Posted in Adult, Angst, Category Fiction, Fiction, PG, Vignette

Bad Luck

bl

inspired by. Yong Pal-i

Sleeping Beauty | Awake | Where is She?

there were some harsh words and scenes. Watch out!

H A P P Y   R E A D I N G

.

©2016 ELVABARI

.

PRANG

HOW COULD YOU LOST THAT GIRL?!

Pria berpakaian serba hitam itu berusaha untuk tidak merintih keras setelah mendapat amukan dari sang penguasa yang tanpa ampun melemparkan gelas langsung ke kepalanya. Ia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan rasa sakit dengan memegang bagian pelipisnya yang sudah dialiri darah segar sebelum mengatakan, “Maafkan kami, Tuan.”

“Permintaan maafmu tidak akan mengubah semuanya, Brengsek!!” umpatnya terdengar menggelegar di penjuru ruangan yang cukup luas ini. “Your stupid servants even dared to pulled the trigger on her! I’ve told you to take her without any wounds, Idiot!!

Pria itu hanya menunduk tanpa berani bersuara lagi. Berdiam diri membiarkan sudut matanya melihat si penguasa mengerang penuh amarah sambil menghempaskan diri pada kursi kebesaran. Orang itu tampak frustasi, menyandarkan punggungnya pada kursi, mengusap kasar wajah tegasnya yang pucat bak pualam dan nampak sempurna. Mata tajamnya yang dihiasi iris cokelat legamnya harus terkatup demi meredakan emosinya yang selalu menyala-nyala.

Find her,” ia mendongak menatap pria yang tak lain merupakan kaki tangannya penuh intimidasi, penuh dengan kekuasaan yang tak terbantah. “Find her no matter how. Right now!

“Baik, Tuan.” Sang kaki tangan membungkuk patuh sebelum kemudian berbalik meninggalkan ruangan ini. Meninggalkan orang itu kembali sendiri di ruang kekuasaannya.

Dia menyambar botol Jack Daniel’s Whiskey di hadapannya, menenggaknya begitu saja setelah gelas yang seharusnya ia gunakan sudah hancur lebur. Mendesis seperti ular yang tengah mencari mangsa, menyeringai disertai matanya yang sudah tajam semakin terlihat mengerikan.

Park Hyuk Kwon, you’re still trying to hide your precious daughter even though you were dead, huh?” menggeram tidak suka, mengepal botol di genggamannya teramat keras hingga dirinya hampir menghancurkan barang pecah belah untuk yang kedua kali. “I’ll definitely make that person who dared to hid my princess to get the same luck as you, old man!

&&&

Pria berjubah putih itu berdiri di sana. Memeriksa gadis yang kembali menutup mata. Memastikan jikalau ada kejanggalan yang mampu kembali membangunkan lelap damai sang putri bergaun putih gading di balik selimutnya yang tak kalah bersih.

Deru napasnya tampak teratur, suatu dampak yang melegakan dari sistem kerja otaknya yang termonitor pada layar-layar canggih di sekitarnya, stabil dan tenang. Selayaknya orang kebanyakan yang tengah terlelap di malam hari.

Namun Aiden—dokter pribadi yang menangani sang putri secara khusus tidak bisa tinggal diam saja. Dia tahu dengan sangat pasti, bahwa fase di mana sang putri terlihat begitu tenang justru merupakan fase yang patut untuk diwaspadai. Dan selama hampir tiga bulan lamanya, dia bersikeras untuk terus memulihkan sang putri yang kesakitan dalam diamnya.

Aiden menatapnya dalam diam. Hanya ditemani oleh bunyi-bunyian peralatan yang terhubung di beberapa bagian tubuh ringkih itu. Mengamati setiap lekuk wajah gadis itu seraya menghela napas penuh keprihatinan, bahkan matanya yang teduh dan memikat itu menunjukkan hal yang sama, menyendu secara bersamaan.

This world is so cruel, right?” gumamnya dengan suara halusnya yang terdengar memberat. Matanya merambat turun menuju tangan-tangan kecil yang begitu pucat, di mana ada bebeberapa jenis peralatan medis menempel di sana, terlipat di atas perut sang empu. “Even the pretty girl like you could not deny this kind of fate.

Karena pada dasarnya, takdir memang tidak pernah pandang bulu. Siapa saja, dalam strata apa saja, manusia bisa mendapatkan nasib serupa jika Sang Penguasa sebenarnya berkehendak, bukan?

Right…” Aiden bersuara kembali. Menyimpan kedua tangannya ke balik saku jubah putihnya, berkata, “Though the world betraying you, God still blessing you.

Sebab hingga detik ini, raga yang tampak rapuh itu masih bisa bernapas dengan tenangnya, merasakan kedamaian dunia bawah sadarnya, di saat dunia tempat dirinya berada kini tengah beralih ingin menghancurkannya. Namun atas campur tangan Tuhan, sang putri masih diberikan kenikmatan menghirup udara dunia ini, dan ditidurkan dari rasa sakit yang mungkin belum tentu semua orang mampu memikulnya.

Tuhan memang adil. Dan Tuhan memang sangat baik. Benar, bukan?

Drrrt…

Lamunannya teralihkan kala ponsel di saku jubahnya bergetar menandakan panggilan masuk. Aiden segera berbalik melangkah keluar dari ruangan ini seraya menjawab panggilan tersebut. Meninggalkan gadis itu beristirahat dengan tenang seorang diri.

I’m out now.

Namun ternyata, Tuhan sedang berkehendak lain.

Hanya selang beberapa detik setelah Aiden keluar dari ruangan tersebut, ada tanda-tanda pergerakan dari gadis itu. Jemarinya bergerak samar yang kemudian disusul dengan pupil di balik kelopak matanya bergerak-gerak menandakan kesadaran sang empu sedang berkumpul. Benar saja, perlahan kelopak indah itu terbuka, menunjukkan iris kecoklatan yang begitu jernih di baliknya, namun sayang… pancarannya tidak sejernih kelihatannya.

Ia hanya memandang kosong langit-langit serba putih yang memayunginya. Terdiam untuk beberapa saat—entah apa yang tengah berada di dalam kepala berambut panjang nan legam itu. Hingga…

Matanya mengerjap teramat pelan dalam hitungan satu kali. Disusul dengan tangan kanannya bergerak, menarik diri dari tumpukan tangan kirinya, mencoba menarik fingertip yang menjepit di telunjuknya, berlanjut merangkak ke atas punggung tangan kirinya dengan jemari yang gemetar seolah melakukan pergerakan ringan tersebut membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Meraba selang infus yang terpasang dan menancap di sana.

Bibir naturalnya bergerak-gerak, terlipat beberapa kali seperti menahan sesuatu. Matanya yang sempat hanya memancarkan kekosongan mulai berkaca-kaca. Dan, ia berhasil mencabutnya. Jarum yang sempat menancap di punggung tangan kirinya, menimbulkan luka hingga plester yang masih menempel di sana mulai berubah warna menjadi merah darah.

Lalu ia menggulingkan diri dari bangsal putihnya. Begitu saja.

Bip bip bip! Bip bip bip!

Aiden baru saja menyelesaikan panggilannya ketika alarm bertanda ‘WARNING‘ itu muncul di layar ponselnya. Wajah teduh menawannya berubah tegang yang langsung menggerakkan syaraf motoriknya untuk menoleh ke belakang, memutar badannya lalu berlari kembali ke ruangan tersebut secepat mungkin.

Seperti yang pernah dikatakan oleh firasatnya. Ketenangan dalam lelap gadis itu memang patut untuk diwaspadai. Dan jika memang hal ini akan terjadi, seharusnya dia tetap di dalam sehingga dirinya bisa langsung bertindak. Tetapi…

Bodohnya kau, Aiden. Kenapa kau memilih keluar dari ruangan itu?!

Aiden harus terperangah dengan napas tersengal. Ia melihat di sana, bangsal yang biasa ditempati sang putri tidur kini sudah kosong, menyisakan bantal serta selimut yang menjuntai jatuh ke sisi lainnya yang tidak mampu Aiden lihat dengan jelas. Firasatnya mengatakan bahwa gadis itu baru saja melepaskan diri dari tempat tidurnya.

Baru saja Aiden hendak mendekati bangsal tersebut, kala matanya menangkap muncul tangan-tangan pucat itu—satu-persatu, berusaha menjadi tumpuan untuk tubuhnya agar mampu berdiri. Aiden tidak mampu menyembunyikan keterpanaannya melihat bagaimana sang putri tidur benar-benar terbangun, Bukan hanya sekadar membuka mata, namun juga turun dari tempat tidurnya, mencoba berdiri tegak di sana dengan tubuhnya yang belum sepenuhnya memiliki keseimbangan. Hal lain yang membuatnya terperangah adalah, ia melihat adanya darah merembas di salah satu punggung tangan sang putri. Dan itu berhasil membuat seorang Aiden Lee panik sekaligus khawatir.

“Park Soo Rin-sshi!” Aiden membuka langkah lebarnya. Hanya dua langkah, ia harus berhenti kembali ketika sang pemilik nama yang baru saja ia sebutkan melakukan tindakan yang membuatnya semakin membelalakkan mata.

“Jangan mendekat,” suara merdu itu terdengar lirih dan bergetar. Matanya yang berkaca-kaca terlihat menajam, bibir naturalnya mengerut menahan gejolak terlampau kacau di dalam dirinya. Sebelah tangannya yang tidak terluka kini sudah bertengger di depan lehernya, dengan jarum infus hasil cabutannya ikut menodong dirinya sendiri.

“Park Soo Rin-sshi, tolong—jauhkan benda itu darimu. Itu bisa melukai dirimu sendiri” Aiden mencoba membujuk dari tempatnya berdiri. Matanya berkilat cemas karena menangkap gadis itu justru mengeratkan genggamannya pada jarum infus yang panjang serta amat runcing itu.

“Kenapa aku masih hidup… Kenapa aku harus hidup…”

“Park Soo Rin—”

“Kenapa kau tidak membiarkanku mati saja?”

Aiden menelan saliva, bingung harus melakukan apa. Dia ingin mendekat, menarik benda berbahaya itu dari Soo Rin namun ancaman nonverbal gadis itu membuatnya ragu untuk bertindak. Bagaimana bisa ancaman gadis itu berhasil membuatnya tidak berkutik seperti sekarang ini?

“Park Soo Rin-sshi, hidupmu tidaklah sesia-sia yang kau pikirkan. Jadi aku mohon, jauhkan benda itu darimu.” Aiden membujuk sekali lagi. “Jika kau berpikir bahwa menyusul kedua orangtuamu adalah yang terbaik, kau salah besar, Nona Park. Apa kau tidak memikirkan orang lain yang pernah singgah di dalam hidupmu?”

Terlihat Soo Rin termangu di tempatnya. Fokusnya berubah, seperti membuyar. Ia baru saja merasakan seperti ada roll film berputar begitu cepat di dalam kepalanya. Seperti mendengar adanya teriakan kepanikan di sana, mencari-cari sesuatu yang terlupakan di memorinya yang sudah lama tidak bekerja. Hingga ia mendengar bunyi ‘TAK’ yang seketika menghenyakkan sekujur tubuhnya.

Dia sempat melupakannya. Karena terlalu hanyut dalam kesedihan akan peninggalan kedua orangtuanya yang tragis tepat di depan matanya. Terlalu larut menangisi kepergian orang-orang terkasihnya dan melupakan orang terkasih lainnya. Yang mungkin sedang menanyakan keberadaannya saat ini.

Dia masih memiliki orang lain. Orang yang seharusnya dia temui saat ini. Orang yang sudah berjanji akan menjadi teman hidup terbaiknya, yang akan selalu menjaganya… melindunginya…

Oppa….

Pip

Bunyi familiar itu mengundang atensi Aiden. Pria itu menoleh ke belakang tubuhnya di mana suara itu berasal. Pintu kaca itu bergeser terbuka, lalu seseorang melesat masuk melewatinya begitu saja, membuatnya tak mampu bertindak lebih dan hanya mengikuti gerak-gerik orang itu.

Pria dengan langkah lebar serta menghentak pasti itu menerjang tanpa berpikir kembali. Mendekati gadis yang mulai mengendurkan jarum panjang di genggaman dari dekat lehernya, memudahkan pria itu untuk meraihnya. Dan akibat dari kinerja syaraf tubuhnya yang masih belum bekerja dengan baik, Park Soo Rin tersentak begitu saja hingga tubuh lemasnya limbung yang segera ditangkap oleh si pelaku. Merasakan lengan itu melingkari punggungnya dengan tepat, merengkuhnya teramat pasti sampai-sampai gadis itu tidak merasa terancam sedikit pun.

Don’t hurt yourself.

Suara berat itu mengalun lembut di telinganya. Begitu menenangkan sekaligus menggetarkan sekujur tubuhnya—tapi sungguh, ini adalah getaran yang berbeda, di mana dia merasakan adanya kehangatan menjalar begitu cepatnya dan menyentuh langsung ke benaknya. Melemaskan ketegangan yang sempat mendera sehingga tanpa sadar ia melepas jarum infus tersebut dari genggaman. Begitu saja.

Dan, mungkin karena mendengar dentingan benda tajam itu berhasil membentur lantai ruangan ini, Kim Ki Bum melepaskan cekalannya dari tangan kecil itu, beralih menarik tubuh gadis itu sehingga dirinya benar-benar mendekapnya. Memeluknya dengan pasti. Melindungi tubuh rapuh itu dengan lengan-lengannya.

Pada akhirnya, Kim Ki Bum berhasil menyentuh sang putri dengan kedua tangannya yang tampak kuat. Yang di saat itu juga dirinya bertekad untuk tidak membiarkan sang putri terlepas dari tangan-tangannya. Bagaimana pun caranya.

I won’t let you do that. Never.

Soo Rin merasakannya. Ucapan penuh keyakinan dan tekad dari pria yang memeluknya kini. Dia tidak mengerti, kenapa pria ini melakukannya? Dan kenapa dirinya merasa harus percaya terhadap pria ini?

Bagaimana dia bisa berada di sini? Bagaimana dia bisa terbangun dalam keadaan seperti ini? Dan bagaimana dia bisa ditemukan oleh pria ini?

“Kau… siapa?”

tumblr_luip4iFsxs1qeogk5o1_500


201410291104776249_54504c5c485e5
Park Hyuk Kwon – Soo Rin’s Father

 

dan cerita ini semakin ngaco aja… aaaaaaaaaaaaarrgh!! ><

maafkan aku……di sini terlalu banyak bahasa asing. Aku tau itu. Cuma entah kenapa English lebih tepat untuk percakapan di cerita ini meski aku sendiri belum jadi master bahasa tersebut #duaagh

Jadi, kalo memang ini masih berlanjut, mungkin aku cuma bisa nulis sepanjang ini. Tergantung feel yang aku dapat seberapa aja gitu heheheheh

yaudah, Terima kasih sudah mau mampir! ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

15 thoughts on “Bad Luck

  1. akhirnya soo rin bangun dari tidurnya, tapi kenapa bisa dia tidak mengingat kim ki bum

    ntu siapa yang galak banget mukul kepala orang pake gelas gitu?

    semakin membuat penasarannnnnnnnnn

  2. akhirnya soo rin bangun juga….. penasaran gimana ki bum bisa mengenal soo rin, apa hubungannya ki bum sama soo rin, soo rin gk kenal sama kibum trus oppa yang dimaksud soo rin apa lee hyuk jae. pertanyaan-pertanyaan terus bermunculan di kepalaku penasaran banget sama cerita ini 😀

  3. Lagi main The Impossible Quiz dapet notifikasi email about this post!!!
    Shizuka-ssi, dirimu demen kali ya bikin orang kepo?
    Itu yang jahat siapa sih? Kibum apa ada orang lain? Apa si Setan Gembul??
    Masa aku mikirnya Donghae coba wkwkwk..

    Kangen ikan 😦 terima kasih telah mewujudkan karakter baru yang menggunakan ikan mokpo sebagai visualisasinya :*

  4. aku gak tau harus comment apa lagi, ceritanya makin keren makin dibuat penasaran …
    aku berharap eunhyuk segera menemukan soorin, tapi soorin jangan sampai kembali pada eunhyuk. soorin harus tetap bersama kibum …
    karakter kibum tetap tidak berubah …

  5. ohohohoho
    dictactor doctor mah gak pernah berubah yew….
    kapanpun dalam situasi apapun tetep jdi tukang paksa…
    pengen tahu dech hubungan y aiden ma soo rin kok bsa dia nyembunyiin soo rin selama tiga bln tanpa diketahui musuh ayahnya soo rin..

  6. kim kibum tu sbnr ny siapa ny soorin?
    trus yg dpanggl oppa tu cpa?
    trus yg nlong soorin smp bsa da di rumah skit tu cpa?
    haduh mkin pnasaran ja nich XD
    pnjangin dikit please 🙂
    good job author 🙂
    fighting 😉

  7. Kakak aku suka banget sama cerita kakak, sebelumnya aku mau minta maap ya kak selama ini cuma jadi silent reader tanpa ninggalin jejak… tapi saya usahakan akan meninggalkan jejak kok kak mulai sekarang ^-^

  8. Akhirnya Soo Rin bangun dari tidur panjangnya 😊,dan Ki Bum setia banget nunggu Soo Rin sadar 😊

    Soo Rin gak kenal Ki Bum ? Jadi Ki Bum siapa-nya Soo Rin ? Terus orang misterius itu yang bunuh orang tua Soo Rin kan ? Apa tuh orang punya dendam ? Soo Rin manggil Oppa ke siapa ? Bener-bener masih penuh rahasia Eon ditunggu kelanjutannya 😊 Daebakk ceritanya 😚

  9. Penasarannya bertambah, apa Kibum ada hubungannya sama pembantaian keluarga Soo rin, semoga saja tidak…aku lg kangen sama abang Hae sedikit terobati disini, Siska gak ngasih pic diakhir…tumben😉
    Bahasa inggrisnya aku ngerti dikit2 kkkkk….siapa tuh yg main timpuk2 aja jahat bener ckckck…abang Hyukjae gak mampir di part ini…scene KiSoo nya bentar,oga di part selanjutnya tambah banyak….see you next part😘😘😘

  10. di cerita ini sepertinya bakalan banyak pertanyaan….

    semakin penasaran saja

    berbelit tapi mudah di pahami,,,yg gk d pahami itu hubungan mereka tu apa kibum,dongek,,unyuk ,sorin dan si misterius….

    maaf telat comennya

  11. uhhhhh makin seru dan complicated .. apakah cerita ini berdasarkan dramanya atau hanya terinspirasi? hehehe jujur aja aku belum pernah nonton dramanya. siapapun orang itu kayaknya dendam banget ya sama ayah Soorin, menyeramkannnn >< semoga dilanjut ceritanya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s