Posted in Fiction, Fluff, PG-15, Vignette

S T A Y

wp-1466258068110.jpeg

Fluff | PG-15 | Vignette

||KiSoo’Territory||

“Merindukanku, hm?”

H A P P Y   R E A D I N G


ELVABARI ©2016

WAKTU sudah menunjukkan tengah malam. Di luar sana sedang turun hujan yang membuat Soo Rin semakin menenggelamkan diri di dalam selimut. Lampu utama kamar sudah dipadamkan, menyisakan lampu meja nakas yang remang.

Biasanya Soo Rin sudah bisa terlelap jika kondisi ruangan sudah seperti ini, hanya saja, rasanya percuma jika dia bergumul di dalam selimut seorang diri. Sisi ranjang lainnya masih kosong. Melihat kenyataan itu membuat Soo Rin merengut muram.

Kenapa pria itu belum juga kembali? Ini sudah sangat larut. Apa pria itu tidak mengerti jika Soo Rin akan kesulitan tidur jika dia tidak ada di sisinya? Apalagi sedang turun hujan seperti ini, Soo Rin tidak nyaman jika harus tidur seorang diri.

Ugh…” belum lagi kondisi perutnya yang sedang memprihatinkan. Apa perlu ditanya lagi mengenai tamu bulanannya yang selalu membuat mood-nya turun drastis seperti ini?

Soo Rin menggulingkan tubuhnya hingga ke sisi ranjang lain, tempat prianya biasa berbaring. Seketika penciumannya menangkap aroma khas pada bantal tersebut yang membuatnya semakin merindukan si diktator itu. Menarik bantalnya sendiri demi menekan perut nyerinya sekaligus memeluknya.

Ia mengambil ponsel pintarnya yang tergeletak di antara bantal. Bibir bawahnya tertarik ke bawah, melihat tidak ada kabar apapun dari pria itu. Padahal sudah berkali-kali Soo Rin mengirim pesan, juga mencoba untuk meneleponnya, tapi sungguh menyebalkan! Si dokter sok sibuk itu tidak juga meresponnya.

Kim Ki Bum, kau masih lama?

Soo Rin mencoba mengirim pesan lagi. Dari sekian pesan yang berderet memenuhi ruang chat-nya bersama pria itu, tidak ada satu pun pesannya yang dibaca.

Sungguh tega sekali.

Apa kau benar-benar sibuk?

Tidak bisakah kau menundanya sebentar saja? Aku tidak bisa tidur.

Perutku sakit sekali ㅜㅜ

Ponselmu itu tidak bisa berbunyi, ya?

Kenapa tidak membalasku?

Setidaknya baca pesan-pesanku!

Atau kau tidak sudi membaca pesan-pesanku?

Apa laptopmu itu lebih berharga dibanding membaca pesanku, huh?!

Kim Ki Bum menyebalkan!

Dokter menyebalkan! Jangan kembali kemari!!

Soo Rin melempar ponselnya kembali. Heol, hanya karena masalah sepele seperti ini, Soo Rin hampir menangis. Salahkan hormonnya yang sedang sangat labil jika tamu bulanannya baru hari pertama datang. Di saat dia membutuhkan kehadirannya, pria itu justru lebih memilih bekerja tanpa mau melihat keadaannya kini. Huh!

“Sakit…” Soo Rin merengek pelan. Mengeratkan pelukannya pada bantal, menekan perutnya yang kembali berulah di dalam sana. “Ugh,” berjengit pelan ketika mendengar gelegar petir di luar sana disertai deru hujan yang semakin lebat. Menggerakkannya untuk menarik selimutnya hingga menutupi telinga.

Hiks… dia tega sekali meninggalkanku sendirian di sini—euh, dia juga sendirian di sana… tapi ‘kan dia tidak takut sendirian. Apa dia lupa jika aku benci sendirian di saat hujan-petir seperti ini? Bagaimana bisa dia lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan aku?

Aah, mungkin dia sudah bosan menemaniku. Maka dari itu dia lebih memilih bekerja entah sampai kapan. Mungkin sampai matahari kembali terbit supaya dia bisa kembali kemari hanya untuk mandi lalu bekerja lagi.” Soo Rin terus saja meracau di balik selimutnya. Mengalihkan rasa sakit juga kesepian dengan terus mencerca pria itu tanpa peduli jika saja gerutuannya didengar.

Memangnya siapa yang peduli?

“Bagaimana bisa kau berpikir sejauh itu?”

Soo Rin menyembulkan mata. Mengerjap cepat di kala mulutnya langsung bungkam. Oh, dia baru saja mendengar suara lain menyahutnya. Tapi dia tidak mendapati siapa pun di hadapannya, masih kosong. Tidakkah itu menyeramkan sekali? Jangan-jangan ada penghuni dari dimensi lain yang tidak suka mendengar celotehan negatifnya baru saja.

Belum selasai keterpanaannya mereda, Soo Rin merasakan selimutnya bergerak lalu merasakan sesuatu masuk ke dalam. Tubuhnya terhenyak ketika merasakan ada tangan besar melingkari tubuhnya dan langsung mengikatnya dari belakang. Saat itu juga jantungnya melompat-lompat begitu punggungnya bertemu dengan tubuh bidang tersebut.

“Sudah berani mengusirku, hm?”

Bulu roma Soo Rin meremang dibuatnya. Suara berat itu mengalun tepat di depan telinga. Belum selesai sampai situ, tangan besar lain menyusup ke bawah lehernya, mengikatnya lagi hingga ruang geraknya habis. Soo Rin hanya mampu menelan saliva setelahnya.

Ternyata Kim Ki Bum bisa menyeramkan juga. Bayangkan saja, pria itu datang tanpa adanya tanda-tanda kehadiran. Soo Rin bahkan tidak mendengar suara semacam pintu kamar terbuka maupun langkah kaki yang memberi tahu bahwa dia sudah ada di dalam kamar, tetapi ini?

“Datang tiba-tiba, seperti di film horor saja…”

Mendengar gumaman ngeri itu, Ki Bum tertawa pelan. Hembusan napasnya menerpa sebelah telinga Soo Rin hingga ia merasakan tubuh gadisnya ini menegang lagi. Reaksi yang cukup menggelitiknya.

“Kau membuatku hilang konsentrasi.”

“Oh, kupikir kau sudah membuang ponselmu.”

“Aku masih bisa membacanya, Park Soo Rin.”

“Di tempatku tidak ada tanda bahwa kau membacanya, Kim Ki Bum!”

“Ponselku terus saja menyala tiap kau mengirim pesan, Sayang.”

Ugh…” Soo Rin tidak membalas, lebih memilih merasakan wajahnya memanas hanya karena satu sebutan yang keluar dari mulut Kim Ki Bum. Memilih untuk menyembunyikannya di balik bantal yang masih dipeluknya, semakin meringkuk hingga menarik perhatian pria di belakangnya.

“Sakit?”

“Tidak. Kembalilah bekerja dan jangan pedulikan aku.”

Ki Bum mendengus mendengar jawaban ketus yang teredam oleh bantal di pelukan si gadis. Baiklah, Ki Bum akui bahwa pertanyaannya barusan sudahlah konyol dan wajar jika gadisnya semakin keki karenanya. Maka sebagai gantinya, tangan besarnya beralih ke balik bantal hingga menemukan apa yang dikeluhkan Soo Rin. Merasakan bagaimana tubuh si empu tersentak setelahnya.

“Kim Ki Bum, sedang apa?”

Hm… menyembuhkanmu?”

Ish! Tidak perlu!” Soo Rin memutar sedikit tubuhnya, menarik tangan besar itu dari perutnya. Dia memang harus segera mengenyahkan tangan itu sebelum berubah haluan mengingat bagaimana kulit hangat itu menggesek kulit perutnya.

Kim Ki Bum ‘kan selalu bisa memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan!

“Menghangatkan perutmu bisa sedikit meredakan rasa sakitnya, Soo Rin-ah.”

“Aku tidak percaya.”

“Kau pasti berpikiran yang tidak-tidak.”

“A-aku hanya merasa sudah cukup dengan bantal!”

“Aah, jadi kau ingin aku membuka semuanya dan menghangatkannya dengan tubuhku.”

“Siapa bilang?!”

“Baiklah.”

“Kim Ki Bum!!!”

Gelak tawa pria itu menggema di ruangan ini. Melihat Soo Rin yang panik disertai semburat merah padam di wajahnya hanya karena gertakan ringannya. Well, Ki Bum selalu berhasil menggoda Park Soo Rin sampai terlihat raut kecut bercampur marah di wajah cantik kesukaannya.

“Kau benar-benar menyebalkan! Dokter Mesum menyebalkan! Jangan menyentuhku!!” Soo Rin memukul pria itu dengan bantal di pelukannya. Terduduk di tempatnya setelah berhasil melepas diri, berseru penuh kesal apalagi melihat yang dipukul justru semakin tergelak. “Pergi, sana! Urus saja pekerjaan dan pasienmu itu! Aku tidak akan mengganggumu la—kyaa!”

Soo Rin jatuh meringkuk begitu ekor matanya melihat kilatan sinar berkedip di luar jendela. Detik berikutnya dia merasakan tangan-tangan besar itu menariknya ke dalam dekapan juga menutup telinganya sebelum akhirnya suara gemuruh itu terdengar.

Gelegar petir di luar sana juga teredam berkat tawa berat Ki Bum yang belum reda hingga merambat menenangkan Soo Rin. Memancing Soo Rin untuk mengintip lebih cepat dan melihat dada pria itu sudah menghalangi pandangannya.

“Masih menginginkan aku pergi, eh?” suara berat Ki Bum mengejek dengan halus. Terkekeh pelan ketika melihat bagaimana gadisnya menggeleng cepat serta menyembunyikan wajahnya ke dalam rengkuhannya. “Dasar labil.”

“Biarkan saja!”

Senyum lebar menghiasi bibir penuhnya, sebelum akhirnya berulah mengecup bagian pelipis sang gadis penuh gemas. Dia selalu suka jika sudah memeluk gadisnya seperti ini.

“Kenapa kau justru mengirim banyak pesan di saat kau bisa datang ke ruanganku?”

“Aku tidak mau mengganggu.”

“Apa bedanya dengan mengirim banyak pesan padaku tanpa henti?”

“Jelas saja beda. Aku hanya menunjukkan tulisanku, bukan wujudku.”

“Dua-duanya tetap menggangguku.”

Ugh… ya, aku memang ingin mengganggumu supaya kau cepat kembali.”

“Merindukanku, hm?”

“Aku tidak bisa tidur.”

“Dasar.” Ki Bum tergelitik dibuatnya. Tahu benar bahwa Park Soo Rin tidak bisa berkata terlampau jujur dan memilih untuk berdalih. “Karena aku sudah kembali, kau mau apa?”

“Tidur.”

“Hanya itu?”

Soo Rin mendongak, merengut kecut yang justru terlihat menggemaskan di mata Ki Bum. “Aku ‘kan sudah bilang bahwa aku tidak bisa tidur jika kau masih bekerja!”

“Setahuku kau tidak bisa tidur jika aku tidak memelukmu.”

Ish!”

“Tidak bisa mengelak berarti itu benar.”

“Bukan begi—” Soo Rin terpaksa menelan kembali suaranya, bibir pria itu sudah membungkamnya, menekannya lembut dan mulai memanjakannya. Soo Rin hanya mampu mengerjap cepat sebelum akhirnya terpejam ketika tangan besar itu merengkuh pinggangnya hingga timbul sensasi menggelitik.

“Kau terlalu banyak menyangkal. Itu benar-benar menggangguku.” Ki Bum menggumam setelah membuat jarak hanya beberapa senti. Menatap dalam mata jernih yang kembali mengintip dari balik kelopaknya.

Sedangkan Soo Rin berusaha menghindari. Tangan-tangannya yang gemetar karena gugup mulai mendorong dada pria itu. “Mi-minggir! Masih ada tempat lain jadi jangan mengambil tempatku!”

“Ini tempatku, Soo Rin-ah. Kau lupa?”

Oh, benar juga. Bukankah tadi Soo Rin berguling ke tempat Kim Ki Bum karena bosan menunggu pria itu?

Berdeham pelan, menyembunyikan rasa malunya, Soo Rin menggeser tubuhnya sembari menahan rasa kesalnya karena pria itu terlihat seperti tengah menertawakannya. Tapi sayangnya, Soo Rin harus kembali ke pelukan prianya mengingat tangan-tangan besar itu masih mengikatnya, merasakan deru napas hangat itu membentur wajahnya—lagi.

Lalu terpejam begitu saja ketika Kim Ki Bum kembali menciumnya, membuainya dengan lumatan lembut dan seketika melemaskan tubuhnya. Jika saja dia sedang berdiri mungkin akan terasa sangat jelas bagaimana kedua kakinya berubah seperti jelly. Bahkan dia terlihat pasrah kala pria itu merebahkankan tubuhnya, hanya beberapa saat sebelum akhirnya matanya terbuka lalu mendorong dada bidang itu ketika merasakan sengatan tak terduga di bagian perutnya.

“K-Kim Ki Bum—”

Ssh…” berdesis halus di atas candunya, Ki Bum memamerkan senyum penuh arti. “Aku ingin mengalihkan rasa sakitmu. So, just relax.

Soo Rin meneguk saliva sebelum bibir penuh itu kembali menimpa miliknya, menuntutnya untuk memejamkan mata kembali dan menikmati betapa lihainya Kim Ki Bum mendominasi. Merasakan tubuhnya bergetar berkat kerja tangan besar itu yang membelai permukaan kulitnya secara teratur serta halus seringan bulu. Menghantarkan sengatan tak terelakkan hingga beberapa kali menegangkan syaraf-syaraf tubuhnya. Keningnya mengerut begitu jelas akibat sensasi tak terbendung akan belaian di bibirnya, menggerakkan tangan-tangannya untuk meremas pakaian prianya ketika lumatan itu semakin dalam—lalu berubah seolah ingin menguasainya.

Soo Rin hampir saja memekik ketika gemuruh petir itu kembali terdengar. Teredam oleh bungkaman Kim Ki Bum yang justru dimanfaatkan dengan baik oleh pria itu dengan menyusup lebih ke dalam mulut sang gadis yang terbuka. Menaikkan suhu tubuh keduanya di tengah dinginnya udara malam hari berkat turunnya hujan lebat yang disertai gemuruh petir—yang berangsur tidak mengejutkan Soo Rin lagi.

Karena Kim Ki Bum berhasil mengalihkan seluruh atensi Soo Rin dari sekitar dan hanya tertuju pada sentuhan-sentuhan memabukkan darinya. Di balik selimut tebal serta di atas bantal yang sama.

“Kim Ki Bum…”

Hm?”

“Aku sedang datang bulan.”

“Aku tahu.”

“K-kalau begitu, bisakah kau menyingkir dari—aak!”

“Sakit?”

Ugh…

“Mau kubuatkan teh mint?”

“Ini bukan perutku tetapi telingaku, Kim Ki Bum!”

“Aku mengalihkannya, bukan?”

Byuntae!!”

“Aku senang kau menikmatinya.”

Ya—”

Well, semoga saja Kim Ki Bum memang tidak lupa. Tidak lupa akan keadaan Soo Rin saat ini. Serta tidak lupa akan dirinya sendiri.

wp-1466270371593.jpeg


FIN


Jadi, cukup sampai di sini. Kalo dilanjut nanti malah batal puasanya wkwkwk

alohaaaaaaaa!! lama tidak bersuaaaa 😆😆😆

iya aku tau tempat ini sudah terlantar, ga ada yang ingat apalagi kangen sama kisukisu jadi biarkan aku saja yang kangen sama mereka hiks.. 😂

seperti biasa, cerita macam ini terilis berkat akunya juga lagi kayak Soo Rin, jadi pengennya tuh yang manis-manis bayangin kimkibum bahahaha maafkan aku >< aku tau kimkibum sudah menggoda iman di waktu puasa ini #ga Kalau dibacanya masih sahur atau pas berbuka sih gapapa. Dan kalau diteliti, aku udah kasih tanda underline di rated pg15 loh xixixi

btw judulnya ngga sesuai ekspektasi banget ya…..soalnya aku ngetik cerita ini sambil dengerin lagu UP10TION – Stay, pengennya sih jadi rekomendasi tapi ga nyambung juga orang artinya ga sesuai sama isi ceritanya bahahaha tapi klop aja gitu di aku 😅

yaudahlahya, ngga ngaruh juga orang ceritanya seperti biasa absurd kok hwhwhw

ohya, aku kaget ternyata blog ini masih ada yang ngerusuh.. padahal lama ga update ternyata banyak notifikasi masuk berupa komentar dari pembaca hehe terima kasih banyaaaaakk sekali karna sudah bersedia memberi apresiasi 😄😄😄

dan terima kasih bagi siapa saja yang masih bersedia membaca cerita ini. Aku tau, tulisanku masih belum sempurna. Tapi rasanya jadi mendekati karena ada yang mengapresiasi hehehe

so see u next time! (iniudahpanjangbanget) 😊

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

19 thoughts on “S T A Y

  1. Untung belom imsak bacanya .. takut batal puasa haha ..
    Soo Rin mah malu malu meong/? Suka mah bilang suka kangan bilang kangen mesti yahh kode kodean hha /biar kekinian/
    Kalo Ki Bum itu bener nyari kesempatan dalam kesempitan hha .. bisa aja yaahhh

  2. Pas baca masih belum imsya’, jam segini baru posting komentar (sebelum paketan habis), hehehe
    Aku pikir kibum masih ada di rumah sakit, ternyata mereka sedang ada di atap yang sama, soorin benar-benar harus selalu menempel pada kim kibum…

  3. siskachii aku bacanya pas udah imsak. gimana dong? ._.
    huweee tadinya tuh mau nahan aja sampe buka tapi ko ya udah kangen berat sama tulisan siskachi jadi ya huhuuu Y.Y
    wkwkwkwk aku ngakak pas baca ” Kim Ki Bum ‘kan selalu bisa memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan!”
    duuuh emesh bangeet sii :(( atuhlah mau satu yang kayak kimkibum :(((

  4. Astaga tadi ku kira ki bum masih ada dirumah sakit tp ternyata dia cm di ruang kerjanya dirumah. Bener2 pasangan ini bikin iri. Emang bener kata soorin kibum itu bisa memanfaatkak kesempata semaksimal mungkin ya.xixuxi

  5. Untung lagi gak puasa pas baca 😂😂😂 Ku merindukan kisoo kok.. Kisoo soalnya sering bikin mesem-mesem gaje😂😂 sometimes sering ngebayangin gimana rasanya jadi Soorin dan punya cowok macam Kibum😄😄😄😵

  6. Daaan rilis lagiii.. 😆😆
    Senengnya kisukisu updet lagi, gak ada bosennya deh baca kisukisu yg bikin senyum” sendiri kalo lagi baca 😁😁. Btw aku baca ini pas banget sama kaya soorin, duh kita sama yaak. mueheheh

    Mangaaat buat dirimu kaaak lopelope dah 💓💓

  7. waaah.. Aku kira gak bakal update selama ramadhan.
    Daan seperti biasa KiSoo selalu bisa bikin senyum-senyum sendiri ><

  8. where can i find a guy like this fucking kim kibum?! i want him in my life huhu
    good things that i read this fic in the midnight lol ya kalo baca di siang hari puasa ku sumbing wkwkw XD
    as always i love the fluffiness of this kisoo couple /smooch/

  9. Huaa karna terlampau penasaran aku buka nya udah sholat subuh huaaa batal kagak puasa ane eon :3 uh moga aja kagak,
    Nih coupel buat iri banget. -,- aku juga mau digituin? Haha lanjutin lagi dong eon

  10. Duhh baca jam segini puasa ku batal ga ya Kkkkk
    Kim Kibum si dokter mesum byuntae 😊😊
    SooRin masih malu2 aja ya kalo sama Kibum 😁

  11. Kim Kibum ingat lho, Soorin sedang datang bulan a.k.a haid wkwkwkwkwkwk. Kim Kibum emang bisa bener cara meredakan rasa nyerinya Soorin, duhhh dasar mesum tapi gak apa-apa selama mesumnya sama istri sendiri XDD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s