Posted in Fiction, Fluff, PG-15, Romance, School Life, Special Fanfics

See You Again in Spring

sys

Genre :: School Life, Fluff, Romance

Rated :: PG-15

Length :: Oneshot

||KiSoo’Special||

This story is an adaption of the manga I’ve ever read. Perhaps it’s not same as the original scene at all because as usual, I tried to write it by my own way. But I hope you still enjoy it.
And this is will be my first fiction on this year ^^

H A P PR E A D I N G

.

©2016 ELVABARI

.

DI usianya yang hampir menginjak 16 tahun, Park Soo Rin lebih dulu merasakan hadiah terindah untuknya di awal tahun ini. Baru saja mendapat pengumuman bahwa dirinya lulus dari ujian masuk Sekolah Menengah Atas dan diterima di sekolah incarannya; Gwangju High School. Segera saja dirinya mendatangi sekolah tersebut untuk melakukan pendaftaran ulang dan mendapatkan atribut sekolah berupa seragam maupun buku-buku pelajaran untuk masa belajarnya di sana nanti.

Dan lihat sekarang, di akhir musim dingin ini, di mana tahun ajaran baru akan dimulai sekitar satu minggu lagi, Soo Rin sudah tidak sabar untuk merasakan bagaimana mengenakan seragam sekolah tersebut. Senyum cerahnya terus saja mengembang selama mematut dirinya di hadapan cermin di dalam kamarnya, berputar ke sana kemari demi melihat penampilannya dengan seragam sekolah barunya itu.

“Hihihi! Tidak kusangka bahwa aku akan menjadi murid sekolah menengah atas sebentar lagi,” gumamnya penuh suka cita. Wajah manisnya yang merona alami di bagian pipinya yang sedikit tembam itu kini tampak bersemu samar yang justru menegaskan ronanya yang begitu menggemaskan.

Gadis itu tampak merenung setelahnya, hanya beberapa detik sebelum kemudian senyum manisnya mengembang menandakan dirinya baru saja mendapatkan sebuah ide. Langsung saja ia beranjak dari tempatnya, keluar dari kamar dan berlari menuju pintu utama rumahnya. Menarik perhatian ibunya yang tengah menyiapkan makan siang. Hari ini masih hari bekerja sehingga ayahnya yang berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit di Gwangju pastinya tengah bertugas.

Omo, Soo Rin-ah, kau ingin pergi ke mana?” Nyonya Park tampak terheran-heran melihat anak gadisnya berlari-lari menuruni tangga, mengenakan seragam barunya, menuju pintu rumah mereka dan mengenakan sepatu barunya yang seharusnya baru dipakai di hari pertama bersekolah nanti.

“Aku ingin ke sekolah, Eomma. Aku pergi!” Soo Rin berseru sambil melambaikan tangannya untuk sang ibu, memamerkan cengiran lebarnya sebelum akhirnya keluar dari rumah.

Meninggalkan ibunya yang tengah menggeleng keheranan melihat tingkah lakunya, mengulas senyum memaklumi. “Astaga, anak itu pasti tidak bisa menunggu lagi,” gumamnya geli.

Soo Rin mengayunkan kaki-kakinya dengan ringan. Tidak lupa ia bersenandung sebagai bentuk untuk menemani langkah-langkahnya. Jarak Sekolah Gwangju dari rumahnya hanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Ayahnya pernah berkata ingin membelikan sepeda untuknya agar lebih mudah bepergian ke sekolah, tetapi sepertinya Soo Rin lebih senang dengan berjalan kaki seperti ini.

Begitu sampai, mata Soo Rin berbinar-binar melihat pintu gerbang utama sekolah tersebut yang kini terbuka setengah, melangkah penuh khidmat hingga begitu berhasil melewati gerbang tersebut ia merasakan jantungnya berdegup kencang karena senang. Dia berhasil menginjakkan kaki untuk yang kedua kalinya di sini! Setelah yang pertama ia lakukan kala mengikuti ujian masuk sekolah ini di akhir musim gugur tahun lalu.

“Benar juga…” Soo Rin teringat, saat pertama kali dirinya menduduki salah satu kelas untuk melaksanakan ujian masuk, ia memainkan pensilnya dan mencoret sesuatu di atas meja tersebut.

Dan Soo Rin belum menghapusnya!

Ugh, aku harus segera menemukan meja itu dan menghapusnya!” gumamnya mulai panik. Tapi sayangnya, dia lupa kelas mana yang sempat ia tempati kala itu. Hei, sekolah ini cukup besar dan banyak koridor di dalam sana! Soo Rin hanya ingat bahwa dia melaksanakan ujian masuk di lantai… “Ah, lantai tiga!” serunya dan langsung berlari masuk lebih dalam lagi.

Ternyata kondisi sekolah ini tidaklah sepi senyap, ada banyak murid yang tengah melakukan kegiatan ekstrakulikuler, dan sepertinya mereka juga tengah mempersiapkan sesuatu di beberapa tanah lengang di sekolah ini untuk mempromosikan klub mereka di awal masuk sekolah nanti.

Mata Soo Rin menangkap sosok yang cukup familiar di seberang koridor sana. “Bukankah itu Kim Ji Won Sunbae?” ya, Soo Rin mengenal gadis berseragam sekolah ini. Dia adalah seniornya kala di sekolah menengah pertama dulu. Gadis bernama Kim Ji Won itu tampak tengah bercengkerama dengan seorang siswa sebelum mereka melangkah bersama menuju balik gedung di sana.

Senyumnya merekah begitu mendapatkan ide baru. Ternyata Soo Rin tidaklah sendiri di sini. Itulah mengapa dia berniat untuk menghampir Kim Ji Won itu demi meminta tolong, “Mungkin saja dia bisa memanduku untuk memperkenalkan isi sekolah ini,” kekehnya seraya membuka langkah.

Ia berlari-lari kecil menuju balik gedung tersebut. Sepertinya di sana bukanlah sekadar lapangan kosong karena Soo Rin mulai mendengar suara percikan air. Mungkin di sana adalah tempat semacam kumpulan keran air yang berkumpul sebagai tempat para murid membasuh wajah setelah berolahraga, bukan?

Sunbae—” Soo Rin terpaksa menelan kembali suaranya begitu berbelok, matanya terbelalak sebelum akhirnya ia kembali memutar tubuhnya dan bersembunyi di balik dinding. Jantungnya melompat-lompat berkat melihat pemandangan tadi.

Oh, ya ampun, Kim Ji Won Sunbae sedang berciuman dengan siswa tadi! Itu adalah kali pertama bagi Soo Rin melihat secara langsung bagaimana dua lawan jenis menempelkan bibirnya masing-masing dan saling bergerak penuh intens seraya berpelukan cukup intim seperti tadi. Astaga, astaga! Mata Soo Rin sudah ternodai dengan hal-hal yang semestinya baru bisa dia lihat di usia 17 bahkan 19 tahun nanti!

Blush…

Menangkup wajahnya, Soo Rin merasakan adanya hawa panas bersarang di kedua pipinya. Karena sebenarnya saat ini wajah manisnya sudah merona padam berkat melihat adegan seperti itu. Dan imajinasinya mulai berkeliaran tidak menentu.

Bagaimana jika dirinya yang berada di posisi Kim Ji Won saat ini? Dan ia melakukannya dengan seseorang…

Tidak, tidak, tidak! Park Soo Rin, kau tidak boleh membayangkannya! Tidak boleh!!

.

Setelah kejadian tadi, Soo Rin akhirnya memilih untuk pergi dari sana dan kembali berkelana seorang diri. Dia telah memasuki salah satu gedung sekolah ini. Suasana yang masih tampak lengang membuatnya bergerak leluasa untuk melihat-lihat. Hanya saja dia mulai merasa lelah, setelah berlari-lari menaiki tangga dan mengelilingi satu lantai demi lantai untuk sekadar melongok ke dalam tiap kelas, Soo Rin belum juga menemukan kelas yang dia maksud.

Ugh… ternyata sekolah ini luas sekali…” gumamnya mulai lesu. Ia baru saja ingin berbelok menuju tangga dan naik ke lantai berikutnya kala mendengar adanya langkah kaki di atas sana.

Aigo, Kim Saem benar-benar membuatku iri. Padahal masih sangat muda.”

“Aah, tidak juga. Memang sudah waktunya.”

“Hahaha. Kau benar.”

Samar-samar percakapan itu terdengar, menakuti Soo Rin yang terpaku di tempatnya. Bagaimana jika orang-orang itu mendapatinya di sini? Dia bisa saja mendapat teguran karena sudah seenaknya berkelana di sekolah ini!

Mengendap-endap, Soo Rin sedikit membungkukkan tubuhnya, berharap dirinya tidak terlihat dari orang-orang di atas sana yang sepertinya akan turun kemari, dan Soo Rin segera menyeberangi tangga tersebut demi menjangkau tangga lainnya yang akan membawanya ke lantai bawah, cepat-cepat dirinya menapaki anak-anak tangga untuk turun.

Tanpa ia ketahui bahwa dirinya sudah tertangkap mata oleh salah satu orang itu. Dan tanpa ia ketahui bahwa orang itu segera melompati beberapa anak tangga demi mengejarnya.

Soo Rin melihat ke atas sekilas, ia mendengar derap kaki lainnya seperti tengah menuju kemari, dan Soo Rin mempercepat larinya menuju anak-anak tangga yang akan mengantarnya ke lantai dasar. Hanya saja, karena saking takutnya dirinya akan ketahuan, Soo Rin tidak memperhatikan kaki-kakinya yang sempat tidak sejalan dengan keinginannya. Tersandung dengan kakinya sendiri dan ia harus menerima kenyataan bahwa tubuhnya limbung ke depan di saat ia belum menyelesaikan anak-anak tangga tersebut.

Untungnya, sebelum tubuhnya mencium anak-anak tangga di bawah sana, Soo Rin merasakan adanya tangan lain meraih lengannya, juga memerangkapnya dengan melingkarnya tangan lain di perutnya, menarik dirinya hingga punggungnya membentur tubuh seseorang di belakangnya. Jantungnya berdegup tidak karuan, antara terkejut karena ia hampir terguling karena kecerobohannya, juga terkejut karena dirinya ternyata sudah diselamatkan oleh seseorang.

Dan, merasakan tangan-tangan yang melindungi tubuhnya kini, sepertinya ini adalah tangan seorang laki-laki…

Apa? Laki-laki?!

Mungkinkah dia adalah orang yang tadi? Oh, bukankah orang-orang tadi itu sepertinya adalah guru di sekolah ini. Astaga, orang ini adalah guru di sekolah ini!

Matilah kau, Park Soo Rin!

“Kim Ki Bum, kau masih di situ?”

Soo Rin mendengar adanya suara lain di atas sana. Dia baru saja menolehkan kepala begitu melihat ternyata lelaki di—belakangnya ini tengah mendongakkan kepala ke atas sana.

Ne.

Soo Rin tertegun melihat rupa dari wajah lelaki itu. Begitu tegas dengan mata yang tampak tajam beriris hitam pekat, hidungnya tampak mancung dengan ukuran yang begitu seimbang di antara kedua pipinya yang sedikit berisi, begitu juga dengan bibirnya yang penuh dan baru saja mengeluarkan suara yang berat dan dalam.

T-tunggu… lelaki ini… lelaki ini yang sudah menyentuhnya? Tapi, kenapa Soo Rin merasa jantungnya berdebar-debar seperti ini—hanya karena sudah mengetahuinya sekaligus melihat ekspresi datar itu?

“Kenapa kau berlari seperti itu? Itu berbahaya sekali!”

Jwaeseonghamnida. Aku akan berhati-hati lain kali.”

Diam-diam Soo Rin melepas diri dari tangan-tangan itu, ia meringis sejenak, mengucapkan kata permisi dengan berbisik serta berpamitan. Hanya saja, ia baru menapak satu anak tangga lagi kala tangan besar itu mencekal satu tangannya, mengejutkannya hingga spontan dirinya terpaksa menoleh kembali dan… ia merasakan jantungnya seperti baru saja meloncat dari tempatnya begitu melihat bagaimana mata tajam itu menyorot dirinya. Dengan raut datarnya yang entah mengapa sudah mampu membuat Soo Rin tidak berkutik lagi. Karena terkunci dengan tatapan yang seolah tidak akan beralih lagi.

“Ada apa memangnya? Apakah ada sesuatu di bawah sana?”

Aniyo. Aku mengira adanya anak sekolah berkeliaran di dalam gedung, tapi ternyata aku salah lihat.”

“Begitu. Tapi lain kali jangan melakukan hal itu lagi. Astaga, kau membuatku hampir terkena spot jantung melihatmu melompat seperti tadi. Ya sudah, sepertinya kita berpisah di sini. Aku harus kembali ke ruanganku terlebih dahulu.”

Ne, joshimhaseyo (Hati-hati di jalan).”

Eo. Kau juga. Sampaikan salamku untuk kakakmu itu.”

Ne.

Keadaan kembali hening setelah langkah kaki di atas sana berangsur menjauh dan tidak terdengar lagi. Soo Rin memilih untuk menundukkan kepala. Ia merasa bahwa lelaki di hadapannya itu sudah menyelamatkannya. Sebenarnya Soo Rin ingin mengucapkan terima kasih tetapi dia tersadar bahwa, bisa saja lelaki ini yang justru akan menegur sekaligus memperingatinya. Bukankah orang di hadapannya saat ini adalah seorang guru?

Namun hal yang tidak pernah disangka olehnya terjadi, lelaki itu menuruni beberapa anak tangga demi sejajar dengannya, kemudian mendorongnya hingga belakang tubuhnya menubruk dinding pembatas dan mengurungnya di sana. Ujung sepatu mereka bersentuhan, menandakan bahwa jarak mereka sangatlah dekat. Soo Rin merasakan tubuhnya menegang mendapati bagaimana wajah tegas di hadapannya seperti hendak mengikis jarak, dengan mata tajamnya yang seolah ingin menghipnotisnya, Soo Rin segera memejamkan mata demi menepis segala mantra yang mungkin saja tengah lelaki itu ucapkan di dalam hati.

Andwae! Jangan menciumku!!”

Hening kembali menyelimuti keduanya. Sebelum akhirnya Soo Rin mendengar dengusan keras di depannya sekaligus merasakan adanya sesuatu menoyor keningnya dengan gemas.

Mwohanya (Kau ini sedang apa)?”

Membuka mata, Soo Rin mengerjap bodoh begitu melihat lelaki itu terlihat tengah menertawakannya.

“Kau ini terlalu banyak menonton drama hingga berpikiran yang tidak-tidak,” ejek lelaki itu seraya mundur selangkah, melihat dengan leluasa wajah yang tampak mulai merona itu.

Bagus, Park Soo Rin, kau sudah mempermalukan dirimu sendiri di hadapan guru itu. Tapi, melihat bagaimana lelaki itu menertawakannya, cukup membuat Soo Rin tersinggung. Bahkan Soo Rin baru menyadari bahwa lelaki yang sempat disebut namanya—Kim Ki Bum—itu ternyata sudah mempermainkannya.

“Tawanya terlalu berlebihan!” Soo Rin mendumal. Ia segera pergi dari situ, berbalik menyembunyikan wajahnya yang terasa menghangat, ia bahkan pamit dengan nada kesalnya. Mungkin itu tidaklah sopan tetapi Soo Rin sudah terlanjur dibuat malu oleh lelaki itu!

“Kau murid baru di sini, bukan?”

Langkahnya terhenti tepat di anak tangga terakhir, Soo Rin segera berbalik dan mendapati lelaki itu berdiri di sana dengan kedua tangan tersimpan di saku jaket yang dikenakannya, menampakkan senyum miringnya yang entah kenapa berhasil membuat benak Soo Rin berdesir-desir.

Tunggu, kenapa dirinya bereaksi seperti ini?!

“D-dari mana Anda tahu?” Soo Rin terbata-bata. Jantungnya seolah berdentum mengiringi langkah kaki itu bergerak menuruni tangga, mendekatinya, lalu berdiri tepat di hadapannya. Soo Rin seolah tidak mampu berkedip melihat ternyata wajah tegas itu penuh dengan pesona yang sulit untuk dijelaskan. Ia berharap lelaki itu tidak menyadari bahwa dirinya tengah berdebar-debar saat ini.

“Mudah saja,” gumam lelaki bernama Kim Ki Bum itu penuh arti, ia melanjutkan, “Seragam yang terlihat begitu rapi dengan panjang rok terlalu mengikuti standar keharusan, rambut yang diikat kekanakan, wajah yang polos,” ia maju selangkah, sedikit menunduk demi melihat dengan jelas wajah yang kembali merona itu, dan satu tangannya bergerak ke atas, meraih dasi yang dikenakan oleh gadis itu, menariknya hingga terlepas dengan mulusnya dari sana, menyungging seringainya, “serta dasi yang terlalu mencekik lehermu.”

sys-a

Soo Rin meneguk saliva dengan gugup. Sebelah tangannya menyentuh rambut panjangnya yang memang saat ini tengah ia ikat menjadi dua merendah. Baiklah, dia tahu bahwa gayanya yang masih belum berubah ini memang kekanakan untuknya yang sudah akan menjadi murid menengah atas. Dan mendengar komentar dari lelaki itu, Soo Rin akhirnya melepas ikatan rambutnya dengan tangan gemetar.

“Be-begitu ya… k-kalau begitu, terima kasih sudah memberi saran padaku,” lirihnya seraya tertunduk malu. Bagaimana dia tidak merasa malu jika ada seorang guru memberikan komentar seperti tadi?

Sedangkan tanpa sepengetahuannya, Ki Bum tersenyum geli melihat reaksi gadis itu. Di sisi lain ia harus terpana menyaksikan bagaimana rambut panjang itu tergerai hingga membingkai wajah manis itu dengan sempurna, menyamarkan keluguan yang sempat terpancar dan berganti dengan aura lain yang sukses menggerakkan sesuatu di dalam benaknya. Ki Bum berharap dirinya tidak lepas kendali hanya karena perilaku gadis yang baru kali pertama dia lihat dan baru saja dia ketahui namanya—dari name tag yang tersemat di blazer sekolah tersebut.

“Tidak masalah. Aku cukup menikmatinya, Park Soo Rin-sshi.”

Sontak Soo Rin mengangkat pandangannya, melihat bagaimana bibir penuh itu mengulum senyum jahil, menyadarkan Soo Rin kembali bahwa—lagi-lagi dia dipermainkan oleh lelaki ini!

“K-kau benar-benar guru menyebalkan!” serunya seraya meremat rambut panjangnya. Sungguh, dia sangat malu karena sudah menunjukkan kebodohannya di hadapan lelaki yang kelak akan menjadi gurunya ini. Lagipula, kenapa seorang guru bisa dengan mudahnya menjahili calon muridnya seperti ini, sih?!

Lihat, bahkan lelaki bernama Kim Ki Bum itu kini kembali menertawakannya! Menyebalkan sekali!

Ki Bum kembali melangkah mendekat, di saat Soo Rin sibuk mengikat kembali rambutnya, dengan lihai tangan besarnya menelusup masuk di antaranya, bermaksud untuk memasangkan kembali dasi yang sempat ia curi namun ternyata sukses membuat gadis itu terpaku akan perlakuannya. Ki Bum mencoba untuk tidak menghiraukannya dengan melanjutkan pekerjaannya, mengikat dasi itu di sana lalu merapikannya di balik kerah kemeja Soo Rin. Barulah ia menyelami manik kecoklatan itu dengan senyum mengembang. Menikmati reaksi menggemaskan itu dalam jarak yang begitu dekat hingga menggerakkannya lagi untuk kini mengacak penuh gemas poni gadis itu.

“Pulanglah. Belum waktunya bagimu untuk berada di sini, kau tahu?” titahnya dengan halus sebelum kemudian berbalik badan, berniat untuk meninggalkan gadis itu, namun ia kembali menoleh ke belakang, “Ah, dan berhati-hatilah. Aku menyukai tipe gadis sepertimu,” lalu memamerkan senyum yang entah mengapa begitu menawan di mata gadis itu.

Soo Rin merasakan gemuruh aneh mulai merayapi benaknya. Dia tidak memiliki ide akan kalimat terakhir yang diutarakan oleh lelaki yang kini mulai melangkah menjauh darinya dan Soo Rin merasa tidak rela. Apakah pertemuan mereka hanya sampai di sini saja? Hanya sebatas ini? Kenapa Soo Rin seperti ingin lelaki itu berbicara dengannya lebih lama lagi?

Dan kini Soo Rin menggerakkan kakinya untuk mengejar lelaki itu, bahkan tangannya tidak sejalan dengan keinginannya untuk menghentikan aksi gilanya karena sudah berani meraih lengan kekar lelaki itu hingga sang empu menoleh ke arahnya. Menatap dirinya tidak mengerti hingga akhirnya Soo Rin memilih untuk memejamkan mata.

“A-aku akan melaporkanmu ke kepala sekolah! K-karena kau sudah menjahili murid baru!”

Bodoh. Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan, Park Soo Rin? Sungguh konyol sekali.

Sejenak Ki Bum tertegun mendengar ancaman yang sebenarnya lebih mirip dengan rengekan itu. Diam-diam ia mulai merasa geli melihat bagaimana tangan-tangan yang mencengkeram lengannya itu tampak gemetar. Well, dia tahu benar bahwa gadis ini sebenarnya tidaklah serius dengan ucapannya sendiri.

“Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan supaya kau tidak melaporkanku?”

Soo Rin mengerjap, mendongak, melihat lelaki itu juga menatapnya, memasang ekspresi kebingungan yang entah mengapa melegakan Soo Rin.

Karena ia mendapatkan satu kesempatan untuk bisa bersama lelaki ini.

****

“Waah, mesin penjual otomatis!!”

Mata Soo Rin berbinar-binar melihat mesin penjual minuman otomatis itu bertengger di salah satu taman sekolah ini. Bagaimana dia tidak merasa takjub mengingat di sekolahnya yang dulu belum ada mesin seperti ini? Dia hanya pernah melihatnya di stasiun maupun di tempat umum lainnya, bukan di dalam sekolah.

Langsung saja ia menghampiri mesin tersebut, di mana terlihat deretan minuman ringan dari yang dikemas secara kaleng, kotak, maupun botol. Setelah melihat-lihat dan menentukan ingin mencoba salah satunya, Soo Rin segera merogoh saku seragamnya. Hanya saja, dia tidak menemukan apa yang dia cari.

Ugh… benar juga, aku tidak membawa dompet…” sesalnya kemudian. Bukankah dia berangkat dari rumah dengan tangan kosong? Aah, sepertinya ini bukanlah kesempatannya untuk mencoba bagaimana cara kerja mesin ini.

Tiba-tiba saja tangan besar itu muncul dari sisi tubuhnya, memasukkan satu uang logam ke dalam mesin itu, menarik perhatian Soo Rin untuk segera melihat pemilik tangan besar tersebut.

Ki Bum memamerkan senyum teduhnya, ia mengedikkan dagunya kemudian, menunjuk mesin tersebut, “Tunggu apa lagi? Cepat pilih minuman yang kau mau.”

N-ne!” Soo Rin mulai merasa gugup. Matanya bergerak liar menelusuri daftar nama minuman itu, ia pun segera menekan tombol salah satu daftar minuman hingga mendengar mesin tersebut mulai bekerja. Dapat dilihat bagaimana minuman yang ia maksud mulai bergeser dari tempatnya sebelum dipindahkan ke dalam lubang dan diluncurkan ke sana hingga Soo Rin dapat mengambilnya. Senyum cerahnya mengembang mendapati minuman pilihannya kini berpindah ke tangannya, kemudian menatap lelaki itu seraya berucap, “Terima kasih, Seonsaengnim!”

Ki Bum terkekeh geli dibuatnya. “Strawberry milk?

Memperhatikan minumannya, Soo Rin tersadar bahwa lagi-lagi lelaki itu mengejeknya. “M-memangnya kenapa? Apakah minuman ini terlihat kekanakan? Yah, maklumi saja, aku ‘kan memang masih anak-anak!” sewotnya seraya menyeruput minumannya.

Lagipula jika minuman ini terlihat kekanakan, kenapa dibiarkan ada di dalam mesin itu? Ish! Apakah karena Soo Rin yang meminumnya jadi lelaki itu menganggap dirinya seperti anak kecil?

Lihat, lelaki bernama Kim Ki Bum itu lagi-lagi tertawa! Hei, Soo Rin sedang merajuk, bukan melucu!

“Bukan begitu.”

Soo Rin hampir berjengit kala merasakan sengatan aneh di tangannya, begitu tangan besar itu menangkupnya, menariknya hingga minuman di tangannya mengarah pada Ki Bum. Lelaki itu menunduk lalu tanpa izin ikut menyeruput minumannya.

A-apa yang dilakukan olehnya? Oh, tidak, bahkan setelah dengan beraninya mencuri sedikit minuman Soo Rin, seenaknya Ki Bum mengangkat wajah hingga berhadapan langsung dengan wajah Soo Rin, menatapnya terlampau lekat hingga Soo Rin harus menahan napas karena jarak yang sudah melewati batas sejengkal.

“Aku suka…” Ki Bum memiringkan wajahnya, seolah dirinya ingin menjangkau benda yang selalu mengeluarkan ocehan itu hingga sang empu mengatupkannya begitu rapat, menyungging senyum penuh arti sebelum kemudian, “strawberry milk,” menjauhkan kembali wajahnya seraya terkekeh geli.

Soo Rin harus merengut kecut melihat Ki Bum melanjutkan langkahnya lebih dulu. Kenapa lelaki itu mudah sekali membuatnya tidak karuan seperti ini?! Sudah membuatnya hampir kehabisan napas, kini dengan kurang ajarnya mempermainkan perasaannya hingga berakhir dengan kekesalan tidak menentu seperti sekarang ini.

Menghela napas panjang, Soo Rin mencoba untuk tidak menghiraukannya, berniat untuk meredakan perasaannya yang tidak menentu dengan minumannya namun… lagi-lagi ia disadarkan—bahwa lelaki bernama Kim Ki Bum itu sempat ikut meminumnya. Jantungnya bergemuruh aneh lagi, menatap nyalang sedotan dari minumannya yang sukses membuatnya menggigit bibir bawah diam-diam.

Bagaimana dia ingin meminumnya? Bukankah lelaki itu sudah menyentuhnya? Jika Soo Rin menyentuhnya juga, bukankah itu berarti dia sudah melakukan ciuman secara tidak langsung dengan lelaki itu?

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

Soo Rin tersentak kaget. Ternyata Ki Bum sudah kembali berada di hadapannya. Matanya ikut menatap minuman di tangannya sebelum akhirnya mendengus samar.

“Kenapa kau justru menatapnya seperti orang bodoh begitu?” Ki Bum mengerutkan kening, terheran. Tangannya ikut andil menuntun tangan gadis itu. “Kurasa itu masih banyak. Aku bahkan hanya mencicip—” Ki Bum terpaksa berhenti bicara. Melihat bagaimana wajah manis itu kembali merona, dengan bibir bawahnya yang tampak tengah digigit secara diam-diam… bagaimana bisa Ki Bum merasakan sesuatu yang aneh menghantam benaknya seperti ini?

Apakah karena perlakuannya yang sudah seenaknya tadi? Apakah itu dikarenakan dirinya yang sudah menyeruput minuman gadis ini? Apa karena…

Berdeham pelan, Ki Bum melepas tangannya dari tangan Soo Rin. Ia segera membuang wajah ke arah lain. “Jangan mengeluarkan ekspresi berlebihan seperti itu. Itu hanyalah ciuman tidak langsung.”

Soo Rin melirik lelaki yang kini kembali meninggalkannya. Ya, seharusnya dia tidak perlu terlalu memikirkannya. Bukankah ciuman tidak langsung semacam ini sudah biasa? Dianya saja yang terlalu polos akan hal ini. Bahkan dia juga pernah melihat teman sekolahnya dulu sering berbagi minuman dengan kekasihnya atau mungkin dengan teman lawan jenisnya dan mereka tidak mengambil pusing akan hal itu. Jadi kenapa Soo Rin berlebihan sekali seperti ini?

S-Seonsaengnim!

Menghentikan langkah, Ki Bum kembali berbalik badan, mendapati gadis itu kini menatap lurus dirinya dalam jarak sepuluh langkah dari tempatnya berdiri. Ia melihat bagaimana gadis itu tampak berpikir dengan wajah yang semakin merona itu sebelum akhirnya mengajukan pertanyaan yang cukup mengejutkannya.

“A-apakah… Seonsaengnim… s-sudah memiliki kekasih?”

Tidak ada sahutan yang berarti, hanya hembusan angin di penghujung musim dingin menerpa keduanya, menerbangkan rambut-rambut mereka hingga menari-nari dengan indahnya, menambah kadar pesona yang mampu mereka lihat masing-masing. Memicu salah satu dari mereka untuk menyungging senyum mempesona yang secara tidak langsung meneduhkan matanya.

“Aku sedang mencarinya.”

Dan Soo Rin merasakan bagaimana jantungnya berdegup begitu kencangnya kala melihat gelagat lelaki itu. Yang hanya dalam kurun waktu kurang dari satu jam lamanya, Soo Rin sudah dibuat terpikat dan merasakan sebuah perasaan baru yang selama ini belum pernah hinggap di dalam benaknya. Menyadarkan dirinya akan sesuatu bahwa… dia sudah jatuh ke dalam pesona lelaki yang akan menjadi gurunya nanti.

Ya, Park Soo Rin… menyukai guru bernama Kim Ki Bum itu.

****

“Jadi, di mana meja yang kau maksud itu?”

Soo Rin kembali sibuk menelusuri deretan meja di dalam sebuah kelas. Setelah mencari hingga berpindah gedung, Soo Rin hampir putus asa jika saja Ki Bum tidak memberi usul untuk mencari di lantai lain. Kini mereka memulainya dari lantai dasar dan mengabsen dari kelas terujung.

Ya, Ki Bum menemani Soo Rin mencari meja yang dimaksud oleh gadis itu—sebagai bentuk agar dirinya tidak dilaporkan oleh kepala sekolah oleh gadis itu. Yah, meski sebenarnya dia tahu bahwa itu merupakan ancaman paling konyol yang pernah keluar dari mulut Soo Rin, setidaknya dengan begini dia bisa melihat bagaimana seriusnya gadis itu mencari sesuatu yang sebenarnya bagi Ki Bum tidaklah penting.

“Memangnya kau menulis apa sampai-sampai kau ingin menghapusnya kembali?”

Soo Rin memilih untuk tidak menjawab. Dia mana mungkin mengatakannya jika dia sudah menulis sesuatu yang sangat aneh? Soo Rin sendiri tidak menyangka sudah menulis hal tersebut dan dengan bodohnya dia lupa untuk menghapusnya. Jika ada yang membacanya, itu akan terlihat memalukan!

“Oh?” Soo Rin mengerjap matanya beberapa kali. Ia segera mengitari meja tersebut demi melihat lebih jelas apa yang dia lihat di permukaan meja tersebut. Hingga kemudian, senyumnya mengembang. “Ini dia!”

Ternyata usul dari Ki Bum benar adanya. Meja yang dia cari sudah berpindah ke lantai satu mengingat sekolah ini sempat melakukan pembongkaran meja-meja karena hendak diganti dengan yang baru setelah sebelumnya dipilah. Dan, ya, meja yang dia cari berada di lantai ini! Di dalam kelas ini dan diletakkan di deretan terpojok!

Tapi, belum sempat Soo Rin bertindak karena masih terhanyut akan kesenangan, ia harus dikejutkan dengan merasakan kehadiran lelaki itu tepat di belakangnya, melihat bagaimana tangan besar itu terulur, menelusuri deretan coretan di permukaan meja tersebut, dan… membacanya.

Habis sudah.

“Jika aku menjadi murid di sekolah ini, aku ingin merasakan ciuman pertamaku.”

Soo Rin meneguk saliva, mendengar suara berat itu mengalun membacakan coretannya yang… begitu memalukan itu.

“A-ahahaha! Astaga, apa yang sudah aku tulis di sana? I-itu… itu pasti karena aku sedang kebingungan untuk menjawab soal ujian jadi aku menulis hal aneh seperti ini!” Soo Rin tertawa hambar. Sungguh, ia salah tingkah juga malu terhadap dirinya sendiri.

Bagaimana bisa dia dengan tidak tahu dirinya menulis pengandaian yang amat sangat konyol seperti ini?! Ya ampun, Soo Rin pasti terlihat memalukan sekali saat ini!

Ugh… ini harus segera dihapus! Bagaimana jika orang lain melihat ini—”

Soo Rin harus berjengit di tempatnya begitu tangan besar itu menyentuh tangannya yang hendak menghapus coretan tersebut. Sempat ia berpikir bahwa tindakannya begitu konyol namun kini ia merasakan jantungnya seperti tengah berjungkir balik begitu tahu lelaki itu merapatkan diri di punggungnya, mengurungnya dari belakang hingga dirinya tidak bisa melarikan diri lagi.

“Kau ingin mencobanya? Ciuman pertamamu…”

sys-c

Tubuhnya bergetar begitu suara berat itu mengalun tepat di depan telinganya. Ia tidak memiliki ide mengapa suara Kim Ki Bum terdengar mengalami perubahan. Apakah ini karena pendengarannya yang tiba-tiba bermasalah? Tapi, suara itu… bagaimana bisa berhasil membuat Soo Rin hampir lupa caranya bernapas?

Apalagi Kim Ki Bum dengan begitu mudahnya membalikkan tubuhnya hingga kini mereka berhadapan. Dan Soo Rin hampir terjungkal mendapati wajah tegas lelaki itu begitu dekat dengannya—jika saja tangan besar itu tidak menahan pinggangnya.

“T-tapi…” suaranya terdengar penuh gemetar, ia tidak yakin mampu melanjutkannya mengingat suaranya yang hampir mencicit hingga ia harus menelan saliva bulat-bulat, “T-tapi aku adalah murid—”

“Tidak. Belum.” Ki Bum merengkuh wajah yang sejak awal sudah menguji pertahanannya, merasakan betapa halusnya kulit yang tampak polos tanpa polesan apapun, menyengatnya hingga menggoyahkan akal sehatnya, dan Ki Bum memiringkan wajah tegasnya, sebelum kemudian, “Kau belum menjadi muridku, dan aku belum menjadi gurumu.”

Soo Rin merasakannya. Coretan konyolnya terwujud berkat Kim Ki Bum. Lelaki itu mengabulkannya dengan menyatukan material lembut mereka penuh rasa dan hati-hati. Meledakkan sensasi yang begitu asing di dalam benak Soo Rin, merasakan perutnya bagaikan dipenuhi dengan kepakan kupu-kupu yang berterbangan, merasakan jantungnya sempat berhenti berdetak untuk beberapa saat seolah tengah mengancang-ancang sebelum akhirnya berlari seperti angin.

Ia belum pernah seperti ini sebelumnya. Pertama kalinya, ia merasakan tungkai kakinya melemas hingga tubuhnya bisa terjatuh jika lelaki ini tidak memeluknya seperti sekarang, memejamkan mata karena tidak kuasa menahan gejolak menggebu di dalam benaknya begitu adanya sensasi aneh namun lembut menyapa permukaan bibirnya, memagutnya hingga ia merasa penuh, dan ia tidak berani untuk bergerak, hanya berani meremat jaket yang dikenakan lelaki ini—di bagian lengannya yang terasa kekar dan begitu pas memeluk tubuhnya.

Sedangkan Ki Bum berjuang untuk tidak melakukan lebih, memilih untuk kembali melepas pagutannya sebelum fantasi liarnya menguasai kinerja tubuhnya, tapi sialnya dia harus menggeram tertahan begitu melihat semburat kemerahan terpatri di kedua pipi gadis di pelukannya ini. Menahan napas sekaligus mati-matian untuk tidak mengikuti nalurinya yang ingin merasakan kelembutan dari bibir yang tampak kemerahan dan begitu natural.

Oh, ya ampun, Park Soo Rin terlihat begitu cantik setelah dia berhasil menciumnya!

“Apa yang kalian lakukan di sana?!”

Keduanya segera menoleh, mendapati seorang wanita berumur dengan kacamata tebalnya tampak memandang mereka begitu tajam. Serta merta tidak hanya Ki Bum, Soo Rin juga mulai dilanda kepanikan dan itu lebih jelas terlihat di wajah meronanya.

“Sial! Kenapa Guru Hwang bisa ada di sini?”

Mendengar umpatan itu, Soo Rin terperangah. Oh, bagus, dia sudah tertangkap basah oleh guru lainnya di sekolah ini, dalam kondisi seperti ini!

“Kim Ki Bum? Sedang apa kau di sana? Siapa gadis itu?” Guru Hwang membenarkan letak kacamatanya, memicing curiga melihat keduanya yang masih berpelukan di sudut ruangan sana. Beliau tengah membuka pintu kelas lebih lebar lagi seraya kembali bersuara, “Apa yang sudah kau lakukan pada—Kim Ki Bum!”

Lelaki itu membuka salah satu jendela di dekatnya, kemudian mengangkat tubuh Soo Rin dengan mudahnya, menuntun gadis itu untuk keluar dari sana.

“Ikuti saja koridor itu dan kau akan menemukan pintu gerbang sekolah,” titah Ki Bum seraya menunjuk koridor di seberang gedung ini dengan dagunya. Memerintah Soo Rin secara tidak langsung untuk melarikan diri.

“T-tapi bagaimana denganmu?”

Dan Soo Rin yang sempat tidak setuju karena ia harus meninggalkan Kim Ki Bum, mendadak kembali tidak berkutik begitu lelaki itu kembali menciumnya—untuk yang kedua kali, mengecup bibirnya sebelum benar-benar melepasnya lalu menyungging senyum teduhnya yang menenangkan.

“Sampai bertemu di musim semi nanti.”

Soo Rin hampir tidak menyadari bahwa Ki Bum sudah berhasil menuntunnya untuk menapak lantai di luar jendela. Sudut matanya melihat wanita yang dipanggil Guru Hwang itu hampir menjangkau lelaki itu, tapi entah mengapa Soo Rin justru mengulas senyum manisnya. Karena, dia percaya bahwa Kim Ki Bum akan baik-baik saja. Lelaki itu sudah menyelamatkannya lagi, jadi, dia harus percaya bahwa lelaki itu bisa menanganinya.

Dan, ya, Soo Rin akan bertemu dengan Kim Ki Bum di musim semi nanti.

&&&

Tahun ajaran baru datang, di awal musim semi, di mana tumpukan salju sudah mencair serta matahari memancarkan sinarnya yang begitu hangat. Tepat di awal pekan ini, Sekolah Gwangju telah dipadati oleh banyak murid yang mulai berdatangan. Terutama para murid baru yang cukup menarik perhatian penghuni lama sekolah ini.

Soo Rin sudah duduk di salah satu kursi di dalam sebuah aula. Tempat di mana akan diadakannya acara penyambutan murid baru di tahun ajaran ini. Gadis itu membiarkan rambut panjangnya tergerai, menjuntai indah di punggungnya. Hanya saja wajah manisnya yang masih tampak polos tanpa polesan itu terlihat gelisah karena merasakan dadanya berdebar-debar. Beberapa kali ia harus menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan-lahan.

“Aku gugup sekali,” sebuah suara di sebelahnya berhasil menarik perhatiannya. Aah, seharusnya dia memiliki teman untuk diajak berbicara tetapi sayangnya teman-teman dekatnya tidak berhasil lolos kemari. Sedangkan beberapa yang berasal dari sekolahnya dulu tidaklah begitu dia kenal dan terpisah cukup jauh di belakang sana.

Omo! Lihat guru itu! Tampan sekali!” dan suara lainnya segera menggerakkan syaraf motoriknya untuk mencari, hingga kemudian ia melihat seorang lelaki berjas dengan kacamata berbingkai bertengger di hidungnya yang tidak begitu mancung. Namun memang begitu tampan dan berwibawa.

Soo Rin melemaskan kedua bahunya yang sempat menegang. Batinnya mendesah sedih. Ternyata bukan dia. Soo Rin pikir mereka melihat lelaki itu.

“Apa kau tahu? Ada guru yang lebih tampan lagi darinya!”

“Benarkah? Siapa?”

“Kudengar dia akrab dipanggil dengan sebutan Kim Saem. Mereka mengatakan bahwa guru itu sangat tampan dan masih cukup muda!”

“Aah, aku juga pernah mendengarnya. Tapi kabarnya Kim Saem itu sedang mengambil cuti saat ini untuk berbulan madu.”

Eeh? Dia sudah menikah? Tidak mungkin!”

Ough, padahal aku belum pernah melihatnya.”

Eo. Aku ingin sekali melihatnya.”

Kedua tangannya tampak meremas rok seragam di pangkuan, dagunya tampak mengeras bersamaan dengan bibirnya yang merengut, menggigit bagian bawahnya diam-diam, bersamaan dengan matanya yang tampak mengembun juga memerah di balik lapisannya. Dan, tanpa ia mau, bulir hangat yang sudah membumbung di pelupuk matanya tumpah begitu saja, mengaliri sebelah pipinya, membentuk sungai kecil di sana.

Kenapa dadanya terasa begitu sesak seperti ini? Sampai-sampai dia tidak sanggup untuk bernapas dengan baik dan ia tidak mampu berpikir lagi. Setelah mendengar percakapan dari ketiga siswi baru di sebelahnya itu, Soo Rin merasa batinnya tertohok begitu kerasnya.

Cepat-cepat dirinya bangkit dari duduk, menarik perhatian beberapa orang di dekatnya hingga memandangnya terheran-heran. Soo Rin menundukkan kepala dalam-dalam, ia tidak bisa untuk tetap bertahan di sini. Dia membutuhkan tempat lain untuk melepas rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Itulah mengapa dia segera berlari keluar dari aula, membekap mulutnya demi meredam isakannya yang sudah tidak bisa dia tahan lagi, dan Soo Rin memilih untuk membawa dirinya menuju samping aula di mana hanya ada rerumputan serta pepohonan yang mulai menumbuhkan dedaunannya. Kemudian ia meluruhkan tubuhnya, berjongkok melipat kedua tangannya dan menelungkup di sana.

Soo Rin menumpahkan semuanya. Menangis deras hingga ia hampir kesulitan untuk sekadar menghirup udara yang hampir minim di sekitarnya. Seharusnya hari ini adalah momen di mana dia berbahagia karena akan memulai kegiatan belajar-mengajar di sekolah incarannya ini. Tapi kenapa dia justru kehilangan semua perasaan itu dan berganti dengan rasa sakit yang begitu pahit hanya karena satu titik? Hanya karena mendengar sebuah kenyataan yang sulit sekali untuk dia terima.

Kim Saem… guru bernama Kim Ki Bum itu… ternyata sudah menikah, bahkan sedang menjalani cuti untuk melaksanakan bulan madu.

Soo Rin menertawakan kebodohannya di dalam hati. Benar juga… bukankah lelaki itu memang selalu mempermainkannya? Sejak mereka bertemu, bukankah Kim Ki Bum itu selalu menggodanya dan membuatnya seperti orang bodoh? Dan membuatnya rela untuk memberikan ciuman pertamanya pada lelaki itu?

Apa karena dia adalah gadis polos yang tidak mengerti apapun, memudahkan lelaki itu untuk memperdayakannya dan berakhir seperti ini? Apa karena dia gadis yang tidak mengerti seperti apa jatuh cinta maka lelaki bernama Kim Ki Bum itu mempermainkannya? Dan begitu Soo Rin mengerti, maka dia akan dijatuhkan seperti sekarang ini?

Sungguh, kau benar-benar bodoh, Park Soo Rin. Bahkan kau adalah orang idiot yang mudah sekali dipermainkan oleh lelaki. Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Menuntut lelaki itu untuk mengembalikan ciuman pertamamu? Hah! Lucu sekali…

“Apa kau sedang membuat daftar hitam di buku kehadiranmu, Park Soo Rin-sshi?”

Soo Rin menghentikan isakannya. Sedikit terkejut dengan panggilan yang terdengar familiar karena suaranya. Berharap Soo Rin hanya tengah berdelusi karena—dengan kurang ajarnya dia memang tengah merindukan suara berat itu di saat dirinya tengah sakit hati berkat lelaki itu.

Dan Soo Rin memilih untuk melanjutkan kesedihannya tanpa berniat untuk mengangkat wajah. Jika dipikirkan, sepertinya wajah Soo Rin sudah sangat jelek berkat air matanya yang sudah menodai kedua pipinya saat ini.

Langkah kakinya terbuka, mendekati gadis yang masih betah menelungkup di sana seperti orang hilang, kemudian ia memilih untuk ikut berjongkok di hadapan gadis itu. Mendengus samar sebelum akhirnya ia meraih puncak kepala gadis itu, menepuknya dengan pelan hingga lagi-lagi mengejutkan sang empunya.

“Kau akan mendapat hukuman dariku jika berani membolos dari acara penyambutan ini, Park Soo Rin.”

Ancamannya berhasil menggerakkan Soo Rin untuk mengangkat kepala. Matanya yang basah tampak mengaburkan pandangannya hingga butuh beberapa detik untuk melihat dengan jelas siapa yang ada di hadapannya. Barulah Soo Rin bereaksi, tubuhnya berjengit hingga terjungkal, ia nyaris membenturkan kepalanya pada dinding di belakangnya jika saja tangan besar itu tidak segera menangkapnya, menahannya yang otomatis tubuh tegap itu semakin dekat dengannya. Dan Soo Rin harus meneguk saliva begitu menyadari tubuhnya yang terduduk tegang sudah berada di dalam kungkungan lelaki di hadapannya.

“Astaga, kenapa wajahmu jelek sekali, hm?”

Soo Rin hampir lupa bahwa mulutnya terbuka lebar saat ini. Matanya tampak mengabur sesekali hingga akhirnya ia mengerjap berkali-kali. Ya Tuhan, dia berharap bahwa dirinya memang tidak berhalusinasi karena sudah berani melihat lelaki itu ada di hadapannya saat ini. “K-Kim Seonsaengnim…

Lelaki yang dipanggil Guru Kim itu mendengus geli. Senyumnya mengembang hingga akhirnya ia terkekeh pelan. “Kim Seonsaengnim? Kau masih memanggilku seperti itu di saat aku berpenampilan seperti ini?”

Barulah Soo Rin tersadar. Bagaimana bisa dia memanggilnya seperti itu di saat orang di hadapannya tengah mengenakan seragam sekolah ini?

T-tunggu, seragam sekolah?!

“K-kau…” mata beriris kecoklatannya melotot terperangah. Kemudian ia merasakan dentuman keras di dalam rongga dadanya kala melihat bibir penuh itu tertarik menciptakan seringai mematikan.

“Bagaimana bisa kau memanggilku dengan sebutan yang lebih tua seperti itu? Apa wajahku ini lebih pantas untuk menjadi seorang guru dibandingkan murid sekolah, hm?”

“K-kau… bukan seorang guru?” Soo Rin hampir kehabisan suara. Apalagi lelaki itu kembali terkekeh pelan, berkat dirinya.

“Menurutmu?”

Dan Soo Rin hampir kehabisan kata-kata. “T-tapi… mereka mengatakan bahwa—k-kau… kau sudah menikah…”

“Menikah? Apa kau pikir aku sudah diperbolehkan untuk menikah di usiaku yang baru akan menginjak delapan belas tahun?” ia memamerkan senyum miringnya—lagi. Tangannya bergerak naik, menyentuh wajah Soo Rin yang sudah basah karena air mata, ibu jarinya mengusap perlahan sudut mata gadis itu. “Dan meninggalkanmu begitu saja?” lanjutnya penuh arti.

Wajah manisnya mulai menampakkan rona kemerahannya. Ia tidak menyangka bahwa lelaki ini—lelaki yang sempat digosipkan tengah berbulan madu ini ternyata memang sedang berada di hadapannya, menatap teduh dirinya, sekaligus menyentuh wajahnya dengan tangan besarnya yang begitu hangat.

“J-jadi… kau bukan seorang guru?”

“Bukan.”

“Kau… kau bukan Kim Saem itu?”

“Bukan.”

“Kau—bukan orang yang sedang mengambil cuti karena berbulan madu itu?”

Ki Bum—lelaki itu terkekeh geli dibuatnya. “Kau sudah salah paham. Kim Saem yang kau maksud adalah kakakku. Dia mengajar di sini dan kini dia mengambil cuti untuk berbulan madu dengan pasangannya. Jelas itu bukanlah aku.”

“Tapi…” Soo Rin merasakan matanya memanas kembali. Mengingat kejadian di saat itu, saat ia bertemu dengan lelaki ini untuk kali pertama… “Tapi kenapa kau tidak mengatakan padaku bahwa kau bukanlah Kim Seonsaengnim?”

“Karena aku menyukaimu.” Ki Bum melihat raut wajah di hadapannya berubah, tampak terkejut akan ungkapannya. Ia mengulum senyum simpul, “Aku menyukaimu yang mudah sekali percaya padaku.”

Semburat di kedua pipi Soo Rin menjadi-jadi. Ia merasa lega, karena ternyata lelaki ini bukanlah si Guru Kim itu. Tetapi, ia kembali merasa bodoh karena lelaki ini ternyata membohonginya. “Kau menipuku…” isaknya pada akhirnya, tangannya memukul bahu lelaki itu penuh kesal, “Apa karena aku ini murid baru jadi dengan mudahnya kau permainkan sesuka hati, huh? Kau membuatku terlihat seperti orang bodoh, Kim Ki Bum! Kau benar-benar menyebalkan!!”

Tangan besarnya meraih tangan-tangan Soo Rin, mengikatnya dengan lembut sebelum tangan lainnya merengkuh wajah manis gadis itu, senyum teduhnya mengembang—memberikan ketenangan pada gadis yang sudah kembali menangis karenanya. Astaga, dia tidak menyangka bahwa gadis ini menangisinya hingga tampak kacau seperti sekarang.

“Tapi aku tidak berbohong bahwa kita akan bertemu lagi di musim semi. Benar, bukan?” Ki Bum bergerak mendekat, memiringkan wajahnya, membiarkan dirinya merasakan sensasi menggelitik kala hidung mereka bersentuhan saling menggesek, senyum menawannya tidak lepas hingga kemudian ia melanjutkan, “Dan aku bukan lagi gurumu, melainkan seniormu.”

Soo Rin memejamkan mata, merasakan bibir lelaki itu kembali menyapa bibirnya, dan kini tidak hanya sekadar menempel, melainkan bergerak penuh kelembutan yang membangkitkan gelenyar aneh di sekujur tubuhnya, menjalar hingga tercipta rasa panas di wajahnya. Bagaimana Kim Ki Bum seolah memanjakannya dengan lumatan-lumatan kecil yang di waktu bersamaan memunculkan sengatan-sengatan yang menggelitik isi perutnya. Melemaskan seluruh kinerja syarafnya hingga ia memilih untuk pasrah begitu tangan besar yang sempat merengkuh sebelah wajahnya berpindah dengan mulusnya kini hinggap di belakang kepala juga tengkuknya, menekan lembut hingga ia merasakan bibir penuh itu menekan miliknya. Dan jantungnya serasa menggila di dalam rongga dadanya.

Melepasnya, Ki Bum kembali melihat bagaimana wajah merona itu terlihat begitu cantik dengan semburat merah padamnya. Sungguh dirinya sangat menyukai reaksi yang begitu menggemaskan ini. Seolah memancingnya untuk melakukannya lagi dan lagi. Tapi ia masih memiliki akal sehat yang kembali menguasai dirinya, bahwa dia bisa saja lepas kendali jika ia memilih untuk melakukannya lagi.

sys-d

“Mungkin aku bisa lebih dari sekadar seorang seniormu. Jika kau mau, Park Soo Rin.”

Meneguk saliva, Soo Rin yang belum leluasa menghirup napas terpaksa menahannya lagi begitu mencerna ungkapan Kim Ki Bum. Apalagi lelaki itu lagi-lagi memamerkan senyum penuh arti disertai kedipan sebelah mata yang jelas menceloskan jantungnya sebelum kembali bermarathon.

Ya Tuhan, Soo Rin berharap bahwa dirinya tidak jatuh pingsan berkat efek radiasi dari pesona lelaki ini!

“Hei, apa kau sudah menemukan Ketua?”

“Belum.”

“Astaga, di mana dia sekarang? Sebentar lagi acaranya dimulai dan dia adalah pembukanya!”

Ki Bum membuat jarak sebelum akhirnya berdiri. Tidak lupa ia menuntun Soo Rin untuk ikut berdiri. Kemudian mendengus pelan melihat penampilan gadis itu yang terlihat berantakan. Tangan-tangan besarnya berinisiatif untuk merapikan rambut tergerai gadis itu, menyisirnya dengan jari-jemarinya yang membiarkan dirinya merasakan betapa halusnya rambut panjang tersebut. Kemudian beralih merapikan kerah seragam gadis itu sekaligus memperbaiki letak dasinya yang sempat miring.

Perlakuannya telah berhasil membuat Soo Rin berdesir-desir tidak karuan hingga dirinya hanya mampu menundukkan wajahnya. Hanya beberapa saat, karena ia kembali merasakan sengatan di kedua pipinya begitu tangan lelaki itu menangkupnya, mengusap kedua pipinya penuh rasa menggunakan ibu jarinya, membiarkan dirinya melihat bibir yang sempat menciumnya itu kini tersenyum begitu manis padanya.

“Ayo kembali ke dalam. Acaranya akan dimulai sebentar lagi. Mereka juga mulai mencariku.”

Soo Rin mengernyit bingung. Mereka? Apakah yang Kim Ki Bum maksud adalah suara-suara yang baru saja dia dengar.

“Kau siapa?”

Ki Bum hampir menyemburkan tawanya mendengar pertanyaan spontan dari Soo Rin. Apalagi melihat raut wajah menggemaskan itu berubah melongo yang mempertegas kepolosannya. Untungnya Ki Bum mengerti arah pertanyaan gadis yang sudah berhasil ia gandeng saat ini.

“Aku? Aku adalah orang yang akan menyambutmu dan teman-temanmu di atas panggung nanti,” jawabnya penuh arti.

Soo Rin tampak berpikir kala lelaki itu menarik genggaman tangan mereka dengan lembut, mengajaknya untuk melangkah keluar dari tempat persembunyian itu.

Tunggu sebentar, seingatnya murid sekolah yang bisa naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan selamat datang kepada murid baru adalah—

Melebarkan mata, Soo Rin menoleh cepat menatap Ki Bum. Menemukan sebuah fakta lain akan lelaki di sebelahnya ini bahwa…

Oh, astaga…

sys-b
cr. (click) this site ^^
F I N

karna waktu itu, aku lagi beres-beresin gudang dan nemu kumpulan manga-ku, aku baca manga karangan Minase Ai Sensei judulnya 37°C Boyfriend dan yg aku adaptasikan ini merupakan cerita lepas dari manga itu judulnya Wait Until The Spring Comes heheheh entahlah, rasanya mau aku remake ke versi KiSoo, dan tentunya ending yang aku bikin sengaja aku bedain biar ga jiplak amat._. kalo di manga-nya mereka ternyata teman sekelas sedangkan versiku ternyata…..begitulah XD

ugh, mungkin ini gabisa disebut sebagai hadiah tahun baru karna ide ceritanya bukan karangan aku sendiri hiks… sebenarnya, sepertinya aku mulai kena gejala writer block tanpa sebab jadi, aku bingung mau nulis apa begitu pegang laptop T____T maafkan aku yang belum bisa mempersembahkan yang terbaik untuk para pembaca di sini..

Semoga di tahun 2016 ini kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menjadi pribadi yang saling menghargai maupun menghormati satu sama lain. Menjadi pribadi yang berpikir lebih dewasa lagi dan mengerti mana yang baik dan yang paling baik. Dan semoga di tahun ini, aku masih diberi kesempatan untuk menulis fiksi kimkibum, serta masih diterima oleh pembaca sekalian ^-^ Terima kasih atas segala dukungan semua pembaca yang sudah menyempatkan diri menengok blog abal-abal dan tidak mainstream karna tokoh yang aku ambil untuk cerita di sini hihihi

yaudah, salam hangat dari couple kesayangan kita saya 😀

kim-ki-bum-14
그리워운 김기범
사랑하는 박수린 ^^
사랑하는 박수린 ^^

H A P P Y  N E W  Y E A R

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

28 thoughts on “See You Again in Spring

  1. Kibummm kau nakal ya sudah berani berciuman di sekolah menengah atas…kkkkkk

    bagus thor aku suka,,
    apakah crita ini yang bakalan ada kyuhyunnya..?

    Ahhh dari pada penasaran mending di tunggu lanjutannya…

    Kajja d lanjut jangan lama” ya haha

    chayo chayoooooo

  2. Kim kibum oh kim kibum, dirimu membuat park soorin dan diriku meleleh. ::>_<:: hueee kau sungguh lihay kim kibum,oh tidaaak ada apa dengan diriku ini. #abaikan

    hmm.. tak apalah kak,walaupun ceritanya dari manga tapi dipadukannya dengan imajinasi dirimu jadi makin keren. Hihihi semangat!! 😁😁

  3. Ah tenyata ki bum senior soo rin. Bikin deg degan aja. Dan ki bum berani sekali baru ketemu pertama kali udah main cium2 aja.

  4. KI BUM kembali jadi penggemar rahasia.. dia merahasiakan identitasnya…
    Tapi kenapa disini aku merasa ki bum tak lg menjadi dictator yg c00l melainkan dictator yg genit.. tebar pes0na ma s00 rin yg polos..
    Kapan ya si dictator genius itu kembli beraksi dgn pisau bedahnya??

  5. Kalo aku jadi soorin juga bakalan ngira si kibum guru. Secara dia tua gitu loh mukanya 😂😂😂😂 tua tapi ganteng. Itu btw manganya dijual di toko-toko buku gak shizuka-ssi? Atau ada blog khususnya? Kepo nih ama ceritanya..

  6. kirain beneran kim kibum pergi bulan madu ternyata itu kakanya,kibum jg bukan seorang guru tpi murid jg.kshan ma sorin kena tipu mlu ma kibun suka bbt ma ceritanya ditunggu lanjutanya lg.

  7. aigoooo bahkan akupun kena tipu.. kukira kibum beneran seorang guru.. eh ternyataa ckckckck
    lagi dong lagi authornim.. ini endingnya ngegemesin(?) wkwkwk bikin sequelnya jebbaaaallll 🙂

  8. AMIN EONNI DAN SEMOGA KARYA EONNI MAKIN BANYAK YANG SUKA DAN SEMOGA KISOO CEPET PUNYA BABY *YangIniBecanda:D* , Soo Rin itu terlalu Polos apa muka Ki Bum yang ketuaan sampe dibilang Saem :v , Yaampun Kangen banget sama cerita School life KiSoo , Soo Rin selalu beruntung gak Dokter bedah sekarang ketua Senior , FFnya keren ngegemesin dan bikin baver T.T . HAPPY NEW YEAR EONNI DAN HAPPY NEW YEAR KISOO SEMOGA MAKIN LANGGENG DAN KEEP ROMANTIS :*

    1. AAMIIN~! waaaa makasih banyak buat doanyaa~ doakan aja supaya kisoo bisa melakukannya (?) wks XD
      kimkibum-nya aja yg ketuaan sampe Soorin-nya salah paham wkwk meski begitu kimkibum tetap tamvan dan menggoda kan #uhuk >/////<

  9. kim kibuuuuuuuuum keenapa selalu agresif dan romantis sihhhh
    engga pernah bosen baca ff kisoo ♥♥
    di tunggu karyamu yang selanjutnya author kece

  10. Happy New Year 🙂
    smga di thun baru ni smua ny jd lbih baik dri thun kmrin… amin 😉

    sequel please XD
    bnran bgus crta nya feel ny jg dpt 😉
    dtnggu sequel ny #maksa 😀

  11. OMG apa kibumie ketua osis ??.:-D guru kim hhhhh q jg nyangka’a kibum guru ternyta bukan pasti guru kim tu kim heechul yh :-P,
    y ampun kibumie bisa’a main nyium anak orang padahal baru pertama bertemu kkk soorin polos bgt yakin..LANJOUTTTTTTTT

  12. ceritanya panjaaaaaaaanngggg sekalehh /tumben/ #plakk *ditendang author
    tapi memuaskan/? (y)
    bagus!! kembali lagi kejaman SMA, disini karakter kibum beda dari biasanya yahh? agak nakal gimana gitu kalo lagi sama soorin wkwk xD keren!! (y)
    tapi yahh liat kibum dengan karakter seperti itu, di kepalaku malah muter2 muka nya kyukyu hadohh >< wkwkwk
    .
    .
    gak ada niat buat bikin sequel nya ya, author-nim? *toel2 kibum #ehh

    1. tumben ya.. biasanya mah singkat2 plus gajelas bahahaha x’D
      euh, soalnya karakternya kayak EvilKyu ya hahahah tak apa itu wajar TwT wks aduh, aku bingung kalo mau dibikin sequel soalnya ini dari manga sih #terus-_-
      tapi makasih banyaaak udah mau baca~><

  13. Aku suka banget, feel nya dapet aku deg2an bacanya, senyum2 gaje dibuatnya…pas banget sama karakter Ki bum buatanmu selalu manis membuatku meleleh sama kelakuannya…kerennnnn….

    Selamat tahun baru juga #telat moga kita benar2 jd manusia yg lebih baik lg dari tahun2 sblmnya amin….dan kesuksesan selalu menyertai kita…amin…

  14. ihhh ini sweet bangetttt .. *teriakkkkk

    ya ampun .. aku membacanya sambil membayangkannya dan >///< *blush kurasa wajahku sudah memerah

    Park Soorin yang polos,ceria ternyata dikerjai sama Kim kibum si senior yang tampan tapi menyebalkan. bisa ditebak kalau disini Kim Kibum adalah ketua osis, keutchi? kkk aku sempat merasakan sedih sih pas Soorin salah sangka kalau kibum sudah menikah dan berbulan madu. aigoo, rasanya akan aneh sekali kalau pria yang merebut first kissmu adalah pria yang sudah menikah.

    ahh pantas aja soorin kalang kabut nyari tuh meja, ternyata dia menulis kalimat yang menggelikan XDD tapi akhirnya permintaanmu terpenuhi kan Soorin ^^ ahhh sweet story ^////^

  15. Lahhh kirain kibum tuh beneran guru loh haha. Eh thor mau nanya dong komiknya itu belum ada versi indo nya ya di online?

  16. Kim kibum itu, kalo boleh dikasih izin, pengen aku tendaaaaaaaaaaanggg orzzzzz 😂😂😂😂 emesh lah disini foto dia unyu banget jadi ga tega lagi mau nendang 😂😂😭😭
    Aaak yewlaa aku kaget cekali pas tiba2 si Soorin mau aja dithium(?) kaya gitu sama orang yang belum sehari ia kenal /pukpuk soorin/ tapi untung Kim kibum ganteng, jadii okelah /plakplok/ (´△`) ew
    Dan lagii itu ya ampuun aku udah geregetan juga pas denger “sudah menikah” aaaak huaa aku udah wanti2 aja itu bakal one-sided-love aja huaaa tapi ternyata untungnya gajadi yayyyy (ノД`)
    Duuh FF iniii rasa nanonanoo poko nya. Nice lah poko nyaaaa ゚( ゚இ‸இ゚)゚
    Kalo menurutku sih gaperlu sekuel :)) beberapa cerita ada yang sudah bagus tanpa perlu ada ending yang jelas :))
    Buktinya ini udah pas banget menurutku: ))
    Ayayayayayyyy mangats teyuuus siskachii nulisnya yehetss :DD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s