Posted in Campus Life, Chaptered, Fluff, Friendship, PG, Romance, Special Fanfics, Special [The Day]

[The Day] A Sadistic Boyfriend

wp-1471367168480.jpeg

Campus Life, Friendship, Fluff, Romance

|PG|

“Sebenarnya, dia menganggapku sebagai kekasihnya atau tidak, sih?”

H A P P Y ย  R E A D I N G

.


ELVABARIยฉ2016

.

SAAT itu, seorang gadis menyerahkan sesuatu yang sedari tadi dibawanya, dengan gemetar karena gugup, sebagai semacam buah tangan untuk pria yang berdiri di hadapannya kini.

“A-aku harap, kau menyukainya…” gadis itu bersuara teramat pelan. Kepalanya menunduk tidak berani melihat rupa wajah yang sebenarnya begitu tampan. Jantungnya sudah berdegup kencang tidak karuan disertai rona kemerahan di kedua pipinya.

“Aku akan menerimanya.”

Suara berat itu menyentakkan si gadis. Terdengar menggantung, maka dari itu ia menunggu.

“Asalkan kau mau mengikuti kemauanku.”

Mendongak pelan, sang gadis mencoba menatap pria tampan itu dengan kegugupan yang semakin menjadi.

“Park Soo Rin.”

“Y-ya?”

“Jadilah kekasihku.”

****

Soo Rin berlari-lari di sepanjang koridor gedung fakultas tempat ia belajar saat ini. Beberapa kali memeriksa jam tangan yang tersemat manis di pergelangan kanannya. Menambah intensitas kepanikan yang tampak di wajahnya sekaligus mempercepat larinya dengan sisa tenaga yang ada.

Beberapa kali dia harus merutuk di dalam hati. Sudah bangun terlambat, ia harus diteror oleh deringan telepon dari si diktator yang begitu kejam dan membiarkannya berdesak-desakan di dalam bus. Bukannya menjemput atau apa, si diktator itu justru menekannya dengan ancaman tersirat bahwa ia akan mendapat hukuman karena sudah terlambat.

Dan kini, Soo Rin dengan napas memburu berkat usahanya mengejar waktu, harus berdiri mematung di ambang pintu kelas dan menjadi tontonan banyak mahasiswa di dalam. Ditambah, si diktator yang kini berdiri di depan kelas juga menatapnya bahkan dengan tatapan garang khasnya.

“Kau terlambat, Nona Park,” si diktator itu bersuara yang sukses membuat Soo Rin meneguk saliva.

J-jwaeseonghamnida…

“Kalau begitu tunggulah di luar sampai kelas ini berakhir.”

Jantung Soo Rin serasa merosot jatuh. Setelah usahanya mengejar waktu supaya bisa mengikuti kelas, inikah imbalan yang dia dapat? Tidak diizinkan masuk dan mengikuti sisa waktu yang ada?

Apalagi, orang yang mengusirnya adalah si diktator yang dikenal teman-temannya. Ini memalukan sekaligus menyedihkan. Tapi, bagaimana pun, Soo Rin tidak bisa berbuat seenaknya dengan memanfaatkan kesempatan yang ada, bukan?

“Jangan membuang waktu, Nona Park. Teman-temanmu akan belajar sia-sia jika kau masih berdiri di sana.”

Datar, tetapi telak sekali menusuk ke benak Soo Rin. Maka dari itu dengan kaku Soo Rin menyeret mundur kaki-kakinya. Tidak berani melawan dan memilih untuk mengikuti perintah si diktator, menutup pintu kelas kemudian meluruhkan tubuh di dekatnya serta memeluk lutut. Melepas rasa lelahnya di sana dengan ringisan pelan.

Begitulah perlakuan yang dia dapat. Hampir tidak pernah mendapatkan yang namanya perilaku manis dari si diktator yang menyandang status sebagai kekasihnya. Yah, Soo Rin mengerti bahwa ini menyangkut soal profesionalitas. Tapi apa wajar jika pria itu bertindak seperti mempermalukannya di depan teman-temannya seperti tadi?

Oh, jika ada yang berpikiran bahwa Soo Rin menjalin hubungan dengan seorang dosen, tebakan itu meleset. Kim Ki Bum si diktator itu masih seorang mahasiswa yang satu tahun di atas angkatan Soo Rin. Namun karena kejeniusannya yang selalu membuat kagum banyak dosen, pria itu diangkat menjadi asisten Dosen Choi Si Won dan beberapa kali mengajar menggantikan si dosen yang terlalu sibuk itu di kelas Soo Rin.

Seperti sekarang ini.

Padahal, Dosen Choi bukanlah pengajar yang keras sampai mengusir mahasiswanya yang terlambat seperti ini. Tapi si Diktator Kim itu bahkan tega melakukan lebih dari itu sampai-sampai banyak mahasiswa seangkatan Soo Rin yang menjadi segan terhadap pria itu.

Ugh, kenapa aku bisa berakhir dengannya?”

Jika boleh jujur, Soo Rin memang sedikit menyesal karena sudah menerima persyaratan pria itu hanya agar kue cokelat buatannya diterima di waktu Hari Valentine beberapa bulan lalu. Salahkan Soo Rin yang kala itu terlalu mengagumi seorang Kim Ki Bum dan rela melakukan banyak hal agar bisa dekat sekaligus berbicara pada pria yang konon katanya sulit ditaklukkan para wanita itu. Dan dengan bodohnya karena sudah dibutakan oleh perasaan sendiri, menerima begitu saja tawaran pria itu yang ingin dirinya menjadi kekasihnya!

Oh, bagaimana bisa Soo Rin menyukai pria dingin yang ternyata memiliki sifat kejam seperti Kim Ki Bum? Soo Rin kira dengan dirinya menjadi kekasih Kim Ki Bum, dia akan mengetahui sisi manis pria itu yang sangat diidamkan oleh banyak teman-teman perempuannya. Tapi apa?

Soo Rin justru lebih banyak diperlakukan seperti murid bodoh oleh si asisten dosen yang angkuh itu!

.
.

Lama menunggu, pintu kelas itu akhirnya terbuka, menampakkan pria berparas datar yang keluar lebih dulu dan langsung menemukan Soo Rin yang berjongkok di dekatnya seperti bocah hilang. Mendongak menatap takut-takut dirinya.

“Ikut aku.”

Singkat, padat, dan jelas. Buru-buru Soo Rin berdiri dan mengekori Ki Bum di belakang. Sudah bisa ditebak ke mana pria itu akan membawanya pergi. Sudah tidak asing pula Soo Rin ditatap aneh oleh mahasiswa di fakultas ini tiap tengah menjadi ekor kekasihnya sendiri.

Kim Ki Bum memang memiliki ruangan seperti dosen berjabatan tinggi kebanyakan. Hanya saja dia disatukan oleh ruangan milik Dosen Choi dan hanya dipisahkan oleh sekat yang menjadikan ruang tersendiri untuknya. Maka sudah tidak kaget lagi bagi Soo Rin untuk bisa masuk ke dalam ruangan si dosen yang katanya disebut paling tampan oleh banyak mahasiswi.

Toh tujuannya masuk kemari bukan untuk menggeledah. Melainkan…

“Jadi, kenapa kau terlambat, Park Soo Rin?”

Ya, Soo Rin harus menghadapi interogasi serius dari Kim Ki Bum.

“A-aku terlambat bangun.”

“Aku bosan dengan alasan pasaranmu itu. Aku sudah berkali-kali meneleponmu tetapi ke mana telingamu itu? Apa kau tidur seperti orang mati suri, huh?”

Soo Rin meneguk saliva, menundukkan kepala. Lihat bagaimana cara bicara seorang Kim Ki Bum menegurnya. Pedas sekali, bukan? Ini bahkan baru kata pengantarnya.

“Aku… tidur lewat tengah malam. Kau tahu, bukan, aku memiliki sedikit sindromโ€””

“Sudah tahu memiliki insomnia tetapi kau justru memperparah dengan membaca novel-novel tebalmu itu. Apa kau tidak bisa berpikir?”

“A-aku melakukannya dengan maksud supaya aku cepat mengantuk…”

“Tabiat jelekmu jika sudah membaca bacaan picisan itu, kau lupa?”

Rasanya Soo Rin ingin menangis sebentar lagi.

“Kau lupa segalanya bahkan lupa waktu. Itu justru menjadi pemicu insomniamu semakin parah, Park Soo Rin. Apa kau tidak memikirkan hal semudah itu? Kau ini bodoh, ya?”

Menggigit bibir bawahnya diam-diam, Soo Rin hanya bisa memandang tangan-tangannya yang saling bertaut dengan pandangan mulai mengabur.

“Tidak mau membela dirimu sendiri, hm?”

“A-aku harus berkilah apa lagi?”

“Oh, baguslah jika kau sudah menyadari kesalahanmu.” Ki Bum yang sedari tadi bersandar pada mulut meja seraya bersedekap, mulai melangkah mendekati gadis yang menunduk ciut di hadapannya. “Aku lelah denganmu yang masih saja melakukan kesalahan sama. Aku harus melakukan apa lagi supaya kau mau memerbaiki kesalahanmu sendiri?”

Dan Soo Rin sudah menumpahkan air matanya. Dia memang sudah berkali-kali dipojokkan dan menjadi pihak yang selalu bersalah di mata kekasihnya sendiri. Tapi bagaimana dia bisa mengelak jika pada kenyataannya dia memang bersalah dan kekasihnya melakukan hal yang wajar dengan cara menegurnya meski dengan cara kasar seperti ini?

“Tegakkan kepalamu, Park Soo Rin.”

Soo Rin tersentak mendengar suara Ki Bum begitu dekat. Dia memang melihat dari sudut mata bahwa kaki-kaki itu menapak tak jauh di depannya kini. Bukannya menurut, Soo Rin justru semakin takut untuk mendongakkan kepala.

Maka selanjutnya yang dirasakan Soo Rin adalah tangan besar itu meraih dagunya, mengangkatnya hingga ia bisa melihat wajah pria itu menyorot raut datar andalannya.

“Tidak ada gunanya menangis. Kerjakan ini jika kau tidak mau mendapat nilai kosong.”

Lagi dan lagi, Soo Rin merasakan batinnya mencelos. Bagaimana bisa Kim Ki Bum melakukan hal ini padanya? Setelah membuatnya menangis, bukannya menghiburnya atau apa, justru memberikan tekanan baru. Tidak bisakah Soo Rin diberi waktu sejenak saja untuk bisa meredakan tangisnya?

“Aku beri waktu dua jam dari sekarang. Kerjakan di perpustakaan atau di sini langsung dengan pengawasanku. Kau tinggal pilih.”

Soo Rin menyambar kertas yang sedari tadi disodorkan Ki Bum padanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Soo Rin keluar dari ruangan itu dan pindah ke perpustakaan kampus yang letaknya membutuhkan waktu dua menit lamanya dari gedung ini dengan berjalan kaki.

Sengaja Soo Rin memilih perpustakaan karena dengan begitu Soo Rin bisa menangis sepuasnya meski harus tanpa suara mengingat kesunyian yang dijunjung tinggi di tempat sejenis itu. Menumpahkan rasa frustasinya di balik rak-rak yang menjulang tinggi sambil menyempatkan diri mencari-cari referensi untuk jawaban dari kuis open book yang dilaksanakan di kelas Kim Ki Bum pagi tadi.

Entah sudah yang keberapa kali Soo Rin menyesali nasibnya di pagi hari ini. Bagaimana dia berakhir dengan Kim Ki Bum. Bahkan setelah semua perbuatan kejam yang diterima Soo Rin, ia masih juga memertahankan hubungan ini hingga menginjak setengah tahun.

Bagaimana Soo Rin ingin mengakhirinya jika menghadapi Kim Ki Bum saja dia sudah berubah menjadi orang gagap?

Haah… memikirkan hal itu hanya membuang-buang waktu. Soo Rin bahkan sudah menghanguskan 30 menit pertama dengan meratapi nasib. Maka dari itu ia buru-buru mencari tempat kosong dan segera mengerjakan kuis dadakan dari Kim Ki Bum.

“Ya ampun, ini hanya lima soal, tetapi kenapa tiap soalnya rumit sekali?” desisnya setelah membaca tulisan tangan pada kertas tersebut.

Kim Ki Bum itu, tidak hanya kejam dalam mengajar namun juga kejam dalam memberi soal. Dia tahu bahwa itu adalah soal titipan dari Dosen Choi, tapi… Lihat saja, satu soal bisa menguras otak untuk menyusun kata demi kata hingga deretan paragraf yang bisa menghabiskan satu halaman penuh!

“Dasar jenius,” ini bukanlah pujian melainkan sindiran khas dari Soo Rin. Ya, saking jeniusnya Kim Ki Bum, dia mengira bahwa soal ini semudah memecahkan soal satu tambah satu.

“Dia pikir dia siapa? Hanya seorang asisten dosen saja sudah banyak berulah,” gerutunya lagi sambil membuka lembar demi lembar buku referensi yang berhasil dia dapat juga buku catatannya sendiri.

“Apa kau baru saja menyindir kekasihmu sendiri, Park Soo Rin?”

Sontak saja Soo Rin terpekik dan hampir melompat dari duduknya. Menarik perhatian beberapa pasang mata di sekitarnya yang lebih banyak memberi peringatan di mana dia berada saat ini. Tapi bukannya meminta maaf, orang yang baru saja mengejutkan Soo Rin justru menertawakannya dengan volume kecil.

“Astaga, Cho Kyu Hyun! Kau benar-benar!” marah Soo Rin tertahan. Melihat sosok pria yang kini menarik kursi dan duduk di sebelahnya.

“Salah sendiri. Siapa yang menyuruhmu datang terlambat dan mendapat semprotan lagi dari kekasihmu itu? Sudah tahu Ki Bum Sunbae orang yang kejam, kau justru dengan seenak hati melanggar peraturannya sendiri.” Kyu Hyun si pria berkulit pucat itu menyandarkan tubuhnya pada kursi, menyamankan diri sembari mengerling jahil pada Soo Rin.

“Aku sendiri tidak mengerti kenapa sering bangun terlambat jika ada kelas pagi,” gerutu Soo Rin sembari berkutat kembali pada tugasnya.

“Sudah berkali-kali kubilang, berhenti membaca novel di tengah malam!” Kyu Hyun menyentil bagian pelipis Soo Rin hingga empunya meringis. “Aku tidak habis pikir, apakah menghentikan kebiasaan itu sangat sulit, huh? Berkali-kali kau mendapat teguran dari Ki Bum Sunbae tapi tidak pernah kapok. Apa karena dia kekasihmu maka kau merasa itu bukan masalah?”

“Enak saja! Kau tidak tahu bagaimana menyeramkannya Kim Ki Bum tiap kali menegurku! Lihat ini! Aku disuruh mengerjakan soal ini hanya dalam waktu dua jam. Aku sudah kehabisan 45 menitnya, Cho Kyu Hyun! Jadi jangan ganggu aku!”

Kyu Hyun hanya berdecak melihat Soo Rin menunjuk-tunjuk kertas soal di tangannya sebelum kembali menekurinya dengan raut cemberutnya itu.

“Aku penasaran kenapa Ki Bum Sunbae bisa bertahan denganmu yang tidak bisa introspeksi diri. Aku yang sebagai temanmu saja mulai lelah memberi nasihat yang sama berkali-kali padamu.”

Soo Rin masih bisa mendengar dumalan teman seangkatannya itu. Memilih untuk meringis di dalam hati. Bagaimana bisa Kyu Hyun berkata hal yang sama dengan Kim Ki Bum di ruangan Dosen Choi tadi? Namun memang ada benarnya juga, kenapa Kim Ki Bum masih bertahan di saat Soo Rin masih saja melakukan kesalahan yang sama? Ini bukanlah masalah sepele. Seorang gadis yang sering bangun terlambat sudah dikatakan sebagai gadis pemalas di mata banyak pria.

Melihat temannya itu mulai fokus dengan tugasnya, Kyu Hyun mulai melirik. Raut wajahnya yang sok polos itu memerhatikan isi dari kertas soal tersebut. Lalu berdecak lagi.

“Kau tahu, Park Soo Rin? Sekejam apapun kekasihmu, dia masih berbaik hati menuliskan soal kuisnya sendiri hanya untukmu bahkan memberikan waktu dua jam untukmu. Kau tidak bisa membayangkan batapa stresnya aku yang mengerjakaan soal serumit itu hanya dalam kurun waktu satu jam saja di kelasnya tadi.”

Tangannya yang terus menari-narikan pena di atas kertas kini berhenti. Mencerna gumaman panjang Kyu Hyun yang masih direkam baik oleh indera pendengarannya.

Benar, ini tulisan tangan Kim Ki Bum. Jika dipikir-pikir, mana mungkin pria itu rela menulis tangan soal untuk junior-juniornya jika bukan dengan ketikan komputer atau didikte? Belum lagi waktu yang diberikan untuknya yang sebenarnya lebih dari cukup untuk mengerjakannya.

Tapi Soo Rin dengan tidak tahu dirinya membuang waktu yang diberikan dengan menyalahkan Kim Ki Bum terus menerus. Kekasih macam apa dia?

****

“Park Soo Rin?”

Terkesiap, Soo Rin menegakkan tubuhnya dan melihat seorang dosen berdiri di dekatnya. Segera saja ia merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja sebelum berdiri menghadap sang dosen.

“Apa tugasmu begitu berat sehingga memilihi tidur sejenak di sini, hm?”

Jwaeseonghamnida…” Soo Rin meringis malu.

Ya ampun, sudah bangun terlambat, masih saja tertidur di kampus. Setelah berhasil mengerjakan kuis dari Kim Ki Bum dan ditinggal Kyu Hyun, ia habiskan waktu yang tersisa dengan beristirahat sejenak. Tapi dia justru ketiduran dan, sudah pukul berapa ini?

“Hari ini kau ada kelasku, bukan? Segeralah ke kelas. Sepuluh menit lagi akan dimulai. Mengerti?” dosen bernama Lee Sung Min itu menepuk bahu Soo Rin beberapa kali sebelum berbalik setelah melihat gadis itu mengangguk sopan.

Langsung saja Soo Rin memeriksa jam tangannya, dan terperangah karena sudah lewat setengah jam dari waktu yang ditentukan. Dengan panik Soo Rin membereskan semuanya, mengembalikan buku-bukunya ke tempat semula lalu berlari keluar perpustakaan. Selama di perjalanan ia harus merutuki perbuatannya yang lagi dan lagi terlambat menemui Kim Ki Bum. Entah teguran apa lagi yang akan dia dapat.

Tunggu. Dia sudah melewatkan waktu yang ditentukan, itu berarti, bukankah Kim Ki Bum sudah menjalankan kelas kuliahnya? Bagaimana ini?!

“Aak!”

Baru saja berbelok ke koridor lain, sudah menabrak seseorang dan hampir terjatuh. Tinggal menunggu semburan amarah dari yang baru saja ditabraknya. Lalu lengkap sudah kesialannya di hari ini.

“Dasar bodoh.”

Suara berat itu menyadarkan bahwa Soo Rin masih berdiri, ditahan oleh lingkaran lengan di punggungnya hingga ia tidak jatuh berdebam. Sekarang, apakah dia harus berterima kasih pada pria yang memeluknya kini atau malah merasa tersinggung karena sudah dikatai bodoh?

“Kau terlambat empat puluh menit. Apa aku harus memberi nilai minus untukmu?”

“J-jangan!” Soo Rin melepas diri, memeriksa sejenak lembaran-lembaran kertas jawabannya di tangan sebelum menyerahkannya pada Ki Bum. “A-aku sudah mengerjakannya dengan baik! Ini! Aku minta maaf karena terlambat. A-aku… tidak sengaja ketiduran…” suaranya berubah mencicit kala mengatakan kalimat terakhir.

“Kau pikir aku akan menerima kertas lusuh itu?”

Menelan saliva kepayahan. Soo Rin harus merutuki perbuatannya yang tidak menjaga kertas jawabannya dengan baik. Tapi… “Aku mohon terimalah… a-aku sudah mengerjakan semuanya… tidak bisakah kau menerimanya meski sudah kusut? S-setidaknya ini masih bisa dibaca, bukan?”

Sungguh, rasanya Soo Rin ingin menangis lagi. Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa menghadapi kekasih sendiri sudah seperti menghadapi hakim keadilan. Ayolah, tidak adakah toleransi sedikit saja di dalam hati seorang Kim Ki Bum untuknya?

“Akan kupikirkan lagi.”

Kali ini Soo Rin tidak menyangka bahwa Kim Ki Bum menerima pekerjaannya. Ya, pria itu mengambil kertas jawabannya. Bisa dibayangkan betapa leganya Park Soo Rin?

“Terima kasih! A-aku akan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.”

“Sudah kesekian kalinya kau berkata begitu.”

Mau tidak mau, Soo Rin membenarkan ucapan pria itu dalam hati. Tapi belum selesai sampai di situ, Soo Rin kembali dibuat terpana ketika pria itu menyerahkan sesuatu.

“Lima menit masih bisa dimanfaatkan untuk mengisi perut. Kau sudah membuang waktu istirahatmu, jadi makanlah ini.”

Soo Rin mendongak memberanikan diri menatap Ki Bum. Pria itu masih dengan wajah datarnya menyerahkan satu bingkisan untuknya yang ternyata berisi beberapa bungkus roti juga botol minuman. Dengan rasa haru, Soo Rin menerimanya disertai senyum lega. Di saat ia masih mengagumi isi dari bingkisan tersebut, dirasakannya tepukan halus di puncak kepala.

“Aku sudah terlambat. Kau pergilah ke kelas selanjutnya,” lalu Ki Bum meninggalkannya.

Ada rasa hangat menyusup ke dalam benak Soo Rin. Setelah mendengar pamitan tidak langsung pria itu, Soo Rin menyadari bahwa Kim Ki Bum baru saja membolos kelas kuliahnya yang seharusnya dimulai setengah jam lalu. Tapi pria itu justru tidak sengaja menemuinya, bahkan memberikan makanan untuknya. Bolehkah Soo Rin menyimpulkan bahwa Kim Ki Bum menunggunya?

Sekarang, sudah tahu, bukan? Alasan mengapa Soo Rin masih bertahan.

Karena sekejam apapun Kim Ki Bum, pria itu masih menunjukkan sedikit perhatiannya pada Soo Rin. Dan sampai sekarang, Soo Rin masih berharap bahwa perhatian itu bisa berkembang jika dirinya memilih untuk mengikuti alur yang ada.

Terdengar konyol, memang.

****

Kelas terakhirnya di hari ini berakhir. Demi melepas rasa penat di otak, Soo Rin singgah ke kantin fakultasnya untuk membeli minuman dingin. Waktu menunjukkan pukul 2 siang, cuaca yang cerah membuat udara sedikit panas hari ini. Maka dari itu, Soo Rin memesan iced coffee kesukaannya.

Seharusnya dia bisa menikmati kesendiriannya saat ini. Tapi melihat sekitarannya yang begitu ramai membuat batinnya meringis karena tidak memiliki teman. Tahukah kenapa dia tidak memiliki teman perempuan?

Itu semua karena Kim Ki Bum.

Sejak menjadi kekasih pria jenius itu, banyak gadis di fakultas ini yang iri padanya. Bahkan ada beberapa yang berubah menjadi tidak suka padanya. Terutama mahasiswi satu angkatan dengan pria itu. Konon katanya, banyak yang mengagumi seorang Kim Ki Bum meski tahu bagaimana pribadinya yang begitu dingin. Apalagi semenjak pria itu diangkat menjadi asisten dosen, banyak yang semakin segan untuk mendekati. Tetapi sejak berita mengenai Park Soo Rin yang mendekati bahkan langsung menjadi kekasih Kim Ki Bum, banyak yang tidak rela. Apalagi setelah tahu bagaimana pribadi Soo Rin yang masih kekanakan dan sering terlambat.

Banyak yang mencibirnya karena sudah dianggap mempermalukan Kim Ki Bum yang menjunjung tinggi kedisiplinan. Dan mengatakan bahwa dirinya tidak pantas bersanding dengan Kim Ki Bum.

Itulah mengapa, Soo Rin hanya memiliki teman dekat seorang Cho Kyu Hyun yang memang memahami seperti apa pribadinya. Sedangkan teman-teman perempuannya, mereka hanya akan menghampiri Soo Rin jika ada maunya saja seperti tugas kelompok kuliah.

“Hei, kekasih Kim Ki Bum! Kau di sini rupanya!”

Oh, Soo Rin hampir lupa bahwa dia memiliki pengganggu kembar.

“Sendirian saja? Di mana selingkuhanmu itu? Siapa namanya, si marga Cho itu?”

“Namanya Cho Kyu Hyun dan dia hanya temanku, Hyuk Jae Sunbae! Berhenti membuat gosip yang tidak-tidak!” Soo Rin tidak habis pikir, kenapa Kim Ki Bum yang jenius itu bisa memiliki teman-teman absurd seperti Lee Hyuk Jae dan kembaran tak identiknya itu, Lee Dong Hae namanya.

Dua pria bermarga Lee itu selalu saja merecoki waktu tenang Soo Rin jika Kim Ki Bum sedang tidak ada di sekitarnya. Seperti sekarang ini, sudah duduk seenaknya di hadapannya, seenaknya pula berkata-kata seolah-olah mereka adalah kaki-tangan Kim Ki Bum!

Ow, kekasih Kim Ki Bum merasa tersinggung. Tenanglah, Park Soo Rin, kami hanya bercanda. Kami juga tahu bahwa kau hanya setia dengan Ki Bum kami,” ujar Dong Hae disertai senyum manisnya yang menawan. Jika saja dia bukan teman Kim Ki Bum dan teman sepermainan Lee Hyuk Jae, mungkin Soo Rin akan mengagumi pesonanya secara terang-terangan. Masa bodoh dengan statusnya sebagai kekasih pria jenius.

“Lebih tepatnya, tidak bisa kabur dari seorang Kim Ki Bum. Hahaha! Sungguh malang!” sambung Hyuk Jae dengan mulut besarnya itu.

Dan jika saja Soo Rin tidak ingat bahwa pria itu adalah seniornya, Soo Rin pasti sudah menjejalkan es dari minumannya supaya dia tersedak dan tidak bisa tertawa seperti itu. Benar-benar menyebalkan!

“Terus saja menyudutkanku. Tidak Kim Ki Bum, kalian juga sama saja!”

“Hentikan, Hyuk Jae-ya. Kasihan Park Soo Rin. Dia pasti sudah melewati banyak tekanan di hari ini.”

Aih, aku hanya bercanda. Kau terlalu dibawa serius, Nona Park. Sebenarnya kami datang untuk menghiburmu.”

“Menghibur dengan cara kalian sendiri. Aku tidak membutuhkannya. Sendiri lebih baik.”

“Jangan begitu. Ki Bum akan marah jika aku dan Dong Hae membiarkanmu sendiri.”

Soo Rin mengernyitkan dahi. Menatap tidak mengerti Hyuk Jae yang hanya menaik-turunkan alis.

“Ki Bum masih ada urusan. Kami harus memastikan bahwa kau belum pulang dan tidak ke mana-mana sebelum dia selesai.”

“Aku memang tidak diperbolehkan pulang,” gerutu Soo Rin pelan. Dia masih ingat begitu keluar dari kelas terakhir, Kim Ki Bum mengirim pesan agar dia tidak pulang lebih dahulu.

Sudah menjadi kebiasaan, secepat apapun Soo Rin menyelesaikan kuliah, dia tidak akan bisa pulang lebih awal karena pria itu menyuruhnya untuk menunggu. Bahkan pria itu menurunkan pesuruhnya agar Soo Rin tidak kabur. Seperti sekarang.

Tapi Soo Rin sudah lelah untuk kabur-kaburan. Tahu sendiri jika dia membantah perintah, akan seperti apa marahnya Kim Ki Bum. Ugh!

“Sebenarnya, dia menganggapku sebagai kekasihnya atau tidak, sih? Sejak dulu aku lebih banyak diberi perlakuan pahit daripada manis olehnya. Aku bahkan merasa seperti boneka yang harus terus menurut padanya. Memangnya, menjalin hubungan kasih itu seperti ini, ya?”

Diam. Baik Dong Hae maupun Hyuk Jae memilih untuk saling melempar pandang. Meski mereka tahu seperti apa hubungan Ki Bum dan Soo Rin, baru kali ini mereka mendengar langsung keluhan Soo Rin. Selama ini gadis itu memilih menjadi pribadi penurut meski dengan raut terpaksa. Tapi sekarang, gurat kelelahan itu tampak di wajah manisnya.

“Sebaik apapun aku menuruti perintahnya, aku masih saja terlihat salah di matanya. Sekeras apapun aku berusaha memerbaiki, dia masih saja terlihat tidak puas. Aku bahkan lebih banyak menangis daripada tersanjung karenanya. Hari ini saja aku sudah menangis banyak karena hukumannya. Tapi aku masih saja berharap bahwa dia mau mengerti soal diriku meski hanya sedikit.”

“Soo Rin-ah…” Dong Hae mencoba menginterupsi. Tapi sepertinya gadis itu tidak peduli.

“Apalagi, semua gadis di fakultas ini seperti memusuhiku karena aku menjadi kekasihnya. Tapi dia memperparah dengan membuatku malu karena sudah bertindak kekanakan. Aku tidak menginginkan dia sepenuhnya membelaku, tapi, tidak bisakah dia bersikap layaknya pria yang bisa menghibur kekasihnya? Sebenarnya, dia melihatku sebagai apa? Kekasihnya, atau anak kecil yang bodoh?”

“Lalu, kau menyesal sudah menjadi kekasih Kim Ki Bum?” tanya Hyuk Jae datar. Pria itu telah merubah mimik wajahnya menjadi serius.

Soo Rin tersenyum getir. “Ya. Sedikit…”

Ada reaksi terpana datang dari Dong Hae. Berbeda dengan Hyuk Jae yang menghela napas sebelum menegakkan tubuhnya.

“Itu berarti, kau pernah berpikir untuk mengakhiri hubungan kalian, bukan?”

“Hyuk Jae-ya!” Dong Hae menyikut lengan temannya itu, berusaha menghentikan pembicaraan yang mulai tidak benar ini.

“Ya…”

Tapi jawaban Soo Rin kembali mengejutkan Dong Hae. Apakah hubungan keduanya begitu buruk sampai-sampai Soo Rin berpikir seperti itu? Sekejam apa Kim Ki Bum sampai-sampai Soo Rin ingin mengakhiri hubungan itu?

“Tapi kalian tahu sendiri bahwa aku tidak bisa. Aku bahkan tidak bisa melawan Kim Ki Bum dalam sekadar adu bicara. Dia memiliki segalanya yang bisa dijadikan alasan agar aku tetap menurut padanya. Di sisi lain, aku tidak bisa membayangkan jika aku benar-benar mengakhiri hubungan ini. Karena aku masih menyukainya.”

Soo Rin menundukkan pandangan, menutup wajahnya dengan kedua tangan, mulai merutuki perbuatannya.

“Aah, apa yang sudah aku katakan?”

Sedangkan Dong Hae dan Hyuk Jae hanya mengamati perubahan gelagat Soo Rin. Mereka baru menyadari bahwa sedari tadi gadis itu berbeda dari biasanya. Dan kini sepertinya dia sudah kembali menjadi Park Soo Rin yang selalu panik dan khawatir.

S-Sunbae… tolong, jangan ceritakan hal ini pada Kim Ki Bum. Eo? Aku masih menyayangi diriku sendiri juga Kim Ki Bum. Huweeee!”

Dua pria itu sekadar mengerjap pelan melihat Soo Rin yang menguburkan wajahnya pada lipatan tangan di atas meja. Mendengar bagaimana gadis itu mengerang di baliknya seraya menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya gadis itu benar-benar menyesal karena sudah membongkar perasaannya pada kaki-tangan Kim Ki Bum.

Oh, tentu saja Soo Rin harus menyesal. Bagaimana jika mereka menceritakan hal ini pada Kim Ki Bum? Tidak terbayangkan seperti apa reaksi pria itu kepadanya nanti.

“Park Soo Rin, sepertinya kau memang belum mengenal pribadi Kim Ki Bum dengan benar.”

Soo Rin mengangkat kepala, memandang nanar Hyuk Jae yang baru saja bicara.

“Dari luar, dia memang terlihat seperti orang tidak berperasaan. Tapi ketahuilah bahwa Ki Bum memiliki cara tersendiri untuk memerhatikanmu. Kau hanya perlu memahami bahwa Ki Bum bukanlah orang yang kejam dengan menyiksa batin kekasihnya sendiri.”

Soo Rin menunduk, merenungkan nasihat Hyuk Jae. Wajahnya sudah memerah karena menahan tangis. Mungkin itu berlebihan, tetapi jika berada di posisi Soo Rin yang sedang dilema, mungkin kebanyakan gadis akan bereaksi seperti dirinya.

“Percayalah, Ki Bum bukanlah orang yang seperti kau bayangkan selama ini. Jika kau memahaminya lebih dalam lagi, kau akan menemukan sisi terhangat seorang Kim Ki Bum. Jadi setidaknya, kau juga mengambil peran seorang kekasih dengan memberikan perhatian-perhatian kecil untuknya.” Dong Hae meluruskan. Menyimpulkan senyum di bibirnya yang tipis.

“Yah, tapi jika kau mengharapkan Kim Ki Bum yang manis seperti Lee Dong Hae, kau hanya bisa bermimpi karena priamu tidak akan pernah bisa seperti itu.”

Soo Rin mengerucutkan bibir. Kali ini dia berani melempar sedotan minumannya pada Hyuk Jae yang baru saja memupus harapan sesaatnya. Membuat pria itu mengusap wajahnya yang terkena cipratan dari sedotan tersebut.

“Tapi jika Kim Ki Bum seperti itu, dia pasti sudah menjadi playboy kelas atas yang sudah menaklukkan banyak wanita,” imbuh Hyuk Jae sambil melirik orang di sebelahnya.

Yaa, kau mengejekku?!”

“Oh, ada yang tersindir, rupanya?”

Aisshi!”

Soo Rin tergelak melihat dua pria itu bergelut konyol di depannya. Bukanlah hal baru melihat keduanya bertingkah seperti itu mengingat keakraban mereka yang sudah terjalin sejak masa sekolah menengah. Membuat Soo Rin merasa iri karena ia terpisah dari teman-teman terbaiknya di sekolah dulu. Seandainya dia merencanakan kuliah bersama sang sahabat, mungkin dia tidak akan berakhir seperti sekarang.

Seandainya dia mengambil universitas yang sama dengan para teman terbaiknya, mungkin dia tidak akan pernah bertemu bahkan mengagumi seorang Kim Ki Bum dan berakhir seperti sekarang.

Ugh…

Soo Rin kembali menelungkup di atas meja. Merutuki pikirannya yang sudah ke mana-mana. Mengerang sekali lagi akan kebodohannya yang masih saja menyesali nasibnya bersama Kim Ki Bum.

Dan tingkahnya itu kembali menarik perhatian dua pria bermarga Lee itu.

“Aku benar-benar bodoh. Jelas saja Kim Ki Bum selalu mengataiku bodoh karena aku memang bodoh. Bagaimana bisa aku berpikir hal yang tidak-tidak seperti itu?”

“Berpikir apa?”

Eh?

Soo Rin mengangkat kepala, melihat Dong Hae dan Hyuk Jae masih duduk di hadapannya, menatap heran dirinya dengan mulut terbuka. Tapi kenapa Soo Rin mendengar ada suara Kim Ki Bum baru saja?

“Memangnya kau berpikir apa?”

Barulah Soo Rin terlonjak kaget. Kedua kalinya mendengar suara yang sama, Soo Rin menyadari bahwa pria itu memang ada di dekatnya, bahkan sudah duduk manis di sebelahnya.

“Apa aku harus mengulang pertanyaan yang sama sekali lagi, Park Soo Rin?”

“Eh? Itu… a-aku…” Soo Rin justru melirik dua pria bermarga Lee di depannya, mencoba meminta bantuan dari mereka. Tapi sayangnya, mereka hanya berdeham keras sebelum berdiri dari duduk.

Ehem! Sepertinya tugas kami sudah selesai. Kalau begitu, kami pergi dulu!” Hyuk Jae memamerkan cengirannya, diikuti dengan Dong Hae yang melambaikan tangan.

“Sampai jumpa lagi, Park Soo Rin!”

“Selamat bersenang-senang dengan kekasihmu!”

Soo Rin hanya bisa memberengut. Mereka memang tidak bisa diandalkan. Bagaimana bisa mereka begitu penurut dengan Kim Ki Bum padahal mereka adalah teman sebaya pria itu?

“Aku bicara padamu, Park Soo Rin.”

“Ma-maaf…” Soo Rin kembali menghadap Ki Bum, menundukkan kepala layaknya anak nakal yang hendak diinterogasi oleh orangtuanya.

“Maaf bukan berarti kau tidak menjawab pertanyaanku.”

Euh… itu, aku hanya…” Soo Rin mendesah di dalam hati karena mendengar pria itu baru saja berdecak sambil meraih segelas minuman miliknya.

Baiklah, apa lagi yang terlihat salah pada dirinya di mata Kim Ki Bum?

“Aku berani bertaruh bahwa kau belum makan apapun setelah aku berikan camilan tadi pagi.”

Tepat sasaran.

Ki Bum menatap tajam gadis di sebelahnya, tampak melirik takut-takut dirinya yang justru meyakinkan analisanya barusan. Maka dari itu Ki Bum meneguk iced coffee milik Soo Rin hingga tandas, meletakkan gelasnya dalam bentuk hentakan yang mampu membuat Soo Rin berjengit pelan.

“Aku benar-benar lelah menjelaskannya padamu. Sepertinya kau memang tidak mau menghilangkan kebiasaan jelekmu itu.”

Soo Rin tahu benar apa yang dimaksud oleh ucapan Kim Ki Bum. Dia sendiri lagi-lagi merutuki kebodohannya. Prianya itu memang sangat jeli dengan apa yang dilakukan olehnya. Berkali-kali ditegur, berkali-kali pula Soo Rin masih saja melakukannya.

Pria itu selalu mengatakan bahwa meminum kopi dalam keadaan perut yang masih kosong bisa memicu maag kambuh. Tapi memang dasarnya Soo Rin yang terlalu menyukai kopi, dia menjadikan minuman itu sebagai pelepas dahaga dalam keadaan apapun tanpa memikirkan keadaan perutnya yang sedang kosong atau tidak.

Dan sekarang, Soo Rin memang harus mengakui kebodohannya karena kembali membuat Kim Ki Bum marah.

“Tetap di sini.”

Soo Rin hanya bisa mengangguk patuh ketika Ki Bum berdiri dari duduk setelah menanggalkan tasnya, meninggalkannya dan pergi ke arah counter. Hanya bisa mendesah sedih melihat pria itu. Kekasihnya sendiri sudah membuatnya merasa bodoh dan bodoh. Apa dia juga harus menyalahkan dirinya sendiri karena sudah seceroboh ini?

Dia tampan dan berkharisma, memiliki otak encer dan memang bisa diandalkan banyak orang. Tapi sayang, kelebihannya itu berbanding terbalik dengan sifatnya yang diktator sampai-sampai Soo Rin kewalahan sendiri. Seandainya dia tidak mengagumi pria yang sebenarnya seorang senior di fakultasnya, bahkan sampai rela memberikan buah tangan di hari kasih sayang kala itu, Soo Rin pasti tidak akan terikat seperti ini.

Soo Rin sendiri tidak mengerti, kenapa Kim Ki Bum mengajaknya untuk menjalin hubungan jika sifatnya begitu dingin dan kaku? Apakah dalih bahwa pria itu juga menyukainya itu masuk akal? Soo Rin justru merasa bahwa pria itu tidak serius menyukainya.

Tidak serius… menyukainya…

Jantung Soo Rin berdebar tak terkendali. Menyadari satu pendapat itu melintas di otaknya. Belum lagi dia melihat pria itu tengah memegang ponselnya, sepertinya menerima panggilan masuk dan tampak sedang berbicara dengan seseorang yang meneleponnya, Soo Rin harus merasakan jantungnya mencelos begitu melihat pria itu menarik sudut bibirnya.

Itu memang terlalu samar dan hanya bertahan beberapa detik. Tapi Soo Rin yakin bahwa pria itu baru saja tersenyum! Tersenyum!

Tapi dengan siapa dia tersenyum? Temannya kah? Teman wanitanya kah?

Deg…

Soo Rin menunduk, menatap meja di hadapannya dengan gamang. Tangannya mulai meraba dada bagian kiri, merasakan detakan itu semakin cepat di dalam sana.

Ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan, melainkan sesuatu yang tengah Soo Rin takutkan. Suatu hal yang belum pasti, namun sugestinya sudah membuat benaknya bergetar tidak karuan.

Apa ini? Kenapa Soo Rin seperti ini? Ini tidak masuk akal. Kenapa Soo Rin merasa takut akan hal yang belum pasti? Dan kenapa Soo Rin harus merasa takut?

“Aku tidak suka melihatmu melamun.”

Suara berat yang sangat Soo Rin kenal. Dia langsung mendongak dan mendapati Kim Ki Bum sudah datang sambil membawa sebuah nampan berisi beberapa makanan. Pria itu meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Soo Rin sebelum ia mendudukkan diri, kini di hadapan Soo Rin.

“Habiskan itu. Jangan sampai ada yang tersisa.”

Soo Rin menelan saliva. Lihat, sedingin apapun Kim Ki Bum, pria itu masih ingat bahwa Soo Rin butuh makan. Hal semacam ini pun berhasil membuat Soo Rin yang sempat uring-uringan kembali berdesir-desir berkat perhatian kecil seorang Kim Ki Bum.

“Aku menyuruhmu untuk menghabiskannya, bukan hanya menatapnya, Park Soo Rin.”

“I-iya!” buru-buru Soo Rin mengambil sendok. Namun gerakannya terhenti karena pandangannya spontan melihat pria di depannya yang ternyata tengah memainkan ponselnya. “T-terima kasih, Kim Ki Bum.”

Andaikan Soo Rin bertahan dalam posisi semula, mungkin dia akan melihat pria itu menatapnya untuk beberapa saat. Memerhatikannya yang kini sudah menyantap makanan pemberian pria itu dengan lahap, memainkan sendok juga sumpit bergantian, mengikuti perintah dengan patuh.

Perintah…

“Sebenarnya, dia melihatku sebagai apa? Kekasihnya, atau anak kecil yang bodoh?”

Dua kalimat tanya itu, kembali terngiang di dalam kepalanya. Seolah menusuk-tusuk otak jeniusnya dan memaksanya untuk berpikir keras.

.

.

.

.


COBA TEBAK INI APA HAYOOO?

ini cerita baru kisukisu hehehehe ๐Ÿ˜ tapi ngga bakal panjang kok. Cuma sebatas mini chaptered gitu.

Tiba-tiba aja kepikiran dan langsung aku buat. Mau aku jadiin project buat EHEM hari itu lah pokoknya makanya aku bikin ini ngebut sampe part piiiiip XD

Jadi, maaf ya kalo ceritanya ga jelas. Di sini terlalu banyak monolog jadi maaf kalau membosankan. Ini juga aku terinspirasi dari cerita yg pernah aku baca di wattpad dan mungkin bagi kalian yg juga penghuni dunia oranye itu kayaknya tahu deh cerita yg mana gyehehehe #plakk

psst! tapi tolong jangan ditiru cerita ini, ya. Kalo ada yang punya pacar sadis kayak kimkibum jangan dipertahanin, putusin aja! wkwkwk

salam dari para cameo :3

wp-1471367473308.jpeg
Dong Hae & Hyuk Jae
wp-1471367402591.jpeg
Cho Kyu Hyun

btw, Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tercintaaaa!!! ๐Ÿ™Œ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ™Œ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ™Œ

wp-1471367540772.png

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

37 thoughts on “[The Day] A Sadistic Boyfriend

  1. Omo ini udah lama banget T-T tega nya kau menggantungkan diriku eon untung aja aku gak berlumut nunggu nya ๐Ÿ˜ฆ

    Kalo bisa lanjut eon soal nya dari kibum belum ada monog nya sapa tau soorin gak tu bentuk ketulusan kibum T-T

    1. eits~ ini cerita baru loh, bukan lanjutan dari yg manapun hehehe duh, maaf ya masih gantungin ๐Ÿ˜ญ tapi ga nyangka dirimu masih inget cerita yg itu #dessh

  2. Iya soorin memang bodoh kenapa tetap aja dipertahanin pria seperti itu??
    Eh tapi kalo minta putus kibum bakal biarin gak ya??

    Aaaaaahhhh penasaran ingin ini lanjut…

  3. sifatnya soorin mirip sama aku, ngaret + ceroboh, klo ktmu jodoh yg kayak kibum psti dpt omelan tiap hari, tiap ngerjain apa2 psti ada aja yg salah #ehmalahcurhat ditunggu chapter selanjutnya.. sebenernya sih nunggu ff chapter yg msih blm dilanjut, tp aku terima aja apa yg disuguhkan/? author ๐Ÿ˜€

    1. wah, kita samaan~ ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜† tapi bener juga sih, wajar kalo jadi soorin, apa-apa dimarahin, siapa suruh ga teliti hahaha #duaagh
      eheu~ maaf ya, malah bikin cerita gajelas kayak gini ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

  4. aaaa kim kinum jangan pasang muka yang menakutkan kan kasian soo rin nya…………. jangan marah2 melulu, tapi tetep perhatian kekeke~ lagian soorin juga mancing2 kan jadinya marah2 kim kibum

  5. padahal udah dibuat ngefly sama sosok ki bum di harem lodge…
    kenapa kibum disini kesannya minta dijitak ya??? bikin gemes.. udah nikon nangis anak orang habis itu diperhatiin…

  6. ya ampun kibum dingin bgt sich…
    kan soorin jd salah pham trus…
    klo aq slah fokus ke kyuhyun.he3x๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†
    next dtnggu sist…
    smangat ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰

  7. ini menurutku sih soorin nya aja yang kelewatan x’D
    yakali kesalahan yang sama diulang2 teyus. meski aku ga sekejam kimkibum juga, kayaknya aku bakalan kesel sama dia ๐Ÿ˜ฆ
    sejauh ini aku belum nemu kesalahan di kimkibum. mungkin karena aku orangnya juga /sok/ disiplin kali ya hehe. dan harusnya soorin tuh bersyukur banget, itu kimkibum udah menyalahgunakan jabatan tuh pas ngasih tambahan waktu buat kuis soorin.
    aku mah apah, udah pernah bikin laporan setebel 150+ lembar dan ga diterima sama aslab cuma gara2 salah penomoran halaman pffth :”)
    soorin untung kamu manis, kamu harus ngerubah kebiasaan kamu itu nak. kalo gabisa tidur, jangan tidur. daripada bangun2 malah kesiangan /ini advice dari pengalaman sendiri/ kecuali kalo kamu punya temen yg rela datengin kamu pagi2 buat ngerusuh dan nyeret kamu ke kamar mandi dan nebengin berangkat ke kampus.
    maafkan siskachi, tapi aku emesh sama cewek yg susah dikasih tau kayak parksoorin :”)
    tapi tetep dooong aku mau baca lanjutannyaaa :333
    nice lah pokonya, semangat yaa nulisnyaaa x))

    1. omg pokuuuuuu! aku kok seneng ya dirimu namparin soorin begini /loh gyahahaha ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜† //lahpadahalinikankritikanbuataku// sebenernya ini cerminan aku sendiri sih, pernah melakukan kebiasaan jelek berkali-kali meski udah ditegur, emang ada sih orang yg susah dibilangin sampe yg negur capek dan akhirnya orang itu nyesel.. iya ntar aku mau bikin soorin nyesel kok //warningspoileralertduhh// ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„
      hihihi maaciw ya Pokunyan, udah mau baca sekaligus berbagi pengalaman ๐Ÿ™†๐Ÿ™†

      1. eiiyy siskachi jangan masochist(?) /duuug ๐Ÿ˜ฎ
        maafin yah, aku ngerasa ga enak banget. Tapi emang kali ini kayaknya soorin perlu diperingatin /secara halus atau gak, aku serahin ke asdos kim /eiy ._.
        tapi emang namanya orang masi berproses kali ya, aku percaya kalo soorin /atau juga siskachi/ pasti bisa jadi lebih buaaaiiiikkk :333
        hihi siskachi semangat ya nulisnyaaa, maaciw jugak udah kasi spoiler /ahayde dapet spoiler x)))

  8. Mau ceritanya gmna tetep sifat diktator dan ice prince ki bum gak ilang. Yang sabar ya soo rin ngadepin ki bum. Ki bum jg hrsnya agak lebih terbuka sm soo rin ttg perasaanya.

  9. Hey gantengggg yg make kemeja putih dasi kupu” :-*:-* aku padamu …

    Kibumie sadis bgt ya ampun hhhh kalo q jd soorin sdh tek kaplukin tuh kibumie ck,miris bgt waktu soorin bilang dianggp pcar apa bocah bodoh y ampun kasian sekali nasibmu punya pacar jenius tenar ganteng malah tersiksa clckck

  10. Assa eon ff baru yahh๐Ÿ˜‚ duuh kibum pacar yg kejam juga yahhh๐Ÿ˜๐Ÿ˜‚ kalo nemu pacar cem gtu mahh langsung putusin hahah ๐Ÿ˜‚ aigoo ada laki saya #lirikKYU๐Ÿ˜š ditunggu lanjutannya eon fighting ne๐Ÿ™Œ๐Ÿ™Œ๐Ÿ™Œ

  11. Ternyata Kibum bner2 sadis ya
    tega bner sma Soo rin
    emang sih demi k baikan Soo rin tpi dgn lembut
    gk ada romantis2nya Kibum
    Soo rin nangis jga d hibur malah d omelin
    duh bang yg bntar lgi ultah

  12. ohhh myy!!
    yg gini2 nih ceritanya yg disuka hahaha…
    ki bumnya dingin bgt + cool..
    soorinnya kasian, iya sih salah tapi jgn sampe segitunya juga kibumnya.. wajar lah soorin pemikirannya kayak gitu.. greget bgt ceritanya >.<
    ditunggu next chap๐Ÿ‘Œ

  13. Kim Kibum ya ampun… sadis ya marah-marahin Soorin terus.
    iya sih buat kebaikan Soorin juga, biar Soorin nggak ngulangin kesalahan yang sama lagi. tapi mulutnya Kibum pedes(?) banget, nggak ada manis-manisnya. kasian pan Soorin nya, dia jadinya salah paham terus.

  14. ey.. ini beda dari biasanya ๐Ÿ˜ mau bagaimanapun ceritanya aku suka aku suka ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    terlebih lagi kim kibum yg lebih lebih dingin dari biasanya. wew ๐Ÿ˜ธ aku padamu kibum
    dan park soorin harus tetep seteroong kekekeke

    keep spirit my twin name ๐Ÿ˜š๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ aku padamuuuu ๐Ÿ˜ป๐Ÿ’•๐Ÿ’•

  15. sifat diktator kibum nyeremin ya ๐Ÿ˜€ kasian soorin serba salah, tp keren kok cerita’y ๐Ÿ™‚ kira” di dunia nyata kibum sifat’y kaya gitu g ya sm pacar’y? ๐Ÿ™‚

  16. pas ngeliat judul alamak sadistic boyfriend??
    way kayaknya kim kibum bakal jadi chara yg suka nyiksa cewek semacam mukulin dll eeeeee taunya setelah dibaca wkwkkw begitu toh sadistic versi kim kibum >> tekanan batin lol XD

  17. Kim Kibum ini sifatnya terlalu kejam, menyuruh Soorin untuk memperbaiki dan merubah semua sifat dan kebiasaan jeleknya tapi dia sendiri gak merubah sifat dan sikapnya yang kejam. Soorin itu kekasihmu bukan pesuruh ataupun anak kecil yang bodoh yang seenak jidat di atur. hadeuhhhhh Soorin kok kamu bisa sih tahan sama priaaaaaa dingin seperti itu????
    *kesal mode on

    1. well, istilah cinta itu buta ada benernya juga sih.. kalo udah terlalu sayang, apa aja dijabanin meski tau bikin sakit hati (?) hihihi ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

  18. Udah lama ga buka blog ini. Sekalinya buka disuguhin cerita chapter yg baru. Keren. Ceritanya juga bagus. Huwaa ga tau harus apa lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s