Posted in Fiction, PG, Romance

Guardian

tumblr_luip4iFsxs1qeogk5o1_500

inspired by. Yong Pal-i

Sleeping Beauty | Awake | Where is She? | Bad Luck | Empty

H A P P Y   R E A D I N G


©2016 ELVABARI

SOO RIN mengedarkan iris matanya ke segala penjuru ruangan yang kini tengah ia singgahi. Dalam hati ia terkagum-kagum dengan dekorasi ruangan ini yang begitu nyaman. Dipenuhi sentuhan khas yang membuatnya merasa tidak asing. Sebenarnya dia bingung dengan tata bangunan tempat ini. Ini sebuah rumah, bukan? Tapi bagaimana bisa rumah dengan arsitektur sederhana begini memiliki lorong panjang serta ruangan tersembunyi di bawahnya?

Soo Rin masih ingat bahwa dirinya dibawa naik dari lift yang bersembunyi di balik lemari buku di sebelah timur dari posisinya saat ini. Entah bagaimana cara kerja lemari itu karena Soo Rin sendiri baru tahu bahwa lift yang baru saja ia tumpangi menghilang begitu saja.

Dan kini, Soo Rin sudah duduk di sebuah sofa yang empuk dan hangat, dengan bantal yang menjadi sandarannya saat ini, memandangi setiap sudut dari ruangan ini. Tidak ada yang bisa dia jadikan sebagai petunjuk akan pemilik rumah ini. Ruangan yang bisa disebut sebagai ruang santai ini hanya diisi dengan perapian, satu set sofa, tv plasma, dan beberapa lukisan yang menghiasi dindingnya. Oh, tidak lupa dengan jam dinding yang terpasang tepat di atas tv plasma yang terpajang di hadapannya kini. Soo Rin akhirnya mampu mengetahui bahwa kini hari sudah malam dengan waktu menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit.

Keterkagumannya harus selesai sampai di situ kala pria itu datang dan tanpa berkata apapun duduk di sebelahnya. Soo Rin melihat gerak-gerik pria itu yang ternyata kembali dengan membawa kotak obat. Semacam pertolongan pertama. Selain itu, pria yang sudah fokus terhadap tangan Soo Rin yang terluka itu juga membawa handuk bersih namun basah untuk menyeka punggung tangannya yang sempat dubalut oleh robekan kemeja pria itu. Soo Rin menyadari bahwa pria itu belum mengganti pakaiannya hingga dirinya masih menemukan bekas robekan itu. Dia juga baru menganggap bahwa sepertinya pria bernama Kim Ki Bum itu memiliki cara berpikir yang amat cepat hingga tanpa ragu dia mau mengoyak pakaiannya sendiri hanya demi membalut sementara lukanya tadi.

Tidak ada yang berniat untuk membuka percakapan. Soo Rin membisu dan hanya mengamati bagaimana Ki Bum mengobati lukanya dengan telaten. Raut wajah pria itu benar-benar tidak terbaca, seolah sudah sangat mahir untuk menyembunyikan ekspresi manusiawinya, atau bahkan memang tidak memiliki ekspresi manusiawi. Mengingat begitu misteriusnya pria ini sejak Soo Rin membuka mata. Namun di sisi lain, Soo Rin tidak sepenuhnya merasakan bahwa pria ini begitu kelam. Mengingat apa saja yang sudah pernah dia dapat dari pria ini, bagaimana pria ini memerhatikannya dengan cara yang misterius pula. Sebenarnya siapa Kim Ki Bum? Kenapa pria ini mau dan sudi menolongnya seperti sekarang ini?

You just hurt yourself again, you realize that, right?”

Soo Rin mengerjap cepat. Hampir salah tingkah karena mengira pria ini memergokinya yang sudah mengamati terlalu lekat. Lalu mengerjap lagi karena ternyata Kim Ki Bum mengangkat pandangannya dan langsung menunjukkan sorot tajamnya tepat ke iris matanya.

I’ve told you to not hurt yourself. How many time should I tell you? More than three?

Soo Rin tidak menjawab, tidak bisa menghindar pula. Entah mengapa. Tatapan itu seperti menguncinya yang justru membuat tubuhnya berubah kaku. Dia bahkan tidak sadar bahwa dirinya sudah menahan napas karena jarak mereka yang sudah dekat—dan semakin dekat.

Breath, Girl.” Ki Bum justru menyadarinya, dan tanpa ragu menegur si gadis dengan suara rendahnya, barulah ia membuat jarak kembali lengang. Merapikan peralatan obatnya kembali ke dalam kotaknya lalu bangkit meninggalkan sang gadis lagi.

Soo Rin harus melipat bibirnya ke dalam. Terpaksa mengakui bahwa dirinya memang salah tingkah setelah ditegur seperti tadi oleh Kim Ki Bum. Bagaimana bisa dirinya melakukan hal konyol tanpa dia sadari seperti tadi? Dia sendiri tidak mengerti kenapa perlakuan sederhana yang sebenarnya tidaklah penting dari pria itu ternyata mampu membuatnya bereaksi… sedikit berlebihan seperti baru saja.

Menepis pikiran anehnya, Soo Rin mengedarkan pandangannya kembali. Kali ini matanya terpaku pada sebuah tirai putih gading yang menghalangi jendela. Tapi jika diperhatikan kembali, Soo Rin menyadari bahwa terdapat gagang di bagian tengah, jika ditebak-tebak, bukankah itu tidak lain adalah pintu kaca? Well, pintu kaca manual tentunya. Tidak seperti yang ada di ruang isolasinya itu.

Soo Rin pun menggerakkan tubuhnya, mencoba untuk berdiri dengan bertumpu pada sofa, menyeret kaki-kakinya secara perlahan. Matanya terus tertuju pada pintu kaca yang entah mengapa begitu menarik perhatiannya kini. Mengabaikan langkahnya yang tertatih-tatih karena harus menaiki satu anak tangga untuk mencapai ke sana, dan tanpa ia harapkan kakinya yang belum pulih itu harus mengalami disfungsional sesaat hingga menyandung pijakan berikutnya.

“Ceroboh.”

Soo Rin mengerjap cepat. Menyadari bahwa suara berat itu sudah berada di belakangnya, mengucapkan satu kata tersebut dengan intonasi datar khasnya. Dan yang membuatnya terdiam adalah bagaimana tangan besar itu sudah melingkari perutnya, menolongnya dari kemungkinan buruk yang bisa menimpanya karena keteledorannya barusan. Jika saja pria itu tidak datang bagaikan hantu tanpa tanda-tanda, mungkin Soo Rin sudah menubruk pintu kaca tersebut.

Hanya saja bukannya mengucapkan terima kasih, Soo Rin justru mengangkat sebelah tangannya mencoba meraih gagang pintu di hadapan. Mencoba kembali menyeret kaki-kakinya meski masih merasakan tangan besar itu menahan tubuhnya. Tapi ternyata perbuatannya memudahkan Ki Bum untuk berdiri tepat di belakangnya. Hingga ia melihat tangan-tangan itu terulur di sisi-sisi tubuhnya, menyentuh gagang pintu kaca tersebut dengan pasti serta membukanya.

Seketika saja mereka disambut oleh hembusan angin menerpa, menggelitik kulit yang tidak terhalang balutan pakaian hingga salah satunya bergidik terpaku. Soo Rin membuka mulutnya, merasa takjub dengan pemandangan yang ada. Ia memang tengah menghirup udara segar. Hingga tanpa sadar mulai memejamkan mata. Seperti tengah menghirup udara kebabasan.

“Aku bisa merasakan aroma laut…” gumamnya lirih. Matanya terbuka. “Apa kita sedang berada di dekat laut?”

“Semacam itu,” tidak disangka bahwa Ki Bum akan menyahut. Untuk kali ini dia membiarkan gadis itu melangkah keluar. Berdiri di balkon yang ada. Ki Bum hanya mengikutinya dan berdiri di sisi sang gadis. Menatap ke depan di mana hanya ada kegelapan yang hampir pekat karena masih ada sinar bulan sabit juga bintang-bintang yang menemani.

“Kapan terakhir kali aku melakukan ini?” Soo Rin bergumam pelan. Matanya kembali terpejam menikmati hembusan alam yang menerpa. Beberapa bagian tubuhnya seperti melakukan peregangan hingga ia merasa rileks. “Rasanya sudah lama sekali…” dan tanpa sadar Soo Rin menarik sudut-sudut bibirnya. “Aku ingin ke sana…”

Ki Bum menoleh, melihat gadis itu masih menutup mata menikmati hembusan angin laut. Dan dia menangkap lengkungan samar itu—namun memukaunya.

“Bisakah aku ke sana?”

“Ya.”

Soo Rin membuka mata, ikut menoleh dan lagi-lagi harus terpaku oleh mata hitam pekat yang ternyata sudah mengarah padanya. Dia tidak tahu bahwa pria itu memerhatikannya. Entah sejak kapan.

“Benarkah?”

“Jika kau sudah pulih.”

Di saat itu juga Soo Rin merasa getir. Ia menunduk lemah. “Aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa sembuh atau tidak.”

Ki Bum mengerutkan kening samar. Sedikit merasa tidak suka dengan ucapan gadis itu yang begitu pesimis. Meski pada kenyataannya bahwa memang kondisi gadis itu tidak akan menjadi seperti dulu.

“Karena itu kau harus yakin untuk pulih. Maka aku akan membawamu keluar.”

Mereka kembali saling memandang.
Hingga kemudian suara aneh mengalun lirih. Namun masih bisa didengar oleh keduanya, terutama Soo Rin. Gadis itu segera menunduk. Tangannya bergerak menyentuh bagian perutnya. Ia menggigit bibir diam-diam. Mulai ada rasa malu.

“Sudah berapa lama aku tidak makan?”

Ki Bum sendiri hanya mengerjap. Dia memang sangat ahli dalam mengontrol emosi sekaligus mimik wajah hingga gadis itu hanya melihatnya yang terus memasang raut datar. Ki Bum justru hanya mengangkat kedua alisnya kala melihat ada tatapan menuding ke arahnya seolah tengah menuduhnya. Mungkin mengira bahwa dirinya tengah menertawakan sang putri.

“Kita pindah ke dapur.” Hanya itu yang diucapkan Ki Bum sebelum kemudian dengan cekatan mengangkat tubuh Soo Rin. Ia dapat merasakan adanya kegugupan pada tubuh yang ia sentuh ini, terlebih kedua tangan halus itu meremas ragu-ragu bagian pundak kemejanya.

“Aku bisa berjalan sendiri.”

“Aku tidak suka bergerak lambat.”

Jelas saja Soo Rin merasa tersinggung. “Aku belum sembuh total!”

“Karena itu aku membawamu.” Ki Bum mampu membalas dan itu telak. Karena setelah itu Soo Rin memilih bungkam dan membiarkan pria itu membawanya ke dalam.

Soo Rin harus terpana melihat pemandangan di seberang meja pantry di sana. Pria itu dengan lihai juga penuh cekatan berkutat dengan segala peralatan dapur juga bahan-bahan makanan. Tangan-tangannya bergerak lincah memotong, mencincang, maupun memegang alat memasak lainnya. Pria itu seperti seorang koki kelas atas yang tengah menunjukkan kebolehannya pada Soo Rin sampai-sampai gadis itu hampir berdecak kagum. Bahkan tidak terasa bahwa waktu berjalan sudah cukup lama hingga kini Soo Rin sudah disuguhkan semangkuk hasil masakan Kim Ki Bum.

images

Cream soup?” Soo Rin hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ia pun harus meminta penjelasan pada si raut datar itu yang sedari tadi hanya menatapnya. “Apa ini bisa mengenyangkan?”

“Jika itu yang kau khawatirkan, masih ada satu panci lagi untukmu.” Ki Bum mengedikkan kepala ke belakang di mana panci itu bertengger di atas kompor listrik di sana. Ia melihat gadis itu merengut tidak berminat.

“Jadi selama ini aku menunggumu yang sedang memasak… cream soup?”

“Kau ingin aku membuatkan bubur untukmu?” Ki Bum mengangkat sebelah alisnya, menantang. “Aku akan membuatkannya jika kau memang mau menghabiskannya sampai tandas.”

Soo Rin mengernyit tidak suka. Sepertinya pria itu tahu bahwa dia tidak menyukai makanan bernama bubur itu. “Kenapa semua orang selalu membuatkan makanan semacam itu untuk orang sakit?” gerutunya kemudian.

“Karena bubur lebih mudah dicerna untuk orang sakit. Tidak memiliki rasa dan cukup ditelan saja. Di samping itu bubur adalah makanan paling aman untuk orang-orang sepertimu.”

Soo Rin memicing pria yang masih berani menatapnya dengan sorot tajam namun penuh menantang itu. Ia sedikit tersinggung dengan kata-kata “orang-orang sepertimu” dari mulut Kim Ki Bum. Apakah dia pikir Soo Rin adalah orang lemah yang hanya mampu memakan sejenis bubur itu?

Eat that. You can eat more if you want.” Ki Bum kembali berucap dengan bahasa asal. Oh, Soo Rin baru menyadari bahwa beberapa lama ini Ki Bum berbicara menggunakan bahasanya.

“Dari mana kau berasal?” Soo Rin pada akhirnya melontarkan kurioritasnya itu.

Is that important to you?” Ki Bum berbalik bertanya. Nadanya semakin datar saja.

“Ya. Kau sudah membawaku kemari. Penting bagiku untuk mengetahui siapa yang sudah berani membawaku,” ujar Soo Rin ikut dengan nada datar, “atau bisa dikatakan menculikku,” lanjutnya sarkastis.

Ki Bum mendengus jelas. Untuk pertama kalinya Soo Rin melihat pria itu mengangkat sudut bibirnya, membentuk lengkungan asimetris yang bisa disebut dengan sebuah seringaian. Entah mengapa, Soo Rin merasakan bulu romanya meremang karena melihat pemandangan tersebut.

“Aku bukan orang sini. Kau cukup tahu itu.”

“Aku tidak boleh tahu dari mana kau berasal?”

Ki Bum hanya memandang lekat Soo Rin beberapa saat. Dia merasa berhasil membuat gadis itu menyerah karena sepasang mata jernih itu perlahan-lahan menghindarinya dan berakhir pada soup cream di hadapan.

Eat that, Girl. You said that you were hungry.

Soo Rin menghentak napasnya sebelum akhirnya meraih sendok yang ada. Sup krim buatan Ki Bum begitu kental dengan potongan-potongan daging ayam dan sayur-sayuran. Aromanya sebenarnya menggunggah selera Soo Rin hingga ia mulai menyendoknya perlahan. Dan Soo Rin harus tercenung beberapa saat setelah berhasil mencicip sesendoknya. Mengerjap beberapa kali sebelum kemudian mencicipnya lagi, satu sendok, dua sendok, tiga… dan seterusnya. Melahapnya hingga tandas begitu saja.

Sebenarnya Soo Rin gengsi mengakuinya, tapi… heol, sup krim buatan Kim Ki Bum sangat enak! Bahkan lebih enak dari sup krim buatan restoran bintang lima yang pernah Soo Rin datangi. Kira-kira dari mana pria itu belajar? Ataukah jangan-jangan dia seorang koki—mantan koki lebih tepatnya? Atau sebenarnya hanya ini keahlian pria itu? Ah, tidak mungkin. Soo Rin masih ingat bagaimana cara memasak pria itu tadi. Tidak mungkin makanan yang tergolong ringan itu adalah keahlian satu-satunya.

Want some again?”

Spekulasi Soo Rin harus berhenti tepat suara Ki Bum terdengar. Ia melihat pria itu sudah menyangga tubuhnya pada sisi meja dengan satu tangan besarnya yang kekar.

I guess that one is not enough while you really enjoyed it.

Soo Rin menggerutu dalam hati, membenarkan ucapan menyindir dari pria itu secara tidak rela. Tapi mau bagaimana lagi? Dia memang menikmatinya dan memang belum merasa cukup hanya dengan satu mangkuk. Maka dari itu Soo Rin harus mengangkat mangkuknya yang sudah kosong dengan malu-malu, melirik pria itu sebelum memilih untuk menghindar kala ia berhasil menyodorkan mangkuknya.

Juseyo…” bersuara lirih sebagai bentuk permintaannya yang langsung dimengerti pria itu.

Tanpa Soo Rin sadari, Ki Bum mengangkat sudut-sudut bibirnya meski samar juga sesaat sebelum ia meraih mangkuk gadis itu lalu berbalik mengambilkan satu mangkuk sup krim lagi.

Tanpa mampu dicegah, Soo Rin meneguk saliva begitu satu mangkuk sup krim kembali tersaji di hadapannya. Aromanya yang begitu kental berhasil menggerakkannya untuk menggoyangkan sendoknya ke dalam mangkuk dan menyuapkannya ke dalam mulutnya begitu saja. Jika saja ada yang melihat perilaku Soo Rin, dia pasti berpikir bahwa Soo Rin seperti tidak makan berhari-hari. Tapi memang begitulah kenyataannya, bukan? Soo Rin bukan lagi tidak makan berhari-hari, namun berbulan-bulan. Tubuhnya yang semakin kurus itu hanya diberi asupan makanan cair dalam bentuk infus selama dirinya tidak sadarkan diri. Dan itu memang tidak menjamin bahwa tubuhnya akan tetap dalam porsi dulu kala.

Juseyo…” Soo Rin berhasil menghabiskan porsi keduanya. Kini tanpa ragu ia menyodorkan mangkuknya yang kembali kosong ke hadapan Ki Bum. Membuat pria itu mendengus samar dan menerima mangkuk tersebut.

Hanya saja Ki Bum tidak langsung berbalik melainkan justru menghampiri Soo Rin, membungkukkan tubuhnya hingga kini wajahnya sejajar dengan wajah gadis itu, dan tanpa berkata apapun satu tangannya yang bebas menyentuh kulit wajah halus itu, menggerakkan ibu jarinya di sudut bibir sang gadis yang seketika membuat si empunya mematung.

Such a little kid,” gumam Ki Bum dengan suara rendahnya. Deru napasnya cukup mampu membentur kulit wajah Soo Rin hingga gadis itu merasakan tubuhnya berdesir halus.

Barulah Ki Bum menegakkan tubuhnya, melepas segala sentuhannya lalu berbalik hendak mengambilkan kembali sup krim untuk sang putri.

Sedangkan Soo Rin harus menunduk, melipat bibirnya diam-diam, membersihkan sisa sup krim yang mungkin masih menempel di sana. Namun ia tidak mampu membersihkan jejak kulit hangat itu yang entah mengapa membekas dan terasa masih nyata.

Oh, dan lagi, Soo Rin harus merutuki mengapa wajahnya tiba-tiba menghangat hanya karena perilaku Kim Ki Bum yang sekadar membersihkan sisa sup krim di sudut bibirnya.

****

Mereka sudah berada di ruangan Soo Rin. Ki Bum mendudukkan gadis itu ke bangsalnya secara hati-hati. Setelah acara makan malam yang menghabiskan waktu tidak sebentar karena Soo Rin benar-benar menghabiskan krim sup buatan Ki Bum, tidak disangka bahwa satu panci krim sup bisa menampung 5 mangkuk untuk gadis itu seorang. Namun karena 5 mangkuk itu Soo Rin harus dibawa kembali ke ruangan ini. Dia sempat mengira bahwa Kim Ki Bum sudah memasukkan semacam obat tidur ke dalam krim sup buatannya karena dia merasakan kantuk yang bermunculan. Tapi dia juga bersaksi bahwa pria itu memasaknya dengan bersih.

“Bagaimana kau membangun semua ini?” Soo Rin melontarkan kurioritasnya yang lain. Di saat pria itu mulai memasangkan kontak infus ke sebelah lengan bagian dalam.

Well, Soo Rin sudah membubuhkan luka di kedua punggung tangannya. Tidak memungkinkan untuk memasangnya di sana lagi, bukan?

Is that important to you?”

Soo Rin menghela napas berat. Kenapa pria itu enggan sekali dalam menjawab keingintahuannya?

Keadaan kembali hening. Soo Rin hanya memandang pria yang tengah bekerja dengan cekatan di lengannya. Dia tidak menyangka bahwa pria itu bisa melakukan hal ini yang justru semakin menambah rasa ingin tahunya soal identitas seorang Kim Ki Bum. Sebenarnya siapa orang ini?

“Kenapa kau membangun tempat ini di bawah rumahmu? Apa kau memang sedang menyelamatkanku atau menyembunyikanku? Atau kau menculikku?” Soo Rin melontarkan pertanyaannya lagi, ia memejamkan mata sejenak. “Ah, jika kau memang menculikku, sudah semestinya aku mati sejak awal,” gumamnya seraya kembali menatap pria itu. “Kenapa kau memperlakukanku seperti ini? Aku bahkan tidak mengenalmu, dan kurasa begitu juga sebaliknya. Tapi kenapa kau melakukan semua ini padaku?”

Bukannya mendapat jawaban, Soo Rin dibuat terpaksa mengatup mulutnya rapat-rapat karena pria itu tiba-tiba mensejajarkan wajah mereka hingga berjarak beberapa senti saja. Dia melihat dari ekor-ekor matanya bagaimana kedua tangan kekar itu yang sebelumnya bekerja di tangannya kini beralih bersandar pada sisi-sisi bangsal tepat di dekat pundaknya. Sekali lagi Soo Rin harus merasakan deru napas pria itu menggelitik kulit wajahnya samar-samar.

You talk too much, Girl,” tegur Ki Bum dengan suara rendahnya. Mata kelamnya menumbuk kejernihan manik Soo Rin hingga gadis itu tak mampu berkedip. “You only need to know that I’m here to watching you.”

Soo Rin mengerutkan kening. Dia menyadari bahwa Ki Bum baru saja menekan satu kata itu dari mulutnya. “Apa yang kau maksud dari kata watching itu? Mengawasi? Untuk apa? Apa karena aku sudah tidak memiliki siapapun maka kau akan mengambil alih?”

You are too much asking,” Ki Bum menegur sekali lagi. Namun sepertinya Soo Rin sudah tidak peduli.

“Karena perbuatanmu memancingku untuk bertanya-tanya. Siapa kau sebenarnya? Itu adalah pertanyaan terbesarku. Dan lagi, aku memiliki nama. Aku rasa kau sudah tahu itu. Tapi kenapa kau memanggilku dengan sebutan seperti yang kau ucapkan sebelumnya?” ya, Soo Rin sadar bahwa selama Kim Ki Bum bicara tidak pernah menyebut namanya sama sekali dan justru menggunakan sebutan lain. Itu sedikit mengganggunya karena pria itu seolah menganggap si tanpa nama.

Mereka terdiam. Membiarkan mata mereka saling beradu. Soo Rin terlalu sulit untuk membaca pikiran Ki Bum, pria itu benar-benar misterius sampai-sampai ekspresinya tidak mampu dia baca melalui tatapan kelamnya. Sedangkan Ki Bum terlalu mudah membaca ekspresi Soo Rin sehingga ia memilih untuk bungkam dan tidak menjawab segala pertanyaan gadis itu. Ki Bum akhirnya menjauh, kembali menegakkan tubuhnya setelah ia menekan tombol di bawah bangsal Soo Rin, membiarkan gadis itu terbaring mengikuti perubahan fungsi pada bangsal itu. Ia baru saja sedikit memutar tubuhnya ketika sentuhan halus itu berhenti di tangannya yang terbuka. Ki Bum menoleh cepat dan melihat gadis itu sedang memandang tangannya yang ternyata bersentuhan dengan tangan Soo Rin yang sedikit mengudara.

Sebenarnya Soo Rin sempat ingin menahan pria itu dengan meraih tangannya. Hanya saja gerakannya ternyata tidak secepat yang dia mau ditambah jari-jemarinya berubah kaku kala kulit tangan mereka bergesekan. Dan ia kebingungan apa yang harus dia lakukan setelahnya.

“Jangan matikan lampunya. Itu membuatku frustasi…” lirihnya spontanitas. Dia memikirkan hal itu ketika Ki Bum berbalik hendak meninggalkannya. Dia masih ingat terakhir kali sebelum keluar dari sini bahwa ruangan ini sudah berubah remang begitu terakhir kali membuka mata. Di sisi lain, sebenarnya dia tidak ingin pria itu pergi.

Dia benci sendirian.

Ki Bum mengalah. Ia meraih tangan itu, menggenggamnya selama ia membawanya ke sisi tubuh terbaring sang gadis. Matanya menumbuk dalam iris kecoklatan yang begitu jernih itu. Menggerakkannya untuk justru mengeratkan genggamannya yang sontak menyalurkan aliran aneh pada keduanya.

“Kau pernah bertanya padaku, apakah kau harus memercayaiku atau tidak.”

Soo Rin mengerjap pelan, memutar kembali memori tersebut di dalam kepala di mana itu terjadi sekitar dua jam yang lalu.

Apakah Ki Bum sedang menjawab salah satu pertanyaannya sebelumnya?

“Kau memang harus memercayaiku. Apapun yang terjadi. Karena memang hanya aku yang bisa kau andalkan, sekarang. No need to know who I am. Just you know that I’m the one who will protect you from them, Park Soo Rin.

****

Ki Bum baru saja keluar dari ruang perawatan Soo Rin. Setelah memastikan gadis itu tertidur pulas di bangsalnya berkat kesediaannya untuk menemani, dia memilih untuk kembali ke tempat kerjanya yang berjarak hanya beberapa langkah dari pintu masuk terluar ruangan sang putri.

Ketika dirinya masuk ke dalam ruangannya, dia langsung disambut oleh seseorang yang entah sudah sejak kapan berada di dalam. Terbaring di sofa empuk miliknya. Melihat orang itu mengangkat lengannya yang menjadi penghalau sebagian wajah tegasnya, Ki Bum justru memberikan tatapan tidak sukanya.

You’re late. It’s been more than six hours,” ujarnya datar. Menuding orang itu yang dia sadari baru saja pulang dari bepergiannya.

Aiden memeriksa arloji yang tersemat di tangan kirinya. Bibirnya lalu tertarik mengulas senyum samar. “Oh, aku terlambat dua jam dari waktu yang ditentukan.”

You know your fault.” Ki Bum menutup pintu ruangannya. Tidak membanting namun cukup terdengar nyaring. Dia tidak langsung duduk ke meja kerjanya melainnya bersedekap dengan dagu terangkat. “Something happen, hm?

Tidak diduga bahwa Aiden akan mendapatkan pertanyaan semacam itu dari mulut Ki Bum. Mata teduhnya sedikit melebar meski hanya sepersekian sekon, dia langsung mengontrol mimik wajahnya dan bergantu mendengus samar. “Are you worry about me?

Kini giliran Ki Bum yang mendengus, sedikit menyesal karena sudah mengajukan pertanyaan itu. Aiden justru terlihat sedang mengejeknya. “Get out from my room.

Aiden terkekeh geli. Begitu cara Kim Ki Bum jika mulai kesal. Dia sendiri juga sedikit menyesal karena sudah menepis kebaikan pria itu yang bersedia menanyakan keadaannya. Aiden pun bangkit dari sofa, berlaga meregangkan tubuhnya. “Aah, sofamu benar-benar nyaman. Jadi jangan salahkan aku karena terus saja menyusup ke dalam ruanganmu hanya untuk menumpang tidur,” ujarnya jenaka. Ia pun mendekati Ki Bum, menepuk-tepuk pundak lebar pria itu. “You’ve worked so hard, Kim Ki Bum. Don’t worry about me. This is my choice to helping you, so I can handle it.

Ki Bum mengerti benar maksud ucapan Aiden. Namun ia memilih diam kala pria itu melangkah keluar dari ruangannya. Membiarkan Aiden yang baru saja terlibat masalah yang cukup membuat pria itu tampak kelelahan seperti ini, namun sepertinya memilih untuk tidak berbagi padanya.

Sedangkan Aiden menghela napas panjang begitu berhasil menutup rapat pintu ruangan Ki Bum. Keheningan langsung menyergapnya yang berdiri di lorong gelap ini. Matanya lalu menyorot pintu kaca di sana, di mana ada cahaya lampu di baliknya yang masih mampu menembus hingga radius beberapa langkah saja namun cukup meratapi keputusannya yang memilih untuk tidak menceritakan bebannya ini.

Karena Aiden tahu pasti, sejak awal memilih keputusan ini, dia harus menerima konsekuensi yang ada. Tidak peduli bahwa mereka adalah orang terdekatnya, namun itu tidak menjamin mengingat betapa berbahayanya dunia luar sana.

Dan Aiden memilih untuk ikut menyelamatkan sang putri dari dunia yang berbahaya itu.

****

Di suatu tempat di mana orang-orang kalangan atas sedang berkumpul, tampak diselimuti suasana yang cukup tidak mengenakkan. Mereka telah duduk mengelilingi meja besar yang membentang hampir memenuhi ruang rapat ini. Beberapa dari mereka nampak saling bercakap dengan raut wajah memprihatinkan. Mereka berpakaian amat rapi dengan jas kantoran yang membaluti tubuh mereka. Tidak lupa dengan dasi yang tersemat di dada mereka.

Segera saja mereka menghentikannya begitu pintu ruangan ini terbuka, menampakkan sosok pria tampan dengan raut dinginnya, melangkah pasti masuk ke dalam lalu berhenti di sisi meja di mana hanya ada satu tempat duduk, menyapa seisi ruangan ini dengan mata beriris cokelat legamnya yang tajam.

“Terima kasih atas kesedian anda sekalian untuk memenuhi undangan rapat dari saya,” ujar pria itu seraya membungkukkan badan sebagai tanda hormat dan salam untuk mereka.

Geurae. Kalau begitu, bisakah kita memulai pembahasannya? Mengenai bagaimana nasib saham kami di tangan perusahaan ini.”

“Ini sudah bulan ketiga semenjak Park Hyuk Kwon Sajangnim meninggal dunia. Dan HK Company belum juga mendapatkan pemimpin pengganti. Perusahaan ini bisa saja hancur hanya dalam hitungan beberapa minggu lagi.”

“Bagaimana bisa anda terus-terusan menahan kami untuk tidak menarik saham kami dari perusahaan yang sudah berada di ambang kehancuran seperti ini?”

“HK Company sudah tidak memiliki harapan lagi. Perusahaan ini sudah berakhir.”

Pria berparas tegas dengan rona pucat itu memilih diam sejak mereka bersahut-sahutan melontarkan keluhannya. Mengetahui bahwa waktunya telah tiba, ia akhirnya mencoba untuk tersenyum.

“Sebagai salah satu penanam saham di perusahaan Park Hyuk Kwon, saya mengerti bagaimana perasaan anda sekalian. Tetapi saya memilih untuk bertahan karena HK Company tidak sepenuhnya bangkrut. Semenjak kepergian beliau, saya mengerahkan apa saja yang bisa saya lakukan untuk menstabilkan nasib perusahaan ini agar tidak berdampak buruk pada saham yang sudah tertanam. Apakah ada di antara saham kalian yang mengalami kemunduran selama tiga bulan belakangan ini?”

“Jadi, anda yang menangani semua ini?”

“Ya. Berhubung saya memiliki akses lebih besar ke perusahaan ini, saya berusaha untuk membuat HK Company tetap berdiri. Saya rasa itu cukup berhasil karena tidak ada kerugian yang fatal baik pada pihak Park Hyuk Kwon maupun kita semua. Benar, bukan?”

“Tapi tetap saja HK Company tidak memiliki pemegang tertinggi. Perusahaan ini bagaikan rumah tak beratap yang sangat percuma untuk kita huni.”

“Lalu, apa yang harus kita lakukan supaya HK Company kembali memiliki atap yang baik untuk kita huni?”

“Hah! Apa kau baru saja bertanya pada kami? Kau ingin kami ikut berpikir memecahkan masalah yang sudah jelas bagaimana jawabannya, Cho Sajangnim?”

Pria itu mempertahankan senyumnya. Dia kemudian meletakkan kedua tangannya di atas meja besar tersebut, menumpukan tubuh tegapnya di sana, matanya mengamati wajah para pria yang kebanyakan sudah berumur di hadapannya satu persatu.

“Putri dari Park Hyuk Kwon masih dalam masa pencarian. Dia adalah satu-satunya pengganti dari Park Hyuk Kwon. Jadi, sampai kita berhasil menemukannya, bukankah ada baiknya kita mencari pemegang sementara dari HK Company?”

Mereka terdiam lagi, saling melempar pandang, beberapa dari mereka ada yang mengangguk-angguk seperti membenarkan ucapan pria itu.

“Tapi siapa yang bersedia menjadi pemegang perusahaan ini?”

“HK Company termasuk perusahaan yang besar. Kita tidak bisa asal memilih pemimpin walaupun itu hanya sementara.”

“Bahkan kita sendiri tidak berani mengajukan diri.”

“Kalau begitu, jika anda sekalian setuju, saya bisa mengajukan diri untuk menjadi pemegang sementara HK Company.”

Mereka yang ada di ruangan ini terperangah mendengar ucapan pria itu.

“Apa anda yakin, Cho Sajangnim?”

“Perusahaan anda juga termasuk besar dan berpengaruh. Apa anda bisa memegang perusahaan besar ini juga?”

“Jika hanya untuk sementara, saya akan menyanggupinya. Tentunya saya juga membutuhkan kerja sama dari anda sekalian agar perusahaan ini tetap dapat menampung kita semua.” Pria itu kembali menegakkan tubuhnya, mengela napas ringan. “Namun jika anda tidak setuju, kita akan mencari orang lain yang bisa kita percaya.”

“Tidak. Kurasa itu keputusan yang buruk.”

“Memangnya ada orang lain yang bisa kita percaya di luar sana?”

“Lebih baik kita memilih Cho Sajangnim yang sudah melakukan banyak hal untuk perusahaan ini sekaligus menyelamatkan saham kita.”

Pria itu menarik sudut bibirnya melihat mereka tampak saling berdiskusi. Hanya sekilas maka tidak ada yang menyadari bahwa ia baru saja menyeringai pada mereka.

At least, it just the opening,” gumamnya. Pelan dan hanya dia sendiri yang mendengarnya. Karena gumaman itu terdengar mengerikan seperti desisan ular berbisa.

 spao13


Q&A

Q: Jadi Dong Hae itu teman Hyuk Jae? Kenapa dia tidak memberi tahu bahwa Soo Rin ada sama dia?

A: Seperti yang dikatakan di atas. Dunia luar saat ini berbahaya. Jadi dia memilih untuk merahasiakan keberadaan Soo Rin. Karena Lee Hyuk Jae sendiri tidak aman. Hihihi

Q: Kim Ki Bum itu siapa? Kenapa dia misterius sekali?

A: Sebagaimana dengan kehidupan aslinya yang juga misterius. Sampe sini juga dia masih misterius ya hahaha XD

Q: Jadi siapa si tokoh jahat itu?

A: Nah! Udah ketahuan ya di sini siapa. Udah aku selipin juga mukanya. Seperti yang pernah aku bilang kalau aku bakal mencatut dari member SJ wkwk

Jangan protes ya. Kapan lagi coba liat yang sering jadi tokoh utama di tempat lain jadi tokoh antagonis di sini? Sebagaimana dengan aktor/aktris di sana, ngga melulu memainkan peran yang sama. 

Eh tapi kimkibum ga ada perubahan ya…

yakan dia cuma dipake di sini. Dia sudah langka, jadi biarkan dia jadi sorotan di sini (?) Yang udah sering jadi sorotan di luar sana biar aku acak-acak lagi di sini XD #duaagh

Maaf, aku baru bisa publish cerita yang ini. Aku tau kalo cerita ini peminatnya sedikit banget, tapi apa mau dikata kalo imajinasiku lebih mengutamakan cerita ini dulu hwhw Jadi, semoga pembaca tetap menikmati tulisan abalku ini ya..

Sebenarnya aku nggak begitu ahli dalam mengarang cerita dengan genre bisnis kayak yang di atas. Maafkan aku jika ada kesalahan teori. Karna aku sendiri membayangkan seperti yang pernah aku tonton dalam drama dan aku padukan dengan logikaku sendiri hahahaha tapi kalo mau kasih koreksi juga gapapa kok.. siapa tau aja ke depannya bisa lebih masuk akal lagi >< hwhw

Ngga lupa untuk selalu mengucapkan terima kasih untuk siapa saja yang masih mau membaca tulisanku. Aku bersyukur masih punya pendukung di sini walau ngga seberapa. Terima kasih banyak semuanya! ^^

Dan terima kasih sudah mau mampir~ ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

16 thoughts on “Guardian

  1. haduh… ada bang kyuhyun….
    knpa qm jd pnjhat ny sich bang????
    aq kan jd galau.ha3x
    kibum cool bgt 😊😊😊
    pnasaran ma alsan kibum lndungin soorin ☺
    next dtunggu ☺
    smangat trus😉

  2. waduh…kyuhyun jadi penjahat/?
    Kibum misterius bgt..
    ditunggu lanjutannya 🙂
    Semangat terus nulisnya… 🙂

  3. Betul tuh eon jarang” kan kyuhyun jadi jahat haha Aku udah bisa nebak tuh :3

    Wahh adegan romatis kisoo coupel dikit amat eon :3 kagak puas

    Di tunggukelanjutan nya eon

  4. Omaygad Suamiku Cho Kyuhyun kenapa kau begitu jahat hks T.T
    pasti yang bunuh orang tua Soorin itu suamiku gara-gara dia pengen nguasai perusahaan besar Soorin aish liciknya pengen aku hajar tuh Kyuhyun ku yang tampan

    apa mungkin Ki Bum orang kepercayaan Appa Soorin ya atau temen masa kecil Soorin misterius sekali dia

  5. akhirnya setelah sekian lama ..
    kangen liat moment kisukisu yang diatas .. moment canggungnya mereka, yang bikin Soorin salting(?)
    >\\< dan ceritanya makin bikin penasaran ..

    juga kayak ada yang kurang gitu kalau Soorin nggak manggil Kibum dengan nama lengkapnya 'Kim Ki Bum' #apacumague TwT

    dan bisa sedikit saran nggak author~nim?
    penulisan kata 'Anda' Haris pakai huruf besar, dimanapun tempatnya menurut EYD. Ini yang udah kupelajari dulu .. hehe
    apa komenku kepanjangan?

    1. ahihihi emang agak aneh ya.. aku juga ngerasain kok.. biasa nulis Soorin manggil Kim Ki Bum tapi di sini malah ngga hwhw xD
      oh iya….sebenernya aku juga masih bingung untuk eyd yg itu.. tapi kalo dibaca lagi emang aneh ya anda-nya gapake huruf besar di depan T.T oke deh, terima kasih banyak ya buat koreksinyaa~><

      1. yang lebih tepatnya ..
        Kata ‘Anda’ yang digunakan dalam penyapaan, huruf pertamanya menggunakan huruf kapital (Permendiknas, 2011:19).
        yang komen aku yang atas tadi cuma pakai ilmu cociologi (ilmu mencocok-cocokkan kata) <– dosenku yang ngarang ini :3 *waks

        karena berbagi itu indah ^^

        oh, ya .. btw, entah mengapa suka sama karakter Kyuhyun disini :3 #evilforever :v

  6. wkwkwkwk si raja FF jd penjahat disini 😀 jangan2 motifnya karena cinta nih?? aku juga penasaran siapa kibum sbnrnya?? apa kibum itu saksi mata penembakan soo rin?? hehehe ditunggu lanjutannya, semangat trs kakkkk 😀

  7. Tau gak? Aku sempet mikir kalo si ikan ama pangeran es juga tokoh antagonisnya tau😂😂 KIBUM COMEBACK LOH!!! GAK SABAR NUNGGU DRAMANYA!

    Si kunyuk juga gak aman buat Soorin gitu? Lah terus kenapa dia nyariin Soorin ampe frustasi gitu??

    Lagi bete ama si gembul gara-gara liat adegan kissingnya dia web dramanya dia di TL LINE -_- tapi dia kan kyut jadi susah buat bete ama dia :((

  8. akhirnyaa publish jugaa, tiap hari ngecek blog ini wkwk

    wahh tuan cho jadi antagonis, seru ini mahh wkwk
    apakah soorin mulai merasakan benih2 cinta kepada kim ki bum hahah

    ditunggu kelanjutannya kak, semangattt

  9. Cho kyu jd pemeran antagonis disini kkkkkk…
    Siska kasih kejutan nih, sama reader semua 😉
    Duh inggrisnya ngerti2 dikit agak belibat aku dibuatmu😜 jd abang Hae gak bilang ke abang Hyuk buat ngelindungi mereka semua toh…kirain teh abang Hyuk penjahat jg disini…masih penasaran sama si abang Ki bum knapa dia repot2 ngelindungi Soo rin yg jelas sekali Soo rin gak kenal sama Kim Kibum…
    next partnya ditunggu yah😘😘😘

  10. Lah bang cho kyu pemeran antagonis,,
    Siska bikin baper sparkyu,,,kkk
    Kenapa bang unyuk jga tdk aman ..? Apa bang unyuk suruhan bang cho kyu.?,,nah suami ku sini ceritanya sama aku saja..#..?
    Terus kibum itu siapa..? Dia misterius sekali…

  11. Benerbener bikin bingung, bikin tambah penasaraaan. Kibumnya belum jelas asalusulnya hihi maafkan 😂😂 ditunggu next partnya kaka … fighting 😚😚😚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s