Posted in Category Fiction, Fiction, Fluff, One Shot, PG-15

What’s Going On?

WGOn

Genre :: Fluff

Rated :: PG-15

Length :: Oneshot

||KiSoo’Territory||

H A P P Y   R E A D I N G

.


Kenapa Ki Bum tidak bisa berkutik ketika gadis itu justru hendak menerkamnya seperti ini?!


.

©2016 ELVABARI

.

WAKTU lelapnya harus terganggu begitu merasakan sesuatu sedang menjamahi wajahnya. Keningnya kini mengernyit kala alam sadar mulai bermunculan menguasai. Perlahan kelopak matanya terbuka, membiasakan diri dengan bias cahaya yang menyerang retinanya yang masih mengintip-intip, samar-samar pula ia mendapatkan sosok tengah ikut berbaring di hadapannya.

Fokusnya mulai dipaksa untuk bekerja. Butuh beberapa detik baginya untuk menangkap apa yang tengah terjadi. Mendengar bagaimana suara merdu itu terkekeh teramat halus hingga deru napasnya membentur wajah mengantuknya. Semakin memancingnya untuk mengumpulkan kesadaran dengan segera.

Barulah ia melihat dengan jelas, bagaimana wajah rupawan itu tengah menatap dirinya begitu lekat dan dekat, berbaring tengkurap di sebelahnya, dengan jari-jemari halusnya yang masih bermain-main di wajah tegasnya.

“Selamat pagi, Kim Ki Bum!”

Ki Bum mengernyit semakin jelas. Ada yang janggal dengan gadis di hadapannya kini. Dia tersenyum teramat lebar, begitu manis sampai-sampai Ki Bum hampir lupa diri dan memilih untuk menciumi wajah cantik itu. Tapi untungnya kebingungannya lebih menguasai dibandingkan hal tersebut.

“Kenapa diam saja? Apa ada yang salah?” gadis itu memiringkan kepala, memasang raut bertanyanya dengan mata jernihnya yang masih berbinar-binar. Kemudian ia kembali memamerkan senyumnya. “Aah, kau menunggu ini?”

Barulah Ki Bum mengerjap cepat, terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh gadis itu. Memajukan wajah kemudian memberikan kecupan ringan di hidungnya. Yeah, ringan… tapi berefek sangat besar bagi Kim Ki Bum. Dia merasakan bagaimana jantungnya seperti baru saja melompat tinggi bersamaan dengan perutnya seperti tengah diaduk-aduk tidak karuan.

Ada apa ini? Kenapa gadis itu memberikan…

Morning kiss!” gadis itu berseru penuh ceria. Namun bertahan hanya beberapa detik sebelum kembali lenyap kala ia bertanya, “Kenapa kau tidak tersenyum? Apa ada yang kurang?”

Belum sempat Ki Bum menjawab, kini gadis itu kembali menghapus jarak, memberikan kecupan sekali lagi dan untuk kali ini, bibir ranum itu mendarat di bibir penuhnya yang sedikit terbuka. Membuatnya harus mengatup kaget berkat tindakan sang gadis.

“Sudah?” sang gadis bertanya dengan nada cerianya lagi. Lalu ia beralih duduk, masih di atas ranjang juga menatap penuh pria di hadapannya.

Oh, dan satu lagi, Ki Bum harus terheran-heran karena gadis itu berani menatap dirinya lama-lama seperti sekarang ini. Dan, astaga…

A transparent shirt with tight jeans hot pants?

Sejak kapan gadis itu—berani berpakaian seperti itu?!

Ki Bum masih ingat model pakaian Soo Rin kebanyakan bermodelkan dress. Sekalipun celana pendek, kebanyakan pleated shorts ataupun knee length shorts. Bukan hot pants apalagi ketat seperti yang Ki Bum lihat seperti sekarang ini!

“Ayo bangun! Kita sarapan bersama, eo?” gadis itu meraih sebelah lengannya, begitu antusias hingga dengan mudahnya menarik Ki Bum hingga pria itu ikut terduduk di tempat.

“Soo Rin-ah.”

Eo?

Soo Rin, gadis yang hendak turun dari ranjang itu harus mengurung niatnya. Senyum manisnya masih terpampang di bibir. Ia bahkan memiringkan kepala hingga dirinya terlihat begitu menggemaskan.

Yang semakin membingungkan Kim Ki Bum.

Neo… gwaenchanha?

Karena Ki Bum benar-benar tidak mengerti, kenapa gadisnya itu tiba-tiba seperti berubah. Ki Bum mulai khawatir bahwa mungkin sedang terjadi sesuatu pada Soo Rin seperti… mabuk?

Geureom nan gwaenchanha (Tentu saja aku tidak apa-apa)!” Soo Rin memamerkan deretan giginya. “Ayo! Kita harus sarapan!”

Tapi Ki Bum mengabaikan ajakan Soo Rin hingga ia tetap berada di tempatnya. Menarik perhatian Soo Rin sekali lagi hingga Ki Bum harus mendesah tertahan melihat bagaimana gadisnya itu—sekali lagi—menatap lekat dirinya.

Park Soo Rin benar-benar aneh bagi Ki Bum saat ini. Tidak pernah dia menemukan gadisnya bersikap seperti sekarang ini mengingat bagaimana sifatnya yang lebih sering malu-malu namun menggemaskan bagi Ki Bum. Sepertinya persepsi Ki Bum yang menyatakan bahwa Park Soo Rin sedang mabuk adalah benar. Tapi, Ki Bum tidak ingat bahwa, memangnya semalam Soo Rin meminum alkohol?

Tunggu, kenapa Ki Bum tidak ingat akan apa yang sedang terjadi semalam?

Apa yang sudah terjadi sampai-sampai ia menemukan Park Soo Rin dalam keadaan seperti sekarang ini?

Bagaimana bisa Park Soo Rin berubah 180° menjadi gadis yang—berani seperti sekarang ini?

“Kenapa? Kau terkejut?”

Suara merdu itu memecah lamunan Ki Bum. Pria itu kembali mengerutkan kening kala mendapati gadis itu kini tengah mengulas senyum yang berbeda dari sebelumnya. Semacam ulasan senyum yang memiliki banyak arti. Dan, sungguh…

Ki Bum belum pernah melihat senyum semacam itu terpatri di bibir Park Soo Rin sebelumnya.

Mengejutkannya, Park Soo Rin kini merangkak mendekatinya, masih dengan senyum misteriusnya itu, seperti tengah mencoba memberi peringatan pada Ki Bum dan Ki Bum memang menyadarinya. Ia hampir menarik mundur kepalanya begitu gadisnya itu hampir membenturkan ujung hidung mereka. Mencoba menerka apa yang sedang terjadi terhadap gadisnya ini dengan tidak memperlihatkan bahwa dirinya terpengaruh.

“Bukankah kau senang?”

Ki Bum menahan diri untuk tidak mengernyit. Diam-diam ia menahan napas kala Soo Rin memiringkan wajah. Ki Bum juga hampir melebarkan mata kala menyadari adanya perubahan sorot mata jernih itu.

Did she just showing a naughty gaze?

“Bukankah kau senang jika aku melakukan hal ini?”

“Melakukan apa maksudmu?”

Goddammit! Why his girl showing that smile? She never did that before!

“Melakukan ini…”

Ki Bum seperti baru saja mengalami time stopping. Kala gadis itu beralih ke sebelah telinganya, melontarkan dua kata itu dengan suara rendah yang seketika membuat bulu romanya meremang dan ia benar-benar tidak berkutik hingga begitu saja ia terhempas di tempat tidurnya. Hampir tidak merasakan bahwa gadis itu baru saja mendorongnya, lalu beralih menindihnya dengan gerakan memikat.

Oh, astaga, apa yang sebenarnya sedang terjadi?!

Kenapa Park Soo Rin menjadi seperti ini? Kenapa Park Soo Rin berubah drastis menjadi gadis nakal yang—sungguh sialan—justru begitu menggodanya? Dari mana gadisnya belajar semacam ini? Sejak kapan gadisnya sudah ahli melakukan ini?

Kenapa Ki Bum tidak bisa berkutik ketika gadis itu justru hendak menerkamnya seperti ini?!

Hajima.

Dia butuh dorongan keras untuk mengeluarkan suaranya yang memberat. Tepat di saat bibir itu sedikit lagi menyentuh bibirnya, berhenti si sana dan membiarkan napas mereka mulai beradu.

Wae?” bisikan Soo Rin kala bertanya, entah mengapa itu seperti dentingan lonceng peringatan di kepala Kim Ki Bum. Pria itu memejamkan mata terlampau rapat, menahan napas yang memancing Soo Rin untuk kembali menggoda sang tawanan dengan kembali berbisik, “Bernapas, Kim Ki Bum.”

Hajimarago.

Hanya tersisa beberapa inci, benar-benar nyaris menyentuh begitu Ki Bum kembali bersuara. Menghentikan gerakan Soo Rin yang langsung ia berikan tatapan tajam andalannya. Di mana seharusnya gadis itu langsung menciut jika sudah ia keluarkan senjata itu.

“Cukup sampai di situ, Soo Rin-ah.” Ki Bum menegaskan suaranya. Dia merasa bahwa tindakannya kali ini benar-benar mencerminkan dirinya yang tidak terbantahkan.

Hanya saja…

Ki Bum harus melebarkan pupil matanya ketika ia melihat bagaimana sudut bibir itu terangkat, tersenyum asimetris yang sungguh bukanlah sifat Park Soo Rin.

“Terlambat.”

Dan itu terjadi begitu saja. Ketika Ki Bum melihat bagaimana bibir manis itu terbuka, bersiap ingin meraupnya, seketika Ki Bum menutup mata yang di waktu bersamaan merasakan seperti ada yang menggigit bibir bawahnya. Serta-merta tubuhnya tersentak, memaksa kelopak matanya kembali terbuka dan seketika ia bagaikan kehilangan arah.

Ki Bum melihatnya. Gadis itu, ada di hadapannya, menatapnya penuh lekat dengan sorot mata yang berbeda dari sebelumnya. Tapi yang membuat Ki Bum tercenung adalah, gadis itu sudah beralih duduk di sisinya, memegang sebelah lengannya begitu erat, memasang raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.

“Kim Ki Bum, kau tidak apa-apa?”

Tunggu…

Park Soo Rin?

Kenapa Soo Rin sudah duduk bersimpuh di sisi Ki Bum? Bukankah baru saja dia masih menindih Ki Bum? Bukankah gadis itu sedang ingin menyerangnya dengan meraup bibirnya seperti yang terakhir kali dia lihat? Tapi kenapa sekarang Park Soo Rin yang nakal dan menggoda itu sudah lenyap dan kembali menjadi Park Soo Rin yang—

“Kim Ki Bum, kau kenapa, eo? Kau bermimpi buruk?”

Barulah Ki Bum mengerjap sadar.

Mimpi…

Jadi, tadi itu hanya mimpi?

“Kau sampai berkeringat seperti ini,” Soo Rin menyentuh sebelah pelipis Ki Bum yang tampak basah, mengambil selipat handuk kecil dari kening pria itu untuk menyekanya kemudian. “Demammu belum turun juga… ugh… biar aku masakkan air kompres dulu, eo?” menariknya dari wajah tegas Ki Bum, Soo Rin hendak berbalik ketika tangan besar itu langsung mencengkeram sebelah tangannya.

“Tidak. Tidak perlu.”

“Tapi, kau harus—”

“Jangan membantahku.”

Mengatup mulutnya. Ia masih bisa melihat bagaimana mata sayu itu berusaha menyorot ketajaman yang bisa membuat nyalinya menciut, di sela-sela deru napasnya yang tampak mengkhawatirkan bagi Soo Rin. Itulah mengapa Soo Rin kembali bersimpuh di sebelah Ki Bum dan menyimpan niatnya untuk membantu pria itu agar lekas sembuh.

“Baiklah.”

Ki Bum memandang gadis itu penuh lekat. Memastikan bahwa Park Soo Rin memang menurut padanya. Dan, apa yang dia alami barusan memanglah hanya bunga tidur tidak nyamannya. Lagipula, Park Soo Rin kini sedang memakai piyama merah muda yang sedikit kebesaran di tubuh rampingnya, bukan kemeja kebesaran apalagi transparan yang dipadu dengan hot pants ketat berbahan jeans yang justru membuat penampilannya begitu dewasa—yang dilihatnya di dalam mimpi anehnya tadi.

Itu bukanlah gaya berpakaian seorang Park Soo Rin.

“Bukankah kau senang jika aku melakukan ini?”

Tapi, Ki Bum masih mengingat Park Soo Rin di dalam mimpinya berkata hal-hal yang begitu mengganjal. Itu membuatnya terpaksa berpikir keras saat ini. Otak jeniusnya sedang macet berkat demamnya yang masih belum turun akibat dari kelelahan dalam bekerja sebagai seorang dokter. Belakangan ini dia bisa melakukan operasi 15 jam dalam sehari. Membuatnya hampir lupa waktu istirahat untuk sekadar mengisi asupan tenaga kemudian mendapat omelan langka dari Soo Rin yang baru akan ditunjukkan jika dirinya mengalami hal ini.

Dia terlalu kalut hanya karena memikirkan kalimat tanya yang keluar dari mulut Park Soo Rin yang menggoda di dalam mimpi anehnya tadi. Heol! Bagaimana bisa dia memimpikan hal semacam itu?

Tidak. Dia tidak menginginkan hal itu. Dia tidak berharap Park Soo Rin yang ada di hadapannya sekarang menjadi Park Soo Rin yang berada di dalam mimpinya. Dia tidak berharap Park Soo Rin berubah menjadi gadis yang agresif. Sudah cukup dia mengalaminya di kala gadis itu sedang mabuk dan dia tidak bisa menjamin akan menahan kendali dirinya jika saja hal semacam itu terjadi lagi.

But why that-damn-dream could affect him so far like this? Is this because he got fever right now so his genius brain can not make compromise?

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?”

Suara merdu Soo Rin berhasil menarik Ki Bum dari lamunannya. Gadis itu tampak cemas juga bingung di tempatnya. Sekali lagi ia mengulurkan sebelah tangan, mendarat di kening Ki Bum demi memeriksa. Lalu Soo Rin mendesah gusar.

“Kau masih panas, Kim Ki Bum. Apa kau yakin tidak memerlukan kompres lagi?”

Soo Rin terlalu memikirkan keadaan Ki Bum sehingga ia tidak menyadari bagaimana cara pria itu menatapnya saat ini. Bahkan tidak merasa curiga ketika dia menarik kembali tangannya dan dibalas oleh pria itu dengan menggenggamnya lalu menariknya sehingga ia tersentak tidak mampu menjaga keseimbangan. Soo Rin terjatuh begitu saja di atas tubuh Kim Ki Bum. Kemudian untuk beberapa saat Soo Rin hanya mampu tertegun serta mengerjap cepat yang menandakan kegugupan mulai menjalari sekujur tubuhnya.

“Kim Ki Bum…”

“Seperti ini saja.”

Soo Rin menelan suaranya dan beralih mengamati bagaimana Kim Ki Bum memejamkan mata dengan dahi mengerut samar, mulut yang sedang terbuka sebagai pengganti akses mengasup oksigen, tarikan napasnya juga begitu berat sampai-sampai Soo Rin dapat merasakan bagian dada yang ditindihnya kini naik-turun teramat jelas.

“Kim Ki Bum, kau tidak bisa bernapas.”

Aniya.” Ki Bum menggerakkan tangan-tangannya yang hampir kebas untuk melingkari tubuh Soo Rin. Mendekap gadis itu dengan ketatnya. Tanpa memedulikan kebingungan sang empu. “Aku membutuhkanmu. Seperti ini.”

Soo Rin menelan saliva. Mendengar suara berat Ki Bum sedikit terbata akibat deru napasnya yang tidak beraturan sudah cukup menambah kadar kecemasan di dalam benak Soo Rin. Dia masih mengingat bagaimana prianya ini mengerang tidak nyaman di dalam lelapnya sebelum kemudian terbangun begitu saja seperti dikejutkan sesuatu atau dipaksakan agar terbangun. Dan Soo Rin tidak memiliki ide apa yang sudah membuat Ki Bum sampai terengah-engah seperti sekarang ini.

“Kau bermimpi buruk?” Soo Rin mencoba bertanya setelah beberapa menit membiarkan matanya terus mengamati wajah tegas nan pucat di hadapannya.

Pertanyaan itu berhasil memancing Ki Bum untuk membuka mata, menunjukkan sorot sendunya yang berhasil membuat Soo Rin meringis di dalam hati.

“Ya. Aku bermimpi buruk.”

“Apa aku boleh tahu?”

Hm?”

“Mimpi buruk apa?”

Ki Bum tidak langsung menjawab. Sebuah fakta bahwa otaknya memang sedang macet dan sulit untuk berpikir. Dia justru memutar kembali mimpi buruk-nya yang begitu gila. Bahkan harus kepayahan menelan saliva karena matanya terus saja tertuju pada gadisnya yang balas terus memandangnya.

Itu bukanlah tatapan penuh minat nan seduktif seperti yang ada di dalam mimpinya tadi. Park Soo Rin yang sekarang sedang menatapnya penuh kecemasan yang diiringi dengan sorot ingin tahu.

“Kau.”

Soo Rin mengerjap cepat. Cukup terkejut dengan jawaban singkat Kim Ki Bum yang mampu ia cerna dengan baik. “A-aku? Ada apa denganku?”

“Kau berubah. Menjadi terlihat menyeramkan .”

“Menyeramkan? Maksudmu, aku menjadi monster, begitu?”

“Ya.” Ki Bum mengernyit serius. “A Monster Seducer. You know that?

Ada jeda beberapa saat ketika Soo Rin hanya mengerjap berkali-kali, tampak berpikir. Sebelum akhirnya…

“Aak!!” Ki Bum memekik kesakitan berkat tangan Soo Rin tiba-tiba mengapit hidungnya serta menariknya dengan kencang. Dia hampir menepis tangan halus itu jika sang pemilik tidak segera menariknya lalu melepaskan diri dari kelengahannya hingga dekapannya melonggar.

“Kau bermimpi mesum?!” Soo Rin melontarkan pertanyaan yang lebih pantas disebut tudingan akibat dari suaranya yang meninggi. Wajahnya berubah masam, menatap tidak percaya bercampur kesal atas pengakuan Kim Ki Bum.

Oh, astaga, bagaimana bisa—ya ampun, seperti apa dirinya di dalam mimpi Kim Ki Bum, hah?!

Semenyeramkan apa dirinya yang Ki Bum sebut sebagai… monster penggoda?!

Yaa, aku tidak mengharapkan bermimpi seperti itu!” Ki Bum berkilah. Ia hendak ikut duduk seperti Soo Rin tapi harus mengerang kesakitan begitu kepalanya lepas dari atas bantal, merasakannya berdenyut nyeri hingga pandangannya bergoyang.

Soo Rin yang sedang kesal harus kembali dirundung kekhawatiran. Ia langsung menangkap bahu lebar Ki Bum. “Y-ya! Kau belum boleh bangun!”

Melihat perubahan ekspresi Soo Rin yang mudah sekali terbawa suasana, hampir membuat Ki Bum menyemburkan sekadar kekehan karena begitu menariknya gadis miliknya ini.

“Karena itu aku menganggapnya sebagai mimpi buruk.”

Soo Rin yang berniat menuntun Ki Bum untuk kembali berbaring harus mengurungnya. Matanya beralih kembali menatap Ki Bum. Lalu ia merasakan benaknya berdesir halus kala melihat pria itu tersenyum—heol, dengan wajah pucatnya saja masih terlihat tampan di mata Soo Rin—ditambah tangan besar itu terangkat menjangkau wajah Soo Rin lalu merengkuhnya penuh rasa.

“Gadisku selalu bertingkah menggemaskan, bukan menggodaku apalagi menciumku lebih dulu.”

Ish!” Soo Rin merasakan wajahnya memanas. Pada nyatanya kedua pipinya sudah timbul semburat merah muda, hanya karena kata-kata sederhana Kim Ki Bum yang sedang demam. “Jadi, di dalam mimpimu, aku sedang menciummu, begitu?”

Eum.” Ki Bum mengulum senyum simpulnya. “Even you bite my lower lip.

Oh, Soo Rin harus mencerna ucapan Ki Bum dalam waktu beberapa detik sebelum akhirnya bereaksi.

Aaakk! Yaa, kenapa kau memukulku?!”

“Beraninya kau bermimpi seperti itu?!”

“Aku bahkan tidak mengharapkan mimpi yang seperti itu, Soo Rin-ah.”

“Tapi alam bawah sadarmu mengharapkannya! Benar, bukan?!”

“Mungkin saja.”

YA!

“Mungkin aku berharap agar kau mau menciumku lebih dulu.”

ISH!” Soo Rin yang sudah terlanjur malu, langsung menjatuhkan pukulan pada Ki Bum tanpa memedulikan bahwa pria itu sedang sakit. “Dokter menyebalkan! Mimpi saja sana!!”

Ki Bum hampir kewalahan jika saja ia tidak langsung menjatuhkan diri seraya menarik Soo Rin hingga gadisnya kembali terjatuh di atasnya. Menimbulkan efek jeda yang langsung dimanfaatkan Ki Bum untuk bertanya, “Jadi, tidak masalah jika aku bermimpi seperti itu?”

Ya!!!

Ki Bum tertawa melihat reaksi menggemaskan itu. Saking gemasnya ia tidak merasakan lagi kepalanya berdenyut dan kini berani mendekap Soo Rin untuk diajaknya berguling hingga posisi mereka sebagaimana hendak pergi tidur. Entah bagaimana caranya, dia merasa staminanya berangsur membaik pasca terbangun dari mimpinya. Mungkin karena secara tidak langsung percakapannya bersama Soo Rin sudah memicu dirinya untuk tidak terlihat lemah di hadapan gadis kesayangannya ini.

Oh, tentu saja. Seorang Kim Ki Bum yang selalu dicap diktator oleh Park Soo Rin akan terlihat lucu jika merengek kesakitan di depan gadisnya sendiri. Meski dia senang bisa mendapatkan perhatian penuh dari sang gadis seperti yang baru saja dialaminya.

“Terima kasih.”

Soo Rin yang sedari tadi memrotes perlakuan tiba-tiba Kim Ki Bum harus berhenti, mendongak melihat wajah tegas itu tengah menunjukkan rona cerahnya meski masih tampak pucat, membuat jantungnya berdebar-debar saja. Apalagi mendengar ucapan halus nan tulus baru saja masuk ke dalam gendang telinganya.

“U-untuk apa?”

For being adorable Park Soo Rin whom I love.

Blush…

Untuk kali ini Soo Rin cepat mencerna ucapan Kim Ki Bum. Entah mengapa… entah mengapa ucapan penuh makna yang sebenarnya diucapkan secara sederhana sudah mampu membuat wajahnya kembali memanas yang justru membuat Soo Rin megap-megap di dalam dekapan yang mulai terasa mendebarkan ini.

“Menggodaku, huh?” Soo Rin menggerutu seraya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah ke dada prianya.

Dan Ki Bum menerimanya dengan senang hati. Ia mendaratkan dagunya di puncak kepala Soo Rin, memejamkan mata dengan damainya, dengan bibir yang tersungging begitu manis. “Menurutmu?”

Soo Rin tidak langsung menjawab, melainkan berdalih menggerakkan tangannya untuk memeluk pinggang Ki Bum, meremas pakaian prianya di sana. “Kau—benar-benar mengharapkannya?” dan justru mengajukan pertanyaan lain.

Untungnya Ki Bum mengerti arah pertanyaan Soo Rin yang terdengar malu-malu. “Mungkin?”

“Mung—kin?”

Eum. Banyak pria yang mengatakan bahwa wanita agresif lebih menggairahkan.” Ki Bum terkekeh pelan, apalagi ia merasakan gadis di dalam dekapannya menggerutu tidak suka. Cepat-cepat Ki Bum meralat. “Tapi bagiku, kau yang seperti ini sudah cukup. Aku pernah berkata padamu sebelumnya, bukan?”

Soo Rin mendongak, mencari wajah tegas yang kini sudah membuka mata dan menunduk menatapnya. Keningnya mengernyit karena dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh prianya ini. “Berkata apa?”

Dan Ki Bum memanfaatkannya dengan mendaratkan kecupan ringan di hidung bangir Soo Rin sebelum berbisik, “Aku selalu bergairah setiap melihatmu,” lalu mengedipkan sebelah mata.

Langsung saja Soo Rin merasakan bagaimana jantungnya seperti ingin meloncat keluar dari tempatnya. Serta merta Soo Rin melayangkan tangannya kembali memukul bahu pria itu. “Byuntae Uisa!!

Well, tapi untuk yang ini Ki Bum merasa seperti tengah digelitik oleh Soo Rin hingga ia terbahak dibuatnya. Ough, jika saja ia tidak ingat bahwa dirinya sedang terserang demam dan mengabaikan keselamatan kesehatan Soo Rin, he would kiss his opiate deeply and roughly—possibly. Geez!

“Tapi memang begitu kenyataannya.”

“Kaunya saja selalu berpikiran macam-macam!”

“Kau terlalu menggoda untuk tidak kupikirkan bermacam-macam.”

Mwoya?!”

“Aku priamu dan aku berhak melakukannya, bukan? Tidak ada larangan sekalipun itu darimu.”

Sekali lagi Soo Rin menggerutu di dalam lingkaran lengan-lengan Ki Bum. Kim Ki Bum benar-benar menyebalkan! Kenapa alasannya bisa dikatakan masuk akal dan memang tidak bisa digugat lagi? Haishi, benar-benar!

Tapi, bukannya melepas diri, Soo Rin justru kembali merapat pada pria itu, memeluknya dengan erat seperti sebelumnya, dan kembali menyamankan diri. Menganggap perdebatan kecil mereka seperti angin lalu dan memilih untuk menutupnya. Dia bahkan sudah tidak peduli bahwa tubuh kekar yang mendekapnya kini terasa lebih panas dari suhu normal.

Sebenarnya Soo Rin sedikit memikirkan hal tersebut, tetapi karena sudah terlanjur nyaman, Soo Rin hampir mengabaikannya bahkan melontarkan pertanyaan yang diasa hanya sebuah basa-basi.

“Bagaimana jika aku tertular?”

“Kau rela jika aku memintamu untuk menjauh dariku?” well, Ki Bum juga mengerti dan membalas pertanyaan Soo Rin seperti mengajukan tantangan. Ia mendengar gadis di pelukannya menggerutu tidak jelas, juga merasakan bagaimana tangan itu justru semakin erat memeluk pinggangnya.

Itulah jawaban Park Soo Rin.

Lihat? Park Soo Rin memang hanya berbasa-basi dan itu membuat Ki Bum bertindak lebih. Menarik bagian pinggang Soo Rin agar semakin rapat dengannya. Lalu menarik selimut hingga batas bahu Soo Rin.

“Jika kau tertular, itu berarti giliranku untuk merawatmu sepanjang malam, bukan?”

Hanya terdengar dengungan suara Soo Rin. Sebenarnya dia tahu bahwa Park Soo Rin hampir tidak tidur sepanjang malam jika dirinya sedang seperti sekarang. Bahkan di malam ini pun, di waktu yang menunjukkan pukul setengah tiga dini hari, Ki Bum yang kebetulan bermimpi buruk berhasil menemukan Soo Rin yang masih terjaga. Dia bisa melihat dengan jelas betapa mengantuknya gadis ini, sebenarnya.

“Jangan menungguku sepanjang malam lagi. Kau juga butuh istirahat cukup agar tidak seperti diriku saat ini. Mengerti?”

Eung…

“Aku akan tetap memelukmu sekalipun aku sedang sakit maupun sebaliknya.”

Eung…

Ki Bum menunduk memeriksa. Ia mendengus samar mendapati gadisnya sudah terpejam nyaman di dalam pelukannya. Mungkin Park Soo Rin sedang dalam perjalanan menuju alam bawah sadarnya. Ki Bum memaklumi itu.

Yah, selain itu, pada kenyataannya berada di dalam pelukan Kim Ki Bum selalu berhasil membuai Soo Rin untuk tidak lepas lagi dari sana. Bisa dilihat tingkahnya sebelumnya, bukan? Dan, ya, Soo Rin memang sudah tidak menghiraukan peringatan di mana dirinya bisa saja tertular oleh demam Kim Ki Bum. Karena dia sudah terlanjur nyaman di dalam kungkungan prianya, bagaimana pun kondisinya.

Lagipula, Ki Bum sudah berkata akan bertanggung jawab jika gadisnya tertular, bukan?

Tunggu…

Hei, bukankah saat ini Ki Bum sedang sakit?

Tapi kenapa Ki Bum yang menina bobokan Soo Rin?!

star21

FIN


 

Hai, kisukisu kembali dengan cerita lepas absurdnyaaaa~

Saking ga ngerti tujuan cerita ini, aku juga ga punya ide mau ngasih judul apa. Jadi pas lagi dengerin lagu B1A4 – 이게 무슨 일이야? (ige museun iriya?) atau dikenal “What’s Going On?” aku comot aja judulnya buat judul cerita ini heheheheh XD

gajelas ya…. ikr~

jadi, sampai jumpa lagi saja di tulisan absurd lainnya._.

seperti biasa Terima kasih sudah mampir~ ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

26 thoughts on “What’s Going On?

  1. aku sedang ke takutan,,,pas buka fb ada update tan elvabari yg terbaru tancap gas saja menuju mbah google,,,,
    tktnya digantikan dngan senyum ” sendiri

    wahhh bnr ” mustajab nie ff

    keren pas bngt sama sorin yg mau meluncur ke alam mimpi,,,aku jga mau nyusul bak sorrin akh

    bye” selamat tdr kisso…..
    daebakk…
    di antos ff lainnya kkkk cemangat pcr nobita kkkkkk

  2. Yaampun Ku kira tuh beneran tapi ternyata cuma mimpi hadeeuuhhh alaam bawah sadarnya ki bum me sum nih hahaha
    Tapi kenapa sih ya mereka itu gemesin banget kalo lagi dua duan begitu, bikin iri aja hahahha

  3. Omo omo kenapa aku selalu mikir klo soorin macam” berarti hamil >< heol eonnn maafkan daku hahaha

    Nah lo kibum soorin agref kagak mau aish padahal dikit lagi hahaha #yadongefek

    Tunggu part selanjutnya eon

  4. Baper baper baperrrr hmm bisa yahh bikin bapernya Ki Bum minta cium nih??? Hayuu hha

    Sukaaa iiihhh .. Ya walaupun Ki Bum lagi cukid tapi gak mengurangi kadar ‘diktator’ nya Soo Rin .. Dan itu kalo dibayangin hmmm aku meleleh hahahahaha

    Aku mau request aahh tapi nanti di chat personal siapa tau mau di bikinin haha ..

    Ngebayangin kalo Soo Rin yang cukid karna hamil anaknya mereka aduh kayanya romantis bingooo yaahh haha ..

  5. yaampuuuun ternyata cuma minp
    i aku kira beneren������
    kalo beneran kasian kibum dikasih ujian berat hahaha

  6. just a dream 😂😂😂😂 Aigooo

    Eonni, sampai sekarang aku masih nunggu Little kisu-kisu lhoooo. gak sabar pengen liat mereka punya Aegi . hihihihi Can’t wait 😄😄😄😄😄

  7. Lah anjir Kibum ‘Neo gwaenchana?’😂😂😂😂😂
    Bum, lo terlalu banyak ngarep sih. Next time kalo mengkhayal jangan ketinggian, repot sendiri kalo gak terkabul😘😘😂😂😂

  8. aq ja ngeri byangin soorin agresif kya gtu…ha3x
    pa lg kim kibum pst ngeri bgt 😀
    untunglah smua cm mimpi XD
    lnjt thor…
    share yg laen ny lg 🙂

  9. awalnya aku pikir pas soo rin jadi agresive itu beneran, aku pikir soo rin bertingkah kayak gitu buat kasih kejutan ke kibum eh ternyata cuma mimpi…… kim kibum bener2 mesum kalo sama soo rin. ketawa pas kibum yang nina bobok in soo rin padahal kan yang sakit kibum. 😀 😀 😀 😀

  10. byuntae uisa!!!

    akhir y meski cm mimpi.. gk cm soo rin yg dibuat bermaraton jantung y..
    ki bum ternyt jg bsa bermaraton jntung y…
    nice soo rin…

  11. abang Ki bum mimpi toh ternyata, kirain beneran Soo rin jd agresif dan bikin prianya itu kewalahan sama tingkah Soo rin yg kelewat agresif beda dari biasanya kkkkk…
    Soo rin gak bisa ngedebat ucapan Ki bum yg udah mutlak itu hahaah “Aku priamu dan aku berhak melakukannya, bukan? Tidak ada larangan sekalipun itu darimu.”
    bisa aja si abang satu ini…
    Siska selalu bisa membuatku ngefly kalo udah baca KiSoo-KiSoo, love you deh dan jempol pokoknya mah ❤ ❤ ❤ ditunggu selalu FF karyamu, see you next story ^_*
    aku nemu satu typo hehehe….

  12. untung cuman mimpi, kalo gak bisa jantungan tiap hari tuh kim bum gegara soo rin jadi agresif kek gitu wkwk
    emang bener-bener mesum itu dokter ck

  13. ternyata cm mimpi kirain beneran aneh jg soo rin jd agresif bgt ma kim bum mlah kim bun jdi tkt soo rin berubah jd liar,kshan jg ma soo rin kurang tdur gara2 ngejaga kim bum sakit tpi sekrg malah soo rin yg tdur krna dpt pelukan dri kim bum.

  14. niat awal tadi masuk sini buat ngecek lanjutan harlem lodge eh taunya malah dapet bonus cerita kisu couple yg bikin iri sekaligus ngeselin ini hihi 😌😌

    eh sekangen ini loh sama daily life kisu couple ini ><

  15. aku juga pernah mimpi macam kibum ini >< tapi sama eunhyuk ._. dia bisikin dari belakangku "sayang, rambutmu wangi sekali(?)" haha 😀 gini aja udh bikin jingkrak² pas bangun wkwkwk #gknanya *malah curhat* -_-

    btw "Aku selalu bergairah setiap melihatmu" apa ini kim kibum?! gw getok juga lu! -_-

  16. Hai kak siskaaa^^/ setelah sekian lama enggak pernah mampir karena ujian (*curhat) akhirnya bisa nyuri-nyuri waktu buat buka blog ini xD seperti biasa ceritanya bikin melayang, bikin cengar-cengir sendiri, dan tentunya bikin imajinasi berkembang pesat xD aku tunggu ff selanjutnya kak^^)/

  17. hahahaha dasar byuntae!! untung aja cuma mimpi, kalau beneran woahhhh hahahaha Kibum bisa kewalahan atau malah menikmati
    *plakk

    udah ah cepat sembuh ya Dokter Kim dan semoga aja Soorin gak tertular kkk ^^

  18. Hahahaha…aku kira itu nyata gk mimpi awalnya aku yg mlah shock liat Soo rin begitu mengoda Kibum dan emang bkan sifat Soo rin bgt
    duh Kibum sakit msih aja mimpiin Soo rin emang dah pengaruh Soo rin

  19. Yaampun ternyata cuma mimpi wkwk
    Pantesan soorin nya beda 😁
    Aahh kisukisu selalu manis 😊 Keep writing kak ^^

  20. ya ampun 😶
    ya ampuuuuuuuuuuuuunnnn ige mwohaeeeeee(?!)😣😣
    iiiiih si Soorin, aku berharap itu bukan mimpi(?)/uhuk
    biaaaar si kibum tau rasa gimana jadi yang tersudutkan(?) 😁😁
    hihiiw luthuuuu 😆😆😆
    sering2 ya bikin kimkibum dipojokin, sonehow kayak ada kebahagiaan inside kalo liat dia menderita 😳😳/digaplok
    niceniceeeeuuu ♥♥♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s