Posted in Category Fiction, Fiction, Fluff, One Shot, Romance

DRUNK

drunk

Genre :: Fluff-Romance

Rated :: PG-17

Length :: One Shot

||KiSoos||

H A P P Y   R E A D I N G

.


Park Soo Rin semakin berbahaya bagi Kim Ki Bum jika sedang mabuk…


.

©2016 ELVABARI

.

KIM Ki BUM kembali menghela napas panjang. Entah sudah kali keberapa dirinya melakukan hal tersebut sejak dirinya berhasil menenangkan gadis yang kini sudah berada di dalam dekapannya, ikut memeluknya lebih erat dibandingkan dirinya, terlelap amat nyaman tanpa memedulikan dirinya yang berkali-kali harus menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang kurang ajar.

Well, seharusnya Ki Bum terbiasa melakukan hal ini karena sudah terlalu sering ia memeluk Park Soo Rin di tempat tidur ketika ingin meluncur ke alam mimpi, bukan? Tapi, untuk kali ini, dia benar-benar tidak bisa menganggap hal biasa ini setelah apa yang terjadi olehnya bersama gadis ini. Ditambah, bagaimana Park Soo Rin melenguh tidak nyaman tiap kali dirinya mencoba untuk bergerak yang justru semakin mengetatkan pelukannya di mana hal tersebut semakin membuatnya sesak saja.

Jika saja dirinya tidak mengizinkan Park Soo Rin untuk pergi bersama teman-teman sepekerjanya malam ini, tidak membiarkannya untuk berpesta dengan kedok merayakan kesuksesan kantor penerbitnya setelah meluncurkan banyak buku yang berhasil memecah rekor best seller terbanyak, hingga berakhir seperti sekarang…

&&&

Berawal dari Ki Bum pulang dari rumah sakit, ia mendapati apartemennya kosong. Menyadarkannya akan percakapannya dengan Soo Rin tadi sore melalui telepon di mana gadisnya itu akan pulang terlambat karena harus ikut bersama teman-teman kantornya berpesta. Ki Bum mengizinkan setelah tahu ke mana Soo Rin akan pergi, dan mewantinya untuk pulang sebelum tengah malam, sempat ia menawarkan untuk menjemputnya nanti malam namun Soo Rin sudah berkata akan pulang bersama teman-temannya.

Pada akhirnya, Ki Bum memilih untuk bersabar menunggu. Untuk dua jam pertama. Ia habiskan waktu kesendiriannya dengan berkutat kembali dengan laptopnya demi memeriksa laporan medis yang baru saja ia tangani hari ini.

Setelah itu, ia mulai menghubungi Soo Rin, berniat menanyakan keberadaan juga keadaannya. Namun, hanya nada sambung yang tak kunjung ia dapat balasannya. Ki Bum mencoba lagi, dan mendapatkan hal yang sama. Hingga entah yang keberapa kalinya, perasaannya mulai dirundung kekhawatiran. Karena biasanya Soo Rin akan langsung menjawab panggilannya atau setidaknya ia harus mengulang sekali maupun dua kali saja.

Sepuluh menit ia habiskan untuk mencoba menghubungi Soo Rin, begitu memastikan hanya kenihilan yang didapat, Ki Bum mengambil kunci mobil juga coat sebelum keluar dari apartemen. Memutuskan untuk pergi ke tempat di mana gadisnya sedang merayakan pesta bersama rekan-rekannya. Untungnya saja ia sempat bertanya ke mana Soo Rin akan singgah.

Tapi ada suatu kebetulan yang cukup mengejutkan. Ketika ia tengah dalam perjalanan menuju tempat parkir mobilnya, ponselnya berdering menandakan adanya panggilan masuk. Nama Tan Han Kyung tertera di layar ponselnya, bahwa rekan kerjanya itu meneleponnya.

“Ya, Kim Ki Bum, how could you let your girl to get party and drunk, huh?!”

What?!” sungguh, Ki Bum terkejut setengah mati mendengar kabar dari pria bermarga Tan di seberang teleponnya saat ini.

Soo Rin get party and… drunk?

DRUNK?!

“She’s in the club right now. Aku tidak sengaja melihatnya. Dia dicekoki banyak alcohol oleh teman-temannya dan—oh, Ya Tuhan, cepatlah kau jemput dia sekarang! Dia tidak sadarkan diri!”

What the hell?!

Bagaimana bisa Soo Rin ada di club? Bukankah gadis itu berkata akan pergi ke tempat karaoke dan berpesta di sana? Gadis itu sendiri juga berkata bahwa ia tidak akan minum minuman berbau alcohol nan memabukkan. Tapi… bagaimana bisa Tan Han Kyung menemukan gadisnya di tempat yang tidak pernah disentuh olehnya sendiri?!

Dan tentunya Kim Ki Bum langsung melesat pergi dengan mobilnya, dengan kecepatan penuh setelah rekan kerjanya itu member tahu alamat club yang dimaksud. Batinnya sudah mencetuskan berbagai macam sumpah serapah untuk orang-orang yang sudah berani mencekoki gadisnya minuman yang sudah ia coret dari menu asupan gadisnya. Karena dia tahu pasti bagaimana reaksi Park Soo Rin jika sudah menenggak minuman itu dalam takaran satu gelas Soju saja!

Butuh waktu 20 menit lamanya bagi Kim Ki Bum untuk sampai ke tempat yang dimaksud. Raut dinginnya terkuar begitu saja ketika ia melihat pintu utama tempat itu dijaga oleh dua orang berseragam serba hitam. Yang ternyata secara tidak langsung memberikannya akses untuk dapat masuk dengan begitu mudahnya. Menelusuri lorong remang menuju ruang di mana pesta diadakan, hingga ia melihat lautan manusia menari-nari yang seketika membuatnya mendengus dengan mulut terbuka.

Well, Ki Bum tidaklah merasa asing dengan kebisingan yang begitu dinikmati oleh orang-orang bernafsu yang melakukan berbagai adegan dewasa secara terang-terangan di lantai dansa seperti ini. Ki Bum sudah pernah memasuki dunia malam seperti ini ketika dirinya menetap di California untuk menempuh pendidikan Sarjana Kedokterannya, bukan untuk mabuk apalagi bermain, hanya melepas kepenatan.

Tapi… yang membuat Ki Bum bereaksi seperti sekarang ini adalah di mana bayangannya mulai membayangkan apa saja yang sudah dilakukan Soo Rin di tempat seperti ini!

Ya Tuhan, dia harus segera menemukan gadisnya!

Membelah lautan manusia itu tanpa menghiraukan betapa kurang ajarnya kaum hawa di sekitarnya yang mencoba menarik perhatiannya dengan kecantikan maupun kemolekan tubuhnya yang hanya dibalut pakaian serba minim dan ketat. Hell, dia justru merasa muak melihatnya. Jika saja ia lupa dengan martabatnya, mungkin Ki Bum sudah menyingkirkan makhluk-makhluk itu dengan kepalan tangan.

Hey, Kim Ki Bum, over here!

Thank’s, God, setidaknya telinganya belumlah tuli berkat dentuman musik disko yang amat memekak telinga dan masih mendengar panggilan pria yang sudah mengabarinya untuk datang kemari, melambaikan tangan padanya dengan raut wajah tidak bersahabat. Ki Bum mengerti maksud dari ekspresi Tan Han Kyung, mereka memiliki minat yang sama untuk saat ini.

Barulah Ki Bum dibuat mencelos melihat orang yang ingin sekali ditemuinya kini sudah terbaring tak sadarkan diri di sofa salah satu bilik, seorang diri, tanpa ada seseorang yang menemani. Mungkin hanya Tan Han Kyung yang menemani selama dirinya dalam perjalanan kemari.

Gadis itu, Park Soo Rin, tampak tidak berdaya dalam ketidaksadarannya. Wajah cantiknya tampak memerah di bagian pipinya, keningnya mengerut terlalu jelas seolah menunjukkan betapa tidak nyamannya ia saat ini meski sudah dalam keadaan terpejam. Dengan satu jaket denim membungkus bagian depan tubuhnya demi menghangatkan, diyakini bahwa itu milik pria yang sudah menolongnya.

“Mereka sudah kabur lebih dulu setelah kuberi pelajaran.”

Ki Bum menoleh sekilas pada Han Kyung yang baru saja berbicara. Ia mendengus, “Seharusnya kau tahan lebih lama sampai aku datang.”

Han Kyung ikut mendengus, tahu benar maksud dari ucapan pria itu. “Sudah cukup aku membuat kekacauan sejenak. Aku tidak mau namamu tercoreng karena sudah menghancurkan tempat ini hanya karena gadismu.”

Ki Bum menggeram. Beruntung tempat ini mampu meredam geramannya. Tangan-tangannya bahkan sudah mengepal gatal ingin meninju orang-orang yang sudah berani membuat Park Soo Rin seperti sekarang ini. Jika saja ia diberi kesempatan untuk melihat seperti apa orang-orang itu, Ki Bum juga pasti memiliki kesempatan untuk memberikan pelajaran, tidak peduli jika mereka rekan kerja Park Soo Rin, yang jelas mereka sudah mengerjai gadis miliknya!

Ia meluruhkan tubuhnya di dekat Soo Rin, mengamati lebih dekat kondisi sang gadis saat ini sebelum ia melihat meja yang ada di depannya, amat berantakan dan begitu banyak gelas-gelas bertakaran beer di sana. Ia kalut memikirkan sudah berapa banyak yang ditenggak oleh gadis itu hingga berakhir seperti sekarang. Sudah berapa banyak mereka mencekoki gadisnya minuman beralkohol itu hingga berakhir seperti sekarang?

Brengsek!

Satu umpatan kasar akhirnya keluar dari mulut Kim Ki Bum. Menunjukkan begitu marahnya Ki Bum terhadap orang-orang itu. Menggeram sekali lagi dan ia hampir menggebrak meja di dekatnya jika saja ia tidak ingat masih ada Soo Rin di dekatnya pula.

“Tenangkan dirimu, Kim Ki Bum. Setidaknya kau harus segera membawa gadismu keluar dari sini.” Han Kyung memberi peringatan. Ia berkacak pinggang, menghembuskan napas kasarnya dalam sekali hentak. Jujur saja, ia masih sedikit terengah berkat aksi jotosnya pada orang-orang kurang ajar yang berani menyudutkan Soo Rin tadi. Tidak hanya pria, para wanita pun seperti berencana ingin menjahili Soo Rin dengan cara kelewatan, dan ia hampir melempar botol beer pada mereka-mereka itu. “Oh, ya ampun, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika saja aku tidak kebetulan singgah kemari,” gumamnya yang masih bisa didengar.

Ki Bum membenarkan ucapan rekan kerjanya itu. Dia cukup tahu kepribadian Tan Han Kyung yang selalu menghilangkan rasa bosan dengan mendatangi tempat seperti ini hanya untuk sebotol vodka bersama teman-teman sepermainannya di sini.  Dan, ya, ia bersyukur karena pria bermarga Tan itu ada di sini dan menyelamatkan Soo Rin lebih dulu.

Dan mengulang kembali kalimat terakhir Han Kyung, Ki Bum menyingkap jaket yang membungkus tubuh Soo Rin, memeriksa jika saja ada sesuatu yang aneh tertinggal di tubuh sang gadis. Tapi untungnya, ia bisa sedikit bernapas lega melihat penampilan Soo Rin yang masih baik-baik saja, tidak ada sesuatu yang sudah menghantui otak jeniusnya beberapa saat lalu.

Barulah ia kembali bertindak, setelah menenangkan diri, kini ia mengangkat tubuh Soo Rin ke dalam gendongannya. Memerhatikan wajah memerah gadisnya sekali lagi sebelum beralih pada Han Kyung.

“Terima kasih atas segala pertolonganmu, Dokter Tan.”

Han Kyung mengibaskan tangan, berdecak samar, “Ngah! No problem, Doctor Kim. Aku justru ingin meminta maaf padamu karena… aku sudah mengaku sebagai kekasihnya ketika hendak menolongnya tadi,” kekehnya pelan. Matanya mengerling nakal begitu melihat ada kilat tidak suka sempat terlintas di mata tajam pria Kim itu. Menggelitiknya karena betapa posesifnya seorang Dokter Kim yang begitu dikenalnya ini.

Mengalah, Ki Bum mencoba kembali berpikir jernih. Membuka kaki-kaki panjangnya keluar dari sana, diikuti dengan Han Kyung yang mengawalnya untuk membelah kembali lautan manusia malam, yang cukup berhasil membuat mereka mendapatkan atensi berkat bagaimana Ki Bum membawa gadisnya keluar dari sini.

****

Secara otomatis Ki Bum bernapas lega begitu ia berhasil menginjakkan kaki di apartemennya. Langsung saja ia beranjak menuju kamar, menidurkan Park Soo Rin yang masih tampak tak nyaman di alam bawah sadarnya, melenguh beberapa kali seperti tengah kesakitan yang—sungguh, Ki Bum hampir tidak kuasa menyaksikannya.

Dia tahu benar apa yang tengah dirasakan gadisnya saat ini. Itulah mengapa ia mencoba memberi ketenangan dalam bentuk sentuhan. Membelai surai panjang sang gadis yang nampak berantakan, berlanjut pada pipi-pipi memerahnya, sebelum kemudian memilih untuk beranjak dari sana demi mengambil segelas air mineral.

Hanya saja, begitu kembali ke kamar, Ki Bum melihat gadis itu menggeliat tidak tenang di tempat tidur. Menggerakkannya untuk segera mendekat duduk di sisi gadis itu, menangkap tubuh gadisnya hati-hati, berdesis pelan bermaksud memberikan ketenangan, membisikkan kata-kata halus seraya terus memberikan sentuhan lembut nan menenangkan.

Ki Bum harus menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan namun berat. Ia akui bahwa dirinya merasa sedih saat ini. Melihat Park Soo Rin—gadisnya yang saat ini tampak tersiksa di bawah pengaruh alkohol. Dia tidak memiliki ide sudah berapa gelas yang berhasil dicerna oleh gadisnya ini hingga berakhir seperti sekarang.

Ugh…

Untuk yang kesekian kali, Soo Rin melenguh dengan kening semakin jelas mengerut. Tapi untuk kali ini, kelopak matanya perlahan terbuka, menampakkan iris kecoklatannya yang mulai mengintip di baliknya, sebelum menunjukkan ketidakfokusan pandangannya yang begitu rancu. Ki Bum dapat melihatnya, bagaimana mata sayu itu menatap kosong dirinya begitu berhasil mendapatinya. Mungkin tengah berusaha mendapatkan orientasinya kembali.

“Soo Rin-ah, apa yang kau rasakan sekarang?” Ki Bum mencoba mengajak bicara gadisnya. Ia harus kebingungan begitu tidak mendapatkan respon. Padahal dia teramat yakin bahwa Soo Rin sudah tersadar. Apakah Soo Rin sedang melamun? “Soo Rin-ah, gwaenchanha?” tanyanya lagi, disertai dengan sebelah tangannya menepuk pelan sebelah pipi yang memerah itu.

Kini Ki Bum melihat, bagaimana bibir kecil itu melengkung ke atas secara teratur, membentuk seulas senyum yang begitu lebar dan manis—namun terlihat janggal untuk saat ini bagi Ki Bum.

Hmm…” gadis itu menggumam pelan, dengan senyumnya yang masih betah dipamerkan. Detik kemudian, ia bangkit begitu saja dari tidurnya, meraih pria itu dalam sekali coba, menangkapnya begitu saja, memeluknya seperti orang yang tengah bersuka cita.

Dan tentunya, tindakan dadakan Park Soo Rin sudah cukup mengejutkan Kim Ki Bum. Pria itu hampir saja jatuh menimpa gadis itu jika saja tangan-tangannya tidak segera bertumpu di sisi-sisi tubuh sang gadis, menahan berat badannya sekaligus berat badan gadisnya yang sudah bergelayut di lehernya.

“Kim Ki Bum… nae namjaya… (priaku)”

Mata tajamnya mengerjap terpana, mendengar suara merdu itu mengucapkan kata-kata yang hampir tidak pernah ia dengar langsung dari mulut kecil gadis itu.

Eungh… ani… nae nampyeon (suamiku)! Hehehe!”

Dan untuk yang ini, Ki Bum semakin terpana mendengar Park Soo Rin mengucapkkan kata-kata yang belum pernah ia dengar langsung dari sang empunya. Mau tidak mau Ki Bum melepas pelukan erat gadisnya demi melihat wajah cantik itu. Ia mengernyit tidak percaya, bahwa gadis itu ternyata sedang tersenyum amat lebar padanya, dengan mata yang sayu, lalu kembali mengejutkannya begitu merasakan tangan-tangan halus itu menangkup cepat wajah tegasnya.

Aigoo… nae nampyeoni neomu jal saenggyeottda (suamiku sangat tampan)!” Soo Rin tampak begitu bahagia mengucapkannya. Saking bahagianya, ia kembali memeluk Ki Bum, terkekeh-kekeh penuh suka cita di balik bahu lebar pria itu.

Baiklah, Ki Bum sudah menangkap apa yang terjadi. Park Soo Rin sedang mabuk dan apa yang baru saja dilakukannya merupakan reaksi dari mabuknya. Tidak mungkin gadisnya mengucapkan kalimat-kalimat itu secara terang-terangan. Apalagi, Ki Bum dapat mencium bau alkohol yang menguar dari mulut Soo Rin dengan amat jelas. Untung saja Ki Bum tahan akan aroma yang begitu menyengat tersebut. Bagi orang yang tidak terbiasa, mungkin sudah memilih untuk pergi jauh-jauh dari si pemabuk.

Sedikit kepayahan Ki Bum meraih segelas air mineral yang sudah ia bawa dari dapur, sebelah tangan lainnya mencoba merengkuh tubuh ramping Soo Rin di dekapannya, menepuknya perlahan di kala ia mendengar gadis itu meracau tidak jelas seraya terus memeluknya. “Soo Rin-ah, minumlah ini. Kau harus menetralkan kembali lambungmu.”

Namun yang Ki Bum dapat adalah pelukan yang semakin erat. Gadis itu seperti ingin bergelantung di lehernya. Ki Bum hampir saja menumpahkan minuman yang dibawanya jika saja ia tidak bertindak sigap. Antara menjaga keseimbangan dirinya juga keseimbangan minuman di tangannya.

“Soo Rin-ah—”

“Hihihi! Kim Ki Bum…”

Ki Bum menarik napas panjang. Bersabar. Pada akhirnya ia letakkan kembali minuman tersebut ke atas nakas. Baru saja ia ingin bertindak lain ketika justru dikejutkan kembali oleh perlakuan Soo Rin.

“Kim Ki Bum sangat wangi… Aku ingin mencium Kim Ki Bum…”

Kemudian Ki Bum harus mengalami bagaimana napasnya tercekat. Merasakan sesuatu yang aneh menekan di bagian lehernya, menghidunya lamat-lamat yang hampir membuat dirinya tersedak. Cepat-cepat Ki Bum meluruhkan tubuhnya, mendorong gadis dalam pelukannya  cepat namun hati-hati, dan pelukan gadis itu terlepas setelah dirinya terhempas di tempat tidur. Ki Bum dapat melihat adanya kilat ketidakpuasan di balik iris kecoklatan itu.

“Kim Ki Buuuuuuumm!” terlihat gadis itu merengek penuh memelas. Dengan wajah yang memerah padam, tangan-tangannya berusaha meraih Ki Bum. Seolah melepasnya sebentar saja akan membuatnya sulit untuk bernapas.

“Tidak, Park Soo Rin,” Ki Bum menahan tubuh Soo Rin yang mulai menggeliat tidak nyaman. Menekan tiap kata yang keluar dari mulutnya. Ketahuilah bahwa suara beratnya terdengar sedikit serak. Dia mulai terpengaruh, sebenarnya. Karena itu ia memejamkan mata sejenak, mencoba menetralkan kembali perasaannya. Lalu hendak beranjak dari sana ketika ia justru mendengar suara merdu itu terisak.

Hiks… kajima… (jangan pergi)”

Ki Bum melihat mata sendu itu berkaca-kaca. Kemudian mencelos begitu Park Soo Rin yang mabuk kembali berbicara.

“Aku takut… Mereka mengerubungiku dan menyuruhku untuk minum. Aku tidak mau tapi… hiks… aku takut Kim Ki Bum akan marah padaku…” Soo Rin beralih meringkuk, menangis sesenggukan di sana, menyembunyikan wajah memerahnya yang masih dalam pengaruh alkohol.

Ki Bum menghela napas berat. Secara tersirat gadis itu sudah berkata jujur padanya, mengaku secara langsung meski mungkin dirinya sendiri tidak menyadarinya. Sebenarnya, Ki Bum sudah berpikiran untuk menginterogasi Soo Rin keesokan harinya di saat gadis itu pulih dari pengaruh alkohol. Tapi jika Soo Rin sudah seperti ini, rasanya dia tidak tega.

Dia mengerti benar bahwa Soo Rin tidak suka juga tidak akan pernah mau menyentuh jenis minuman tersebut. Karena Soo Rin, Ki Bum memilih untuk berhenti meminum minuman tersebut, mencoretnya dari menu asupannya juga Soo Rin. Dan jika Soo Rin meminumnya, itu pasti karena tidak disengaja, terpaksa atau justru dipaksa, seperti kasus ini.

Pada akhirnya, Ki Bum mengambil sisi lain ranjang, ikut berbaring menghadap gadis yang masih meringkuk tersedu-sedu. Tangan besarnya meraih tubuh Soo Rin, merengkuh punggungnya sekaligus mengusapnya teratur, mencoba memberikan ketenangan. Lalu merapatkan diri pada gadis itu dengan hati-hati.

Ssh… tidak apa-apa. Aku sudah mengerti. Aku tidak akan marah padamu,” bisiknya membujuk gadis kesayangannya ini. Suara beratnya begitu lembut mengalun di dekat telinga gadisnya, menyalurkan rasa hangat hingga sang empunya mulai meredakan isakannya sebelum kemudian mendongakkan kepala.

Hampir saja dirinya tertawa karena saking gemasnya melihat rupa wajah cantik Soo Rin yang begitu berantakan. Dengan pipi yang padam dan basah berkat air mata, mata jernihnya yang pastinya juga basah itu kini menatapnya seperti anak anjing kelaparan saja. Beruntung ia masih bisa menahannya dengan berdalih menguarkan senyum teduh untuk Soo Rin. Sebelah tangannya bergerak mengusap linangan air mata itu perlahan-lahan.

Ki Bum sempat melupakan kenyataan di mana Park Soo Rin masih mabuk dan mengira bahwa gadisnya ini sudah mulai tenang. Tapi ternyata, urusan belum selesai sampai di sini. Keningnya harus mengerut sedikit jelas melihat gadisnya berubah haluan. Tersenyum amat lebar seperti sebelumnya hingga mata ovalnya yang setengah terbuka menyipit.

Oh, ada apa lagi dengan Park Soo Rin?

“Kim Ki Buuuuuuum!!”

Pria itu harus terkaget-kaget begitu Soo Rin menerjang dirinya, memeluknya penuh suka cita hingga ia jatuh terhempas di tempatnya. Hingga gadis itu menindihnya begitu saja tanpa ada rasa bersalah. Dan Ki Bum harus tercekat begitu merasakan bagaimana Park Soo Rin menyerukkan wajah pada lekuk lehernya, menempelkan hidungnya di sana, menggeleng-gelengkan kepala seperti hendak menekan lebih dalam dan penuh gemas.

“Priaku sangat wangi… hihihi!”

Ki Bum menelan saliva lamat-lamat. Oh, astaga, dia tidak menyangka bahwa perlakuan Park Soo Rin yang sedang mabuk mampu membuatnya kewalahan. Dia harus membuat pertahanan dua kali lipat—tidak, mungkin lebih dari itu. Untuk tidak membalas perlakuan Park Soo Rin saat ini. Apalagi…

Heol! Ia merasakan bibir manis itu ikut menempel di kulit lehernya!

“S-Soo Rin-ah…” yeah, untuk kali pertama, Kim Ki Bum harus tergagap karena menghadapi gadisnya sendiri. Dan ia harus menyesal karena sudah memanggil karena sang empu kini mendongak, menatap lekat dirinya dengan pandangan sayunya, bibir yang sedikit terbuka seolah menggodanya yang mulai goyah.

Eung…” Soo Rin menggumam tidak jelas. Pandangannya bergerak turun, menancap pada material penuh yang amat menarik perhatiannya. Menggerakkannya untuk mengangkat sebelah tangannya, memainkan jari telunjuknya hingga mendarat di permukaan yang menarik di matanya. Tanpa memedulikan sama sekali bahwa yang punya tengah mengatupnya penuh waspada.

Senyumnya kembali mengembang. Beberapa saat ia bertahan seperti itu sebelum menyingkirkan jemarinya di sana, “Apakah ini juga wangi?” gumamnya, bertanya pada diri sendiri lebih tepatnya. Dilanjutkan dengan dirinya yang kembali berulah, menjatuhkan wajah memerahnya, hingga hidungnya menubruk dagu yang amat tegas itu, menghirup banyak udara di sana, seolah pusat oksigen berada di dagu Kim Ki Bum.

Sedangkan Kim Ki Bum… tidak perlu ditanya lagi bagaimana nasibnya saat ini. Matanya kembali mengerjap kaget merasakan hembusan hangat membentur kulitnya. Sungguh, ia semakin kewalahan begitu sang gadis bergerak semakin ke atas, hingga indera penciuman gadisnya itu menempel tepat di permukaan bibirnya. Seolah dirinya yang tengah mencium hidung bangir Soo Rin padahal Soo Rin lah yang tengah mencium bibirnya. Menghidu di sana sampai-sampai Ki Bum memejamkan mata. Menahan sensasi yang mulai bergolak berteriak meminta pelampiasan.

Perlakuan tak biasa ini justru membuat sisi primitifnya terpancing dan hampir keluar dari tempat persembunyiannya jika saja Ki Bum tidak segera bertindak. Akal sehatnya bersikeras menyadarkan bahwa gadisnya ini sedang mabuk. Jadi Ki Bum harus menahan diri.

Beruntung bagi Ki Bum ketika Soo Rin kembali jatuh di bahunya. Ia bernapas lega bahwa gadisnya tidak bertindak lebih dari baru saja. Matanya merunduk memeriksa apa yang tengah terjadi. Ternyata Soo Rin sudah memejamkan mata. Deru napasnya juga mulai teratur yang menandakan bahwa Soo Rin sudah meluncur ke alam mimpi. Dan Ki Bum kembali bernapas lega.

Ujiannya sudah berakhir.

Ia memiringkan tubuhnya, berniat untuk membenarkan posisi Soo Rin yang mungkin saja akan tidak nyaman jika terlalu lama. Tapi, tindakannya justru seperti pengganggu lelap Soo Rin. Gadis itu kembali membuka mata, keningnya mengerut membentuk lipatan halus yang menandakan bahwa ia terusik. Sebelah tangan kecilnya bergerak, merangkah naik, meraba dada bidang itu perlahan-lahan. Memainkan jari telunjuknya di sana seperti sedang membentuk pola tertentu.

Damn it! Kim Ki Bum seperti sudah membuat jebakan untuk dirinya sendiri!

Eung…” dengungan Soo Rin kembali bergema. Seperti alunan lagu di telinga Ki Bum, seolah mengundangnya untuk melakukan pembalasan.

Tidak, tidak, tidak! Tahan dirimu, Kim Ki Bum!

Nae namja… neomu jjangida… (Priaku paling terbaik) Hehehe…”

Soo Rin kembali menutup mata, bersamaan dengan pergerakan tangannya yang terhenti, terkulai di atas dada Ki Bum. Hingga napasnya kembali teratur.

Untuk beberapa saat Ki Bum membiarkan posisi tersebut. Sekaligus meredakan jantungnya yang baru ia sadari tengah berdentum layaknya drum yang tengah dimainkan dalam ritme menggila. Dia masih tidak menyangka bahwa apa yang baru saja ia lewati sudah membuat dirinya hampir berkeringat. Hampir membuatnya kehilangan akal. Hampir meruntuhkan pertahanannya yang amat rentan jika sudah menyangkut gadisnya. Dan hampir kehilangan kendalinya dalam menghadapi Park Soo Rin!

Sebuah perlakuan di mana Ki Bum tidak pernah mendapatkannya mengingat bagaimana Park Soo Rin jika sudah bersamanya. Di mana Park Soo Rin yang selama ini bersifat pasif berubah agresif dengan menggodanya penuh piawai melalui sentuhan halus berupa menghidu yang justru membuatnya menginginkan lebih tadi. Oh, astaga… dia sendiri bahkan tidak menyangka bahwa Park Soo Rin yang sedang mabuk mampu melakukan hal itu terhadap dirinya!

Dan untuk kali pertama, Ki Bum menghadapi Park Soo Rin yang sudah dikuasai pengaruh alkohol hingga berakhir seperti sekarang. Selama ini, jika Soo Rin tidak sengaja meminum Soju, gadisnya hanya akan mengeluh pusing dan memilih untuk tertidur. Oh, yah, tentu saja kali ini berbeda. Mengingat Soo Rin bukan tidak sengaja melainkan dipaksa untuk meminum bergelas-gelas beer sudah pasti gadis ini tidak selamat dari efek samping yang sudah pasti didapat.

Ugh…

Mendengar lenguhan halus itu, Ki Bum langsung merunduk memeriksa. Ia melihat Soo Rin tidak nyaman dalam tidurnya. Bahkan ia merasakan bagaimana tangan itu sedikit meremas bagian dada pakaiannya yang segera membuatnya bertindak. Memiringkan tubuhnya yang sekaligus menuntun tubuh gadisnya untuk melakukan hal sama, menyelipkan sebelah lengannya sebagai bantalan leher gadisnya serta merengkuh punggung kecil itu, mengusapnya perlahan sebagai bentuk penenangan di saat tangan lainnya merengkuh pinggang sang gadis, merapatkan tubuh mereka hingga tak ada jarak.

Ia merasakan Soo Rin membalasnya, ikut memeluk dirinya seperti guling kesayangan dan tidak ingin dilepas. Membuatnya mendengus pelan melihat bagaimana menggemaskannya seorang Park Soo Rin saat ini. Dia bahkan tidak bisa menampik bahwa ia mendengar gadis ini memanggilnya priaku maupun suamiku seperti tadi. Hei, memangnya sejak kapan Park Soo Rin mau memanggil dirinya seperti itu?

“Kau justru lebih berbahaya jika sedang mabuk, Park Soo Rin.”

Ya, Ki Bum akui itu. Park Soo Rin yang sudah menjadi kelemahan terbesarnya justru semakin berbahaya bagi keselamatannya dalam menahan diri jika berada di bawah pengaruh alkohol. Jika saja tadi Soo Rin bertindak lebih jauh lagi, mungkin Ki Bum sudah hilang kendali dan membalasnya lebih, lebih, dan lebih jauh lagi.

Oh, sial! Baru membayangkannya saja sudah berhasil membuat Kim Ki Bum berdebar-debar!

“Kau harus mendapatkan pelajaran dariku. Besok.”

Keputusan finalnya di malam ini. Sebelum akhirnya ia ikut memejamkan mata, menyusul Soo Rin yang sudah lebih dulu meluncur ke alam mimpi. Well, dia sudah tidak ingat apa saja yang harus dia lakukan sebelum pergi tidur. Karena sudah terlanjur tergiur untuk mendekap gadisnya sampai besok.

&&&

Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Park Soo Rin akhirnya menemukan kesadarannya. Ia terbangun dengan tangan terus memegang sebelah kepala. Merasa seperti baru saja dihantam benda keras dan berat di bagian sana. Serasa berkali-kali lipat lebih berat dari biasanya. Matanya berjuang terbuka meski harus berkali-kali berkedip karena tidak kuasa menerima serbuan bias cahaya di pagi hari.

Oh, ini benar-benar sudah pagi.

Soo Rin memeriksa sekitar. Dia sudah berada di atas ranjang, terbungkus selimut yang familiar di matanya. Butuh beberapa detik bagi Soo Rin untuk menyadari bahwa dirinya ternyata sudah berada di dalam kamar tidurnya bersama Kim Ki Bum…

A-apa? Soo Rin ada di dalam kamar?

Tunggu, bukankah semalam Soo Rin sedang berada di sebuah club bersama teman-teman sepekerjanya? Tapi kenapa dirinya sudah pulang dan berada di dalam kamar? Sejak kapan dirinya pulang?

Ugh…

Apakah… Kim Ki Bum tahu bahwa dia…

Entah mendapat kekuatan dari mana, Soo Rin menyibak selimutnya dengan gerakan cepat, melompat turun dari tempat tidur yang seketika kekuatannya menghilang begitu saja. Ia merintih kesakitan, menyadari bahwa kepalanya masih amat berat sampai-sampai dirinya hampir terjatuh akibat hilang keseimbangan. Pada akhirnya, Soo Rin menyeret langkahnya tertatih menuju kamar mandi.

Niatnya untuk membasuh wajah dalam hitungan detik lenyap begitu saja. Soo Rin merasa sepertinya ia harus menemui Kim Ki Bum nanti. Lagipula, sepertinya pria itu sudah berangkat bekerja mengingat ini sudah lewat dari pukul delapan pagi. Dan ia tidak menemukan keberadaan pria itu di kamar.

Oh, astaga…

Soo Rin harus meringis pelan. Melihat pantulan dirinya pada cermin di hadapannya begitu berhasil membasuh wajah sekali. Wajah nan kusut, rambut berantakan, pakaian yang belum ia ganti sejak semalam sudah lusuh. Apakah dia sekacau ini semalam? Ya ampun, apakah Kim Ki Bum melihat dirinya yang seperti ini?

PFSq1svpn19o1

Klek

Reflek menoleh, Soo Rin melebarkan mata begitu melihat pintu kamar mandi ini terbuka serta menampakkan seseorang yang terus saja menjadi objek pertanyaan di dalam kepala. Ia mengerjap cepat. Mendadak jantungnya berdegup layaknya tengah bermarathon di pagi hari ini.

“K-Kim Ki Bum? Kau… belum berangkat bekerja?” ada nada gugup juga ragu di balik suara merdu Soo Rin yang masih serak samar-samar. Pandangannya ia turunkan begitu menyadari cara pria yang sudah masuk ke dalam sini itu ikut memandangnya.

Tidak ada sorot yang berarti. Datar. Tapi itulah yang membuat Soo Rin bergidik ngeri.

Memilih untuk tidak merespon pertanyaan Soo Rin, Ki Bum justru melipat kedua tangan di depan dada, bersedekap sekaligus menatap serius Soo Rin. Ia sengaja mengajukan jeda demi membaca gerak-gerik gadis di hadapannya, berulah ia bersuara, “Bisakah kau jelaskan padaku kenapa kau bisa berada di tempat seperti itu semalam?”

Soo Rin menelan saliva kepayahan. Seharusnya dia bisa memprediksi bahwa Kim Ki Bum akan mengajukan pertanyaan ini. Karena saking kacaunya pikirannya saat ini, ia tidak memiliki ide apapun dan tidak menyangka bahwa Kim Ki Bum belum pergi bekerja bahkan mulai menginterogasi dirinya.

Eung… i-itu…” Soo Rin semakin gugup dibuatnya. Ia sudah berdiri amat tegak juga tegang, bersama kedua tangannya yang mulai memilin-milin ujung pakaiannya. “A-aku tidak memprediksi bahwa semalam akan berpindah tempat. Tiba-tiba Atasan Kwon mengganti tempat berpesta karena… banyak dari yang lainnya yang ingin pergi ke sana. Aku… aku tidak bisa menolak karena—” Soo Rin tersendat, ia menunduk semakin dalam, “aku tidak berani menolak…” lanjutnya. Intonasi suaranya semakin lirih lalu menghilang.

Tanpa sepengetahuan Soo Rin, Ki Bum memejamkan mata di tempat. Meredam gejolak emosinya yang mulai terpancing jika saja ia tidak ingat bahwa Park Soo Rin sudah ketakutan hanya karena melihat dirinya datang.

“Lalu?” dan Ki Bum mencoba untuk memberikan kesempatan pada Soo Rin untuk kembali berbicara.

“Aku… sudah mengatakan bahwa aku tidak bisa minum. Tapi, mereka memaksaku untuk ikut minum dan… dan… aku tidak ingat berapa banyak aku minum…”

“Mereka menjejalkan beer padamu?”

Soo Rin sedikit tertegun mendapatkan pertanyaan tepat sasaran Ki Bum. “I-iya…” tepat setelah menjawab, tangan-tangan Soo Rin beralih meremas-remas ujung pakaiannya. Mulai merasakan kecemasan yang semakin menjadi. “A-aku minta maaf…”

“Keluar.”

Suara berat itu berhasil memancing atensi Soo Rin. Gadis itu mendongak pelan, memasang perpaduan raut takut juga tidak mengerti. “Y-ya?”

“Keluar dari sana. Aku tidak mau kau berurusan dengan mereka lagi,” ucapan yang begitu tandas dan tegas. Ki Bum kini sudah menunjukkan sorot tajamnya pada Soo Rin. Menunjukkan dengan jelas dirinya tidak suka dengan apa yang sudah didengar dari cerita gadisnya.

“T-tapi… a-aku harus berhenti bekerja, maksudmu? A-aku… aku akan menganggur nanti, Kim Ki Bum…” Soo Rin mencoba menyanggah meski kalimatnya begitu berantakan akibat terlalu terkejut dengan titahan Kim Ki Bum yang sarat akan keputusan tak terbantahkan.

“Aku tidak peduli, Park Soo Rin. Tidak masalah jika kau menganggur asalkan tidak bertemu mereka lagi. Di sisi lain kau bisa mencari tempat lain yang lebih baik untukmu bekerja.”

“Kim Ki Bum,” Soo Rin mendekat, menangkup kedua tangannya di depan wajah, memasang raut memelasnya, “Aku sudah sangat nyaman di sana. Me-mereka berbuat seperti semalam karena mereka sudah mabuk. Jadi tolong jangan salahkan mereka dengan menyuruhku untuk keluar. Ya?”

“Tapi mereka memaksamu untuk mengikuti mereka sejak awal. Itu sudah kesalahan fatal bagiku.” Ki Bum benar-benar tidak terpengaruh dengan permohonan Soo Rin. Nada bicaranya justru semakin mengerikan saja.

“Kim Ki Bum… mereka belum tahu bahwa aku benar-benar tidak bisa minum. A-aku sudah memaafkan mereka!”

“Kau sudah memaafkan mereka, tapi kau tidak berpikir akan apa yang bisa saja terjadi padamu semalam, Park Soo Rin!!”

Kedua tangannya yang tertangkup di depan wajah berangsur meluruh. Ada sedikit gemetar muncul di sana, setelah mendengar bagaimana seorang Kim Ki Bum meninggikan suaranya karena sudah terlalu marah. Pada dirinya.

“Jika saja Dokter Tan tidak sedang kebetulan ada di sana, aku tidak akan pernah tahu bahwa kau berada di sana dan mabuk! Jika itu tidak terjadi, kau bisa berakhir di tempat lain dan—ya Tuhan, apakah aku harus menjelaskannya dengan detil padamu?!”

Kaki Soo Rin sedikit terseret ke belakang, membawa dirinya lebih berjarak dari Kim Ki Bum. Ia menggigit bibir bawahnya terlalu keras karena begitu terkejutnya dirinya menyaksikan prianya sendiri sudah lepas kontrol seperti sekarang ini. Ya, dia mengakui bahwa dirinya tidak memikirkan adanya kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi semalam. Seharusnya dia bersyukur karena mendapati dirinya sudah berada di dalam kamar sendiri, dalam keadaan selamat dan utuh luar-dalam. Dan dia tidak memikirkan bagaimana paniknya Kim Ki Bum semalam karena mendapatkan dirinya dalam kondisi yang entah bagaimana karena dirinya sendiri tidak ingat.

“Aku minta ma—” Soo Rin terpaksa menelan kembali suaranya. Melihat pria itu mendekat dalam hitungan sepersekian detik, berhasil menyudutkannya pada sisi wastafel, mengurung dirinya dengan tangan-tangan besarnya tepat di kedua sisi tubuhnya, yang seketika meraup komposisi udara di sekitar Soo Rin.

“Tidak ada kata maaf, Park Soo Rin. Aku tidak mau mendengarnya!” Ki Bum menggeram tertahan. Ia melihat dengan amat jelas adanya kilat ketakutan pada iris kecoklatan di hadapannya. Memaksanya untuk menekan kembali hasrat kejamnya yang ingin sekali dikeluarkan. Menyadarkan bahwa apa yang sudah dilakukannya sudah termasuk dalam taraf hilang kontrol.

Ia menyadari bahwa dirinya sudah melanggar niatnya sendiri. Bahwa ia tidak akan memarahi Soo Rin di pagi ini. Tapi, ia tidak bisa menampik bahwa dirinya tidak bisa menahan perasaannya yang begitu kacau berkat semalam.

Pada akhirnya, Ki Bum kembali memejamkan mata. Terlampau rapat hingga menciptakan lipatan kerut di kelopak matanya. Menarik napas dalam sebelum memulai bicara, “Tutup matamu.”

Takut-takut Soo Rin menurut. Memejamkan mata—ikut terlampau rapat. Hingga Soo Rin tidak menyadari bahwa kini Ki Bum sudah membuka mata, mengamati dirinya yang tampak bernapas pendek-pendek diselimuti kekalutan yang sudah berhasil membuat pria itu mencelos.

Perlahan Ki Bum membebaskan Soo Rin, melepas kurungannya yang begitu menyesakkan juga penuh aura mengerikan, melangkah mundur beberapa senti sebelum akhirnya beralih menarik gadis itu, membawanya ke dalam dekapannya.

Ki Bum juga terlalu kalut karena terlalu memikirkan Soo Rin. Dia tidak bisa membayangkan jika saja kejadian semalam tidak ia ketahui dan memilih untuk terus menunggu gadisnya ini pulang. Seharusnya dia tidak perlu mengungkit kembali hal yang sudah berlalu dan bersyukur bahwa Park Soo Rin masih berada dalam genggamannya. Tapi, bayang-bayang yang menghantuinya sejak semalam yang sebenarnya hanya sebuah pengandaian belum juga sirna hingga ia lampiaskan kepada gadisnya sendiri.

Ki Bum akui itu tidaklah benar. Seharusnya dia menyambut Soo Rin yang sudah pulih dari alkohol dengan penuh hangat. Memberikan ketenangan dan memperlakukan Soo Rin dengan baik seperti biasa. Tapi, ia terlalu mengikuti emosinya dan menakut-takuti gadisnya hingga seperti sekarang ini.

“Aku terlalu mengkhawatirkanmu, Soo Rin-ah,” kini Ki Bum berusaha merendahkan suaranya. Menempelkan hidungnya ke balik surai panjang gadisnya, mengganggap pasokan oksigennya ada di sana, menghirupnya lamat-lamat, “Kau tidak tahu betapa kalutnya aku semalam begitu mengetahui bahwa kau ada di sana. Aku tidak akan bisa memaafkan orang-orang itu jika terjadi sesuatu padamu. Bahkan tidak akan memaafkan diriku sendiri yang sudah melepasmu dari pengawasanku.”

Soo Rin merasakan jantungnya bergemuruh. Ada rasa hangat karena mengetahui bagaimana perasaan Kim Ki Bum mengenai dirinya. Ia bersyukur bahwa kini sudah berada di dalam pelukan prianya hingga tidak perlu menunjukkan pipinya yang mulai merona. Namun di sisi lain, ia harus merasa bersalah akibat dari kejadian semalam.

“Aku benar-benar minta—”

“Aku benar-benar tidak menerima maaf, Park Soo Rin. Untuk saat ini.”

Ki Bum terlalu kalut jika mendengar Soo Rin meminta maaf. Dia tidak akan bertindak sejauh ini dan memilih untuk memendam kekhawatirannya lalu memaafkan gadisnya begitu saja. Dia hanya ingin gadisnya tahu, bagaimana perasaannya semalam hingga saat ini yang masih belum berkurang. Sekalipun sudah mendapatkannya kembali.

“Tapi, kumohon… jangan suruh aku keluar dari sana, Kim Ki Bum…” lirihnya memohon. Tangan-tangannya meremas bagian pinggang kemeja yang dikenakan Ki Bum. Meneguk saliva perlahan sebelum melanjutkan, “Aku akan berhati-hati lain kali. Mereka… sebenarnya orang-orang baik. Sungguh…”

Ki Bum menghela napas berat. Sedikit tidak setuju akan bagaimana Park Soo Rin lebih memikirkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Tapi, mungkin memang benar yang dikatakan gadisnya. Ki Bum tidaklah mengenal teman-teman Soo Rin. Dia hanya tahu Kim Ji Won si teman satu ruangan Soo Rin dan Jung Ho Seok si dokter klinik tempat bekerja Soo Rin.

“Baiklah. Aku tidak akan menuntut hal itu lagi. Asalkan kau tidak pergi hari ini.”

Soo Rin mengerjap cepat. Melepas pelukan Ki Bum tanpa perlu dipaksa karena pria itu segera melonggarkan kedua lengannya begitu dirinya hendak membuat jarak. Jujur saja, Soo Rin masih ragu dalam menatap pria yang kini sudah menatap teduh dirinya meski belum dihiasi terbitan senyum. Dan ia hanya mampu mengajukan pertanyaan melalui sepasang matanya.

“Aku ingin kau beristirahat hari ini. Mereka akan mengerti jika kau butuh waktu untuk memulihkan diri, bukan?”

Butuh beberapa detik bagi Soo Rin untuk bisa menjawab ucapan Kim Ki Bum dalam bentuk anggukan kepala. Ya, setidaknya dia harus menuruti titahan prianya setelah ia masih mendapat izin untuk bekerja di sana.

“Kalau begitu, basuh wajahmu lalu datanglah ke ruang makan. Aku baru akan pergi setelah memastikan kau sarapan pagi ini.” Ki Bum mengusap pelan sisi kepala Soo Rin. Tersirat bahwa dirinya baru saja menjawab kebingungan awal gadisnya yang sempat ia tangkap begitu masuk kemari tadi.

“K-Kim Ki Bum…”

Menghentikan niatnya yang ingin beranjak dari sini, Ki Bum kembali menghadapi gadisnya yang baru saja menahan sebelah lengannya. Lalu bergumam pelan sebagai bentuk respon panggilannya.

“S-semalam… apa aku sudah sangat merepotkanmu?”

Hening adalah jawaban langsung dari pertanyaan Soo Rin yang terdengar gugup. Jujur, ia benar-benar tidak mengingat akan apa yang sudah terjadi setelah dirinya menenggak banyak beer lalu jatuh pingsan. Ia hanya mengingat samar-samar sempat terjadi keributan begitu datang seseorang yang begitu familiar, namun ia tidak mampu berpikir lagi dan baru menyadari tadi setelah Ki Bum menyinggung nama Dokter Tan.

Sedangkan Ki Bum, ia terpaku di tempatnya untuk beberapa saat. Hanya menatap lurus Soo Rin yang sudah mengalihkan pandangannya ke bawah begitu tahu reaksi yang ia tunjukkan saat ini. Sejenak ia harus mendesah di dalam hati karena Park Soo Rin sudah mengingatkan kembali akan kejadian yang menimpa dirinya bersama gadisnya yang tengah mabuk semalam.

“Ya. Kau merepotkanku.”

Soo Rin menunduk lesu. Merutuki perbuatannya yang bahkan tidak dia ingat. Tapi yang pasti, dia pasti sudah merepotkan apalagi membuat Kim Ki Bum marah sampai sekarang. “Aku menyesal sudah merepotkanmu semalam—”

“Kau merepotkan karena terus saja memancingku. Jika aku tidak ingat bahwa kau sedang mabuk, aku sudah membalasmu dan tidak akan berakhir seperti sekarang.”

Mendongak pelan, kening di balik poninya sedikit mengerut karena bingung. “Apa maksudmu?” karena sungguh, Soo Rin tidak memahami apa maksud dari ucapan Kim Ki Bum.

“Apa perlu kuingatkan padamu?” sorot tajam milik Ki Bum mulai dikeluarkan.

Dan Soo Rin mampu melihat kilatan di mata hitam itu. Ia meneguk saliva, tidak memiliki ide, apa yang hendak dilakukan Kim Ki Bum. Sampai kemudian ia hampir tersedak begitu pria itu bergerak maju, kembali menyudutkannya, mengurungnya hingga ia benar-benar menempel dengan sisi wastafel, menghapus jarak mereka hingga benar-benar tak bersisa.

“K-Kim Ki Bum…” Soo Rin memundurkan wajah, bersama dengan tubuhnya, melihat Kim Ki Bum terus mendekatinya, bertingkah ingin menerkamnya yang justru membuat jantungnya berdegup liar.

Tidak mungkin. Apakah dia juga melakukan ini semalam? Menerkam Kim Ki Bum tanpa dia sendiri tahu? Apa dia berubah seperti ini di saat dia mabuk?! Oh, astaga, dia seagresif ini, semalam?!

Ki Bum tidak berkata lagi. Hanya mengikuti naluri. Tidak peduli bagaimana posisi Soo Rin yang sangat tidak menguntungkan saat ini. Karena yang ada di dalam otaknya hanya satu. Membalas perlakuan gadisnya semalam dengan caranya sendiri. Memberinya pelajaran setelah apa yang sudah diperbuatnya hingga membuatnya frustasi semalaman.

Dan, ya, Ki Bum tidak bisa membendungnya lagi. Setelah Park Soo Rin kembali mengingatkannya. Yang justru membuat hasrat yang sudah berhasil ia tekan susah payah kembali mencuat dan bergolak membakar dirinya hingga ia butuh pelampiasan.

Pada akhirnya, Soo Rin tidak bisa berkutik lagi. Begitu Kim Ki Bum berhasil menjangkaunya, Soo Rin tidak dapat mengelak lagi. Membiarkan prianya memberi sebuah tindakan yang merupakan cerminannya semalam. Dan Soo Rin harus menahan malu, namun juga menahan napas karena gejolak panas yang mulai bangkit menyelubungi benaknya, merambat hingga ke wajah cantiknya. Memilih pasrah di dalam kuasa Kim Ki Bum yang amat menggebu-gebu.

Dan Soo Rin bertekad untuk tidak lagi menyentuh alkohol. Cukup semalam saja. Itu yang terakhir kalinya.

Begitu juga dengan Ki Bum. Ia bertekad untuk tidak membiarkan Soo Rin keluar begitu saja. Serta memilih untuk tidak memberi tahu tentang kejadian semalam. Cukup dirinya saja yang tahu. Mencatatnya di dalam otak jeniusnya, menandakan bahwa semalam merupakan ujian terberat—namun berkesan baginya.

Karena ia menemukan sisi lain dari Park Soo Rin.

tumblr_mihku0cALy1s659f1o1_500

FIN

Hai~ bertemu lagi dengan saya bersama cerita absurd ala kisukisu~

Ada yang kangen kah? //ngga-_-// #okfine

Eum….belakangan ini aku lagi ngga mood banget buat nulis. Biasanya, kalo bikin cerita lepas paling lama 2 hari udah kelar kalo itu oneshot, kalo bangsanya ficlet ngga ada setengah sehari juga udah selesai. Sedangkan ini, butuh berhari-hari sampe akhirnya baru saja kelar ㅠㅜ Sepertinya aku sedang dihinggap persona malas sampai cuma buka-tutup wp. Dan ya, selama itu pula aku udah lama banget ngga baca ff /-\

Aku tidak tau apa yang sedang terjadi padaku. Hwhwhw ㅜㅜ

Dan aku meminta maaf jika tulisan kali ini benar-benar tidak ada feel. Aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan cerita ini. Setelah kemarin mendapat dukungan di fb berkat posting sepotong spoiler dari Drunk ini, mengetahui masih banyak yang menunggu tulisanku, aku tergerak buat segera menuntaskan cerita ini. Meski hanya sekadar cerita lepas dan tidak seberapa, aku merasa lega sudah bisa menghibur pembaca di sini dengan ini.

Aku harap pembaca di sini juga merasa terhibur ya.. meski ngga seberapa dan ini absurd sekali ㅠ/\ㅠ

Oke, salam~

"You are so dangerous."
“You are so dangerous.”
"Kim Ki Bum is my boy~"
“My boy, Kim Ki Bum~”

Terima kasih sudah mampir~ ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

29 thoughts on “DRUNK

  1. bnr kan soorin mabuk…..
    horor bgt soorin mabuk ny XD
    dia mncing singa yg klaparan.ha3x…
    keren bgt thor…
    feel ny jg dpt…
    Top bgt pkok ny 😉

  2. omoooo part yang berbeda jadi ketawa sendiri bacanya ga nyangka soorin bisa buat kibum gugup gitu��������

  3. Wow ternyata soo rin agresif sekali kalo lg mabuk. Bahkan lebih centil sepertinya.hehe
    Ki bum bahkan sampe kualahan menghadapi soo rin.

  4. Kenapa lo gak nyuuh Soorin minum soju aja terus-terusan biar bisa denger Soorin manggil lo dengan panggilan yang manis, Bum? 😂😂😂
    Aku ingat adegan kissingnya Seo In Gun sama Run Ji itu!!! *virus err*😂😂😂

  5. aigooo jarang-jarang liat so rin bertingkah seperti itu sampek buat kibum kualahan. hahaha kibum pasti seneng banget bisa dipanggil semanis itu sama park so rin, kalo park so rin yang biasanya pasti pipinya udah merah tuh.

  6. Ya ampun astaga Kibum mati kutu krna k agresifan Soo rin yg lgi mabuk hahahaha…
    Tpi ini sebuah keberuntungan buat Kibum krna bsa mendengar kta2 manis dri Soo rin yg gk pernah d ucapin sekali pun bnar2 yg tak terduga klau Soo rin mabuk
    tpi teman2 Soo rin tega bgt sih menjahili Soo rin harusnya Kibum bsa memukul teman Soo rin biar tau gimana seorang Kibum klau Soo rin d buat teler kyak gitu

  7. Hahahahaha
    geli sendiri bayangin soorin yang polos menjadi sangat liar… bahkan singa seperti kim kibum saja takluk..
    wkwkwkwkwk..

    bikin soorin mabuk lagi kelihatannya seru..

    ato giliran kibum saja yang mabuk..
    ku jadi mau tau..

  8. Kibum dan Soorin memang harus menjauhi beer.
    Yaa ampun, Sebegitu lemahnya Kibum terhadap Soorin.
    Kebayang jadi Soorin yang dilindungi banget sama Kibum.
    Mau cari suami kayak Kibum dong wkwk.
    Author, semangat nulisnya yaa 😀
    Kami setia menunggu tulisan Author.

  9. just do it kim kibum! u ere hers and she is yours!
    sesekali jadi manusia juga its okay waeee mas its okay waeee hahahaa
    selalu suka kalo kibum dimainin sama park soorin hihi

  10. wkwkwkwwwkwwkwkwkwk ya ampuuuunnnn somehow aku puaas(?) sama ke-kuwalahan-nya Kimkibum hihihihihiiii 😁😁😁
    ya ampuuun akhirnya, setelah kemarin berfantasi(?!) tentang dua entitas ini kalo salah satunya mabuk, sekarang bisa ter-realisasi-kan aaaaaaaaaaaaakk 😂😂😂😂
    hihiii “nae namjayaaaaa..”
    harusnya Soorin bilang juga “Kimkibum, nan neo charger(?!) /im ur charger/”
    ya ampuuun aku ko kayak giniii siskachiii aku juga jadi drunk(?!) , Drunken to Kisukisuuuu :”’)))))))
    Btw aku iri sama park soorin, dia bangun tidur, mabuk, kusut, masih jauh lebih baik dari aku yang udah mandi haha TwT
    love love deh buat cerita ini, hihii. semangats juga buat siskachii, └(^o^)┘

  11. tidr jam 4 lebih ,, bca ff abiss shlat subuh haduhh mata jadinya pedih gara ” penasaran, ,,nie kkkk
    dan komennya baru sekarang kkkk

    tapi ini puas banget
    malah aku cekikikan sendiri bacanya

    jadi sorin itu mabokk..?

    aku kira ngidemm kkk

  12. Sok rin mabuk sampe jd agresif kayak gitu…Ki bum pun sampe kewalahan sama sikap Sok rin yg baru ini, Salut sama Ki bum yg bisa nahan berkali2 lipat dari godaan gadisnya kkkkkk….
    Mereka selalu menjadi pasangan yg manis di mataku…selalu suka sama keabsurd an merekamereka…
    See you next story siska ❤

  13. wahahahaha Soorin, kamu kalau mabuk ternyata berubah menjadi wanita agresif dan cukup membuat Kibum kewalahan. kalau saja Kibum tidak bertahan, hahaha udah habis kamu Soorin XD.
    aku kok jadi ikutan kesal ya sama teman kantornya Soorin ah kesal juga sama Soorin karena dia lemah dan ga bisa menolak secara tegas ㅠㅠ. please lah Soorin, jadi wanita tegas dikit dan jangan jadi gak enakan gitu. untung aja ada Hangeng, kalau ga? duhhh ㅠㅠ.
    *agak kesal
    *baper jadinya
    *ikutan khawatir ㅠㅠ

    okay, selamat menikmati hukumanmu ya Soorin XD

  14. Nah loh biasanya soo rin yg d bkin gugup,skrang gantian ki bum yg d bkin gugup sma soo rin.
    Nah ngrasain sendiri kan ki bum gmna gugupnya klo d goda kaya gtu 😎
    Storynya mkin kren aja thor. :);)

  15. kibumie posesif bgt yh ma soorin tu kalo kibum datang temen”a soorin msh ada dsna habis tu mereka semua kkkkk…
    ternyta saat dmn kibum gk bisa berkutik adalah saat soorin mabuk

  16. Haha Soorin kalo mabuk agresif banget ya
    Ki Bum kasian baget ya, untung dia masih inget kalo Soorin mabuk kalo ga udah abis kau Park SooRin Kkkkk

  17. Omona Σ( ° △ °|||)︴park soorin kau tau itu membuat runtuh pertahanan kim kibum. Kkkk
    Tapi liat reaksi soorin yg beda dari biasanya keren kak, kekkek bikin kibum kelimpungan (^ム^) buatku ini keren kan feelnya pun dapet, tetep semangat. Ikuti mood dirimu saja kekeke ヾ( ゚∀゚)ノ゙

  18. Serem banget kalo Soo Rin mabuk biasanya dia bertingkah manis dan malu malu pas mabuk jadi wanita agresif penuh hasrat Kibum aja jadi kewalahan ngadepinnya:D , aduh itu yang cekok minta dihajar ya tapi ada untungnya juga Soo Rin dicekok jadi tau keagresifan dia bagaimana hihi , bener bener daebakk Eon ^^

  19. Wah aku sih salah satu yang selalu nunggu karyamu Thor, habisnya ceritamu selalu biking baper sih hahhahh. Kalau ada rasa mamas malas gitu wajar sih Thor, namanya juga hidup hahha
    Tapi drunk ini biking aku ikutan degdegan juga hihi. Itu soo run gitu ga kalo mabuk, godaan banget buat kibum. Hahhahah bayangin mereka waktu di kasur jadi senyam senyum dag dig dug gitu hahahha.
    Keep writing a great story ya Thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s