Posted in Adult, Campus Life, Fiction, Friendship, KiSoo FF "WHATTA MAN", PG-17

WHATTA MAN – Bad Man

wp-1474013213338.jpeg

Adult, Campus Life, Friendship, etc

PG-17 for setting and scenes

before :: Wild Class | Attention

He such a bad man and I don’t wanna mess with him.

H A P P Y     R E A D I N G

.


ELVABARI©2016

.

.

GEMA musik berdentum memenuhi ruang yang dipenuhi para manusia dewasa. Bau menyengat campuran alkohol dan asap rokok, bahkan bau orang-orang bercumbu bebas sudah menjadi pelengkap khas suasana remang-remang ini. Tak jarang banyak wanita layanan yang berseliweran mencari mangsa para pria yang mencari hiburan di sini.

Seperti pria yang tengah duduk sendirian di salah satu sudut ruangan. Well, dia baru datang dan hanya ingin menikmati dua botol whiskey pesanannya yang cukup membuat pikirannya tenang di tengah-tengah hingar bingar tempat ini.

“Butuh teman, Tampan?”

Merasa itu ditujukan padanya, sang pria hanya tersenyum menyambut kedatangan seorang wanita seksi yang sudah mengancang-ancang dengan kerlingan nakalnya. Pakaiannya yang sudah terlalu minim layaknya memakai handuk itu sebenarnya sudah menarik perhatian banyak mata, tetapi melihat pria satu ini tampak acuh ketika dia lewat justru membuatnya tertarik.

Seolah ingin menarik perhatian, sang wanita dengan gemulai bergerak mendekat lalu duduk di sebelah si pria, begitu rapat sampai-sampai dadanya menekan lengan yang terasa kekar kala digelayutnya. Sang pria lagi-lagi hanya tersenyum tanpa memandangnya dan hanya menikmati minumannya. Wanita itu hampir saja mengendus ceruk leher sang pria ketika ada yang menariknya hingga jarak mereka terjalin.

“Maaf, tapi dia milikku.”

Satu wanita berpakaian minim datang. Tanpa peduli dengan raut tak suka dari wanita yang sudah diganggunya, ia dengan santainya duduk di pangkuan sang pria dan langsung menciumnya panas. Wanita yang merasa mangsanya direbut hanya bisa mendengus kesal. Apalagi melihat pria itu ternyata membalas ciuman si wanita perebut itu dengan memeluk pinggang rampingnya dengan sensual. Buru-buru dirinya bangkit dari sana, meninggalkan dua makhluk itu bercumbu dengan kaki menghentak-hentak.

Barulah si wanita itu melepas ciumannya, melihat si pria tertawa geli yang justru membuatnya mendengus.

“Aku baru saja menolongmu tetapi begini responmu?”

Calm down, Jae. Terima kasih kalau begitu.”

Wanita yang dipanggil Jae itu bangkit dari pangkuan si pria, memilih duduk di sebelah sambil menumpuk satu kakinya ke kaki lain hingga paha mulusnya yang tidak seberapa tertutup kini terbuka begitu saja. Namun ia sudah tahu bahwa pria di sebelahnya tidak tertarik. Buktinya saja si pria memilih untuk meraih gelas minumannya lagi.

“Aku rasa kau harus merubah penampilanmu. Kau terlalu mencolok hingga radius puluhan meter, apalagi kau selalu sendiri. Kau itu incaran nomor satu di sini!”

Pria itu mengedikkan bahu. “Aku tidak perlu khawatir karena kau pasti akan datang.”

“Dan mengacaukan rencanaku sendiri,” Jae bersedekap. “Aku hampir berhasil menarik Andrew Choi ke kamar tetapi kau justru dengan tidak tahu malu memanggilku. Hell! I wanna make a fun with my boyfriend, you know?!

I’m your boyfriend too, by the way.

Such a one night stand boyfriend. Not for real,” cibir Jae yang dibalas kekehan dari si pria. “Kenapa tidak cari wanita lainnya saja, sih?” dumalnya lagi.

“Kau tahu sendiri bahwa aku tidak tertarik dengan mereka.”

“Oh, itu berarti aku satu-satunya wanita yang menarik perhatianmu, ya? Aku tersanjung.”

Yeah. Karena aku hanya mengenalmu di sini.” Pria itu menoleh, memberikan senyuman maut yang sudah biasa untuk Jae. “Seharusnya kau beruntung karena aku bisa membuatmu mendapat bonus royalti dari atasanmu.”

Jae berdecak sambil memutar bola mata. Dalam hati dia terpaksa membenarkan ucapan si pria. Karena pada nyatanya pria itu sudah menjadi langganan tetap di club ini dan atasannya pun tahu siapa pria di sebelahnya ini.

“Jadi kapan kau akan tertarik dengan wanita jika aku terus-terusan harus menjadi tamengmu di sini?” cibir Jae lagi yang mendapatkan respon sama.

I’ve found her.

Really? Who?

Not here.” Pria itu menggoyang-goyangkan gelasnya. “But she ever came here yesterday, if you know who.” (Tapi dia pernah datang kemari kemarin, jika kau tahu siapa.)

Jae mengernyit, tampak mengingat-ingat. Merasa tahu siapa yang dimaksud oleh si pria, Jae kemudian melotot. “Maksudmu gadis yang terjebak di toilet itu?!”

“Oh, kau sempat bertemu dengannya?”

“Aku memang pernah bertemu juga melihatmu menyelamatkannya!” Jae mendadak histeris. “Kau bercanda, bukan? Kau tidak mungkin menjadikannya sebagai sasaranmu karena dia terlihat masih belia dan… gosh! She’s so innocent, Kim Ki Bum! You’ve got to be kidding me!

Pria bernama Kim Ki Bum itu tergelak melihat Jae histeris. Ia meneguk minumannya lagi, menggoyangkan gelasnya, mata tajamnya menerawang pada gelas tersebut disertai senyum menawannya yang penuh makna.

“Tapi aku sudah tertarik. Jadi aku harus bagaimana?”

Jae mulai tidak tahan. Memukul kepala Ki Bum dengan berani hingga pria itu mengaduh. “Jika kau tidak serius, lupakan saja! Aku tidak mau kau menodai seorang gadis yang masih lugu dan suci seperti dia! Lebih baik kau tiduri saja wanita yang ada di sini!” kemudian Jae bangkit dari duduk meninggalkan pria itu begitu saja.

Ki Bum mengusap kepalanya sambil meringis pelan. Dia akui bahwa temannya itu juga ahli memukul selain bercumbu. Makanya Ki Bum hanya mendesah panjang menatap punggung terbuka itu menjauh.

Padahal dia datang kemari supaya temannya itu mau memberi masukan, tapi apa? Dia justru mendapat pukulan telak seperti anak bodoh yang baru saja mendapat nilai merah.

****

“Aku pulang!”

Mendengar seruan dari pintu masuk, Soo Rin berlari demi menyambut yang sudah dipastikan siapa. Dari suaranya pun sudah dihapalnya. Itulah mengapa Soo Rin memasang senyum sumringahnya.

“Selamat datang kembali, Eonni!”

Wanita yang dipanggil Eonni itu ikut tersenyum sambil menunjukkan sesuatu yang dibawanya. “Maaf, Eonni baru pulang,” ujarnya. Park Soo Jin namanya.

Eii! Tidak apa-apa, Eonni. Aku bahkan baru merasa lapar begitu Eonni datang. Hehehe!”

Soo Jin mencebik mendengarnya. Namun ia dengan senang hati memberikan bingkisannya pada Soo Rin untuk kemudian diketakkan di meja ruang tengah. Ia memilih ikut duduk bersimpuh memerhatikan adiknya itu membuka bingkisan yang ternyata berisi dua porsi jjajangmyun beserta satu box sedang berisi ayam goreng pedas sebagai pelengkap. Senyumnya mengembang melihat bagaimana mata di balik kacamata sang adik itu berbinar-binar.

“Aku akan mengambil air minum!” Soo Rin beranjak ke dapur secepatnya, menyisakan sang kakak yang terkekeh melihat semangatnya.

Beginilah kehidupannya. Meski sederhana, setidaknya ia bersyukur bisa memberi makan sang adik setiap pulang bekerja. Dia tahu benar bila adiknya lebih memilih ramyun ketimbang mengeluarkan uang untuk sekadar membeli lauk jika sendirian di rumah. Itu tidaklah baik jika terus dilakukan berturut-turut. Tapi sayangnya adiknya itu lebih banyak menolak anjurannya ketimbang menuruti. Hingga akhirnya memilih untuk tidak makan sampai dia pulang bekerja.

Eonni tidak ingin mandi dulu? Aku bisa menunggu supaya kita bisa makan bersama,” suara Soo Rin menggema lagi bersamaan wujudnya yang muncul sambil membawa sebotol air dingin juga dua gelas kosong.

“Nanti saja. Eonni sudah sangat lapar. Ayo kita makan!”

Mereka membuka bungkus dari jjajangmyun bersamaan, mulai menyantap dengan lahap hingga beberapa saat kemudian sang kakak bersuara.

“Bagaimana dengan kuliahmu hari ini?”

Um… seperti biasa.”

Soo Jin berdecak. “Seperti biasa menjadi mahasiswi gila buku, maksudmu?” cibirnya yang langsung membuat Soo Rin meringis. “Eonni bangga padamu yang selalu mendapat nilai terbaik di kampusmu, tetapi bukan berarti dengan begitu kau tidak memiliki waktu bergaul dengan teman-temanmu, Soo Rin-ah.”

“Aku sudah memiliki Lisa dan Sandara. Itu sudah cukup bagiku, Eonni.”

“Tanpa seorang kekasih, hm?”

Uhuk!” buru-buru Soo Rin menepuk dadanya, “Aih, Eonnii!” berdecak kesal melihat kakaknya itu terkikik. Ia meraih botol minumannya untuk dituangkan ke dalam gelas miliknya kemudian meneguknya demi melegakan tenggorokannya yang sempat tersedak.

Waee? Kau sudah dua puluh tahun, Soo Rin-ah, bahkan mau menginjak dua puluh satu. Tidakkah kau ada kemauan untuk berkencan? Eonni yakin ada banyak teman pria di kampus yang tertarik padamu.”

Soo Rin mendengus jengah. “Aku tidak tertarik. Pria yang sebaya denganku kebanyakan berotak dangkal,” ujarnya beralasan yang justru membuat sang kakak tergelak.

“Kalau begitu carilah pria yang sudah dewasa! Tidak mungkin ‘kan di kampusmu tidak ada pria seperti itu?”

“Memang tidak ada.”

Eii! Eonni tidak percaya.”

“Sudahlah, Eonni. Kenapa tidak Eonni saja yang berkencan lebih dulu? Ingatlah bahwa usia Eonni yang hampir masuk kepala tiga. Aku tidak mau eonni-ku menjadi perawan tua nanti.”

Mwoyaa!” Soo Jin menyentil kening Soo Rin. Dia sudah terbiasa dengan ucapan frontal dari adiknya sehingga tanggapannya hanya sebatas gelak tawa. “Jika Eonni sudah berkencan, Eonni pasti akan melupakanmu karena sibuk memersiapkan pernikahan!”

“Wow! Rencana yang bagus. Berkencan dan langsung menikah. Itu lebih baik daripada menjalin hubungan tanpa status bertahun-tahun. Aku pasti akan mendukung Eonni!” Soo Rin justru mengacungkan kedua jempolnya.

Yaa, kau ini!”

Mereka tertawa kemudian. Meski hanya berdua, suasana tempat tinggal ini terasa hangat karena selalu diselimuti keakuran kakak-beradik tersebut. Tidak ada yang perlu disesali. Meski jauh dari orangtua, mereka tetap menikmati hidup dalam kesederhanaan ini.

****

“Soo Rin-ah, tunggu dulu!!”

Soo Rin berhenti sambil menghela napas cepat, ia membenarkan letak kacamatanya sebelum berbalik dan mendapati Lisa berlari-lari sambil melambai-lambaikan beberapa lembar kertas di tangannya.

“Astaga! Tidak bisakah kau menunggu sedetik saja? Aku susah payah mengerjakan ini, tahu!”

“Aku bahkan sudah memberi waktu sepuluh menit sejak Dosen Hwang keluar.”

Aih! Kau tidak tahu kalau kuis ini sangat sulit?!” Lisa mendumal di sela-sela napas tersengalnya, menyerahkan lembar jawaban kuisnya di atas tumpukan kertas yang dibawa Soo Rin dengan kesal. “Si dosen itu! Sudah berdandan menor, banyak sekali tingkahnya. Itulah mengapa aku tidak suka dengan mata kuliahnya! Haish!”

Soo Rin terkekeh pelan, tangannya yang bebas mengusak-usak poni pirang Lisa. “Bagaimana pun dia pengajar yang berkelas. Jangan menilai hanya dengan penampilannya saja.”

Namun tiba-tiba Soo Rin tercenung. Rasa-rasanya dia pernah mendengar nasehat semacam ini selain dari mulutnya sendiri.

“Kau terlalu menilai hanya dengan melihat apa yang tertangkap oleh matamu. Itu memang bagus, tetapi tidak selamanya bagus, Park Soo Rin.”

Heol. Kenapa justru ucapan itu yang berputar di ingatannya? Membuatnya kembali mengingat pria menyebalkan itu saja.

“Ya, ya, ya. Kau selalu berpikir positif dengan dosen-dosen di sini. Tentu saja! Karena kau lebih menyukai belajar daripada menilai si pengajarnya.” Lisa cemberut.

Senyum tanggung itu tersungging di bibir Soo Rin. “Sudahlah. Aku harus segera menyerahkan ini pada Dosen Hwang. Kau temui Sandara, dia pasti sudah menunggu di kantin.”

“Baiklah! Aku akan memesankan minuman untukmu. Sampai bertemu di kantin!” Lisa melambaikan tangannya sambil berlalu. Meninggalkan Soo Rin yang berbalik badan dan kembali melanjutkan langkahnya ke arah lain.

Sesampainya di kantor, Soo Rin yang sudah memiliki akses mudah untuk mondar-mandir di ruangan itu segera mendekati pintu ruangan yang sudah ia hapal milik Dosen Hwang. Tetapi langkahnya terhenti ketika pintu tersebut terbuka lebih dulu dan mendapati seorang pemuda baru saja keluar dari sana.

“Oh, Park Soo Rin? Mengumpulkan tugas Dosen Hwang juga?” Hong Ji Soo, pemudia berperawakan tinggi serta berwajah tampan itu tersenyum ramah pada Soo Rin.

Yeah. Kelasku baru saja mengadakan kuis darinya.” Soo Rin sedikit mengangkat tumpukan kertas di lengannya. “Apa Dosen Hwang ada di dalam?”

Ji Soo menggeleng. “Kurasa dia sedang beristirahat. Tapi dia berpesan untuk memberi izin untukmu bisa masuk ke dalam,” ia mengedikkan kepala, “Masuklah!”

“Terima kasih,” Soo Rin mengulas senyum tipis pada pemuda itu sambil masuk ke dalam ruang Dosen Hwang, meletakkan lembar jawaban kuis satu kelasnya di meja kerja tersebut lalu keluar dari sana. Namun tidak disangka bahwa pemuda itu masih ada di tempat yang sama. “Kenapa kau masih di sini?”

“Kau ingin ke kantin setelah ini, bukan? Bagaimana jika kita ke sana bersama?” Ji Soo mengumbar senyumnya yang begitu menawan. Pemuda ini memang murah senyum pada siapa saja, itulah mengapa Soo Rin membalasnya meski tidak selebar Ji Soo.

“Terima kasih atas ajakannya, tapi sebenarnya aku ingin mampir ke perpustakaan dulu,” ujar Soo Rin menyesal.

Namun Ji Soo tidak memudar senyumnya. “Kalau begitu kita berjalan bersama saja. Bukankah kita tetap searah?”

“Aah, benar juga.” Soo Rin mengusap tengkuknya canggung. “Kalau begitu, ayo!”

Dengan senang hati Ji Soo mengikuti langkah Soo Rin di sebelahnya.

Hong Ji Soo, selain tampan dan ramah, dia tergolong mahasiswa terpintar di angkatannya. Bisa dikatakan dia setara dengan Soo Rin. Itulah mengapa Soo Rin merasa nyaman berteman dengan pria yang satu ini karena mudah diajak berkomunikasi soal mata kuliah apapun. Meski mereka jarang bertemu dikarenakan Ji Soo yang lebih sibuk dengan kuliahnya yang lebih padat dibanding Soo Rin, tidak menampik juga jika mereka selalu menjadi satu kelompok diskusi di kelas-kelas tertentu.

Hanya saja, kabar kedekatan mereka ini selalu menjadi bahan pembicaraan para mahasiswi. Mengingat banyak yang mengagumi sosok seorang Hong Ji Soo, tidak menampik jika banyak yang iri dengan kemudahan Soo Rin yang bisa berada di dekat Ji Soo seperti ini. Untungnya saja Soo Rin tidak terpengaruh karena pada nyatanya dia hanya menganggap Ji Soo sebagai teman.

Seperti sekarang. Tanpa beban apapun Soo Rin sudah sampai di tempat tujuannya setelah berpisah dari Ji Soo. Mencari apa yang dicarinya yang ternyata cukup sulit. Tugas dari Dosen Choi ternyata membutuhkan referensi dari buku-buku keluaran lama. Dan ia harus mencari ke ruangan lain.

Di mana kumpulan buku cetakan lama disimpan. Meski kondisi ruangannya lebih sepi karena pasti hanya segelintir orang yang akan mampir kemari, Soo Rin justru merasa nyaman. Tahu begitu lebih baik Soo Rin mendekam di sini saja jika ingin mengerjakan tugas.

Lama menelusuri rak demi rak menjulang, tidak membuat Soo Rin merasa lelah. Dia justru menikmati karena menemukan beberapa bacaan lama yang sepertinya menarik untuk ia pinjam nantinya. Sekalian saja dia menghapal urutan tiap rak incarannya. Hingga sampailah ia di barisan belakang, Soo Rin mulai mengibas-kibaskan tangan demi menepis debu-debu berterbangan.

Aih, sepertinya di bagian sini jarang dibersihkan,” gerutu Soo Rin pelan. Tangannya kembali bergerak mengabsen deretan buku yang tertata rapi meski diselubungi debu-debu tipis.

Namun ketenangannya terganggu begitu tanpa sengaja mendengar sesuatu. Seketika bulu kuduknya meremang, tapi bukan reaksi yang membuatnya ngeri. Ia merinding karena apa yang ia tangkap adalah suara aneh yang sepertinya bisa dia simpulkan apa. Apalagi, itu berasal dari balik rak besar ini. Setahu Soo Rin, ini merupakan deretan akhir dan di balik sana berisi deretan meja baca yang mungkin sudah tidak terawat. Jadi…

Langkah-langkahnya begitu pelan menuju ujung dari rak ini, jantungnya mulai berdegup cepat ketika suara itu terdengar semakin dekat. Melewati sisi rak yang lebarnya tidak seberapa, mengintip ke sana, lalu Soo Rin segera menyesal karena sudah menodai pandangannya sendiri.

Bukankah itu Dosen Hwang? Bagaimana bisa…

Soo Rin membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara terkesiapnya. Ia segera menyembunyikan diri. Berharap apa yang dilihatnya benar-benar keliru karena dia sudah menyaksikan Dosen Hwang yang tengah menduduki seorang pria serta mencumbunya dengan liar seperti itu. Dan pria itu… Soo Rin sempat melihatnya sekilas.

Tidak mungkin…

Oh, gosh, Kim! Kenapa kau diam saja?”

Soo Rin mendengarnya. Suara Dosen Hwang yang masih dihapalnya kini seperti mendesah serak. Apalagi dia juga mendengar kekehan berat dari si pria sebelum kemudian mendengar bunyi kecapan-kecapan yang sukses membuat sekujur Soo Rin bergidik.

Dan kau hanya diam saja di sini? Ayolah, cepat pergi dari sini, Park Soo Rin!

Easy, Miss Hwang. You are so demanding, eh?” (Tenang, Miss Hwang. Kau sangat menuntut, ya?)

“Aku sudah terlalu bersabar, Kim. Kau tahu, bukan, bahwa aku sangat menginginkanmu?”

Well, semua wanita mengatakan hal yang sama padaku.”

Terdengar Dosen Hwang menggeram sensual. “Who cares? Yang terpenting aku ingin merasakanmu. So please kiss and touch me just like I did!

I’m really sorry, Miss Hwang. But I won’t do that.

Oh, why?!

Because…

Soo Rin mendengar suara hentakan high heels yang dipastikan milik Dosen Hwang, disusul derit kursi yang sepertinya mereka sudah berubah posisi.

“Aku memang tidak tertarik padamu.”

“A-apa? Tapi kau mengizinkanku untuk menyentuhmu!”

“Apa aku pernah berkata begitu?”

Diam. Tidak ada balasan dari Dosen Hwang.

“Aku diam bukan berarti mengizinkan, Miss Hwang. Kau tidak tahu cara mainku, ya? Jika aku tertarik, aku pasti akan membalasmu bahkan lebih, tapi sayangnya aku tidak begitu, bukan?” pria itu sedikit membungkuk, membuat wajah mereka sejajar, “Aku diam berarti aku tidak tertarik padamu, Miss Hwang. Tapi setidaknya aku sedikit memberikan kesempatan padamu untuk merasakanku,” lanjutnya disertai senyum manis yang justru membuat Dosen Hwang memerah menahan malu.

Kemudian wanita itu memutar tubuhnya, menghentakkan kaki-kakinya menjauh dari sana yang Soo Rin ketahui bahwa wanita itu meninggalkan tempat ini dengan kekesalan.

Ia memejamkan mata, mengelus dadanya demi meredakan debaran jantungnya. Dia harus merasa bodoh karena sudah menjadi saksi kejadian yang tidak seharusnya dia lihat. Bahkan ia tidak beranjak sedikit pun dan memilih menguping pembicaraan dua orang dewasa itu hingga Soo Rin mendumal di dalam hati.

Padahal selama ini dia menghormati Dosen Hwang tanpa peduli bagaimana dandanannya. Tapi ternyata, wanita itu tidak ada bedanya dengan wanita penggoda yang gemar menggoda pria yang jelas-jelas sudah beristri. Dan apa itu tadi? Bagaimana bisa pria itu membiarkan Dosen Hwang menyentuhnya begitu intim seperti tadi? Apa dia lupa statusnya yang sudah tidak lajang? Apa dia menganggap itu adalah hiburan yang menyenangkan?!

“Dasar pria hidung belang!” desis Soo Rin pelan. Rasa tidak sukanya terhadap pria itu semakin menjadi saja.

“Siapa yang kau sebut hidung belang?”

Jantung Soo Rin seperti melompat tinggi. Bagus sekali, ternyata pria itu sudah berdiri di ujung rak seperti dirinya, menangkap basah dirinya.

“Aku tidak menyangka bahwa kau memiliki kebiasaan mengintip kegiatan orang dewasa, eh?” ejek pria itu disertai senyum miring.

Soo Rin berdecak tidak terpengaruh. “Ternyata ada orang yang merasa bangga karena terpergok sedang berselingkuh,” gumamnya pedas sambil berlalu dari sana. Meninggalkan si Dosen Kim yang kini mendengus geli.

“Kau masih saja tidak mengerti.”

Soo Rin terpaksa berbalik karena tangan besar itu menahan lengannya. Raut wajahnya sengaja ia pertahankan sedatar mungkin untuk tidak terpengaruh dengan apa yang hendak dilakukan oleh Kim Ki Bum.

“Itu sudah sangat jelas membuktikan bahwa kau pria hidung belang. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kau begitu tega. Bermain-main dengan wanita padahal kau sudah menikah.”

“Bagaimana jika pada nyatanya aku belum menikah?”

“Oh, jadi maksudmu kau menjalin hubungan tanpa status dengan wanita yang sudah memiliki anak denganmu, lalu kau bisa dengan bebasnya menyentuh wanita lain, begitu?”

Ki Bum tersenyum penuh arti. Tangannya terulur ke sisi kepala Soo Rin, bertengger pada rak di belakang gadis itu, membuat teritori. “Rasa-rasanya kau mulai penasaran dengan kehidupanku, ya… Park Soo Rin?”

Soo Rin menelan saliva, menghindari tatapan yang berubah dalam itu sebisa mungkin. Ekor matanya masih bisa menangkap bagaimana Kim Ki Bum memiringkan kepala demi tetap leluasa memandangnya.

“Apakah, kau mulai penasaran denganku?”

Satu pertanyaan tersebut berhasil melontarkan dengusan dari mulut Soo Rin. Ia kembali menatap datar pria itu kemudian mendorong dadanya hingga teritori itu menghilang. Namun Soo Rin harus menahan rasa ngilu karena ulahnya yang berdampak pada punggungnya yang terantuk dengan mulut rak.

“Aku tidak memiliki waktu untuk penasaran dengan siapapun,” tandasnya sebelum pergi dari sana.

Sayangnya ia hanya berhasil membuka dua langkah karena tiba-tiba rak di sebelahnya anjlok hingga buku-buku yang tertata rapi di sana kini berhamburan jatuh dan hampir menimpa kepalanya. Jika saja pria itu tidak bergerak cepat menarik dirinya untuk masuk ke dalam pelukannya, melindungi kepalanya dengan tangan besarnya itu serta menjadikan punggung lebarnya sebagai tameng. Sehingga Soo Rin hanya perlu merasakan sesak karena debu-debu yang berterbangan membuatnya terbatuk-batuk.

“Kau tidak apa-apa?”

Soo Rin tidak menjawab sebab memilih untuk menutup hidungnya yang terasa gatal. Dan baru terhenyak ketika tangan-tangan itu mengangkat wajahnya hingga kini pandangan mereka bertemu.

Ada yang tidak biasa. Soo Rin memang tidak salah melihat bahwa pria di hadapannya terlihat khawatir, tapi untuk apa pria itu repot-repot memikirkan keadaannya karena dia baik-baik saja? Oh, ya, tentu saja dia baik-baik saja karena pria itu sudah menolongnya.

Heol! Untuk apa pula Kim Ki Bum menolongnya?

“Berhati-hatilah dalam bertindak di tempat semacam ini, Park Soo Rin. Kau hampir mencelakai dirimu sendiri.”

Mulut Soo Rin terbuka hendak bicara, tetapi pria itu seperti tidak memberinya kesempatan.

“Karena jika itu terjadi, aku tidak akan diam saja.”

Eh?

Apa maksud dari ucapannya?

Kenapa… kenapa Soo Rin harus terpaku dengan tatapan pria itu? Kenapa pula Soo Rin tidak bisa membalas ucapan Kim Ki Bum yang tidak dia mengerti artinya? Dan kenapa Soo Rin membiarkan Kim Ki Bum memperlakukannya seperti ini?

Ada apa dengan kinerja tubuhnya? Kenapa jantungnya tiba-tiba berdegup di luar kendali? Ini pasti ada yang tidak beres!

.

.

.


alohaaaa~ ada yang nungguin kisukisu? hehehehe maaf yaa mereka baru nongol dengan cerita yang aneh 😅😅

beneran deh aku pengen lanjutin cerita yang ini jadi ya doain aja ini bisa lancar mengingat selama ini aku kebanyakan gantungin cerita-cerita absurd yang lain itu hwhwhw mohon maaf juga belum bisa mempersembahkan cerita yang kalian inginkan, seperti biasa penulis amatiran ini masih seenak’e dewe nulisnya hiks… 🙇🙇

tapi semoga terhibur dengan yang ini deh ya.. heheheh 🙏🙏

salam dari cameos

Rainbow's Jaekyung as Jae
RAINBOW’s Jaekyung as Jae
9MUSES Sojin as Park Soo Jin
SEVENTEEN’s Joshua as Hong Ji Soo

Terima kasih sudah membaca dan selamat akhir pekan! 🙌🙌🙌

see u again~

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

26 thoughts on “WHATTA MAN – Bad Man

  1. Akhirnya muncul juga….
    Astaga kim kibum..
    2kali kepergok dan 1kali salah paham dan tidak melakukan pembelaan apapun…
    Image mu telah buruk dimata incaranmu dan kau telah punya saingan sepertinya…

  2. ARRGGHHH BOLEH TERIAK GAK ?? BOLEH SENYUM GAK ????
    KENAPA DA HONG JI SOOO .. OH MY GOD
    Ada kah yang lain ?? Kenapa harus Ji Soo yang layi aku gilai ????? Kenapa harus diaaaa ???? Kenapa kakak bikin aku malah menggilai Ji Soo ??? Arrgghh bisa gila aku ..
    Kalo L atau Sungyeol aku masih bisa nahan kegilaan aku .. tapi kalo buat Jojo .. ugh rasanya gabisa nolak ..
    Aku takut bukan nunggu Soo Rin sama Ki Bum tapi nunggu Ji Soo .. argh please .. aku lemes yawlohh 😢😢😢😢

    Dari sekian banyak cerita yang kaka bikin kayanya ini bakalan jd cerita favorit aku ..

    1. kamu sudah berteriak jadi gaperlu minta ijin lagi wkwkwk maaf ya, Jisoo-nya dipake dulu 😣😣😣
      hiiiiing~ atuh jadi semangat ini mah kalo ada yg udh ngklaim ini jadi cerita kaporit ehh favorit ehwhwhw >/\<

  3. kim kibum bad boy…
    mw bad boy yg kya gni…
    ya ampun sist aq gmes sndri bca ny 😁
    bkin snyum2 😆😆😆
    next sist
    smangat 😉

  4. Wahhh kibum mh cari nikmat saja ya,,sudah merasakan baru d hempaskan, bknnya nolak dari awal, kan kasian dosen hwangnya ckck….

    Typo..! Hehe nemu satu sh kkkk

    next d tunggu ya kkk ttp semangat

  5. Ku rasa soo rin emang ditakdirkan buat mergoki ki bum dlm kondisi yg panas ya. Liat aja udah dua kali dan semua berakhir dgn salah paham. Ki bum kenapa sukanya bilang hal2 ambigu gitu.

  6. Kibum ku bad boy bgt tpi gk apa kelihatan keren sih
    tpi aku gk rela Kibum d sentuh sma wanita2 yg menginginkannya
    hihihi… Soo rin msih blum tau jga
    kyaknya ada rasa2 nih Soo rin
    mreka jodoh tu Kibum kepergok 2 kali sma Soo rin

    1. siapa yg bisa nolak dia kalo udah bad boy begini cobaaa? hahahaha aku sendiri geregetan kaaaakk 😣😣😣 huhuhu rela ga rela tapi kalo ga gitu soorinnya ga bakal nongol di sekitarnya #eaaa

  7. Apa inih ??? Kok pendek amattttt ><
    kibumie saplek sanasini pada nempel oh my….
    Jodoh bgt yh soorin ma kibum hhhh soorin sllu memergoki kibum saat sedang (?) ada adegan dewasa 😀

  8. KIM KI BUM BAD BOY!!!
    Soorin bisa-bisanya selalu mergokin Kibum lagi……(?). 2 kali Soorin mergokin Kibum. Sekali lagi aja, Kim Ki Bum kepergok sama Soorin jodoh kayak nya mereka…. kkkkk 😀 😛

  9. arghhhh.. jadi greget nih 😣😣

    duh kim kibum lebih dari biasanya jadinya gimana gitu. kekek jangan nistakan park soo rin kasian dia masih lugu 😄

    jadi penasaran gimana kelanjutannya, aku tunggu kak oh iya ada kata” yg sedikit typo pemuda jadi pemudia. tapi gpp ko tetep kereeeeen bangeeet . semangaat terus 😚😆😆😆

  10. aku.. aku gasuka sama karakter kimkibum disini! x(
    tapi gasuka karakter aja sih, aslinya mah suka aja hwhw. uuung mungkin karena kebiasaan baca FF nya ibum yang fluffy fluffy, yang dia jadi cowo baik2 dan manis romantis, tiba2 berubah jadi player kaya gini…. x((
    semoga ada suatu kejelasan yang jadi latar belakang kenapa dia jadi bad boy gini :((
    tapi aku suka soorin nya, dia ga mudah kepengaruh, dan aku harap kalo suatu hari soorin suka sama kibum, dia ga akan suka dengan mudah. :””)) /ini jadi gini ya review nya?? x(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s