Posted in Adult, Campus Life, Fiction, Friendship, KiSoo FF "WHATTA MAN", PG-17, Romance

WHATTA MAN – I’m Sorry

wp-1477732139764.jpeg

Adult, Campus Life, Friendship, Romance

PG-17 | for harsh words

before :: [0] Wild Class | [1] Attention | [2] Bad Man | [3] Just Started | [4] Warn You | [5] My Zone | [6] How Are You? | Protected: [7] I Hate You

Clue :: I.H.U [Spoiler]

“And I’m sorry, too.”

H A P P Y    R E A D I N G

.


ELVABARI©2016

.

.

PAGI pun menjelang. Kesadaran mulai terkumpul memicu adanya gerakan di balik kelopak matanya yang mengatup. Gadis itu melenguh pelan kala mencoba meregangkan tubuhnya, membuka mata perlahan-lahan, mengerjap pelan kemudian termangu.

Di mana ini?

Sontak saja Soo Rin terlonjak duduk, mendapati dirinya ternyata sedang berada di balik selimut tebal, di atas tempat tidur berukuran luas, di dalam sebuah ruangan yang sangatlah asing di mata buramnya. Astaga, kenapa dia bisa berada di dalam kamar yang tergolong mewah seperti ini? Dekorasinya yang elegan dan rapi ini, tidak mungkin Soo Rin sedang berada di sebuah flat apalagi apartemennya yang jelas-jelas kelas menengah.

Kalau tidak di sebuah hotel, mungkin ini apartemen kelas atas. Tapi milik siapa?

“Aakh…” Soo Rin baru merasakannya, kepalanya yang pening bagai berputar-putar, mengingatkannya kembali akan kejadian sebelumnya di mana dia sudah berani meneguk dua botol Soju dan hampir menghabiskan botol ketiga kalau saja Sandara dan Lisa tidak mencegahnya. Ah, dia juga sempat menawarkan minuman keras itu pada Ji Soo yang serta merta membuatnya menyesal.

“Aah, apa saja yang sudah kulakukan…” lirihnya seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Mencoba mengingat-ingat kejadian di mana dia sudah dalam pengaruh alkohol, berjalan-jalan dari kedai minuman bersama kedua temannya dan kembali bertemu dengan Ji Soo yang sempat pergi.

Lalu…

“Oh, Dosen Kim! Uh … bukan, tapi Kim Ki Bum si ahjusshi hidung belang.”

“Aku tidak takut padamu!”

“Aku bisa mencari kampus lain di mana tidak akan ada pria brengsek sepertimu!”

“Pria brengsek sepertimu lebih pantas mendapatkan ini!”

PLAK

“Astaga!” wajah Soo Rin berubah pias. Ekspresinya menunjukkan seperti baru saja melihat hantu. Dia mengingatnya, dia mengingat dengan jelas bagaimana tangannya yang sudah ia pandang horor kini … sudah melakukan tindakan kurang ajar terhadap pria itu!

Ya ampun, Park Soo Rin, bagaimana bisa kau menampar Kim Ki Bum yang jelas-jelas adalah dosenmu sendiri?! Kau memang marah padanya dan mungkin membencinya, tapi bukan berarti dengan seenaknya melayangkan tanganmu untuk melakukan perilaku teramat tidak sopan seperti itu!

“Aku membencimu, Kim Ki Bum…”

“Apa yang sudah kulakukan?!” Soo Rin menjambak rambutnya, menghukum dirinya sendiri akan apa yang sudah dilakukannya semalam tanpa bisa ia cegah mengingat faktor alkohol yang sudah mengendalikannya. Dia bahkan ingat bagaimana dia berkata bahwa tidak peduli jika saja pria itu akan mendepaknya dari kampus berkat ulahnya semalam!

Soo Rin masih menyayangi beasiswa penuhnya! Sungguh!!

“Tidak seharusnya aku minum sebanyak itu semalam! Huwaaaaaa, bagaimana ini?!” dia mulai kalut di atas tempat tidur. Memukul kepalanya sendiri yang semakin menambah rasa pening yang belum reda.

Untungnya dia terselamatkan dengan terbukanya pintu kamar ini, mengejutkan Soo Rin dan harus terbengong-bengong melihat seseorang bertubuh setinggi letak gagang pintu tengah mengintip. Soo Rin terpaksa menyipitkan mata buramnya demi memastikan bahwa itu adalah seorang bocah kecil yang kemudian hilang dari sana menyisakan pintu kamar tersebut terbuka sedikit.

Eommaaa, Noona itu sudah bangun!”

Soo Rin masih mendengar seruan dari luar sana. Apakah anak kecil itu baru saja memeriksa keadaannya?

Omo, ternyata benar.”

Ada seorang wanita masuk ke dalam sambil membawa sebuah nampan berisi semangkuk makanan juga segelas minuman. Soo Rin harus kebingungan karena dia merasa tidak kenal dengan orang ini dan … bagaimana dirinya bisa berada di sini?

“Bagaimana keadaanmu?” wanita itu menyapanya ramah setelah mendudukkan diri di sisi ranjang dekat Soo Rin berada. “Ah, aku membuatkan sup rumput laut juga teh herbal. Semoga bisa meredakan rasa pusingmu berkat semalam,” tukasnya setelah melihat gadis itu meringis sambil memegangi kepalanya.

“A-aku … aku ada di mana? Kau … kau siapa?” suara Soo Rin terdengar serak dan terlampau pelan.

“Kau pingsan karena mabuk, Ki Bum Oppa membawamu kemari dan memintaku untuk merawatmu,” papar wanita itu diserta senyum ramahnya. “Sepertinya kau lupa, ya? Kita pernah bertemu sebelumnya.”

“Eh?” Soo Rin mengernyit bingung. Pasalnya dia tidak begitu jelas melihat sosok di hadapannya saat ini. Buru-buru ia mencari-cari kacamatanya yang ternyata dibantu oleh wanita itu.

“Ini.” Wanita itu menyerahkan kacamatanya yang disimpan di atas nakas. Kemudian senyumnya mengembang begitu Soo Rin berhasil mengenakan lensa berbingkai itu dan tampak sedang berpikir.

Eomma…

Suara itu menarik perhatian Soo Rin. Kini ia dapat melihat bagaimana rupa anak kecil yang kini kembali mengintip di ambang pintu. Bukankah anak kecil itu…

“Oh, Ji Sung-ah, kemari! Jangan malu-malu. Katanya mau bertemu dengan Noona, hm?

Titahan lembut wanita itu membantu ingatan Soo Rin bersamaan mengamati bagaimana anak kecil itu melangkah masuk dengan malu-malu, lalu berlari ke pelukan wanita yang dipanggil Eomma itu dengan tatapan yang tak kunjung lepas dari dirinya.

“Nah, Ji Sung, ayo beri salam pada Noona.”

Annyeonghaseyo. Jeoneun Ji Sung Lau imnida.” (Halo. Aku Ji Sung Lau.) Ji Sung membungkuk santun, suaranya terdengar menggemaskan sampai-sampai Soo Rin tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

“Aah, benar. Kau yang waktu itu, ya…” Soo Rin mengingatnya, dia adalah anak kecil yang sempat tersesat di toko buku, juga wanita yang kini tersenyum itu … Soo Rin juga sempat menemuinya setelah Ji Sung ditemukan.

Ji Sung memberanikan diri untuk naik ke tempat tidur, duduk di dekat ibunya dengan masih menatap lurus pada Soo Rin. “Eomma bilang, Noona ada di rumah Samchon. Ji Sung ingin melihat Noona lagi, tapi tadi Noona sedang tidur.” Ji Sung berkata disertai kerjapan polosnya. “Noona tidak apa-apa? Noona sakit, ya?”

Paparan dari Ji Sung membuat Soo Rin merasa sedikit terhibur. Ia menggeleng pelan dengan senyum ramah tersungging di bibirnya. “Noona tidak apa-apa. Terima kasih sudah menanyakan kabar Noona, Ji Sung-ah,” ucapnya seraya mencoba mengusap puncak kepala Ji Sung, ternyata disambut oleh senyum polos dari anak itu.

“Bagaimana Noona bisa mengenal Ki Bum Samchon? Noona siapanya Samchon? Teman?”

“Oh? Uh … itu … yah, bisa dikatakan seperti itu.”

“Benarkah? Waah, ternyata Samchon punya teman yang bisa Ji Sung panggil Noona, ya? Itu berarti, Noona masih sekolah?”

“Ya. Noona masih sekolah.” Soo Rin tidak bisa menahan senyumnya. Sepertinya Ji Sung merupakan karakter anak kecil yang ingin banyak tahu, dan itu semakin menambah kadar menggemaskan seorang Ji Sung.

“Nah, Ji Sung-ah, sekarang giliran Eomma yang bicara pada Soo Rin Noona, ya? Selesaikan sarapanmu di ruang makan. Nanti Eomma periksa piringmu.”

Ne, Eomma!” Ji Sung turun dari tempat tidur, membungkuk sebentar pada Soo Rin sambil berkata, “Sampai nanti, Noona!” lalu berlari-lari keluar kamar tidak lupa menutup pintu.

Satu lagi, Ji Sung adalah anak yang penurut dan tahu sopan santun. Soo Rin bisa melihat itu.

“Aku tidak menyangka bahwa kau adalah orang yang dibawa oleh kakakku.”

“Oh?” Soo Rin mengerjap kaget, mengalihkan fokusnya pada wanita tersebut. “Aah, itu … a-aku minta maaf.”

“Apa yang perlu dimaafkan, Park Soo Rin-sshi?” wanita itu terkekeh pelan. “Ah, benar, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Kim Sae Hee, ibu dari Ji Sung sekaligus adik dari Kim Ki Bum, pria yang mengaku sebagai dosenmu.”

Soo Rin hanya mengangguk kikuk, memilih untuk melarikan pandangannya ke bawah.

“Tidak biasanya Ki Bum Oppa akan meminta bantuanku karena sudah membawa seorang perempuan kemari dalam keadaan pingsan. Untungnya, tempat tinggalku hanya berjarak satu lantai dari tempatnya sehingga aku bisa cepat datang.” Sae Hee memberikan segelas air putih yang memang sudah tersedia di atas nakas, menitah Soo Rin untuk meneguknya.

“Jadi, kau juga tahu bahwa pria itu sering membawa perempuan ke tempatnya ini?”

“Aku tahu kalau Ki Bum Oppa sering berhubungan dengan banyak wanita, tapi dia hampir tidak pernah membawa wanita-wanita kenalannya kemari.”

“Itu berarti memang pernah, bukan?”

Sae Hee tersenyum simpul menyaksikan bagaimana gadis itu setengah menggerutu sebelum meneguk air putih pemberiannya. “Sepertinya kau memiliki dendam terhadap oppa-ku, ya, Park Soo Rin?”

Ugh!” Soo Rin hampir saja tersedak, agak gelagapan mendapat pertanyaan tak terduga itu. “Dendam? Tidak! Aku hanya … hanya…”

“Hanya tidak menyukai oppa-ku. Benar, bukan?” Sae Hee tidak terlihat tersinggung atau semacamnya, malahan melebarkan senyumnya seraya melanjutkan, “Yah, banyak yang tidak menyukainya setelah tahu seperti apa dirinya, tapi tidak sedikit pula yang tidak peduli dengan itu. Oppa-ku dikenal sebagai penakluk wanita dan aku tahu bahwa dia sering pulang malam karena hal itu. Sayangnya, keahliannya itu justru membuatnya masih terlihat sendiri seperti ini. Sampai-sampai aku mendahuluinya dan sudah berumah tangga.”

Sae Hee terkekeh pelan, beralih menatap kembali gadis yang tengah menyimak dirinya.

“Aku sedikit terkejut begitu tahu bahwa orang yang dia bawa adalah dirimu. Dia hanya mengatakan bahwa aku harus merawatmu, makanya dia membiarkanku bermalam di sini sementara Oppa menginap di apartemenku. Dia hanya sebatas menghubungiku untuk tahu bagaimana keadaanmu dan aku harus melapor jika terjadi sesuatu sekecil apapun itu.” Sae Hee mendengus geli. “Padahal kau tidak sakit, hanya sedang mabuk dan tidak sadarkan diri. Tapi dia bertindak sampai seperti itu bahkan memilih menjauh darimu. Aku sungguh terheran-heran dengan tingkahnya itu, dan aku bertanya-tanya, apa yang sudah kauperbuat sehingga Ki Bum Oppa memilih untuk angkat tangan dan menyerahkan semuanya padaku.”

Soo Rin tergeragap. Iris di balik kacamatanya bergerak gelisah setelah mendengar tutur kata Sae Hee. Dia sendiri merasa tercekat menemukan fakta baru menyangkut pria yang selama ini dia anggap brengsek itu. Meski di sisi lain dia merasa bersyukur bahwa berarti semalam pria itu tidak berbuat macam-macam terhadapnya.

Sae Hee menyadari perubahan ekspresi itu. Sudut bibirnya kembali muncul disertai telengan kepala mengamati sosok yang masih duduk di atas tempat tidur ini.

“Aku sempat berpikir, mungkin Ki Bum Oppa melakukan ini karena kau adalah mahasiswinya, sebatas itu. Tapi, rasanya sangat aneh kalau oppa-ku hanya menganggapmu begitu sedangkan dia rela membawamu kemari, menyuruhku menjadi perawatmu, terus menanyakan kondisimu sedangkan dia merasa segan untuk memeriksa keadaanmu secara langsung.

“Kurasa Ki Bum Oppa menaruh perhatian khusus padamu.”

Soo Rin menggeleng-geleng keras. “Dia … dia hanya main-main. Aku tahu itu.”

“Aku mengenal betul seperti apa Ki Bum Oppa, Park Soo Rin.” Sae Hee menyahut dengan suara lembutnya. “Dia memang sering bermain-main dengan wanita, tapi dia tidak pernah yang namanya bermain-main dengan seorang gadis. Dan baru kali ini dia mau membawa seorang gadis ke dalam apartemennya hingga ke kamarnya, bahkan mengkhawatirkannya namun tidak berani menyentuhnya.” Sae Hee akhirnya meletakkan semangkuk sup tersebut ke pangkuan Soo Rin, menatap lekat gadis berkacamata itu. “Kalau kau mengira bahwa oppa-ku pernah membawa wanita masuk kemari, berarti wanita itu adalah aku,” lanjutnya seraya tersenyum sumringah.

Soo Rin hanya bisa membuka mulut tanpa mengeluarkan suara lagi. Memandang wanita yang kini sudah berdiri di sisi tempat tidur sambil memberikan tatapan hangatnya.

“Habiskan sebelum dingin. Aku akan menyiapkan pakaian ganti untukmu.” Sae Hee pun berbalik menuju pintu. Dia baru membuka sedikitnya ketika teringat sesuatu lalu menengok gadis itu kembali. “Ah, jika kau bertanya-tanya di mana Ki Bum Oppa sekarang, dia sudah berangkat ke kampus sedari pagi tadi. Dia mengatakan bahwa kau harus beristirahat hari ini sampai dia kembali.”

Barulah Soo Rin ditinggal sendiri di ruangan itu. Merenung masih di atas tempat tidur, dengan mata menyorot kosong pada sup rumput laut di pangkuannya. Penjelasan wanita bernama Sae Hee itu masih terngiang-ngiang di dalam kepalanya yang masih terasa berat. Memicu bayang-bayang sosok pria yang memang belum dia lihat kembali hari ini setelah kejadian memalukan semalam.

Sudah ada dua orang yang mengatakan hal sama mengenai ketertarikan pria itu terhadap dirinya. Setelah Jae yang notabenenya adalah wanita malam merangkap paramedis merangkap pula teman berciuman pria itu, kini giliran Sae Hee yang notabenenya adalah adik yang sempat Soo Rin anggap sebagai istri pria itu. Lalu, apakah dia harus percaya bahwa itu merupakan fakta? Di saat ia tahu bahwa Kim Ki Bum bukanlah pria baik-baik yang gemar bermain-main dengan banyak wanita?

Aisshi!” Soo Rin menggeleng-geleng keras. Memilih untuk menepis pikiran melanturnya itu. Berganti fokus pada makanan yang sudah menunggu untuk disantap olehnya. Bagaimana pun dia tidak boleh menyia-nyiakan kebaikan wanita yang sudah rela merawatnya hanya karena perminta si dosen menyebalkan itu, bukan?

Tapi omong-omong…

“…baru kali ini dia mau membawa seorang gadis ke dalam apartemennya hingga ke kamarnya…”

Ya ampun…

Jadi, ini benar kamar Kim Ki Bum?!

****

Sedangkan di sisi lain, Ki Bum baru saja menyelesaikan kelas pertamanya di hari ini. Ia memeriksa arloji di pergelangan kanannya yang menunjukkan pukul setengah sebelas. Sekiranya masih ada satu setengah jam lagi untuk menuju kelas berikutnya yang itu berarti dia memiliki waktu untuk kembali ke apartemennya sebentar demi memeriksa keadaan Park Soo Rin. Pagi tadi sekitar pukul tujuh, dia masih menerima kabar dari adik perempuannya bahwa gadis itu masih terlelap yang memaksanya untuk pergi tanpa melihat keadaannya.

Tapi sayangnya, Ki Bum yang baru akan keluar dari ruangan setelah menyimpan bahan ajarnya, terpaksa harus menghadapi wanita yang baru saja masuk kemari itu terlebih dahulu. Mata tajamnya tanpa bisa dikendalikan berputar jengah untuk wanita yang kini mengerling penuh arti padanya.

I’m busy, Miss Hwang, so sorry can’t serve you.” (Aku sibuk, maaf tidak bisa melayanimu.)

I know that you are free now, Kim.” (Aku tahu bahwa kau sedang senggang sekarang.) Se Ra melangkah penuh minat, bibir pinky rose-nya itu menyungging nakal, tangannya meraba dada pria itu mencoba menggoda, “How about a bit foreplay like yesterday, hm?

Ki Bum tersenyum sejenak sebelum tangannya langsung menepis tangan nakal itu, begitu saja sampai ia menemukan adanya kilat terkejut di mata berhias lensa kontak itu.

“Aku sedikit berbaik hati padamu, Miss Hwang, menyingkir dari sini dengan cara baik-baik atau membiarkan tangan terampilku melakukan hal tak terduga padamu.”

Se Ra terkekeh pelan, berlaga anggun. “Kenapa kau terlihat dingin hari ini, Kim? Hm?” ia melangkah sekali hingga jarak mereka nyaris terhapus, “Sedang suntuk? Kalau begitu aku adalah pilihan tepat untuk menghapus rasa suntukmu,” ujarnya seraya menggerakkan tangan-tangannya untuk mengalung di leher Ki Bum, merapatkan diri pada pria itu dengan gerakan memikat.

“Kalau begitu tidak ada pilihan lain,” desis Ki Bum. Ekspresinya berubah yang terlambat disadari Se Ra hingga wanita itu terperanjat ketika tangan-tangannya dihempas kasar dari leher Ki Bum, tidak sampai di situ, Ki Bum benar-benar menyingkirkan tubuhnya dengan satu tangannya ke samping dan hampir tersungkur jika Se Ra tidak segera menguasai diri.

Wanita itu menatap tidak percaya pria yang sudah keluar dari ruangan ini tanpa menoleh lagi padanya, membanting pintunya yang makin mengejutkan batinnya.

Ki Bum menggeram, hampir melontarkan umpatannya pada wanita itu jika saja tidak menahan diri. Seharusnya wanita itu masih merasa beruntung karena dia hanya sebatas melakukan hal barusan, belum menampar wajah tebalnya itu.

Tapi sepertinya perjalanan Ki Bum masihlah panjang. Karena begitu berpindah koridor, dia dipertemukan oleh pemuda yang hampir membuatnya mendesah keras. Ki Bum masih sadar sepenuhnya bahwa ini bukanlah di luar kampus di mana ia bisa seenaknya bertingkah di hadapan pemuda itu.

She is in your house, right?” (Dia ada di rumahmu, bukan?)

Ki Bum memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya. Memamerkan senyum separuh. “You must have heard from her friends. But don’t worry, she is save. I will take her back home.” (Kau pasti sudah mendengar dari teman-temannya. Tapi jangan khawatir, dia aman. Aku akan mengantarnya pulang.)

“Kuharap kau tidak melakukan sesuatu padanya semalam, Hyung.”

Ki Bum mendengus geli mendengar ucapan sarkastis dari Ji Soo. “Kau boleh menganggapku begitu. Tapi yang perlu kautahu,” Ki Bum melangkah sekali hingga jarak mereka semakin dekat, memudahkannya untuk menatap lurus ke mata menajam Hong Ji Soo, “aku tidak sebrengsek yang kaukira jika itu menyangkut dirinya. Jadi kau bisa bernapas lega,” tutupnya seraya menepuk pundak Ji Soo sebelum berlalu.

Meninggalkan Ji Soo yang mengantar kepergian kakak sepupunya itu dengan ekspresi tidak puas.

Di sisi lain, ada Sandara dan Lisa yang mengamati dari jauh pertemuan dua makhluk adam itu barusan. Keduanya kemudian saling memandang dengan raut sama-sama tampak berpikir.

“Mana mungkin Hong Ji Soo bersaudara dengan Dosen Kim? Mereka bahkan terlihat tidak begitu akrab, belum lagi marga mereka berbeda jauh,” gumam Lisa.

“Mungkin saja mereka saudara jauh. Seperti saudara sepupu? Atau hanya sebatas kenalan?” Sandara berspekulasi, ia bersedekap, “Tapi ada yang aneh, kenapa mereka bisa bertingkah seperti kemarin karena Soo Rin?”

“Itu dia…” Lisa mengusap dagu, tak lama matanya melebar. “Ah, kau ingat dengan apa yang Soo Rin bicarakan saat sedang mabuk kemarin, bukan?”

Sandara mengingat-ingat.

“Soo Rin terus saja mengatakan pria hidung belang juga pria kurang ajar. Bahkan dia berani mengatai Dosen Kim sebagai pria … err, pria brengsek sampai-sampai Soo Rin berani menamparnya,” kemudian Lisa terkesiap, “Ja-jangan-jangan … Soo Rin dan Dosen Kim…”

“Tidak mungkin!” Sandara langsung membantah.

“Kalian tidak tahu?”

Tiba-tiba datang suara lain yang mengalihkan mereka. Lisa adalah orang pertama yang bereaksi mengetahui ternyata Jung Chae Yeong sudah mendekat seorang diri. Si primadona itu tidak biasanya dikawal oleh dua temannya, melenggang bak putri bahkan sempat-sempatnya mengibaskan rambut panjangnya ke balik bahunya yang sedikit terekspos berkat dress yang membalut tubuh proposionalnya.

“Park Soo Rin, teman kalian yang terkenal kutu buku itu memiliki hubungan khusus dengan Dosen Kim. Yah, kalian tahu sendiri hubungan macam apa yang kita kenal selama ini, bukan? Seorang mahasiswi dengan seorang dosen, yang marak terjadi di kampus ini.”

“Jangan asal bicara! Soo Rin tidak mungkin melakukan hal semacam itu!” Lisa terpancing emosinya. Dia hampir menerjang si primadona itu jika Sandara tidak segera menahannya.

Chae Yeon tertawa sinis. “Kasihan sekali. Bahkan kalian yang jelas adalah teman dekat gadis itu benar-benar tidak tahu kelakukannya di balik kacamata jeleknya itu,” ujarnya mencibir. “Sebenarnya aku ingin menutup mulut, tetapi karena aku masih ingat dengan kalian sebagai teman-temannya, aku berbaik hati memberi tahu kalian.” Chae Yeon mendekat, bertingkah seolah berbisik pada mereka dengan raut wajah dibuat-buat, “Park Soo Rin itu … sudah menyerahkan dirinya pada Dosen Kim. Mungkin sebenarnya selama ini dia mendapat nilai tertinggi karena berhasil memuaskan dosen itu dan—”

Shut the fuck up, Bitch!!” umpatan teramat kasar itu meluncur nyaring dari mulut Lisa. Gadis itu marah besar dan hampir mencakar wajah cantik Chae Yeon jika saja Chae Yeon tidak segera mundur juga campur tangan dari Sandara. “Beraninya kau menghina Soo Rin di depan wajahku! Jaga mulut busukmu itu!!”

“Aku mengatakan yang sebenarnya! Kurang ajar sekali kau mengataiku jalang! Kau salah sasaran!” Chae Yeon jelas tidak terima.

“Berhenti mengurus Soo Rin, Jung Chae Yeon! Urus saja wajah sok cantikmu itu!!” gertak Sandara tidak kalah marahnya terhadap gadis berambut lurus dan panjang itu.

“Pergi kau, Jung Chae Yeon!”

Mereka menoleh kompak. Chae Yeon adalah orang yang paling terkejut melihat bahwa Hong Ji Soo adalah yang baru saja mengusirnya. Pemuda itu ternyata sudah ada di dekat mereka dan mungkin menyaksikan kejadian barusan.

“Berhenti mengusik Park Soo Rin apalagi teman-temannya, termasuk aku. Jadi enyahlah dari hadapan kami,” usir Ji Soo sekali lagi. Tatapannya begitu mengintimidasi hingga Chae Yeon tidak bisa membalas lagi.

Gadis cantik itu segera pergi dari sana, dengan kaki menghentak-hentak disertai raut menahan marah sekaligus malunya, kembali merasa direndahkan oleh seorang Hong Ji Soo.

“Gadis sialan! Akan kutendang wajahnya jika kembali mengatai Soo Rin seperti itu!!” geram Lisa masih di dalam tahanan Sandara.

“Sudahlah, Lisa. Jangan hiraukan dia lagi,” tegur Ji Soo mencoba menenangkan gadis itu.

****

“Oh, Noona!”

Seruan Ji Sung menarik perhatian Sae Hee yang tengah mencuci piring, mendapati gadis berkacamata itu sudah keluar dari kamar, dengan balutan pakaian yang dia pinjamkan dan pas di tubuh kurus si gadis, juga tas kuliahnya yang ia jinjing … oh, tunggu sebentar.

“Kau mau ke mana?”

Soo Rin berdeham salah tingkah, belum lagi kelakuan Ji Sung yang sudah menarik-tarik tangannya untuk segera mengikutinya ke dapur tempat Sae Hee berada.

“Aku … aku harus ke kampus. Aku tidak bisa meninggalkan kuliahku,” ujar Soo Rin mencoba pamit. “Terima kasih atas segala bantuanmu. Aku akan membalasnya nanti,” lanjutnya seraya membungkuk santun.

“Seharusnya kau tidak berterimakasih padaku, Soo Rin-sshi. Aku hanya menjalankan permintaan oppa-ku,” balas Sae Hee diselingi senyum ramah.

Dia benar. Semua ini ‘kan berkat pria itu. Tapi apa mungkin Soo Rin bisa berterimakasih setelah apa yang dia lakukan semalam terhadap dosennya itu?

Noona akan pergi? Kenapa cepat sekali?” Ji Sung tiba-tiba menginterupsi. Kepalanya terdongak ke atas demi memandang Soo Rin mengingat tinggi tubuhnya hanya sebatas pinggul gadis itu.

Noona harus belajar lagi, harus kembali ke sekolah.” Soo Rin tersenyum teduh untuk bocah itu. “Nanti kita bertemu lagi, ya?”

“Benarkah? Noona akan datang lagi kemari? Kalau begitu nanti beri tahu Ji Sung, ya.”

Dua perempuan itu melebarkan senyumnya mendengar permintaan Ji Sung.

“Sepertinya Ji Sung mulai menyukaimu,” gumam Sae Hee merasa senang. “Jadi jangan sungkan untuk kemari dan bertemu Ji Sung.”

“Ya…” Soo Rin menjawab pelan. Pasalnya dia sendiri tidak yakin apakah ucapan asalnya pada Ji Sung akan dia lakukan atau tidak. Dia ‘kan hanya membujuk anak kecil itu dengan ucapan kosong, sebagai formalitas saja. “Kalau begitu, aku pergi dulu,” pamitnya seraya membungkuk sopan pada Sae Hee.

“Kau yakin ingin pergi? Tidak ingin menunggu Ki Bum Oppa?”

“Tidak perlu. Aku pasti akan bertemu dengannya di kampus.”

Sae Hee hampir mencegahnya sekali lagi, tapi melihat Soo Rin sudah berbalik lebih dulu, akhirnya ia urungkan dan memilih mengantar gadis itu sampai ke dekat pintu.

Soo Rin sudah mengenakan sepatunya, membuka pintu apartemen ini kemudian terkejut mendapati seseorang baru saja datang serta berdiri di depan pintu ini. Buru-buru Soo Rin menurunkan pandangannya sekaligus sedikit menyeret kakinya untuk mundur.

“Mau ke mana?”

Entah mengapa, Soo Rin merasakan kegugupan yang tidak biasa. Tangan-tangannya bahkan sampai meremas kuat tasnya demi meredam rasa asing di dalam dirinya. Hei, sejak kapan dia merasa takut untuk menatap Kim Ki Bum?

“Aku … aku ingin ke kampus.” Soo Rin menunduk, agak membungkuk untuk pria itu sebelum berkata, “Maaf sudah merepotkan,” dan mencoba menerobos di kala pria itu lebih cepat mencekal lengannya.

Ki Bum akhirnya menutup kembali pintu apartemen, tidak jadi masuk dan memilih pamit kembali pada adik dan keponakannya yang sempat mengintip di dalam sana.

“Kampus, kaubilang? Bagaimana dengan keadaanmu, hm?”

“Aku sudah merasa baik. Jadi aku bisa kembali berkuliah.”

“Begitu?” Ki Bum melepas cekalannya, menatap lurus gadis yang sedari tadi menunduk itu. “Kalau begitu aku akan mengantarmu.”

“T-tapi—”

“Aku tidak menerima penolakan, Park Soo Rin.” Ki Bum berhasil membuat Soo Rin bungkam kembali. “Ikut aku,” lanjutnya seraya melangkah lebih dulu.

Soo Rin sendiri harus menggigit bibir bawahnya, merutuki dirinya sendiri. Dia menyadari adanya aura dingin menguar dari pria itu, dan dia tahu apa penyebabnya, maka dari itu tanpa berkata apapun lagi, Soo Rin akhirnya mengekori Ki Bum. Menjaga jarak sekitar tiga langkah dari pria itu, bahkan di dalam lift-pun, Soo Rin memilih untuk menyudutkan diri tanpa berniat memandang si dosen.

Ketika mereka sampai di basement parkir, Soo Rin yang sedari tadi berkutat dengan pikirannya akhirnya tidak bisa menahan diri lagi.

“Soal kemarin…”

Suara gadis itu berhasil menghentikan langkah besar Ki Bum, namun tidak ada niatan untuk berbalik dan memilih memberi waktu untuk gadis itu.

“A-aku tidak bermaksud untuk … memperlakukanmu seperti itu. Aku … aku memang kesal padamu tapi, aku tidak bisa menahan diri karena saat itu aku sedang mabuk.” Soo Rin menjelaskannya dengan suara gagap, matanya pun takut-takut memandang punggung itu jika seandainya akan berbalik. Ia mendesah berat. “A-aku tidak bersungguh-sungguh untuk memintamu mengeluarkanku dari kampus. Dan aku sungguh menyesali perbuatanku kemarin.”

Soo Rin menggigit bibir sekali lagi, menahan gejolak tak menentu di dalam benaknya. Iris di balik kacamatanya mulai bergerak gelisah sebagaimana dengan bahasa tubuhnya yang berdiri tidak tenang.

“A-aku meminta maaf … juga, terima kasih karena masih bersedia menolongku … semalam,” suaranya hampir menghilang akibat rasa gugup juga gengsi yang sekeras mungkin ia redam. Bagaimana pun Soo Rin sudah berbuat salah pada dosennya dan Soo Rin harus meminta maaf.

Begitu pria itu berbalik, buru-buru Soo Rin membungkuk dalam-dalam, bertahan untuk beberapa saat menunggu respon yang akan diberikan oleh Kim Ki Bum. Dia tidak berharap bahwa pria itu akan memafkannya, melainkan berharap setidaknya pria itu akan berpikir lagi agar tidak mendepaknya dari kampus.

Langkah kaki itu terdengar mendekat, hingga akhirnya Soo Rin dapat menangkap kaki-kaki pria itu berhenti tepat di hadapannya dari balik bulu matanya.

“Kalau begitu hukumanku masih berlaku untukmu, Park Soo Rin.”

Soo Rin menegakkan tubuhnya, mengangkat pandangannya hingga menemukan wajah tegas Kim Ki Bum. “Y-ya?”

“Aku tidak ada niatan untuk mendepakmu keluar dari kampus maupun yang lainnya. Hanya saja, mungkin hukuman untukmu akan kuperketat agar kau tidak berbuat kurang ajar seperti kemarin.”

Soo Rin meneguk saliva kepayahan. Seperti ada yang menohok dirinya mendengar kata kurang ajar keluar dari mulut Kim Ki Bum. Tapi itu memang benar adanya bahwa tindakannya kemarin malam itu sudah terbilang kurang ajar, bukan?

“Dan aku juga meminta maaf.”

Eh?

“Aku juga menyesal karena sudah memperlakukanmu seperti kemarin. Jadi untuk ke depannya, kau tidak perlu khawatir bahwa aku akan berbuat kurang ajar padamu. Sudah impas, bukan?”

Kerjapan mata Soo Rin menunjukkan adanya sorot kebingungan di sana. Dia tidak menyangka bahwa masalahnya akan terselesaikan secepat ini. Dia pikir pria itu akan menunjukkan kekecewaan atau kalau perlu memarahinya sebagai seorang mahasiswi. Tapi lihat bagaimana sikap Kim Ki Bum saat ini, dia meraih tangan Soo Rin tanpa adanya pemaksaan, mengalir begitu saja yang justru membuat Soo Rin terbengong-bengong karena tangan besar itu kini menggenggam tangannya.

“Tapi ini tidak termasuk perbuatan kurang ajar, bukan?” Ki Bum mengacungkan tautan tangan mereka, memandang gadis itu penuh arti sebelum akhirnya menunjukkan sudut bibirnya untuk kali pertama di hari ini, kemudian menarik gadis itu untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Tunggu, tunggu, tunggu sebentar!

Kenapa Soo Rin tidak melakukan penolakan dan membiarkan Kim Ki Bum menggenggam tangannya? Diulang, menggenggam tangannya! Kenapa Soo Rin justru merasa nyaman akan sensasi hangat bagai tersalurkan dari sentuhan tangan besar itu, merambat ke sekujur tubuhnya, memicu detakan jantungnya untuk berdegup cepat dan semakin cepat?

Ada apa dengan Soo Rin? Kenapa dia merasakan adanya hal asing hinggap tanpa izin di dalam benaknya? Perasaan apa ini?

****

Soo Rin memang berhasil menyusul ketertinggalannya. Meski harus melewati satu kelas yaitu kelas Kim Ki Bum, mungkin untuk kali ini Soo Rin tidak perlu merasa menyesal karena dia bisa sedikit menghindari pria itu.

Ya, sedikit.

Tapi dampaknya, Soo Rin harus diseret oleh Sandara juga Lisa begitu menyelesaikan kelas Dosen Han, menuju atap gedung fakultasnya di mana jarang didatangi oleh mahasiswa. Teman-temannya itu bahkan berani menyudutkannya dengan tatapan menghakimi sehingga Soo Rin mulai was-was.

“Kalian ini apa-apaan? Membuatku takut saja,” gerutu Soo Rin mencoba merilekskan tubuhnya. Tapi dia justru dipaksa duduk oleh kedua temannya itu sebelum mereka menyusul, mengitarinya seraya bersedekap.

“Sekarang, ceritakan pada kami tentang apa yang sudah terjadi!” titah Sandara yang diamini Lisa.

“Memangnya apa yang sudah terjadi? Kalian ini bicara apa, sih?”

“Jangan mengelak, Soo Rin-ah!” gertak Lisa yang berhasil membuat Soo Rin agak terhenyak. “Apa yang telah terjadi antara kau dan Dosen Kim, huh? Ceritakan pada kami!”

“Jangan berusaha menyembunyikannya karena kami sudah melihatnya kemarin malam! Ada hubungan apa kau dengan Dosen Kim?” timpal Sandara.

Aisshi…” Soo Rin mendesah panjang, menyerah. Ia akhirnya membenarkan posisi duduknya menjadi bersila, memasang raut pasrah kala mulutnya terbuka. “Aku sedang menjalani hukuman dari Dosen Kim.”

“Hukuman apa? Memangnya kau melakukan kesalahan apa?”

Ya, kau bahkan berani mengatainya brengsek di depan wajahnya! Apa yang sudah dia lakukan padamu?”

Soo Rin menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Berdecak kesal karena dia sendiri bingung bagaimana mengatakannya.

“Dia … dia berbuat sesuatu padaku.”

“Sesuatu apa? Sesuatu seperti—”

“Astaga! Kau dilecehkan oleh—Aww!” Lisa mengusap kepalanya yang sempat dipukul oleh Sandara.

“Jaga bicaramu, Lisa!” gertak Sandara.

“Dia menghukumku karena aku sudah membangkang padanya.”

Lisa dan Sandara terhenyak.

“Membangkang bagaimana maksudmu?”

“Setahuku kau tidak pernah yang namanya membangkang apalagi membuat masalah dengan seorang dosen.”

“Itu karena dia sedang mengincarku…”

Hening mendadak menyelimuti. Lisa dan Sandara tampak mencerna kalimat terakhir Soo Rin yang berubah mengecil.

“Me-mengincar?”

“Mengincar … maksudmu?”

“Dosen Kim … mengatakan bahwa dia tertarik padaku.”

Kemudian mulut keduanya ternganga lebar.

“APA KAUBILANG?!” jeritan kompak itu berhasil mengejutkan Soo Rin hingga spontan ia menutup telinga dengan kedua tangan.

“Aku sendiri tidak mengerti mengapa dia berkata begitu padaku! Aku berpikir bahwa dia hanya main-main makanya aku sering memperlakukannya tidak sopan dengan maksud untuk menolaknya! Tetapi dia terus menggangguku hingga akhirnya dia menghukumku!” jelas Soo Rin dengan intonasi cepat.

“Astaga, Park Soo Rin…”

“Kenapa kau tidak cerita pada kami sejak awal?!” Lisa mengguncang sebelah lengan Soo Rin. “Sejak kapan kau berurusan dengan Dosen Kim, huh?!”

“Sejak kalian mengajakku ke club…”

“A-apa?”

Sandara dan Lisa saling melempar pandang. Ekspresi mereka berubah ngeri kala kembali menatap Soo Rin. Gadis berkacamata itu seolah mengerti arti sorot mata mereka.

“Ya, aku bertemu dengan Dosen Kim di sana saat aku kabur dari kalian ke toilet. Aku sendiri tidak menyangka akan bertemu dengannya dan mendapat pertolongan darinya di sana. Aku juga menjadi tahu bahwa dia ternyata anggota di club itu.” Soo Rin melirik teman-temannya yang ternyata menyimak dirinya yang mulai bercerita. Ia melanjutkan, “Karena pertemuan itu, aku takut jika seandainya dia akan membongkar pihak kampus kalau aku pernah menjamah tempat semacam itu. Kalian tahu sendiri bahwa pihak kampus memberikan beasiswa penuh padaku karena salah satunya aku dinyatakan bersih dari hal-hal berbau menyimpang. Kalau dia membongkarnya, bisa tamat riwayatku.”

“J-jadi, dia juga mengancammu? Begitu?” Sandara menyela cerita Soo Rin.

Gadis itu termangu sesaat. “Bisa dikatakan seperti itu … hanya saja…”

“Hanya saja?”

“Hanya saja sejak itu aku merasa mulai ikut campur dengan urusan pribadinya. Y-yah, kalian tahu, bukan? Aku pernah mengira bahwa Dosen Kim sudah beristri karena aku pernah tidak sengaja bertemu dengannya bersama seorang anak kecil dan seorang wanita yang ternyata itu adalah adiknya, lalu aku tidak sengaja melihatnya sedang bercumbu dengan Dosen Hwang.”

“Ya, kau pernah menceritakannya begitu,” sela Lisa disertai anggukan cepat.

“Dan aku bertemu dengan adiknya tadi pagi.”

“HAH?” keduanya berseru kompak.

“Dosen Kim ternyata membawaku ke apartemennya, tapi aku tidak melihatnya melainkan justru adiknya. Katanya, Dosen Kim menyuruhnya untuk merawatku karena … karena Dosen Kim tidak berani … mengurusku?” Soo Rin mengerutkan kening, menggeleng pelan, merasa tidak yakin. “Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan itu. Lalu, apa kalian tahu? Dosen Kim bahkan sudah tahu lebih dulu mengenai Jung Chae Yeon dan teman-temannya yang sedang mengincarku.”

“Benarkah?!”

“Sebelum kejadian di acara ulang tahun Jung Chae Yeon, dia sempat menemuiku di perpustakaan setelah mengerjakan tugas bersama Hong Ji Soo karena mereka bertiga ternyata ingin menyerangku, tetapi saat itu aku tidak tahu siapa mereka karena Dosen Kim sudah menyembunyikanku. Lalu, dia juga sempat melarangku untuk jangan pergi ke acara Jung Chae Yeon, hanya saja aku tidak mendengarkannya…”

“Jadi, orang yang menolongmu kala kau diculik oleh komplotan Jung Chae Yeon di club itu…”

“T-tidak mungkin!”

Soo Rin menatap Sandara maupun Lisa yang tampak terperangah, mengangguk lesu. “Itu adalah Dosen Kim…”

Daebak … Sepertinya Dosen Kim selalu mengawasimu….” Lisa menggumam takjub. Mulutnya seolah tidak bisa terkatup sama seperti Sandara.

“Lalu kau masih mengira bahwa Dosen Kim sedang bermain-main padamu?” tanya Sandara masih dengan tatapan takjubnya.

“Y-yah…” Soo Rin mengusap tengkuknya, salah tingkah. “Aku mana mungkin percaya? Kalian tahu sendiri bahwa Dosen Kim itu terkenal sering bermain dengan wanita, aku bahkan pernah melihatnya sendiri!”

“Tapi dia tertarik padamu!” seru Sandara dan Lisa. Kompak sekali sampai-sampai giliran Soo Rin yang merasa takjub.

“Dia mungkin sering bermain dengan banyak wanita tapi apa kau pernah mendengar Dosen Kim bermain-main dengan mahasiswanya?”

“Tapi Lisa pernah berkata bahwa banyak mahasiswi yang rela menyerahkan tubuhnya pada pria itu!”

Heol! Kau ini menyimak ceritaku atau tidak, sih?” Lisa memutar bola matanya. “Dia memang banyak mendapat tawaran menggelikan seperti itu tetapi semua ditolak olehnya! Aku sendiri menyaksikan bahwa Dosen Kim selalu tidak tertarik dengan para mahasiswinya sedangkan kau?”

“Dia yang terkenal sibuk dengan wanita-wanita itu kini menaruh perhatian padamu!” sambar Sandara yang langsung diamini Lisa dengan anggukan mantap.

“Apa kalian berada di pihak pria itu? Kenapa kalian merasa yakin sekali dengan spekulasi itu? Bisa saja dia melakukan hal sama terhadap mahasiswi lainnya tanpa kita ketahui, bukan?” bantah Soo Rin mulai terlihat frustasi.

“Sepertinya kau tidak ingat dengan kejadian kemarin malam, ya?”

Pertanyaan Sandara menarik perhatian Soo Rin kembali. Melihat adanya raut terkejut di mata Soo Rin, Sandara menarik napas cepat.

“Aku dan Lisa menjadi saksi akan kejadian kemarin malam, Soo Rin-ah. Kau yang menampar Dosen Kim sekaligus mengatainya ahjusshi hidung belang sampai pria brengsek hingga akhirnya kau berkata membenci Dosen Kim, apa kautahu apa yang terjadi selanjutnya?”

Ragu-ragu Soo Rin menggelengkan kepala.

“Kau diperebutkan oleh Dosen Kim dan Hong Ji Soo!” pekik Lisa tertahan yang sukses membuat Soo Rin mendelik kaget.

“Jangan bercanda!”

“Ini serius!” Sandara dan Lisa menjawab kompak sekali lagi.

“Ji Soo hampir membawamu pulang tetapi Dosen Kim berhasil merebutmu darinya! Dan kautahu apa yang Dosen Kim katakan setelah itu?”

“Dosen Kim mengklaim dirimu sebagai miliknya, Park Soo Rin! Dia bahkan mengancam Ji Soo untuk melangkahinya terlebih dahulu jika ingin mengambilmu!”

“Tapi Dosen Kim tetap mengatakan bahwa dia tidak akan mau menyerahkanmu karena kau sudah menjadi miliknya! Kau adalah milik Dosen Kim Ki Bum!

Soo Rin tercengang bukan main mendengar sahut-sahutan Lisa dan Sandara. Sungguh dia tidak tahu menahu perkara yang satu ini. Kesadarannya memang sudah limit kemarin karena mabuk, masih syukur dia bisa mengingat kejadian kemarin meski samar-samar. Berarti yang satu itu terjadi ketika Soo Rin sudah tidak sadarkan diri, bukan?

Tapi mana mungkin!

Mana mungkin Kim Ki Bum mengatakan hal demikian pada Hong Ji Soo mengenai dirinya? Mana mungkin Kim Ki Bum menganggap dirinya seperti itu?!

Tunggu dulu…

“Kenapa Hong Ji Soo bisa terlibat?”

“Itulah anehnya, kenapa Ji Soo bisa mengenal Dosen Kim?” ini adalah suara Sandara.

“Benar. Ji Soo bahkan memanggil Dosen Kim dengan sebutan Hyung. Sepertinya mereka memiliki hubungan dekat, bukan?” sahut Lisa sambil mengusap dagu.

Soo Rin tampak berpikir keras. Dia semakin dibuat bingung dengan hal ini. Kenapa tiba-tiba Hong Ji Soo terlibat? Dengan Kim Ki Bum? Memangnya mereka saling kenal?

“Tapi, Soo Rin-ah…

Eo?” Soo Rin mengerjap cepat, melihat teman-temannya itu menatap lekat-lekat dirinya yang membuatnya merasa tidak enak.

“Apa kau sadar akan suatu hal? Mengenai apa yang pernah kita bicarakan soal Dosen Kim itu?” Lisa menyipitkan matanya tanda menunggu jawaban Soo Rin.

Tapi nampaknya Soo Rin belum paham arah pembicaraan ini.

“Soal kekuatan magis Dosen Kim!” sahut Sandara gemas.

“A-apa? Kekuatan magis?”

Eo!”

“Sepertinya kau sudah terkena kekuatan magis milik Dosen Kim. Kau bahkan sudah sejauh ini, pasti sihir milik Dosen Kim sudah mengikatmu sampai-sampai kau dijadikan miliknya!”

“Kau ini bicara apa? Jangan mengada-ngada!” Soo Rin mulai merasakan bulu romanya meremang. “Mana ada sihir di zaman serba modern seperti sekarang?!”

Yeah, aku juga tahu itu. Tapi buktinya kau tidak bisa lepas dari urusan Dosen Kim, bukan? Kau sudah mengetahui kehidupan pribadinya dan sengaja atau tidak kau sudah ikut campur. Aku sudah bilang, Dosen Kim itu sulit untuk dijangkau, sedangkan kau?” Lisa menuding Soo Rin diiringi picingan tajam, menggelengkan kepala penuh dramatis. “Tanpa kausadari, kau sudah menjangkaunya sampai dia tidak mau melepaskanmu. Kau sudah terjebak, Park Soo Rin!”

“Jangan-jangan kau juga memiliki kekuatan magis yang bisa menarik perhatian Dosen Kim!”

“Hentikan!!” Soo Rin memekik sampai kedua temannya terlonjak mundur. Napasnya tersengal, ia segera berdiri yang disusul oleh mereka. “Kalian ini terlalu banyak membaca cerita dongeng! Tidak ada sihir maupun magis di diri dosen itu maupun aku! Haisshi! Kalian membuat suasana hatiku buruk saja!” Soo Rin menghentak napas kasarnya sebelum akhirnya pergi dari sana.

Meninggalkan Sandara dan Lisa yang kini sudah saling pandang, berbicara melalui mata melebar masing-masing.

“Sihir apanya? Apa mereka gila? Mana mungkin ada yang namanya seperti itu di dunia yang sudah seperti ini? Oh, sepertinya dunia ini memang sudah mulai meninggalkan kewarasannya sampai-sampai banyak orang yang mulai kembali memercayai istilah konyol itu!”

Sambil menuruni anak tangga, bibir kecilnya terus saja mengoceh, memutar kembali percakapannya dengan Sandara dan Lisa yang sudah dia tinggalkan di atas sana. Jika diingat-ingat kembali, Soo Rin juga bersalah. Kenapa dia mau menceritakan perkara dirinya bersama Kim Ki Bum sampai-sampai kedua temannya mengungkit kembali teori aneh karangan … entah karangan siapa itu.

Karena tidak hanya mereka, teman berciuman Kim Ki Bum bernama Jae itu pun juga mengatakan hal sama mengenai teori bodoh itu. Belum lagi pendapat mereka yang juga tidak ada bedanya dengan wanita malam itu, juga wanita bernama Kim Sae Hee … aih! Kenapa tiga kubu ini bisa kompak mengajukan kesimpulan yang sama pada Soo Rin, sih?!

“Aah, aku bisa gila jika seperti ini terus!” dumal Soo Rin sambil memijak anak tangga terakhir di mana dia sudah sampai di lantai dasar, meniup kasar poninya yang sudah berantakan, “Jadi sebenarnya siapa yang bodoh? Mereka yang percaya dengan hal konyol itu atau aku yang percaya bahwa dunia semakin aneh, huh?”

“Menurutmu siapa?”

“Astaga!” Soo Rin memekik kaget. Hampir saja terjatuh jika ia tidak segera memijak lantai dengan kedua kakinya. Iris di balik kacamatanya melebar mendapati pria itu ternyata berada di sisi tangga ini dan hampir tidak terlihat. Jelas saja Soo Rin merasa kesal karena … “Apa kau senang sekali muncul di tempat tidak terduga seperti itu? Mengagetkan saja!” gerutunya sambil mengelus dada.

“Aku baru tahu bahwa Park Soo Rin mudah terkejut.” Ki Bum keluar dari tempat persembunyiannya, memasang raut tak bersalah disertai senyum separuh. “Kenapa turun sendirian? Bukankah kau pergi bersama kedua temanmu tadi?”

Heol … kau benar-benar menguntitku, ya?”

“Aku harus menjawab berapa kali lagi?”

“Ah, sudahlah!” Soo Rin mengibaskan tangan singkat, memilih untuk tidak membuat masalah lagi dengan pria itu, tapi tiba-tiba teringat sesuatu. “Soal kemarin, apa kau mengatakan sesuatu pada teman-temanku?” tanyanya disertai mata menyipit curiga.

“Hanya menyuruh mereka menghubungi rumahmu bahwa kau menginap di rumah mereka. Kenapa?”

“Kau menyuruh mereka untuk berbohong pada kakakku?”

“Tapi kakakmu percaya, bukan? Dia tidak meminta konfirmasi darimu dan membiarkanmu berkuliah dengan tenang hari ini.”

Benar juga…

Lalu Soo Rin berdeham pelan, melirik pria itu lagi. “Kalau begitu, aku tidak perlu merasa khawatir lagi mengenai kakakku,” ia membungkuk sekilas untuk pria itu, “Terima kasih,” mengucapkannya cepat, terdengar setengah hati.

Tapi Ki Bum tidak mau memperpanjang masalah ini, memilih tersenyum geli sebelum menegakkan tubuhnya, menelisik sekitar. Posisi mereka saat ini memang sedikit strategis mengingat tangga yang satu ini berada di belakang gedung yang hampir jarang dilewati. Jadi Ki Bum tidak perlu khawatir untuk melakukan ini.

“Mana ponselmu?”

Soo Rin mengerjap cepat. “Ponsel? Untuk apa?”

Ki Bum hanya menggerakkan telapak tangannya, menitah secara nonverbal untuk memberikan saja ponsel Soo Rin padanya. Dan gadis itu menurut meski agak tidak rela. Kemudian Ki Bum tampak sibuk mengetik sesuatu di ponsel gadis itu, yang tak lama ada yang berdering di saku celanannya, memeriksanya kemudian pria itu mengangguk seolah mengerti.

“Itu nomor ponselku. Kuharap kau mau menyimpannya,” tukas Ki Bum sembari mengembalikan ponsel berwarna putih tersebut pada sang pemilik. “Tapi jika tidak pun, aku sudah mendapatkan milikmu,” lanjutnya menyindir halus.

Soo Rin menyadarinya hingga bibirnya mengerucut. Mau tidak mau ia menyimpan nomor ponsel Ki Bum, menamainya asal yang untungnya tidak disadari pria itu.

“Untuk apa kau meminta nomor ponselku?”

“Supaya mudah menghubungimu.” Ki Bum menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, beralih sedikit membungkuk menyamai tinggi gadis itu, berkata dengan suara rendah, “We have to stay connect, Park Soo Rin, (Kita harus tetap terhubung)” lalu menutupnya dengan kedipan sebelah mata disusul menepuk sekali puncak kepala gadis itu sebelum berlalu.

Meninggalkan Soo Rin yang terbengong-bengong mengantar kepergian Kim Ki Bum. Seharusnya dia melontarkan protes karena pria itu seenaknya menepuk kepalanya. Memangnya dia siapa? Hanya karena usianya jauh lebih tua bukan berarti bisa melakukan hal tersebut, bukan? Soo Rin tidak suka perlakuan itu karena ia merasa seperti anak kecil, tetapi…

Aih! Untuk apa Soo Rin merasakan detak jantungnya berubah tidak stabil, sih? Mana mungkin dia terpengaruh dengan hal semacam itu? Sadarlah, sadarlah! Meski sudah berdamai akan kejadian kemarin, Soo Rin tetap harus menjaga jarak dari pria bernama Kim Ki Bum itu!

Tapi belum ada dua menit berpisah, ponsel Soo Rin sudah bergetar tanda adanya panggilan masuk, dan itu dari si Kim Ahjusshi. Yeah, nama nomor kontak untuk Kim Ki Bum sehingga Soo Rin harus merasa enggan menjawabnya.

“Kau bisa kerasukan jika terus saja melamun di sana, Park Soo Rin. Hati-hati.”

Sayangnya Soo Rin harus dibuat kaget mendengar pria itu berkata demikian di seberang telepon. Mulai mengedarkan pandangannya ke segala arah yang sepertinya akan terlihat konyol karena dia tidak menemukan si pemilik suara yang kini tengah terekekeh pelan.

“Dasar penguntit!” desis Soo Rin seraya membuka langkah, pergi dari sana agar pria itu tidak mengejeknya lagi.

“Beristirahatlah. Kau masih memiliki waktu setengah jam sebelum kelas berikutnya dimulai.”

“Jangan sok perhatian padaku, Dosen Kim!”

“Aku memang perhatian padamu. Kau tidak suka?”

“Bagaimana jika aku membenarkan pertanyaanmu?”

“Hmm, itu berarti aku harus mencari cara lain agar kau menyukai perhatianku.”

Soo Rin memutar bola matanya. Yah, semoga saja pria yang entah mengawasinya di sudut mana itu, tidak melihat tindakan tidak sopannya barusan.

“Ah, hati-hati, kau akan bertemu seseorang sebentar lagi.”

“Siapa?” rasa penasaran Soo Rin terpancing oleh ocehan halus Kim Ki Bum. Oh, baiklah, pria itu memang berhasil memengaruhi Soo Rin sehingga ia menatap serius ke depan.

Benar saja, ada seseorang yang seolah menemukan keberadaannya. Dan Soo Rin belum sempat bersuara ketika saluran telepon dari pria itu terputus begitu saja, sepertinya Kim Ki Bum memang sengaja memutusnya dan memberikan kesempatan pada Soo Rin untuk menyapa pemuda itu.

“Oh, Hong Ji Soo!”

Ji Soo terdiam, mengamati gadis yang kini menurunkan ponsel pintarnya dari telinga, menumbuk fokus padanya seraya melambaikan tangan untuknya disertai ulasan senyum samar.

Benar juga. Soo Rin harus menglarifikasi tentang kejadian kemarin malam. Dia sudah melibatkan sekaligus merepotkan pemuda itu. Sedari tadi pun dia tidak sempat bicara pada Ji Soo meski mereka berada di satu kelas sebelumnya karena perbuatan Sandara dan Lisa. Tapi bagaimana Soo Rin memulai pembicaraan tersebut?

Euh … soal kemarin itu … aku…”

Tapi belum selesai Soo Rin bicara, pemuda itu sudah lebih dulu mendekatinya, dengan langkah lebar-lebar, sedikit membuat Soo Rin gugup namun berikutnya gadis berkacamata itu terkejut bukan main karena si pemuda tiba-tiba menubruknya.

Menubruk dalam arti, menarik Soo Rin ke dalam lingkaran tak terduga ciptaan Ji Soo. Sampai-sampai Soo Rin hampir lupa caranya menghirup udara dengan benar.

Hong Ji Soo memeluknya!

wp-1477755311271.jpeg


ini panjang . . . sampe chrome-nya hang terus (kayaknya) huhuhu

iya sampe situ dulu ya.. maafin kalo ceritanya makin gajelas karna yang nulispun gajelas HEHEHE

ini cepet ya, maklum lagi greget jadi langsung meluncur 😁😁 jadi bagi yang belum bisa buka part sebelumnya, move on langsung aja ke sini udah. Toh di sana absurd banget sumpah

so salam~

NCTDREAM's Jisung as Ji Sung Lau
NCTDREAM’s Jisung as Ji Sung Lau
wp-1477743887928.png
ULLZZANG’s Lee Geum Hee as Kim Sae Hee

 

9MUSES's Sera as Hwang Se Ra
9MUSES’s Sera as Hwang Se Ra
I.O.I's Chaeyeon as Jung Chae Yeon
I.O.I’s Chaeyeon as Jung Chae Yeon

see u next part!

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

24 thoughts on “WHATTA MAN – I’m Sorry

  1. Aaaaa ini panjang sampai”bacanya merem” buka mata lagi kkk saking pedihnya, bayangin aja baru bangun langsu buka fb, beralih ke google akibat penasaran tingkat dunia ingin cpt” baca kkk#lebay.
    Telengan apa.? kkkk yg bnr gelengan yang,,,hati”jangan terburu”alon alon saja kkkk
    mulai ada sweet”nya gitu,, apalagi udah pada punya no hp masing”, ya walaupun sorin mash agak ketus gitu,,,,kira” ada konflik lgi gk ya,,itu antara kibum sama kakanya sorin,,

    jisoo ngapain meluk sorin,,,?
    Ingin berurusan sama kibum ya..?

    Ceritanya makin wahh dehh makin gereget mudah” moodnya terus”an baik ya dan seceptnya melanjutkan cerita ini kkkkk

    ayo ttp semangat sikachi kkkk…!!!

    1. kamu juga ini komennya panjang banget ya hwhwhw xD
      err….itu sebenernya bener sih, teleng, kata dasar dari menelengkan, eh tapi malah jadi kayak bhs.melayu ya teleng (?) 😂😂
      iyanih konfliknya blm keluar semua, kayaknya bakalan panjang ini #what?! Moga ga membosankan aja nantinya hahahah ><

      makasih banyak udah bacaa, makasih juga semangatnyaa~ waah ada lagi yg manggil pake siskachi 😆😆

  2. Huahahahahaha…
    Jisoo memeluk soorin???
    Ingat..
    Mata dosen kim ada dimana mana… 🤓
    Di dinding. Dilantai. Bahkan dilangit langit…. 😂
    Apa yang akan terjadi kalo dia tau miliknya dipeluk pria lain??? 🤔

  3. berarti mulai sekarang ji sub sm ki bum udh terang2an merebutkan soo rin ya. tp keliatannya soo rin udh mulai terpengaruh dgn ki bum. udah mulai berdebar dia sm kibum.hehe

  4. jiso meluk soorin awas kibum ngamuk 😀
    njreng njrengg harus’a tiap part’a sepanjang ini kalo bosa lbh panjang hhhhh mau’a

  5. sumpaaahhhhh… ini impas banget sama gw yang nahan laper demi baca ff ini sampe selesaii😂😂
    padahal gw paling ga betah kalo berurusan sama yg namanya makanan😂😂
    ditunggu next chap, thoorr🙏

    1. weeeww~ jadi yg keren siapa? dirimu yg bisa nahan laper atau makanannya yg sabar nungguin disantap? xixixi 😆😆
      makasih banyaaaakk udah menyempatkan rela membacaa hehehe 🙏🙏

  6. aaaaaaaaaa suka bgt sama ceritanyyaaaa 😍 apalagi sweet bgt yg pas ngedip sama nepuk kepala kyaaaaa..
    seneng bgt lg lancar send ff jd cepet deh hehehe..
    yeyy ditunggu next part nyaa..

  7. haduh…
    ngapain tu joshua pluk2???
    bkal da cnta segi bnyak ni 😅😅😅

    da Sae hee jd kgn ma henry…
    jgn2 jisung ank mreka br2???
    imajinasi q mlai menggila.ha3x…

    sneng ny Soorin n Kibum udah agak akur…
    tinggal nunggu jdian ja.
    mga2 g da yg gnggu.amin🙏

    next sist…
    pnasaran ni 😆
    smangat 😉

  8. Saking khawatirnya Ji soo langsung meluk Soo rin pas ketemu lega mungkin karna Soo rin gak diapa2in sama hyungnya itu kkkk…Kim kibum apa kabarnya pas liat Jisoo eluk Soo rin yah 😀😀😀
    Udah mulai kontekan nih, walo ditelpon Soo rin masih ketus jawabnya…
    Part selanjutnya moga scene sweet KiSoo bertambah yah Siska…😘😘😘

  9. Hahaha jisoo udah berani ngelanggar rupa nya hati hati aja harrypotter marah :v ha si tunggu kelanjutan nya eon kalo bisa ada adegan kisoo coupel ya #eh? Hahaha :v

  10. kim kibum cenayang berkedok penguntit nih hmm /sipitin mata ke kimkibum/
    but i dont mind having a stalker as handsome as kim kibum lol

    dek jisoo ini main pelok perawan aja deh, dek hm hm hm
    itu perawan ada yang nunggu loh, dek /tunjuk kim kibum/ wkwk

  11. Sepertinya Soo Rin mulai tertarik. Wahh bakal ada konflik apa lagi setelah ini. Ga sabar buat next part. Fighting Author. Aku selalu menunggu karyamu. 🙂

  12. Pastinya ada alasan Kibum jdi bad boy nih
    Kibum sangat melindungi Soo rin pengen jga d lindungi Mbum
    eit ada yg peluk2 tu Kibum aja blum pernah ini udah ada yg nyerobot duluan
    bagusnya ada cinta segi empat biar tambah seru
    Soo rin kan dah mulai dag dig dug tu sma Kibum

  13. Waahhh… mau juga dipeluk Hong Ji Soo #eehhh 😸
    Awas Kim Kibum ngamuk 😆😸
    ditunggu part selanjutnya yaaa… Fighting 💪💪

  14. awww ini pankang banget hwhwhw.
    ciyee disini mulai muncul romantis2nya kimkibum wkkwk x)
    suka lah suka, aku tapi lagi2 lebih tertarik ke soori. sama jisoo nya hhwhwhw TuT
    btwww si jisuuuung my beloved son(?!) kamu unyu cekaliiiii x))

  15. sepertinya ff eonni juga punya kekuatan magis yang bisa menarikku untuk membaca cerita eonni dan tidak bisa keluar darinya. hehe.
    kibum uda mulai bersikap baik sama soorin 😀 seneng deh. tp kenapa aku g tega sama jisoo 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s