Posted in Fiction, Fluff, One Shot, PG-17, Romance

My KI

wp-1467796923603.jpeg

Fluff-Romance | PG-17 | One Shot

Inspired by. POKUPON‘s Gift

She gave me a special story as my birthday gift at last June 21 ^__^ it really-super-sweet until I won’t let kisukisu ending like that huhuhu >< so this is like a sequel of that story but you can’t read the before story cause that special story is a special gift which just for me~ hahahaha 😆😆

so, H A P P Y   R E A D I N G this!

.


ELVABARI©2016


.

GADIS itu menggeliat dalam lelap. Perlahan kelopak matanya yang mulai bergerak-gerak membuka, menampakkan iris kecoklatannya yang belum menemukan fokusnya, mengerjap beberapa kali dan merenung.

Masih diingatnya bagaimana dia terbangun di pagi hari yang masih dingin, seorang diri, lalu keluar kamar mencari-cari keberadaan seseorang namun tidak ditemukan hingga akhirnya ia jatuh terlelap di sofa ruang tengah.

Sudah pukul berapa ini?

Mengucek kedua mata, Soo Rin si gadis mengantuk itu memerhatikan jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ketika ia meregangkan tubuhnya yang sedikit pegal karena terlelap cukup lama di sofa, matanya yang sedari tadi berkeliaran kini terhenti pada meja di hadapannya. Menemukan sesuatu yang baru saja dilihatnya di hari ini.

Apa itu sebuah kado?

Meraihnya, Soo Rin meneliti sebuah kotak mungil yang disertai secarik post it di atasnya. Membacanya perlahan yang kemudian menimbulkan reaksi di wajahnya.

“Wake up soon, and Let’s make your Birthday as special as You are.”
Yours, Ki

Semburat kemerahan terpampang di kedua pipinya. Hanya satu kalimat sederhana ditambah dengan selipan nama si pengirim, sudah cukup membuat wajahnya menghangat dan merona. Oh, jadi tadi si Ki yang mengklaim dirinya sebagai milik Soo Rin itu memang masih di dalam apartemen mereka? Bagaimana bisa Soo Rin tidak menemukan keberadaannya? Apa karena dia baru saja bangun dan hanya sanggup mencari sampai dapur jadi tidak bertemu?

Yeah, dia bahkan memilih untuk kembali tumbang di sofa lalu meluncur kembali ke dunia mimpinya yang—oh, ya ampun—bolehkah dia mengatakan itu adalah mimpi terekstrim dari yang pernah ia alami? Rasanya begitu nyata bahkan dia sulit untuk menggambarkan betapa agresifnya dia di dalam mimpi-yang-seperti-nyata tadi.

Apa karena hari ini adalah hari ulang tahunnya? Soo Rin bahkan tidak ingat tadi. Baru ingat setelah menemukan hadiah pertama yang sudah ada di tangannya kini. Hadiah yang sudah pasti diberikan oleh pria kesayangannya itu.

“Dia berlaga seperti pria misterius. Sejak dulu selalu berhasil,” gumamnya antara sadar dan tidak. Suaranya masih terdengar serak efek dari bangun tidurnya. Memajukan bibir bawahnya sebelum akhirnya bangkit dari sofa.

Alangkah baiknya jika Soo Rin menyusul ke tempat pria itu singgah sekarang. Lagipula, Soo Rin sudah tidak masuk kerja mengingat sudah masuk musim panas. Prianya saja yang terlalu sibuk dengan profesinya yang terlampau berpengaruh sehingga memakan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bermalas-malasan di rumah.

Baiklah, Park Soo Rin, berhenti menggerutu dan jalankan niatmu sekarang.

****

“Dokter Kim sedang melakukan operasi sejak dua jam lalu.”

Masih diingat oleh Soo Rin satu kalimat yang keluar dari mulut Suster Jung—perawat yang dikenalnya cukup akrab karena pernah merawatnya yang sempat dioperasi di sini dulu—seketika membuatnya lemas. Soo Rin mengira akan segera bertemu dengan pria itu di ruangannya namun ia mendapati ruang kerja si Dokter Kim kosong. Soo Rin juga sempat berkeliling mencari sebelum akhirnya bertemu Suster Jung yang baru saja melakukan kontrol.

Lihat betapa sibuknya pria itu. Di hari yang masih pagi ini, sudah harus menjalankan operasi yang entah kapan akan selesai. Mau mengeluh pun percuma. Memangnya dia bisa apa? Kecuali jika dia punya nyali terlalu besar untuk mendobrak pintu ruang operasi lalu menyeret pria itu keluar dari sana. Bukannya terlihat keren, justru Soo Rin akan dicap sebagai istri gila Dokter Kim.

“Lihat siapa yang sudah menjenguk prianya di pagi hari ini.”

Soo Rin baru saja keluar dari area kantin rumah sakit setelah membeli satu gelas cappuccino. Menoleh cepat dan mendapati pria berjubah putih itu sudah mengumbar senyum ramah padanya.

“Oh, selamat pagi, Dokter Tan!” Soo Rin membalas sapaan pria itu dengan ceria.

“Biar kutebak, kau pasti sedang menjalankan libur musim panasmu,” ujar Tan Han Kyung dengan tangan bersedekap, lalu tidak bisa menahan senyumnya lagi kala gadis itu mengangguk cepat disertai cengiran lugunya yang begitu menular. “Aku sungguh iri padamu, Park Soo Rin.”

“Kau bisa mengambil cuti jika mau,” balas Soo Rin dengan senyum konyolnya yang bermunculan. Mengundang kekehan geli pada pria bermarga Tan itu.

Ngah! Aku masih harus menyelesaikan banyak hal. Berbeda dengan priamu yang sudah menyiasati banyak hal hingga berhasil mengajukan jatah cuti untuknya.”

Mata Soo Rin mengerjap cepat, mencerna ucapan Tan Han Kyung dengan cepat pula. “Benarkah?”

Yup!” kemudian Han Kyung mengernyit, “Dia tidak mengatakannya padamu?”

Soo Rin menggeleng pelan, merasa ragu. Kenapa pria itu tidak mengatakannya?

Ups… sepertinya aku sudah membongkar hal yang belum seharusnya dibongkar.” Han Kyung tertawa kemudian, menepuk keningnya sendiri. “Anggaplah kau tidak mendengarnya, Park Soo Rin.”

“Aku sudah terlanjur mendengarnya,” gerutu Soo Rin yang semakin mengundang tawa pria itu. Oh, ayolah. Apakah ini merupakan hal lucu sehingga pria itu tidak bisa berhenti tertawa? Soo Rin justru mulai dirundung rasa penasaran akan kebenaran yang baru saja diutarakan Han Kyung.

Jika memang itu benar, bukankah itu berarti…

Shut your big mouth!

Mereka mengalihkan atensi. Soo Rin adalah orang pertama yang bereaksi melihat pria yang sedari tadi dicarinya sudah berada di depan mata. Jubah putih yang membalut tubuh kekarnya itu menambah kadar pesonanya yang menguarkan raut kesalnya saat ini.

Eh? Dia sedang kesal, ya?

I thought your girl already know.” Han Kyung berkata dengan santainya. Mengedikkan bahu, ia melanjutkan, “Sorry not sorry,” dengan nada jenaka.

Pria beraut kesal itu tampak menghela napas kasar sebelum beralih pada Soo Rin. Langkahnya terbuka kembali demi meraih tangan halus itu lalu menariknya untuk pergi dari sana.

Happy birthday, Miss Kim. Hadiahnya menyusul. Atau, bagaimana jika kita makan malam berdua nanti?” Han Kyung jelas sedang mencari perkara. Ia tertawa geli begitu melihat reaksi teramat berarti dari pria yang kini melemparkan tatapan tajam padanya.

She have no time for that.

Yeah, tanpa dikatakan pun Han Kyung sudah tahu. Mana mungkin pria milik Park Soo Rin rela memberikan waktu semacam itu?

Hanya menguji untuk kesekian kalinya demi melihat betapa posesifnya Kim Ki Bum terhadap gadis kesayangannya yang sedang berulang tahun itu. Bagi Han Kyung ini benar-benar menyenangkan.

Kapan lagi melihat Dokter Kim yang terkenal datar itu banyak bereaksi jika sudah menyangkut gadis kepunyaannya?

****

“Kau marah?”

Satu pertanyaan yang pertama kali keluar dari mulut Soo Rin setelah mereka sampai di ruangan ini. Ruang kerja si Dokter Kim. Pria yang baru saja membimbingnya untuk masuk sebelum menutup pintu rapat-rapat kini kembali menumbuk tatapan tajam khasnya pada Soo Rin, disertai helaan napas ringan.

“Aku tidak merasa.”

Sorotan curiga keluar begitu saja di mata Soo Rin, mencibir pelan yang hanya direspon datar oleh pria itu. “Wajahmu selalu begitu jika sedang marah.”

“Begitu?” hanya mengangkat sebelah alis sebelum berlalu. Melepas jubah putihnya lalu menyelampirkannya pada sandaran kursi kebesarannya itu.

Soo Rin mengikuti. Langkah-langkahnya dibuat kecil-kecil sehingga ia berlari-lari layaknya bocah berkaki mungil. Senyumnya mulai mengembang sebelum akhirnya memulai rencana.

“Apa yang dikatakan oleh Dokter Tan itu benar?”

Ada reaksi menarik yang sempat tertangkap di mata Soo Rin sebelum pria itu kembali menetralkan mimiknya. Matanya kembali menyipit curiga, rasanya ada yang aneh. Biasanya Kim Ki Bum akan memertahankan raut datar tak terbacanya itu tanpa jeda jika disudutkan seperti ini.

Heol, aku tidak diberi tahu dan mendengar dari mulut Dokter Tan.” Soo Rin mengerucutkan bibir.

“Aku sedang tidak ingin membahas itu.”

“Lihat, kau sedang marah.”

Ki Bum menghela napas berkat Soo Rin kembali menyudutkannya. “Sudah bukan berita mengejutkan lagi, jadi apa yang kau butuhkan dari itu?”

“Kapan? Aku ingin tahu!”

“Kau akan tahu nanti.”

“Ayolah, Kim Ki Bum, beri tahu aku sekarang!” Soo Rin spontan meraih sebelah tangan Ki Bum, mengayun-ayunkan layaknya anak kecil meminta dibelikan es krim.

“Kau datang hanya untuk ini?”

Soo Rin memasang raut kecutnya. Ugh, dia tidak suka melihat prianya menjadi dingin seperti ini. Padahal, dia datang untuk bertemu prianya di hari spesialnya ini.

“Sepertinya aku sudah membuat Dokter Kim jenuh,” gumamnya seraya menarik kakinya untuk mundur. Menghela napas sedih sebelum melanjutkan, “Kalau begitu aku pulang dulu,” lalu berbalik berniat keluar dari sini.

Padahal dia ingin menunjukkan sesuatu pada Kim Ki Bum. Tetapi sepertinya pria itu sudah ia buat jengah karena kedatangannya yang tergolong tiba-tiba. Mungkin Kim Ki Bum sedang butuh rehat sendirian. Bukankah pria itu baru saja menyelesaikan operasi pertama di hari ini?

Tapi baru saja Soo Rin membuka langkah ketiga ketika tangan-tangan itu muncul dari belakang, melingkari bahunya, menarik dirinya hingga merasakan punggungnya bertemu dengan yang bidang, memicu detak jantungnya untuk berfluktuasi cepat berkat hembusan halus yang berhasil menembus ke sebelah telinga.

Oh, apakah Soo Rin pernah mengatakannya? Bahwa Soo Rin masih belum terbiasa dengan perlakuan jenis ini. Kim Ki Bum jarang melakukannya adalah salah satu opsi alasan. Dan alasan lainnya, jadi Soo Rin tidak bisa mengontrol jantungnya yang selalu berdebar-debar. Yah, sebenarnya apa saja yang dilakukan Kim Ki Bum padanya selalu saja membuatnya salah tingkah. Mendengar nama prianya saja sudah membuatnya memerah di bagian pipi.

“Aku rasa sekarang kau yang sedang marah.”

Tubuhnya merinding begitu suara berat khas itu menembus gendang telinga, begitu rendah dan seperti menimbulkan aliran listrik hingga menyengat dirinya. Membuat Soo Rin harus menggeleng-geleng kaku disertai mulutnya yang juga kaku untuk bersuara.

“Kau sudah melihatnya?”

E-euh?”

“Hadiahnya.”

Oh, benar juga.

Langsung saja Soo Rin merogoh isi tas mungilnya, menunjukkan kotak yang ia temukan di meja ruang tengah tadi.

“Kenapa kau hanya meninggalkan ini tadi?” Soo Rin bertanya dengan suara pelannya.

“Kau terlalu lelap dalam mimpi indahmu itu.”

Entah mengapa, Soo Rin merasa ada nada mengejek di sela-sela jawaban pria itu. Ayolah, memangnya pria itu tahu Soo Rin bermimpi apa tadi? Soo Rin tidak perlu merasa tertangkap basah, bukan?

“Siapa yang bermimpi indah?”

“Kau.”

“Tahu dari mana?”

Tanpa Soo Rin sadari, seringai itu mendadak muncul di bibir penuh yang kini menempel di telinganya, berbisik rendah, “Kau sangat agresif.”

Glek…

Soo Rin menelan saliva tanpa sadar. Tiga kata itu seperti memojok telak dirinya. Matanya melebar tak terkontrol dan mulai muncul gerak-gerik gugup.

Apakah Kim Ki Bum tahu? Lalu bagaimana Kim Ki Bum bisa tahu? Ya ampun!

“A-aku tidak begitu!” tapi Soo Rin berusaha untuk mengelak. Mengundang kekehan itu bermunculan dari prianya. Wajah cantiknya langsung merengut kecut akan reaksi si dokter spesialis yang masih saja memeluk erat dirinya dari belakang.

“Kau sudah membukanya?”

Soo Rin melarikan matanya pada yang tengah dibicarakan oleh Ki Bum. Kemudian mengangguk kikuk. Apalagi ketika tangan-tangan itu bergerak turun dan kini mengikat lingkaran pinggangnya dengan posesif.

“Kalau begitu tunjukkan padaku.” Ki Bum menyungging senyum penuh arti ketika Soo Rin mengikuti titahannya. Dari tempatnya, ia masih melihat semburat kemerahan yang makin menegaskan kadar menggemaskan yang ada pada diri gadisnya begitu mengambil isi dari kotak mungil di tangannya. “You like it?”

Soo Rin mengangguk malu-malu. Bibirnya mengerucut lucu. “Kau memberikan kalung yang sama—bentuknya.”

“Aku hanya ingin memperbaruinya. Sebagaimana dengan status kita yang sudah berubah.”

“Ini memang lebih bagus dibanding yang terakhir kau berikan. Hehehe.”

Ya, kalung dengan bentuk yang sama. Berbandul huruf ‘K’ berukuran lebih kecil namun disertai sentuhan-sentuhan apik sehingga terlihat tidak ada duanya. Bolehkah Soo Rin menganggap bahwa kalung ini memang Ki Bum pesankan hanya untuk dirinya?

Belum lagi… Oh!

Soo Rin baru melihat ini. Ada sesuatu yang terukir di balik bandul ‘K’ tersebut, begitu halus dan hampir tak tertangkap mata jika Soo Rin tidak menelitinya. Lalu, wajahnya semakin merona begitu saja ketika mengerti maksud dari ukiran halus tersebut.

212121

Itu adalah tanggal lahirnya, tanggal lahir Kim Ki Bum, dan… tanggal bersejarah mereka di mana persatuan resmi yang mengubah istilah keduanya menjadi satu kesatuan sah di hadapan Tuhan.

Soo Rin masih mematung di tempatnya ketika tangan besar itu mengambil alih, membiarkannya melihat gerak-gerik prianya yang mulai mengumpulkan surai panjangnya ke sebelah bahu, memudahkan akses untuk mengaitkan kalung berwarna silver tersebut dengan hati-hati. Selama itu berlangsung, Soo Rin hanya mampu menunduk malu ditemani debaran jantungnya yang semakin tidak tertolong.

“Setidaknya, ‘K’ yang sekarang bukan lagi yang bisa ditemukan di toko aksesoris di luar sana.” Ki Bum berkata begitu menyelesaikan tugasnya. Tangannya yang masih bertengger memain-mainkan bandul yang kini menggantung cantik di sumber feromon favoritnya. Lalu berulah dengan mengecup sebelah pipi merona itu penuh sayang dan mesra, sebelum mengucapkan, “Happy Birthday, Chagi-ya.

“Te-terima kasih…” suaranya begitu lirih karena kegugupan yang sudah menguasai. Lihat saja wajahnya yang sudah padam hingga ke telinga. Dia memang merasakan panas yang menjadi di kedua pipinya.

Kim Ki Bum selalu tahu bagaimana membuat Park Soo Rin tidak berkutik di genggamannya seperti ini.

“Ini bukan satu-satunya.”

“A-apa?”

“Sebenarnya aku ingin mengatakan ini ketika aku menyelesaikan pekerjaanku di hari ini. Tapi dokter perayu itu sudah membongkarnya.”

Mengerjap beberapa kali, Soo Rin mencerna kalimat yang berangsur berubah menjadi gerutuan ala Kim Ki Bum hingga ia terhenyak lalu berbalik begitu saja. Cukup membuat pria yang sudah melepas kacamata silindernya itu ikut terhenyak akan tindakan dadakannya.

“Jadi itu benar? Kau akan mengambil cuti?” Mata jernih Soo Rin mulai menunjukkan binar antusiasnya.

Kim Ki Bum yang sempat terpana kini terpengaruh akan raut wajah kesukaannya hingga ia mendengus geli. Menyimpan kedua tangannya di balik saku celana, mulai mengumbar senyum.

“Aku memang sudah mendapatkannya.”

“Benarkah?! Huwaaaaaa!” Soo Rin melupakan segalanya, berubah menjadi gadis cilik yang berjingkrak-jingkrak kegirangan, mengundang tawa dari sang pria akibat tingkah tiba-tibanya ini. “Kapan kau mulai cuti? Kau benar akan cuti selama dua minggu? Jadi kita bisa berlibur di musim panas tahun ini? Euh, tunggu, kalau begitu aku harus mulai menyiapkan segala sesuatunya untuk berlibur nanti. Tapi, ke mana kita akan berlibur? Apa kita bisa berlibur ke Pulau Jeju? Ugh, jika tidak bisa, tidak masalah! Kita bisa berlibur ke pantai terdekat! Kita bisa—”

Tidak tahan dengan mulut yang mulai berceloteh tanpa henti dan penuh semangat, Ki Bum kembali merengkuh si ramping sebelum menutup mulut cerewet itu dengan mulutnya. Oh, baiklah, Ki Bum memang kembali berulah. Dengan tawanya yang belum mereda, ia mencium gemas candunya hingga sang empu kembali tidak berkutik.

“Bagaimana aku bisa menjawab jika kau terus saja berbicara?” kekehnya yang seketika membuat Soo Rin salah tingkah lagi. “Aku memang sudah mendapatkan jatah untuk cuti kemarin. Ya, aku mengambil cuti dua minggu lamanya mulai di awal bulan depan. Dan kita akan berlibur ke tempat yang kau mau itu.”

“Benarkah? Kita bisa ke Jeju?”

“Aku bahkan sudah memesan tiket pesawat untuk ke sana beserta villa.”

Soo Rin tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi, tersungging amat lebar hingga membuncahkan perasaannya yang meletup-letup kesenangan. Tanpa bisa dikontrol lagi, ia memeluk pria kesayangannya ini seraya berjingkrak kegirangan. Berseru penuh suka cita yang tentunya dibalas oleh Kim Ki Bum dengan senang hati.

Jinjja, jinjja, jinjja?

“Aku tidak mungkin menipumu hingga sejauh ini.”

“Kita benar akan ke Jeju? Bulan depan? Huwaaaaa! Aku akan berlibur ke Jeju!!”

Gemas dengan perilaku Soo Rin, Ki Bum menarik pinggang gadisnya, mengangkatnya yang seketika terdengar pekikan yang justru membuatnya tertawa. Pandangan mereka langsung bertemu. Dan Ki Bum melihat ada binar terkejut beberapa saat sebelum wajah itu kembali menunjukkan raut cerianya.

“Kau suka dengan hadiahnya?”

Soo Rin mengangguk seperti anak kecil, memamerkan cengirannya yang menggemaskan. “Terima kasih atas hadiahnya. Ah, aku rasa ini kejutan yang bagus. Hehehe.”

Ki Bum ikut terkekeh mendengarnya. “Kalau begitu di mana imbalanku?”

“Imbalan?” Soo Rin cemberut seketika. Membuat Ki Bum terkekeh geli sebelum akhirnya menurunkan tubuh ringan sang gadis.

“Setidaknya sebagai bentuk terima kasihmu.” Ki Bum sedikit mencondongkan wajahnya. “Aku ingin ppoppo.”

Ish! Kau seperti anak kecil saja,” gerutu Soo Rin sudah dihiasi semburat kemerahan, namun tidak menampik bahwa dia tersenyum saat ini.

“Atau, kau boleh menciumku seperti di pagi hari tadi.”

Eh? Pagi hari… tadi…

EEH?

K-Kim Ki Bum tahu?! Bagaimana bisa?!

By the way, you such a good kisser in this morning. Where did you learn it, hm?”

Oh, sial…

Bagaimana Kim Ki Bum bisa tahu?! Apakah… apakah… oh, astaga! Itu bukan mimpi? Dia benar-benar melakukannya?!

“Apa kau bisa sehebat itu jika sedang tertidur?”

“I-itu… aku tidak tahu.” Soo Rin menciut seketika. Belum lagi melihat pria itu semakin mengikatnya agar tidak ke mana-mana, seperti sudah tahu pasti bahwa Soo Rin memiliki niatan untuk kabur saat ini juga.

Ya, ampun… tadi pagi dia benar-benar mencium Kim Ki Bum?

Soo Rin semakin gugup ketika mendengar kekehan geli dari Ki Bum. Keningnya harus mengernyit sebagai bentuk kebingungannya akan tingkah prianya saat ini. Ayolah, Soo Rin sedang berpikir keras di saat Kim Ki Bum justru menertawakannya. Apa dirinya saat ini sedang terlihat lucu di mata pria itu?

“Kenapa kau serius sekali?” Ki Bum mencubit pelan hidung Soo Rin masih sambil tertawa. Apalagi melihat reaksi gadisnya yang meringis disertai wajahnya yang makin merona. Ough, menggemaskan sekali!

“A-aku… aku ha—”

Ki Bum mengatupkan bibir Soo Rin dengan telunjuknya, memberikan senyum teduh yang sudah cukup membuat si gadis terpaku.

“Aku mengerti. Kita tidak akan melakukannya di sini,” kemudian sunggingan teduh itu berangsur berubah, “Aku tidak mau mengacaukan hari ini hanya karena aku yang tidak bisa berhenti jika sudah merasakan ini.”

Blush…

Semburat merah itu makin tidak bisa disembunyikan. Apalagi desiran yang makin menjadi berkat usapan penuh rasa pada bibir bawahnya oleh ibu jari pria itu. Cepat-cepat Soo Rin menepis tangan jahil tersebut. “Kau bahkan sudah mengambilnya beberapa menit lalu,” gerutunya seraya merengut malu.

“Aah, kau benar…” Ki Bum memicing disertai senyum aneh. “Itu berarti aku boleh memintanya sekarang, bukan?”

Y-yaa!!”

“Setidaknya beri aku di sini.” Ki Bum tidak peduli dan justru menunjuk-tunjuk sebelah pipinya di hadapan Soo Rin. “Kalau kau tidak mau, aku akan membatalkan jadwal cutiku.”

“JANGAN!!” jelas saja Soo Rin kelabakan. Bayangannya akan liburan musim panas bersama si dokter sibuk bisa kacau jika semua itu batal!

“Kalau begitu, lakukan. Aku hanya meminta satu kecupan di sini, bukan di si—”

Oh, baiklah. Soo Rin ternyata berhasil membuat Kim Ki Bum diam. Alih-alih karena godaannya, Soo Rin terlalu kalut jika Kim Ki Bum benar-benar membatalkan jadwal cutinya. Jadi, tanpa berpikir panjang lagi ia meraih wajah tegas Kim Ki Bum dan menubruk bibir penuh itu dengan bibirnya sendiri. Hanya sebatas itu, memang apa yang diharapkan dari seorang Park Soo Rin? Ciuman memabukkan? Itu ‘kan keahlian si pria.

Maka dari itu, tidak mau membuang kesempatan yang ada, Ki Bum yang cepat tanggap langsung mengambil alih. Meraih pinggang Soo Rin untuk ia dekap semakin rapat, barulah memainkan bibirnya di permukaan candunya yang sudah mendarat lebih dulu. Sudah tahu Kim Ki Bum tidak bisa tahan sedikit jika hal ini sudah terjadi, tetapi Soo Rin berani memulainya.

Hei! Itu ‘kan akibat dari ancamannya sendiri! Siapa suruh mengancam Park Soo Rin untuk menciumnya supaya tidak membatalkan rencana? Ugh, tetapi Ki Bum ‘kan hanya menyuruh Soo Rin mencium pipinya, bukan bibirnya. Tapi… ah, sudahlah! Tidak ada yang perlu disalahkan. Semua sudah terlanjur.

Jadi biarkan Kim Ki Bum yang menguasai candunya sendiri.

Soo Rin hanya perlu mencari pegangan di bahu lebar prianya dan pasrah. Membiarkan sensasi menggelitik itu bangkit ketika sang dominan mulai menyesap bibir bawahnya, mengulumnya layaknya permen cokelat kesukaan sebelum berpindah ke atas. Melakukan hal sama yang semakin membuat rasa panas itu membentuk pusat di kedua pipinya. Tanpa ia sadari, mengikuti jejak sang pria di mana ia mendapat kesempatan untuk mencicipi bagian bawah bibir penuh yang aktif itu. Hingga ia harus dibuat begidik akibat respon tak terduga berupa geraman tertahan yang seketika menghentikan aktivitas naluriahnya.

“Park Soo Rin.”

Oh, Soo Rin ingat suara ini. Suara prianya yang berintonasi sama dengan yang ada di mimpinya. Tunggu, itu memang bukan mimpi! Dia memang melakukannya! Tapi bagaimana bisa?!

Soo Rin tidak sempat meraup udara bebas yang ada. Terlanjur merinding akibat panggilan serak itu dan ia harus terengah-engah begitu tangan besar tersebut menyusup ke balik rambutnya, membelai tengkuknya sebelum menekannya demi memperdalam ciumannya yang semakin memabukkan. Tidak kuat menahan pesona keahlian seorang Kim Ki Bum, Soo Rin melepas lenguhannya di kala pria itu menyesap bibir atasnya terlalu dalam. Tangan-tangannya dengan gemetar meremas bahu lebar itu dan beralih mengalung begitu saja ketika sang ahli berpindah lagi, semakin menjadi dengan menggigit yang sudah memerah itu hingga Soo Rin lemas begitu saja. Jika sebelumnya dia masih bisa membuat sedikit pertahanan, untuk kali ini dia membiarkan indera pengecap itu menerobos masuk ke dalam setelah sempat membelai daun luarnya.

Padahal Kim Ki Bum sempat berkata bahwa dia tidak mau mengacaukan hari ini. Tetapi, semua itu seolah omong kosong yang tidak pernah terlontar dari mulutnya yang sudah berubah nakal—teramat nakal—karena candunya yang sudah berada di dalam teritori kuasanya. Sudah dikatakan bahwa Kim Ki Bum tidak akan berhenti jika sudah menyentuh candunya yang tidak pernah berubah rasa dan selalu membuatnya mabuk kepayang hingga selalu lepas kendali seperti ini. Jadi, siapa yang harus disalahkan?

Dering ponsel itu menyelamatkan Soo Rin, atau mungkin menyelamatkan keduanya. Ketika deringan itu tidak kunjung berhenti, Ki Bum harus—benar-benar—menggeram dan melepas segala kenikmatan yang ada secara tidak rela, menyambar ponsel pintarnya yang tergeletak di meja, tanpa melihat siapa pengganggu aktivitasnya, langsung saja ia tempelkan benda tersebut ke daun telinga.

“Apa?” ada nada kesal di balik satu kata yang mencuat dari mulutnya, dan itu semakin tampak di wajahnya ketika mendengar suara si penelepon.

“Ingat durasi, Dokter Kim. Kita hanya ada lima menit tersisa sebelum waktunya kontrol!”

Oh, shit!

Soo Rin yang masih harus mengumpulkan orientasinya, sedikit terkejut ketika Kim Ki Bum mengumpat di depannya. Ya, di depannya. Mereka masih di posisi awkwardbut not really awkward—omong-omong. Tapi sepertinya Kim Ki Bum tidak peduli.

“Sepertinya aku menelepon di waktu yang tidak tepat. Tapi untung saja aku tidak memilih untuk masuk ke dalam ruang berbahaya-mu. Aku sudah kapok.”

Kikikan Kim Jae Kyung di seberang sana sudah cukup membuat Ki Bum semakin keki. “Sudah selesai, bukan?” maka dari itu setelah berkata demikian, tanpa menunggu balasan, Ki Bum langsung memutus telepon dari rekan kerjanya itu.

Oh, dia sudah terbiasa bersikap tidak sopan terhadap seorang wanita jika wanita itu adalah Dokter Jae Kyung. Karena hanya wanita itu yang berani menggodanya dengan cara seperti baru saja.

Memanfaatkan kesempatan yang ada, Soo Rin mencoba melepas diri dari jeratan yang mulai mengendur, dengan cara melangkah mundur yang sayangnya disadari betul oleh sang penjerat. Soo Rin tidak berani menatap prianya yang tampak marah akibat merasa terganggu. Ditambah, dia harus menyembunyikan rona wajahnya yang masih padam dengan cara menundukkan kepala, tentunya.

“K-kau harus kembali bekerja.” Soo Rin bersuara meski bernada cicitan.

Ki Bum menarik napas dalam, berusaha untuk tidak menarik si gadis kembali ke dalam jeratannya dan segera beralih meraih jubah putihnya untuk kembali ia kenakan, begitu juga kacamata silindernya.

“Aku akan segera kembali.”

Soo Rin menggeleng cepat. “J-jangan terburu-buru. Aku… akan segera pulang setelah ini. Aku akan menunggumu di rumah.”

Mendengarnya, ada rasa bersalah sedikit menyarang. Di hari ulang tahun gadisnya sendiri, Ki Bum masih harus disibukkan dengan pekerjaannya yang hampir tiada jeda. Mengangkat satu tangan, Ki Bum mengusap sayang puncak kepala si kesayangan.

“Kim Ki Bum…”

Hm?”

“Jangan mengumpat soal pekerjaanmu. Aku masih bisa menunggumu. Lagipula… lagipula sebentar lagi kau sudah libur cuti…”

Tangannya beralih turun, merengkuh wajah yang masih merona itu dan membelainya dengan lembut. Ki Bum menyungging senyum bersalah. “Maaf.”

Kini Soo Rin mendongak, tersenyum manis pada prianya, berkata, “Jadi, jangan batalkan jadwal cutimu. Ya?” ada kedipan memohon yang berefek pada binar mata jernihnya. Seperti puppy yang tengah memohon untuk diberi perhatian.

Maka dari itu Ki Bum terkekeh pelan. “Baiklah,” mendekat kembali lalu memberikan kecupan sayang di kening berponi Soo Rin, memberikan kenyamanan sehingga desiran menyenangkan itu bersarang—pada dirinya pula, “Aku tidak akan membatalkannya,” lanjutnya yang segera disambut kekehan suka cita dari Soo Rin.

Gadisnya itu seperti sudah lupa dengan apa yang baru saja terjadi di antara mereka hanya karena dirinya tidak jadi mengabulkan ancaman yang sebenarnya hanyalah gertakan kosong.

Lagipula, mana mungkin Ki Bum membatalkannya yang bisa berefek samping pada semua rencana yang sudah dia siapkan dari jauh-jauh hari? Meski dia masih mampu melakukan hal sama di kesempatan lain, Kim Ki Bum bukanlah pria kaya berprofesi tinggi yang rela membuang uang hasil jerih payah secara sia-sia.

tumblr_mggqilKQ6r1r4cfelo1_500_large

F I N


ALOHAA!!! SIAPA YANG KANGEN KISUKISU?! 🙌 //ganyante//

ini pas banget ya, aku posting di hari lebaran hehehe~ Happy Ied Mubarak untuk semua yang merayakan~ mohon maaf lahir batin 😄 maafkan aku yang masih selalu gantungin kisukisu hwhw aku belum jadi author pro, masih menganggap diri sendiri sebagai author newbie yang labil huhu tapi semoga dengan cerita ini sedikit terbayarkan yaa hehehe 🙏

seperti yg sempat aku tulis di awal, cerita ini terinspirasi sekaligus menjadi lanjutan dari cerita kisukisu ala Pokupon hehehe bisa diraba-raba lah yaa ceritanya seperti apa. Soalnya, itu….itu hadiah ultah dari Poku yang bikin aku hampir batal puasa (apa emang udah batal?) gegara kesemsem sampe melting  waktu itu huwaaaaaaahh >////< She gave a wonderful surprise for me~ dengan kemampuan menulisnya yang selalu berhasil menciptakan alur yang manis semanis gulaku/? kisukisu berasa makin fluffy yang aku sendiri sampe klepek-klepek guling-guling di kasur 😭😭 gegara itu imajinasiku turned on sampe akhirnya jadilah cerita ini hahaha cuma karna waktu itu masih puasa jadi aku tahan-tahan (?) karna jadinya begini.. baru aku tuntasin hari ini, bagian youknowlah itu wkwkwk

so, terima kasih bagi siapa saja yang masih bersedia menjadi pembaca kisukisu ^___^ yang sudah bosan, maafkan aku karena belum bisa membuat cerita yang jauh dari kata membosankan hehehe

salam~

wp-1467797294787.jpeg
busy Doctor Kim
wp-1467797397046.jpeg
lovely Park Soo Rin

Mohon maaf lahir dan batin semuanyaa~ ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

18 thoughts on “My KI

  1. Hallo, selamat hari raya idul fitri jg Siska, makasih udah update Kisu2 nYa…aku kangen mereka, Adiran sama Sasha nya jg kkkkk…
    Untung gak keblablasan, Soo rin memang gak ada tandingannya, Ki bum selalu dibuat kepayahan kal menyangkut gadisnya, beruntungnaaya soorin dapet si cowok cool, pinter, tampan dll…mereka memang Zuperrrrrr sekali…

    See you Siska 😘

  2. OMG!!!!!!!!
    Kisi-kisi comeback😂 miss you buat author dan the best couple kisukisu
    Ditunggu liburan nya mereka nihh semoga over romance ya lol😂

  3. Kya,Kya THR dari eon berupa kisukisu kkkk😀 maaf lahir batin eon🙏 yaampun akhirnya jeju juga 😀smoga eon bisa lanjut yg mereka liburan ke jeju 😀😀😀keep fighting eon😄

  4. ya ampun siskachii ;_____;
    ini tuh bikin aku ngerasa campur2 sumpah ;___;
    tiap siskachi nge – summon sesuatu dari cerita sebelumnya, aku langsung ‘DEG!’ ini mau diapaiiin aku maluuuu sendirii bacanya T///T
    Siskachi memang membuat FF ini buat siapapun, but i’d really love to say : Thanks a lot for sharing such a beautiful fic like this.
    ily ily ily ily everyday even more ♡♡♡♡ ;______;

  5. Untung puasa udah kelar yeee jadi kagak batal di tengah hari😂😂 kumerindukan kisoo (or kibum sebenernya)😘😘😘

    Selamat lebaran and Happy Birthday Shizuka-ssi, may the odds be ever in your favor(?)🎉🎉🎉

  6. Aaaaaaa…….
    pgn kya mreka 😂😂😂😂😂
    sweet bgt…
    bnran bkin guling2 g jls sma snyum2 sndri…
    dah mrip org gla deh aq.he3x…
    slalu salut ma qm yg bsa bwt ff skren ni 😊😊😊
    smangat trus ya 😉

  7. Rasanya lamaaa bgt gak bca kisukisu. Jd pas ada email masuk rasanya seneng bgt.
    Dokter tan menggagalkan kejutan ki bum utk soo rin. Selalu tak terkontrol jika kibum udah bersentuhan dgn soo rin.xixixi

    Selamat lebaran jg elva. Maaf lahir batin.

  8. kangen bgt rasanya sama KiSoo. Dan akhirnya Soorin bisa ke Jeju juga >.<
    Semangat terus ya, dan di tunggu cerita KiSoo yang lainnya.
    Selamat Hari Raya Idul Fitri,
    Mohon maaf lahir dan batin.

  9. Sebenarnya seagresif apa sorrin itu,,?
    Sampai merona gitu..

    Ahhh liburan kissonya di tunggu ya,,

    Ttp cumungut elva ya

    Mohon maaf lahir batin jga ya…😆😆

  10. Aduh telat ngucapin “Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Dan Batin” Eon 😀

    Cie cie Ki Bum bisa liburan ke Jeju juga kayanya bakal banyak moment seru diantara KiSoo , liat mereka romantis-romantisan berasa jadi Soo Rin ikutan malu , merona , seneng dan deg-degan

  11. akhirnya bisa berlibur juga, puas-puasin dah kalian berdua bermesraannya dan semoga dapat kabar baik ^^. Kim Kibum mah selalu tahu bagaimana caranya memanfaatkan kesempatan yang ada ckck. ok selamat berlibur Kik Kibum dan Park Soorin XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s