iris di balik kacamatanya demi menggertak pria di hadapannya. “Sebenarnya apa maumu, huh?”

“Turunkan pandanganmu, Nona. Kuharap kau tidak lupa sedang menjalani hukuman dariku.”

Sial!

Ki Bum berdecak, sedikit tidak suka mendengar gadis itu baru saja mengumpat. Itulah mengapa dia mulai bertindak menjulurkan satu tangannya demi membuat teritori dengan bantuan rak di dekatnya, menatap lekat si gadis yang nampaknya sedikit tahu diri karena melihat mata itu berkeliaran menghindari kontak darinya.

Why didn’t you answer me?

“Apa?”

I’ve told you that we have to stay connect,” kini giliran Ki Bum yang mengangkat dagu. “Kau menghapus nomorku atau justru sudah membuang ponselmu?”

Soo Rin mendengus disertai bibir mengerut. Mulai paham arah pembicaraan pria itu. “Kau tidak lihat bahwa aku sedang sibuk? Aku tidak memiliki waktu untuk bermain-main denganmu, ara?!”

“Bermain-main, katamu?” Ki Bum langsung menahan Soo Rin yang sudah berniat kabur dari hadapannya. “Kau ini tidak pernah menganggap bahwa aku benar-benar serius, ya?”

“Karena pada dasarnya kau memang tidak pernah serius, Dosen Kim!” Soo Rin mengatakannya penuh penekanan di setiap kata. Lalu melepas paksa tahanan pria itu agar dirinya mampu pergi dari sana.

Just check your phone in seconds, Park Soo Rin.

Ki Bum menahannya lagi, kali ini dengan ucapan. Meski Soo Rin berusaha untuk tidak berbalik, dia merasakan bahwa pria itu kini menatap punggungnya sebab suaranya terasa lebih jelas kala melanjutkan.

“Mungkin tidak seberapa, tapi perlu kautahu bahwa aku tidak pernah melakukan hal senekat itu sebelumnya.”

Seperti hembusan angin, Kim Ki Bum baru saja membuat bulu roma Soo Rin meremang hanya dengan kata-kata. Dan sebelum memilih untuk berubah pikiran, Soo Rin memaksa kaki-kakinya untuk merajut langkah menjauh dari pria itu, sejauh mungkin. Meski di sisi lain ada yang menggelitik benaknya karena mulai memikirkan objek yang sempat disinggung oleh Kim Ki Bum.

.

.

Ya, Hong Ji Soo.”

Panggilan Lisa menyadarkan Ji Soo dari lamunan sesaatnya, mengerjap cepat dengan alis terangkat dan mendapati gadis berambut pirang itu sudah terlalu mencondongkan tubuh ke arahnya.

“Apakah kau baik-baik saja?”

“Aku?” Ji Soo menunjuk dirinya sendiri. “Kau bisa lihat sendiri bahwa aku baik seperti biasa. Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”

Lisa menggeleng sebentar, berdecak pelan. “Ya, kau terlihat baik-baik saja, tapi ekspresimu tidak. Kau sedang menyembunyikan sesuatu bersama Soo Rin, bukan?”

Di saat Ji Soo tampak tertegun berkat ucapan Lisa, Sandara langsung memukul kepala temannya itu dengan buku tebal di dekatnya.

“Sakit!” Lisa berseru tanpa sadar. Menarik perhatian beberapa pengunjung yang langsung melempar tatapan peringatan pada mereka sehingga Sandara dan Ji Soo harus menunduk meminta maaf.

“Aah, sepertinya tugas ini mulai menjenuhkan. Bagaimana jika kita beristirahat sejenak?” Ji Soo mengalihkan topik, berdiri dari duduknya diiringi ulasan tipis di bibirnya. “Mau kubelikan sesuatu?”

“Ah, tidak per—”

Hot Choco juseyo!” Lisa menyela ucapan Sandara, detik berikutnya ia kembali merintih tatkala Sandara mencubit lengannya. “Aih, waee?!” untuk kali ini Lisa bisa mengontrol suaranya.

Ji Soo menggeleng-geleng heran. Setidaknya melihat kelakuan dua temannya itu sudah cukup menghiburnya saat ini. “Kalau begitu biar aku pesankan dulu, kalian bisa menyusul setelah aku menguhubungi nanti.”

“Baiklah. Terima kasih, Ji Soo,” ucap Sandara mengantar kepergian pemuda itu. Lalu kembali melotot pada Lisa. “Apa kau tidak bisa membaca situasi? Tidak sepatutnya kau memperlakukan Ji Soo seperti itu!”

“Aku hanya ingin mencari tahu. Baik Soo Rin maupun Ji Soo tidak mau memberi tahu, aku jadi penasaran!”

“Jika mereka tidak memberi tahu itu berarti sangat pribadi, Lalisa! Pekalah sedikit, kau ini!”

Lisa mengerucutkan bibir mendengar Sandara yang menyebut nama panjangnya. Lalu bertopang dagu diiringi desahan panjang dengan mata mulai menerawang.

“Aku sungguh penasaran dengan sikap mereka yang berubah canggung satu sama lain. Mungkinkah itu ada kaitannya dengan urusan perasaan? Jangan-jangan salah satu dari mereka ada yang menyukai dan yang disukai itu mengetahuinya. Itulah mengapa mereka seperti sekarang.”

Sandara menghela napas di sela-sela membereskan meja mereka yang berantakan oleh buku-buku.

“Tapi, Sandara, kalau mereka terlibat hal begitu, bagaimana nasib Dosen Kim?”

“Tidak tahu. Aku tidak mau memikirkan urusan pribadi orang lain.”

“Tapi ini urusan Soo Rin kita.” Lisa merendahkan tubuhnya, bermalas-malasan. “Aku tidak menyangka kalau Soo Rin akan terlibat cinta segitiga seperti ini. Kira-kira, siapa yang harus kita dukung? Hong Ji Soo atau Dosen Kim?”

“Bagaimana jika kau bantu saja aku membereskan ini?” Sandara mulai jengah dengan tingkah tak peka temannya itu.

Sedangkan di sisi lain, Ji Soo keluar dari perpustakaan dengan langkah-langkah berat. Kepalanya tertunduk memilih menjatuhkan pandangannya ke bawah. Sesekali dia akan memijat batang hidungnya disusul tarikan napas dalam yang samar terasa berat.

Pikirannya benar-benar tidak karuan saat ini. Jika biasanya dia hanya fokus dengan urusan kuliah, tugas, kuis, ujian, dan menikmati momen tiap bersama teman-teman, kini harus terbagi bahkan hampir lebih dari setengahnya dirampas oleh gadis berkacamata itu.

Jika biasanya Ji Soo merasa tidak perlu memikirkannya muluk-muluk, berkat kejadian belakangan ini, Ji Soo tidak bisa sepenuhnya menepis Park Soo Rin yang kini tampak menjaga jarak padanya. Terlebih Ji Soo makin terusik akan kenyataan bahwa Dosen Kim yang tak lain adalah kakak sepupunya itu nampaknya makin gencar mengejar Park Soo Rin.

Tidak seharusnya Ji Soo begini, tapi nyatanya dia bahkan tidak bisa melawan perasaannya dan mulai khawatir jika ini semakin jelas adanya.

“Joshua?”

Dan sepertinya Ji Soo tidak bisa menemukan ketenangan lagi sebab panggilan tak terduga itu sangat berhasil menghentikan gerak kaki-kakinya, sekaligus lajur napasnya berkat gerak motoriknya yang mencari keberadaan sumber panggilan tersebut, disusul tangan-tangannya yang mengepal kuat begitu melihat si pelaku.

****

“Kantin?” Soo Rin mengernyit mendengar jawaban Sandara baru saja. Lalu temannya itu mengangguk membenarkan.

“Ya. Dia menyuruh kita untuk menyusul, katanya akan memesankan makanan untuk kita.”

“Dan kurasa dia akan menraktir kita!”

Sandara langsung melotot pada Lisa yang baru saja mencetus demikian.

“Aah, begitu,” Soo Rin mengusap tengkuknya, terselip rasa tidak enak di dalam benaknya untuk pemuda yang baru saja mereka bicarakan. Mengingat apa yang sedang terjadi di antara mereka, bagi Soo Rin adalah tidak sepatutnya Hong Ji Soo melakukan hal ini. Sekalipun pemuda itu melakukannya tanpa pamrih.

“Kalau begitu, ayo ke kantin, Soo Rin-ah! Jangan buat Hong Ji Soo menunggu kita terlalu lama, eo!” Lisa memamerkan cengirannya, sesungguhnya ada yang tidak suka dengan tingkahnya ini. Sandara orangnya.

“Kalian duluan saja. Aku harus mendaftarkan ini sebagai pinjamanku.” Soo Rin mengangkat tiga buku yang berhasil didapatnya untuk bahan tugas mereka. Kedua temannya mengangguk mengerti di mana Lisa langsung menarik Sandara sementara yang ditarik mengikuti dengan enggan. Setidaknya hanya melihat tingkah keduanya sudah cukup menghiburnya yang tengah dirundung kebingungan saat ini.

Kebingungan akan sikap Hong Ji Soo, ditambah lagi dengan pertemuannya dengan Kim Ki Bum belum lama ini.

Selesai meminjam dan keluar dari perpustakaan, Soo Rin menyempatkan diri untuk membuka ponselnya di sela-sela perjalanan. Memikirkan ucapan pria itu membuat Soo Rin terus saja merasa terganggu. Lalu tanpa sadar dirinya berdecih pelan begitu layar ponselnya menyala, menampilkan banyak notifikasi berupa belasan panggilan tak terjawab juga lebih dari 20 pesan singkat dan semua itu berasal dari kontak si Kim Ahjusshi itu. Mulut Soo Rin ternganga tanpa sadar begitu membuka pesan-pesan tersebut.

Sedang apa?

Di mana?

Hey

Park Soo Rin?

Answer me

Ignoring me, eh?

Are you that busy?

Or don’t tell me that you already throw away your phone

“Apa-apaan ini?” Soo Rin menggeleng tidak percaya. Terlebih ia juga melihat waktu pesan-pesan itu dikirim hanya dalam jangka waktu kurang dari lima menit setiapnya. “Pria seperti dirinya ternyata bisa berbuat kekanakan seperti ini,” gumamnya mencibir layar ponselnya yang terus digulir oleh ibu jari hingga ke bawah. Tanpa sadar Soo Rin telah membacanya satu per satu hingga menemukan pesan terakhir.

I don’t know is it because you are too busy or you’re ignoring me. But it just makes me wanna chasing you more and more, Park Soo Rin.

You’ve made me crazy just because keep waiting for your answer.

Dengusan pelan keluar dari mulut Soo Rin, menurunkan layar ponselnya dari matanya dan di detik itu juga Soo Rin menyadari adanya reaksi aneh di dalam tubuh. Seperti sedang menggelitik dada, menjalar turun ke dasar perutnya dan beriak di sana. Spontan tangan yang tengah memeluk buku-buku pinjaman dari perpustakaan mengerat, membuat benda tebal itu menekan dadanya yang tiba-tiba terasa aneh di dalam. Sampai-sampai kelopak di balik kacamata itu mengatup beberapa saat di kala ia menarik napas dalam.

“Jadi ini yang dia maksud sebagai perbuatan nekat?” Soo Rin masih mengiang kata-kata pria itu. Sudut bibirnya tertarik begitu saja. “Dia memang nekat berbuat sesuatu yang bukan gayanya.”

Tetapi dua pesan terakhir itu sungguh menunjukkan gayanya. Sekali lagi menekankan bahwa Kim Ki Bum sungguh-sungguh mengejarnya. Sampai detik ini.

Run as far as you want, I’m still going to catch you, Park Soo Rin.” (Lari sejauh yang kaumau, aku masih bisa menangkapmu.)

Napasnya terenggut oleh alunan suara berat dari belakang, bagai menusuk telak gendang telinganya, menyengat tubuhnya serta membekukannya. Soo Rin bagai terpaku, membiarkan indera pendengarannya menjadi semakin tajam menumbuk fokus pada langkah-langkah yang terdengar semakin dekat di mana hal itu seketika menggerakkan tubuhnya untuk berputar, tidak bisa mengontrol keterkejutannya sebab langsung berhadapan dengan tubuh kekar milik Kim Ki Bum. Aroma yang menjadi khas pria itu menusuk seketika penciumannya. Membuatnya limbung jika kesadarannya tidak segera menguasai.

“Jadi, masih menganggapku main-main?” Ki Bum menyeringai, menunjukkan pesonanya hanya dengan dua tangan bersembunyi di dalam saku dan ia menikmati reaksi terpana itu berhasil terpetak di wajah berkacamata gadis di hadapannya.

Cepat-cepat Soo Rin memutus kontak mata mereka, menggeleng cepat sebagai bentuk perlawanan akan respon tubuhnya sendiri yang terasa asing, menepisnya dengan dehaman pelan sebelum kembali mendongak, dengan raut andalannya diperuntukkan khusus pada pria di hadapannya.

“Apa hanya itu jaminanmu, Dosen Kim? Kau justru terlihat seperti bocah ingusan yang sedang terkena sindrom cinta monyet,” sudut bibirnya tertarik, itu bukanlah senyum menyanjung, perlu diketahui. “Setidaknya kau sudah menghiburku di hari yang penat ini dengan lelucon-lelucon di sini,” lanjutnya sambil mengacungkan ponsel pintarnya.

Tidak ada yang berubah dengan ekspresi Ki Bum, tapi percayalah, batin kelelakiannya sudah menggeram marah dan ingin sekali rasanya menarik gadis kutu buku namun terlalu menarik di matanya ini untuk jatuh ke dalam kuasanya detik ini juga. Bersyukur baginya karena bisa mengontrol niat brengseknya itu di balik pesona rupanya ini.

“Cinta monyet, ya? Kau berkata demikian seolah pernah mengalaminya.” Ki Bum memiringkan kepala. “Aku berani bertaruh bahwa kau hanya pernah jatuh cinta dengan buku daripada laki-laki.”

“Meremehkanku, Dosen Kim?”

“Kau juga meremehkanku, Nona Park. Kita impas, bukan?”

Soo Rin memalingkan wajah. Dalam hati memang mengakui bahwa dia meremehkan pria di hadapannya, namun di sisi lain juga merasa keki lantaran pria itu menembak sasaran akan pengalamannya dalam hal perasaan. Park Soo Rin memang sudah lupa kapan dirinya pernah jatuh cinta, atau mungkin memang belum pernah sama sekali karena terlalu sibuk bercinta dengan yang namanya buku-buku tebal sampai matanya membutuhkan bantuan kaca minus yang tebal pula.

“Jika kau hanya ingin mengusikku, lebih baik aku pergi.” Soo Rin hampir berbalik ketika pria itu lebih dulu menahannya dengan ucapan.

“Jadi kau baru akan menetap jika aku melakukan apa? Memelukmu seperti yang dilakukan bocah itu?”

Ada kilat terkejut di mata Soo Rin meski kemudian terbias oleh bingkai bening kacamatanya, kembali memalingkan wajahnya di mana sesaat dirinya merasa tidak berani melihat wajah tegas Kim Ki Bum. Seperti ada kegamangan yang memicu jantungnya untuk berdegup cepat tatkala merasakan ada aura tak bersahabat menguar dari pria itu.

“Kau benar-benar seorang penguntit,” desis Soo Rin, menyembunyikan kegugupannya di kala isi kepalanya mulai terserang bayang-bayang pelukan tiba-tiba di tempo hari.

“Aku hanya tidak sengaja melihatnya, di saat seharusnya aku menikmati ekspresimu yang tengah menerima panggilanku.” Ki Bum membuka langkah mendekat, sorot mata tajamnya yang menyimpan hal tak terduga itu tak pernah beralih dari si gadis. “Itu benar-benar menggangguku. Rasanya seperti ingin menarikmu dari tangan-tangan-sialan-bocah-itu dan bila perlu aku akan menciummu habis-habisan di dalam pelukanku sekaligus di depannya sebagai bukti bahwa aku sudah mengklaimmu. Tapi sayangnya aku masih tahu diri bahwa kau sangat benci akan hal yang kauanggap brengsek itu.”

Wajah Soo Rin memanas hanya dengan mencerna ucapan frontal Kim Ki Bum. Memacu debaran jantungnya hingga ia semakin mengeratkan pelukan pada buku-bukunya. Batinnya harus mengumpati akan pikirannya yang mulai kurang ajar membayangkan hal yang sebenarnya sangat dihindarinya.

I was jealous, and until now, I am still, Park Soo Rin.

Membuang napas kasar, Soo Rin bersikeras untuk tidak terpengaruh semakin jauh. Kalimat yang begitu ringannya keluar dari mulut pria itu terasa menyengat tubuhnya bak menyampaikan apa yang sebenarnya dirasakan oleh sang penyampai. Soo Rin meremang, tidak mampu menepis getaran aneh yang mulai bersarang.

“Aku lebih senang mengerjakan semua tugas materimu daripada meladeni tingkahmu yang membuatku semakin pusing saja. Jadi lebih baik beri aku hukuman yang selayaknya, Dosen Kim,” suara datar Soo Rin merupakan pertahanan. Menganggap dengan mengganti topik maka perasaan dan aura Kim Ki Bum yang sedari tadi menyerangnya akan berakhir.

Bukannya menyesal apalagi tersinggung, Ki Bum kini melebarkan seringainya, menikmati wajah yang sebenarmya kentara melakukan perubahan ekspresi meski sang empunya bersikeras menyembunyikannya.

“Sayangnya, aku tidak memiliki sesuatu yang bisa kuberikan untuk kaukerjakan. Kau sudah terlalu pintar jadi untuk apa aku memberimu hukuman semacam itu? Lebih baik aku gunakan hukuman ini dengan hal-hal yang kausebut mengusik itu.”  Ki Bum mengulum senyum mautnya, membungkuk tubuhnya demi sejajar dengan Soo Rin, “Like I said, I’m going to chasing and catch you. When that time come to me, then the punishment ended up, with you … in my hand.

(Seperti yang kubilang, aku akan mengejar dan menangkapmu. Ketika waktu itu tiba padaku, maka hukuman berakhir, dengan kau … berada di tanganku.)

Gadis itu menahan napas untuk kesekian kali. Seperti ada sihir yang menerjangnya dan memerintahkannya untuk tidak berkedip apalagi beralih dari netra-hitam-tajam-menusuk bagai menghisap kesadarannya dan hampir saja Soo Rin mempermalukan dirinya sendiri jika perlawanannya berhasil meski terasa berat sekali. Ia langsung menyeret diri menjauh, membuat jarak aman agar radiasi yang dikeluarkan Kim Ki Bum tidak menjangkaunya lagi.

Maka barulah pria itu menegakkan tubuhnya kembali, masih dengan mata tak kunjung beralih dari Soo Rin, juga senyum yang menjadi khasnya itu terus saja bertengger di bibir penuhnya. Tanpa ragu lagi mengeluarkan satu tangannya dari saku untuk mendarat di puncak kepala Soo Rin, menepuknya satu kali lebih dari yang kemarin.

I like your expressions when with me, Park Soo Rin. You look more beautiful.

Bibir Soo Rin terlipat ke dalam, tampak mengerut, merupakan tanda bahwa dirinya tengah menahan gejolak asing berkat ucapan juga perlakuan Kim Ki Bum yang sukses menghantam sisi terdalam benaknya, menjadi peringatan hingga dia kewalahan sendiri dengan terpaksa mengangkat satu tangan  lagi untuk memeluk buku-buku itu semakin dan semakin mengerat, menjadikannya tameng agar pria itu tidak melihat bahwa ada yang terngah berdegup kencang di baliknya.

Tidak, tidak. Jangan termakan oleh pria hidung belang itu, Park Soo Rin! Jangan sampai!

Ketika Soo Rin berhasil menghindar, saat itu juga pandangan Ki Bum teralihkan, mendapati sosok tak asing lagi muncul tak jauh di belakang Soo Rin, melenyapkan senyum sekaligus kesenangannya dalam sekejap berganti tatapan dingin sebagai sambutan. Menggerakkan kaki-kakinya melangkah maju hingga jarak yang sempat diciptakan Soo Rin menyusut seiring dengan keterkejutan sang empu yang spontan mendongak. Gadis itu hampir saja membuat protes dan hendak merangsek mundur kala menyadari bahwa pria itu sudah berubah. Mengikuti arah pandang tak bersahabat itu ke belakang di mana Soo Rin ikut menemukan pemuda itu mendekati mereka.

“Hong Ji Soo?”

Ji Soo menyadari akan peringatan yang ditunjukkan Kim Ki Bum. Sayangnya, dia memilih mengabaikan semua—bahkan tidak menanggapi sapaan sekaligus keberadaan Soo Rin. Matanya hanya tertuju pada Ki Bum, langkah-langkahnya pun bertujuan untuk menghampiri Ki Bum, dan tangan-tangan yang mengepal di tiap sisi tubuhnya sedang menahan sesuatu sebelum sampai di hadapan Ki Bum.

Dengan Soo Rin yang berdiri di antara mereka, memilih mengurung niatnya untuk membuka suara, menyadari akan adanya sinyal tak biasa yang menguar dari diri pemuda itu untuk pria di sisi lainnya.

Hyung.

Ki Bum masih tidak bergeming, ketika mendengar pasti akan adanya nada tak biasa pula keluar dari mulut Ji Soo. Masih mengintimidasi si pemuda yang sepertinya diabaikan.

She’s here,” suara Ji Soo terlalu parau. Ada gemetar samar di bibir yang selama ini tidak pernah terjadi. Matanya menyampaikan sesuatu yang mungkin memang hanya Kim Ki Bum yang memahami. “She is back.

Begitu tiga kata itu meluncur gamang dari Hong Ji Soo, barulah Ki Bum bereaksi, adanya sorot terperangah dari mata tajam yang kini tampak melebar.

Membingungkan Soo Rin yang tidak mengerti dengan situasi tak terbaca di antara dua saudara ini.

34b763b4


Haii, ada yang masih ingat cerita ini? Hehehehe

Maaf ya, ngaret parah update-nya, padahal yang terakhir itu lancar banget, yang ini malah mandeg lamaa banget huhuhu Dan akhirnya, merasa ceritanya bakalan garing akhirnya mulai kubikin konflik dari sini. Hmm, mudah-mudahan aja kesampean konfliknya nanti. Mumpung Kibum belum berhasil dapetin Soo Rin, biar greget, siapa tau nanti malah Soo Rin yang balik ngejar-ngejar Ki Bum #loh #ga

Semoga part ini memuaskan yaa~ ini panjang loh~ hampir nyentuh 6k dan itu perjuangan rasanya di tengah-tengah mood nulisku yang lagi ilang-nongol hehehehe :’) maaf ya garing, momennya kisukisu masih sedikit, tapi nanti terbalaskan kok (?)

so please welcome our new cast~

dolls-euaerin
9MUSES Euaerin as Ahn Hye Min

and others~

09d595f794c9e04e0356563b4407e94a
9MUSES Sojin as Park Soo Jin
jaekyung2
RAINBOW Jaekyung as Jae

 

cqxc8oiueaad5ui
SEVENTEEN Joshua as Hong Ji Soo

sisanya nyusul (?)

see u again para kesayangan yang masih setia sama cerita absurd ini -^^-

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

25 thoughts on “WHATTA MAN – Confusing Moments

  1. Yaduh ini panjaaaaaang sukasukasukaaaa x)))
    Udah lama ga baca FF ini, selama beberapa detik di awal pas nemu nama Ji Soo aku bayanginnya Ji Soo blackpink aw /wkwkwk
    Huuu disini Kibum tuh bikin marah Soorin aja yaa heuheu dasar ahjussi mesum -.- laporin om goblin nih kalo berani macem2 ke soorin -.- /jdug
    sukanya FF siskachu tuh, ada bayang2 masa lalu salah satu tokoh, bikin mikir jadinya :))
    suka sih tapi tetep hihiii ♡♡btw cast cewe2 disini seksyi seksyi ya :”3 dasar kimkibum /gatau kenapa kesel ya sama kimkibum :”)
    yaudalah~
    ditunggu lanjutannya x))))

    1. wks~ iya habisnya nama mereka sama x’D iya gapapa laporin ajaa biar abis itu Soorin diambil paman goblin terus jadi pengantinnya, kicep udah si kimkibum #duaagh
      tak ada wanita seksi hidup kim ahjusshi itu tidak akan berwarna~ doain semoga soorin semakin tabah :’) wkwkwk
      maaciw banyaak Pokunyaan~ you are the first commenter and I’m so happy >/\< //giveuhugs//

  2. Aku tetep gak bisa berhenti ngebayangin kalo yg jd Jisso itu Taecyeon. Well aku tetep nganggep Jisoo itu taecyeon lol :v

    1. its okay~ khayalan orang berbeda-beda, aku juga suka begitu kok xD yg penting dirimu menikmati cerita ini aku udah seneeeeng banget~ makasih yaa udah mau nyempetin baca ^___^ hehet

  3. Akhirnya terbayar sudah kepenasaranku terhadap ni epep..
    Hanya disini yang bisa membuatku melepas kangen dengan bang kibum..😍😍😘😘😗😗

    Dan dan kenapa jisoo harus muncul disaat terjadinya kisoo moment???
    Kan ganggu jadinya..😑😑😣😣

  4. siapa pemuda di awal crta???
    joshua kah???
    siapa tu “she”???
    anh hye min kah???
    trus da hub pa ma kim kibum???
    ya ampun aq pnasaran….
    trlalu bnyak prtanyaan d kpla q 😅😅😅

    lnjut sist…bnyakin part ny kibum n soorin ya…
    kgn bgt soal ny ma mreka… lcu 😁😁😁
    smangat 😉

  5. and yeah kibum will always be kibum, the stubborn yet ‘gemes gemes’ one kwkwkkw

    and….who the fck is that ‘SHE’??!! o.o

  6. Siapa yang back..?
    Hye min kah..?

    Panjaaaaaaaaang
    bangt,,, tpi ttp suka 🙂

    hati” dalam mengetik ya..!

    Di tunggu yng lainnya :p
    ttp semangett

  7. Ahhh akhirnya cerita kesayangan di share juga. Ceritanya semakin seru dan akan ada konflik baru. Fighting author. Aku selalu menunggumu. 😀
    Eeh ceritanya maksudnya. Hehehe

  8. Soo rin mulai parah jantungnya kalo udah dideket bang Ki bum dagdigseurr aja kerjaannya…cast baru kayaknya ada hubungannya sama yg diucakan Ji soo di bagian akhir part ini, seseorang dr masa lalu si abang…semoga aja gak berpengaruh apa2 sama Kibum oppa dan tetep berjuang buat dapetin Soo rin nya gak terganggu…fighting 😉😉😉

  9. apa yg dimaksud ji soo itu wanita yg sm dgn tmn kakaknya soo rin. jd penasaran apa hub ji soo, ki bum sm hye min? apa ce itu akn jd pihak ke empat? hehehe

  10. FF yang di tunggu2 😀
    Siapa yang dibicarain jisoo?? Apa Ahn hye min?? Ada hubungan apa mereka?? Penasaran sama kelanjutannya.
    Sampe lupa sama cerita sebelumnya thor😀
    Fighting untuk part selanjutnya thor 👍💪

  11. uwaaaaah akhirnya updet juga kkkkek miss miss cerita ini 😂
    si kim ajjushi gak mau nyerah yah smpe debat sama jisoo kekek tapi dari sini mungkin soo rin pelan” mulai buka hati buat kim ajjushi hihi

    smangat kaaak kekeke

  12. Hahhhhhh kangen bgt sma pasangan ini akhirnya d lanjutin jga,
    btw apa yg d maksud ji soo yg kembali itu Hye min, klau iya apa hubungannya dgn Kibum apa mantan Kibum kah

  13. akhirnya datang juga yang ditunggu-tunguuu yeyy

    nahloh soo rin mulai suka tuh sama ki bum wkwk, hayo ki bum terus lancarkan aksimuu haha

    selalu ditunggu kelanjutannyaa, semangattt

  14. She? Ahn Hye Min? siapanya mereka? apa dulu Kibum sama Jisoo pernah rebutan cewek juga? Terus cowok yg di awal cerita itu siapa?? bikin penasaran ~~ ditunggu next chapter nya ^^

  15. Seblum bca part ini, hars mengulang lg part sblumnya, “she” yang dimaksud jisoo siapa?

    Sepertiny seseorang yg sdh akrab, krna nyebutnya pk kta “joshua”

    Kehidupan 2 saudra ini penh misteri, blm lg, itu suaminy saehee kmn? dr part awal slalu breng kibum…

  16. Seblum bca part ini, hars mengulang lg part sblumnya, “she” yang dimaksud jisoo itu siapa?

    Sepertiny seseorang yg sdh akrab, krna nyebutnya pk kta “joshua”

    Kehidupan 2 saudra ini penh misteri, blm lg, itu suaminy saehee kmn? dr part awal slalu breng kibum…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s