Posted in Adult, Campus Life, Fiction, Friendship, KiSoo FF "WHATTA MAN", PG-17, Romance

WHATTA MAN – How Are You?

wp-1474013213338.jpeg

slight!Adult, Campus Life, Friendship, Romance

PG-17 | for harsh words

before :: Wild Class | Attention | Bad Man| Just Started | Warn You | My Zone

“I don’t give a shit to her, though I’m a jerk.”
H A P P Y    R E A D I N G

.


ELVABARI©2016

.

.

“SOO RIN-AAAAAHH!”

Panggilan terlampau nyaring itu menggema di ruangan yang tak lain adalah kamar Soo Rin. Gadis itu ternganga melihat Lisa yang menerobos masuk kemari, berlarian dan langsung menerjang dirinya hingga terjungkal di tempat tidur.

“Astaga, Lisa! Kau ini apa-apaan?!”

“Lisa, Soo Rin sedang sakit!” Sandara yang baru masuk setelah berbincang sebentar dengan Park Soo Jin, kakak Soo Rin, mengernyit tidak suka akan perlakuan temannya itu.

Bukannya merasa bersalah, Lisa malah melanjutkan aksi merengeknya sambil memeluk erat-erat Soo Rin.

“Aku sangat mengkhawatirkanmu! Kau tidak tahu kalau aku hampir menangis karena tahu kau menghilang semalam, ‘kan? Huwaaaaa! Aku berpikir bahwa kau marah padaku karena sudah menyeretmu ke dalam sana lalu meninggalkanku dan Sandara! Tapi ternyata kau diculik oleh tiga gadis sialan itu dan aku tidak sempat menolongmu!” papar Lisa sambil tersedu-sedu di pelukan Soo Rin.

Sedangkan Soo Rin hanya bisa tersenyum geli mendengar pengaduan panjang-lebar dari temannya itu. Tangannya kemudian menepuk-tepuk punggung teman dekatnya itu bermaksud menenangkan.

“Aku tidak marah padamu apalagi Sandara. Saat itu aku memang sedang lengah. Hm … mungkin karena aku terlalu senang bisa berteman dengan Jung Chae Yeon sampai tidak tahu bahwa dia sudah menipuku,” jelasnya sembari terkekeh pelan.

“Maaf, Soo Rin-ah. Aku juga terlibat karena sudah memaksamu menerima undangan dari si Jung sialan itu,” sesal Sandara yang sudah duduk di pinggir tempat tidur di samping Soo Rin.

Eii, berhenti meminta maaf, kalian ini!” decak Soo Rin sambil melepas pelukan Lisa setelah dirasa mulai melonggar. “Buktinya aku sudah berada di sini dan masih selamat, bukan? Jangan merasa bersalah! Aku justru yang meminta maaf karena sudah pulang tanpa pamit semalam.”

“Tidak, itu hal yang sangat wajar!” bantah Lisa seraya menyusutkan hidungnya. “Ji Soo sudah memberi tahu aku dan Sandara, makanya kami langsung menjengukmu hari ini walaupun seharusnya kami datang semalam.”

“Ji Soo? Hong Ji Soo?” tanya Soo Rin memastikan.

“Ya. Ji Soo mengatakan kalau kau sudah diselamatkan oleh kenalannya dan sudah membawamu pulang,” jawab Sandara. “Tapi, Soo Rin-ah, separah apa Jung Chae Yeon menyiksamu?”

“Oh, lihat ini! Ada luka di sudut bibir Soo Rin! Pasti Jung Chae Yeon menamparmu sangat keras, bukan? Aisshi! Kurang ajar sekali dia! Memang apa salahmu sampai-sampai dia menyiksamu seperti ini?”

“Ini bukan hal besar, Lisa. Aku tidak apa-apa—aduh!”

Baik Lisa maupun Sandara terkesiap kala melihat Soo Rin mengaduh di bagian perutnya. Sebelumnya Lisa memang sempat tidak sengaja menyenggol bagian itu karena saking kalutnya melihat kondisi Soo Rin. Maka dari itu, mereka mulai panik dan coba memeriksa.

“Astaga, kau terluka di sini, Soo Rin-ah?!”

“Apakah parah? Kenapa sampai diperban begini?!”

Soo Rin meringis pelan mendengar kepanikan teman-temannya.

“Jung Chae Yeon sialan! Akan kubalas dia! Beraninya dia menyakiti Soo Rin!” Lisa geram setengah mati. Tangan-tangannya seperti gatal ingin meremas-remas dengan bayangan wajah cantik Chae Yeon di kepalanya.

“Kenapa dia tega sekali? Memangnya kau sudah berbuat apa padanya? Kau bahkan baru mengenalnya kemarin!” Sandara bahkan merasa ngilu melihat bagaimana temannya itu tampak menahan sakit.

“Hanya kesalahpahaman kecil. Tapi aku tidak apa-apa, sungguh.”

“Tidak apa-apa bagaimana?! Aku melihat dia baik-baik saja setelah menculik dan menyiksamu sampai seperti ini! How jerk she is!” umpat Lisa yang langsung dibekap mulutnya oleh Soo Rin.

“Jangan berkata kasar di dalam rumahku! Kakakku akan marah!” desis Soo Rin dengan kening mengerut. Karena kakak perempuannya itu memang menjunjung tinggi kesopanan dalam bertindak maupun berucap di mana pun, begitu juga Soo Rin. Tapi setidaknya karena sudah tahu bagaimana watak temannya yang satu ini, Soo Rin sedikit menoleransi.

Toh Soo Rin sendiri terkadang juga begitu, tentunya tidak di depan kakaknya.

“Jangan berkata tidak apa-apa hanya agar kami berhenti khawatir, kau justru membuat kami semakin merasa bersalah.”

Soo Rin tersenyum teduh pada Sandara. “Tapi pada kenyataannya aku sudah tidak apa-apa, hanya tinggal menyembuhkan diri dan aku akan kembali beraktivitas besok,” kemudian ia teringat sesuatu. “Tunggu, ini masih pagi dan kalian sudah di sini. Bukankah sekarang ada kelas?”

Keduanya saling pandang, lalu memberikan cengiran pada Soo Rin yang sudah menatap curiga sekaligus menghakimi.

Ya, cepat pergi ke kampus! Kalian ingin membolos, huh?!”

“Aih, ini sudah terlambat. Si Dosen Choi itu pasti tidak akan mengizinkan kami masuk.”

“Membolos sesekali ‘kan tidak apa-apa.”

“Apanya yang sesekali?! Kalian sudah sering absen dari kelas Dosen Choi, tahu!”

Ish! Kau ini tidak mengerti arti setia kawan, ya? Aku dan Sandara mana bisa belajar jika kau sedang sakit seperti ini?!”

“Alasan macam apa itu? Kalian justru seperti menyalahkanku!”

Lisa dan Sandara tertawa. Membuat kekesalan sesaatnya itu menghilang dan berganti rasa hangat karena melihat teman-temannya ada di sini menjenguknya. Menemaninya yang sejak semalam hanya bisa berbaring di tempat tidur, membosankan.

Mungkin untuk kali ini Soo Rin cukup mensyukuri akan kedatangan Sandara dan Lisa di dalam kamarnya.

.

.

.

Ada hitungan jam sejak Sandara dan Lisa datang. Kemudian muncul Park Soo Jin dengan senyum ramahnya menyapa mereka. Hari ini kakak perempuan Soo Rin sengaja tidak berangkat bekerja karena tidak bisa meninggalkan sang adik yang belum bisa bergerak leluasa sejak diantar pulang semalam dalam kondisi tidak berdaya.

“Sepertinya kau kedatangan tamu lagi.”

Ucapan lembut Soo Jin membuat rasa penasaran Soo Rin muncul. Setelah sempat menengok ke belakang lalu melipir dari pintu masuk, Soo Rin terpana melihat pemuda itu masuk ke dalam kamar sembari membawa bingkisan.

“Oh, Ji Soo! Kemari, kemari!” Lisa adalah orang pertama yang menyambut kedatangan pemuda itu.

Setelah membungkuk sopan pada Soo Jin lalu perempuan itu keluar lagi dari kamar, Ji Soo melangkah mendekat dan menunjukkan bingkisan di tangannya. Buah-buahan yang dibungkus rapi, “Untuk yang sedang sakit,” katanya jenaka.

Soo Rin terkekeh pelan. “Terima kasih sudah mau datang.”

“Kau datang dari kampus?” Sandara menyambut.

Ji Soo mengangguk. “Selesai kelas Dosen Choi, aku langsung pergi kemari,” jelasnya. Lalu memicing pada dua gadis itu. “Dan aku tidak melihat kalian di kelas tadi. Ternyata kalian sudah mencuri start lebih dulu.”

Ketiga gadis itu tertawa.

“Aku juga tidak menyangka bahwa mereka akan datang sepagi tadi,” ujar Soo Rin.

“Aku tidak tenang jika belum melihat Soo Rin,” kilah Lisa yang disetujui Sandara.

“Dasar!” Ji Soo mendesis. “Dosen Choi memberi tugas kelompok tadi. Kalian harus mengajukan diri pada beliau terlebih dahulu mengenai mana kelompokmu.”

“Dan biar kutebak, kau pasti mendaftarkan Soo Rin sebagai rekanmu.”

Ji Soo hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban untuk Lisa.

Aisshi! Dasar tidak setia kawan!” cibir Lisa.

“Ya sudah, sepertinya kita juga harus mengonfirmasi ke Dosen Choi.” Sandara berdiri sekaligus menarik Lisa. “Aku dan Lisa ke kampus dulu. Sudah ada Ji Soo, jadi setidaknya kau tidak kesepian.”

Soo Rin berdecak. “Aku bukan anak kecil. Sana!” usirnya tidak serius. Makanya teman-temannya hanya mencibir pelan.

Ya, Ji Soo, jangan macam-macam padanya! Awas saja, kau!” seru Lisa sambil berlalu.

Menyisakan Ji Soo yang hanya terkekeh bersama Soo Rin yang mengantar kepergian teman-temannya.

“Kau benar-benar mendaftarkanku menjadi rekanmu lagi?”

Barulah Ji Soo menumbukkan perhatiannya pada Soo Rin. Ia kemudian mengangguk membenarkan. “Hmm, sebenarnya tugas kelompok kali ini harus dikerjakan empat orang. Dan aku mendaftarkan kalian bertiga sebagai rekanku.”

“Apa?! Ya, kenapa kau tidak bilang dari tadi? Sandara dan Lisa sudah pergi!”

Ji Soo tergelak melihat Soo Rin mulai sewot. “Biarkan saja. Dengan begitu mereka juga tahu sendiri tugas macam apa yang diberikan Dosen Choi. Siapa suruh mereka tidak datang tadi?”

“Tapi kau baru saja mengerjai teman-temanku!”

“Maaf, aku memang sengaja melakukannya.”

Lalu Soo Rin meninju lengan pemuda yang semakin mengencangkan gelak tawanya. Untuk beberapa saat mereka larut dalam percakapan seputar tugas kelompok dari Dosen Choi. Disimak baik oleh Soo Rin yang masih duduk di tengah tempat tidurnya, tampak menyimpan penjelasan Ji Soo ke dalam memori otaknya.

“Ah, omong-omong…” Ji Soo tampak merogoh isi tas ranselnya, kemudian memberikan barang tersebut pada Soo Rin, “semalam aku menemukan ini di lokasi kejadian. Aku langsung membawanya ke reparasi dan baru selesai tadi.”

Soo Rin terperangah mendapati kacamata juga ponselnya dalam keadaan utuh kembali. “Seingatku ini rusak parah. Bagaimana bisa sembuh secepat ini?”

“Aku membayar mereka dua kali lipat untuk segera diperbaiki. Karena aku tahu ini sangat penting untukmu.”

Soo Rin melihat Ji Soo tersenyum simpul seraya meletakkan benda-benda itu di dekatnya. “Jadi, berapa yang harus kuganti untukmu?”

Ji Soo berdecak jengah. “Tidak perlu menggantinya.”

Yaa, ini menggunakan uangmu! Jelas saja aku harus menggantinya!”

“Tidak perlu, Park Soo Rin. Aku hanya menyisihkan sedikit uang jajanku. Lagipula ini sudah menjadi tanggung jawabku atas kejadian yang sudah menimpamu.” Ji Soo tersenyum bersalah. “Aku minta maaf. Ini semua salahku.”

Jadi, Hong Ji Soo sudah tahu?

“Aku sendiri tidak menyangka ada orang seperti Jung Chae Yeon yang akan menyakitimu hanya karena aku. Sungguh, aku tidak tahu dan tidak menyangka bahwa aku memiliki pengagum seperti dia.”

Soo Rin menggaruk kepalanya, canggung. “A-aku sendiri tidak menyangka bahwa berteman denganmu bisa membuat seseorang sakit hati.”

“Aku benar-benar minta maaf.” Ji Soo mendesah prihatin, tampak begitu menyesal. “Tapi, bukan berarti setelah ini kau akan menjauhiku, bukan?”

“Hah?” Soo Rin mengerjap beberapa kali. “Apa yang kau bicarakan? Justru pertanyaan itu seharusnya aku yang mengutarakan,” kekehnya.

“Jelas saja aku patut memertanyakannya. Kau menjadi seperti ini karena aku.”

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Eii, aku jadi merasa tidak enak,” Soo Rin meringis. “Aku tidak merasa terbebani sama sekali. Lagipula, aku ‘kan memang hanya berteman denganmu. Merekanya saja yang terlihat berlebihan karena takut aku akan mengambilmu,” kelakarnya. “Jadi, jangan salahkan mereka sepenuhnya. Aku yakin setelah ini mereka tidak akan mengulanginya. Karena…”

Karena pria itu sudah mengancam mereka terlebih dahulu sebelum Ji Soo menyadarinya.

Tapi Soo Rin tidak mungkin mengatakannya pada Ji Soo yang sedang menatap sendu dirinya. Pemuda itu pasti tidak tahu kalau ada orang lain yang sudah terlibat semalam.

“Ah, omong-omong, Hong Ji Soo, apa … kau berkata pada teman-temanku bahwa, orang yang menolongku semalam adalah kenalanmu?”

Ji Soo menelan saliva sejenak, terlihat dari jakunnya yang sempat bergerak sebelum kemudian berdeham pelan. “Aku tidak mungkin langsung mengatakan pada mereka bahwa Dosen Kim yang menyelamatkanmu, bukan?”

“K-kau tahu?”

Melihat raut tercenung Soo Rin, Ji Soo mengangguk. “Aku sempat bertemu dengannya, setelah dia berhasil menyelamatkanmu. Aku cukup bersyukur karena dia ternyata ada di sana dan menemukan keberadaanmu lebih dulu.”

“Aah, begitu…” Soo Rin mengangguk-angguk.

“Tapi, Park Soo Rin, kau … bersama Dosen Kim…”

“Eh?”

Entah kenapa, Soo Rin merasakan jantungnya tiba-tiba meloncat mendengar kata-kata Ji Soo. Sedangkan pemuda itu tampak ragu untuk mengatakan sesuatu.

Apakah Ji Soo juga tahu soal Kim Ki Bum yang … sedang mengincar Soo Rin?

“Ah, maksudku, kau diantar oleh Dosen Kim dengan selamat, bukan?”

Kemudian seperti ada kelegaan di dalam benak Soo Rin begitu mendengar lanjutan dari pemuda itu.

“Oh, tentu saja! Dia mengantarku pulang dengan selamat. Buktinya aku sudah terlihat baik sekarang. Hahaha!” entah kenapa Soo Rin menjadi terdengar hambar kali ini.

Untungnya Ji Soo tampak mengulas senyum lega setelah mendengarnya.

Meski sebenarnya Ji Soo mulai dirundung bimbang dalam otak dan benaknya.

****

“Tumben sekali sudah datang?”

Tahu bahwa suara itu tertuju untuknya, Ki Bum menjauhkan gelas beer-nya demi menyambut Jae yang mendudukkan diri di sebelahnya. Sementara wanita itu merapikan rambut tergerainya yang indah, Ki Bum memanggil bartender untuk membawakan satu gelas lagi.

“Aku senang kau datang lebih awal.”

Yeah, sampai-sampai aku tidak sempat bersalin karena panggilan dadakanmu,” cibir Jae seraya menuangkan beer pesanan Ki Bum ke dalam gelas yang baru saja diantarkan. Saat ini penampilannya memang tidak seperti biasa, hanya mengenakan cardigan yang menutupi kaus putihnya, berpadu jeans yang agak longgar. “Untung saja jam kerjaku di rumah sakit sudah selesai,” gerutunya setelah meneguk minumannya sekali.

Ki Bum sendiri hanya tersenyum tanpa dosa mendengar keluhan wanita di sebelahnya. Setelah tugas mengajarnya berakhir hari ini, dia langsung datang kemari di kala waktu masih menunjukkan pukul lima sore. Mengingat tempat ini baru akan ramai di atas pukul sembilan, Ki Bum yang mudah bosan langsung meminta Jae yang sebenarnya masih bertugas sebagai paramedis untuk segera menemuinya di sini. Menyebalkan sekali, memang. Bagaimana pun Jae butuh jeda sebelum bekerja lagi, tapi memang dasar Kim Ki Bum itu memakai alasan sebagai pelanggan VVIP, Jae yang sudah ditunjuk sebagai pelayan tetap pria itu mau tidak mau mematuhi.

“Jadi apa yang membuatmu datang kemari dan membutuhkan kehadiranku, hm?”

“Menurutmu?”

Jae berdecak jengah. “Butuh pelepasan, eh? Tapi sepertinya aku sedang tidak mood. Bukannya puas, kau akan bosan denganku dan mengadu pada bosku.”

“Pada nyatanya aku sudah bosan denganmu,” balas Ki Bum tanpa beban, bertopang dagu di meja bar. “Aku memang sedang tidak bergairah.”

Jae tidak perlu merasa tersinggung dengan ucapan asal pria itu. Maka dari itu ia mengikuti jejak Ki Bum dan menatap dari samping lekuk wajah tegas pria itu.

“Hoo, sepertinya sumber semangatmu sudah berpindah haluan, ya,” gumamnya disertai sunggingan asimetris. “How is she?”

Not fine,” suara beratnya terdengar datar, “I didn’t see her today.”

Tapi Jae tahu betul apa yang tengah dirasakan pria sok tanpa ekspresi itu. “Kenapa tidak kau jenguk saja dia di rumahnya?”

“Kaupikir aku bisa?” Ki Bum mendengus pelan. “Mengantarnya sampai ke tangan kakaknya saja aku sudah dipandang seperti hidung belang yang sudah menyentuh adiknya itu.”

“Kau ‘kan memang hidung belang,” balas Jae pedas.

“Setidaknya aku tidak sembarangan menyentuhnya!” desis Ki Bum, agak terpancing.

Makanya Jae tergelak puas. “Oh, poor you. Rasa-rasanya baru kali ini aku melihat seorang Kim Ki Bum merasa terganggu karena tidak bisa menyentuh target incarannya,” ledeknya kemudian.

“Aku tidak pernah menargetkan siapapun sebelumnya. Kau tahu itu.”

“Tidak ditarget pun kau sudah seenaknya membawa mereka ke atas ranjang hanya demi kepuasanmu.”

“Mereka yang menarikku ke atas ranjang dan aku yang memuaskan mereka.”

Oh c’mon, Kim! Tidak ada bedanya karena kau dan para slut itu tetap dikatakan bercinta!”

That was not making love, just having one night stand.” (Itu bukan bercinta, hanya melakukan one night stand.)

Jae memutar bola matanya. “Yea, sebut saja begitu. Kau yang hanya melakukan sebatas one night stand pada banyak wanita dan tiba-tiba tidak bisa melampiaskannya barang setitik pun, sepertinya kau sedang terkena karma. Siapa suruh tertarik pada gadis muda yang jelas-jelas bertolak belakang dengan kehidupan brengsekmu ini?”

Are you blamming me?” (Apa kau menyalahkanku?)

“Sudah jelas, bukan?” balas Jae cuek seraya kembali meneguk beer-nya, sebelum melanjutkan, “Tapi kuperingatkan padamu, Kim, jika kau benar-benar tertarik padanya dan memang ingin memilikinya, kau tidak patut memerlakukannya seperti wanita-wanitamu sebelumnya. Dan jika kau bersungguh-sungguh, kau tidak akan pernah mungkin berpikir untuk merobek mahkota berharganya sebelum waktunya. Dia tidak pantas menerima perlakuan sehina itu.”

Do you think that I’m that bastard? What a shit!” umpat pria itu terlihat kesal.

Namun Jae hanya sebatas tersenyum miring. Meneguk sekali lagi minumannya kemudian mengibaskan rambut panjangnya. Suatu kebiasaan murni namun mampu menarik perhatian banyak pria karena itu terlihat seksi. Tapi tidak untuk Ki Bum, apalagi pria itu sedang dirundung kesal setelah mendengar omongannya.

She’s different, Kim, and you know that. Maka dari itu, jika kau hanya main-main padanya, mundurlah dari sekarang sebelum aku yang bertindak lebih dulu.” Jae memandang serius pria yang kini ikut menatapnya, berkata, “I have a deal with her and now, I’m her guardian. So be careful with her, Kim. You know who I am, right?” (Aku memiliki kesepakatan dengannya dan sekarang, aku adalah pelindungnya. Jadi hati-hati dengannya, Kim. Kau tahu siapa aku, bukan?)

Menepuk pundak lebar itu kemudian turun dari kursi tingginya, Jae mengumbar senyum termanisnya yang sungguh berbeda dari sebelumnya. “Beri aku tiga puluh menit untuk bersalin, setelah itu aku akan melayanimu,” pamitnya sambil mengedipkan sebelah mata.

Meninggalkan Ki Bum yang mendesah kasar sebelum menenggak habis beer dalam minumannya, menghentakkan gelasnya dan mulai menggerutu.

I don’t give a shit to her, though I’m a jerk.

****

Tiga hari termasuk hari libur, Soo Rin memanfaatkannya dengan beristirahat hingga ia kembali beraktivitas hari ini. Pagi-pagi sekali dia sudah terlihat rapi dengan kacamatanya yang sudah kembali utuh. Begitu keluar dari kamarnya, ia disambut oleh kakak perempuannya yang tengah merapikan meja makan untuk sarapan pagi.

“Isi perutmu sebelum berangkat,” ujar Soo Jin lembut yang langsung dibalas Soo Rin.

Gadis itu segera duduk di salah satu kursi. Meja yang hanya dikelilingi 4 kursi itu terlihat setengah penuh berkat masakan buatan Soo Jin. Mereka pun menyantap makanan yang ada dengan tenang. Soo Rin bahkan terlihat lahap menyendok nasi di mangkuknya sampai-sampai Soo Jin menggeleng heran dengan sesekali memberikan beberapa lauk ke mangkuk nasi adiknya itu.

“Hubungi Eonni jika terjadi sesuatu di kampus. Jangan diam saja. Mengerti?”

Nee!” Soo Rin menarik sudut-sudut bibirnya, tersenyum polos. “Aku akan menjaga diri, Eonni. Jangan khawatir. Aku sudah bisa bergerak bebas sekarang!” kemudian ia menyuap kembali makanannya ke dalam mulut. “Berbaring di tempat tidur terus-terusan membuatku bosan. Aku juga merindukan Sandara dan Lisa,” lanjutnya di sela-sela mengunyahnya.

“Iya, iya. Telan dulu makananmu baru bicara, kau ini!” Soo Jin membersihkan mulut adiknya yang agak belepotan akibat saus kimchi buatannya.

Sedangkan Soo Rin hanya menyeringai polos sebelum keheningan kembali menjadi teman mereka untuk beberapa detik ke depan.

Tanpa diketahui, Soo Jin memandangi adiknya diam-diam. Ada raut keraguan di paras cantiknya. Kunyahan mulutnya yang tampak pelan itu pun sedikit menunjukkan bahwa sebenarnya ia sedang memikirkan sesuatu.

“Soo Rin-ah.”

Hng?”

“Soal malam itu, kau pulang bersama seorang pria…”

Lalu gerakan Soo Rin terhenti, begitu juga dengan mulutnya, berganti mendongak perlahan menemukan mata sang kakak yang tengah tertuju padanya.

U-uh?”

Soo Jin berdeham pelan, mencoba untuk tidak terlalu menunjukkan dengan kembali fokus pada makanannya. “Pria yang mengantarmu pulang saat itu … apa benar dia hanya dosenmu?”

Soo Rin menelan sisa makanan di mulutnya sebelum menjawab, “T-tentu saja, Eonni.”

“Tapi bagaimana bisa?”

“Eh?”

“Bukankah kau sedang menghadiri pesta ulang tahun temanmu?”

Soo Rin mulai gelagapan. Sepertinya, kekhawatirannya benar-benar terjadi. Kemarin-kemarin kakaknya terlihat menutup mulut dan lebih peduli dengan kondisinya, Soo Rin kira kakaknya akan lupa untuk menanyakan kronologis yang menyebabkan dirinya terluka.

“Y-yah, itu … saat itu … kebetulan Dosen Kim sedang ada di tempat acaranya diadakan. Jadi, dia yang menolongku, Eonni.”

“Lalu ke mana teman-temanmu? Sandara dan Lisa, saat itu?”

Soo Rin tampak kebingungan.

“Memangnya, di mana acara ulang tahun temanmu diadakan, hm?”

Sungguh, Soo Rin lupa untuk memersiapkan jawaban dari pertanyaan kakaknya ini!

“Di suatu gedung … t-temanku itu anak konglomerat. Jadi…”

“Jadi, bagaimana kau bisa jatuh dan terluka seperti itu?”

Soo Rin menelan saliva. Ayolah, Park Soo Rin yang pintar, berpikir! Alasan apa yang bagus supaya Soo Jin Eonni percaya?! Pikirkan!

Tapi sepertinya Soo Rin harus bernapas lega karena bantuan tak terduga datang. Ponselnya bergetar di dalam tasnya menandakan ada panggilan masuk. Benar saja, nama Sandara tertera di layar sentuhnya.

“Halo?”

“Soo Rin-ah, aku dan Lisa ada di bawah. Ayo berangkat!”

Eo? O-oh, baiklah…” buru-buru Soo Rin memutus panggilannya. Bernapas lega diam-diam karena teman-temannya sudah menunggu. Memang dia sudah membuat janji dengan kedua temannya untuk berangkat ke kampus bersama. Mengingat bagaimana khawatirnya mereka yang belum percaya dirinya sudah bisa berkuliah hari ini.

Sedangkan Soo Jin hanya bisa memerhatikan adiknya segera berdiri dari duduk setelah meneguk air putihnya hingga setengah habis.

Eo-Eonni, hari ini aku berangkat bersama Sandara dan Lisa, mereka sudah menunggu. Jadi aku berangkat dulu.”

Eo, baiklah. Hati-hati.” Soo Jin mencoba untuk tersenyum. Melihat adiknya itu membalas sebelum memeluk sejenak dirinya kemudian berlari keluar dari apartemen.

Menyisakan dirinya yang kembali merenungkan kejadian beberapa waktu lalu. Di mana adiknya itu diantar pulang oleh seorang pria asing bernama Dosen Kim, namun rasanya … Soo Jin pernah melihat sosok itu.

Tapi kapan dan di mana?

****

Kelas pertama di hari ini selesai. Dosen bernama Shin Dong Hee itu keluar ruangan lebih dulu sementara para mahasiswanya sibuk dengan urusan beres-beres. Begitu berbelok, dosen bermata sipit itu sedikit tertegun kala bertemu dengan pria itu, tersenyum sejenak sambil lalu tanpa peduli apa-apa lagi.

Kelas tersebut mendadak hening ketika pintu ruangan diketuk nyaring, menumbuk perhatian pada pria yang sudah berdiri di ambang pintu dengan raut datarnya, mengedarkan tatapan yang sama sembari membuka mulut.

“Jung Chae Yeon, Kim Do Yeon, Im Na Young,” Ki Bum menemukan raut wajah gadis-gadis yanh dipanggilnya itu berubah tegang, lalu dengan cepat matanya berlari ke arah lain, “dan Park Soo Rin. Ke ruanganku sekarang juga.”

Serta merta seluruh isi kelas berbalik memandang empat gadis yang sempat dipanggil oleh pria yang sudah hilang dari tempatnya. Terutama pada gadis yang baru saja datang hari ini setelah sempat tidak menampakkan batang hidungnya seperti biasa.

“Kenapa tiba-tiba kau dipanggil oleh Dosen Kim? Bersama tiga orang itu, pula?” Lisa mendadak ingin tahu.

Soo Rin hanya mengedikkan bahu.

“Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin?” sebenarnya Sandara hanya asal menebak.

“Mana mungkin!” pekik Lisa tertahan.

Soo Rin mendesis pelan mencoba menenangkan teman-temannya. Sementara ketiga gadis itu sudah melewatinya, keluar lebih dulu, masih sempat-sempatnya melirik tajam Soo Rin yang untungnya diabaikan. Barulah ia berdiri dari duduknya setelah pamit pada kedua temannya.

Sedangkan Hong Ji Soo, dalam diamnya, mengamati kepergian gadis berkacamata itu dengan raut tak terbaca.

.

.

.

Sesampainya di ruangan Kim Ki Bum, Soo Rin melihat tiga gadis itu sudah berdiri menghadap meja di mana pria itu duduk di baliknya. Soo Rin masih sempat melihat, pria itu memberikan isyarat agar ia menutup rapat pintu ruangan dan segera bergabung. Berdiri di sebelah Chae Yeon yang sudah menunduk bersama teman-temannya.

Tiba-tiba saja Ki Bum menghempaskan beberapa makalah ke atas meja, membuat satu di antara mereka berjengit pelan dan semakin segan untuk melihat raut wajah pria itu.

“Apa kalian tidak bisa mengerjakan tugas dariku? Kalian pikir ini bisa dikatakan makalah, huh? Semuanya hasil salinan dari internet, ini namanya menjiplak bukan mengerjakan tugas!”

Jwaeseonghamnida…” ketiganya bersuara pelan, hampir kompak.

Sedangkan Soo Rin mulai kebingungan. Kupikir dia memanggil untuk membahas masalah saat itu, ternyata mengenai tugas?

“Aku sudah memberi kalian kesempatan untuk memerbaiki dan mengizinkan kalian untuk mengerjakannya bersama-sama. Tapi mana hasil dari otak kalian sendiri? Kalian sedang menganggap remeh diriku, ya?”

“Tidak, Dosen Kim.”

Ki Bum mendesah kasar mendengar cicitan kompak itu. Ia kemudian mendorong tiga makalah tersebut tanpa ampun. “Tidak ada toleransi lagi. Nilai kalian benar-benar kosong untuk materi ini. Jadi untuk selanjutnya jangan main-main dengan pelajaranku karena aku tidak segan-segan untuk mengosongkan nilai kalian lagi.”

Soo Rin merengutkan bibirnya. Lalu apa hubungannya denganku? Apa dia mau pamer bahwa dia juga bisa menjadi dosen yang sebenarnya? cibirnya dalam hati.

“Pelajari ini.” Ki Bum meletakkan dua makalah lain ke hadapan tiga gadis itu. “Itu milik Park Soo Rin dan Hong Ji Soo. Kalian bisa mengambil contoh dari sana bagaimana cara membuat makalah yang benar. Baik milik Park Soo Rin maupun Hong Ji Soo memiliki kelebihan masing-masing yang bisa kalian contoh. Tapi bukan berarti kalian akan menjiplak isi dari pekerjaan mereka. Aku tahu benar isinya.”

Soo Rin dapat melihat dari ekor matanya, bagaimana Jung Chae Yeon menengok dirinya dan sedang menatap tajam dirinya sementara teman-temannya mengambil makalah yang katanya milik dirinya dan Ji Soo.

“Jung Chae Yeon.”

Panggilan Ki Bum serta merta menarik Chae Yeon untuk kembali menunduk.

You are pretty and many guys wanting you, but it just an useless thing if your brain was so lame. Nonsense. You know that?” (Kau cantik dan banyak lelaki yang menginginkanmu, tapi itu percuma jika otakmu sangat payah. Omong kosong. Kau tahu itu?)

Teguran pedas Kim Ki Bum berhasil membuat Chae Yeon tertunduk malu, membungkuk meminta maaf pada sang dosen sekali lagi tanpa diikuti oleh teman-temannya kini.

“Kurasa kalian harus mulai berpikir bagaimana caranya agar aku bisa meloloskan kalian di semester ini.” Ki Bum akhirnya melirik gadis yang sedari tadi bungkam di tempat. “Park Soo Rin, kau tidak akan merasa sungkan untuk membantu mereka menaikkan nilai di mata kuliahku, bukan?”

“A-apa?” Soo Rin mengerjap cepat, menatap tidak percaya pria yang tengah menatap datar dirinya lalu mulai melirik tiga gadis di sebelahnya. Ia berdeham pelan, mencoba menguasai diri. “Y-yah, jika mereka tidak keberatan, aku bisa … sedikit memberi bantuan.”

Ki Bum menyandarkan tubuhnya. “Kalian dengar? Jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan pada yang lebih pintar jika sadar di mana kelemahan kalian,” menyungging senyum miring seraya bersedekap nyaman, menikmati pemandangan di hadapannya, “Tapi kuharap, kalian tidak melibatkan dendam pribadi hanya demi meninggikan gengsi kalian,” lanjutnya menyindir.

Tidak ada yang berani menyahut. Soo Rin sendiri memilih untuk menutup mulut rapat-rapat serta mengatur mimik wajahnya sedatar mungkin agar tidak terpengaruh dengan alur permainan pria itu. Karena dia sadar, Kim Ki Bum sedang menunjukkan pada ketiga gadis itu bahwa mereka tidak bisa main-main lagi.

“Tidak ada yang ingin ditanyakan? Baiklah, kalian boleh keluar sekarang. Dan, ah, simpan makalah itu baik-baik. Aku berikan pada kalian bukan untuk dibuang maupun dibakar setelah ini melainkan dipelajari dengan baik.”

Mereka bertiga tampak saling pandang. Well, Dosen Kim itu seperti mampu melihat apa yang ada di dalam kepala mereka. Maka dari itu, buru-buru mereka membungkuk mohon undur diri dan berbondong-bondong keluar dari kelas.

Soo Rin sendiri sudah mengikuti jejak mereka dan hampir mencapai pintu ruangan ketika suara berat Kim Ki Bum terdengar lagi.

“Kau tetap di sini, Park Soo Rin.”

Sayangnya ketiga gadis itu masih mendengarnya sehingga menyempatkan diri untuk menengok ke belakang. Melihat gadis berkacamata itu menghentikan langkahnya dan tampak menahan napas. Tidak mau terkena damprat lagi, mereka langsung keluar dari sana, menutup rapat pintu tersebut dan berlari-larian menjauh.

Chae Yeon yang sedari tadi menahan diri, akhirnya melepaskannya dalam bentuk geraman. Tangan-tangannya mengepal kuat sekaligus menghentakkan kaki. Tidak jauh berbeda, Do Yeon dan Na Young pun sudah menunjukkan raut kecutnya.

“Gadis culun sialan!!” seru Chae Yeon penuh amarah.

“Aku tidak menyangka si kacamata itu berada di tangan Dosen Kim. Bagaimana bisa?” gerutu Na Young.

“Dia pasti juga menggoda Dosen Kim. Heol! Tidak kusangka penampilannya yang buruk ternyata hanya sebuah kedok kosong.” Do Yeon mendengus tidak percaya.

“Sudah menggoda Hong Ji Soo, ternyata dia juga menyerahkan dirinya pada Dosen Kim. What a goddamn Bitch!!” umpat Chae Yeon lagi dengan suara nyaringnya.

Shut up, darn mouth!

Baik Chae Yeon maupun kedua temannya terkesiap begitu mendengar sahutan tak terduga yang ternyata datang dari seorang pemuda yang melangkah panjang-panjang menghampiri mereka. Seketika mereka menelan saliva kepayahan, merapatkan diri pada Chae Yeon yang harus gelagapan menghadapi Ji Soo yang tampak marah.

“Aku cukup bersabar mengetahui kalian memerlakukan Park Soo Rin seperti kala itu, tapi tidak lagi setelah mendengar betapa kasarnya kalian membicarakan gadis itu,” tatapan Ji Soo bagai laser yang mengintimidasi ketiganya terutama Chae Yeon.

Gadis cantik itu memucat.

“Ke-kenapa kau membelanya? Dia hanya gadis yang tidak cantik dan lebih mencintai buku dan nilai ketimbang laki-laki seperti dirimu! Kau tidak seharusnya berteman dengannya apalagi melebihi itu!”

“Apa hakmu melarangku untuk melakukannya?” sambar Ji Soo sinis. “Gadis seperti Park Soo Rin lebih pantas menjadi temanku bahkan lebih dari itu. Dibandingkan kau dan teman-temanmu yang kelakuannya membuang sia-sia uang orangtua hanya untuk berfoya-foya apalagi mempertebal wajah.” Ji Soo memandang ketiganya tidak suka, terutama gadis yang dicap primadona kampus itu, “You just make me feel so sick. So get of my back!” desisnya kasar sebelum hengkang dari sana.

Meninggalkan Chae Yeon yang kembali menggeram di tempatnya dengan mata memerah basah. Merasa sudah direndahkan oleh orang yang sudah dikaguminya. Dan semuanya karena si gadis kacamata itu.

“Akan kubalas Park Soo Rin nanti. Akan kupermalukan dia di depan semua orang nanti! Akan kubuat dia menderita karena sudah meremehkanku!!”

.

.

.

Lock the door, please.

Soo Rin berbalik badan, menatap penuh menuntut pria yang masih duduk di kursinya itu. “Untuk apa aku melakukannya? Kenapa—”

I said lock the door.” sambar Ki Bum datar, menatap lurus gadis itu dengan dagu terangkat. “Apa aku harus menggunakan nada perintah daripada meminta tolong padamu?”

Soo Rin memilih untuk tidak membalas, hanya meniup poni memanjangnya sebelum akhirnya mengunci pintu ruangan ini lalu kembali menghadap pria itu. Well, dia masih ingat akan kesepakatan mereka, jadi dia tidak mau mengambil resiko dari kelakuan kecilnya seperti barusan.

Barulah Ki Bum berdiri dari duduknya, mengitari meja kerjanya lalu bersandar tepat menghadap Soo Rin. “Hanya tidak mau ada yang mengganggu di saat aku sedang ingin berdua saja denganmu.”

“Oh, rayuan yang bagus,” cibir Soo Rin pelan. Ia sudah melepas sopan santunnya hingga kini berani bersedekap angkuh untuk pria itu. “Jadi kenapa kau memberikan makalahku pada mereka? Apa kau bisa menjamin bahwa pekerjaanku itu akan selamat?”

Ki Bum mengedikkan bahu, “Itu hanya salinan. Makalah aslimu masih ada padaku. Jadi jangan khawatir karena aku juga tidak sebodoh itu,” jelasnya cuek.

Membuat Soo Rin mendengus jengah meski di sisi lain harus merasa lega. Jujur saja, sejak tahu makalahnya akan diserahkan pada ketiga gadis itu, dia mulai ketar-ketir akan nasib pekerjaannya itu.

“Lalu sekarang apa maumu?”

Kini, Ki Bum melepas senyumnya meski tidak simetris. Ia sendiri memilih untuk menyimpan tangan-tangannya pada saku celana masih dengan menatap lurus gadis yang berjarak lima langkah saja.

How are you?

Ada kilat tertegun melintas di iris kecoklatan Soo Rin. Sedikit tidak percaya dengan pertanyaan juga nada yang keluar dari mulut seorang Kim Ki Bum. Bolehkah dia menyimpulkan bahwa pria itu memang sedang menanyakan keadaannya?

“Apa kau hanya ingin bertanya itu?” sayangnya Soo Rin memilih untuk meninggikan gengsi. Memalingkan wajah beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, “Seperti yang kaulihat, aku masih bisa berdiri di hadapanmu.”

“Begitu?”

Kemudian Soo Rin merasa seperti baru saja salah menjawab. Pria itu kini menegakkan tubuhnya, melangkah mendekat yang serta merta membuat Soo Rin sedikit goyah. Ketika hanya tersisa dua langkah dan pria itu masih tampak tidak mau berhenti, Soo Rin langsung menyeret kaki-kakinya untuk mundur. Fokusnya mendadak buyar ketika pria itu berhasil menangkapnya lebih dulu sebelum punggungnya menabrak pintu dan langsung jatuh ke dalam yang bidang. Seperti ada yang mengagetkan ketenangan jantungnya hingga berjengit keras di balik rusuknya ketika merasakan ada yang menahan pinggangnya sementara ada juga yang menjatuhkan tasnya begitu saja.

Kim Ki Bum berhasil menarik Soo Rin ke dalam jeratan tangan-tangannya. Terasa mudah, tapi selanjutnya ia mulai merasakan adanya penolakan dari gadis itu sendiri.

“Kau ini apa-apaan? Lepaskan!” Soo Rin berubah panik. Pasalnya dia tidak pernah mendapat perlakuan seperti kecuali pria ini yang melakukannya. Seperti yang terakhir kali itu, dan jelas Soo Rin masih tidak terbiasa.

“Padahal aku sungguh-sungguh mengkhawatirkanmu, tapi sepertinya kau masih meremehkanku,” gumam Ki Bum dengan suara rendahnya. Tangannya yang bebas terangkat menuju gagang kacamata Soo Rin, membenarkan posisinya yang sedikit merosot. Dan entah mengapa, hal itu menjadi tindakan kecil yang menyenangkan baginya.

Karena melihat Park Soo Rin mulai menunjukkan semburat berarti di wajahnya.

Should I kiss you until you believe how I feel, hm?” (Haruskah aku menciummu sampai kau percaya akan perasaanku?)

Ada rasa panas mendadak muncul di wajah Soo Rin. Ditambah dengan sentuhan halus di sudut bibirnya, merasakan usapan seringan bulu dari ibu jari Kim Ki Bum yang berhasil membangkitkan gelenyar aneh di dalam tubuhnya, merambat jatuh ke dasar perutnya dan beriak di sana.

Sadar bahwa dirinya hampir terpengaruh, Soo Rin kembali meronta, memaksa untuk melepas diri agar mampu menjalankan niatannya untuk lari dari sini. Dia bahkan seperti bisa mendengar debaran jantungnya sendiri karena saking kerasnya, tidak mungkin dia memamerkan ini pada pria hidung belang ini, bukan?

“Lepaskan aku! Kau tidak bisa melakukan ini apalagi ini masih di area—ugh…” Soo Rin tidak bisa menahan rasa ngilu berkat gerakan brutalnya yang ternyata masih berefek samping pada cedera di perutnya. Yeah, anggap itu namanya cedera karena rasanya tidak jauh beda.

“Ternyata kau memang belum membaik,” cibir Ki Bum halus, dibarengi seringai yang seketika membuat Soo Rin keki. “Sepertinya kau tidak bisa seenaknya keluar dari sini, Park Soo Rin.”

“Apa?” Soo Rin menganga. “Apa maksudmu?”

Bukannya menjawab, Ki Bum hanya menatap penuh arti gadis itu. Hingga kemudian melihat adanya raut terkesiap bersamaan menegangnya tubuh dalam jeratannya sebelum suara tercekat itu terdengar.

“A-apa yang … kaulakukan?” napas Soo Rin berubah pendek-pendek. Merasakan ada yang menyelinap masuk ke balik blouse lengan panjangnya, meraba sepanjang pinggang belakangnya, sedangkan tangan-tangannya yang sedari tadi bersandang di dada pria itu mulai mengepal penuh gemetar.

“Masih memakai perban, eh?” seolah tidak melakukan hal berarti, Ki Bum melebarkan senyumnya begitu merasakan tangan besarnya ternyata meraba kasa yang melilit di balik blouse Soo Rin. Pada nyatanya dia memang tahu bahwa Park Soo Rin masih mengenakannya, jika tidak, dia tidak mungkin melakukan hal sejauh ini dan melampiaskan kebrengsekannya pada gadis yang mulai kelihatan was-was ini.

“J-jangan…” Soo Rin menggeleng pelan, mencoba memeringati dengan hunusan tajamnya yang sepertinya tidak mempan. “Jangan menyentuhku…” sayangnya gertakannya bagai tikus mencicit meminta ampun.

Hingga membuat Kim Ki Bum terkekeh berat. “Kenapa? Bukankah aku sudah pernah melakukannya? Saat memberikan pertolongan pertama padamu kala itu.”

Sialan! Seharusnya sejak awal Soo Rin tidak pernah memercayai pria hidung belang ini! Sekarang apa? Pria itu malah memanfaatkan perkara itu sebagai alibi untuk bisa melakukan ini!

“Aku hanya sebatas melihat bahwa kau memiliki sesuatu yang menggairahkan di balik pakaian kebesaranmu ini,” Ki Bum berbisik rendah di dekat telinga gadis yang sudah merona padam, menggodanya dengan gerakan sensual kala ia kembali berkata, “Dan aku ingin mencoba bagaimana rasanya.”

Jantung Soo Rin tak tertolong lagi. Jeratan yang semakin mengikat pergerakannya, segala kepiawaian seorang Kim Ki Bum yang berhasil membuat syaraf-syaraf di tubuhnya bagai mati mendadak, melumpuhkan segala kemampuan yang ada bahkan untuk sekadar menghirup udara kebebasan.

Dan Soo Rin semakin tidak bisa bernapas ketika tangan besar itu berhasil menemukan ujung perbannya, menariknya dengan mulus hingga lilitan itu mulai melepas diri dari tubuhnya.

Mengaktifkan alarm di dalam otaknya yang sudah tersendat, bahwa ia dalam bahaya sekarang.

.

.

.

.


dan cukup sampai di situ dulu yak 😳😳 wkwkwk

da serius ini akunya udah ketar-ketir, butuh napas sejenak… bingung juga habis itu mau diapain gyahahaha

kira-kira maunya gimana? pelan-pelan atau langsung serang (?!) //astaga //liarsekaliini //gulingguling 😂😂😣😣

lupakan aja. nunggu lanjutannya aja ya.. btw maafkan aku baru bisa update sekarang.. semoga yg ini lumayan bisa sembuhin rasa kangen //ga 🙏🙏🙏

salam sayang (?)

BLACKPINK's Lisa as Lisa
BLACKPINK’s Lisa as Lisa
wp-1477162869934.jpeg
2NE1’s Sandara Park as Sandara
wp-1477162804325.jpeg
9MUSES’ Sojin as Park Soo Jin
wp-1477162833949.jpeg
RAINBOW’s Jaekyung as Jae
wp-1477162968654.png
SEVENTEEN’s Joshua as Hong Ji Soo

sayang semuaa 😳😙😚

see u next part!

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

38 thoughts on “WHATTA MAN – How Are You?

  1. JOSHUA NYA UDAH GANTI WARNA RAMBUT JADI NANTI MINTA KE AKU AJA YA KAK 😂😂😂😂😂
    I love Jisoo so much .. cuma di ff kaka aja udah meleleh apalagi liat aslinya .. yawlah gakuat dedeq mah 😂😂😂

    Ki Bum mah nyari kesempatan dalam kesempitan .. pinter bener deh si om hha .. Soo Rin nya masih takut yaahh sama Ki Bum .. aahh ntr juga sayang hha ..

    Itu trio bebek minta dicium teplon kayanya hmmm .. gemes dedeq tuhh ..

    1. tapi aku juga suka kok sama rambut yg itu huhuhu 😣😣😣 makanya fansnya banyak di kampus gyehehehe

      agak gimana gitu ya kimkibum disebut om-om wkwkwk 😆😆😆😆

  2. aaaa…udah deg2an eh selesai….
    ayo sist dlnjut lg…
    udah than nafas eg…haduh…
    jntung q olah raga 😁😁😁
    next sist 😀

  3. arghhhh… ini bikin aku gilaa kaaaak 😣😣 ughh berhenti ditengah” dan bikin penasaran, huhuhu
    eyy sepertinya bakat bikin penasaran mu semakin jadi yaaa. kekeke

    oh iya kalo menurutku sih pelan” aja dulu nnti di akhir baru diserang. bhaaak abaikan fantasi liat ini wkwkwk

    semangat kaaak 😚😳😄

    1. ga juga kok, emang seneng aja dicut di situ :oops::oops::oops: hahahaha sebenernya masih bingung mau diapain habis itu jadi yah sampe situ dulu aja lah yaa 😂😂
      gapapa, aku juga punya kok imajinasi liar (?) 😆😆😆
      maaciww yaaa buat semangatnyaa 😙😙

  4. Soorin dalam bahaya tuh hhhh tp tenang aja kibum gk bakal ngapa”in kok q yakinkibumie tdk sebejat itu melampiaskan hasrat’a pada gadis yg sedang terluka 😀

  5. Eonni yaampun, berhasil lagi buat jempalitan emosi(?) perasaan (?) keren banget naaah \(^^)/ mau dilanjutkan kayak gimanapun, tetep sukaaa 🙂 oiya eonni, salam kenal. 🙂

    1. aaaaaakk~ 😆😆 akunya juga jumpalitan kok tenang aja wks~ makasih banyak sudah membaca cerita gajelas ini huhuhu 😣😣
      salam kenal juga Agustin~ semoga betah di sinii :oops:😄

  6. ku rasa ki bum emang bener2 brengsek disini. liat aja dia main raba2 aja. dia itu suka banget goda soo rin. jangan bilang kakaknya soo rin tau ki bum itu seperti apa. bisa gawat dong ya.

  7. Itu trio wekwek blm kpok jga ya…
    Minta di demo x ya kkkk

    sojin jangan”knal kibum lgi..?

    Itu kibum mau ngapain..?
    Jangan main serang saja ya dosen kim
    pelan ” saja jangan terburu-buru sorin tidak akan kabur kok kkkk

    cusss akhh penasaran tuhh kibum mau ngapain,,,,,

    kita nunggu nextnya…!
    Yg berimajinasi ttp semangat
    chayo chayooooooo…

    1. kalo udh kapok ntar ga seru ceritanya (?) 😆😆
      pelan-pelan tapi pasti ya… wkwk ntar kakaknya marah lagi //ehh

      oke hwaiting! makasih udah mau baca yaa :oops::oops::oops:

  8. Kyaaaaa Kibum rindu Soo rin tpi Soonya kyak gk nih
    ya ampun mbum aku tambah cinta sma kamu tambah berani aja bkin Soo rin mati kutu
    aku rasa gk mungkin Soo rin menolak pesona Kibum

  9. Kyaaaa… bikin dag dig dug.
    Kibum mau ngapain Soorin itu?
    jangan nyari kesempatan dalam kesempitan yaaa… 😁😆

    Ya ampun Chae Yeon cs belum kapok juga ternyata.

    Ditunggu kelanjutannya..
    Semangat…….

  10. Ki bum mau ngapain Soo rin tuh…dicut nya pss bgt, bikin penasaran sama aos yg akan dilakuin bang Ki bum…
    Ditunggu lanjutannya Siska ❤

  11. kim ki bum juga membuatku menahan napasss, kesian soo rin wkwk

    ditunggu kelanjutannya, ohiya kak mau nanya yg ff sunday itu ntar dibuka kah protecnya atau bagimana?
    penasarann akunyaaa, atau sebenernya itu bukan ff

    terimakasih :))

  12. Ya ampun Author, aku sampe tahan napas. Ehh ternyata malah continue. Aku mampir hari ini, dan udah ada kelanjutannya, tapi di protect. Dan ga ada clue nya. Semoga besok udah ga di protect.

  13. aduuuh eon jangn bkin aq mti pnsaran donk,,,ceritanya greget bnget ampe cekikikan sndri,,,hehehe
    ff”a mkin asyik ajh deh, tpi kak ff yg d protec cra dpet pwnya gmna ea??? mkcih cemangaaat clalu ea

  14. engga boleh :((
    soorin engga boleh diapa-apainnn plsss x((
    ya ampun aku tuh suka bingung sama kimkibum, ya untung dia ganteng(?)
    kalo aku sendiri ngebayangin jadi soorin; disukai sama dosen yang jauh lebih tua, aku bakal takut, merinding, atau bahkan ngedrop matkul nya itu dosen/ok yang ini agak lebay/ tapitapitapii dia cakep dan ga kelihatan tuwirnya x(( tapi ya jangan megang2 soorin gitu dooong x(( Duh kah gajelas kan akunyaaa udah bye!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s