Posted in Adult, Campus Life, Category Fiction, Chaptered, Fiction, KiSoo FF "U R", PG-17

U R [1] – Her Doubt

herdoubt

Genre :: Campus Life

Rated :: PG-17

Length :: Chaptered

||KiSoo’Story||

Happy reading! ^-^

¤¤¤¤

SUASANA cafeteria Fakultas Humaniora itu tengah diselimuti berbagai desas-desus yang tengah dinikmati oleh para mahasiswa. Berbagai macam ekspresi mereka keluarkan tiap kali melihat layar tab, ponsel, maupun laptop di atas meja seraya mendiskusikannya. Hari ini mereka tengah dilanda kabar yang cukup menggemparkan satu fakultas tersebut, bahkan beberapa fakultas lain juga mengendus akan adanya kabar miring di dalam fakultas mereka.

“Kupikir mereka sudah gila melakukan hal itu di sini.”

“Sejak awal sudah dikatakan bahwa mereka itu pasangan yang tidak sehat.”

“Yang benar saja. Memangnya mereka tidak punya uang untuk menyewa kamar hotel?”

“Menggelikan!”

Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang tidak enak dikonsumsi oleh telinga. Bahkan gadis yang baru saja masuk ke dalam cafeteria itu mulai merasa tidak nyaman sekaligus kebingungan akan apa yang tengah terjadi di sini.

“Ada apa ini?” Soo Rin yang sudah berhasil duduk di salah satu meja, menyapa teman-temannya itu dengan sebuah pertanyaan serta raut wajah kebingungan. Dia baru saja datang ke kampusnya ini mengingat hari ini jadwal kuliahnya hanya ada di siang hari.

“Berita yang sangat buruk,” tukas Kim Myung Soo dengan malas seraya mengaduk-aduk minumannya tanpa minat.

Park Cho Rong yang duduk di sebelah Soo Rin mulai mendekat demi membisikkan sesuatu, “Dikabarkan bahwa pasangan mahasiswa semester empat tertangkap basah tengah making out di salah satu kelas di gedung fakultas ini,” yang sebenarnya masih bisa didengar oleh dua pria di hadapan mereka saat ini.

“Apa?!” Soo Rin tampak terkejut bukan main. “Bagaimana bisa?”

Kim Hee Chul yang sedari tadi berkutat dengan tab miliknya kini memberikan benda itu pada Soo Rin. Memerintah gadis itu untuk membaca artikel yang tertera di sana. Sebuah berita hari ini yang dimuat di website milik fakultas ini. Pria itu mendengus kasar dan bertopang dagu. “Anak muda masa kini benar-benar tidak tahu malu,” gerutunya yang langsung mendapat picingan dari Myung Soo dan Cho Rong.

Hei, apa dia tidak sadar bahwa dia juga menyindir diri sendiri dan teman-temannya itu?

Sedangkan Soo Rin yang disibukkan dengan artikel di tab tersebut mulai mengerutkan keningnya. Dikatakan bahwa pasangan yang ternyata berasal dari Fakultas Humaniora juga Fakultas Hukum itu tertangkap basah tengah melakukan kegiatan orang dewasa di sebuah kelas hampir tak terpakai di gedung Fakultas Humaniora kemarin sore. Seorang petugas yang tengah berkeliling tidak sengaja mendengar suara-suara aneh berasal dari ruangan tersebut dan langsung memeriksanya. Benar saja, adegan tidak etis itu tertangkap mata oleh sang petugas dan langsung melaporkannya pada salah satu Dosen yang masih tinggal di gedung tersebut lalu menggeret mereka langsung ke Ruang Dekan. Kabarnya pagi ini mereka dipanggil oleh Rektorat kampus ini dan mendapat peringatan keras karena hampir mencoreng nama baik Universitas. Karena berkat kasus ini, hampir satu kampus mengetahuinya.

“Kurasa spekulasi yang mengatakan bahwa mereka tidak punya uang itu benar,” cibir Cho Rong mengisi keheningan di antara mereka yang sempat kentara.

“Tidak. Kurasa mereka sudah tidak sabar merasakan terbang di atas awan karenanya mereka nekat melakukannya di sini,” Myung Soo terkekeh geli akan ucapannya sendiri, yang segera mendapat respon dari Hee Chul berupa dengusan keras.

“Apa mereka tidak memikirkan masa depan mereka sendiri?” Soo Rin akhirnya ikut berkomentar. “Bagaimana bisa mereka berani melakukan hal itu di saat usia mereka bahkan baru menyentuh dua puluh tahun? Mereka bahkan belum menyelesaikan kuliah tetapi sudah melakukan itu.”

Eii, kau seperti tidak tahu saja,” decak Hee Chul. “Pasangan masa kini sudah terbiasa melakukan itu sekalipun masih di bawah umur.”

Myung Soo mengangguk-angguk membenarkan. Cho Rong hanya menggeleng-geleng maklum. Sedangkan Soo Rin melongo tidak percaya. Dan Hee Chul menyadari reaksi yang menurutnya sangat lucu itu.

“Ayolah, Park Soo Rin. Itu adalah hal yang sudah biasa dan menjadi rahasia umum. Kau tahu sendiri, bukan? Dating, kissing, and then making out adalah kegiatan yang lumrah terjadi di dalam hubungan percintaan para anak muda. Kau juga pasti melakukannya dengan priamu itu, bukan? Aigoo…” Hee Chul menggeleng-gelengkan kepala.

Soo Rin semakin memperjelas kerutan kening di balik poninya. “Aku tidak pernah melakukannya sampai sejauh itu dengan Kim Ki Bum.”

Hening segera menyelimuti mereka kembali. Sebelum akhirnya…

“YANG BENAR SAJA?!”

Hampir seisi cafeteria itu menolehkan kepala menuju meja mereka, setelah mendengar Hee Chul, Myung Soo, bahkan Cho Rong berteriak nyaring seolah menyembur gadis bermarga Park itu.

“Kau pasti bercanda. Mana mungkin di status kalian yang sudah bertunangan ini priamu tidak pernah menyentuhmu,” cecar Myung Soo dengan nada bicaranya yang mulai berubah, merasa sangsi dengan klarifikasi Soo Rin yang lebih pantas seperti anak sekolah dasar mengaku telah menyontek.

“Aku tidak bercanda!” Soo Rin mempertahankan kejujurannya.

“Ayolah, Soo Rin-ah, kau tidak perlu merasa malu. Bukankah orang yang sudah bertunangan justru lebih banyak dan sering melakukannya? Mereka bahkan sudah memutuskan untuk tinggal bersama dan menciptakan keluarga kecil terlebih dahulu sebelum menikah,” lanjut Cho Rong dengan mata memicing.

Soo Rin menggeleng keras. “Kalian ini bicara apa? Aku dan Kim Ki Bum masih tinggal bersama orang tua masing-masing. Bukankah sudah semestinya kami baru bisa tinggal jika sudah menikah? Bukan bertunangan!”

“Oh, astaga, sepertinya anak ini berasal dari Dinasti Joseon, bukan dari masa kini,” gumam Hee Chul seketika berhasil membuat lainnya terkikik geli—terkecuali Soo Rin.

Yaa, kenapa kalian terlihat memojokkanku? Apa jawabanku salah?” sungut Soo Rin mulai merasa diserang.

“Tidak salah juga. Hanya saja mendengar jawabanmu di kala banyak pasangan yang sudah pernah merasakan apa itu seks membuatku tidak percaya denganmu.” Hee Chul mengutarakannya secara frontal pada akhirnya, tetapi didukung oleh anggukan kepala Myung Soo dan Cho Rong.

“Memangnya… memangnya kalian sendiri sudah pernah melakukannya, huh?” cerca Soo Rin mulai salah tingkah. Ugh, ini topik yang begitu sensitif tetapi mereka justru menjatuhkan dirinya sebagai objek khusus topik yang masih terasa tabu baginya.

Mereka bertiga tampak saling pandang sambil mengulas senyum penuh arti.

“Tanyakan saja pada Myung Soo,” jawab Cho Rong sekenanya.

“Aku?” Myung Soo menunjuk dirinya sendiri. Ia tertawa keras setelahnya.

“Tidak perlu disembunyikan. Semua orang sudah tahu bahwa kau paling pandai memperdayakan wanita,” ejek Cho Rong telak membuat tidak hanya Myung Soo melainkan Hee Chul juga tertawa.

“Astaga, jangan katakan bahwa Kim Myung Soo juga sangat pandai di atas ranjang!” kelakar Hee Chul dengan tawa kerasnya.

Aih, mwoyaa! Aku tidak sepintar itu—yah, hanya sekadar fore play, tidak lebih.”

Kemudian mereka kompak membuka mulut lebar-lebar karena saking kencangnya tertawa. Kecuali Soo Rin yang justru memandang aneh mereka—terutama Myung Soo.

“Itulah sisi brengsek seorang Kim Myung Soo,” ujar Cho Rong tanpa belas kasih.

Ya! Enak saja! Aku masih termasuk pria baik-baik karena memilih untuk menyelamatkan mereka! Lagipula mereka sendiri bertingkah seolah ingin menyerahkan diri mereka seluruhnya padaku. Heol, untung saja aku masih tahu diri. Aku rasa Hee Chul Sunbae lebih brengsek dibandingkan aku.” Myung Soo dengan beraninya menunjuk pria di sebelahnya dengan dagu, juga dengan kata kasar. Serta merta ia mendapat damprat tepat di kepala dari tangan besar Hee Chul.

“Sialan kau!” Hee Chul mulai mengeluarkan sisi aslinya.

“Ayolah, Sunbae-nim, mengaku saja!”

“Tapi setidaknya aku tahu tempat, tidak seperti orang-orang bodoh itu.”

“Lihat? Dia sudah mengakuinya secara tidak langsung.”

Cho Rong tertawa mendengar ocehan dua pria di hadapannya. “Astaga, sudah berapa banyak gadis yang berhasil Sunbae tarik?”

“Aku tidak ingat. Aku ‘kan memiliki banyak teman wanita,” jawab Hee Chul dengan entengnya.

“Dasar gila!!” semprot Myung Soo dan Cho Rong bersamaan.

Ya, ya, ya! Memangnya kau sendiri tidak pernah melakukannya, hah?” tuding Hee Chul pada Cho Rong.

Well, setidaknya aku masih menjaga harta berhargaku meski sudah pernah.”

What?!” seru dua pria itu terperangah.

“Tidak mungkin!”

“Aku serius!”

“Kau pasti sedang bercanda, Park Cho Rong! Gadis sepertimu tidak mungkin lepas dari pria yang sudah berubah ganas berkat ulahmu!”

“Aku punya cara tersendiri untuk mencegah priaku melakukannya, asal kalian tahu itu.”

Soo Rin hanya melongo bingung melihat ketiga temannya seperti sudah melupakannya yang masih duduk mematung di tempat. Telinganya serasa berdengung mendengar bagaimana mereka berubah menjadi orang dewasa akibat topik tak diharapkan ini. Tiga tahun lamanya berteman dengan mereka, membuat Soo Rin terkaget-kaget melihat bagaimana mereka membongkar aib mereka sendiri di hadapannya.

Apakah itu hal yang sangat lumrah terjadi?

Gosh, dia tinggal di negara yang bebas, bukan? Banyak pasangan di luar sana yang masih hanya sebatas berpacaran sudah berani mendatangi rumah sang kekasih bahkan masuk ke dalam kamarnya, jangankan masuk, mereka sudah berani berbagi tempat tidur. Apalagi jika kekasih mereka tinggal di sebuah apartemen dan hanya sendiri, mereka bebas untuk keluar-masuk dan melakukan hal-hal berbau dewasa di dalam sana. Itu hal yang wajar! Bahkan mengandung sebelum menikah pun sudah banyak terjadi tetapi mereka tetap mendapat restu dari banyak pihak.

Tapi kenapa rasanya masih terdengar aneh di telinga Soo Rin untuk hal-hal seperti itu? Kenapa Soo Rin merasa topik pembicaraan mereka ini sudah terlalu aneh dan kelewatan?

Yah, meski sebenarnya Soo Rin tidaklah naïf karena dia memang tahu bahwa hal tersebut bukanlah hal tabu atau bahkan dilarang keras oleh negara. Hanya saja, mengingat dirinya hidup di lingkungan di mana keluarganya menciptakan keluarga baru dengan cara yang menurutnya lebih sehat telah membuatnya sebagai pedoman untuk kehidupannya nanti. Dan mendengar bagaimana ketiga temannya bahkan sudah pernah melakukan hal itu dengan kekasih masing-masing bahkan berbeda pasangan, kenapa rasanya sulit diterima oleh Soo Rin?

“Sepertinya ada yang belum mencapai level setara dengan kita,” gumam Myung Soo dengan senyum miringnya. Menyadari akan tatapan aneh yang ditunjukkan gadis itu kepada dirinya juga mereka.

“Astaga, jadi kau benar-benar belum pernah melakukannya?” Hee Chul akhirnya percaya dengan Soo Rin, meski ia harus terkaget-kaget terlebih dahulu dan itu terlihat berlebihan di mata Soo Rin.

“Aku rasa pria bernama Kim Ki Bum itu benar-benar mampu menahan diri.” Cho Rong berspekulasi dengan raut mulai tampak serius. Ia menopang dagunya kala menatap teman sebayanya itu.

“Aku justru merasa aneh dengan kalian,” gumam Soo Rin mulai merasa tidak enak. Dia merasa bahwa topik pembicaraan ini tidaklah cocok untuknya. Itulah mengapa ia memilih untuk menunduk dan menyeruput minuman yang belum sempat ia sentuh sejak duduk di sini.

Heol, yang benar justru aku merasa aneh denganmu, Park Soo Rin. Bagaimana bisa dengan status kalian yang sudah sejauh ini priamu belum pernah menyentuhmu barang sedikit pun?” balas Hee Chul cepat.

“Kim Ki Bum sudah pernah menyentuhku!” Soo Rin membalas tidak kalah cepat. “Dia selalu menciumku. Apa itu namanya bukan sentuhan?” lanjutnya mulai kesal.

Hee Chul memutar bola mata mendengar jawaban yang terkesan begitu polos di telinganya. Begitu juga dengan Myung Soo dan Cho Rong—mereka bahkan terkekeh-kekeh mendengarnya.

Aigo… sentuhan yang dimaksud dalam konteks pembicaraan kita saat ini adalah—” Hee Chul mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kepala, mengacungkan jari telunjuk dan tengah serta menggerakkannya dengan menekuknya beberapa kali. Ia menggelengkan kepala, “Aku mulai meragukan hubunganmu dengan priamu itu, Park Soo Rin.”

Soo Rin terhenyak di tempatnya. “M-maksud Sunbae?”

“Kalian hanya melakukan sebatas ciuman dan bergandengan tangan sebagai bentuk pelampiasan. Hubungan kalian bahkan terlihat seperti anak sekolahan yang baru saja mengenal apa itu berpacaran. Apakah itu tidak membosankan untuk kalian sendiri?”

M-mwo?”

Myung Soo dan Cho Rong mulai berdeham pelan.

“Lalu bagaimana dengan kau sendiri? Hei, Park Soo Rin, aku cukup tahu seperti apa dirimu ini. Kau adalah gadis yang lebih suka bersikap pasif dibandingkan priamu yang lebih aktif menghampirimu. Kau terlalu malu-malu dalam bertindak dan lebih sering merasa ragu jika itu bertujuan untuk priamu. Padahal mungkin saja priamu sebenarnya menginginkanmu dan berharap kau memberinya sebuah kejutan dengan memulai sesuatu lebih dulu. Tapi kau lebih memilih untuk menunggu dibandingkan ditunggu.” Hee Chul menatap penuh intimidasi gadis di hadapannya itu. “Koreksi aku jika aku salah.”

Tapi Soo Rin memilih untuk menutup mulut. Mata jernihnya tampak memandang kosong minuman di depannya.

“Aku tahu sifatmu. Kau adalah gadis pendiam layaknya gadis yang tidak berpengalaman dengan apa itu namanya berhubungan. Tapi dengan statusmu yang sudah menginjak tinggal satu tingkat lagi untuk menuju jenjang yang lebih serius, kau benar-benar nol besar dalam urusan tersebut. Itu karena kau seperti tidak ingin mempelajari apa yang sudah semestinya kau lakukan. Dan itu karena kau masih merasa nyaman dengan dirimu sendiri. Aku memperhatikanmu sejak priamu kembali padamu di tahun ini. Koreksi aku jika aku salah, Park Soo Rin.”

Cho Rong yang mulai menyadari adanya perubahan ekspresi pada gadis itu, mulai menengahi, “Well, maksud dari Hee Chul Sunbae adalah kau setidaknya sedikit keluar dari zona amanmu untuk mengenal priamu lebih jauh lagi.”

Myung Soo ikut membantu, “Benar. Dan lebih terbuka lagi terhadap priamu,” kemudian ia berdecak jengah, “Eii, bukankah kita sedang membicarakan kasus pasangan mesum di fakultas kita? Kenapa topik pembicaraan kita jadi melenceng jauh seperti ini?” ia menyikut lengan pria di sebelahnya itu.

Tapi Hee Chul seperti tidak mengindahkan isyarat nonverbal dari keduanya dan justru melanjutkan, “Pantas saja kalian tidak pernah melakukannya. Di era seperti sekarang, having sex sudah lumrah terjadi karena itu sebagai bukti konkrit bahwa kalian saling mencintai. Dengan menyerahkan seluruh dari dirimu dan mempercayakannya pada pasanganmu, itu sudah seperti janji suci di depan altar. Jika kalian belum melakukannya, itu justru patut dipertanyakan.” Hee Chul menyandarkan tubuhnya, tampak acuh tak acuh. “Mungkin saja kau tampak membosankan maka dari itu dia tidak mau menyentuhmu.”

Sunbae!!” Myung Soo dan Cho Rong kompak menghardik Hee Chul. Ya ampun, seharusnya sejak awal mereka menyumpal mulut tak berbelas kasih milik Kim Hee Chul dengan sepatu. Bagaimana bisa pria itu mengatakan kalimat yang teramat pedas seperti itu? Apalagi ditujukan untuk gadis yang sudah tercenung di tempatnya sedari tadi.

Soo Rin hanya menghela napas berat. Otaknya mulai berkecamuk memikirkan hal-hal yang tidak pernah hinggap selama ini. Dan itu membuat tangannya yang sedari tadi memegang minuman miliknya mulai gemetar. Hingga untuk sekadar menariknya pun gagal karena justru menjatuhkannya sekaligus menumpahkannya, mengejutkan ketiganya dan langsung tampak khawatir akan tingkah lakunya yang berubah seketika.

“Astaga, Soo Rin-ah, rokmu basah!” Cho Rong langsung menarik beberapa lembar tissue dari dalam tasnya lalu menyeka rok putih temannya itu dengan hati-hati. Oh, bayangkan saja, rok berwarna putih jika terkena minuman bernama cappuccino itu akan seperti apa bekasnya.

Soo Rin segera bangkit dari duduknya. Sejak tindakan bodohnya itu ia sudah menjadi perhatian dari banyak mata di sini. Hanya saja ia memilih untuk tidak mempedulikannya dan menundukkan kepala.

“Aku akan membersihkannya di toilet,” lirihnya yang masih bisa didengar oleh ketiga temannya. Tanpa menunggu balasan, Soo Rin segera melesat pergi dari sana. Tidak menghiraukan panggilan Cho Rong berkali-kali.

“Ini semua karenamu, Sunbae!” Myung Soo mulai menuding pria di sebelahnya itu. Wajah tegasnya merengut tidak suka.

“Tidak seharusnya Sunbae berkata seperti itu pada Soo Rin! Bukankah Sunbae tahu bahwa Soo Rin tidak bisa dinasihati dengan kata-kata kasar seperti itu?” Cho Rong menimpali.

Mwoyaa, dia gadis yang kebal! Tiga tahun menjadi temannya aku tidak pernah melihat dia tersinggung dengan komentarku.” Hee Chul membela diri.

“Kau selalu menjadi orang yang berlaga tahu segalanya, padahal kau sendiri tidak tahu diri di mana dan dengan siapa kau sedang berhadapan, Sunbae-nim!” sindir Myung Soo yang langsung saja mendapat pelototan dari Hee Chul. Myung Soo segera melanjutkan, “Seharusnya kau bisa membaca situasi kapan kau bisa menggunakan mulut tak sopanmu itu pada Park Soo Rin!”

Aisshi—” Hee Chul memilih untuk tidak melanjutkan. Karena ia memang menyadarinya. Dan seharusnya dia menyadarinya sejak awal. Kini, dia hanya mampu menyesal mengingat gadis yang sudah dikritiknya itu sudah menghilang dari jarak pandang.

****

Desisan halus keluar dari mulut kecilnya kala melihat dengan seksama bagaimana rok putihnya sudah membentuk noda berwarna cokelat. Soo Rin menggigit bibir bawahnya selama membersihkan noda tersebut dengan memercikkan sedikit air dari keran. Kemudian mendesah berat karena merasa percuma. Noda di roknya tidak akan sepenuhnya hilang.

Pada akhirnya Soo Rin membasuh kedua tangan, menatap ke depan di mana dirinya terpantul dalam cermin besar di hadapan. Sebelah tangannya bergerak memutar penutup keran hingga air berhenti keluar dari sana, kemudian beralih bertumpu pada sisi washtafel serta menundukkan kepala—merenung di tempat.

Kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Kim Hee Chul menghantui pikirannya. Menimbulkan berbagai macam dugaan yang belum pernah terpikirkan olehnya selama ini. Dan bayang-bayang Kim Ki Bum ikut berputar-putar di pikirannya.

Apa benar bahwa pria itu menganggap dirinya seperti yang dikatakan oleh Kim Hee Chul? Apa benar bahwa mungkin saja pria itu juga menginginkannya sebagaimana dengan yang dikatakan oleh seniornya itu? Apa benar bahwa melakukan itu menandakan bahwa dirinya sudah mengikrar janji bersama prianya?

Tapi apakah itu diharuskan? Apakah jika belum melakukannya menandakan bahwa hubungan mereka tidak serius? Lalu, apakah Kim Ki Bum juga memiliki prinsip yang sama seperti teman-temannya?

Jika memang begitu, apa itu berarti bahwa—mungkin saja Kim Ki Bum bosan padanya?

Tidak, tidak, tidak!

Soo Rin menggelengkan kepala beberap kali. Menepis pengandaian yang mulai menjatuhkan rasa percaya dirinya. Ia bahkan menepuk kedua pipinya demi melupakan itu semua tetapi justru benaknya semakin tidak merasa nyaman. Merasa tidak akan mendapatkan jawaban di tempatnya, Soo Rin memilih untuk keluar dari toilet setelah menarik beberapa lembar tissue demi mengeringkan kedua tangannya.

Kim Ki Bum tidak akan berpikiran seperti yang dikatakan oleh Kim Hee Chul. Ya, itu tidak mungkin.

Tidak mungkin…

Langkah Soo Rin melambat begitu keluar dari sana. Ia meneguk saliva kepayahan dan merasakan tenggorokannya mendadak kering. Menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan berat.

Kenapa Soo Rin menjadi gundah seperti ini?

Drrrtt…

Merasakan sesuatu bergetar di dalam tasnya, sontak Soo Rin merogohnya dan meraih ponsel pintarnya yang ternyata tengah bergetar menandakan adanya panggilan masuk. Raut wajahnya yang sempat keruh seketika berubah dan melupakan apa yang terjadi baru saja begitu melihat layar sentuhnya menerterakan nama pria itu tengah melakukan panggilan padanya.

Yeoboseyo…” tapi Soo Rin harus termenung kembali begitu satu kalimat pedas seniornya kembali membayanginya.

Kau adalah gadis yang lebih suka bersikap pasif dibandingkan priamu yang lebih aktif menghampirimu.

Benar juga… selama ini Soo Rin memang lebih memilih menjadi pihak yang tidak banyak bertindak dibandingkan Kim Ki Bum yang acapkali memperlakukan dirinya dalam banyak cara. Bahkan, bisa dikatakan bahwa Soo Rin lebih sering dihubungi dibandingkan menghubungi Kim Ki Bum terlebih dahulu. Dalam hal sekecil ini pun sudah terlihat bahwa Soo Rin seolah tidak memiliki minat untuk menunjukkan perhatiannya pada pria itu. Padahal, selama ini pria itu sering sekali memberikan perhatian lebih kepadanya.

Bukankah itu berarti bahwa Soo Rin terlihat membosankan?

“Soo Rin-ah, kau mendengarku?”

Ia tersentak di tempat, mata jernihnya mengerjap beberapa kali menyadari dirinya kembali tenggelam dalam pikiran-pikiran anehnya. “E-eo?” dan ia mulai dilanda kegugupan begitu mendengar decakan kecil di seberang telepon.

“Melamun, hm?

“T-tidak! Hanya… aku tiba-tiba teringat sesuatu.”

“Ada apa?”

Soo Rin menggigit bibir bawahnya. “S-sepertinya akan diadakan kuis dadakan di mata kuliah Dosen Seo nanti…” akhirnya ia berbohong juga. Menjadikan Dosen Seo yang terkenal dengan kuis dadakannya di tiap pertemuan itu sebagai jawaban.

“Aah, Dosen yang pernah kau ceritakan itu. Kenapa? Kau gugup?”

Um…

“Aku yakin kau bisa melakukannya.”

Bibir kecilnya menyungging senyum meski samar. Dia menyukai bagaimana pria itu menenangkannya dengan kalimat sederhana juga dengan nada bicara yang begitu tenang. Sekaligus membuatnya lupa akan kapan dirinya pernah berbuat hal serupa untuk prianya sendiri.

Tanpa sadar sebelah tangannya yang bebas meremas sisi rok putihnya.

“Kim Ki Bum…”

Hm?

“Kau… sedang apa?” Soo Rin harus menyesal karena mengajukan pertanyaan yang begitu bodoh baginya. Bukankah dia sendiri sudah tahu bahwa pria itu sedang berada di rumah sakit dan menjalani kerja magangnya?

“Aku sedang mendapatkan waktu luang. Itulah mengapa aku bisa menghubungimu.”

“A-aah, begitu…” dan Soo Rin mulai kebingungan. Apa lagi yang harus dia pertanyakan pada pria itu.

“Jadi, kau sudah berada di kampus?”

Eung…

“Sudah mengisi perutmu?”

Park Soo Rin bodoh! Kau bisa menanyakan pertanyaan sederhana seperti yang dilontarkan Kim Ki Bum, bukan? Bodoh sekali! Kenapa otakmu tidak berfungsi sama sekali?

“A-aku… ya, aku sudah makan.”

“Kau terdengar gugup. Apa kau baik-baik saja?”

Soo Rin tidak mengerti kenapa dia merasakan hal yang begitu aneh saat ini. Pikirannya benar-benar berkecamuk dan ia hampir kehilangan arah untuk sekadar menjawab pertanyaan Kim Ki Bum. Ia bahkan seperti lupa bagaimana caranya menghirup udara dengan benar sampai-sampai hampir tidak merasakan kedua kakinya tengah menapak lantai.

Soo Rin bingung. Dan Soo Rin merasa kacau dalam waktu sekejap karena merasa dilawan oleh bayang-bayang omongan seniornya yang benar-benar menohok dirinya.

“K-Kim Ki Bum…”

“Ada apa?”

Balasan halus yang biasanya selalu menenangkannya, kini justru membuat Soo Rin semakin kalut hingga akhirnya ia mengutarakan kata yang mungkin akan dianggap konyol.

Bogoshipda…

Ada keheningan menerpa Soo Rin untuk beberapa saat. Karena ia tidak mendengar balasan apapun di seberang teleponnya hingga akhirnya mendengar dengusan halus di sana.

“Na—deo bogoshipda.” (Aku lebih merindukanmu.)

Jantung Soo Rin berdegup kencang mendengar balasan dari Kim Ki Bum. Hanya saja ia tidak merasakan desiran yang begitu berarti melanda sekujur tubuhnya karena justru ia semakin dibuat gundah oleh berbagai pengandaian yang sebenarnya belum pasti.

Dan Soo Rin tidak menyangka bahwa ucapan Kim Hee Chul di cafeteria tadi—berawal dari topik yang belum pernah hinggap menimpanya sebelumnya—membuatnya menjadi sensitif dan emosional saat ini. Karena ia merasakan kedua pelupuk matanya memanas hingga mengaburkan pandangannya.

Apa yang harus dia lakukan sekarang?

.

.

To Be Continued


Alohaa~ kisukisu kembali dengan sebuah cerita (absurd) terbaru~~ Sebagai pembukaan segini dulu ya ceritanya. Dan jika terkabul kemungkinan ini bakalan menjadi series yang menceritakan kisah mereka sebelum merit wks XD

Sedikit curhat kalo ide ini muncul berkat habis baca ff punya Ka Sangheera, makanya topik di atas aku angkat dan tentunya menyesuaikan apa yang memang sudah menjadi hal yang—hm… wajar lah di sana. Tapi, ambil hikmahnya aja yaa alias jangan ditiru heheheh Trus, mengenai judul untuk cerita ini, aku ambil dari salah satu judul lagu punya mba Taeyeon di mini album solonya—U R. Setelah bikin satu part ini dan bingung mau ngasih judul apa, eh, malah dapatnya itu. Soalnya, pas denger lagunya trus menyerapi lirik lagunya, cocoklah buat ceritanya ke depan nanti hihihihi #oops x3

Dan, untuk ke depannya nanti semoga saja ngga ada acara protek-memproteksi lah ya… aku juga capek sebenernya hiks…

Yaudah, segitu aja. Mau dilanjut atau ngga, lihat mood-ku aja deh ya heheheh XD

Terima kasih sudah mau mampir~ ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

32 thoughts on “U R [1] – Her Doubt

  1. Kangeng sama couple ini, dan akhirnya yang ditungvu full versinya nongol juga hehehe….
    Bang Heechul kalo udah ngomong gak bisa di rem ditambah lg kata2nya yg pedes membuat Soo rin tambah galau aja…
    Ki bum oppa love you, ditunggu next partnya ❤

  2. Hhhh hwaaaa soorin tu masih sangat polos dan kibumie sdh mnjaga’a dengan sangat baik (?) meski terkadang diri’a hampir hilang kendali :-D.. Heechul bener” perlu disumpel make sepatu kuda tu mulut’a kalo kibum ada disitu habis tu orang :-D…
    Bikin moment kibum mmbalas omongan heechul
    lah kkkkk

    gmn rasa’a yh denger kibum ngomong “Na—deo bogoshipda.” Aku lebih
    merindukanmu bnr kyk soirin jantung’e kyk’a serasa mo copot hhhh

  3. tadi aku kira langsung END *gak fokus*
    ternyata series 😀
    itu heechul mulutnya tajam banget yaa… gak cuma soorin, aku yg baca aja rasanya juga bakal kepikiran terus tuh 😀
    part nya kibum masih sedikit ya disini? dari awal aku nungguin kibum nya mana gak nongol2 haha 😀
    ditunggu kelanjutannya author-nim ^_^
    fighting!! ‘v’/

  4. Akhirnya ff kisoo keluar jga,, aq dah kngen bnget ma kisoo,,,aq tnggu kelanjutannya eonni,,,semangaaaaat

  5. uish uish Kim Heechul mulutnya minta dilakban nih!! *mendadak kesal
    memang aneh kalau Soorin belum melakukannya? menunjukkan rasa cinta gak harus lewat sentuhan fisik kan?

    tapi memang sih Soorin harusnya agak aktif, jangan Kibum terus yg menghubunginya. tapi tenang Soorin, aku yakin Kibum bukan pria seperti itu jadi Semangat!!!

  6. Thu bibir heechul pingin ku jahit aja. Bisa2nya dia ngomong kaya gitu sama soo rin apa dia gak tau kalo soo rin itu bener2 gadis polos sepolos2nya. Ki bum aja gak protes soo rin kaya gitu.

  7. ni bkalan jd ksah awal mreka married???
    can’t wait XD

    heechul mlut ny g bsa direm sich,jd galau kan soorin 🙂
    apa soorin bnran bkal jd lbh aktif???
    pnasaran ma reaksi kibum???
    nntikan di part slnjt ny.ha3x 😀
    #mulaieror
    keep writing ya author
    fighting 😉

  8. Yeayy akhirnya publish juga ^^ duuh soorin emang kelewat volos;v bang heenim mulutnya pedes banget bang >< kibum pasti bingung deh liat perubahan sikap soorin #hihi jadi gak sabar liat lanjutannya ^^

  9. Aseeek cerita baru lagi dari kisoo couple,, ditunggu deh kelanjutannya soalny baru part satu jadi belum ngerti jalan ceritanya,,
    Ooo ya ampun mulut kim heechul bener-bener minta disumpel gelas,,

  10. huaaahhh, akhirnya ada serial baru dari kisu-kisu
    kerenn ceritanya, kasian soo rin gara-gara heecul dia jadi kepikiran gituuu

    penasaran sama kelanjutannya, semangat lanjutinnya kak. ditunggu lohhhh

  11. Wahhhh asikkk new series kisoo couple waaaas… yaa ginu nih cewe polos dapet cercaan dari cowo mulut pedes tuhh ginu nih efeknya haha. And buat kibum, elo cowo yang gua impiin waaaa.. pengen punya pacar kaya gituh

  12. Mulut bang henim bnr tuh harus d sumpal,,,biar gk ngemeng yg engga”…:)

    lanjut dong..!

    Mudah”n moodnya selalu dalam ke adaan bae bae..

  13. Bner tuh mulut bang henim harus di sumpal, biar engga ngomong yang engga”..:)

    di lanjut dong..!

    Di tunggu..!

    Mudah”n moodnya selalu dalam keadaan bae” saja.. Semangat :)?

  14. Weiiii ada genre out of box nya kisoo!! Dan ada myungsoo!! Thor and gak nyangka bakalan ada percakapan begitu disini wkwkwk penampilan baru cerita kisoo kisoo.. Hopefully kedepannya bisa ada cerita baru kisoo dengan penampilan yang baru juga.. Semangat qaqa shizuka-ssi

  15. Keren nih critanya kliatannya😆😆
    Akirnya ad series lanjutan kehidupan kisu2 jug . Ud nunggu nih. Wkwkw
    jangan d protect dong eonn. Ribet😂😂
    hehe

  16. Huuaaaa aku baru baca masaaaa 😂
    Heechul nihh minta di suapin aspal kayanya:v

    Soo Rin sampe segitu nya laahh denger kata” Hee Chul ..

  17. topik awal pembuka cerita nya tentang begituan yaampun aku jadi ketawa sendiri bayangin soorin yang kelewat polos di nasehatin pake/? mulut heechul yang pedes banget !! -_-
    duh soorin nya bener2 pasif banget ya? ga susah kok dapetin feel nya karna aku emang kaya soorin -pasif- malah curhat wkwk
    masih inget aku kak? *siapa lu?-_-* well ini kunjungan aku yang kedua ke blog kakak hehe

  18. hihihii lihat ff part 3 ini muncul di TO efbi, ijin baca yaaak siskachii >w.<
    park soorin, kudu kuat, jangan terbawa arus jaman 😣
    hanya ikan yang mati yang terbawa arus 🙂 /nah ngelanturrr

  19. hihihii lihat ff part 3 ini muncul di TO efbi, ijin baca yaaak siskachii >w<
    btw aku suka nih sama sentilan2(?) kecil yang sebenernya nge gambar in tentang anak muda jaman sekarang, masih ingusan juga udah berani make out 😒
    park soorin, kudu kuat, jangan terbawa arus jaman 😣
    hanya ikan yang mati yang terbawa arus 🙂 /nah ngelanturrr

  20. hihihii lihat ff part 3 ini muncul di TL efbi, ijin baca yaaak siskachii >w<
    btw aku suka nih sama sentilan2(?) kecil yang sebenernya nge gambar in tentang anak muda jaman sekarang, masih ingusan juga udah berani make out 😒
    park soorin, kudu kuat, jangan terbawa arus jaman 😣
    hanya ikan yang mati yang terbawa arus 🙂 /nah ngelanturrr

  21. Ini soo rin pikirannya lagi di keruhkan oleh teman teman mesumnya nih.
    Aku langsung nyotoy nyotoyin heechul pas dia bilang making out itu bukti cinta hahahahha
    ini pasti ki bum kelimpungan dah karena pikirannya soorin udah rada rada keruh hahahha

  22. akhirnya bisa baca kisu-kisu lagi hehe tapi kok agak aneh ya kalo soorin jadi karakter yg pasif disini, yaa bagus juga sih jadi ada suasana baru dari mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s