Posted in Campus Life, Category Fiction, Chaptered, Fiction, KiSoo FF "U R", PG-15, Romance

U R [2] – His Confussion

prev :: [1] Her Doubt

UR-kibum

Genre :: Campus Life, Romance

Rated :: PG-15

Length :: Chaptered

||KiSoo’Story||

H A P P Y  R E A D I N G

.

©2015 ELVABARI

.

KI BUM menjauhkan ponsel pintarnya dari telinga begitu mengakhiri obrolan singkat bersama Soo Rin. Senyum teduhnya memang mengembang sejak mendengar suara merdu itu menyapa gendang telinganya. Hanya saja begitu mereka memilih untuk mengakhiri, Ki Bum segera menghilangkannya dan beralih merenung.

Ada kejanggalan yang sempat dia tangkap dari suara Soo Rin selama berbicara dengannya. Gadis itu seperti tengah memikirkan sesuatu yang tidak dia tahu. Sayangnya ia tidak bisa bertanya karena menduga Soo Rin tidak ingin menceritakannya. Well, dia sudah tahu bagaimana cara bicara gadisnya itu dan mampu menebak suasana hatinya melalui hal tersebut.

Apakah terjadi sesuatu hingga Soo Rin terdengar lesu seperti tadi? Ki Bum rasa alasan kuis dadakan dari Dosen Seo yang pernah Soo Rin gerutukan padanya itu bukanlah alasan mengapa gadis itu terdengar tidak bersemangat.

“Lihat siapa yang baru saja melepas rindu bersama gadisnya.”

Ki Bum menolehkan kepala, melihat seorang pria sudah berdiri di dekat persimpangan lorong rumah sakit yang berada tidak jauh dari ruang kerja para dokter magang. Mata tajamnya berubah memancarkan sinar datar yang berhasil mempengaruhi raut wajahnya.

Well, Ki Bum sudah terbiasa mendengar sapaan penuh ejekan yang dilontarkan oleh seorang pria sebaya dengannya itu. Teman magang Ki Bum yang entah berasal dari mana. Ki Bum tidak mau tahu karena pria itu selalu mengusiknya.

“Kau membuatku iri, Kim Ki Bum. Aku juga ingin bertegur sapa seperti dirimu,” keluh pria itu dengan senyum miringnya yang menawan. Bersedekap serta menyandarkan punggungnya pada dinding di sebelahnya dengan nyaman.

Tidak ingin meladeni, Ki Bum mengantungi ponselnya pada saku jas putihnya lantas membuka langkah melewati pria itu begitu saja. Hanya saja ia terpaksa berhenti begitu mendengar suara berat yang begitu dalam itu mengalun kembali.

“Aku penasaran dengan gadismu.”

Mata tajamnya mengerjap sekali, seketika pancarannya sedikit berubah sebelum berbalik menghadap pria itu kembali dan melempar sorot matanya.

“Kurasa hanya dia yang bisa mengubah kepribadianmu menjadi lunak mengingat selama ini aku hanya melihat wajah kakumu. Seperti apa dia yang bisa menaklukkan pria sepertimu?” pria itu bertingkah menerawang selama berkata, kemudian kembali membalas tatapan Ki Bum sekaligus memamerkan senyum di bibir penuhnya, melanjutkan, “Aku suka gadis seperti itu, omong-omong.”

“Aku menghargai dirimu yang selalu memberi perhatian padaku. Tapi kau harus tahu di mana batasan yang bisa kau langkahi untuk mengenalku,” Ki Bum membalas dengan nada datarnya, “Aku tidak suka jika orang asing menyentuh kehidupan pribadiku, Marcus,” namun penuh penekanan dan sarat akan peringatan.

Pria bernama Marcus itu hanya mengantar kepergian Ki Bum. Wajah tegas dengan warna kulit yang tampak pucat bak pualam itu tampak kokoh sekaligus menawan kala bibir penuhnya yang merekah tertarik menciptakan senyuman dalam bentuk apapun. Matanya yang condong kebulatan dengan iris hitam pekatnya itu memancarkan sinar penuh arti kala menatap punggung lebar pria berperawakan dingin itu.

Well, you just told me that you’re so possessive with your girl,” gumamnya penuh arti. Percayalah bahwa saat ini dirinya tengah membayangkan rupa suatu wajah yang pernah ia tangkap dan rekam melalui retinanya yang begitu tajam, dan ia tidak bisa melupakannya.

Karena dia terlanjur tertarik dengan wujud yang tidak sengaja dia lihat beberapa hari lalu. Kala pria yang sempat ia ajak bicara itu menemuinya di lobby rumah sakit yang kebetulan dirinya juga sedang berada di sana. Mengamati bagaimana sosok tersebut tersenyum malu-malu di hadapan pria itu, dengan kedua pipi meronanya yang tampak alami dan itu seperti mengundangnya untuk menyentuhnya.

Katakanlah bahwa pria berdarah Korea namun menetap di Swiss dan menuntut ilmu sejak dini itu terpesona dengan milik Kim Ki Bum.

Dan mengetahui bahwa pria itu begitu keras untuk sekadar dia dekati, cukup membuatnya tertantang.

Marcus menegakkan tubuhnya, menyembunyikan kedua tangannya di balik saku jas putih rumah sakit ini dan menyusul pria yang sudah pergi lebih dulu.

So interesting.

****

“Apa?!” Sae Hee hampir tak mampu mengatupkan mulutnya setelah mendengar alunan suara Soo Rin.

Saat ini keduanya berada di sebuah café dekat dari kampus. Waktu hampir menjelang sore dan mereka menyelesaikan jadwal kuliah di hari ini bersamaan—secara kebetulan. Membuat janji untuk bertemu di sini seraya menunggu Henry yang masih ada urusan mengerjakan tugas mata kuliahnya di perpustakaan kampus.

Sae Hee mendesah pelan, memejamkan mata sejenak sebelum kembali memantapkan pandangannya pada Soo Rin yang duduk di seberangnya. “Kenapa tiba-tiba Eonni bertanya seperti itu?” pada akhirnya Sae Hee hanya mampu melemparkan pertanyaan pada gadis itu.

Soo Rin sendiri memilih untuk menunduk, memandang dessert pesanannya tanpa minat, terlihat ia mengedikkan bahu perlahan sebelum menjawab, “Aku hanya mulai memikirkannya. Mengingat hubunganku dengan Kim Ki Bum sudah sampai di tahap ini, aku merasa bahwa aku belum memberi ataupun melakukan sesuatu untuknya. Aku juga baru menyadari bahwa selama ini Kim Ki Bum lebih banyak memperhatikanku dibanding sebaliknya. Karena itu—”

Eonni,” Sae Hee segera menyambar, memotong perkataan Soo Rin sebelum lebih jauh lagi. “Jika aku boleh tahu, apakah Ki Bum Oppa pernah menyatakan hal tersebut pada Eonni sendiri?”

Soo Rin menggelengkan kepala. “Aku rasa tidak mungkin dia mengatakan langsung padaku. Maka dari itu aku bertanya padamu, mungkin saja Kim Ki Bum pernah mengatakannya padamu.”

Ough, bagaimana bisa Eonni berpikiran seperti itu?” gerutu Sae Hee lalu menyeruput White Cloud Latte pesanannya, membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. Ia kemudian mengatur napas sebelum melanjutkan, “Jika Eonni ingin tahu pendapatku, Ki Bum Oppa tidak mungkin menganggap Eonni demikian. Aku bahkan melihat Oppa lebih memperhatikan Eonni di sela-sela kesibukannya. Bukankah itu berarti Oppa masih dan selalu memikirkan Eonni?”

Soo Rin merenung, mencerna gagasan Sae Hee dalam diam.

“Aku rasa itu karena Eonni sendiri sampai-sampai menganggap diri Eonni seperti itu. Maksudku, Eonni merasa tidak pernah melakukan apapun untuk Oppa padahal tanpa itu pun Eonni sudah membuat Oppa masih dan selalu memperhatikan Eonni. Tapi jika Eonni merasa dengan begitu justru membuat Eonni terlihat membosankan, mungkin harus ada yang diperbaiki dari diri Eonni sendiri.”

“Kau benar…” gumam Soo Rin di sela-sela renungannya. Senyum hambarnya mengembang, dan kedua bahunya merosot. “Itu berarti aku memang membosankan, bukan?”

Eonnii!” Sae Hee hampir meninggikan suaranya. Sepertinya dia sudah salah bicara. Apakah ucapannya tadi justru membuat gadis di hadapannya semakin merasa rendah? “Sungguh, aku tidak menganggap Eonni membosankan! Kenapa Eonni berpikiran seperti itu, huh? Apakah karena ada seseorang yang mengatakan bahwa Eonni begitu membosankan?”

Eo…

Sae Hee mengerjap kaget. Tertegun melihat raut wajah Soo Rin justru berubah murung. Apalagi mendengar balasannya yang begitu lirih dan tertera jelas bagaimana gadis itu tampak menyesal, membuat Sae Hee menjadi serba salah.

“Mereka mengatakan bahwa aku terlihat membosankan—untuk Kim Ki Bum…”

Eonni…” Sae Hee tidak tahu bagaimana harus membalas.

****

Mobil hitam metalik itu berhenti di depan pekarangan rumah Keluarga Park. Henry sang pemilik mobil tersebut hendak keluar dari kemudinya kala menyadari gadis yang duduk di belakangnya tidak bergerak sama sekali di tempat duduknya. Henry terpaksa menghela napas panjang, mengingat kembali kata-kata kekasihnya yang baru saja dia antar pulang.

“Sepertinya Soo Rin Eonni sudah terpengaruh dengan omongan teman-temannya. Eonni menjadi terlihat merendahkan diri dan itu sungguh membingungkanku.”

Pada akhirnya Henry memilih keluar lebih dulu setelah mematikan mesin mobil, tentunya. Bahkan segala kegiatannya tidak digubris oleh kakak sepupunya di belakang sana. Henry juga sempat terheran-heran karena biasanya kakak sepupunya akan berpindah tempat begitu dia selesai mengantar Sae Hee, ikut mengantar Sae Hee masuk ke dalam rumahnya atau sekadar berbincang-bincang sesaat sebelum hengkang dari sana. Tapi hari ini, memberi salam perpisahan untuk kekasihnya tadi pun tidak. Noona-nya itu justru memilih untuk tenggelam dalam ketermenungannya.

Henry membuka pintu penumpang belakang, perlakuaannya berhasil menarik Soo Rin dari lamunan panjangnya hingga gadis itu terhenyak kaget sekaligus mengerjap mata beberapa kali. Henry melihat bagaimana kakak sepupunya itu menatap aneh dirinya sampai-sampai memancingnya untuk berdecak pelan juga menggeleng-gelengkan kepala.

“Apa Noona ingin menginap di dalam mobilku?”

E-eoh?

Aigoo…” Henry mendesah pelan, menatap Soo Rin sekali lagi sebelum membungkukkan badan demi memudahkannya untuk melepas seat belt yang mengikat tubuh noona-nya, barulah ia menarik menuntun Soo Rin keluar dari mobil. “Kita sudah sampai, Noona.

Barulah Soo Rin mengedarkan mata penuh linglung seperti terserang disorientasi, mengernyit sama ketika melihat rumahnya sudah berada di hadapan. Oh, astaga, sudah berapa lama dia melamun sampai-sampai tidak sadar bahwa ia sudah sampai di depan rumah?

Noona, ada apa? Apa ada sesuatu mengganggu pikiran Noona saat ini?” Henry memilih untuk bertanya. Mencoba memancing gadis itu untuk berbicara padanya. Tapi Henry harus mengeluh di dalam hati karena noona-nya itu justru menggelengkan kepala.

“Tidak. Aku hanya merasa lelah hari ini.” Soo Rin mencoba untuk tersenyum. “Aku ingin segera istirahat. Terima kasih atas tumpangannya, Henry-ah,” kemudian Soo Rin memilih untuk melangkah masuk ke dalam rumah lebih dulu.

Meninggalkan Henry yang mengantar kepergiannya dengan tatapan memicing. Semakin merasa aneh dengan gelagat noona-nya.

Noona justru terlihat kenapa-kenapa jika mengucapkan terima kasih atas tumpanganku yang memang sudah menjadi kebiasaan,” gumamnya—yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.

.

.

Soo Rin menutup pintu kamarnya dengan pelan, langsung mendudukkan diri di pinggir tempat tidur dan meletakkan tas kuliahnya di sisi lain. Dan, lagi, ia tenggelam dalam kemurungannya.

Ia tidak mengerti kenapa hal ini menjadi begitu membebaninya. Membuatnya berpikir terlalu banyak hingga menimbulkan berbagai perumpaan yang mana terlalu mendominasi adalah hal-hal yang justru membuatnya meringis sendiri. Memancingnya untuk menjatuhkan kepercayaan dirinya yang sudah sedari dulu hanya sebatas yang selalu terlihat hingga kini ia merasa ciut.

Bagaimana bisa Kim Hee Chul dengan seenak hati mencercanya seperti di siang tadi?

Dan bagaimana bisa Soo Rin yang selama ini kebal dengan segala kritikan pedas dari mulut seorang Kim Hee Chul menjadi terpengaruh sepenuhnya bahkan merasa tertohok di tempat kejadian seperti tadi?

Bukankah selama ini Soo Rin bisa mengatasinya dengan menganggap segala omongan seniornya itu sebagai angin lalu saja? Tapi, kenapa untuk yang ini dia menelan semua perkataan Hee Chul dan menjadi hantu di pikirannya dengan mudahnya?

Bukankah itu berarti Soo Rin membenarkan teori yang dianalisa oleh mulut tajam seniornya itu? Bukankah itu berarti Soo Rin memanglah gadis yang seperti dikatakan Hee Chul? Bukankah itu berarti Soo Rin memanglah gadis yang membosankan?

Ugh, sudah berapa kali Soo Rin memutar kata membosankan untuknya sendiri di hari ini?

Meraih tas kuliahnya, ia mulai merogoh dalamnya dan menemukan ponsel pintarnya. Sejenak ia merenung meratapi layar sentuh tersebut yang sudah menyala, sebelum membuka fitur telepon dan menekan tombol nomor 1 cukup lama sebagai speed dial. Hingga tertera nomor kontak yang sudah ia atur menjadi panggilan otomatis dari sana.

Soo Rin mulai merasa gugup di kala ia menempelkan ponsel pintarnya ke telinga, menunggu sambungan panggilannya terjawab yang entah mengapa membuat degup jantungnya mulai tidak karuan. Bahkan tangannya yang terbebas tampak meremas rok yang sempat menjadi korban tumpahan minumannya—ya, dia memang belum menggantinya dan memilih untuk menjadi bahan picingan banyak orang ketika melihat kondisi roknya yang sedikit mengenaskan itu. Untung saja Henry dan Sae Hee tidak memperhatikan kekacauannya ini, mengingat dirinya terus menutupnya dengan tas kuliahnya.

Hingga akhirnya mendengar sambungannya terjawab, melantunkan suara berat langsung menusuk gendang telinga, Soo Rin justru merasa otaknya kosong seketika. Dan bibirnya serasa sulit sekali untuk bergerak.

Ugh, seharusnya Soo Rin mempersiapkan mentalnya terlebih dahulu sebelum menelepon Kim Ki Bum, bukan?

“Ada apa?”

Soo Rin menelan saliva karena pria itu mengajukan pertanyaan. Mungkin karena dia tidak kunjung bersuara semenjak pria itu menyapa panggilannya. Dan mungkin saat ini pria itu sedang kebingungan karena Soo Rin tidak kunjung menjawab sapaannya.

“K-kau sedang apa?” well, pertanyaan yang klasik. Namun entah mengapa terasa sulit bagi Soo Rin untuk melontarkannya.

“Aku baru saja menyelesaikan tugasku hari ini. Kebetulan sekali kau menghubungiku di saat aku berniat untuk menghubungimu lebih dulu.”

Soo Rin dapat merasakan bahwa pria itu tengah tersenyum saat ini—jika diraba melalui cara berbicaranya yang begitu ringan dan santai. Dan itu cukup mampu menular padanya hingga sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan tapis nan manis.

Ya, ini sudah menjelang petang dan tentunya pria itu baru saja menyelesaikan tugas magangnya yang baru kelar di pukul enam sore. Beberapa menit lalu.

“Kau pasti sangat lelah…” gumamnya lirih yang untungnya masih dapat didengar.

Aniya. Aku merasa pulih kembali setelah mendengar suaramu.”

Mau tidak mau Soo Rin merasakan kedua pipinya memanas. Ugh, hanya dengan permainan kata sederhana, Kim Ki Bum selalu mampu membuatnya merona dengan mudah. Sebenarnya pria itu memiliki mantra apa hingga mampu mempengaruhi Soo Rin hingga sejauh ini?

“Ada apa? Tidak biasanya meneleponku lebih dulu,” terdengar Ki Bum tengah terkekeh halus setelah menguatarakan ucapan itu.

Tanpa pria itu ketahui raut wajah Soo Rin kembali meredup berkat—ungkapan yang lebih mirip ejekan halus dari Kim Ki Bum. Dia benar, memang tidak biasanya Soo Rin menelepon Ki Bum lebih dulu. Memang kapan Soo Rin bersedia menghubungi prianya lebih dulu? Soo Rin sendiri bahkan sudah lupa karena terlalu seringnya Ki Bum yang menghubunginya lebih dulu dan lebih banyak menanyakan kabar dibandingkan sebaliknya.

“B-bukankah aku sudah mengatakannya padamu?”

“Aah, merindukanku?”

Soo Rin tidak langsung menjawab. Ia justru lebih memilih membasahi tenggorokannya yang entah sejak kapan sudah terasa kering. Hingga akhirnya ia mendengar suara berat pria itu mengalun lagi.

“Kalau begitu bagaimana jika kita bertemu?”

Eo?”

“Aku akan datang ke rumahmu setelah ini.”

Andwae!” langsung saja Soo Rin membekap mulutnya, menepuknya seraya merutuki jawaban spontannya yang menunjukkan kegengsiannya. “A-aku… maksudku, lebih baik kau pulang dan langsung istirahat saja. Aku—tidak mau merepotkanmu. Besok saja… a-aku yang akan menemuimu. Begitu aku menyelesaikan kuliahku, aku akan datang ke rumah sakit.”

“Begitu?”

E-eum…” kemudian Soo Rin tidak mendapati suara Kim Ki Bum membalas suaranya lagi. Seketika ia menyesal karena sudah mengajukan usulan yang sebenarnya tidaklah sesuai dengan keinginan. Tentu saja Soo Rin ingin pria itu menemuinya hari ini, tetapi mengingat di waktu seperti ini pria itu baru saja menyelesaikan tugas magangnya, membuat Soo Rin memilih untuk mengalah dan memberikan perhatian agar pria itu beristirahat saja.

Atau… bagaimana jika Soo Rin saja yang menemui Kim Ki Bum hari ini?

“Kalau begitu aku akan menunggumu besok.”

Kedua bahu Soo Rin melemas, menyesali kesempatan yang terlewatkan begitu saja karena dirinya terlalu banyak berpikir. Ough, kenapa Soo Rin begitu lamban?

… dengan statusmu yang sudah menginjak tinggal satu tingkat lagi untuk menuju jenjang yang lebih serius, kau benar-benar nol besar dalam urusan tersebut.

Lagi-lagi kalimat pedas dari Kim Hee Chul bergentayangan di otaknya.

Apa benar bahwa Soo Rin berkapasitas nol besar dalam urusan seperti ini? Mengingat selama ini dia lebih sering diperlakukan terlampau baik oleh Kim Ki Bum, apa Soo Rin sudah pernah membalas segala perlakuan prianya itu?

“K-kalau begitu… sampai bertemu besok…” dan bodohnya Soo Rin mengiyakan keputusan Ki Bum begitu saja.

****

Soo Rin hanya mampu merebahkan kepala di atas meja belajar. Sebelah tangannya memain-mainkan pena. Saat ini dia tengah menyalin catatan dari salah satu mata kuliahnya dari buku coret-coretannya ke buku catatan sebenarnya, sesekali mengulang beberapa sub materi di catatannya dengan membaca beberapa buku referensi yang dia dapat dari pinjaman perpustakaan kampusnya kemudian menyalinnya ke buku catatannya sebagai tambahan penjambaran.

Hanya saja, semangat belajarnya tidaklah penuh mengingat suasana hatinya yang masih saja keruh.

Padahal Soo Rin sudah mengimbanginya dengan menyumpal kedua telinganya dengan earphone, mendengarkan musik—suatu kebiasaannya jika ia merasa konsentrasi belajarnya tidaklah maksimal. Tetapi justru musik-musik kesukaannya seperti mendukungnya untuk bermalas-malasan dan semakin larut akan suasana hatinya.

Entah sudah keberapa kali Soo Rin membuang napas panjang yang begitu berat. Pikirannya kembali berkecamuk. Dan batinnya seolah tengah berperang saling mempertahankan gagasan. Di sisi lain ia harus belajar mengingat ujian akhir semester akan terlaksana dalam hitungan bulan, namun di sisi lainnya lagi ia terlalu memikirkan hubungannya dengan Kim Ki Bum.

Ugh, mungkin itu terdengar tidaklah penting bagi beberapa orang yang belum mengerti. Tapi mengingat bagaimana suatu hubungan mampu mempengaruhi kehidupan seseorang memanglah benar adanya. Apalagi hubungan Soo Rin dengan Ki Bum yang sudah dalam tahap… bertunangan.

Soo Rin mulai merasa bahwa hubungan ini belumlah pantas untuknya mengingat ia belum menjadi gadis berpikiran dewasa dan mengerti bagaimana menghadapi pasangan di dalam ruang lingkup yang bukan lagi disebut sebagai berpacaran. Dan Soo Rin mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa tujuan dari hubungan yang namanya bertunangan? Bagaimana Soo Rin menyikapi statusnya yang banyak orang mengatakan bahwa itu sudah merupakan status yang serius?

Heol, kenapa Soo Rin menjadi gadis yang begitu bodoh begini, sih?

“Aah, eottokhaji…” Soo Rin menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan yang sedari tadi menjadi bantalannya. Menenggelamkan diri ke dalam kebingungan yang semakin menguasai.

Entah karena ia begitu memikirkan Kim Ki Bum atau karena dia merindukan Kim Ki Bum, dengan kurang ajarnya dia berharap hingga berkhayal pria itu sedang berada di sini. Sebab indera penciumannya mencium aroma maskulin yang dia kenal dan sangat dia hapal menguar dari tubuh Kim Ki Bum. Ugh, kenapa efek pesona pria itu bahkan mampu menembus akal sehatnya yang sedang terganggu saat ini?

Soo Rin mengakui bahwa dia ingin sekali merasakan tangan pria itu menyentuhnya, entah di tangan, di puncak kepala, atau bahkan di pipinya yang selalu merona, merasakan bagaimana pria itu memeluk dan menangkan dirinya di saat ia merasa kebingungan seperti sekarang ini, menguatkan sekaligus meyakinkan bahwa dia bisa melakukan sesuatu yang diragukannya. Membayangkannya saja sudah membuat benak Soo Rin berdesir-desir. Dan ia semakin merutuk diri karena aroma itu semakin menguat saja.

Pada akhirnya Soo Rin keluar dari persembunyiannya, kembali merebahkan kepalanya dan memainkan penanya di jari-jemari, menghirup udara beraroma maskulin di sekelilingnya yang terasa nyata dan kuat hingga kening di balik poninya mulai membentuk lipatan begitu jelas ketika menghebuskan napas.

Ini aneh. Bagaimana bisa aroma kamarnya berubah menjadi aroma parfum Kim Ki Bum yang sering menusuk hidungnya tiap pria itu berada di dekatnya? Apakah khayalannya sudah berhasil membuatnya berhalusinasi terlampau jauh seperti ini?

“Sepertinya aku sudah gila…” gumamnya yang bahkan dia sendiri tidak mendengarnya mengingat saat ini indera pendengarannya masih disumpal oleh lantunan musik yang terputar dari ponsel pintarnya.

Hingga seketika sudut matanya menangkap adanya seseorang muncul dari belakang kepalanya, menjatuhkan kecupan telak di pipinya yang sukses mengejutkan jantungnya untuk segera berlari, memompa darahnya untuk mengalir deras, membangkitkan tubuhnya yang sempat melemas berubah tegang sekaligus menggerakkan syaraf di dalam tubuh untuk mengangkat sekaligus menolehkan kepala hingga sepasang iris kecoklatannya mendapatkan sosok yang sedari tadi berputar-putar di kepalanya ternyata sudah berdiri di—belakang tempat duduknya!

Serta merta Soo Rin melepas kedua earphone dari telinganya, matanya tidak beralih lagi begitu menancap pada pria yang tengah mengumbar senyum teduh untuknya, berdiri tegap dengan kedua tangan bersedekap serta menatap penuh dirinya dalam sorot hangat.

“K-Kim Ki Bum?”

Ya, Kim Ki Bum sudah berada di hadapannya, bahkan berada di dalam kamarnya, tentu saja. Soo Rin memang tidaklah gila maupun berhalusinasi bahwa aroma maskulin pria itu tercium oleh indera penciumannya karena pada kenyataannya Kim Ki Bum sedang berada di sini!

Sontak Soo Rin berdiri dari duduknya, mengabaikan buku-buku catatan kuliahnya dan beralih kesenangan karena pria itu mendatanginya tanpa prediksi darinya. Hanya saja…

“Ke-kenapa kau datang? Bukankah… seharusnya kau sudah berada di rumahmu?”

Memilih tidak langsung menjawab, Ki Bum justru mengulurkan tangan besarnya ke puncak kepala Soo Rin. Well, tanpa pria itu ketahui bahwa keinginan Soo Rin yang sempat terjabarkan sebelumnya sudah terwujud hingga kini batinnya bergolak penuh suka cita karena kembali merasakan hangatnya sentuhan tangan besar Kim Ki Bum.

“Kupikir kau mengacuhkanku, tetapi karena benda itu ternyata. Jadi jangan salahkan aku yang sudah berani masuk ke dalam kamarmu,” gumam Ki Bum lain, melirik earphone yang sudah tergeletak di meja belajar Soo Rin, kemudian ia melihat reaksi di wajah cantik itu.

Ugh, benar juga, Kim Ki Bum sudah masuk ke dalam teritori Soo Rin!

Di sinilah salah satu perbedaan hubungan mereka dibandingkan pasangan di luar sana. Selama ini, Ki Bum justru memilih untuk menjaga privasi Soo Rin alias kamar gadis ini dengan tidak menjamah ke dalamnya. Tapi, untuk kali ini, Ki Bum terpaksa menginjakkan kaki di sini setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar ini dan tidak mendapat respon berarti. Ki Bum mengira bahwa Soo Rin tengah tertidur di meja belajarnya, tapi ternyata, dia melihat gadisnya ini mengoceh tidak karuan seorang diri dan bertingkah seperti orang linglung tadi.

 “Apa kau sudah gila karena merindukanku, hm?”

Lagi, wajah cantiknya memanas hingga muncul semburat kemerahan berkat tebakan tepat sasaran Ki Bum. Oh, ya ampun, sepertinya pria di hadapannya ini sempat mendengar gerutuan anehnya beberapa waktu lalu. Memalukan sekali.

Tapi Soo Rin tidak menampik karena Kim Ki Bum memang benar. Ditambah, melihat wujudnya yang sudah berdiri di depannya, membuat Soo Rin tidak bisa menahannya lagi hingga akhirnya ia berhambur memeluk pria itu, mengejutkan sang empu hingga terpaku beberapa saat—dan tercipta keheningan untuk beberapa saat ke depan.

“Aku masih berada di kamarmu, tidak seharusnya kau memperlakukanku seperti ini, Soo Rin-ah,” dengus Ki Bum dengan halusnya, menyiratkan makna berarti di balik kata-katanya demi mengingatkan. Tapi seolah tidak peduli, gadis yang memeluknya ini justru semakin mengeratkan lingkaran di pinggangnya.

Soo Rin merasa emosinya mulai bergolak penuh kelabilan. Kala berhasil memeluk pria ini, menghirup aroma yang amat kuat karena tubuh kekarnya yang tidak berjarak dengan tubuhnya, meresapinya sebagai pengganti oksigennya yang entah mengapa terasa menyesakkan, dan ia merasa ingin melepas keresahannya di pundak pria ini. Hanya saja, dia tidak tahu bagaimana harus menumpahkannya, dan itu cukup menyiksanya.

Sampai-sampai Ki Bum dapat merasakan bagaimana tegangnya tubuh yang memeluknya kini, hingga ia memilih untuk mengalah, membalas pelukan Soo Rin dengan melingkarkan kedua lengan kekarnya pada punggung kecil itu. Menundukkan kepala demi menjangkau telinga gadis itu lalu berkata, “Wae geurae?” dengan halus.

Soo Rin tidak segera menjawab, memilih mengunci bibirnya dengan menggigit bagian bawahnya. Membiarkan tubuhnya berdesir lembut berkat suara berat itu mengalun tepat di dekat telinganya, namun sekaligus membuat meringis di dalam hati.

Dia mulai kalut diam-diam.

Secara tidak langsung telah membuat Ki Bum harus bertanya-tanya di dalam benaknya. Dia memang sudah merasakan keanehan ini sejak ia menelepon Soo Rin siang tadi. Dan keanehan itu semakin terasa begitu ia melihat sendiri gelagat gadis ini. Ada apa dengan Soo Rin? Apakah ada sesuatu yang tengah mengganggunya? Jika ada, apakah itu sulit untuk diceritakan padanya? Karena sepertinya Soo Rin sendiri kebingungan hingga memilih untuk menyentuh Ki Bum lebih dulu seperti ini. Memeluknya terlampau erat seperti ini.

Pada akhirnya, Ki Bum memilih untuk bertindak dengan menggerakkan sebelah tangannya, mengusap kepala Soo Rin penuh kelembutan, mencoba memberikan ketenangan mengingat bagaimana tegangnya Soo Rin di dalam pelukannya.

 “Kau bisa bercerita padaku kapan saja, Soo Rin-ah.

Dan ucapan penuh pengertian Kim Ki Bum mampu mendorong rasa perih di pelupuk mata Soo Rin. Menelan salivanya dengan pahit dan Soo Rin semakin merapat pada prianya ini.

Apa benar bahwa Kim Ki Bum merasa bosan padanya? Jika iya, kenapa pria ini masih saja memberikan perhatian sekaligus pengertian yang selalu menggetarkan benaknya? Sampai-sampai Soo Rin tidak tahu bagaimana caranya membalas segala perilaku Kim Ki Bum. Dengan begitu, bukankah Park Soo Rin begitu membosankan untuk Kim Ki Bum?

Soo Rin ingin menanyakan hal ini pada Ki Bum. Ingin mengetahui bagaimana pandangan Ki Bum kepadanya. Ingin mengetahui bagaimana Ki Bum menilai dirinya. Sekaligus ingin mengutarakan perasaan Soo Rin sendiri terhadap Ki Bum.

“Aku merindukanmu…”

Ki Bum menyandarkan sebelah pipinya pada sisi kepala Soo Rin, tersenyum diam-diam seraya menepuk perlahan punggung kecil gadis ini. “Aku tahu. Itulah mengapa aku memilih untuk menemuimu hari ini juga. Karena aku juga merasakan hal yang sama,” bisiknya.

Jantung Soo Rin berdegup tidak karuan. Ia tersentuh, ia merasa terbang untuk sesaat, namun ia kembali mendarat ke permukaan ketika memilih untuk merutuki ucapannya yang sebenarnya tidak sepenuhnya merupakan apa yang tengah dirasakannya kini. Dia ingin mengutarakannya, tetapi kenapa rasanya begitu sulit?

Bukankah dulu dia pernah berkata pada Ki Bum bahwa dia akan mengucapkan sebuah kalimat yang menunjukkan perasaan terbesarnya terhadap Ki Bum? Dan ia berjanji ketika pria ini kembali setelah meninggalkannya cukup lama di sini, bahwa dia akan mengutarakannya sebanyak Ki Bum mau? Tapi, kenapa Soo Rin tidak bisa memenuhinya?

Soo Rin bahkan sudah lupa, kapan terakhir kali dia mengucapkannya di hadapan Kim Ki Bum. Soo Rin hanya ingat bahwa dia mengucapkannya ketika Kim Ki Bum kembali setelah 3 tahun menghilang dari peredaran hidupnya.

Lalu, apakah sebenarnya Ki Bum mengharapkan Soo Rin akan berkata hal tersebut padanya?

.

.

To Be Continued


KYUHYUN :: “Yuhuuu!! It’s me! Aku akhirnya muncul di cerita ini setelah penantian yang cukup lama. Haha! Lihat, aku berperan menjadi Marcus yang penuh dengan pesona! Heeeeyy, itu aku, Cho Kyu Hyun!! Hahahahah!

HENRY :: “Oh, jadi itu kau, Hyung? Kukira orang lain.

KYUHYUN :: “Eish! Aku tahu bahwa kau tidak bermain peran denganku secara langsung tapi ketahuilah bahwa itu aku! Haishi, lagipula, kenapa pula peranku sangat sedikit di sini? Aku ingin lebih! Aku ‘kan ingin menggoda Park Soo Rin tetapi menyebut namanya saja belum. Huh!

HENRY :: “Bersyukurlah karena kau sudah berhasil lolos menjadi pemain di sini, Hyung. Aku rasa setelah part ini kau akan muncul lebih banyak dibanding Ki Bum Hyung.

KYUHYUN :: “Oh, tentu saja! Aku ‘kan akan merebut Park Soo Rin dari Kim Ki Bum! Hahahaha!

SAEHEE :: “Ish… percaya diri sekali orang ini…

KYUHYUN :: “Siapa dia? Berani sekali mencibirku.

SAEHEE :: “Aku adik dari orang yang kau sebut Kim Ki Bum, Tuan! Kau ini magnae tetapi tingkahmu benar-benar tidak sopan!

KYUHYUN :: “Aigoo, lihat gadis yang satu ini… tingkahnya seperti orang tua yang tahu segalanya.

SAEHEE :: “Orang tua, kau bilang?! Ya! Neo

HENRY :: “Sudah, sudah, jangan bertengkar! Astaga…

KYUHYUN :: “Oh, dia yang berperan menjadi kekasihmu juga, ya?

HENRY :: “Eo. Kenapa, Hyung?

KYUHYUN :: “Hm… memang cocok jika dipasangkan denganmu. Kalian sama-sama berisik.

HENHEE :: “YA!!!

Sudah, sudah… sudah cukup mengocehnya hahahah

Aku gatau ini cerita greget atau ngga hiks… sebenernya tuh udah merencanakan ujung cerita ini bakalan gimanaa gitu tapi kok membawa cerita ini menjadi ke ujung yang kuinginkan itu agak rumit gitu hwhwhw jadi maafkan aku jikalau ceritanya rancu banget T/\T

aku ngga mau maksa bikin cerita panjang-panjang mengingat part ini masih termasuk awal, ditambah tokoh-tokoh pelengkap yang mungkin gabakal terus bermunculan di tiap partnya, aku gamau bikin iming-iming kepada para pembaca…..yah intinya masih seadanya dulu lah heheheh

So, terserah mau tetap mengikuti atau nungguin endingnya aja (kalo jadi) atau bahkan gamau ngikutin sama sekali… aku ga bakal maksa, jadi jangan maksa saya nantinya (?)

Oke! Segitu aja, terima kasih sudah mampir~^^

tumblr_ll6aygmLEs1qjq6b8o1_500

Eh iya, ada bonus XD

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

28 thoughts on “U R [2] – His Confussion

  1. akhrny kyuhyun mncul biarpun cm dkit 😀
    ya ampun soorin,jgn trlalu dpkirin dech kta2 heechul…
    kibum kan cinta qm pa da ny.he3x
    ngakak aq bca prckapan kyuhyun ma henhee XD
    bwat author ny slamat qm dpt nilai 100
    good job author 😉

  2. yah yah jadi beban pikiran kan. Soorin benar” org yg sangat sensitif, huhu sudahlah Soorin jangan terlalu dipikirkan toh Kibum juga pasti gak terlalu mempermasalahkan sifat dan sikapmu. Kim Heechul, aigoo mulutnya minta disumpel sama cabai super pedas nih ㅠㅠ

    Cieee ada Marcus a.k.a Cho Kyuhyun, ahhh apakah nanti konfliknya jadi cinta segitiga? ah entahlah aku tunggu cerita lanjutannya ^_^

  3. Dasar soo rin yg sifatnya pemalu. Mau gimana2 ya susah buat u.gkapin apa yg dirasa. Semoga kibum bisa buat soo rin tenang lagi.
    Yakk kyuhyun eehhh marcus jangan ganggu2 kisoo. Cari yg lain sana.

  4. Soo rin galau bgt ya smpe gk bsa lupain ucpan heechul ya walau emang sindiran heechul tajam,kibum smpe menyadari k galauan soo rin tpi syukur kibum bsa menenangkan soo rin,wah akhirnya kyu msuk dlm bagian ff ini

  5. wah wahh bakalan ada orang ketiga nih diantara mereka, bakalan seru kayaknya
    soo rin harusnya kamu ngomong langsung aja sama kim kibum jadi ntar gak ada salah paham antara kalian beduaa. greget ihhhhh

    lanjutannya ditunggu loh kan sampe end pokoknya, semangatttttyy

  6. Yahahaha beneran dapet peran disini dia hahahaha. Shizuka-ssi, what’s on your mind when you’re writing this Fanfictio, if I might ask? I mean its genre is so different from the others (I think), which is good for you. Anyway, I’m waiting fro the story when soorin gets pregnant hahaha.. Fighting!

    1. well, what was on my mind when writing this is…the ending of this story hihihi so actually I feel a bit confused, what should I do? to make a storyline which the ending such like on my imagination.. heheheh agak susah sebenernya buat cerita yg ini hwhw jadi maafkan aku karna ceritanya yg absurd T^T
      btw, Soo Rin pregnant is coming soon, pls let kisukisu on loveydovey first until later TwT #ngek

      1. Yahahaha udah keburu mikirin endingnya 😂😂😂 tapi bagus loh, kamu bisa bikin cerita yang menurut aku genrenya beda banget dari genre ceritamu kebanyakan. You’ve made such a good improvement!!! 🎉🎉 ini tuh sebenarnya gak absurd loh, cuma kalo aku pribadi bacanya bikin mesem-mesem gaje gitu wks…. Waiting for the news ‘Kim Ki Bum, I am pregnant.’

      2. euh…karna itu aku bingung bikinnya hahahah TwT tapi syukurlah kalo di mata dirimu ini ga absurd hwhwhw
        about the news….just wait, okay? soon.. catet (?) #apanya-_- wks

  7. Yeye lala yeye lala….kkk
    muncul jga..:)

    “jangan salahkan aku yang sudah berani masuk ke dalam kamar “ku.?” hehe, harusnya “mu” kan, udah aku nemu kesalahan yg itu aja, kedepannya lebih teliti lagi ya, 🙂
    semangt,!

  8. Anjirrr laki aye beneran dimunculin dipart 2 lg ck,
    td ada typo waktu kibum dikamar bilang masuk dikamar soorin tp bilang’a kamarku …soorin kacau bgt yh gegara ucapan’a heechul udah ngomong ja ma kibumie ntar biar heechul dihajar ma kibum

  9. Heechul emang evil sama kayak maknae nya, ucapannya gak bisa disaring…kepikiran kan tuh sama Soo rin, jd tertekan deh tuh anak orang…Soo rin ah kau harus percaya dan yakin bahwa kau bagi seorang Kim ki bum adalah segalanya dan menerima apa adanya dirimu bukan ada apanyaapanya… suka dialog terakhir Kyu, akhirnya sang pengganggu hubungan KiSoo muncul jg walo masih sedikin scene buat dia nongol kkkkk….
    Ditunggu part selanjutnya, fighting ✊✊✊

  10. Yaampun Uri Kyuhyun muncul senengnya suami aku muncul makasih Eonni akhirnya si Evil muncul tapi jangan sampe jadi orang ketiga ya kasian KiSoo dan aku 😀 , ck dasar Heechul kenapa suka bikin Soo Rin berfikiran negatif sih kasian Soo Rin jadi terkontaminasi fikirannya >< , ah kenapa si Evil tertarik sama Soo Rin sih emang aku kurang cantik dan mempesona ya Evil :v

  11. Entah kenapa pertengkaran kyuhenhee lebih menarik perhatian daripada kisah romansa kisoo…

    habis mau bagaimana lagi kisoo hanya bisa bikin orang iri..
    jadi mau cari pelampiasan dengan menonton pertengkaran orang ditemani popcorn

  12. Wah gara gara hee chul nih soo rin jadi galau gitu haha
    oh iya thor, itu yang “lengkungan tapis” maksudnya “lengkungan tipis” atau emang tapis ya?
    Tapi tapis itu kan kain kain gitu yak? Hehhehe
    ada abang marcus di cerita ini hehhe

  13. 안녕 오랜마니다 🙂
    Baru sempet baca ff ini lagi,maaf juga aku mau bilang tadi aku baca ada beberapa typo seperti “mengeryit” jadi “mengernyit” dan “mengutarakan” jadi “menguatarakan” oh iya dan juga tadi ada kalimat “Bagaimana bisa Kim Hee Chul dengan seenak hati mencercanya seperti di siang tadi?” Kalau menurut aku si kata di’a dihilangkan saja 🙂
    Gitu doang sih,baru muncul udah bikin komen kaya gini 😀 maafkeun ya 🙂
    Untuk kedepannya semoga lebih teliti,lebih banyak ide yang muncul 🙂
    Semangat untuk menulis cerita yang lainnya 🙂 파이팅 친구야 !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s