Posted in Category Fiction, Fiction, Fluff, One Shot, PG, Romance

Medical Center – OR

2nv40

Genre :: Fluff-Romance

Rated :: PG

Length :: Oneshot

||KiSoo||

jangan menganggap serius judulnya karena isinya tidak seserius judulnya

H A P P Y  R E A D I N G

.

©2015 ELVABARI

.

SOO RIN tidak mengerti mengapa belakangan ini ia merasa sakit di bagian perutnya. Meski dirinya sudah mengisinya dengan santapan makanan, ia masih merasakan perutnya begitu kosong di dalam sana. Dan ia tidak mengerti karena harus mengeluh perih seperti terkena gejala maag.

Rasa-rasanya dia tidak memiliki riwayat penyakit maag. Apakah ini disebabkan oleh pola makannya yang mulai tidak beraturan? Soo Rin sadar bahwa beberapa bulan belakangan ini dia disibukkan dengan deadline editing beberapa naskah yang hendak diterbitkan oleh penerbit tempat dirinya bekerja dalam waktu dekat. Soo Rin juga sering pulang terlambat karena harus mendapat jatah lembur dan hampir menyamai jadwal pulang Kim Ki Bum tiap harinya.

Seperti hari ini. Biasanya Soo Rin akan menginjakkan kaki di apartemen pada pukul lima sore, atau dia akan menyempatkan diri untuk mampir ke Mouse Rabbit Café milik Jong Woon dan Jong Jin untuk sekadar menikmati Choco Frappuccino kesukaannya sebelum pulang. Hanya saja, beberapa hari ini dia baru keluar dari tempat kerjanya di pukul delapan malam dan baru menyapa apartemennya di pukul sembilan malam.

Dan Soo Rin harus berhadapan dengan pria yang sudah berdiri di balik pintu apartemen, menyapanya dengan tangan bersedekap serta menatap datar dirinya yang sarat akan peringatan. Bahkan pria itu masih mengenakan setelan yang Soo Rin ingat dikenakan untuk berangkat ke rumah sakit pagi tadi.

“Kim Ki Bum, kau baru pulang?” Soo Rin mencoba memberi sapa. Namun ia harus meneguk saliva diam-diam karena pria itu justru menghunusnya.

“Pulang terlambat lagi?” Ki Bum membalas dengan pertanyaan lain. Nada bicaranya menyiratkan bahwa ia tidak ingin dielak.

Itulah mengapa Soo Rin mengangguk pelan-pelan seraya menggaruk tengkuk di balik rambut panjangnya. “Maaf, aku tidak mengabarimu,” sesalnya kemudian.

Ki Bum menghentak napasnya. “Bisakah kau tidak lupa untuk mengabariku? Kenapa aku harus pulang terlebih dahulu dan baru menyadari bahwa kau masih di luar, Park Soo Rin?” mendapati gadis di hadapannya tidak akan langsung menjawab, Ki Bum melanjutkan, “Aku tidak suka jika mendapati dirimu belum ada di apartemen ketika aku pulang. Kau tahu itu, bukan?”

“Maaf…”

Dan Ki Bum terpaksa memejamkan mata. Menahan gejolak emosinya. Selalu seperti ini, jika Soo Rin memilih untuk mengalah dengan mengucapkan permintaan maaf serta menunduk menyesal seperti saat ini, Ki Bum merasa menjadi pihak yang bersalah karena sudah memarahi gadisnya sendiri. Padahal niat awal Ki Bum adalah ingin agar gadisnya ini tidak mengulangi hal yang bisa merugikan dirinya sendiri lagi.

Pada akhirnya Ki Bum menjadi pihak yang benar-benar mengalah. Lagipula menegur Soo Rin yang sedang kelelahan itu sama saja membuat Soo Rin semakin tertekan, bukan? Yah, Ki Bum memang memiliki kesalahan. Karenanya ia mendekati gadis itu demi memberikan pelukan sekaligus kecupan hangat tepat di kening berponi Soo Rin.

“Sudah makan malam?”

Soo Rin yang mulai merasa nyaman mengangguk cepat sebagai jawaban dari pertanyaan halus Kim Ki Bum. Dan ia merasa lega begitu menangkap keteduhan di balik manik hitam pria itu untuknya. Bukankah itu menandakan bahwa pria ini sudah memaafkannya?

“Kalau begitu bersihkan dirimu lalu beristirahatlah. Kau harus bekerja lagi besok, bukan?” Ki Bum mengulas senyum hangatnya meski samar, ketika gadis di pelukannya mengangguk kembali menjawab pertanyaannya.

Setidaknya dengan begini dia merasa lega bahwa Soo Rin mulai merileks karena perlakuannya. Meski sebenarnya dia harus merasa sedikit cemas melihat wajah cantik itu sedikit pucat. Mungkin karena kerja lemburnya yang cukup menguras tenaga.

Sedangkan tanpa diketahui Ki Bum, Soo Rin lagi-lagi menyembunyikan fakta bahwa dirinya tengah menahan rasa sakit di dalam perutnya yang entah kenapa semakin pantang untuk menghilang.

****

“Ini aneh…”

Soo Rin mematut dirinya pada cermin di dalam kamar mandi. Sebelah tangannya bertumpu pada wastafel sedangkan yang lainnya meremas perut bagian bawah. Keningnya tampak terlipat jelas dengan raut seperti menahan rasa sakit. Memperhatikan wajahnya yang tampak pucat meski ia sudah membasuh wajah.

Pagi ini, Soo Rin harus mengeluarkan isi perutnya yang sudah ia santap kemarin—sepertinya. Adalah hal yang sangat aneh baginya karena itu terpacu setelah dirinya menenggak air mineral untuk mendorong obat tablet yang sempat ia beli kemarin. Tentunya, obat yang belum ada 5 menit ia santap kembali keluar bersama muntahan lainnya.

Aneh baginya karena ia merasa mual hanya karena air mineral. Ditambah, ia mulai merasa sakit yang berbeda—seolah memperjelas pusat dari rasa sakitnya yang sudah lama ini mendera. Dia mengira bahwa dirinya terkena penyakit maag hingga tidak biasanya harus meminum obat jenis tersebut sebanyak tiga kali dalam sehari. Tapi sepertinya Soo Rin tidaklah terkena penyakit maag mengingat pusat rasa sakitnya berada di bagian bawah perut tepatnya di sebelah kanan. Bahkan untuk awal hari ini, sepertinya sistem pencernaan di dalamnya mulai menolak apa yang masuk dari mulutnya.

Untuk saat ini, Soo Rin merasa beruntung karena Kim Ki Bum berangkat lebih pagi hari ini. Setidaknya pria itu tidak melihat dirinya yang sudah dua kali muntah di kamar mandi hanya karena ia mencoba menyantap sarapan meski hanya satu suap. Dan Soo Rin mulai dilanda kekalutan karena sepertinya ia tidak bisa menyantap apapun kali ini.

Juga, mulai merasa ragu apakah dia bisa pergi bekerja di hari ini.

.

.

Tidak. Soo Rin tidak bisa bekerja hari ini.

Ia mulai gemetar di kursi kerjanya. Pandangannya tidak fokus menatap layar komputer di hadapannya dan beberapa kali mengulang pembacaan naskah yang digarapnya karena beberapa kali pula ia merasa deretan padat tulisan itu seolah bergoyang-goyang. Entah sudah yang keberapa kalinya dia memilih untuk berhenti hanya untuk memijat kedua pelipisnya dengan kedua tangan, merasakan adanya buliran keringat di sana, padahal ia berada di ruangan yang terpasang alat pendingin.

“Soo Rin-ah, jangan paksakan dirimu.” Kim Ji Won, teman satu ruangannya itu sedari tadi tampak khawatir melihat gadis yang sudah tidak memiliki konsentrasi bekerja sejak datang kemari pagi ini. “Kau sangat pucat. Lebih baik kau pulang saja, eo? Aku akan mewakilimu menyampaikan izin pada Atasan Kwon.”

Soo Rin menggeleng lemah. Mencoba memberikan senyum pada Ji Won. “Aku masih bisa menahannya. Tidak apa-apa.”

Ji Won mendesah pelan. Dia masih bisa melihat bagaimana gadis itu terus menahan rasa sakit yang dia yakini berasal dari sana. Terlihat jelas bagaimana tangan gadis itu memegang sekaligus meremas bagian perutnya berkali-kali. Ji Won tidak tahu apa yang tengah mendera temannya itu.

“Kau sakit perut? Apa kau belum makan?”

Soo Rin menggeleng lemah. “Aku tidak tahu…”

Ji Won akhirnya memilih untuk bangkit dari duduk dan melakukan sesuatu. “Aku akan membelikan makanan untukmu. Sepertinya kau tidak bisa menunggu hingga waktu makan siang nanti.”

Sedangkan Soo Rin tidak bisa membantah karena Ji Won keburu pergi. Ia pun mengeluarkan rintihannya yang sedari tadi ditahannya. Mendesis beberapa kali merasakan perutnya serasa terlilit dan ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia bahkan harus berjuang meraih botol air mineral yang sempat dibelinya tadi dan menenggaknya perlahan. Namun ia harus merasakan adanya penolakan di dalam perutnya seperti ada yang menonjok di dalam sana hingga Soo Rin merasa mual. Mau tidak mau Soo Rin menyeret langkahnya dari tempat duduknya dan berlari terseok ke toilet terdekat.

Umph!” ia menjorokkan tubuhnya tepat ke dalam wastafel. Hanya ada cairan bening yang berhasil ia muntahkan. Namun tidak kunjung berhenti hingga ia hampir kehabisan napas, menguras sisa tenaganya hingga ia merasa lemas seketika dan terengah-engah.

Wajah pucatnya semakin pasi, diiringi keringat dingin mulai bercucuran di sisi-sisinya, dan Soo Rin hampir menangis merasakan perutnya seperti tengah diperas tanpa ampun.

Soo Rin tidak kuat untuk bertahan lagi. Dia membutuhkan seseorang. Dan hanya ada satu orang yang terus membayangi kepalanya. Akhirnya dengan perjuangan kembali Soo Rin merogoh kantung pakaiannya, meraih ponsel pintarnya yang tersimpan di sana kemudian menyalakannya, menyentuh icon telepon lalu menekan tombol nomor 1 sebagai speed dial pada nomor kontak Kim Ki Bum. Matanya yang sudah mengembun sedari tadi kini menumpahkan cairannya karena harus menunggu panggilannya yang tak kunjung terjawab.

“Kumohon, jawab panggilanku…” Soo Rin putus asa, sebelum akhirnya ia mendengar jawaban di seberang sana—tepat kala dirinya sudah kehilangan kemampuan bicaranya karena tubuhnya hilang keseimbangan.

Pandangannya mengabur, tanpa sadar ponsel di genggamannya meluncur begitu saja, membentur lantai sepersekian detik sebelum tubuhnya ikut berdebam. Telinganya serasa berdengung kala mendengar seruan familiar memanggil namanya, kemudian kegelapan mulai merenggut pandangan sayunya.

“Soo Rin-ah!!!

Ki Bum yang mendengar adanya suara lain memanggil nama gadis itu, mulai terpaku di tempat duduknya. Setelah mendengar suara nyaring seperti benda terjatuh ketika ia menjawab panggilan masuk dari Soo Rin, otaknya dengan cepat mencerna sebelum memilih untuk mengakhiri panggilan gadis itu lalu bangkit dari duduknya. Mengabaikan laporan medis yang tengah dibacanya dan memilih untuk menyambar kunci mobilnya. Tanpa berpikir panjang lagi.

“Dokter Kim?” Jae Kyung yang bertemu pria itu tepat di depan ruangan harus kebingungan dan tidak mampu bertanya lebih lanjut mengenai apa yang tengah dilakukan pria itu karena berlarian di koridor penuh kepanikan.

Karena firasat Ki Bum mengatakan bahwa dia harus ke tempat kerja Soo Rin sekarang juga!

Benar saja, tepat saat Ki Bum berhasil keluar dari gedung menuju area parkir, ponsel pintarnya kembali bergetar menandakan adanya panggilan masuk. Tertera nomor kontak Soo Rin melakukan panggilan padanya yang membuat ia sempat kebingungan sebelum menjawabnya.

“Apakah ini Kim Ki Bum? Aku melihat Park Soo Rin sempat menelepon nomor ini sebelum dia jatuh pingsan. Saat ini dia dibawa ke klinik kantor. Bisakah kau menjemputnya untuk pulang?”

Tangan lainnya meraih kunci mobil dari saku jubah putihnya yang tidak sempat ia tanggalkan, membuka kunci otomatis kendaraannya yang telah tertangkap mata dan Ki Bum mempercepat larinya demi segera masuk ke dalam.

“Bagaimana kondisinya saat ini?” Ki Bum memasang seat belt kala membalas suara asing di seberang teleponnya. Menyalakan mesin mobilnya ketika suara milik perempuan tak dikenalnya membalas pertanyaannya.

“Sejak datang tadi pagi dia terus merintih kesakitan di bagian perutnya. Sampai sekarang pun dia masih seperti itu dan sepertinya semakin parah. Aku tidak tahu sebenarnya dia sakit apa.”

Menginjak pedal gas dalam-dalam, mobil yang ditumpanginya melaju cepat keluar dari area parkir rumah sakit, memainkan setirnya hanya dengan satu tangan, sedangkan fokusnya mulai terbagi antara mengamati jalanan juga mendengarkan suara panik di teleponnya, disertai bayang-bayang gadis itu yang sukses membuatnya kalut bukan kepalang.

“Beri tahu dokter di situ untuk memberikan obat penenang, juga periksa kronologinya untuk sementara. Aku akan sampai lima belas menit lagi.”

Ki Bum melempar ponselnya begitu saja ke bangku sebelah setelah memutus panggilan tersebut. Menambah kecepatan mobilnya hingga speedometer menunjukkan angka di atas batas kecepatan wajar.

.

“Dia harus segera dibawa ke rumah sakit.”

Ji Won tertegun mendengar dokter muda bernama Jung Ho Seok itu melontarkan kalimat tersebut. Menatap temannya yang terbaring lemas dengan napas begitu berat, terpejam amat rapat di hadapan mereka. Dan Ji Won melihat dokter itu menggeleng penuh prihatin.

“Rumah sakit?”

“Ya. Aku merasa bahwa sakit perutnya bukanlah sakit perut biasa. Setelah kuperiksa tadi, kupikir ada gangguan parah di usus buntunya.”

“U-usus buntu?!”

Ho Seok mengangguk, membalas tatapan terperangah Ji Won dengan tenang, berkata, “Dia harus segera mendapatkan perawatan lebih lanjut di tempat yang lebih memadai. Dengan kata lain, dia harus segera dirujuk ke rumah sakit. Bahkan harus dioperasi.”

Ji Won hanya sanggup menelan saliva dengan pahit.

.

Kurang dari lima belas menit, mobil yang dikendarai Ki Bum berhasil sampai di depan gedung penerbit tempat gadis itu berada. Berhenti tepat di pelataran tanpa berpikir untuk memarkirkannya di tempat layak terlebih dahulu tatkala ia bergegas masuk ke dalam gedung menuju klinik yang memang disediakan di lantai dasar gedung ini.

Ada beberapa orang mengerubungi bagian depan dari klinik tersebut. Sepertinya mereka adalah orang-orang yang penasaran akan apa yang tengah terjadi di dalam sana. Namun perhatian mereka teralihkan oleh kedatangan Ki Bum yang sebenarnya sudah melepas jubah putihnya namun—yeah, dia cukup mencolok karena mereka berpikir sepertinya dia dokter yang entah berasal dari mana tiba-tiba datang di waktu yang tepat sekali. Sebab mereka bisa melihat aura yang cukup berbeda menguar dari dirinya.

Karenanya, Ki Bum diberi akses untuk masuk ke dalam tanpa repot menerobos masuk. Di saat dirinya panik bukan main akan gadisnya, orang-orang itu justru terpesona dengan dirinya yang bahkan tidak memamerkan senyum sama sekali.

Oh, siapa pria tampan ini?

Ji Won menyambut pria yang baru pertama kali dilihatnya. Sejenak ia terpaku di tempat dan terbengong-bengong melihat wujud mempesona itu tampak menghampirinya—lebih tepatnya, menghampiri gadis yang tengah terbaring di bangsal klinik ini. Siapa pria dengan kemeja abu-abu yang melekat di tubuh yang nampak kekar itu? Apakah dia yang bernama Kim Ki Bum itu? Orang yang dia telepon melalui nomor ponsel temannya yang jatuh pingsan itu?

“Oh, kau Dokter Kim dari Seoul SKY?”

Mendengar Ho Seok yang bersuara, Ji Won harus terkaget-kaget. Astaga, pria ini seorang dokter?!

Sedangkan Ki Bum menoleh dan mendapati Jung Ho Seok ternyata orang yang menyapanya. “Ne,” namun hanya sebatas itu dia menyahut. Dia tidak memiliki waktu untuk bercengkerama dengan orang yang cukup dikenalnya itu.

“Astaga, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini,” gumam Ho Seok diselipi nada kekaguman. Ho Seok cukup tahu pria ini karena ia sempat bekerja magang di rumah sakit tempat pria ini bekerja— Seoul SKY Hospital—delapan bulan lalu untuk kurun waktu satu tahun sebelum ia berpindah kemari. Tapi ia segera mengesampingkan kesannya begitu mengingat tujuan awal pria ini datang. “Apakah kau wakil dari Park Soo Rin?”

“Ya. Aku suaminya.” Ki Bum sungguh tidak peduli dengan reaksi yang ada di sekitarnya setelah mendengar konfirmasi dari mulutnya. Karena ia lebih peduli dengan gadisnya yang dia sendiri tidak menyangka akan menemuinya dalam kondisi seperti sekarang ini. “Apa kau sudah memeriksa kronologis dari sakit yang dideritanya?”

Ho Seok berdeham pelan, meredam keterkejutannya berkat jawaban tandas dan telak pria di hadapannya sebelum menjawab, “Sepertinya Park Soo Rin tidak pernah mengeluhkan hal ini padamu. Aku khawatir bahwa usus buntunya mungkin saja sudah benar-benar rusak dan berdampak pada organ pencernaan lain. Melihat di bagian mana yang dia keluhkan, ia kesakitan begitu kulakukan palpasi[1] dan semakin menjadi begitu kutekan bahkan masih membekas begitu kulepas, perutnya seperti mengalami distensi[2]. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit, Dokter Kim.” Kemudian Ho Seok berdeham lagi, tampak salah tingkah, “Omong-omong, aku minta maaf karena sudah lancang menyentuhnya, Dokter Kim.”

Ya, sebenarnya Ki Bum hampir menunjukkan geramannya begitu mencerna dengan cepat bahwa Jung Ho Seok ini sudah menyentuh perut Soo Rin tanpa dia tahu. Sejenak ia mengutuk ego posesifnya yang sempat terpancing jika saja akal sehatnya tidak segera menepis bahwa itu demi kepentingan medis.

Ya Tuhan, kenapa dia tidak mengetahui bahwa gadisnya sudah seperti ini? Bagaimana bisa dia tidak memperhatikan adanya perubahan aneh dari Soo Rin? Ki Bum masih ingat bahwa beberapa hari ini dia selalu mendapati wajah gadisnya terlihat pucat bahkan sempat memergokinya terserang demam, namun ia hanya berpikiran bahwa gadisnya kelelahan karena bekerja, itulah mengapa Ki Bum hanya sebatas memerintah Soo Rin untuk segera beristirahat atau mengambil cuti sehari.

Tapi ternyata, Soo Rin sudah seperti ini dan… Ki Bum tidak tahu sudah sejak kapan Soo Rin kesakitan hingga berangsur parah seperti sekarang ini!

“Kim Ki Bum…”

Menoleh cepat, Ki Bum mendapati Soo Rin ternyata sudah membuka mata serta mendapatinya, meraih sebelah tangannya yang mampu dijangkaunya, menggenggam beberapa jarinya dengan lemas yang langsung membuatnya bertindak. Ia melemparkan kunci mobilnya pada Ho Seok. Untungnya dokter muda itu memiliki gerak reflek yang amat responsif.

“Tolong bantu aku.”

Hanya beberapa patah kata dari Kim Ki Bum, sudah cukup dimengerti oleh Ho Seok hingga ia segera meminta Ji Won untuk menyerahkan tas milik Soo Rin padanya.

Ki Bum membalas sentuhan Soo Rin, memindahkan tangan halus itu ke tangan lain agar ia mampu menyentuh puncak kepala Soo Rin. Mengusapnya perlahan. Sekaligus memberikan senyum meski samar seraya membungkuk mendekatkan wajah tegasnya pada gadisnya.

“Kita ke rumah sakit sekarang,” ujarnya hampir berbisik. Mengutarakan keputusan telaknya sebelum tangan-tangannya beralih menyusup ke bawah tubuh Soo Rin, mengangkat tubuhnya dalam sekali coba yang langsung mendapat balasan berupa tangan-tangan halus itu mengalung di lehernya.

Ji Won dengan sigap melipir memberi jalan. Ia melihat pria itu berhenti sejenak dan menatap datar dirinya, tapi sudah cukup membuatnya lupa cara bernapas.

“Terima kasih atas segala pertolonganmu,” ucap Ki Bum, meski datar namun Ji Won dapat merasakan adanya ketulusan terselip di sana. Maka dari itu Ji Won membalas dengan anggukan cepat. Percayalah bahwa teman Park Soo Rin itu semakin terpesona dengan tindakan Kim Ki Bum saat ini.

“S-semoga istrimu cepat sembuh… Dokter Kim,” Ji Won mencoba mengulas senyum ramahnya. Sebelum akhirnya pria itu pergi disusul oleh Ho Seok di belakangnya.

Dan, kepergian Ki Bum dengan Soo Rin di gendongannya ternyata menjadi pemandangan menarik untuk para penghuni di lantai dasar itu. Juga terkaget-kaget bahwa ternyata karyawan di sini memiliki seorang—err, suami seorang dokter dan dia terlihat penuh pesona dan menawan!

****

Jae Kyung menyerahkan sebuah amplop putih pada Ki Bum. Mereka kini berdiri di luar ruang gawat darurat setelah Ki Bum memberikan pertolongan pertama pada Soo Rin di dalam sana. Sedangkan Jae Kyung ditugaskan untuk melakukan tes laboratorium pada darah yang sempat diambil dari tubuh Soo Rin serta sempat melakukan CT Scan[3] begitu datang kemari.

“Hasilnya positif apendisitis[4]. Leukosit sudah melebihi batas wajar bahkan sudah mendekati delapan belas ribu[5]. Sesuai dengan dugaan dokter muda itu bahwa Park Soo Rin menderita usus buntu,” tukas Jae Kyung di sela-sela pria itu membaca laporan hasil tes tersebut. “Usus buntunya sudah meradang dan membengkak amat parah bahkan hampir pecah. Itu mulai bocor dan akibat dari infeksi parahnya, bagian pangkal usus besarnya terkena dampak. Jika tidak segera ditindaklanjuti, akan berakibat fatal pada organ lain.”

Ki Bum tampak serius membaca hasil tes darah maupun CT Scan milik Soo Rin. Kerut-kerut di keningnya mulai tampak. Ditambah dengan penjelasan Jae Kyung, pikiran Ki Bum mulai berkecamuk karena hampir tidak memiliki ide akan apa saja yang sudah gadis itu lakukan hingga berdampak cukup parah seperti ini.

Mengingat dirinya memang semakin disibukkan dengan pekerjaannya ini, dia hampir melepas sepenuhnya pengawasan terhadap Soo Rin, bahkan dia tidak yakin apa saja yang sudah menjadi santapan perut gadis itu selama di luar pengawasannya belakangan ini.

Dan kini Ki Bum hanya mampu menghela napas berat.

“Kau harus segera mengambil keputusan, Dokter Kim. Beruntung ini belum terlambat karena dia segera dibawa kemari, namun kita harus segera bertindak mengambilnya dari sana.” Jae Kyung kembali bersuara setelah ada jeda cukup lama. Jae Kyung menyadari bahwa di balik raut tenang tak beriak milik wajah Kim Ki Bum tersembunyi kekalutan yang tidak terbayangkan olehnya. Apalagi dia masih ingat bagaimana pria di hadapannya ini nekat meninggalkan pekerjaannya demi keluar dari sini hanya untuk menjemput gadisnya yang ternyata sedang tak berdaya seperti yang sempat dilihatnya tadi.

Ki Bum memasukkan kembali laporan hasil tes lab tersebut ke dalam amplop. Melempar tatapan datarnya pada Jae Kyung kemudian berkata, “Tolong atur jadwal ruang operasi untuk Soo Rin. Kita akan lakukan operasi malam ini juga.”

Itu adalah keputusannya.

****

Soo Rin menatap kosong langit-langit ruang gawat darurat ini. Sebelah tangannya sudah tertancap jarum infus yang tersambung pada kantung cairan yang menggantung di sebelah kiri tempat tidurnya. Dia cukup beruntung untuk saat ini ia tidak kesakitan sebagaimana dengan pagi tadi ia hampir tidak bisa berjalan, ini berkat suntikan obat yang menekan rasa sakitnya meski untuk beberapa saat saja.

Fokusnya teralihkan ketika sudut matanya menangkap pria itu masuk ke dalam bilik tempat tidurnya, duduk di samping tempat tidurnya, memberikan tatapan tak terbaca padanya.

“Kim Ki Bum, aku kenapa?” dan Soo Rin menjadi orang pertama yang membuka percakapan mereka.

Ki Bum, pria itu kembali menghela napas berat, kali ini ia sengaja menghentaknya yang secara tidak langsung menunjukkan perasaannya saat ini kepada Soo Rin. “Apa saja yang sudah kau lakukan belakangan ini?”

Soo Rin mengatup bibirnya kala Ki Bum justru melemparkan pertanyaan. Ia mulai dirundung kegugupan menyadari mata hitam pria itu seolah tengah menusuknya. Dia kebingungan, sebenarnya apa yang sedang terjadi padanya sampai-sampai Kim Ki Bum seperti ingin marah padanya?

“Apa saja yang sudah kau makan belakangan ini—tanpa sepengetahuanku, Park Soo Rin?”

“A-aku…” Soo Rin tidak berani melanjutkan. Mengingat bagaimana pria itu menyebut nama lengkapnya jika sudah marah. Tapi Soo Rin tidak mengerti kenapa Ki Bum marah padanya. Apakah dia terjangkit sesuatu akibat dari pola makannya yang memang tidak teratur?

“Ini akibat dari kau yang selalu mengonsumsi makanan pedas. Kau juga mengabaikan waktu makanmu dan lebih memilih makanan instan seperti ramyeon untuk mengisi perutmu. Dan hobimu dengan minuman bersoda seperti Sprite itu. Sistem pencernaanmu menjadi terganggu hingga terinfeksi seperti sekarang ini, dan itu berdampak pada usus buntumu yang kini membengkak, kau tahu?”

Hanya mampu mengerjap, Soo Rin tidak berani untuk membantah perkataan Ki Bum. Pria itu memang ada benarnya. Sekali pun tidak tahu pasti, pria itu pasti bisa menebak penyebab dari rasa sakitnya yang sudah mendera beberapa hari belakangan ini.

“Sejak kapan kau mulai merasa sakit, hm?”

Bibirnya yang pucat tampak ragu-ragu untuk bergerak. Tanpa sadar tangannya memilin-milin selimut yang menghangatkan tubuhnya hingga sebatas perut itu. “S-sekitar… lebih dari seminggu yang lalu…”

Ki Bum mengusap wajahnya, terpampang dengan jelas bahwa pria itu tengah menahan gejolak emosinya setelah mendengar jawaban Soo Rin. “Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?”

“A-aku pikir… i-ini hanya sakit perut biasa. Aku mengira bahwa aku terjangkit maag karenanya aku memilih untuk mengonsumsi obat saja.”

“Dan menyembunyikannya dariku,” sambar Ki Bum yang seketika membuat Soo Rin bungkam. “Jika kau mengatakannya sejak awal, kau tidak akan berakhir seperti ini, Soo Rin-ah. Lalu kenapa kau memilih untuk menyembunyikannya dariku?”

Soo Rin tidak berani menjawab pertanyaan Ki Bum. Sebenarnya jawaban yang ia miliki sangatlah sederhana, dia tidak ingin membuat Ki Bum khawatir mengingat pria itu sudah disibukkan dengan pekerjaannya. Soo Rin hanya ingin menjaga konsentrasi Ki Bum dengan tugasnya sebagai seorang dokter dan memilih untuk menyelesaikan masalahnya ini seorang diri. Tapi, sungguh, dia tidak tahu bahwa rasa sakit yang dia hadapi bukanlah hal sepele seperti penyakit maag itu.

“Maafkan aku…” pada akhirnya Soo Rin hanya mampu mengucapkan kalimat tersebut, menurunkan pandangannya yang mulai mengembun dan merasakan genangan di pelupuknya.

Selalu begitu, jika Soo Rin merasa kalah, dia memilih untuk mengucapkan kata maaf yang sesungguhnya menghantam telak Ki Bum karena menyadari bahwa lagi-lagi dia menyalahkan Soo Rin.

“Jangan meminta maaf padaku. Kau sudah menyiksa dirimu sendiri, Soo Rin-ah, bukan aku.” Ki Bum mendesah frustasi. Menyadari bahwa kata-katanya tidak sesuai. “Tapi kau membuatku menjadi seperti  pria yang tidak pernah peduli pada keadaanmu, kau tahu?”

“Maafkan aku…” lagi, Soo Rin meminta maaf, kini dihiasi dengan linangan air mata juga isakan tertahan.

Ki Bum semakin merasa bersalah. Memaksanya untuk menekan keras-keras egonya yang ingin menumpahkan segala amarahnya karena dia tahu bahwa itu bukanlah solusi terbaik untuk membuat gadisnya ini mengerti. Apalagi gadisnya sudah menangis seperti ini, berkat perkataannya. Ia pun merengkuh wajah pucat Soo Rin, mengusap air mata yang mengalir dari sudut mata itu menggunakan ibu jarinya, kemudian mengecupnya ringan namun penuh rasa. Setidaknya dengan begitu dia bisa melihat gadisnya ini mau kembali menatapnya.

“Untuk sementara kau tidak diperkenankan memakan apapun hingga nanti malam. Kau hanya dapat mengisi perutmu dengan air mineral.”

W-waeyo?” Soo Rin tergagap kala bertanya. Bahkan tanpa sadar ia menjadi anak kecil yang berbicara dengan orang yang lebih tua darinya.

“Aku sudah menjadwalkanmu untuk melakukan operasi nanti malam.”

Mata jernih Soo Rin melebar bersamaan napasnya yang serasa berhenti untuk beberapa saat. Barusan Kim Ki Bum mengatakan apa? “O-operasi?”

Ki Bum mengangguk pelan. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain mengambil keputusan yang baru saja ia lontarkan. Lagipula, memangnya ada cara lain selain operasi?

Tapi Soo Rin justru menggeleng cepat, beberapa kali, menolak dengan keras keputusan pria itu. Ketahuilah bahwa tubuhnya menegang di tempat tidurnya. “A-aku tidak mau…”

“Mau tidak mau, kau harus operasi, Soo Rin-ah.

“Tidak mau!” Soo Rin menggeleng lagi. Mata jernihnya yang sempat mengembun kembali basah bersamaan dengan buliran air yang kembali menggenang di bagian pelupuknya. “Aku tidak mau operasi, Kim Ki Bum. Tidak perlu operasi… Ya?” lanjutnya mulai terisak.

“Itu harus dilakukan. Jika dibiarkan begitu saja justru akan semakin parah di dalam tubuhmu.” Ki Bum menyentuh puncak kepala Soo Rin, mengusapnya dengan teratur, mencoba memberikan ketenangan. Tapi pernyataannya ternyata semakin membuat gadisnya ini menumpahkan air matanya. Dan itu membuatnya tidak tega meski terpaksa mengutarakannya, “Usus buntumu sudah rusak dan itu harus dikeluarkan. Jika kau tidak mau mengeluarkannya, itu akan pecah kapan saja dan mengeluarkan nanah. Jika itu terjadi, akan berdampak buruk pada usus lainnya. Kau bisa mendapatkan masalah baru seperti komplikasi yang lebih fatal dari ini. Apa kau mau?”

Soo Rin menggeleng lemah, membenarkan ucapan Ki Bum dalam hati. Hanya saja, mendengar kata operasi tertuju untuknya itu terdengar mengerikan. Dia memang belum pernah menghadapinya, tetapi tak ayal jika dia tahu seperti apa proses di mana seseorang terbaring tak sadarkan diri karena terbius dengan bagian tubuh disayat menggunakan pisau bedah hingga organ dalam terlihat lalu mendapatkan banyak jahitan—adalah hal yang sudah menakutkan baginya.

Memang tidak sakit selama proses tersebut terjadi karena jelas dalam kondisi terbius dan tertidur, tapi akan merasakan efek sampingnya setelah obat biusnya menghilang di dalam tubuh. Dan Soo Rin tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya bekas sayatan di kulitnya nanti.

Juga, mengetahui bagaimana akibat yang mungkin saja terjadi pada kegiatan bernama operasi itu, Soo Rin pernah melihat di beberapa drama yang mengangkat hal tersebut bahwa operasi sering dihadapi dengan yang namanya pendarahan. Bayang-bayang ketika darah mencuat beberapa kali menyemprot dokter yang mengoperasi sang pasien pada salah satu drama kini memenuhi kepalanya. Bagaimana jika hal tersebut terjadi pada Soo Rin?

“Bagaimana jika aku kehabisan darah?” Soo Rin tampak sesenggukan karena tangisannya. Pikirannya mulai berkecamuk oleh berbagai pengandaian negatif mengenai operasi. “Bagaimana jika aku tidak selamat?”

Ki Bum hampir terkekeh mendengar suara serak Soo Rin mengutarakan pertanyaan tersebut. Eii, ini hanya operasi usus buntu. Yah, bukan berarti bahwa Ki Bum meremehkan hal tersebut. Hanya saja dia merasa tergelitik dengan kekhawatiran Soo Rin yang sebenarnya sedikit berlebihan apalagi penuh keluguan seperti ini.

Jika Ki Bum juga berpikiran seperti itu, sejak awal dia tidak mungkin memantapkan keputusan ini meski memang tidak ada pilihan lain, bukan?

Lagipula…

“Tidak ada yang tidak selamat di meja operasiku. Jadi kau tidak perlu takut. Mengerti?”

Ki Bum memiliki prinsip untuk dirinya sendiri dalam melakukan hal ini. Apalagi jika itu menyangkut gadisnya, tentu dia sangat berpegang teguh dengan prinsip yang sudah ia doktrin semenjak menjadi dokter bedah hingga kini.

Sedangkan Soo Rin harus mengerjap pelan, mencerna kata demi kata yang diucapkan dengan tenang dari mulut Ki Bum namun entah kenapa terasa begitu rumit di otaknya yang tengah dirundung kalut seperti sekarang. Untungnya ia dibantu dengan merasakan bibir pria itu kembali mendarat—kini di keningnya, mengecup penuh sayang di sana yang segera membuatnya rileks, merasakan kenyamanan segera menyergap dirinya.

Jadi, Kim Ki Bum yang akan turun tangan?

Kim Ki Bum yang akan mengoperasinya?

****

Mereka mengantar Soo Rin yang kini terbaring di bangsal, digiring oleh dua perawat, mengantarnya menuju ruang operasi. Mereka adalah kedua orang tua Soo Rin bersama Henry juga Sae Hee, datang di sore hari setelah mendapat kabar dari Kim Ki Bum yang cukup mengejutkan mengingat mereka tidak mengetahui sama sekali keadaan Soo Rin hingga kini terbaring lemah di rumah sakit. Dan Soo Rin harus kembali mendapat teguran dari mereka semua karena sudah menyembunyikan rasa sakitnya sendiri, bahkan tidak memberi tahu Kim Ki Bum dan berujung seperti sekarang ini.

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Setelah berpuasa dan hanya mengisi perut dengan air mineral selama delapan jam lamanya, Soo Rin akhirnya akan melaksanakan operasi pengangkatan usus buntu sekaligus penambalan infeksi usus di atasnya malam ini juga. Kegugupan mulai menggandrungi dirinya sejak dibawa keluar dari ruang gawat darurat menuju ruang operasi. Dan sejak itu pula ia tidak pernah melepas genggaman eratnya pada tangan Henry.

Noona, semuanya akan baik-baik saja. Noona akan sembuh.” Henry menenangkan kakak sepupunya itu, memberikan ulasan senyum hangatnya, dan membalas remasan tangan halus sang kakak tidak kalah hangat dengan senyumannya.

Eonni tidak perlu takut. Oppa akan menjaga Eonni di dalam sana, eo?” giliran Sae Hee yang memberikan ketenangan. Sebelah tangannya menepuk perlahan dan teratur sebelah kaki Soo Rin yang terbalut selimut.

“Lemaskan tubuhmu, Sayang. Kau akan baik-baik saja,” ucap Kang Hye Rin, atau Nyonya Park, ibu dari Soo Rin. Meski ada binar kecemasan menyorot dari mata, beliau tetap berusaha memberikan senyum demi menenangkan putrinya.

“I-ini adalah kali pertama, Eomma… Aku takut…” keluh Soo Rin. Setelah memilih bungkam sejak dua perawat yang membawanya kini datang, ia akhirnya terpancing untuk bersuara berkat sang ibu.

“Jangan takut. Operasi tidak seburuk yang kau bayangkan.” Park Jung Soo, sang ayah ikut menenangkan dengan suara berat nan halusnya. Tangan besarnya mengusap penuh sayang puncak kepala Soo Rin. Meski sudah dewasa dan lepas dari tanggung jawabnya, Soo Rin tetaplah anak gadis semata wayang yang amat disayanginya. “Percayalah pada Appa. Appa sudah beberapa kali menangani operasi seperti yang akan kau jalani dan Appa tahu, jadi kau tidak perlu khawatir.”

Geurae, Noona! Apalagi Ki Bum Hyung yang akan menangani. Noona harus percaya padanya, eo!” sambar Henry dengan antusias. Langsung saja mengundang senyum penuh arti oleh lainnya. Apalagi Sae Hee yang berada di dekatnya segera menyikutnya seraya mendengus geli.

Soo Rin merasa bersyukur karena orang-orang terdekatnya mendukungnya di saat-saat seperti ini. Setidaknya dengan begini Soo Rin merasa kegugupannya sedikit berkurang.

“Tenang saja. Kita semua akan menemanimu di luar, dan menunggumu.” Jung Soo kembali bersuara. Suaranya begitu menenangkan dan penuh bijak. Hingga berhasil membuat anak gadisnya mengulas senyum meski samar, sebelum akhirnya mereka terpisahkan.

“Mohon maaf, untuk keluarga pasien hanya bisa mengantar sampai sini.” Salah satu perawat menahan keempatnya tepat di depan pintu masuk ruang operasi.

Dan Soo Rin hanya mampu menatap mereka yang semakin menjauh. Mengantar kepergiannya ke dalam sana dengan raut wajah penuh kecemasan namun berusaha tetap memberi senyum kepadanya, mengantar kepergiannya dari pintu masuk sebelum akhirnya pertemuan mereka berakhir kala pintu besar tersebut menutup rapat, tepat ketika dirinya berbelok masuk ke salah satu bilik operasi.

Ugh, bagaimana jika Noona ketakutan di dalam sana?”

Sae Hee harus memicing pria yang sudah merubah ekspresinya. Tampak cemas berbanding terbalik dari sebelumnya. Dan Sae Hee harus terheran-heran oleh perubahan sikap kekasihnya itu. “Heol, aku tidak percaya bahwa kau ternyata sama takutnya dengan Soo Rin Eonni.

Yaa, bagaimana pun aku sangat mengkhawatirkan Noona! Mana mungkin aku menunjukkan kekhawatiranku di hadapan Noona yang sedang ketakutan seperti tadi?” Henry mulai tersungut-sungut menyadari adanya sindiran di balik perkataan Sae Hee.

“Kau memang pandai sekali berlakon, Henry Lau,” cibir Sae Hee yang seketika mendapat respon dari sang empunya.

“Ohoho! Aku rasa kau iri pada Noona yang sudah mendapat perhatian penuh dariku. Benar, bukan? Kau ‘kan belum pernah membuatku sampai seperti ini.”

Ish! Percaya diri sekali bocah ini?! Aku hanya heran padamu yang—”

“Sudahlah, mengaku saja, Sayang.”

Y-ya!

Heol, wajahmu memerah. Lihat, mulutmu memang berbohong tetapi pipimu tidak berbohong.”

“Henry Lau!!”

“Astaga, anak-anak ini…” desis Hye Rin sedikit takjub melihat kelakuan mereka. “Kalian ini sedang di rumah sakit,” tegurnya kemudian. Yang langsung membuat keduanya meringis malu.

Lebih tepatnya, hanya Sae Hee, sedangkan Henry justru meringis penuh jenaka. Benar-benar.

“Tidak apa-apa. Secara tidak langsung mereka sudah menghibur dan membuat kita sedikit rileks, bukan?” Jung Soo menengahi. Beliau terkekeh pelan begitu melihat Henry kini menunjukkan cengirannya. Barulah sudut matanya melihat istrinya mengangguk membenarkan ucapannya. Dirangkulnya beliau demi menambah ketenangan yang diyakini tengah melanda benaknya saat ini, sama seperti dirinya.

.

Jae Kyung, dokter yang merupakan rekan satu tim Kim Ki Bum sudah berdiri di sisi Soo Rin. Dengan penampilannya yang berbeda, mengenakan seragam serba hijau, dengan sebagian wajah terhalang masker, melemparkan tatapan penuh keramahan seraya menepuk sebelah lengan gadis yang tengah terbaring tegang di hadapannya.

“Rileks saja. Kau tidak akan merasa sakit. Percayalah padaku,” titahnya halus.

Sedangkan Soo Rin sudah tidak bisa memberikan balasan dalam bentuk apapun. Wajahnya sudah kaku, begitu juga dengan sekujur tubuhnya. Beberapa kali ia menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan-lahan. Pandangannya terus mengarah pada lampu operasi yang menggantung tepat di atasnya. Sedangkan indera pendengarannya terasa berdengung mendengar bagaimana sekitarannya menimbulkan bunyi-bunyi yang rasanya tidak pernah dia dengar sebelumnya.

Ada dua perawat yang sempat membawanya kemari tadi, juga Jae Kyung serta satu dokter muda yang akan menjadi orang-orang yang menemani Soo Rin di sini, tengah disibukkan dengan mempersiapkan segala peralatan untuk operasi sebentar lagi.

Di samping itu, kedua kelopak matanya mulai terasa berat. Sepertinya efek dari obat bius yang belum lama disuntikkan ke dalam tubuhnya mulai bereaksi di dalam. Bersamaan dengan kondisi tubuhnya perlahan melemas. Sudut matanya menangkap bahwa Jae Kyung terus mengawasinya. Lalu merasakan sebelah lengannya kembali ditepuk pelan nan teratur seolah tengah menina bobokan dirinya.

Di kala kesadarannya hampir tersedot habis, dengan kemampuan penglihatannya yang sudah limit, Soo Rin melihat pria itu datang, berdiri tepat di sisinya, dengan kostum yang sama seperti orang-orang di dalam ruangan ini serta masker yang menutup sebagian wajahnya, menatap penuh dirinya. Dan Soo Rin menangkap untuk yang terakhir kali, mata tajam itu menunjukkan keteduhannya, seolah berkata padanya bahwa dia akan baik-baik saja, dan… tersenyum padanya. Hingga akhirnya Soo Rin benar-benar menutup kedua matanya, meluncur ke alam bawah sadarnya.

Jae Kyung memberi isyarat pada satu perawat di sebelahnya untuk bertindak. Perawat itu segera memasangkan selang oksigen pada Soo Rin, memasang sekat pembatas di perbatasan leher gadis itu, kemudian memeriksa layar LED yang memonitori kerja jantung maupun konsentrasi oksigen gadis itu. Lampu operasi mulai menyorot tubuh Soo Rin yang berada di bawahnya. Dan begitu menunjukkan adanya frekuensi tertentu pada layar LED, sang dokter muda memberikan anggukan kepala.

“Dia sudah siap, Dokter Kim.”

Ki Bum tidak memberi respon dengan segera. Hanya terus menatap penuh gadis yang sudah tidak sadarkan diri di atas meja operasi di hadapannya. Dan keterdiamannya itu mulai menarik perhatian rekan-rekannya.

“Dokter Kim?” Jae Kyung yang berdiri tepat di seberang pria itu, mencoba memanggil, hingga ia melihat bagaimana pria itu memejamkan mata sekaligus menarik napas dalam kemudian menghembuskannya.

Well, dia mulai mengerti apa yang mungkin tengah bersarang di balik masker pria itu saat ini.

Ki Bum akhirnya bertindak, menggerakkan sebelah tangannya yang sudah terbalut sarung tangan karet putih ke samping, tanpa mengalihkan pandangannya, “Scalpel.

Segera perawat yang berdiri di sebelahnya mengambil satu alat medis yang dimaksud, menyerahkan alat bernama pisau bedah itu pada Ki Bum.

Lagi, Ki Bum tidak segera melakukannya, hanya meletakkan sisi tajam dari pisau tersebut di atas permukaan kulit perut bagian bawah Soo Rin. Keningnya harus mengerut, karena jujur saja, batinnya tengah berperang yang mana mulai membuyarkan niatannya saat ini.

Dan untuk kali pertama, mereka melihat bagaimana seorang Kim Ki Bum menggelengkan kepala seolah tengah menepis pikiran-pikiran aneh di balik kening yang mengerut cukup jelas. Namun, hanya Jae Kyung yang mengerti benar apa yang tengah menjadi perdebatan batin pria di hadapannya itu.

Hingga akhirnya Jae Kyung melihat pria itu mulai melakukan pembedahan, menggerakkan pisau bedahnya, menekannya hingga tembus ke dalam kulit tersebut, bersamaan dengan merembasnya cairan kental berupa darah ke permukaan, lalu menyayatnya perlahan membentuk garis horizontal sepanjang kisaran 10 sentimeter. Di mana ia melihat pria itu melakukannya dengan reaksi tertentu, bagaimana kening pria itu mengerut beberapa kali tiap menggerakkan pisau bedahnya mengiris daging di balik kulit gadis itu.

Dan, Jae Kyung menarik sudut-sudut bibirnya di balik masker. Tersenyum penuh arti akan pria itu.

****

Hampir dua jam mereka menunggu di depan pintu masuk ruang operasi. Masih menunjukkan lampu hijau yang menandakan bahwa operasi masih berlangsung. Jung Soo duduk di kursi tunggu bersama Hye Rin, merangkul sang istri yang tengah berdoa, memberikan ketenangan berupa rangkulan hangat.

Sedangkan Henry bersama Sae Hee baru saja kembali dari kantin rumah sakit. Mengingat kedua orang tua Soo Rin tidak mungkin beranjak di saat seperti ini, mereka yang bergerak membelikan minuman hangat untuk mereka. Dan ini sudah yang kedua kalinya mereka turun tangan.

“Kenapa rasanya lama sekali?” gumam Henry terselip nada khawatir. Sebelum kemudian ia merasakan seseorang menggandeng sekaligus memeluk lengannya. Dan Henry sudah menebak siapa pelakunya.

“Jangan khawatir. Eonni sebentar lagi akan keluar,” kini Sae Hee mengucapkannya penuh pengertian. Setelah sebelumnya mereka memilih untuk berdebat layaknya anak kecil berebut kebenaran—seperti biasanya—kini Sae Hee bertindak serius. Mengerti bagaimana khawatirnya seorang adik terhadap kakaknya.

Henry pun membalas perlakuan Sae Hee dengan menggerakkan sebelah tangan lainnya, merengkuh tangan-tangan itu penuh hangat, dan membalas senyuman meneduhkan milik Sae Hee dengan hal sama.

Benar saja, tak lama setelah mereka memilih bungkam dan berdoa penuh harap, pintu besar ruangan itu terbuka, menampakkan dua perawat yang sama mendorong bangsal gadis itu keluar dari sana. Langsung saja menarik perhatian mereka yang segera menghampiri. Benar saja, Park Soo Rin sudah menyelesaikan operasinya dan kini akan dipindahkan ke ruang rawat. Masih dalam keadaan tak sadarkan diri dan sudah bersalin.

Kedua orang tua Soo Rin segera mengikuti langkah-langkah perawat yang membawa gadis itu. Sedangkan Henry dan Sae Hee tidak beranjak begitu melihat seorang wanita keluar dari ruangan yang sama.

“Jae Kyung Eonni!” Sae Hee langsung mendekati wanita itu, dan disambut oleh senyum merekah yang begitu menawan. “Bagaimana dengan operasinya? Soo Rin Eonni baik-baik saja, bukan?”

“Tentu saja.” Jae Kyung melebarkan senyumnya. “Usus buntunya berhasil diangkat. Hanya saja kami sempat melakukan pembersihan di dalam organ tubuhnya karena infeksi yang menyebabkan terproduksinya nanah dari usus buntu itu sendiri dan hampir menyebar karena mulai bocor. Tapi tenang saja, Park Soo Rin sudah melewati masa kritisnya dengan baik.”

Barulah kedua insan itu menghela napas penuh lega.

“Terima kasih atas pertolongannya!” Henry membungkukkan tubuh penuh haru. Mendengar kabar baik ini cukup melegakan benaknya yang sempat dirundung kecemasan.

Jae Kyung terkekeh pelan. “Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada Dokter Kim yang sudah berjasa malam ini.”

“Benar juga. Di mana Oppa?” barulah Sae Hee menyadari, bahwa pria yang ditunggunya ternyata belum menampakkan batang hidungnya.

“Dia sedang membenah diri,” jawab Jae Kyung penuh arti, melirik pintu ruang operasi yang sudah tertutup itu, “Dia hampir membatalkan niatan untuk menyelamatkan Soo Rin.”

Mwo?!” Henry dan Sae Hee berseru kompak. Terkejut dan tidak mengerti. Kenapa?

“Operasi pembedahan adalah proses di mana seorang dokter melihat organ tubuh pasiennya dengan menyayat bagian tubuh pasien menggunakan pisau. Meski Dokter Kim sudah profesional dalam hal tersebut, jika Park Soo Rin adalah orang yang akan dibedah olehnya, menurut kalian bagaimana perasaannya?”

Mereka terdiam beberapa saat mencerna perkataan Jae Kyung. Well, mereka memang tidak mengira adanya kemungkinan sekecil itu tapi jika dipikirkan, itu cukup masuk akal. Apalagi pria seperti Kim Ki Bum yang mengalaminya.

Jae Kyung melanjutkan, “Seharusnya hal itu tidak boleh terjadi karena menyangkut profesionalitas, tapi untuk seorang pria seperti Kim Ki Bum, itu tidak bisa dielakkan, perlu kalian ketahui itu.”

Henry dan Sae Hee saling melempar pandang. Sesaat kemudian mereka tersenyum penuh arti seraya mengangguk. Membenarkan kalimat Jae Kyung yang sarat akan makna. Apalagi begitu mereka menyelesaikan topik pembahasan ini, pria yang baru saja mereka bicarakan akhirnya keluar dari ruang operasi, melangkah menghampiri mereka dengan pasti.

Dan Ki Bum harus memicing kala ia disambut oleh tatapan mereka yang sungguh aneh. “Wae?”

Mereka hampir menyemburkan tawa jika pria itu tidak menyapa dengan suara berat nan dinginnya. Mau tidak mau mereka berdeham hampir bersamaan demi meredam rasa geli di dalam diri masing-masing—mengenai pria itu.

Hyung, terima kasih sudah menyelamatkan Noona!” ucap Henry pada akhirnya, ia beranjak memeluk pria itu seperti anak kecil. “Hyung benar-benar bisa diandalkan untuk Noona. Hihi!”

“Apa-apaan kau ini?” decak Ki Bum mulai jengah. Merasa heran karena adik sepupu dari Soo Rin—atau lebih tepatnya adik iparnya ini sempat-sempatnya terkekeh layaknya bocah usia 5 tahun.

Sae Hee pun tidak mau ketinggalan, memeluk keduanya seraya terkekeh-kekeh penuh arti. “Oppa jjang-ida (Oppa sangat keren)!” serunya dengan aksen menggemaskan.

Pada akhirnya, pasangan itu melepas tawanya seperti anak kecil yang berbahagia. Membuat Ki Bum kebingungan dan merasa risih mengingat mereka masih di tempat umum. Apalagi ada Jae Kyung yang tergelitik melihat tingkah laku adik-adiknya ini.

****

Lewat tengah malam, atau lebih tepatnya di dini hari ini, kondisi sebuah ruang rawat inap tampak sunyi. Mereka yang menunggu di dalam terlelap di sofa yang tersedia di dalam. Henry dan Sae Hee bahkan dalam keadaan masih terduduk dan saling bersandar. Mengingat waktu yang sudah sangat larut bahkan berganti hari, wajar jika mereka merasa lelah setelah berjam-jam lamanya menjaga Soo Rin dari sebelum operasi hingga keluar dari proses tersebut dan masih tak sadarkan diri.

Di suasana yang begitu tenang dan remang, gadis itu akhirnya menunjukkan tanda-tanda kesadarannya, pupil di balik kelopak matanya mulai bergerak-gerak sebelum mengintip. Mencoba membiasakan diri, mencari fokus yang menancap pada langit-langit ruangan, serta menguji respon syarafnya dengan menggerakkan jari-jemarinya.

Ternyata, mengundang reaksi seseorang yang sebenarnya terus menunggu di samping tempat tidurnya. Setelah cukup lama mendudukkan diri di kursi yang ada, kini ia menegakkan tubuhnya demi memeriksa, yang langsung saja membuat gadis itu menoleh mendapati dirinya.

“Kim Ki Bum…”

Ki Bum melepas kelegaannya dalam bentuk senyum penuh hangat. Tangan besarnya bergerak menyentuh puncak kepala Soo Rin, mengusapnya penuh sayang, menyambut, “Bagaimana perasaanmu sekarang?”

Untuk kali pertama—setelah begitu lama rasanya—Ki Bum melihat Soo Rin tersenyum meski samar. Melihat bibir kecil itu bergerak kembali dan bersuara, “Aku merasa lega…” dengan lirih, dan sedikit terbata-bata, “bisa melihatmu kembali…”

Mendengus halus, Ki Bum mengembangkan senyumnya, mengerti benar maksud dari ucapan Soo Rin. Sebuah jawaban yang tidak disangka karena sebenarnya dia sudah menebak-tebak bisa saja gadisnya ini mulai mengeluh akibat efek samping dari operasinya.

Geurae, begitu juga denganku. Aku merasa lega kau sudah membuka mata kembali.”

Soo Rin tampak menggumam tidak jelas. Masih merasakan efek disorientasi disertai dengan mata yang masih terasa berat.

“Tidurlah. Ini masih malam.” Ki Bum mengucapkan dengan halus, menyadari apa yang tengah dirasakan oleh Soo Rin. “Aku akan menemanimu di sini,” lanjutnya. Lantas ia bangkit dari duduknya, menjangkau wajah cantik di hadapannya, lalu memberikan kecupan dalam di kening berponi gadisnya.

Langsung saja Soo Rin memejamkan mata kembali. Menikmati sentuhan penuh rasa hingga menggelitik bagian perutnya, merasakan dadanya berdesir-desir, sebelum kembali masuk ke alam bawah sadar begitu saja. Dan, ya, Ki Bum menginginkan hal itu.

Tanpa disadari, seseorang mengawasi keduanya dari atas sofa, duduk bersedekap dan diam-diam membuka mata setelah mendengar suara kecil putrinya, memilih untuk berada di tempatnya dan tersenyum penuh arti melihat perlakuan Ki Bum.

Jung Soo merasa lega, melihat menantunya begitu sayang dan menjaga penuh perhatian putri satu-satunya itu.

tumblr_lv17kjoobz1r2uefco1_500

F I N


 

Kamus

[1] Palpasi atau perabaan merupakan metode pemeriksaan manual pada pasien yang dilakukan oleh seorang dokter maupun praktisi kesehatan lain dengan menekan bagian tubuh yang dikeluhkan pasien. Biasanya ini untuk merasakan ukuran, kekuatan, atau letak sesuatu dari bagian tubuh. Dengan metode ini bisa mengidentifikasi sementara akan apa yang tengah diderita oleh sang pasien.

[2] Distensi adalah istilah medis dari penggelembungan atau pembesaran, biasanya mengacu pada perut yang di dunia medis dikenal sebagai Distensi Abdomen—terjadi ketika adanya suatu zat yang menumpuk di dalam perut dan merupakan suatu gejala dari suatu penyakit atau pengurangan fungsi anggota tubuh.

[3] CT Scan (Computed Tomography scanning) adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan gambaran dari organ dalam tubuh. Menggunakan alat berupa generator pembangkit sinar-X, pasien akan dibaringkan selama 20-25 menit lamanya. Pemeriksaan jenis ini bertujuan untuk memperjelas adanya dugaan kuat akan suatu kelainan di dalam tubuh.

[4] Apendisitis merupakan istilah medis dari penyakit usus buntu.

[5] Leukosit adalah sel darah putih yang berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuh. Nilai normal untuk orang dewasa berkisar 4000-9000/mm3. Peningkatan jumlah leukosit menandakan adanya infeksi atau radang akut. Dalam kasus apendisitis, leukosit akan meningkat mencapai 10.000-18.000/mm3, jika di atas angka tersebut kemungkinan usus buntu telah mengalami perforasi atau bocor bahkan pecah.


dan aku ngga ngerti tujuan dari cerita ini apa hahahahahah

bagi yang pernah membaca di fb, ini merupakan perkembangan dari coretan absurd-ku di sana, yang waktu itu pernah minta full ver.-nya, inilah jadinya~ yeeeeeyy #ditendang XD

sebenarnya cerita ini udah kebikin beberapa hari setelah coretan itu muncul, tapi baru aku edit-edit lagi kemarin, sampe searching dulu soal usus buntu dan segala macamnya itu, ngga nyangka kalo aku bakalan menyisipkan semacam kamus seperti di atas itu hwhwhw semoga bermanfaat aja deh, kamusnya ya bukan ceritanya wkwk TwT

oke, salam salaaam~

Jungsoo Park
Jung Soo Abeoji XD
Ny. Park & Kim Ji Won ^^
Ny. Park & Kim Ji Won ^^
henlli-saehee
Hen-Hee!! ^-^
Dr. Jae Kyung ><
Dr. Jae Kyung ><
Jung Ho Seok a.k.a BTS's J-Hope >__<
Jung Ho Seok a.k.a BTS’s J-Hope >__<

dashi run run run~ member BTS mulai merambah kemari ya wkwk I’m Bangtan fans by the way, gapapa lah ya mereka nongol buat ramein heheheh XD

okay, sorry for typos and thank you for read ^___^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

32 thoughts on “Medical Center – OR

  1. Meski udah baca yg di fb tp tetep semangat baca ini. Soalnya ini lebih mendetail dan lebih panjang tentunya.hehe
    Ki bum akan kalah kalo sudah melihat soo rin berkaca2 dan bilang maaf. Seketika itu emosi ki bum langsung menguar dan mungkin itu senjata ampuh untuk soo rin setiap berhadapan dgn kemarahan ki bum. Ki bum sempet gak tega ya mau bedah soo rin? Sweet bgt deh pokoknya.

  2. apapun karya author selalu enak di baca? selalu ngenah feelnya dan yang pasti story nya slalu terbaik, walaupun udah baca berkali2 tapi tetep aja slalu ngenah …
    thanks you the best author …

  3. Kali aja Si Pangeran Es beneran dokter, waktu aku sakit usus buntu mending mints dia yang operas I dan.

    Anyway, Shizuka-ssi mau tanya dong, di Korea emangnya boleh ya kalo seorang dokter menangani langsung pasiennya?

    1. ngarep banget aku dia jadi dokter hahahah XD
      ehm…aku sih gatau detilnya gimana cuma aku mikirnya berhubung kimkibum dokter bedah dan dia juga wakil soorin, dia bisa mengajukan keputusan operasi, tapi kan dalam kurun waktu 8 jam itu dia udah mengurus segala macam perizinan maupun administrasi atau apalah itu, cuma ngga aku ceritain aja, ntar kepanjangan lagi wks~ itu juga karna liat drama Yong Pal jadi yah…ah, sudahlah, ini cuma ff jadi maafkan aku jika ada kesalahan prosedur hwhwhw ><

      1. Masih kepikiran yong pal hihihi. Lagi ada encorenya kan tu tiap Sabtu kalo gak salah xixi.. Keep writing another romantic story!! You inspired me how to write a romantic story (since I never have been on a romantic situation with the boys -even with my boyfriend) so by reading your romantic stories I got inspired. Thank you, Shizuka-ssi.

      2. bagaimana pun, terlahirnya/? cerita ini pun karna akunya belum bisa move on dari drama itu wkwk TwT tapi sayangnya aku gabisa nonton encore-nya, cuma nonton lewat laptop aja hiks…
        euh, I don’t even think that this kind of strange-and-absurd-story could inspiring someone huks.. but I’m so grateful to know that T///T I also say thank you so much to be a reader on my blog hwhwhw >.<

      3. Hiks aku juga gak nonton encorenya. Gak mau kebawa baper gara-gara ngarep kalo saya yang jadi Kim Tae Hee Sunbaenim wks.. 😂😂 but you really are inspired me!❤❤ mangat teruz ya qaqa shizuka-ssi!!

  4. kirain soorin skit gra2 da tnda2 hmil…
    eh trnyta ni full ver dri usus bntu ya 😀
    slah pham lg aq.he3x
    mkasih thor dah bwt full ver ny 🙂
    bnran kren bgt…
    jd lbh greget soal lbh detail n pnjang.he3x
    good job author 🙂

    1. aduh…lain kali jangan salah paham lagi yaa akunya jadi merasa bersalah padamu huweeeehh maafkan aku yg blm bisa mewujudkannya hiks… TwT
      tapi terima kasih karna tetap mau membacanya hihihi ><

  5. Ini blm kelarrrrrrr msh ada terusan’a donk kan soorin baru buka mata doank
    hhhh kibumie sesuatu sekali yh ..demi apa seriusan dah yg bagian soorin dirumah sakit blm ><

  6. ukhhh usus buntu? huft untung segera ditangani dengan cepat dan tepat. aku memang belum pernah sekalipun di operasi, tapi pas baca ff ini aku benar” merasakan takut,gugup,dan cemasnya Soorin ㅠㅠ.

    Ahhh ada J-Hope, hihihi. gak kebayang aku dia jadi dokter, kenapa ga Jin aja Siska? wkwkwkwkwkwk

    Dokter Kim pesonamu memang kuat, kau keren Kim Kibum ^______^

    1. well, aku sendiri juga blm pernah alamin sih, cuma ingat pengalaman adek (?) 😀
      aku merasa J-Hope lebih cocok, kalo Jin lain kali aja/? wks xD
      makasih banyak udah mau bacaaa~ >__<

  7. Ish ish ish… Mpe bapak mertua ngintip kemesraan KIM UISANIM.. .

    Pokok y jjang deh karya siska ini.. Aku termasuk pecinta drama medical.. Sekarang disuguhin karya begini ya makin SeENENGGG…
    Mau dibaca 1000 kalipun gk bkl bosen yg ada bikin KETAGIHAN..

    KEEP WRITING YA… ^_^

  8. Haaaaaaahh buang nafas

    panjangnyaaa hehe

    kirain sorin hamil,, eh ternyata usus buntu,, gws sorin eoni..

    Bener tuh sorin kan baru buka mata, pasti ada lanjutannya dong…#kedip”mata kkkkk

  9. Ku kira soorin skit prut krna gejala ibu hmil ehh. . .trnyata gejala usus buntu :>
    sumpah deh thor aku ngri bnget pas operasi’nya jdi aku lwat aja cos aku aga parno sma yg namanya drah.:(

  10. Ternyata Soo Rin Usus buntu aku kira dia keguguran :v , Ih merinding pas operasinya , Ki Bum keren banget suskes operasi Soo Rin nya , pasti dia takut banget pas mau Operasi karena Istri tercinta yang mau di sobek kulitnya

  11. Gimanapun hebatnya Dokter Kim, yg dia tangani kali ini adalah Soorin >.<
    Haduhh, Soorin nakal sih. Bruntungnya jadi Soorin yak :3 *pengen nikah ma dokter Kim jg #plakk

  12. Daebak~ Klau dokternya sekacep dokter Kim jg aku mau. Hahaha
    Jungsoo appa akhirnya mncul jg. Lucu jg ngebayangin pas dia ngintip Kisukisu couple. Hihihi
    Ditunggu lagi yah cerita tntg Soorin stelah kluar dari rumah sakit XD

  13. I’m soooo touching 😍😍
    Ngebayangin KiBum yg marah karna SooRin pulang telat + nyembunyiin sakitnya (versi “perhatian” KiBum kyk gitu kayaknya yaa).. Itu tuh bener2 menyentuh banget..
    Dan scene terakhir bener2 HACEP untuk menutup cerita..
    Awesome 😘

  14. Duuh gmana yah kalo di operasi sama dokter kim. huua penghen banget jadi soorinnya.
    Eon ditunggu kisukisu yang lainnya yah ^^

  15. ternyata Soorin usus buntu, kirain kenapa.
    Pasti sulit bagi Kibum ketika harus mengoperasi Soorin, istrinya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s