Posted in Angst, Category Fiction, Fiction, PG, Romance

Empty

empty-cvr

inspired by. Yong Pal-i

Sleeping Beauty | Awake | Where Is She? | Bad Luck

H A P P Y   R E A D I N G

.

©2016 ELVABARI

.

SUASANA ruangan tersebut kembali tenang. Dua pria itu berhasil membawa sang putri ke tempat tidurnya yang sudah berubah fungsi menjadi tempat duduk yang nyaman. Aiden sang dokter telah memasangkan infus baru di punggung tangan lain si gadis. Bekas cabutan paksa jarum infus di punggung tangan kirinya sudah dibalut kain kasa juga plester. Mereka cukup bersyukur bahwa sang putri sudah kembali tenang seperti sekarang ini.

Sedangkan Ki Bum tidak pernah melepas pandangannya dari raut kosong pada wajah cantik di hadapannya. Melihat bagaimana gadis itu kembali membisu meski kini dalam kondisi terjaga, mata jernih itu hanya menatap lurus ke depan tanpa ada binar di dalam sana, dan itu sudah cukup mengkhawatirkannya. Tapi ia memilih untuk diam mengingat sang dokter khusus masih menangani.

“Tekanan darahnya masih sangat lemah. Dia masih harus tetap di sini untuk beberapa waktu ke depan. Tapi sepertinya kau harus mulai mempersiapkan tempat lain untuknya singgah begitu keluar dari sini.”

Pada akhirnya Ki Bum mengalihkan pandangannya, menatap tajam pria yang baru saja memberikan penjelasan sederhana padanya. “You still could said that after what you have done before?

Aiden mengerjap sekali yang di saat itu juga muncul sedikit binar kegugupan di sana. Ia berdeham pelan sebelum membalas, “Sorry. That was my mistake.

Yes, you did,” dan Ki Bum menimpalinya penuh penekanan.

“Aku terlalu terkejut akan kejadian tadi. Aku sadar bahwa seharusnya aku bertindak cepat.” Aiden mengedikkan bahu, ia tampak kembali menemukan kenyamanannya karena ditandai dengan ulasan senyum penuh arti. “I was so glad that you came faster than I thought. You are the real Guardian.

Get lost!” Ki Bum menggeram tidak suka melihat pria itu justru berbalik menyerangnya. Lihat bagaimana senyuman itu semakin menunjukkan arti kejahilah di sana.

Aiden sudah terbiasa dengan gertakan tajam khas dari Kim Ki Bum. Karenanya ia hanya menyimpan kedua tangannya ke balik saku jubah putihnya, berkata, “Well, I have to go, then. Maybe I’ll back in six hours,” seraya melenggang menjauh menuju pintu keluar. Sebelum itu Aiden menyempatkan diri untuk berbalik demi melanjutkan, “I wanna meet my friend in Seoul. So you have to watch her full time without me, Kim Ki Bum.

No need to say that to me.

Do you need some souvenir from Seoul, maybe?

Kkeojyeo (Pergi)!”

Aiden terkekeh-kekeh mendengar pria itu akhirnya menggunakan bahasa tempat mereka berada. Selama ini dia terlalu sering mendengar maupun berkomunikasi dengan Ki Bum menggunakan bahasa internasional mengingat dari mana pria itu berasal. Mungkin dia memang harus membuat Kim Ki Bum benar-benar geram padanya supaya pria itu mau menggunakan bahasa negara ini.

Ki Bum sudah menggertakkan gigi kala Aiden akhirnya keluar dari sini. Menyisakan dirinya bersama sang putri yang tenggelam dalam lamunannya. Seolah memberikan kesempatan pada Ki Bum untuk terus mengamati lekuk wajah cantiknya yang tanpa cacat.

Namun sayang, wajah cantik itu kini memiliki tubuh terlampau rapuh, bahkan tidak mampu menjamin apakah dia mampu kembali ke kehidupan semula yang normal di mana kedamaian juga kemakmuran menjadi teman hidupnya sebelum tragedi naas itu terjadi. Seolah dunia berjungkir balik dan mengubahnya menjadi gadis sebatang kara dengan kondisi mengenaskan akibat dari tembakan yang menembus tulang belakang hingga dirinya hanya mampu duduk seperti ini.

Aiden pernah berkata bahwa kondisi tubuh gadis itu tidak akan seperti dulu. Tembakan yang menembus hingga ke punggungnya telah mengoyak sistem syaraf yang berfungsi menggerakkan otot-otot yang bersangkutan, dan itu hampir fatal. Meski masih bisa diselamatkan, namun besar kemungkinan bahwa gadis itu akan sembuh total sangatlah minim. Bahkan kemungkinan gadis itu akan sering mengalami disfungsional otot pada sekitaran bahunya akibat rusaknya beberapa syaraf walaupun Aiden sudah berhasil memerbaikinya.

Mengingat akan fakta tersebut, Ki Bum harus meneguk saliva kepayahan. Diam-diam kedua tangannya mengepal. Ia hampir saja meledakkan amarahnya jika saja kendali dirinya tidak segera kembali menguasai. Berkat alunan merdu yang berhasil menusuk pendengarannya.

“Kenapa aku ada di sini?”

Ki Bum memang sempat melihatnya, bibir natural itu bergerak pelan. Hanya saja Ki Bum tidak langsung menjawab karena ia butuh kepastian bahwa gadis itu memang bertanya kepadanya. Sedangkan di sisi lain dia merasa tidak seharusnya menjawab pertanyaan tersebut.

Namun tanpa diduga, Park Soo Rin menolehkan kepala, dan langsung menyorotkan tatapan kosongnya tepat pada manik mata Kim Ki Bum. Sejenak Ki Bum merasakan jantungnya mencelos melihat raut wajah datar itu. Seperti tidak ada harapan hidup di balik sorot mata yang begitu jernih, menunjukkan secara tersirat bahwa gadis itu tidak mengerti dengan kehidupan yang sedang dijalaninya… dan mungkin ia berharap bahwa dunia menelannya saja secara hidup-hidup.

“Aku ada di mana?”

Ki Bum masih bungkam, mengamati wajah Soo Rin dalam diam, membiarkan mata pekatnya bertemu dengan manik jernih namun kelam itu.

“Kau tidak akan menjawabnya, bukan?” suara Soo Rin melirih. Ada nada kesedihan di sana meski raut wajahnya mengatakan hal lain. Ia pun memutus kontak mata mereka, beralih kembali lurus ke depan. Bibirnya kembali bergerak mengeluarkan suaranya sekali lagi, “Apa aku akan terus mendekam di sini?”

No.

Sejenak ada binar ketertegunan di mata Soo Rin. Dia hanya bertanya pada diri sendiri, namun ternyata pria itu kini meresponnya, memancingnya untuk kembali memertemukan sorot matanya dengan mata pekat itu.

“Jika kau ada kemauan untuk sembuh, aku akan mengeluarkanmu dari sini,” untuk kali ini Kim Ki Bum melontarkan kalimatnya dengan bahasa yang mudah Soo Rin serap juga dipahami.

“Aku… bisa bertemu dengan keluargaku?”

Ki Bum membuat jeda sejenak. Entah mengapa sorot matanya berangsur berubah, “You have no one who you can trust in out there, anymore,” ketika ia berkata kembali dengan bahasa asalnya.

Well, Soo Rin beruntung karena sudah mendalami bahasa asing. Itulah mengapa ia mengerutkan bibir sebagai respon dari ucapan pria itu sekaligus menggeleng tidak setuju. “Aku punya.”

No, you don’t.

“Aku memiliki seseorang—”

Not him.

Soo Rin melebarkan mata. Ada kilat ketersinggungan muncul di sana. Ada apa dengan pria di hadapannya? “Kau tidak tahu—”

I know him.” Ki Bum menyambar lebih cepat. Meski nada biacaranya terdengar tenang, tidak menutup kemungkinan bahwa ia sedang menekan sang putri di hadapannya. “And I know ‘them’.

Mereka?

“Apa maksudmu?” Soo Rin justru dirundung kebingungan. Ia tidak mengerti kenapa pria itu menyebut kata jamak setelah sempat menyinggung kata singular. Dia tidak mengerti, apakah pria itu mengetahui sesuatu yang dia tidak tahu? Apakah pria itu mengetahui sesuatu tentang dirinya? Benar, Soo Rin bahkan tidak mengerti bagaimana pria itu bisa menemukannya dan membawanya kemari.

Dan Soo Rin tidak mendapatkan balasan berarti karena Ki Bum justru beralih mengubah bangsal yang didudukinya kembali menjadi tempat tidur. Membiarkan Soo Rin menatap sang pelaku yang juga mengamatinya bergerak kembali terbaring.

Take a rest,” adalah yang Ki Bum ucapkan setelahnya. Ia baru saja berbalik hendak beranjak dari tempatnya ketika gadis itu menghentikan dengan suaranya.

“Kau siapa?”

Menggerakkannya untuk kembali menghadap sang putri yang tampak memandangnya penuh tanya.

“Bagaimana kau bisa menemukanku… dan membawaku kemari?”

If I say the truth, you would not believe it.”

Ada keheningan sempat menyelubungi mereka. Soo Rin semakin dibuat bingung akan jawaban Ki Bum, yang justru membuat munculnya gagasan baru di dalam kepalanya.

Mungkinkah…

“Kau… berada di sana? Saat itu?”

Ki Bum berbalik, memilih untuk tidak menjawab dan melanjutkan niatnya yang tertunda. Meninggalkan sang putri untuk beristirahat dengan nyaman.

Soo Rin harus menelan rasa ingin tahunya yang membuatnya curiga. Sejenak ia berpikir bahwa jika memang pria itu terlibat dalam insiden pembantaian itu, bukankah itu berarti bahwa pria itu merupakan pembunuh? Dan seharusnya dia sudah mati bukannya justru dibuat hidup kembali seperti sekarang.

Di sisi lain, Soo Rin juga harus menelan rasa tersinggungnya atas perilaku pria itu. Dia tidak mengerti kenapa pria itu dengan percaya dirinya mengatakan bahwa dia tidak memiliki orang terpercaya di luar sana. Dia memilikinya! Dia bahkan sangat yakin bahwa orang itu tengah mencari keberadaannya yang entah saat ini dia sedang di mana. Terkurung di dalam ruangan penuh peralatan medis berteknologi tinggi yang dia tidak mengerti kenapa mereka memiliki semua ini dan mereka gunakan untuknya. Kenapa pula mereka mau merawatnya dan membuatnya kembali hidup di saat dirinya sudah mengikhlaskan semuanya demi menyusul kedua orangtuanya?

Aah, mengingat kedua orangtuangnya, Soo Rin harus mendesah sedih karena tidak mengantar kepergian mereka dengan baik. Tubuhnya mendadak ngilu mengingat tragedi di mana ia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa mereka ditembak mati oleh orang-orang tak dikenal. Soo Rin menebak bahwa mereka adalah musuh mendiang ayahnya, entah mengapa ayahnya harus memiliki musuh di saat perusahaan beliau memiliki banyak relasi bisnis yang baik. Dan entah bagaimana nasib perusahaan sang ayah kini. Mengingat tidak ada lagi penguasa di sana, juga dirinya yang kini entah berada di mana.

Tapi apakah mereka sudah disemayamkan dengan baik? Kira-kira kapan mereka disemayamkan? Dan, ya Tuhan… sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri? Tanggal berapa hari ini? Pukul berapa sekarang? Astaga, apakah saat ini dia benar-benar terkurung di ruangan yang tak ada bedanya dengan ruang isolasi ini?

Soo Rin memejamkan mata, menghela napas panjang, mencoba menikmati kesendiriannya yang ditemani dengan bunyi denyut nadinya yang terpantau pada alat-alat di sekitarnya. Namun, memejamkan mata ternyata membuatnya semakin membayangkan seseorang yang saat ini sangat ia butuhkan kehadirannya. Sudah berapa lama dirinya menghilang dari orang terkasihnya? Bagaimana kabar pria itu? Apakah pria itu juga menanyakan kabar juga keberadaannya di luar sana?

Ahjusshi…

Tidak…

Oppa… tolong temukan aku…”

&&&

“Apa kau ingin menghabiskan memori ponselku dengan wajah-wajah anehmu itu, huh?”

Gadis itu langsung menurunkan benda yang menjadi objek keluhan pria yang baru saja memergokinya tengah berpose ria dengan benda tersebut—ponsel pintar. Park Soo Rin namanya. Kini menunjukkan cengiran polosnya untuk pria yang sudah mendudukkan diri di sebelahnya. Pria itu hendak menyambar benda miliknya ketika Soo Rin bergerak lebih cepat menjauhkan ponsel tersebut.

Berdecak kesal, pria itu mulai menggertak, “Kembalikan ponselku, Nona.”

Soo Rin justru mengerucutkan bibir. “Bagaimana jika aku tidak mau, Tuan Lee?”

Pria itu mengedikkan bahu, seolah ia tidak terpengaruh dengan ancaman halus itu. “Kalau begitu aku akan mengambil ponselmu.”

Andwae!” Soo Rin langsung memeluk lengan pria itu agar tidak bergerak.

Namun tindakannya itu justru membuat sang pria memicing curiga. “Aah, kau menyembunyikan sesuatu di dalam sana, tanpa sepengetahuanku, ya? Hm?”

Soo Rin menggeleng cepat. “Tidak! Aku tidak menyembunyikan sesuatu!”

Hm…” pria itu tersenyum separuh. Langsung saja ia menarik si gadis ke dalam pelukannya, menguncinya dengan satu tangan sementara tangan lainnya menyambar ponsel sang gadis yang tergeletak di atas nakas di seberangnya.

Ahjusshi! Kembalikan ponselku!”

Pria itu pura-pura tidak mendengar dan justru mulai mengutak-atik ponsel Soo Rin. “Hoo, kau sengaja menguncinya, eh?”

“Benar! Ahjusshi tidak akan bisa membukanya jadi kembalikan ponselku!”

Pria itu menunjukkan layar ponsel Soo Rin—sudah dalam keadaan terbuka kuncinya. Ia melihat mata jernih Soo Rin melotot terperangah dan itu sangat ia nikmati. “Lee Hyuk Jae Ahjusshi. Password-nya terlalu mudah bagiku, Nona Park.”

Ish!” Soo Rin tidak mampu mengelak dan menunjukkan rona kemerahan di kedua pipinya secara cuma-cuma yang tentunya menambah kadar kegemasan di mata pria bernama Lee Hyuk Jae itu.

Hyuk Jae mengusap-usap puncak kepala Soo Rin gemas namun penuh kasih, tentunya gadis itu mengerang akan perlakuannya. Karena itu ia segera beralih menekuri ponsel yang masih berada di tangannya. Alisnya terangkat begitu melihat apa yang menjadi wallpaper halaman utama ponsel Soo Rin. “Kapan kau mengambil ini?”

maxHyuk

Ugh…

Hyuk Jae memicing curiga lantaran Soo Rin hanya merespon sebatas itu. “Ige mwoya (Ini apa)?” tanyanya lagi begitu melihat-lihat isi dari ponsel gadis itu.

Ahjusshi, kembalikan!”

Hyuk Jae menjauhkan ponsel tersebut dari jangkauan Soo Rin. Berkomentar lagi, “Heol! Kau bahkan mengumpulkannya ke dalam satu folder dan kau namakan—AhjusshiYaa, kau pandai sekali menjadi paparazzi, huh? Atau jangan-jangan sebenarnya kau adalah penggemar beratku?”

“Terserah Ahjusshi saja tetapi kembalikan ponsel—” terpaksa Soo Rin menelan suaranya tatkala pria itu dengan seenak hatinya, tanpa aba-aba, mengecup hidung Soo Rin. Sekilas dan teramat ringat, namun besar sekali efek yang Soo Rin rasakan hingga ia langsung berubah menjadi patung.

Aigoo, gwiyeobda (kau lucu)!” Hyuk Jae terkekeh senang melihat reaksi Soo Rin. Ditambah mengetahui fakta baru bahwa gadis yang masih dipeluknya ini ternyata menyimpan banyak foto dirinya yang bahkan dia sendiri tidak tahu kapan dirinya diabadikan oleh jepretan ala gadis kesayangannya ini.

Ahjusshi!!” Soo Rin memukul pundak Hyuk Jae begitu orientasinya kembali. Wajahnya memerah bagai tomat segar karena saking malunya berkat tingkah pria ini. Dan ia semakin dibuat keki mendengar Lee Hyuk Jae semakin tergelak akan reaksinya.

“Jika kau ingin foto diriku, katakan saja. Aku akan dengan senang hati berpose setampan mungkin maka kau bisa memasangnya di halaman utama ponselmu,” goda Hyuk Jae seraya menaik-turunkan alisnya seraya tersenyum jahil.

“Tidak perlu!”

Hyuk Jae tergelak lagi mendengar tolakan Soo Rin. Ia berkutat kembali pada ponsel di tangannya, membuka fitur aplikasi kamera lalu mengaturnya sebelum mengarahkan ponsel tersebut ke hadapan mereka sehingga tertera wajah keduanya di layar jernih itu.

“Sedang apa?”

“Menurutmu?”

Ish, aku tidak mau selca seperti ini!”

“Karena itu tersenyumlah!”

Ahjusshiiii!”

Hyuk Jae menatap lekat gadis di pelukannya, menunjukkan senyum paling menawan untuk gadis kesayangannya ini. “Dengan begitu kau bisa memasangnya di halaman utamamu. Wajahmu denganku,” lalu kembali menghadap ke depan, “Cah! Aku mengaturnya bahwa ini akan mengambil sebanyak empat kali. Jadi, berposelah secantik mungkin, eoSi—jak!

Menyentuh tanda capture, layar sentuh ponsel tersebut langsung menampilkan aba-aba dalam hitungan mundur.

Hana, dul…

Klik!

Hana, dul…

Klik!

Hana, dul…

Klik!

Hana, dul…

Klik!

Ahjusshi!!!” Soo Rin segera menyemburkan protesnya karena pada jepretan terakhir, ia melihat melalui layar ponselnya sekaligus merasakan bahwa Lee Hyuk Jae mengecup ringan bagian tulang pipinya. “Ahjusshi sudah menciumku sebanyak dua kali!”

“Kenapa? Aku ‘kan ‘oppa‘-mu.”

Oppa-ga anya. Ahjusshi-da, Ahjusshi (Bukan Oppa tapi Ahjusshi)!”

“Karena itu berhenti memanggilku Ahjusshi!”

Ish! Ahjusshi menyebalkan!”

“Mau kucium lagi?”

Kali ini Soo Rin berhasil melepas diri. Memasang raut kecutnya yang dihiasi rona menggemaskan. “Menjauh dariku!”

Dan Hyuk Jae dengan senyum jahilnya justru merangsek untuk mendekat lagi. “Bagaimana jika aku tidak mau?”

Heol, lihat itu. Ahjusshi benar-benar mirip seperti byuntae ahjusshi di luar sana!”

Ya!!

Soo Rin harus memekik karena pria itu langsung menerkamnya, menggelitik bagian pinggangnya hingga ia tertawa kepayahan. Untuk beberapa saat pria itu tidak melepaskannya dan terus menyiksanya hingga ia mengerang memohon ampun.

“Katakan sekali lagi bahwa aku adalah byuntae ahjusshi!

“Tidak! Ahahaha… maafkan aku, Oppa… tolong hentikan… ahahaha!”

Mendengarnya, Hyuk Jae akhirnya berhenti. Tidak sepenuhnya berhenti karena ia dengan penuh suka cita beralih memeluk Soo Rin. Membiarkan gadis itu meredakan tawanya di pelukannya, di kala ia mengusap penuh sayang kepala sang gadis seraya memejamkan mata. Meresapi apa yang menguar dari gadis ini. Ia semakin merasa beruntung karena tangan-tangan yang lebih kecil darinya itu ikut memeluknya, membalas perlakuannya dengan baik, dan merasakan bagaimana gadis ini menghela napas panjang demi menuntaskan tawanya.

Oppa.

Hm?”

“Sampai kapan Oppa akan memelukku?”

Hmm…” Hyuk Jae mengulas senyum teduhnya di balik rambut panjang Soo Rin. “Sampai Oppa merasa bosan,” ia terkekeh sejenak. “Tapi sepertinya Oppa tidak akan pernah merasa bosan. Bagaimana ini?”

Ish!” Soo Rin memukul pelan punggung Hyuk Jae. Tidak dipungkiri bahwa ia juga merasa senang berada di pelukan pria ini. Karena ternyata ia juga ikut tersenyum manis di balik bahu lebar pria ini, bahkan Soo Rin justru mengeratkan pelukannya. “Kalau begitu jangan pernah lepaskan aku.”

Hyuk Jae mengerti benar ucapan penuh makna itu. Karenanya, ia membalas pelukan erat gadis kesayangannya, berharap ia benar-benar menenggelamkan gadis ini ke dalam rengkuhannya.

“Sampai kapan pun.”

B4rm

&&&

Matanya yang sedari tadi bersembunyi kembali terbuka perlahan. Menyadarkan bahwa dirinya masih duduk di salah satu kafe langganannya, seorang diri, hanya ditemani secangkir hot chocolate yang baru ia seruput sedikit. Pandangannya terlalu redup untuk paras wajahnya yang putih pucat.

Ia tampak lelah. Lelah karena pekerjaannya yang semakin menumpuk. Lelah pula karena pencariannya yang tak kunjung mendapatkan titik temu.

Dan memori yang baru saja melintas di dalam kepalanya semakin membuat perasaannya tambah merana. Ia memandang kosong tempat duduk di seberangnya yang hanya dibatasi meja di hadapan. Tidak ada seorang pun di sana. Biasanya dia akan berada di sini jika hendak bertemu dengan gadis itu. Bahkan beberapa kali ia berharap dengan kedatangannya yang tidak pernah absen kemari, maka ia akan menemukan gadis itu di sini. Sebuah pengharapan yang konyol, memang, mengingat di sisi lain yang lebih nyata bahwa ia bahkan belum menemukan satu jejak pun semenjak hilangnya sang gadis secara misterius.

Ini sudah bulan ketiga. Apakah pencariannya begitu lambat sampai-sampai ia belum juga mendapatkan kembali gadis kesayangannya? Atau gadis itu terlalu cerdik dalam bersembunyi? Ataukah ada orang lain yang lebih cerdik lagi dalam menyembunyikan gadis itu?

Ditambah, dia masih harus bersikap profesional mengingat statusnya yang memiliki pangkat cukup tinggi di lingkup kepolisian. Tugasnya tidak hanya mencari keberadaan sang gadis namun juga menangani banyak kasus yang semakin lama semakin mendesak kewajibannya.

Dia lelah. Dan dia merasa putus asa—hampir setiap saat. Ia merasa kekuatan batinnya berangsur melemah karena pencarian tanpa ujung ini.

Ya Tuhan… ke mana gadis itu pergi? Di mana gadis itu sekarang? Apakah gadis itu baik-baik saja? Apakah gadis itu selamat?

Menundukkan kepala, ia mengusap wajah tegasnya yang tampak lesu juga dilingkupi kefrustasian. Dia tidak tahu sampai kapan dia harus menunggu ketidakpastian  akan gadis kesayangannya ini.

“Hyuk Jae-ya!”

Merasa terpanggil, pria bernama Hyuk Jae itu mengangkat pandangannya. Menemukan seseorang yang sangat familiar di matanya kini melangkah dengan pasti mendekatinya, dihiasi senyum lebar khas nan menawan. Hyuk Jae pun bangkit berdiri demi menyambut orang itu.

“Hei, kawan! Rasanya sudah begitu lama tidak melihat kawan sekaligus sahabatku ini. Bagaimana kabarmu?” orang itu menyapa penuh ceria dan ramah, tidak lupa mengulurkan sebelah tangan yang langsung disambut baik oleh Hyuk Jae. Mereka bersalaman disertai pelukan layaknya sesama sahabat pria.

“Seperti yang kau lihat. Aku masih bisa bersantai di sela-sela pekerjaanku,” jawab Hyuk Jae setenang mungkin. Ia mencoba untuk ikut tersenyum seraya mempersilahkan orang itu untuk duduk sebelum ia duduk kembali. “Tapi sepertinya Dokter Lee Dong Hae kita semakin sibuk hingga baru bisa menemuiku hari ini, eh?”

Dong Hae, orang dengan senyum menawan itu tergelak pelan mendengar pertanyaan berbumbu candaan dari Hyuk Jae. Ia mengedikkan bahu, “Well, seperti yang kau katakan. Aku sudah menjadi dokter pribadi, omong-omong,” ujarnya yang dibalas kekehan pelan dari Hyuk Jae.

Percakapan mereka harus terhenti sejenak kala salah satu pelayan datang membawakan minuman pesanan Dong Hae. Dong Hae memang sempat memesan di counter begitu berhasil masuk kemari sebelum berlanjut menemui Hyuk Jae.

“Jadi, sampai kapan kau akan bertugas di Mokpo?” Hyuk Jae membuka percakapan kembali setelah memastikan pelayan itu pergi. Ia melihat pria di hadapannya tengah menyeruput secangkir minumannya. Dirasakan dari aromanya yang menguar cukup mengundang itu, sepertinya Lee Dong Hae memesan secangkir espresso macchiato.

macchiato

“Entahlah. Selama aku masih dibutuhkan, aku harus menetap di sana. Lagipula aku bekerja di kampung halamanku. Jadi, sambil menyelam minum air. Aku bisa sekaligus melepas rinduku dengan tanah kelahiranku,” jelas Dong Hae disertai senyum manisnya.

Hyuk Jae mengangguk-angguk paham. “Terlebih kau menjadi dokter pribadi. Sepertinya kau sebenarnya memiliki banyak waktu luang di sana, huh?” ejehnya secara halus.

Dong Hae menunjukkan deretan giginya. “Eii! Dokter pribadi tidaklah seperti yang kau bayangkan, Inspektur Lee,” jelasnya seraya menggerakkan telunjuknya di depan wajah. “Dia bukanlah sembarang pasien. Aku benar-benar harus memantaunya hampir setiap saat.”

“Dia?” Hyuk Jae mengernyit bingung, lalu memicing curiga. “Heol… sepertinya pemikiran kita memang berbeda. Aku mengira bahwa kau memang dokter pribadi namun memiliki banyak pelanggan di sana.”

Dong Hae menggeleng cepat, mendesis panjang sekaligus menerawang. “Sulit untuk dijelaskan. Tetapi yang pasti, she’s not only VIP, but VVIP.

Hyuk Jae berdecak kagum. Tidak menyangka bahwa ia memiliki teman sehebat Lee Dong Hae. “Kau harus menraktirku setelah pulang dari sana, Lee Dong Hae. Tidak menutup kemungkinan bahwa kau bisa menjadi dokter dengan bayaran termahal di Korea Selatan.”

Dong Hae tergelak mendengar ucapan sekaligus ekpresi Lee Hyuk Jae. “Yeah, aku akan menepatinya suatu saat nanti. Tunggu lah!” senyumnya semakin mengembang melihat kawannya itu ikut tertawa dengannya. Ia pun mengangkat kembali cangkir minumannya, hendak menyeruputnya lagi sebelum ia sempat bersuara lagi, “Bagaimana denganmu? Meski masih bisa bersantai, sepertinya kau tetap disibukkan dengan banyak kasus. Mengingat tingkat kriminalitas di Seoul sedikit meningkat akhir-akhir ini.”

Tanpa Dong Hae sadari bahwa Hyuk Jae melunturkan raut cerianya, berganti kembali redup, tersenyum miris dalam tunduknya, lalu menghela napas beratnya yang sebenarnya sedari tadi ia tahan.

“Seperti yang kau katakan. Ada banyak kasus pembantaian yang hingga kini belum berhasil dituntaskan. Salah satunya adalah dia… yang hingga kini belum berhasil kutemukan keberadaannya.”

Dan tanpa Hyuk Jae sadari, Dong Hae menghentikan kegiatan menyeruputnya, mendadak ia merasa kesulitan mengambil napas hingga kepayahan menelan sisa espresso di dalam mulutnya.

“Aku sudah mengerahkan semuanya. Bekerja sama dengan polisi di berbagai daerah hingga pelosok, bahkan meminta bantuan badan intelijen negara untuk mencari kemungkinan dia dibawa keluar dari sini.” Hyuk Jae menggeleng lemah, tersenyum pedih tanpa ia mampu kendalikan lagi. “Tetap saja, aku tidak menemukan jejaknya.”

Dong Hae meletakkan cangkirnya perlahan-lahan, menurunkan pandangannya setelah sempat melihat betapa sedihnya Lee Hyuk Jae saat ini. Dan untuk saat ini, Dong Hae hanya mampu memandang kosong espresso macchiato miliknya.

“Saat ini, aku tidak tahu harus mengerahkan apa lagi untuk mencari keberadaan Soo Rin,” kini Hyuk Jae memberanikan diri menyebut nama yang semakin terasa berarti baginya. Yang justru membuatnya semakin merindukan si pemilik nama tersebut. Gadis kesayangannya.

Dong Hae menelan saliva kepayahan sebelum memberanikan diri untuk kembali mengangkat pandangannya. “Kau… pasti bisa menemukannya, Hyuk Jae-ya…

Mendengar suara halus Dong Hae sedikit berubah, Hyuk Jae terpaksa mengulas senyum bersalahnya. “Apa aku sudah membuat Lee Dong Hae terbawa suasana?”

Dong Hae mengerjap cepat. Ia belum sempat menjawab ketika pria itu justru terkekeh pelan sambil meraih hot chocolate-nya yang belum ada seperempat kosong.

hotchoco

“Kuharap hal ini tidak mengganggu ketenangan bekerjamu setelahnya karena terlalu memikirkanku, Dong Hae-ya.” Hyuk Jae tersenyum sebelum mulai menyeruput minumannya tersebut.

Sedangkan Dong Hae, dia diam-diam menatap nanar sahabat karibnya itu. Bibirnya bergerak ragu sebelum akhirnya berhasil mengatakannya.

“Maafkan aku, Hyuk Jae-ya…

Hyuk Jae terpaksa menyelesaikan kegiatan menyeruputnya lebih cepat demi menghindari kemungkinan dirinya akan tersedak berkat ucapan lirih Dong Hae. Keningnya mengerut tidak mengerti. “Atas dasar apa kau meminta maaf padaku?”

“Atas dasar tidak mampu membantu pencarianmu.”

Hyuk Jae mendengus cepat, mengibaskan sebelah tangan bebasnya seraya meletakkan kembali minumannya. “Eii, jangan meminta maaf! Profesi kita berbeda, dan kau memiliki kesibukan tersendiri. Aku mengerti. Setidaknya kau mau datang menemuiku di sela-sela kesibukanmu itu sudah cukup menghiburku. Terima kasih, Dong Hae-ya.

Dong Hae mencoba untuk tersenyum. Namun terpaksa ia menurunkan kembali pandangannya, beralih menatap cangkir di hadapannya, berusaha menyembunyikan tatapannya yang berangsur kembali berubah nanar.

Karena saat ini ia tengah menyimpan rasa bersalah terlampau besar pada orang di hadapannya kini.

****

Soo Rin mencoba bangkit dari tidurnya. Ia butuh puluhan detik untuk menegakkan tubuhnya di atas bangsal putihnya. Dan hanya beberapa detik saja dirinya mampu duduk tegak sebelum merasakan betapa nyerinya bagian punggungnya. Ia pun membungkuk lemas, menjadikan tangan-tangannya sebagai tumpuan tubuhnya dan berpegangan pada sisi-sisinya. Menarik napas panjang yang sungguh ia keluhkan mengapa hanya dengan duduk seperti ini napasnya sudah terasa berat.

Ia mencoba menggerakkan tangannya, menyibak selimut yang membungkusnya hingga batas perut lalu melepas fingertip dari telunjuknya. Menggerakkan kedua kakinya perlahan-lahan demi menapak dinginnya lantai serba putih di bawahnya, dan mencoba untuk berdiri. Soo Rin hampir terjatuh jika saja tidak langsung berpegangan dengan infuse stand di sampingnya. Dia baru menyadari bahwa kaki sebelah kanannya terasa kebas yang mengingatkannya akan tembakan tempo lalu. Soo Rin harus meringis meratapi betapa lemahnya dia saat ini. Punggung yang tidak mampu ia tegakkan agar berdiri dengan benar, kakinya yang tidak mampu menopang tubuhnya dengan baik, asupan infus yang menandakan dirinya benar-benar tidak bugar saat ini.

Soo Rin menghembuskan napas panjang. Memang benar yang dikatakan oleh pria itu bahwa dirinya harus beristirahat. Hanya saja, dia sudah merasa cukup lama berbaring. Entah berapa lama, dan kebosanannya menumpuk semakin banyak rasa kurioritasnya akan tempat ini hingga kini ia menyeret kaki-kakinya untuk menjauh dari bangsal, mendekati kaca yang ia tahu bahwa itu adalah pintu keluarnya, menjadikan infuse stand yang menggantungkan asupan infusnya sebagai pegangannya.

Sejenak Soo Rin terkagum-kagum dengan kaca yang bergeser secara otomatis begitu ia mendekatinya dalam radius setengah meter saja, memberikan akses baginya untuk keluar dari ruang isolasinya. Ia kembali dibuat kagum karena menemukan ruangan yang mirip seperti ruang tunggu karena ada satu sofa panjang di sudut ruangan sana, dekat dengan pintu kaca lain yang Soo Rin yakini adalah pintu keluarnya. Dia tidak menyangka bahwa ruang isolasinya dilapisi lebih dari satu pintu, otomatis pula. Omong-omong, Soo Rin belum pernah menemukan rumah sakit yang memiliki ruang rawat inap semacam ini.

Begitu berhasil keluar melalui pintu kedua, Soo Rin menyadari bahwa napasnya sudah tersengal. Sungguh payah. Dia bahkan belum ada berjalan sebanyak 30 langkah normal tetapi ia sudah kelelahan secepat ini. Di mana staminanya yang selalu menggebu-gebu tanpa kenal lelah itu? Di mana kebiasaannya yang senang berlari ke sana kemari tanpa kenal lelah itu? Bagaimana dia bisa keluar dari sini jika modal tenaga saja dia tidak punya?

Tunggu…

Tempat apa ini?

Soo Rin hanya melihat lorong yang nyaris gelap di hadapannya setelah berhasil melewati pintu kaca berikutnya. Hanya diterangi beberapa cahaya lampu di dinding yang bahkan tidak seberapa terangnya. Samar-samar ia melihat hanya ada beberapa pintu di sisi-sisinya lalu di jarak sekitar lima belas meter di hadapannya tampak dua persimpangan sebagai ujung dari lorong ini.

Ini bukan rumah sakit. Soo Rin mulai yakin akan hal itu. Kondisi rumah sakit tidaklah seperti ini. Dia bahkan tidak mencium aroma obat-obatan yang khas sebagaimana aroma rumah sakit kebanyakan. Yeah, Soo Rin cukup bersyukur bahwa indera penciumannya masih berfungsi dengan baik. Dan lagi, tempat ini terlalu sunyi dan senyap, menguarkan aura tidak nyaman yang seketika merambat ke sekujur tubuhnya.

Dia ingin kembali saja ke ruang isolasinya, tapi… Soo Rin harus dibuat bingung karena pintu kaca itu sudah tidak mau memberikan akses padanya untuk masuk. Tertutup amat rapat dan ia tidak tahu bagaimana cara membukanya. Apakah dia harus menelusuri lorong gelap itu demi mencapai ke persimpangan sana?

Tubuhnya mulai menggigil. Suatu efek yang sering terjadi di saat ia mulai tidak nyaman. Salah satu penyebabnya adalah kesendirian. Dia benci sendirian, dia takut untuk sendiri, apalagi di tempat asing seperti ini. Dia membutuhkan seseorang. Dan entah mengapa, dia berharap bahwa pria itu yang muncul menemuinya saat ini.

Ketika mulai menyeret kakinya kembali, Soo Rin mendengar adanya langkah kaki di kejauhan sana. Hentakannya menggema seolah merambat melalui dinding-dinding lorong itu, yang justru tanpa sengaja mengingatkannya akan suara hentakan sepatu besar yang sempat ia lihat di kejadian kematian ibunya. Memicu deru napasnya mulai memburu dan tanpa sadar ia melepas pegangannya dan menyeret kakinya untuk mundur.

Matanya melebar begitu menangkap siluet hitam itu muncul dari balik persimpangan di sana. Bergerak ke arahnya disertai langkah kaki yang terdengar memekakkan telinga dan terasa seperti mengintimidasinya hingga Soo Rin semakin bergerak mundur. Pandangannya mendadak mengabur di kala bayang-bayang akan tragedi itu kembali memenuhi kepalanya. Tubuhnya terasa kebas hingga tidak terasa bahwa ia kembali mendekati pintu kaca di belakangnya. Telinganya serasa berdengung mendengar hentakan itu semakin jelas dan jelas yang menandakan si pemilik langkah itu semakin dekat.

Dan Soo Rin tidak mampu mengelak ketika punggungnya membentur pintu kaca tersebut, menimbulkan rasa nyeri yang seketika melemaskan tubuhnya, meluruhkan dirinya begitu saja dan ia harus merintih kesakitan karena di waktu bersamaan jarum infus di punggung tangannya tercabut begitu saja akibat selang yang terhubung sudah terulur tegang berkat tindakannya yang bergerak tanpa membawa kembali infuse stand tersebut.

Soo Rin jatuh terduduk dengan napas tidak beraturan. Telinganya yang masih berdengung mendengar langkah kaki itu semakin cepat menghampirinya. Soo Rin tidak berani mendongak. Ia hanya melihat seseorang sudah berjongkok di hadapannya, merobek ujung kemeja yang dikenakannya begitu saja hingga tercipta selembar kain sebelum beralih meraih tangannya yang terluka. Dan dia semakin gemetaran karena itu.

I’ve told you to take a rest inside there.

Jantung Soo Rin seperti baru saja mencelos. Dia sudah tidak merasa asing dengan suara berat itu. Dan ia dapat merasakan ketakutan di dalam dirinya seperti mereda perlahan-lahan, yang dalam waktu bersamaan mengangkat kepalanya, hingga mendapati wajah tegas itu berada di hadapannya. Sedikit menunduk berkutat membalut tangannya dengan robekan kemeja itu. Soo Rin tidak melihat ekpresi apapun di sana. Dia hanya mengetahui bahwa pria itu bergerak penuh cekatan hingga tidak butuh waktu lama ia diserang dengan tatapan tajam yang langsung menghunus matanya.

You didn’t hear me.” Kim Ki Bum menuding secara telak. Dia baru akan melanjutkan tudingannya begitu menyadari bahwa gadis itu tersengal-sengal dalam duduknya. Menatap nanar dirinya dengan sepasang matanya yang berair, dan ia melihat adanya binar ketakutan di sana.

Mendadak Ki Bum kesulitan untuk bernapas. Jantungnya berdentum cepat melihat betapa tersiksanya sang putri saat ini. Berkat kedatangannya.

Dia telah melakukannya—sekali lagi—terhadap Soo Rin.

I scared you,” sebenarnya Ki Bum ingin menjadikannya sebagai kalimat tanya, hanya saja, melihat bagaimana Soo Rin tampak ketakutan sudah cukup membuatnya goyah hingga ia harus berjuang untuk mengontrol emosinya dan berkata sedatar mungkin.

Soo Rin masih berusaha untuk bernapas. Batinnya merutuki akan ketakutannya yang ternyata begitu berlebihan hingga ia berakhir seperti ini. Bahkan ia merasakan adanya peluh di kedua pelipisnya. Ini justru mengkhawatirkannya bahwa sepertinya dia memiliki semacam… trauma?

Tapi belum cukup bagi Soo Rin untuk memulihkan pikiran kacaunya, ketika dirasa tangan-tangan itu menyentuhnya, mengalihkan perhatiannya hingga kembali memandang pria itu. Melihat bagaimana pria itu menyingkirkan anak-anak rambutnya ke balik telinga, menyeka peluhnya secara hati-hati. Secara tidak langsung bahwa sentuhan penuh kehati-hatian itu berhasil menenangkannya. Dan—lagi, pria itu membuatnya terperangah ketika tanpa aba-aba merengkuhnya. Membawanya ke dalam dekapan, menyandarkan kepalanya pada dada bidang itu.

Memang hanya itu yang ada di dalam pikiran Ki Bum saat ini. Dia tidak mungkin diam saja melihat tubuh lemah gadis itu gemetaran karena ketakutannya. Meski di sisi lain dia takut bahwa sentuhannya akan menyakitinya. Maka dari itu, ia mencoba untuk melakukannya secara hati-hati. Berusaha untuk tidak mendekapnya terlalu kuat. Dan berusaha untuk menyalurkan rasa nyaman pada gadis ini.

I’m sorry.

Soo Rin mengerjap pelan. Dia berharap sedang tidak salah mendengar bahwa pria yang tengah mendekapnya mengucapkan kata maaf padanya. Kata maaf yang keluar dari mulut pria itu memang tidak main-main. Bukan semacam basa-basi karena sudah sempat menakutinya. Namun seperti ada tujuan lain yang itu berarti ada hal lain yang membuatnya harus meminta maaf padanya. Soo Rin baru saja akan bertanya ketika tangannya secara reflek terangkat demi menyentuh lengan itu, lalu seketika niatnya buyar, entah mengapa ia merasakan getaran asing itu kembali begitu berhasil menyentuhnya. Lengan pria ini begitu kuat, seperti tercipta untuk memikul banyak beban seberat apapun itu, dan melindungi hal yang rapuh dari kerasnya dunia.

Salah satunya adalah dirinya.

Apakah itu berarti bahwa pria ini memang ada untuk dirinya?

Jika memang begitu, haruskah Soo Rin berhenti meragukan pria ini? Meski Soo Rin masih belum tahu pasti siapa sebenarnya pria ini?

Itu berarti, Soo Rin tidak perlu merasa takut jika pria ini ada, bukan?

Ki Bum sudah berhasil mengontrol diri. Ia juga merasakan bahwa gadis di dekapannya sudah tenang. Karena itu ia mulai melepas rangkulannya secara hati-hati. Memastikan sekali lagi bahwa gadis itu memang sudah kembali tenang, yang justru harus ia sesali karena ternyata sang gadis kini membalas tatapannya.

Menyadari ada binar lain di mata jernih itu, Ki Bum mencoba untuk menunggu. Gadis itu mulai menggerakkan bibirnya, mengeluarkan suara merdunya, mengajukan pertanyaan padanya.

“Jika… jika aku memang tidak memiliki seseorang yang bisa kupercaya di luar sana…” Soo Rin mengambil napas sejenak. Hanya mengucapkan beberapa patah kata sudah mampu membuat napasnya kembali berat. “Apakah itu berarti… aku harus percaya padamu?”

Hening adalah jawaban yang Soo Rin dapat setelahnya. Pria itu tidak segera menjawab, hanya menatap terlampau lekat dirinya, yang entah bagaimana sudah cukup membuat benaknya merasa hangat. Karena masih ada orang yang mau memerhatikannya di kala dirinya sudah tidak mampu berdiri seperti sekarang ini.

“Kalau begitu… bisakah malam ini aku di luar saja? Aku… aku merasa bosan di dalam sana…” Soo Rin melirih bersamaan dengan pandangannya beralih tertunduk. Ia sedikit tidak percaya diri mengajukan pertanyaan itu, sebenarnya. Karena ia tidak yakin, apakah Kim Ki Bum akan mengizinkannya atau tidak.

Then I should to be with you,” adalah jawaban Ki Bum yang ternyata mampu dicerna dengan baik oleh Soo Rin.

Baiklah. Sepertinya Ki Bum memang tidak mengizinkannya untuk keluar dan beralih menemaninya di dalam sana. Itulah mengapa pria itu kembali merengkuhnya, kali ini satu tangannya menelusup ke bawah lutut Soo Rin, lalu tanpa merasa kesulitan pria itu mengangkat tubuhnya begitu saja. Spontan saja Soo Rin mencari pegangan di kedua bahu lebar itu.

Hanya saja…

Tanpa Soo Rin duga, Ki Bum membawanya menelusuri lorong gelap tersebut. Bukan membawanya kembali ke dalam sana—ke ruang isolasinya.

0508


Q&A

Q :: Ceritanya mirip Yong Pal, ya?

A :: Hihihi.. ‘kan terinspirasi dari sana. Efek karna belum bisa move on sepenuhnya dari drama itu, akhirnya aku dapat ide absurd ini dan mengambil beberapa setting dan mungkin juga adegan dari drama itu. Tapi, kalau tercapai, aku bakal bikin cerita ini beda dari Yong Pal-i sendiri kok~

Q :: Masih belum paham sama ceritanya.

A :: Memang masih abu-abu untuk cerita ini karena aku membuatnya dengan alur maju dan mundur. Tapi, tidak apa-apa ‘kan? Berarti aku berhasil membuat para pembaca penasaran dengan cerita ini ^^ yah, meski akunya juga masih abu-abu mau dibawa ke mana cerita ini #duaagh

Q :: Ada hubungan apa antara Hyuk Jae dan Soo Rin?

A :: Hm… aku berharap di bagian ini pembaca sudah paham, hubungan apa yang dijalani Hyuk Jae dan Soo Rin :3 hihihi

Q :: Siapa sebenarnya Ki Bum? Dia mengenal Soo Rin, tetapi Soo Rin tidak mengenalnya?

A :: Yap, di sini Soo Rin tidak mengenal Ki Bum. Dan yang pasti, Ki Bum memang mengenal Soo Rin. Tapi… status Kim Ki Bum masih disembunyikan~ hahahaha #ditendang

Q :: Siapa orang yang sudah melemparkan gelas ke kepala anak buahnya itu?

A :: Dia si antagonis. Identitas masih disembunyikan. Jika mau tahu, silahkan menebak-tebak, aku berencana untuk menyatutnya dari geng Super Junior (?) yehet! XD

Q :: Bagaimana Soo Rin bisa berada di rumah sakit?

A :: Suatu saat, aku akan menjelaskannya. Yang jelas, Soo Rin berhasil diselamatkan oleh Kim Ki Bum dan Aiden Lee a.k.a Lee Dong Hae. Dan, oh ya, itu bukan di rumah sakit loh~ hihihi

Q :: Kenapa ceritanya singkat sekali?

A :: Ugh, maafkan aku. Itu tergantung dari imajinasiku yang berhasil tertuang. Aku tidak bisa memaksa untuk menambah lebih karena khawatir bahwa ceritanya akan semakin kacau. Tahu sendiri bahwa cerita ini sendiri sudah membuat pembaca bingung, bukan? Tapi, untuk kali ini aku berhasil membuatnya lebih panjang dari sebelum-sebelumnya. Semoga kalian merasa terpuaskan, yaa~^^

dan sekian sesi tanya-jawab yang berhasil aku rangkum.. mungkin selanjutnya aku harus bikin sesi yang sama di bagian akhir seperti ini mengingat aku hampir ga balas semua komentar pembaca.. iya, aku sadar bahwa aku sudah tidak serajin dulu yang selalu membalas semua respon pembaca, mohon maafkan aku.. tapi yang jelas aku membaca semua komentar yang masuk kok ;___;

Terima kasih karena sudah mau mengikuti cerita aneh ini~ semoga aku bisa melanjutkan kembali cerita gajelas ini dengan baik hehet! Doakan saja ya! XD

salam dari Uisa-nim!

tumblr_nmez90pQay1qeu8qgo5_1280
Aiden Lee a.k.a Dong Hae

Hope to see you again~ ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

10 thoughts on “Empty

  1. Ada si Kunyuk! Kunyuk gantengku bakalan ditikung ama Pangeran Es wkwkwk.
    Si Soorin gak di rawat di Korea? Di US ya? Di tempatnya Kibum? Terus gimana ceritanya Kibum kenal Soorin? Kenapa si Ikan juga nyembunyiin keberadaannya Soorin?
    Kibum itu siapa? Donghae juga siapa?

  2. nah loh donghae trnyta tmn hyuk….
    trus klo emang hyuk pny hub baik ma soorin knpa hae g ksh tw hyuk dmn soorin?
    mkin pnasaran ja nih 😊
    next dtunggu 😀
    smangat😄

  3. Hyuk oppa saingan sama cast utama di blog Kisu2, siapa nih yg menang 😝😝😝
    Cast2nya blm keluar semua, mungkin yg jd antagonisnya Kangen oppa dia cocok jd agak beringas kkkkk….
    Kembar Lee temen toh disini, abang Donghae sudah tahu kayaknya ttng gadis yg dibicarakan abang Hyuk tuh sama dgn gadis yg diselamatkan sama dia, makanya dia bilang maaf sama Hyuk oppa…cerita masih ambigu, jd tambah penasaran…di part ini inggrisnya mudah dipahami karna pendek2 dan penggunaan kosakatanya yg sering digunakan dan didenger hehehe, maklum englishnya aku rada kurang #gakbisa 😜
    See you next part and next story Siska, semangat dan sukses selalu buatma❤❤❤

    blm baca yg Harem Lodge sama Past Midnight😢

  4. wahhh, semakin penasarann sama kelanjutan ceritanyaaa. sukses buat aku penasarannn

    soo rin mulai notice sama ki bum aheyyy
    masih abu-abu sebenernya soo rin itu siapanye hyuk jae

    semangat ngelanjutinnyaaaaaaa

  5. Ya ampun hidup lo penuh misteri ya gk kehidupan nyata kehidupan perffan jga gitu
    aku agak curiga nih sma Kibum jgan2 dia lah dalang semua dri kasus ini
    tpi ada beberapa apa yg gk ku mengerti#maafkan aku#cukup smpe d sini saja#lambai2

  6. ceritanya bikin penasaran……………..
    donghae ternyata temennya hyukjae ya, trus kenapa donghae nyembunyiin keberadaan soo rin ke hyukjae. kalo hyukjae jadi orang baik kenapa di sembunyiin. trus kibum sama donghae itu temenan juga ya……., penasaran gimana mereka berdua nyelametin soo rin, gimana ki bum bisa kenal sama soo rin. sumpah ceritanya bikin penasaran……….

  7. lah sbnrnya ada hubungan apa sh mrka donge tmn unyuk jga tmn kibum,,,
    knpa donge gk kasih tau keberadaan sorin pda unyuk..?
    trus sorin tdk knl kibum,tpi kibum knl sorin…ck ceritanya berbelit,,,,tpi kren ttp bikin penasaran kkkk

    mian baru komen kkkk

  8. Dunia berasa sempit, ketika ternyata teman yg di temui Donghae adalah Hyukjae. Apakah Ki Bum terlibat dalam pembantaian keluarga Soo Rin .?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s