Posted in Fiction, Fluff, G, Slice of Life, Vignette

Welcome Back

forehead_081147

©2016 ELVABARI

Semua orang pasti mengalami kegagalan, tanpa terkecuali bahwa kau juga bisa mengalaminya, kau tahu itu, bukan?


SOO RIN terbangun dari lelapnya yang sebenarnya tidak begitu tenang. Dia melihat jam dinding kamar ini menunjukkan pukul dua malam, keningnya harus mengernyit bingung karena ia masih sendirian di ruangan ini. Padahal tidak biasanya dia sendiri, pria yang selalu bersamanya itu pasti sudah ikut terlelap di waktu seperti ini.

Tapi sebenarnya hal inilah yang membuat Soo Rin merasa tidak nyaman beberapa jam belakangan ini. Sejak semalam dia harus kelimpungan karena Kim Ki Bum tidak kunjung pulang tanpa memberi kabar. Sudah berkali-kali Soo Rin mencoba menghubungi nomor ponsel Ki Bum namun hanya nada sambung yang dia dapat hingga berujung dialihkan. Sebenarnya ke mana Kim Ki Bum dan kenapa pria itu belum pulang tanpa kabar yang pasti? Jika memang pria itu harus lembur, setidaknya memberi kabar agar Soo Rin tidak perlu menunggu sampai tidak nyaman untuk tidur seperti sekarang.

Pada akhirnya Soo Rin turun dari ranjang, melangkah keluar kamar demi membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Mungkin setelah ini Soo Rin akan menunggu saja di ruang tengah, masa bodoh apabila dia ketiduran di sana. Yang penting dia menunggu Kim Ki Bum pulang. Siapa suruh pria itu tidak mengabarinya akan pulang atau tidak?

Namun mengejutkan bagi Soo Rin karena begitu keluar dari kamar, dia melihat bayangan hitam tengah duduk di sofa ruang tengah. Memang kondisi ruangan sudah gelap dan Soo Rin tidak berniat untuk menyalakan lampunya karena masih ada cahaya remang berasal dari dapur yang hanya ia nyalakan satu lampunya. Soo Rin hampir saja menjerit jika saja matanya yang sudah beradaptasi langsung mengenal bahwa itu bukanlah orang asing yang berhasil menerobos apartemennya—apalagi hantu.

“Kim Ki Bum?”

Jadi pria itu sudah pulang? Kapan? Kenapa Soo Rin tidak mendengar suara pintu otomatis apartemen ini terbuka? Dan lagi, kenapa pria itu justru duduk di sana? Kenapa tidak langsung masuk ke dalam kamar?

Sambil otaknya terus berputar akan pertanyaan-pertanyaan tersebut, Soo Rin menghampiri pria yang duduk membungkuk bertumpu pada kedua pahanya. Tangan-tangannya menangkup serta menopang tepat di bagian kening, menyembunyikan wajah tegasnya di sana hingga Soo Rin tidak tahu apakah pria itu tertidur dalam posisi tersebut atau tidak. Hingga dia berdiri di sisi pria itu, barulah Soo Rin melihatnya bereaksi. Hanya saja Soo Rin tidak mampu menebak seperti apa raut wajah Kim Ki Bum mengingat ruangan ini yang terlalu redup. Dia hanya mampu melihat kilatan-kilatan yang terbias dari mata tajam itu.

“Kau sudah pulang? Sejak kapan kau di sini?” Soo Rin mencoba untuk semakin mendekat. Namun ia urungkan karena tiba-tiba mendengar suara aneh namun familiar berasal dari pria itu.

Kim Ki Bum seperti baru saja menyusutkan hidung…

Dia menangis?

“Kenapa kau terbangun?” suara pelan Ki Bum menarik perhatian Soo Rin. Gadis itu mendengarnya, bagaimana suara berat Ki Bum begitu serak dan parau.

Ada apa dengan Kim Ki Bum?

Tanpa berpikir lagi Soo Rin duduk di sebelah Ki Bum, merengkuh wajah tegas pria itu dan menghadapkannya langsung di depan wajahnya. “Kim Ki Bum, kau kenapa?” Soo Rin merasakan tangan besar itu merengkuh satu tangannya, dan ia melihat sekaligus merasakan bahwa pria itu baru saja menggeleng pelan tanpa berkata apapun. “Jangan berbohong padaku, Kim Ki Bum,” lirihnya mulai tidak tenang. “Ada apa? Apakah terjadi sesuatu tadi?”

Butuh beberapa detik bagi Soo Rin untuk melihat pria itu bereaksi. Namun ia justru dibuat semakin bingung sekaligus cemas karena Kim Ki Bum justru beralih menjatuhkan kepalanya tepat di bahu kecilnya, melingkarkan tangan-tangan besarnya pada lingkaran pinggang Soo Rin, memeluknya begitu erat. Soo Rin dapat merasakan pria itu kemudian menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan amat jelas. Rasanya begitu berat didengar, dan Soo Rin mengira bahwa prianya ini tengah mengalami sesuatu yang membuat seorang Kim Ki Bum tertekan.

Pada akhirnya, Soo Rin memilih memberikan waktu pada Ki Bum, memeluk punggung pria itu serta menepuk juga mengusap kepalanya. Setidaknya dengan begini mampu membantu Kim Ki Bum merasa sedikit tenang.

“Aku sudah membuat kesalahan yang fatal…”

Soo Rin mendengarnya. Lirihan itu terselip kesedihan dan penyesalan. Soo Rin jelas tidak mengerti apa yang sedang Ki Bum bicarakan—apa yang sedang Kim Ki Bum sesali. Maka dari itu Soo Rin memilih untuk diam dan cukup mendengar.

“Seharusnya aku bergerak cepat. Tapi aku lebih memilih untuk menunggu reaksi biusnya bekerja secara penuh sebelum memulainya. Dia sudah mengalami pendarahan hebat… tapi aku lebih memikirkan resiko yang tidak seberapa daripada nyawanya…”

Soo Rin mengatup bibirnya rapat-rapat, tercekat mendengar pengakuan Kim Ki Bum. Dia sudah mengerti apa yang tengah menjadi beban pikiran Kim Ki Bum. Dan dia merasakan punggung pria ini gemetar.

“Aku gagal menyelamatkannya… Aku gagal menjadi seorang dokter…”

Soo Rin merasa perih pada matanya yang tampak mengembun. Dia bahkan baru menyadari bahwa matanya mulai basah hanya dengan mendengar tutur kata Kim Ki Bum, yang secara naluriah menggerakkannya untuk mengeratkan pelukannya pada tubuh pria yang terus menyembunyikan wajahnya di balik bahu kecilnya. Soo Rin memang tidak mendengar isakan maupun raungan yang menandakan pria ini menangis, tapi Soo Rin sudah bisa merasakannya dari bahasa tubuh Kim Ki Bum.

Bahwa pria ini sedang menangis dengan caranya sendiri.

Selama ini, Soo Rin belum pernah menemukan Kim Ki Bum yang tertekan akan pekerjaannya. Pria ini lebih banyak menikmati bahkan terlihat sudah menguasai betul seperti apa profesi yang dijalaninya. Tapi sekarang, mungkin ini adalah kali pertama di mana pria ini mengalami kesalahan terhadap pekerjaannya dan itu teramat fatal. Hingga membuat seorang Kim Ki Bum dirundung penyesalan seperti sekarang ini.

“Kim Ki Bum,” Soo Rin mencoba untuk berbicara, meyakinkan terlebih dahulu bahwa pria ini akan mendengarnya. “Kau tahu, bukan? Bahwa suatu kegagalan bukan berarti sebuah tanda bahwa kau benar-benar gagal dalam menjalankan tugasmu. Tapi suatu kegagalan itu menandakan bahwa kau berada dalam masa di mana kau harus memilih, apakah kau bisa terus menjalankannya, atau justru berhenti. Karena, segala macam profesi tidak akan selalu berjalan mulus tanpa adanya rintangan yang membuat orang itu akan belajar.

Kau memang melakukan kesalahan yang kau anggap bahwa itu adalah fatal, tapi dengan begitu kau bisa belajar dan memahami lebih dalam lagi seperti apa profesi yang sedang kau tekuni. Kau menjadi mengerti apa yang seharusnya kau lakukan ketika menemukan kasus yang sama di kemudian hari. Dan di saat itu juga, kau sudah berada di level lebih tinggi dibandingkan di terakhir kali kau melakukan kesalahan itu.”

Soo Rin merasakannya, bagaimana tubuh pria itu mengendur dari ketegangan yang membuat batin Soo Rin ikut tersiksa. Soo Rin mulai sedikit bernapas lega, dan bersyukur jika saja ucapannya berhasil menjadi pengaruh reaksi tubuh di pelukannya kini.

“Semua orang pasti mengalami kegagalan, tanpa terkecuali bahwa kau juga bisa mengalaminya, kau tahu itu, bukan? Tapi kau juga pasti tahu istilah kegagalan merupakan awal dari kesuksesan. Dan kau juga pasti tahu, orang-orang hebat di luar sana pasti pernah mengalami yang namanya kegagalan sebelum akhirnya mereka seperti sekarang.”

Soo Rin melonggarkan pelukannya, mencoba kembali merengkuh wajah tegas itu dengan tangan-tangan halusnya, menatap manik yang berkilat-kilat itu dengan kedua matanya, memberikan senyum teduh meski dia tidak yakin apakah pria itu mampu melihatnya atau tidak.

“Dan kau akan menjadi salah satu dari orang-orang itu, Kim Ki Bum. Ini adalah saat di mana kau harus bertahan, meski kau merasa gagal seperti sekarang ini, bukan berarti kau harus menyerah dan menganggap bahwa dirimu gagal menjadi seorang dokter. Di sisi lain, ini memang sudah berada di garis takdir Tuhan untuk kau melihat pasienmu pergi dipanggil oleh-Nya di hadapanmu juga. Memang, dokter adalah harapan banyak orang karena bisa menyelamatkan banyak nyawa, tapi semuanya… ada campur tangan dari Tuhan. Dia yang memiliki keputusan telak, sedangkan dokter hanya cukup berusaha dan berharap seperti orang kebanyakan.

Karena itu, jangan salahkan dirimu sendiri. Jika saat ini hal itu belum datang, tapi cepat atau lambat mereka pasti akan mengerti—baik keluarga pasien maupun rekan tim kerjamu yang ikut berjuang menyelamatkan pasienmu. Dan aku tetap merasa bangga padamu. Karena bagaimana pun, kau sudah bekerja sangat keras, Dokter Kim.”

Helaan napas itu terdengar keluar dari mulut Ki Bum, membentur wajah Soo Rin sebelum merasakan kembali tangan besar itu membalas perlakuannya. Soo Rin memang tidak tahu pasti, tapi Soo Rin dapat merasakan bahwa kedua pipi prianya baru saja tertarik ke atas.

“Aku benar-benar bodoh karena memilih untuk menghindar darimu malam ini.”

Soo Rin tersenyum, mendengar suara berat itu mulai merileks. Ia menggeleng pelan, mengerti apa maksud dari ucapan penyesalan itu.

“Aku mengerti. Kau memang butuh waktu untuk menenangkan diri. Tapi bagaimana pun, aku tidak bisa menahannya dan membiarkanmu sendirian.”

“Maafkan aku.”

“Jangan meminta maaf, Kim Ki Bum. Kau tidak salah dalam mengambil keputusan ini.”

“Jadi siapa yang harus disalahkan?”

Soo Rin merasa bahwa pria itu mulai menjahilinya. Di saat yang masih mendung seperti ini, sulit bagi Soo Rin untuk mencoba mengimbanginya. Maka dari itu dia menarik napas panjang sebelum berkata, “Maaf karena aku sudah kesal padamu semalam. Kau tidak memberi kabar apapun padaku. Aku mengkhawatirkanmu.”

Ki Bum terkekeh pelan—teramat pelan. “Aku menyesalinya.”

“Tolong jangan merasa bersalah lagi, Kim Ki Bum. Itu justru semakin membuatku seperti terus menekanmu… dan menjadi seorang istri yang tidak baik untukmu.”

Dan detik berikutnya, Ki Bum mengembangkan senyumnya begitu saja. Dia merasakan batinnya seperti baru saja menguap—segala perasaan yang begitu menekannya semalaman ini—hanya karena mendengar satu kata magis itu keluar dari mulut seorang Park Soo Rin.

“Seharusnya aku menyadari sejak awal, bahwa kau adalah obat paling ampuh untukku,” gumamnya sambil menuntun salah satu tangan halus itu lebih dekat dengannya, mencium telapak tangan yang terasa hangat itu penuh sayang.

Soo Rin tersenyum dibuatnya. Beruntung ruangan ini begitu redup sehingga tidak terlihat bahwa pipinya sudah merona juga menghangat. “Jadi sekarang kau sudah merasa baik? Apa kau ingin kubuatkan teh agar kau lebih tenang?”

“Tidak. Aku lebih membutuhkanmu dibandingkan apapun saat ini.”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Baiklah kalau begitu…” Soo Rin menghapus jarak yang ada pada mereka, menegakkan tubuhnya demi menjangkaunya lalu mendaratkan kecupan hangat di kening pria itu untuk beberapa saat. Membiarkan tubuhnya berdesir, menyalurkannya pada pria kesayangannya yang sudah bekerja keras hari ini.

Tidak, melainkan semalam.

Dan seperti biasa, Soo Rin akan menyambut kepulangan prianya dengan senang hati.

“Selamat datang kembali, Kim Ki Bum.”

feature


dan selamat datang kembali untuk kalian semua~^^

Maafkan aku yang terakhir kali sudah membuat postingan ngelantur untuk kalian. Aku akui bahwa saat itu aku memang sedang dalam masa tertekan berkat apa yang sudah kulakukan selama ini. Seperti yang dituliskan di atas, segala macam profesi tidak akan selalu berjalan mulus tanpa adanya rintangan yang membuat orang itu akan belajar. Yah, memang ini belum bisa disebut sebagai profesi melainkan hobi, tapi tidak berbeda dengan yang lainnya bahwa menulis tidak akan selalu berjalan mulus tanpa adanya ujian. Aku sempat berpikir untuk berhenti saja, tapi ternyata, hanya dalam beberapa hari aku sudah tidak betah dan ingin menulis lagi meski jadinya ngelantur.

Jika ada yang merasa bingung dengan celotehanku, aku akan jelaskan sedikit.

Aku memang masih dalam tahap belajar, segala sesuatunya butuh proses, bukan? Tapi saat itu aku bertanya-tanya, kenapa setelah begitu lamanya aku menekuni ini, aku tidak juga mendapatkan hasil yang setimpal? Melihat penulis di luar sana yang bahkan hanya butuh waktu singkat untuk mendapat amat banyak perhatian pembaca benar-benar membuatku kesal dengan diriku sendiri. Apakah ada yang tahu bagaimana rasanya melihat orang di sekitarmu lebih memerhatikan tulisan orang lain ketimbang tulisanku yang jelas-jelas ada di dekatnya? Sakit loh.. hahahaha

Tapi aku sadar, mungkin tulisanku masih banyak kekurangannya, makanya mereka tidak tertarik dan lebih melirik tulisan di sana yang lebih bagus. Suatu tantangan buatku melihat hal-hal seperti itu yang selalu sukses membuatku iri dan mudah membuat mood-ku turun. Aku orangnya baperan jadi hal sekecil itu pun bisa memengaruhi diriku sendiri. Suatu kekurangan bagi orang sepertiku yang sangat perasa ini. Ketika aku terlalu memerhatikan sekitar, saat itu juga aku sadar bahwa aku belum ada apa-apanya bagi mereka yang berada di dekatku. Dan seharusnya, aku mensyukuri apa yang sudah aku dapatkan saat ini.

Ada yang mengatakan bahwa memiliki pembaca tidak menjamin bahwa tulisan orang itu sudah sangat bagus. Apalagi ini dunia fanfiksi. Kalian tahu, bukan? Siapa idol yang lebih banyak digunakan untuk tokoh imajinasi kebanyakan penulis? Di saat aku memilih Kim Ki Bum sebagai sumber imajinasiku, seharusnya aku sadar akan resiko bahwa aku akan bersaing dengan mereka yang memilih memakai tokoh yang lebih terkenal. Apalagi tulisanku masih begini-begini saja, sudah jelas rintangan itu lebih berat. Seharusnya aku belajar dan mensyukuri bahwa masih ada yang mau membaca tulisanku. Walaupun tidak seberapa, tetapi masih ada yang dengan senang hati menunjukkan diri padaku bahwa dia… mereka… kalian… membaca tulisanku.

Terima kasih karena sudah mengingatkanku, mendukungku, dan menasehatiku. Seharusnya aku berpegang teguh dengan pendirianku bahwa aku menulis untuk diriku sendiri, bukan berpatokan dengan keinginan juga banyaknya pembaca. Dan aku berterima kasih bahwa ketika aku merasa tidak ada yang memerhatikanku, kalian dengan tangan terbuka menerima keluhanku, memahami dan mendorongku untuk kembali berdiri.

Sebenarnya tulisan Don’t Forget Me itu merupakan salah satu bentuk pelampiasan dari rasa harap-harap-cemas-ku yang ingin agar kalian mengerti, aku sudah bergantung pada kalian, di mana selama ini aku menunggu respon dari kalian mengenai tulisanku, karena respon kalian merupakan bonus sekaligus penyemangat untukku agar terus menulis. Hanya saja, mungkin karena aku terlalu banyak menulis aku mulai merasakan titik jenuh di mana aku harus beristirahat sejenak dan menyegarkan kembali pikiranku. Karena, selama ini, di masa pemulihanku juga menunggu sebuah kesempatan, aku habiskan dengan menulis dan menulis, sekalipun jadinya hanyalah sebuah cerita kosong, aku memilih untuk menulis karena memang itu yang aku bisa saat ini. 

Jadi sekali lagi, terima kasih banyak untuk kalian yang sudah menjadi penyemangatku. Jujur, baca pesan-pesan kalian di postingan alayku (Apology) itu, aku butuh seharian untuk meredakan tangisanku yang terus saja keluar setiap membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat yang kalian tulis di sana dan itu semua tertuju untukku. Iya, setelah posting permintaan maafku itu, seharian aku nangis sampe besoknya mataku bengkak. Ada yang bilang, aku memang harus menangis sepuasnya supaya esok hari aku merasa lega. Berkat kalian juga, aku bisa melewati itu dan kini, aku sedang berusaha untuk menulis kembali.

Yah, walaupun masih seadanya saja sih. Hehehe

Sekali lagi, maafkan aku karena sudah menjadi orang labil yang sudah kalian temui. Tapi aku juga berterima kasih karena kalian masih mau menerimaku, dan berharap hingga kini aku memang masih diterima ^^

Yah, mungkin tidak semua yang bakal membaca celotehanku di atas. Jadi, terima kasih sudah mau membaca cerita kisukisu di atas~

13

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

28 thoughts on “Welcome Back

  1. ini pasangan emang klop bgt. saling mendukung dan saling mennguatkan satu sama lain. pokoknya pasangan ini bikin iri bgt deh.

  2. Setuju sama kata-katamu yang ‘setiap profesi pasti ada rintangannya’ same with life, it will never run smoothly (ada jatuh-bangunnya). But then, kalo kamu merasa ikhlas dan menjalankan ini karena passionmu, pasti akan ada yang respect (meskipun respectnya tidak di tunjukkan).

    Mereka pasti bakal punya pandangan ‘eh ini orang gigih juga ya udah jatuh berkali-kali masih sanggup bangun.’ That’s when respect grows 🙂

    Semangat terus bae, masih banyak yang menantikan cerita Ki-Soomu 🙂 ❤❤

    1. iyap! Aku juga setuju sama kamu.. mungkin selama ini aku kurang ikhlas jadi ngga puas sama hasil sendiri hwhw Terima kasih banyak ya, kamu salah satu orang yang mau respect sama tulisan abal-abalku ini heheheh aku terharu T/\T

  3. welcome back author☺☺☺
    slalu ska ma ni couple….
    g bkal prnah bsen☺
    smangat trus ya
    lnjutkan krya2 mu
    msh da byk reader yg stia nunggu krya2 mu 😀
    fighting😉

    1. welcome back juga Devi~ hihihi btw dirimu kemarin ultah ya.. hwhw maafkan aku yg tidak mengucapkan apa-apa T^T
      selamat ulang tahun~ semoga cerita ini sedikit menghiburmu…..err, meski ini lebih banyak gloomy-nya sih hwhw #ditendang;; dan terima kasih banyak atas segala dukunganmu selama ini~><

  4. Soo rin seorang istri yg soleha hihihi…
    D saat Kibum lgi terpuruk Soo rin memberi dukungan dan nasehat yg bijak
    beruntungnya dikau Kibum

    welcome to Siska
    senangnya Siska kembali semangat
    dan aku setuju bgt butuh perjuangan dan kesabaran menuju sukses
    aku udah menyangka jga klau ff don’t forget me itu perasaan yg Siska rasakan mkanya pas bca aku langsung kebayang itu Siska

    1. hihihi solehah ya kak XD duhh susah nyari cewe kayak gitu, kita juga belum tentu bisa begitu wks (?)
      ehehehe iya kak, makasih banyak udah mau mengerti.. heu….aku agak malu sebenernya hihihihi

  5. kata- kata soorin ngena banget, setuju tuh gak semua profesi dapat berjalan mulus pasti ada tantangannya trus suatu saat kita juga bisa melakukan kesalahan. Tapi itu dapat diperbaiki lagi tinggal bagaimana kita memilih berhenti atau bangkit dan memperbaikinya menjadi lebih baik lagi.

    seneng bisa ngliat kak siska semangat lagi
    welcome back kakak 😀

    1. yap! benar sekali apa yg kamu bilang.. hanya saja kebanyakan dari kita masih belum kuat mental sampai akhirnya milih untuk berhenti… kayak aku ini hahahaha tapi berkat dukunganmu juga yg lain, aku bisa semangat lagi..
      jadi, terima kasih banyak sekali ya -^^-

  6. Kata kata Soorin nyentuh banget ke hati eh bukan kata kata Soorin tapi isi hati Eonni ,bener-bener ngena banget Eon hebat banget😊
    Soorin istri pengertian banget bisa hibur dan nyemangati Ki Bum biar Ki Bum gak terpuruk

    1. eheheheh itu juga dorongan dari kamu juga yg lain yang bikin aku bisa berkata begitu….melalui parksoorin heheheheh :’3
      terima kasih banyak yaa -^^-

  7. ahk akhirnya kisoo comeback setelah menunggu sekian lama, tiap hari ngcek blog kaka dan hari ini tiba-tiba ada notif di email
    ahh senangnyaa
    welcome back kak, tetp semangat nulis tunjukin kalo kaka itu hebat

    aku yakin kaka pasti bisa jadi seperti penulis yang lainn, semangattttttt

    1. lama ya? perasaan masih kemarin hehehe ketahuan banget ya akunya masih labil banget hwhwhw T^T
      tapi terima kasih banyak juga, karna masih mau kasih semangat buat aku.. semoga kamu ngga bosan ya ngadepin aku yg sering ambigu(?) ini >< hwhwhwh

  8. Semangat terus yah Siska, insyaalloh aku termasuk reader yang selalu setia menunggu kisah2 KiSoo dan menyukai couple ini yang selalu bikin aku baper sama perlakuan Ki bum sama gadisnya Soo rin…
    Ini pasangan memang udah klop banget, pengertian satu sama lain, tentunya jg saling mendukung dan menyemangati…
    KiSoo sampai ketemu lg di next storynya, Fighting and sukses selalu untukmu Siska❤❤❤

    1. aamiin~ T/\T terima kasih banyak ya kak, udah selalu kasih semangat sekaligus mendukung kisukisu yang lebih sering dan banyak absurdnya ini hwhwhw
      iya, semoga kakak ngga bosan sama mereka, sekaligus ga bosan ngadepin penulisnya yang labil itu //nunjukdirisendiri// hehehehe ><

  9. u did good, sweety!
    im not gonna say anything but welcome back! 😉 /hugs/
    and thank u for coming back to us!

    ps: i miss lovey dovey kisoo so much!

    1. thank you for all of your supports and passions.. I…don’t know how to reply your kindness other than to say thank you TT
      aku terharu karna masih ada yg mau welcome, termasuk dirimu… terima kasih banyak.. aku akan berusaha lagi, to write a lovey-dovey-kisoo hehehehe ><

  10. welcome back siska…
    setelh bc postingan apoligy,q jg jadi hrp harap cemas…. berharap cerita kisoo akan lnjut.. berharap siska akan terus berkarya.berharap bnyak agar lebih bnyak yg membaca kisah ini dan akhir y siska tak jd resign dr dunia fanfic..

    terkadang penyemangat itu tak perlu dtng dr dunia nyata… sebuah kata2 hangat yg tak sengaja ada di dunia mayapun terkadang bsa jd motivasi agar tetap semangat..
    so I need what make me smile everytime..

    WELCOME BACK.. ini q bc y pas bru plng setelah 2hr berpanas pnas di pantai… setelh bc ini cert q bru inget… kisso couple blm ada cerita HONEYMOON (efek pulang liburan blm puas main di laut udah hrs pulang)…

    KPAN KISOO ADA CERITA HONEYMOON???

  11. Beruntungnya kibum,,,punya istri yg pengertian
    Kiso selalu membuat pembaca iri ..

    Aku yakin postinganmu pasti banyak yg baca,,
    Hanya saja,mungkin mereka gk mau repot” ngetik untuk komen…
    Atau mungkin karna bukan idol mreka ….

    Tpi km beruntung punya pembaca yang setia menunggu postinganmu……;)

  12. gagal dalam melakukan sesuatu memang tidak enak dan membuat kita jadi tertekan. setuju sama Soorin dan kuharap kejadian sama tak terulang lagi. Semangat Kim Kibum dan juga semangat untukmu Siska ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s