Posted in Angst, Category Fiction, Fiction, PG, Vignette

Awake

awake

inspired by. Yong Pal-i

The Sleeping Beauty is finally awake.

H A P P Y   R E A D I N G

.

©2016 ELVABARI

.

Tubuh rampingnya dibalut gaun putih gading, di balik selimut berwarna putih, pun terbaring di bangsal putih. Lelapnya yang begitu panjang tampak damai ditemani oleh bunyi gelombang otak maupun denyut nadi beraturan yang termonitor pada layar-layar canggih di sekelilingnya. Tersambung ke beberapa bagian tubuhnya.

Tidak ada tanda-tanda bahwa dirinya ingin terbangun dari tidur panjangnya. Seolah dunia mimpi lebih menarik dibandingkan alam sadarnya. Alam bawah sadar yang banyak orang mengatakan merupakan dunia terbaik—tempat pelarian terbaik dari peliknya dunia nyata. Bahkan jika proyeksi mimpi sebagaimana yang digambarkan pada film Inception itu memang ada di dunia nyata, sudah banyak orang yang memilih untuk singgah di alam bawah sadar mereka masing-masing.

Mungkin, gadis itu memang sedang membangun proyek mimpinya sendiri. Menjadikan dirinya bahan percobaan dengan kedamaian perannya sebagai sang putri tidur.

Namun…

Mimpi tidak selamanya indah, bukan?

Terkadang mimpi buruk datang menghampiri. Mengacaukan lelapnya yang penuh kedamaian. Hingga terpetak dalam bentuk gelombang frekuensi otak yang menimbulkan bunyi-bunyian itu berubah nyaring.

Pip pip pip!

Bruk!

Gadis itu terkesiap, hampir menyemburkan teriakan histerisnya begitu melihat di hadapannya, tergeletak sosok wanita paruh baya seraya terbatuk hingga memuntahkan darah. Sang gadis membekap mulutnya rapat-rapat kala mata berairnya melirik bagian dada wanita itu telah diwarnai merah pekat yang merembas menodai gaun tidur pink rose-nya.

Tangan-tangannya bergetar, tubuhnya yang bersembunyi di bawah tempat tidur menggigil hebat, mata jernihnya yang sudah basah mulai menumpahkan air mata begitu derasnya. Ia ingin berteriak, ingin meraung, namun terpaksa ia tekan dalam-dalam mengingat situasi yang begitu mencekam.

Find that girl.

Suara berat itu mengalun menyeramkan di telinga sang gadis. Ada dua pasang kaki di sana, mengenakan sepatu boots hitam besar yang menghasilkan hentakan mengerikan, menandakan bahwa sang pemilik tidak memiliki belas kasih sedikit pun. Bahkan ia melihat bagaimana kaki-kaki itu melangkahi wanita sekarat itu begitu saja.

Sang gadis berjuang menahan napas seraya membekap mulut hingga hidungnya, berjuang untuk tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaannya hingga orang-orang itu keluar dari ruangan ini.

Jantungnya berdetak hilang kendali, melihat bagaimana wanita paruh baya itu terus menatap dirinya, memancingnya untuk mengeluarkan isakannya, “Eo-eomma… Eomma…” gadis itu menyeret tubuhnya untuk keluar dari tempat persembunyian, mencoba mendekati wanita yang ia panggil Ibu, mencoba meraihnya diiringi isakan yang sudah tidak terbendung lagi. Dan ia hanya mampu menyebut satu kata tersebut.

“L-la—ri…”

Tangisnya pecah seketika. Melihat ibunya berada di ujung tanduk kesadarannya, menatap nyalang dirinya. Ia menggeleng kalut, tangan-tangannya menyentuh bagian luka tembak tepat di dada kiri sang ibu, mencoba menghentikan laju darahnya yang terus menodai gaun tidur pemberiannya bulan lalu.

Eomma… aku harus bagaimana?” suara halusnya dipenuhi intonasi ketakutan. Bulu romanya berdiri kala tangan halus ibunya memegang sebelah tangannya. Terasa dingin.

“La—ri… bersama—ayahmu…”

Tangisnya semakin deras. “Eomma, kumohon bertahanlah…” dan berakhir dengan kembali menahan napas, kala melihat ibunya tidak bergerak lagi. Tetap memegangnya, dengan mata yang masih terbuka, terbujur kaku begitu saja. “Eomma…” ia memeriksa, masih belum percaya akan apa yang terjadi. Lalu terkejut dalam kekalutannya hingga akhirnya meraung menangisi kepergian sang ibu.

Tangannya bergetar hebat kala meremas pakaian yang sudah ternodai darah, beralih menggenggam tangan yang sudah tak bertenaga itu, merebahkan kepalanya di sana, menangis hebat sebagai bentuk ketidak-relaannya atas kepergian orang terkasihnya yang amat mendadak seperti ini.

Eomma…” tangisnya terdengar pilu. Benaknya terasa diiris melihat betapa mengenaskannya sang ibu pergi. Demi menyelamatkannya, beliau mempertaruhkan segalanya termasuk nyawanya hanya agar dirinya tetap hidup.

Kenapa dengan semua ini? Ada apa dengan malam ini?

Kesedihannya harus terhenti ketika suara hentakan kaki menusuk gendang telinga. Ekor matanya menangkap munculnya sosok itu dari arah balkon ruangan yang sudah luluh lantak ini. Dia hanya mampu menahan napas untuk kesekian kali, melihat sosok bertubuh kekar dan tinggi itu berdiri tegap di sana, dengan berbalut serba hitam, ia tidak mampu melihat wajah yang tampak tegas itu karena terhalang topi hitamnya.

Sang gadis kembali menyeret tubuhnya untuk mundur. Melihat gerak-gerik sosok itu mencabut senjata api yang dibawanya di kantung sebelah pinggangnya, sudah cukup membuatnya ngeri bukan main. Ia berjuang untuk berdiri lalu berlari keluar dari sana begitu sosok itu melangkah mendekat. Mengabulkan permintaan terakhir ibunya yang meminta agar dirinya lari, meski harus meninggalkan jasad sang ibu begitu saja. Ia melarikan diri dengan derai air mata, membelah koridor yang entah kenapa terasa begitu panjang dan ia hampir putus asa jika saja mata berairnya tidak segera mendapatkan ujung tangga di kejauhan.

Dia harus segera menemukan ayahnya. Mengajak ayahnya untuk pergi dari sini. Bagaimana pun caranya.

DOR!

Gadis itu hampir tersandung dan jatuh terguling di tangga, ketika melihat sosok yang amat dikenalnya di bawah sana—baru saja diberi timah panas langsung di bagian tubuhnya. Dia tidak tahu pasti, karena sosok itu sudah terlanjur luruh dan darah mulai menodai lantai marmer itu.

APPA!!”

Teriakannya tidak terkendali hingga berhasil menarik perhatian orang-orang misterius yang baru saja menembak ayahnya. Meski terhalang kacamata hitam, dapat ditebak bahwa orang-orang itu tengah mengulitinya dengan tajam dari baliknya.

Get her.

Suara datar penuh perintah itu sempat tertangkap oleh indera pendengarannya sebelum dirinya memilih kembali naik ke lantai atas. Berlari tanpa arah dan penuh keputus-asaan. Dia tidak mengerti, kenapa hidupnya yang sebelumnya terasa begitu damai dan penuh keceriaan menjadi berjungkir balik seperti ini.

Siapa orang-orang itu? Kenapa mereka menghancurkan kedamaiannya bersama keluarga kecilnya? Kenapa mereka membantai kedua orangtuanya? Dan kenapa mereka mengincarnya?

Apa salahnya? Apa salah kedua orangtuanya?

Apa yang mereka mau dari keluarganya?

Hidup macam apa yang sedang ia jalani saat ini?!

DOR!

DOR!

Tubuhnya ambruk begitu saja. Sesuatu yang teramat panas baru saja mengoyak pergelangan kakinya, menembus lapisan kulit hingga daging, bahkan rasanya seperti hendak mematahkan tulang keringnya. Menimbulkan ngilu luar biasa hingga menjalar ke sekujur tubuh. Kepalanya terasa pening seketika, melihat betapa mengenaskannya sebelah kakinya yang baru saja menjadi korban sasaran peluru yang meluncur secepat angin.

Fokusnya benar-benar hilang. Dia tidak ingat apa yang baru saja terjadi hingga menganggap suara tembakan tadi berbunyi lebih dari satu kali. Sedangkan apa yang dirasakan bahwa satu peluru mengenainya tepat sasaran. Telinganya berdengung teramat kacau, mendengar dentingan aneh di belakangnya. Hingga ia mendengar hentakan sepatu itu menggema di sepanjang lorong ini. Yang berasal dari hadapannya.

Dia melihatnya. Sosok bertopi hitam itu berdiri di sana, dengan menodongkan pistol ke arahnya, berjalan mendekat layaknya dewa kematian yang hendak mencabut nyawanya. Matanya terlanjur tak terarah akibat efek dari nyeri luar biasa yang menusuk hingga ke tulang, juga berkabut akibat tangisnya yang semakin tidak terbendung.

Jika saja hidupnya memang berakhir saat ini juga, apakah dia akan menyusul ibu dan ayahnya yang sudah pergi lebih dulu meninggalkannya beberapa menit lalu?

DOR!

Matanya terbelalak. Deru napasnya terhenti begitu saja hingga mencekat kerongkongannya. Ia mencoba untuk menarik napas, namun begitu sulit. Sesuatu yang amat menyakitkan baru saja menembus tulang belakangnya, tanpa ampun. Dia benar-benar tidak memiliki ide, kala orang itu hanya berdiri di hadapannya, seolah hanya menatap dirinya yang tersiksa akibat tembusan peluru dari belakang. Membiarkannya berjuang untuk tetap tersadar di kala kegelapan mulai menyelubungi penglihatannya. Hingga ia tidak merasakan apapun lagi, kebas begitu saja, bahkan tidak terasa kala tubuh bagian atasnya tergeletak begitu saja di atas dinginnya lantai.

Saking menyakitkannya, ia tidak mampu mengeluarkan tangisan memilukan lagi. Saking menyakitkannya, ia tidak merasakan apapun lagi—bahkan lupa bagaimana cara menghirup udara.

Mungkin pertanyaannya sudah dijawab oleh Tuhan. Bahwa dirinya memang akan menyusul ayah dan ibunya.

Dan keheningan menjadi teman barunya, setelah terdengar bunyi tembakan untuk yang terakhir kali.

Bip bip bip! Bip bip bip!

Ki Bum menyambar ponsel pintarnya yang tengah berdering nyaring. Menerterakan tampilan aneh dengan tulisan ‘WARNING’ berwarna merah di atasnya yang hanya dirinya yang tahu. Ia langsung berlari keluar dari ruangannya. Menerjang koridor secepat yang ia bisa menuju ruangan itu.

Hanya membutuhkan kurang dari dua puluh detik dirinya sudah berada di ruangan terisolasi itu. Satu-satunya ruangan yang dilindungi beberapa lapis dibandingkan ruangan lainnya di gedung ini. Dan, tidak ada waktu baginya untuk memikirkan hal lain selain siapa yang sudah menjadi objek kekalutannya saat ini.

Kemudian ia harus mengumpat karena mendapati ruangan itu tidak ada siapapun selain gadis yang terbaring tegang di bangsalnya. Bunyi ‘pip‘ yang menggema berkali-kali terdengar begitu cepat sebagaimana dengan tubuh terbaring itu mengalami konvulsi atau kejang akibat dari epilepsi mendadak.

Ia menekan tombol merah yang sengaja dipasang di atas kepala gadis itu sebagai alarm panggilan dokter khusus yang menangani. Barulah ia beralih merangkum wajah gadis itu penuh hati-hati.

Calm down. Calm down.

Gelombang-gelombang yang terekam pada layar besar di sisinya tampak berfluktuasi amat kacau. Menunjukkan sistem otak yang direkamnya tengah terjadi serangan tak terkendali dari alam bawah sadar sang empu.

Ki Bum kembali menekan tombol merah tersebut, kini berkali-kali. “Come quickly, you dammit!” melepas umpatannya untuk orang yang ia panggil akibat respon yang lambat.

Pip pip pip! Pip pip pip!

Tubuh gadis itu semakin tak terkendali. Sekujur tubuhnya mengejang hebat yang semakin menakuti Ki Bum. Pria itu hampir mengerang putus asa jika saja tangan-tangannya tidak segera bertindak. Merengkuh pundak kecil itu, mencengkeramnya penuh gemetar.

Mengutuk dirinya sendiri karena otaknya yang selama ini selalu cepat tanggap harus kosong begitu saja hingga tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

“Sadarlah. Kumohon, buka matamu.”

Pip pip pip pip!

Wake up, Park Soo Rin!!!

Tubuh gadis itu terhenyak, bersamaan dengan bagaimana kelopak halus itu akhirnya terbuka lebar, menampakkan kejernihan iris kecoklatannya yang membelalak. Tubuhnya berhenti mengejang, namun berubah kaku serta masih dibalut ketegangan. Mulutnya yang selama ini terkatup ikut terbuka berkat sentakan hebatnya baru saja.

Tidak jauh berbeda, Ki Bum sebenarnya terkejut melihat gadis itu akhirnya membuka mata meski dengan cara tak terduga. Tangan-tangan besarnya masih betah mencengkeram kedua bahu kecil itu—dan tanpa sadar telah meremasnya yang ternyata mengundang atensi dari pemiliknya.

Bola mata jernih itu berangsur menyusut, mulai mengumpulkan fokusnya yang selama ini menghilang, lalu bergerak menuju paras tegas tepat di atasnya, menatapnya dengan sorot  berubah nanar.

Ki Bum mengetahuinya. Arti dari sorotan itu. Hatinya yang sempat tegang beralih mencelos menyadari bahasa tubuh gadis ini. Ekor matanya mendapati—tangan-tangan itu mulai menunjukkan getarannya yang sungguh tidak bisa dia biarkan hingga satu tangan besarnya merangkak turun demi merengkuhnya, merasakan dengan nyata bahwa ketakutan itu mulai menggandrungi.

S-sallyeo…

Seperti ada sesuatu yang begitu keras kini menghantam diri Ki Bum. Kala mendengar bahwa gadis itu bersuara, mengatakan sesuatu, dengan mata jernihnya yang mulai berair—tertuju padanya.

Seolah hanya dirinya yang mampu mengabulkannya.

Sallyeo—juseyo… (Tolong aku)”

The sleeping beauty just asked for help to him—someone who almost swallowed her life.

2010-08-08_135615junghyunjoo

9d0a4e8625e0db1666096e87


NAH, INI MAKIN GA JELAS LAGI YA

entah maksud dan tujuan cerita singkat ini apa. Aku benar-benar tidak mengerti /-\

tolong jangan hakimi aku… aku masih sayang sama kisukisu #duaagh hahahaha ><

i know it’s too much nonsense but, thank you for reading! ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

15 thoughts on “Awake

  1. Detail penggambarannya aku suka banget dari ff ini, aku berharap kibum disini orang sekaligus dokter yg baik buat soo rin bukan kaya di drama aslinya yg banyak banget tokoh antagonisnya, karena soorinnya udah bangun berarti ffnya harus dilanjut!~ hehe^^ btw aku baca ff ini pas banget baru bangu *ga penting sih kekeke
    Pokoknya harus ada kelanjutan dari ff ini ya chingu! 😃

  2. jadi sorin yg koma itu..?

    serem kisah mimpi sorin…

    sorinnya sudahh siumman,,brarti ada lanjutannya ya..?
    di sini kibum siapanya sorin..? hehe kepo aku .
    bangun tdr d suguhin ini jadinya keringatan hhee efek mimpi sorin

    di tunggu next part nya and selamat pagi buat authornya kkkk

  3. Otw tempat kerja dan baca ff ini hmm baper deh pagi pagi hha .. Suka banget sama ceritanya .. dokternya pada bikin ngiler hmm ganteng hha

    Penasaran sama kejadian yang bikin Soo Rin koma da aku mah .. kenapa harus sekejam itu kan kasian ..

  4. Tuh kan pasti Soo Rin , kasian Soo Rin kenapa dia bisa begitu T.T tuh orang-orang serem siapa sih kenapa bunuh orang tua Soo Rin sekejam itu T.T

    Soo Rin siapa-nya Ki Bum ? Istri? Pacar? Tunangan ? Ki Bum sayang banget sama Soo Rin ^^
    Soo Rin nya udah bangun berarti ada lanjutannya nih wks~ *modus:v*

    Slmt pagi Eonni ({}) , Daebakk FF-nya ^^

  5. deg2an aq bca ny 🙂
    lnjt please…
    jgn bwt aq pnasaran lbh lma.he3x
    cra pnulisan ny bgus bgt,g brtle2,gmpang dmengerti,jd feel ny krasa 🙂
    pkok ny kren XD

  6. Mimpi sekaligus flashback Siska yah?
    di filmnya banyak penghianatnya, dilanjutkan yah Siswa, biar KiSoo nya tambah deket disini…bang Hae lama amat datangnya, padahal tombol dah dipijit be2rapa kali…
    #KangenDonghae
    see you next Siswa ❤

  7. Wah tragis jga ya kisah hidup Soo rin,pembunuhan d depan mata duhhh
    lagian apa yg menyebabkan pembunuhan keluarga Soo rin apa krna bisnis atau apa,kok tega bgt
    apa hubungan Kibum sma Soo rin apa hanya sebatas dokter dan pasien

  8. hello.. I’m new readers
    suka banget deh sama ceritanya.. jadi keinget drama favourite aku.. yongpali..
    next eon..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s