Posted in Category Fiction, Fiction, One Shot, School Life, Teen

My Game

mygame

Genre :: School Life

Rated :: Teen

Length :: One shot

||Kim Ki Bum & Park Soo Rin||


Ketika Park Soo Rin berusaha menghindar, Kim Ki Bum justru memaksanya untuk mendekat.


.
©2016 ELVABARI

.

“KI BUM-AH, maukah kau berkencan denganku sepulang sekolah nanti?”

Seorang gadis cantik, bergaya dengan centilnya duduk di atas meja milik lelaki yang tengah ia ajak bicara. Kaki jenjangnya yang dibalut dengan rok mini di atas lutut kini melipat di kaki lainnya dengan anggun, seolah memperlihatkan setengah paha putih susunya yang mulus tanpa cacat. Mata memikatnya mengerling mencoba menggoda lelaki itu.

Sedangkan yang diajak bicara hanya memandang datar sang gadis. Percayalah bahwa dirinya malah asyik mendengarkan musik dengan sebelah headset-nya. Mulutnya terkatup rapat dan memang tidak ada niatan untuk bersuara apalagi sekadar membukanya. Meski tidak memperhatikan, dia tahu dari ekor-ekor matanya bahwa orang-orang di ruangan ini tengah menonton pertunjukan ulung ciptaan gadis yang belum juga beranjak dari mejanya.

Ruangan yang merupakan sebuah kelas ini begitu hening. Penghuni di sini tertuju pada keduanya tanpa berani bersuara apalagi berkomentar. Diam-diam dengan antusias mereka menunggu sebuah respon. Dari lelaki itu, tentunya.

Rasanya butuh waktu bermenit-menit bagi gadis itu untuk mendapatkan jawaban, sebenarnya pula dia mulai risih karena mata lelaki yang dia panggil Ki Bum itu perlahan-lahan berubah. Seperti ada api yang tersulut hingga menyala-nyala dengan begitu ganasnya di mata hitam pekat itu, sebelum akhirnya sang empu memasang sebelah headset-nya lagi, melepas pandangannya dari gadis itu lalu berkutat dengan ponselnya.

Itu adalah jawabannya.

Gadis itu langsung melemas di bagian bahu. Wajah cantiknya berubah masam seketika. Apalagi gendang telinganya segera ditusuk oleh sorakan dari para lelaki di sekitarnya, mengejeknya yang sudah gagal mengajak seorang siswa bernama Kim Ki Bum itu.

Begitulah cara Kim Ki Bum menolak; menyibukkan diri seolah-olah tidak terjadi apa-apa padanya baru saja. Padahal teman-temannya sudah sibuk menyoraki atau mungkin mencerca dirinya yang sudah menolak gadis tercantik di angkatan ini, bernama Jung Hyun Ah.

Kim Ki Bum, murid mana yang tak kenal dengan lelaki tampan di sekolah mereka ini—Hyundai Chungun High School? Begitu dirinya menginjakkan kaki di sekolah ini, dia langsung mendapatkan predikat ‘Siswa Yang Paling Banyak Dicari oleh Para Siswi Hyundai’. Gadis mana yang tak terpesona oleh ketampanan yang dimiliki oleh lelaki ini? Sekalipun tidak tertarik, tidak dapat mengelak bahwa lelaki itu benar-benar tampan!

Ditambah dengan sifat pendiamnya alias acuh dengan sekeliling, membuat tidak banyak gadis Hyundai yang berani mendekatinya. Sudah beberapa gadis yang mendekatinya sekaligus dia tolak dengan cara dingin-nya itu. Seperti gadis yang sudah turun dari meja dan berdiri kaku sekarang ini, yang mengajak Ki Bum untuk berkencan sepulang sekolah nanti, dan Ki Bum sudah menjawabnya. Dia menolak tanpa berkata apapun. Itulah cara dia menjawab.

Mungkin itu terlihat tidaklah manusiawi karena perbuatan tersebut sangatlah tidak sopan, tetapi bagi banyak gadis yang tahu diri, respon semacam itu justru menambah kadar kerennya. Apalagi, lelaki mana yang berani menolak ajakan menggoda dari Jung Hyun Ah? Namun ternyata memang ada satu orang yang berbeda. Kim Ki Bum lah orangnya. Heol…

“Kau adalah gadis keenam yang sudah ditolak olehnya dalam permainan ini. Hahahaha!” celetuk seorang siswa ber-name tag Kim Young Woon, disusul dengan gelak tawa teman-teman lainnya yang ikut meledak. Membuat gadis itu menatap garang untuk Young Woon merambat ke siswa lainnya yang sudah berani menertawakannya di saat dirinya masih berada di dekat lelaki incarannya.

Segera saja Hyun Ah hengkang dari sana, kembali ke markasnya yang terletak di sisi lain kelas ini, menjatuhkan dirinya ke kursinya lalu menyandarkan tubuhnya sambil bersedekap. Dia kesal sekaligus malu, lihat saja wajah cantiknya yang sudah memerah disertai raut masamnya. Ternyata kecantikannya pun ditolak mentah-mentah oleh Kim Ki Bum dan lelaki itu dengan mudahnya menginjak-injak harga dirinya di hadapan lelaki lain.

“Bahkan gadis secantik dirimu tidak mempan menaklukkannya,” gadis ber-name tag Park Bo Young yang duduk di samping Hyun Ah nampak terkikik geli, disusul para gadis yang duduk di sekitarnya. “Aah, permainan ini semakin seru saja. Kira-kira, siapa yang akan menjadi peserta uji nyali ketujuh nanti?” goda Bo Young sambil mengocok kartu berlabel UNO tersebut.

Ya, para siswi kelas 3-2 ini sedang bermain suatu permainan kartu yang bernama UNO. Ini memang masih waktu belajar-mengajar, namun karena Guru Bae yang mengajar Bahasa Inggris saat ini tidak masuk, jadi lah mereka memiliki jam kosong sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Mereka membuat sebuah peraturan, bahwa seluruh siswi kelas 3-2 wajib mengikuti permainan ini, dan siapa yang kalah, dia akan mendapat tantangan berupa mengajak Kim Ki Bum untuk berkencan! Dan karena ini merupakan pertandingan khusus perempuan, para siswa hanya menjadi penonton dan penyorak, merangkap menjadi biang ejek-mengejek bagi para siswi yang sudah menjadi peserta penolakan Kim Ki Bum! Sejauh ini, sudah ada 6 gadis yang kalah dalam permainan dan keenam gadis itu pula ditolak mentah-mentah oleh siswa bernama lengkap Kim Ki Bum yang secara tersirat menjadi korban taruhan mereka itu.

Satu per satu dari mereka mulai menghabiskan kartu mereka. Hingga tersisa Jung Hyun Ah dan seorang gadis berambut pendek berparas cukup manis. Siapa di antara mereka berdua yang gagal menghabiskan kartu masing-masing, maka dia harus menjalani tantangan memalukan itu.

Assaaa!! Aku selamat!!!” seru Hyun Ah begitu menjatuhkan kartu terakhirnya. Bersorak penuh kegirangan karena akhirnya, dia tidak perlu menanggung malu untuk kedua kalinya. Lihat bagaimana ia menepuk pelan bagian dadanya, mengelusnya perlahan, seraya menghembuskan napas lega. Dan untuk kali pertama seorang Jung Hyun Ah memilih mundur dalam urusan menarik perhatian seorang lelaki tampan.

Sedangkan gadis berambut pendek itu melamun, menatap kosong meja di hadapannya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, dan entah bagaimana, wajahnya berangsur memucat. Untung saja tidak berkeringat dingin. Namun teman-teman lainnya sudah menatap keheranan dirinya.

Ya, Soo Rin-ah, tunggu apa lagi? Cepat laksanakan hukumanmu!” ucap Bo Young sambil menepuk pundak gadis yang memang duduk di sebelahnya.

Well, mereka memaklumi reaksi yang tengah ditunjukkan oleh gadis ber­-name tag Park Soo Rin itu, sangat memaklumi, bahwa gadis itu pasti mulai terjangkit penyakit yang akrab dikenal tekanan batin.

“Haruskah?” Soo Rin memasang wajah memelasnya. Berharap diberi keringanan khusus untuknya. Yeah, nyali di dalam dirinya mulai ciut.

Karena gadis ini, termasuk dalam kategori seorang gadis yang jarang bergaul serta menjaga jarak dengan makhluk bernama lelaki. Bukan anti, hanya saja, dia merupakan gadis yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik pada orang banyak terutama yang berjenis kelamin laki-laki. Apalagi, lelaki yang bagaikan patung bernapas seperti seorang Kim Ki Bum. Dia lebih memilih untuk tidak terlibat oleh lelaki itu sekalipun memiliki paras yang selalu dipuja oleh banyak kaum hawa seperti teman-temannya ini.

Lalu kenapa dia nekat mengikuti permainan ini?

Terpaksa. Itulah jawabannya. Karena sudah dikatakan sebelumnya bahwa diawajibkan bagi para siswi kelas 3-2 untuk mengikuti permainan (konyol) ini. Entah siapa yang membuat peraturan tidak menguntungkan pihak Soo Rin. Bahkan ada konsekuensi jika dia tidak mengikuti permainan ini.

Menyatakan cinta pada Kim Ki Bum!

Benar-benar merugikan dirinya, bagaimana pun juga.

“Berjuanglah!” seru beberapa gadis yang duduk mengitarinya. Memberi semangat yang justru membuat Soo Rin semakin ngeri.

Tanpa sadar Soo Rin menelan salivanya demi menepis rasa yang sudah mendekati taraf ketakutan. Jantungnya bahkan mulai sulit untuk berkompromi dengan dirinya sendiri, berdebar lepas kendali sampai-sampai ia kesulitan menghirup udara. Oh, baiklah, percuma mengelak. Ini permainan. Jika mengikuti permainan itu, harus mematuhi peraturan yang ada. Dan, ya, ini hanya permainan.

Hanya perlu mendapat penolakan dari Kim Ki Bum lalu selesai sudah. Lagipula sebelumnya sudah ada enam temannya yang ditolak, jadi Soo Rin tidak akan sendirian jika ia mendapatkan hal sama.

Perlahan Soo Rin berdiri dari tempat duduknya lalu melangkahkan kaki menuju sarang patung bernapas itu berada. Para siswi terus menyemangatinya dari tempat duduk masing-masing, mengawasi gerak-geriknya dari sana. Perlahan-lahan, memainkan jari-jarinya yang mulai terasa basah akibat keringat—ough, dia berharap reaksi tubuhnya yang satu ini tidak terlalu kentara dan berakhir dengan ditertawakannya dirinya oleh para siswa yang mulai memandang tidak percaya dirinya.

Mereka mulai berbisik-bisik, heboh satu sama lain karena melihat gadis selanjutnya yang akan ditolak Kim Ki Bum adalah Park Soo Rin! Oh, Ya Tuhan, apa yang akan terjadi pada gadis malang yang tak pernah mengenal lelaki itu? Dan mereka mulai prihatin pada gadis yang sudah menunjukkan rona pasinya begitu sampai di dekat meja sang korban taruhan permainan ini.

Tunggu, untuk yang ini, Soo Rin juga menjabat sebagai korban, bukan? Korban hukuman.

Baiklah, Soo Rin memang sudah berada di hadapan Kim Ki Bum. Ia bahkan sudah berubah menjadi patung di sana. Entah apa yang harus dia ucapkan untuk mengajak Kim Ki Bum berkencan. Soo Rin hanya menunduk tak berani menatap wajah lelaki itu, memilih untuk menatap ponsel pintar yang tengah dimainkan oleh pemiliknya, terus memainkan jari-jemarinya penuh gelisah hingga diam-diam menggigit bibir bawahnya cukup kuat, bersamaan dengan jantungnya yang semakin menggila karena saking gugupnya saat ini.

Sedangkan Ki Bum, dia mulai melirik, melihat siapa gadis selanjutnya yang akan mengusik ketenangannya. Dengan cara yang sama, hanya melepas satu headset-nya sebelum mendongak dengan gayanya sendiri. Begitu mendapati sosok serta paras itu, ia terdiam. Melihat bagaimana gadis itu menggerakkan matanya ke segala arah yang bisa dijangkau dalam kondisinya saat ini. Terlihat dengan jelas bagaimana mata itu berjuang untuk tidak bertemu dengan matanya. Dan entah mengapa, itu sedikit menggelitiknya.

Di saat banyak gadis mencoba menarik perhatiannya dengan mengerlingkan mata penuh menggoda, gadis yang satu ini justru tidak berani untuk sekadar menatap wajahnya.

Soo Rin menunduk semakin dalam. Dia mulai meremas-remas kedua tangannya satu sama lain. Menelan saliva untuk yang kesekian kalinya. Dan entah sudah berapa lama dirinya berdiri di sini. Mungkin sudah ada dua menit lamanya dan itu amatlah membosankan, sepertinya.

Aigoo, cepat katakan sesuatu, Park Soo Rin! Kenapa kau menjadi seperti orang bodoh hanya berdiri di sini?! Soo Rin mulai membatin panik.

Hingga keterdiaman Soo Rin dikejutkan oleh lelaki di hadapannya yang bergerak melepas semua penyumpal telinganya, meletakkan ponselnya begitu saja di atas mejanya, kemudian bangkit dari tempat duduknya. Menjulangkan tubuh tegapnya yang seketika membuat Soo Rin semakin ciut di tempat. Suasana kelas berubah hening bak tak berpenghuni melihat lelaki itu bergerak dari zona amannya sedari tadi. Menyimak penuh khidmat dan menunggu kejadian yang akan terjadi selanjutnya.

Tolakan macam apa yang akan dilakukan Kim Ki Bum pada Park Soo Rin? Meninggalkannya pergi begitu saja? Membentaknya? Atau mencibir dengan mulut yang terkenal tajam jika sudah berkomentar?

Ki Bum memandang gadis yang ada di hadapannya kini. Hanya memandang. Tanpa membuka suara. Hingga akhirnya dia mendengus samar yang mempengaruhi sudut bibirnya untuk sedikit terangkat. Sesaat! Hanya sesaat bahkan amat samar sampai-sampai tidak ada yang melihat. Lalu Ki Bum membuka langkah melewati gadis itu.

Inilah jenis penolakan yang akan dilakukan Kim Ki Bum. Meninggalkannya begitu saja tanpa sepatah kata. Sebuah penolakan yang mungkin tergolong sadis untuk gadis seperti Park Soo Rin. Dan Soo Rin sudah bersiap-siap untuk menahan malu. Karena ia bahkan belum berkata apa-apa, lelaki itu sudah menolaknya lebih dulu.

Tapi, apa yang sudah ditebak olehnya ternyata jauh dari kenyataan.

Soo Rin terkesiap dalam diam. Bagaikan di ruang hampa udara, Soo Rin mulai lupa bagaimana caranya bernapas. Kelas semakin sunyi dan hampir mendekati taraf mencekam, tidak ada yang berani bersuara melihat kejadian yang tengah menimpa gadis malang bernama Park Soo Rin itu.

Kim Ki Bum melewatinya—memang melewatinya, namun tidak meninggalkannya. Diulang, tidak meninggalkannya. Begitu melewati tubuh gadis itu, tanpa menoleh ke belakang Ki Bum meraih pergelangan tangan Soo Rin dan menariknya! Diulang lagi, Kim Ki Bum menarik tangan Soo Rin! Mau tidak mau, Soo Rin mengikuti tarikan dan langkah lebar lelaki itu yang menggiringnya menuju pintu kelas.

Soo Rin melongo hebat bersamaan dengan tubuhnya berubah tegang di setiap langkahnya yang terseok-seok mengikuti langkah lelaki itu. Apa yang akan dilakukan lelaki ini padanya?! Apakah lelaki tampan bernama Kim Ki Bum ini tengah menyeretnya keluar dari kelas, membawanya ke tempat lain? Yang lebih sepi? Tunggu! Untuk apa lelaki ini membawanya keluar kelas?! Apakah dia akan memukulnya? Menganiayanya? Mencaci makinya? Atau bahkan mengancamnya agar tidak pernah mendekatinya lagi?

Soo Rin semakin tegang dengan pikiran-pikiran kusutnya. Sebelum benar-benar keluar dari kelas, dia menyempatkan diri menoleh ke arah teman-temannya, meminta pertolongan dari matanya yang mulai berair. Namun, mereka tidak melakukan tindakan yang berarti. Hanya menatapnya dengan berbagai macam ekspresi; ada yang terkejut, ada yang tidak menduga, ada yang merasa kasihan, hingga yang merasa tidak berdaya untuk menolongnya!

Gadis itu hanya terus mengikuti ke mana langkah Ki Bum akan membawanya dalam diam. Mereka berjalan menuruni tangga, menuju belakang gedung sekolah di mana hanya terdapat rerumputan yang terawat serta pepohonan yang hijau. Lelaki itu bahkan tidak menoleh sekalipun pada gadis yang semakin pucat di bagian wajah manisnya. Mulutnya bagai terkunci karena tidak mampu melontarkan aksi protes yang sudah terngiang-ngiang di dalam batinnya yang menjerit tak menentu.

Barulah Ki Bum menghentikan langkah begitu mereka berhasil mengasingkan diri di tempat sepi ini, berbalik badan bersamaan dengan melepas pegangannya pada tangan yang terasa dingin itu, dan mendapati betapa mengenaskannya gadis ber-name tag Park Soo Rin ini. Ia harus menahan diri kala gadis itu semakin menunduk karena gerak-geriknya.

“Aku sangat tidak menyukai gadis yang terus saja mendekatiku hanya demi mendapat sebuah perhatian.”

Untuk pertama kalinya, Soo Rin mendengar bagaimana suara lelaki itu mengalun di dekatnya. Begitu berat, dalam, dan tajam. Benar apa yang dikatakan teman-temannya, bahwa lelaki ini sangat pandai mempengaruhi orang lain hanya dengan alunan suaranya. Karena Soo Rin merasakan jantungnya semakin merana saja di balik tulang rusuknya!

Tapi, sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu! Aku hanya ingin menyelesaikan hukumanku karena sudah kalah dalam bermain. Aku juga tidak mengerti kenapa mereka menjadikanmu sebagai target hukuman. Aku tidak bisa menolaknya!

Sayangnya Soo Rin hanya mampu mengucapkan pembelaan tersebut di dalam hati.

“Dan aku sangat tidak menyukai gadis yang menjadikanku sebagai taruhan.”

Maafkan aku. Itu bukan kemauanku. Dan sekali lagi, aku tidak bisa menolaknya.

“Karena itu, aku memilihmu.”

Eh?

Entah keberanian dari mana, Soo Rin mulai mengangkat kepalanya. Mungkin karena pernyataan ambigu dari lelaki di hadapannya kini. Hanya saja, dia masih belum sanggup untuk bersuara. Sekadar ingin mengucap ‘apa’ saja terasa sulit.

Apa maksud orang ini?

“Kau bukan gadis yang memiliki antusias terhadapku. Jadi aku bisa merasa nyaman jika berkencan denganmu. Anggap saja bahwa aku akan membantumu menyelesaikan permainan bodoh ini.”

Bagaimana aku ingin antusias jika aku sendiri tidak punya keberanian? Kim Ki Bum memang tampan, aku akui itu. Dan aku juga tertarik dengannya—sedikiiiiiit! Tapi, apa aku harus mengekspresikannya seperti yang lain? Dan lagi, dia bilang apa barusan? Dia akan berkencan denganku? Yang benar saja?!

Soo Rin membatin tidak karuan. Entah mengapa firasatnya mengatakan hal yang tidak diinginkan akan terjadi sebentar lagi.

“Kalau begitu, mulai sekarang kita menjalin hubungan.”

Sekali lagi, Soo Rin memberanikan diri menatap lelaki itu. Dan untuk kali pertama, ia berhasil menyuarakan isi hatinya, “A-apa?” meski hanya bisa sebatas itu.

“Kita berpacaran.”

NE?!”

Bagaikan disambar petir di siang hari yang cerah, Soo Rin terkejut bukan main. Entah tenaga dari mana, mungkin itu dari tenaga dalamnya yang spontan terpancing, Soo Rin akhirnya berseru nyaring. Matanya melebar juga mulutnya menganga. Berharap dirinya salah mendengar tadi.

D-dia—Kim Ki Bum bilang apa? Berpacaran? BERPACARAN?!

Tidak mungkin!

Bukankah tantangannya adalah mengajak Kim Ki Bum berkencan?

BUKAN MENGAJAKNYA UNTUK MENJALIN HUBUNGAN!

Astaga, mimpi apa aku semalam? Kenapa bisa begini?!!

“Ta-tapi… tapi a-aku hanya dihukum untuk… mengajakmu berkencan…” gagap Soo Rin dengan suara yang hampir mirip cicitan hamster. Percayalah bahwa otaknya tengah kalang kabut saat ini. Berusaha untuk menolak keputusan sepihak lelaki itu. Sayangnya, ia merasa tidak memiliki ide apapun!

Ki Bum menarik sudut bibirnya, menciptakan senyum separuh yang sukses membuat kinerja jantung Soo Rin terhenti sejenak sebelum berlari seperti angin. Apakah dia sengaja melakukannya? Tapi kenapa terlihat natural sekali? Seolah itu sudah menjadi keahliannya dalam mengumbar pesonanya. Benar-benar!

“Tapi sebelum melakukan kegiatan yang dinamakan berkencan, kita harus menjalin hubungan alias berpacaran terlebih dulu,” jelas lelaki itu dengan santainya. Kedua tangannya ia simpan di dalam saku celana. Menunjukkan dengan asri bahwa ia begitu menawan saat ini.

Oh, sial!

Soo Rin mencelos meratapi nasibnya saat ini. Ya Tuhan, Soo Rin bukanlah gadis yang pandai dengan pengetahuan asmara atau apalah yang berhubungan dengan ini. Dia tidak tahu-menahu bahwa ada peraturan seperti itu dalam kasus yang tengah dia alami saat ini!

Haruskah istilah berpacaran itu dilakukan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam istilah berkencan?

Demi Patrick yang tidak punya otak, rasanya Soo Rin ingin lari saja dari sini!

Tapi nasi sudah menjadi bubur.

“K-Kim Ki Bum-sshi, ini… hanya permainan. T-tidak perlu dianggap serius, melainkan… a-anggap saja bahwa aku sudah berhasil mengajakmu—berkencan, eo? Mereka pasti menganggap bahwa kau sudah menerimaku karena… karena kau sudah membawaku kemari jadi… a-aku sudah menyelesaikan hukumanku!” ugh, Soo Rin harus mengucapkannya dengan susah payah.

Dan Soo Rin baru saja menghirup udara sejenak ketika lelaki itu bergerak dengan cepat dan mulus mendekatinya. Memaksanya untuk menyeret kakinya melangkah mundur yang ternyata membawa punggungnya pada dinding gedung sekolah. Napasnya tercekat kala sebelah tangan yang tampak besar itu terulur hingga bersanding di sisi kepalanya, memaksanya untuk menelan saliva lamat-lamat begitu wajah yang tampak tegas dihiasi raut datar itu bergerak maju seolah ingin mengikis jarak, memancingnya untuk menempel begitu lekat pada dinding sampai ia merasa tidak bisa berkutik lagi. Matanya bergerak gelisah karena mata beriris hitam pekat nan tajam itu seperti tengah menghunusnya.

Soo Rin berharap ia diberi kekuatan dalam menghadapi cobaan ini.

“Permainan belum selesai, Park Soo Rin. Dan kau harus menyelesaikan ini,” ujar Ki Bum dengan suara yang hampir menyamai bisikan. Membuat Soo Rin merasakan desiran aneh menjalar di dalam benaknya, menghantarkan rasa hangat yang begitu deras seperti aliran darahnya yang tengah mengalir bagaikan arus pasang di dalam tubuhnya.

Astaga, reaksi macam apa ini? Kenapa rasanya asing sekali?

“Tapi… i-ini hanya main-main—” sayangnya Soo Rin harus kembali menelan suara lirihnya begitu tangan besar lainnya ikut bersanding di sisi lain kepalanya. Mulutnya langsung terkatup kala menyadari Kim Ki Bum tengah menatapnya begitu lekat. Dalam jarak yang sudah mengkhawatirkan ini.

Terlampau amat dekat!

“Permainan bukan berarti harus main-main. Setiap permainan pasti memiliki konsekuensi. Dan konsekuensi dalam kalahnya bermain tidak bisa disebut main-main. Kau sudah setuju mengikuti permainan ini dan dalam permainan ini, dibuat sebuah konsekuensi bagi yang kalah dengan menyelesaikan sebuah tantangan. Kau sudah kalah, itu berarti kau harus selesaikan tantangan ini selama yang aku mau. Karena aku adalah tantangannya.

Soo Rin menatap tidak percaya lelaki ini. Antara tidak percaya bahwa seorang Kim Ki Bum bisa bicara sepanjang itu, juga tidak percaya karena penjelasan Kim Ki Bum membuat segala hal yang sempat tidak masuk akal menjadi masuk akal di otaknya.

So, we will go dating, if you agree to be my girlfriend and of course I will be your boyfriend.” Ki Bum bersuara lagi. Matanya tidak pernah lepas dari gadis yang sudah tidak berkutik lagi di kurungannya. Sekali lagi, ia menunjukkan senyum separuhnya untuk gadis ini. “Deal?

Soo Rin menelan saliva. Wajah manisnya mulai dibuliri keringat dingin berkat perilaku lelaki ini. “Bagaimana jika aku menolak?”

“Kau akan dipermalukan. Bahkan lebih parah dari gadis-gadis yang sudah kutolak sebelumnya.”

Bagus. Itu sudah Soo Rin anggap sebagai ancaman yang paling menakutkan. Sudah cukup dia melihat bagaimana Jung Hyun Ah dipermalukan oleh lelaki ini hanya dengan sebuah respon tak berarti, lalu bagaimana dengannya yang bahkan tidak secantik Jung Hyun Ah? Dia pasti akan menjadi bulan-bulanan kaum hawa nantinya. Apalagi, astaga, dia sudah diseret kemari, dia sudah sejauh ini!

Soo Rin tidak memiliki ide hal seperti apa yang akan mempermalukannya lebih dari keenam temannya itu jika saja ia menolak tawaran Kim Ki Bum.

Jadi…

Deal?

Suara Ki Bum mengalun mengulang pertanyaan sebelumnya. Menyadarkan Soo Rin yang ternyata sempat melamun karena pikiran kalutnya. Gadis itu mengerjap cepat sebelum memberanikan diri menatap lelaki di hadapannya. Dan, ya… ada binar pasrah memancar di iris kecoklatannya yang begitu jernih milik Park Soo Rin.

Deal…

Barulah bibir penuh itu mengukir seulas senyum simetris. Senyum yang—percayalah mampu membuat dentuman di dalam dada Soo Rin semakin menggila, berteriak betapa menawannya seorang Kim Ki Bum saat ini! Itu merupakan kali pertama baginya melihat seorang Kim Ki Bum yang dikenal patung bernapas atau lelaki tampan berdarah dingin ternyata mampu menunjukkan sisi yang begitu hangat di waktu bersamaan!

Soo Rin berharap tidak salah mengira bahwa ia merasakan wajahnya mulai menghangat saat ini.

Lelaki itu kini bergerak mundur membebaskan Soo Rin dari jeratan yang menyiksa. Menegakkan tubuh tegapnya seraya terus mempertahankan senyum menawannya, kemudian mengulurkan sebelah tangannya, dengan telapak terbuka, memberi sebuah isyarat pada Soo Rin untuk menerima ulurannya.

Butuh waktu beberapa detik bagi Soo Rin untuk mencerna semua yang sudah terjadi pada dirinya saat ini. Sebelah tangannya terangkat penuh ragu meraih tangan yang tampak begitu besar dan menarik hasratnya untuk segera menyentuhnya. Hanya saja, batinnya begitu kacau antara harus menerimanya atau tidak. Meski pada akhirnya ia merasakan adanya dorongan yang lebih kuat menuntun tangannya untuk mendarat di atas telapak tangan itu, hingga ia kembali diserang oleh desiran yang sempat melanda benaknya beberapa waktu lalu. Semakin besar ketika mendapat balasan berupa genggaman lembut nan hangat, membungkus tangannya begitu pas, seperti tengah melindunginya dengan cara yang sulit untuk dijabarkan.

Begitu juga dengan tatapan tajamnya. Menatap dirinya dengan cara yang sulit untuk dijabarkan.

Then, welcome to the new game, Park Soo Rin. And this is my game now.

eca095ed9884eca3bc1

FIN

ngeeeeeeeengg~

haaaaiii! Aku kembali membawa cerita lepas kisukisu yang… seperti biasa, absurd dan penuh dengan keanehan #duaagh

Cerita ini aku ambil dari cerpen basi yang pernah aku bikin di jaman aku masih SMA dan udah terkubur di flashdisk. Dulu pake nama original alias nama lokal, tapi ini aku ganti jadi kisukisu heheheh dan ceritanya ngga begini sih dulunya, aku modif lagi meski sedikit. Jadi maafkan aku ya kalo masih berantakan ;___;

Sebenarnya, aku sedang dalam masa di mana lagi mager-magernya buat menulis. Sejak pulang dari kampung dua minggu lalu, kemudian dihadapi dengan real life yang membosankan/? ternyata cukup bikin aku jadi malas buat menyalurkan imajinasi yang padahal udah menjalar ke mana-mana, melalang-buana ke antah berantah #dessh Aku juga belum ada feel buat lanjutin U.R hwhwhw sebenarnya part selanjutnya udah kebikin, tapi rasanya masih ada yang kurang, belum aku edit lagi sedangkan akunya lagi kayak gini. Daripada nanti hasilnya ngga memuaskan di akunya apalagi di pembaca, aku terpaksa pending lagi cerita itu. Tapi, doakan saja supaya aku bisa melanjutkan cerita yang tertunda itu yaa^^

Aku juga sengaja bikin cerita ini karena, rasa-rasanya blog ini macam terbengkalai sama yang punya hiks… jadi aku mencoba untuk meramaikannya lagi. Mudah-mudahan aja dengan cerita ini bisa sedikit menghibur ya hehehe

Yasudah, terima kasih sudah mau mampir~ ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

15 thoughts on “My Game

  1. Ki bum emang tau cara untuk buat soo rin tdk bisa membantah sedikit pun. Bahkan sanggahannya langsung bisa dipatahkan oleh kibum. Pasangan ini emang selalu seru!!!

  2. Keberuntungan selalu berpihak kepada sorin, dia tidak mengajak kibum berkencan, tapi malah sebaliknya, kibum yg mengajak sorin berkencan, sekaligus mengajaknya berpacaran,,hoho

    bukannya bersorak senang sorin mah malah melamun aahhh bener”,, bikin gigit jari

    aku gereget sama tingkah sorin
    menerima uluran tangan saja ragu”,, klw aku mungkin sudah ku tarik dan memeluknya haha dan tidak akan di lepas kkkkkkk
    #agresif

  3. karna aura seorang Kim Ki bum yg dingin dan sulit didekati, dia jd bahan taruhan teman2nya…yg ditolak malu bgt tuh kayaknya…beruntunglah Soo rin yg diajak pacaran sama patung bernafas yg keterlaluan mempesona dan jg tamvannnn…love…love…KiSoo ❤

  4. patung brnapas…ha3x 😀
    kibum emang jago ny bwt sorin kwalahan…
    kgn jg ma kisukisu versi shs.he3x
    bwtin sequel ny donk 🙂

  5. Bener-bener Daebakk Eonni ^^ , aduh kangen banget sama KiSoo Story akhirnya muncul juga 😀 , yaampun aku bacanya sambil senyum-senyum gak jelas saking manis dan gelinya liat Soo Rin mau ngajak Ki Bum kencan , ck Ki Bum selalu berpengaruh buat Soo Rin *_* , Soo Rin keren sekalinya deketin cowok tamvans langsung nyangkut tuh cowok

  6. ughhh Kibum memang selalu mempesona >////<

    Gaya penolakan Kim Kibum keren banget, hahaha cool abisssss. kupikir disini ada pihak ketiga, eh ternyata cuma permainan konyol dimana yang kalah harus mengajak Kibum kencan. Tapi always ya, Soorin yang entah beruntung atau tidak selalu terjerat oleh Kim Kibum. kasihan banget waktu nyamperin Kibum, sampai pucat gitu wajahnya, kkk . Kibum mah emang diktator kejam banget balasannya kalau misalnya Soorin menolak ajakannya =_____=

    ok, congrats for you Soorin kkk nikmati saja ok ^^

  7. rasanya pengen jadi soorin deeh 😀
    tuh kan eon mending dibuat series ajah deeh bagus banget soalnya ceritanya >< ayolah eon buat series ajah yah #EdisiNgerayu 😀

  8. Ckckck kibum -_- modus banget

    Gimaana yaaa misalnyaaa game kayak gitu di mainin di sekolaah dan kebetulaan doi jadi taruhan aku yang besok nya doi and I gak tegur sapa lagi hahaha :v

  9. Kim kibum kebiasaan. Selalu ngebuat soo rin dan aku/? jantungan hhh~

    baiklah kim ki bum. Ternyata tipe yeoja sprt park soo rin yang kau suka. Ok, Aku akan berubah/apa ini?/ #abaikan!

  10. Hahahaha…julukan kibum ada lgi yg baru patung bernafas duh soo rin beruntungnya diri mu,yg lain d tolak ee soo rin langsung d cap jdi pacarnya,kibum tau bgt mana yg pantas tuk dia hihihihi…

  11. sesungguhnya aku merasa berdosa setiap kali baca ff disini tapi jarang ninggalin komen… dan mulai skarang bakal berusaha deh buat ninggalin jejak karana couple ini terlalu manis buat dianggurin hihi ><

  12. keberuntungan yang berpihak pada Park Soo Rin.
    Ketika yang lain ngajakin Kibum buat kencan, dan di tolak mentah-mentah, tapi giliran Soorin malah dia yang di ajak kencan Kim Ki Bum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s