Posted in Angst, Campus Life, Chaptered, Fiction, Fluff, Friendship, PG-15, Romance, Special Fanfics, Special [The Day]

[The Day] I Got You Back

wp-1471702998363.jpeg

Angst, Campus Life, Fluff, Friendship, Romance

PG-15 | Mini Chaptered (Last)

Before :: A Sadistic Boyfriend | We Felt The Distance | I Fall, Once Again

Backsound(s) :: K.Will & Baek HyunThe Day, Park Bo Ram – 거짓말이라도 해줘요 (Please Say Something Though It’s A Lie) [‘W’ OST], B2STBaby It’s You

“Aku benci mengakui bahwa aku masih menyukai seorang pria diktator yang sudah membuatku banyak menangis.”

.


ELVABARI©2016

.

I’m missing you again. I’m thinking of you especially more today. The warm wind remembers you back then, you and us back then. We hesitated for a while and regretted In case we would both get hurt. Because you would cry for a long time. Because I would cry while waiting for you. – The Day

.

.

SOO RIN menemukan kesadarannya. Perlahan ia membuka mata, berkedip pelan-pelan membiasakan diri akan bias cahaya yang berlomba masuk ke retina. Lalu hal pertama kali dilihatnya adalah langit-langit bercorak halus yang sangat asing baginya.

Keningnya mengerut samar, mulai berpikir. Dia sedang terbaring di sebuah ruangan asing dan dia tidak memiliki ide di mana dia berada. Bukankah dia sedang berada di kampus? Terakhir kali yang diingatnya adalah…

Menangis di pelukan Kyu Hyun. Lalu gelap begitu saja.

Apa ini tempat tinggal Kyu Hyun? Karena dia memang belum pernah singgah di tempat tinggal Kyu Hyun. Wajar jika ia tidak merasa familiar.

Dan apa ini?

Soo Rin semakin kebingungan ketika mendapati punggung tangan kirinya dipasangkan jarum infus. Matanya mengikuti alur selang infus tersebut yang ternyata berujung di atas kepalanya, menggantung sebuah cairan bening di tengah-tengah headboard tempat tidur berukuran luas ini.

Memangnya Soo Rin sakit apa sampai harus di-opname seperti ini? Belum lagi tempat ini tidak seperti di dalam rumah sakit melainkan kamar tidur yang cukup mewah. Seorang diri.

Sebenarnya Soo Rin ada di mana?

Tiba-tiba pintu di sisi kanan sana terbuka. Soo Rin harus menyipitkan mata demi tahu siapa yang masuk ke ruangan ini. Dia bahkan sudah membuka mulut hendak menyebut nama temannya ketika niatnya harus musnah begitu melihat sosok yang kini berjalan mendekatinya setelah menutup kembali pintu tersebut.

Tidak mungkin.

Kenapa dia ada di sini?

Jangan katakan bahwa… tempat ini bukanlah rumah Kyu Hyun, melainkan rumah…

Kim Ki Bum?

Kedua tangan Soo Rin mulai meremas-remas selimut yang menutupi tubuhnya. Batinnya menjerit tidak percaya. Kenapa pria itu yang harus muncul di hadapannya? Dalam kondisi seperti ini, Soo Rin mana bisa kabur mengingat ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri?

Astaga, sebenarnya ada apa dengan tubuh Soo Rin? Kenapa dia seperti orang lumpuh, sih?

“Tenagamu terkuras habis. Dokter mengatakan bahwa kau kelelahan menuju kronis. Kau harus istirahat total untuk beberapa hari ke depan.”

Soo Rin membuka mulut, mencoba untuk bicara, tetapi tidak bisa. Apalagi pria itu kini mendudukkan diri di sisi kanannya serta menatap lurus dirinya. Ada perasaan aneh menyusup ke dalam benaknya, memicu jantungnya untuk berdegup cepat kala tangan besar itu mendarat di keningnya, mengusapnya sebelum bergerak turun hingga kini merengkuh sebelah wajahnya.

“Apa saja yang sudah kau lakukan hingga berakhir seperti ini, Park Soo Rin?” suara Kim Ki Bum begitu halus. Tidak seperti biasanya yang selalu terdengar datar menjurus dingin.

Dan itu membingungkan Soo Rin.

“Sudah lihat akibatnya jika kau lepas dari pengawasanku, bukan? Kau menjadi tidak beraturan dan kacau.”

Soo Rin menahan napas. Bibirnya terlipat, sorot matanya memancarkan perasaan tidak terimanya. Menggerakkan tangannya untuk menepis tangan besar itu meski harus terasa susah baginya.

“Ini semua gara-gara kau…” suaranya begitu lemah, namun Soo Rin memberanikan diri untuk melawan pria yang selama ini ditakutinya. “Kau yang membuatku menjadi begini. Aku melakukan apa yang bisa kulakukan agar bisa melupakanmu. Tapi kau terus saja menggangguku dan itu membuatku frustasi.”

“Jadi, kau masih memikirkanku, selama ini.”

Itu bukanlah pertanyaan. Dan Soo Rin baru menyadari bahwa ucapannya justru membuat Kim Ki Bum menyudutkannya dengan mudah. Lihat bagaimana sudut bibir itu tertarik membentuk senyum asimetris.

Tapi tunggu… Kim Ki Bum tersenyum di depan Soo Rin?

“Sebesar apa pengaruhku hingga kau menjadi frustasi dan berakhir seperti sekarang, hm?”

Soo Rin yang masih lemah, harus mengakui bahwa dia begitu cengeng. Karena kini kedua matanya sudah memanas dan berkaca-kaca. Menggigit bibir sekuat tenaganya yang tidak seberapa.

“Kau menyebalkan, Kim Ki Bum…”

Ki Bum tidak membalas. Memilih untuk diam mengamati perubahan raut wajah gadis itu.

“Sebenarnya apa maumu? Kau bertindak kejam padaku selama aku menjadi kekasihmu, tetapi di saat itu berakhir kau justru mengganggu pikiranku setiap hari. Aku berpikir dengan berakhirnya hubungan itu, aku tidak akan lagi merasakan yang namanya dikekang hingga membuatku menangis berkali-kali. Tapi kau justru membuatku merasa kehilangan sejak hal itu terjadi.”

Buliran itu keluar dari sudut matanya, menimbulkan isakan halus keluar dari bibirnya yang tengah terbuka.

“Aku selalu menyesali akan sikapmu yang tidak pernah terlihat hangat di hadapanku, aku bahkan berpikir bahwa kau tidak serius padaku, tapi kenapa kau masih saja membuatku harus tetap mengikuti segala kemauanmu dalam bentuk tekanan? Lalu aku harus menyesal ketika akhirnya aku bisa lepas darimu. Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan padaku?”

Soo Rin benar-benar menangis. Kali ini ia tidak bisa menatap Kim Ki Bum dan beralih menutup mata dengan tangannya yang kosong.

“Kau bahkan menjawab semuanya dengan memperlihatkan kebersamaanmu dengan gadis itu. Membuatku iri bukan main dan merasa gagal sebagai seorang kekasih. Kau sampai memberikan isyarat padaku bahwa kau sudah lelah padaku, tapi di saat aku juga berkata bahwa aku lelah dan kau melepaskanku, aku justru merasa kosong dan tidak terarah. Bagaimana bisa aku masih mengharapkanmu di saat aku mendambakan kebebasan yang sudah aku dapatkan sekarang? Aku tidak mengerti. Aku benci mengakui bahwa aku masih menyukai seorang pria diktator yang sudah membuatku banyak menangis.”

Ia sesenggukan. Air matanya merembas di balik telapak tangannya yang masih menutup matanya. Dan menyesal karena sudah bertindak memalukan seperti ini di hadapan pria yang berubah bisu di hadapannya.

“Aah, apa yang sudah aku katakan?” suaranya sudah bergetar karena tangisannya yang sudah tidak bisa berhenti. “Ini benar-benar memalukan. Hanya karena seorang Kim Ki Bum, aku terlihat menyedihkan seperti—”

Suaranya hilang begitu saja. Begitu juga isakannya. Tubuhnya terasa kebas dalam sekejap beserta napasnya yang mendadak tercekat. Soo Rin tidak bisa melihatnya, tetapi ia merasakannya… ada yang menyentuh bibirnya. Begitu lembut dan basah. Juga ada hembusan hangat di dekat hidungnya yang sukses memancing desiran asing di dalam benaknya.

Soo Rin tidak berani menebak, tetapi ketika ia mencoba menyingkirkan tangan yang selama ini menutup matanya, saat itu juga sentuhan itu hilang. Menyisakan bagaimana wajah tegas itu menjauh lalu menatap Soo Rin begitu dalam.

A-apa yang baru saja terjadi?

Sadar tidak sadar, tangan Soo Rin beralih turun menyentuh bibirnya sendiri. Matanya yang basah tampak menyorot terperangah sekaligus kebingungan, meminta jawaban pada Kim Ki Bum yang kini sudah membungkuk dan mengungkungnya lalu meraih tangannya. Menggenggamnya di sisi kepala Soo Rin sebelum tangan lainnya bekerja, menghapus jejak air asin itu di sudut mata Soo Rin.

“Kau terlalu banyak bicara, Soo Rin-ah.”

Ada rasa terkejut kala mendengar pria itu menyebut namanya seperti baru saja. Baru kali ini dia mendengar seorang Kim Ki Bum memanggilnya seperti itu. Menimbulkan desiran hangat di dalam benaknya dan semakin menjadi ketika sentuhan itu beralih merengkuh wajahnya.

Kini Soo Rin menyaksikannya, wajah Kim Ki Bum turun mendekat hingga hidung mereka bersentuhan menciptakan gesekan tak terduga sebelum mata Soo Rin kembali melebar ketika hal yang sama menyentuh bibirnya. Memagutnya dengan lembut yang seketika meledakkan sensasi aneh di dalam benak Soo Rin. Dia melihatnya, melihat Kim Ki Bum yang memejamkan mata, dengan bibir yang menempel tepat di bibirnya. Bergerak perlahan hingga Soo Rin tidak mampu menahannya lagi.

Matanya terpejam begitu saja. Begitu rapat menciptakan guratan di kelopaknya. Kedua tangannya terkepal meremas apa saja yang mampu diraihnya. Ketika gerakan itu semakin intens, seolah menyalurkan rasa yang merambat hingga menggelitik sekujur tubuhnya. Jantungnya berdegup tak terkendali bagaikan tidak tahan dengan rasa hangat di dalam rusuknya.

Karena Kim Ki Bum menciumnya.

Kim Ki Bum menciumnya…

Ini, sulit untuk dipercaya. Pria yang selalu Soo Rin anggap sebagai diktator tak berperasaan itu kini justru menciumnya penuh rasa. Saking sulit dipercaya, Soo Rin berjuang untuk menahan napas demi merasakan lebih dalam bahwa ini memang nyata. Namun tidak bisa bertahan lama hingga spontan tangannya yang terinfus itu mencengkeram lengan kekar itu dengan lemah dan gemetar.

Seharusnya Soo Rin merasa lega bahwa pria itu mengakhiri pagutannya, tetapi kenapa… dia ingin merasakannya lagi? Ya Tuhan, apa Soo Rin mulai gila? Di saat dia butuh udara bernapas, dia juga menginginkan ciuman itu lagi.

“Kau merasakannya?”

H-huh?” Soo Rin kehilangan kata-kata.

Bagaimana dia bisa bicara jika Kim Ki Bum menatap terlampau lekat dirinya? Tangan yang sedari tadi merengkuh wajahnya kini bertumpu di dekat bahu, mengungkungnya sekali lagi, berganti tangan yang sempat menggenggam miliknya kini menyentuh wajahnya. Dan Soo Rin harus merasakan dadanya berdesir-desir tidak karuan bersamaan semakin besar kebingungannya terhadap pria di hadapannya kini.

“Di saat kau mengira aku tidak berperasaan dan tidak serius padamu, itulah yang sebenarnya aku rasakan terhadap dirimu, Soo Rin-ah. Selama ini aku memang tidak mengungkapkannya karena merasa itu bukanlah gayaku. Aku sadar bahwa tidak seharusnya aku melakukan kebiasaanku sepenuhnya kepadamu. Kau terlalu cengeng dan akan semakin cengeng jika aku menekanmu. Tapi aku tidak bisa mengatakannya dan memilih untuk bertindak dengan cara lain.”

Soo Rin memajukan bibir bawahnya. Di saat ia merasa tersentuh dengan pengakuan Kim Ki Bum, dia juga merasa tersentil akan sindiran halus pria itu yang mengatakan dirinya cengeng.

Tahu maksud reaksi itu, Ki Bum menarik sudut-sudut bibirnya membentuk senyum yang jelas membuat Soo Rin semakin berdesir melihatnya. Suatu hal yang baru bagi Soo Rin bisa melihat seorang Kim Ki Bum tersenyum padanya.

“Aku tersadar di saat kau memilih untuk menghentikan semuanya. Kau merasa lelah dan aku menyesali hal itu. Semua yang sudah kuperbuat berputar di dalam kepalaku dan membuatku marah pada diriku sendiri karena sudah melakukan semua itu padamu. Dan aku berubah menjadi pria pengecut karena membiarkanmu menangis di depan pria lain.” Ki Bum membelai sebelah pipi merona itu dengan punggung tangannya, dengan penuh rasa. “Kau pasti tidak akan percaya bahwa aku juga merasa kacau sejak aku melepaskanmu.”

Seolah menjawab ungkapan Ki Bum, Soo Rin menggelengkan kepala perlahan. Namun respon itu justru memancing Ki Bum mendengus hingga ia tersenyum lagi. Kali ini tersirat rasa bersalah di sana.

“Aku memang selalu mengataimu bodoh, tapi aku tidak pernah menganggapmu sebagai gadis bodoh. Tidak pernah menganggapmu sebagai bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa. Apalagi memandangmu sebelah mata. Aku memang selalu berkata bahwa aku lelah menghadapimu, tetapi aku tidak pernah berpikir untuk berhenti. Aku selalu terlihat marah padamu, bukan berarti aku membencimu.

“Sampai sekarang pun perasaanku masih sama, bahkan mungkin semakin berkembang sejak aku melepasmu. Aku yang menjadikanmu sebagai kekasihku, bukan untuk aku permainkan, bukan untuk memenuhi syarat agar aku mau menerima kue cokelat buatanmu di kala itu, tetapi karena aku memang serius padamu, Soo Rin-ah.”

Ia tidak bisa membendungnya. Air mata itu kembali menyeruak di pelupuk matanya, keluar melalui sudut dan mengalir begitu saja. Seperti ada kelegaan yang selama ini dicarinya di dalam relung benaknya. Mendengar pengakuan panjang dari seorang Kim Ki Bum, sudah cukup membuatnya merasa jatuh sekali lagi.

Jatuh hati pada pria diktator yang kini berubah menjadi sosok yang hangat.

Hanya saja…

“Apa aku harus jatuh sakit dulu untuk melihatmu seperti ini?”

Ki Bum tersenyum bersalah. Matanya melirik pada punggung tangan yang terpasang infus, meraihnya perlahan untuk digenggamnya. Menghantarkan sensasi menggelitik bagi keduanya.

“Sebenarnya, aku menunggumu menyerah lalu aku akan merebutmu kembali.”

“Apa?” Soo Rin mengerut kening tanda tidak terima. “Merebutku? Memangnya aku barang?!”

“Kau terlalu berarti untuk disebut sebagai barang.”

“Kenapa harus menunggu hal yang tidak pasti? Bagaimana jika aku tidak menyerah? Bagaimana jika ternyata aku bisa melupakanmu? Lalu berpaling pada pria lain, huh?”

“Karena aku tahu bagaimana dirimu.” Ki Bum membungkuk hingga wajah mereka kembali mendekat, “Kau terlalu menyukaiku meski aku sudah sering menyakitimu.”

Soo Rin menggigit bibir bawahnya, wajahnya merona untuk yang kesekian kali. “Kau terlalu percaya diri!”

“Tapi aku berhasil membuktikannya, bukan? Kau menjadi seperti sekarang karena aku.”

Ugh… menyebalkan! Kau sedang menggodaku? Kau masih berani menggodaku di saat kau sudah memiliki gadis lain, hah?! Kau sedang berlaga menjadi playboy, ya?!”

Hal yang tak terduga, Ki Bum mengerjapkan mata beberapa kali mencerna ucapan bernada kesal dari Soo Rin. Ia menegakkan tubuhnya kembali disertai kening mengerut menatap bingung gadis itu.

“Gadis lain? Siapa yang kau maksud dengan gadis lain itu?”

“Kau berpura-pura tidak tahu?!” Soo Rin terisak lagi, merasa dipermainkan lagi oleh pria itu. “Gadis yang pernah kau temui di kampus. Kau bahkan berpelukan dengannya! Dan dia pernah ada di apartemenmu ketika aku datang berkunjung untuk memenuhi undanganmu! Kau masih akan berkata tidak tahu setelah aku menangkap basah kau berhubungan dengan gadis lain, huh?!”

Berharap Soo Rin akan menemukan wajah terkejut Kim Ki Bum seperti orang yang ketahuan berbohong, tetapi ia justru melihat pria itu terdiam menatapnya sebelum kemudian bibir penuh itu tertarik membentuk senyum asimetris. Reaksi macam apa itu?

“Jadi, kau menangis dan memilih putus denganku karena Sae Hee?”

“O-oh, jadi namanya Sae Hee?”

“Kau menangis dan memilih untuk mengakhiri hubungan karena menganggap adikku itu adalah kekasihku yang lain, begitu?”

Eh?

Kini giliran Soo Rin yang mengerjap beberapa kali. Mencerna ucapan Ki Bum yang mana pria itu sekaligus memasang ekspresi aneh.

Adik?

Gadis yang katanya bernama Sae Hee itu… adik Kim Ki Bum?

Oh, ya ampun…

Habis sudah rasa percaya diri Soo Rin.

“Aaaaaaaaaaaaakk!!” ia pun berteriak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Malu bukan main. Bagaimana dia tidak malu jika apa yang sudah ia lewati selama ini ternyata sebuah kesalahpahaman konyol?

Mau ditaruh di mana lagi wajahnya sekarang? Kim Ki Bum pasti sudah menertawakan kebodohannya yang entah sudah keberapa kali!

“Kau benar-benar menyebalkan! Kau tidak pernah cerita padaku bahwa kau memiliki seorang adik perempuan! Kau selalu saja bersikap misterius dan kejam terhadapku jadi jangan salahkan aku jika aku tidak tahu! Huwaaaaaaa, Kim Ki Bum benar-benar menyebalkan!!”

Ki Bum berusaha menahan tawanya melihat gadis itu meraung-raung di balik tangan-tangannya. Rasanya sudah lama sekali tidak melihat tingkah konyol seorang Park Soo Rin tepat di depan mata. Selama ini, dia selalu melihat Park Soo Rin yang selalu ketakutan setiap berada di dekatnya.

Seharusnya, sejak dulu Ki Bum melakukan hal seperti ini.

“Menjauh dariku! Aku marah padamu, Kim Ki Bum! Aku benar-benar marah padamu! Aku membencimu!!” masih dengan menutup wajah, Soo Rin kini menyeret tubuh terbaringnya untuk bergeser. Membuat jarak dari Kim Ki Bum yang masih betah menyaksikan tingkahnya. Jika perlu, Soo Rin ingin berpindah ke sisi lain dari tempat tidur ini. Atau sekalian saja keluar dari sini.

Sayangnya tidak bisa.

“Dasar bodoh.”

“Benar, aku memang bodoh! Terus saja mengataiku bodoh karena aku memang bodoh! Kenapa kau mau saja memiliki kekasih bodoh sepertiku dulu, hah? Seharusnya kau senang karena aku memilih untuk pergi darimu! Dengan begitu kau tidak akan berurusan dengan orang bodoh yang terus saja membuatmu—”

Soo Rin terpaksa menelan kembali amarahnya ketika merasakan ada yang mengisi kekosongan di sebelahnya. Benar saja, begitu menurunkan kedua tangan, Soo Rin harus terkejut mendapati Kim Ki Bum sudah membaringkan diri di tempatnya tadi.

“A-apa yang kau lakukan?!” jelas saja Soo Rin panik dibuatnya, kedua tangannya yang kembali gemetar berusaha mendorong pria yang bahkan kini menopang sisi kepalanya dengan tangan, menatap lurus dirinya. “M-me-menjauh dariku! Aku… aku ‘kan sudah bilang kalau aku membencimu!” suaranya tergagap, dia mulai terisak lagi karena saking malunya diperlakukan seperti ini. “K-kau pikir, karena aku sedang sakit, kau bisa seenaknya mempermainkanku, huh?! Aku tahu ini adalah tempat tinggalmu tapi aku ‘kan sedang—”

Ki Bum berhasil membuat Soo Rin menelan suaranya lagi. Tangan besarnya meraih pinggang gadis itu, menariknya hingga tubuh mereka bertemu, reflek kedua tangan Soo Rin bersandang pada bagian dada Ki Bum, terkepal penuh gemetar karena rasa gugup yang semakin menjadi.

“Kau terlalu banyak bicara untuk level orang yang sedang sakit. Bisakah kau diam?”

Degup jantung Soo Rin semakin menggila. Dia merasa semakin merana saja dibuatnya. Wajahnya yang sudah memerah sudah terasa panas di dalam. Apalagi dia sedang dipeluk oleh Kim Ki Bum, terlalu dekat, di atas tempat tidur.

Oh, ya ampun…

“Sebenarnya kau ini siapa?”

Sebelah alis Ki Bum terangkat mendengar pertanyaan Soo Rin. Pertanyaan yang aneh. Dia tanya siapa Ki Bum?

“Kau… orang yang menyamar sebagai Kim Ki Bum, ya? Atau kau saudara kembar Kim Ki Bum? Setahuku Kim Ki Bum yang sebenarnya tidak akan bersikap aneh seperti sekarang.” Soo Rin menatap berani meski dengan wajah yang masih memerah. Kemudian tiba-tiba matanya terbelalak, “A-atau jangan-jangan… kau hantu yang menyamar menjadi Kim Ki Bum, ya—aduh!”

Soo Rin mengerang berkat cubitan di hidungnya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Kim Ki Bum? Pria itu kini beralih memasang wajah datarnya. Dalam hati ia sedikit kesal karena dianggap orang lain, bahkan dianggap hantu oleh Park Soo Rin!

Ya ampun, gadis ini memang bodoh. Tetapi sayang, Kim Ki Bum menyukainya. Heol…

“Otakmu semakin bergeser karena jatuh sakit, sepertinya.”

Ugh, seharusnya kata-kata itu ditujukan padamu! Otak jeniusmu pasti sudah bergeser karena tiba-tiba berubah menjadi pria baik!”

“Bukankah ini yang selalu kau harapkan sejak dulu?”

“I-itu… itu dulu! Saat… saat aku masih menjadi kekasihmu…” Soo Rin memilih menurunkan pandangannya, memilih menatap bagian dada pria itu demi menyembunyikan rasa sedihnya yang tiba-tiba datang setelah berkata demikian.

Namun itu tidak bertahan lama karena jemari tangan Ki Bum meraih dagunya, mengangkatnya hingga mata mereka kembali bertemu. Mengundang kembali sensasi mendebarkan pada Soo Rin karena ia kembali melihat sorot hangat di balik manik hitam nan tajam itu.

“Kalau begitu, mau menjadi kekasihku lagi?”

“A-apa?” mendadak Soo Rin menahan napas. Menganga seperti orang bodoh sekali lagi. Berharap dia tidak salah dengar bahwa Kim Ki Bum baru saja memberikan suatu penawaran tak terduga.

“Untuk kali ini, aku tidak akan memaksamu. Aku membiarkanmu memilih. Kau yang memutuskan, aku akan menerimanya.”

Soo Rin meneguk saliva kepayahan. “Bagaimana jika aku menolak?”

“Maka aku tidak akan mencampuri urusanmu dan pergi.”

Ia menundukkan pandangan. Rasanya tidak kuasa melihat tatapan pria itu begitu pasrah dan menyerahkan semua keputusan kepadanya. Soo Rin mengangkat tangannya, meremat bagian dada pakaian Ki Bum seraya menggigit bibir bawahnya diam-diam.

“Bagaimana jika aku tidak mau kau pergi?”

Tanpa Soo Rin ketahui, ada ulasan berarti di raut wajah Ki Bum sebelum akhirnya pria itu mendaratkan ulasan tersebut pada pipi Soo Rin yang tampak. Mengecupnya pelan namun sukses menimbulkan rona berarti di sana.

“Maka kau tidak akan bisa lepas lagi dari kekanganku.”

Y-ya!!” Soo Rin tersungut yang semakin memperjelas rona kemerahan di kedua pipinya. “Jadi kau masih akan memamerkan kediktatoranmu itu, begitu? Oh, ya, tentu saja. Mana mungkin Kim Ki Bum yang menjunjung tinggi kedisiplinan itu mau memberikan sedikit toleransi? Tapi… tapi setidaknya kau bisa ‘kan, tidak terlalu keras dengan berkata menusuk seperti yang sudah sering kau lakukan? Kau ‘kan bisa menegurku dengan cara tanpa urat. Bagaimana pun aku tidak terlalu bodoh untuk—”

Di saat Soo Rin kembali berceloteh, Ki Bum dengan santainya menutup mulut gadis itu dengan mulutnya sendiri. Tentu saja Soo Rin bungkam total dan beralih terbelalak disertai dentuman keras di dalam rongga dadanya karena merasakan sentuhan yang diam-diam sudah membuatnya ketagihan. Oh, sepertinya diam-diam Soo Rin berubah menjadi gadis maniak yang menginginkan sentuhan semacam ini. Dia bahkan memejamkan mata tidak lama setelah sentuhan itu terjadi.

Tidak, itu tidak mungkin. Soo Rin tidak mungkin begitu karena sepertinya Kim Ki Bum yang begitu. Buktinya, pria itu dengan mahir bergerak di permukaan bibir Soo Rin, mengulumnya dengan intens hingga Soo Rin serasa terbang dibuatnya. Mengalihkan segala perhatiannya di saat Ki Bum menyelipkan tangan satunya ke bawah kepala demi mendekap dirinya lebih rapat di saat yang lain menarik pinggangnya. Tubuh mereka begitu dekat hampir tak berjarak jika Soo Rin tidak menyandangkan kedua tangannya pada dada bidang Ki Bum. Meremas pakaiannya, menjadikan pegangannya karena ia merasa ingin jatuh.

Jatuh ke dalam pesona seorang Kim Ki Bum yang baru saja ditemukannya.

Soo Rin tidak pernah menyangka bahwa Kim Ki Bum yang terkenal akan kediktatorannya, bersikap dingin dan terlihat kaku, bisa melakukan ini. Bukankah Kim Ki Bum seperti pangeran es yang seharusnya membekukan dirinya? Tetapi kenapa ia dibuat serasa ingin meleleh dengan ciuman lembut dan dalam… dan begitu panjang sampai Soo Rin hampir kehabisan napas?

Spontan tangan-tangannya mencoba mendorong. Meski begitu lemah, beruntung Ki Bum merasakannya hingga perlahan pagutan yang hampir menuju panas itu berakhir. Matanya terbuka sayu, menatap yang masih memejamkan mata serta menarik napas di bawah kuasanya, lalu tersenyum penuh arti ketika wajah memerah itu beralih masuk ke lehernya, menyerukkannya di sana dengan deru napas cepat. Seolah ingin bersembunyi dari dirinya yang memang ingin mengulangi ciuman baru saja yang entah sejak kapan membuatnya kecanduan.

Kim Ki Bum, kau masih ingat kalau Soo Rin sedang sakit, bukan?

Ya, tentu saja. Maka dari itu dia memilih untuk menghentikannya. Toh, sampai di sini pun dia sudah mendapatkan jawabannya.

“Jadi, kau mau menerimaku lagi?”

Di balik dekapan hangat yang terus membuatnya berdebar-debar, Soo Rin menganggukkan kepala. Mengatur napas di saat ia justru harus menyerap aroma maskulin yang menguar dari tubuh kekar yang tengah mengikatnya.

“Kalau begitu, aku dimaafkan?”

Soo Rin menggerakkan tangannya demi memeluk tubuh kekar Ki Bum, menghirup aroma yang menjadi wangi kesukaannya mulai hari ini. Sebelum menjawab, “Aku yang meminta maaf… atas segala kesalahpahamanku terhadapmu selama ini….”

Ki Bum mendengarnya, maka dari itu ia mengeratkan pelukannya, mengarahkan bibirnya di puncak kening Soo Rin, berkata, “Aku juga, Soo Rin-ah. Maafkan aku.”

Kini, Soo Rin bisa merasakan kelegaan yang begitu besar di dalam hati. Hanya dengan ucapan sederhana tersebut, segala pengakuan yang telah didengarnya, juga dengan perlakuan yang didapatnya kini, sudah cukup membuat Soo Rin mengerti.

Bahwa Kim Ki Bum memang memiliki perasaan yang sama seperti miliknya.

.

Stay by my side like this. You can’t go on without me either. Even if we’re apart for a moment, even if we get one step farther away, we have no choice but to meet. Because you’re a different me. – 거짓말이라도 해줘요

.

“Omong-omong, kenapa aku bisa berada di sini?”

“Kau ingin tahu kenapa?”

“Ya… seingatku, aku sedang bersama Kyu Hyun di kampus tadi. Lalu tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam… apartemenmu…”

“Aku mengambilmu darinya. Jangan salahkan aku yang sempat marah karena melihatnya seenaknya memelukmu tadi.”

“A-apa? Maksudmu, kau memukul Kyu Hyun?”

“Oh, kau ingin aku memukulnya?”

“Jangan! Dia temanku, Kim Ki Bum! Lagipula, jika aku sakit kenapa aku dibawa kemari?”

“Tempatku lebih dekat dari kampus dibandingkan rumah sakit dan rumahmu.”

“Tapi… kau memanggil dokter…”

“Dokter pribadiku.”

“Kau punya dokter pribadi? Daeeebak!”

“Kau sungguh cerewet, Park Soo Rin.”

“Lalu bagaimana aku pulang nanti?”

“Aku sudah menghubungi ibumu. Kau pulang besok.”

“A-apa? Jadi, maksudmu, aku menginap? Di sini?!”

“Ya.”

“……..”

“Aku harap kepalamu tidak memikirkan hal yang tidak-tidak. Jadi, tidurlah lagi.”

Ugh…

wp-1471702929281.jpeg

****

Terhitung sudah lima hari Soo Rin beristirahat total di rumah. Seharusnya, ada hitungan satu minggu ia dianjurkan beristirahat. Namun karena mulai bosan dengan kondisinya yang hanya mendekam di dalam rumah, ia nekat datang ke kampus. Walaupun ibunya terpaksa mengizinkan.

Soo Rin memang merasa sudah membaik. Dia sudah bisa bergerak ke sana kemari tiga hari setelahnya. Lagipula, dia mulai jengah karena ponselnya selalu ramai oleh pesan chat teman-temannya. Oh, bukan teman-teman perempuan seperti gadis kebanyakan. Melainkan tiga pria perusuh yang sudah menjadi saksi dirinya menangis karena pria diktator itu.

Dan membicarakan soal pria diktator…

Sebenarnya alasan Soo Rin nekat datang ke kampus karena ingin bertemu dengan Kim Ki Bum. Yeah, setelah hubungan mereka membaik beberapa hari lalu, perasaan Soo Rin memang sepenuhnya berubah bersamaan dengan perilaku Ki Bum yang sudah menunjukkan banyak perhatian padanya. Walaupun masih ada saja kalanya tabiat diktatornya itu keluar jika Soo Rin mulai susah diberi tahu. Tapi Soo Rin sudah bisa mengontrol rasa takutnya terhadap prianya itu. Well, tidak seharusnya dia merasa takut jika prianya memberi teguran, bukan?

Kembali ke awal.

Soo Rin tahu bahwa dia tidak mungkin untuk masuk kelas di pagi hari ini—kelas Dosen Choi—karena ia sudah terlambat satu jam. Maka dari itu, dia hanya bisa mengintip dari jendela, melihat kondisi ruang kelas yang diisi oleh teman-teman sebayanya itu. Dia bahkan melihat Kyu Hyun yang tampak sedang berbicara dengan tatapan lurus ke depan. Sepertinya, saat ini mereka sedang melakukan sesi diskusi dengan Dosen Choi.

“Park Soo Rin?”

Terlonjak kaget, sontak Soo Rin berbalik dan mendapati pria berwajah tampan itu mengumbar senyum ramah kepadanya. Menyapanya yang seketika membuat Soo Rin salah tingkah karena sudah tertangkap basah.

“Aku dengar kau sedang dalam masa rehat sejak insiden pingsan beberapa hari lalu. Bagaimana kabarmu?” Choi Si Won mengajukan pertanyaan dengan suara berat nan halusnya.

“Saya… sudah membaik. Sebenarnya saya masih belum boleh datang, hanya saja… saya ingin masuk…” Soo Rin menelan saliva, merutuki cara bicaranya yang terdengar kacau, “T-tapi, saya sudah terlambat… jadi—”

“Kalau begitu, ayo masuk!”

“Y-ya?”

“Kebetulan aku juga baru datang. Kita masuk bersama saja.”

“T-tapi, saya ‘kan—”

Tidak menggubris penolakan halus Soo Rin, Si Won dengan masih memertahankan senyumnya, merangkul bahu Soo Rin layaknya seorang ayah yang hendak mengantar anak gadisnya masuk ke kelas baru. Pria itu kemudian membuka pintu kelas hingga menarik perhatian para penghuni di dalamnya.

Terutama Kim Ki Bum yang saat ini tengah memainkan perannya sebagai asisten dosen. Pria itu sontak berdiri setelah melihat Si Won, yang datang bersama gadis yang seharusnya masih beristirahat di rumah.

“Apakah masih ada bangku kosong untuk diskusi? Kebetulan aku menemukannya yang kebingungan karena ingin masuk.” Si Won mengumbar senyum, melangkah masuk mendampingi Soo Rin yang sudah menciut layaknya murid yang hendak dihukum karena sudah terlambat.

“Di sini!” Kyu Hyun berseru spontan, menunjuk bangku kosong di sebelahnya, “Di sini masih ko—song…” suaranya mendadak surut setelah mendapat tatapan peringatan dari si asisten dosen, menggaruk-garuk kepalanya yang justru membuat beberapa mahasiswa merasa geli melihat tingkahnya.

“Dia sudah sangat terlambat. Akan merugikannya jika ikut bergabung dengan yang lain sedangkan aku tidak suka melihat orang-orang yang sedang kuajak diskusi memasang tampang tidak mengerti.”

Mendengar jawaban Ki Bum seketika membuat Soo Rin cemberut. Yah, bagaimana pun saat ini Kim Ki Bum sedang menjadi dosen pengganti yang menjunjung tinggi kedisiplinan. Jadi…

“Aah, begitu? Sayang sekali, Park Soo Rin. Sepertinya aku harus mengantarmu keluar dari sini,” sesal Si Won. Dia mengerti benar bagaimana sifat mahasiswa andalannya itu. Sekalipun menghadapi kekasihnya sendiri.

“Tidak. Biarkan dia di dalam.”

Eh?

Apakah Kim Ki Bum baru saja mengatakan sesuatu?

“Duduklah di sana. Setidaknya kau ikut menyimak di belakangku.”

Soo Rin mengerjap beberapa kali, melihat Kim Ki Bum baru saja mengedikkan kepala ke belakangnya, di mana bangku yang biasa ditempati seorang dosen berada. Kemudian Soo Rin menunjuk dirinya sendiri, memastikan.

“Tunggu apa lagi, Park Soo Rin?” Si Won terkekeh pelan, ia kemudian berbisik di dekat sang gadis, “Jangan menyia-nyiakan kebaikan kekasihmu saat ini. Dia sedang sibuk.”

“I-iya!” buru-buru Soo Rin mendudukkan diri di sana. Memandang Ki Bum yang sudah membelakanginya dan berbicara pada Si Won. Lalu beralih ke depannya, beberapa tengah menatapnya seraya berkasak-kusuk, membicarakannya tentu saja. Namun Soo Rin berhasil mengacuhkannya karena menemukan Kyu Hyun.

Pria itu melambai-lambaikan tangan padanya, tersenyum lebar disertai mata berbinar yang tentunya dibalas tak kalah antusias dari Soo Rin. Bisa dilihat betapa senangnya Kyu Hyun karena kembali melihat Soo Rin setelah beberapa hari tidak bertemu.

Chingu-yaaa!” begitulah arti dari gerak bibir Kyu Hyun yang terlihat dramatis sampai-sampai Soo Rin tersenyum geli melihatnya. Untung saja pria itu duduk di paling belakang, jadi hanya Soo Rin yang melihat tingkah konyol temannya itu.

“Jadi, sampai mana diskusi kita tadi, Cho Kyu Hyun?”

Oh, Soo Rin lupa bahwa masih ada Kim Ki Bum yang menghadap para mahasiswa di sini. Dia harus meringis merasa bersalah pada Kyu Hyun yang mulai kelabakan berusaha menjaga sikap karena sudah tertangkap basah oleh mata tajam Kim Ki Bum.

Err… terakhir, aku mengatakan bahwa tata bahasa dari karangan berunsur fantasy itu masih tergolong ringan jika dibandingkan dengan sci-fi. Dilihat sekilas, dua unsur cerita itu memang hampir tidak ada bedanya karena mereka sama-sama mengandalkan imajinasi yang tidak biasa. Namun dari karangan yang pernah aku baca…”

Soo Rin mulai bernapas lega melihat bagaimana Kyu Hyun menemukan kembali kenyamanannya dalam berbicara. Pria itu memang tergolong cerdas disertai daya ingat cukup tinggi, meski terkadang lebih banyak bertingkah konyol seperti yang Soo Rin lihat tadi. Setidaknya dengan begitu, Kyu Hyun tidak perlu terkena damprat dari Ki Bum.

Sedangkan Si Won hanya mengamati dari dekat pintu kelas, suasana ruangan ini kembali khusyuk di mana Ki Bum memimpin. Sesekali dosen tampan itu menyahut memberikan pertanyaan baik untuk Ki Bum maupun mahasiswa lainnya. Dan Soo Rin yang hanya menyimak, hanya bisa terkagum-kagum melihat cara mengajar Kim Ki Bum.

Well, Soo Rin memang sudah pernah melihat Kim Ki Bum yang berdiri di depan kelas seperti ini. Tapi, mungkin karena selama ini dia lebih sering merasa takut, baru kali ini dia terpesona melihat cara mengajar pria itu. Pantas saja dia diangkat sebagai asisten dosen oleh Choi Si Won dan menjadikannya bak murid emas yang hampir setiap hari dipekerjakan seperti ini.

Dan, yeah, pantas saja banyak mahasiswi yang mendambakannya.

Satu jam sudah berlalu. Kelas diskusi telah dibubarkan. Dosen Choi yang sudah memiliki urusan lain sudah keluar lebih dulu dari kelas ini.

“Park Soo Riiiiiiin!!!”

Ini adalah seruan Cho Kyu Hyun. Dari belakang seperti sudah mengambil ancang-ancang lalu meluncur cepat langsung memeluk Soo Rin yang baru saja berdiri dari duduknya.

“Huaaaaaa, nae yeoja chingu dorawassda!! (teman perempuanku akhirnya kembali)” seru Kyu Hyun sambil berjingkrak-jingkrak hingga Soo Rin kewalahan.

Y-yeojachingu (pacar)? Ya!!  Seenaknya sa—astaga, Cho Kyu—ugh, lepaskan aku!”

Aih, waeee? Aku merindukanmu! Kau tidak tahu bagaimana rasanya tidak memiliki teman yang—aaaakk!” Kyu Hyun terpaksa mengerang hingga spontan melepas pelukannya. Kerah kemeja yang dikenakannya ditarik dari belakang hingga otomatis mencekik lehernya. Wajahnya yang sempat ceria seketika berubah muram begitu melihat si wajah datar ternyata pelakunya. “Sunbae! Kau ingin mencelakaiku, ya? Aku tercekik!”

“Jika itu bisa membuatmu menjauh akan aku lakukan.” Ki Bum menjawab seolah hanya angin lalu. Padahal Kyu Hyun sudah mencibir bersamaan dengan Soo Rin yang langsung menatap tidak suka dirinya.

Heol, tinggal katakan bahwa kau cemburu padaku saja, masih berlaga sok keren!”

“Aku masih mendengarnya, Cho Kyu Hyun.”

“Aku pergi dulu, Soo Rin-ah! Annyeong!” Kyu Hyun langsung mengambil langkah seribu keluar dari kelas. Menghindari kemungkinan yang akan menimpanya berkat suara peringatan Kim Ki Bum. Namun sebelum itu ia berbalik badan di ambang pintu, melambaikan tangan tinggi-tinggi, “Chukha-hae nae yeo-chin! Saranghanda!! (Selamat, temanku! Aku mencintaimu!)” serunya disertai cengiran lebar ala bocah menyebalkan lalu melesat pergi.

Soo Rin hanya terkikik geli melihat tingkah konyol temannya itu. Siapa lagi yang berani bertingkah blak-blakan begitu terhadapnya jika bukan Cho Kyu Hyun? Di depan Kim Ki Bum, pula.

Benar. Di depan Kim Ki Bum.

Belum sempat Soo Rin mengubah sikap, Ki Bum sudah lebih dulu mendorongnya untuk kembali duduk di bangku semula. Pria itu memilih bersandar di mulut meja seraya bersedekap dan mulai menatap lurus Soo Rin.

Oh, apakah Soo Rin akan menghadapi interogasi ala Kim Ki Bum lagi?

“Jadi, kenapa kau datang kemari di saat seharusnya masih beristirahat di rumah?”

Ternyata benar, gumam Soo Rin di dalam hati. Ia meringis pelan. “Aku merasa sudah baik, jadi memilih untuk kembali berkuliah. Yah, meski tadi sudah sangat terlambat…”

“Begitu?”

Soo Rin mengangguk-angguk.

“Kupikir karena kau ingin melihat teman priamu (namja chingu) itu.”

Soo Rin mengerucutkan bibir mendengar cibiran halus Ki Bum. “Kenapa? Kau cemburu? Mengaku saja!”

“Kalau aku mengaku, kau mau memberiku apa, hm?” Ki Bum justru menantang balik. Padahal hanya sebatas itu tetapi dia sudah melihat ada reaksi berarti di wajah Soo Rin.

Wajah manisnya yang merona.

Ish, jelas-jelas aku ingin bertemu denganmu, tetapi aku dituduh yang tidak-tidak,” gerutu Soo Rin pelan seraya menundukkan kepala, menyembunyikan wajah cemberutnya dari si diktator.

Namun tidak bertahan lama karena tangan besar itu mengangkat dagunya, mengantar matanya untuk menatap langsung si diktator yang ternyata sudah membungkukkan tubuh tegapnya itu demi mendekat. Ia meneguk saliva kepayahan.

“Coba kau ulangi lagi.”

“Eh? Apa? Mengulangi apa?”

“Pura-pura tidak tahu, hm?”

Ish! Dasar pemaksa! Memang apa untungnya aku mengulang kata-kataku, huh? Kalau tidak dengar, ya sudah! Tidak ada pengulangan! Kenapa? Kau mau marah? Silahkan sa—”

Diam. Soo Rin langsung mengatup bibirnya begitu pria itu mengecup sudutnya. Berganti matanya yang mengerjap berkali-kali seolah memastikan bahwa Kim Ki Bum baru saja bergerak mundur menyisakan jarak beberapa senti saja lalu memamerkan senyum miringnya.

Saat itu juga memompa jantung Soo Rin yang sempat terasa berhenti, langsung berlari kencang di balik rusuknya. Wajahnya yang merona langsung berubah seperti tomat segar. Ini gila. Kim Ki Bum hanya mengecup sudut bibirnya tetapi efeknya sudah sebesar ini!

“Bagaimana jika aku marah dengan cara ini saja?” gumam Ki Bum dengan ibu jarinya yang bergerak halus di bibir yang terlihat sedikit pucat.

Park Soo Rin memang jarang memoles diri, hanya sebatas memakai bedak juga lip gloss yang sekadar untuk melembabkan. Itulah mengapa, dia bisa membaca kondisi gadisnya ini dengan mudah.

Menepis tangan besar itu, Soo Rin merengut malu. “Sejak kapan kau memiliki pemikiran seperti itu?”

“Sejak aku berhasil merasakannya.” Ki Bum menjawab kalem, memasang wajah bingung yang dibuat-buat, “You know what? I just knew that your lips can make me feel addicted like this.

Soo Rin harus mengerjap berkali-kali lagi. Dia hanya mampu mencerna kalimat awal karena dijeda tanda tanya. Oh, ayolah, dia tidak pandai berbahas Inggris sedangkan pria itu dengan aksen baratnya berkata demikian begitu lancar dan cepat. Dasar jenius!

Tahu maksud dari ekspresi bingung Soo Rin, Ki Bum tersenyum geli sebelum menegakkan kembali tubuhnya. “Dasar gadis lamban,” ejeknya kemudian.

Ish! Sudah menciumku seenaknya, mengataiku lamban. Aku memang bodoh! Kalau begitu untuk apa kau mencium gadis bodoh sepertiku, huh?” sembur Soo Rin tidak terima. Bibirnya merengut kesal. Dia bahkan sudah kembali berdiri demi melawan pria itu. “Dasar diktator menyebalkan! Sudah berapa kali kau menciumku? Tiga kali! Tapi kau masih saja berbuat seenaknya dengan mengataiku lamban! Tahu begitu sejak awal aku tidak membiarkanmu—”

Kim Ki Bum ini, memang senang sekali menginterupsi Soo Rin yang mulai berceloteh ria. Apalagi mengingat bagaimana hubungan mereka sekarang, tentu Ki Bum memiliki cara tersendiri. Menarik Soo Rin ke dalam dekapannya, mengikat pinggang kecil gadisnya sekaligus menikmati reaksi si manis yang mulai kelabakan.

“Pada nyatanya hal itu memang sulit dicegah, Soo Rin-ah. Siapa yang menyuruhmu terlihat bodoh tetapi aku justru menyukainya, hm?”

“Apa? Kau menyukainya? Kau suka melihatku terlihat bodoh karena bisa menjadi bahan tertawamu, begitu?” Soo Rin mengernyit tidak terima.

Ki Bum justru membenarkan, raut wajahnya yang kalem membuat Soo Rin semakin keki. Namun ia tidak peduli. Ia justru mengangkat satu tangannya, merengkuh wajah manis merona yang terlihat menggemaskan di matanya itu penuh rasa, memainkan ibu jarinya di permukaan yang begitu halus itu hingga berhenti di sudut bibir yang sudah menjadi candunya.

“Dan akan kupastikan bahwa kau tidak perlu menghitung lagi mengenai berapa banyak aku menciummu.”

“Apa?” Soo Rin hanya sempat mengeluarkan satu kata tanya itu sebelum akhirnya memilih untuk memejamkan mata.

Karena Kim Ki Bum membuktikan perkataannya sendiri. Mencium gadis yang sudah kembali digenggamnya, untuk yang kesekian kalinya. Menunjukkan betapa ia memang menginginkan gadis yang selalu dikatai bodoh olehnya. Menunjukkan bahwa ia memang menyayangi si lamban namun menggemaskan baginya.

“Terima kasih untuk hadiahnya.”

“Y-ya?”

Ki Bum tersenyum penuh arti. “Hadiah ulang tahun darimu.”

Soo Rin tampak berpikir. Mengulang kembali kejadian di mana ia datang ke apartemen Kim Ki Bum dengan membawa kue cokelat buatannya serta… sebuah gelang pasangan. Entah kenapa sudut matanya langsung menyadari, bahwa di pergelangan tangan yang masih merengkuh wajah meronanya ada benda yang dimaksud.

“Maaf karena aku baru memakainya. Tetapi aku juga senang karena kau memakai pasangannya.”

U-uh…” kini Soo Rin melirik pergelangan tangannya sendiri, kemudian meringis pelan. “Tidak apa-apa. Aku juga meminta maaf karena hanya memberikan itu di hari ulang tahunmu. Hehehe…” kekehnya yang terlihat lucu.

“Kau saja sudah cukup.” Ki Bum berulah lagi, kali ini ia mencium kening gadis kesayangannya ini penuh hangat, memberikan efek tak terputus bagi sang empu yang justru membuatnya kesenangan. “I love you.

Untuk kali ini Soo Rin mampu mencernanya dengan baik. Jantungnya yang sudah berdebar-debar, makin tak terkendali hingga pipinya memanas. Ada rasa membuncah di dalam sana yang sulit dijabarkan. Mendengar ucapan kasih yang memang baru kali ini ia dengar langsung dari mulut Kim Ki Bum—untuk pertama kalinya.

“Aku… juga…”

“Kim Ki Buuuuuum!! Aku tahu kau masih di dalam! Aku butuh bantuanmu! Ajarkan aku soal bab—oh, ya ampun!!!”

Lee Dong Hae, tanpa permisi, berlari-lari di sepanjang koridor membuat keributan namun terkesiap begitu masuk ke dalam ruangan berkat melihat pemandangan yang tak biasa. Sontak saja ia berbalik badan melangkah keluar dari sini. “Lanjutkan saja! Aku tidak akan mengganggu lagi! Sampai nanti!!”

Ya, Haek Dong Haek!! Dasar tidak setia kawan! Kau meninggalkan—hmph!!” Hyuk Jae yang baru saja datang langsung dibekap dan diseret menjauh oleh Dong Hae. Pria itu hanya bisa meronta-ronta menunjukkan aksi protesnya karena tidak mengerti maksud dari tingkah kawannya itu.

Sedangkan Ki Bum yang jelas tertangkap basah, hanya tertawa sambil memeluk Soo Rin yang sudah menyembunyikan wajah malunya di balik dadanya.

.

.

Baby it’s you. I could never have imagined it. You. Also today, I only think about you. Even if I see you again every day, I only see you. Even after a long time has passed, I can’t be without you. – Baby It’s You

.

.

F I N


gajadi sad ending ya… orang dari awal aku emang gamau sad ending sih yehet! 😆

gimana? Udah tau kan kenapa kimkibum diem aja kemarin? Udah tau kan si Kyuhyun itu gimana //gimanaapanya//? 😣😣 iya pokoknya udah tau lah ya #maksa yah, emang pasaran sih ceritanya tapi aku seneng karna berhasil menyelesaikannya tepat waktu. Padahal ini dadakan, makanya aku bikin cerita ini ganyante karna ngejar waktu. Awalnya cuma niat sampe Twoshot, tapi malah bakalan panjang begini. Jadi yah, maaf ya kalo ceritanya aneh 😅

aku juga jadiin ini sebagai project kecil-kecilan buat rayain hari ini. TAU KAN YA HARI INI HARI APA? Hari Minggu~ 😂😂

HAPPY BIRTHDAY KIM KI BUM! 🎉🎉🎉

Abang Toyib ini menginjak usia 29 tahun meski di koriya udah dibilang kepala tiga alias 30. Tapi intinya, dia makin tua dan ga muda lagi (yaiyalah!) Jadi semoga karirnya terus berjalan dengan lancar. Karena jarang kelihatan, semoga selalu diberi nikmat sehat dan selalu diberkahi. btw sekarang dia di Thailand mau rayain ultahnya bareng fans di sana, rasanya senang banget dia masih ditunggu banyak Snowers di sana. Jadi pengen ke sana 😭😭

Tapi semoga dengan dibuatnya cerita ini, yang membaca jadi ikutan kangen kimkibum yaaa #ga 😂

Jujur, selama ngerjain part ini beberapa kali kehapus terus sampe rasanya mau nangis hiks… mungkin karna aku ngerjain di ponsel jadi browser-nya agak ga konsisten >< jadi mohon maaf jika masih ditemukan typo yang bertebaran. Juga ceritanya yang berakhir aneh hehehe

so, salam dari para Ahjusshi Ganteng!

wp-1471703250294.jpeg
para Agans 😂

 dan tokoh utama kita (?)

Kibum01
Dictator Kim

once again, Happy Birthday to our beloved and precious Kim Ki Bum!!! 🎂🎂😊😊

tumblr_lok5krhI7S1qcntwzo1_500

ups~ si lamban baru nongol 😆😆 #plak
Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

36 thoughts on “[The Day] I Got You Back

  1. Akkkhhhhh suka suka suka. Akhir yg bikin puas plus senyum2 sendiri. Na gitu dong ki bum ungkapkan perasaanmu pada soo rin. Gak perlu ditutup tutupi nanti malah jd salah paham.

    Ini aku baca jam segini trus ketawa-tawa sendiri udah kaya orang gila aja. Tp gak papalah ceritanya gak mengecewakan.hehe
    Buat elva semangat buat cerita kisukisu lg. Ditunggulah pokoknya.
    Selamat ulang tahun diktator tampan!!!!

  2. kim kiibuuuummmm!!!
    sepertinya aku tidak jadi ingin menghajarmu jika melihatmu seperti itu wkwk
    lupakan kata2 ku di part sebelumnya yaaaaa *puppy eyes* kkkk~
    saengil chukkae nae namchin!! saranghandaaaaa!! hahahaha ❤

  3. Huaa swettttoss banget >< pengen deh cium bg toyib :v hahahaha
    Ya ampun gak bisa berkata"
    Ughh btw bang toyib tambah subur aja :v

    Garagara ff ini aku jadi pengen tau cwek idaman bg toyib hmm mungkin kyk aku kali ya hahaha #stressabaikan

    Terus berkarya eon semangat ululuulululu

    1. boleh aja kalo soorin ngijinin #apa-_- wkwkwk iya, ga pernah nongol malah makin makmur dia.. tapi gapapa lah, makan banyak berarti (?) hihihi
      wks~ cewek idaman kimkibum itu pasti cantik (karna cantik itu relatif) xD
      maaciw yaaa~><

  4. Yey happy ending 😁😁😁
    bnran kren bgt crta ny
    good job sist 👍👍👍
    n
    Happy Birthday Kim Kibum 😁😁😁

  5. kim kibum cium aku juga! /eh 😝😝😝
    as always ceritanya selalu rapih dan enak dibaca hihi

    mau lagi mau kisoo lagi. yang banyak. wkkkwk /digamparauthor/

    btw HAPPY BIRTHDAY KIM KIBUM!🎉🎉🎁🎁

    1. aku juga mau #ehh #plak 😣😣
      aah, syukurlah…padahal aku masih berasa ada yg kurang sama tulisannya sih hehehe 🙏 tapi terima kasih udah bersedia membaca~ hehehe kapan-kapan ya, ntar mual lagi sama mereka (?) 😂😂

  6. D siang hari ini panas pas bca adegan Kisoo lbih panas lgi hihihi
    Kibum kecanduan nih cium Soo rin mulu deh
    Soo rin jga cengeng bgt dikit2 nangis duh gemesin deh
    hihihi…kasihan Kyu gk bsa puas2 kangenan sma Soo rin si diktator ada d mna2
    trus yg bkin ngakak
    si Hae kenapa gangguin kisoo lgi romantis2an syukur Hyuk gk lihat
    mkin parah deh

    1. eheu~~ masih musim panas soalnya kak //ga hihihi 😆😆
      cengeng tapi disayang banget sama kimkibum duhh da aku mah bisa apa atuh kak hwhwhw untung ada eunhaekyu jadi rame (?) 😄😄

  7. Ending yang manis….
    Karakter kibum yang tertutup selalu membuat orang lain salah paham….
    Ceritanya makin seru dengan karakter kyuhyun, donghae dan eunhyuk yang lucu….
    Good story…..

  8. yehey~ happy ending👍 untung gak jadi sad ending ya.
    aku suka banget sama fanfiction yang dibuat elvabari eonni. Akhir2 ini aku uda jarang banget buka blog nya eonniㅠㅠ keep writing ya eonni! kim kibum saengil chukkhae!

    1. waaa~ makasih banyaaak 🙏🙏 ehehehe gapapa kok, belakangan ini juga akunya jarang update jadi ga ada yg perlu disamperin(?) hihihi mau balik lagi buat baca juga syukur akunya~ jadi makasih banyak yaaa 😊😊😊

  9. wuhuuu kisoo marato selese jugaa dan akhirnya happy ending

    greget sendiri bacaya, berhasil banget kak elva membuat aku senyum2 sendiri arghhh manis banget kim bum sikap sebenrnyaa

    ditunggu project2 selanjutnyaaaaa
    semangatttttt :))

    1. iya marathon hihihihi 😆 syukurlah kesampean project-nya huhuhu berkat dukunganmu dan pembaca yg lain juga, jadi kepicu terus sampe ending.. terima kasih banyak yaa~ udah mau baca dan kasih masukan berupa kesan-kesan.. terima kasih juga buat semangatnyaaa~ 🙌🙌

  10. yeeeey.. akhirnya happy ending 🙌 lope you kaak😚😚😄

    si diktator akhirnya bersama lagi dengan si lamban dan imut 😄. ughh.. gak nyangka aku ini udah part terakhir yak,prasaan tuh
    ini kaya ada lanjutanya gitu yak tapi ternyata udah end mueheheh 😁 tapi gpp lah ini udah bagus banget kak semakin kesini aku rasa pembawaan bahasanya sudah makin bagus kak. sepertinya dirimu berjuang sekuat tenaga kak😂 duh terimakasih loh sudah membuat cerita sebagus ini aku semakin candu dengan ff dirimu 😂😂

    tetep semangat my twin name, sehat selalu dan trus buat ff yg lebih bagus lagi. mangaaat🙌💕💕

    buat bang toyib flepy besday kibumie makin makin yaak. 😅😄😄

    1. eii~ sudah berakhir~~ marathon sih jadi cepet hehehe ngebut juga bikinnya jadi tau-tau end aja (?) 😂 uhh…masa sih? perasaan tulisanku masih gitu-gitu aja hehehe apalagi sekarang udah jarang update jadi rasanya gimana gitu tulisannya(?) tapi syukurlah kalo di dirimu tulisannya bikin nyaman.. aku bisa lega 🙏🙏 hehehe maaciw matwin name~~ luv luv jugaaa❣❣ 😣😣

  11. ih selamat ya :”)))
    ParkSoorin musti nunggu sakit dulu ya baru Kim Kibum mau jujur2an(?) :((
    duh ini endingnya kemanisan x) ada sakarinnya ya(?) /dug
    heheh, lambat laun mulai ngemaafin karakter soorin disini. Emang sih, semua manusia tuh berproses, dan semoga prosesnya bikin mereka lebih baik 🙂
    tapi tapi tapi, Soorin jangan maksain diri gitu deh, kesian. Ya siapa sih yang ga jatuh sakit kalo sehari2nya kayak gitu ._. /mulai deh cerewet/
    hihii suka lah suka :”))
    selamat yaa parkSoorin, udah menangin hatinya kimKibum. Aku diem2 berharap Soorin bakal balas dendam ke Kibum dengan bikin itu si cowo sadis aakit hati juga hyahahahahahah /ini aku yang sadis deng/ hihi jangan deh, udah gini ajaa endingnya ♡♡♡ x)))

  12. Wahhh alhamdulilah ya sikaci banyak yg komen banyak yg suka,
    ciee ceritanya makin d atas angin
    berharap seterusnya begitu ya..

    Kim kibum SCH maf tlat ngucapinnya, makin subur ya bang toyib/?.

    Dan maf ya sikaci saya jarang mampir kesini,,hehe
    coz saya baru pegang hp lgi,, 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s