Posted in Category Fiction, Fiction, Fluff, One Shot, PG-17, Romance

Medical Center – That Cold Doctor

10f3meu

Genre :: Fluff-Romance

Rated :: PG-17

Length :: Oneshot

||KiSoo Moment||

Reposted – their moment after OR before Go Home ^^ please read A/N under this story for an explain and some announcement.

H A P PR E A D I N G

.

©2015 ELVABARI

.

“AKU tidak mau makan!”

Soo Rin membekap mulutnya sendiri ketika adik sepupunya itu menyodorkan sesendok bubur buatan rumah sakit ini.

Henry mendesah gusar hingga terpaksa ia memundurkan kembali sendok di tangannya tersebut, meratapi kakak sepupunya itu merengut tidak suka akan makanan di tangannya. Sejak menemani sang kakak di hari ini, Henry mulai merasa kepayahan akan tingkah laku gadis itu. “Noona, mau tidak mau Noona harus memakannya. Bagaimana pun perut Noona harus diisi.”

Soo Rin menggeleng keras. “Itu tidak enak. Aku tidak mau lagi!”

Ya, sejak siuman pasca operasi, Soo Rin sempat dianjurkan untuk menyantap makanan apapun hingga sistem pencernaannya berhasil melakukan proses pembuangan angin. Hanya saja, Soo Rin tidak terpikirkan bahwa makanan yang dimaksud adalah makanan hambar buatan rumah sakit. Awalnya Soo Rin mau bertoleransi dengan mengisi perutnya dengan makanan tersebut selama sehari penuh. Tapi ia mulai jengah hingga di hari ini memilih untuk tidak mau menyantapnya lagi.

“Standar makanan rumah sakit memang harus seperti ini. Tidak boleh ada rasa baik manis maupun asin dalam kadar normal karena itu bisa berpengaruh terhadap kondisi pencernaan pasien yang mengidap penyakit tertentu ataupun masih sensitif. Termasuk Noona sendiri,” jelas Henry dengan ekspresi seriusnya.

Soo Rin memberengut. “Setidaknya beri sedikit bumbu penyedap!”

“Apalagi bumbu penyedap,” sambar Henry. “Bumbu penyedap atau MSG sebenarnya tidak bagus jika dikonsumsi setiap hari. Noona tahu itu, bukan?”

Ugh… tapi bubur dan sayurnya terlalu hambar! Aku ingin makanan lain saja, Henry-ah. Ya?”

Henry menghela napas panjang melihat bagaimana Soo Rin memasang raut memelasnya. “Memangnya Noona ingin makan apa, huh?”

“Aku ingin makan topokki.

“Astaga, Noona…” Henry mendesah frustasi. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran noona-nya ini. “Apa Noona ingin dioperasi lagi, huh? Ki Bum Hyung sudah mengatakan bahwa Noona harus berhenti memakan makanan pedas!”

Gadis itu tampak cemberut di tempat tidurnya, mendengar nama pria itu disebut oleh Henry entah mengapa sudah cukup membuatnya merasa ciut. “Topokki yang tidak pedas…” cicitnya mencoba menyanggah.

“Tetap saja tidak boleh untuk saat ini, Noona!” tegas Henry seraya mengaduk-aduk kembali makanan yang ada di tangannya. Menyendok kembali bubur dengan sup berisi sayur-sayuran tersebut.

Ugh, sebenarnya Henry sendiri sudah bisa menebak bahwa makanan buatan rumah sakit ini pasti tidaklah enak alias hambar. Tidak salah jika Soo Rin merengek tidak berselera untuk menyantapnya. Tapi mau bagaimana lagi? Kakak sepupunya itu baru saja dioperasi dua hari lalu, jadi amat sangat pantang dengan makanan yang membutuhkan waktu lama untuk dicerna oleh perutnya yang masih rentan, seperti tteokbokki makanan kesukaan Soo Rin itu.

Lagipula, kenapa Soo Rin tidak juga kapok dengan makanan itu? Sudah jelas bahwa penyebab dirinya dioperasi adalah karena hobinya yang menyantap jajanan semacam itu yang sebenarnya berdampak tidak bagus jika dikonsumsi setiap hari, ditambah makanan instan juga minuman bersoda yang sudah menjadi menu santapannya yang tidak teratur sejak menjadi seorang pekerja.

Cah, ayo buka mulut Noona!” Henry mencoba kembali menyuapi Soo Rin. Sudah merupakan tugasnya karena kini giliran dirinya yang menjaga sang kakak mengingat hari ini ia tidak memiliki jadwal mengajar kursus musik. Setelah kemarin adalah orang tua Soo Rin yang berjaga.

“Aku tidak mau. Aku mau topokki, Henry-ah… hiks…

Henry justru dibuat semakin gusar melihat Soo Rin mulai terisak layaknya anak kecil yang tidak mendapatkan permen kesukaannya. Bagaimana ini?

“Ayolah, Noona, ini ‘kan demi Noona sendiri. Dengar itu, perut Noona mulai berteriak meminta makan.”

“Tapi… tapi—ugh…

Noona merasakannya sendiri, bukan? Aku bahkan bisa mendengarnya dari sini.”

Hiks… aku mau topokki…

Henry semakin tidak tega melihat mata jernih Soo Rin sudah berkaca-kaca, menandakan sebentar lagi sang empu akan menangis. Apakah segitu menyiksanya memakan makanan rumah sakit ini sampai-sampai noona-nya memelas sedih seperti sekarang ini?

Pria berparas menawan itu hampir menyerah saja dan mengabulkan keinginan noona-nya jika tidak mendengar pintu ruang rawat ini terbuka, menggerakkannya untuk menoleh ke sumber suara lalu melihat pria berjubah putih tengah melangkah masuk. Sejenak Henry merasa lega sebelum akhirnya bangkit dari duduknya.

Hyung, lihat ini! Noona tidak mau makan dan justru ingin tteokbokki,well, pada akhirnya Henry memilih untuk mengadu saja. Menunjukkan bukti berupa kotak makan yang masih terisi utuh pada pria itu.

Serta merta membuat Soo Rin ketar-ketir di tempat tidurnya. Sejenak ia menggerutu di dalam hati akan perbuatan Henry yang sungguh merugikannya saat ini. Soo Rin langsung menundukkan kepala kala pria itu mengambil alih kotak makan dari tangan Henry lalu mendudukkan diri di sisi tempat tidurnya.

Rasa-rasanya pria itu mulai menatap tajam dirinya, juga mengintimidasinya dengan dentingan sendok di dalam kotak makan tersebut, sebelum akhirnya menyodorkan sesendoknya ke hadapannya.

“Kau akan memakan topokki jika sudah keluar dari sini. Sekarang makanlah ini.”

Mendengar suara berat itu mengalun, Soo Rin memberanikan diri memandang pria itu, kembali menguarkan raut memelasnya demi mendapat kelonggaran dari dokternya itu. Hanya saja…

“Makan atau aku tidak akan mengeluarkanmu dari sini, Park Soo Rin.”

Tandas dan tak terbantahkan. Well, meski ancaman tersebut terdengar klasik tapi jika Kim Ki Bum yang mengatakannya, itu terdengar tidak main-main alias merupakan ancaman sungguhan. Maka dari itu, dengan berat hati, Soo Rin yang sedari tadi memblokade mulutnya dari makanan hambar itu kini mengizinkan Ki Bum untuk menyuap sesendoknya.

Sedangkan Henry yang melihat kejadian itu harus berdecak kagum. Melihat bagaimana pria itu berhasil mengalahkan noona-nya hanya dengan deretan kalimat sederhana yang dilontarkan penuh ketenangan namun telak, membuat Henry menggeleng-gelengkan kepala.

“Kau memang dokter yang tak terbantahkan, Hyung. Kenapa kelihatannya mudah sekali mengalahkan Noona?” gumamnya tidak habis pikir.

Ugh, memang sudah sifatnya saja. Dia ‘kan diktator!” gerutu Soo Rin di sela-sela mengunyah potongan wortel dari sup di dalam mulutnya. Ia segera menurunkan pandangannya begitu melihat pria di hadapannya beralih menatapnya.

Memang hanya sebuah tatapan datar, tapi jika dengan sepasang mata tajam milik Kim Ki Bum, sudah cukup membuat jantung Soo Rin berdentum ngeri.

Membicarakan soal kengerian, Soo Rin harus menerima kenyataan bahwa pria itu begitu dingin tanpa ekspresi sejak dirinya bangun di pagi hari kemarin. Tidak ada tatapan hangat maupun senyum yang sempat ia lihat kala siuman pasca operasi di malam hari itu. Seolah apa yang dilihatnya kala itu hanyalah sebuah bunga tidur di sela-sela ketidaksadarannya.

Dia tidak mengerti kenapa Kim Ki Bum seperti berubah. Apa karena dia sedang dirawat? Atau karena dia sudah membahayakan diri sendiri hingga masuk rumah sakit dan dioperasi? Atau karena alasan lain? Bahkan anehnya, orang tua Soo Rin tidak terlihat protes akan perilaku pria itu yang begitu kaku dan dingin seperti halnya kemarin kala mereka menjaga Soo Rin di sini.

“Lebih baik kau pergi ke kantin. Kau juga butuh makan siang, bukan?” kali ini Ki Bum berbicara pada Henry meski tidak menoleh pada sang empunya.

Untungnya Henry mengerti dan mengangguk cepat. Bagaimana pun Henry cukup bersyukur karena pria milik noona-nya itu cukup perhatian padanya. “Okay, Hyung!” sahutnya penuh suka cita. Kebetulan sekali cacing-cacing di perutnya juga mulai berteriak minta makan. “Ah! Apa Hyung ingin menitip sesuatu dari kantin?”

Kini Ki Bum menoleh pada pria itu, berkata, “Kalau begitu satu kotak susu cokelat.”

Soo Rin melebarkan mata, menatap penuh minat pada pria yang baru saja mengajukan kalimat terakhir itu. Susu cokelat… Soo Rin juga ingin minuman itu!

Got it!” Henry membentuk tanda OK dengan jemarinya. “See you later, Hyung! Aku titipkan Noona padamu!” lanjutnya seraya melesat keluar dari sana.

Soo Rin mulai gelisah begitu hanya ada dirinya bersama Ki Bum di ruangan ini. Diam-diam ia menggigit bibir bawahnya karena mulai menginginkan sesuatu. Jantungnya berdegup kencang karena gugup melihat pria itu terus menyuapinya tanpa sepatah kata apapun lagi.

“K-Kim Ki Bum… aku—juga mau susu cokelat…” ia memberanikan diri untuk bersuara, matanya bergerak gelisah karena pria itu langsung menatap lurus dirinya. Menyiutkan nyalinya untuk mengajukan permintaan hingga ia hanya mampu mencicit, “Bolehkah?”

“Boleh.”

Mata jernih Soo Rin mendadak berbinar. “Benarkah?”

“Setelah kau keluar dari sini.”

Lalu meredup seketika, bersamaan dengan kedua bahunya yang langsung mengendur. Lihatlah bagaimana cara Kim Ki Bum menjawab segala pertanyaannya. Tidak ada kesan hangatnya sama sekali. Sebenarnya kenapa Kim Ki Bum menjadi seperti ini padanya?

“Aku sudah kenyang…”

Ki Bum melihat gadis itu membuang wajahnya. Tampak meredup bersamaan dengan bibirnya yang sedikit mengerucut kecut. Sejenak ia menghela napas singkatnya, memejamkan mata untuk beberapa saat sebelum akhirnya menutup kotak makan itu sebelum meletakkannya di meja. Memilih untuk mengabulkan permintaan tidak langsung gadis itu sebelum beralih meraih gelas air mineral untuk ia berikan pada gadis itu.

“Minumlah.”

Sebenarnya Soo Rin ingin membantah, tapi ia sadar bahwa saat ini dirinya tengah berhadapan dengan seorang pria diktator. Karenanya ia kembali meluruskan pandangannya, kini berusaha menghindari tatapan pria itu dengan cara meraih gelas dari tangan besar itu untuk diminum seorang diri.

Ki Bum mengerti benar tingkah laku Soo Rin saat ini. Gadisnya itu sedang merajuk karena dirinya. Tapi dia sengaja untuk tidak membicarakannya untuk saat ini. Itulah mengapa dia bangkit dari sisi tempat tidur Soo Rin, melangkah keluar dari ruang rawat ini.

Seketika batin Soo Rin mencelos melihat bagaimana pria itu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata apapun padanya. Soo Rin masih tidak mengerti, kenapa pria itu bersikap dingin padanya? Kenapa pula pria itu menjadi acuh tak acuh padanya? Apa karena tingkahnya yang memilih untuk tidak menghabiskan makanannya? Seharusnya Kim Ki Bum mengatakan yang sebenarnya, bukan? Jika seperti ini, Soo Rin justru kebingungan sendiri.

“Kenapa dia menjadi menyebalkan?”

Mata jernih Soo Rin kembali berkaca-kaca.

 .

.

Henry kembali ke ruang rawat kakak sepupunya setelah 20 menit lamanya dia mengisi perut di kantin. Mata sipitnya yang menawan itu menangkap sang kakak tengah berbaring menyamping dengan mata tertutup. Ia harus kebingungan karena ternyata di ruangan ini hanya ada sang kakak dan dirinya.

“Apakah Ki Bum Hyung sudah kembali bekerja?” gumamnya perlahan seraya meletakkan sekotak susu cokelat yang sedari tadi dibawanya dari kantin ke atas nakas di sebelah tempat tidur kakak sepupunya.

Eo, Henry-ah, kau sudah kembali?”

Henry melihat Soo Rin membuka mata sebelum kemudian menyapanya. Cepat-cepat ia membantu gadis itu untuk bangun hingga duduk bersandar di atas tempat tidurnya.

“Kupikir Noona tertidur.” Henry melihat bagaimana bibir kecil gadis itu tertarik membentuk ulasan senyum samar. “Ah, benar juga!” kemudian ia teringat sesuatu, mengambil susu kotaknya lalu menyerahkannya pada gadis itu, “Untuk Noona!”

Seketika Soo Rin melenyapkan senyumnya dan berganti memasang raut bingung. Menatap tidak mengerti sekotak susu cokelat itu juga Henry secara bergantian. “Aku ‘kan tidak boleh meminumnya.”

“Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu. Tapi Ki Bum Hyung mengatakan untuk memberikan susu pesanannya pada Noona. Dia bilang bahwa Noona sudah menghabiskan setengah dari makanan Noona. Kurasa sebenarnya ini hadiah darinya.”

Cukup lama bagi Soo Rin untuk mencerna ucapan Henry. Ia tercenung beberapa saat sampai-sampai Henry membuka telapak tangannya lalu meletakkan susu kotak itu di sana.

Cah, karena Ki Bum Hyung sudah berbaik hati memberikan ini untuk Noona, selanjutnya Noona harus menghabiskan makanannya, eo? Mungkin saja jika Noona berhasil melakukannya maka Ki Bum Hyung akan memberikan tteokbokki untuk Noona. Hihi!”

Bibir kecil itu kembali tertarik, kini menciptakan ulasan senyum yang cukup manis hingga Henry melebarkan senyumannya melihat pemandangan itu. Segera ia membantu kakak sepupunya itu untuk membuka sedotannya sebelum menusuknya ke kotak tersebut lalu menuntunnya untuk sampai ke depan mulut sang kakak.

Dan Soo Rin menyeruputnya dengan penuh khidmat, menyerapi rasa cokelat yang menyebar di dalam mulutnya sebelum ia telan perlahan-lahan, merasakan benaknya berdesir menjalarkan sensasi hangat di dalam sana, kala ia semakin memikirkan pria bernama Kim Ki Bum di sela-sela kegiatannya.

Ternyata, seacuh apapun Kim Ki Bum terhadapnya saat ini, pria itu masih menunjukkan perhatian padanya, bahkan mengizinkannya untuk merasakan minuman kesukaannya meski dengan kedok sebagai hadiah untuknya.

****

Esok hari di waktu pagi menjelang sarapan, seorang suster masuk ke ruang rawat bernomor 821 seraya mendorong kereta berisi peralatan medis dengan senyum sumringah. Dia adalah seorang suster yang sudah menjadi perawat tetap di ruangan tersebut, dan tentunya ia mengenal betul pasien yang akan ditanganinya di pagi hari ini.

“Park Soo Rin-sshi, saatnya bersalin!”

Suster itu harus kebingungan mendapati ruangan tersebut tidak berpenghuni. Ia hampir berpikir yang tidak-tidak jika saja pintu di dalam ruangan ini tidak terbuka. Ternyata orang yang dicarinya baru saja keluar dari kamar kecil, dengan langkah yang masih tertatih-tatih serta membawa kantung cairan infusnya, memancing dirinya untuk segera menghampiri sekaligus memapahnya.

Omo, Park Soo Rin-sshi, anda baik-baik saja?”

Soo Rin, gadis itu langsung mengumbar senyum manisnya, membiarkan suster itu membantunya menuju tempat tidur. “Ne, aku baru saja buang air kecil… ah!” gadis itu bergerak mendekati sang suster, membisikkan sesuatu yang langsung direspon berupa raut terpana dari sang suster.

“Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Itu berarti sistem pencernaan anda sudah mulai berjalan lancar!” seru sang suster penuh ceria hingga menular pada gadis itu. “Cah, kini biarkan saya menyeka tubuh anda dan membantu anda mengganti pakaian.”

Soo Rin menurut saja. Ia hanya duduk manis di sisi tempat tidur dan membiarkan suster tersebut menyeka beberapa bagian tubuhnya, menanggalkan bagian atas pakaiannya hingga hanya menyisakan pakaian dalam berupa camisole yang melekat.

“Suster Jung.”

Ne?”

Euh… bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

Wanita yang dipanggil Suster Jung itu mengulas senyum ramahnya. “Boleh. Mungkin saja saya bisa menjawab.”

Soo Rin tampak berpikir untuk beberapa saat. Kemudian dengan ragu ia akhirnya bersuara lagi, “Apakah Dokter Kim sedang sibuk saat ini?”

“Aah, Dokter Kim sedang melaksanakan operasi. Baru dimulai sekitar setengah jam yang lalu.”

“Sepagi ini?”

Ne. Ada kecelakaan di pagi hari tadi tak jauh dari sini, satu korban terluka sangat parah hingga harus segera dioperasi. Untungnya Dokter Kim sudah ada di sini jadi dia yang turun tangan.”

Soo Rin mengernyit bingung. “Memangnya dia tidak pulang?”

Suster Jung justru terkekeh pelan. “Eii, bagaimana dia bisa pulang jika anda berada di sini, Park Soo Rin-sshi?” Suster Jung mencelupkan handuk putih tersebut, melanjutkan, “Saya rasa Dokter Kim belum keluar dari sini sejak anda masuk kemari. Apakah anda tidak tahu?”

Soo Rin tercenung di tempat. Bagaimana dia bisa tidak tahu? Karena setahu Soo Rin, Kim Ki Bum pasti akan pulang di malam harinya dan baru akan kembali di pagi hari—tapi tidak sepagi ini. Mungkinkah pria itu juga menjaganya sepanjang malam? Tapi bukankah ada Henry yang selalu berjaga di sini dan baru akan pulang di pagi hari seperti tadi?

Dia bahkan tidak pernah mendapati pria itu ada di sini tiap ia membuka mata. Apakah pria itu menginap di ruangannya? Kalau begitu…

“Dia tidak pernah pulang…”

Suster Jung yang masih mendengar gumaman lirih itu tersenyum di sela-sela kegiatannya. “Anda merupakan wanita yang beruntung karena memiliki pria seperti Dokter Kim. Saya menjadi penasaran dengan Dokter Kim jika sedang tersenyum pada anda.”

Entah kenapa kalimat penuh memuji itu berhasil membuat Soo Rin tersipu-sipu, juga mulai gugup karena—dengan kurang ajar otaknya memvisualisasikan bayangan Kim Ki Bum yang tengah tersenyum padanya. Heol… “Memangnya dia tidak pernah tersenyum di sini?”

“Tidak pernah.”

Huh?” Soo Rin mengerjap tidak percaya. Tangannya mulai mengibas-kibas, “Eii, itu tidak mungkin! Tidak sopan sekali jika dia memasang wajah datarnya itu terhadap pasiennya.”

“Tapi memang begitulah kenyataannya. Dokter Kim dikenal sebagai pribadi yang begitu dingin dan tertutup. Jangankan dengan pasien, dengan sesama dokter maupun semua petugas di rumah sakit ini tidak pernah ia berikan sekadar senyum ramah. Tapi dengan sikapnya itu membuatnya terkenal sebagai dokter yang misterius. Tidak heran jika banyak wanita yang penasaran dengannya.” Suster Jung terkekeh pelan setelahnya. “Tapi anda tidak perlu khawatir. Saya rasa Dokter Kim merupakan tipe pria yang sangat mencintai anda.”

Soo Rin semakin merona dibuatnya. Oh, astaga, kenapa topik pembicaraan mereka menjadi berujung seperti ini? Bukankah niat awalnya adalah ingin mengetahui kenyataan bahwa pria itu tidak peduli padanya akibat dari sikap dinginnya dari kemarin? Tapi kenapa ia justru mendapatkan sebaliknya?

Jika Kim Ki Bum masih peduli padanya, untuk apa pria itu bertingkah seperti mengacuhkannya sejak kemarin? Kenapa pula pria itu menjadi seperti dokter pemarah yang selalu memberikan tatapan tajamnya kepada tiap pasiennya seperti yang dialami Soo Rin?

“Nah, sudah selesai!” seru Suster Jung menyadarkan Soo Rin dari renungannya. Wanita itu tampak berkutat dengan troli medisnya dan mengambil sesuatu dari sana. “Ini titipan dari Dokter Kim. Dia mengatakan bahwa anda harus menggantinya dengan ini.”

Soo Rin menerima sebuah tas mungil seperti tas perlengkapan mandi untuk bayi tersebut. Membuka resletingnya, tak lama wajah Soo Rin memanas setelah melihat isinya. Langsung saja ia bangkit dari duduknya yang serta merta menarik perhatian Suster Jung untuk menuntunnya.

“A-aku ke kamar kecil dulu…” pamitnya dengan suara lirih. Ia segera melepas diri dari pegangan Suster Jung lalu melangkah tertatih-tatih mendekati pintu kamar mandi.

“Butuh bantuan?”

Soo Rin menggeleng cepat tanpa menoleh pada Suster Jung. Tidak melihat betapa gelinya Suster Jung saat ini.

Meski tidak melihat, Suster Jung sudah dapat menebak apa isi dari tas tersebut. Apalagi memperhatikan dengan mata kepala sendiri bagaimana reaksi gadis cantik itu yang semakin membuatnya iri saja.

Aigoo, dia benar-benar beruntung bisa mendapatkan Dokter Kim.”

****

Soo Rin mulai bosan karena hanya menonton televisi di dalam ruang rawat inapnya ini. Bibir bawahnya ia majukan, meniup-tiup memainkan poninya yang mulai memanjang dengan titik kejenuhan yang semakin menjadi.

Dia sudah menghabiskan sarapannya setelah berjuang melawan ketidakseleraannya terhadap makanan hambar itu hampir satu jam lamanya. Tanpa bantuan maupun ditemani siapapun. Suster Jung tentunya sudah keluar dari sini setelah menyelesaikan tugasnya membantu mengganti pakaiannya. Mungkin akan kembali lagi di saat waktunya untuk mengganti kantung infus. Sedangkan kerabatnya, mungkin entah Henry maupun Sae Hee baru akan menjenguknya di siang hari nanti, bersama kedua orang tuanya.

Ugh, tidak ada yang menarik!” keluhnya setelah berkutat cukup lama mengganti berbagai channel yang ada. Pada akhirnya Soo Rin mematikan televisi tersebut lalu menyimpan remote control tersebut ke atas nakas. Kemudian membaringkan tubuhnya dengan nyaman.

Suasana berubah begitu sunyi dan itu justru mengganggunya untuk membayangkan pria itu. Wajahnya merengut kala nama Kim Ki Bum terlintas di dalam otaknya. Oh, baiklah, Soo Rin mengakui bahwa dia merindukan dokter menyebalkan yang merangkap sebagai prianya itu. Terlepas dari perilakunya yang begitu mengesalkan karena sudah menelantarkannya sejak kemarin hingga sekarang, tidak dipungkiri bahwa ia ingin melihat wujudnya kembali.

Hei, itu adalah hal yang wajar, bukan? Bahkan sudah semestinya dia bertemu dengan pasangan hidupnya itu dalam kondisi seperti apapun.

Tapi, Soo Rin bahkan belum melihat Kim Ki Bum di hari ini. Pria itu belum berkunjung ke kamarnya sejak ia membuka mata di pagi hari ini hingga sekarang dengan alasan menjalankan operasi mendadak. Lalu setelah itu, apa? Apa dokter itu mulai disibukkan dengan tugas beserta tetek-bengeknya itu?

Ish!” Soo Rin merasa gemas sendiri. Kesal karena membayangkan bagaimana seorang Kim Ki Bum tidak mengingatnya yang masih dirawat di tempatnya bekerja dan lebih memilih untuk menangani pasien-pasien yang membutuhkan di luar sana. Tapi, hei! Soo Rin ‘kan juga pasiennya! Apa pria itu lupa dengan kenyataan itu?!

Apa karena Soo Rin sudah ditangani oleh Suster Jung maka Kim Ki Bum mengabaikannya? Begitu?!

Merasa tidak tahan lagi, Soo Rin akhirnya bangkit dari tidurnya. Mata jernihnya menatap tajam pada pintu masuk ruangannya ini yang di saat itu juga terlintas ide di dalam kepalanya.

Bagaimana jika Soo Rin pergi ke ruangan Kim Ki Bum saja? Mungkin saja pria itu ada di sana, bukan?

Tunggu… Kau yakin ingin pergi ke sana?

Ugh, dia tidak akan macam-macam seperti sebelum-sebelumnya!” sugestinya di sela-sela rasa panas yang tiba-tiba menjalar ke kedua pipinya. Karena dengan sialannya Soo Rin mengingat kejadian yang selalu membuatnya panas-dingin tiap berada di ruangan pria itu.

Ya, Kim Ki Bum tidak akan melakukannya. Soo Rin ‘kan sedang sakit.

Lagipula, Soo Rin masih ingat ucapan Kim Ki Bum bahwa dia harus mulai bergerak. Jadi, tidak ada salahnya Soo Rin melepas rasa bosannya dengan berjalan-jalan, bukan?

Merasa yakin, Soo Rin akhirnya turun dari tempat tidurnya, mengenakan sandal rumah sakit ini, lalu menarik infuse stand yang menggantung kantung infusnya, menggeretnya keluar dari ruangan dengan langkah perlahan.

Tanpa menyadari bahwa waktunya sebenarnya tidaklah tepat untuk dirinya keluar dari tempatnya itu.

.

.

Suster Jung kembali setelah 3 jam lamanya meninggalkan gadis itu di ruangannya. Sambil mendorong kereta troli seperti biasa, juga senyum ramahnya yang sumringah, ia memasuki ruangan tersebut seraya berseru menyapa.

“Park Soo Rin-sshi, saatnya mengganti infus!”

Namun senyum sumringah milik Suster Jung segera lenyap begitu sepasang matanya melihat tempat tidur ruangan ini sudah kosong, bersama dengan infuse stand-nya yang juga menghilang entah ke mana. Ia segera beralih menelisik seluruh sudut ruangan, batinnya mulai dirundung cemas ketika kini ia memeriksa kamar kecil milik ruangan ini.

Tidak ada siapa pun di sini!

Tanpa mempedulikan apa yang sempat dibawanya, Suster Jung berlari keluar dari ruangan ini, dengan raut panik serta kekhawatiran yang terpancar begitu jelas di wajahnya.

.

Gadis itu menoleh ke kanan dan kirinya demi melihat situasi. Kondisi koridor ini memang lengang, sepi, hanya ada dirinya di sini. Hingga akhirnya meraih gagang pintu yang sudah bertengger di hadapannya, membuka daun pintu tersebut perlahan lalu menyembulkan kepalanya ke dalam, memeriksa isi di balik pintu tersebut.

Ternyata tidak ada siapapun di dalam sana.

“Kukira dia ada di sini,” gumamnya serta melebarkan pintunya demi memudahkannya untuk masuk. Menarik infuse stand yang sebenarnya cukup merepotkannya untuk dibawa, namun mengingat dirinya masih membutuhkan asupan cairan infus tersebut, mau tidak mau ia menggeretnya perlahan-lahan, mengimbangi langkahnya yang masih tertatih-tatih.

Yeah, Park Soo Rin benar-benar melakukan kegiatan jalan-jalannya. Berpikir bahwa dia akan lekas sembuh jika banyak bergerak seperti ini, mendorongnya untuk mencari tempat yang lebih luas dibandingkan ruang rawat inapnya sendiri. Juga berpikir ingin bertemu dengan pria—menyebalkan—nya itu di sini, maka ia melangkah kemari setelah berkeliling cukup lama. Well, tidak seperti yang dipikirkan. Hanya berkeliling dari satu lantai ke lantai ini. Lagipula jaraknya hanya satu lantai di atas lantai tempat ruang rawat inapnya.

Tapi sayangnya, pria itu sedang tidak ada di dalam ruangannya.

Soo Rin terpaksa menghembuskan napas lelahnya. Ya, dia lelah karena sudah berjalan kaki seorang diri dengan menggeret infuse stand ini. Ditambah dengan staminanya yang belum pulih benar, membuatnya mudah sekali merasa lelah seperti sekarang.

“Mungkin Kim Ki Bum memang masih sibuk,” gumamnya lagi begitu melirik jam dinding yang terpasang di satu sisi dinding ruangan ini. Ini masih tergolong pagi dan biasanya saat ini merupakan awal pria itu bekerja, bukan?

Pada akhirnya Soo Rin menutup pintu ruangan ini setelah berhasil masuk, kemudian melangkah tertatih menuju sofa yang tersedia, mengistirahatkan diri untuk beberapa saat.

Kira-kira kapan Kim Ki Bum akan mendatangi ruangannya ini? Pikir Soo Rin kala menyamankan diri di sana. Lalu tanpa sengaja pandangannya jatuh ke punggung tangan kirinya di mana jarum infus menancap di sana.

“Oh?!”

Mata jernihnya melebar, memancarkan binar keterkejutannya, melihat apa yang terjadi dengan punggung tangannya itu.

.

“Dokter Kim!”

Merasa terpanggil, pria yang baru saja keluar dari salah satu ruang rawat inap bersama rekan-rekan operasinya itu kini menoleh ke belakang. Kim Ki Bum, mendapati Suster Jung tengah berlari-lari mengampirinya dengan raut panik serta keringat yang mulai membasahi sisi-sisi wajahnya itu.

“Ada apa?”

Suster Jung tampak tersengal-sengal, mengatur napasnya yang begitu cepat sebelum akhirnya menjawab dengan terbata-bata, “Pa-pasien Park… Park Soo Rin… tidak ada di ruangannya. Dia—menghilang, Dokter Kim!”

“Apa?!” Jae Kyung yang berdiri di samping Ki Bum bereaksi terlebih dahulu, diikuti rekan lainnya yang memasang raut terperangah setelah mendengar pengaduan dari Suster Jung. “Bagaimana bisa?”

“S-saya tidak tahu. Ketika saya mendatangi ruangannya untuk kontrol, ruangannya sudah kosong—”

Suster Jung terpaksa menghentikan laporannya kala pria itu langsung meninggalkan kelompoknya. Berlari begitu saja sampai-sampai ia kewalahan untuk menyusul. Bagaimana pun Suster Jung harus bertanggung jawab mencari keberadaan pasiennya itu, bukan?

Ki Bum menuju lantai di mana ruang rawat inap Soo Rin berada. Memastikan bahwa gadis itu… tidak mungkin hilang, bukan?

Ya Tuhan, bagaimana bisa dia tidak memeriksa keadaan gadis itu terlebih dahulu tadi? Bagaimana kondisinya dan sudah sejauh mana gadis itu mulai pulih. Dan sekarang, dia harus kalang kabut mendengar laporan dari Suster Jung bahwa gadisnya menghilang!

Tentunya tingkah seorang Kim Ki Bum yang sedang kalut berlari-larian di sepanjang koridor sudah cukup menarik perhatian orang-orang sekitar. Apalagi bagi para perawat maupun dokter yang mengenalnya dan kebetulan berpapasan dengannya, setidaknya ada sebersit pertanyaan yang melintas di batin mereka.

Oh, apakah itu Kim Ki Bum? Tidak biasanya melihat Dokter Kim itu panik dan sedikit lupa diri seperti sekarang ini.

 .

Soo Rin keluar dari ruangan Ki Bum dengan raut cemas. Langkahnya yang tertatih juga terseok hampir menyandung dirinya sendiri karena memaksa untuk cepat-cepat. Ia terus melirik punggung tangan kirinya, meratapi jarum infus tersebut kini tengah menghisap darah dari dalam tubuhnya karena sudah tidak mengaliri cairannya.

Dia lupa bahwa seharusnya saat ini sudah waktunya mengganti kantung infus. Sebuah fakta bahwa jika kantung infus sudah kosong alias habis, akan beralih menghisap darah berkat jarumnya yang terus menancap tanpa adanya dorongan aliran.

Dan Soo Rin tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. Sedangkan jarum infus di tangannya terus saja menghisap hingga kini sudah ada seperempat dari panjang selangnya berubah menjadi berwarna merah. Dia ingin mencabutnya, tapi sepertinya tidak bisa sembarang cabut karena salah bertindak maka punggung tangannya akan terluka.

Maka dari itu, Soo Rin ingin segera kembali ke kamarnya. Mungkin saja Suster Jung sudah datang dan sedang mencari keberadaannya—

Oh, tidak… bagaimana jika Suster Jung menganggap dirinya menghilang atau melarikan diri?!

.

Ki Bum membuang napas secara kasar sebelum berbalik. Kenyataan bahwa kamar gadis itu benar-benar kosong membuatnya semakin gelisah. Batinnya mulai merutuk ke mana perginya gadis itu saat ini.

Ia berlari menuju lift dan hendak menekan tombol panah bawah ketika otaknya berputar dengan cepat menemukan sebuah gagasan. Langsung saja jari telunjuknya merangkak naik dan menekan tombol panah atas yang mana dia hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 5 detik—namun terasa begitu lama baginya—untuk menunggu pintu besi itu terbuka.

Benar saja, tebakannya memang benar. Begitu lift berhasil membawanya ke lantai tujuan, Ki Bum melihat tepat di balik pintu lift yang telah mengantarnya ini, gadis yang menjadi objek pencariannya tengah berdiri kaku. Mungkin ia tengah menunggu lift ini, tapi Ki Bum segera menghalanginya dengan berdiri tepat di hadapannya. Dan harus menghela napas amat panjang. Merasa lega karena menemukan Park Soo Rin, bersamaan dengan emosi lainnya yang seolah berlomba untuk ia tumpahkan pada gadis ini.

“Dari mana saja?”

Soo Rin menelan saliva dengan gugup. “Aku… jalan-jalan… sesuai dengan nasihatmu.”

“Tapi tidak tanpa izin, Park Soo Rin,” sambar Ki Bum dengan nada dinginnya. Mata tajamnya mulai mengintimidasi gadis yang memilih untuk menundukkan pandangannya kini. “Kau tahu bahwa Suster Jung panik mendapati kamarmu kosong, dia melapor padaku dan… Ya Tuhan, sudah berapa lama kau kabur dari kamarmu, huh?”

Soo Rin dapat mendengar adanya nada kesal di balik ucapan Ki Bum. Apalagi pria itu menekan kata ‘kabur’ yang telak memojokkannya saat ini juga.

“Aku mengizinkanmu untuk banyak bergerak pasca operasi, tapi dalam artian dengan pengawasan bukan seorang diri, apalagi di luar teritorimu, Park Soo Rin!”

“Maaf…”

Ki Bum harus memejamkan mata demi meredakan emosinya yang hampir lepas kendali. Seperti biasa, kata maaf dari mulut Soo Rin seperti bumerang baginya yang seketika menyadarkan bahwa dia sudah memarahi gadisnya sendiri. Apalagi—ugh… dia kembali memarahi gadisnya di tempat seperti ini. Begitu membuka mata, Ki Bum diperlihatkan bagaimana rupa selang infus yang tersambung ke tangan Soo Rin.

Oh, dia hampir lupa bahwa ini waktunya Soo Rin mengganti kantung infus, bahkan sudah lewat sampai-sampai selang itu berubah merah karena darah yang terhisap dari sana. Langsung saja Ki Bum mencabut selang infus tersebut dari kantungnya demi menghentikan laju hisapnya. Kebetulan ada seorang suster baru saja bertugas dari salah satu kamar mendorong troli medis dan Ki Bum memanggilnya untuk mendekat. Memberikan kantung infus milik Soo Rin yang sudah kosong beserta selangnya yang telah kotor, juga jarumnya yang berhasil ia cabut perlahan dari kulit punggung tangan Soo Rin, kemudian meminta sedikit kapas juga plester untuk menutup bekas tusukan di sana.

Begitu selesai, suster itu undur diri, begitu juga dengan Ki Bum yang pergi menarik infuse stand… meninggalkan Soo Rin yang mengantar kepergiannya dengan kebingungan.

“Kim Ki Bum…” Soo Rin tidak berani memanggil dengan keras. Sudah pasti bahwa pria itu tidak mendengar mengingat ia terus saja menarik benda tersebut. Soo Rin mencoba untuk mengikuti tetapi dengan langkahnya yang masih lamban tidak berhasil menyusul pria yang semakin jauh di depannya.

Kenapa rasanya menyesakkan melihat pria itu pergi tanpa sepatah kata apapun kepadanya? Kenapa pria itu menjadi semakin dingin padanya? Apa Kim Ki Bum benar-benar marah padanya?

Soo Rin tahu bahwa perbuatannya adalah salah tapi, apa kesalahannya sudah sangat besar sampai-sampai rasanya pria itu membutuhkan waktu untuk mau bicara padanya lagi? Bahkan sampai meninggalkannya seperti baru saja—begitu saja.

Soo Rin menundukkan kepala, menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca, pandangannya mulai mengabur dan ia segera menggigit bibir bawahnya demi menahan gejolak perih yang hendak menyeruak. Apa yang harus Soo Rin lakukan sekarang? Dia ingin kembali ke kamar rawat inapnya, tapi jika dengan keadaannya yang seperti ini, apa dia bisa?

Setidaknya, Soo Rin ingin mendapat kesempatan untuk meminta maaf sekali lagi pada Kim Ki Bum. Tapi, apa dia bisa mengingat sikap Kim Ki Bum yang terasa begitu jauh dari jangkauannya itu?

“Kau masih berani bergerak setelah aku menegurmu?”

Cepat-cepat Soo Rin mendongak, matanya mengerjap cepat begitu melihat pria itu sudah berdiri kembali di hadapannya. Dan Soo Rin tidak mengerti, kenapa dan sejak kapan Kim Ki Bum ada di hadapannya lagi?

“Kau ingin melawan teguran dari doktermu sendiri?”

Soo Rin mulai kembali gugup. Mendengar suara sekaligus tatapan mengintimidasi seorang Kim Ki Bum sudah berhasil membuat nyalinya semakin menciut. Oh, ya ampun, apa lagi kesalahannya?

“A-aku—hanya…”

Belum selesai, Soo Rin terpaksa menelan suaranya yang sempat berhasil dikeluarkan—kala pria itu merangsek maju, tangan-tangan besarnya bergerak begitu cepatnya merengkuh punggung Soo Rin juga menyusup ke bawah lututnya hingga Soo Rin merasakan tubuhnya melayang yang reflek kedua tangannya mencari pegangan.

Wajah cantiknya mulai menampakkan rona kemerahan berkat perilaku pria ini, yang berhasil membawa dirinya ke dalam gendongannya dengan begitu mudah. Dan mulai membawa dirinya dalam langkah-langkah lebar di sepanjang koridor-yang-seperti-apa-itu.

“K-Kim Ki Bum—”

“Aku tidak menerima keluhanmu dalam bentuk apapun.”

Dan Soo Rin terpaksa membungkam mulutnya lagi, menundukkan kepala menyembunyikan wajah meronanya ke balik bahu lebar pria itu.

****

Soo Rin hampir mati rasa karena terus saja menghela napas pilu. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan ia belum bisa memejamkan mata. Tidak seperti biasa. Padahal dia sudah bisa menerima kenyataan bahwa ia dilarang menonton televisi di atas pukul delapan malam.

Sebenarnya itu dikarenakan masih mengingat kejadian tadi pagi di mana pria itu kembali marah padanya. Terlepas dari apa yang sempat dilakukan Kim Ki Bum sebagai bentuk perhatian untuknya, tetap saja Soo Rin merasa miris karena pria itu semakin dan semakin dingin saja. Apalagi, Soo Rin hanya bisa melihat Kim Ki Bum dalam hitungan detik saja. Pria itu seperti hanya menumpang lewat dengan alasan ingin melihat apakah Soo Rin memakan makanannya atau tidak lalu pergi begitu saja.

Sebenarnya apa mau si Dokter Kim itu, sih?

Menghela napas panjang nan beratnya, kini Soo Rin mencoba untuk memejamkan mata. Menepis segala perasaan yang bisa membuatnya semakin merana saja. Lebih baik dia beristirahat supaya cepat pulih dan cepat keluar dari sini. Dan ia bisa berbalik memarahi pria diktator itu sebagai bentuk pembalasannya!

Hanya saja, belum ada lima menit Soo Rin terpejam, indera pendengarannya menangkap suara pintu ruangannya ini terbuka, memancingnya untuk membuka mata kembali sebelum kemudian menyesali perbuatannya ini.

Karena pria itu ternyata orang yang masuk ke dalam ruangannya.

Ki Bum menatap datar gadis yang mulai memandang ragu dirinya. Mata bermanik hitam di balik bingkai kacamata itu tampak menyorot amat tajam. Ia menyimpan kedua tangannya di balik saku jubah putihnya yang belum ia tanggalkan mengingat sebenarnya waktu jam kerjanya sudah habis.

Oh, bahkan rasanya baru kali ini Soo Rin melihat pria itu masih mengenakan kacamatanya di waktu senggang seperti ini.

“Kenapa kau belum tidur?”

Soo Rin menelan saliva diam-diam. Menyadari pertanyaan penuh mengintrogasi itu. “Aku tidak bisa tidur,” memilih untuk menjawab dengan jawaban pasaran, tapi sebenarnya ia mulai tergagap berkat tatapan datar namun mengintimidasi itu.

“Kau tidak akan keluar dari sini jika memejamkan mata saja terasa sulit untukmu.”

Hanya dalam satu tarikan napas nan singkat, ucapan yang terdengar ringan itu ternyata cukup tajam untuk menusuk gendang telinga sekaligus benak Soo Rin. Mulutnya terkatup rapat tidak berani membantah. Apalagi pria itu kini beralih fokus pada tempat tidurnya, membenarkan sandarannya hingga kini membuatnya terbaring lebih nyaman, kemudian memeriksa saluran infusnya yang kini sudah berpindah ke punggung tangan kanannya, sebelum akhirnya kembali melemparkan tatapan tajamnya pada Soo Rin.

“Jangan membuang waktu istirahatmu dengan melamun.”

Soo Rin terpaksa merasakan batinnya mencelos melihat bagaimana pria itu memutar tubuh tegapnya dan membuka langkah. Seperti dirinya hanyalah orang lain yang cukup diberi peringatan kecil tanpa embel-embel perhatian lain. Sebenarnya kenapa pria itu terlihat seperti tidak peduli padanya sama sekali?

“Kenapa kau melakukan ini padaku?”

Soo Rin melihat pria itu menghentikan langkahnya. Dia tidak tahan lagi untuk tetap diam. Tidak kuasa lagi melihat bagaimana sikap pria itu padanya. Dia butuh penjelasan, dia butuh atensi dan dia butuh perhatian lebih dari pria itu lagi. Masa bodoh jika saat ini dia terlihat seperti tengah mengemis pada prianya sendiri.

“Kenapa kau bersikap dingin padaku? Kenapa kau mengacuhkanku? Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?” lirihnya tersendat. Ia memberanikan diri untuk terus menatap pria itu meski saat ini tidak mendapatkan balasannya. “Apa kau masih marah padaku—mengenai kejadian tadi… atau bahkan mengenai penyebab aku berada di sini sekarang? Atau karena aku sudah membuatmu kerepotan menjadikanku sebagai pasienmu, huh?” suaranya mulai bergetar hingga ia terpaksa mencari kekuatan dari selimutnya. “Setidaknya katakan sesuatu padaku. Kenapa kau seperti berubah ingin mencampakkanku?”

Ki Bum berbalik, sejenak ia terdiam melihat bagaimana gadis itu sudah terduduk menyedihkan di atas tempat tidurnya dengan raut meredup. Dia masih melihat bagaimana mata jernih itu tampak mengembun dan siap menumpahkan cairannya kapan saja. Diam-diam ia mengepalkan kedua tangannya di balik saku jubah putihnya, melihat bagaimana sedihnya gadis itu akibat dari perbuatannya.

“Sudah selesai bicaranya?”

Soo Rin hampir berjengit mendengar suara berat itu mengalun memecah keheningan sesaat, di waktu bersamaan batinnya kembali mencelos sekaligus mendesah pilu karena melihat bagaimana pria itu memberi respon akan segala keluh kesahnya. Tidak berarti sekali rasanya dia menumpahkan segala kebingungannya yang sudah berhasil membuatnya seperti sekarang. Membuatnya harus menggigit bibir bawahnya keras-keras karena saking perihnya pelupuk matanya saat ini hingga mengaburkan pandangannya.

“Ya, aku sudah selesai…” lirihnya, terdengar semakin bergetar karena menahan tangis, ia akhirnya menunduk dalam-dalam, melanjutkan, “Maaf karena sudah melawanmu, Dokter Kim…”

Soo Rin membaringkan tubuhnya kembali, menarik selimutnya hingga batas dada, lalu memejamkan mata rapat-rapat. Yang saat itu juga buliran hangat itu meluncur dari sudut matanya, hingga kedua tangannya mengepal meremas ujung selimutnya penuh gemetar. Berjuang untuk tidak mengeluarkan isakan yang mungkin akan terdengar konyol bahkan menggelikan untuk pria yang masih berdiri di sana.

Ki Bum tampak memejamkan mata terlampau rapat, menarik napas tertahan karena masih melihat gadis itu di bayang-bayangnya. Ia menggeram penuh emosi sebelum akhirnya kembali mendekati tempat tidur itu seraya melepas kacamatanya dan meletakkannya begitu saja di atas nakas.

Hingga kemudian Soo Rin merasakan bagaimana tempat tidurnya bergerak seperti ada seseorang duduk di sisi kirinya, dan detik kemudian harus merasakan sengatan yang amat mengejutkan hingga ia kembali membuka mata, merasakan sentuhan telak di bibirnya yang ternyata pria itu merupakan pelakunya. Dengan kedua tangan bertumpu di kedua sisi tubuhnya, mengurungnya begitu rapat, pria itu menciumnya dengan gerakan cepat, melumat bibirnya penuh gemas sekaligus menekannya hingga Soo Rin kewalahan. Tangan-tangannya beralih mencengkeram jubah putih yang dikenakan oleh pria itu tepat di bagian dada, mendorongnya tanpa tenaga begitu merasakan ciuman pria itu semakin terasa membakar dirinya

Jantung Soo Rin bertalu-talu hilang kendali di rongga dadanya, perutnya seperti diaduk karena berdesir hebat, serta wajahnya yang memanas berkat perilaku seorang Kim Ki Bum. Matanya kembali terpejam begitu merasakan material lunak menjulur di sela-sela panasnya bibir penuh itu dan ikut menyapu bibirnya.

Dan Soo Rin harus meraup udara sebanyak mungkin begitu Kim Ki Bum melepas pagutan panasnya, menyisakan jarak yang sebenarnya masih sangat minim mengingat hidung mereka masih bersentuhan, ditambah dengan hembusan napas yang terasa panas kini saling beradu yang justru semakin menciptakan keintiman di antara mereka. Mata sayunya tidak bisa beralih lagi kala iris hitam yang tampak menggelap itu menghunusnya hingga terkunci seperti sekarang ini.

“Apa kau tidak mengerti?” suara berat Ki Bum mengalun serak, memberikan sensasi menggetarkan karena mengucapkannya tepat di depan bibir kecil gadisnya ini, “Aku melakukannya karena aku tidak mau hilang kendali. Aku melakukannya karena aku tidak mau menepis kenyataan bahwa kau tidak bisa kusentuh untuk waktu yang entah sampai kapan. Kau berada dalam kondisi di mana dirimu tidak bisa membalas atau bahkan melawanku jika seandainya saja aku menyerangmu seperti sekarang ini, kau tahu?”

Soo Rin menelan saliva kepayahan. Wajahnya semakin merona menangkap maksud dari ucapan Ki Bum.

“Aku seperti ini karena kau sedang terluka, dan aku harus melindungimu dari diriku sendiri. Aku seperti ini karena aku menahan diri, Park Soo Rin,” gumamnya seraya memejamkan mata, menggeram tertahan. “Tapi kau justru berpikir bahwa aku menganggapmu pasien yang merepotkan, bahkan menganggapku tengah mencampakkanmu—ya Tuhan, kenapa kau bisa berpikir seperti itu?”

Soo Rin bisa mendengar dengan jelas bagaimana seorang Kim Ki Bum begitu frustasi, karena dirinya. Melihat dengan jelas bagaimana pria itu berusaha keras untuk menahan diri dalam kondisi mereka yang sudah terlanjur seperti ini. Soo Rin tidak menyangka bahwa Kim Ki Bum bisa seperti ini hanya karena dirinya. Itu menunjukkan bahwa betapa besarnya pengaruh dirinya terhadap Kim Ki Bum.

Soo Rin tidak menyangka bahwa dia bisa membuat seorang Kim Ki Bum begitu frustasi karena harus menahan diri untuk tidak menyentuhnya.

Astaga, jadi karena itu maka Kim Ki Bum bersikap dingin padanya? Dan tidak pernah menyentuhnya sejak ia sadar dari operasinya…

“M-maafkan aku…” ucap Soo Rin pada akhirnya. “Tapi, aku lebih memilih kau tidak bersikap acuh padaku daripada harus merasa diacuhkan. Aku lebih memilih kau yang selalu—me-menatapku dengan baik-baik, bukan terlihat galak. Aku tahu bahwa kau seorang dokter yang tidak pernah tersenyum tapi, apa karena aku juga seorang pasien maka kau menjadi seperti ini…” lirihnya yang segera mendapat tatapan meneduhkan dari manik hitam itu. Dan sungguh, dia merindukan tatapan itu. “Apa kau tidak mengerti apa yang kumaksud?” cicitnya mulai salah tingkah.

Ki Bum menerbitkan senyumnya, setelah begitu lama ia berusaha untuk menyimpannya beberapa hari ini, berkat mendengar ungkapan penuh kejujuran dari Soo Rin yang justru menghangatkan benaknya. Meski ada makna tersirat pula di sana, tapi Ki Bum bisa menangkapnya, karena Ki Bum mengerti bahwa gadis ini pasti kesulitan untuk mengungkapkannya.

“Aku mengerti,” dan Ki Bum tidak bisa menahannya lagi, menyentuh tubuh gadisnya, melingkarkan tangan-tangannya ke bawah tubuh gadisnya sebelum mendaratkan bibirnya ke atas permukaan candunya, lalu bergerak membisikkan lanjutan ucapannya, “Aku juga merindukanmu,” sebelum kemudian menekannya lalu melumatnya kembali dengan perasaan membuncah.

Kini Soo Rin memejamkan mata dengan senang hati, merasakan sensasi yang begitu mendebarkan juga menggetarkan sekujur tubuhnya melalui ciuman penuh rasa dari prianya. Mengizinkan Ki Bum untuk menyapu seluruh permukaan bibirnya, memanjakannya dengan hisapan menggebu yang membuatnya serasa terbang ke awang-awang. Hingga tangan-tangannya kini beralih memeluk leher prianya ini, sebagai bentuk pembalasan akan ungkapan dan perilaku pria ini, bahwa dia memang amat sangat merindukannya.

****

Ki Bum memeriksa selang infus yang terjulur di hadapannya saat ini, menyentuhnya untuk kesekian kalinya demi memeriksa lajunya yang sebenarnya tidak berubah. Dia hanya sedang mewanti mengingat selang tersebut terulur nyaris tegang dan memastikan bahwa itu tidak akan menyakiti tangan gadis di pelukannya ini.

Ya, saat ini Ki Bum tengah ikut berbaring di tempat tidur Soo Rin, mendekap gadis itu di dalam selimut yang sama—membiarkan Soo Rin memeluk erat dirinya sekaligus membenamkan kepalanya ke dada bidangnya. Ia bahkan sudah menanggalkan jubah putihnya dan mencampakkannya begitu saja hingga kini menyisakan kemeja abu-abunya dengan bagian lengan ia lipat hingga batas siku.

Matanya beralih merunduk, memeriksa gadis yang tampak begitu nyaman terlelap di pelukannya, bahkan di atas tempat tidur yang sebenarnya begitu sempit mengingat kapasitas hanya untuk satu orang. Ki Bum juga tahu diri bahwa dia tidak bisa seenaknya memeluk tubuh gadisnya ini hingga rapat mengingat ia bisa saja menekan bagian bawah perut yang masih dibalut kain kasa di balik pakaiannya. Pada akhirnya, ia hanya mampu melingkarkan tangan kekarnya pada punggung kecil itu, menepuknya perlahan dan teratur sebagai bentuk meninabobokan gadisnya ini.

Setelah kejadian ciuman tadi, Ki Bum hampir benar-benar lepas kendali dengan menindih tubuh yang masih rentan ini dan berniat untuk menguasainya, tapi beruntung alarm di dalam kepalanya masih berfungsi dan menghentikan semuanya sebelum berlanjut lebih jauh. Dia hampir dibutakan gairahnya sendiri mengingat setelah cukup lama tidak menyentuh gadisnya ini dalam waktu yang cukup lama.

Karena sungguh, Park Soo Rin merupakan pengaruh sekaligus kelemahan terbesarnya dalam urusan menahan diri. Itulah mengapa beberapa hari ini ia nemilih untuk menjaga jarak dari Soo Rin dengan menunjukkan sifat dinginnya sebagaimana dirinya menjadi seorang dokter di sini.

Tapi Ki Bum tidak menyangka bahwa pilihannya justru membuat Soo Rin salah paham terhadap dirinya.

Ki Bum mengerjap tersadar ketika merasakan pergerakan kecil di dalam dekapannya. Menunduk memeriksa bahwa ternyata gadis itu tengah mencoba meringkuk ke dalam dadanya disertai lenguhan pelan yang tanpa komando memancing Ki Bum untuk tersenyum. Memandangi wajah cantik yang tampak damai dan nyaman mengingat sebelumnya ia melihat bagaimana wajah—yang kini tengah ia belai dengan punggung tangannya—ini selalu muram dan takut-takut setiap melihatnya. Apalagi ia sempat membuatnya menangis, yang seketika menghancurkan segala pertahanan dirinya dalam hitungan sepersekian detik saja.

“Kenapa kau bisa dengan mudahnya mempermainkanku, Kim Soo Rin?”

Karena Ki Bum benar-benar tidak menyangka, hingga detik ini, dia masih saja takjub akan pesona seorang Park Soo Rin yang bisa dengan mudahnya membuyarkan segala konsentrasi hingga kinerja tubuhnya sendiri. Bahkan hanya dengan kedamaian yang mungkin tidak berarti bagi orang lain seperti saat ini, Ki Bum tidak tahan untuk menyentuh wajah terlelap gadisnya ini dan—lagi-lagi hampir hilang kendali karena kini ia berani mencium sisi wajah yang masih tampak itu. Memainkan bibirnya di sana, berlama-lama di tulang pipinya yang begitu menarik hasratnya untuk dihisapnya.

Oke, sudah cukup. Hentikan semuanya, Kim Ki Bum. Kau justru akan membuatnya tidak kunjung sembuh hanya karena hormon sialanmu yang mulai terpancing lagi.

Pada akhirnya dia menaruh dagunya ke puncak kepala Soo Rin, memejamkan mata, menikmati aroma gadis ini di atas sana. Dengan sebelah tangan yang melingkari punggung kecil itu, melindungi gadisnya dari sempitnya tempat tidur ini. Setidaknya Ki Bum masih sadar bahwa mereka masih di rumah sakit, ruang rawat inap Soo Rin yang masih dalam masa pemulihan. Bukan di atas ranjang kamar mereka.

****

Sae Hee harus menggeleng-gelengkan kepala melihat gadis yang tengah duduk bersila di tempat tidur perawatannya. Kemudian ia menoleh pada perawat yang akrab dipanggil Suster Jung dengan ekspresi meminta maaf. “Sepertinya Eonni baru akan bersalin nanti,” ujarnya tak enak hati pada perawat itu.

 Giliran Suster Jung yang menggeleng-gelengkan kepala, dibubuhi dengan dengusan cepat nan sarat memaklumi. “Park Soo Rin-sshi, jangan menunda-nunda. Ayo bersalin. Sudah berapa hari anda tidak membersihkan diri, hm?”

Soo Rin menunduk memperhatikan penampilannya sendiri. Bibirnya mengerucut membenarkan ucapan Suster Jung bahwa dia sudah dua hari belum membersihkan diri. Ugh, pantas saja ia merasa tubuhnya tidak nyaman karena lengket. Heol… Park Soo Rin, kau jorok sekali.

“Tapi… tapi aku ingin menonton itu terlebih dulu. Aku sudah tidak melihatnya secara langsung semalam!” Soo Rin memilih menunjuk layar televisi di jarak 2 meter di hadapannya, tengah menayangkan sebuah acara penghargaan musik di negaranya.

Sebuah ajang bergengsi yang melibatkan beberapa negara di Asia yang diselenggarakan tiap akhir tahun. Dan dia sudah menunggu ini dengan amat antusias. Meski tidak bisa menonton secara live streaming kemarin malam mengingat ia tidak diperbolehkan menonton televisi di malam hari.

Eonni, jangan membuat Suster Jung mendapat teguran karena tidak mengurus Eonni dengan baik! Ayo, Eonni harus membersihkan diri. Setelah ini Eonni boleh menonton. Ya?” Sae Hee mencoba membujuk. Hari ini merupakan gilirannya untuk menjenguk sekaligus menemani Soo Rin. Jadwal pekerjaannya sengaja ia percepat karena Henry baru bisa berkunjung di malam hari nanti. Dan, bisa dilihat bagaimana dirinya mulai kewalahan akan kelakuan kekanakan kakak iparnya itu.

“Tidak mau!” Soo Rin menggeleng keras. “Aku sudah melewatkannya semalam karena tidak boleh menonton televisi di malam hari. Jadi biarkan aku menonton siaran ulangnya sampai habis. Ya? Setelah itu aku akan membersihkan diri!”

Eonnii!”

“Oh, lihat! Bangtan tampil!!”

Sae Hee mendesah frustasi, bersamaan dengan Suster Jung yang harus memandang maklum pasiennya yang satu ini. Sedangkan yang dipandang sudah tidak peduli lagi dengan mereka dan hanya menancap pada layar televisi yang tengah menampilkan salah satu boyband kesukaannya, Bangtan Boys atau BTS.

Dashi run, run, run!”

Nan meomchun suga eobseo~ 

Ddo run, run, run!”

Nan eojjeol suga eobseo~

Ough, lihat… jiwa fangirl seorang Park Soo Rin mulai bermunculan. Melompat-lompat kegirangan dalam duduk di atas tempat tidurnya. Padahal, itu hanya tayangan ulang dan itu di televisi. Tapi dia sudah seperti tengah menonton konser secara langsung dan hampir lupa diri bahwa dia sedang berada di atas bangsal.

Tepat ketika mereka sudah kehabisan akal, pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang pria bergerak masuk ke dalam. Mata tajamnya mulai membaca situasi begitu berhasil berbaur dengan mereka. Suster Jung membungkuk memberi salam, sedangkan Sae Hee justru menggaruk kepala kebingungan.

“Lihat, Oppa, aku tidak tahu lagi bagaimana membujuk Eonni untuk bersalin!” adunya kemudian.

“Tidak apa-apa. Dia bisa bersalin sekaligus mengganti infus nanti. Saya bisa menunggu.” Suster Jung dengan suara sopan nan lemah lembutnya mencoba menengahi.

“Maaf, Suster Jung, kami sudah merepotkanmu,” ucap Sae Hee tidak enak.

Untungnya Suster Jung menggeleng pelan seraya tersenyum cerah. “Tidak. Tidak apa-apa.”

“Kalau begitu kau boleh pergi, Suster Jung,” pria itu akhirnya bersuara. Suara beratnya yang datar sudah berhasil membuat perawat itu membungkuk patuh lalu undur diri dari sana. “Kau juga.”

Sae Hee menoleh cepat, menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”

“Tunggulah di luar. Jangan masuk sebelum aku memerintahmu untuk masuk.” Kim Ki Bum, pria itu membalas tatapan adiknya dengan datar. “Dan jangan izinkan siapapun untuk masuk.”

Diam-diam Sae Hee meneguk saliva, menatap aneh gadis yang masih betah menikmati acara televisi di depannya tanpa menggubris mereka berdua. Well, Sae Hee cukup mengerti apa yang ingin dilakukan kakaknya ini. Tapi sayangnya dia tidak bisa mengucapkan apapun karena, yah, dia cukup tahu diri untuk tidak membahasnya lebih jauh.

“Baiklah…” Sae Hee menjawab pasrah. Ia menatap Soo Rin sekali lagi sebelum akhirnya berbalik keluar ruangan. Meninggalkan kakak iparnya itu bersama sang dokter pribadi.

Begitu pintu ruangan ini tertutup, Ki Bum mulai bergerak, merebut remote televisi yang tergeletak di sebelah gadis itu lalu menekan tombol power hingga layar LCD TV tersebut mati begitu saja.

Mengejutkan gadis itu yang langsung saja mengerang protes. “Kim Ki Bum, jangan dimatikan! Kemarikan remote-nya!”

Seolah tidak dengar, Ki Bum menyimpan remote control tersebut ke dalam laci nakas. Sebelum gadis itu bertindak, ia sudah lebih dulu mengejutkannya dengan menghentak laci tersebut hingga menimbulkan suara nyaring serta melemparkan tatapan tajamnya pada gadis yang memang sudah menatap kaget dirinya.

Serta merta Soo Rin mengurung niat untuk mengambil kembali remote control itu, memilih untuk merangsek mundur, menatap was-was pria yang tengah memeriksa selang infus miliknya.

Menghentikan laju cairannya, Ki Bum kemudian mencabut selang infus tersebut dari tangan Soo Rin. Gadis itu mulai kebingungan melihat perilaku pria itu yang tidak mengeluarkan satu patah kata apapun padanya.

“Kim Ki Bum, kenapa kau melepasnya?” dan Soo Rin harus kelabakan begitu pria itu mendudukan diri di sisi tempat tidurnya, tepat di dekatnya, meraih dirinya dan… “T-tunggu! Apa yang kau lakukan?!”

Ki Bum menghentikan aksinya, kembali menatap Soo Rin, sorot tajamnya sulit sekali untuk diartikan.

“Menggantikan pakaianmu.”

Jantung Soo Rin serasa ingin lepas dari tempatnya, mendengar jawaban tandas tanpa ragu dari pria itu mampu membuat sekujur tubuhnya meremang seketika. Langsung saja tangan-tangannya mencekal tangan-tangan Ki Bum—yang sudah berhasil melepas dua kancing pakaiannya—dengan kalut.

“A-aku bisa mengganti pakaian sendiri!”

“Tidak untuk saat ini.”

“Aku bisa sendiri! Sungguh!”

Ki Bum tidak langsung merespon, hanya menyelami iris kecoklatan Soo Rin yang memancar kegugupan begitu jelas yang cukup ia nikmati, sampai-sampai sudut bibirnya menyungging seringai yang—percayalah, jika Soo Rin tengah berdiri tegak mungkin sudah melemas dan rubuh saat itu juga!

“Kau sudah mengabaikan kesempatan untuk membersihkan diri bersama perawatmu dan lebih memilih menonton bocah-bocah menari itu, kau tahu?”

“Mereka bukan bocah-bocah tapi Bangtan Sonyeondan, Kim Ki Bum!”

Oh, Park Soo Rin, kau baru saja memancing sisi lain dari Kim Ki Bum untuk keluar. Karena ketahuilah bahwa telinga Ki Bum mulai panas mendengar bagaimana gadisnya ini menyebut nama yang selalu membuatnya geram sendiri. Sudah cukup menjadi penggemar grup Infinite, tetapi kenapa harus menambahnya dengan grup rookie yang terkenal disebut BTS itu?!

Soo Rin menerima ganjarannya. Ia langsung memekik kaget kala pria itu mengangkat tubuhnya dengan amat sangat mudah. Mata jernihnya melebar panik disertai tangan-tangannya langsung mencari pegangan pada bahu lebar pria itu. Oh, ya ampun, ke mana Kim Ki Bum akan membawanya?!

“Kim Ki Bum, turunkan aku! T-tidak, jangan ke sana! Aku bisa ke kamar mandi sendiri!”

“Kau tidak bisa menyeka tubuhmu seorang diri.”

“K-kalau begitu aku akan meminta bantuan dari Suster Jung!”

“Suster Jung sudah disibukkan dengan tugas lain.”

“Tidak! Aku mau bersama Suster Jung!! Kim Ki Bum, turunkan aku! Kim Ki Bum!! Andwaeeeee!!!”

BAM

Sae Hee harus menggeleng-gelengkan kepala, mendengar sayup-sayup seruan kakak iparnya di dalam sana tanpa ada niatan untuk menolong. Dia sudah mengerti apa yang tengah dilakukan kakak kandungnya terhadap gadisnya sendiri jadi Sae Hee tidak perlu ikut campur.

Dan Sae Hee harus menunggu sekaligus berjaga di luar dalam kurun waktu hampir satu jam lamanya.

hjh6

FIN

Originally posted on December 26th, 2015


A/N

Kaget ya, aku posting lagi cerita ini? #ngga hehehehe

Aku mau minta maaf karena beberapa hari lalu, berkat kecerobohanku cerita ini terhapus. Aku sendiri sempat ngga sadar karena waktu itu aku lagi bersihin draft yang nyampur jadi satu sama yang udah keposting. Ngga taunya, tanpa sadar aku juga menghapus cerita ini begitu saja. Dan baru sadar besoknya pas checking lagi. Hiks… aku sih ngga merasa sayang sama ceritanya karena bersyukur aku masih punya mentahnya dalam bentuk ms.word, yang aku sayangkan adalah komenan para pembaca di postingan itu T^T Udah ngga mungkin rasanya masukan-masukan itu kembali. Dan jujur aku mau nangis begitu tau kalo aku udah ceroboh banget hwhwhw //baperan//?

Sekali lagi aku minta maaf karena rasanya aku sudah menyia-nyiakan kebaikan para pembaca yang sudah bersedia memberikan kesan-kesan di sana T/\T huhuhu Aku harus lebih teliti dan berhati-hati lagi dalam melakukan hal seperti itu.

Tapi, hikmah di balik kejadian itu adalah, aku bisa memberikan pengumuman pada pembaca mengenai cerita Medical Center ini, di sini, bahwa aku sudah mempersiapkan EPILOG-nya HEHEHEHE! Bagi yang udah pernah baca coretanku di facebook, yeah~ full version dari Go Home – Epilogue akan segera hadiiiiiirr!! >/////<

Hanya saja, aku berniat untuk memproteksinya dikarenakan isinya yang sudah menjurus Adult bahahahahah hitung-hitung sebagai penutup bagi para pembaca yang belum puas sama ending dari Go Home sendiri. Tapi, tolong jangan berharap terlalu banyak, genre-nya masih sama yang biasa aku buat kok, flirting yang absurd (?) tapi karena rasanya aku udah terlalu sering nistain kimkibum maka dari itu aku kasih pengaman untuk yang ini heheheheh ;w;

But, don’t worry! I will give you some clue as always~ Kalian cukup menebaknya dan membuka sendiri kuncinya. Jadi, perhatikan baik-baik clue dan peraturannya, oke? ^^

Password terdiri dari dua kata tanpa spasi dan huruf kecil keseluruhan. Dan dua kata itu merupakan jawaban dari sebuah pertanyaan berbahasa Inggris di bawah ini:

Who is Park Soo Rin to Kim Ki Bum?

Gampang kan? Iya laaaah~ sering dibahas di ceritanya malah XD bahkan jawabannya amat transparan (?)

Diingatkan kembali, cukup tebak sendiri, ngga perlu repot-repot hubungin saya. Satu hal yang bikin saya gampang sensi adalah orang yang meminta hanya di kala membutuhkan lalu kembali tak kasat mata begitu mendapatkannya. Aku kasih clue dengan tujuan supaya pembaca dalam tipe apapun ikut merasakan yang namanya usaha. Setelah itu, terserah kalian mau sekedar baca atau gimana, aku iyain aja. Itu lebih baik buatku.

Jika sudah paham, tinggal tunggu peluncurannya yaa >w< Coming soon!

Terima kasih sudah mau mampir! ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

20 thoughts on “Medical Center – That Cold Doctor

  1. Aku belum bisa komen di cerita yang ke hapus .. Tapi sekarang bisa komen di cerita yg di repost ini ..

    Aku gak komen di beberapa cerita karna email baru balik lagi /curhat/

    Daaaaannnnnn banyak banget yang pengen aku komen tapi saking lamanya nunggu email malah lupa mau komen apah hhe maap ya kak ..
    Buat cerita yang ini entah kenapa gemes sendiri wkwk .. Selain cerita go home yg nanggung endingnya wkwk .. Ki Bum ituuuuuu semacam apa yahh wkwk .. Pokonya cerita ini bikin gemes dehh.. Ditambah ada bagian ending yg bikin ngakak . . Kebayang muka Soo Rin yang panik di gendong Ki Bum mandi /mulai on/

    Sekali lagi maaf ya kak beberapa cerita gak aku komen .. Maaf sekarang gak rajin komen kaya biasanya 😩

  2. Di tunggu epilognya eon,,,,daebak
    semoga bsa nbak cluenya,,,klo gx bsa bleh nanya eonni kan????hehehe

  3. walaupun udah pernah baca tetep aja bikin ketawa pas baca lagi 😀 apalagi pas adegan terakhir kekeke

    ya park soo rin jangan berani buat kibum marah apalagi cemburu nanti kamu sendiri yang kena batunya kekeke, pasti semua yang ada di rumah sakit pada bertanya-tanya liat tingkah laku sama muka paniknya kibum pas nyariin soo rin.

    nggak tau gimana ekspresi cemburunya kibum pas liat soo rin jingkrak2 gara2 nonton bocah-bocah menari kekeke….. park soo rin kau sudah membangunkan aura gelap kim kibum 😀

  4. aaaaakkk ya ampuuun siskachii aku baru baca yang disini kayaknyaaa >< /oke hentikan/
    yewlaa tapi ending2nya fluffy luthuuuu(?) si Soorin duh bikin senyum sendiri as usual 😁😁😁😁
    johaajohaaaa(?) (´∀`*)

  5. aaaaakkk ya ampuuun siskachii aku baru baca yang disini kayaknyaaa (>.<)
    ihiihiii ya ampun ini lengkap, dari bingung sama ke'dingin'annya kim kibum, kesian sama si Soorin, sampe ga nyangka ternyata alesan di balik tingkah unusual(?) nya kimkibum aaaak yang cuma gara2 takut ga bisa nahan diri awwwww ini sumpah tadi aku udah baper aja pas kibum bilang 'Sudah bicaranya?'
    Huwwaaaaaaa kalo aku jadi soorin/ngarep/ aku bakal lompat dari tempat tidur terus nendang punggung nya kimkibum biariiin dia jungkel uuuuuuhhh 😣😣😣 /oke hentikan/
    yewlaa tapi ending2nya fluffy luthuuuu(?) si Soorin duh bikin senyum sendiri as usual 😁😁😁😁
    johaajohaaaa(?) (´∀`*)

  6. kisoo couple i love u…ha3x 🙂
    g sbr bca epilog ny…
    pny gmbaran pw ny sich tp g yakin…
    kl blh tw brapa hruf ya tu tpat ny???
    mksh 🙂

  7. Wah dua kata ya eon? Kalo empat mungkin mudah dua apaan eon jadi bisa nebak but saoloh berasa ulangan harian huf -_-
    Abis ulangan eon #curcol

    Kalo gak ketemu terus nanya ke eoni marah gak sama aku eon? Hehehe

  8. Kanget liat postingan lagi eonni, kirain cerita baru eh waktu diawal udah pernah baca, jadi di komen lagi biar eonni semangat nulisnya 😊
    Kalo liat Soorin pengen gantiin posisinya, Kibum dingin tapi sayang banget ama Soorin
    Udah ada gambaran pwnya tapi takut salah 😂

  9. Eooni aku masih bingung sama clue pwnya, udah coba tapi salah 😢
    Jawabanya berapa kata ya kalo boleh tau, bahasa indo or inggris eonni.?
    Maaf kalo ganggu, gomawo eonni 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s