Posted in Category Fiction, Fiction, Romance, [M]

From Medical Center – Go Home

kibum87

Genre :: Mature Romance

Rated :: PG-17 [!!]

Length :: Oneshot

||KiSoo||

after did OR, and faced That Cold Doctor, she’s finally can Go Home ^^

psst… Warning!

I finally, did this >< but don’t expecting too much! I won’t you feel disappointed

Make sure that you already open minded ^^ then Happy Reading!

©2016 ELVABARI

Because Park Soo Rin is Kim Ki Bum’s biggest weakness…


.

TERLIHAT Suster Jung sudah memulai sesi kunjungannya tepat di pukul delapan pagi. Seperti biasa ia hendak memberikan sarapan sekaligus melepas infus mengingat ini merupakan hari terakhir pasiennya menetap di sini. Dan mungkin sekaligus membantunya untuk bersiap-siap nantinya.

Suster Jung memasuki kamar nomor 821 seperti biasa—dengan senyum sumringahnya. Tapi, sekali lagi dia harus melenyapkannya begitu melihat isi ruangan itu. Sekali lagi, ruang rawat inap itu berpenghuni. Langsung saja Suster Jung mempercepat langkahnya untuk masuk. Untungnya matanya yang nampak tajam nan memikat milik Suster Jung segera menemukan sesuatu tergeletak di atas tempat tidur itu.

Secarik kertas?

Senyumnya mengembang setelah berhasil meraih sekaligus membaca tulisan di sana. Menggeleng-geleng maklum kemudian berbalik badan, meninggalkan troli yang sempat ia bawa, lalu keluar dari sana.

Well, mungkin Suster Jung tidak perlu khawatir karena gadis itu memberi tahu. Tapi setidaknya dia tetap harus melapor pada dokter milik gadis itu, bukan?

****

Soo Rin membuka pintu ruangan itu tanpa berniat untuk mengetuknya lebih dulu. Ia melongokkan kepala ke dalam, melihat ternyata ruangan ini tidak ada tanda-tanda kehidupan, memberanikannya untuk segera masuk ke dalam dan untuk yang kesekian kalinya menelusuri ruangan ini.

Sepertinya Soo Rin mulai terbiasa mendatangi ruangan milik Kim Ki Bum ini. Apakah ini karena sang pemilik ruangan selalu sedang tidak berada di tempat kala ia berkunjung seperti sekarang ini? Mengingat dirinya sebentar lagi akan keluar dari sini, Soo Rin menjadi sangsi, kapan dia akan bisa melakukan hal ini lagi.

Ya. Setelah seminggu lamanya dirawat, Soo Rin sudah diperbolehkan untuk pulang yaitu di hari ini. Melakukan rawat jalan sesuai dengan prosedur dari sang dokter. Mungkin Soo Rin amatlah senang karena akhirnya ia bisa menghirup udara kebebasan setelah dikurung di dalam sini begitu lama, tapi di sisi lain Soo Rin pasti akan merindukan orang-orang yang sudah menolong sekaligus merawatnya di sini. Seperti Suster Jung yang selalu direpotkan olehnya, Dokter Jae Kyung yang sesekali menjenguknya, dan Dokter Kim yang paling berjasa…

Ugh, untuk apa Soo Rin merindukan si Dokter Kim itu? Karena pada nyatanya dia tidak akan berpisah dengan dokter itu. Malahan, dokter itu yang akan mengawasinya selama melakukan rawat jalan di rumah. Sudah jelas, bukan? Dokter Kim itu ‘kan merangkap sebagai prianya.

Ough, tidak bisakah aku melupakannya sekali saja? Kenapa Kim Ki Bum selalu saja menjadi hantu di kepalaku?” dumalnya seperti anak kecil.

Kenapa pula kau mengajukan pertanyaan konyol itu, Park Soo Rin? Sudah jelas bahwa priamu yang diktator namun menggoda itu sudah terlalu pandai untuk mendominasi apalagi mengontrol pikiranmu sekalipun dia tidak ada di dekatmu. Heol…

Menepis segala pikiran anehnya, Soo Rin mulai mengalihkan perhatiannya kembali ke ruangan ini. Seketika dia menangkap sesuatu yang menarik di meja kerja ruangan ini. Lebih tepatnya, sesuatu yang terselampir pada kursi kebesaran ruangan ini. Ia membuka langkah, menarik infuse stand yang masih setia menemaninya itu untuk mendekati meja tersebut. Mengambilnya dengan hati-hati seolah-olah benda itu mudah rusak.

Keningnya mengerut di balik poninya yang memanjang. Kenapa jubah putih Kim Ki Bum ada di sini? Apa pria itu sengaja meninggalkannya? Atau pria itu melupakan seragam dokternya ini?

Ah, sudahlah. Tidak perlu dipikirkan. Bukankah dengan begini Soo Rin bisa mencoba untuk mengenakannya? Err, ya, sebenarnya dia cukup penasaran akan bagaimana rasanya mengenakan jubah ini. Mengingat ia selalu melihat betapa kerennya seorang Kim Ki Bum tiap memakai jubah ini membuatnya ingin merasakannya juga. Apakah Soo Rin juga akan terlihat keren memakai ini?

Hanya saja Soo Rin harus kesulitan kala mengenakannya mengingat jarum infus yang masih melekat di punggung tangan kanannya. Susah payah ia memasukkan tangannya itu, dengan melepas kantung infus tersebut dari gantungannya demi ikut masuk ke bagian lengannya.

Dan, dengan polosnya ia menyungging senyum sumringah setelah berhasil mengenakannya dengan sempurna. Dia hanya butuh cermin untuk melihat bagaimana wujud dirinya saat ini, tapi sudahlah, dia tahu bahwa di sini tidak ada benda semacam itu. Soo Rin sudah cukup senang bisa merasakan rasanya memakai jubah putih ini. Apalagi ini adalah milik Kim Ki Bum. Aroma maskulin yang khas dan amat dihapal oleh Soo Rin menguar dari jubah ini. Membuat wajahnya mulai tersipu-sipu saja.

Dia tidak peduli jika pada nyatanya tubuh rampingnya itu tenggelam oleh jubah putih tersebut. Dan memilih untuk menggantungkan kembali kantung infusnya ke tempat semula sebelum kemudian menariknya untuk melangkah menuju sofa ruangan ini.

****

“Dokter Kim!”

Pria yang baru saja menyelesaikan tugas dadakannya itu segera menoleh dan mendapati Suster Jung berlari-lari kecil menghampiri. Keningnya mulai mengerut, bersamaan dengan otaknya yang mulai menebak-tebak. Jangan katakan bahwa Suster Jung ingin mengadu lagi.

“Saya menemukan ini di kamar Park Soo Rin.” Suster Jung melapor seadanya. Ia mengulas senyum sopannya sebelum memilih untuk undur diri. Karena kenyataannya dia tidak perlu mengkhawatirkan akan hilangnya Park Soo Rin sebab gadis itu sudah memberi tahu pergi ke mana dan menyerahkan sisanya pada pria itu.

Tentunya, Ki Bum langsung beranjak dari tempatnya setelah membaca isi dari sticky note tersebut. Menuju ke tempat gadis itu berada saat ini. Di mana lagi jika bukan di ruangannya?

.

.

Ki Bum harus mendengus heran melihat gadis itu benar ada di ruangannya. Bagaimana keadaannya saat ini yang tengah mengenakan jubah rumah sakitnya yang memang tertinggal, dan… tertidur di sofa.

Sudah berapa lama gadisnya itu menetap di ruangannya ini?

Ia melangkah mendekat, berjongkok di hadapan gadis itu, menatapnya untuk beberapa saat sebelum bibir penuhnya tertarik ke atas. Sebenarnya apa yang membuat gadis ini mau datang kemari dan—menunggunya di sini? Sampai jatuh terlelap seperti sekarang ini? Dan apa ini? Dia mengenakan jubah rumah sakitnya tanpa izin.

Tanpa diduga, gadis itu tersadar dengan sendirinya. Mata beriris kecoklatannya mengerjap beberapa kali setelah terbuka, sebelum kemudian terhenyak begitu mendapati wajah tegas Ki Bum sudah berada di hadapannya. Serta-merta dirinya bangun terduduk, wajah cantiknya melongo antara terkejut juga menahan malu karena ketahuan sudah menyelinap kemari.

“K-Kim Ki Bum… kau sudah datang?”

Ki Bum mencoba untuk menahan senyumnya. “Sudah dari tadi,” bohongnya, mencoba untuk menjawab dengan nada datar andalannya. Dan dia bisa melihat bagaimana wajah cantik itu semakin menunjukkan salah tingkahnya. Sungguh menggemaskan.

“Aku… maaf aku…” Soo Rin menelan kembali suaranya, kala memilih untuk menunduk, ia baru menyadari bahwa dirinya masih mengenakan jubah putih milik Kim Ki Bum. Seketika wajahnya merona padam karena mengetahui bahwa pria di hadapannya kini pasti sudah melihatnya.

Ki Bum masih bisa melihat—gadis itu tengah menggigit bibir bawahnya diam-diam. Menggelitiknya untuk tidak lagi menahan diri. Pada akhirnya ia menggerakkan sebelah tangannya untuk merengkuh wajah merona itu, menepuknya dengan lembut hingga berhasil memberikan kenyamanan untuk gadisnya. Juga berhasil membuat gadisnya mau kembali menatapnya.

“Aku mengerti. Aku juga merindukanmu, asal kau tahu itu,” tembaknya langsung.

Dan Soo Rin harus merasakan wajahnya memanas dalam waktu singkat. Merengut malu berkat kata-kata frontal Kim Ki Bum. Benar-benar sialan! Padahal Soo Rin belum mengatakan apapun dan tidak berniat untuk mengatakannya tapi… ugh, apakah pikirannya mudah sekali dibaca oleh Kim Ki Bum?

Ki Bum sendiri justru membenarkan kerah jubah putihnya yang masih melekat di tubuh Soo Rin, merapatkannya sebelum beralih memeriksa punggung tangan Soo Rin. “Ini sudah waktunya untuk dicabut,” ujarnya seraya melirik wajah cantik gadisnya. “Kau tidak lupa, bukan?”

Soo Rin menggeleng cepat bersamaan dengan dirinya langsung bangkit dari sofa, sedikit mengejutkan Ki Bum karena pria itu hampir terjungkal akibat dari ulahnya. Oh, astaga, Park Soo Rin, apakah kau segugup itu, huh?!

“K-kalau begitu, aku harus kembali ke kamar—”

“Duduklah.”

E-eoh?

Ki Bum memilih untuk mendudukkan Soo Rin kembali, meraih ponsel pintarnya dari saku celananya, menelepon seseorang.

Eo, Suster Jung, bisakah kau datang ke ruanganku? Tolong bawakan keperluan untuk Park Soo Rin kemari. Aku tunggu lima menit dari sekarang.”

Soo Rin hanya mampu terbengong-bengong melihat apa yang dilakukan oleh pria itu. Ia baru mengerjap ketika Ki Bum kembali fokus padanya sekaligus mengulas senyum penuh arti. Dan itu berhasil membuatnya kembali merasa gugup.

“Kenapa kau menyuruh Suster Jung yang kemari?”

Ki Bum memeriksa arlojinya, dengan santainya ia menjawab, “Kemungkinan Suster Jung akan datang tiga menit dari sekarang.”

Membuat Soo Rin kebingungan. “Lalu?”

Bibir penuh itu menyungging senyum separuh. Tanpa aba-aba lagi, pria itu mendorong tubuhnya demi menjangkau wajah cantik gadisnya, dan… menyerangnya sebagaimana dengan hormonnya yang sudah berteriak meminta untuk dilampiaskan. Melepas rasa rindunya yang keterlaluan menggelegak setelah gadisnya ini memancingnya tanpa dia sendiri tahu.

Dan selama tiga menit ke depan, Soo Rin harus merelakan jantungnya tidak bekerja dengan baik berkat perlakuan prianya yang amat mendominasi dan penuh kuasa.

****

 “Bagaimana perasaanmu setelah akhirnya bisa keluar dari sini?”

Soo Rin mengembangkan senyumnya setelah mendengar pertanyaan dari seorang dokter yang cukup dikenalnya. Dokter Tan yang sudah cukup lama tidak dia lihat ternyata baru bisa menampakkan batang hidungnya karena ternyata sebulan ini pria itu dipindah-tugaskan ke Hong Kong. Dia baru saja kembali kemarin.

“Aku bisa memakan topokki setelah ini!” jawabnya seraya terkekeh polos. Kemudian memekik kesakitan ketika merasakan ada yang menyentil keningnya.

Ki Bum memandang datar gadis yang sudah mengerucut kecut di sisi tempat tidur. Berbeda dengan Dokter Tan yang merasa geli melihat tingkah mereka. Tidak lupa dengan Dokter Jae Kyung juga Suster Jung yang masih bersama mereka, terkekeh geli melihat cara dua insan itu berinteraksi.

Cah, Park Soo Rin-sshi, ini barang-barang anda. Selamat karena sudah diizinkan untuk pulang.” Suster Jung menyerahkan sebuah tas berisi perlengkapan milik Soo Rin yang sempat bersemayam di ruangan ini.

“Omong-omong, tidak ada yang menjemputmu? Ke mana keluargamu?” tanya Jae Kyung. Ia melihat gadis itu menggeleng-geleng kecut.

“Kim Ki Bum tidak mengizinkan mereka untuk menjemputku.” Soo Rin memicing pria yang kini sudah menatap penuh dirinya.

“Aku hanya tidak ingin mereka kerepotan. Lagipula kau tidak pulang ke rumah mereka.”

Ugh… jawaban Kim Ki Bum memang singkat dan telak.

“Tapi ‘kan—”

“Mereka akan datang ke rumah besok.”

Bagus, sekarang Soo Rin sudah tidak bisa mengelak lagi. Baiklah, mungkin dia memang baru bisa bertemu dengan adik-adik juga orang tuanya besok.

Well, aku cukup terkejut mendapat kabar bahwa kau masuk rumah sakit, Park Soo Rin. Dan aku minta maaf karena tidak ada di sini selama kau dirawat,” sesal Tan Han Kyung penuh perhatian. Matanya melirik ke arah lain, “Mungkin jika aku ada di sini, aku akan menjadi dokter yang mengoperasimu.”

Cukup membuat Kim Ki Bum terpancing. pria itu membalas lirikan Han Kyung penuh peringatan, sebelum akhirnya mendengus cepat. Berusaha untuk tidak melayangkan tangannya untuk menampar mulut rayuan pria itu.

“Sepertinya itu akan lebih baik jika memang terjadi.”

Tidak disangka bahwa Soo Rin akan menimpali. Gadis itu berhasil membuat mereka membekap mulut demi menahan semburan tawa. Bagus, Park Soo Rin, kau berhasil memojokkan seorang Kim Ki Bum karena mereka pasti sudah berpikiran yang tidak-tidak.

“Jadi, tidak ada yang tertinggal, bukan? Kita bisa pulang sekarang.” Ki Bum menyambar tas milik Soo Rin, menarik gadis itu untuk berdiri, kemudian berpamitan pada mereka. Setidaknya hari ini Ki Bum sudah meminta izin pada atasan divisi untuk pulang cepat demi mengantar Soo Rin pulang.

Ditambah, dia sudah tidak tahan menjadi bahan olokan teman-temannya berkat gadisnya ini. Jika saja Ki Bum tidak tahu tempat, mungkin kini gadisnya sudah kehabisan napas lagi seperti tadi pagi di ruangannya.

****

Soo Rin merebahkan tubuhnya dengan nyaman di atas ranjang. Rasanya sudah lama sekali dirinya tidak merasakan empuknya ranjang miliknya ini. Setelah ia harus tersita waktunya begitu sampai apartemen mereka dengan membersihkan diri juga makan malam.

Pria itu juga baru membersihkan diri setelah hampir seharian sibuk mengurus Soo Rin. Mungkin untuk hari ini, Ki Bum memanglah tidak bekerja secara penuh di rumah sakit. Setelah pagi tadi menyelesaikan operasi dadakan, dia tidak lagi mengerjakan apapun dan hanya fokus pada persiapan Soo Rin yang sudah diperbolehkan pulang. Well, itu pun merupakan keputusannya sendiri mengingat ia merupakan sang dokter untuk gadis itu, juga setelah melihat perkembangan pemulihannya yang memang berjalan cukup baik.

Dan Ki Bum juga ikut merebahkan diri di sebelah Soo Rin. Bagaimana pun dia juga sudah lama tidak merasakan ranjang mereka mengingat ia tidak pernah pulang selama Soo Rin di rawat di rumah sakit.

Benar. Kim Ki Bum memang tidak pernah pulang. Selama ini Sae Hee lah yang membereskan apartemen ini juga yang membawakan pakaian ganti untuknya. Bayangkan saja, betapa tidak inginnya Kim Ki Bum untuk beranjak dari rumah sakit hanya karena Park Soo Rin.

Soo Rin melihat pria di sebelahnya itu memejamkan mata. Ia baru menyadari bahwa wajah tegas Ki Bum menunjukkan gurat-gurat kelelahan dari dekat sini. Soo Rin mulai bertanya-tanya, apa Kim Ki Bum kurang beristirahat?

“Kim Ki Bum.”

Hm?”

Soo Rin mendapati Ki Bum menoleh dan membuka mata. Menatap dirinya dengan sorot mata yang tampak lelah. Ugh, kenapa Soo Rin baru menyadari kondisi prianya yang sudah seperti ini, sih?

Ki Bum merasakan tangan halus itu menyentuh sebagian wajahnya. Mengusapnya terlampau lembut hingga berhasil membuainya. Tahukah bahwa Ki Bum mulai merasa nyaman kini?

“Kau tidak tidur dengan teratur, ya?”

Mencoba tersenyum, Ki Bum memegang punggung tangan Soo Rin, membelainya perlahan dengan ibu jarinya. “Itu tidak masalah bagiku. Jangan khawatir.”

“Bagaimana aku tidak khawatir?” gerutu Soo Rin tidak terima. Pandangannya menunduk, melihat bagian perutnya yang sudah terbalut dengan piyama yang melekat di tubuhnya. Bibir bawahnya tergerak ke depan. “Aku pasti sudah membuatmu tidak bisa tidur nyenyak, bukan? Maafkan aku. Karena kecerobohanku selama ini, aku harus merepotkanmu hingga aku keluar dari rumah sakit. Aku bahkan lebih memikirkan diriku sendiri dibandingkan dirimu yang sibuk dan semakin sibuk karena mengurusku. Kau pasti tidak memiliki cukup banyak istirahat karena—”

Soo Rin hampir tersedak air liurnya sendiri, kala pria itu beranjak dari tidurnya, berpindah hingga kini pria itu berada di atasnya, mengejutkannya hingga spontan kedua tangannya bersanding di bahu lebar pria itu, melebarkan mata seraya terpaku.

A-apa yang Kim Ki Bum lakukan?

“Aku lelah bukan karena itu. Jadi kau tidak perlu meminta maaf.”

“B-benarkah?”

Ki Bum mengulas senyumnya. Tangan-tangannya bertengger di kedua sisi tubuh Soo Rin, menumpu berat badannya sebelum akhirnya salah satunya bergerak membelai sisi wajah cantik itu. Menggumam pelan seperti setengah menjawab juga setengah berpikir.

“Aku lelah karena hal lain,” ia bergerak maju, menempatkan bibir penuhnya tepat di depan telinga gadisnya, berbisik, “And you’re my charger, if you know what I mean.

Blush…

Well, Soo Rin sudah mengerti maksud dari ucapan ambigu yang keluar dari mulut Kim Ki Bum. Apalagi mendengar bagaimana suara berat itu mengalun serak seperti—yah, kau tahu itu.

Tapi belum sempat Soo Rin menjawab, ia sudah mendengar kekehan pelan menusuk gendang telinganya, lalu pria itu menyingkir dari sana dengan tatapan tidak pernah beralih darinya. Sedangkan Soo Rin harus kebingungan akan apa yang sebenarnya tengah dilakukan oleh prianya saat ini.

“Aku hanya bercanda,” ujar Ki Bum akhirnya menglarifikasi. Tangan besarnya mengusap puncak kepala Soo Rin, melanjutkan, “Kau harus beristirahat malam ini. Mungkin aku baru akan mengizinkanmu untuk kembali masuk kerja beberapa hari lagi.”

Lalu suasana berubah hening. Ki Bum memejamkan mata kembali, sedangkan Soo Rin menatap nanar pria itu.

Sebenarnya, dia sudah terlanjur memikirkan ucapan Ki Bum tersebut. Jantungnya sudah terlanjur bergemuruh. Dan pria itu menghentikannya begitu saja. Itu justru membuat Soo Rin merasa bersalah karena lagi-lagi Kim Ki Bum yang mengalah. Sebenarnya sampai kapan Soo Rin akan terus seperti ini?

Lama mereka tidak berbicara, Ki Bum yang sebenarnya tengah berjuang untuk menekan gejolak hormonnya yang kembali terpancing karena perbuatannya sendiri, kini membuka mata begitu merasakan bagian pinggang piyamanya seperti ditarik. Ia menggerakkan kepala untuk memeriksa—bukan, bukan memeriksa apa yang sudah menarik piyama bermotif kembar dengan yang dikenakan Soo Rin, melainkan memeriksa Soo Rin sendiri yang ternyata… sudah menunjukkan sesuatu yang membuat jantung Ki Bum melompat diam-diam.

Wajah cantik Soo Rin sudah memerah. Dengan mata jernih yang menatap lekat dirinya, memberanikan diri untuk tidak beralih, ia mencoba untuk membuka mulutnya yang sempat terkatup. Bergerak ragu untuk sejenak saja sebelum akhirnya bersuara, “Aku… aku tidak apa-apa… Aku sudah sembuh… jadi, aku bisa menjadi pengisi dayamu—sekarang.”

Ki Bum terpana mendengarnya. Tidak perlu sebuah pengulangan, hanya sekali mendengar, otak jeniusnya langsung mencerna maksud dari ucapan Soo Rin. Apalagi dihiasi dengan semakin padamnya wajah merona itu, berhasil menghantam telak benaknya untuk berteriak mengabulkan.

Dan, Ki Bum melakukannya. Kembali mengurung tubuh gadis itu ke dalam kungkungannya, perlahan namun pasti, mengecup hidung bangir gadis itu penuh rasa, yang justru semakin memancing gejolaknya untuk segera dikeluarkan. Dan Ki Bum memilih untuk mengumpulkan semuanya dengan melakukan hal sama ke seluruh bagian wajah Soo Rin. Sebelum berakhir di bibir yang sudah menjadi candunya sejak lama, berlama-lama di sana, membelainya dengan bibir penuhnya, memberikan sensasi yang begitu gila hingga ia hampir melontarkan geramannya.

Soo Rin merasakan deru napas prianya semakin berat. Gesekan lembut yang menimbulkan percikan spanas menggetarkan dari sentuhan hidung mereka berhasil membuat Soo Rin tidak bisa berkutik lagi. Matanya berubah sayu kala terbuka setelah menikmati perilaku pria ini. Dia masih merasakan sensasi itu, tentunya. Dan ia menemukan bagaimana iris hitam pekat nan tajam itu sudah berubah gelap, sebelum akhirnya mengatup ke balik kelopak mata yang terlihat begitu indah di mata Soo Rin, lalu jantungnya harus berhenti beberapa saat kala merasakan sentuhan seringan bulu di bibirnya, bergerak seolah menggodanya dan mengejutkan organ pernapasan vitalnya tersebut dengan alunan parau…

Remind me if I hurt you, okay?” Karena Ki Bum tidak bisa menjamin bahwa dia akan menahan diri di tengah jalan. Jadi ia membutuhkan Soo Rin sebagai pemandunya, sebagai alarm untuknya, jika dia benar-benar lepas kendali nanti.

Soo Rin mengerti. Kim Ki Bum sedikit takut mengingat dia baru saja sembuh dari sakitnya. Seharusnya sejak awal Ki Bum tidak memancingnya untuk melakukan ini, tapi… dia sudah terlanjur terpengaruh akan permainan kata prianya sendiri.

Jadi, dia ingin menuntaskannya. Dan…

“Aku percaya padamu…”

Bujukan lirih penuh makna itu sudah cukup membuat Ki Bum merasa menang. Dan tentunya, berlaku juga untuk Soo Rin. Karena sejujurnya, mereka sama-sama menginginkan hal ini terjadi. Setelah cukup lama tidak melampiaskannya. Dan, mungkin ini adalah waktunya.

“Aku mencintaimu.”

Bisikan penuh makna, juga penuh rasa, seolah sebagai penanda awal mula perjalanan mereka. Perjalanan menuju euphoria yang amat manis, lebih manis daripada sekadar ciuman. Euphoria yang hanya bisa dipijaki sesungguhnya oleh mereka yang mengerti, bagaimana memuja cinta yang tulus, mengerti akan kebutuhan masing-masing yang berbeda cara namun berjuang untuk mengimbangi. Bukan sekadar nafsu primitif yang memang tidak bisa dihilangkan begitu saja, namun dengan rasa sesungguhnya, mereka bisa mendaki puncak kenikmatan duniawi yang amat indah.

Dan mereka melakukannya, dengan deskripsi yang benar juga memuaskan.

****

Kesadarannya terpulihkan kala merasakan belaian menggiurkan di pelipisnya. Sebuah sensasi hangat nan menggelitik, hanya beberapa saat namun cukup membuatnya tertarik dan ingin merasakannya lagi. Apalagi indera penciumannya mengirim sinyal akan aroma yang amat sangat dikenalnya, maskulin yang begitu segar, ditambah dengan sentuhan halus dipipinya, terasa begitu dingin dan menyenangkan.

Alih-alih membuka mata, ia hanya membiarkan tubuhnya merasakan goyangan ringan seperti seseorang baru saja beranjak dari sisinya. Memaksa otaknya untuk menganalisa apa yang baru saja dia alami. Hingga akhirnya kini giliran indera pendengarannya menangkap suara pintu terbuka, memaksanya untuk membuka kelopak mata.

Pandangannya yang masih begitu rancu, samar-samar mendapatkan sosok itu baru saja keluar dari ruangan ini. Membiarkannya sendirian di sini dalam ketenangan di pagi hari. Oh, mengingat ini sudah pagi, kira-kira sudah pukul berapa sekarang?

Setelah mengumpulkan setengah dari nyawanya, Soo Rin akhirnya mendudukkan tubuhnya, mengucek kedua matanya sekaligus menguap karena rasa kantuknya yang masih mendera. Dia merasa belum puas untuk mengistirahatkan diri mengingat dirinya baru bisa terlelap di waktu hampir tengah malam karena kegiatannya bersama Kim Ki—

Tunggu dulu!

D-dia melakukannya? Mereka melakukannya?

Semalam?!

Pandangannya langsung merunduk memeriksa. Sejenak dalam sepersekian detik ia sudah menduga kondisinya yang akan seperti apa setelah ingatannya kembali jernih hingga serta-merta memansakan wajahnya di pagi hari ini. Tapi ternyata, apa yang dilihatnya kini tidak sesuai dugaan.

Soo Rin—sudah berpakaian…

Sebenarnya sejak kapan dirinya memungut kembali pakaiannya lalu berakhir seperti sekarang? Bukankah seingat Soo Rin bahwa dia langsung jatuh tertidur karena kelelahan setelah melakukan—err… kau tahu apa itu—bersama pria itu?

Well, sebenarnya tidak hanya sekali ini. Soo Rin tidak habis pikir mengapa dirinya selalu berakhir seperti ini jika mereka berhasil melakukannya. Dan, ugh, Soo Rin pasti akan menemukan dirinya sudah mengenakan pakaian milik Kim Ki Bum seperti piyama kebesaran ini. Dan hanya bagian atasnya… oh, Soo Rin harus merasakan wajahnya semakin terbakar karena dia bahkan sudah mengenakan—itu… pakaian dalam.

Soo Rin berharap dirinya memiliki riwayat sleep walking dan ia memang melakukan semua ini seorang diri, tanpa dia sendiri tahu.

Tidak mungkin semua ini merupakan hasil kerja Kim Ki Bum, bukan?!

Jika itu memang terjadi…

Oh, ya ampun… bukankah itu berarti bahwa Kim Ki Bum melihat tubuhnya tanpa dia sendiri tahu?!

Soo Rin melompat turun dari ranjang. Ekor matanya melihat kondisi kamarnya sudah tampak rapi dibandingkan semalam yang sudah dipastikan akan seperti apa. Jantungnya semakin bergemuruh karena ia menyadari fakta bahwa ini semua hasil kerja dari Kim Ki Bum. Begitu juga dengan kondisinya saat ini!

Ia keluar kamar, melintasi ruang tengah yang lengang, menuju dapur di mana ternyata pria itu tengah berada. Padahal Soo Rin sudah berniatan untuk mengajukan berbagai tuntutan mengenai kondisinya sekarang, ketika matanya justru menangkap pemandangan yang cukup membuat jantungnya gencar melakukan olahraga pagi.

Ya Tuhan, betapa sempurnanya punggung pria itu. Dibalut kaus hitam yang begitu pas di tubuh kekarnya. Menunjukkan bentuk serta lebar bahunya yang amat proposional, ditambah otot lengannya yang tampak kencang dan kuat.

Demi apapun, Soo Rin sudah menahan napas hanya dengan melihat itu. Dan ia berharap akal sehatnya masih berkompromi sekaligus mendominasi akal gilanya yang ingin berlari mendekat lalu berhambur memeluk punggung itu dengan penuh damba.

“Selamat pagi.”

Oh, nyaris saja Soo Rin terkena serangan jantung hanya karena melihat pria itu sudah beralik dan menatap lurus dirinya, bahkan segera menyapanya disertai hadiah senyum manis yang pertama terbit di bibir penuhnya di pagi hari ini.

Soo Rin berharap Kim Ki Bum tidak menyadari bahwa dirinya baru saja memandang terlampau penuh minat pria itu. Dan membaca pikiran anehnya yang baru saja berteriak akan bagaimana bibir yang tengah menyungging senyum itu sudah melakukan banyak hal terhadap dirinya semalam.

Gosh! Hentikan pikiran kotormu, Park Soo Rin!

Ki Bum membawakan dua cangkir berisi minuman hangat yang baru saja dibuatnya. Melangkah mendekati Soo Rin yang berdiri kikuk di dekat meja pantry dengan penampilannya yang masih amat berantakan namun cukup menggodanya di pagi hari ini. Jika perlu diingatkan, Soo Rin masih mengenakan piyama miliknya yang kebesaran di tubuh ramping itu dan hanya membalutnya hingga setengah paha.

Well, hentikan pikiran kotormu yang mulai terpancing, Kim Ki Bum.

“Sebenarnya aku sudah berniat untuk membawakan ini ke kamar sekaligus membangunkanmu,” ujar Ki Bum seraya menyerahkan secangkir cokelat panas pada Soo Rin. “Minumlah. Kau sudah lama tidak meminum ini, bukan?”

Ya, sebenarnya Soo Rin cukup tergiur melihat rupa juga mencium aroma yang begitu dia rindukan dari minuman kesukaannya ini. Hanya saja, pikiran kalutnya masih saja berkutat dengan keingintahuan absurd-nya mengenai semalam.

“Kim Ki Bum…”

Hm?” Ki Bum mengangkat kedua alisnya. Melihat bagaimana gadis itu menerima cangkir pemberiannya dengan kaku. Ia melihat gadis itu tampak ragu dengan bibir bawahnya digigit diam-diam.

Dan Soo Rin memilih untuk meletakkan cangkir cokelat panasnya ke meja pantry di dekatnya. Beralih memilin ujung piyama Kim Ki Bum yang semakin membuatnya gugup saja.

“Aku tidak mengerti… kenapa kau melakukan ini?”

“Apa?” Ki Bum mulai mengernyit bingung. Ia merasa clueless akan pertanyaan Soo Rin kali ini. “Apa maksudmu?”

“Itu—maksudku…” Soo Rin terpaksa melakukan jeda, menarik napas dalam lalu menelan saliva kala dirasakan wajah meronanya kembali menghangat. “Kenapa aku selalu berakhir dengan memakai piyamamu?”

Kemudian Soo Rin harus menyesal karena sudah berani mengajukan pertanyaan konyol tersebut.

Sedangkan Ki Bum mendadak mengerti. Ia mendengus samar disertai senyum penuh arti yang tersungging di bibirnya. Diletakkannya cangkir berisi kopi miliknya ke tempat yang sama seperti Soo Rin, sebelum kemudian mendekat meraih gadis itu, merengkuh pinggang rampingnya dengan gerakan memikat, mengunci tatapan mereka dengan mulusnya.

“Kau ingin tahu kenapa?” Ki Bum mulai menggoda dengan caranya sendiri. Sejenak batinnya tertawa penuh kemenangan karena gadis di tawanannya ini semakin merona hanya karena dia melakukan ini.

“Y-ya… kau melakukannya di saat aku sudah tidak sadarkan diri, bukan?” Soo Rin hampir mencicit karena menahan malu. Serta jantungnya seolah berteriak membutuhkan oksigen lebih banyak sedangkan sistem pernapasannya mulai tersendat berkat perilaku pria ini.

Sedangkan Ki bum, ia menggerakkan wajah tegasnya untuk semakin mendekat. Membuai gadisnya dengan kecupan ringan di sudut bibir kecilnya sebelum bergerak semakin jauh, menempatkan diri tepat di depan telinga gadisnya.

“Benar. Aku memilih untuk melakukannya setelah aku berhasil mengisi dayaku,” bisiknya penuh arti. Ia dapat merasakan tubuh ramping di pelukannya ini bergetar tegang.

And he loves this reaction, of course. Because it makes him wanna seducing his girl, again and again.

“Kau tahu bahwa dayaku di pagi hari mulai berkurang hanya dengan melihat wajah terlelapmu. Jika aku melihat lebih dari itu, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu. Perlu kau tahu itu, Soo Rin-ah.”

Soo Rin menelan saliva sekali lagi. Ia semakin kaku, berbanding terbalik dengan kinerja jantungnya yang sudah menggila karena merasakan bibir pria itu menyapa telinganya lebih dalam lagi. Tangan-tangannya mencengkeram lengan kuat pria itu, bergetar hebat kala merasakan sentuhan kulit mereka secara langsung. Menimbulkan percikan panas yang kembali menguasai mereka.

Dia berharap hal semalam tidak terjadi lagi. Hanya karena kecerobohannya dalam mengajukan pertanyaan. Karena dia baru menyadari, bahwa…

You’re my biggest weakness in forbear. And you know that, Park Soo Rin.

tumblr_n8wuoon0V01rzd89uo1_500

F I N

I MADE THIS! YAAAAAAAYY!!

Setelah bergelut untuk iya atau tidak bikin kisukisu versi err itu…aku terkalahkan oleh banyaknya pembaca yang request begituan bahahahah XD but sorry not sorry, aku cuma bisa bikin sampe situ. Ya bayangin aja aku udah nistain kimkibum sejauh itu gimana aku ga makin kurang ajar hahahah T////T

Tapi setidaknya udah terjawab ya.. sebenarnya mereka udah pernah kok melakukannya, hanya saja itu tidak terliput karna udah dilarang sama kimkibum (?) kali ini aja dia ijinin aku buat meliput meski cuma sebatas itu.

Oke, udah cukup ngarang ceritanya-_-

Aku sebenarnya bingung, ini harus diproteksi atau ngga. Mengingat ini sudah terlalu menjurus, tapi… kayaknya bakal jadi mendadak karna aku sendiri bingung mau ngasih clue password buat ini. Boleh minta pendapat? Apa ini terlalu frontal? Dan, jika menurut pembaca ini terlalu Adult aku bakal proteksi ini nanti. Hahahahah >////<

Yudah, aku bingung lagi mau celoteh apa. Sebenarnya waktunya udah mepet karna aku harus siap-siap  dan maaf untuk adanya typos yang terlewatkan jadi… salam dari yang numpang lewat! ><

actually I imagining "Suster Jung" as Krystal in My Lovely Girl's style ^^
actually I imagining “Suster Jung” as Krystal in My Lovely Girl’s style ^^
Doctor Jae Kyung :)
Doctor Jae Kyung 🙂
and Doctor Tan who just appeared haha XD
and Doctor Tan who just appeared haha XD

Ah…

There she is!

0file_soorin
Kim Ki Bum’s biggest weakness XD

Terima kasih sudah mau mampir!! >///////<

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

49 thoughts on “From Medical Center – Go Home

  1. Akhirnya soorin sembuh dan mereka bisa err begitu haha, kalau menurut aku aih ini ga frontal terbuka yaa, chingu menjabarkannya secara halus, jadi masih ok buat dibaca tanpa pw menurut aku, semoga soorin ga sakit lagi dan ngebikin ki bum khawatir, semangat buat story selanjutnya ka~ aku suka cerita ini hihi ^^ 😊

  2. After saya tau kalo so Koko Gege ada disini saya jadi tidak berminat membiarkan Kim Kibum jadi dokter yang mengoperasi saya kalo saya sakit usus buntu wks 😂😂😂

    Anyway, as we grown up and getting older kayaknya our mind and thoughts juga getting older and growing up deh 😂😂 (pendapat ini mengarah kepada err you-know-what-scene)

    You’ve grown up xixixi!!!

      1. 2016’s goals :
        1.Growing up (finally you wrote this story) yeay!!! 🙌🙌🙌
        2. Perhaps, membuat cerita tentang ‘Kim Kibum I am pregnant!’
        3. Boleh request gak? Kan Oktober tahun ini duo serigala (Donghae dan Eunhyuk) udah menetap di militer selama setahun. Boleh request ff tentang mereka gak sebagai ungkapan kerinduan gitu?
        😂😂🙌

      2. mygaaaaaassh goals’nya bikin ehem banget ya wkwkwk xD
        well, kita lihat saja nanti ya… kayaknya yg ketiga lebih menggiurkan dibanding yg kedua #loh hahahahah XD

  3. aigoo aigoo kok mendadak panas yah *kipas-kipas* kkkk~
    yeeaaay akhirnya Soo Rin sembuh juga, dan akhirnya kibum bisa ‘ngisi daya’ juga kkk~

  4. Waw hahaha :3 sebenar nya gak terlalu errr banget sih eon 16+ kyk masih bisa baca ngahahaha itu sih pendapat aku,

    Pengendeh baca soorin hamil dan punya anak pasti #matap tu keluarga

    Di tunggu yang selanjut nya eon :v figthing 🙂

  5. Nggak masalah ini masih tergolong sopan, haahaa malah terkesan gak ada adultnya sama sekali, keliatan banget klo kamu belum mahir buat diksi adult karena bahasa yg kamu gunakan masih versi polos 😀 klo flirting mah kamu udah jago buat diksinya, okeee untuk cerita ini masih bisa dibaca dgn rate awam..

    1. euh, aku memang ngga ahli sih bikin ginian hwhwhw dan emang lebih suka flirting dibanding ini wkwkwkwk XD btw makasih banyak loh buat masukannya~ senangnya ada yg perhatian masalah ini (?) >..<

  6. Akhirnya soo rin dibawa plg jg. Wah2 akhirnya diekspos jg kegiatan mereka.wkwk#plakk
    aku pernah ngira kalo mereka blm melakukan recharge lho.hehe soalnya diliat dr cerita2 sblmnya.

  7. AAAAA…. aq jg mw jd pngisi daya XD
    udah kya org gila aq bca ny 🙂
    mnurut q ni g frontal kok…
    dan sperti biasa,aq slalu trhanyut ma gaya bhasa author yg keren bgt… 😀
    next…next…next…

  8. Yaampun seneng banget ada KiSoo Story baru bikin senyum-senyum padahal belum dibaca , Omo Omo Soo Rin Polos menuju manis banget ^^ , wks~ Cieeee Ki Bum udah ngisi daya penuh belum? Cukup belum 😀 , ih gak kebayang Ki Bum makein pakaian dalem Soo Rin pasti matanya jelalatan apa lagi tangannya pasti nakal :v , ini sih kurang Nista Ki Bum nya Eonni #peace *becanda* , Keren deh Eonni FF-nya lumayan bikin sesek nafas nih 😀 *butuhNafasKyuhyun*

  9. Gak terlalu hot,, tapi ngena gitu,,,,

    bikin senyum” sndiri..
    Pembawaan alurnya jga halus,sopan jdi enak d baca

    Next..!

  10. Omaigaaaaaaaasssh!!!! (?!)
    Srsly akuuu jerit2 pas nemu wajah mbak Krys(?) disini dan bahkan jadi suster Jung aaaakkk 😣😣😣
    Dan ya ampun wks sooriiin ya ampuun imut banget sih emees ><
    Btw aku ko sebel ya sama dokter kim -.- /sok akrab/
    Habisnyaaa ko ga bilang2 sih kalo udah pernah ngecharge(?) berkali2 ke Soorin -.- /ey
    XD
    Kalo menurutku sih ini ga adult2 banget ceritanya, masih sopan banget malah :))
    Cuma mungkin karena aku udah lama ga baca kisukisu atau waw! Park Soorin udah berani ya sekarang 😂😂 /apasii
    Tulisannya rapi as usual. Hihi bikin laa kisukisu yang uda punya dedek(?) 😀
    Semangat teyuus nulisnyaa ヽ(´▽`)/

    1. ish, itu kan rahasia mereka.. seharusnya emang gaperlu bilang-bilang biar misterius #apa-_- hahahah
      aduh, dedeknya belum waktunya ada Poku T^T kapan-kapan aja #ngek
      masih banyak typo sebenernya dan aku males edit lagi karna takut gabisa move on lagi wks /alasan/ xD tapi maaciw yaa udah bersedia baca cerita nista ini hwhwhwh >////<

  11. Akhirnyaaa~ permintaanku di kabulkann
    Huahahahahahahaha
    Setelah sekian lama nunggu kisoo versi INI hihihihi
    Ditunggu kelanjutannya ya kak~ yg kek gini juga wkwkwkkwkwkwk peacee~

  12. Ughhhh >< kibumie
    Duh duh, remind me if i hurt you. Err itu kata" yg bikin langsung nyess banget, menurut ku ini gak terlalu adult tapi kalo emang masih ragu di protect aja kak. Hwhw aku berharapnya sih gak usah kkk #ughh jangan marahi aku
    Keep spirit kak,and always support your work^^

  13. Aaaaaa.apa iniii
    ini bkin gabisa napas😂
    ga trlalu adult kok. Msh aman.lbh suka yg bginu sih.
    kl yg frontl vgt yg smp rating nc it agak gimana gt bacanya 😂

  14. Akhirnya mereka begituan haha
    Awalnya sempet bingung sebenernya mereka udah pernah apa belum, tapi liat reaksi Kibum kek udah pernah dan ternyata sebelumnya mereka udah begituan hehehe..
    Ini ga frontal kog eonni, bahasanya halus dan bikin senyum2 sendiri 😊
    Ditunggu next storynya ya eonni, fighting 😊😊

  15. Finally, author nya buat ff yg beginian walau engga terlalu dibuka banget *ups* haha. Eh thor, mau nanya dong. Author ada rencana gak sih bikin ff kisoo couple punya anak? Aku penasaran nih gimana kehidupan mereka klo mereka punya anak wkwkwk 😁

  16. haahhhhh *lap keringet padahal penasaran jg gimn aksi’a kibumie waktu lg ngisi daya’a 😀 seberapa ganas #Ehhh wkwk.. Y sdhlah yh gk perlu dijabarkan sedetail mungkin dari kata”a ja udah keliatan seberapa sangar (?) kibumie itu ;-)…
    Ni q bc untuk kedua kali’a semoga komenanku masuk kali ni ><

  17. akhirnya soorin pulang juga keruumah ^^
    pas baca bagian nganu jadi keringet dingin bahkan rasanya pengen di skip ajah tapi penasaran >< yaampun kyu maafku istrimu yang lagi kumat #kkk

  18. I just read it again 😀
    Yang aku suka baca ff disini itu ya karena bahasa yang dipakai lebih halus dan mudah untuk dimengerti,ceritanya juga bagus authornya bisa menulis setting lebih detail,buat aku ini bagus kalo boleh nyaranin bikin cerita yang juga melibatkan kedua orang tua dari masing-masing 🙂
    Satu lagi poin plus buat elvabari-ssi kamu orang yang ramah 🙂

  19. Soorin akhirnya pulang juga…
    Setiap kali baca cerita KiSoo pasti senyum-senyum sendiri.
    Ditunggu cerita lainnya… fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s