Posted in Angst, Campus Life, Chaptered, Fiction, Friendship, PG, Special Fanfics, Special [The Day]

[The Day] I Fall, Once Again

1471614617802

Campus Life, Friendship, Angst

PG | Mini Chaptered

Before :: A Sadistic Boyfriend | We Felt The Distance

Backsound(s) :: B2ST – 리본 (Ribbon), Eric Nam – 소나기 (Shower) [Uncontrollably Fond OST]

“Meski aku ceroboh dan bodoh, aku masih bisa menjaga diri.”

.


ELVABARI©2016

.

Maybe this moment is the hardest time to me. But don’t worry, I will not blame you. Can’t back the time even I lose everything, my shabby look that couldn’t protect precious things. I could say nothing, so I couldn’t hold you. – 리본

.

JINJJA?!”

Hampir semua pasang mata di kantin ini menengok pada pria yang baru saja berseru nyaring. Cho Kyu Hyun, pria itu seolah tidak peduli dengan tatapan menghakimi para penghuni kantin. Dia lebih peduli pada gadis yang baru saja mengumumkan sesuatu padanya.

“K-kau… kau putus dengan Ki Bum Sunbae?” Kyu Hyun mengulangnya, dengan volume suara yang kecil hingga hanya gadis di hadapannya yang mendengar.

Park Soo Rin, si gadis yang memang bersama Kyu Hyun saat ini mengangguk pelan. Memasang senyum lebar yang sebenarnya terlihat menyedihkan di mata Kyu Hyun.

“Aku melakukannya. Aku berhasil, bukan?”

“Apa yang kau bicarakan?! Kau baru saja putus hubungan dan kau senang?!”

“Tentu saja! Selama ini ‘kan aku berharap bisa bebas darinya, dan sekarang aku berhasil melakukannya!”

Kyu Hyun menatap tidak percaya gadis yang makin melebarkan senyumnya. Park Soo Rin ini, masih waras, bukan? Tidak gila?

“Sekarang, tidak ada yang perlu aku khawatirkan sekaligus kutakutkan lagi. Aku sudah lepas dari si diktator itu. Tidak ada lagi yang akan mengatur diriku. Itulah yang aku dambakan selama ini. Hehehe!” Soo Rin berkata renyah. Ia mengambil segelas iced cappuccino pesanannya lalu menyeruputnya.

“Lalu kenapa dengan lingkar matamu itu, Park Soo Rin?”

Ia menghentikan aksi menyeruput minumannya. Melirik temannya hati-hati dan merasa tertangkap basah karena melihat raut wajah itu berubah datar.

“Kau mengatakan itu semua seolah itu yang sedang kau rasakan. Tapi lingkar matamu, juga sorot matamu itu, kau pikir aku tertipu?”

E-eii! Kau ini bicara apa?”

“Aku bisa melihatnya, Park Soo Rin.” Kyu Hyun menghela napas berat, menatap prihatin gadis yang terpaku di depannya. “Kau berkata demikian hanya untuk menguatkan dirimu sendiri. Padahal aku bisa melihat kalau hatimu sebenarnya berbanding terbalik. Aku berani bertaruh bahwa kau tidak tidur karena menangis semalaman. Buktinya ada pada kedua matamu itu.”

Soo Rin bungkam. Menunduk memandang minumannya sendiri dengan tatapan kosong. Cho Kyu Hyun memang tidak bisa ditipu. Meski dia seorang pria, dia yang statusnya sudah menjadi teman dekat jelas tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Soo Rin.

“Baiklah, katakan saja bahwa kau memang berhasil lepas dari Ki Bum Sunbae. Lalu, apa kau juga berhasil melepas perasaanmu terhadap Ki Bum Sunbae, huh? Satu-satunya yang bisa berkata jujur hanyalah perasaanmu, Soo Rin-ah. Kau tidak bisa menipunya sekalipun dengan perkataanmu sendiri.”

Ya, Cho Kyu Hyun!”

“Apa?” Kyu Hyun justru menantang gadis yang sudah menatap tajam dirinya. Namun ia tahu, ada sorot kesedihan di balik iris kecoklatan yang kembali dilapisi bening-bening kaca berair itu.

“Kau membuat mood-ku semakin kacau…” Soo Rin menggigit bibir sekuatnya, meraih gelas minumannya lalu menyeruputnya dengan cepat. Dan saat itu juga, buliran hangat itu kembali tumpah dari pelupuk mata.

Kyu Hyun menghela napas sedih. Dia tahu bahwa Soo Rin sudah banyak menangis sejak menjalin hubungan dengan Kim Ki Bum, tetapi baru kali ini dia melihat gadis itu menangis di depannya. Menunjukkan kerapuhan yang sebenarnya berkat seseorang yang selama ini dianggap diktator olehnya. Karena orang itu ternyata memilih untuk melepasnya.

“Kau boleh menangis sepuasnya di depanku, tetapi bisakah kau menundanya terlebih dulu? Kita masih berada di kantin.”

“Cho Kyu Hyun!”

Kyu Hyun terkekeh pelan. Melihat gadis itu keki dibuatnya hingga menyeka air matanya dengan cepat.

“Kau benar-benar merusak mood-ku!”

“Aku tahu. Aku ‘kan teman yang baik.”

Ish!”

****

“APA?!”

“KAU SERIUS?!”

Dong Hae dan Hyuk Jae kompak menganga lebar. Matanya bahkan melotot menyorotkan tuntutan penjelasan pada pria yang kini berada di hadapannya, yang baru saja mengumumkan berita mengejutkan bagi mereka.

“Ya. Soo Rin menceritakannya padaku kemarin. Katanya, mereka mengakhiri hubungannya dua hari lalu.” Kyu Hyun lah orangnya. Pria itu memang mendatangi dua orang seniornya itu di salah satu kelas kosong.

“B-bagaimana bisa? Bukankah Park Soo Rin pernah mengatakan bahwa dia tidak bisa—”

“Aku tidak percaya bahwa Kim Ki Bum melakukannya.”

“Dia pasti sedang bercanda.”

“Atau jangan-jangan kau yang sedang menipu kami.”

Kyu Hyun memutar bola matanya mendengar tudingan Hyuk Jae. “Untuk apa aku mendatangi kalian jika tujuannya hanya untuk menipu? Kurang kerjaan sekali,” gerutunya.

Aih, Kim Ki Bum bahkan tidak mengatakan apapun pada kami.” Hyuk Jae mengerutkan kening tanda tidak terima.

“Tapi memang sejak kemarin dia terlihat lebih pendiam dibandingkan biasanya. Dia seperti tidak ingin diajak bicara sama sekali dan hanya mengobrol bersama Dosen Choi. Dan tidak pernah menyinggung soal Park Soo Rin.” Dong Hae berpendapat yang kemudian disetujui oleh teman dekatnya itu.

“Tidak mungkin Ki Bum Sunbae mencampakkan Soo Rin, bukan?” gumam Kyu Hyun yang lebih ditujukan untuk diri sendiri.

“Lalu bagaimana keadaan Park Soo Rin?”

Kyu Hyun mendesah sedih mendengar pertanyaan Dong Hae. “Sangat kacau. Dia sampai memiliki lingkaran mata yang membengkak. Bahkan untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis di depanku kemarin.”

“Apa mereka sempat bertengkar?” Dong Hae bertanya sendiri.

“Aku rasa begitu. Ki Bum tidak akan terlihat semarah itu sampai sekarang.”

“Memang bagaimana keadaan Ki Bum Sunbae?”

Ough! Kau bahkan tidak akan berani mendekatinya dalam radius satu meter saja. Dia benar-benar terlihat menyeramkan sejak kemarin. Aku mengira dia sedang ada masalah dengan urusan kuliahnya tetapi ternyata ini karena Park Soo Rin,” papar Hyuk Jae dengan raut serius yang dibuat-buat.

Kyu Hyun mendesah lagi. “Aku mengatakan ini bukan untuk menebar gosip. Tapi, kalian tahu, bukan? Soo Rin tidak memiliki teman dan hanya aku orang yang dekat dengannya. Saat ini dia terpukul dan butuh hiburan. Kalau kalian bersedia—”

“Baiklah! Di mana dia sekarang?” Hyuk Jae bangkit dari duduknya. Sontak mengundang lainnya untuk mengikuti.

“Sejak kemarin dia lebih sering menghabiskan waktu untuk mendekam di perpustakaan. Beberapa kali kuajak untuk makan, tetapi dia selalu menolak.” Kyu Hyun mengedikkan bahu. “Aku hanya khawatir dia akan semakin kacau jika makan saja tidak mau.”

****

Benar saja, Soo Rin terlihat duduk seorang diri. Seperti sengaja mencari bangku paling pojok demi mengasingkan diri. Sedari tadi ia berkutat dengan buku-buku pinjamannya demi mengerjakan tugas yang baru saja didapatnya dari kelas terakhir.

Sejak kemarin, dia menjadikan tempat ini sebagai destinasi setiap keluar dari kelas. Memilih menyibukkan diri dengan tugas-tugasnya. Seketika dia menjadi mahasiswa yang terlalu rajin menyelesaikan tugas lebih awal. Padahal, sebenarnya dia hanya ingin menghindari segala kemungkinan bisa bertemu dengan pria itu.

Menghela napas panjang, Soo Rin menghentikan kegiatan mengetik deretan kalimat pada laptopnya, mengusap wajahnya yang terlihat lusuh, dan akhirnya menyerah dengan menjatuhkan kepalanya di atas meja.

Tetap tidak bisa.

Kenapa melupakan Kim Ki Bum rasanya sulit sekali? Bukannya dengan berakhirnya hubungan mereka Soo Rin bisa merasa bebas, dia justru seolah dihantui oleh bayang-bayang pria itu. Kenapa mengenyahkannya dari otak Soo Rin begitu sulit?

Bukankah ini yang dia mau? Lepas dari jeratan Kim Ki Bum dan melakukan apapun yang dia inginkan tanpa khawatir dilarang pria itu. Tapi kenapa sekarang Soo Rin justru merasa adanya kekosongan di dalam batinnya?

Plak!

Kesal dengan pikirannya sendiri, Soo Rin menampar sebelah pipinya. Tidak peduli bahwa tingkahnya sedikit menarik perhatian pengunjung di sekitarnya. Toh, Soo Rin tidak melihat mereka.

“Jangan menyakiti dirimu sendiri, Park Soo Rin.”

Soo Rin harus terhenyak mendapatkan tepukan halus di pipi bekas tamparannya. Kepalanya mendongak dan mendapati pria-pria itu ternyata datang dan langsung mendudukkan diri di dekatnya, mengapitnya.

Sunbae? Sedang apa di sini?”

“Kami memiliki hak untuk datang ke mana pun,” balas Dong Hae yang diamini Hyuk Jae dengan anggukan kepala.

Merasa percuma bertanya, Soo Rin menghela napas singkat sebelum mencoba kembali fokus pada pekerjaannya.

“Aku dan Hyuk Jae sudah mendengarnya, mengenai dirimu dan Kim Ki Bum.”

Ucapan Dong Hae seolah menohok batin Soo Rin yang sempat membaik kembali mencelos.

“Bukan Ki Bum yang mengatakannya, melainkan temanmu. Jadi kau bisa bernapas lega bahwa kami datang bukan atas perintah mantan kekasihmu itu,” jelas Hyuk Jae.

Mantan kekasih.

Benar, pria itu bukanlah kekasihnya lagi. Jadi wajar saja jika Hyuk Jae menyebutnya sebagai mantan kekasih. Tapi kenapa rasanya Soo Rin tidak terima?

“Benar kata Kyu Hyun, kau terlihat kacau, Park Soo Rin. Apa kau tidak makan sedikit pun hari ini?” Dong Hae menunjukkan raut khawatirnya.

“Aku tidak apa-apa, Sunbae. Seharusnya kalian tidak perlu kemari jika hanya ingin melihat keadaanku. Meski aku ceroboh dan bodoh, aku masih bisa menjaga diri.”

Mereka saling melempar pandang setelah Soo Rin mengatakan hal itu. Gadis ini, memang belum bisa sepenuhnya lepas dari Kim Ki Bum. Bisa dibuktikan dengan apa yang baru saja dikatakannya.

“Kau tahu, mendengarmu berkata seperti itu justru menunjukkan bahwa kau memang sedang kenapa-kenapa. Aku tidak bisa diam saja.”

Hal selanjutkan yang dilakukan Hyuk Jae, merebut laptop Soo Rin untuk dimatikan setelah menyimpan pekerjaan gadis itu. Gerakannya cepat sekali sampai-sampai Soo Rin terperangah hingga memudahkan Dong Hae untuk mengajaknya berdiri, sementara temannya itu membereskan barang-barang Soo Rin.

“Jangan banyak berpikir. Yang perlu kau pastikan adalah, kami akan menjadi temanmu selain Kyu Hyun. Jadi, ayo makan!”

Soo Rin hanya bisa kebingungan kala dirinya digiring keluar dari perpustakaan oleh dua pria bermarga Lee itu.

****

Kim Ki Bum baru saja keluar dari ruangannya bersama Dosen Choi setelah membantu beliau mengoreksi hasil kuis dari kelasnya. Raut wajahnya yang datar memang terlihat lebih dingin dari biasanya. Apalagi, Dosen Choi ternyata menyadari dan sempat menegurnya tadi.

“Apa kau sedang ada masalah? Jika kuperhatikan, kau terlihat sedang menjaga jarak dengan Park Soo Rin.”

Dosen Choi memang tahu hubungannya dengan Soo Rin, hanya saja tidak disangka bahwa pria berusia pertengahan tiga puluh tahunan itu akan mencermati hingga tahu bahwa dia sudah menjaga jarak dengan Soo Rin.

Bukan menjaga jarak lagi, tetapi memang sudah berpisah.

Sejak kejadian itu, Ki Bum memang seperti semakin menutup diri dan tidak banyak bicara. Dia yang terkenal dengan pria yang irit bicara kini berubah menjadi pria yang pelit bicara hingga siapa pun selain para dosen dia abaikan. Dia juga menyadari bahwa dua temannya ikut menjaga jarak padanya dan hanya menyapa seperlunya.

Ki Bum tidak menyangka bahwa perginya Park Soo Rin akan berdampak padanya hingga seperti ini.

Apalagi, kini dia melihat gadis itu sudah bersama dua temannya di kantin. Baik Dong Hae maupun Hyuk Jae beberapa kali menjejalkan Soo Rin sesendok makanan di meja mereka. Gadis itu seperti berubah menjadi anak kecil yang sulit diajak makan. Lihat saja ekspresi wajahnya yang terpaksa menerima suap demi suap yang didapatnya dari teman-temannya itu.

“Ayolah, Park Soo Rin, makan ini! Apa kau sedang menjalankan diet ketat sampai-sampai kimchi pun kau tidak mau, huh?” Hyuk Jae mulai gemas dibuatnya.

“Kau ini sudah kurus. Bagian mana lagi yang ingin kau kecilkan, hah? Atau kau ingin menjadi seonggok manusia tanpa daging?” gerutu Dong Hae.

“Aku rasa itu lebih baik.”

Ya!!

Soo Rin meringis mendapat semburan kompak dari pria di hadapannya. “Aku hanya bercanda!”

“Aku sedang tidak mau diajak bercanda, ara!” dumal Hyuk Jae menekan sambil menyendok nasi lagi. “Kau bisa jatuh sakit jika begini terus, Soo Rin-ah. Sesakit apapun kau berpisah dari Kim Ki Bum, jangan kau tambah dengan tidak mau makan. Kau tidak boleh terlihat lemah di hadapan pria yang kau sebut diktator itu. Buat dia mengerti bahwa kau bisa hidup dengan tenang tanpa ada dirinya di sekitarmu. Dengan begitu kau bisa melupakannya,” tukasnya sambil menyuapi gadis yang kini kembali murung.

Soo Rin mengunyahnya perlahan. Merenungkan teguran Hyuk Jae yang begitu blak-blakan. Jika dipikirkan lagi, Soo Rin justru tidak mau melupakannya. Dia tidak mengerti dengan perasaannya. Padahal, dia merasa lelah dengan pria itu, tetapi kenapa dia justru semakin lelah dengan lepasnya dia dari pria itu?

Sungguh tidak dimengerti.

Aisshi, Lee Hyuk Jae! Kau membuat Soo Rin menangis lagi! Bodoh!” Dong Hae memukul kepala temannya itu dengan sumpit.

Hyuk Jae yang sempat merintih baru menyadarinya, bagaimana gadis itu tertunduk dengan bahu bergetar, terisak pelan seolah sang empu berusaha menahannya agar tidak lepas kendali. Membuatnya mendesah sedih.

“Sesakit itukah, Park Soo Rin?”

Soo Rin semakin gencar mengeluarkan air mata, mengangguk beberapa kali, sebelah tangannya merambat ke dada kirinya, mengepalnya dan memukul-mukul di sana. Menunjukkan secara nonverbal bahwa di situlah pusat rasa sakitnya.

Dong Hae berpindah duduk di sebelah Soo Rin, merangkul pundak yang tampak kecil di lengannya, menepuknya penuh pengertian. “Dia benar-benar menyebalkan, bukan?”

Soo Rin mengangguk lagi, kini isakannya tidak bisa ia kendalikan. Masa bodoh dengan posisinya saat ini, masa bodoh dengan pandangan mereka dan menganggapnya sebagai gadis cengeng, dia hanya ingin melepas rasa sesak yang terus saja berdatangan menggerayangi batinnya yang sedang rapuh.

Dan Hyuk Jae ikut serta, berjongkok di sisi lain gadis itu, menepuk-tepuk kepala si gadis seraya tersenyum getir.

“Kalau begitu menangislah, Park Soo Rin. Jangan khawatirkan apapun, ada aku dan Dong Hae yang akan menjagamu selama yang kau mau.”

Pecah sudah tangisan Soo Rin. Dia memang membutuhkan ini. Orang yang bisa mengerti apa yang dibutuhkannya tanpa harus dijabarkan. Dia merasa bersyukur karena dua pria Lee itu mau menjadi tempatnya mengadu. Mengingat tidak ada teman perempuan yang mau memahami betapa sakitnya ia karena pria diktator yang dikagumi oleh banyak kaum hawa di sini.

Kyu Hyun yang baru saja datang, melihat pemandangan itu dengan pandangan nanar. Ia kemudian menoleh ke arah lain, di mana pria itu berdiri mematung, menatap lurus ke arah yang sudah bisa Kyu Hyun tebak. Seperti tidak berniat untuk melakukan sesuatu. Membuatnya mendengus prihatin.

“Dia berubah menjadi pria pengecut.”

.

You were always by my side beautifully. Is that the reason I couldn’t recognize farewell was coming? Can’t I erase the longing easily as we broke up easily? When can I imagine you while smiling? – 리본

.

****

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Terhitung sudah satu bulan semenjak tangisan deras itu terjadi. Musim pun berganti. Pohon-pohon mulai menggugurkan dedaunannya. Suhu udara mulai menurun seiring dengan datangnya musim gugur.

Gadis itu berlari-lari di sepanjang koridor sambil melirik jam di tangannya. Napasnya memburu dan kembang-kempis setelah menaiki anak-anak tangga yang makin menguras tenaganya. Dengan serampangan ia membuka pintu salah satu kelas hingga seketika menarik perhatian penghuni di dalamnya. Terutama seseorang yang berdiri di depan kelas.

“Terlambat lagi, Park Soo Rin-sshi?”

Jwaeseonghamnida…” suara Soo Rin melirih di sela-sela mengatur napasnya. Raut wajahnya tampak harap-harap cemas di kala pria itu memeriksa arloji di pergelangan kirinya.

Well, tertinggal sepuluh menit sepertinya tidak buruk. Kau masih bisa mengejar teman-temanmu, bukan?”

Soo Rin membuka mulut, matanya melebar. “Y-ya. Aku bisa.”

“Kalau begitu ambil kertas soalmu dan cari tempat duduk.”

Senyumnya muncul secara spontan, menular hingga pria itu ikut tersenyum padanya. Buru-buru Soo Rin membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk rasa harunya. “Terima kasih, Dosen Choi!”

Dosen bernama Choi Si Won itu mengangguk sekali disertai senyum menawannya. Matanya terus mengawasi gerak-gerik gadis itu hingga ia mendapatkan tempat duduk di belakang sana dan mulai mengeluarkan peralatan tulisnya. Sesekali tangan bebasnya mengusap peluh yang masih membanjiri wajah manisnya di sela-sela tugas barunya.

Barulah Si Won beralih ke arah lain. Mengamati para mahasiswanya yang kembali berkutat dengan soal masing-masing. Kelasnya kembali tenang. Minggu ini memang sedang dilaksanakan ujian semester. Untuk kali ini Si Won yang biasa absen kini turun tangan sebagai pengawas.

Kemudian pandangannya jatuh ke pojok ruangan ini. Di belakang sana. Si Won hampir lupa bahwa ia tidak sendiri mengawasi kelas ini. Namun ada yang menarik perhatiannya hingga diam-diam ia tersenyum simpul.

Melihat Kim Ki Bum duduk mengawasi gadis yang sudah tenggelam dengan soal-soalnya, di pojok ruangan lainnya. Bukan hanya mengawasi, namun juga mengamati dengan tatapan penuh arti khasnya.

Dan Si Won mengerti itu.

.
.

“Aah… aku pusing.”

Kyu Hyun menyandarkan tubuhnya hingga ia merosot. Menjatuhkan kepalanya hingga mendengak serta memejamkan mata. Ujian mata kuliah Dosen Choi baru saja berakhir. Satu demi satu teman-temannya keluar dari kelas setelah dosen itu keluar ruangan. Membuatnya leluasa untuk melepas rasa penatnya.

“Aak!” tapi belum ada satu menit, Kyu Hyun dikejutkan dengan jitakan tepat di ubun-ubunnya hingga reflek ia menegakkan tubuh. Baru saja ia hendak menyembur si pelaku ketika mendapati ternyata Park Soo Rin sudah memamerkan cengirannya. Mengingatkannya bahwa sedari tadi gadis itu duduk di belakangnya.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

Kyu Hyun berdecak malas mendengar sapaan Soo Rin. “Tidak perlu ditanya. Aku mengerjakan semua soalnya dengan baik,” jawabnya sombong.

Soo Rin mendecih. Mencibir dengan bibirnya yang bergerak lucu.

“Aku tahu kau iri padaku, Nona Park. Siapa suruh masih datang terlambat?” ejek Kyu Hyun yang langsung mendapat tinjuan Soo Rin di lengannya.

“Setidaknya sekarang aku hanya terlambat sepuluh menit. Aku juga mengerjakan semua soalnya dengan baik. Wee!” Soo Rin menjulurkan lidah.

Heol, lihat dia. Sudah bisa menyombongkan diri juga, ternyata.”

“Siapa dulu temannya?”

“Cho Kyun Hyun yang tampan. Hahahaha!”

Ish! Ingat jerawatmu yang banyak itu!”

“Jangan ingatkan soal itu! Aisshi, aku sedang dalam masa perawatan, tahu!”

Kini giliran Soo Rin yang tergelak. Namun cukup meredakan rasa kesal Kyu Hyun karena ia merasa berhasil membuat gadis itu tertawa. Setidaknya, ini lebih baik dibandingkan melihat teman dekatnya itu bersedih ria seperti sebelum-sebelumnya.

Eii, tumben sekali kau peduli dengan wajahmu? Biar kutebak, kau pasti sedang menyukai seorang gadis. Mengakulah!”

Kyu Hyun memutar bola mata mendapati Soo Rin langsung menudingnya. Mencibir pelan. “Tahu saja kau.”

“Benarkah?!” Soo Rin mendadak antusias, langsung saja ia menarik lengan Kyu Hyun untuk mendekat, sengaja memelankan suara, “Siapa?”

“Tebak saja sendiri! Hahaha!”

Ish!” Soo Rin mendorong temannya kembali menjauh. “Cho Kyu Hyun tidak asyik!”

“Kalau kau tahu, nanti kau pasti akan terkejut.” Kyu Hyun terkekeh pelan. Tangannya berulah mengusak-usak rambut Soo Rin hingga gadis itu mengerang tidak terima.

Ya, Kim Ki Bum! Kau di sini, rupanya? Dosen Lee mencari keberadaanmu!”

Satu suara nyaring itu menghentikan aksi keduanya. Terutama Soo Rin yang seketika mematung dan melihat Lee Dong Hae ternyata masuk ke ruangan ini.

“Oh, Soo Rin-ah! Annyeong! Bagaimana dengan ujianmu barusan?” Dong Hae berubah haluan, melambaikan tangan seraya menghampiri keduanya dengan senyum lebar.

Sunbae, apa aku ini tidak kasat mata? Kenapa hanya Soo Rin yang kau tanyakan kabarnya?”

Eii, si bocah ini! Cemburu pada temanmu sendiri, eh?”

“Ya. Soo Rin ‘kan seorang gadis. Jelas saja aku cemburu.”

Heol! Itu terdengar menggelikan, Cho Kyu Hyun?”

Di saat dua pria itu beradu mulut, Soo Rin terdiam melihat pria yang sempat dipanggil Dong Hae melangkah ke depan kelas. Tanpa berniat menoleh, keluar begitu saja dari kelas ini dengan mulut terkatup rapat.

Jadi, selama ini Kim Ki Bum ada di kelasnya? Kenapa Soo Rin tidak tahu?

“Dia ikut mengawas tadi, jika kau tidak tahu itu.”

Soo Rin menatap Kyu Hyun. Dua pria itu ternyata sudah berhenti bergurau. “O-oh…” responnya singkat seraya memasukkan peralatan tulisnya ke dalam tas.

Melihat raut wajah gadis itu kembali mendung, Dong Hae berdecak. “Aah! Ayo kita ke kantin! Sebelum menempuh ujian selanjutnya, ada baiknya jika kita menyegarkan otak sejenak, eo!”

Geurae! Kaja, Soo Rin-ah!

E-eo…

Baik Kyu Hyun maupun Dong Hae, mereka saling pandang penuh arti sebelum menggiring Soo Rin keluar dari kelas.

****

Kabar berpisahnya Kim Ki Bum dan Park Soo Rin memang sudah menyebar. Banyak yang tidak menduga bahwa hubungan mereka yang baru menginjak setengah tahun akan kandas begitu saja. Namun bukannya cibiran yang selama ini menjatuhkan Soo Rin mereda, mereka justru semakin menjadi menyindir gadis itu.

Hanya karena Park Soo Rin menjadi dekat dengan Lee Dong Hae dan Lee Hyuk Jae. Terlepas karena mereka adalah teman dekat Kim Ki Bum, mereka dikenal sebagai pria most wanted berkat paras juga kelebihan yang tidak biasa. Contohnya saja Lee Dong Hae, pria bermulut manis—bukan dalam arti pandai beromong kosong—itu memang banyak dikagumi banyak perempuan karena kelembutannya setiap berbicara pada lawan jenis. Lee Hyuk Jae, pria berwajah jenaka itu juga dikagumi karena kemampuannya dalam menari dan menjadi pengisi acara tiap pentas seni kampus diadakan.

Mereka tidak habis pikir, gadis itu sudah berpisah dari Kim Ki Bum tetapi kenapa menjadi berteman baik dengan teman-teman pria itu? Jelas saja mereka menjadi semakin iri dengan keberuntungan tak terputus milik gadis itu. Sudah mendapatkan Kim Ki Bum, teman-temannya pun direbut juga. Apalagi mengingat aksi menangisnya di kantin sampai ditemani oleh dua pria bermarga Lee itu, banyak yang menuding Soo Rin bahwa ia hanya mencari muka.

Tapi Soo Rin tidak memedulikan itu. Mereka tidak mengerti dan pasti tidak mau mengerti. Karena mereka bukanlah dirinya. Mereka tidak merasakan bagaimana rasanya berada di posisinya.

Antara menyesal sekaligus bersyukur. Sulit untuk dijelaskan.

****

Dua minggu ujian semester dilaksanakan, kini telah berakhir. Baik Soo Rin, Kyu Hyun, Dong Hae dan Hyuk Jae, masih disibukkan oleh urusannya sehingga hanya bertemu sapa dalam waktu singkat. Soo Rin sendiri sering mondar-mandir ke perpustakaan hingga Kyu Hyun uring-uringan mencari keberadaannya.

Gadis itu berubah. Perlahan-lahan. Mulai mengurangi waktu terlambatnya, memanfaatkan waktu demi berbagai tugas kuliahnya. Menjadi pribadi yang sibuk hingga lupa dengan yang namanya berkumpul dengan teman. Jika saja ketiga pria itu tidak mengambil andil, sudah dipastikan Park Soo Rin akan menjadi gadis tertutup yang lebih mengarah dengan mengasingkan diri.

Hanya kebiasaan mengonsumsi kafein dan insomnianya saja yang belum berkurang.

Jika ada yang mengira Soo Rin berubah karena insomnianya sembuh, itu salah. Justru semua itu berkat insomnianya yang semakin parah. Karena kini Soo Rin mengandalkan ibunya yang membangunkannya. Tanpa perlu diketahui pukul berapa dia tertidur.

Namun lingkar matanya yang sering menggelap sudah cukup menjawab rasa penasaran ketiga temannya.

Jika kehidupan berkuliah Soo Rin terlihat membaik, justru kehidupan di luar itu semua yang berubah kacau.

Park Soo Rin bisa saja menyerah jika batinnya kembali rapuh seperti di kala itu.

“Itukah mengapa kau masih mengawasi Park Soo Rin?”

Saat ini, Kyu Hyun berdiri di hadapannya. Pria yang selama ini menjadi sumber rasa penasarannya, sudah berhasil ditangkapnya. Menangkap Kim Ki Bum yang ternyata masih berada di sekitar Park Soo Rin. Gadis itu dengan fokusnya masih berkutat dengan buku-bukunya di bangku sana, tentu tidak tahu bahwa mereka berada di sini.

“Kau masih mengamatinya karena kau tahu bahwa Park Soo Rin tidak sebaik yang terlihat seperti saat ini. Benar, bukan?”

Tidak ada respon berarti yang Kyu Hyun dapat. Pria itu tetap menutup mulutnya, membaca buku di tangannya yang sudah Kyu Hyun tebak bahwa itu hanyalah alibi seorang Kim Ki Bum.

Sunbae, jika kau masih peduli pada Soo Rin, kenapa kau justru melepaskannya? Kau lihat sendiri bagaimana kacaunya Soo Rin hingga sekarang, bukan? Dia selalu mengatakan bahwa dia merasa bebas, tetapi dia masih saja menangisimu. Apa kau tega?”

Kyu Hyun masih tidak mendapat respon.

“Aku memang tidak mengerti bagaimana kronologis hubunganmu dengan Soo Rin. Tetapi melihatmu yang memilih diam setelah melepaskan Soo Rin, aku justru tidak habis pikir padamu. Sebenarnya kau anggap apa Soo Rin selama ini? Selama dia menjadi kekasihmu, kau memperlakukannya seperti yang sering aku lihat. Begitu dia lepas darimu, kau berlaga seolah masih memerhatikannya.”

“Ini bukan urusanmu.” Ki Bum melepas pandangannya dari buku, melirik tajam Kyu Hyun di sampingnya seraya berkata, “Jangan ikut campur.”

“Tentu saja ini urusanku. Park Soo Rin adalah temanku.”

“Teman?” Ki Bum mendengus sinis. “Teman yang terlalu kau pedulikan.

Kyu Hyun menarik napas dalam, menarik sudut bibirnya secara asimetris. “Benar, teman. Karena itu aku tidak bisa diam saja,” gumamnya sebelum mengangkat dagu. Menantang pria bermuka datar di depannya. “Sunbae, kau tahu bahwa saat ini Park Soo Rin sedang berada di tanganku. Jika kau masih bertindak layaknya pengecut seperti ini, jangan menyesal jika suatu saat aku berhasil menggenggamnya. Karena aku pastikan bahwa kau tidak akan bisa merebutnya kembali.”

Dia melihatnya. Bagaimana rahang tegas itu mengeras di mana mata tajamnya masih keukeuh menyorot ke dalam buku di genggaman. Cho Kyu Hyun memang berhasil memancing Kim Ki Bum. Dan ia merasa bangga akan itu.

Bruk!

Atensi mereka teralihkan, begitu pula dengan pengunjung lainnya. Gadis itu sudah jatuh terduduk dengan buku-buku bertebaran di dekatnya. Entah bagaimana kronologis kejadiannya sampai-sampai gadis itu tidak bisa terbangun lagi.

“Astaga, Park Soo Rin!” ini adalah suara Kyu Hyun. Pria itu terpicu berkat kecemasannya yang mendadak muncul melihat gadis itu ternyata Park Soo Rin. Segera ia berjongkok dan langsung merengkuh tubuh gadis itu hati-hati. “Ya, kenapa kau bisa terjatuh?”

“A-aku sendiri tidak tahu. Sepertinya, kakiku tersandung?” jawab Soo Rin tidak yakin. Ia kemudian meringis pelan sebelum mencoba merapikan buku-buku pinjamannya yang sudah berserakan.

Namun ada yang aneh.

Kenapa tangan Soo Rin terlihat gemetar kala memungut buku-buku tersebut?

“Sudahlah, serahkan semuanya padaku.” Kyu Hyun mengambil alih, menuntun Soo Rin kembali duduk ke tempat semula kemudian memeluk buku-buku itu di lengannya. “Biar aku yang mengembalikan buku-buku ini. Kau istirahat saja. Kau seperti kehilangan fokus, Park Soo Rin. Jadi tunggulah di sini.”

Mengerti bahwa itu adalah perintah, Soo Rin mengangguk pasrah. Kemudian ia menunduk memerhatikan kedua tangannya, diangkatnya ke depan wajah hingga ia melihat dengan jelas bagaimana jari-jemari tangannya tampak gemetar samar. Ada yang tidak beres dan Soo Rin tidak tahu apa ini. Ia mencoba mengepalnya, kemudian meregangkannya. Rasanya memang tidak seperti biasanya.

Aah, ini sepertinya efek karena dia terlalu banyak menulis.

Soo Rin menegakkan kepala, menarik napas dalam lalu menghembuskannya. Yang saat itu juga matanya yang tengah berlarian terhenti pada sosok yang duduk beberapa meter dari posisinya kini. Menimbulkan perasaan itu kembali muncul yang sukses menghantam jantungnya hingga berdetak tidak karuan.

Kim Ki Bum ada di sana. Menatap dirinya…

Padahal selama ini Soo Rin sudah bertekad untuk tidak pernah menganggap pria itu sebagai seseorang yang pernah masuk ke dalam hidupnya. Tapi kenapa hanya karena mengetahui bahwa pria itu masih menatapnya, menemukan keberadaannya di sini, jantung Soo Rin lepas kendali seperti ini?

Bukankah Soo Rin sudah bisa melupakan Kim Ki Bum? Bukankah Soo Rin sudah bisa menepis perasaannya terhadap Kim Ki Bum? Bukankah Soo Rin sudah bisa membuktikannya? Tapi kenapa hanya dengan menemukan fakta bahwa pria itu masih bisa menemukannya membuat segala pertahan Soo Rin rubuh? Bukankah itu hal yang wajar karena mereka berada di gedung yang sama? Fakultas yang sama? Jurusan yang sama?

Tapi kenapa… kenapa?!

Menyambar tasnya, Soo Rin bangkit dari duduknya, cepat-cepat keluar dari tempat itu tanpa memikirkan apapun lagi.

Lagi dan lagi, Soo Rin melarikan diri dari kenyataan bahwa perasaannya masih sama.

Lagi dan lagi, Soo Rin merutuki kebodohannya yang masih saja menganggap pria itu ada.

Lagi dan lagi, Soo Rin harus mengakui bahwa ia masih…

Menyukai… bahkan mencintai…

Seorang pria diktator yang sudah menjungkirbalikkan kehidupannya seperti ini.

“Soo Rin-ah!”

Panggilan itu menyadarkannya, bahwa dirinya kembali terjatuh entah karena apa. Sudah dalam keadaan terduduk di tengah koridor dan menjadi tontonan banyak orang yang berlalu-lalang. Ia mencoba mengambil tasnya yang tergeletak tak jauh. Tapi, lagi-lagi ia melihat tangannya gemetaran kala mencoba untuk menariknya.

Tidak, dia tidak bisa menariknya.

Dia bahkan tidak bisa merasakan tangannya. Seperti kebas tak bertenaga. Syaraf-syaraf di dalam tubuhnya seolah berhenti bekerja, energinya seolah lenyap terhisap angin. Dan ia hanya bisa merasakan deru napasnya yang mulai memburu.

Ada apa dengannya? Ada apa dengan tubuhnya? Kenapa Soo Rin tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri?

Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan? Dia harus meminta tolong pada siapa?

Ya, Soo Rin-ah! Kau ini kenapa, huh? Sudah kubilang untuk menunggu di tempat dudukmu tetapi kenapa kau malah kabur?!” Kyu Hyun berhasil menghampiri Soo Rin. Ia dibuat bingung akan tingkah temannya yang tampak hilang arah seperti ini. “Ya, kau sakit? Wajahmu berubah pucat,” ujar Kyu Hyun mulai cemas. Ia kembali merengkuh Soo Rin dan berniat untuk membantunya berdiri. “Kita pulang saja, ya? Aku akan mengantarmu pulang. Ayo berdiri.”

“Tidak bisa…”

“Apa?” Kyu Hyun mencoba mendekatkan telinganya pada Soo Rin. Kemudian mendesah gusar. “Kau bisa berdiri, Soo Rin-ah. Aku akan memapahmu. Atau kau mau kugendong saja, eo?”

“Aku tidak bisa…” bibir Soo Rin tampak bergetar, matanya berair dengan cepatnya, “aku tidak bisa berdiri lagi…”

Diam. Kyu Hyun menatap raut wajah Soo Rin dengan mulut terbuka, menyaksikan bagaimana mata itu kembali menumpahkan cairan beningnya, setelah cukup lama sang pemilik berhasil menahannya.

“Aku tidak bisa berdiri lagi. Aku membutuhkannya…” isakannya mulai bermunculan, “Aku tidak mengerti, kenapa aku justru memikirkannya lagi. Aku ingin berdiri lagi, tetapi aku membutuhkannya…”

“Soo Rin-ah…

“Aku membutuhkan Kim Ki Bum… aku harus bagaimana?” Soo Rin menatap nanar pria di sampingnya, menangis terang-terangan sekali lagi, “Aku harus bagaimana, Kyu Hyun-ah? Kim Ki Bum masih saja ada di dalam kepalaku. Aku harus bagaimana? Aku harus melakukan apa?”

Tidak kuasa, Kyu Hyun akhirnya membawa Soo Rin ke dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu kembali melepas tangisan derasnya di kungkungannya, merasakan bagaimana tubuh kecil itu bergetar hebat, terisak hebat yang seketika memilukan benaknya.

Park Soo Rin memilih untuk menyerah dengan dirinya sendiri. Membiarkan kerapuhan itu menghancurkan segala ketegarannya yang sudah ia bangun sedemikian rupa. Dan ia menyerah di sini, di tengah koridor, dengan banyak pasang mata sebagai saksinya.

.

.

If I say I can’t, will my heart change? I’ve already placed you in my heart. So how can I take you out now? I told myself several times that I shouldn’t do this. But like an unexpected rain shower, you suddenly came to me. Can’t I like you?Can’t I just love you?  – 소나기

.

.


lah, galau 😂

bingung jadinya, mau diapain ini mereka #duaagh

tapi besok udah ending ya //spoilernih// mau akhirnya gimana, yah pokoknya terima aja ya.. biar lega akunya, ngebut soalnya bikin ini bahahaha //yaterus-_-

dan terima kasih banyak buat respon readers sekalian! omg aku kok seneng gitu ya baca uneg-uneg kalian yang aturan sedih banget wkwkwk soalnya seneng gegara ceritanya ngaruh di kalian. Syukurlah~ meski ngebut ada sedikit feelnya hehehe tapi gatau deh ya kalo part ini gimana 😊😣

so, see u tomorrow again! 🙌🙌🙌

PhotoGrid_1471632216979
salam Agan (Ahjusshi Ganteng) 😂
Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

20 thoughts on “[The Day] I Fall, Once Again

  1. Huuuuuaaa akupun jadi bingung yahhh aigoo itu kibun knapa jadi gak gantel gitu siihh gak tega banget liat sooring deeh😢eon jangan sad end yahh but happy end 😂 karna sesuatu yg berakhir dengan sad end sangat menyesakkan dihati😭😂😂 fighting terus eon 🙌🙌🙌

  2. ahkkk kamprett soorin’a lemah bgti sh harus’a bisa buktikan ke kibum kalo diri’a bisa :-(, malah amburadul bgtu ckck kasian amat cuma ditonton doank ma kibum 😀
    q pikir kyuhyunku suka ma soorin 😀

  3. Yak bang toyib kalo soorin diambil kyuhyun baru greget lo nanti T T

    Kok aku jadi pengen cubit pipi kibum sambil bilang “ayo sayang perjuangin cinta mu” hahahaha stresss mode on :v

  4. sdih aq 😢😢😢
    kim kibum knpa qm cm awasin dri jauh ja…
    prasaan tu hrus diungkapkan…
    soorin tu g peka tp kibum mlah kya es…
    pngen jitak jdi ny 😤
    next dtnggu 😉

  5. Rasanya ya mau getok pake palu itu kepala ki bum. Gemes bgt sm sifatnya itu. Kenapa gak nyoba buat bicara sm soo rin sih. Padahal dia tau kalo soo rin tidak baik2 saha setelah putus dgnnya. Kayanya kalo kaya ginu mending soo rin sm kyuhyun aja ya tp kok jg gak rela kalo soo rin hrs pisah dgn ki bum. Aaaahhhhh tau ah urusan jd galau sendiri.hehehe
    Oya itu soo rin gak kenapa2 kan? Dia hanya kelelahan aja kan? Gak sampe punya penyakit parah kan?

  6. Rasanya ingin berkata ………….
    Ugh gemes yaahh
    Ya kalo masih saling membutuhkan kenapa saling menjauhkan ??? Suka gak paham aahh

  7. sedih aku, Soorin kenapa jadi lemah gitu??😞😩
    Kim Kibum juga kenapa jadi gak gentle gitu sih, kenapa cuma liatin Soorin dari jauh doang??

  8. halahhhh galau.. perjuangkan dong bang kibum, jangan diem aja.. itu soorin beneran sakit apa gimana? kok bilang ngga bisa bangun lagi gara2 masih cinta kibum?? kyuhyun bnran suka atau cuma manas2in doang?? happy end ya kak?? ya ya ya?? ^^

  9. Kibum tidak tegas, coba dia mau kasih penjelasan ke soorin, bukannya cuma diam dan nuruti kemauan soorin, walau dia tahu kalau itu salah…
    Lalu, apakah kyuhyun suka dengan soorin?

  10. duh duh galau deh …
    soorin harus strong 🙌 kim kibum pasti berpaling deh sama soorin lagi. kekek

    but this story make me sad sist,and than more tasetaless how she was crushed whe she kept thinking about kim kibum. 😞

    keep spirit kaaaak aku padamu 😚😳😳

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s