Posted in Category Fiction, Fiction, Fluff, PG, Vignette

Past Midnight

tumblr_1280

Genre :: Fluff

Rated :: PG

Length :: Vignette

another absurd and cheesy story in

||KiSoo’Territory||

H A P P Y  (vomit )  R E A D I N G

.

©2016 ELVABARI

.

DI pukul dua dini hari ini, Soo Rin harus terbangun dalam kondisi pucat pasi disertai peluh yang terproduksi berlebihan. Napasnya memburu bagaikan kehabisan asupan oksigen di dalam paru-parunya. Matanya mendadak berair serta memerah, dia terlihat sudah siap menangis sebentar lagi.

“Ada apa?”

Soo Rin terhenyak di posisinya begitu mendengar juga mendapati Kim Ki Bum di sampingnya, terjaga dengan raut kebingungan sekaligus cemas. Tangan besarnya langsung mengambil handuk lipat dari kening Soo Rin sebelum menyingkap poninya yang sudah basah.

“Hei, ada apa?” Ki Bum bertanya lagi setelah melihat Soo Rin hanya menatap nanar dirinya. Tapi bukannya mendapat jawaban pasti, Ki Bum dibuat tertegun melihat gadis itu justru mulai terisak pelan disertai tangan-tangan halusnya yang meremas selimut penuh gemetar.

“A-aku… aku… ugh…

Ki Bum mendekat, merengkuh tubuh Soo Rin yang ternyata langsung direspon oleh sang empu. Merasakan tubuh Soo Rin menggigil juga naik-turun akibat deru napasnya yang kacau, tangan halusnya memeluk bagian pinggang piyamanya tidak kalah gemetar. Mau tidak mau Ki Bum harus menenangkan gadisnya ini terlebih dahulu, mendesis pelan sebagai bentuk penenangan di kala Soo Rin mulai menangis di pelukannya.

Tubuhnya masih terasa panas. Soo Rin memang sedang terserang demam. Sepertinya ini akibat dari menularnya penyakit demam Ki Bum yang baru saja pulih dua hari lalu. Ki Bum sudah mengiranya karena sejak saat itu Soo Rin mulai tampak lesu juga mengeluh pusing beberapa kali, dan puncaknya adalah semalam begitu pulang dari kerja, Soo Rin langsung mengalami demam tinggi—lebih tinggi dibandingkan Ki Bum sebelumnya. Dan suatu kenyataan bahwa Soo Rin akan berubah menjadi gadis super sensitif jika sedang jatuh sakit seperti ini. Itulah mengapa Ki Bum memaklumi bahwa Soo Rin menangis hanya karena bunga tidurnya yang tidak nyaman seperti sekarang ini.

Maka dari itu Ki Bum membiarkan gadisnya menangis tanpa harus ia usik dengan pertanyaan yang bermunculan di dalam kepala. Memilih untuk mengusap-usap punggung kecil gadisnya dengan teratur demi meredakan rasa kalut berlebihannya ini.

“Mimpi buruk, hm?” Ki Bum bersuara setelah merasa yakin bahwa tangisan gadis di pelukannya sudah mereda. Ia merasakan tangan yang memeluk pinggangnya kembali meremas-remas piyamanya setelah sempat melemas, meski kini sudah tidak ada gemetar seperti sebelumnya.

“A-aku… melihat seorang gadis… sedang dipukuli seorang pria. Pria itu… tidak hanya menampar… tapi, dia juga meninju menggunakan kepalan tangan, siku, bahkan dengan lututnya. Dia… juga menendang… tidak peduli bahwa gadis itu sudah berteriak memohon ampun… Ha-hanya saja…” Soo Rin mengeratkan kembali pelukannya, tubuhnya kembali menggigil bersamaan isakannya kembali muncul, “i-itu… terlihat seperti aku… hiks…

Ki Bum memahaminya. Mungkin jika dilihat dari sudut pandang orang lain, itu terlihat sepele karena itu hanyalah sebuah bunga tidur, tapi dia mengerti bahwa Park Soo Rin yang sedang dalam kondisi seperti ini tidak bisa menganggap mimpinya sekadar angin lalu.

“Kau menonton sesuatu kemarin?”

Eung…” Soo Rin mengangguk di sela-sela sesenggukannya. “Itu sedang menjadi topik pembicaraan di kantor…”

“Seharusnya kau tidak menontonnya, Soo Rin-ah.

Ugh…

“Kau tidak terbiasa melihat kekerasan semacam itu. Karena itu kau terlalu memikirkannya hingga terbawa ke alam bawah sadarmu. Ditambah kau sedang dalam kondisi tidak baik, hal semacam itu mampu menjadi beban pikiranmu,” jelas Ki Bum pelan. Tangan-tangannya tidak berhenti menenangkan gadis yang masih sesenggukan di pelukannya.

“Aku takut…”

Ya. Itu hal yang wajar dialami oleh orang seperti Soo Rin. Karena kecemasan yang terlalu tinggi, alam bawah sadar merekam sekaligus menampung kecemasan tersebut. Sebenarnya mimpi itu sendiri merupakan suatu bentuk pelepasan dari kecemasan yang tersimpan di alam bawah sadar karena manusia itu sendiri tidak mampu mengekspresikan kecemasan  tersebut. Demi membuang hal yang bersifat negatif semacam itu, biasanya mimpi akan bertugas sebagai alternatif pelepasan yang bersangkutan supaya tidak menjadi beban pikiran lagi terhadap orang itu sendiri. Efek sampingnya, jika hal itu cukup serius akan seperti yang dialami Soo Rin saat ini, sebuah rasa takut yang berlebihan namun bersifat sementara. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah penenang dan Ki Bum lah penenangnya.

“Dia terlihat seperti aku, dan… dan… aku berpikir bahwa pria yang melakukannya… itu… hiks…

Ssh…” Ki Bum menepuk-tepuk punggung Soo Rin, mengeratkan dekapannya kala dirasa tubuh gadis itu kembali menggigil. “Sudah, tidak perlu dilanjutkan. Aku mengerti,” ujarnya pelan. Ia justru mendengar Soo Rin semakin tersedu-sedu di balik dadanya. Pada akhirnya Ki Bum beralih melonggarkan pelukannya, meraih dagu Soo Rin lalu mengangkatnya, “Hei, kau bisa melihatku?”

Masih sesenggukan, Soo Rin mengangkat pandangannya yang mengabur akibat air matanya, melihat wajah tegas itu berada di hadapannya, menatap lekat dirinya, dan merasakan tangan besar itu merengkuh wajahnya, cukup membuatnya meredakan tangisannya.

“Aku sudah berkata padamu, bukan? Aku sangat pantang melakukannya padamu. Apa aku pernah melakukan hal tersebut padamu?”

Soo Rin menggeleng lemah. Di saat itu juga ia merasakan jemari pria itu mengusap sudut mata hingga pipinya, menghapus air matanya.

“Karena aku memegang pendirianku untuk tidak melakukan kekerasan sekecil pun terhadap wanita, terutama padamu. Jika aku melanggarnya, itu berarti aku tidak mencintaimu.” Ki Bum menyingkap kembali poni gadisnya yang masih terlihat basah, mengecup bagian keningnya lembut sebelum berkata lagi, “Aku berjanji padamu untuk tidak melakukannya sampai kapanpun. Jadi jangan pikirkan mimpi itu apalagi membayangkan kau dan aku berada di posisi itu. Mengerti?”

Soo Rin mengangguk lemah yang langsung dibalas rengkuhan hangat di pundaknya. Merasakan tangan besar itu mengusap kepalanya penuh sayang sebelum kembali melepasnya.

“Kau berkeringat banyak. Aku akan mengambilkan pakaian ganti untukmu.” Ki Bum baru saja mendudukkan diri ketika dengan cepat gadis itu mencekal tangannya.

Soo Rin menggeleng cepat. Wajahnya tampak memelas dengan kening mengerut amat jelas. “Tidak. Jangan ke mana-mana.”

“Aku hanya ingin mengambil piyama barumu di sana, Soo Rin-ah.

Soo Rin menggeleng lagi.

Ki Bum menghela napas panjang. Dia memang harus mengalah dan mencari cara lain. Pada akhirnya ia menuntun Soo Rin untuk duduk menghadapnya. Gadis itu tampak kehilangan orientasinya beberapa saat dan Ki Bum menyadari bahwa itu merupakan efek dari peningnya. Lalu tanpa berkata lagi, Ki Bum mulai melepas deretan kancing piyama Soo Rin hingga gadis itu meraih pergelangan tangannya tanpa tenaga namun berhasil menghentikan niatnya.

“K-kau mau apa?”

Tersenyum, Ki Bum menjawab, “Menyeka tubuhmu. Aku sudah berkata bahwa kau berkeringat banyak, bukan?”

“T-tapi…”

Ki Bum merengkuh kembali wajah Soo Rin, memainkan ibu jarinya di sana. “Aku tidak akan melakukan lebih. Kau percaya padaku?” ia melihat gadisnya itu mengangguk kikuk. “Kalau begitu jangan menolakku. Aku sudah terlanjur membuka pakaianmu.”

Entah kenapa perkataan Ki Bum justru membuat wajah Soo Rin memerah. Dia tahu bahwa niat Ki Bum bukanlah seperti yang ada di pikirannya, tapi… oh, ya ampun, jangan katakan bahwa pikiran Soo Rin sudah menjalar ke mana-mana saat ini. Namun hanya dalam hitungan detik pikirannya seketika buyar begitu merasakan tubuhnya menggigil beberapa saat karena merasakan udara ruangan ini ternyata lebih dingin dibandingkan piyamanya yang sudah tertanggal berkat kerja tangan Ki Bum.

Pria itu meraih selipat handuk yang sempat dijadikan kompres untuk Soo Rin, mencelupkannya ke dalam baskom kecil berisi air yang sudah mendingin di atas nakas sebelah tempat tidur, memerasnya hingga setengah kering, barulah ia gunakan untuk menyeka bagian tubuh Soo Rin dengan hati-hati.

Sedangkan Soo Rin terpaksa menunduk dalam, tidak berani menatap Kim Ki Bum mengingat kondisinya yang hampir telanjang seperti ini. Sekeras mungkin dirinya menahan rasa malu mengingat pria itu tengah menyentuhnya. Well, menyentuh dalam arti lain. Meski dia tahu pasti bahwa pria itu tidak akan melakukan hal lain, apakah itu berarti bahwa seorang pria tidak akan berpikir hal—kau tahu apa itu—benar, bukan?

Soo Rin terhenyak pelan begitu tangan Ki Bum mengangkat wajahnya dengan hati-hati. Jantungnya yang sudah tidak selamat semakin merana melihat pria itu tengah tersenyum hangat padanya sebelum beralih menyeka wajahnya dengan handuk lain. Tidak perlu menerka-terka lagi apa yang terjadi dengan wajahnya, sudah pasti bahwa wajahnya yang pasi sudah berubah semerah tomat berkat perilaku Kim Ki Bum yang begitu menyiksa batinnya. Well, menyiksa dalam arti lain, tentunya. Dan yang pasti, tubuhnya yang sempat menggigil sudah beralih bergetar karena desiran hebat di dalam tubuhnya.

Belum sampai di situ, Soo Rin kembali dibuat menahan napas. Melihat pria itu meletakkan handuk bekas pakai di atas nakas sebelum kemudian melepas piyamanya sendiri. Ketar-ketir Soo Rin munutup mata seraya menunduk dalam, tindakannya tersebut sudah cukup membuat kepalanya kembali terasa pening. Dan bukannya dengan begitu ia tidak akan melihatnya, justru bayang-bayangnya masih mampu melihat tubuh kekar Kim Ki Bum yang topless.

Blush…

Ya Tuhan, tolong beri kekuatan untuk Soo Rin dalam menghadapi seorang Kim Ki Bum yang selalu berhasil membuatnya panas-dingin seperti sekarang ini!

Dan serangan itu masih berlanjut ketika Soo Rin harus kembali terhenyak karena ternyata Kim Ki Bum memakaikan piyamanya untuk Soo Rin, mengaitkan kancing-kancingnya dengan teratur hingga Soo Rin merasakan kembali kehangatan yang khas pada tubuhnya. Ia harus terbengong-bengong akan perilaku prianya sendiri yang… sungguh dia tidak memiliki ide mengapa hal ini harus terjadi.

“Karena kau tidak mengizinkanku untuk beranjak sebentar, terpaksa kau harus mengenakan piyamaku,” seolah mampu membaca pikiran Soo Rin, Ki Bum berkata dengan kalemnya.

“Tapi, kau… tidak memakai—”

“Itu lebih baik dibandingkan kau memakai piyamamu yang sudah basah karena keringat.” Ki Bum menyambar dengan halus. Yakin bahwa gadis itu sudah selesai mengelak, Ki Bum menuntunnya untuk kembali berbaring, kemudian menyingkirkan piyama gadis itu ke bawah tempat tidur begitu saja. Barulah ia menyusul berbaring di sebelah Soo Rin, menarik tubuh yang masih terasa panas itu ke dekapannya dan langsung mendapat respon berupa tangan-tangan halus gadisnya menyentuh bagian pundak.

“K-Kim Ki Bum…”

Hm?”

“Kau—tidak memakai baju…”

“Kenapa?” Ki Bum mengulum senyum penuh arti melihat bagaimana wajah cantik itu merona padam. Gemas dengan reaksi itu, tangan besarnya mengusap-usap kepala gadis kesayangannya ini. “Kau tahu bahwa suhu tubuh manusia mampu tersalurkan hingga berbagi dengan tubuh lainnya jika berpelukan seperti ini?”

Ugh… y-ya…”

“Kalau begitu, kau sudah tahu tujuanku, bukan?”

Ough, apakah Soo Rin harus menjawab pertanyaan yang satu ini? Entah mengapa ia merasa adanya nada kejahilan di balik pertanyaan halus dari Kim Ki Bum. Tapi belum sempat ia memilih untuk melepas diri, tangan-tangan itu sudah lebih dulu mengurungnya, membuatnya harus menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh Kim Ki Bum secara langsung—yang semakin membuat debaran jantungnya justru berfluktuasi terlampau cepat.

“Tidurlah. Aku ingin di pagi hari nanti kau sudah membaik.” Ki Bum membenarkan selimut mereka yang ternyata direspon Soo Rin. Gadis itu hampir mengubur seluruh kepalanya di balik selimut, entah mengapa itu terlihat lucu di matanya.

“Kim Ki Bum…”

Hm?

“Kau dokter yang menyebalkan…”

Dengusan halus keluar dari seorang Kim Ki Bum, mendengar ucapan tak terduga itu terlontar dari mulut gadisnya, juga melihat sekaligus merasakan bagaimana gadisnya itu bersembunyi di balik dada telanjangnya, memejamkan mata dengan menyisakan semburat kemerahan di pipinya yang sedikit tampak. Membuatnya tidak tahan lagi untuk mendaratkan kecupan sayang di bagian pelipis sang gadis sebelum turun ke depan telinga.

“Aku tahu. Aku juga mencintaimu.”

tumblr_m3bjz8nwYa1qa7tfso1_500

FIN!


 

KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!! HAHAHAHAHA

INI GAJELAS BANGET YAWLAAA MAAFKAN AKU SUDAH MENISTAKAN MATA KALIAN DENGAN TULISAN INI….juga dengan kimkibum yang lagi buka baju wkwkwkwkwk

ini tercetus setelah aku ga sengaja nemu video….iya…yang menjadi pembahasan kisukisu di cerita ini.. dan aku ga nyangka ada cowo yang tega nyiksa cewenya dengan kekerasan yang ga patut diberikan kepada kaum hawa. Gegara video itu aku jadi kepikiran, trus akhirnya biar ga kepikiran lagi aku bikin buat kisukisu aja deh heheheh

btw, deskripsi mimpi itu, aku pernah baca di suatu situs tapi lupa alamatnya apa.. seingatku aja itu penjelasannya.. kalo mau nambahin juga boleh kok heheheh :3

ohya, selamat menempuh perjuangan menjalani UN bagi yang menjalankan besok, yaa~ semoga berhasil! Aja aja hwaiting!!! ^-^

See you again! \\guling-guling\\ >/////<

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

19 thoughts on “Past Midnight

  1. Alamak itu abs Kibum pengen ku cubit aja
    mau bgt d perhatiin sma Kibum caranya memperlakukan Soo rin awww gk bsa berkata2 lgi
    aduh bang kau buat aku mkin mencintai mu

  2. Sedih aku fotonya tdk kebuka 😦

    Typo nemu satu 😉 wajar satu atau dua mah,,mungkin terburu-buru 🙂

    Coretan”mu selalu berhasil membuatku tersenyum gaje daebakk dh

    X x update yg ada little kim nya dong sampai kpnpun nega nunggu yg satu entu…

    Ok semangat chingu,,,,,

  3. ini yg nama y mubadzir…
    bisa liat ABs tp tak bsa memiliki..
    tuh kan jd salah tokus gegara foto di akhir…

    pokok y mah kutunggu selalu karya authornim… bikin klepek klepek lok bc cerita uisa dictactor yg satu ini mah.. hwaiting!!!

  4. Soo rin kan emang orangnya pemikir jd wajar kalo sampe kebawa mimpi. Tp percayalah soo rin ki bum tidak akan melakukan itu pfmu. Dia aja liat km tergores sedikit aja udah kalang kabut.

  5. aaaaaaaaa wajahku jadi memerah sendiri bacanya…… gk mungkin lah ki bum mau nyiksa soo rin orang kibum aja cinta banget sama kamu. kibum kayak ibu yang lagi nenangin anaknya yang nangis ketakutan karena mimpi.

  6. romantis dan bikin hati ini jadi deg deg-an bacanya XD. aku pikir kenapa ternyata Soorin habis bermimpi buruk. cup cup jangan nangis kan ada Kim Kibum XD .. aihhhh reaksi Soorin imut banget sih, yah setiap perempuan bakal merasa malu dan merona pipinya kalau diperlalukan seperti itu sama pria yg dia cintai apalagi pria itu seperti Kim Kibum, hahahaha.

    ugh Kim Kibum seksi sekali >/////< semoga kau bisa tidur dengan nyenyak Soorin hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s