Posted in Campus Life, Chaptered, Fiction, Fluff, Friendship, PG, Romance, Special Fanfics, Special [The Day]

[The Day] We Felt The Distance

wp-1471522790926.jpeg

Campus Life, Friendship, Fluff, Romance

PG | Mini Chaptered

before :: A Sadistic Boyfriend

Backsound(s) :: Kyu Hyun – 멀어지던 날 (The Day We Felt The Distance), DAY6 – 놓아 놓아 놓아 (Letting Go)

“Kau tidak mengerti karena aku memang sulit untuk dimengerti.” 

.


ELVABARI©2016

.

Even only look at you, it’s hurt. My heart is too hurt. You are precious and irreplaceable. You becoming far as I can’t reach you. Can we go back? – 멀어지던 날

.

PAGI hari menjelang. Gadis itu masih betah bergelung di bawah selimut setelah melawan insomnianya meski baru bisa menang di pukul dua dini hari. Kini di waktu yang menunjukkan pukul tujuh pagi, deringan ponsel harus mengusik lelapnya. Tangannya meraba-raba mencoba meraih benda persegi tipis itu. Matanya yang masih harus membiasakan diri kini mengintip-intip memeriksa siapa yang sudah mengganggu tidurnya yang belum tuntas.

Kemudian seperti orang kesetanan, ia terbangun dari malas-malasnya, matanya sudah terbuka lebar disertai tegukan saliva. Sudah dipastikan penyebab perubahan tingkahnya ini.

Mau tidak mau ia menerima panggilan yang tidak ada habisnya itu.

Yeoboseyo?”

“Turun dari tempat tidurmu. Aku tunggu di depan kampus empat puluh menit dari sekarang.”

Jelas saja Soo Rin kelabakan dibuatnya. Setelah memutus panggilan yang sudah bisa ditebak dari siapa, ia langsung meloncat turun dari tempat tidur, membuka lemari pakaian dan mengambil satu pasangnya secara asal sebelum keluar dari kamar dan lari ke kamar mandi.

Begitulah pagi Soo Rin, selalu dibangunkan dengan teror khas dari Kim Ki Bum. Tidak peduli dia memiliki kuliah pagi atau tidak, pria itu pasti sudah membangunkannya di waktu yang sama sampai-sampai Soo Rin kewalahan mengikuti.

Seperti biasa pula, berdesak-desakan di dalam bus yang membuat wajah Soo Rin kusut lebih awal di pagi hari. Jangan harap pria itu akan menjemputnya atau apa, selama hampir setengah tahun mereka menjalin hubungan, tidak pernah ada istilah menjemput di dalam kamus Kim Ki Bum. Sudah dikatakan bahwa pria itu tidak memiliki sisi manis sama sekali.

Soo Rin bahkan harus berlari-larian dari halte tempatnya turun menuju kampus. Jaraknya memang membutuhkan waktu lima menit dengan berjalan kaki. Karena tidak mau membuang waktu yang terus berjalan, Soo Rin harus rela banjir keringat demi tidak mendapat semprotan pagi.

Tinggal beberapa langkah untuk bisa menjangkau kampus, Soo Rin memilih untuk mengambil napas dalam-dalam setelah berlari kencang. Dia baru berpikir, di mana Kim Ki Bum menunggunya? Di depan kampus, tapi di sebelah mana?

“Aah, bodoh sekali…” kenapa Soo Rin asal menurut tanpa bertanya terlebih dahulu posisi pasti pria itu berada? “Bodoh, bodoh, bodoh!” erangnya sambil mengetuk kepalanya beberapa kali.

Sekarang, Soo Rin harus membuang waktunya dengan mengitari area kampusnya yang begitu luas itu. Sepuluh menit dia berputar-putar, akhirnya ia melihat sosok pria itu ternyata berada di taman dekat Gedung Rektorat yang letaknya memang di bagian depan kampus.

Dia sudah siap menyapa pria itu tanpa peduli akan terkena semprotan lagi, ketika ia terpaksa menghentikan gerak kaki-kakinya karena melihat pria itu ternyata tidak sendiri.

Melainkan bersama seorang gadis cantik…

Bahkan mereka tampak asyik mengobrol. Kim Ki Bum dengan kedua tangan dimasukkan ke kantung jaket tipisnya, mengumbar senyum yang bahkan Soo Rin sendiri tidak ingat kapan dia pernah mendapatkannya. Ditambah lagi melihat cara mata pria itu yang memandang si gadis dengan tatapan hangat, seketika membuat Soo Rin iri.

Dia yang berstatus sebagai kekasihnya saja tidak pernah mendapat tatapan sehangat itu. Tetapi gadis yang tidak diketahui asal muasalnya, dengan mudahnya mendapatkan hal itu dari Kim Ki Bum! Dan…

Ya ampun… dia bahkan memeluk Kim Ki Bum dan pria itu membalasnya!

Siapa gadis itu sebenarnya?!

Di awal pagi hari ini, rasanya Soo Rin ingin menangis. Untuk yang kesekian kalinya karena kekasihnya sendiri!

Soo Rin memilih untuk bersembunyi di balik sebuah pohon, berjongkok dan memeluk lututnya dengan tangan gemetar. Menggigit bibir sekeras yang ia mampu demi menahan sesuatu yang ingin menyeruak di pelupuk mata. Bahunya tampak naik-turun berkat deru napasnya yang mulai kacau.

Soo Rin sungguh tidak mengerti, bagaimana jalan pikiran Kim Ki Bum selama ini. Dia anggap apa Soo Rin selama ini? Kekasihnya? Tetapi kenapa dia sering memperlakukan Soo Rin layaknya orang yang dipandang sebelah mata? Sebenarnya, apa definisi istilah kekasih bagi seorang Kim Ki Bum?

Ataukah…

“Dia sudah mulai bosan padaku…”

****

Setelah memakan waktu yang cukup lama, Ki Bum akhirnya melihat wujud Soo Rin. Gadis itu dengan langkah gontai menghampirinya, kepalanya bahkan tertunduk seolah menghindari tatapan tajamnya yang memang mulai mengintimidasi.

“Kau terlambat,” tuding Ki Bum sambil memeriksa arlojinya. Gadis itu sudah terlambat 15 menit dari waktu yang ia tentukan.

“Maaf…”

Seperti biasa, Soo Rin hanya bisa mengucapkan satu kata tersebut. Kini dia memang tidak memiliki niat untuk memberi alasan mengapa dia terlambat. Percuma juga, Ki Bum akan tetap menyalahkannya.

“Apa empat puluh menit itu tidak cukup? Padahal jarak rumahmu kemari hanya membutuhkan waktu dua puluh menit.”

Soo Rin hanya diam. Mengatup bibirnya rapat.

“Park Soo Rin, aku bicara padamu.”

Soo Rin masih diam. Dan kali ini dia mendengar decakan keras dari mulut pria itu. Kim Ki Bum memang tidak suka diabaikan olehnya. Maka dari itu Ki Bum mendekat dengan maksud memaksa Soo Rin untuk menatapnya.

Namun yang ada, Ki Bum justru dibuat terkejut berkat ulah Soo Rin yang sangat tiba-tiba. Gadis itu menubruknya dan langsung memeluknya dengan erat. Butuh waktu beberapa detik baginya untuk mencerna dengan baik bahwa Park Soo Rin benar-benar tengah memeluknya sebelum ia menurunkan pandangannya, melihatnya secara nyata.

Hanya saja reaksi itu membuat Soo Rin mengira bahwa Kim Ki Bum tidak suka dengan tindakannya. Maka dari itu dengan kaku Soo Rin melepas diri, menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah karena menahan tangis.

Bahkan Kim Ki Bum tidak mau membalas perlakuannya seperti yang dilakukan oleh gadis tadi.

“M-maaf… aku… sudah berbuat lancang…” Soo Rin menyeret kaki-kakinya untuk mundur. “I-itu, aku melakukannya secara spontan… terjadi begitu saja. J-jadi, maaf jika itu sudah membuatmu merasa tidak—”

Jantungnya serasa ingin lepas dari tempatnya, begitu merasakan tarikan tiba-tiba di lengannya dan tubuhnya menubruk tubuh tegap itu. Dadanya bergemuruh ketika merasakan ada sesuatu yang melingkar di punggungnya, sudah dipastikan apa itu setelah otaknya dipaksa mencerna apa yang baru saja terjadi.

Kim Ki Bum memeluknya.

Kim Ki Bum memeluknya!

Soo Rin menjeritkan kalimat itu beberapa kali di dalam hati. Jantungnya berdegup kencang disusul rasa hangat yang memusat di wajahnya. Rasanya sungguh tidak terkira. Sulit untuk dipercaya bahwa ia berada di pelukan seorang Kim Ki Bum. Si pria diktator yang bahkan Soo Rin lupa kapan terakhir kali dia melakukan ini padanya!

“Jika kau merasa lelah, katakan. Agar aku mengerti bahwa kau memang membutuhkannya.”

Eh?

Soo Rin mencoba mendongak, dan langsung bersirobok dengan mata tajam Kim Ki Bum. Bukannya menghindar, Soo Rin justru terpaku dalam pusaran iris hitam itu hingga ia merasakan sentuhan halus di wajahnya. Jemari itu bergerak menuju sudut matanya, mengusapnya yang ternyata menghapus bulir kecil di sana.

Ada apa dengan Kim Ki Bum?

“Kau tidak mengerti karena aku memang sulit untuk dimengerti. Jadi, katakan jika kau merasa lelah, Park Soo Rin.”

Kenapa…

Kenapa Kim Ki Bum berkata demikian?

Apa maksud dari ucapannya barusan?

Kenapa Soo Rin merasakan jantungnya semakin tidak karuan berdetak di dalam dadanya? Bukan, bukan karena ia merasa tersanjung. Melainkan, ada perasaan aneh menyusup ke dalam benaknya, dan itu membuatnya menjadi tidak tenang.

Tapi Ki Bum justru menyudahi pelukannya dan kembali menatap datar Soo Rin. Yang saat itu baru Soo Rin sadari bahwa pria itu sempat menatap hangat dirinya.

“Hari Minggu, datang ke apartemenku. Pukul sepuluh pagi.”

Soo Rin mengerjap cepat. Mulutnya terbuka hendak bertanya kenapa, tetapi Ki Bum sudah lebih dulu bersuara lagi.

“Aku ada kelas sebentar lagi. Kita bertemu lagi di kantin setelah kelas pertamamu berakhir.”

Soo Rin hanya bisa mematung. Merasakan tangan besar itu menepuk lembut puncak kepalanya sebelum berbalik dan pergi. Meninggalkannya yang mulai dirundung banyak tanda tanya.

Mengenai segala tindakan pria itu yang tidak biasa. Juga undangan tak diketahui apa tujuannya.

Jadi, Kim Ki Bum menyuruhnya kemari hanya untuk mengatakan hal itu?

Tidak ada niatan untuk menjelaskan siapa gadis yang baru saja ditemuinya?

****

“Kau masih bertanya untuk apa?”

Soo Rin meringis pelan mendengar pertanyaan menyindir dari Kyu Hyun. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal di kala temannya itu berdecak jengah setelah mendengar ceritanya.

“Soo Rin-ah, bagaimana pun Ki Bum Sunbae adalah seorang pria normal. Menurutmu apa yang dilakukan seorang pria jika sudah mengundang kekasihnya untuk datang ke apartemennya, hm?”

Langsung saja Kyu Hyun mendapat jitakan keras dari Soo Rin. Gadis itu tampak memerah di bagian wajah.

“Mana mungkin Kim Ki Bum memiliki pikiran sekotor itu? Dia bahkan tidak pernah menyentuhku!”

Aih… lalu kau sebut apa pelukan tadi pagi jika itu bukanlah sebuah sentuhan, huh?” dumal Kyu Hyun sambil mengusap-usap keningnya, korban jitakan Soo Rin.

Wajah Soo Rin semakin memerah. Dia memang sudah menceritakan kejadian yang baru dialaminya tadi pagi pada teman dekatnya itu. “Y-yah… maksudku, menyentuh dalam arti lebih…” ia memain-mainkan jemarinya, mulai salah tingkah. “Dia saja belum pernah menciumku….”

“APA? BELUM PERNAH?! PRIA MACAM APA DIA SAMPAI BELUM PERNAH MENCI—hmph!!”

Soo Rin terpaksa bangun dari duduk demi membekap mulut besar Kyu Hyun. Dia harus menahan malu karena banyak penghuni kantin yang sudah menjatuhkan tatapan ingin tahu ke arah mereka berkat teriakan spontan Kyu Hyun.

“Kecilkan suaramu, Cho Kyu Hyun! Jangan membuatku malu!!”

Kyu Hyun hanya memamerkan cengiran lebar setelah Soo Rin melepas bekapan tangannya. Beberapa saat sebelum ia kembali memasang raut seriusnya.

“Tapi sungguh aku terkejut dengan pengakuanmu. Bagaimana bisa setelah setengah tahun kalian menjalin hubungan, Ki Bum Sunbae belum pernah sekalipun… sekadar…” suara Kyu Hyun semakin mengecil dan memilih bertanya dengan gerakan tangan, menyentuh keningnya sendiri.

Sedangkan Soo Rin dengan wajah merona malu terpaksa membenarkan dengan gelengan lesu. “Jangankan itu, menggenggam tanganku saja sangat jarang,” ucapnya sembari mengacungkan tangan.

“Ya ampun. Sebenarnya hubungan macam apa yang sedang kau jalankan dengan senior itu, huh?” Kyu Hyun menggeleng heran. Tidak habis pikir. “Jangan-jangan dia tidak mau menyentuhmu karena kebiasaan jelekmu yang selalu membuatnya marah.”

Yaa! Aku juga berusaha untuk menghilangkan kebiasaan itu! Tapi… tapi…”

“Tapi kau terlalu ceroboh untuk memerbaikinya, Park Soo Rin. Ayolah, setengah tahun kalian menjalin hubungan, selama itu pula Ki Bum Sunbae menegurmu dengan topik alasan yang sama, apa kau pikir dia tidak akan jengah?”

Soo Rin menunduk lesu, membenarkan ucapan Kyu Hyun di dalam hati. Sedangkan temannya itu dengan santai menyeruput minumannya.

“Dengar, kau beruntung memiliki Ki Bum Sunbae yang bisa bertahan menghadapi kebiasaanmu itu. Aku mulai berpikir bahwa marahnya Ki Bum Sunbae selama ini adalah hal yang wajar. Hanya saja karena kau terlalu cengeng, kau menganggap kekasihmu itu terlalu kejam padamu.”

“Aku tidak cengeng!”

“Kau selalu mengadu padaku bahwa kau habis menangis gara-gara Ki Bum Sunbae, jika kau lupa itu.”

Soo Rin cemberut mendengar cibiran Kyu Hyun. “Jadi kau juga ikut menyalahkanku, begitu?”

“Bukan begitu,” desah Kyu Hyun menyesal. “Coba kau pikirkan, Soo Rin-ah, sekejam apapun dia di matamu, sebenarnya niatnya adalah ingin membuatmu berubah menjadi gadis mandiri. Dia selalu marah akan kesalahanmu yang selalu sama karena dia ingin kau memerbaikinya. Aku merasa bahwa Ki Bum Sunbae adalah pria yang sangat baik, hanya saja kebaikannya tertutupi dengan caranya yang keras dan akhirnya kau salah paham seperti sekarang.”

“Tapi…” Soo Rin menghela napas panjang, raut wajahnya berubah sedih.

“Jika kau ingin melihat seorang Kim Ki Bum bersikap layaknya kekasih baik hati, mulailah dari dirimu sendiri. Salah satu hal yang bisa membuat Ki Bum Sunbae senang adalah melihatmu datang tepat waktu setiap dia memintamu untuk datang menemuinya. Jadi mulailah untuk tidak bangun terlambat di pagi hari atau datang lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan.”

“Kau benar…”

Kyu Hyun tersenyum mendengar jawaban Soo Rin. Well, setidaknya ia merasa tidak sia-sia membuat Soo Rin mau merenungkan kesalahannya.

“Jadi…” Soo Rin mengangkat pandangannya, menatap Kyu Hyun, menghela napas panjang, “untuk apa Kim Ki Bum mengundangku datang ke apartemennya di hari Minggu nanti?”

“Aku rasa, ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan padamu. Atau, dia ingin menghabiskan waktu liburnya bersamamu,” Kyu Hyun tersenyum nakal, “di dalam kamarnya,” lanjutnya seraya menaik-turunkan kedua alisnya.

“Aku serius, Cho Kyu Hyun!!” Soo Rin meledak lagi, menjatuhkan jitakan di kepala temannya itu keras-keras.

Aih…” lagi-lagi Kyu Hyun hanya bisa meringis mengusap kepalanya, “Tentu saja dia ingin melihatmu datang tepat waktu! Siapa tahu kau bangun lebih siang lagi di hari libur dan dia tidak mau hal itu terjadi. Karena itu jangan menjadi gadis pemalas!” sungutnya. Lalu ia tampak berpikir, “Ah, atau mungkin saja ada hal spesial yang ingin dia rayakan bersamamu di hari Minggu nanti.”

Soo Rin mulai berpikir. Hal spesial?

Hal spesial…

Tunggu…

Tunggu dulu!

Buru-buru Soo Rin mengambil ponsel pintar dari tasnya, membuka fitur kalender. Hanya butuh hitungan detik untuk menyadari hari apa yang ternyata sudah ia beri tanda di dalam kalendernya.

“Astaga…”

Kyu Hyun penasaran dibuatnya. “Ada apa?”

“Ulang tahun…”

“Hah?”

“Ulang tahun…” Soo Rin menatap Kyu Hyun. “Kim Ki Bum berulang tahun di hari Minggu nanti…”

“APA?!”

Kyu Hyun kembali mengundang perhatian banyak orang. Namun untuk kali ini, baik Soo Rin maupun dirinya sendiri sudah tidak memedulikan itu.

“Kyu Hyun-ah… aku harus melakukan apa?”

“Kau bertanya harus melakukan apa? Tentu saja berikan hadiah untuknya!”

“Aku tahu, t-tapi…” Soo Rin menggigit bibir bawahnya, mulai menunjukkan kecemasannya. “Aku tidak tahu harus memberikan hadiah apa…”

“Oh, ya ampun…” Kyu Hyun hanya mampu menepuk keras dahinya sendiri.

****

Hingga malam menjelang, Soo Rin masih belum menemukan solusinya. Dia sampai harus mengguling-gulingkan tubuh di atas tempat tidurnya. Hanya hitungan hari sebelum hari yang ditentukan tiba, tetapi Soo Rin baru menyadarinya tadi pagi dan belum memikirkan hadiah apa yang harus dia berikan!

Ini akan menjadi kali pertama bagi Soo Rin merayakan hari ulang tahun Kim Ki Bum dalam status sebagai kekasihnya. Tentu saja Soo Rin harus memberikan kejutan terbaik untuk Kim Ki Bum! Apalagi pria itu sudah rela mengundangnya untuk datang ke apartemen di mana dia tinggal. Mengingat baru sekali Soo Rin mampir ke sana dan hanya sekadar lewat.

Jadi, hadiah apa yang harus ia berikan kepada Kim Ki Bum?

Aah…

Kue cokelat? Seperti di Hari Valentine kala itu?

Boleh juga. Tapi apakah hanya kue cokelat? Setidaknya berikan sesuatu yang bisa membuat Kim Ki Bum berkesan!

Tunggu dulu!

Soo Rin bangkit dari tempat tidur, membuka laci meja rias lalu mencari-cari. Hingga ia menemukannya, senyumnya mengembang begitu membuka sebuah kotak kecil sederhana yang sudah di tangan.

Ya, Soo Rin akan memberikan ini untuk Kim Ki Bum!

****

Dan Soo Rin memang mulai memerbaiki diri. Belajar bangun pagi dengan mengurangi kebiasaan membaca novel di malam hari. Memilih untuk mendengarkan musik ballad sebagai teman tidurnya hingga ia berhasil memejamkan mata.

Hingga hari yang ditunggu pun tiba. Soo Rin kali ini bangun di waktu subuh demi membuatkan kue cokelat andalannya. Niatnya yang begitu besar ternyata berujung cukup baik karena ia mendapatkan kue cokelat dengan bentuk lumayan.

Yah, sebenarnya Soo Rin baru menguasai satu macam masakan itu. Tapi setidaknya ibunya mengatakan bahwa kue cokelat buatannya sudah layak dikatakan enak. Kim Ki Bum saja mau memakannya di Hari Valentine lalu.

Dan Soo Rin sudah berdiri di depan pintu apartemen Kim Ki Bum sebelum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dengan dress selutut yang mendukung penampilannya, polesan tipis di wajahnya yang semakin membuatnya terlihat manis, tidak lupa dengan bingkisan kue cokelat buatannya yang sudah ia kemas dengan rapi.

wp-1471522880018.png

Tinggal mengontrol detak jantungnya yang mulai tidak karuan semenjak menginjakkan kaki di lantai gedung ini. Beberapa kali dirinya harus menarik napas dalam dan ia harus melewatkan 5 menit lamanya sebelum akhirnya memberanikan diri menekan tombol bel pintu apartemen Kim Ki Bum.

Menunggu respon dari dalam dengan detakan jantung yang semakin menjadi-jadi.

“Siapa?”

Namun detakan itu berubah haluan begitu mendengar jawaban dari dalam.

Soo Rin memang tidak salah mendengar bahwa suara itu bukanlah milik Kim Ki Bum. Itu adalah suara seorang gadis yang seketika membuat rasa menggebu-gebu di dalam benak Soo Rin lenyap.

Seingat Soo Rin, Kim Ki Bum tinggal seorang diri di apartemen ini. Pria itu pernah berkata bahwa ia memisahkan diri dari keluarganya yang tinggal di luar kota. Hanya sebatas itu. Soo Rin tidak mendapatkan info lain mengenai latar belakang Kim Ki Bum yang tinggal sendiri di sini.

Lalu… siapa gadis yang baru saja menyapanya melalui intercom?

Mungkin karena Soo Rin tidak kunjung menjawab, pintu di hadapannya terbuka dan menampakkan sosok yang membuat napasnya tercekat.

Bukankah… bukankah dia gadis yang pernah Soo Rin lihat di tempo lalu?

Gadis yang pernah bertemu Kim Ki Bum, yang pernah membuat Kim Ki Bum tersenyum bahkan mau membalas pelukannya.

Gadis itu!

“Maaf, kau siapa?” gadis itu bertanya lagi. Suaranya yang lembut terdengar ramah di telinga Soo Rin.

Namun sekaligus membuat benak Soo Rin teriris hingga terasa perih di dalam sana.

“A-aku Park Soo Rin… ingin memberikan ini… untuk Kim Ki Bum…”

“Park Soo Rin?” gadis itu tampak berpikir, lalu raut wajahnya berubah ceria. “Aah, masuklah! Kau pasti yang diundang oleh Ki Bum Oppa! Ayo, masuk!”

Bahkan gadis itu memanggil Kim Ki Bum dengan sebutan Oppa…

“T-tidak perlu…”

“Eh?” gadis yang sudah melebarkan pintu itu harus melongo bingung.

“A-aku hanya ingin memberikan ini.” Soo Rin menyerahkan bingkisan tersebut pada si gadis. “Maaf karena sudah mengganggu acara kalian. A-aku… aku pulang…”

Tepat ketika dia berbalik, air mata yang sedari tadi ditahannya mengalir begitu saja. Memicunya untuk berlari menjauh tanpa memedulikan panggilan gadis itu di belakang. Tubuhnya merosot begitu saja setelah berhasil masuk ke dalam lift. Melepas rasa sesak yang terus bermunculan semenjak menemukan kenyataan pahit.

Jadi, ini tujuan Kim Ki Bum mengundangnya? Menunjukkan padanya bahwa pria itu sudah memiliki pengganti dirinya? Pantas saja pria itu sering mengatakan bahwa dia lelah menegurnya, bahkan berani menemui gadis lain di belakangnya seperti yang pernah dia lihat saat itu. Ternyata dugaannya yang sempat dianggap hanya angin lalu adalah benar adanya.

Bahwa Kim Ki Bum sudah bosan padanya.

“Kau tidak mengerti karena aku memang sulit untuk dimengerti. Jadi, katakan jika kau merasa lelah, Park Soo Rin.”

Kini Soo Rin mengerti apa maksud dari ucapan Kim Ki Bum. Pria itu pasti sudah lelah menghadapinya, maka dari itu dia mengatakan hal demikian agar Soo Rin juga mengatakannya.

Kalau begitu, Soo Rin juga lelah dengan semua ini.

Ting!

Pintu lift terbuka, Soo Rin dengan segera menghapus air mata yang sedari tadi mengalir sembari berdiri untuk keluar dari sana. Namun tidak disangka olehnya, pria itu muncul dari pintu tangga darurat tak jauh dari tempatnya berdiri. Napasnya tersengal-sengal membuat Soo Rin tidak habis pikir.

Apa Kim Ki Bum menuruni tangga darurat dari lantai sepuluh hingga kemari? Tapi untuk apa?

Bukannya menghindar, Soo Rin justru terpaku hingga pria itu berhasil meraih tangannya, menatap tajam dirinya masih dengan napas memburu.

“Kenapa kau turun?”

Dia tanya kenapa? Soo Rin bertanya pilu di dalam hati. Langsung saja ia melepas pegangan pria itu dari tangannya.

“Aku sudah mengerti. Maka dari itu aku turun. Aku akan pulang.”

“Kau bercanda?” Ki Bum menarik tangan Soo Rin melihat gadis itu hendak melangkah. “Aku justru tidak mengerti dengan ucapanmu. Bukankah aku menyuruhmu untuk datang kemari? Bukan hanya memberikan bingkisan lalu pulang, Park Soo Rin!”

“Kau tidak mengerti? Dengan otak jeniusmu itu, mana ucapanku yang tidak kau mengerti? Atau kau hanya berpura-pura supaya aku terlihat semakin bodoh di matamu?!”

Ki Bum diam-diam terpana dengan cara bicara Soo Rin yang mulai meninggi.

“Aku mengerti, Kim Ki Bum. Aku sudah mengerti! Kau yang sudah bosan padaku dan kau yang sudah lelah menghadapiku, aku sudah mengerti! Aku memang tidak bisa mengerti dirimu karena kau memang sulit untuk bisa aku pahami! Aku mengerti betapa kau tidak menyukaiku sehingga kau memperlakukan seperti orang bodoh selama ini! Aku benar-benar sudah mengerti!”

“Park Soo Rin—”

“AKU JUGA LELAH, KIM KI BUM!”

Soo Rin berhasil membuat Ki Bum bungkam. Air matanya kembali mengaliri kedua pipinya yang memerah. Untuk kali ini dia terang-terangan menangis di depan pria itu.

“Aku lelah dengan segala amarahmu. Aku lelah dengan segala ucapan pedasmu yang selalu menyudutkanku. Aku lelah dengan segala perintahmu. Aku lelah dengan segala tekananmu. Aku lelah dengan kediktatoranmu! Kau selalu membuatku harus menuruti segala kemauanmu. Memperlakukanku seperti bocah ingusan yang tidak mengerti apa-apa. Kau selalu menganggapku seperti orang bodoh! Selama ini aku berusaha untuk memahami sikapmu yang mereka bilang bahwa itu caramu memerhatikanku tetapi apa?! Semakin hari kau seperti memandangku sebelah mata! Aku juga lelah dengan segala perlakuanmu kepadaku!!”

Tangisannya tidak terbendung lagi. Mengutarakan segala emosi batinnya ternyata menguras derai air mata. Soo Rin sudah tidak peduli di mana dirinya berada, bahkan tidak peduli dengan reaksi Kim Ki Bum yang sungguh tidak ingin dia lihat.

“Jika kau tidak serius padaku, hanya berpura-pura menyukaiku, kau berhasil, Kim Ki Bum. Dan sekarang, aku sudah tidak bisa menahannya lagi, aku lelah dengan semua permainanmu.”

“Jadi kau ingin berhenti?”

Soo Rin terhenyak mendapat respon dari Ki Bum. Hatinya serasa diiris untuk yang kesekian kali karena mendengar suara berat itu begitu tenang meladeninya. Sudah bisa ditebak bagaimana isi hati pria itu saat ini, bukan?

“Ya… aku ingin berhenti.”

Detik itu juga, cekalan tangan Ki Bum terlepas. Menyisakan kekosongan seketika di dalam benak Soo Rin seolah ia baru saja kehilangan penyangga. Dan batinnya mencelos begitu suara itu mengalun kembali.

“Kalau begitu aku melepaskanmu.”

Mengepalkan tangan, Soo Rin memutar tubuhnya lalu berlari. Keluar dari gedung itu, meninggalkan pria yang berdiri mematung di belakang. Menatap punggungnya tanpa ada niat untuk mengejarnya.

Tidak ada lagi sosok yang akan menegurnya. Tidak ada lagi sosok yang selalu menatapnya penuh intimidasi. Tidak ada lagi sosok yang akan terus menekannya. Tidak akan ada lagi seorang Kim Ki Bum yang mengekangnya.

Seharusnya Soo Rin mendapat kelegaan yang selama ini didambakan, tetapi kenapa dia justru mendapatkan kehampaan dan rasa sesak yang semakin mendera?

Dan Soo Rin hanya bisa menangis menyesali tiap langkahnya yang semakin jauh meninggalkan Kim Ki Bum.

.

.

I’d been holding on to you for so long, but now I must let go. There’s nothing I can do for you. It’s the only way to make you happy. So I let go, let go, let go… So you can smile someday, so you can be happy. – 놓아 놓아 놓아

.

.


heu~ sad ending

.

.

.

.

maunya sad ending atau gantung? LOLs

iya ini belum berakhir kok.. masih ada drama berikutnya yang lebih alay lagi sedihnya, jadi ditunggu aja ya /GA 😂😂😂

karena ini sebuah project kecil-kecilan… aku berencana posting beruntun dari Jumat-Sabtu-Minggu. Jadi, doakan saja supaya lancar sampe D-Day ya^^ hehehe

so see u tomorrow! 🙌🙌🙌

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

25 thoughts on “[The Day] We Felt The Distance

  1. Mending sad ending aja sekalian dari pada gantung..
    tapi aku lebih suka happy ending..
    soalnya kalo sad pasti minta sequel..
    kalo happy kan enggak..
    hehehehe

  2. Itu ade’a kibumie kali tuh diapartement’a kibum soorin salah sangka tuh..hhhh malah putus nyesek’a pol-polan ihk,hayooo loh bisa nggk besok ngepost lanjutan’a ? Semoga bisa yh lancarlah nulis’a q bantuin doa dari sini kkk

  3. Huhu rekomendasi back songnya bikin makin sedih, coba soorin dengerin kata kibum buat masuk dulu ke apartementnya, mungkin kejadiannya ga begini, aaa masa kibum melepas soorin gitu aja 😂
    Jadi penasaran kan sama perasaan kibum sebenernya… ditunggu kelanjutannya ka~ semangat!^^

  4. Wowww makin seru aja
    Kayaknya engga afdol deh thor kalo kibum-soorin sad ending
    Engga sabar buat nunggu besok besooook
    Ditunggu happy endingnya author kece 😁

  5. Kok nya di covernya si Kibum galo setelah ngelepasin si soorin? Huhuuuu dimana perginya kibumku yang manis dan romantis? Tau nggak eon, ku kira 21 Agustus itu Sabtu loh 😂😂

  6. hueeee.. i’m so sad 😭
    tapi kalo disuruh milih pengennya happy ending. 😸kekeke
    yah kalo menurutku sad ending gpp dari pada gantung kak,gak enak loh digantung #bhaks 😂😂

    keep spirit my twin name 😚😳 aku padamuuu 😻💕💕

    aku menunggu aku menunggu kami menunggu #ala”spongbob 😁

  7. aq g mw sad ending ataupun gntung…
    aq mw happy ending…hu..hu..hu..😢😢😢
    kibum sich dingin bgt..
    maen lepas ja…
    soorin jg ambil kptusan sndri tnpa dgrin pnjlasan kibum…
    jd sdih aq…😢😢😢
    next dtnggu sist 😉

  8. aduh aduh kenapa jadi kaya gini hubungan mereka sih. gemes bgt sama ki bum yang pasrah dengan keputusan soo rin. kan kesannya jd yg dipikirkan soo rin bener. ki bum cepet ajak soo rin bicara baik2 nanti soo rin bener2 pergi lho

  9. Hua I’am cry I’am cry
    Huhhuh T-T
    Kejam amat eon udah lama fakum sekali nulis bikin nyesek

    Aku tuh gak kuat diginiiin huaaa bang toyibbbbbbbb 😦 T T

    Semoga happy end eon oke okelah oke :v#gaje

  10. Endingnya kenapa giniiiii ????????!!!!!!!!!!
    Ugh benciii
    Ingin di terusin
    Kenapa jadi gini kisukisu nya huhu .. Ki Bum gilaa!!!

  11. Jdi menjelang ultah Kibum Siska muat ff ini berturut2 kyaaaaa…
    Duh Soo rin salah paham deh
    mungkin aja itu adeknya Kibum
    dan mau dengerin dulu penjelasan Kibum
    Kibum jga salah dlm hal ini

  12. Eon aku gak suka kalo sad ending jadi ini gantung dulu ajah yahh😂 hikshiks nyesekk juga siih jadi park soorin😢 huuuaa pen nangis juga jadinya😭 ditunggu lagi lanjutannya eon fighting🙌🙌🙌

  13. yaaaaah… kenapa jadi gini????!!!! 😱😢😢
    Soorin salah paham kali, mungkin itu sodaranya Kibum atau adiknya mungkin.

    ditunggu lanjutannya… fighting!!

  14. huaaaa akhirnya soo rin berhasil mengeluarkan unek2nya untuk ki bum

    tapi soo rin harusnya kamu tanya dulu siapa tuh cewe, kalo menurut aku sih itu adiknya kim ki bum wkwk

    happy ending please

  15. seperti bom “duar”, akhirnya semua uneg-uneg Soorin keluar juga. well masalah semakin rumit, ngerti sih kenapa Soorin langsung curiga dan berpikir yang enggak-enggak, Kim Kibumnya sih bersikap dingin seperti itu. semoga berakhir happy end, kasihan Soorin dibuat nangis dan sakit lahir batin 😦

  16. kalo boleh jujur, pasangan ini kurang internalisasi(?) ._.
    maksudnya semacam jalan bareng, belajar bareng, makan bareng gitu biar makin deket dan ga canggung buat ngomongin keluhan satusamalain /dududu/
    ini mah aku mulai bisa liat ngeselinnya kim kibum ehwhwhwh xD
    yakali dia yang terlalu dingin tuh bikin Soorin takut /jelas/ gimana mau deket2 kalo ngobrol aja kayak atasan sama bawahan gitu ._. /baju kali/
    hihihiii nice lah nyeseknya. Aku udah baca kemarin2 si, tapi baru review sekarang maafin yaaa T3T

  17. Ngena bngt pas bagian sorin nangis huwaaaa sedihh

    salah kibum jga sh gk pernah crita sama sorin jdi kn slh paham sorinnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s