Posted in Fiction, Fluff, PG, Vignette

Poor and Sweet

tumblr_lmqkxnslmj1qjsldro1_500

Absurd!Fluff

PG || Vignette

||KiSoo’Time||

H A P P Y   R E A D I N G

.


ELVABARI©2016

.

.

PUKUL sepuluh pagi, Soo Rin baru kembali ke apartemen sambil menjinjing sesuatu. Gerak-geriknya yang mengganti alas kaki dengan sandal rumah, lalu melangkah masuk ke dapur itu tampak begitu ringan disertai senyum sumringah. Ia meletakkan barang bawaannya itu ke atas meja bar, mengambilnya dari kantung plastik hingga menampakkan tiga box makanan.

Soo Rin baru hendak membuka salah satunya ketika teringat sesuatu. Kepalanya menengok-nengok, dengan mata berkeliaran, melongo ke pintu dapur, memastikan … bahwa dia memang sendirian di apartemen ini. Setelah itu, dibukalah box tersebut hingga mata jernihnya melebar antusias, berbinar-binar melihat isi dari box tersebut sebelum kemudian mengambil sumpit di dekatnya.

Lalu menyantapnya dengan lahap. Tanpa perlu khawatir akan ada yang melarangnya.

.
.
.

Eonniii, kami datang!!” Sae Hee berseru nyaring begitu berhasil membuka pintu apartemen ini. Ia datang bersama si pasangan yang kini beralih memastikan pintu masuk sudah terkunci. Sedangkan Sae Hee sudah berlari-lari ke ruang tengah.

“Kenapa sepi sekali?” Henry menggumam tiba-tiba, merasa sedikit aneh karena biasanya jika mereka datang, si penghuni apartemen akan langsung datang dari mana pun demi menyambut. Tapi ini?

“Henry!!!”

Teriakan nyaring Sae Hee mengagetkan Henry yang baru mengganti alas kaki. Pria berkulit pucat itu langsung melesat ke sumber suara di mana kekasihnya itu sudah berada di dapur, berdiri mematung di meja bar yang langsung menarik perhatiannya.

“Ada apa?”

“Lihat ini!” Sae Hee, raut wajahnya berubah pias ketika menyuruh Henry memeriksa apa yang sudah dilihatnya.

“I-ini…” dan Henry ikut terkejut begitu tahu apa itu.

E-Eonni memakan ini?”

Mereka saling pandang, sebelum akhirnya kompak menoleh ke luar dapur lalu berlari-larian melintasi isi apartemen ini dengan raut tegang masing-masing.

Henry bahkan tanpa berpikir dua kali, langsung menjeblak pintu kamar yang ada, pikirannya sudah kalut dan kecemasannya terbukti dengan terkesiapnya Sae Hee di dekatnya begitu melihat pemandangan di dalam sana.

EONNI!!”

NOONA!!”

“T-tolong … tolong aku….” Park Soo Rin, sudah tergeletak di dekat tempat tidur, dengan wajah pucat berkeringat dingin, meringkuk kesakitan sembari memegang bagian perutnya. Lalu pandangannya berubah gelap begitu Henry berhasil meraihnya.

****

“Dia terlalu banyak mengonsumsi makanan tersebut dalam satu waktu, kandungan dalam makanan itu terlalu banyak bahan yang bisa memicu kontraksi seperti soda dan alkohol, belum lagi bubuk cabai berdosis tinggi. Ditambah sistem imunnya yang tidak stabil membuat dampak yang ada semakin rentan. Tapi kalian tidak perlu khawatir, kami berhasil menangangi langsung janin dalam kandungannya sehingga tidak ada sesuatu yang fatal terjadi.”

Baik Henry maupun Sae Hee tampak bernapas lega mendengar penjelasan sang dokter. Mereka memandangi Soo Rin yang sudah terbaring tenang meski raut wajahnya lesu, masih tampak mengkhawatirkan bagi mereka.

Noona dengar itu? Kulit ceker ayam panggang sangat tidak baik untuk Noona yang sedang mengandung!”

“Aku benar-benar kaget melihatnya. Kenapa Eonni bisa membeli sebanyak itu, huh?”

Soo Rin menundukkan pandangannya, jemarinya saling bertaut memilin-milin selimut yang membungkus hingga batas perutnya yang masih rata. “Aku … sedang ingin memakannya…” cicitnya pelan.

Dokter Shin yang merupakan dokter spesialis kandungan itu tersenyum. “Dia sedang mengidam, hanya saja porsi yang dimakannya terlalu besar. Sebenarnya Park Soo Rin akan baik-baik saja jika memakan kulit ceker ayam panggang dalam pengawasan dan kontrol dari orang terdekat. Tapi sepertinya dia makan secara diam-diam tadi.”

Dan ketika Dokter Shin selesai bicara, muncul seseorang yang masuk ke bilik tersebut, dengan raut tegang juga penampilannya yang masih mengenakan jubah putih, berhasil menarik perhatian mereka.

“Oh, Dokter Kim, syukurlah Anda segera datang,” sambut Dokter Shin dengan ramah.

Soo Rin yang melihat adanya tatapan tajam dari orang itu segera menghindar. Mulai menggigit bibir bawahnya.

“Bagaimana keadaannya?” pria itu bertanya tanpa mengalihkan tatapan menusuknya. Setelah mendapat kabar dari dokter di sebelahnya ini, dia langsung melesat ke Ruang Gawat Darurat di mana Soo Rin berada. Untungnya, tugas kontrolnya pada para pasiennya sudah selesai sehingga ia bisa langsung kemari.

“Keadaannya sudah kembali stabil, tidak ada yang gawat dengan kandungannya,” jawab Dokter Shin, lalu mengulang penjelasannya tadi kepada pria itu namun dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh kalangan dokter.

“Kalau begitu kau boleh kembali, biar aku yang tangani selanjutnya.”

Dokter Shin mengangguk lalu pamit undur diri. Meninggalkan mereka yang kini menghadapi Kim Ki Bum. Pria itu, tidak perlu ditanya bagaimana suasana hatinya saat ini. Karena tidak hanya Soo Rin, Henry dan Sae Hee pun mulai was-was melihatnya.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Park Soo Rin?”

Benar, bukan? Dari cara bicaranya pun sudah menunjukkan jelas bahwa pria itu marah!

“Apa makanan itu sangat enak sampai-sampai kau lupa dengan kondisi tubuhmu sendiri, huh?”

H-Hyung…” Henry mencoba mengingatkan. Jujur saja dia sangat mengkhawatirkan noona-nya jika pria itu hilang kendali.

Oppa, Eonni sedang mengidam jadi wajar saja dia sampai lupa,” kilah Sae Hee mencoba membela kakak iparnya yang mulai ketakutan.

“Lupa?” Ki Bum beralih melotot pada Soo Rin yang sudah menciut di atas bangsal. “Kau tahu sendiri bahwa tubuhmu lemah dengan alkohol. Kau juga tahu bahwa saat ini kau harus mengurangi soda dan hal berbau pedas tapi—” Ki Bum menarik napas dalam, emosinya justru semakin naik, “apa kau lupa bahwa ada nyawa lain di dalam perutmu, huh?!”

“M-maaf…” Soo Rin mengaku, suaranya sudah bergetar karena menahan keinginannya untuk menangis. Dia mencoba untuk menahannya tetapi, melihat pria itu tampak marah padanya, ia menjadi semakin bersalah.

Hyung, hentikan!” Henry memeringati sekali lagi. Tangan-tangannya sudah merengkuh pundak noona-nya yang mulai terasa bergetar.

Oppa jangan terlalu kasar pada Eonni! Eonni sudah mengakui kesalahannya jadi jangan permasalahkan hal ini lagi!”

“Kau pikir ini sesepele sakit kepala? Soo Rin hampir celaka karena sudah melewati batas! Kenapa kau membiarkannya makan makanan seperti itu begitu saja?!”

“Jelas saja aku tidak bisa menghentikannya karena Eonni sudah menghabiskannya begitu kami datang!”

“Kenapa kau baru datang di saat Soo Rin sudah menghabiskannya?! Aku sudah pesan padamu untuk datang pagi-pagi, bukannya di saat Park Soo Rin sudah kesakitan!”

“Kenapa Oppa menjadi menyalahkanku?! Memangnya ini salahku, huh?! Sudah tahu Eonni sedang mengidam tetapi Oppa justru meninggalkannya sendirian di rumah! Sudah untung aku datang bersama Henry! Eonni bisa saja sekarat karena Oppa tidak ada di rumah!!”

“Jangan bertengkar…”

Kakak-beradik itu tampak adu pandang, menghentikan adu mulut mereka setelah isakan itu terdengar jelas. Soo Rin sudah menangis di pelukan Henry, adik sepupunya itu tidak bisa berbicara banyak melihat kakaknya semakin tampak bersalah seperti ini.

Hyung, sudahlah. Kasihan Noona. Apa Hyung tega membiarkan Noona merasa bersalah terus?”

“Lihat! Gara-gara Oppa, Soo Rin Eonni semakin kacau! Bukannya merasa tenang tetapi kedatangan Oppa membuat Eonni ketakutan seperti itu!” Sae Hee menarik kakaknya itu keluar dari bilik, menatap kesal pria yang masih tampak emosi itu dengan berani. “Oppa justru membuat keadaan Eonni memburuk! Jangan masuk lagi sebelum Oppa membenahi emosi sendiri! Pergi, sana!!”

Melihat bagaimana adiknya itu berani mengusirnya, cukup membuat Ki Bum terpana. Ia memejamkan rapat-rapat, menjumput rambutnya kasar seraya mengumpat di dalam hati. Baiklah, dia akui bahwa tindakannya salah. Dia terlalu khawatir hingga tanpa sadar membuat Soo Rin ketakutan seperti itu. Padahal dia sedang mengandung tetapi Ki Bum justru bertingkah seperti ini.

Ya, Park Soo Rin, tengah mengandung buah cintanya bersama Kim Ki Bum dan masih dalam jangka trimester pertama. Itulah mengapa, pria itu menjadi sensitif jika sesuatu terjadi pada gadis kesayangannya itu.

****

Eonni, maaf, ya. Aku sudah membuat keributan.” Sae Hee baru menyesalinya setelah berhasil meredakan tangis Soo Rin. Perempuan itu sudah kembali tenang dan Henry bisa melepasnya. Sedari tadi kekasihnya itu terus saja membujuk kakak sepupunya itu dalam dekapan.

Soo Rin mengusap matanya yang basah dengan punggung tangan, mencoba tersenyum. “Aku hanya ingin makan, tapi justru tindakanku membuat panik banyak orang,” gumamnya mengeluh. “Maafkan aku…”

Eii! Jangan merasa bersalah lagi, Noona!” sergah Henry. “Kami juga minta maaf karena datang terlambat. Kalau saja kita datang lebih pagi, pasti kita bisa membantu Noona menghabiskan makanannya,” ujarnya sambil memandang Sae Hee, memberi kode.

“Ya, benar, Eonni! Aku juga suka kulit ceker ayam panggang! Seharusnya kita bisa makan sama-sama!” Sae Hee memamerkan cengirannya.

Soo Rin menunduk lesu, matanya meratapi perutnya yang masih belum terbentuk, diusapnya bagian tersebut dengan kasih, “Maaf, Eomma sudah menyakitimu, ya? Appa pasti sangat khawatir padamu.”

“Tentu saja Appa khawatir. Apalagi pada eomma-mu. Makanya Appa marah-marah,” celetuk Henry disertai kekehan pelan yang langsung mendapat cubitan dari Sae Hee.

“Tapi tenang saja, Imo sudah menegur appa-mu agar tidak memarahi Eomma lagi. Jadi jangan takut lagi jika kau merasa lapar, ya?” Sae Hee ikut mengelus perut sang kakak ipar, tersenyum manis, “Imo ingin sekali melihatmu datang dalam keadaan sehat! Nanti Imo akan mengajakmu makan apa saja bersama Henry Samchon!”

“Oh, astaga … sebentar lagi aku akan menjadi Samchon! Bagaimana ini? Aku akan memiliki keponakan!”

Soo Rin tertawa melihat tingkah adik-adiknya ini. Bersyukur rasanya dia ditemani. Mengangkat mood-nya yang sempat anjlok menjadi bersemangat di hari ini. Kabarnya Soo Rin hanya perlu menghabiskan satu botol cairan infus sebelum diperbolehkan pulang. Itu berarti sekitar satu jam lagi dia bisa turun dari bangsal ini. Setidaknya dia sudah merasa membaik dan tidak merasa gugup untuk bertemu dengan Kim Ki Bum nanti.

“Aku justru merindukan Kim Ki Bum…”

Gumaman pelan itu berhasil menarik perhatian keduanya, saling melempar pandang sebelum menatap Soo Rin penuh arti.

****

“Suatu perkembangan yang amat bagus. Anda bisa langsung pulang setelah ini.”

Soo Rin tersenyum senang mendengar ucapan Suster Jung. Suster yang masih diingat baik olehnya karena pernah merawatnya yang habis terkena usus buntu dulu. Ia kembali bersyukur karena terus ditemani oleh orang yang dikenalinya.

“Saya terkejut mendapat kabar bahwa Anda masuk rumah sakit lagi tapi karena gangguan kandungan. Apakah hanya saya yang belum tahu bahwa Nyonya Kim ini sudah memiliki calon keturunan?”

Soo Rin tersipu mendengar godaan Suster Jung, ia terkekeh malu seraya memegangi perutnya. “Memangnya Dokter Kim tidak pernah memberi tahu kabar ini?”

Eii, Anda seperti tidak tahu Dokter Kim saja,” kekeh Suster Jung sembari membereskan peralatan medis yang baru saja dikenakan. “Mungkin dia baru akan memberi tahu jika Anda sudah mau melahirkan,” lanjutnya dibumbui cibiran yang justru membuat Soo Rin tertawa.

“Maaf. Aku sendiri bingung bagaimana memberi kabar ini padamu.”

“Tidak apa-apa. Asalkan Anda selalu sehat dan menjaga kandungannya dengan baik, itu sudah merupakan kabar baik untuk saya.” Suster Jung tersenyum lembut, mengucapkan, “Selamat, Park Soo Rin-sshi. Anda semakin sempurna saja menjadi Nyonya Kim.”

Dan Soo Rin semakin tersanjung dibuatnya. Pipinya semakin merona hingga ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi. “Terima kasih, Suster Jung.”

.
.
.

“Saya sempat melihatnya menuju ke ruangannya. Mungkin sekitar lima belas menit yang lalu dan belum keluar lagi.”

Pesan terakhir dari Suster Jung mengantarkan Soo Rin kemari. Setelah mendapat izin dari Dokter Shin bahwa ia sudah bisa bergerak leluasa, Soo Rin langsung membawa diri ke tempat ini. Berhenti di depan pintu ruangan yang sangat dihapalnya.

Tanpa mengetuknya terlebih dulu, Soo Rin langsung membukanya dan melongokkan kepala ke dalam. Benar saja, pria itu ada di dalam dan tampak termangu di kursi kebesarannya.

“Dokter Kim?”

Mendongak, Ki Bum mengerjap cepat mendapati Soo Rin ternyata menemuinya. Langsung saja ia berdiri begitu Soo Rin masuk dan menutup pintu, menghampirinya.

“Apa kabarmu, Dokter Kim?” Soo Rin memberikan senyum lebarnya yang justru membuat pria itu terpana. “Aku sudah membaik jadi bisa datang kemari,” ujarnya kemudian menepuk pelan perutnya, “dan menyapa si calon Appa. Hehe!”

Ada perbedaan yang hampir Ki Bum lupakan. Park Soo Rin-nya akan berubah lincah jika mood-nya membaik, berkat dorongan nyawa lain di dalam perutnya. Seharusnya dia merasa senang karena hormon dalam diri Soo Rin begitu bagus. Hanya saja…

Ki Bum mengikis jarak yang ada demi merengkuh tubuh Soo Rin, memeluknya penuh rasa tanpa perlu menekannya yang bisa berdampak pada perut si kesayangan. Ia menghirup feromon kesukaannya di balik surai panjang Soo Rin yang berhasil menenangkannya.

“Kim Ki Bum, ada apa?” suara Soo Rin sedikit teredam di balik dada pria itu. Tangan-tangannya sudah melingkar di bagian pinggang pria itu meski sedikit ragu. Kemudian ia mendengar adanya helaan napas panjang di atas kepalanya.

“Maaf. Amarahku tidak terkendali tadi.” Ki Bum menyesalinya. Dia sadar betul bahwa perbuatannya sudah kelewatan, meski tahu bahwa niatnya adalah baik, tapi tidak seharusnya ia memenangkan emosi sendiri hingga membuat kesayangannya menangis seperti tadi.

“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Kau pasti sangat mengkhawatirkannya, karena aku sudah ceroboh.” Soo Rin tersenyum, ia pun menyamankan diri di dalam lingkaran prianya. “Aku juga minta maaf karena sudah mengidam yang tidak-tidak. Eung … tadi itu, aku tidak sengaja melihatnya di televisi dan aku langsung membelinya. Ternyata sangat enak, jadi…”

Ki Bum melepas pelukannya, memandang wajah cantik kesayangannya penuh keteduhan. “Seharusnya aku tidak berangkat ke rumah sakit pagi tadi.”

Soo Rin menggeleng pelan. “Bagaimana pun tugasmu selalu menunggumu. Sebenarnya aku tidak apa-apa.”

“Dan bagaimana pun kau adalah prioritasku.” Ki Bum menghela napas berat. “Kau tidak tahu bahwa aku semakin sensitif sejak Aegi ada di dalam sana.”

“Itu berarti Kim Ki Bum adalah Appa yang baik!” cengiran menggemaskan itu terpatri di bibir Soo Rin.

Memancing Ki Bum untuk membelai sisi wajahnya dengan punggung tangan. Ikut tersenyum. “Tapi aku justru terlalu mengkhawatirkanmu, Soo Rin-ah. Kau adalah bayangan yang pertama kali muncul begitu aku mendapat kabar itu,” Ki Bum melirik ke bawah, “kau itu masih prioritas utamaku,” lanjutnya pelan.

Kemudian bibir Soo Rin berubah mengerucut. “Heol, kau dengar itu? Appa justru mengkhawatirkan Eomma dibanding dirimu. Kau pasti cemburu, bukan? Mau Eomma bantu memukul Appa?”

Monolog Soo Rin membuat Ki Bum mendengus sebelum terkekeh pelan. Gadisnya ini, ya … meski sudah menjadi calon ibu, Ki Bum masih menganggap Soo Rin sebagai gadisnya, gadis kesayangannya. Dan Ki Bum merasa senang melihat betapa cerewetnya Soo Rin semenjak memiliki nyawa lain di dalam perutnya. Apalagi, bagaimana semangatnya Soo Rin menyebut mereka berdua sebagai Appa dan Eomma, sudah cukup menggambarkan betapa bahagianya Soo Rin akan hadiah Tuhan ini.

“Bagaimana jika Appa menciummu saja? Supaya tidak cemburu.” Ki Bum mengucapkannya sembari merengkuh perut Soo Rin, melirik si kesayangan yang sudah memicing padanya.

“Benarkah?”

Ki Bum mengangguk yakin.

“Kalau begitu, silahkan! Aegi menunggu dengan senang hati!” Soo Rin menepuk perutnya pelan, namun sarat akan antusiasme.

Hingga akhirnya Ki Bum memberikan kecupan di pipi Soo Rin, cukup membuat si kesayangan terdiam. “Itu untuk Aegi,” ujar Ki Bum kalem. Kemudian, memberikan kecupan lagi, kini di candunya dengan lembut, “Dan itu untuk Eomma,” lanjutnya, dengan senyum penuh kasih.

Tidak disangka bahwa Soo Rin akan ikut tersenyum, begitu lebar hingga memamerkan deretan giginya. “Aegi sangat menyukainya!”

“Benarkah?” alis Ki Bum berjingkat, “Aegi atau Eomma, yang menyukainya, hm?”

“Dua-duanya! Hehehe!” Soo Rin terkekeh kesenangan sembari membalas pelukan prianya. “Appa jangan marah lagi. Aegi berjanji tidak akan membuat Appa khawatir lagi. Ya?”

Arasseo.” Ki Bum tidak tahan lagi, mencium kening berponi Soo Rin dan berlama-lama di sana. Melepas rasa gemas juga sayangnya yang semakin dan semakin besar.

Lihat bagaimana berbedanya Soo Rin, bukan?

Tapi Ki Bum justru menyukainya, amat sangat menyukainya.

tumblr_nan85fxrls1sl5bwgo9_500

F I N


aku pernah nonton acara foodtrip-nya Korea, ada yang namanya kulit ceker ayam panggang. Jadi itu ceker ayam tapi tanpa tulang alias cuma kulitnya, dicampur sama bubuk cabai, soda bahkan alkohol, habis itu baru dipanggang. Mungkin rasanya kayak ayam panggang kebanyakan. Tapi mengingat isi campurannya, lumayan buat bahan cerita kisukisu versi ini hehehe

Dan atuhlah maafkan aku ya tiba-tiba bikin cerita absurd ini huhuhu

Jadi tuh aku pernah dicurhatin salah satu reader kalo kakaknya lagi hamil terus masuk rumah sakit gegara makan sembarangan, suaminya sampe marah-marah bahkan dia juga kena marah, dan entah kesambet apa dia malah nganggep suami si kakak itu kayak kimkibum aja hihihi Aku udah janji mau bikinin ceritanya buat dia, tapi malah baru kesampean sekarang huhuhu maafkan aku yaa 🙇🙇 bahkan ini ceritanya….niatnya mau apa malah jatuhnya begitu atuhlah maafkan aku ya ini ga jelas banget hiks… 😭😭

ini mah sesekali aja bikin kisukisu kayak gini. Bisa liat sendiri kan, masih kagok beneran deh, bikin cerita genre ini huhuhu kenapa banyak penulis yang bisa nulis cerita genre ini sedangkan aku ngga, ya? 😫😫

Jadi tolong maklumi aja ya.. Anggap aja ini sebagai selingan mumpung belum bisa lanjutin Whatta Man hehehe

yaudah sekian dan terima kasih ya~

150313-henry1
Henry!
tumblr_m70d6pmsjc1rx9kqio1_500
Sae Hee !!

btw HenHee comeback!! meski cuma jadi cameo sih HEHEHE 😆😆😆

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

18 thoughts on “Poor and Sweet

  1. wah soo rin bener2 berubah 180 derajat ya. bisa lebih terbuka sm gak malu2 lg dekat2 ki bum. ku rasa aku jg lebih suka soo rin yg kaya gini.hehehe

  2. Wah ini wajib dilanjut >< eoni keyen banget

    Akhirnya mereka udah punya baby ahhh gak sabar liat baby kim :v

    Tapi masih kurang nganu? Eh ahahahah :v efek kisukisu

  3. Panik yahh awalnya duh Soo Rin nih ceroboh banget deehh ..
    Bayangin Ki Bum marah ke Soo Rin ko aku malah ketawa yah bukan takut haha .. muka aja kalem hati mah gegana ya si Om hha
    HenHee ugh kapan ada story tentang mereka lagi wkwk .. semoga di whatta man ada mereka hha

  4. akhir ny da lg crta yg soorin lg hamil.. 😁😁😁
    bsa diabetes nih klo sring2 bca crita yg mnis kya gni.he3x…
    lg dong sist yg kya gni 😆😆😆
    kgn crita ny henhee 😄
    yg long long shoot.ha3x
    dtunggu krya yg lain ya sist
    fighting 😉

  5. jadi soorin udah ami nih critanya…… selamat menjadi appa dan eomma.
    soo rin udah gk gampang malu lagi deket2 sama kibum, apa ini karena pengaruh dari kehamilannya ya….. makin gemes sama mereka berdua

  6. Akhirnya, setelah sekian lama menunggu moment ini, ditunggu kelanjutan dari moment ini 😉
    Bentar lagi panggilannya berubah jadi appa eomma….

  7. akhirnya,moment ini muncul juga,hehehe…

    itunggu kelanjutan dari moment ini,…
    Panggilannya jadi berubah eomma appa
    Gak sbar si junior muncul 😀

  8. Apa ituh appa kibum soorin eomma hhhh gk pantes bgt sumpah jangan dululah bikin keki yakin apa lg pas soorin yg bilang hadohh mpe sakit perut saya’a

  9. asdjshagajaklkjhsh
    they are gonna be a mommy and daddy huhu so cute!! ><
    i wanna see the little kim kibum very soon author-nim ♡♡♡

  10. eyy.. ini yg aku tunggu” loh kekekek 😁😁
    kalau bisa dilanjutin kak muehehe, ini udah bagus ko kak jadi kedepannya pasti lebih bagus lagi cerita tentang aegi luculucu. hehe

    파이팅 lopelope😚😳😳

  11. Menurutku ini cerita paling manis dari kisukisu couple, mungkin efek kehamilannya SooRin jadi dia terbuka dan ga malu2 lagi sama Ki Bum
    Chukkae Appa Eomma yang mau punya aegi, ditunggu kelahiranya 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s