Posted in Adult, Campus Life, Friendship, KiSoo FF "WHATTA MAN", PG-17, Romance

WHATTA MAN – Just Started

wp-1472663254420.jpeg

Adult, Campus Life, Friendship, Romance

PG-17 for harsh words

before :: Wild Class | Attention | Bad Man

I’m attracted to you and want you. What you gonna do?

H A P P Y    R E A D I N G

.


ELVABARI©2016

.

.

“KAU tidak apa-apa?”

Soo Rin tidak menjawab sebab memilih untuk menutup hidungnya yang terasa gatal. Dan baru terhenyak ketika tangan-tangan itu mengangkat wajahnya hingga kini pandangan mereka bertemu.

“Berhati-hatilah dalam bertindak di tempat semacam ini, Park Soo Rin. Kau hampir mencelakai dirimu sendiri.”

Mulut Soo Rin terbuka hendak bicara, tetapi pria itu seperti tidak memberinya kesempatan.

“Karena jika itu terjadi, aku tidak akan diam saja.”

Eh?

Apa maksud dari ucapannya?

“Ada apa ini?”

Atensi mereka teralihkan begitu mendapati petugas perpustakaan sudah datang. Pria berusia empat puluhan itu terperangah melihat kondisi di depan matanya.

“Ya ampun, kenapa bisa begini?!” pria paruh baya itu memberikan tatapan menuduh pada keduanya yang langsung disadari Soo Rin.

“Itu…” Soo Rin tergeragap, buru-buru ia membungkuk merasa bersalah, “Maafkan aku. Aku tidak berhati-hati—”

“Kau pikir ini salah siapa?”

Soo Rin langsung menoleh, memberi tatapan peringatan pada Kim Ki Bum yang ternyata sudah memandang tajam pria paruh baya itu.

“Rak buku ini hampir lapuk karena jarang dirawat. Kau lihat ini?” Ki Bum menarik rak yang sudah anjlok itu hingga terlepas begitu mudahnya. Kemudian melakukan hal sama di bawahnya sampai Soo Rin menahan napas karena melihat bagaimana itu bergoyang. “Ini bisa copot kapan saja dan melukai pengunjung yang kebetulan datang kemari seperti dia,” lanjutnya sambil melirik Soo Rin.

Pria paruh baya itu tampak termenung. Tangannya ikut memeriksa seperti yang dilakukan Ki Bum barusan. Kemudian mendesah gusar.

“Ditambah tempat ini seperti gudang. Bagaimana pun ini masih menjadi perpustakaan meski tempatnya menjorok ke dalam. Seharusnya kau rutin memeriksa ruangan ini sama seperti yang lainnya.”

“Maafkan saya. Ini adalah keteledoran kami sebagai petugas. Saya akan pastikan kejadian ini tidak akan terulang lagi,” pria itu membungkuk tanda maaf pada keduanya.

“T-tidak, tidak apa-apa! Aku juga minta maaf karena tidak hati-hati!” Soo Rin kembali membungkuk dalam. “A-aku akan membereskannya!”

“Kau bercanda?” Ki Bum menarik Soo Rin yang mulai bergerak untuk mundur kembali. “Itu bukan tugasmu jadi biarkan saja.”

“Ini terjadi karena ulahku,” desis Soo Rin tidak suka, “bahkan kau juga bertanggung jawab,” lanjutnya menggumam sambil melepas cekalan pria itu lalu mulai membantu si petugas memungut buku-buku yang berserakan.

“Ah, tidak perlu, Nona! Biar saya saja yang membereskan!”

“Tidak apa-apa. Ini juga salahku.”

“Kalau begitu kumpulkan saja di dekat Nona, nanti saya akan panggilkan petugas lainnya untuk membereskan.”

“Aku mengerti.”

Melihat pemandangan itu, Ki Bum menggaruk belakang kepalanya, mendengus pelan sebelum akhirnya berjongkok. Ikut memungut buku-buku lainnya. Well, bagaimanapun dia memang bertanggung jawab akan masalah ini karena sudah menahan Park Soo Rin dengan cara seperti tadi.

****

Soo Rin menghempas dirinya tepat di sebelah Sandara. Menghela napas panjang nan berat di depan teman-temannya itu sambil meraih segelas minuman yang sudah dipastikan untuknya.

“Ada apa dengan ekspresi itu? Kenapa kau tampak lusuh?” Sandara lah yang bersuara sambil mengernyit heran.

“Kenapa pula kau baru datang? Kau ke mana saja, sih?” Lisa ikut bersuara dengan bibir bawah dimajukan.

“Aku baru saja terkena musibah,” jawab Soo Rin seadanya setelah berhasil membasahi tenggorokannya.

“Apa?”

“Musibah apa?”

Soo Rin menghentak napas lagi. “Aih! Kenapa aku harus bertemu dengan dosen menyebalkan itu lagi, sih? Dia itu selalu saja membuatku kesal bukan main karena selalu saja memergokinya yang… ough!”

Baik Lisa maupun Sandara saling melempar pandang. Bingung dengan tingkah Soo Rin saat ini. Tidak biasanya melihat Soo Rin yang terkenal tenang menjadi Soo Rin yang mendumal tidak jelas seperti sekarang.

“Dosen siapa yang kau maksud?” Lisa bertanya hati-hati.

Sedangkan Soo Rin harus berdecak jengah. “Apa kalian tahu Dosen Kim? Dia itu ternyata pria brengsek!”

Kini keduanya terkejut mendengar Soo Rin baru saja berkata kasar.

“Hei, kau ini kenapa, Soo Rin-ah? Memangnya Dosen Kim yang mana yang kau sebut begitu?” Sandara mencoba menenangkan.

“Kim Ki Bum. Kalian tahu? Dia itu ternyata senang bermain dengan banyak wanita. Aku bahkan memergokinya sedang menggoda Dosen Hwang di perpustakaan tadi dan aku tidak bisa menahannya! Dia itu benar-benar!” Soo Rin kembali meraih minumannya, meneguknya hingga tandas. Terlihat sekali napasnya yang terengah karena emosinya saat ini.

“Astaga, Park Soo Rin…” Lisa menggeleng-geleng prihatin. “Apa kau tidak tahu? Dosen Kim itu memang sering berhubungan dengan banyak wanita. Kau tahu sendiri bagaimana pesonanya yang selalu menarik perhatian banyak perempuan termasuk para mahasiswi,” Lisa mencondongkan tubuhnya hingga ia mudah mengecilkan suara, “dan bukan rahasia umum lagi jika banyak mahasiswi yang rela menyerahkan tubuhnya untuk Dosen Kim.”

MWO?!” pekikan Soo Rin berhasil membuat Lisa terlonjak mundur seperti Sandara, juga berhasil menarik perhatian beberapa penghuni di kantin ini. “Kau pasti bercanda!!”

Eii, itu memang terjadi!” Sandara menyahut. “Para mahasiswi senior, sudah banyak yang mencoba menggoda Dosen Kim. Hanya agar mereka mendapat nilai bagus di mata kuliahnya. Tapi tetap saja, Dosen Kim lebih banyak menolak daripada menerima.”

“Jadi maksudmu memang ada mahasiswi yang mendapat nilai bagus darinya dengan jalan pintas seperti itu?!”

Sandara tampak berpikir. “Aku rasa tidak,” jawabnya ragu. “Dosen Kim itu termasuk pria pemilih. Mungkin sebenarnya dia lebih menyukai wanita yang setara dengannya, seperti Dosen Hwang misalnya?”

“Itulah mengapa aku tidak suka dengan Dosen Hwang. Selain dandanannya yang menor, dia itu sering sekali menggoda Dosen Kim, bahkan pria tampan yang lain pernah digoda olehnya. She is a real bitch, you know?” Lisa mengatakannya menggebu-gebu.

Soo Rin yang mendengarkan, harus menganga tidak percaya. Heol, jadi selama ini dia ke mana saja? Tidak tahu menahu soal kabar semacam ini? Padahal teman-temannya tahu. Apa kegilaannya dengan buku membuatnya ketinggalan jaman seperti ini?

“Tapi dia ‘kan sudah menikah. Kenapa dia tega menduakan istrinya dengan bermain-main dengan banyak wanita?!”

“Menikah apanya? Dosen Kim itu masih melajang!” bantah Lisa seolah tidak terima.

“Tapi aku melihatnya bersama anak dan istrinya ketika aku tidak sengaja bertemu dengannya di toko buku kemarin!”

Sandara tertawa pelan, menepuk-tepuk lengan Soo Rin pengertian. “Sepertinya kau sudah salah paham. Aku rasa itu adiknya yang sudah memiliki anak. Dosen Kim pernah membawa mereka ke kampus ketika acara pentas seni tahun lalu dan menglarifikasikan bahwa dia datang bersama adiknya yang sudah menikah lebih dulu.”

“Itu dia!” Lisa membenarkan dengan jentikan jari. “Itulah mengapa, jangan terlalu fokus dengan buku-bukumu, Soo Rin-ah. Lihat akibatnya, kau menjadi tidak tahu dengan kondisi di sekitarmu dan berakhir dengan kesalahpahaman seperti ini,” tegurnya kemudian yang seketika membuat temannya itu cemberut.

Aisshi!” Soo Rin mendesis kesal. Tingkahnya itu justru membuat dua temannya terkikik geli. Kapan lagi melihat seorang Park Soo Rin tersulut emosi seperti sekarang?

“Tapi kau harus berhati-hati, Soo Rin-ah,” tiba-tiba Sandara bicara serius.

“Hati-hati dengan apa?” Soo Rin mengernyit bingung.

“Jika kau bertemu dengan Dosen Kim, lebih baik kau menjauh. Karena sekalinya kau ikut campur dengan kehidupannya meski barang sedikit, kau akan sulit untuk lepas darinya.”

Soo Rin mendengus geli. “Heol, peringatan macam apa itu?”

“Aku serius!” Sandara cemberut sesaat. “Jika kau berurusan dengannya, kau akan sulit untuk menjauh. Dosen Kim itu seperti memiliki kekuatan magis yang bisa membuat siapa saja akan kembali padanya jika bukan dia sendiri yang mematahkannya. Jadi lebih baik, kau cukup menemuinya sebatas untuk urusan kuliah, bukan yang lain! Kau mengerti?”

“Sekali pun kau mengaguminya, lebih baik kau mengaguminya dari jauh. Karena dia juga ahlinya dalam membuat wanita patah hati. Jangan pernah berharap untuk bisa menyentuh hatinya yang terlalu dalam terkubur berkat sifatnya itu. Dan jika kau tidak sengaja memergokinya dengan wanita lain, biarkan saja!” sambung Lisa tidak kalah seriusnya.

Soo Rin memutar bola matanya. Merasa ucapan teman-temannya itu sangatlah konyol. Mana ada istilah kekuatan magis di dalam diri dosen itu? Memangnya si dosen itu penyihir? Semacam jelmaan Harry Potter, begitu? Buktinya saja Soo Rin lebih sering merasa kesal dengan tingkah pria yang ternyata dikenal sebagai penggoda kaum hawa itu. Bukankah itu berarti Soo Rin tidak mempan dengan pesona pria itu?

Jadi, tidak ada yang perlu dia khawatirkan jika seandainya kembali bertemu dengan pria itu. Tapi jika perlu, lebih baik Soo Rin tidak pernah bertemu lagi dengan Kim Ki Bum selain di kelas mata kuliahnya.

****

Kelas terakhir di hari ini selesai juga. Setelah Dosen Jeon keluar dari ruangan, para mahasiswa menyusul keluar, menyisakan beberapanya termasuk Soo Rin juga dua temannya.

Di saat sedang mengobrol sambil membereskan peralatan, datang pemuda yang mendekati Soo Rin dan langsung duduk di depannya, cukup mengejutkan gadis itu karena begitu tiba-tiba.

“Aku mengejutkanmu? Maaf.” Hong Ji Soo memamerkan cengirannya yang sebenarnya sebuah ringisan pelan.

Aih, kau ini. Ada apa?” Soo Rin menegakkan tubuhnya.

“Mengenai tugas kelompok dari Dosen Kim, kapan kita akan mengerjakannya?”

“Oh, astaga!”

Ji Soo memicing melihat reaksi Soo Rin. “Jangan bilang kau lupa.”

“Aku memang melupakannya! Ya ampun! Kapan itu harus dikumpulkan?”

“Lusa.”

“Ya ampun… bagaimana ini?!” Soo Rin mulai ketar-ketir, ia bahkan menggeledah isi tasnya, “Aku bahkan tidak membawa modulnya.”

“Aku bawa.” Ji Soo mengacungkan buku di tangannya. “Aku juga membawa laptop jika kau ingin mengerjakannya sekarang.”

“Itu memang harus dikerjakan sekarang! Aah, ini juga karena aku jarang menemuimu jadi lupa dengan tugas kelompok kita! Ya sudah, kau mau mengerjakannya di mana?”

Ji Soo terkekeh pelan mendengar dumalan Soo Rin. “Di perpustakaan saja. Kita bisa sekaligus mencari bahan materi lainnya di sana.”

“Kalau begitu aku dan Lisa pergi dulu. Kita juga belum mengerjakannya.” Sandara menginterupsi. Buru-buru ia bangkit dari duduk bersama Lisa, menarik temannya itu pergi.

“Sampai jumpa lagi, Soo Rin-ah! Ya, Hong Ji Soo, jangan kau apa-apakan temanku!” seru Lisa yang membuat dua orang itu bereaksi.

“Konyol sekali,” gerutu Soo Rin yang justru membuat Ji Soo merasa geli.

“Kalau begitu, ke perpustakaan sekarang?” ajak Ji Soo disertai senyum ramahnya.

Soo Rin mengangguk setuju seraya bangkit dari duduk. “Ayo!”

Begitu keduanya keluar, suara desas-desus yang berasal dari tiga orang perempuan di sudut ruangan ini kembali terdengar.

Heol, lihat dia! Dengan mudahnya menarik perhatian Hong Ji Soo. Apa bagusnya dia?!”

“Dia hanya seorang kutu buku. Cantik pun tidak, tapi bagaimana bisa Ji Soo mau dekat-dekat dengannya?”

“Jangan-jangan Hong Ji Soo sudah dimantrai hingga mau-maunya saja mendekati si kutu buku itu.”

“Jelas-jelas di sini ada yang lebih cantik! Bagaimana bisa Ji Soo mau berkelompok dengan si buruk rupa itu?”

“Lihat saja nanti. Park Soo Rin akan mendapat ganjarannya!”

.
.
.

Ji Soo baru saja kembali dengan membawa beberapa buku di lengannya, meletakkannya di meja dekat Soo Rin yang tengah serius mengetik tugas kelompok mereka. Pemuda itu ikut duduk di sebelah Soo Rin dan mulai membuka salah satu buku untuk ia cari materi tugas mereka.

Soo Rin tampak fokus mendengarkan penjelasan Ji Soo yang tengah mengambil poin-poin dari buku yang sempat dibacanya, jemarinya ikut bekerja menyalin penjelasan Ji Soo dengan rapi. Itulah mengapa Soo Rin senang sekali bekerja sama dengan Ji Soo. Pemuda itu memang pandai merangkai kalimat dengan gaya bahasanya sendiri soal materi yang dibacanya dari buku seperti sekarang ini. Hitung-hitung Soo Rin juga bisa belajar dari cara berpikir Ji Soo yang tergolong mudah dipahami.

“Kau lelah?”

“Oh? Tidak.” Soo Rin menggeleng. Sepertinya Ji Soo baru saja memerhatikan dirinya yang tengah mengibaskan tangannya karena pegal.

“Biar aku yang melanjutkan.” Ji Soo menarik laptopnya dari hadapan Soo Rin, giliran dirinya yang memandangi layar tersebut.

Soo Rin menurut saja. Hitung-hitung mengistirahatkan diri. Tapi di saat ia mulai fokus dengan buku-buku pilihan Ji Soo tadi, bunyi aneh itu tidak bisa dihindari lagi. Memancing keheningan sejenak yang membuat mereka tanpa komando saling melempar pandang, kemudian Soo Rin menunduk malu begitu melihat Ji Soo yang tengah menahan tawa.

Aih, dasar perut! Tidak bisakah dia tahu situasi bahwa Soo Rin sedang tidak ingin menunda tugas ini?! Memalukan sekali!

“Kenapa kau tidak bilang jika kau lapar?”

“Aku masih bisa menahannya. Perutku saja yang terlalu manja sudah merengek minta diisi,” gerutu Soo Rin yang memancing Ji Soo untuk menyemburkan tawa walaupun kecil.

“Kau ini. Itu adalah sinyal positif, Park Soo Rin. Dia memberi tahu bahwa tenagamu hampir habis jadi ada baiknya kau segera mengisi ulang.” Ji Soo mencondongkan tubuhnya pada Soo Rin, melanjutkan, “Jika tidak segera diisi, dia pasti akan marah dan tidak akan membiarkanmu berpikir untuk menyelesaikan tugas ini.”

Ya, kau pikir aku ini anak kecil yang perlu ancaman dalam bentuk dongeng seperti itu?”

Ji Soo tersenyum geli melihat Soo Rin yang sudah mengumbar raut kecutnya. “Setidaknya itu masih masuk di akal, bukan? Suatu kenyataan bahwa kau tidak akan bisa berkonsentrasi jika kondisi perutmu sedang kosong,” jelasnya sambil menegakkan tubuh. “Sudahlah, ini sudah lebih dari setengah pekerjaan. Aku rasa kita bisa menyelesaikannya besok.”

Soo Rin memeriksa jam pada ponselnya. “Heol, ternyata kita sudah mendekam di sini tiga jam lamanya.”

“Maka dari itu.” Ji Soo mengeluarkan fitur yang menampilkan tugas mereka setelah menyimpannya. “Kita masih bisa melanjutkannya besok. Mungkin hanya butuh satu jam lagi untuk bisa menuntaskannya. Bagaimana jika dikerjakan besok pagi sebelum kelas Dosen Park?”

“Ide bagus. Ya sudah, kita bertemu pukul tujuh di kampus.”

“Di sini?”

Soo Rin tampak berpikir, lalu berdecak. “Di kantin saja. Aku pasti tidak akan sempat sarapan di rumah.”

“Alasan macam apa itu?” dengus Ji Soo mencoba menahan tawanya. Gadis ini, entah mengapa terlihat unik dengan cara berpikir sekaligus bicaranya. Maka dari itu tangannya mulai menoyor pelan kepala unik itu dengan satu jarinya.

Jelas saja Soo Rin merespon dengan raut kecutnya. Tapi bagi Ji Soo itu adalah respon positif karena Park Soo Rin terlihat lucu dengan ekspresi yang baru dilihatnya itu.

“Biar aku saja yang mengembalikan ini. Kau bereskan saja barang-barangmu.” Soo Rin mengambil alih buku-buku yang hendak diangkat Ji Soo.

“Kau tahu tempatnya? Aku mengambilnya di rak belakang sana.”

“Itu urusan mudah.” Soo Rin mengedikkan kedua bahunya sambil berlalu.

Karena Soo Rin memang sudah hapal tempat ini mengingat dirinya yang sangat rajin hadir kemari, justru terlalu rajin. Jadi begitu Ji Soo menyebutkan posisinya meski tidak spesifik, Soo Rin tahu di mana pemuda itu mengambil buku-buku ini.

Begitu menemukan tempatnya, Soo Rin mulai mengembalikan buku-buku tersebut pada tempatnya. Mungkin tindakannya ini terlalu rajin mengingat kebanyakan mahasiswa yang singgah kemari akan meninggalkan buku yang sempat dipinjam di meja atau sekadar meletakkannya di tempat asal. Tapi Soo Rin sadar diri, hitung-hitung meringankan beban petugas perpustakaan.

Hanya saja, tinggal dua buku lagi, Soo Rin harus kesulitan akan salah satunya karena letaknya ternyata ada di bagian atas. Tinggi tubuh Soo Rin yang sebenarnya menyentuh 162 cm, juga tangannya yang sudah ia ulurkan sepanjang mungkin, tidak membantunya untuk bisa menjangkau tingkat yang dituju.

Sampai akhirnya muncul tangan lain yang mengambil alih, mengambil buku tersebut dari tangannya hingga spontan Soo Rin menoleh. Mata di balik kacamatanya terpaksa melebar melihat pria itu mengulurkan tangan panjangnya, tepat di sebelah Soo Rin hingga ia bisa melihat bagaimana tingginya pria itu yang mampu menjangkau tempat yang Soo Rin tuju.

“Jangan terlalu gengsi untuk mencari bantuan, Park Soo Rin.” Kim Ki Bum, dengan senyum manisnya meraih satu buku yang tersisa, memeriksa label dari buku tersebut yang ternyata disimpan di bagian lebih atas lagi. “Tidak semua pekerjaan bisa kau kerjakan sendiri,” tegurnya lagi.

Soo Rin memutar bola matanya. “Terima kasih kalau begitu,” ucapnya malas sambil berlalu dari sana. Namun ternyata pria itu tidak mengizinkannya untuk beranjak. Langsung saja Soo Rin melemparkan tatapan tidak sukanya, “Mwo ddo?!” (Apa lagi?)

Ssh… apa kau tahu bahwa kau sedang menjadi incaran?” desis Ki Bum yang membuat Soo Rin mengernyit.

Gadis itu mendengus jengah. “Aku tidak punya waktu untuk main-main, Dosen Kim!” tandasnya menekan dua kata terakhir. Dia hampir berhasil melewati pria itu ketika tubuhnya harus kembali didorong hingga punggungnya bertemu dengan mulut rak.

Soo Rin harus merasa tidak mengerti dengan cara Kim Ki Bum menatapnya kini. Juga harus merasa tidak mengerti dengan reaksi tubuhnya yang terasa aneh. Apa ini semacam pengaruh dari tatapan pria itu yang juga tampak aneh?

“Kau terlalu dekat dengan pria itu, kau sadar itu?”

Kerutan di keningnya kembali tampak. Pria itu? “Hong Ji Soo?”

Dan Soo Rin harus tertegun mendengar adanya geraman tertahan yang begitu halus dari mulut terkatup Kim Ki Bum. Sebenarnya ada apa dengan pria ini?

“Aku dan Hong Ji Soo sedang mengerjakan tugas kelompok, jadi apa masalahnya?”

“Itulah masalahnya.”

Detik berikutnya, Soo Rin tidak bisa mempersiapkan diri karena pria itu tanpa aba-aba menarik tangannya, menggiringnya ke ujung dari rak ini di mana sudut ruang luas ini berada. Mata Soo Rin melebar kala Kim Ki Bum mendorongnya masuk ke dalam celah ruang yang tersisa dan reflek kedua tangannya terangkat, membuat jarak dengan mendorong dada yang bidang itu karena tiba-tiba menghimpitnya. Otak Soo Rin mendadak blank akibat posisinya yang sungguh tidak menguntungkan ini.

Apa yang dilakukan pria ini? Di tempat yang terlalu sempit begini, mau apa pria ini?

“Kau—”

Ssh…

Soo Rin menahan napas, lebih tepatnya merasa tercekat. Dia tidak tahu sejak kapan suara pria itu sudah berada tepat di dekat satu telinganya. Terpaan itu, hembusan napas teraturnya yang terlalu hangat, sukses besar membuat tubuh Soo Rin menegang.

Better you keep silent and hear that.” (Lebih baik kau diam dan dengar itu.)

Lagi, bisikan itu menerpa telinganya. Sekujur tubuhnya merinding memberikan sinyal reaksi yang tak biasa. Apalagi, bagaimana tubuh menjulang itu mengungkung dirinya hingga membuat dirinya begitu kecil di tempatnya. Di tempat sempit seperti ini. Membuat udara di sekitarnya pengap dan dia membutuhkan pasokan oksigen!

“Ke mana dia? Bukankah tadi dia datang kemari?”

“Kau yakin Park Soo Rin ke bagian sini?”

“Aku sangat yakin! Aku mengawasinya sejak tadi.”

Eh?

S-siapa? Siapa mereka?

Kenapa mereka mencari dirinya? Ada urusan apa mereka mencari dirinya beramai-ramai seperti itu? Jika didengar-dengar, mereka adalah tiga orang perempuan, bukan? Tapi siapa?

“Tidak mungkin dia menghilang begitu saja.”

“Jika dia bisa menghilang itu berarti memang benar bahwa dia sudah memantrai Hong Ji Soo, bukan?”

“Oh, ayolah! Kau pikir di jaman modern seperti ini ada yang namanya mantra?”

Aisshi! Padahal aku sudah tidak tahan untuk memberi pelajaran padanya! Kalian lihat tadi, bukan, bagaimana Hong Ji Soo begitu dekat dengannya? Dia bahkan rela menunggu gadis jelek itu di sana!”

“Dia memang harus diberi peringatan untuk tidak seenaknya mendekati Ji Soo!”

“Sudahlah, kita cari ke tempat lain saja.”

Seiring dengan kepergian orang-orang itu, Soo Rin menelan saliva kepayahan. Dia menyadari satu hal bahwa, dia memiliki musuh hanya karena seorang Hong Ji Soo? Lelucon macam apa ini? Apa mereka tidak memiliki kerjaan sehingga ingin merecoki dirinya hanya demi Hong Ji Soo?

Memang apa salahnya dia dekat dengan Ji Soo? Dia sendiri hanya menganggap Ji Soo sebatas teman kuliah. Kenapa mereka begitu inginnya Soo Rin menjauh dari Ji Soo?

“Sekarang kau mengerti, bukan?”

Soo Rin mengerjap beberapa kali, sadar bahwa ia masih ditawan oleh pria di depannya. Matanya menyipit mulai menaruh curiga pada pria itu. “Dari mana kau tahu bahwa mereka sedang mengincarku? Siapa mereka? Apa aku kenal?”

“Mana dulu yang harus kujawab, hm?”

“Semuanya,” Soo Rin mulai gusar, “katakan padaku!”

Ki Bum sedikit menjalin jarak demi memandang wajah Soo Rin. “Masih ingat bahwa kau berada dalam pengawasanku, bukan?”

“Apa?” Soo Rin mendengus tidak percaya. “Maksudmu, kau menguntitku, begitu?”

“Secara frontal, ya, aku menguntitmu.”

Heol! Ya, kau ini tidak punya kerjaan, huh?!”

Ya? Kau berani memanggilku dengan ‘ya‘?”

“Apa itu penting bagimu di saat seperti ini, huh?”

“Kau sedang bicara dengan pria yang lebih tua, Park Soo Rin. Dan ini masih di lingkungan kampus, jika kau lupa itu.”

Soo Rin mencebik, mulai kesal. “Tapi ini bukan di waktu belajar-mengajar, Ahjusshi!” Soo Rin bisa melihat adanya kilat tidak terima di mata beriris hitam itu. Buru-buru ia menurunkan pandangannya dan mencoba mendorong tubuh kekar itu sambil berkata, “Jika kau tidak mau menjelaskannya padaku, lebih baik minggir dan biarkan aku pergi.”

Bukannya mengabulkan ucapan Soo Rin, pria itu justru kembali mendorong Soo Rin ke dalam, meletakkan satu tangannya di dekat kepala Soo Rin, menghapus jarak yang ada hingga Soo Rin kembali menahan napas karena wajah tegas itu mendekat.

“Aku sudah mengatakan bahwa kau harus mendengar apa yang dikatakan oleh pria yang lebih tua. Jangan menjadi gadis pembangkang apalagi denganku karena aku tidak suka dibantah.”

“A-atas dasar apa kau melarangku untuk membangkang padamu?” Soo Rin harus merutuki suaranya yang sedikit tergagap. Kenapa dia merasa gugup seperti ini? Dia tahu bahwa pria ini adalah dosennya yang seharusnya dia hormati, tapi… “Aku memiliki hak untuk memilih siapa yang pantas untuk aku patuhi dan siapa yang tidak. Dan kau, tidak ada yang perlu aku patuhi darimu selain di ruang lingkup perkuliahan karena selebihnya, kita hanyalah orang yang tidak saling mengenal.”

“Begitu?” Ki Bum menyeringai, ia memiringkan kepala. “Jadi, apa yang bisa mematahkan persepsimu itu sehingga aku bisa memiliki hak untuk melarangmu membangkang padaku? Apa aku harus mengatakan bahwa aku tertarik padamu?”

“A-apa?” Soo Rin hampir saja menyemburkan tawa. Apa pria ini sedang bergurau? “Lelucon yang bagus, Ahjusshi. Itulah mengapa aku tidak percaya sama sekali.”

“Bagaimana jika itu bukanlah lelucon, hm?”

Diam. Soo Rin menelan saliva, mulai kepayahan. Sebab pria itu kembali menempatkan wajahnya di dekat telinga Soo Rin, memberikan sengatan aneh berkat deru napas halusnya di sana, dan Soo Rin harus merasakan wajahnya memanas ketika sesuatu yang dia yakini adalah bibir pria itu menempel di sana, bergerak sebagaimana dengan suara beratnya yang berubah rendah itu mengalun.

“Aku tertarik padamu dan ingin memilikimu. Apa yang akan kau lakukan, Park Soo Rin?”

.

.

.


BOOM!

siapa yang ngebayangin bakalan ditembak sama dosennya sendiri? wkwkwk 😂😂😂 kalo dosennya macam kimkibum mah pasti mau lah ya.. masa iya ditolak kan mubazir, apalagi kalo abis itu ditembak juga sama Jisoo yaudah kelar ini hayati 😣😣😣

hiiiing! update lagi yaa, mumpung masih libur, masih anget, langsung cuuuuss posting dan taraaa~ it just started so don’t go anywhere, guys~ maksudnya tunggu aja lanjutannya, meski belum jadi udah kebayang kok, yah palingan minggu depan jadi kalo ngga minggu depannya lagi kalo ngga ya wasalam gyahahaha //ditendang//

kayaknya ini standar kepanjangannya cuma segini jadi pls jan protes lagi yah… kan biar greget >< kalo lebih panjang lagi ntar malah mabok sama kenakalan kimkibum duhh aku gakuat tauu //bodoamat//

jadi sampai ketemu di part selanjutnya yaaa~ 

see u next time!! 🙌🙌🙌

wp-1474129348179.jpeg

salam sayang dari Ji Soo 😆😆😆 //kabur//

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

31 thoughts on “WHATTA MAN – Just Started

  1. Mwo….?

    Haha kena kau sorin,, berhati hatilah sorin sama dosen tampanmu itu,

    kkk lucu ya klw sorin sudah d dekati kibum, pasti reaksinya begitu, apa lgi klw sudah berhubungan dngn tlinga waw jdi panas tiris termasuk yang bacanya jga kkkkk

    empat jempol dah kkkk
    tambah sama yg punya tetangga…

  2. Stok foto Ji Soo di aku banyak kak mau ?? Sebagai pacar yang baik aku kasih free buat kaka wakwakwak /pacar Ji Soo dari mana/

    Ki Bum mah maen tahan anak orang aja diihh .. napsu banget daahh
    Menjerit yawlah aku bayangin Ji Soo kaya gitu di kampus sendiri hahahaha ..

  3. heol kim kibum pesonamu enggak ketulungan….. baca scene yang pas diperpustakaan bikin jantung deg-degan sendiri, cie….cie kim kibum cemburu sama edeekatan ji soo sama soorin

  4. ikutan shock bareng soorin 😀 kibum agresif bnget yakkk .. sbnrnya nungguin ff yg lain juga, yg blm dilanjut.. tp terima aja apa yg author kasih :v ditunggu part selanjutnya ^^

  5. Sepertinya ki bum mulai terangan dekatin soo rin. Bahkan udah berani bilang kalo dia tertarik sm soo rin. Ku rasa mulai sekarang ketenangan soo rin akn terusik oleh tingkah ki bum.

  6. Soorin : aq dgn snang hti mnyerahkan dri q pda mu dosen kim 😍 #gubrak

    tema kali ni magic ya sist…
    da harry potter n mantra.ha3x..

    keren sist bkin aq than npas 😁
    next…next…next…
    fighting 😉

  7. Sifat pemaksaan Kibum gk bkal hilang apa lgi dgn karakternya yg bad boy
    wadaw si abang d bilang ahjusshi
    hihihi…
    Eh gimna ya perasaan Soo rin pas Kibum nyatain perasaannya sma Soo rin pastinya deg2kan tu
    klau gk terima sma Soo rin lo sma ane aja bang d jamin bhagia dah

    1. aaaaaakk yaampun masih inget aja cerita itu hihihi 😣😣😣 iya sebenernya pas bikin scene itu juga kebayang yg di secret admirer sih huhuhu jadi kangen jaman itu //eehh >////<

  8. /thinking hard over that Hong boy who look like Shinee’s Key/
    hwhw aku gakenal sama si hong jisoo yang adalah member seventeen itu, tapi aku lebih nikmatin momen dia sama soorin daripada kibum sama soorin kk~ /tendang ouch
    iih dosen kim baik sebenernya, tapi baiknya ke soorin ajah wkwkwk /ilikeit :9
    uung~ semoga soorin bisa tetep kuat dan bisa ngerubah kimkibum jadi ahjussi baik2 x)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s