Posted in Category Fiction, Fiction, KiSoo FF "Harem Lodge", PG-15, Romance

Harem Lodge [2] – Stalking

prev :: Prologue | [1] – Who Are You?!

hlC

[Adaptation] from manga with the same title, Harem Lodge by Fujisawa Shizuki Sensei.

Genre :: Comedy-Romance

Rated :: PG-15

Length :: Mini Chaptered

Kim Ki Bum – Park Soo Rin
Kim Hee Chul | Kim Jong Woon | Lee Sung Jong

H A P P Y   R E A D I N G

.


“Sepertinya ada yang sedang cemburu karena melihat calon suaminya ingin bertemu dengan perempuan lain.”


.

©2016 ELVABARI

.

“JUNG Ahjusshi.

Seorang pria yang tengah mengaduk sesuatu di dalam cangkir yang dipegangnya kini menoleh, mendapati anak laki-laki sudah berdiri di ambang pintu dapur. Kondisinya memang sedikit mengkhawatirkan akibat perban yang membalut beberapa bagian tubuhnya, bahkan sebelah wajahnya yang seharusnya terlihat menawan itu kini harus ditutup plester akibat luka gores. Sejenak pria itu meringis di dalam hati melihat betapa menderitanya anak laki-laki yang baru menginjak usia sebelas tahun itu.

Hm? Ada apa, Bryan?”

Anak laki-laki yang dipanggil Bryan itu tertunduk sejenak, melihat sesuatu di salah satu tangannya, lalu mengangkatnya demi memperlihatkannya kepada pria itu. “Jung Ahjusshi, siapa ini?”

Pria itu mengerjap sekali, mengamati selembar foto di genggaman Bryan yang sedikit membuatnya tertegun. Awalnya ia ingin bertanya dari mana anak itu mendapatkannya, tetapi ia beralih mengulas senyum teduhnya sebelum menjawab, “Aah, itu putriku. Park Soo Rin namanya. Bagaimana menurutmu? Dia cantik, bukan?” menunjukkan raut jenakanya yang khas.

Bryan mengamati foto di tangannya, lalu mendengar bahwa pria itu kembali berbicara.

“Aku sering sekali meninggalkannya, menitipkannya kepada neneknya. Setiap saat beliau mengabariku jika dia terlihat kesepian. Dan aku bisa melihatnya ketika aku kembali, meski dia memilih untuk tetap menyambutku, aku bisa melihat matanya yang memerah seperti ingin memarahiku.” Pria itu tersenyum, matanya tampak menerawang ke kejauhan sebelum kembali menunduk, memandang secangkir cokelat hangat buatannya yang terus saja ia aduk. “Aku merasa bersalah karena terus saja meninggalkannya. Namun di sisi lain, aku tidak menyangka bahwa putriku yang masih sangat belia sudah mampu menyimpan perasaannya dengan sangat baik.”

Bryan menyimaknya, meski dengan pandangan terus tertuju pada lembaran foto itu, hingga tanpa sadar dirinya mengulang nama yang sempat dilontarkan pada pria itu, “Park Soo Rin…”

Pria itu menoleh, bertahan seperti itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya beranjak dari tempatnya sambil membawa secangkir cokelat tersebut, menghampiri anak laki-laki itu, berjongkok di hadapannya, mencoba mengamati raut wajah yang dihiasi oleh plester itu.

“Ya. Dia adalah malaikat kecilku yang berharga. Seandainya aku memiliki banyak kesempatan, aku ingin sekali bertemu dengannya, dan membawanya terus bersamaku,” ia terkekeh pelan, menambah kadar kerupawanannya yang begitu meneduhkan. Kemudian menggerakkan tangannya, menyerahkan secangkir cokelat hangat yang memang dia buat untuk anak di hadapannya. Spontan ia berkata, “Kau ingin bertemu dengannya?”

Bryan mengangkat pandangannya, menatap lekat pria yang juga tengah menatapnya penuh kehangatan. Dan pertanyaan itu semakin menggerakkan hatinya yang sudah mulai terbuka. Berkat melihat sosok manis yang terabadikan dalam selembar foto di tangannya.

“Ya… aku ingin bertemu dengannya. Karena dia adalah malaikat kecil yang berharga.”

&&&

 “KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!

Teriakan nyaring itu berhasil menggemparkan seisi penginapan tersebut. Orang yang pertama kali membuka pintu kamar adalah Kim Hee Chul, dengan piyama tidurnya, tanpa ada wig maupun kostum yang biasa ia kenakan, ia keluar sambil masih memeluk bantal bergambar karakter Anna, lalu berlari-lari di sepanjang koridor lantai dua tersebut menuju sumber suara yang tak lain adalah kamar si penghuni baru.

Disusul dengan Kim Jong Woon yang keluar seraya memasang kacamata hitamnya, lalu Lee Sung Jong yang menguap lebar.

“Siapa yang sedang bernyanyi rock sepagi ini, sih?” racau Sung Jong seraya menggaruk-garuk kepala.

Di sisi lain, Hee Chul tanpa berpikir dua kali langsung menjeblak pintu kamar itu. “Apa? Ada apa? Perampok?!”

Barulah ia tersadar, ketika melihat tidak ada perampok maupun penjahat lainnya di dalam kamar ini. Melainkan…

“Astaga!” adalah Sung Jong yang sudah berdiri di belakang Hee Chul serta bereaksi lebih dulu. Mata mengantuknya mendadak melebar begitu melihat pemandangan baru di sana.

Wow…” dan ini adalah suara Kim Jong Woon. Ia bahkan sampai membenarkan kacamata hitamnya.

Karena di hadapan mereka saat ini, di dalam kamar tersebut, Park Soo Rin sudah duduk tegang di atas tempat tidurnya, memandang horor seseorang yang ikut mendudukkan diri di dekatnya—di atas tempat tidurnya!

“A-apa-apaan ini…” Hee Chul bahkan tanpa sengaja menjatuhkan bantal bergambar Anna dari pelukannya.

“Kalian tidur bersama semalam?” tembak Sung Jong langsung.

“TIDAK! Dia menyusup ke dalam kamarku!!” Soo Rin bereaksi cepat. Tangannya menunjuk orang di dekatnya penuh gemetar. “Ya! Sejak kapan kau berada di kamarku?!”

“Sudah jelas bahwa kalian tidur bersama.” Sung Jong mendengus jengah. Merasa sudah menangkap basah dua makhluk itu.

Pria yang sudah menjadi sumber masalah justru tampak tidak peduli. Mengucek sebelah matanya, lalu menatap ketiga makhluk yang berdiri di ambang pintu kamar ini, sebelum berakhir pada gadis yang sudah merangsek mundur hingga menempel pada dinding. Tanpa beban dirinya justru menarik gadis itu mendekat, bahkan dengan sentakannya berhasil menarik gadis itu kembali jatuh ke tempat tidur, memeluknya tanpa merasa bersalah bahkan memejamkan mata begitu saja.

“Aku masih mengantuk.”

Dan tentunya, perbuatan seenak jidatnya itu berhasil membuat mereka terperangah. Terutama Park Soo Rin…

“MENJAUH DARIKU!!!”

DUAGH

BRUKK

Aww…

YA, GADIS BAR-BAR! BERANINYA KAU MENENDANG KIM KI BUM CALON SUAMIMU?!”

“DIA SUDAH BERBUAT MESUM PADAKU!!”

 ****

“Musim dingin masih berlanjut. Kau tahu bahwa malam hingga pagi hari merupakan fase di mana udara berada pada titik terendah.” Ki Bum menjelaskan dengan nada datarnya, sambil menyantap jatah sarapannya dan tidak peduli dengan reaksi orang-orang di sekitarnya.

“Kalau begitu pakai selimutmu!!!” terutama Soo Rin dengan wajahnya yang tampak memerah. Padahal pagi ini udara masih terasa dingin tetapi dia sudah seperti orang kepanasan.

“Selimutku sedang dicuci.”

“Memangnya kau hanya memiliki satu selimut, huh?”

“Ya.”

“BELI!!”

“Aku tidak mau membuang uangku untuk hal-hal yang tidak perlu.”

“KAU PIKIR SELIMUT ADALAH HAL YANG TIDAK PERLU DI MUSIM DINGIN SEKARANG INI, HAH?!” baiklah, sepertinya Park Soo Rin kembali naik pitam. Sampai-sampai ia harus merasakan sebelah pipinya ditarik gemas oleh seseorang dan Kim Hee Chul adalah pelakunya.

“Jaga intonasi bicaramu, gadis bar-bar! Kau sedang berbicara dengan calon suamimu!”

“Lalu apa masalahnya? Dia hanya calon!!” Soo Rin menuding wajah pria yang tengah menyantap makanannya tanpa merasa tersinggung dengan perlakuannya.

“Sung Jong-ah, sup kimchi-nya sangat enak.”

“Benarkah? Aku mengikuti resep andalan Jong Woon.”

“Begitu? Ternyata Jong Woon pandai memasak juga, ya?”

“Kau tidak lupa jika kami berdua yang sering memasak di rumah ini, bukan, Ki Bum-ah?”

“Oh… Aku memang lupa.”

“Aku turut bersedih…”

“Kau memang pantas untuk bersedih, Jong Woon-ah. Bocah satu ini memang tidak tahu berterima kasih.”

“Terima kasih atas masakannya.”

“Sama-sama.”

Sung Jong melongo datar melihat dua makhluk bertampang datar pula di hadapannya. Sebenarnya percakapan macam apa yang sedang mereka bertiga lakoni baru saja?

Plak!

Hee Chul yang lebih menumpuk perhatiannya pada gadis satu-satunya di antara mereka kini menampar tangan yang masih betah menunjuk pria di sebelahnya. “Kau benar-benar tidak sopan menunjuk calon suamimu seperti itu!”

Ugh, dia hanya calon suami! Bukan resmi!!” pekik Soo Rin sekali lagi. Mulai frustasi di pagi hari pertamanya sejak tinggal di penginapan ini. Kenapa rasanya Soo Rin harus berbuat baik terhadap pria yang bahkan belum dia benar-benar kenal seperti Kim Ki Bum? Pria itu justru lebih banyak membuatnya naik darah dibanding merasa tersanjung!

“Sudahlah. Daripada meributkan soal selimut, lebih baik belikan saja selimut untuk Ki Bum.” Sung Jong memberi usul karena mulai risih dengan perdebatan aneh ini.

“Tidak perlu.” Ki Bum menyahut di sela-sela mengunyahnya, lalu menelannya sebelum melanjutkan, “Sudah ada Park Soo Rin, jadi aku tidak apa-apa.”

“APA MAKSUDMU?!” Soo Rin merasakan wajahnya baru saja mendidih. Tidak habis pikir dengan tingkah ajaib pria satu itu. Apakah itu berarti bahwa Kim Ki Bum akan tidur di kamarnya, berbagi selimut lalu… berpelukan—di atas tempat tidurnya?! BEGITU?!

Itu sama saja membuat jantungnya harus berolahraga setiap bangun dari tidur!! Astaga, baru memikirkannya saja sudah berhasil membuat Soo Rin ketar-ketir!

“Kalau begitu biar aku pinjamkan selimutku padamu sampai selimutmu selesai dicuci, Ki Bum-ah.” Hee Chul mengajukan keputusan sambil menyatut sesendok bibimbap miliknya.

“Aku benci selimut Anna.”

Uhuk!” Hee Chul tersedak begitu mendengar ucapan tak berbelas kasih dari Kim Ki Bum. Sejenak ia mendengar ada yang tengah menahan tawa namun tidak begitu ia pedulikan karena terlanjur dibuat terperangah oleh pria yang duduk di sebelahnya kini. “Ya! Kau menghina selimutku yang paling hangat di dunia itu?!”

Memilih untuk tidak menggubris demonstrasi Hee Chul, Ki Bum justru berdalih, “Tidak perlu merepotkan diri. Aku bisa tidur dengan Soo Rin.”

“Kau pikir aku mengizinkan, huh?!” tentunya Soo Rin mengajukan ketidak-setujuannya.

“Tidak bisa! Di Harem-ku tidak mengizinkan melakukan adegan tidak senonoh seperti tidur di atas ranjang yang sama! Aku sudah memberikan kalian tempat tidur masing-masing jadi—” Hee Chul menggebrak meja seraya menatap tegas Ki Bum, “Kau tidak boleh tidur dengan gadis berbahaya ini!” lanjutnya seraya menunjuk gadis di seberang meja sana tepat di hidungnya. Tanpa berniat untuk menoleh kepadanya.

“Jangan salahkan aku! Dia yang menyusup ke dalam kamarku!!” Soo Rin mengajukan protesnya lagi, merasa bahwa dirinya menjadi pihak yang disalahkan.

“Kebanyakan perempuan selalu memanfaatkan kesempatan seperti ini dengan menggoda banyak pria. Kau pasti sudah menghipnotis Ki Bum agar datang ke kamarmu bahkan rela menjadi calon suamimu.”

“AKU BUKAN GADIS SEPERTI ITU!”

Hee Chul mendengus angkuh sekaligus bersedekap. “Tapi sayangnya kau tidak bisa menggodaku karena kau tidaklah secantik Anna,” lalu mengibas rambut palsu pirangnya yang berkepang seperti karakter Anna itu.

Benar-benar…

“Dia juga tidak tertarik pria maniak sepertimu,” celetuk Sung Jong yang diamini tawa tertahan Jong Woon.

Yaisshi!!”

“Tambahkan supnya untukku.”

Jong Woon dengan sigap menuangkan beberapa sendok sup kimchi ke mangkuk Ki Bum. Entah mengapa tindakan Kim Ki Bum mampu menarik perhatian mereka.

“Aku heran padamu yang diam saja ketika calon istrimu dicerca habis-habisan oleh Kim Hee Chul.” Sung Jong menggeleng tidak mengerti.

Barulah Ki Bum menghentikan aktivitas makannya, mendongak menunjukkan raut datarnya, mengerjapkan mata dua kali. “Memangnya aku harus melakukan apa?”

Sung Jong menepuk keningnya. Hee Chul menganga. Jong Woon tersedak akan sup yang tengah diseruputnya. Dan Soo Rin menatap nyalang pria yang sudah dia cap sebagai makhluk teraneh dibandingkan tiga makhluk di sekitarnya.

Kim Ki Bum benar-benar pria ajaib yang baru Soo Rin temui.

****

“Bagaimana kau bisa mengenal ayahku?”

Ki Bum menatap datar Soo Rin yang tengah memandang dirinya penuh selidik. Well, saat ini mereka memang masih berada di ruang tengah. Waktu sarapan mereka sudah selesai. Orang yang sudah tidak ada di ruangan itu baru Kim Jong Woon karena melaksanakan tugas rutinnya mencuci piring-piring bekas mereka pakai.

“Bukankah aku sudah pernah menjelaskannya padamu? Aku masih mengingatnya bahwa aku bercerita setelah kau hampir tertabrak mobil dan menangis.”

“Apa kau harus menjelaskannya dengan detil seperti itu?!” Soo Rin mulai salah tingkah. Ia dapat merasakan mata-mata itu tengah tertuju padanya setelah Ki Bum berkata seperti baru saja.

“Kau hampir tertabrak mobil?”

“Dan menangis?”

Hee Chul dan Sung Jong mengajukan keingintahuannya secara bergilir.

“Dia hampir tertabrak mobil karena menangis melihatku datang menemuinya—”

YA!!” Soo Rin tanpa berpikir lagi menerjang Ki Bum, membekap mulut menyebalkan itu dengan tangannya yang tampak kecil ketika bersanding dengan wajah tegas itu.

“Hoo… semacam merealisasikan adegan yang selalu ditayangkan di dalam drama, begitu?” ejek Hee Chul yang langsung mendapat pelototan dari yang diejek olehnya.

Hmm… jadi, Park Soo Rin adalah gadis yang melankolis,” celetuk Sung Jong dengan senyum penuh artinya.

“B-bukan begitu!” Soo Rin berusaha menyanggah. Matanya beralih menatap tajam pria yang ternyata terus saja memandangnya. Ugh, dia ‘kan ingin menanyakan status pria yang sudah mengenal ayahnya sejak lama, tapi kenapa topik pembicaraannya bisa berbelok cukup jauh seperti ini? “Gara-gara pria menyebalkan ini…” desisnya tidak suka.

Namun tidak disangka bahwa Soo Rin akan diserang sengatan aneh akibat dari lengan itu tiba-tiba merengkuh pinggangnya. Tubuhnya berjengit hingga reflek ia melepas bekapannya dari mulut pria itu dan secara langsung memberikan kesempatan sang empu untuk berbicara.

“Jika kau ingin menciumku, lakukan saja.”

“A-apa?!” Soo Rin melotot kaget. Langsung saja ia melepaskan diri dari sentuhan yang sukses melambungkan jantungnya. “Siapa yang mau melakukannya?! Dasar mesum!!”

Ya, gadis bar-bar! Sudah kukatakan padamu untuk tidak melakukan adegan tidak senonoh di Harem-ku!!”

“Aku tidak melakukannya! Dia menyentuhku lebih dulu!! Kenapa kau selalu saja menyalahkanku, sih?!”

“Apa kau lupa bahwa kau yang menciptakan skinship dengan Ki Bum?” Hee Chul beredekap, memasang raut tidak sukanya seraya berdecak. “Kau adalah gadis yang sangat berbahaya! Jadi apa yang kau lakukan sudah pasti merupakan suatu kesalahan mutlak.”

“A-apa?! Ini tidak adil!!”

Ketika Hee Chul dan Soo Rin memperdebatkan status gadis satu-satunya di penginapan itu. Ki Bum bangun dari duduknya lalu melengos pergi. Berhasil menarik perhatian keduanya yang langsung mempertanyakan tindakan semena-menanya itu.

Ya, Ki Bum-ah, kau mau ke mana?”

“Mencari udara segar.”

Soo Rin melongo bingung tatkala ia mendengar suara dengusan jengah di belakangnya.

“Aku heran, setiap hari alibi yang dia cetuskan ketika keluar dari sini adalah mencari udara segar. Apa dia pikir udara di sini tidak segar?” adalah Hee Chul yang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Yah, mungkin dia tahu bahwa penghuni di penginapan ini tidaklah segar terutama sang pemiliknya,” tidak disangka akan direspon oleh Sung Jong berupa sindiran telak. Lihat bagaimana reaksi Hee Chul yang sudah berkomat-kamit seraya menatap tajam pria cantik yang hanya memutar bola mata tanda ia tidak terpengaruh.

Soo Rin mengamati punggung yang bergerak menjauh itu. Jika dilihat dari cara berpakaiannya, sepertinya Ki Bum tidaklah keluar untuk mencari udara segar. Apakah pria itu akan pergi ke suatu tempat karena urusan tertentu?

Ya, gadis bar-bar, kau mau ke mana?” Hee Chul bereaksi lebih dulu ketika melihat Soo Rin bangkit dari duduknya lalu beranjak mengikuti jejak Ki Bum.

“Aku juga ingin mencari udara segar. Ough, di sini pengap sekali!” seru Soo Rin sambil berlari menjauh sebelum mendapatkan lemparan remot dari tangan Hee Chul.

****

Soo Rin menengok kanan dan kirinya begitu berhasil keluar dari penginapan. Ia melihat di sebelah kiri bahwa pria itu berbelok di persimpangan sana. Seingat Soo Rin itu adalah arah menuju jalan raya. Apakah pria itu akan pergi ke tempat yang jauh dari sini?

Penasaran, Soo Rin akhirnya berlari-lari mengikuti jejak langkah Ki Bum. Ia menyempatkan diri untuk mengintip kala sampai di persimpangan, melihat pria itu sudah keluar dari jalanan perumahan ini lalu berbelok ke kanan. Melakukan yang sama, Soo Rin berlari kembali demi mengikuti ke mana pria itu akan pergi.

Mwoya? Dia tidak naik bus?” menggumam heran karena ia mengintip pria itu melewati halte bus. Tidak mau lama berpikir, Soo Rin kembali membuntuti pria itu dalam jarak 15 meter di belakangnya. Cukup jauh dari kompleks perumahan tempat penginapan Harem berada, Soo Rin mulai kelelahan ketika mendapati pria itu ternyata memasuki area stasiun.

Well, memang jarak stasiun dari penginapan barunya itu cukup dekat jika berkendara namun menghabiskan waktu 10 menit jika berjalan kaki. Karena itu kemarin dirinya mampu menemukan penginapan tidak terlalu sulit karena ia cukup berjalan kaki dari stasiun.

 Lalu ke mana pria itu akan pergi? Apakah jauh? Apa mencari udara segar harus dengan acara menumpangi subway? Dan masalahnya, bagaimana Soo Rin akan mengikutinya sampai ke dalam sana di saat ia harus membeli tiket masuk sedangkan dirinya tidak membawa uang sepeserpun?

“Aah, bagaimana ini?” Soo Rin mulai dirundung panik tanpa bisa dicegah. Dan di saat itu juga dia tersadar, “Tunggu. Untuk apa aku ingin tahu dia akan pergi ke mana? Ugh, kenapa pula aku harus mengikutinya sampai sini?”

Soo Rin mendesah kesal. Tidak mengerti dengan tindakan bodohnya ini. Untuk apa dia mencari tahu urusan Kim Ki Bum? Heol, apa dia mulai memiliki kurioritas terhadap pria ajaib itu? Tidak mungkin, bukan? Aih, untuk apa dia peduli pada pria itu?

“Pakai ini!”

Soo Rin mengerjap kaget melihat tangan orang asing menyodorkan satu tiket masuk padanya. Menggerakkannya untuk mendongak memeriksa siapa yang sudah berbaik hati memberikan tiket tersebut. Lalu semakin terkaget-kaget begitu mendapati ada pria tampan berkacamata hitam sudah berdiri penuh percaya diri di hadapannya.

N-nuguseyo (Siapa, ya)?” Soo Rin tidak dapat menyembunyikan kenyataan bahwa suaranya terdengar gagap saat ini. Mulutnya bahkan tidak mampu ia katupkan karena saking mempesonanya pria di hadapannya.

Aigo, cham…” pria itu mendengus tidak menyangka, “Kau tidak mengenal pemilik Harem tempat singgahmu sekarang ini, huh?”

“A-apa?” Soo Rin menganga sekaligus melotot bukan main. Ia langsung menelanjangi makhluk di hadapannya dari puncak kepala hingga ujung kaki. Oh, ya ampun… pria ini—pria dengan setelan pakaian serba hitam dipadu-padankan dengan jas biru dongker… ditambah dengan kacamata hitamnya yang semakin menambah kharisma sang empunya ini… “M-Maniak Anna?!”

714-heechul

Yaisshi!” Hee Chul langsung menyambar kacamatanya, menunjukkan mata di baliknya yang tengah melotot sebal berkat sambutan gadis di hadapannya. “Begini caramu berterima kasih padaku, huh? Dasar gadis bar-bar!”

Eii, itu memang kenyataannya. Tidak perlu marah, Kim Hee Chul.”

Soo Rin melirik orang yang berdiri di belakang Hee Chul, ia kembali dibuat terperangah ternyata pria maniak Anna itu tidaklah datang seorang diri. Ada Lee Sung Jong yang melambaikan tangan dengan ceria padanya, diikuti Kim Jong Woon yang hanya mengangkat satu tangan sebagai tanda sapaan.

“K-kenapa kalian ada di sini?”

“Kenapa? Heh!” Hee Chul tersenyum miring, mengenakan kacamatanya kembali dengan gaya yang berlebihan, kemudian terkekeh-kekeh sendiri sebelum menjawab, “Kita akan melakukan sebuah penyelidikan. Karena kita adalah Detektif Harem!!”

Soo Rin melongo bodoh melihat bagaimana Kim Hee Chul bersedekap di mana salah satunya bertengger di bawah dagu dengan ibu jari dan telunjuk terbuka, berlaga layaknya orang keren namun sepertinya gagal di mata Soo Rin sampai-sampai gadis itu hanya merespon, “Huh?

Hee Chul berdecak kesal, beralih berkacak pinggang seraya memasang raut tidak suka pada Soo Rin. “Kau ingin menyelidiki Kim Ki Bum, bukan? Ayo! Sudah bagus aku ingin membantumu,” menggerutu seraya melengos masuk ke dalam stasiun lebih dulu meninggalkan Soo Rin yang masih saja terpaku di tempatnya berdiri.

“Kau ingin tetap di sini?” Sung Jong menepuk pundak Soo Rin, berhasil menyadarkan sang empu. Ia tersenyum maklum. “Sudah kukatakan padamu, bukan? Meski dia maniak Anna dan menyebalkan, dia sebenarnya pria baik-baik dan memiliki cara tersendiri untuk menolong seseorang.”

Ya. Hanya saja Soo Rin belum terbiasa dengan cara seorang Kim Hee Chul yang memperlakukannya dengan cara blak-blakan seperti biasanya. Tapi setidaknya, dengan begini Soo Rin sudah cukup dibuat terenyuh akan sikap baik pria maniak Anna itu meski disembunyikan dengan nada-nada ketusnya.

“Kita harus masuk.”

Suara berat tak berirama milik Kim Jong Woon menarik perhatian mereka. Pria yang lebih banyak diam itu sudah berdiri di belakang Soo Rin lalu tanpa diduga mendorong gadis itu untuk masuk ke dalam stasiun. Yang diantar dengan kekehan geli milik Sung Jong karena melihat tindakan pria itu.

“Dia terlihat tenang sekali.”

“Seperti air yang tidak beriak. Dan pria seperti dirinya memang sulit untuk ditebak apa sebenarnya yang sedang ia rencanakan.”

“Apakah menurutmu dia ingin bertemu seseorang?”

“Perempuan…”

“Oh, tidak! Jangan-jangan dia ingin bertemu dengan seorang gadis!”

“A-apa?”

Dan keempatnya terus saja berspekulasi di depan pintu gerbong subway, mengintip pria yang duduk seorang diri di gerbong selanjutnya, mengawasi gerak-gerik si pria yang sebenarnya hanya duduk tenang di sana.

“Kim Ki Bum justru terlihat mencurigakan jika seperti itu,” ucap Hee Chul menilai, matanya memicing serius. Well, dia sudah melepas kacamata hitamnya dan ia simpan di bagian kerah kausnya.

“Dia tidak memiliki teman bicara,” celetuk Sung Jong sambil memutar bola mata. Tanpa ia ketahui bahwa Hee Chul sedang melirik sebal padanya.

“Tapi aku curiga bahwa dia memang ingin bertemu dengan seseorang.” Hee Chul mendesis, tampak menebak-tebak.

“Perempuan,” dan Jong Woon sedari tadi hanya mengeluarkan kosakata tersebut.

“Apa kau sedang memanas-manasi, huh?” Soo Rin mulai gerah dengan cara bicara Jong Woon.

Tanpa disadari, ucapan Soo Rin mampu membuat ketiganya mengerling penuh arti.

Hoo, ada yang merasa panas.”

“Sepertinya ada yang sedang cemburu karena melihat calon suaminya ingin bertemu dengan perempuan lain.”

Adalah Sung Jong dan Hee Chul yang mulai menggoda gadis yang mulai tampak memerah di bagian pipinya. Seketika Soo Rin menyesal karena tanpa kontrol sudah mengucapkan kalimat aneh itu dari mulutnya. Aih, benar-benar.

“Hentikan!” untuk kali ini Soo Rin berusaha mengontrol intonasi bicaranya agar tidak terlihat bahwa dirinya sedang merasa kesal.

Ya, dia mulai merasakan ada sesuatu yang panas di dalam benaknya dan itu tertuju pada pria yang sedang ia awasi di sana. Jika memang benar bahwa Kim Ki Bum pergi untuk bertemu dengan seorang perempuan, untuk apa dia mengaku-ngaku sebagai calon suaminya? Atau jangan-jangan, pria itu hanya main-main dengannya. Mengatasnamakan ayahnya sebagai tujuan dasar tapi sebenarnya dia sudah punya kekasih dan selalu berkencan dengan gadis itu?

“Dasar penipu…” desis Soo Rin tanpa sadar. Matanya menyorot penuh tajam pada objek di dalam gerbong seberang sana. Seolah dirinya ingin melaser kepala pria itu dengan matanya. Tapi tiba-tiba fokusnya buyar karena sudut matanya menangkap ada satu tangan melambai-lambai di sisi wajahnya. Menoleh cepat, Soo Rin harus kebingungan mendapati Kim Jong Woon adalah pelakunya.

“Supaya tidak panas,” ujar Jong Woon dengan polosnya. Namun mampu mengundang rasa tergelitik pada dua makhluk di dekatnya juga mengundang rasa panas yang menjadi pada Soo Rin.

Ish! Aku tidak butuh!” dan Soo Rin makin tersungut-sungut dibuatnya.

Sepertinya kehadiran mereka bukan untuk membantu Soo Rin melainkan memicu rasa marah yang belum pernah Soo Rin rasakan selama ini. Heol…

Jeogiyo.

Keempatnya berbalik, cukup terkejut dengan sapaan asing di belakang mereka. Percayalah mereka mulai berpikir bahwa suara itu merupakan milik penjaga kereta ini dan hendak menegur mereka karena sudah berdiri di dekat pintu gerbong kereta. Namun ternyata, mereka melihat seorang gadis sudah berdiri canggung di hadapan, mengusap-usap tengkuknya dan tampak melirik ke arah mereka sesekali.

Err… aku ingin bicara padamu—yang memakai topi…”

Langsung saja mata mereka tertuju pada Sung Jong. Siapa lagi di antara mereka yang mengenakan topi saat ini? Pada akhirnya Sung Jong dengan kebingungannya melangkah maju mendekat. Mata memikatnya langsung bekerja, mengamati gadis asing itu seolah ingin memikatnya. Well, dia berpikir bahwa sepertinya gadis itu tertarik padanya dan, dengan nyali besar dirinya langsung mendatangi Sung Jong. Wah, wah, wah…

“Jadi, ada perlu apa kau denganku?”

Eung… aku ingin memberi salam untukmu. Dari seseorang.”

Eheii!” ketiganya langsung berseru penuh menggoda. Oh, yang benar saja. Mereka bahkan baru bertemu kurang dari satu menit lamanya. Tapi gadis itu sudah berani menyatakan perasaan pada Lee Sung Jong? Apakah ini semacam cinta pada pandangan pertama?

Sung Jong mencoba untuk bersikap kalem. Ia bahkan menyempatkan diri mengumbar senyum manisnya. “Benarkah? Siapa?”

Sang gadis tampak berpikir sejenak sebelum menggerakkan tangannya ke belakang. Menunjuk yang ada di belakangnya, yang langsung ditangkap oleh Sung Jong. “Di sana!”

Begitu juga dengan mereka bertiga.

“Mereka sangat mengagumi kecantikanmu, tapi sayangnya mereka tidak berani mendekat karena kau bersama teman-temanmu. Jadi, aku memberikan titipan salam dari mereka untukmu!”

Senyum manis Sung Jong berangsur kecut. Matanya melebar ngeri mendapati gerombolan pemuda labil berseragam sekolah di sana tengah melambai-lambaikan tangan untuknya. Spontan saja dalam hatinya mengumpat tidak karuan. Dan ia harus menekannya dalam-dalam sebelum kembali menatap si gadis yang berpenampilan sama dengan para pemuda labil di sana.

“Kalau begitu sampaikan salamku untuk mereka. Terima kasih karena sudah mengagumi PRIA sepertiku.” Sung Jong menekan satu kata tersebut yang langsung direspon.

Y-ye?!” tentunya si gadis tercengang hebat mendengar konfirmasi Sung Jong. Mendadak ia megap-megap seperti ikan koki di tempatnya berdiri. Sebelum akhirnya ia membungkuk dalam-dalam disertai raut teramat bersalah bercampur malu lalu berseru, “Jwaeseonghamnida!” dan berbalik melarikan diri kembali ke gerombolan itu.

Sung Jong melihat bagaimana para pemuda itu terkejut bukan main setelah si gadis mengatakan sesuatu. Mereka menatap horor Sung Jong dari kejauhan sebelum berbondong-bondong kabur dari sana, berlari menuju gerbong berikutnya. Membiarkan Sung Jong yang berkacak pinggang. Ia mendesah keras, tidak menyangka akan seperti dipermainkan seperti ini. Lalu ia berbalik hendak kembali fokus dengan kegiatan awalnya ketika ia justru melihat tiga makhluk itu sudah berjongkok sambil memegangi perut masing-masing. Sung Jong semakin merasa keki melihat bagaimana bahu mereka berguncang naik-turun akibat dari tawa tanpa suara yang mungkin akan meledak-ledak jika mereka memilih untuk menunjukkannya.

Sialan!

“Tertawalah sepuasnya sebelum aku menendang pantat kalian satu persatu. Aku pandai bermain football, omong-omong.” Sung Jong mendesis sebal yang justru membuat ketiganya semakin menjadi.

“Sepertinya aku tidak akan menyesal mengakuimu sebagai pria tercantik. Kau bahkan benar-benar dianggap cantik. Hahahaha!” Hee Chul akhirnya meledakkan tawa.

“Aku tidak bisa menahannya. Ini sakit sekali. Ahahahaha!” begitu juga dengan Soo Rin. Wajahnya bahkan berubah merah karena terlalu banyak tertawa.

“Perempuan… pfft…” dan Jong Woon, ia berjuang keras untuk menahannya sambil membekap mulutnya rapat-rapat.

Aisshi… YA!!

“HAHAHAHAHA!”

Meledaklah kebisingan mereka hingga menarik perhatian seluruh penumpang di dalam gerbong yang sama. Bahkan orang di gerbong lain sedikit terusik dan mulai melirik-lirik ke tempat mereka.

Termasuk Ki Bum.

Ia menoleh ke pintu gerbong di sana, melihat siluet orang-orang yang tengah tertawa di baliknya. Masih dengan raut datarnya, Ki Bum kemudian kembali menatap lurus ke depan. Tampak tidak tertarik dengan kehebohan samar di sana.

****

 “Oh! Dia masuk ke toko bunga!”

 Masih membuntuti Kim Ki Bum, mereka sudah mengikuti pria itu hingga turun dari subway di salah satu stasiun yang berada di kota seberang. Pria itu tampak memasuki salah satu toko di pinggir jalan ini, entah apa yang dilakukannya di dalam sana, namun mereka mulai berspekulasi di kejauhan, tampat yang aman untuk mengawasi.

“Seperti yang kubilang, dia pasti akan bertemu dengan seorang gadis!” Hee Chul semakin memantapkan dugaannya.

“Dan gadis itu menyukai bunga. Maka dari itu Kim Ki Bum membelikan bunga,” sambung Sung Jong dengan wajah seriusnya.

Dan keduanya secara tersurat telah membuat Soo Rin merasa panas yang makin menjadi. Memancing pikirannya yang mulai tidak beraturan menghadirkan gagasan-gagasan aneh mengenai pria ajaib bernama Kim Ki Bum. Bahwa pria itu memang memiliki gadis lain, berkencan dengannya, lalu mungkin ia akan mencurahkan kekesalannya kepada gadis itu bahwa ia sudah bertemu dengan Soo Rin dan harus menjalankan perjanjian bodohnya dengan mendiang ayah Soo Rin. Mungkin pria itu akan mengatakan…

“Kita tetap berkencan seperti biasa. Setelah itu aku akan menceraikannya. Kau bisa bersabar menunggu, bukan?”

“Ya. Aku akan menunggu Oppa.”

Ugh… benar-benar licik! Jika memang sudah punya kekasih, tidak perlu menungguku sampai aku berusia dua puluh tahun! Dasar menyebalkan!”

Hee Chul dan Sung Jong mengerling jahil gadis yang menggerutu sendiri di dekatnya. Sepertinya mereka berhasil memanas-manasi gadis itu. Hahaha!

“Mawar putih.” Jong Woon berkomentar lebih dulu ketika menangkap pria itu keluar dari toko tersebut. Sebuah hal yang cukup menakjubkan untuk Kim Jong Woon mengingat pria itu sedang memakai kacamata hitam.

“Kau jeli sekali,” dan Sung Jong menyadari hal itu.

“Sepertinya kekasihnya itu menyukai mawar putih.” Hee Chul lagi-lagi memanas-manasi.

Namun untuk kali ini Soo Rin tidak terpengaruh dengan gagasan Hee Chul. Ia justru melanjutkan aksi menguntitnya kala melihat pria itu juga melanjutkan perjalanannya. Namun tidak hanya itu, sebenarnya batin Soo Rin sedang menggerutu sebal melihat pria itu membawa sebuket bunga mawar putih.

Kenapa harus mawar putih? Bunga itu mengingatkannya kembali pada mendiang ayahnya yang juga memiliki selera sama. Kenapa pula kekasih simpanan Kim Ki Bum menyukai bunga favorit mendiang ayahnya, sih? Menyebalkan!

“Oh?”

Langkahnya terhenti tiba-tiba. Entah mengapa ia terpaku begitu melihat pria itu berbelok ke jalanan kecil yang mengantarnya ke sebuah pemukiman terbuka itu.

“Ada apa?” Sung Jong adalah orang pertama yang menanyakan keterdiaman mendadaknya itu.

“Apa yang kau lakukan? Kau ingin kehilangan jejaknya, huh?” Hee Chul justru memaksa.

“Itu…”

“Rumah duka.” Jong Woon bersuara. Mendongak ke atas di mana ada palang besar terpasang di atas mereka. Mengundang Hee Chul juga Sung Jong ikut mendongak.

Mwoya? Rumah duka? Kenapa dia datang kemari?” Hee Chul mulai kebingungan.

Seolma… apakah kekasihnya sudah meninggal?” Sung Jong tampak berpikir dengan tangan mengusap dagu.

“Ayahku…”

Mereka bertiga langsung menghujani gadis yang baru saja bergumam lirih. Mulai terheran-heran mendapati raut wajah gadis itu berubah tercengang juga tampak tegang. Bibirnya tampak bergerak ragu, sebelum kembali berkata…

“Ini… tempat mendiang ayahku disemayamkan…”

Mwo?!”

****

3cc043

Ki Bum meletakkan buket mawar putih yang dibelinya di salah satu sekat penyimpanan abu. Di sana terpajang sebingkai kecil foto yang mengabadikan sosok pria berusia akhir 40 tahun yang kini sudah menjadi kumpulan abu di dalam guci mungil di sebelahnya. Ki Bum melangkah mundur sekali demi membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk penghormatan. Lalu kembali maju agar lebih dekat sebelum akhirnya ia bersuara.

“Jung Ahjusshi, jeo wasseoyo (aku datang).”

Ya. Ki Bum menemuinya. Sosok yang sudah menjadi abu karena jiwanya yang telah meregang dari raga, kini hanya tinggal nama yang terukir rapi di dekat guci tersebut. Park Jung Soo. Ayah dari Park Soo Rin.

“Sebelumnya, aku ingin meminta maaf karena baru menengokmu. Aku baru mengetahui kabar kepergianmu dari putrimu kemarin. Maaf karena aku tidak mengantar kepergianmu.” Ki Bum tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Dia terus menatap lurus pada sosok di dalam foto tersebut. Namun ketahuilah bahwa sebenarnya mata hitam pekatnya sedang ikut berbicara. “Jung Ahjusshi, putrimu sudah datang menemuiku kemarin. Aku tidak menyangka bahwa Park Soo Rin sudah tumbuh menjadi gadis cantik dibandingkan terakhir kali aku melihatnya. Bahkan kemarin aku dengan bodohnya sempat tidak mengenalnya. Ahjusshi sudah merawatnya dengan sangat baik selama ini.

Dan mulai sekarang, izinkan aku menggantikan Ahjusshi untuk menjaga Park Soo Rin. Aku pastikan dia akan terus berada dalam pengawasanku hingga dia benar-benar menjadi gadis dewasa yang mandiri. Aku akan menganggapnya sebagai malaikat yang berharga sebagaimana Ahjusshi melakukannya. Dan aku akan menikahinya setelah memastikan bahwa dia benar-benar menerimaku.”

Ki Bum mengangkat sebelah tangannya, menyentuh bingkai foto tersebut perlahan-lahan, menarik kedua sudut bibirnya sebagai suatu realisasi akan tatapannya yang begitu teduh dan hangat. Berkat melihat senyum menawan yang terabadikan di hadapannya.

“Jung Ahjusshi, aku akan memegang kepercayaanmu sepenuhnya. Dengan begitu Ahjusshi dapat beristirahat dengan tenang di sana. Tanpa perlu mengkhawatirkan kehidupan putrimu. Karena aku akan menanggung hidupnya. Dan, terima kasih karena sudah memercayaiku untuk menjadi pendamping malaikat berhargamu.”

Ki Bum mengucapkannya perlahan, namun amat tulus dan penuh rasa. Ia kembali melangkah mundur, membungkuk 90 derajat sebagai bentuk penghormatan terakhirnya untuk orang yang sudah mengisi hari-hari kelamnya di masa lalu. Dan mungkin untuk saat ini, tidak ada salahnya bagi Ki Bum untuk mengulas senyum terbaik. Sebagai bentuk rasa terima kasihnya kepada sang panutan yang kini hanya tinggal kenangan.

Lagipula, tidak ada yang melihat betapa menawannya Kim Ki Bum yang sedang tersenyum saat ini, bukan?

“Kalian tidak ingin berdoa setelah jauh-jauh datang kemari?”

Well, itu memang Kim Ki Bum yang berkata. Tapi, di tempat sepi seperti ini, hanya ada dirinya yang sedang berkunjung, siapa yang dia ajak bicara?

Err… sepertinya kita sudah ketahuan…”

Muncul lah Sung Jong dengan senyum tanpa dosa, tidak lupa ia menarik Soo Rin yang sudah dihiasi raut salah tingkah juga malunya, disusul Jong Woon yang tetap tenang lalu Hee Chul yang tengah mengusap-usap tengkuknya salah tingkah.

Aigoo, kebetulan sekali kita bertemu di sini, Ki Bum-ah!”

“Sejak awal kalian sudah menguntitku.”

Glek

Balasan telak dari Ki Bum sudah cukup membuat mereka berempat meneguk saliva layaknya orang bodoh.

Seolah tidak mau memperpanjang hal ini, Hee Chul dengan kemampuan mengubah ekspresi wajah begitu cepat langsung mendekati Ki Bum. “Eheheii! Kami ‘kan juga ingin berdoa untuk ayah Park Soo Rin!” Hee Chul langsung menghadap tempat persemayaman mendiang ayah Soo Rin, menangkup menautkan kedua tangannya di depan dada, menutup kedua mata kemudian berdoa. “Wahai Tuan Park yang sudah berada di surga, semoga engkau tenang di sana dan silahkan bawa putri Anda bersamamu.”

YA! Kau mengharapkan aku mat—umph!

“Jaga suaramu, Nona. Ingat bahwa kau berada di pemakaman, bukan noraebang!” Sung Jong bertindak cepat membekap mulut gadis yang masih berada di dekatnya itu.

Ugh!” Soo Rin melepas paksa bekapan Sung Jong, memasang raut masamnya seraya membuang muka. Yang secara tidak sengaja justru membuat pandangannya jatuh pada pria yang memang sedari tadi menatapnya di sana.

Mengingat apa yang sudah dia dengar dari mulut pria itu tadi, mendadak jantungnya yang sudah memulih kembali bekerja tidak teratur hingga memompa rasa panas dan menjalar cepat ke kedua pipinya. Ugh, dia tidak menyangka bahwa pria ajaib yang lebih sering berbuat semena-mena seperti Kim Ki Bum ternyata mampu melontarkan kalimat-kalimat magis seperti yang Soo Rin dengar belum lama. Pria itu bahkan mengatakannya tanpa ragu serta langsung di hadapan abu mendiang ayahnya. Bukankah itu namanya… semacam…

Lamaran tersirat?

Blush…

Oke, bernapas, Park Soo Rin. Bernapas!

“Kau tidak ingin berdoa untuk ayahmu?”

Soo Rin terhenyak mendengar suara berat Ki Bum tertuju padanya. Baiklah, Soo Rin akui bahwa reaksinya terlalu berlebihan padahal Ki Bum mengajukan pertanyaan ringan dengan cara halus. Heol…

Euh… ya…” dan Soo Rin harus merutuki suaranya tiba-tiba berubah gagap. Ia bahkan harus berjalan kaku seperti robot mendekati tempat persemayaman sang ayah. Aih, jika saja dia bisa mengumpat, mungkin dia sudah meneriaki pria itu untuk berhenti membuatnya tidak karuan seperti sekarang ini.

Soo Rin menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan sebelum kemudian mulai menautkan jari-jemarinya, menangkup kedua tangannya di depan dada, memejamkan mata bersiap untuk berdoa.

“Appa, jika memang pria itu merupakan pilihan terakhir Appa, beri aku kesempatan untuk memahaminya sebelum aku memilih untuk memenuhi keinginan Appa atau tidak… Tapi… Appa, apakah aku memang pernah bertemu dengannya sebelum ini?”

****

Mereka berjalan menelusuri sisi jalanan kota kecil begitu keluar dari pekarangan rumah duka. Soo Rin tampak berjalan beriringan bersama Ki Bum kala yang lainnya berada lebih dulu di depan. Gadis itu tampak sesekali melirik Ki Bum yang menatap lurus ke depan tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Memancing Soo Rin untuk mengutarakan rasa ingin tahunya yang semakin bertambah berkat kejadian di rumah duka tadi.

“Bagaimana kau bisa tahu tempat persemayaman ayahku?”

“Dari rekan kerja Park Jung Soo.”

“Kau… tahu rekan kerja ayahku?”

“Dia pernah bekerja sama dengan Park Jung Soo ketika bertugas di California.”

Soo Rin melongo tidak percaya. Ia menggumam, “Sedekat apa kau dengan ayahku?”

“Sedekat aku denganmu.”

Ugh…

Soo Rin harus mengatur napas beberapa saat. Itu jawaban ambigu tetapi mengapa Soo Rin harus merasakan debaran jantungnya bertambah cepat?

“Kau… sebenarnya kau ini siapa? Bagaimana kau bisa mengenal ayahku sedekat itu? Bagaimana pula kau bisa membuat perjanjian aneh itu bersama ayahku? Apa karena ayahku sudah memberikan sesuatu padamu? Ataukah kau sudah menghasut ayahku untuk—”

Soo Rin tersentak kala pria itu tiba-tiba menggenggam tangannya, menahannya begitu saja hingga ia harus terbengong-bengong lebih dulu sebelum menyadari ada banyak kendaraan melewatinya dengan kecepatan medium. Entah karena dirinya begitu lambat atau lampu penyeberang jalan berubah merah begitu cepatnya, Soo Rin melihat ketiga makhluk itu sudah berdiri di seberang sana seraya melambaikan tangan ke arahnya.

“Kau terlalu ceroboh jika bepergian sendirian.” Ki Bum berhasil menarik perhatian Soo Rin. Ia melihat bagaimana wajah manis itu memberengut kecut disertai rona kemerahan di kedua pipinya.

“Ini hanya kebetulan!” Soo Rin membuang muka, menunduk hingga matanya menangkap tangannya yang menyatu dengan tangan besar pria di sebelahnya. Bolehkah ia berkata jujur? Di dalam hati saja, bahwa entah sejak kapan dia mulai terbiasa dengan sentuhan kulit hangat pria ini meski ia harus tekaget-kaget terlebih dulu jika sang empu mulai berulah.

Baiklah. Bernapas, Park Soo Rin. Bernapas. Lebih baik abaikan yang di bawah dan menataplah ke depan!

“Oh?” Spontan Soo Rin menunjuk ke arah sesuatu yang berada di seberang sana. Mata jernihnya mulai berbinar dan tanpa sadar ia berseru penuh antusias, “Hot Bar!!

Hot bar merupakan Odeng atau fish cake yang terbuat dari ikan yang sudah dihaluskan lalu dicampur tepung terigu juga bumbu penyedap, dibentuk seperti sosis serta ditusuk. Jika Odeng direbus, Hot Bar adalah versi digoreng. Merupakan jajanan kaki lima yang bisa di temukan di pinggir jalan yang cukup ramai.

Huwaaaaa! Aku ingin membelinya!” Soo Rin sudah berjingkrak seperti anak kecil dan hampir menerobos lampu merah karena saking antusiasnya jika saja Ki Bum tidak mengeratkan genggamannya.

“Kita akan ke sana. Bersabarlah.”

Jinjja?”

Ki Bum mengangguk seraya menatap lurus manik mata yang berbinar-binar itu. “Jinjja.

tumblr_m2up2fiu3D1qkyzm3o1_1280

Yaa, ini enak sekali!”

Tidak hanya mereka berdua, tiga pria lainnya juga ikut menyantap jajanan kaki lima itu dengan lahapnya. Terutama Hee Chul, dia bahkan sudah menghabiskan 5 tusuk Hot Bar yang diolesi saus di sekitarannya.

Aah, kapan terakhir kali aku memakan ini?” gumam Hee Chul sebelum menyantap tusukan keenam tidak kalah lahapnya.

Sung Jong yang baru menyantap tusukan kedua hanya berdecak heran melihat tingkah laku pria itu. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa jajanan ini benar-benar lezat sampai-sampai ia berniat untuk mengambil tusukan ketiga. Tanpa sengaja ia melirik pria yang tengah menyantap tusukan keduanya dengan tenang. Lalu berdecak begitu menemukan sesuatu.

“Kau sudah menjadi mahasiswa, bukan murid taman kanak-kanak, Kim Jong Woon! Aigoo,” tegur Sung Jong seraya menarik selembar tissue yang disediakan lalu mengusap mulut Jong Woon yang dinodai bercak saus begitu saja.

“Rasanya enak.”

Yeah. Mungkin setelah ini kau harus membuatnya di rumah supaya kita bisa berhemat. Hahaha!”

“Ide bagus.”

Lain dengan ketiganya, Ki Bum justru baru menyantap satu tusuknya perlahan-lahan. Bukan karena dia tidak suka jajanan tersebut, hanya saja, nafsu makannya tersingkir begitu saja setelah melihat gadis itu melahap Hot Bar mini yang disajikan ke dalam gelas plastik. Itu sudah porsi kedua dan Park Soo Rin tidak terlihat ada niatan untuk berhenti menyantapnya. Mulutnya terus saja mengunyah yang entah mengapa terlihat begitu menggemaskan di mata Ki Bum.

“Aku tidak akan merasa kenyang dengan ini. Hihihi!” Soo Rin terkikik penuh jenaka kala menunjukkan porsi keduanya sudah habis kepada Ki Bum. “Aku boleh tambah?”

Ki Bum mengangguk mengabulkan. Diam-diam ia tersenyum melihat betapa antusiasnya Park Soo Rin terhadap jajanan kaki lima ini.

“Sudah berapa lama kau tidak memakan ini?”

Eung? Eung…” Soo Rin tampak berpikir di sela-sela kunyahan porsi ketiganya. “Sebelum Appa dipindahtugaskan untuk yang terakhir kali. Itu sudah lama sekali…”

Soo Rin tidak menyadari bahwa Kim Ki Bum baru saja mengajukan pertanyaan yang cukup spesifik dan tepat sasaran. Dia sudah terlanjur menikmati jajanan kesukaannya ini.

“Kalau begitu makanlah sepuasmu.”

Soo Rin berhenti sejenak, mengamati wajah tegas Ki Bum hingga menemukan adanya keteduhan di balik sepasang iris pekat itu. Di saat itu juga Soo Rin merasakan adanya desiran halus di dalam benaknya. Ia langsung mengangguk dan kembali melahap potongan berikutnya demi menyembunyikan rasa asing tersebut.

Lalu kembali membiarkan Ki Bum untuk memandang gadis itu dengan leluasa. Mengamati cara makan gadis itu dengan seksama, hingga ia menemukan sesuatu dari keantusiasan gadis itu. Diam-diam ia mengangkat sudut-sudut bibirnya sebelum akhirnya membuang tusuk Hot Bar-nya yang sudah habis, mendekati gadis itu tanpa mengusik keasyikannya.

“Soo Rin-ah.

Namun panggilan itu sudah berhasil mengusik ketenangan sekejap Soo Rin. Jantungnya seperti baru saja melompat kaget mendengar suara yang dia tahu milik Kim Ki Bum baru saja memanggil namanya dengan akrab. Ketika dia baru saja mengangkat pandangannya, di saat itu juga ia serasa berhenti benapas untuk beberapa sekon karena mendapati pria itu meraih wajahnya.

Untuk kali ini, Soo Rin merasakan sengatan listrik yang begitu gila di sekujur tubuhnya. Karena Kim Ki Bum, tiba-tiba, tanpa permisi, mendaratkan bibirnya di sudut bibir Soo Rin, begitu saja. Hanya dalam hitungan sekon, namun dalam kurun waktu itu pula Soo Rin seperti kehilangan kemampuan menghirup udara hingga kehilangan orientasi.

“Ada saus di sini,” ujar Ki Bum setelahnya. Tanpa memedulikan raut terperangah sang empunya, Ki Bum bahkan menggerakkan ibu jarinya di bekas pendaratan bibirnya baru saja. Mengusapnya perlahan-lahan, dan memanfaatkan hal ini dengan menikmati sensasi baru yang hinggap di dalam dirinya.

Juga di dalam diri Park Soo Rin.

Oh, astaga…

Apakah itu bisa dikatakan bahwa Kim Ki Bum baru saja mencium Park Soo Rin?!

00197

TO BE CONTINUED?

yak! kisukisu kembali hadir dengan cerita absurdnya~ hahahaha Ada yang kangen sama cerita ini? #ga

Aku minta maaf sekali jikalau ada pembaca yang merasa tersinggung karena aku memakai nama Park Jung Soo sebagai sosok mendiang ayah Soo Rin, ga ada maksud tertentu kok, aku cuma minjem namanya tanpa niat menjelekkan ><

dan…err… maafkan aku jika cerita remake ini semakin ga jelas heheheh

berhubung Senin besok sudah banyak yang sibuk dengan Ujian Nasional, aku doakan semoga berhasil! Selamat ujian yaa~^^

salam-salam~

Lee Sung Jong
Lee Sung Jong
Kim Jong Woon
Kim Jong Woon

See you again! ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

41 thoughts on “Harem Lodge [2] – Stalking

  1. Huwahahahahahhaa selama membaca aku gak bisa berhenti tertawa, sumpah lucu banget apalagi obrolan Jong Woon sama Kibum soal sup kimchi ditambah dengan adu mulut Soorin dan Heechul XDD seru kali ya tinggal bersama mereka XDD.

    walau Kibum agak aneh plus misterius, tapi dia benar” pria yang romantis ahh Soorin kau beruntung sekali ㅠㅠ. hahahah kasihan banget Sung Jong, dikira cewek padahal cowok tulen XDD.

    ah pokoknya ditunggu kelanjutannya >.< ceritanya seru bangettt .. semangat menulisnya Siska ^^

    1. seru sih keliatannya, tapi bikin stres juga kayaknya hahahah XD
      dia kan tipe pria misterius nan menghanyutkan #apa wks T////T idaman (?)
      hwhw terima kasih yaa udah bersedia membaca >////<

  2. Uugghhh diabetes daahhh asli hahaha ..
    Sung Jong baby boy ku yang paling caeemmm gemes dehh aww pen gigit hahaha ..
    Jong Woon sama Hee Chul rasa om om gak tau umur yes hahaha .. btw pas liat visual Hee Chul itu seketika cengo ‘mampus ni makhluk satu gantengnya kagak ketulungan’ hahaha

    Soo Rin sama Ki Bum langsung jadi aja dehh biar seru .. biar halal wakwak .. maen nyosor anak orang aja bang .. resmi kagak tuh wkwk ..

    Kak .. aku lagi bete lho tadi ..pas buka fb pas muncul postingan ini udah lupa seketika betenya haha ..
    Rame gilaaa ..

    1. wkwkwk semaniak apapun kimheechul dia tetep punya pesona yg susah buat ditolak (?) XD
      duhh, sayangnya kimkibum kudu nunggu sampe soorin 20 tahun gimana dong? wkwkwk
      aigo cham~ aku bersyukur kalo tulisanku bisa menghibur dirimu yg sedang bete kyakyaa~ terima kasih yaa sudah mau baca~><

  3. Wow wow wow ki bum berani sekali. Pasangan ini emang lucu bgt. Apa lagi tingkah trio absurd itu tambah bikin ngakak.

  4. sukaaaaaaaaaaaaaa 😣😣😣😣😣😆😆😆😆
    kekekekeke demi apa aku menikmati banget baca ini. mulai dari karakter2nya yang unik, cerita yang runtun, dan yang paling ditunggu in, kisukisuuu moment kekekekek x))))

    btw pas lihat visual ichul di tengah2 tadi rasanya hmmmmmm… ‘dunia ini ga adil :’)’ ko ada orang maruk yang mau dia cewe mau cowo, tetep aja cakepz(?) :9 😭😭😭

    hihii disini aku syukaaa banget sama karakternya Jong Woon /udah pernah cerita belum ya?/ heheh
    engga tau, mungkin semacam fetish(?) :: memiliki minat tersendiri sama cowo yang ga banyak omong wkwk /apasii 😂😂

    btw si sungjong wkwkwk duh kayaknya dia musti belajar lebih manly deh biar ga di mesum in(?) sama anak2 sma labil hihiii/digeplak 😭😭😭

    intinyaaaa, ini cerita niceeeee, lovelove poko nya kekekekek 😄😄😳😚😗😙😜😝😳😘😘♥♥

    1. aiiiing~~ >//////<
      makasih Poku-nyan~ aku bersyukur Poku menikmatinya T/\T
      dunia memang kejam, di saat kita tidak memiliki visualisasi yang mendukung, seseorang semacam Kim Hee Chul memiliki segalanya hahahaha #dessh
      yeah, karakter Jong Woon di sini emang lebih sering diem tapi banyak bertindak, contohnya aja :: masak sama nyuci piring #loh gyahahahah XD
      Sung Jong cowo tulen kooook~ he is sangnamja! cuma wajah cantiknya menyembunyikan fakta tersebut T////T kkk

  5. Astaga manisss banget huaaaa diabetes diabetess eoniiiiii yakkkkkkkk huaaaaaaa aku pengen kibummmm huaaa bang toyibbbbbbbbbbbbb

    Manis manis ><

  6. Gegara author aku jadi menginginkan hot bar.

    awas saja jika aku kepohonan…

    astaga kim heechul kau tampan sekali saat melepas kostum aneh mu itu..
    jangan sampai soorin berbalik menyukaimu..

    bahaya nanti ada yang ngamuk loh..

    1. waduh? err…gampang kok, beli sosis aja habis itu dibakar, trus ditusuk, kasih saos.. tetep enak kok~ hihihihi
      tenang saja~ Heenim setia kok sama Anna #whaaaaatt #ditendang XD

  7. huuuua yaampun kibum, kappan punya atau ketemu orng yang mirip sama karaktermu di ff ini :’) kibum manis banget 😀 bisa Diabetes ini mah #kkkk eon kirimin satu buatku yang mirip sama kibum 😀 #digorokKYU hehe ditunggu lanjutannya eon 😀

    1. maaf, request anda ditolak.. kimkibum yang anda minta sudah dibooking lebih dulu oleh client bernama parksoorin, silahkan cari yang lain (?) wkwkwk XD
      oke~ terima kasih yaa sudah membaca~ semoga terhibur >__<

  8. aq deg2an XD
    ya ampun heechul kren bgt tu pk jas…
    g klihatan kl dia maniak anna.he3x
    tu penghuni harem somplak smua.ha3x
    keren bgt thor XD
    next part dtnggu
    fighting 😉

    1. nobody’s perfect~ mau keren begitu dia tetaplah maniak Anna #duaagh hahahah XD
      hidup penuh warna, banyak orang aneh seperti mereka di luar sana #duhh //akubicaraapa//? wks~
      terima kasih atas semangatnya~ >/\<

  9. huahh akhirnya harem nongol jugaa
    sungjong emang cantik banget, mulai ada benih -benih cinta antara soorin dan kibum xixi

  10. Yesung rajin amat ye pake kacamata item padahal baru bangun.
    Ada apa dengan Chullie yang demen pake wig?
    Itu mereka bertiga beneran detektif?
    Bapaknya Soorin tuh kerjanya apa?
    Kibum tuh siapa? Kenapa Kibum nyari kesempatan dalam kesempitan?
    Ada poto makanan enak mendadak laper.
    Btw Sung Jong beneran cantik euy. Chullie kalah.

    1. detektif-detektif-an….masa iya orang absurd macam mereka jadi detektif? wkwkwk #duaagh XD
      kayaknya udah aku jelasin di [1] kalo bapaknya Soorin kerja jadi dokter….iya ga sih? apa belum aku jelasin ya? lah.. aku sendiri juga ga inget masa -_- bahahaha //gampangamnesia//?
      hihihihi makasih banyak yaa~ masih mau baca tulisanku ini TwT

  11. gak salah ceritanya selalu bikin ketawa menghibur banget………. seorang hee chul saat di rumah harem memakai baju anna semua serba anna, tapi saat di luar penampilannya keren sampek bikin soo rin kaget.

    sungjong enggak di rumah enggak di luar tetep aja cantik sampek semua laki2 ngira kamu perempuan, bener2 bikin ketawa.
    part ini juga bikin deg-degan apalagi pas scene yang terakhir

    1. aaaaaaaakk~ aku masih belum pede sebenernya, pertama kalinya bikin genre comedy jadi masih kagok XD tapi syukurlah kalo ada yg anggap ini cerita lucu bin absurd gyahahahah
      terima kasih banyaaaakk~><

  12. huuaaaah akhirnya cerita yang di tunggu-tunggu nongol juga.

    Aku kira Heenim kalo tidur juga pake kostum Anna (?) XD
    Jong Woon rajin amat pagi-pagi dah pake kacamata item padahal baru bangun.
    kasihan Sung Jong dikira cewek. Tapi aku setuju ama Heenim, kalo Sung Joong itu pria tercantik XD

    pokoknya ceritanya seru~
    ditunggu kelanjutannya..
    Fighting !!!

    1. setidaknya mereka masih ada sisi normalnya laa…..sedikit (?) wkwkwk XD
      aigoo ada yg nungguin ini ternyata hwhwhw terima kasih banyak yaa~ buat penantian dan semangatnya TwT

  13. liat sung jong kok q merasa gagal ya sebagai cwe 😦 😦 … gile cantik bgt dia…
    karakter henim jg ngingetin ke temen lma..teman yg paling memyenangkan itu ya kayak semacem heenim 🙂 🙂 .. ceplas ceplos apa adanya.. lok gk suka ya to the point.. gak munafik..
    suka nolong dan menghibur orang dgn cra dia sendiri..
    pokoknya lok da henim jd hidup suasananya..
    terima kasih bnyak dah munculin katakter henim 🙂 🙂

    1. iyap! emang temen yang paling asik ya macam heenim itu.. apa adanya, ga kenal yg namanya manis di depan tapi pahit di belakang, bener-bener natural, to the point dan memiliki cara sendiri.. ga enaknya sih emang bikin sakit hati, tapi kan ada hikmah juga, berarti dia perhatian banget 🙂 hihihi
      waah, ini bukan apa-apa sih, aku yg berterima kasih karna sudah mau menyempatkan diri memberi masukan ^/\^

  14. Kocakkk kocakk …..
    Kebayang deh cara ngomongnya yesung sipendiam dengan wajah datar tanpa ekspresinya kkk
    Apalagi pas bilang “perempuan” lalu bilang lagi “perempuan” dan bilang “rumah dukaa” aku ngebayangin wajahnya gimna gitu hehiikkk
    Foto heecul krenn dehh….

    Makin love lah sama cerita”absur d sini
    Meskipun selalu telat comennya kkkkk

    1. wkwk makin gemes ya sama yesung yang begitu XD
      aah, gapapa~ mau komen kapan saja ya terserah.. yang penting terima kasih karena sudah bersedia membaca cerita ini, yaa~^^

    1. barbar itu sendiri artinya (secara kasar) tidak beradab, atau arti lainnya itu ya tidak punya sopan santun.. barbar itu mungkin bisa dikatakan bahasa halusnya kali ya? hihihi jadi gadis barbar itu ya berarti gadis yang ga sopan 🙂 begitulah cara pandang Kim Hee Chul terhadap Park Soo Rin.. hahahah

  15. aaaakkkkk~~ >////< kok bisa bikin cerita manis kayak gini sih kak?? bikin kejang2 .. aku pikir 'jung ajusshi' itu typo soalnya kan marganya park, ditengah2 baru ngeh kalo 'jung' itu dr park 'jung' soo.. hehehe 😀 suka baca ff disini, soalnya jarang nemu ff cast kibum, keep writing kak ^^

    1. err….kurasa ini lebih banyak gilanya ketimbang manis hihihihi XD eheu~ iya soalnya aku nyari ff kibum gapernah nemu jadi bikin sendiri aja deh #loh hihihi x’D btw terima kasih sudah mau membaca di sinii~><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s