Posted in Campus Life, Category Fiction, Chaptered, Fiction, Friendship, KiSoo FF "U R", PG-15, Romance

U R [3] – One Step Closer

prev :: [1] Her Doubt | [2] His Confussion

UR-

Genre :: Campus Life, Friendship, Romance

Rated :: PG-15

Length :: Chaptered

||KiSoo’Story||

H A P P Y  R E A D I N G

.


“Seharusnya kau percaya pada priamu, bukan Hee Chul Sunbae.”


.

©2016 ELVABARI

.

SOO RIN harus terkejut begitu merasakan sesuatu yang dingin menempel di sebelah pipinya. Langsung saja ia menjauhkan diri dari sesuatu yang belum diketahuinya itu sebelum akhirnya mendengar kekehan pelan dari suara berat yang cukup dikenalnya. Wajah cantiknya langsung merengut masam begitu melihat orang itu kini duduk di sebelahnya.

“Aku khawatir kau akan kerasukan makhluk halus karena terlalu lama melamun.” Kim Myung Soo, memamerkan deretan gigi putihnya kala terkekeh untuk yang kedua kali. Setelahnya ia menyerahkan minuman kaleng tersebut pada Soo Rin. “Dinginkan kepalamu,” titahnya ringan.

Soo Rin akhirnya menerima pemberian Myung Soo, membuka tutup kalengnya perlahan lalu meneguk isinya. Sejenak mereka dilingkupi keheningan yang cukup menenangkan. Hanya saja Myung Soo tidak tahan ingin mendengar gadis di sebelahnya bersuara.

“Di mana Cho Rong?”

“Perpustakaan.”

Myung Soo harus menghela napas mendengar suara merdu itu amat lirih dan menjawab pertanyaannya tanpa minat.

“Masih memikirkan ucapan Hee Chul Sunbae?” pada akhirnya Myung Soo memilih untuk to the point.

Soo Rin tidak langsung menjawab. Ia justru memilih untuk menundukkan kepala yang serta merta ditangkap maknanya oleh Myung Soo. Pria itu meneguk minumannya sekali lagi.

“Sepertinya untuk masalah ini sudah sangat serius bagimu, ya? Biasanya kau tidak mengambil pusing akan sekejam apapun ucapan darinya,” gumamnya dengan tatapan lurus ke depan.

“Hanya, kali ini aku benar-benar mengakui dan membenarkan ucapannya. Dulu aku memilih untuk tidak menelan semua cercaannya karena itu tidak sepenuhnya benar. Tetapi kali ini, Hee Chul Sunbae memanglah benar adanya.”

Ck, eii!” Myung Soo mendesah gusar lalu menoleh. “Seharusnya kau tidak menelan sepenuhnya ucapan sunbae itu sebagaimana dulu kau sering melakukannya, Park Soo Rin. Aku rasa kau bukanlah gadis yang seperti itu. Aku masih ingat bagaimana kau tetap setia menunggu priamu di saat kau sendiri banyak dihadapi godaan pria-pria tampan yang ingin mengencanimu—termasuk aku.”

Myung Soo sedikit berhasil membuat Soo Rin mau menarik sudut-sudut bibirnya. Pria itu masih menangkapnya meski hanya sekilas. Itulah mengapa ia ikut tersenyum, lebih lebar dari Soo Rin.

“Kau sendiri masih ingat, bukan? Yah, kurasa itu merupakan satu bentuk tindakanmu untuk priamu. Dengan terus menunggunya tanpa tahu kepastian, menutup hatimu hanya untuk priamu yang bahkan tidak berada di sampingmu, itu sudah membuktikan bahwa kau gadis yang luar biasa. Aku yakin priamu sangat mengerti, bahwa kau bukanlah gadis yang membosankan seperti yang dikatakan Hee Chul Sunbae. Melainkan kau adalah gadis yang tidak boleh dilepas olehnya begitu saja.”

Soo Rin menoleh menatap Myung Soo dengan kening mengerut. “Kau sedang memujiku?”

“Menurutmu?” Myung Soo terkekeh penuh arti. Sebelah tangannya mulai gatal hingga akhirnya mengusap gemas puncak kepala Soo Rin. Gadis itu mengerang tidak terima, yang justru terdengar menyenangkan di telinganya. “Aku tidak mungkin mengucapkan hal itu jika aku tidak menyukaimu, perlu kau ketahui itu.”

M-mwo?” Soo Rin hampir terjungkal mendengar pernyataan pria di sebelahnya. Matanya mengerjap cepat, memandang aneh Kim Myung Soo.

“Maksudku, dulu.” Myung Soo tertawa pada akhirnya. “Jika kau tidak pernah mengaku bahwa kau sudah bertunangan, aku bisa saja menjadikanmu sebagaimana dengan gadis-gadis yang sudah berkencan denganku. Hahaha!”

“Kau—” Soo Rin memberengut amat masam. Meninju lengan Myung Soo hingga pria itu mengaduh di sela-sela gelak tawanya. “Ternyata kau pernah berniat untuk menjerumuskanku, huh?!”

Aniyaa! Nongdamiya, jinjja (Aku bercanda, sungguh)!” balasnya cepat sebelum memilih untuk meredakan gelak tawanya demi melanjutkan, “Kau tahu kenapa aku gencar mengejarmu dulu? Itu karena aku kagum padamu yang sulit sekali untuk aku takluki. Dan aku menyukai gadis sepertimu. Karena aku berpikir, dengan memiliki gadis yang setia maka aku tidak akan melirik gadis-gadis lain.”

Myung Soo menumpu kedua tangannya di sisi-sisi tubuhnya, menerawang ke depan dengan sudut matanya masih menyadari akan adanya perhatian berarti dari gadis itu.

“Tapi ternyata persepsiku meleset karena, kau lihat sendiri, bukan? Baru menjadi temanmu saja aku masih senang bermain. Meski tidak separah pria lain yang mana berani membawa banyak gadis ke ranjangnya, tetap saja aku bisa dikatakan pria brengsek yang bisa saja lepas kendali dan menyakitimu jika kau tidak pernah mengaku. Dan sekarang, aku justru bersyukur karena kau sudah menolakku.” Myung Soo melemparkan tatapannya pada Soo Rin kembali, memamerkan senyumnya yang menawan. “Dengan begitu niatku berbalik menjadi ingin melindungimu dari pria-pria yang berusaha mendekatimu.”

“Kim Myung Soo…” Soo Rin tidak tahu bagaimana dia harus membalas. Ada rasa haru datang ke dalam benaknya setelah mendengar pengakuan Myung Soo. Memancingnya untuk mengembangkan senyum bersamaan mata jernihnya menyorot kesan amat berarti pada pria itu.

Myung Soo mendengus geli melihat reaksi Soo Rin, lalu terkekeh pelan. “Aku heran kenapa kau masih saja memanggilku dengan nama lengkapku?” akhirnya ia mengutarakan keluhannya yang sebenarnya sudah lama ingin dia proteskan pada gadis itu.

“Kau juga memanggilku begitu,” balas Soo Rin, mulai menunjukkan kepolosan yang seketika membuat Myung Soo merasa gemas.

“Kau benar… tapi aku melakukannya karena kau, tahu!” Myung Soo berdecak. “Aku sungguh heran denganmu yang lebih memilih memanggil teman pria sebayamu dengan nama lengkapnya, sedangkan teman-teman perempuanmu tidak. Atau bahkan kau akan memanggil dengan sebutan lebih sopan lagi. Kau benar-benar unik, Park Soo Rin.”

Soo Rin cemberut. “Apa itu salah?”

“Tidak juga. Hanya saja, kau menjadi terlihat kaku di depan siapa saja. Mungkin untuk orang-orang yang sudah mengenal cukup dekat dirimu seperti aku, Cho Rong dan Hee Chul Sunbae tidak akan mengambil pusing. Tapi untuk yang lain, kau pasti akan mendapat protes dari mereka. Aku bisa menjamin bahwa kau pernah mendapat teguran semacam itu.”

Soo Rin membenarkan pendapat Myung Soo. Dia memang sering mendapat teguran dari teman-teman kuliah lainnya karena cara berkomunikasinya yang terlalu formal. Bahkan dengan mahasiswa yang lebih muda darinya tetap ia panggil dengan sebutan sopan. Well, tapi sebenarnya itulah yang membuat para mahasiswa menjadi penasaran dengannya. Bagaimana jika Soo Rin memanggil nama mereka dengan sebutan akrab, adalah salah satu bentuk kurioritas pria-pria itu terhadapnya.

Dan Myung Soo merupakan pria yang beruntung karena bisa dekat dengan Soo Rin seperti sekarang ini. Percayalah bahwa banyak mahasiswa yang cukup iri padanya dan penasaran bagaimana cara Myung Soo membuat Soo Rin mau menerimanya meski hanya sekadar menjadi teman dekat.  Begitu juga sebaliknya, mengingat Myung Soo adalah cassanova di fakultasnya, banyak mahasiswi yang iri dengan Soo Rin karena bisa terus berada di dekat Myung Soo meski dengan status sebagai sebatas teman.

Bahkan ada beberapa dari mereka yang menginginkan keduanya berkencan saja. Ugh, hanya saja mereka terpaksa memupuskan keinginan itu mengingat Park Soo Rin sudah bertunangan. Pantas saja dulu Kim Myung Soo ditolak olehnya.

“Apakah itu berarti Kim Ki Bum juga berpikir begitu?”

Myung Soo yang sempat meneguk minuman kalengnya hampir tersedak mendengar pertanyaan Soo Rin yang lebih mirip ditujukan untuk dirinya sendiri. Myung Soo berdeham pelan demi menetralkan ketertegunannya, apalagi setelah melihat gadis itu kembali menunduk murung, sepertinya Myung Soo baru saja menuntun gadis itu untuk merenung lagi.

“Dia pasti akan mengerti kenapa kau memilih untuk bersikap seperti itu padanya.”

Soo Rin menghela napas panjangnya yang kembali terasa berat. “Apakah aku terlihat aneh? Selama ini aku lebih nyaman memanggilnya tanpa menggunakan sebutan lain. Aku bahkan tidak pernah memanggilnya sebagaimana dengan gadis kebanyakan yang memanggil kekasihnya dengan sebutan… Oppa…” Soo Rin menelan saliva sejenak. “Apa aku terlihat aneh karena merasa sebutan itu terdengar asing di lidahku?”

Myung Soo menatap prihatin gadis di sampingnya. Dia mengangguk paham bagaimana kesulitan yang dialami Soo Rin saat ini. Dapat dia dengar dengan jelas bagaimana Soo Rin menyebut panggilan yang sebenarnya amatlah pasaran untuk banyak gadis justru amat canggung di mulut gadis itu. Meski sebenarnya bagi Myung Soo itu adalah hal yang aneh, tapi Myung Soo sadar bahwa Soo Rin bukanlah seperti gadis kebanyakan yang sering dia temui.

“Tidak bagi Kim Ki Bum.”

Soo Rin yang sempat murung, kini mengangkat pandangannya hingga kembali menancap pada wajah tegas Myung Soo. Apalagi ia sempat mendengar Myung Soo menyebut nama yang sedari tadi disebut sebagai priamu dari mulut Myung Soo, entah mengapa cukup membuat Soo Rin terpancing. Pria itu tampak mengembangkan senyum yang begitu meneduhkan, memberikan sorot mata yang sama teduhnya pada Soo Rin yang kini tengah menatap tidak percaya dirinya.

“Sebagaimana dengan dirimu, Kim Ki Bum adalah pria yang berbeda dibandingkan pria-pria lainnya. Dan sebagai sesama pria, aku cukup mengerti seperti apa priamu, dia bukanlah pria yang selalu berpikiran pendek hingga menuntut hal-hal yang menurutnya itu menguntungkan baginya padamu. Dia adalah tipe pria yang menyukaimu apa adanya,” tutur Myung Soo dengan ringan namun bermakna, senyum penuh artinya mengembang sebelum kemudian ia mencondongkan tubuhnya demi lebih dekat dengan gadis itu, merendahkan suaranya, berkata, “Seharusnya kau percaya pada priamu, bukan pada Hee Chul Sunbae, Soo Rin-ah.

Soo Rin termangu, menyaring kata demi kata dari Myung Soo ke dalam otaknya tanpa menyadari bahwa pria itu sempat memanggilnya dengan nama akrab saja. Bibirnya merengut kala ia menarik napas panjang seraya memikirkannya. Lalu tersenyum samar begitu merasakan tepukan lembut di sebelah pundaknya sebelum akhirnya membalas tatapan Myung Soo yang belum berubah.

“Kau benar…” balasnya menggumam. Senyumnya mengembang, “Terima kasih, Kim Myung Soo.”

Dan Myung Soo harus meredam rasa gemasnya karena mendengar gadis itu—memang tidak berubah dalam memanggil namanya. Memilih untuk membalas ucapan Soo Rin dengan deretan gigi putihnya seraya kembali menyentuh puncak kepala Soo Rin. Kini hanya sebuah tepukan.

Sebenarnya Myung Soo bukanlah tipe pria yang mudah menyentuh Soo Rin seperti ini. Namun Myung Soo akan sulit menahan diri jika sudah berada di dekat Soo Rin seperti sekarang ini dan hanya ada mereka berdua tengah mengobrol bersama seperti sekarang ini. Katakanlah bahwa sebenarnya Myung Soo masih menyukai Park Soo Rin meski dia tahu gadis ini hanya bisa menjadi temannya. Dan ia memilih untuk menjaga perasaan gadis ini serta mensyukuri perannya saat ini.

“Apa yang sedang kalian lakukan?”

Keduanya menoleh secara kompak ke belakang. Mendapati Park Cho Rong ternyata sudah berdiri 5 langkah dari bangku mereka, bersedekap di depan dada, memicing keduanya penuh curiga.

Ya, Kim Myung Soo, kau sedang tidak menggoda Park Soo Rin lagi, bukan?” tudingnya seraya membuka langkah mendekati mereka.

Langsung saja Myung Soo membantah, “Apakah mendekati Soo Rin berarti aku sedang menggodanya? Astaga, pandanganmu terhadapku buruk sekali. Aku tersinggung, Nona!” lalu berdiri dari duduknya, “Aku justru memberikan pencerahan untuknya, asal kau tahu itu,” lanjutnya acuh seraya membenarkan pakaiannya sebelum membuang kaleng minumannya yang sudah kosong ke tempat sampah tak jauh dari tempat mereka.

“Pencerahan, kau bilang? Heol, seorang Kim Myung Soo ternyata bisa berlaga seperti pendeta rupanya,” ejek Cho Rong yang sangat terasa efeknya.

Myung Soo melotot. Lalu mendecih jengah. Temannya yang satu itu tidak ada bedanya dengan Kim Hee Chul. Hanya saja Hee Chul lebih sering mencerca Soo Rin sedangkan Cho Rong lebih sering mencerca dirinya. Myung Soo bahkan sempat berpikir untuk menjodohkan saja mereka berdua karena sifatnya yang sangat kompak itu. Sayangnya Park Cho Rong sudah memiliki kekasih sedangkan Kim Hee Chul masih layaknya playboy namun bermulut bak wanita. Benar-benar.

Soo Rin yang terkekeh pelan melihat dua temannya lagi-lagi bersiteru, tidak sengaja mengalihkan pandangannya dan menangkap sosok Kim Hee Chul baru saja turun dari tangga dan tampak mencari-cari. Perlahan suasana hatinya berubah, menyadarkannya bahwa ternyata dia belum bisa mengenyahkan apa yang sudah dilakukan senior itu kemarin.

Rasanya Soo Rin ingin menghindar saja.

Menarik perhatian Myung Soo dan Cho Rong, Soo Rin bangkit dari duduknya, menghadap keduanya dan mencoba untuk tersenyum. “Aku harus segera pergi.”

“Pergi? Ke mana?” Cho Rong sedikit terkejut mendengarnya.

“Kenapa rasanya mendadak sekali?” begitu juga dengan Myung Soo.

Untungnya Soo Rin sudah mendapat jawaban untuk pertanyaan mereka yang pantas sebagai alasan tepat. Karena sebenarnya dia memang sudah memiliki rencana di hari ini.

“Aku harus ke rumah sakit. Semalam aku sudah berjanji pada Kim Ki Bum untuk menemuinya begitu kuliah selesai hari ini.”

Mereka mengangguk-angguk mengerti. Cho Rong harus mendesah kecewa beberapa saat karena kesempatan untuk dapat berkumpul di cafeteria seperti biasanya harus tanpa Soo Rin. Sedangkan Myung Soo mengembangkan senyum simpulnya.

Setidaknya mereka merelakan Park Soo Rin yang sedang berbahagia saat ini.

“Ingin kuantar?”

Cho Rong bereaksi lebih dulu, menyikut perut Myung Soo hingga pria itu mengaduh sungguh-sungguh. “Jangan memulai lagi, Kim Myung Soo!”

Aih, waee?! Aku hanya menawarkan tumpangan!”

“Tawaran darimu sungguh mencurigakan, kau tahu itu!”

Aigo, aku mana mungkin menjebak Park Soo Rin!”

“Lihat? Kau bahkan sempat berpikiran seperti itu.”

“Lagi-lagi kau menganggapku sebagai pria brengsek.”

“Kau menyadarinya, ‘kan?”

Aisshi!

“Astaga…” desis Soo Rin menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka. Teman-temannya ini memang benar-benar orang dewasa. Memilih untuk pergi, Soo Rin berpamitan pada mereka, melambaikan tangan yang dibalas oleh mereka lalu mempercepat langkahnya begitu melihat senior itu mulai mendekat.

Ya, kenapa gadis itu pergi begitu saja?”

Barulah keduanya terkejut mendapati Hee Chul ternyata sudah berdiri di dekat mereka. Dengan kompak mereka mendengus jengah, menyadari sesuatu.

“Sekarang aku mengerti kenapa Soo Rin terburu-buru,” gumam Myung Soo seraya memicing pada Hee Chul.

“Dia benar-benar tersinggung padamu, Sunbae.” Cho Rong to the point.

“Astaga, dia benar-benar marah padaku?!” Hee Chul terperangah, menatap tidak percaya pada punggung yang semakin jauh di depan sana. “Apa aku sudah begitu kejam padanya?”

“Syukurlah kau menyadarinya, Kim Hee Chul Sunbae,” cibir Cho Rong sambil berlalu dari sana. Diikuti dengan Myung Soo yang sudah terkekeh-kekeh melihat pria itu tampak bodoh di tempatnya.

Pada akhirnya Hee Chul memilih untuk ikut menyusul mereka dengan raut anehnya. Percayalah bahwa kali ini Kim Hee Chul merasa tidak tenang akan apa yang sudah diperbuatnya.

“Lalu aku harus bagaimana? Ya, apa kalian juga marah padaku, huh? Ayolah, aku hanya memiliki kalian sebagai temanku! Ya, tunggu aku!!”

Ü

Soo Rin memandang gedung yang berdiri kokoh di hadapannya. Setelah menaiki bus yang menempuh waktu perjalanan kisaran 20 menit lamanya, kini ia sampai di rumah sakit cukup ternama di ibukota, Seoul SKY Hospital. Tempat di mana pria itu menjalankan kerja magangnya demi mendapat gelar Dokter Muda.

Ia menarik napas panjang. Rasanya ia mulai berdebar-debar. Padahal ia masih di sini, belum bertemu dengan Kim Ki Bum, tapi kenapa dia sudah gugup lebih dulu? Bukankah sebelumnya dia pernah berkunjung kemari? Yah, meski ditemani dengan Sae Hee tapi sama saja, bukan? Apakah karena kini dia berkunjung seorang diri maka dia merasa gugup?

Aah, seharusnya Soo Rin mengajak Sae Hee saja tadi. Tapi sepertinya adik dari Kim Ki Bum itu tidak dapat diganggu karena masih sibuk kuliah.

Ah, sudahlah. Bukankah Soo Rin sudah berniat untuk datang menemui pria itu? Lagipula, setelah beberapa hari disibukkan oleh kegiatan masing-masing dan baru kemarin malam bertatap wajah kembali, Soo Rin belum puas bertemu dengan Kim Ki Bum. Pria itu pasti menunggu kedatangannya juga di dalam sana, bukan?

Seharusnya kau percaya pada priamu, bukan Hee Chul Sunbae, Soo Rin-ah.

Benar. Seperti yang dikatakan Kim Myung Soo tadi, Soo Rin harus percaya pada Kim Ki Bum. Dan percaya bahwa pasti pria itu kini tengah menunggunya. Ya, begitu.

Membuka langkah, Soo Rin mulai memasuki gedung rumah sakit itu. Diam-diam ia berusaha menetralkan napas juga raut wajahnya. Dia tidak boleh tampak gugup di hadapan Kim Ki Bum nanti. Ah, bagaimana jika begitu bertemu dengan Kim Ki Bum, Soo Rin langsung memberikan pelukan saja? Lalu mengatakan bahwa Soo Rin saaaaangatt merindukannya! Kim Ki Bum pasti akan senang mendengarnya, bukan?

Geurae, kau bisa melakukannya!” Soo Rin mengepalkan sebelah tangannya sebagai bentuk penyemangat untuk dirinya sendiri.

Hanya saja semangatnya segera tergantikan dengan pekikan tertahan karena dikejutkan oleh adanya seseorang muncul tepat di persimpangan koridor. Soo Rin tidak bisa mengelak lagi dan harus bertubrukan oleh orang itu, dan ia hampir jatuh terjungkal jika saja tangan-tangan itu tidak menangkap kedua lengannya yang secara otomatis menahan tubuhnya untuk tetap berdiri.

Sejenak Soo Rin harus terbengong-bengong, rasanya ia mengalami sedikit disorientasi sebelum akhirnya menyadari kejadian apa yang baru saja menimpanya.

“Kau tidak apa-apa?”

Suara berat yang tertuju padanya berhasil menyentak Soo Rin untuk tersadar dari lamunan singkatnya. “N-ne? Ah… ne, aku tidak apa-apa…” sungguh, dia tampak seperti orang linglung saat ini.

Dia bahkan tidak menyadari bahwa orang itu kini tengah tersenyum padanya dan hampir terkekeh karena merasa geli.

Soo Rin segera melepas diri, melangkah mundur sekali lalu membungkukkan badan penuh sopan. “Jwaeseonghamnida,” ucapnya sebelum melewati orang itu dan berlalu dari sana.

Sedangkan orang itu hanya mengantar kepergiannya dengan tatapan tajamnya yang menyorot penuh arti. Bibir penuhnya melengkung membentuk ulasan senyum separuh nan menawan. Karena pada akhirnya, dia melakukan interaksi terhadap Soo Rin.

¨

Soo Rin melongok ke sebuah koridor di mana ia melihat adanya pintu ruangan yang cukup dikenalnya. Soo Rin masih ingat bahwa itu merupakan ruang Kim Ki Bum biasa rehat sejenak bersama beberapa teman magangnya. Apakah pria itu ada di dalam sana?

Tidak mau bertindak gegabah, Soo Rin akhirnya meraih ponsel pintarnya dari dalam tas, mencoba memberi pesan singkat melalui situs chat pada pria itu.

Kau sudah beristirahat?

Bibir bawahnya bergerak maju setelah ia mengirim pesan tersebut. Mulai menunggu dalam perasaan tidak menentu. Tidak ada tiga puluh detik lamanya ia melihat pesan singkatnya sudah dibaca oleh pria itu—sepertinya. Kemudian kurang dari sepuluh detik setelahnya ia sudah mendapat balasannya.

Menungguku?

Soo Rin tahu dengan pasti, pria itu tengah menggodanya saat ini. Bibir kecilnya mengerucut lucu seraya mengetik sesuatu demi membalas pasan pria itu. Benar-benar, Kim Ki Bum selalu saja memancingnya untuk salah tingkah tanpa dia sendiri tahu. Huh!

Aku pulang saja!

Ia mulai berbalik hendak pergi dari sana. Tapi ia urungkan demi melihat layar ponselnya sekali lagi. Tidak ada balasan lagi, hanya tanda bahwa pria itu sudah membaca pesannya. Lihat, Kim Ki Bum senang sekali membuat Soo Rin kebingungan pada akhirnya. Tapi sudahlah, pria itu pasti belum melihatnya berada di sini, bukan? Soo Rin tidak mau terlihat seperti orang bodoh yang menunggu di persimpangan koridor seperti sekarang ini.

Biarkan saja pria itu mencari-cari. Yah, syukur saja jika pria itu memang mencarinya, bukan?

“Tidak mau bertemu denganku?”

Baru saja Soo Rin ingin menjalankan niatnya, sudah dikejutkan dengan suara berat yang sangat dikenalnya menyapa dirinya, terutama jantungnya untuk meloncat di tempatnya hingga Soo Rin berbalik. Dan menemukan sosok pria itu sudah muncul dari balik koridor dengan gayanya, menyimpan kedua tangannya ke saku jubah putih yang melekat pas di tubuhnya, dengan raut teduhnya yang dihiasi senyum yang sukses membuat Soo Rin menahan napas untuk beberapa saat.

Lihat, betapa kurang ajarnya pesona seorang Kim Ki Bum di mata Soo Rin saat ini. Beginilah yang selalu Soo Rin rasakan tiap melihat pria itu!

“Kurasa kau yang tidak mau bertemu denganku. Jadi lebih baik aku pulang saja.” Soo Rin membuang wajahnya yang mulai merona, tidak tahan untuk menatap Kim Ki Bum terus-menerus. Dia juga harus menetralkan jalur pernapasannya yang mulai tersendat.

Ki Bum menggumam halus seraya mengangkat dagunya, membuka langkah mengikis jarak mereka hingga tersisa hanya satu langkah, lalu merunduk sedikit demi sejajar dengan wajah cantik itu. “Yakin tidak mau bertemu denganku?”

“Bukankah… bukankah kita sudah bertemu? Kenapa pertanyaanmu konyol sekali?” Soo Rin menggerutu, matanya bergerak gelisah karena pria ini. Untuk saat ini dia tidak mau melihat senyum miring itu yang tengah tersaji setelah ia membalas pertanyaan pria itu. Merasa tidak tahan, akhirnya Soo Rin mendorong pria itu demi menjauh, “Berhenti menatapku seperti itu, Kim Ki Bum!”

Ki Bum tertawa pelan pada akhirnya. Merasa tergelitik melihat bagaimana gugupnya Soo Rin karenanya. Astaga, dia bahkan tidak melakukan apapun tetapi bagaimana bisa reaksi Soo Rin bisa membuatnya terlihat berkali-kali lipat menggemaskan seperti sekarang? Ki Bum menjadi tidak tahan untuk mengacak gemas rambut panjang gadis itu tepat di puncak kepala.

“Jika itu bisa membuatmu seperti sekarang, tidak masalah bagiku untuk mengajukan pertanyaan konyol seperti tadi.”

Ish!” Soo Rin memukul pundak lebar Ki Bum. Sial sekali, hanya dengan kalimat sederhana, sudah mampu membuatnya semakin dan semakin salah tingkah saja.

“Kau merindukanku, bukan? Tidak mau memelukku?”

M-mwo?

“Atau menciumku?”

Y-ya!!”

Kini Ki Bum tertawa begitu lepasnya melihat bagaimana wajah cantik Soo Rin semakin bersemu merah. Pada akhirnya, Ki Bum sendiri yang melakukannya, menarik Soo Rin ke dalam dekapannya tanpa meredakan tawanya. Dapat ia rasakan tubuh Soo Rin berubah kaku begitu tangan-tangannya berhasil melingkarinya.

Y-ya! Ini rumah sakit!”

“Memangnya siapa yang mengatakan ini bukan rumah sakit?”

“I-ini tempat umum, Bodoh!”

“Siapa yang mengatakan ini bukan tempat umum?”

“Aku tidak bercanda, Kim Ki Bum!!”

“Aku juga tidak bercanda, Park Soo Rin.” Ki Bum justru mengetatkan pelukannya. Mulai menghirup aroma yang menyeruak dari tubuh gadis ini. Hidungnya menelusup masuk ke balik rambut yang tergerai rapi, menyadarkannya bahwa ternyata rambut gadisnya ini sudah melewati batas bahu. Senyumnya semakin mengembang. “Aku bersyukur kau tidak memotong rambutmu lagi.”

Soo Rin tertegun mendengarnya. Tidak menyangka bahwa Ki Bum akan mengangkat topik ini yang langsung mengingatkannya pada kejadian tahun lalu. Di mana ia gemar memotong rambut karena pria ini pergi meninggalkannya. Soo Rin sendiri tidak mengerti kenapa rambutnya menjadi salah satu pengaruh terbesarnya dalam mengingat pria ini. Itulah mengapa ia sering sekali memotongnya jika sudah memanjang hingga menyentuh bahunya lalu kembali pendek.

Padahal, Kim Ki Bum tidak pernah memuji rambutnya yang selalu ia gerai. Kim Ki Bum juga tidak pernah memberi usul padanya untuk melakukan sesuatu terhadap rambutnya. Yang dia tahu, bahwa Kim Ki Bum menyukai rambut panjangnya. Meski pria ini tidak mengatakannya secara langsung, tapi Soo Rin meyakini itu.

Hanya sebatas itu.

“Kalau begitu, aku tidak akan pernah memotongnya…”

Ki Bum terkekeh pelan mendengarnya, ia lalu mencium sisi kepala Soo Rin. “Lalu menjadi seperti Rapunzel, hm?”

Eung…

 “Tidak, tidak. Aku tidak mau kau seperti itu.”

Soo Rin mendongak, menatap pria itu. “Memangnya kenapa? Bukankah kau suka jika aku berambut panjang?”

“Tidak sepanjang itu,” kekehnya pelan, tangan besarnya menepuk punggung kecil di pelukannya secara teratur. “Aku tidak mau ada kejadian di mana aku menginjak rambutmu nanti.”

Soo Rin berdesis lagi. Apakah Kim Ki Bum sedang melakukan sebuah lelucon? Kenapa Soo Rin rasanya ingin tertawa? Sampai-sampai ia tidak bisa menahan senyumnya hingga harus menyembunyikan sebagian wajahnya ke dalam dekapan pria ini. Dan tanpa sadar bahwa ia mulai merasa nyaman berada di dekapan prianya ini.

Tapi sejujurnya, Soo Rin merasa benaknya berdesir karena senang mendapatkan perlakuan ini. Terlepas dari posisi mereka yang saat ini berada di tempat umum, tapi sepertinya di sepanjang koridor ini cukup aman untuk melakukan hal ini. Toh mereka hanya berpelukan, bukan? Itulah mengapa tangan-tangan Soo Rin mulai bergerak melingkari punggung tegap Ki Bum, membalas pelukan pria ini dengan malu-malu.

“Aku merindukanmu.”

Senyum teduhnya semakin mengembang mendengar pengakuan halus itu. “Kita baru saja bertemu kemarin,” balasnya ringan.

Tapi cukup memberikan efek pada Soo Rin hingga pipinya mulai terasa hangat, dan ia mengeratkan pelukannya. “Tidak boleh?”

“Bukan begitu.” Ki Bum mengelak secara halus. “Aku senang kau mengatakannya. Aku juga merindukanmu.”

Soo Rin menggigit bibir bawahnya karena terlalu senang. Senang karena ia berhasil mengutarakannya, meski tidak sesuai harapannya yang ingin menumpahkan segala perasaannya secara gamblang, ia sudah bersyukur setidaknya bisa mengungkapkannya.

Mereka benar. Jika Soo Rin memulai lebih dulu, Soo Rin bisa merasakan sendiri bahwa Kim Ki Bum senang karenanya.

“Kim Ki Bum.”

Hm?”

“Kau tidak ingin makan?”

Ki Bum menggumam di atas puncak kepala Soo Rin, tampak tengah berpikir. “Sepertinya nafsu makanku sudah hilang dan berubah ingin terus seperti ini sampai nanti.”

Ish!” Soo Rin mencoba menjauhkan diri meski hanya mampu mengikis beberapa senti saja, bahkan tidak lepas dari lingkaran tangan pria itu. Wajahnya merengut tidak suka kala menatap pria yang juga ikut menatapnya dengan senyum tertahan. “Aku datang bukan untuk memelukmu terus-menerus!”

fbab50d889c143fee4605fc5069bb188

Araa. Arasseo.” Ki Bum akhirnya melepas diri. Sejenak ia harus mendesah pelan karena harus melepas gadis itu dari dekapannya. “Jadi, tidak apa-apa hanya makan di kantin?”

Soo Rin mengangguk cepat. Senyum manisnya mulai merekah hingga menegaskan rona kemerahan di kedua pipinya. “Asalkan bersamamu, tidak apa-apa.”

Mwoya…” Ki Bum mendengus cepat sebelum melepas tawanya. Astaga, tidak tahukah bahwa Ki Bum terkaget-kaget mendengar pengakuan yang terdengar spontan keluar dari mulut seorang Park Soo Rin? Itu merupakan sebuah kejutan yang cukup berarti baginya apalagi dihiasi dengan raut menggemaskan di wajah canti itu.

Rasanya dia ingin sekali mencium gadisnya ini!

Soo Rin sendiri harus menunduk malu setelah mengungkapkan kalimat yang tidak bisa dia rem lagi. Ugh, bagaimana bisa dia lepas kendali seperti tadi? Apakah itu terlalu agresif atau justru dirinya menjadi terlihat terlalu polos? Entahlah. Tapi pada kenyataannya Kim Ki Bum kembali merasa senang berkat perbuatannya.

Dan Soo Rin kembali merasakan sengatan halus di puncak kepalanya. Tangan besar itu kembali mendarat di sana dan mengusapnya penuh gemas namun penuh sayang. Sebelum akhirnya bergerak turun meraih sebelah tangannya, menggenggam sekaligus menautkan jemari mereka kemudian mulai menarik lembut dirinya.

“Kalau begitu aku tidak bisa menolak karena kau sudah menggodaku,” ujar Ki Bum penuh arti. Senyum manisnya semakin tidak bisa menghilang karena gadis di genggamannya ini membalas tatapannya.

Dan seharusnya Soo Rin tetap menunduk karena senyum milik Kim Ki Bum selalu membuatnya sulit untuk bernapas!

Ü

Boleh dikatakan bahwa Park Soo Rin sedang berbunga-bunga saat ini. Mengingat apa saja yang sudah dia lakukan bersama Kim Ki Bum selama waktu istirahat pria itu tadi, sudah cukup membuat Soo Rin senang bukan main. Hanya sebuah makan siang biasa, tetapi jika dilakukan bersama orang terkasih sudah seperti melakukan dinner di restoran romantis. Heol…

Apakah pengandaiannya tampak berlebihan? Oh, biarkan saja! Bukankah dia yang merasakannya? Bukan orang lain.

Apalagi, wajahnya masih meninggalkan jejak hangat dikarenakan bayang-bayangnya yang memutar kembali kejadian mereka sebelum berpisah. Well, bukan Kim Ki Bum namanya jika tidak melakukan hal-hal yang selalu berhasil membuat prihatin jantungnya. Hanya karena pria itu tidak bisa mengantarnya sampai depan gedung membuatnya harus rela merasakan bibir pria itu mendarat di keningnya lama-lama.

Ugh, itu hanyalah kecupan sederhana tetapi kenapa bisa membekas sampai sekarang? Baiklah, setidaknya itu bisa membuat keadaan Soo Rin semakin membaik karena ia bisa merasakan bagaimana tulusnya Kim Ki Bum padanya. Selama ini. Jadi ucapan pedas Kim Hee Chul sudah bisa dia patahkan, bukan?

Tentu saja.

Yang pasti, Soo Rin bisa merelakan Kim Ki Bum untuk melanjutkan tugas magangnya setelah waktu bersama mereka selesai. Meski tidak sepenuhnya, dia sudah cukup bersyukur bisa menemui juga menemani prianya beristirahat di tempat kerjanya ini. Atau sebenarnya Kim Ki Bum yang menemaninya makan siang? Aah, sama saja, bukan?

Kini, Soo Rin sedang dalam perjalanan untuk keluar dari gedung rumah sakit ini. Sebenarnya, ia sedikit menyembunyikan sesuatu dari Kim Ki Bum mengenai apa yang tengah ia rasakan selain soal kebersamaannya dengan pria itu. Sedari tadi, Soo Rin menyadari adanya hal mengganjal terjadi di sekitarnya. Bahkan masih terjadi sampai ia keluar dari gedung rumah sakit tersebut.

Langsung saja begitu berhasil keluar, Soo Rin berbalik badan. Matanya memicing curiga pada seseorang yang tengah berdiri beberapa langkah darinya. Bertingkah sedang memandang langit yang tampak keruh mengingat ini sudah di penghujung musim gugur. Soo Rin masih ingat bahwa orang itu merupakan orang yang sempat ditabraknya secara tidak sengaja tadi.

Merasa tidak bisa diam saja, Soo Rin akhirnya menyuarakan kecurigaannya, “Kau mengikutiku, ya?”

Orang itu, dengan raut kebingungan yang Soo Rin tahu hanya dibuat-buat, kini memandangnya, menggerakkan telunjuknya untuk menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”

Ne.” Soo Rin sedikit melangkah mundur, sebelum melanjutkan, “Apa kau seorang stalker?”

Karena Soo Rin masih ingat pula, beberapa kali selama ia sedang bersama Ki Bum, secara tidak sengaja mendapati orang di hadapannya yang tak lain seorang pria itu sedang berada dalam jarak pandangnya. Bukan bermaksud untuk percaya diri, tapi Soo Rin tidak dapat menampik bahwa pria itu seperti tengah mengawasinya sejak tadi. Apa orang itu tidak memiliki kegiatan lain? Kenapa membututinya bahkan hingga sejauh ini? Sebenarnya apa mau orang itu?

“Tidak,” pria itu menjawab dengan nada santainya. Kedua tangannya ia simpan ke dalam saku jubah putihnya, mencoba memberikan senyum ramahnya. “Aku hanya sedang memastikan bahwa kau adalah kenalan Kim Ki Bum.”

Soo Rin mengerjap cepat. Sedikit tertegun mendengar pria itu menyebut nama prianya. “Kau mengenal Kim Ki Bum?”

“Ya. Aku teman magangnya,” pria itu mendekat, bahasa tubuhnya begitu piawai dan penuh sopan, membuat Soo Rin tidak ada niatan untuk mundur lagi dan justru menunggu apa yang akan dilakukan olehnya setelah ini. Benar saja, ia mengulurkan sebelah tangannya begitu hanya tersisa jarak dua langkah di antara mereka, “Panggil aku Marcus.”

Sebenarnya Soo Rin masih amat ragu untuk menanggapi perkenalan ini. Matanya hanya menyorot kosong tangan yang terulur padanya. Hingga akhirnya Soo Rin membalas dengan sebuah bungkukan santun untuk pria itu sebelum berkata, “Terima kasih sudah bersedia menjadi teman Kim Ki Bum.”

Marcus, pria itu hanya mampu memandang takjub gadis di hadapannya. Sebuah respon yang jauh dari ekspektasinya. Bahkan gadis itu segera berbalik begitu saja meninggalkannya yang kini tengah mengatup kembali telapak tangannya yang sempat terulur sebagai bentuk salam. Ia mendengus tidak percaya, disusul dengan bibir penuhnya tertarik hingga membentuk seulas senyum yang begitu menawan.

Ini benar-benar menarik. Gadis itu tampak tidak terpengaruh dengan apa saja yang sudah ia lakukan. Padahal, biasanya banyak gadis yang akan terpesona hanya karena dia memperkenalkan diri lalu mereka pasti akan menyambut ulurannya hanya demi merasakan kulit tangannya yang begitu menggoda untuk digenggam. Bahkan, gadis itu tidak berbalik memperkenalkan diri dan justru mengucapkan terima kasih atas Kim Ki Bum.

“Kau tunangan Kim Ki Bum, bukan?”

Langkah Soo Rin terhenti begitu saja. Sedikit terhenyak akan tembakan tepat sasaran dari pria bernama Marcus itu. Sekali lagi Soo Rin berbalik, menatap tidak mengerti pria yang ternyata tengah menyungging senyum penuh arti.

Dari mana dia tahu?

Well, Kim Ki Bum memang tidak pernah bercerita. Tapi, aku sudah bisa menebaknya,” Marcus melangkah sedikit lebih dekat lagi dengan Soo Rin. Ia mengedikkan bahu dengan santai sebelum melanjutkan, “Dari bagaimana kalian bercengkerama, juga cincin.”

Soo Rin menunduk memperhatikan tangannya sendiri. Dia cukup bingung karena betapa jelinya pria itu. Apakah cincin yang digunakannya bersama Kim Ki Bum cukup mencolok? Sepertinya tidak. Tapi kenapa pria di hadapannya kini bisa menebak sangat tepat?

Atau, jangan-jangan…

“Kau penguntit Kim Ki Bum, ya?”

Ada jeda di mana Marcus tampak mengerjap cepat sebelum disusul oleh dengusan keras. Dia hampir saja menyemburkan tawa, perlu diketahui itu. Lagi-lagi dia mendapat respon yang jauh dari ekspektasinya. Apakah gadis ini tidak mengerti? Penguntit Kim Ki Bum? Yang benar saja! Untuk apa dia menguntit Kim Ki Bum jika pada akhirnya dia mendekati gadis itu? Benar-benar!

Sedangkan Soo Rin hanya dapat mengerutkan keningnya amat jelas. Kebingungan dengan reaksi yang ditunjukkan pria bernama Marcus itu. Apa dia salah menebak? Sedangkan otaknya mencerna bahwa begitulah yang dia simpulkan. Jika Marcus mengetahui status pribadi Kim Ki Bum yang merupakan temannya itu bersama Soo Rin, bukankah itu berarti Marcus adalah stalker untuk Kim Ki Bum?

“Apa aku terlihat seperti itu?” Marcus mengajukan pertanyaan. Sebelah alisnya terangkat seolah menantang Soo Rin untuk menjawab. Sedikit sisi aslinya mulai ia keluarkan.

“Kelihatannya seperti itu…”

“Bagaimana jika kebalikannya?”

Soo Rin semakin bingung. “Maksudmu?”

“Bagaimana jika ternyata aku sebenarnya adalah penguntitmu?”

“Apa?”

Well, pertanyaan Marcus sudah cukup memancing rasa was-was dalam diri Soo Rin. Dan itu terlihat cukup jelas di wajahnya sampai-sampai Marcus tergelitik memandangnya. Sekaligus mendapatkan sebuah kenyataan bahwa…

Gadis di hadapannya ternyata mudah terpengaruh akan apa yang didengarnya.

“Aku hanya bercanda,” Marcus terkekeh pada akhirnya. Mencoba mencairkan suasana yang berubah canggung berkat perubahan raut wajah Soo Rin. “Aku hanya ingin tahu soal temanku. Kau tahu bahwa Kim Ki Bum pria yang sulit untuk didekati. Mungkin dengan mengenalmu, aku juga mengenal seperti apa Kim Ki Bum yang sebenarnya. Jadi, tidak apa-apa, bukan, jika aku ingin tahu namamu?”

Bagus, alasan yang cukup masuk akal, Marcus. Kini Soo Rin harus salah tingkah karena baru menyadari bahwa ia lupa mengenalkan diri. Bukankah dia teman Kim Ki Bum? Seharusnya Soo Rin menunjukkan sopan santunnya mengingat dia adalah tunangan Kim Ki Bum.

“A-aku Park Soo Rin. Senang berkenalan denganmu.”

Marcus tersenyum puas. Melihat bagaimana gadis itu kembali membungkuk santun untuknya disertai dengan menyebutkan sebuah nama yang sudah ditunggu-tunggu. Perlu diketahui bahwa batinnya tengah bersenandung senang karena ia berhasil menerobos sebuah akses yang ternyata cukup sulit untuk dia pecahkan.

Jadi, namanya adalah Park Soo Rin.

Gotcha!

CRU9R10UEAAj-nm

To Be Continued

KYUHYUN :: “Oh, aku muncul lagi! Akhirnya, setelah penantian yang begitu lama, cerita ini kembali diluncurkan kelanjutannya. Ya ampun, aku pikir cerita ini akan tenggelam begitu saja dan penulisnya akan melupakannya begitu saja pula.

ELVABARI :: “Ugh, maafkan aku. Aku sudah mencampakkan cerita ini begitu lama dan—

KYUHYUN :: “Baguslah jika kau menyadarinya, Siska-sshi. Kupikir kau sudah melanggar kontraknya dengan mengabaikan cerita ini begitu saja.

ELVABARI :: “Ya, ya, ya! Kau pikir membuat cerita untukmu itu mudah, huh?!

KYUHYUN :: “Seharusnya. Kau tahu sendiri bahwa di luar sana banyak yang menggunakanku untuk cerita mereka.

ELVABARI :: “Sayangnya aku tidak seperti mereka. Membuat cerita untuk Kim Ki Bum saja sudah membuatku frustasi apalagi kau! Ugh, kau tidak tahu bagaimana rasanya untuk mencari chemistry dalam menulis di mana kau terlibat di dalamnya, Cho Kyu Hyun! Aku tidak bisa seperti mereka yang dengan mudahnya membayangkanmu di dalam cerita lalu membuatnya dengan lancar!

KYUHYUN :: “Ba-baiklah. Aku mengerti. Sepertinya kau selalu semakin kesulitan jika itu menyangkut diriku.

ELVABARI :: “Ya. Aku bersyukur kau mau mengerti. Dan kuharap mereka yang membaca ini juga mengerti.

KYUHYUN :: “Geurae. Kau memang berbeda dari yang lain. Di saat mereka gencar menulis cerita untukku, kau justru tidak bisa membuatnya…

ELVABARI :: “Bukan tidak bisa. Hanya kesulitan.

KYUHYUN :: “Baiklah, baiklah, aku mengerti. Sekarang aku berharap kau bisa melanjutkannya. Jangan hiraukan aku, cukup hiraukan Kim Ki Bum saja. Kurasa itu lebih baik.

ELVABARI :: “Tidak, tidak. Bagaimana pun aku harus berusaha memikirkanmu untuk cerita ini. Baiklah, setidaknya aku sedikit memberikan kemajuan akan peranmu di sini.

KYUHYUN :: “Yup! Mungkin setelah ini aku akan langsung merebut Park Soo Rin dari Kim Ki Bum. Hahahahah!

ELVABARI :: “Mimpi saja kau, ChoGyu.

KYUHYUN :: “Ish! Jangan patahkan semangatku! Dengan ini ‘kan aku bisa mendalami peran Marcus di cerita ini! Kau ini…

ELVABARI :: “Ya, ya, ya…

KYUHYUN :: “Cah, yeorobun, tolong beri perhatian untuk cerita ini. Akan lebih baik jika kalian mau memberikan cinta untuk cerita ini maka dengan begitu Siska-sshi dapat melanjutkan sekaligus menyelesaikan cerita ini dengan baik. Oke?

ELVABARI :: “Rasanya berlebihan sekali…

KYUHYUN :: “Hei, aku membantu mempromosikan cerita ini, tahu! Begini-begini aku juga termasuk dalam jajaran Raja Iklan! Hahahahaha!!

ELVABARI :: “Percaya diri sekali…

KYUHYUN :: “Apa?

ELVABARI :: “Tidak apa-apa. Lebih baik kita tutup saja percakapan aneh ini.

KYUHYUN :: “Baru menyadari bahwa ini aneh? Heh!

ELVABARI :: “Kau yang memulainya, Setan Jerawat!

KYUHYUN :: “MWO?! YA—

ELVABARI :: “KKEUT!!!

Sebenernya pemeran utama cerita ini siapa sih? Perasaan dari dulu Cho Kyu Hyun mulu yang diinterview wkwk XD

Haaaaaaiii~ abaikan kata kkeut di atas karena sebenarnya ini belum berakhir. Aku mau menyapa para pembaca yang udah menunggu cerita ini, mana suaranyaaaa?? #krikrikrik

Oke, lupakan. Aku mau membuat pengakuan bahwa sebenarnya part ini sudah lama jadi tapi belum kuedit mengingat belakangan ini aku lagi angut-angutan menulis ditambah masalah kemarin hwhwhw Sebenarnya aku mau panjangin lagi cerita ini tetapi takut maksa jadi lebih baik tunggu di part selanjutnya aja yaa >< dan mudah-mudahan bisa segera aku lanjutkan……..jika ada yang masih berminat…. #dessh

Boleh curhat sedikit? Sebenarnya aku masih mager buat posting ini tapi semenjak kejadian beberapa hari lalu di mana aku hampir kehilangan flashdisk satu-satunya dan kesayanganku itu, aku mulai parno. Aku sampe nangis di depan mama, paman, nenek (karena mereka yang ada di tempat ketika hal itu terjadi), mengatakan dengan jujur bahwa sudah terlalu banyak coretan yang kusimpan di sana sampe mereka akhirnya ikutan panik. Aku tidak memikirkan flashdisk-nya yang memang bisa dibeli lagi yang baru, tapi isinya tidak mungkin dibeli yang baru, bahkan tidak ada gantinya. Kecuali jika ada back up maupun soft copy di tempat lain. Masalahnya, tulisanku udah ajeg di sana, cuma dipindah ke blog. Makanya flashdisk itu benar-benar penting. Soalnya ada juga coretan asal yang tidak pernah aku share dan aku biarkan begitu saja mendekam di dalam sana. Hwhwhw…

Tapi syukurlah, ternyata karena kecerobohanku yang suka meletakkan barang sembarangan dan akunya gampang lupa, flashdisk-ku menyimpankan diri ke tempat aman, ngga sih, tapi memang ada yang nyimpenin hihihi.. bahkan sampe benda itu kembali ke tangan, akunya masih nangis dan malah semakin deras nangisnya hahahaha antara lega juga merutuk aku sendiri yang udah ceroboh >,<

Cuma memang sengaja aku jadwal di hari ini. Sebenarnya masih bakalan aku posting lama, tapi, mumpung besok libur kan ya… jadi sekalian buat meramaikan heheheh

Selamat Tahun Baru Imlek bagi siapa saja yang merayakannya~~ biar greget ayuk ketemu sama tokoh-tokoh di sini~ XD

Kim Hee Chul
Kim Hee Chul
Kim Myung Soo
Kim Myung Soo
Park Cho Rong
Park Cho Rong
Marcuss
Marcus
Park Soo Rin
Park Soo Rin

 

Kim Ki Bum
Kim Ki Bum

jangan lupa bagi-bagi angpaonya yaa~ heheheh

Gong Xi Fa Cai ^-^
Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

31 thoughts on “U R [3] – One Step Closer

  1. Aaah suka sama kelanjutannya
    Kira kira ada motif gak yah si marcus nguntit park soo rin ??
    Hmm penasaran sama kelanjutannya

  2. Kyuhyun muncul XD #jingkrak2
    kya ny dah mlai slah fkus ni aq…
    ha3x…
    ya ampun soorin plos n lola bgt ya…
    smp2 aq bca ny ktwa sndri smbl tepuk jdat… 😀
    pnasaran nich ma pa yg bkalan dlakuin kibum kl dia tw kyuhyun mlai dkatin soorin 🙂
    pgn lht seorang kim kibum jealous se jealous2nya.he3x
    Good job author 🙂
    next part dtnggu 😉
    smoga ide2 ny mngalir dgn lncar 🙂

  3. berhubung ngefollo authornya di twitter jadi gitu nongol di tl langsung ngacir k sini hihihi ><

    aku ampe mikir di awal cerita heecul bilang apa sih sama soorin? wkwkw dan berujung pada ngebaca ulang part sebelumnya 😝 yah maapin kebanyakan lupa daripada inget mwahaha
    disini soorin masih malu malu meong banget yak ih kesel deh wkwkw kim kibum juga aku mau donk digodain /apaan /lusiapa 😝😝😝

    dan jeng jeng apa apaan oknum cho kyuhyun disini pake nongol dan kayanya mau bikin perang dunia sama kim kibum ugh! udalah cho soorin ga bakal mau ama lu ama gw aju yukk nganggur nih /ditendang XD

    keep fighting authornim buat nulisnya!! cho kyuhyun buang ajalah jauh2 mwahahaha /dibakarbeneransamachokyuhyun/
    ps. aku masih berharap author nya bikin OC sendiri buat cho kyu biar ga ngereokim soorin muluk kwkwkwk

  4. yuuhuu!! akhirnya netes juga niih cerita #kkk kalo ada suamiKYU malah berasa kyu yang pemeran utama yah (?) haha abisnya kyu mulu niih yang di interview hahaha good jon suamiKYU 😀

  5. Nih aku bagi-bagi angpao berupa komenan 😘😘 (meuni romantis pissan euy pake emot cium segala) :
    1. Myung Soo aka L tuh kayaknya emang demen ye natap orang mentang-mentang tatapannya begtu mengintimidasi 🙀🙀 dan juga mengumbar senyumnya di setiap saat -_- *kagak nyadar kalo itu berimbas padà kesehatan jantung dan pipi para cewek* *apaansih*
    2. Itu Soon Rin gak girang punya temen anak infinite? Wkwkwkwkwk
    3. Hee Chul kasian ya😂😂udah tua, di panggil sunbae, mainnya ama junior wkwkwkw, playboy cap kaki tiga pula wkwkwkwk tapi aku sayang Hee Chul karena Hee Chul cantik *digaplok Hee Chul*
    4. Ada setan ganteng jadi stalker nya Soon Rin! Bum, lo kudu siap-siap bacain yasin kalo itu setan nongol lagi. Saranghae, Cho Buncit!! Semoga cepet dapet jodoh ya😘
    5. Semoga kamu gak lupa naro flashdisk dimana ya Shizuka-ssi. Aku kasih saran, mending kamu gantung di leher seperti kalung gitu jadi kamu bawa kemana-mana. Palingan cuma dilepas saat mandi aja. *aku juga pernah ngalamin hal yang sama bedanya adalah itu flashdisk isinya tugas-tugas MIPA pas SMA semua -_-*

  6. wahh si marcus bakalan jadi orang ketiga nih, kim ki bum kau harus lebih menjaga soo rin agar tidak direbut oleh marcus itu wkk

    setelah sekian lama aku menunggu ehh kok malah nyanyi sihh, akhirnya datang juga ini cerita
    makin seru makin bikin greget sama soo rin nya

    selalu ditunggu kelanjutannya :))

  7. Akhirnya ada yg memberi pencerahan bagi soo rin. Udah gak galau lagi soal apa yg dikata oleh heechul, yahh meski masih sedikit mengganggu sih. Dan sekarang soo rin udah bisa menyapa ki bum lg.
    Yakkk marcus km bener2 stalker ki bum dan soo rin ya? Awas aja kalo ganggu hubuungan mereka.

  8. Kyukyun mah modus mode on aahh 😂
    Soo Rin masih belum lupa juga yah omongan Heechul .. Sampe dipikirin segitu nya ..
    Herchul juga adduuuuuhhh udah tua om masa gak sadar umur sihh .. Hahahahaha kidding ya om .. Tetep ganteng ko hha ..

    Myung Soo huuuaaaaaa tumben kamu bisa ceramah gitu ngasih kebaikan hha .. Kereeeennn .. Sambil ngebayangin mukanya itu haha .. Kalo Soo Rin gak mau hayu Myung Soo oppa sama aku aja yuuu aku singel lhoo /kode keras/ hahaha 😁

    Seru kak .. Ceritanya aku lupa tapi baca lagi hhe jd inget lagi hhe maapin ya kak ..
    Semoga mood sama semangat nulis nya balik lagi ya kak hd makin rajin posting hhe .. Terus jangan sampe teledor juga ya kak ntr nangis masa cantiknya hilang dong hha .. 😂

  9. Oh good…
    bagian dimana soorin dan kibum membuatku salting sendiri.
    seperti terlibat didalamnya.
    dan kedatangan marcus membuatku was-was tentang kelangsungan hidup keduanya yang terancap kepunahan. #plak

    dan dialog antara dirimu dan kyuhyun itu mendapat perhatian tersendiri dariku.. rasanya ingin menggantung pria itu dipohon tomat.. agar berhenti bersikap narsis.. -_-

  10. semoga dengan adanya marcus gk terjadi apa-apa sama soo rin and kibum….. huwaaa kenapa kayaknya kyuhyun oppa disini jadi jahat ya, kyuhyun oppa jangan ganggu hubungan roorin sama kibum jadi temen aja gpp.

    soorin kibum tetep mesra ya…tetep kuat walaupun ada yang ganggu-ganggu dikit tetep bareng-bareng jangan sampek berpisah.

  11. Semoga Kibum dan Soorin cepet menikah dan punya anak sehingga Kyuhyun tidak memiliki kesempatan.
    Semoga Kyuhyun mendapatkan cinta dari seorang perempuan lain sehingga tidak mengganggu hubungan Kibum dan Soorin.
    Semoga Myungsoo juga dapat mengerti arti cinta yang sebenarnya sehingga nggak gonta ganti pacar.
    Semoga Author tetap semangat melanjutkan cerita ini :”)

  12. wahh ternyata Park Soorin cukup terkenal ya dikalangan para pria kkk .. hati-hati Kim Kibum, banyak yg mengincar gadismu tak terkecuali Marcus ^^

    untung ada Myung Soo yang mau menasehati Soorin, kalau gak Soorin pasti udh galau seharian. ish Heenim mah gitu mulutnya, musti di sumpel sama kain biar ga bicara macam”. yak Marcus Cho, jangan macam-macam sama Park Soorin, Soorin hanya milik Kim Kibum begitu pula sebaliknya!! >.<

  13. aiiing si marcus cho pake modusin mau lebih deket sama kimkibum lewat soorin 😒😒
    jujur aja, kalo ada cowo kaya gitu di real life, dia kurang kerjaan banget 😂 dan kalo ada di posisinya soorin, yang ada aku lari 😂😂😂
    uuuh jangan ganggu in kisukisu plssss 😂😂😂
    btw si evil ini julukannya iblis tapi tiap difoto mukanya malah innocent banget 😫😫
    mangaatts siskachii nulisnyaaa 😘😘

  14. Haaaaahhh udah ketinggalan,, di tambah harus nunda dulu bacanya,, maafkn aku ya pacarnya nobita kkkkkk,, tmn ku sudah mou ngajak pergi #curhat mbakkk

    aku baru baca setengahnya,,mafkn aku ya,, nanti d lanjut,,,,

  15. Sekarang tambah marga ya yg suka sama sorin hehe

    semoga hubungan kisso baik” saja ya..chogyu jangan ganggu mereka ya..!

    Cieeee bangkyu mulai d kontrak kkkkk sukses ya bangkyu ?

    And ttp semangt buat yg nulis ceritanya, daaaaaaaaaannnnnn smga ttp menemukan ide” yg menarik untuk ff di blog ini…

    Ttp semangt..:)?

  16. wuaduhhh… kok pihak ketiganya marcus sihh…
    setan gitu pasti halalin semua cara.. tpi malah gk sabar nunggu aksi marcus selanjutnya…

  17. Yeeeaay akhirnya ff yang ditunggu-tunggu muncul juga.. 🙂
    Andwaeee kyuhyun udah ketemu sama soo rin itu, Kim Ki Bum selamatkan park soo rin dari si evil kyuhyun..

  18. wuaaahhh..pas bagian Kibum sama Soorin bikin salting sendiri ><

    marcus cho bakal jadi orang ketiga kah/?
    semoga hubungan kisso
    baik” saja.

  19. angpaonya aku kasih nih, tp berupa komen aja yah hehehe…
    bener kata L kamu harusnya lebih percaya sama priamu yg sudah lama deket sama ka mu Soo rin daripada si lidah pedas Kim Hee chul itu…duh aku baper jdnya pas scene di RS mau dong Ki bum oppa dipeluk #ngarep mereka memang selalu manis, ngefly jdnya…
    si evil muncul buat ngerebut Soo rin, selamat berusaha, dan semoga berhasil #RaguAku
    see you next part siska ❤

  20. wuaahhh…pas bagian Kibum sama Soorin bikin salting sendiri ><

    Markus cho bakalan jadi orang ketiga kah/?
    semoga hubungan kisso baik-baik saja.

  21. Kibum gk perlu takut deh Soo rin ttp cinta mati ama kmu hahahaha…
    jdi gk usah khawatir tahan cemburu mu klau kyu mulai aksi dekatnya sma Soo rin lgian Soo rin gadis yg setia gk gampang tergoda walau kyu tampan

  22. Wowowow
    jd bingung mw stan kibum ato kyu. Huakakakak #evillaugh

    smangat ya lanjutin critanya. Yg lain jugaa
    Unnie gamau bikin wattpad kah? Lg ngetren nih d kalangan aku wattpad. Kalo ad keinginan ditunggu ya😂😂 #nggamaksa

    itu btw myung soo unyu bangettt. Karung mana karungg. Waaa

  23. Sempet lupa-pas baca ada si Jones Kyu jadi inget lagi deh:D , cieee Kyu udah kenalan sama Soo Rin tapi semoga Kyu sadar diri kalo Soo Rin punya Ki Bum dan Cho Kyu sama aku aja hihi , disini Cho Kyu jadi orang ke3 ya? Aduh biasanya juga hubungan dia yang diganggu orang tapi sekarang dia yang ganggu hubungan orang :v si Cho Kyu jadi Orang ke3 mah harus siaga diakan si Evil pasti halalin segala cara buat dapetin Soo Rin tapi Ki Bum cukup kuat buat nahan Soo Rin biar jadi ibu dari anak”nya *asik*

    Seneng deh kalo liat Soo Rin sama Ki Bum interaksi pasti mereka keliatan manis banget ^^ , Daebakk Eon FF-nya disini Cho Kyu-nya bau bau PHO keren banget semoga kontrak Cho Kyu agak lama ^^

  24. Wah ini aku jam segini baru kelar baca ceritamu thor, hahahhaha
    saking penasarannya thor yaampun.
    Cu anet si soorin, gemesin pengen gigit hehehe
    bang kyu, jangan deket deket soorin, ntar lakinya marah hahha

  25. Ya bnr” jangan hiraukan kyuhyun cukup hiraukan kibumie saja kyuhyun biar q ja yg menghirau’a 😀

    tu sh marcus niat bgt suka ma soorin apa cm mo ngisengin kibum sh? Jngan aneh” lah kyu ntar lu bisa dihajar ma hyungmu tu

  26. sejenak aku jadi bayangin salah satu adegan MV apaaa gitu ya, lupa kkk~ *ditimpuk kyuhyun*
    pasti bakal seru nih kalo ada kyu jadi pengacau hubungan kibum sama soorin hohoho *smirk*

    dan untuk kisu couple, always so sweet…
    kalo kibum gemes sama soorin, aku gemes nya sama kibum pengen uyel uyel rasanya >< *gigit bantal*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s