Posted in Adult, Campus Life, Fiction, Friendship, KiSoo FF "WHATTA MAN", PG-15

WHATTA MAN – Attention

wp-1472663254420.jpeg

Slight!Adult, Campus Life, Friendship, etc

PG-15

before :: Wild Class

H A P P Y    R E A D I N G   aja

.


ELVABARI©2016

.

.

“SOO RIN-AAAAAH!!”

Merasa terpanggil, Soo Rin yang tengah berkutat dengan buku tebalnya, hanya mendengus jengah. Sudah bisa ditebak siapa yang berani memanggilnya dengan suara melengking seperti itu. Karena beberapa detik kemudian, ia sudah merasakan tubrukan keras sekaligus lingkaran di lehernya dari belakang.

“Selamat pagi, temanku yang paling pintar!” Lisa mengusak-usak pipinya ke pipi Soo Rin dengan gemas. Sampai-sampai kacamata temannya itu hampir lepas berkat ulahnya ini.

“Iya, iya, selamat pagi juga. Sekarang lepaskan aku, kau masih bau!”

“Apa?!” Lisa terpekik serta menegakkan tubuhnya, ia kemudian mengangkat kedua tangannya demi mengendus bagian ketiaknya. Bibirnya cemberut seketika, lalu mendudukkan diri ke sebelah Soo Rin. “Mwoyaa! Kau mengejutkanku, Soo Rin-ah! Aku bahkan sudah mengenakan parfum!”

Yeah, tapi mulutmu masih bau alkohol. Asal kau tahu itu.”

“Benarkah?” Lisa mengembuskan napasnya ke telapak tangan, menciumnya cepat, kemudian, “Ugh, kau benar! Astaga, aku lupa berkumur dan hanya sikat gigi.”

Soo Rin hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Berapa banyak gelas yang kau teguk semalam, huh? Kita bahkan hanya singgah kurang dari dua jam tapi… baumu sudah seperti orang mabuk berat!”

Lisa meringis memamerkan deretan giginya. “Aku bahkan tidak menghitungnya. Hihihi!”

“Dasar!” Soo Rin memukul dahi berponi Lisa dengan ujung pena yang dipegangnya. Dia baru tahu bahwa Lisa termasuk gadis yang kuat meneguk bergelas-gelas minuman beralkohol. Gadis itu sendiri baru bercerita kemarin. Tapi masih saja tidak disangka bahwa ia memiliki teman yang suka minum.

“Habisnya, kau tidak mau mengambil jatahmu sendiri. Yaa, hanya sesekali meminumnya itu tidak masalah, Soo Rin-ah! Setidaknya kau merasakan bagaimana rasanya sensasi minuman keras. Atau, kapan-kapan aku akan mengajakmu minum soju di kedai dekat kampus, bagaimana?”

“Astaga, Lisa!” Soo Rin menggeram. “Jangan menjerumuskanku ke sana! Aku menghargaimu yang gila minum tapi hargai aku juga yang tidak mau minum sejenis itu setetes pun!”

Lisa cemberut. Namun kemudian ia memeluk temannya itu, menggelayut di sana. “Temanku yang satu ini, menggemaskan sekali!”

“Menggemaskan apanya? Aku bahkan tidak melakukan aegyo!”

“Kalau begitu lakukan! Seperti ini, na kkung koddo gishing kkung koddo!”

Bukannya mengabulkan, Soo Rin justru tertawa melihat aegyo yang dilakukan oleh Lisa. Temannya ini, sudah ahli minum, juga ahli melakukan akting menggemaskan seperti itu. Membuatnya ingin sekali mencubit kedua pipi temannya itu.

“Kau lebih menggemaskan, tahu!”

Lisa ikut tertawa, lebih lebar sampai matanya itu menyipit.

Tak lama, datanglah Sandara yang langsung duduk di sebelah Soo Rin yang lain. Menjatuhkan kepalanya begitu saja di pundak Soo Rin hingga si empu terkaget-kaget.

“Aah, aku terlalu banyak minum. Kepalaku pusing sekali,” keluh Sandara dengan suara paraunya.

“Sudah tahu tidak bisa minum,” Soo Rin mencibir sambil mengetuk dahi temannya itu dengan pena. Hal yang sama dilakukannya pada Lisa tadi.

Ugh, Soo Rin-ah, sepertinya aku tidak akan masuk ke kelas pertama dulu. Aku ingin tiduran saja di klinik. Jadi, izinkan aku, ya.”

“Tidak mau. Tanggung sendiri!”

“Oh, ayolah! Kau tahu, bukan? Kelas pertama hari ini adalah kelas Dosen Kim. Dia bisa diajak bernegosiasi dengan mudah. Bilang saja aku tidak enak badan. Ya? Ya?”

Sedangkan Soo Rin, sudah mematung di tempat duduknya sejak Sandara menyebut nama itu. Dia hampir lupa bahwa hari ini dia akan bertemu dengan pria itu. Lagi.

Mengingatkannya kembali akan kejadian semalam di mana ia sudah membuat sebuah kesepakatan aneh terhadap pria itu. Kedua temannya tidak tahu bahwa dia bertemu dengan si Dosen Kim itu di club tersebut. Saat mengantarnya kembali ke tempat Lisa dan Sandara, pria itu segera memisahkan diri sehingga mereka tidak menyadari kehadirannya.

“Soo Rin-ah?”

Mengerjap cepat, ia menyadari bahwa Sandara sudah menegakkan kepala dan memandangnya. Ia melihat gadis itu mengerutkan keningnya.

“Kau tidak apa-apa?” ini suara Lisa. “Kau masih merasa pusing? Kalau begitu, istirahat saja bersama Sandara. Biar aku sampaikan izin pada Dosen Kim nanti.”

“Tidak, tidak! Aku tidak apa-apa. Aku hanya… baru ingat sesuatu.”

“Apa itu?” kini Sandara yang menyahut.

“Bukan apa-apa!” Soo Rin tiba-tiba berdiri, membereskan barang-barangnya lalu menatap teman-temannya itu disertai senyum. “Kalau begitu, aku antarkan kau ke klinik.”

“Terima kasih, Soo Rin-ah!” Sandara berdiri setelah menerima uluran tangan Soo Rin. Menggandengnya penuh antusias.

Yaa, aku ikut!!”

****

“Siapa yang tidak hadir hari ini?” pria itu sudah berdiri di depan mejanya di depan kelas, sibuk membuka buku yang dibawanya tanpa berniat menatap para mahasiswanya yang kini tengah saling melempar pandang.

Tak terkecuali dengan Lisa yang menoleh pada Soo Rin yang duduk di sebelahnya. “Haruskah aku yang beri tahu?” bisiknya.

Soo Rin menatap temannya sejenak sebelum mengangkat tangan. “Ada,” suaranya berhasil menarik perhatian lainnya. Termasuk pria di depan kelas sana.

“Siapa?”

“Sandara. Dia, sedang tidak enak badan.”

“Aah. Efek samping, eh?”

Mereka masih mendengar gumaman pria itu. Namun tidak ada yang tahu maksud dari ucapan itu kecuali Soo Rin. Tangannya yang sempat terangkat kini mengepal di atas meja. Keningnya mengernyit tidak suka. Tahu benar bahwa pria itu tengah main-main dengannya.

Mencoba-coba, ya, gumam Soo Rin di dalam hati. Padahal mereka sudah sepakat untuk tutup mulut, tapi lihat, pria itu sok sekali dengan seringai tipisnya itu!

“Apa maksudnya?” Lisa berbisik pada Soo Rin. Tapi Soo Rin hanya mengedikkan bahunya dengan cuek.

“Kalau begitu, semoga temanmu lekas sembuh.” Ki Bum menatap kembali gadis yang duduk di barisan kedua dari depan, mengulas senyum tipis yang masih bisa dibaca oleh yang diajak bicara. “Baiklah, sekarang buka halaman 271. Kita mulai diskusinya.”

Soo Rin meniup anak rambutnya yang lepas dari ikatan. Memang tidak ada maksud untuk membenarkan tata rambutnya yang selalu diikat sederhana dan membiarkannya jatuh di depan wajahnya setiap tengah menunduk seperti sekarang. Membuka lembar demi lembar buku di mejanya dengan malas. Mood-nya yang ingin belajar sedikit berkurang berkat pria yang tengah menjadi pengajarnya saat ini.

Sementara yang lain mulai mengikuti perintah, tatapan Ki Bum justru terus tertuju pada gadis yang kini tengah membenarkan letak kacamatanya setelah berhasil membuka halaman yang disebutkan. Raut wajahnya yang datar kala mulai membaca deretan kalimat di sana, menarik atensinya untuk terus mengawasi. Menyadarkannya bahwa… Ada daya tarik tertentu yang membuatnya kembali menarik sudut bibirnya, mengulas lengkungan asimetris sebelum kembali membuka mulut. Memulai kelasnya di pagi hari ini.

Well, he just realized it. Since last night.

****

Menjelang sore hari, Soo Rin yang sudah menyelesaikan kuliahnya memilih untuk mampir ke toko buku setelah memastikan Sandara dan Lisa pulang. Dua temannya itu, sebenarnya berlatar belakang dari keluarga berada, namun memilih untuk tinggal di dalam satu flat sederhana. Itulah yang membuatnya nyaman berteman dengan mereka karena cara hidup mereka yang memilih untuk apa adanya. Mengimbangi kehidupannya yang terlampau sederhana.

Di saat ia asyik memilih deretan buku, ponsel di dalam sakunya bergetar menandakan adanya telepon masuk. Senyumnya mengembang ketika nama sang kakak ternyata melakukan panggilan padanya.

Ne, Eonni?” Soo Rin berdeham pelan. “Eum… aku berada di toko buku dekat kampus. Hehehe!”

“Membeli buku lagi, eo?”

“Tidak. Hanya melihat-lihat.”

“Belilah! Kartu debitmu masih berisi, bukan? Jika kurang, katakan. Biar Eonni isikan lagi.”

“Tidak, Eonni! Isinya masih banyak, sungguh. Aku pasti akan menggunakannya jika memang butuh.”

“Benarkah. Baiklah kalau begitu. Jangan sungkan untuk beri tahu Eonni jika isinya sudah habis. Bagaimana pun kau butuh untuk keseharianmu di kampus.”

Soo Rin tersenyum tidak enak. “Aku mengerti, Eonni. Jangan terlalu khawatirkan aku. Aku tidak boros, kok!”

Terdengar suara tawa kecil di seberang sana. “Aku tahu. Adikku yang manis selalu membuat kakaknya bangga.”

Eii!” Soo Rin ikut tertawa. Lalu mengalirlah percakapan biasa mereka untuk beberapa saat ke depan.

Sejak duduk di bangku sekolah, Soo Rin sudah terbiasa tinggal berdua dengan kakak perempuannya di sebuah rumah milik orangtua. Sedangkan orangtuanya, bekerja di luar negeri dan hanya mengirimkan uang bulanan yang sebagian untuk biaya kuliah Soo Rin. Padahal dia sudah pernah memberi tahu bahwa ia mendapatkan beasiswa penuh jadi tidak perlu mengirim hasil jerih payah mereka terlalu banyak. Apalagi, Soo Rin juga selalu mendapat kiriman uang dari kakak tunggalnya itu. Tapi Soo Rin masih sadar bahwa ia tetap harus berhemat. Dia tidak bekerja karena sang kakak menyuruhnya untuk fokus pada kuliah. Bagi sang kakak, pekerjaan Soo Rin adalah sebagai pelajar alias mahasiswa, itu lebih baik daripada Soo Rin harus ikut mencari uang dan mengesampingkan pendidikannya.

Kembali ke realita, Soo Rin akhirnya memutus panggilan setelah sang kakak berkata harus melanjutkan kerja dan menyuruhnya untuk tidak berkeliaran alias langsung pulang begitu puas berlama-lama di toko ini. Ia baru saja mengantungi ponselnya ketika atensinya langsung teralihkan pada siluet kecil melewatinya sambil memanggil seseorang beberapa kali.

Eomma! Eomma!

Anak kecil itu tampak kebingungan dan hampir menangis. Dia pasti terpisah dari ibunya. Secara inisiatif Soo Rin menghampiri anak kecil yang sudah berdiri kaku sambil memutar-mutar tubuhnya demi mencari.

“Hei, adik kecil. Mencari Eomma, hm?” Soo Rin membungkukkan tubuhnya, langsung mendapat respon dari si kecil dengan mendongakkan kepala.

Eo-eomma… di mana…” anak kecil itu terisak, mulai ketakutan.

Soo Rin akhirnya berjongkok, mencoba mengusap anak sungai yang mulai terbentuk di pipi tembam itu. “Mau mencari bersamaku? Ah, katakan bagaimana rupa ibumu. Hm… pakaian apa yang dia pakai?”

Eomma… hiks… memakai baju merah muda… tapi, Ji Sung tidak melihat merah muda di mana pun… hiks…

“Aah, jadi namamu Ji Sung?” Soo Rin tersenyum ramah. “Kalau begitu, kita cari ibu yang memakai baju merah muda. Ayo!”

Anak kecil itu sesenggukan, mengusap air matanya dengan punggung tangan kecilnya, menatap Soo Rin lagi. “Noona… siapa?”

“Aku? Park Soo Rin. Kau bisa panggil aku Soo Rin Noona.”

Noona, bukan orang jahat, ‘kan?”

Soo Rin tertawa kecil mendengar pertanyaan polos dari Ji Sung. Ia menggeleng kalem. “Kalau Noona orang jahat, Noona pasti akan membawamu pergi dari sini, dan tidak akan pernah bertemu dengan ibumu lagi.”

“Aku tidak mau…”

Noona juga tidak mau. Noona bukanlah orang jahat. Maka dari itu—”

“Ji Sung-ah!”

Keduanya menoleh, mendapati seseorang berjalan cepat mendekat yang segera disambut oleh Ji Sung. Di saat anak kecil itu langsung menghampiri orang itu, Soo Rin justru mematung di tempatnya.

“Kenapa kau bisa sampai sini, huh? Eomma mencarimu.”

“Ji Sung juga mencari Eomma. Tapi Ji Sung tidak menemukan Eomma. Ji Sung bertemu dengan noona itu.”

Pria itu menatap yang ditunjuk oleh Ji Sung dari gendongannya. Sudah tidak terkejut lagi melihat Soo Rin yang sudah ia tangkap dari jauh begitu berhasil menemukan Ji Sung.

Buru-buru Soo Rin menegakkan tubuh, membungkuk santun sebagai tanda pamit lalu berbalik. Memilih untuk tidak berurusan lagi dengan orang yang dikenal Ji Sung itu.

“Park Soo Rin.”

Tapi ia harus mendesah pasrah ketika suara itu memanggil namanya. Mau tidak mau Soo Rin mengurung niatnya dan memutar tubuhnya lagi hingga menemukan pria itu tengah menghampirinya bersama Ji Sung di gendongannya.

Oh, jadi dosen itu sudah memiliki anak? Kasihan sekali Ji Sung. Memiliki ayah seperti dirinya.

Soo Rin hampir saja mendengus sinis jika tidak ingat sedang berhadapan langsung dengan orang yang tengah ia gunjing di dalam hati.

“Terima kasih sudah menemukan Ji Sung. Suatu kebetulan sekali bahwa kau yang menemukannya.” Ki Bum mengumbar senyum ramahnya.

“Ya. Lain kali awasi anak Anda dengan benar.” Soo Rin berkata sedikit bernada sinis. Raut wajahnya yang sudah berubah datar tidak terpengaruh dengan reaksi berarti dari Kim Ki Bum.

“Aah, begitu. Aku minta maaf karena sudah merepotkanmu,” balas Ki Bum dengan santai, senyumnya berubah.

Eomma!!” tiba-tiba Ji Sung berseru. Dua orang dewasa itu langsung mengikuti arah pandang anak kecil itu.

Oh, jadi itu ibunya. Soo Rin menggumam di dalam hati lagi.

“Ji Sung-ah! Omo, maafkan Eomma. Eomma sudah melepaskanmu!” wanita itu segera memeluk Ji Sung dengan raut lega bercampur bersalah. “Oppa yang menemukannya?”

Ki Bum menggeleng. “Dia yang menemukannya,” jawabnya sambil menunjuk Soo Rin dengan dagunya.

Omo! Terima kasih, Nona! Maafkan aku. Karena keteledoranku, Ji Sung pasti sudah merepotkanmu.”

“Ah, tidak. Aku senang bisa membantu Ji Sung menemukan orangtuanya.” Soo Rin melirik pria di depannya, lalu berdeham pelan. “Kalau begitu, aku permisi.”

“Ah, ya. Sekali lagi terima kasih!” wanita itu membungkuk lagi, sekaligus membalas pamitan Soo Rin. Lalu ia kembali menatap Ji Sung di gendongannya, mengusap kepalanya dengan sayang.

“Bagaimana Samchon bisa tahu nama noona itu? Apa Samchon mengenal noona itu?”

Pertanyaan polos Ji Sung menarik wanita itu untuk menatap Ki Bum. “Oppa kenal dengan gadis itu?”

Well, dia muridku.” Ki Bum menjawab seadanya, lalu menepuk bahu wanita itu pelan, “Kalau begitu, aku pergi dulu. Kau tunggulah di restoran sana sampai suamimu menjemput.”

Eo, aku mengerti. Hati-hati, Oppa!”

Bye, Samchon!”

Ki Bum melambaikan tangannya sekali sebelum melangkah pergi.

.

.

.

Heol! Dia sudah beristri bahkan memiliki anak. Tapi bagaimana bisa dia pergi ke tempat itu dan bermain dengan wanita lain seperti kemarin?”

Soo Rin menggerutu di tengah-tengah langkahnya. Dia tidak habis pikir dengan kenyataan yang baru saja didapatnya. Melihat anak kecil itu masih begitu polos, juga sang istri yang terlihat begitu cantik dan ramah. Apa lagi yang kurang dengan mereka berdua? Kenapa pria itu tega sekali bermain di belakang mereka?

“Jika saja aku adalah istrinya, sudah pasti akan aku ceraikan. Tidak peduli dia itu tampan tapi jika kenyataannya tidak setia, untuk apa dipertahankan? Ough! Sungguh malang nasib Ji Sung dan ibunya itu.”

“Begitu?”

Omo!!”

Soo Rin hampir saja terjatuh dari anak-anak tangga yang dipijakinya, jika saja tangan itu tidak menahan lengannya hingga tubuhnya jatuh pada si pemilik tangan. Matanya yang melebar karena sempat terkejut, kini semakin melebar begitu melihat siapa yang sudah menolongnya. Suatu tindakan terbodohnya karena memilih untuk mundur demi melepas diri namun lupa di mana posisinya saat ini, dan harus merasa beruntung karena orang itu menarik dirinya lagi hingga kini jatuh ke pelukannya.

“Menggunjingku, Park Soo Rin?” Ki Bum menunjukkan senyum miringnya. Menikmati bagaimana reaksi di wajah yang terhiasi kacamata minus itu.

Buru-buru Soo Rin melepas diri lagi. Kali ini dia tidak perlu khawatir akan jatuh karena ia hanya butuh menggeserkan diri. Raut wajahnya berubah datar menatap pria yang baru saja menyelamatkannya, namun kemudian mengejeknya.

“Oh, ada yang tersinggung? Baguslah jika kau sadar akan itu.”

“Untuk apa aku tersinggung jika kau mengakui bahwa aku adalah pria tampan, hm?”

“A-apa?” Soo Rin gelagapan. Dia masih ingat dengan segala kata-kata yang sempat keluar dari mulutnya beberapa menit yang lalu. Namun cepat-cepat ia mengontrol diri dengan deheman pelan. “Lalu apa masalahnya? Aku rasa kata ‘tampan’ itu relatif. Semua pria bisa dikatakan tampan. Jadi tolong jangan terlalu percaya diri hanya karena aku mengatakannya. Sadarlah karena ketampananmu itu ternyata sudah kausalah-gunakan.”

“Sepertinya ada kesalahpahaman di sini.”

“Aku tidak peduli. Aku tidak mau ikut campur. Permisi.”

Soo Rin kembali melangkah, namun ia baru saja melewati anak-anak tangga ketika tangannya ditarik hingga tubuhnya berbalik dan menemukan pria itu berdiri di dekatnya lagi.

Don’t judge the book by the cover. Kau tahu makna dari kalimat itu, bukan?”

Soo Rin mengerutkan kening. Ia mencoba menarik tangannya, namun Ki Bum mengeratkan genggamannya.

“Kau terlalu menilai hanya dengan melihat apa yang tertangkap oleh matamu. Itu memang bagus, tetapi tidak selamanya bagus, Park Soo Rin.”

“Mengguruiku, Dosen Kim?” Soo Rin menantang dengan tatapan datarnya. Namun ia justru melihat sunggingan asimetris muncul di bibir penuh itu.

Well, kita sudah berada di luar area kampus. Ada baiknya jika kau tidak memanggilku dengan embel-embel itu.”

“Lalu apa? Kim Ki Bum?”

Ki Bum mendengus geli. Tapi, entah kenapa, ada rasa asing ketika gadis itu menyebut nama lengkapnya seperti baru saja.

“Aah, Ahjusshi? Aku rasa itu lebih pantas untukmu.” Soo Rin menarik sudut bibirnya, tersenyum miring karena melihat pria itu terpana akan usulnya baru saja. “Dan setidaknya itu lebih sopan daripada hanya sekadar memanggil namamu,” lanjutnya merasa menang.

Yeah, you’re right.

Namun senyum di bibir Soo Rin lenyap begitu saja, ketika hentakan itu terjadi, memaksa tubuhnya untuk menubruk tubuh yang lebih tinggi darinya. Matanya melebar ketika wajah itu mendekat dan bertahan di jarak terlalu tipis hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Dia tidak mengerti, kenapa jantungnya seperti berlari kencang hanya dengan merasakan deru hangat itu menerpa wajahnya.

Then be nice to me, young lady. You are talking with an older man and you should listen what does he say.” (Kalau begitu bersikap baiklah, nona muda. Kau sedang bicara dengan pria lebih tua dan kau harus mendengar apa yang dia katakan.)

Kini giliran Ki Bum yang mengumbar senyum kemenangan. Tangannya yang bebas terangkat, menyentuh gagang kacamata Soo Rin demi membenarkan letaknya yang sedikit merosot. Gesekan halus itu tidak sengaja terjadi, menimbulkan sengatan berarti pada keduanya namun memilih untuk diam. Terutama Soo Rin yang mengatup bibirnya rapat-rapat. Meneguk saliva diam-diam.

“Dan jangan lupa, kau berada dalam pengawasanku, Park Soo Rin. Kau tidak mau kejadian kemarin terbongkar, bukan?”

“Kau mengancamku?!”

Ki Bum mengangkat sebelah alisnya. “Jika itu bisa membuatmu menurut padaku, aku akan melakukannya.”

“Dasar pria tua!”

“Aku tersinggung, Nona. Usiaku baru memasuki tiga puluh tahun.”

“Apa peduliku?!” Soo Rin menghempas genggaman Ki Bum. Menatap tidak suka pria itu dengan bibir mengerut. “Aku justru merasa kasihan dengan keluargamu yang sudah kau permainkan di belakang! Dasar Ahjusshi Mesum!” buru-buru Soo Rin berlari menjauh. Meninggalkan pria yang baru saja dikatainya tanpa berniat ingin meminta maaf. Dia tahu perbuatannya ini sungguh tidak sopan, tapi dia tidak peduli.

Sedangkan Ki Bum, pria itu hanya berkacak pinggang dengan memasang tampang tidak habis pikir. Namun bibirnya menyungging ulasan senyum penuh arti untuk gadis yang sudah berani melawannya. Apalagi, dia jauh lebih muda bahkan dia adalah mahasiswanya sendiri.

You got my attention, Park Soo Rin.

.

.

.


nih, yang minta lanjutannya 😂😂😂

nyesel kan? yaudah bubar lagi aja (?)

eh bentar, sebelum itu salam dulu

wp-1472663308582.jpeg
Sandara

 

Lisa
Lisa

ada yang tau BLACKPINK? Boombayah! Lisa in the area~~ bareng kakak Sandara hehehehe 😄😄😄

udah ah bubar bubar!! //ditendang//

Advertisements