Posted in Adult, Campus Life, Fiction, Friendship, KiSoo FF "WHATTA MAN", PG-17, Romance

WHATTA MAN – My Zone

wp-1475773611099.jpeg

Slight!Adult, Campus Life, Friendship, Romance

PG-17

before :: Wild Class | Attention | Bad Man | Just Started | Warn You

He has something like a magic which so difficult to break it.

H A P P Y    R E A D I N G

.


ELVABARI©2016

.

.

SOO RIN hanya bisa pasrah di dalam gendongan pria yang sudah menyelamatkannya. Dia lebih memilih larut dalam kondisi tubuhnya yang digandrungi rasa sakit ketimbang protes kala Kim Ki Bum membawanya masuk ke dalam sebuah kamar di lantai berikutnya. Merebahkannya di atas ranjang sebelum kemudian pria itu mengutak-atik ponsel pintarnya.

Jae, it’s emergency. Come to my room, right now!” (Jae, ini darurat. Ke ruanganku, sekarang!)

Soo Rin hanya bisa mendengar suara berat pria itu amat serius. Entah siapa yang tengah dihubungi tapi yang jelas Soo Rin berharap dia memang orang penting untuk kondisinya kini.

“Lihat akibat dari tidak mendengarkanku. Sudah kapok?”

Untuk yang ini, Soo Rin mengerti ucapan Kim Ki Bum ditujukan padanya. Tapi dia memilih untuk tidak menjawab dalam bentuk apapun. Hanya meringis kesakitan hingga kemudian merasakan ada yang menyentuh tangan-tangannya yang sedari tadi memegangi perutnya.

“Di mana rasa sakitnya?”

“A-aak! Sakit…”

Tangan Ki Bum langsung mengudara begitu seruan lemah itu terdengar. Dia hanya menggenggam sebentar tetapi sepertinya tekanan halusnya berefek cukup serius. Dicobanya lagi untuk menyentuh tangan-tangan Soo Rin, menyingkirkannya dan hampir menyingkap pakaian yang dikenakan gadis itu ketika sang empu langsung mencekal pergerakannya.

“K-kau mau apa?”

“Memerkosamu.”

“A-apa?!”

Ki Bum menggeram kesal. “Kaupikir aku sebrengsek itu dengan memanfaatkan kondisimu yang sedang mengenaskan ini?”

“J-jangan!” Soo Rin menahan ujung pakaiannya ketika pria itu hendak melakukannya lagi. “Kumohon jangan…”

“Kau kesakitan, Park Soo Rin. Aku harus melihat separah apa luka di balik pakaianmu.” Ki Bum mulai mengerang tidak sabar, belum lagi efek dari suara memohon gadis itu barusan membuatnya hampir ingin menyerah saja jika ia memang memilih untuk melihat gadis itu kesakitan tanpa pertolongan apapun. “Kau lebih memilih terus kesakitan dibanding percaya padaku yang ingin menolongmu?”

Diam sejenak. Hanya deru napas Soo Rin yang memberat dan terengah disertai sorot mata sendunya. Apa dia harus percaya pada pria ini? Tapi mengingat dirinya yang sudah ditolong oleh pria ini, tidak mungkin rasanya ada niatan main-main di saat dia sendiri melihat adanya sorot kekhawatiran di balik tatapan tajamnya.

Meski gemetar, tangan-tangan Soo Rin akhirnya menyingkir seolah memberi izin. Langsung dimanfaatkan Ki Bum untuk menyingkap pakaian gadis itu perlahan hingga batas bawah dada. Pria itu tampak menahan napas melihat kulit mulus itu kini dihiasi memar yang langsung bisa ditebak olehnya bahwa itu luka dalam bagian rusuk bawah. Sejenak ia melirik gadis yang sudah memalingkan wajahnya, tertangkap adanya rona berarti di wajah yang sudah terlepas dari benda yang selalu membingkai matanya. Makanya Ki Bum kembali beralih pada memar yang kini coba ia sentuh.

“A-akh!”

Padahal Ki Bum hanya sedikit menekan, tetapi reaksi yang dikeluarkan Soo Rin cukup besar. Gadis itu mulai terisak pelan sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Itu sudah cukup menarik kesimpulan bahwa luka yang didapat memang amat serius.

Bloody Hell!” desisan tajam itu keluar begitu saja dari mulut Kim Ki Bum. Ia menurunkan pakaian Soo Rin sebelum beralih pada nakas, membuka laci terbawah yang ternyata ada handuk untuk diambilnya lalu ia beranjak dari duduk.

Diiringi rintihan pelan dari si gadis, Ki Bum membuka kulkas mini pada lemari televisi plasma yang berhadapan langsung dengan ranjang, mengambil es batu untuk dibungkusnya dengan handuk di tangan. Lalu kembali mendekati Soo Rin dan menyingkap pakaian gadis itu sekali lagi.

“Ini akan sakit, kau harus menahannya.”

Ketika Ki Bum mengompres memar tersebut dengan es, terdengar erangan kesakitan Soo Rin, tubuhnya menggeliat seperti rasa sakit itu menjalar hingga ke seluruh tubuhnya. Tangan-tangannya tanpa sadar mencari pegangan pada satu tangan Ki Bum yang terus menahan kompresan di bagian memar dengan gemetar. Tapi mau bagaimana lagi? Hanya ini yang bisa menjadi pertolongan pertama dibanding tidak ditangani sama sekali.

Wajahnya sudah dibasahi keringat dingin. Mata yang terpejam itu tampak basah pada deretan bulu lentiknya yang menandakan betapa kerasnya si empu agar tidak menangis. Belum lagi bibir yang sedari tadi digigitnya itu terdapat luka kecil di bagian sudut.

Rahang Ki Bum mengeras seketika. Menahan sesuatu yang bergolak di dalam dirinya sehingga ia harus meredamnya setengah mati dengan geraman.

Shit…

Soo Rin tidak bisa melakukan apapun ketika merasakan sesuatu yang lembut mendarat di keningnya. Mata beratnya terbuka sayu dan langsung bersirobok dengan sorot tak terduga milik pria itu. Seperti ada sengatan halus mengalir ke sekujur tubuhnya. Otaknya tidak mampu berpikir jernih sehingga terlambat mencerna bahwa pria ini … tengah mengusap kepalanya penuh rasa seolah tengah menyalurkan ketenangan melalui sentuhan itu.

Pegangannya pada tangan besar itu melonggar. Sadar tidak sadar tubuhnya berangsur melemas. Dia tidak mengerti reaksi macam apa ini sehingga gejolak dalam tubuhnya seperti melunak hanya karena sentuhan kecil dari Kim Ki Bum.

“Kau akan baik-baik saja. Bertahanlah sebentar lagi.”

Park Soo Rin, ada apa denganmu? Kenapa diam saja? Mungkinkah ini efek samping dari apa yang tengah menimpanya sehingga ia justru seperti mengharapkan hal ini? Ayolah, Kim Ki Bum adalah pria berbahaya yang seharusnya dia hindari. Tetapi kenapa dia memberikan kepercayaannya pada pria itu dan membiarkannya untuk menyentuh dirinya seperti ini?

Terdengar pintu kamar ini terbuka yang langsung menarik perhatian mereka. Soo Rin tidak bisa melihat dengan jelas, tetapi bisa ditebak bahwa bayangan yang kini sudah melangkah masuk serta menutup kembali pintu kamar ini adalah seorang wanita.

So this is your emergency, Kim?” wanita itu melepas tas punggungnya sembari mendekat.

Just treat her quickly. She’s in pain right now.” (Cukup obati dia secepatnya. Dia kesakitan sekarang.)

Alright, step aside.” (Baiklah, menyingkir.)

Wanita itu membuka tasnya yang ternyata merupakan tas khusus. Berbagai peralatan medis ada di dalamnya dan tertata rapi. Ia letakkan di pinggir ranjang tepat di dekat kaki Soo Rin setelah Ki Bum menyingkir. Wanita itu menyingkirkan handuk berisi es batu yang mulai mencair itu dari atas perut Soo Rin demi memeriksa.

“Kim, ini sepertinya agak serius,” gumam wanita itu begitu memdengar erangan Soo Rin ketika ia menekannya sedikit.

“Bahkan sudah sangat serius.” Ki Bum bersedekap. “Kau bisa mengatasinya, bukan?”

Well, let see…” wanita itu mengambil beberapa obat juga peralatan medis, wajah cantiknya begitu serius kala mulai mengobati memar milik Soo Rin. “Sepertinya ini karena benturan keras saat dia terjatuh atau semacamnya.”

Yea. Dia baru saja disiksa.”

Really?

Ki Bum hanya menghembuskan napas kasar. “Sepertinya aku tidak bisa diam saja,” gumamnya sembari melangkah menuju pintu kamar ini. “Jaga dia selama aku pergi, Jae.”

“Serahkan saja padaku.”

Setelah mendengar itu, Ki Bum keluar dari sana.

****

Suasana lantai dasar yang masih ramai tidak menyurutkan kekhawatiran Lisa dan Sandara. Mereka berusaha mencari keberadaan Soo Rin yang tak kunjung muncul. Sangat aneh rasanya bila Park Soo Rin yang terkenal tetap setia kawan meski sedang kesal dengan mereka akan hilang kontak seperi ini. Mereka masih yakin bahwa teman yang satu itu bersembunyi di suatu tempat, atau memang disembunyikan.

Hingga kemudian dua gadis itu melihat Jung Chae Yeon yang sudah bersama teman-temannya, Lisa adalah orang pertama yang langsung mengahampiri mereka.

Ya, Jung Chae Yeon, di mana Soo Rin?”

Baik Chae Yeon maupun kedua temannya itu saling pandang. Ada raut tak biasa yang membuat Lisa mulai menaruh curiga.

“Aku tidak tahu.”

“Jangan berpura-pura! Aku mendengarnya bahwa kau mengajak Soo Rin ke suatu tempat lalu ke mana dia? Kenapa dia tidak kembali bersamamu?”

“Mana aku tahu?! Mungkin saja dia sedang ke toilet atau bahkan sudah pulang.”

Ya, Jung Chae Yeon!” Lisa yang tabiatnya gadis tak sabaran, kini menerjang Chae Yeon bahkan berani menarik gaun yang dikenakan gadis berambut indah itu. “Kau apakan Soo Rin?! Di mana kau menyembunyikannya?! Jawab!!”

“Aku tidak tahu! Lepaskan aku!!”

Ya! Lepaskan Chae Yeon?!”

“Lisa, berhenti!”

“Kau harus bertanggung jawab karena kau yang membawa Soo Rin!!”

“Aku benar-benar tidak tahu!!”

“Jangan berbohong!!”

Keributan itu berhasil menarik perhatian pengunjung. Bagaimana Lisa yang terus menyudutkan si tokoh utama dalam acara ini dengan Sandara juga kedua teman Chae Yeon yang berusaha melerai mereka.

“Seharusnya aku tahu sejak awal kalau kau memiliki niat buruk terhadap Soo Rin! Kau pasti menyiksa temanku!!”

“Aaakk! Sakiiiitt!!”

Lisa bahkan sudah menjambak rambut Chae Yeon yang tergerai rapi tanpa ampun. Dia benar-benar marah karena melihat betapa menipunya Jung Chae Yeon. Bagaimana mungkin dia membawa Park Soo Rin tetapi setelah itu tidak tahu ke mana? Bahkan tidak mau menjelaskan alasannya yang makin membuat kecurigaan Lisa menjadi-jadi.

“A-aku meninggalkannya di sana!”

Barulah Lisa berhenti menyiksa Chae Yeon. Jawaban gadis cantik itu justru membuat Do Yeon juga Na Young tampak panik dan mencoba menghentikan Chae Yeon.

“A-aku … bersama teman-temanku … baru saja…”

“Chae Yeon-ah!”

“Menyiksa Park Soo Rin? Begitu?!” gertak Lisa. Tidak mendapat jawaban lanjut, gadis itu kembali naik pitam. “Dasar gadis sialan!!”

Chae Yeon memekik lagi ketika Lisa kembali menjambak rambutnya yang sudah berantakan. Teman-temannya pun tidak sanggup menyelamatkan Chae Yeon melihat betapa beringasnya Lisa karena amarah.

Melihat adanya keramaian tak biasa, Ji Soo hendak menghampiri ketika ada tepukan di bahunya hingga spontan ia berbalik. Lalu terkejut begitu melihat siapa yang menyapanya barusan.

H-Hyung…

Stupid Josh!” pria itu menarik bagian kerah pakaian Ji Soo. Mata tajamnya menatap kesal pemuda itu. “How could you let her go with that girl?!”

Hyung, I didn’t—”

Follow me!

Ji Soo hampir terjungkal kala cekalan di bagian kerahnya terlepas dalam hentakan. Melihat pria itu kini menaiki undak-undakan tangga, buru-buru Ji Soo mengekori pria itu tanpa memedulikan lagi kericuhan di lantai tersebut.

.

.

.

Ji Soo harus terperangah melihat ruangan ini begitu berantakan seperti baru saja ada kerusuhan. Tidak habis pikir apalagi setelah mendengar penjelasan dari pria yang sudah mengantarnya kemari.

“Park Soo Rin ditawan di sini?”

“Ya. Dan kau tahu siapa pelakunya.”

Hyung, aku sungguh tidak tahu bahwa Jung Chae Yeon adalah pelakunya.”

Ki Bum bersandar pada pintu yang sudah rusak pada bagian kuncinya, bersedekap disertai sorot mata dingin yang menusuk langsung pada Ji Soo. “Gadis-gadis itu sudah mengincarnya belakangan ini hanya karena dia terlalu dekat denganmu. Kau tidak tahu itu?”

Ji Soo tidak mengangguk maupun menggelengkan kepala. Melainkan, “Bagaimana Hyung bisa tahu?”

I’m watching her all the time.

Why did you do that?

“Jika tidak kulakukan akan sama saja denganmu yang tidak peka dengan kondisi Park Soo Rin yang sedang terancam, Joshua.”

Ji Soo hanya bisa mendengus mendengar pria itu menyebut nama lainnya, sebuah panggilan akrab yang memang hanya pria itu yang sering melontarkannya.

“Kau cukup katakan pada teman-temannya bahwa Park Soo Rin selamat. Mereka bisa menjenguknya di rumah besok jika perlu. Untuk saat ini, aku butuh bantuanmu untuk mengurus kerusakan barang-barang Park Soo Rin sementara aku mengurus gadis itu sendiri.” Ki Bum menyerahkan ponsel juga kacamata minus yang sudah retak itu kepada Ji Soo. “Cukup beri tahu aku jumlah tagihannya dan akan kukirim melalui rekeningmu nanti.”

Ji Soo menerima dua barang tersebut. Menatap Ki Bum kembali dengan raut seriusnya bercampur sangsi. “But, Hyung, are you serious with her? You know that she’s so younger than you.” (Apa kau serius dengannya? Kau tahu bahwa dia sangat lebih muda darimu.)

So what?” Ki Bum mengangkat sebelah alisnya. “Kau keberatan karena kau menyukainya juga?”

Gosh! Kenapa harus memertanyakan itu?” dumal Ji Soo sambil memalingkan wajah. “Aku akan menjenguknya besok. Pastikan kau merawatnya dengan baik, Hyung.”

Tanpa menunggu jawaban, Ji Soo segera berbalik meninggalkan Ki Bum yang menatap kepergiannya. Mereka baru saja terpisah beberapa langkah ketika derap langkah kaki yang begitu cepat menandakan adanya orang lain datang. Benar saja, dari arah tangga, muncul Lisa bersama Sandara yang berlari-lari di sepanjang lorong ini.

“Oh, Hong Ji Soo! Aku sudah mendengarnya bahwa Soo Rin dibawa kemari oleh komplotan Chae Yeon!”

“Park Soo Rin tidak ada di sini.”

“Eh? Apa maksudmu?!”

“Dia sudah diselamatkan. Tapi kalian tenang saja, kenalanku sudah merawatnya.”

“K-kau serius? Apa Soo Rin terluka parah?”

“Di mana dia sekarang?”

Ji Soo tersenyum mencoba menenangkan keduanya. “Tidak ada yang serius. Hanya saja, Park Soo Rin membutuhkan ketenangan untuk saat ini. Jadi kita bisa menjenguknya besok di rumahnya.”

“Kau tidak berbohong, ‘kan, Ji Soo?” Lisa hampir menangis mendengar kabar ini. Dia yang sudah kalap sejak pengakuan Jung Chae Yeon semakin cemas akan kondisi temannya itu.

“Aku juga temannya, Lisa. Aku tidak mungkin main-main.” Ji Soo menengok ke belakang sejenak, menghela napas panjang sebelum kembali menatap kedua teman Park Soo Rin. “We should go now. I’ll take you home together.” (Kita pergi sekarang. Aku akan mengantar kalian pulang.)

Sedangkan Ki Bum hanya mengawasi percakapan mereka dari balik dinding lokasi kejadian. Merasa cukup akan tindakan sepupunya yang sudah membuat kedua gadis itu percaya.

****

“Tidak ada yang fatal dengan rusukmu. Memarnya akan menghilang dalam beberapa hari. Tapi aku sarankan kau beristirahat penuh besok.”

Soo Rin sudah ditangani oleh wanita bernama Jae itu. Saat ini ia dipasangkan infus di lipatan tangannya. Wanita itu bilang kondisi fisiknya melemah akibat dari insiden yang menimpanya. Dia memang harus beristirahat sejenak di sini.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Soo Rin merasa mengenal postur tubuh juga lekuk wajah wanita itu meski dia tidak melihat dengan jelas bagaimana rupanya. Bahkan suaranya yang merdu itu terdengar tidaklah asing.

Jae tersenyum mendengarnya. “Well, kita pernah bertemu sekali saat di toilet. Jika kau tidak lupa.”

Mata Soo Rin mengerjap terperangah. Bahkan wanita itu masih mengingat dirinya. “K-kau … wanita … itu?”

“Wanita malam? Yeah, that’s me.

“T-tapi, kau … ini…”

“Aku memiliki dua profesi. Siang hari aku menjadi paramedis lalu malam harinya menjadi pemangsa hidung belang.”

Soo Rin merasa tidak enak hati di saat wanita itu justru terkekeh pelan sembari membereskan peralatan medisnya. Bukan bermaksud untuk meragukan, hanya, Soo Rin tidak percaya saja bahwa wanita ini ternyata seorang pekerja di dunia medis. Oke, sepertinya tidak ada bedanya dengan istilah meragukan itu.

“Tidak perlu merasa bersalah, Dear. Aku sudah biasa dengan reaksi seperti itu. Sulit dipercaya memang, paramedis yang merupakan penolong pertama banyak orang ternyata juga bekerja layaknya jalang. Itu sudah tidak asing lagi bagiku.”

“A-aku tidak bermaksud. Maafkan aku.”

Jae tersenyum mengerti. “Kau beruntung karena diselamatkan oleh Kim Ki Bum. Aku memang tidak tahu kronologis yang sebenarnya, tapi sepertinya kau memang harus berterima kasih padanya setelah ini.”

Ya. Itu benar. Hanya saja…

“Apa kau mengenal dekat pria itu?”

“Kim Ki Bum? Well, bisa dikatakan begitu.”

“Kau mengenalnya di sini?”

Yea. Dia pelanggan tetap di tempat ini. Makanya kami sering bertemu di sini juga.”

Soo Rin mendengus seraya wajah. “Jadi dia sering bermain-main di sini?”

Mendengar dumalan tersebut, Jae terkekeh pelan. “Jangan salah paham. Kim Ki Bum memang menjadi incaran banyak wanita di sini, tetapi dia lebih suka menyendiri. Sebenarnya dulu kita tidak mengenal dekat, tetapi sejak aku menjadi paramedis untuk adiknya yang mau melahirkan, dia menjadi suka memintaku untuk menemaninya di sini.”

“Oh, itu berarti kalian memiliki hubungan spesial, bukan?”

No. We are just friends.” Jae tersenyum simpul sambil melirik gadis itu. “Yah, meski kita sering berciuman, tapi aku tahu benar bahwa dia tidak memiliki rasa apapun begitu juga denganku.”

“Berciuman? Memangnya ada teman semacam itu?”

Jae tergelak melihat raut tercengang Soo Rin yang begitu polos. Tahu benar bahwa gadis itu pasti terkaget-kaget dengan klarifikasinya barusan.

“Aku wanita malam yang sudah terbiasa akan hal itu, Dear. Begitu juga dengan Kim Ki Bum yang hanya mencari kesenangan di kehidupannya yang masih sendiri. Kau pasti tidak mengerti karena usiamu yang masih muda dan juga kehidupanmu yang terarah. Sulit untuk bisa kaupahami.” Jae tersenyum lembut. “Yah, tapi sepertinya setelah ini aku harus berhati-hati untuk tidak menciumnya lagi seperti dulu.”

“Kenapa?”

“Karena…” Jae mengamati raut wajah Soo Rin yang tampak penasaran. Keningnya yang masih agak berkeringat tampak mengerut, lalu beralih pada bibirnya yang terdapat luka di bagian sudut hingga menggerakkan Jae untuk mengolesi salep yang memang sedari tadi dipegangnya, perlahan-lahan karena tahu bahwa gadis itu akan kesakitan. “Dia mulai tertarik dengan seorang gadis. Sayangnya gadis itu masih begitu muda.”

“A-apa?” Soo Rin yang tadinya meringis perih, sudah mengabaikannya dan berganti terkejut hingga mata minusnya membola. Kenapa rasanya wanita itu sedang … menuduh dirinya?

“Awalnya aku tidak percaya, bahkan aku sampai memukulnya karena mengira dia sedang mabuk atau bahkan sudah gila, tapi sepertinya dia tidak main-main kali ini.” Jae menjauhkan tangannya begitu menyelesaikan tugas terakhir, sorot matanya berubah serius meski masih diselingi senyum lembutnya. “Dia mengincarmu, Park Soo Rin.”

Soo Rin hampir tidak bernapas. Jantungnya seperti berhenti berdetak untuk sekian sekon sebelum kemudian berlari kencang. Kalimat terakhir Jae benar-benar mengejutkannya. Terkejut antara ucapan bagai peringatan tersebut, juga bagaimana Jae menyebut nama lengkapnya seolah dia memang sudah tahu sejak awal.

“T-tidak mungkin … dia pasti hanya main-main.”

Jae melihat adanya aura kecemasan dalam diri gadis itu. Itulah mengapa Jae menggenggam tangan si gadis yang terasa kaku. “Memang terdengar main-main, tapi aku sebagai temannya cukup tahu seperti apa dirinya. Selama ini dia tidak pernah menargetkan seorang wanita dan membiarkan mereka yang datang padanya lebih dulu, tapi tidak ada satu pun yang menarik perhatiannya. Aku sendiri terkejut ketika dia mengatakan bahwa kau adalah targetnya.”

“Dia hanya ingin bermain-main!” bantah Soo Rin disertai gelengan keras, memalingkan wajah seraya mendesis pelan, “Dia tidak ada bedanya dengan pria hidung belang di luar sana. Itulah mengapa aku langsung menolaknya.”

I know you feel upset, but when you realize, you can’t run away from him after that, Park Soo Rin.” (Aku tahu kau kebingungan, tapi ketika kau menyadarinya, kau tidak bisa lari darinya setelah itu.) Jae melebarkan senyumnya kala melihat adanya raut terperangah di wajah pucat itu. “Tapi kau jangan khawatir. Jika dia memang mempermainkanmu, kau bisa mengadu padaku dan akan kubantu untuk menghabisinya. Aku akan berada di pihakmu.”

Soo Rin justru seperti dibuat parno oleh perangai yang dibongkar oleh Jae. Kenapa wanita ini rela mengatakan semuanya pada Soo Rin? Apa dia tidak memiliki kekhawatiran semacam dampak yang sudah didapatkannya ini? Berada di pihaknya? Yang ada dia seperti membantu Kim Ki Bum untuk meneror Soo Rin!

“Aku sengaja mengatakannya padamu mengenai hal ini karena aku menyadarinya.” Jae kembali membereskan tasnya, mulai menyingkirkannya ke dekat kakinya di kala ia masih enggan untuk beranjak demi melanjutkan, “Entah apa yang sudah kaulakukan, sadar tidak sadar kau sudah melangkah masuk ke dalam zona kekuasaan Kim Ki Bum dan kau mulai menjauh dari zona amanmu, Park Soo Rin.” Jae membungkukkan tubuhnya hingga wajah mereka dekat.

Membuat Soo Rin mampu melihat betapa rupawannya lekuk wajah Jae yang disertai senyum penuh arti. Tanpa sadar ia menelan saliva menunggu wanita itu membuka mulut lagi. Yang sepertinya akan membuatnya menyesal.

“Dia memiliki daya tarik yang mampu membuatmu akan terus kembali padanya. Something like a magic which so difficult to break it.” (Sesuatu seperti sihir yang sangat sulit untuk dipatahkan.)

Lalu Soo Rin melihat Jae yang mengedipkan sebelah mata padanya sebelum bergerak mundur di mana secara bersamaan pintu kamar ini terbuka. Menampakkan sosok yang sedari tadi menjadi topik pembicaraan ternyata sudah kembali dan langsung disambut oleh berdirinya wanita itu dari sisi Soo Rin.

“Dia harus menuntaskan satu kantungnya terlebih dahulu sebelum pulang. Energinya hampir terkuras habis. Jadi pastikan bahwa dia tidak beranjak sebelum selesai.” Jae menjelaskan sembari melirik Soo Rin yang masih terbaring di ranjang.

“Lalu bagaimana dengan memar di perutnya?”

“Tidak fatal. Dia bisa bernapas lega karena itu akan sembuh dalam hitungan hari.”

Ki Bum mengangguk paham. Dengan begini dia bisa bernapas lega pula.

“Tugasku sudah selesai. Aku tinggal menunggu imbalanmu nanti. Dan,” Jae mendekati pria itu, menepuk sebelah pundaknya lalu berbisik, “bawa dia pulang dengan selamat, Kim. Aku baru saja bernegosiasi dengannya jadi jangan sampai terjadi sesuatu pada gadis kecilku.”

“Jadi aku melewatkan sesuatu tadi?”

Jae hanya tersenyum kalem seraya mengedipkan sebelah mata, barulah melenggang pergi dari sana meninggalkan mereka berdua.

Sedangkan Soo Rin masih saja terpaku dengan segala ucapan wanita itu hingga semua itu berputar-putar di kepalanya. Keningnya mengerut terlampau jelas tanda ia tengah berpikir keras. Ada satu hal yang membuatnya tidak habis pikir, mengenai penjelasan terakhir wanita bernama Jae itu, kenapa rasanya tidak asing lagi?

Benar, Soo Rin pernah mendengar perihal yang sama dari teman-temannya. Di mana dikatakan bahwa pria itu layaknya penyihir yang memiliki kekuatan magis. Heol! Bagaimana bisa dua kubu ini mengatakan hal yang sama dalam kurun waktu hitungan hari saja?!

Memangnya seajaib apa Kim Ki Bum ini sampai-sampai sudah ada dua sumber yang mengatakan perumpamaan sama padanya?

“Jadi, apa yang sudah kalian sepakati selama aku pergi?” pertanyaan Ki Bum memecah keheningan sesaat di antara mereka. Dia langsung melihat adanya raut enggan di wajah gadis itu.

“Bukan urusanmu.” Soo Rin menjawab datar. Ia memalingkan wajah dan berusaha bangkit dari tidurnya. Ringisan itu keluar begitu saja dari mulutnya, perban di perutnya sedikit menghalau pergerakannya dan membuatnya ngilu. Untungnya ada yang segera membantunya dan Soo Rin terpaksa merasa berhutang budi lagi pada pria itu.

“Setelah apa yang kulakukan, kau masih saja bertingkah seperti ini.” Ki Bum mencibir halus. Berhasil membuat raut wajah di hadapannya mengumbar kesal.

“Aku tidak butuh bantuanmu. Jadi maaf jika ini membuatmu merasa sia-sia.” Soo Rin menatap tajam pria itu sebelum kembali menunduk. Ia hampir saja mencabut infus di lengannya jika Ki Bum tidak menghentikannya.

“Kau tidak mendengar pesan temanku? Kau harus menetap di sini sampai infusnya habis.”

“Aku sudah merasa baik jadi tidak perlu menunggu lagi. Aku ingin pulang.”

“Kau benar-benar tidak tahu berterima kasih.”

Jelas saja Soo Rin tersinggung dengan omongan menuding itu. Bibirnya mengerut kaku kala ia menghempas tangan Ki Bum agar ia bisa menjauh. Menyeret tubuhnya mundur meski harus merasa nyeri di perutnya.

“Aku bahkan tidak mengharapkan kedatanganmu. Apa kau benar-benar menguntitku sampai tahu bahwa aku di sini?”

“Aku sudah memeringatimu tapi kau tidak mendengarkannya. Apa sekarang kau percaya bahwa aku tidak main-main?”

“Baik, anggap saja kau menguntitku. Lalu bagaimana kau bisa berada di sini padahal Jung Chae Yeon menyewa gedung ini? Meragukan sekali jika kau juga mendapat undangan darinya.”

“Aku pelanggan tetap di sini.”

“Itu tidak bisa dijadikan alasan. Mau kau jadi pelanggan atau tidak jika ini sedang disewa orang lain tetap saja tidak bisa masuk.”

“Aku pelanggan kelas VVIP. Jadi aku bebas keluar-masuk kapanpun aku mau. Tidak ada yang bisa melarangku.”

Soo Rin berdecih. “Bangga sekali menjadi pelanggan di tempat seperti ini? Oh, benar … untuk pria hidung belang jelas saja suatu kebanggaan karena dia menjadi incaran nomor satu para wanita malam,” dumalnya penuh cibiran.

“Kelihatannya kau kesal sekali mengetahui kenyataan ini, ya … Park Soo Rin?”

“Ya, aku kesal karena memiliki seorang dosen hidung belang seperti dirimu.”

“Jadi apa yang akan kaulakukan? Keluar dari kampus supaya tidak bertemu dengan dosen sepertiku?”

“Sayangnya aku tidak mau menghanguskan beasiswaku hanya demi menghindari satu orang sepertimu.”

“Kalau begitu kau sudah mengambil keputusan yang bagus.”

Soo Rin melihat seringai di bibir Ki Bum. Pria itu lalu bersedekap sambil menatap lurus dirinya.

“Ingat akan kesalahanmu yang menyebabkan kekacauan ini? Itu berawal dari sikap pembangkangmu terhadapku. Jadi, aku sudah memikirkan hukuman apa yang pantas untukmu.”

“Hukuman?” Soo Rin menganga tidak percaya. Apa pria ini tidak waras? “Aku hanya melakukan hal yang kumau. Jadi apa hakmu memberiku hukuman?”

“Anggap saja aku menyelamatkanmu sebagai seorang dosen yang menyelamatkan muridnya. Karena kau tidak mendengarkan dosenmu, sudah selayaknya kau mendapat hukuman, bukan?”

“Itu tidak bisa dijadikan alasan!” Soo Rin mendesis kesal. Mata jernihnya menajam menunjukkan ketidaksukaannya. “Aku tidak mau.”

“Maka tidak ada pilihan lain.” Ki Bum melebarkan seringainya. “Kau tidak lupa dengan kesepakatan awal kita, bukan?”

Oh, sial!

“Kau!” Soo Rin melotot sebal, melihat pria itu tersenyum penuh kemenangan.

“Aku baru menyadari akan satu hal. Seorang dosen yang memiliki kehidupan bebas tidak akan membuatnya dipecat dari profesinya hanya karena terpergok berada di club. Tapi bagaimana dengan seorang mahasiswi berprestasi yang terkenal kutu buku, ternyata sedang berada di tempat semacam itu?” Ki Bum menerawang disertai senyum lebarnya, lalu melirik pada gadis yang sudah menegang di hadapannya, menatap tajam dirinya yang justru terlihat semakin menarik. “Sepertinya pihak kampus akan berpikir dua kali untuk memertahankan beasiswa penuh itu kepada sang mahasiswi. Benar, bukan?”

Soo Rin mengepalkan kedua tangannya. Sorot matanya menunjukkan betapa marahnya dia karena berhasil disudutkan. Pria di hadapannya ini, pria yang mengaku sebagai dosen ini, pria yang juga mengaku tertarik padanya ini, benar-benar!

“Pria menyebalkan!!!” Soo Rin menerjangnya, melayangkan tangannya demi mencekik pria dengan senyum terlampau lebarnya itu yang semakin membuatnya naik pitam. Namun Soo Rin melupakan kondisi tubuhnya yang masih memiliki luka hingga ia kembali kesakitan dan hilanglah keseimbangan tubuhnya.

Entah dia harus beruntung atau tidak karena Kim Ki Bum sigap menangkap tubuh Soo Rin ke dalam lingkaran lengannya, melihat dengan jelas bagaimana raut yang dipenuhi kemarahan itu berubah kesakitan bercampur terkejut akan situasi yang berubah dengan cepatnya. Apalagi tidak sampai di situ saja.

Karena Soo Rin harus merasakan tubuhnya berbalik melayang jatuh ke ranjang, di mana pria itu memutarbalikkan kondisi mereka hingga kini Soo Rin harus terperangah melihat Kim Ki Bum sudah menindihnya. Menguncinya dengan rangkulan di kedua bahunya seolah pria ini memeluknya, sedangkan tangan lainnya bertumpu di sisinya hingga habis sudah teritorinya. Mata jernihnya melebar dengan mulut terbuka kelu, terpana akan dekatnya wajah tegas Kim Ki Bum di atasnya, sampai-sampai ia tidak sadar sudah menahan napas akibat begitu lekatnya tatapan itu menghipnotis dirinya.

“Tidak ada yang bisa kaujadikan kunci untuk menolakku lagi, Park Soo Rin. Kau sudah masuk ke zona di mana aku bisa melakukan apapun yang kumau. Memegang kuncimu tidaklah sulit sejak kau sudah berani ikut campur ke dalam urusanku.”

“Aku tidak pernah ikut campur!” Soo Rin mulai gemetar. Ada perasaan asing yang membuatnya ketar-ketir sendiri, semacam desiran yang amat mengganggu kenyamanan jantungnya hingga itu mulai bergolak di dalam sana. Tangannya dengan kaku mencoba mendorong pria itu namun nihil hasilnya. “Aku justru berusaha untuk menjauh darimu tapi kau terus saja merecoki ketenanganku! Jadi lepaskan aku!”

“Begitu?” memiringkan kepala, Ki Bum bergerak turun yang sukses membuat mulut gadis itu terkatup. Menyenangkan sekali melihat gadis itu terpengaruh hanya dengan menghapus jarak seperti ini. “Kau yang mengancamku, kau yang menuduhku berselingkuh, kau yang menggunjingku, kau yang memergokiku sedang bercumbu, lalu kau yang berani melawanku. Kau tidak ingat dengan itu semua?”

Soo Rin terdiam. Otaknya tanpa dia mau membenarkan tudingan-tudingan pria itu dan ia tidak dapat berkelit.

“Kau salah mengira jika aku akan diam saja, Park Soo Rin. Aku begini bukan sebatas alasan bahwa aku adalah dosenmu dan kau adalah muridku, tapi sikapmu sudah membuatku tidak bisa mengelak bahwa itu menarik perhatianku sebagai seorang pria. Kau yang selalu melawan bahkan menolakku, justru mendorongku untuk terus mendekatimu dengan cara apapun yang aku bisa. Apa kau sadar bahwa kau sudah membuat pria yang kau sebut hidung belang ini justru ingin mendapatkanmu dan memilikimu?”

Soo Rin menggeleng keras. “Tidak. Kau hanya bermain-main dan aku tidak akan termakan oleh segala tipuanmu! Kau pria yang memang memiliki banyak cara untuk bisa menjerat kaum hawa seperti yang kaumau tapi aku tidak akan pernah terpengaruh!”

“Karena kau selalu berkelit bahwa kau tidak akan pernah mau, aku justru semakin tidak bisa mengabaikan bahwa aku benar-benar menginginkanmu, Park Soo Rin. Dan aku bersungguh-sungguh.”

Jantung di balik rusuknya bagai melompat-lompat keras. Wajahnya mendadak panas sampai ke telinga. Mendengar suara berat itu begitu serak dan penuh kesungguhan yang justru semakin sulit untuk Soo Rin anggap sebagai main-main. Dia semakin tidak bisa menampik bahwa pria ini menunjuk dirinya sebagai incaran. Apalagi, Soo Rin hanya bisa meremas bahu yang sedari tadi berusaha didorongnya kala wajah tegas itu semakin turun menghapus jarak yang ada. Melihat ke mana sorot mata tajam itu turun tertuju pada apa yang sedari tadi mengatup, Soo Rin harus menahan napas untuk kesekian kalinya.

Tidak. Kumohon, jangan!

Hidung mereka bersentuhan, menimbulkan percikan sensasi aneh yang makin membuat tubuh Soo Rin bergetar, dan ia tidak bisa bertahan lagi hingga akhirnya menutup mata dan menunggu. Lebih tepatnya, pasrah di dalam kuasa pria yang memang bersungguh-sungguh ingin merebut dirinya.

Sayangnya, apa yang ditunggunya tidak kunjung terjadi sampai akhirnya ia merasakan dengusan halus yang langsung menerpa wajahnya. Merasakan kepengapan itu berangsur menghilang disusul adanya udara bebas menelusup sedikit demi sedikit. Barulah ia memberanikan diri untuk mengintip.

“Itu akan terlihat tidak ada bedanya dengan aku yang sudah seenaknya mencium wanita lain. Dan kau akan semakin menggunjingku sebagai pria brengsek yang sudah mencuri apa yang kaujaga.”

Soo Rin hanya mampu membuka mulutnya kembali. Pita suaranya seperti tidak berani mengeluarkan keahliannya yang membuatnya mati kutu dan hanya bisa melihat bagaimana pria itu kembali membuat jarak disertai senyum penuh arti.

“Jadi, kau harus menerima hukumanku jika kau memang masih mengakui sebagai mahasiswi terpintar, Park Soo Rin.”

“A-apa … hukumannya?” Soo Rin harus mengakui bahwa suaranya benar-benar tidak terkendali. Betapa gagapnya ia yang semakin membuatnya terlihat tidak berdaya di dalam kungkungan pria ini.

Dan Ki Bum bisa merasakan bahwa ia memenangkan perlawanan ini, kali ini.

“Turuti segala perintahku, di mana pun dan kapan pun. Aku tidak menerima kata tidak keluar dari mulutmu.” Ki Bum mengamati raut wajah Soo Rin. “Kau tidak perlu khawatir jika seandainya aku akan memerintahmu untuk bercinta denganku. Aku tidak sebrengsek itu.”

“Tapi otakmu benar-benar brengsek!” desis Soo Rin yang memancing gelak tawa pria itu.

Watch your mouth, young lady. You still talking with and older man now.” (Jaga mulutmu, nona muda. Kau masih berbicara dengan pria lebih tua.)

“Lebih tepatnya pria tua!”

Well, aku jadi semakin menyukaimu.”

Soo Rin memutar bola mata. Diam-diam ia merasakan desiran aneh itu kembali menyerangnya hingga perutnya seperti tergelitik. Heol, dia tidak mungkin terpengaruh dengan ucapan main-main Kim Ki Bum, bukan?

“Jadi, mau menerima hukumanku? Atau membiarkanku membongkar—”

“Aku akan menerimanya!” Soo Rin menyambar paksa, sengaja memalingkan wajah agar tidak melihat bagaimana reaksi pria itu. “Selama itu tidak terlalu merugikanku, aku akan menerimanya. Kau puas?”

“Itu berarti, kau sudah menerimaku untuk membuatmu juga tertarik padaku.”

“Apa?! Ya, aku tidak—”

Ssh…” Ki Bum meletakkan telunjuknya di permukaan bibir Soo Rin, sedangkan bibirnya sudah tertarik ke atas menampakkan ulasan penuh arti. “Menerima hukumanku sudah merupakan paket bahwa kau membiarkanku untuk terus mengganggumu. Aku sudah pastikan bahwa kau tidak bisa menghindar lagi setelah ini,” wajahnya kembali menghapus jarak hingga ujung hidungnya menyentuh telunjuknya sendiri, membiarkan itu menjadi batas terakhir mereka, lalu berbisik rendah, “Dan aku akan membuatmu mengizinkanku untuk menciummu, di mana saat itu juga kau sudah benar-benar jatuh ke dalam pelukanku, Park Soo Rin.”

Kedipan sebelah mata itu merupakan penutup di mana Soo Rin akhirnya tersadar sepenuhnya. Bahwa pria bernama Kim Ki Bum ini memang sudah menariknya dari zona aman dan berpindah ke dalam zona berbahaya, di mana zona itu layaknya dunia penuh kekuatan magis yang akan membuatnya terus terjebak, kecuali sang penguasa yang berkehendak untuk mematahkannya.

wp-1475776618239.jpeg


nah, kan! makin absurd ceritanya HEHEHE maafin ya maafkan aku 🙏🙏 da aku bingung mau bilang apa huhuhu yang penting mah semoga suka ya sama ceritanya..

dan terima kasiiiiihh sekali untuk apresiasinya~ sebenernya aku suka harap-harap cemas sama cerita ini kira-kira bakal disukai pembaca atau ngga, secara genrenya agak ekstrim gimana gitu ya.. kan baru kali ini aku angkat tema adult gimana gitu heheheh jadi malu deh (?)

dan akhirnya bisa bilang sesuatu juga ya HEHEHE 😂😂😂

yaudah deh salam yaa~

wp-1475774696818.jpeg
Jae 💋
wp-1475775180982.jpeg
yes! she is Park Soo Rin ❣❣

thank u and hope to see u again!! ✌✌✌

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

19 thoughts on “WHATTA MAN – My Zone

  1. Sukaaaaaa malah makin suka,,,

    tapi kedepannya harus makin gereget ya kkkk itu permintaanku

    sabar ya sorin, jangan panik, dosenmu baik ko#so tau..

    Hukumannya pasti seru dhh…

    Hehe kpan lanjut kkkkk
    ait kapanpun aku akn menunggu…
    Chayoo chayoo.. :* :p

  2. Aku sudah baca dr awal, tp baru bisa komen di part ini maaf yah Siska 😢 kadang hpnya gak bisa di ajak kompromi keluar sendiri dr web…

    Langsung cus ke komenanku yg gak seberapa hehe😜😜😜
    Aku kan emang suka sama karakter pria yg agak bad boy gitu apalagi ditambah visualnya seorang Kim Ki bum yg dr awal aku baca cerita2mu selalu dibuat baper sama semua kelakuannya pada Soo rin yg sudah di klaim bahwa dia gadisnya dan Disini Soo rin harus mulai hati2 karna jantungnya yg akan sering dibuat shock dan jumpalitan karna seorang Kim ki bum dan jg pesonanya kkkkkk…
    Zona Kim ki bum sudah #isADanger #plakkk
    See you next Siska 😘😘😘

  3. brasa bca crta horor…
    merinding n deg2 an…ha3x…
    ayo bruan jdian deh…
    tinggal tunggu waktu Soorin klepek2 ma Kim Kibum 😁😁😁
    next sist…
    fighting 😉

  4. Sihir apa yg dipakai kibum untuk menjerat s0rin?
    Mau d0nk sihirnya buat menjerat hati J0SHUA.. gk dpt kibum dpt sepupu y jg gpp,hagagaga (^0^)

  5. hukumannya…
    kirain.. hmm? haha xD
    gk sabar liat soorin yg versi ini jatuh kedalam pesona kim kibum kkk~
    gimana ntar setiap moment selalu dihabiskan dengan pertengkaran yg sweet(?) kkk~ *ngarang bebas kkk

  6. aduh kenapa aku ikut sesak napas ya dengan semua tingkah ki bum. oksigen mn oksigen butuh bgt kayanya.

    sepertinya soo rin udah bener2 kena perangkap ki bum. sabar soo rin, siap2 jantung sm oksigen aja.hehe

  7. Kalo baca cerita ini bawaannya pengen pelan terus, biar ga cepet selesai. Ahh suka banget sama cerita ini. Kalimat-kalimatnya juga bagus. Kerenn pokoknya.

  8. sdhlah soorin terima saja nasibmu anggep aja itu bonus karna alma ni hidupmu ssh B-)
    terima saja sdh masuk dunia’a kibumie yg nanonano mbuh rasa’a hhhh pastikan bnyk yg ngiri padamu :-D,

  9. duh baca ini tuh senyum” sendiri jadinya wkwkw ditambah deg degan pula. ngahaha

    deg degan dengan kelauan kibum sama si soorin 😂 duh aku padamu kibuuum😚😂😂

    lovelove daah sama dirimu kaaak ceritanya makin bikin penasaran aku mueheheh semangat terus yaaaak dan sehat terusss kaaak😚😳🙆

  10. i love how kim kibum ia such a jerk here. a really hot jerk
    and park soorin just give urself to kim kibum that will be so much easier XD

  11. akhirnya bisa komen juga setelah habis baca ini tiba2 kuota habiss haha

    sukaa gayanya kim bum disini, evil bangetttt

    ditunggu kelanjutannyaaa

  12. Soorin udah bener-bener masuk perangkapnya(?) Kim Kibum sepertinya..
    Sia-siapin jantung aja karena pasti bakal terus-terusan dibuat nggak tenang sama Kim Kibum.
    Sama siap-siap nggak bakalan bisa keluar dari zonanya Kim Kibum 😁😁

    ditunggu kelanjutanya… fighting !!!!

  13. ini apaa x((
    kimkibum udah mulai bikin gerakan(?) x((
    ya aku speechless duh mau bilang apa x(
    udah ah aku binguuung gak bohong deh tau mau review apaaa x((

    anyway, aku sering lupa ngebayangin kalo jisoo itu disini joshua nya seventeen, buka jisoo nya blackpink x((
    ada lisa juga siiih disini wkwkwkwk suka ga fokus hihihii xDD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s