Posted in KiSoo FF "WHATTA MAN", PG-17, Vignette

Wild Class

wp-1472372207312.jpeg

PG-17 || for harsh words, setting and a bit scenes

Oneshot!Vignette

H A P P Y    R E A D I N G

.


ELVABARI©2016

.

.

DUNIA ini tidak semonoton yang sering dijalani oleh seorang Park Soo Rin. Gadis berkacamata yang selalu mengikat rambutnya rendah itu, hanya bisa duduk tidak nyaman ditemani oleh kedua temannya yang selama ini ia anggap memiliki kehidupan yang sama seperti dirinya.

Tapi…

“Oh, come on, Soo Rin-ah! Kapan lagi kita bisa melakukan ini? Sesekali bersenang-senang seperti ini tidak masalah!”

Yeah! Beginilah cara orang dewasa melepas rasa penatnya, asal kau tahu itu!”

Sandara dan Lisa, dua temannya itu… sudah berubah menjadi gadis asing di mata Soo Rin. Mengangkat gelas tinggi berisi minuman memabukkan, duduk seperti cacing kepanasan karena terus saja meliuk-liukkan tubuh mereka mengikuti musik disko yang sangat memekakkan telinga.

Entah bagaimana caranya Soo Rin bisa menuruti ajakan mereka untuk singgah di tempat seperti ini. Sudah tahu pasti, bukan? Lampu kerlap-kerlip, musik terlalu keras, orang-orang aneh, wanita berpakaian minim yang berseliweran mencari mangsa, belum lagi minuman beralkohol. Oh, ya ampun. Bagaimana bisa Soo Rin menginjakkan kaki di tempat seperti ini?!

“Aku ingin pulang saja!” Soo Rin berseru mencoba melawan kebisingan sambil berdiri. Namun teman-temannya itu menahannya dan mendorongnya untuk kembali duduk.

“Kau hanya perlu duduk dan menikmati. Anggap saja ini bentuk relaksasi otak sebelum kita kembali ke realita kehidupan yang penuh dengan tugas-tugas kuliah.” Sandara berseru di depan wajah Soo Rin.

“Tidak akan ada yang tahu kalau kita adalah kita.” Lisa menimpali.

“Aku tidak biasa di sini!” Soo Rin berseru kesal.

Yeah, kau lebih nyaman di depan buku-buku tebal yang akan terus menambah minus di matamu itu. Aku tahu, Sandara juga tahu. Tapi itu tidaklah seru, Park Soo Rin. Kau harus mencoba sesuatu hal yang baru!”

“Tapi tidak dengan ini!” Soo Rin mengepal kedua tangannya di bawah meja.

C’mon! Berada di club bukan berarti merendahkan derajatmu, bukan? Orang kaya pun menjadikan ini sebagai tempat favoritnya. Dan di sini tidak berarti kau mau menjual diri!”

“Kita hanya bersenang-senang! Minum yang banyak sampai kita lupa dengan tugas-tugas sialan itu untuk sesaat.”

Lalu baik Sandara maupun Lisa, melakukan cheers dengan gelas masing-masing sebelum meneguknya dengan rakus. Sedangkan Soo Rin yang duduk di antara mereka, hanya bisa menahan mual membayangkan bagaimana minuman beralkohol itu masuk ke dalam kerongkongannya. Ugh!

“Aku mau ke toilet!” Soo Rin berdiri lagi. Kali ini kedua temannya hanya menatapnya curiga.

“Kau tidak akan kabur, bukan? Kau akan kami anggap pecundang jika kabur dengan dalih seperti itu, Park Soo Rin.” Lisa terkikik.

Sebenarnya Soo Rin tahu bahwa temannya itu hanya bercanda, tapi tetap saja mendengar kata pecundang keluar dari mulut temannya sendiri, Soo Rin agak tersinggung.

“Anggap saja itu sebagai jaminannya!” Soo Rin melempar tasnya ke pangkuan Lisa. Barulah keluar dari meja itu setelah mendengar Sandara terkikik geli melihat tingkahnya sambil memberi akses.

Dan selama di perjalanan, Soo Rin harus menundukkan pandangan tiap bertemu dengan orang-orang yang menatapnya. Dia tahu, mereka pasti menilai penampilannya yang sudah masuk ke level tidak pantas. Blouse yang sedikit kebesaran, celana jeans yang menutupi kaki jenjangnya, sepatu kets putih, belum lagi kacamata yang bertengger di hidungnya yang sedikit mancung.

Seperti gadis lugu yang tidak sengaja tersasar kemari.

Namun tetap saja ada pria-pria hidung belang yang menggodanya. Beberapa kali Soo Rin harus bergidik ngeri tiap suara-suara berat merendah itu menyapanya, beberapa kali pula dia selalu menepis kasar tangan-tangan yang mencoba ingin menyentuhnya. Sungguh mengerikan.

Butuh waktu lama baginya untuk menyeberangi lautan manusia sinting itu hingga kemari. Menghembuskan napas lega, Soo Rin memeriksa sebuah lorong di mana tertulis rest room di atasnya. Barulah ia masuk mengikuti alur lorong yang begitu remang itu. Awalnya Soo Rin berpikir untuk bersembunyi saja di sini. Tapi begitu ia berbelok, semua pikiran itu buyar seketika.

Dia lupa bahwa ini adalah tempat orang dewasa menyimpang. Buktinya saja, Soo Rin harus menahan diri untuk tidak berteriak karena melihat pemandangan menggelikan di dekat pintu masuk toilet masuk wanita.

Oh, ayolah! Apakah tidak ada tempat lain bagi dua makhluk lawan jenis itu untuk bercumbu ria? Ini sungguh memuakkan! Melihat wanita itu begitu agresif dengan menghimpit si pria sedangkan si pria memeluk si wanita terlalu seduktif. Ough!

Mau tidak mau, Soo Rin melewati mereka dengan rasa menahan mual. Namun tidak sengaja saat ia hendak masuk, pria itu tengah meliriknya. Oh, Soo Rin tidak salah lihat, bukan? Pria itu sedang membuka mata di saat mereka sedang bercumbu panas seperti itu? Yang benar saja?

Buru-buru Soo Rin memalingkan wajah. Masuk ke dalam bilik, menguncinya rapat-rapat, barulah mendudukkan diri di atas kloset. Menghela napas panjang yang sarat akan kelelahan.

Meratapi nasibnya di dalam hati. Betapa jahatnya mereka karena sudah menjerumuskannya kemari. Padahal mereka sudah dia anggap teman terbaik yang selalu bersamanya selama menjadi seorang mahasiswi. Tapi dengan begitu teganya, mereka menyeretnya ke tempat yang tidak pernah dijamah bahkan sudah dia coret di dalam daftar kehidupannya.

Selama dua puluh tahun hidup, Soo Rin selalu menjalankan keseharian secara terarah. Menjadi gadis yang baik bagi orangtua maupun orang-orang di sekitarnya. Menjauhi hal-hal berbau menyimpang hingga ia beranjak dewasa seperti sekarang. Tapi sekarang, dia bahkan sudah menginjakkan kaki di tempat yang… menggelikan di matanya ini.

“Bagaimana aku bisa keluar dari sini? Astaga, bahkan di luar situ saja aku harus melewati rintangan terlebih dahulu. Aah, kenapa aku bisa berakhir di sini, sih?”

Soo Rin menjumput rambutnya hingga berantakan. Frustasi dengan keadaannya sekarang. Dan akhirnya Soo Rin memilih untuk mengurung diri saja di dalam bilik ini.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Lalu ponselnya berdering di dalam saku celananya. Soo Rin harus mendesah melihat nama Lisa yang tengah melakukan panggilan. Mereka pasti bertanya-tanya kenapa dia tidak kunjung kembali.

Ya, Soo Rin-ah! Kau tidak pingsan di dalam toilet, bukan? Kenapa lama sekali?”

“Aku merasa pusing. Rasanya mau muntah saja, jadi aku singgah dulu di sini,” bohong Soo Rin.

“Benarkah? Kenapa kau tidak bilang jika kau sakit?!”

“Apa? Ada apa dengan Soo Rin?”

Soo Rin sedikit tersenyum. Meski mereka sedang menyebalkan di hari ini, mereka tetap memiliki perhatian khusus untuknya. Sedikit merasa bersalah karena sudah berbohong, tetapi setidaknya dengan begitu dia memiliki jalan keluar untuk bisa mengajak mereka pulang, bukan?

“Kau bisa berjalan kemari, ‘kan? Atau kau ingin aku menjemputmu di sana? Kita pulang saja, ya?”

Benar, bukan? Soo Rin bersorak di dalam hati.

“Aku akan segera ke sana. Tapi berjanjilah, kita langsung pulang. Aku benar-benar pusing.”

Arasseo, arasseo!

Lalu berakhirlah panggilan singkat itu. Soo Rin melompat dari kloset sambil menyambar pintu bilik untuk dibukanya. Kemudian meringis begitu bertemu langsung dengan cermin besar, dirinya yang berantakan terpantul di sana. Langsung saja Soo Rin merapikan rambutnya yang sedikit awut-awutan. Menyisirnya dengan jari-jemarinya. Kemudian baru menyadari bahwa dia sedang tidak sendiri.

Bukankah dia wanita yang tadi sedang bercumbu di depan pintu toilet? Soo Rin ingat dengan warna gaunnya yang berwarna hitam itu. Memperlihatkan belahan dadanya, dan paha mulusnya yang seputih susu itu. Well, dia sangat cantik dan seksi. Apalagi dia sedang memoles bibirnya dengan lipstik merah menyala. Tidak lupa dengan rambut sepunggungnya yang tergerai indah.

“Memandangku, hm?”

Soo Rin terkesiap, menyadari wanita itu ternyata sudah menatapnya melalui cermin. Namun tidak disangka, wanita itu memberikan senyum menawan bak bidadari turun dari langit. Terlihat ramah sekali. Soo Rin kira wanita itu akan memandang sinis dirinya, atau bahkan menertawakannya yang berpenampilan tidak pantas seperti sekarang.

Your life is more precious than mine. So, better you go home after this, Dear.” (Kehidupanmu lebih berharga dari punyaku. Jadi lebih baik kau pulang setelah ini.)

Soo Rin mengerjap cepat. Wanita itu baru saja mengedipkan sebelah mata sebelum melenggang keluar dari sini. Apakah wanita itu baru saja menegurnya? Rasanya aneh sekali. Wanita itu terlihat seperti orang baik-baik tetapi kenapa dia bisa berada di sini?

“Ah, lupakan saja!” Dia memang harus segera keluar dari tempat ini dan pulang ke rumah.

Tapi Soo Rin baru saja keluar dari sana ketika harus dipertemukan oleh orang asing. Oh, jangan bilang, dia adalah pria mabuk yang berubah menjadi hidung belang.

“Hei, gadis manis. Kau tersesat?”

Benar, bukan?

“Tidak.” Tersesat bagaimana? Dasar pria sinting! Soo Rin menggerutu sambil melangkah mencoba mengabaikannya. “Aw!!”

Hal tak terduga, pria itu langsung menangkapnya dan menyudutkannya ke dinding. Oh, bagus, kini Soo Rin harus merasakan adanya alarm bahaya di dalam kepala.

“Jangan sungkan padaku. Mau kutunjukkan jalan? Aku akan mengantarmu asalkan kau mau menemaniku terlebih dahulu.”

“Aku tidak butuh, dasar hidung belang! Lepaskan aku!!” Soo Rin meronta-ronta. Suaranya sudah berubah bergetar karena mulai ketakutan. Dia tidak pernah mengalami hal seperti ini. Apalagi orang yang sedang menjeratnya adalah pria mabuk yang berbahaya.

Siapa saja, tolong aku!

Don’t touch her, you jerk!”

Ada tangan yang menarik pria itu menjauh, lalu mendorongnya hingga pria itu terjerembab. Soo Rin mendengar pria itu baru saja mengumpat kasar sebelum mendengar suara lain berkata.

I will kill you if you touch mine again. Get lost!” (Aku akan membunuhmu jika menyentuh milikku lagi. Pergi!)

Shit! Damn you, Kim!

Soo Rin hanya mematung di tempatnya, melihat pria itu mundur setelah mengumpat sekali lagi. Meninggalkannya bersama pria yang baru saja menyelamatkannya. Tapi, oh, bukankah pria yang menyelamatkannya ini adalah…

Yang sempat Soo Rin lihat tadi, bukan? Di depan toilet bersama wanita cantik tadi.

Ya ampun, apakah sebenarnya pria ini ingin menyerangnya juga?!

“Jangan sentuh aku!” Soo Rin sudah menyilangkan kedua tangan di depan dada. Ingin berlari, tetapi kenapa rasanya berat sekali? Dia harus susah payah menyeret kaki-kakinya sambil terus menempel pada dinding.

“Kau seharusnya berterima kasih, bukannya menganggapku sama seperti orang itu, Park Soo Rin.”

Eh?

Dia tahu namaku? Bagaimana bisa? Siapa dia? Aih, Soo Rin tidak bisa melihat dengan jelas karena lampu yang begitu remang di lorong ini.

“K-kau… siapa?”

Sepertinya Soo Rin salah bertanya karena pria itu kini mendekatinya. Ia menelan saliva, melihat pria itu membungkukkan badan hingga kini wajahnya tepat di depan wajahnya.

“Aku harap kau tidak lupa bahwa aku selalu datang ke kelasmu, Park Soo Rin.”

Tunggu…

Dia…

“D-Dosen Kim?!”

Oh, astaga! Tidak pernah terbayangkan olehnya akan bertemu dengan dosennya sendiri di tempat seperti ini! Bagaimana ini? Dia harus menggunakan alasan apa supaya dosen itu tidak memberinya peringatan karena sudah berani datang ke tempat ini?!

You know me, now?” Pria itu tersenyum miring. “Harus kuberi hukuman macam apa karena mahasiswaku ternyata berada di tempat seperti ini, hm?”

Soo Rin menggeleng cepat. “T-tidak! Aku mohon jangan beri aku hukuman! A-aku… aku tidak sengaja berada di sini! Teman-temanku yang mengajakku kemari! Aku tidak bisa menolak!”

“Begitu? Jadi, aku harus memberi hukuman pada teman-temanmu itu, begitu?”

“Tidak! Jangan! Mereka… mereka hanya…”

“Hanya apa?”

Soo Rin menelan saliva. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Otaknya berpikir keras.

Tunggu… bukankah pria ini adalah yang Soo Rin lihat sedang berciuman dengan wanita itu?

“K-kau! Kau juga, kenapa ada di sini? Aku melihatmu yang sedang ber—bercium—an… dengan wanita! Di sini!” Soo Rin menunjuk tempatnya berdiri. “Kau mau menghukumku di saat kau bahkan melakukan hal tidak senonoh di sini, huh?! Kau tertangkap basah, Dosen Kim Ki Bum! Aku akan melaporkanmu!”

“Begitu?” pria bernama Kim Ki Bum itu menyeringai, merasa geli dengan kata tidak senonoh keluar dari mulut si gadis. Ia mengulurkan tangan, membuat teritori di dekat kepala Soo Rin hingga gadis itu menegang. “Jika kau melaporkanku, aku juga akan melaporkanmu. Bagaimana?”

“J-jangan! Jangan melaporkanku, kumohon!” Soo Rin kembali ciut mendengar ancaman itu. Oh, sial! Berniat mengancam balik, dia justru terkena ancaman yang sama. “Aku baru kali ini datang kemari itu pun terpaksa! Jadi jangan laporkan aku!”

Jika dilaporkan, bisa-bisa Soo Rin terancam akan mendapat penghapusan beasiswa kuliahnya nanti!

“Apa jaminannya agar aku tidak membuka mulut, hm?”

“A-aku… aku tidak akan melaporkanmu. Aku berjanji! Kita sama-sama menutup mulut.” Soo Rin mendesah pasrah di dalam hati.

Biarkan saja, daripada beasiswa kuliah penuhnya hangus.

Okay. Aku pegang kata-katamu itu. Tapi…”

Soo Rin harus menahan napas ketika pria itu mendekati sebelah telinganya. Tubuhnya merinding ketika deru napas berat itu menerpa di sana.

I will watching you from now, so be careful, Park Soo Rin.

Ki Bum menegakkan tubuhnya, mengulas senyum yang sungguh berbeda dari sebelumnya. Bersikap santai seperti tidak pernah terjadi apa-apa. “Sekarang, aku akan mengantarmu ke teman-temanmu. Aku tidak mau mahasiswaku disentuh oleh pria-pria hidung belang di luar sana.”

Soo Rin tidak mengerti apa maksud dari pria itu. Mengawasinya? Untuk apa? Dari sekarang?

Apakah itu berarti…

wp-1472372302405.jpeg

FIN


udah gitu aja. Ga usah dibahas lagi. HAHAHAHA

terima kasih sudah mau membaca~~ 😆😆😆

bubar bubar bubar!!

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

28 thoughts on “Wild Class

  1. What ???? Cuma gitu aja pokok nya ini wajib di lanjutin -_- gitu doang ckckck

    Ya ampun bang toyib bibir mu gak suci lagi yaaa homena homena homena

  2. Kim.Ki.Bum. (n)
    such a badass handsome hot teacher who just threatened his student for being caught in the middle of a random club while he himself just being caught as well for having make out with such a pretty random girl who has an angel heart ige mwoyaaaaaa??
    lanjut! /apaini/ hehe ini perlu sesuatu yang harus diperjelas uhuhuhu. Apalah itu si dosen Kim ngomongnya ambigu tapi ih kalo ada dosen cem KimKibum gitu bakal rame kali yaa kampusnya hmz bakal rajin deh ga bakal telat-telat ihihihi /dug /dug /duuuug

    1. hellyeaaaaaahh (?) //dug xD
      ini terlalu liar kugakuat 😣😣 tapi maunya juga lanjut sih gimana dong hiks…..
      aku gamau pulang kalo kimkibum dosennya hwhwhw
      maaciw poku-nyaaaann ({}) 😘😘

  3. Iiihh nanggung teh… php! Haha 😀✌tapi seru sih liat kibum nolongin soorin, kayaknya kibum suka ama soorin, kayaknya yaaaa abis udah end aja, makanya lanjutin dongggg kekeke

    1. wkwkwk kusuka sebagai php //whaaatt //gampar 😂😂😂
      uhh…terlalu dini tuk mengambil kesimpulan begitu.. yaudah dilanjut (?) hahahaha
      terima kasih sudah mau membacaaaa~ ({}) 😣😣😣

  4. oh my, kak ini gantung pake banget
    harus dilanjut pokoknyaaaaa

    bulan ini banjir kisu2, ahh ahh ahh aku senangg sekaiiii kisu2. eh kok malah nyanyi hahahaa

    good job kak :))))

  5. Lahh eon nanggung bngt atuuh 😌 pokoknya ini kudu , wajib, harus dilanjutinn yahh >< huuuuaa endnya gantung😣 sesuatu yg digantungkan itu sangat menyakitkan 😂😂😂

  6. wadaaaw.. 😂😂
    tidaaaak,jangan bubar dulu wkwkwk

    sebentar banget ah kak, padahal mah pengen lebih. hihihi tapi tak apa tetep kereeen banget mangaaaat kaaak 😚😳😁😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s