Posted in Family, Fiction, Fluff, G, Slice of Life, Vignette

I Don’t Care

BeFunkyCollage

Fluff-Family | General | Vignette

||Choi’Siblings||

It’s weird to read. Better think about it twice.

H A P P Y   R E A D I N G . . . .

Siwonest 😊


ELVABARI©2016

GADIS itu tampak termenung di balkon lantai dua rumahnya. Melipat kedua tangannya di atas pembatas balkon, menatap ke atas di mana langit malam memayunginya tanpa ada hiasan bintang yang selalu berkelap-kelip menemani sang bulan. Entah sudah yang keberapa kali dirinya menghela napas teramat panjang, begitu berat dirasa hingga ia tidak dapat menemukan kelegaan di dalam batinnya yang sedang keruh saat ini.

Lama bergumul dengan pikirannya sendiri, ia sampai tidak menyadari akan kedatangan seseorang yang kini sudah berdiri di belakangnya. Tampak begitu wibawa dan melangkah mendekat dengan pasti. Lalu mengulurkan sebelah tangannya untuk diselampirkan di bahu gadis itu, mengejutkan sang empunya hingga ia menoleh ke belakang, terperangah akan kedatangannya.

Oppa…

Orang yang dipanggil Oppa itu tersenyum lalu menempatkan diri di sebelah sang gadis. Ikut melipat kedua tangannya di atas pembatas. Menyamankan diri.

“Memikirkan sesuatu?”

Gadis itu mengalihkan pandangannya setelah sedari tadi menyaksikan gerak-gerik pria di sebelahnya. Kembali menatap gelapnya langit malam. Ia bergumam pelan—hanya sebatas itu.

“Kau bisa bercerita pada Oppa.”

Gadis itu menoleh pada sang, kakak yang kini tengah menemaninya. Kakak yang selalu mengerti akan apa yang tengah ia rasakan hingga bersedia menjadi wadah untuk dirinya berbagi—kapanpun. Kakak yang amat ia segani lebih dari ia menyegani kedua orang tuanya yang selalu disibukkan urusan masing-masing ketimbang dirinya. Dan kakak tunggalnya yang selalu menyayanginya.

Oppa…

Hm?”

“Apa aku… orang yang merepotkan?”

Ada jeda di antara mereka. Pria itu memang sudah bergerak cepat menoleh menatap tertegun adiknya yang baru saja melontarkan pertanyaan tak terduga. Dan ia butuh waktu untuk meredakan ketertegunannya.

“Kenapa kau bertanya begitu?”

Sang gadis dapat mendengar dengusan samar di sela-sela sang kakak bertanya. Ia memilih untuk tidak melihat bagaimana ekspresi sang kakak saat ini.

I think that I’m useless. I can’t do anything for anyone. What I can do is just bothering everyone, including you. I’m just…” sang gadis menghela napas panjang, merasakan adanya gejolak yang mulai menggandrungi benaknya. Tapi sebelum ia berhasil melanjutkan ucapannya, sang kakak langsung merengkuh pundaknya, memutar tubuhnya untuk langsung berhadapan pada yang tertua.

“Siapa yang berkata seperti itu padamu?”

Sang gadis hanya menggeleng lemah.

“Siapa yang berani berkata seperti itu padamu?” sang kakak bertanya lebih tegas. Yang justru membuat adiknya itu melelehkan buliran bening ke dua pipinya.

“Tidak ada, Oppa… tetapi aku merasa bahwa aku benar-benar tidak—”

“Berhenti.”

Oppa…

Pria itu mendesah gusar. Hatinya merasa sesak melihat sang adik mulai terisak. Namun di sisi lain ia juga merasa kesal. Bagaimana bisa… “Bagaimana bisa kau berpikir sesempit itu?”

“Aku minta maaf, Oppa…” ujar gadis itu, terjeda karena isakannya yang semakin jelas. “Aku orang yang tidak berguna di keluarga ini. Aku bahkan tidak ingat pernah membantu Oppa maupun yang lain. Aku lebih sering merepotkan kalian. Aku lebih sering bergantung hingga akhirnya aku tidak bisa melakukan sesuatu. Aku… aku…”

Pria itu menahan napas sesaknya untuk beberapa saat. Membiarkan keheningan menyergap dan memperjelas isakan memilukan adiknya. Mengusap wajahnya dengan kasar lalu kembali memerhatikan yang sudah menangis deras.

“Usiaku semakin bertambah, tetapi diriku sendiri tidak ada kemajuan, Oppa. Aku tidak bisa melakukan apa-apa…”

Sang kakak kembali merengkuh pundak yang berguncang itu. Satu tangannya mencoba menyeka anak sungai di kedua pipi merona itu meski percuma. Tidak akan berhasil jika empunya belum menghentikan lajurnya.

“Lalu bagaimana dengan Oppa?” pertanyaan lirih itu keluar dari mulut si pria, menarik atensi adiknya untuk berhenti terisak. “Jika kau begini, bagaimana dengan Oppa yang selama ini menemanimu? Kau seperti ini, berarti Oppa tidak pernah membahagiakanmu, bukan?”

Sang gadis menggeleng cepat. “Tidak, Oppa. Oppa sudah banyak menolongku.”

“Lalu kenapa kau masih merendahkan dirimu sendiri, Choi Ji Won?”

Sang gadis menunduk, kembali menangis. Batinnya mencelos mendengar sang kakak menyebut nama lengkapnya di saat seperti ini.

“Bagaimana denganmu yang selalu berkata ceria pada Oppa? Bagaimana denganmu yang selalu bersenda gurau pada yang lain? Bagaimana denganmu yang selalu bernyanyi di hadapan Oppa dan Oppa harus memperdengarkan nyanyianmu pada yang lain karena kau masih tidak percaya diri? Bagaimana denganmu yang selalu ditanyakan pada lainnya jika kau menghilang? Bagaimana denganmu yang selalu membuat Oppa dan yang lain bersyukur karena mengenalmu? Bagaimana?

Kau masih ingin berkata bahwa kau tidak berguna? Di saat mereka dan juga Oppa masih membutuhkan kehadiranmu, huh?”

Ji Won semakin gencar menangis. Sedangkan sang kakak, mulai terlihat ingin menangis di sela-sela napasnya yang memburu.

Oppa tidak pernah menganggapmu seperti itu. Begitu juga yang lain. Kau seperti ini karena kau tidak mengerti—akan dirimu yang sebenarnya dibutuhkan oleh banyak orang termasuk Oppa. Kau hanya melihat sisi kelemahanmu yang selalu terlihat hingga seluruh kebaikan yang pernah ada terhalau oleh pandanganmu sendiri. Padahal kau hanya butuh usaha agar kau dapat melihat betapa bergunanya dirimu di mata kami.”

“Maafkan aku, Oppa…

Sang kakak membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan adiknya yang tengah menunduk, menggeleng pelan disertai senyum hangat yang menenangkan. Berkata, “Oppa mohon, jangan mengasihani dirimu sendiri apalagi merendahkan dirimu sendiri seperti ini. Jika kau seperti ini, itu sama saja kau menyakiti Oppa juga yang lain. Jika kau menyayangi Oppa—menyayangi yang lainnya, tetaplah menjadi dirimu sendiri. Dirimu yang membuat kami tersenyum dengan caramu sendiri. Karena kami menerimamu bukan ada apanya, tetapi apa adanya.”

Ji Won menangis semakin deras. Membutuhkan sandaran, ia akhirnya berhambur memeluk sang kakak. Tersedu-sedu di sana ditemani oleh lingkaran hangat yang sesekali membelai kepalanya dengan sayang.

“Maaf, Oppa… Maaf…”

Sang kakak tersenyum lalu tertawa pelan, menepis niatannya yang sudah ingin menangis dengan mengeratkan pelukannya. “Apapun alasanmu, Oppa tetap menyayangimu. Oppa yakin yang lain juga begitu. Appa, Eomma, semuanya. Jadi, aku bersyukur karena kau ada di sini. Ada di antara kami, itu sudah cukup, Ji Won-ah.”

Ji Won tersenyum seraya mengangguk di dalam dekapan kakak kesayangannya. “Terima kasih, Oppa. Karena sudah memberi kesempatan untuk bertemu Oppa juga yang lain,” kemudian ia mendengar sang kakak terkekeh-kekeh, getarannya merambat hingga ke sebelah wajahnya yang menempel di dada bidang itu.

Eii! Berterima kasihlah kepada Tuhan. Kita sama-sama dipertemukan oleh-Nya. Melalui rahim Eomma, menjadi satu darah yang tidak akan terputus sekalipun kau berusaha untuk melarikan diri. Ingat itu.”

Ish! Apa Oppa sedang mengancamku, huh?”

“Bagaimana jika iya?”

Ji Won akhirnya ikut tertawa. Menyusut hidungnya dan mulai menghentikan laju tangisnya. Dia memang harus bersyukur kepada Tuhan karena sudah diberikan seorang kakak yang sangat mengerti dirinya. Dia tidak bisa membayangkan, seandainya dia terlahir dari keluarga lain, terlepas dari kehidupannya yang serba berkecukupan, mungkin tidak akan sehangat ini jika tanpa adanya kakak kesayangannya ini.

Oppa, jika Oppa terus memelukku seperti ini, tidak apa-apa ‘kan?”

Hmm… tentu saja! Memangnya kenapa? Kau keberatan? Padahal kau yang memeluk Oppa lebih dulu.”

“Hehehe. Hanya, aku baru sadar… bagaimana jika Young Eonni melihat kita seperti ini dan dia cemburu?”

“Aah… Oppa justru senang melihatnya cemburu. Kau tahu? Dia itu sulit sekali untuk cemburu. Padahal Oppa ingin sekali melihatnya merajuk pada Oppa. Apa lebih baik Oppa menciummu saja di depannya, ya?”

“Tidak, tidak. Ya ampun, bagaimana bisa Oppa memiliki ide yang aneh seperti itu?!”

“Kau tahu? Aku sungguh ingin melihatnya cemburu seperti mau gila!”

You did it, Choi Si Won. Let me be your sister as lovely as Choi Ji Won, then.

“Oh…”

“Young Eonni sudah datang, Oppa…

SiJi

F I N


tumben ya, aku bikin cerita buat Siwon wkwkwk 😆😆 dan isinya seperti biasa ngga jelas…

Ini sebenarnya udah agak lama mendekam di draft. Waktu itu lagi baper-bapernya sama beberapa orang yg udah bikin kejutan dan aku disuruh bikin cerita….ini sebenernya sekalian curhat sih hihihi dan pernah aku share ke chat grup, tapi ini aku edit lagi karna mau dipost di sini… dan aku sempet mikir pake nama siapa, ya…..eh, malah kepikiran si alayer SJ 😂😂😂

oh, ya. Tapi tolong jangan salah paham ya. Takutnya karna ada rumor itu akunya dikira udah gamau nulis kisukisu bahahah Aku cuma lagi refreshing aja kok. Sebenernya imajinasiku udah melayang-layang ke mereka cuma mood nulisnya belum ada, masih setengah-setengah… heu~ maafkan aku jikalau ada yang menunggu mereka tapi aku belum bisa persembahkan.  🙏🙏🙏  //gaadayangnunggusih//?

yaudah, segitu aja. Terima kasih sudah bersedia membaca~ semoga kita bisa ketemu lagi 😊😊

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

7 thoughts on “I Don’t Care

  1. first komen yeyeyeyeyey!! x) /apadeh
    iiih siskachii jago ya bikin cerita kakak-beradek gini ♡ atuhlah ditungguin cerita buat Hyukkie-Sora, atau Donghae-Donghwa /awawawww x)))
    jiwonniee, siskachiii juga, jangan sedih. Kita gatau kadang diri kita sendiri yang kita kira sama sekali ga worth it itu, sebenernya sangat berarti buat orang lain, kayak yang udah dicontohin, buat kakak, apalagi buat orangtua 🙂
    Senyum ya, karena kita ga pernah tau, ada orang yang mungkin diam2 rela ngelakuin apapun buat lihat kita baik2 saja 🙂 alavyu :* :* :* /peyuks/

    p.s :: ditunggu kisukisunya ♡
    p.s.s :: ini hukuman buat siskachii yang kelihatan lagi sedih, kisukisunya harus panjaaaaaang dan lebih manis dan lebih++(?) /seenaknya /hihii siskachii fightiiing ^^9

  2. Woaahh won dadd 😁hehehe gpp eon kali” buat ff cast won dadd 😂bahkan kalo bisa buat oneshootnya😂hihihihi buat ngurangin rasa kangen sama won dadd😂😁

  3. Positngan sebelumnya castnya cho’ sibling,yg ini choi’s sibling,bsk2 ganti yg lain,biar ndak pada ngiri,hehehe…
    Hbungan kakak-adik yg manis,konflik yg biasa terjdi,dmana kita kadang mersa bahwa kehdiran kita tdk brarti apa2..
    Ceritanya bikn ngiri,punya kakak yg sangat pengertian sprti siwon,sbagai saudra,kita memang seharusnya saling menghargai dan menyayangi,trlepas dari siapa yg tertua dan siapa yg termuda,

  4. Konfliknya hanya begitu,,tapi ni air mata ikut leleh jga,,,
    Jagonya bikin cerita kekompakan ,,apalagi romantis wahh dehh kkkk
    Ttp d tunggu ko kissukissunya 😉

  5. Choi’s sibling gak mau kalah sma cho’s sibling donggg. Semuanya pd kompak dan perhatian sm saudaranya.
    Ditunggu kisukisunya. Kalo bisa jangan lma2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s