Posted in Adult, Campus Life, Fiction, Friendship, KiSoo FF "WHATTA MAN", PG-15, Romance

WHATTA MAN – Warn You

wp-1472663254420.jpeg

Adult, Campus Life, Friendship, Romance

PG-15

before :: Wild Class | Attention | Bad Man | Just Started

“I’ve told you, but you didn’t listen to me.”

H A P P Y    R E A D I N G

.


ELVABARI©2016

.

.

PAGI hari, Soo Rin yang sudah duduk di kantin tampak melamun. Dia baru saja menyelesaikan tugas kelompoknya tepat waktu meski beberapa kali pikirannya melayang entah ke mana. Kini dia sudah menjatuhkan kepalanya yang terasa dua kali lipat lebih berat dari biasanya.

Jelas saja. Dia tidak bisa tidur nyenyak semalam dan itu dikarenakan si dosen menyebalkan itu!

Soo Rin tidak habis pikir dengan apa yang didapatinya kemarin. Pria itu dengan penuh berani menyatakan hal yang sangat jauh dari akal pikiran Soo Rin. Bagaimana mungkin pria berkepala tiga itu mengatakan tertarik padanya yang jelas-jelas adalah seorang mahasiswi dan murid pria itu sendiri? Dia pasti sudah gila, bukan?

Belum lagi, si Dosen Kim itu adalah pria yang berbahaya. Soo Rin masih ingat bagaimana pria itu sudah menyentuh banyak wanita yang rela menyerahkan diri kepadanya. Mana mungkin pria seperti Kim Ki Bum tertarik padanya yang hanya seorang gadis dan masih berusia muda?

“Dia pasti hanya main-main, ‘kan? Hanya sedang bergurau padaku…”

“Aku tertarik padamu dan ingin memilikimu.”

Aih! Kenapa kalimat itu terus berputar-putar di dalam kepalanya?! Kenapa pula Soo Rin terlalu memikirkan hal tersebut?! Pria itu hanya main-main! Titik!

“Memikirkan sesuatu, Park Soo Rin?”

Gadis itu hanya mendongak sekilas, tahu bahwa itu adalah Hong Ji Soo. Pemuda itu baru saja kembali dari counter sambil membawa satu nampan berisi beberapa makanan dan minuman. Mengingat begitu mereka datang pagi tadi langsung menuntaskan tugas kelompok hanya ditemani minuman hangat.

Ji Soo hanya tersenyum mendengar Soo Rin yang sebatas menggumam singkat. Pemuda itu memindahkan pesanan mereka ke meja, menggeser sekotak susu pisang ke hadapan Soo Rin.

“Isi perutmu dulu, Park Soo Rin. Masih ada empat puluh menit lagi sebelum kelas pertama dimulai.” Ji Soo mengatakannya sambil mengaduk-aduk makanan pesanannya. Ketika ia menyuap satu sendoknya, ekor matanya menangkap gadis itu menegakkan tubuhnya, juga mendengar helaan napas berat dari si gadis itu.

Em … Hong Ji Soo…”

Hm?” Ji Soo meletakkan sendoknya, menumbuk perhatiannya pada gadis yang kini membenarkan kacamata hitamnya sejenak. “Ada apa? Kau terlihat gelisah hari ini.”

Heol, apa dia bisa membaca raut wajah Soo Rin? Hebat sekali.

“Hanya … aku sedang memikirkan sesuatu.”

“Kalau begitu katakan. Kau sudah memanggilku tadi, mau berbagi denganku?”

Soo Rin melihat pemuda itu tersenyum padanya. Ia menunduk menghela napas panjang.

Em … jadi begini, aku pernah mendengar cerita bahwa, ada seorang dosen yang menyatakan perasaan pada mahasiswinya. Menurutmu itu masuk akal atau tidak?”

Ji Soo tidak langsung menjawab, malahan pemuda itu melongo bingung pada Soo Rin yang baru saja mengajukan pertanyaan yang … well, Ji Soo tidak pernah mengira bahwa itu akan keluar dari mulut seorang Park Soo Rin.

Aih, maksudku, aku hanya bingung, itu pasti terdengar aneh, bukan? Tapi, aku … maksudku temanku, pernah mengalaminya. Ya, begitu.” Soo Rin mulai salah tingkah melihat ekspresi Ji Soo yang semakin terlihat aneh.

“Maksudmu, temanmu yang bernama Lisa atau Sandara?”

“Eh?” Soo Rin mengerjap cepat. “Ah, bukan mereka! Tapi, teman sekolahku! Ya, teman sekolahku yang berkuliah di kampus lain! Dia menceritakan hal itu padaku dan … dan dia kebingungan…”

Aish! Ini tidak seperti Soo Rin yang biasanya! Dia harus berputar-putar terlebih dahulu hanya demi mendapatkan sebuah pendapat dari Hong Ji Soo dan itu terasa aneh sekali.

“Yah, menurut pendapatku,” Ji Soo menggantungkan ucapannya sejenak, mengusap dagunya sebelum melanjutkan, “itu jarang terjadi dan terdengar sangat aneh—”

“Benar! Itu sangat aneh, bukan?” Soo Rin tiba-tiba menyambar, cukup membuat pemuda itu tertegun. “Bisa saja dosen itu tidak serius padanya. Kau tahu sendiri, perbedaan usia yang terlalu jauh bisa menjadi alasan utamanya. Benar, ‘kan? Mana mungkin seorang dosen yang sudah mapan dan sering bermain dengan wanita dewasa tiba-tiba menyatakan perasaannya pada mahasiswinya sendiri? Itu sangat aneh, bukan?”

“Dari mana kau tahu kalau dosen itu sering bermain dengan wanita dewasa?”

“Eh?” Soo Rin yang sedang tertawa hambar tiba-tiba gelagapan. “Oh, itu … yah, temanku yang menceritakannya! Tentu saja dia tahu karena dia ‘kan pernah melihatnya.”

Ji Soo mengangguk paham. “Hmm, yah, itu memang aneh. Tapi mungkin saja dosen itu memang tertarik pada temanmu.” Ji Soo mengulas senyum pengertiannya. “Kau mungkin juga bingung, tapi memang pada dasarnya sikap kaum adam sering membingungkan para kaum hawa. Tapi asal kau tahu, Park Soo Rin, pria dewasa yang sering bermain-main dengan wanita sebayanya tiba-tiba tertarik pada seorang gadis belia, itu tidak bisa dikatakan main-main.”

“Apa?” Soo Rin mendengus tidak percaya. “Itu tidak mungkin!”

“Kelihatannya memang tidak mungkin. Tapi itu memang masalah serius.” Ji Soo sedikit mencondongkan tubuhnya demi bisa mengecilkan suara, “Pria dewasa yang sudah serius, akan melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan sasarannya. Itu berarti, temanmu sedang dalam bahaya.”

Glek…

Soo Rin menelan saliva bak menelan seonggok batu. Iris di balik kacamatanya menyorot ngeri pada Ji Soo yang menatap serius dirinya. Ada jeda yang cukup lama di antara mereka, sebelum kemudian … tawa Hong Ji Soo pecah seiringan dengan pria itu menarik mundur tubuhnya.

Why so serious, Park Soo Rin?” gelak tawa Ji Soo semakin keras melihat bagaimana raut wajah Soo Rin berubah masam.

“Sialan kau, Hong Ji Soo! Aku sedang tidak mau bercanda tapi kau—ya ampun!!” Soo Rin menggeram kesal hingga kemudian menyambar kotak susu pisang miliknya, membukanya kasar lalu meneguknya di mana telinganya semakin panas mendengar tawa pemuda itu yang tak kunjung berhenti.

“Wajah seriusmu membuatku tidak tahan untuk melanjutkannya,” gelak Ji Soo, ia berusaha meredakan tawanya dan berdeham beberapa kali. “I’m sorry, Park Soo Rin. Aku hanya ingin membuatmu rileks. Kau terlihat kebingungan sejak kita bertemu pagi ini.” Ji Soo menjelaskan disertai senyum meminta maaf. “Tapi setidaknya aku sudah tahu apa yang sedang mengganggu pikiranmu.”

Soo Rin meletakkan minumannya dengan hentakan, memandang kesal Ji Soo serta mendengus sinis, “Jadi semua ucapanmu itu bohong belaka, begitu?”

Ji Soo menggeleng cepat. “Tidak, tidak. Aku mengatakan yang sebenarnya, sungguh!”

“Berarti, temanku itu sedang dalam bahaya, begitu?”

“Aah, untuk yang itu pengecualian.” Ji Soo memamerkan cengirannya, lalu berdeham lagi. “Maksudku, temanmu harus lebih berhati-hati jika bertemu dengan si dosen itu. Jika temanmu tidak suka padanya, katakan tidak. Maka dosen itu akan mengerti.”

“Tapi bagaimana jika dosen itu menolak?”

“Itu berarti temanmu harus bersiap-siap.”

Soo Rin mengerutkan kening melihat pria itu tersenyum penuh arti. “Apa arti dari kata bersiap-siap itu, Hong Ji Soo?”

Well...” Ji Soo kembali mencondongkan tubuhnya, menatap lurus Soo Rin yang ikut mencondongkan tubuh serta melipat kedua tangan di atas meja, lalu Ji Soo memberikan ulasan manis di bibirnya, “you know what, an adult men have many tricks to make a woman whom he target to fall into his arms.” (pria dewasa memiliki banyak trik untuk membuat wanita incarannya jatuh ke pelukannya.)

“Kau serius dengan itu? Memangnya kau sendiri sudah dewasa?” Soo Rin berdecak sangsi.

Ji Soo mengedikkan bahu. “Setidaknya aku ini ‘kan seorang pria. Suatu saat aku akan merasakannya sendiri.”

“Ya, ya, ya. Anggap saja aku percaya itu.” Soo Rin mengibas-kibaskan tangannya. Ia pun kembali menyandarkan tubuhnya.

“Kalau begitu sampaikan salamku untuk temanmu itu, Park Soo Rin. Semoga dia berhasil.” Ji Soo melakukan hal sama, sambil tersenyum ramah pada Soo Rin yang hanya sekadar mengangguk.

Karena pikiran Soo Rin mulai berputar-putar tidak tahu arah, di mana semua bayangan itu mengarah pada pria yang sudah menahannya di perpustakaan dan membuatnya mempertanyakan kondisi jantungnya yang mulai terasa aneh sejak kemarin.

Aisshi!

****

“Selamat, Park Soo Rin, kau mendapatkan nilai tertinggi di kuis hari ini.”

Pengumuman dari Dosen Park mengundang tepuk tangan dari seisi kelas untuk gadis yang menunduk berterima kasih pada sang dosen yang menyerahkan lembar jawaban kuis miliknya.

Yokshi! Uri Park Soo Rin hangsang jjang-ida!” (Pasti! Park Soo Rin kita selalu yang terbaik!) seru Lisa yang disambut anggukan antusias oleh Sandara. Mereka berdua justru terlihat lebih bangga dibanding si hebat itu sendiri.

“Bagaimana pun aku juga merasa bangga pada kalian semua. Aku bisa melihat perkembangan kalian yang semakin membaik dan aku harap kalian bisa memertahankannya.”

“Tentu saja, Dosen Park! Bila perlu kami akan meningkatkannya lagi!” sahut salah satu mahasiswa yang disambut seruan heboh dari yang lain.

Wanita yang berdiri di depan kelas itu mengembangkan senyumnya dengan bangga. “Aku pegang kata-kata itu, Kim Tae Hyung. Semoga berhasil untuk kalian semua.”

Nee!!”

Cah, cukup sampai di sini pertemuan kita. Sampai bertemu lagi di pertemuan selanjutnya.” Dosen Park mengambil barang-barangnya dan keluar dari kelas diantar oleh ucapan terima kasih dari para mahasiswa.

Kelas pun mulai ramai dengan urusan beres-beres, begitu juga dengan Soo Rin dan kedua temannya. Di saat ada yang hendak keluar dari kelas, ada teriakan nyaring dari belakang yang segera menghentikan seisi kelas.

“Ada yang ingin disampaikan oleh temanku dan kalian harus mendengarkannya!” dia adalah Kim Do Yeon, gadis bermata oval memikat itu segera menarik teman yang dimaksud itu untuk berdiri ke depan kelas.

“Ada apa? Kalian ingin striptise di sini?”

Hell, berani bayar berapa kau untuk melihatku begitu, Kim Nam Joon?” gadis yang ditarik Do Yeon itu mengibaskan rambut panjangnya hingga siulan menggoda itu keluar dari hampir semua mulut kaum adam di sini.

“Cukup beri tahu kami apa yang kau mau, Jung Chae Yeon! Sebelum para hidung belang ini tidak mati penasaran,” tukas teman sepermainannya yang masih duduk di belakang sana, Im Na Young namanya.

Okay, calm down, everyone! Aku ingin mengumumkan sesuatu yang berhubungan dengan hari ulang tahunku. Itu jatuh di hari ini, so…” Chae Yeon menyapu pandangannya ke seisi kelas ini, tersenyum manis hingga mata seksinya itu menyipit, “Aku ingin mengundang kalian semua yang ada di sini untuk memeriahkan acaraku di malam ini!”

“Benarkah?”

“Di mana?”

“Pukul berapa?”

Dan masih banyak lagi pertanyaan yang terlontar dari berbagai mulut di ruangan ini.

“Aku akan memberikan undangan ini pada kalian jika kalian memang bersedia datang. Bagaimana?” Chae Yeon ternyata sudah memegang tumpukan undangan kecil di salah satu tangannya. “Tentu saja kalian hanya perlu datang dan menikmati acaraku. You are free to make a fun in my party!

Sorak sorai pun menggema di kelas ini. Banyak dari mereka yang langsung mengacungkan tangan tinggi-tinggi meminta undangan yang langsung dihampiri Chae Yeon juga Do Yeon. Dua gadis itu membagi-bagikan undangan tersebut penuh semangat sebagaimana dengan semangat para mahasiswa di kelas ini.

Tapi Soo Rin adalah pengecualian. Gadis itu terlihat tidak tertarik dengan undangan Jung Chae Yeon. Bukan apa-apa, dia merasa tidak begitu dekat dengan gadis cantik itu jadi tidak seharusnya dia meminta undangan dan berharap akan diundang. Berbeda dengan Sandara dan Lisa yang tampak ikut antusias karena mereka berdua memang senang sekali dengan yang namanya pesta.

Ehem, kau tidak mau undangannya, Park Soo Rin?”

Namun tidak disangka oleh Soo Rin, gadis cantik bernama Jung Chae Yeon itu sudah berdiri di hadapannya dan menawarkan selembar kartu undangannya pada Soo Rin. What an awkward moment to her. Karena Soo Rin merasa canggung seketika begitu mendapati ulasan senyum dari gadis itu.

“Ah, aku tidak pantas untuk datang. Kita tidak mengenal dekat.” Soo Rin mencoba menolak. Ia baru saja ingin melanjutkan acara beres-beres ketika Chae Yeon tiba-tiba menarik satu tangannya.

“Jangan begitu! Aku justru berharap sekali kau bisa datang!”

“Apa?”

Well, sebenarnya, sudah lama aku ingin mengenalmu lebih dekat, Park Soo Rin. Tapi aku tidak percaya diri mengingat kau ini gadis pintar sedangkan aku…” Chae Yeon menghela napas panjang, merasa berat untuk mengatakannya, “aku ‘kan hanya gadis biasa yang merasa tidak pantas untuk menjadi temanmu.”

Oh, benarkah? Gadis secantik Jung Chae Yeon mana mungkin merasa dirinya hanyalah gadis biasa? Merasa tidak percaya diri, pula, hanya karena dirinya? Daebak!

“Karena itu,” Chae Yeon diam sejenak, memilih menyelipkan selembar kartu undangan tersebut ke tangan Soo Rin yang masih digenggamnya, tersenyum manis sekaligus penuh harap pada Soo Rin, “maukah kau datang ke acara ulang tahunku, Park Soo Rin?”

Yaa, Soo Rin-ah! Kau harus menerimanya!”

“Benar, terima saja!”

Lisa dan Sandara memprovokasi. Sehingga tak disangka, teman-teman lainnya yang ternyata sedari tadi menyaksikan kini beramai-ramai meminta Soo Rin agar menerima undangan Chae Yeon.

Merasa gugup dengan perhatian tersebut, akhirnya Soo Rin menerimanya dengan segera. “Baiklah. Aku akan datang.”

“Benarkah?! Uwaaaaahh!” Chae Yeon tiba-tiba memeluk Soo Rin, membuat gadis itu jelas terkejut akan tingkah tak terduganya ini. “Terima kasih, Park Soo Rin! Aku pasti akan menunggu kedatanganmu nanti malam!”

“Ya…” Soo Rin pun membalas pelukan Chae Yeon meski ragu-ragu. Ia hanya bisa melirik dua temannya yang sudah bertepuk tangan diikuti seisi kelas hingga makin meramaikan adegan aneh ini.

Do Yeon yang melihat pemandangan itu tersenyum lebar, sebelum kemudian ia melirik pada gadis yang masih duduk di belakang sana, memberi kode melalui lirikan matanya.

Gadis bernama Im Na Young itu kini menyeringai puas.

****

“Jadi, kau sudah yakin ingin datang ke acara ulang tahun Jung Chae Yeon?”

Sapaan dari Ji Soo mengejutkan Soo Rin. Seperti biasa gadis itu akan mampir ke perpustakaan terlebih dahulu sebelum menyusul Sandara dan Lisa yang sudah ke kantin lebih dulu. Dan tidak disangka bahwa Hong Ji Soo akan menyusul dirinya.

Yeah. Dia mengundangku, tidak mungkin aku menolaknya.”

“Aku merasa terkejut dia mau mengundangmu.”

“Aku bahkan tidak percaya bahwa si primadona itu akan mengundangku.” Soo Rin mengedikkan bahu, melanjutkan, “Dan mengatakan ingin menjadi temanku.”

Ji Soo terkekeh pelan sembari menepuk sebelah pundak Soo Rin. “Bersyukurlah, Park Soo Rin. Kau bisa mendapat teman baru dengan ini. Aah, setelah selama ini aku melihatmu yang hanya bergaul dengan Sandara dan Lisa, akhirnya ada yang mau mengajakmu berteman. I’m so touched, anyway.” (Aku sungguh terharu, omong-omong)

“Mengejekku, Hong Ji Soo?”

Pemuda itu justru tergelak kemudian tanpa diduga mengangkat satu tangannya demi mengusak-usak puncak kepala Soo Rin. “Aku justru turut berbangga hati.”

Aisshi! Hong Ji Soo!!” Soo Rin menyembur keki untuk pemuda yang sudah melarikan diri meninggalkan dirinya yang sudah awut-awutan di bagian rambut. Berkat kerja tangan Hong Ji Soo tentu saja.

Wajah cemberutnya menghiasi selama ia mencoba merapikan rambutnya. Dia baru berhasil melepas ikatannya ketika tiba-tiba ada yang mencekal tangannya dan langsung menariknya masuk ke sebuah ruangan kosong di dekatnya. Soo Rin sendiri tidak sempat menebak ruangan apa ini karena ia keburu terkejut melihat pelaku yang sudah menariknya kemari.

Surprised?”

Sapaan berhiaskan senyum miring itu langsung membuat suasana hati Soo Rin makin memburuk. Di saat ia berhasil menghiraukan kejadian kemarin, pria itu justru kembali muncul di hadapannya bahkan menculiknya seperti ini!

Yeah, thanks for your surprise.” Soo Rin menghempas cekalan itu dan hampir berbalik ketika pria itu kembali mencekalnya. “Apa maumu, Dosen Kim? Menyatakan perasaan main-mainmu lagi? Kalau begitu aku tegaskan bahwa aku menolaknya. Puas?!”

Ki Bum malah mengulas senyum separuh, memiringkan kepala sehingga gadis itu menyeret tubuhnya untuk mundur. “Aku bahkan tidak mau membahas itu, tapi kau justru mengungkitnya lagi.”

Nah, lihat, bukan? Pria ini ternyata cuma main-main pada Soo Rin!

“Oh, baguslah. Itu sudah menjadi jawabanku akan keseriusanmu yang sangat rendah atau mungkin memang tidak ada.”

“Jangan pergi malam ini.”

Eh?

“A-apa?”

“Batalkan undangan itu, jangan pergi.”

Soo Rin memalingkan wajah, mendengus sinis. “Wah, kau benar-benar penguntit, ternyata. Bagaimana bisa dosen ini mengetahui hal tersebut di saat dia tidak ada di sana tadi?” cibirnya.

“Dengarkan aku, Park Soo Rin.”

“Sedari tadi aku mendengarmu, Dosen Kim.”

Lalu hal tak terduga kembali menimpa Soo Rin. Pria itu menyudutkannya pada sudut pintu hingga hilang sudah ruang pergerakan Soo Rin. Spontan ia meneguk saliva melihat Kim Ki Bum mengungkungnya hingga memori di hari lalu berputar lagi di kepala. Udara kembali berubah pengap hingga napasnya tercekat ketika wajah tegas itu sudah sejajar dengan wajahnya.

“Aku tidak main-main, Park Soo Rin. Turuti perintahku maka kau akan baik-baik saja.”

Mata di balik bingkai minus itu berkedip cepat. “K-kau ini bicara apa, huh? Apa hakmu melarangku datang ke acara itu? Memangnya kau tahu apa?”

“Kau memang tidak menyadarinya tetapi aku tahu bahwa kau tidak akan aman di sana.”

“Tidak aman karena apa, memangnya? Oh, aku mengerti. Karena tabiatku yang tidak pernah pergi ke acara semacam itu maka itu tidak aman bagiku, begitu? Kau tidak perlu khawatir, Dosen Kim. Aku gadis mandiri dan aku bisa mengatasinya.”

“Park Soo Rin…”

“Jadi jangan seenaknya mengaturku hanya karena kau sudah mengatakan bahwa kau suka padaku lalu itu berarti aku akan menerima segala ucapanmu!”

“Sekali lagi kau bicara maka aku akan menciummu, Park Soo Rin.”

Sontak saja Soo Rin mengatup bibirnya yang hendak kembali bicara. Jantungnya seperti melompat keras di balik rusuknya setelah mendengar ancaman dari Kim Ki Bum. Napasnya makin tercekat dan seperti ada rasa panas menjalar ke wajahnya begitu melihat adanya sorot keseriusan di mata tajam itu. Heol, sebenarnya apa yang Soo Rin bayangkan ketika pria itu berkata akan mencium dirinya sampai-sampai ekor matanya ingin sekali melirik material yang baru saja melontarkan ancaman tersebut?

Kau pasti sedang tidak waras karena pria ini, Park Soo Rin!

“Kau memang tidak mengerti arti istilah yang pernah aku utarakan padamu. Tapi ketahuilah, tidak semua orang merasa senang akan kehadiranmu karena kelebihanmu yang membuat mereka iri. Dan tidak semua orang mengharapkan akan kehadiranmu nanti malam.”

“Kau tidak perlu berbelit dan cukup katakan bahwa kau memang tidak suka jika aku datang ke pesta itu, Dosen Kim!”

“Aku memang tidak menyukainya, Park Soo Rin.”

Ada geraman tertahan yang seketika membuat bulu roma Soo Rin meremang. Dia tidak mengerti, tapi yang jelas dia semakin tidak menyukai sifat pria yang bertindak mengatur dirinya seperti ini.

“Jika kau masih keras kepala dengan keputusanmu itu.” Ki Bum bergerak mendekat, tangan besarnya sudah menyingkirkan rambut tergerai Soo Rin dan menyelipkannya ke belakang telinga, meletakkan bibirnya ke dekat telinga gadis itu lalu berbisik rendah, “Prepare yourself.

Getaran asing itu muncul begitu saja di tubuh Soo Rin. Tubuhnya sudah terlanjur menegang sejak sentuhan halus itu terjadi. Ditambah, bagaimana pria itu membenarkan letak kacamatanya yang sedikit merosot memancing sebuah memori layaknya dejà vu di dalam kepalanya. Sayangnya ia tidak bisa menampik bahwa jantungnya kini berdebar hilang kendali ketika pria itu kembali menatap dalam dirinya.

I’ve warning you, Park Soo Rin.” Ki Bum mengatakannya sebelum melepas semua jeratannya dan keluar dari sana.

Meninggalkan Soo Rin yang kini menunduk dengan isi kepala berputar-putar tidak karuan. Tidak mengerti dengan semua yang didapatnya baru saja.

****

Sebenarnya, Soo Rin baru melihat isi undangan itu ketika Sandara dan Lisa datang menjemputnya demi berangkat bersama. Dia hanya berpikir bahwa Jung Chae Yeon mengadakan acara ulang tahunnya di kediamannya yang konon bak mansion itu. Dan ternyata…

Demi Patrick yang tidak memiliki hidung, Soo Rin hanya bisa mengumpat di dalam hati ketika kedua temannya menyeret dirinya untuk masuk ke dalam club malam di mana acara tersebut dilaksanakan. Kenapa dia tidak mengeceknya terlebih dahulu, sih? Apa dia harus menyalahkan dirinya yang terlalu sibuk dengan urusan kuliahnya sehingga hanya sekadar melirik isi undangan Chae Yeon pun tidak sempat?

Sialan! Bahkan ini club yang pernah dia datangi bersama Lisa dan Sandara beberapa hari lalu! Apa tempat ini begitu terkenal sampai-sampai Chae Yeon pun menyewanya sebagai lokasi acara tambah usianya itu?

“Wah, Jung Chae Yeon benar-benar anak konglomerat karena mampu menyewa tempat semegah ini!” Lisa berteriak antusias di tengah dentuman musik yang sungguh memekakkan telinga.

Kedua temannya sudah larut dalam meriahnya lantai dansa yang sudah disulap dengan lantai acara milik Jung Chae Yeon. Semua yang ada di sana adalah mahasiswa satu fakultasnya hingga menegaskan bahwa malam ini adalah milik Chae Yeon dan teman-temannya, termasuk Soo Rin.

Sayangnya Soo Rin memilih untuk menyingkir dari sana dan mencari tempat duduk. Membiarkan Lisa dan Sandara yang sudah ikut menari-nari di lantai dansa. Kepalanya mendadak pening dengan kondisi di ruang remang-remang ini. Rasanya dia ingin pulang saja, tapi dia bahkan belum menemui Chae Yeon. Si pemilik acara itu entah ada di mana. Ingin mencari tetapi rasanya enggan sekali. Di tengah lautan teman-temannya yang sudah menggila itu?

“Kau benar-benar datang?!”

Soo Rin menengok dan mendapati Hong Ji Soo tersenyum lebar menyapa dirinya. Pemuda itu langsung mendudukkan diri di sebelah Soo Rin lalu menyerahkan segelas minuman yang langsung ditolak oleh gadis itu.

“Aku tidak minum!” teriak Soo Rin yang mengundang tawa dari Ji Soo.

“Ini hanya soda, Park Soo Rin. Aku sendiri sebenarnya tidak bisa minum.”

“Hah?”

“Jangan beri tahu siapapun! Ini rahasia terbesarku!”

“Tapi kau membongkarnya di depan wajahku, Jenius!”

Ji Soo tergelak lagi. Tangannya berulah menoyor pelipis Soo Rin pelan. “Aku percaya padamu, Cerdas!”

Soo Rin mendengus geli. Well, setidaknya ia tidak perlu merasa terlalu buruk di sini. Masih ada Hong Ji Soo yang bisa menemani di tempat seperti ini. Pemuda ini ternyata tidaklah buruk. Toh, dia juga pernah mendengar bahwa Hong Ji Soo termasuk pemuda taat agama sehingga merupakan hal yang sangat masuk akal jika ia tidak bisa minum. Bisa saja keluarganya yang agamis itu mengajarkan hal yang sangat baik tersebut.

“Kau di sini ternyata!”

Seruan itu menarik atensi mereka. Ternyata sang tokoh utama acara ini. Jung Chae Yeon tampak sangat cantik dengan balutan gaun merah cherry-nya yang amat pas di tubuh idealnya, rambut panjang lurusnya dibiarkan tergerai menutupi sebelah bahu terbukanya, belum lagi polesan di wajahnya yang tidak berlebihan namun sudah cukup menambah kesan anggun dan seksi.

Wow, you look great tonight!” puji Ji Soo disertai senyum tulusnya. Jelas membuat gadis itu tersipu kesenangan.

“Ya, kau sangat cantik. Selamat ulang tahun, Jung Chae Yeon.” Soo Rin menimpali, ikut tersenyum tulus yang membuat gadis itu tampak terharu.

“Terima kasih. Terima kasih karena kalian sudah mau datang!” Chae Yeon menautkan kedua tangannya penuh antusias. “Ah, benar! Park Soo Rin, maukah kau ikut denganku? Ada yang ingin sekali bertemu denganmu. Mereka menunggumu di lantai atas.”

“Benarkah? Siapa?”

“Ikutlah denganku!” Chae Yeon menarik tangan Soo Rin hingga gadis berkacamata itu berdiri. “I’m sorry, Ji Soo, can I borrow her?

Yea, sure! Take your time!” Ji Soo memersilahkan. “Have fun, you both!

Soo Rin hanya sempat melambai sebelum Chae Yeon benar-benar menariknya pergi. Mereka melewati tangga menuju lantai dua di mana ternyata tempat itu jauh dari hingar-bingar seperti di bawah sana. Di sini seperti lorong hotel karena terdapat banyak pintu yang bisa Soo Rin tebak bahwa ini semacam … kamar?

“Chae Yeon-sshi, memangnya siapa yang ingin bertemu denganku?”

“Aah, itu, teman-temanku! Kau tahu siapa, bukan? Mereka yang selalu bersamaku. Mereka juga ingin mengenalmu, Park Soo Rin.”

Soo Rin mengulas senyum tipis ketika Chae Yeon memamerkan senyum manisnya. Tidak ada yang aneh bagi Soo Rin. Dia berpikir mungkin di bawah sana terlalu ramai sehingga teman-teman Chae Yeon terlalu segan untuk menyapanya.

Mereka sampai di depan salah satu pintu kamar. Letaknya berada di ujung lorong ini alias jauh dari tangga. Chae Yeon membuka pintu ruangan tersebut lalu terlihatlah siapa yang berada di dalam sana.

Girls, here she is! Our target has come!

Huh? Target?

Soo Rin belum sempat mencerna ketika Chae Yeon langsung mendorongnya masuk lalu menutup pintu ruangan, bahkan menguncinya dari dalam. Dia melihat bagaimana perubahan ekspresi Chae Yeon yang mana kala keramahan semula kini lenyap bak ditelan bumi, menjadi gadis dengan seringai sinis juga tatapan meremehkan tertuju untuknya.

“Ada apa ini?”

“Kau bertanya ada apa?”

Soo Rin menoleh pada gerombolan yang sudah menunggu sedari tadi di dalam sini. Ada Do Yeon juga gadis yang Soo Rin tahu bernama Im Na Young. Gadis berwajah dingin itu kini menatap tajam dirinya dengan sesuatu di tangannya. Seperti, sebilah kayu? Yang jelas itu semacam alat pukul.

Dan Soo Rin mulai membaca situasi.

“Kau tahu pasti apa yang sudah membawamu hingga kemari.” Na Young berkata sinis.

“Aku justru tidak tahu apa yang sudah membawaku hingga kemari. Tapi yang jelas, kau memiliki niat yang sangat tidak baik padaku.”

“Tidak hanya aku, tapi semua yang ada di sini, asal kau tahu itu.”

Soo Rin tahu bahwa ia sudah dalam bahaya. Namun ia berusaha untuk tidak menunjukkan dirinya yang mulai ketakutan. Tangan-tangannya yang gemetar langsung ia kepal, mencari kekuatan di sana. Dia tidak boleh terlihat lemah.

“Jangan berpura-pura tidak tahu, Park Soo Rin. Memangnya kau kubawa kemari karena apa jika bukan karena Hong Ji Soo?”

Hong Ji Soo?

“Ya, kau!” Chae Yeon yang sudah berdiri di hadapan Soo Rin langsung menarik rambut terikat gadis berkacamata itu dengan kasar. “Berani-beraninya kau mendekati Hong Ji Soo! Kau ini tidak cantik tapi kau tidak sadar diri! Apa bagusnya kau sampai Ji Soo mau saja dekat-dekat denganmu?!”

Soo Rin sudah merintih kesakitan akibat jambakan yang memanaskam kulit kepalanya. Dengan tenaga yang dia punya, ditariknya tangan Chae Yeon lalu mendorong gadis itu hingga ia mundur beberapa langkah.

“Jadi ini yang kau bilang ingin bertemu denganku? Karena Hong Ji Soo? Kau ini bercanda, ya?”

Chae Yeon tertawa mengejek. “Kau pikir orang secantik diriku mau berteman denganmu? Bercerminlah, Park Soo Rin! Kau itu si kutu buku yang hanya bisa berkencan dengan kutu buku juga! Jadi jauhilah Hong Ji Soo sebelum aku melukaimu!”

Soo Rin tersenyum sinis. “Kau pikir aku yang memutuskan? Itu ‘kan kehendak Hong Ji Soo sendiri. Dia yang mau berteman denganku jadi kau salahkan saja dia!!” Soo Rin baru saja berbalik ketika Chae Yeon berteriak padanya.

YA! BERANINYA KAU MELAWANKU?!”

Soo Rin harus kembali merasakan bagaimana tangan Chae Yeon yang menarik rambutnya, bahkan kini menyeretnya menjauh dari pintu lalu menghempaskannya hingga ia jatuh berlutut di hadapan teman-teman gadis itu.

“Seharusnya kau sadar diri! Kau tidak pantas berada di dekat Hong Ji Soo!”

“Aku sudah bilang salahkan saja Hong Ji Soo!”

“Diam kau, Kutu Buku!” kali ini Na Young yang buka suara, menendang Soo Rin hingga gadis itu terjerembab.

Saat itu juga muncul getaran dari tas selempang Soo Rin. Dia hampir meraih tasnya ketika Do Yeon yang menyadari hal itu langsung merebut tasnya, menyerahkannya pada Chae Yeon.

“Kau sudah mengambil pilihan, Park Soo Rin. Jadi akan aku pastikan, tidak ada yang bisa menyelamatkanmu malam ini!” lalu Chae Yeon melempar ponsel yang berhasil diambilnya dari tas Soo Rin hingga benda itu menabrak keras dinding ruangan ini.

.
.

Sandara harus menjauhkan ponselnya dari telinga, keningnya mengerut curiga yang memancing Lisa untuk bersuara.

“Ada apa? Soo Rin tidak menjawab?”

“Tiba-tiba saja sambungan terputus. Ponselnya tidak aktif.”

Aih, bagaimana ini?” Lisa mulai cemas. “Tidak mungkin Soo Rin pulang tanpa mengabari kita, bukan? Sekesal-kesalnya Soo Rin tidak akan pernah mengabaikan hal semacam ini, bukan?”

Sandara mengangguk membenarkan. Ia terlihat tidak kalah cemas seperti Lisa.

“Apa kalian sudah menemukan Park Soo Rin?” Ji Soo berlari menghampiri. Pemuda itu memang baru saja mencari keberadaan Soo Rin namun ia tidak menemukannya di mana pun.

Baik Sandara maupun Lisa kompak menggeleng penuh khawatir. Ji Soo pun mendesah panjang, mulai gusar.

“Bukankah tadi dia bersamamu? Lalu ke mana dia tadi?” Lisa bertanya pada Ji Soo.

“Benar. Tapi Chae Yeon tiba-tiba mengajaknya entah ke mana. Dia bilang ada yang ingin bertemu dengan Park Soo Rin.”

“Astaga! Firasatku tiba-tiba tidak enak. Bagaimana jika Soo Rin ditipu?!” Sandara berhasil membuat dua orang itu tertegun.

Ji Soo kembali mengutak-atik ponselnya. Raut cemasnya terpatri begitu jelas di wajah tampannya ketika harus menunggu panggilannya tersambung.

.
.

“Aku tidak salah! Kenapa kalian menghakimiku seperti ini?!”

“Tidak salah, kau bilang?” Do Yeon menarik rambut Soo Rin yang sudah berantakan hingga gadis itu mendongak. Kacamata yang biasa menghiasi wajah Soo Rin sudah hilang entah ke mana. “Kau itu sudah membuat Chae Yeon cemburu karena perlakuanmu itu!”

“Cemburu karena Hong Ji Soo, huh? Jadi Jung Chae Yeon menyukai Hong Ji Soo? Dekati saja dia! Kenapa harus dengan menyakitiku lebih dulu?!”

“Karena kau menghalangiku! Hong Ji Soo selalu menaruh perhatian padamu dan aku tidak terima itu!!”

“Itu salahmu sendiri! Bagaimana Hong Ji Soo akan memerhatikanmu jika kau sendiri tidak melakukan pendekatan apapun terhadapnya?!”

YA!!” Chae Yeon naik pitam dan langsung mendorong Soo Rin hingga gadis itu terjerembab lagi. “Jangan bicara seolah kau ini lebih segala-galanya dariku!!”

“Kau justru terlihat menyedihkan jika seperti ini, Jung Chae Yeon!” Soo Rin yang sudah terengah-engah berusaha bangkit kembali. “Hong Ji Soo tidak akan menyukaimu sekalipun kau adalah primadona di kampus. Dengan tabiatmu yang sudah merendahkan dirimu sendiri seperti ini, hanya pria bodoh yang mau menerimamu!”

“BRENGSEK!” Chae Yeon tak tanggung-tanggung lagi menampar Soo Rin teramat keras hingga gadis itu terhempas. Terdengar erangan keras dari mulut Soo Rin akibat membentur mulut meja sebelum akhirnya ambruk ke lantai. Seolah tidak peduli dengan itu, dengan napasnya yang memburu disertai tatapan tajamnya yang sudah dipenuhi sorot kebencian, Chae Yeon mendesis bengis, “Kau benar-benar ingin mati di tanganku!”

Ketika Soo Rin masih merasakan sakit luar biasa di bagian perutnya, Chae Yeon sudah merebut alat pemukul yang sedari tadi dipegang Na Young. Dengan kalap ia melayangkannya dan hampir berhasil ketika debuman keras itu mengagetkannya, juga kedua temannya.

Ada yang baru saja mendobrak pintu ruangan ini dengan sebuah tendangan telak. Ketiganya tampak terkesiap melihat siapa pelaku di balik pintu yang sudah menjeblak terbuka. Seketika Chae Yeon menjatuhkan pemukul di tangannya dan langsung melangkah mundur bersama kedua temannya.

“Tertangkap basah.”

Ucapan datar namun menusuk itu berhasil membuat ketiga gadis itu menelan saliva. Belum lagi seringai tajam yang bagai meneror ketiganya. Tidak ada yang berani membuka mulut.

“Aku sungguh menyesal untuk mengatakan hal ini, tapi kalian sudah menunjuk target yang salah.” Pria itu melangkah masuk ke dalam, tatapan datarnya berhasil mengintimidasi mereka bertiga. “Kalian baru saja menyakiti gadisku dan aku tidak terima itu.”

Soo Rin bisa mendengarnya. Pandangannya yang kabur karena minus juga pening akibat rasa sakit yang mendera, mengacaukan keinginannya untuk melihat siapa yang datang dan akhirnya hanya bisa melihat bayangan yang berdiri di sana.

“G-gadismu? A-apa maksud Anda?”

“Kau tidak mengerti bahasa manusia, ya?” terdengar pria itu terkekeh pelan. “Atau aku harus bercinta dengannya di depan kalian supaya kalian percaya?”

Dosen sialan! Di saat seperti ini masih saja sempat-sempatnya berkata frontal! Soo Rin hanya bisa mengumpat di dalam hati.

Hening seketika menyelimuti. Hanya deru napas berat dari Soo Rin yang justru membuat ketiga gadis itu merinding karena melihat bagaimana ekspresi wajah pria itu.

“Jadi, kalian masih ingin menghakimi gadisku dengan alasan sebatas pria lain? Secara tidak langsung kalian sudah menyebarkan gosip murahan yang langsung sampai ke telingaku.”

“Ma-maafkan kami, Dosen Kim!” ketiga gadis itu langsung berlutut memohon ampun. Menimbulkan decak jengah dari pria yang mereka panggil Dosen Kim itu.

“Aku akan sedikit berbaik hati kali ini. Asalkan, berhenti mengusik gadisku apapun itu alasannya jika kalian tidak mau menjadi bagian blacklist dariku. Dan, ah! Aku harap kalian tetap menutup mulut akan apa yang sudah aku katakan mengenai gadis yang kalian anggap kutu buku ini.”

“B-baik!!”

Kemudian mereka langsung terbirit-birit keluar. Meninggalkan pria yang sudah mengeraskan rahang dan hampir melontarkan umpatan kasar.

If they are not a woman, I swear to kill them with my hands.” (Jika mereka bukan perempuan, aku bersumpah untuk membunuh mereka dengan kedua tanganku.)

Soo Rin masih mendengarnya. Pandangannya semakin mengabur, teramat buram seperti hilang cahaya, napasnya makin memberat akibat sakit yang ternyata ada di bagian rusuk bawahnya. Rasanya ingin jatuh pingsan saja jika ia tidak segera merasakan sentuhan yang sedikit mengangkat tubuhnya, membawa dirinya ke dalam dekapan yang terasa hangat dan nyaman, merasakan adanya hembusan seperti deru napas di puncak kepalanya, dan itu semakin melemaskan seluruh kinerja di dalam tubuhnya.

I’ve told you, but you didn’t listen to me. You’ll get my punishment later, Park Soo Rin.

(Aku sudah mengatakannya padamu, tapi kau tidak mendengarkanku. Kau akan mendapatkan hukumanku nanti.)

.

.

.


dan ini udah panjang ya.. hehehe yah walaupun part Ki Bum sedikit di sini atuh maafin yaa tapi janji deh di selanjutnya dia lebih banyak dari awal sampe TBC yakin lah sueeerr 😅😅

ceritanya ga jelas ya duuhh maafin ya namanya juga imajinasi gajelas huhuhu tapi semoga suka deh yaa >< bingung mau ngomong apa (?)

salam dari 3 cewe kece ioi!

from left :: Jung Chae Yeon, Kim Do Yeon, Im Na Young
from left :: Jung Chae Yeon, Kim Do Yeon, Im Na Young

jangan hakimi mereka~ mereka sebenernya cewe baik hati yang hanya memainkan peran HEHEHE 🙇🙇🙇

so see u next part!! 😊😄

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

17 thoughts on “WHATTA MAN – Warn You

  1. Sorin sorin knapa gk nurut sama dosenmu..?

    Ngomong ngomong kok dosen kim ada di sna ya, apa diundang..? :p

    ocehh ditunggu nextnya ya,,
    kapanpun kkkkk

  2. wduh…
    pa tu hkuman ny???
    knp hrus nanti???
    skarang ja lah…
    ksian kan readers ny jd hrus nunggu.ha3x 😂😂😂
    eh sist aq kok bingung ya bca part ni “Sebelum para hidung belang ini tidak mati penasaran”
    rsa ny aneh gtu…atau cm prasaan q ja ya.he3x
    next sist…
    udah g sbar pgn tw hkuman ny😆
    smangat😊

  3. parah tu cewe-cewe untuk dosen kim masih bisa sabar kalo gak mati tu mereka dihajar kim ki bum

    kan soo rin sih gak nurut sama perkataan kim ki bum gitu deh jadinyaa

    ditunggu kelanjutannyaa, semangattt

  4. rasanya gak adil bgt kalo trio iblis itu dibiarkan begitu saja. harusnya dilaporin aja kepolisi.

    itu ki bum sempet2nya mikir bercinta sih. emang omes ya dia itu. semoga soo rin gak parah2 bgt ya.huhuhu

  5. Halahh kubumie ngaku” gadisku tp gk mau orang lain tau apaan ituh :->
    dasar dosem diktaktor,ahh soorin bandel sh dikasih tau gk nurut coba nurut ma kibum pasti gk kesakitan gini tp gk ada yg nm’a kibum jd pahlawan yh kalo soorin nurut hhhh

  6. Aishh… jahat banget 😣😤
    Semoga Soorin baik-baik aja.
    nanti-nanti mah mending Soorin nurut aja deh sama dosen Kim.

    Ditunggu kelanjutannya…
    Fighting..

  7. Aku dah merasa curiga jga tu sma chae yeon itu pas dia tersenyum itu
    Soo rin keras kepala sih susah d bilangin gk mau dengerin KibumKu
    hukum aja Kibum gk sabar nunggu hukuman yg d berikan Kibum

  8. dan si kutu buku berakhir dengan si bringas #errrr 😂😂

    bertahanlah soorin si bringas itu baik hati kok ayolah jangan takut. kekeke

    mangaat kak😚😀😂

  9. haduuuu mau jadi peran manis, nakal, apapun, kimkibum tetep aja seorang stalkeeeer iiih suka kaget sendiri bacanya tiap ada kimkibum tiba2 nongol di depan, belakang, manapun nya park soorin uuuung x((
    tapi hwhwwhwhwh disini soorin nice banget dah sukaa dia so strong dan ga lemah! x)b loviiitt ♡♡
    dan buat kibum yang lagi2 dateng tiba2, makasi ajah (¬_¬) /wkwk ceritanya masi gasuka sama ke bad boy -annya kimkibum /situ siapaa emang ih /biariiiin x((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s