Posted in Category Fiction, Fluff, One Shot, PG-17, Romance

Being Dictator

beingDictator

Genre :: Fluff-Romance

Rated :: PG-17

Length :: One shot

||KiSoo’Story||

Well, hello readers! Happy reading ^-^

ㅡㅡ

“Jangan memulai lebih dulu, Kim Ki Bum! Aku diktator di sini!!”

ㅡㅡ

“SEHARI saja!”

Ki Bum menatap datar gadis di hadapannya. Kedua alisnya terangkat menandakan bahwa sebenarnya dia bingung. Bingung akan permintaan aneh dari Soo Rin.

Sedangkan Soo Rin menatap terlampau lekat pria di depannya. Mata jernihnya berbicara, antara memohon juga memaksa. Mulutnya tampak merengut ikut andil memainkan raut wajahnya. Hingga kemudian ia melihat pria itu mendesah pelan.

“Kenapa tiba-tiba kau ingin itu?” Ki Bum melipat kedua tangannya, bersedekap di depan dada. Matanya membalas tatapan Soo Rin, mencoba melawan dengan sorot tajam andalannya.

Yang secara diam-diam berhasil menciutkan nyali Soo Rin. Cepat-cepat ia menuaikan protes, “Lihat, kau selalu seperti itu jika aku mencoba untuk melawanmu. Berhenti menatapku seperti itu!”

Tapi Ki Bum tidak bergeming. “Beri aku alasannya terlebih dahulu.”

“Aku hanya—” Soo Rin melakukan jeda, menelan saliva lamat-lamat. “Aku hanya ingin kau menuruti segala perkataanku! Ini ‘kan hari ulang tahunku. Bukankah aku bebas meminta apapun?”

Ya, Soo Rin ada benarnya. Hari ini merupakan hari ulang tahunnya. Dia cukup bersyukur bahwa pria itu mengingatkannya dengan mengucapkan selamat ulang tahun tepat saat ia terbangun di pagi hari ini. Pria itu juga mengatakan akan mengabulkan apa saja yang dia mau, bahkan berencana untuk untuk mengajaknya pergi ke mana pun mengingat jadwal prakteknya hari ini kosong. Jadi tidak salah, bukan, jika dia meminta hal tersebut pada Kim Ki Bum?

Tapi kenapa Kim Ki Bum justru tidak setuju bahwa Soo Rin ingin seperti dirinya?

Menjadi diktator seperti Kim Ki Bum.

“Aku akan mengabulkannya jika permintaanmu tidak aneh seperti menjadi diktator itu. Tanpa itu pun aku akan menuruti perkataanmu hari ini.”

Soo Rin terpaksa membenarkannya di dalam hati. Hanya saja dia ingin sekali melakukannya. Menjadi seperti Kim Ki Bum, di mana dia memiliki kuasa penuh tanpa khawatir untuk dibantah seperti yang selama ini pria itu lakukan padanya. Sehari saja. Hanya sehari!

Menghentakkan kaki, Soo Rin berbalik badan, berniat untuk masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Dia sudah tidak berselera untuk bersenang-senang di hari ulang tahunnya. Wajah cantiknya merengut terlampau masam. Katakan saja bahwa Soo rin tengah merajuk saat ini.

Melihat itu pun Ki Bum menghela napas kasar. Ia memejamkan mata sejenak sebelum kembali menatap punggung yang menjauh dan akan menghilang di balik pintu kamar mereka sebentar lagi.

“Baiklah, kau bisa melakukannya.”

Dan ucapan halus Ki Bum berhasil menghentikannya. Soo Rin segera berbalik menatap pria itu penuh arti, kemudian membawa dirinya kembali ke hadapan pria itu dengan cepatnya. Sampai-sampai Ki Bum harus dibuat tertegun kala gadis itu menodongkan jari telunjuknya tepat di depan hidungnya, memancingnya untuk mengerjap beberapa kali.

“Kalau begitu, mulai saat ini juga, kau tidak boleh mengeluarkan protes dalam bentuk apapun!” Soo Rin memicing penuh arti. Mulai percaya diri kala melihat pria itu mulai menurunkan intensitas ketajaman matanya.

Karena pada nyatanya, Ki Bum tengah berusaha untuk mengalah pada gadisnya ini. Setidaknya dengan begini dia bisa membuat gadisnya merasa senang, bukan?

Yah, semoga saja.

****

Soo Rin mendengar pintu kamar mandi itu terbuka menampakkan pria yang sedari tadi ditunggunya. Wajah cantiknya berangsur cerah dengan senyum sumringah melihat bagaimana penampilan pria itu saat ini. Sesuai dengan harapannya.

Sedangkan Ki Bum harus menekuk wajah. Sebelah lengannya sudah terselampir sebuah blazer berwarna biru dongker, tubuh tegapnya dibalut kemeja putih dengan dua kancing teratas dibiarkan terbuka, serta celana berbahan dengan waran senada dengan warna blazer. Oh, tentunya dia terlihat luar biasa tampan dengan balutan kemeja yang tampak sangat pas di tubuh kekarnya. Hanya saja dia merasa kusut karena ini merupakan seragam sekolahnya!

Soo Rin seolah tidak peduli dengan ekspresi Ki Bum. Ia justru segera mendekati pria itu, memeriksa lebih dekat, senyumnya semakin mengembang kala tangan-tangannya mulai bergerak melipat bagian lengan kemeja pria itu hingga batas siku.

“Kenapa aku harus memakai ini?” Ki Bum mengeluarkan gerutuannya. Melupakan bahwa saat ini dirinya tengah berada dalam kuasa gadisnya sendiri.

“Dilarang melakukan aksi demonstrasi, Kim Ki Bum!” Soo Rin melotot. Tidak menakutkan melainkan menggemaskan di mata Ki Bum.

Karena Ki Bum tiba-tiba ingin sekali melakukan sesuatu. Jangan ditanyakan dia ingin melakukan apa. Sebab dia segera teralihkan dengan tangan-tangan halus itu merangkak ke atas. Langsung saja Ki Bum menahannya.

“Ini kemeja lama dan sudah mengecil, Soo Rin-ah,” gumamnya, terdengar keberatan. Dia tahu apa yang akan dilakukan gadisnya ini. Bayangkan saja, seragam sekolahnya yang—entah bagaimana Soo Rin masih menyimpannya beserta seragam miliknya yang juga sudah dikenakannya itu—tentunya sudah sempit mengingat sudah 5 tahun lamanya dia lulus dari Neul Paran, kini kembali dia kenakan.

Yah, memang untuk Soo Rin sendiri dia masih merasa nyaman dengan seragamnya sendiri tapi bagaimana dengan Ki Bum? Hei, Ki Bum masih mengalami siklus perkembangan terhadap fisiknya. Lihat saja bahwa tubuhnya lebih kekar dan berisi dibandingkan dulu. Dan kemeja tersebut sudah membuatnya sedikit sesak.

Tapi Soo Rin seperti tidak menghiraukannya, karena dia justru mengerjap polos seraya menatap lekat wajah prianya, sebelum kemudian menangkupnya. “Benar juga… aku baru menyadari bahwa wajahmu terlihat lebih berisi.”

Dan Ki Bum harus menahan napas kala tangan-tangan itu mencubit kedua pipinya. Bahkan secara tidak sadar memejamkan mata meski barang sejenak. Entah kenapa sentuhan gadisnya itu berhasil membuainya. Sial sekali.

“Tapi bagaimana pun juga kau harus tetap menutupnya. Kau tidak seberantakan ini dulunya,” dengan cepat tangan-tangan Soo Rin berpindah kembali menuju kancing kemeja pria itu, mengaitkan kancing kedua dari atas tersebut ke dalam lubangnya. Tapi, tiba-tiba kinerja tangannya melambat karena… dia baru menyadari apa yang sudah dia lakukan ini.

Padahal Ki bum sudah menyadarinya sejak awal dan hampir menggeram karena gadisnya ini seperti tengah mempermainkannya!

Soo Rin mulai dilanda gugup. Jemarinya bergerak kaku di atas balutan yang dikenakan Ki Bum. Kemudian harus terkejut kala tangan besar itu menyentuh sekaligus menarik pinggangnya, menghapus jarak mereka hingga spontan Soo Rin menyorot kaget tepat di manik hitam pria itu. Menelan saliva begitu menyadari sorot tajam itu berubah.

“Kau juga tidak serapi ini dulunya,” gumam Ki Bum penuh arti. Tangan besar lainnya bergerak ke atas meraih kancing teratas pada kemeja Soo Rin, melepasnya dengan mulus. “Kau hanya menutupnya dengan ikatan dasinya,” lanjutnya hampir berbisik, memamerkan seringai mematikannya.

Gelenyar aneh mulai merambati sekujur tubuh Soo Rin. Wajah cantiknya mulai terasa panas berkat efek radiasi dari senyum miring yang entah bagaimana justru membuat wajah tegas di hadapannya semakin tampan.  Sebisa mungkin Soo Rin untuk tidak terpengaruh hingga diam-diam ia menggigit bibir bawahnya. Dan dengan kesadaran yang tersisa, ia melepas diri dari jeratan mendebarkan itu secepat mungkin, menatap tajam pria itu seraya berkacak pinggang.

“Jangan memulai lebih dulu, Kim Ki Bum! Aku diktator di sini!!”

Well, Ki Bum terpaksa menahan semburan tawanya. Dia bisa saja menjatuhkan perlawanan tapi dia ingat bahwa dirinya memang sedang tidak berkuasa saat ini. “Baiklah. Maafkan aku,” ia mengedikkan bahu, terlihat acuh tak acuh.

Sedangkan Soo Rin berdeham pelan demi meredam kegugupannya. Lalu menatap Ki Bum penuh berani. “K-kalau begitu, ayo kita berangkat!”

Tersenyum penuh arti, Ki Bum mempersilahkan gadisnya itu untuk melangkah lebih dulu. Ugh, bagaimana pun gadisnya itu terlihat menggemaskan di matanya!

****

:: Lotte World – Seoul-shi, Songpa-gu, Olympic-ro 240

lotteworld

Percayalah bahwa banyak yang mengira mereka benar-benar sepasang kekasih berusia anak sekolah menengah atas. Buktinya kala mereka mendatangi kasir untuk membeli tiket, sang penjual tiket mencetuskan harga untuk kelas remaja, bukan kelas dewasa atau umum. Beruntung mereka masih sadar diri dan berbaik hati menunjukkan kartu tanda pengenal. Tidak sampai di situ, penjaga pintu masuk pun mempertanyakan tiket mereka sebelum memberikan gelang tanda masuk. Penjaga itu mengira bahwa mereka salah membeli tiket, dan terlihat sekali bahwa sang penjaga itu ingin menegur si penjual tiket tersebut. Untungnya lagi, mereka masih memiliki kesadaran tinggi dengan kembali menunjukkan kartu identitas mereka.

Soo Rin terkikik geli begitu berhasil memasuki area taman bermain termegah sekaligus terbesar di negaranya ini. Tergelitik dengan apa yang baru saja dilewatinya.

“Aku tidak menyangka bahwa kita masih pantas dikatakan sebagai murid sekolah. Hihihi!”

Ki Bum mendengus geli melihat bagaimana gadis itu tertawa dengan satu tangan memeluk lengannya, menariknya untuk mengikuti ke mana pun gadis itu melangkah. Dia sendiri juga tidak menyangka bahwa wajahnya yang sudah masuk golongan pertengahan usia 20 hingga 30 tahun ini masih bisa menipu banyak mata. Apalagi Soo Rin, sama sekali tidak terlihat bahwa dia bahkan sudah di usia menyelesaikan kuliahnya.

“Kim Ki Bum, ayo kita naik itu!”

Mata Ki Bum bergerak mengikuti jari telunjuk Soo Rin. Kemudian mengerjap cepat. Apa? Soo Rin ingin naik komedi putar? Yang benar saja!

Belum sempat bersuara, Ki Bum sudah lebih dulu ditarik penuh semangat oleh gadisnya itu, berlari-lari mendekati wahana yang sebenarnya lebih pantas dinaiki oleh anak balita, bukan orang dewasa seperti mereka!

Tidak mencolok, memang, tapi tetap saja Ki Bum merasa tidak nyaman begitu berhasil duduk di salah satu kuda-kudaan dan merasakan bagaimana pijakannya bergerak berputar pelan, bahkan kecepatan 20 km/jam pun tidak ia rasakan sama sekali di sini! Berbeda dengan Soo Rin yang justru tertawa bahagia. Apalagi kuda yang ditungganginya bergerak naik-turun. Dia seperti anak kecil yang belum pernah merasakan mainan yang sebenarnya sering terpajang di mainan kanak-kanak yang baru akan bergerak setelah dimasukkan beberapa koin!

Soo Rin menelengkan kepala demi memeriksa pria itu. Tak disangka bahwa ia memang tengah ditatap oleh pria itu, memacu jantungnya untuk berdebar-debar sehingga ia harus segera menyembunyikan cengiran lebar sekaligus tawa penuh senang. Yang secara tidak ia sadari mampu membuat Kim Ki Bum ikut tersenyum pada akhirnya.

.

Mereka melanjutkan aksi uji coba wahana. Kali ini mereka memilih untuk menaiki monorail yang melaju di atas rel dalam ketinggian sekitar 10 meter dari atas permukaan tanah. Di mana kendaraan berupa kereta berteknologi masa kini tersebut melaju mengantarkan para penumpangnya untuk berkeliling Lotte World yang sangat luas, menikmati pemandangan yang begitu menarik dimulai dari bagian outdoor hingga bagian indoor pun dapat dilewati dari atas sini. Soo Rin tidak ada habisnya memandang ke luar jendela, senyumnya tidak pernah lepas menghiasi wajah cantiknya. Sesekali ia menunjuk ke luar memberi tahu Ki Bum yang duduk di sebelahnya bahwa dia ingin pergi ke sana, lalu ke sana, kemudian ke sana, dan kemudian ke sana. Sedangkan Ki Bum hanya mengangguk-angguk sebagai jawabannya, bahwa dia akan mengantar gadisnya ini untuk pergi mencoba wahana apapun.

Turun dari monorail, keduanya melanjutkan destinasi berikutnya. Untuk yang ini, mereka akan menguji adrenalin dengan menaiki salah satu wahana magic; Gyro Drop. Di mana pengunjung akan duduk mengeliling tiang dengan tinggi hampir 40 meter, dan mereka akan dibawa ke dekat puncak sana sebelum kemudian dihempaskan dalam kecepatan lebih dari 90 km/jam! Tak ayal bahwa banyak dari mereka yang berteriak histeris merasakan bagaimana perut mereka seperti ingin lepas dari tubuhnya. Tak terkecuali bagi Soo Rin yang terus memejamkan mata tiap kali ia merasakan tubuhnya dihempas ke bawah setelah dibawa ke atas lagi. Sebelah tangannya yang menggenggam tangan besar Ki Bum semakin mengetat sampai-sampai sang empu tertawa. Bagaiman pun dia juga merasa adrenalinnya terpacu berkat wahana yang dinaikinya ini, tapi jika ada Soo Rin, dia juga merasa geli mendengar bagaimana gadisnya itu histeris di sebelahnya. Hei, kapan lagi dia bisa mendengar gadisnya melepas semua suaranya dalam bentuk lengkingan seriosa seperti sekarang ini?

Belum lagi mereka mencoba saudara dari Gyro Drop—bernama Gyro Swing, dengan tempat duduk berbentuk lingkaran yang sama seperti Gyro Drop, kini Gyro Swing mengajak para pengunjungnya untuk berayun hingga batas ketinggian yang sama seperti Gyro Drop. Untuk yang ini mungkin lebih ekstrim mengingat mereka diajak berayun tidak hanya sekali maupun dua kali, pastinya lebih dari itu dalam durasi hitungan menit. Sama seperti sebelumnya, meski penuh histeris tapi Soo Rin merasa bahagia bisa kembali merasakan wahana favoritnya ini. Karena dia sendiri sudah lupa kapan terakhir kali merasakannya. Sepertinya hanya saat ia berkencan untuk yang pertama kalinya bersama Kim Ki Bum. (Here^^)

Sambil meredakan adrenalin, mereka memilih untuk jeda sejenak dengan menghampiri salah satu kedai makanan. Mengingat sekarang sudah sore, mereka mengisi perut dengan dua porsi tteokbokki juga es krim. Ki Bum harus merengut masam mengingat Soo Rin memesan tepung beras silinder bersaus itu dengan kadar kepedasan yang sangat tidak disukai olehnya. Mengingat begitu tidak sukanya Ki Bum terhadap makanan pedas. Sayangnya dia tidak bisa menolak mengingat Park Soo Rin sedang berulang tahun dan sedang menjadi diktator. Terpaksa dia membiarkan wajah tampannya memerah yang langsung mengundang tawa geli dari gadisnya sendiri. Tapi setidaknya dengan begitu dia mendapat balasan berupa bagaimana manisnya seorang Park Soo Rin kala menyuapi sesendok es krim untuknya, juga mengusap sudut bibirnya yang terdapat bercak saus maupun es krim. Di sisi lain dia cukup bersyukur karena dengan begini dia bisa merasakan sekaligus melihat sendiri bagaimana Soo Rin selalu memulai lebih dulu.

Dan mereka kembali menguji nyali mereka dengan memasuki rumah hantu dengan sentuhan tiga dimensi. Suasana yang menyeramkan dan hampir gelap gulita itu berhasil meningkatkan rasa was-was pada Soo Rin. Dua tangannya terus memeluk sebelah lengan Ki Bum, langkah-langkahnya pun tampak terseret-seret hingga Ki Bum rela menyusutkan langkah lebarnya. Sesekali mereka akan berhenti karena Soo Rin yang terkejut berkat suara-suara mencekam menghantui. Lalu berteriak ketakutan begitu melihat sosok menyeramkan keluar dari layar kaca yang tidak disangka ada di hadapan mereka, dengan tangan menggapai-gapai seolah ingin menerkam, cepat-cepat Ki Bum menarik gadisnya itu untuk berbelok ke koridor berikutnya. Gadis itu semakin merapat pada prianya karena banyak kejahilan yang menyeramkan didapatnya, tiupan seperti hembusan napas yang datang entah dari mana, potongan tangan yang bergerak melintas—bahkan sampai menjahili dengan menyentuh kaki, jelamaan-jelmaan hantu yang merayap-rayap di tembok hingga atap atau bahkan bergelantungan ke sana kemari. Sampai mereka hampir mendekati pintu keluar, lagi-lagi mereka dikejutkan dengan munculnya sosok hantu berdarah-darah. Menyadari itu adalah seseorang yang menjelma dengan riasan menyeramkan, Ki Bum berdecak kesal hingga tanpa ampun menoyor kepala hantu itu sebelum menarik Soo Rin menuju pintu keluar.

Barulah Ki Bum dapat melihat bertapa pucatnya wajah Soo Rin sampai-sampai berkeringat. Matanya bahkan sudah berair dan hendak menangis. Ki Bum sudah mendumal saja di dalam hati, siapa suruh gadisnya ini mengajaknya pergi ke sana? Pada akhirnya dia sendiri yang ketakutan. Ki Bum pun  mengajak Soo Rin untuk beristirahat selagi dirinya mencari minuman.

.

“Kim Ki Bum.”

Hm?”

“Aku ingin menonton.” Soo Rin menunjuk sesuatu tak jauh dari tempatnya terduduk. Menuntun Ki Bum untuk melihat sebuah teater bioskop 3D.

“Kau ingin menonton apa?” Ki Bum menawarkan. Yah, setidaknya dengan begini mereka bisa beristirahat dari wahana-wahana yang menggiurkan.

Minions!” Soo Rin kembali menunjukkan mata berbinar-binarnya. Setelah melihat-lihat papan daftar film yang bisa diputar di dalam sana, Soo Rin memilih film kanak-kanak yang memang belum lama ini rilis, Minions  atau Despicable Me 3.

Ki Bum tersenyum lega melihatnya. Setidaknya Soo Rin sudah membaik dari rasa takutnya. Sebelah tangannya bergerak mengusap puncak kepala Soo Rin sebelum berdiri dari duduknya. “Tunggu di sini,” ucapnya yang langsung dibalas dengan anggukan kepala dari Soo Rin.

Pria itu masuk ke dalam sana, berniat membeli tiket untuk film pilihannya. Ia menunggu dengan meneguk kembali minuman dingin yang dibeli oleh pria itu. Hingga kemudian ia melihat seorang anak kecil melewatinya, berlari kecil dengan raut ketakutan juga kebingungan, bahkan wajah menggemaskan itu sudah dialiri air mata sekaligus sesenggukan. Merasa orang-orang di sekitarnya seperti tidak menyadari, Soo Rin akhirnya beranjak dari duduknya, menghampiri gadis kecil itu.

“Hei, Nona Kecil, kenapa kau sendirian?” Soo Rin menyapa seramah mungkin. Tubuh rampingnya sudah ia bungkukkan demi melihat lebih jelas gadis kecil itu.

Eo-eomma… eomma di mana… hiks…” gadis kecil itu kembali menangis.

Soo Rin menangkap sesuatu. Gadis kecil ini terpisah dari orang tuanya. Apalagi ia semakin gencar menangis karena tidak mendapati orang yang disebut eomma di sejauh matanya memandang. Langsung saja Soo Rin meluruhkan tubuhnya berjongkok di hadapan gadis kecil itu, menghapus air matanya sekaligus berdesis pelan berusaha menenangkan.

“Kalau begitu, bagaimana jika kita cari Eomma bersama-sama, eo? Aku akan menemanimu mencari Eomma,” tawar Soo Rin yang langsung dibalas anggukan oleh anak kecil itu di sela-sela tangisnya. Soo Rin tersenyum, “Siapa namamu?”

“Park Soo Jin-eyo…” jawab gadis kecil itu dengan sesenggukan.

“Waah, namamu hampir sama seperti namaku!” balas Soo Rin sumringah, “Aku Park Soo Rin. Kau bisa memanggilku Soo Rin—Eonni,” lanjutnya sebelum mengusap pipi gadis bernama Soo Jin itu penuh hangat lalu berdiri, memberikan sebelah tangannya untuk gadis kecil itu, “Kaja?”

Soo Jin dengan yakin meraih tangan Soo Rin, menggenggamnya sebelum mengangguk, kemudian mengikuti langkah Soo Rin untuk pergi dari sana. Mulai mencari. Tanda disadari oleh Soo Rin bahwa dia sudah melupakan niatnya untuk menunggu datangnya tiket menonton film incarannya.

Ki Bum keluar dari rumah teater tersebut dengan membawa dua tiket masuk untuk film pilihan Soo Rin yang akan diputar sekitar 15 menit lagi. Dia hendak menghampiri gadisnya yang menunggu di sana sebelum akhirnya menyadari bahwa tempat duduk itu sudah kosong, hanya menyisakan satu botol minuman dingin yang masih dia ingat merupakan pemberiannya untuk gadis itu. Langkah lebarnya dipercepat hingga sampai di bangku tersebut, mata tajamnya mulai berkelana memeriksa ke segala penjuru, namun nihil yang dia dapatkan.

Rasa khawatir mulai mencuat, tanpa sadar tangannya mengepal hingga meremas dua lembar tiket di genggamannya, dan tanpa berpikir lagi, Ki Bum pergi dari sana, mencari keberadaan Soo Rin yang entah bagaimana menghilang.

****

lw6

Eomma… Eomma…” gadis kecil bernama Soo Jin itu terus saja menggumamkan nama Ibu di dalam genggaman Soo Rin. Meski sudah tidak menangis sederas sebelumnya, ia masih tampak sesenggukan karena kalut mendapati ibunya tidak berada dalam jarak pandangnya.

Soo Rin sendiri mulai kebingungan mencari-cari sosok ibu yang dimaksud oleh Soo Jin. Gadis itu sempat mengutarakan bagaimana wujud ibunya, rambut yang digelung, memakai pakaian hangat berwarna merah marun berpadu putih, dan membawa tas tangan berwarna putih. Sayangnya hingga mereka hampir sampai di pintu kedatangan sebuah kastil megah yang terkenal dengan sebutan Cinderella’s Castle pun Soo Rin belum menemukan sosok ibu yang dimaksud oleh Soo Jin.

Waktu sudah petang dan lampu-lampu mulai menyala menghiasi kastil tersebut. Kerlap-kerlip yang indah mendukung kemegahan dari kastil tersebut. Semakin malam justru pengunjung terasa semakin banyak berdatangan. Soo Rin semakin mengeratkan genggamannya pada tangan mungil Soo Jin mengingat mulai padatnya pengunjung di sekeliling mereka.

“Soo Jin-ah… anakku Soo Jin…”

Samar-samar Soo Rin mendengar seruan seseorang, memanggil nama gadis kecil ini. Soo Jin sendiri mulai menengok ke kanan dan kiri, dan semakin gencar menyebut kata Eomma. Soo Rin segera menerobos kerumunan orang-orang yang menghalangi jalan mereka, menelusuri jembatan nan luas menuju kastil megah tersebut.

“Ya Tuhan, di mana anakku? Di mana putriku?”

Soo Rin mulai melihat sosok itu. Seorang ibu muda mondar-mandir kebingungan seraya mengeluh. Bahkan raut wajahnya yang masih tampak cantik dan anggun itu mulai menangis. Langsung saja Soo Rin menarik Soo Jin untuk segera mendekati wanita tersebut.

“Soo Jin-ah, apakah itu ibumu?” Soo Rin menunjuk di dekat gadis kecil itu, begitu yakin bahwa Soo Jin mampu melihatnya.

Langsung saja Soo Jin melepas genggaman Soo Rin dan berlari kencang. “Eommaaaaaa!!”

Wanita itu segera menoleh, terkejut bukan main melihat sosok kecil itu berlari ke arahnya. Ia langsung ikut menghampirinya seraya berseru penuh kelegaan, “Omo, Soo Jin-ah! Putriku!!”

Eomma!” Soo Jin langsung memeluk wanita itu begitu merasakan tubuhnya terangkat. Menangis tersedu-sedu, melepas rasa takutnya di pundak sang ibu. Tidak berbeda dengan wanita tersebut yang juga ikut menangis berkat rasa leganya yang luar biasa.

Soo Rin akhirnya tersenyum, ikut merasa lega karena gadis kecil itu sudah kembali kepada ibunya. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka terpisah begitu jauh mengingat dirinya menemukan gadis kecil itu di depan teater tadi?

Baru saja dirinya hendak berbalik kala melihat gadis kecil itu menoleh dan menunjuk dirinya. Mau tidak mau Soo Rin memilih untuk tetap di tempatnya karena wanita itu segera menghampirinya. Mengulas senyum penuh haru kepadanya yang langsung Soo Rin sambut dengan bungkukkan badan penuh sopan.

“Terima kasih banyak karena sudah mengantarkan anakku. Kau pasti kerepotan, maafkan aku karena sudah merepotkanmu,” ucap wanita itu penuh rasa bersalah bercampur berterima kasih.

Langsung saja Soo Rin menggeleng seraya mengulas senyum manis. “Aniyo. Aku merasa senang bisa mengantar Soo Jin kembali kepada Anda.”

Omo, apakah putriku memperkenalkan dirinya padamu?”

Ne. Dia memperkenalkan diri setelah kutanyakan siapa namanya.”

Eomma, Eonni ini memiliki nama yang sama denganku!”

Jinjja?”

Soo Rin memamerkan deretan giginya. “Bukan sama tetapi hampir sama. Park Soo Rin imnida,” ucapnya seraya kembali membungkukkan tubuhnya.

Aigoo, benar. Mungkin putriku bisa melihat bahwa kau gadis baik hati karenanya dia berkenan memperkenalkan diri. Biasanya dia tidak akan mau memperkenalkan diri jika bertemu dengan orang asing.”

“Benarkah?” Soo Rin merasa tersanjung dibuatnya. Ia menatap gadis kecil itu, mengulur sebelah tangannya demi menepuk pelan sebelah pipi tembam itu.

Eonni, terima kasih sudah mengantarku pada Eomma,” ucap Soo Jin dengan nada menggemaskan. Gadis kecil itu sudah mengulas senyum yang begitu manis.

Nee. Lain kali kau harus terus menggenggam tangan Eomma, mengerti?”

Ne!”

Soo Rin tidak dapat melepas senyumnya berkat gadis kecil itu. Sampai akhirnya mereka berpamitan pada Soo Rin, dengan Soo Jin yang terus melambaikan tangan padanya hingga wujud mereka tidak terlihat lagi, Soo Rin baru bisa menghilangkan senyumnya lalu berbalik.

Di saat itu juga dia teringat bahwa dirinya sudah sangat jauh dari teater 3D, di mana ia menunggu pria itu di sana. Kini giliran dirinya yang merasa panik karena ia sudah meninggalkan Kim Ki Bum di sana. Dia bahkan baru sadar bahwa ia tidak membawa apapun saat ini. Dia meninggalkan tasnya di mobil pria itu!

.

.

Ki Bum mengumpat di dalam hati setelah beberapa kali mencoba menghubungi nomor ponsel Soo Rin, tersadar bahwa selama ini ia tidak melihat gadis itu membawa tas alias hanya tangan kosong. Itu berarti Soo Rin tidak memegang ponsel!

Ia semakin kalut. Beberapa wahana yang sempat mereka singgahi sudah Ki Bum coba datangi, siapa tahu saja Soo Rin ada di sana. Tapi ia tidak mendapati gadisnya di tempat-tempat tersebut. Dia mulai kebingungan, di mana lagi dia harus mencari? Di tempat yang sangat luas melebihi lapangan golf terbesar di dunia ini, Ki Bum sudah dibuat kalang kabut mendapati gadisnya menghilang begitu saja!

Sedangkan Soo Rin dalam perjalanan untuk kembali ke teater. Ia berpikir bahwa Ki Bum mungkin saja menunggunya di sana. Suasana taman bermain terbesar di Asia ini semakin padat oleh pengunjung mengingat ini merupakan akhir pekan. Ia harus berdesak-desakan oleh pengunjung lainnya, yang semakin membuatnya khawatir karena lajunya yang terhambat. Hingga ia merasa terdorong oleh tubuh orang lain menyebabkan tubuhnya limbung dan terjatuh, menimbulkan rasa sakit di beberapa titik tubuhnya hingga ia meringis tertahan.

Agasshi, gwaenchanha-yo?” seorang gadis berjongkok di sebelahnya, mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Soo Rin berdiri kembali. “Maafkan aku. Aku tidak memperhatikan jalanku. Kau tidak apa-apa?”

“I-iya, aku tidak apa-apa. Aku harus segera pergi,” ujar Soo Rin perlahan. Menepis tangan-tangan itu dengan halus lalu mengucapkan terima kasih dengan sopan sebelum melanjutkan langkahnya. Yang saat itu juga ia merasakan betapa nyerinya bagian lututnya sampai-sampai ia merasakan langkah demi langkahnya terpincang-pincang.

Memeriksa, Soo Rin harus meringis perih mendapati lutut kanannya terluka, mengeluarkan darah serta menggumpal di permukaan kulitnya yang sempat tergesek aspal. Ia meneguk saliva dengan kasar. Bagaimana ini?

“Soo Rin-ah!!”

Mendongak cepat, mata Soo Rin melebar berkat rasa terkejutnya, melihat pria itu berlari di kejauhan, menghampirinya dengan raut wajah yang menandakan empunya sudah bersiap untuk menyemprot Soo Rin sebentar lagi. Mau tidak mau ia merasakan kegugupan mulai menjalari sekujur tubuhnya dalam sekejap. Firasatnya mengatakan bahwa pria itu akan marah sebentar lagi.

“Kenapa kau tidak menungguku di sana?”

Soo Rin mulai tergagap. Melihat dengan jelas bagaimana pria itu tampak naik-turun dengan napas memburu dihiasi juga sorot mata yang menajam. “A-aku… tadi aku…”

“Kenapa kau pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun terlebih dahulu? Apa kau takut aku akan melarangmu?”

“T-tadi ada anak kecil—”

“Setidaknya katakan sesuatu padaku jika kau ingin pergi ke suatu tempat! Kau bahkan tidak membawa ponselmu. Aku tidak bisa menghubungimu! Dan kau bisa saja menghilang tanpa aku tahu, Park Soo Rin!!”

Soo Rin hampir tidak mampu bersuara lagi. Melihat bagaimana marahnya Ki Bum akibat perbuatannya, berhasil menciutkan keberaniannya untuk melawan. Dia bahkan lupa bahwa hari ini seharusnya dia yang berkuasa—hanya karena melihat Kim Ki Bum sudah mengeluarkan amarahnya berkat keteledorannya.

“Maafkan aku…”

Barulah Ki Bum sadar. Bagaimana Soo Rin menunduk dalam karena rasa bersalah, bahkan merangsek mundur seolah takut padanya, apalagi mata tajamnya melihat secara tidak sengaja—luka yang masih tampak basah di lutut gadis itu seketika membuatnya mencelos. Dia tidak habis pikir apa yang sudah Soo Rin lakukan hingga berakhir dengan terluka seperti itu. Bahkan dia hampir tidak mendengar permintaan maaf Soo Rin yang menandakan bahwa gadis itu sudah kalah darinya. Di tengah keramaian seperti ini.

Astaga, Ki Bum sudah memarahi Soo Rin di tengah keramaian!

Beberapa pasang mata tampak memicing pada mereka. Mungkin banyak dari mereka yang mengira bahwa Ki Bum adalah pria yang tega membentak seorang gadis sampai-sampai sang gadis menunduk penuh takut. Dan itu memicu Ki Bum untuk merasa bersalah.

Mengusap kasar wajahnya, menghembuskan napas dengan kasar pula, sebelum kemudian menatap gadis yang masih menunduk dalam, menggerakkan Ki Bum untuk mendekat dan langsung meraih tubuh Soo Rin—menariknya ke dalam pelukannya, meredam emosinya dengan menenggelamkan sekaligus menghirup aroma tubuh gadisnya yang berhasil menenangkannya. Meresapi rasa tegang pada gadisnya, mencoba giliran dirinya yang memberikan ketenangan.

“Berhenti menjadi seorang diktator. Kau tidak bisa melakukannya jika aku adalah orang yang kau hadapi, mengerti?”

Soo Rin mengangguk beberapa kali. Segera membalas pelukan Ki Bum dengan memeluk pinggang pria itu. Setidaknya dengan begini dia merasa lega bahwa Kim Ki Bum sudah memaafkannya. Dan dia akan menuruti perintah prianya untuk berhenti.

Pada nyatanya, Soo Rin memang tidak bisa menjadi gadis penuh kuasa jika Ki Bum adalah pria yang harus dia hadapi. Karena Ki Bum bisa berbalik menjadi lebih berkuasa jika Soo Rin melakukan kesalahan seperti yang baru saja diperbuatnnya.

****

“Gadis kecil itu kehilangan orang tuanya. Jadi aku menemaninya untuk mencari keberadaan orang tuanya. Dan mereka bertemu di Kastil Cinderella.”

Soo Rin menceritakan alibinya selama menghilang dari jangkauan Ki Bum. Pria itu saat ini tengah memberikan pertolongan pertama pada luka di lutut kanannya—mensterilkan luka tersebut dengan sebotol air mineral sebelum menyekanya dengan handuk mungil lalu membalutnya dengan plester. Semua itu didapat setelah pria itu meninggalkannya sejenak untuk membeli barang-barang tersebut.

“Kau tahu? Gadis itu memiliki nama yang hampir sama dengan namaku.”

“Benarkah?”

“Eung! Park Soo Jin namanya. Ibunya mengatakan bahwa Soo Jin adalah gadis yang sangat segan untuk memperkenalkan diri terhadap orang asing. Tapi anehnya dia dengan mudah menyebutkan namanya padaku.”

Ki Bum mendongak, menyungging seulas senyum teduh, “Berarti dia tahu bahwa kau adalah orang baik-baik,” tukasnya halus.

Soo Rin ikut tersenyum melihatnya. Pria itu kembali berkutat dengan pekerjaan kecilnya, kini memasangkan sepatu Soo Rin yang sempat ia lepas demi memudahkan pengobatan. Melihat begitu perhatiannya Kim Ki Bum sudah berhasil membuat Soo Rin merasa hangat.

“Terima kasih.”

Ki Bum mendongak lagi. Bibir penuhnya melengkung semakin ke atas melihat wajah cantik itu mulai merona. Memancing tangannya untuk bergerak merengkuhnya, membiarkannya bergesekan dengan halusnya kulit dari wajah yang tidak pernah bosan untuk ditatap maupun disentuh olehnya.

“Bisakah kau tidak melakukannya lagi?”

Soo Rin mengerjap sekali sebelum akhirnya mengangguk patuh memenuhi permintaan Ki Bum. “Aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Hanya dengan begitu Ki Bum sudah dibuat senang. Itulah mengapa dia segera mengangkat sedikit tubuhnya demi memudahkannya untuk menjangkau wajah Soo Rin lalu mendaratkan kecupan di bibir kecil gadisnya itu penuh sayang. Menyalurkan perasaan leganya setelah sempat merasakan betapa kalutnya dia mendapati gadis ini tidak berada di jangkauan matanya. Tapi setidaknya kini ia kembali mendapatkannya.

Soo Rin merasakan perutnya tergelitik berkat ciuman sekilas namun sangat telak, merambat hingga jantungnya bergemuruh, lalu menuju wajahnya untuk bersemu merah seperti tomat. Oh, astaga, mereka ini masih di ruang terbuka tapi dengan beraninya Kim Ki Bum menciumnya seperti baru saja!

Cah, ingin melanjutkan atau pulang?” Ki Bum seolah tidak mengambil pusing dan memilih mengajukan pilihan.

Soo Rin teringat bahwa dia belum meluluskan keinginannya untuk menonton film. Bukankah Ki Bum sudah membeli tiketnya?

“Tiket untuk menonton Minions—”

“Sudah kubuang.”

“A-apa? Ke-kenapa?”

 “Aku terlalu sibuk mencarimu. Bahkan aku lupa di mana membuangnya.”

“Maafkan aku…”

Ki Bum berdecak tidak suka. “Jangan meminta maaf, Soo Rin-ah. Kau pikir tiket itu lebih berharga dibandingkan kehilanganmu?”

Soo Rin mengerucutkan bibirnya. Tertunduk malu.

“Jadi kau ingin menontonnya?”

Soo Rin kembali mendongak dan langsung menggeleng cepat. “Tidak perlu, Kita pulang saja.”

“Kau yakin?”

Eung…

“Baiklah,” Ki Bum berbalik membelakangi Soo Rin, masih dengan berjongkok, “Naiklah.”

Ne?”

“Naik ke punggungku.”

“T-tapi—”

Ki Bum berdesis, “Naik ke punggungku atau aku akan menggendongmu di depan,” gertaknya.

Soo Rin langsung menurut. Ia beranjak dari duduknya, menjatuhkan tubuhnya perlahan seraya mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu, yang langsung direspon oleh Ki Bum dengan menahan tubuhnya dengan tangan-tangan besarnya. Dan Soo Rin segera dibuat berdesir-desir kala Ki Bum dengan mudahnya berdiri, membawa dirinya di punggung lebarnya keluar dari arena taman bermain nan megah ini.

“Kim Ki Bum.”

Hm?”

“Aku tidak berat?”

“Apa selama ini aku pernah mengeluhkannya tiap menggendongmu?”

“Tidak…”

“Jadi?”

Soo Rin tidak bersuara lagi. Ia memilih untuk menenggelamkan sebagian wajah memerahnya pada bahu lebar Ki Bum, memejamkan mata menikmati bagaimana pria ini membawa dirinya dengan begitu ringannya. Tanpa dia tahu bahwa Ki Bum tersenyum penuh arti saat ini.

Well, setidaknya dia merasa bahwa kekuasaannya sudah kembali. Dan dia lebih menyukai gadisnya yang menurut seperti sekarang ini.

****

“Setidaknya ganti pakaianmu terlebih dahulu.”

Soo Rin menggeleng-geleng malas. Ia terlanjur nyaman begitu bertemu dengan kasur empuknya. Rasanya hari ini dia begitu lelah mengingat betapa antusiasnya dirinya berkeliling Lotte World hampir seharian penuh. Dan rasanya dia ingin segera meluncur ke alam mimpi.

Pada akhirnya Ki Bum hanya menggeleng kepala akibat dari tingkah laku Soo Rin. Ia pun tergiur untuk melakukan hal yang sama, menuju ke sisi lain, Ki Bum menjatuhkan tubuhnya pada empuknya kasur milik mereka ini. Setidaknya dia sudah kembali mengobati luka Soo Rin mengingat sebelumnya hanya dibersihkan air mineral dan diplester, itu hanyalah pertolongan pertama. Sekarang Soo Rin bisa leluasa tertidur karena ia sudah membalutnya dengan sedikit kapas yang diplester setelah ia bubuhi antibiotic.

“Hari ini sangat menyenangkan. Aku bisa merasakan rasanya berkencan seperti kala kita masih di Neul Paran dulu. Hehehe!”

Ki Bum terkekeh geli mendengarnya. “Setidaknya itu terdukung berkat kostum yang kita pakai ini. Aku bahkan tidak tahu jika kau masih menyimpannya, bahkan menyimpan milikku.”

“Aku memintanya dari Eomoni. Rasanya sayang sekali jika seragammu hanya disimpan di gudang,” balas Soo Rin dengan memajukan bibir bawahnya. “Aku juga berpikir mungkin saja suatu saat akan memakainya lagi meski untuk sekadar bernostalgia. Aah, aku pernah menjadi murid Neul Paran. Menjadi gadis biasa saja tetapi tidak disangka memiliki penggemar rahasia Si Jenius Peringkat Satu di angkatanku dulu. Seperti itu.”

Ki Bum dibuat terpesona kala Soo Rin memamerkan cengirannya dengan semburat kemerahan di kedua pipinya. Batinnya membenarkan ucapan Soo Rin, karena ia juga sempat bernostalgia, tidak menyangka bahwa dirinya yang dulu dikenal dengan kualitas otak yang tergolong cerdas memilih Neul Paran sebagai jenjang akhir sekolahnya sebelum berlanjut ke tahap berkuliah. Hanya karena dia jatuh cinta pada foto saudara sepupunya—Jung Eun Ji—yang tengah mengabadikan sosok gadis bernama Park Soo Rin. Yang tidak disangka bahwa perasaannya yang dulunya terlihat kekanakan bisa membawanya ke tahap serius hingga sekarang ini.

Jika diingat kembali, ternyata masa lalunya bersama gadis di hadapannya ini terlihat menggelikan… tetapi juga penuh makna. Dan Ki Bum tidak menyesal karena sudah memilih Park Soo Rin hingga detik ini, dan berharap sampai nanti.

“Kim Ki Bum.”

Hm?”

“Terima kasih untuk hari ini.”

Ki Bum tersenyum manis melihat bagaimana Soo Rin ikut tersenyum. Sebelah tangannya bergerak merengkuh wajah cantik Soo Rin, memainkan ibu jarinya di permukaan kulit wajah gadisnya, membelainya yang berhasil membuai sang empunya. “Dengan senang hati,” ucapnya tulus.

“Bisakah kau mengucapkannya lagi?”

Hm?”

“Ucapan selamat ulang tahun…”

Aigo, lihat raut wajah itu, mulai kembali menampakkan rona merahnya yang begitu menggemaskan hingga menggerakkan Ki Bum untuk mendekat. Menyelipkan sebelah tangannya ke bawah leher Soo Rin sebelum menarik tubuh ramping itu ke dalam dekapannya. Rasanya dia tidak bisa jika tidak melakukan ini setiap mereka sudah berada di atas tempat tidur. Ki Bum pasti tidak bisa menahan diri untuk memeluk Soo Rin dan membiarkan salah satu lengannya sebagai bantalan untuk gadisnya ini. Apalagi perlakuannya dibalas oleh tangan Soo Rin yang ikut memeluknya. Bagaimana Ki Bum tidak merasa senang?

“Selamat ulang tahun, Sayang.”

Dan Soo Rin merasakan wajahnya memanas seketika mendengar bagaimana suara berat itu mengalun tepat di depan telinganya, ditambah dengan sebutan magis yang langsung menggetarkan benaknya. Semakin menjadi begitu bibir penuh itu mendaratkan kecupan hangat nan dalam di keningnya. Begitu terlepas, entah kenapa ia justru mendongakkan kepala yang tanpa diduga bibir penuh itu menyentuh ujung hidungnya.

Ugh, dia tidak bermaksud untuk meminta lebih. Hanya saja gerak motoriknya yang terkesan reflek itu seperti ingin cepat-cepat melihat wajah tampan yang baru saja mencium keningnya. Pada akhirnya, Soo Rin mendapatkan hal tak terduga itu. Ki Bum mengecup hidungnya penuh rasa, sebelum kemudian pria itu bergerak turun kembali, menghadiahi sebuah ciuman dalam tepat di bibirnya. Merasakan bagaimana tangan besar itu kembali merengkuh wajahnya, membuainya dalam bentuk belaian penuh rasa yang bergerak hingga ke belakang telinga, menggelitiknya sejenak, sebelum kemudian merasakan tekanan lembut di bagian tengkuknya. Bagaimana pria ini mendominasi sekaligus menguasainya dengan piawai. Membuatnya meremas bagian pinggang kemeja pria ini kala lumatan itu semakin dalam dan dalam.

Dan Soo Rin baru menyadari—kala pria itu melepas kontak mereka—bahwa ia sudah terkurung di bawah kungkungan tubuh kekar prianya. Matanya mengerjap beberapa kali, melihat bagaimana manik hitam itu menyelami manik matanya, memicu rasa berdebar-debar kelewat keras di dalam rongga dadanya, karena jarak mereka yang sangat tipis di mana hidung mereka masih bersentuhan, merasakan bagaimana hembusan napas mereka saling beradu. Dan ia merasakan kadar oksigen di sekelilingnya berangsur lenyap.

“K-Kim Ki Bum…”

Hm?”

Ki Bum justru menghapus jarak mereka lagi, menjatuhkan bibirnya tepat di permukaan bibir Soo Rin, hanya menempel, namun sudah keterlaluan sensasinya, bagaikan ada letupan-letupan di dalam benak mereka, yang berhasil memicu Ki Bum untuk melakukan pergerakan lagi hingga spontan Soo Rin kembali memejamkan mata. Memeluk terlampau erat tubuh kekar yang menindihnya ini. Membiarkan Ki Bum untuk berkuasa di dalam permainan ini.

Ia tidak mampu berpikir lagi. Mulai merasa pening begitu pria ini memberikan gigitan-gigitan halus di sela-sela ciumannya. Menggodanya untuk menyerahkan dirinya begitu saja hingga Ki Bum berhasil membobol pertahanan terakhirnya.

Kemudian tubuhnya bergidik kala tangan besar itu merambat turun menuju deretan kancing kemejanya, melepasnya dengan mulus dan cekatan. Dan ia hanya mampu meremas kemeja yang dikenakan pria ini. Rasanya dia ingin pingsan sebentar lagi!

Hanya saja Ki Bum segera menghentikan semuanya begitu berhasil melepas satu kancing kemeja Soo Rin. Melepas kontak mereka perlahan sebelum kembali menatap gadisnya yang ikut menatapnya, ada binar kebingungan mengintip di manik kecoklatan itu, dan Ki Bum segera membalasnya dengan seulas senyum.

“Aku hampir melupakan fakta bahwa kau sedang terluka,” gumamnya, pelan namun berat dan serak. Kemudian ia menyingkir dari atas tubuh Soo Rin, berpindah ke samping lalu kembali menarik Soo Rin ke dalam dekapannya. “Maafkan aku,” ucapnya parau.

Soo Rin yang sempat mengalami disorientasi mulai menangkap maksud dari ucapan Ki Bum. Ada perasaan haru merayapi tubuhnya yang masih terasa panas berkat perlakuan Ki Bum sebelumnya. Bahkan hanya karena luka di lututnya, Ki Bum memilih untuk menghentikan semuanya sebelum berlanjut lebih jauh lagi. Padahal Soo Rin sempat melupakannya begitu saja dan memilih untuk pasrah dan menyerahkan diri sepenuhnya pada pria yang kini mendekap hangat dirinya.

“Tidurlah. Kau bisa membersihkan diri besok,” ujar Ki Bum di atas puncak kepala Soo Rin. Matanya terpejam. Berjuang meredakan gejolak di dalam benaknya, menekannya untuk kembali ke dalam taraf normal. Dia sendiri tidak menyangka bahwa niat awalnya yang hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun bisa berujung seperti baru saja.

Sungguh, gadisnya ini memang memiliki pengaruh terlampau besar untuk kinerja tubuhnya—hingga hormonnya. Jadi seharusnya dia lebih berhati-hati lagi.

“Selamat malam.”

Memeluk lebih erat lagi, Soo Rin menyerukkan kepala ke dada bidang prianya, menyembunyikan wajah cantiknya yang masih terasa panas sekaligus memerah bak tomat, dan tersenyum di sana.

Soo Rin memang bersyukur karena memiliki pria penuh pengertian seperti Kim Ki Bum.

Ia bersyukur karena masih memiliki Kim Ki Bum di usianya yang kini bertambah satu tahun lagi.

Dan ia berharap bahwa Kim Ki Bum adalah miliknya—sampai nanti.

xo

FIN!


HAI! KISUKISU KEMBALI LAGI~~

Waaaah, berasa udah lama ngga nongol lagi di sini. Apa kabar readers? Masih ingatkah dengan couple absurd ini? Hahahahah #ga

Seperti biasa, menyuguhkan cerita aneh yang sangat aneh sehingga menimbulkan perasaan aneh yang begitu aneh hingga kalian pun teraneh-aneh karna aku kok aneh banget -_- #bye

Ini terinspirasi dari dramanya abang Masi, She Was Pretty ep.12 yang endingnya itu bikin melting dan baper… oke, aku belum nonton sebenernya, cuma liat previewnya aja, dan begitu melihat cap pic di atas itu imajinasiku langsung melanglang buana ke kimkibum… makanya ceritanya jadi gajelas banget begini hiks… mohon maafkan aku /-\

Trus, aku minjem nama dari salah satu reader di sini. Yang merasa namanya Park Soo Jin angkat tangan ya #duaagh XD soalnya aku lagi buntu mau nyematkan nama siapa dan terlintas kepikiran nama yang ngga jauh dari nama Park Soo Rin itu._.

Trus trus, soal ff yang dibocorkan di postingan sebelumnya itu, mohon maaf belum bisa aku posting. Aku sedang mencari berbagai inspirasi buat ff yang sebenarnya masih sebuah rencana itu. Doakan supaya aku bisa menulisnya dengan baik, oke^^

Yaudah gitu aja. Ini udah panjang banget ya, oneshot doang padahal hihihi Maafkan aku jika masih banyak typo bertebaran >< tapi terima kasih sudah bersedia membaca~ ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

22 thoughts on “Being Dictator

  1. Selalu dgn segala momen pasangan ini. Betapa mereka saling mencintai. Apa lagi ki bum, dia bahkan sampe kaya gitu kalo menyangkut soo rin.

  2. Kenapa gak di lanjutin coba ?? /otak mulai sengklek/ :’v
    Nano nano hha pas pertama lucu sama kelakuan Soo Rin yang minta jadi diktator terus ngebayangin Ki Bum pake baju SMA lagi hha .. Dikira anak ABG lagi wkwkwkwk

    Ikutan panik pas Soo Rin ilang bantuin anak kecil nyari eomma-nya padahal dia juga di cariin Ki Bum wkwk ..
    Pas udah di rumah harapannya sih lanjut eehh tapi malah gak jadi wkwk /apa lah ini/ hha xD

    Seru kakak .. Tengkyu karna kembali semangat menulis ..

  3. KISUKISU yang selalu di tunggu selalu memuaskan, always sweet romance.
    Btw sisain kek makhluk kaya kim kibum hahahaha
    Di tunggu kisukisu selanjutnya author ♥♥

  4. Yahahaha kasian deh lu kagak bisa nyaingin kibum jadi diktaktor wkwkwkwkwk… Itu kenapa ada photo adegan kisseunya?!!! Kasihan aku yang masih ‘polos’ ini melihatnya wkwkwkwkwk XP

  5. Bhahahahah…soo rin jdi dictator gk cocok bgt mlah klihatan gemes.trus apa tu kencan ala anak sekolah duh kencan unik,ada2 aja soo rin mentang2 ulang tahun prmintannya aneh deh ingin jdi dictator segala gk pantas lah yg d dictatorin rajanya dictator#maaf bum

  6. met ultah ya park soorin 😀
    bnr2 deh ni couple bkin iri ja…
    kan jd pgn kncan ke lotte worl jg #tarikKyuhyun XD
    lmayan trobati rasa kgn q ma kisukisu…
    mksh ya author dah share crta yg kren bgt 😉
    dtnggu yg lain ny 🙂
    keep writing n fighting 😉

  7. Astagah niih pasangan bener” buat iri >< astagahh berikan satu pria yg mirip sama kibum di ff ini 😀 wkwkwk #InMyDream^^ 😉 ditunggu kisukisu lainnya yah 😉

  8. anjrit anjrit ini romance nya keterlaluann. wajahku pasti udah merah pake banget. ditambah detak jantung yang menggila, ceritanya bikin aku berdebar-debar. awal baca agak heran, Soorin jadi ditaktor? ga mungkin lah, hahahahaha. ngebayangin kibum pakai seragam sekolah dikala tubuhnya yang sekarang ini kekar dan sedikit ndut, ahhh pasti seksi pake banget >///<

    ahh jadi mereka bernostalgia ya, duhhh romantisnya. ahhh pokoknya aku iri sama Soorin, semoga calon suamiku juga kayak Kibum. amin amin hehehe

  9. Saengi chukai prak soo rin…
    Cie yg ultah, massa permintaannya hnya jdi dictator, gk pantas, apa lagi di dictatorinnya kim kibum, kau yg menciut prak soo rin haha

    ke bayang bangt kibum pakai seragam skolah dngn tubuh yg kekar dan berisi,, pasti sexy kkk

    pasangan ini selalu bikin iri,,,,
    ikhhh ke pingin jdi soo rin aku….
    Pasti sealu beruntung….

    Kim kibummmmmm miccuuu #gigit bantal kkkk

  10. saengil chukkae Park Soo Rin ^^
    walaupun gagal(?) menjadi diktator di depan Kim Kibum, tapi untuk membuat Kim Kibum kelabakan dan out of control(?) berhasil banget haha 😀 seperti biasa 😀
    dan saya lagi lagi terbawa suasana~ >.<
    saranghae kisukisu ❤

    ngomong2 nama anak kecil itu? seperti nama saya Park Soo Jin haha 😀

  11. “Berhenti menjadi seorang
    diktator. Kau tidak bisa
    melakukannya jika aku adalah orang yang kau hadapi” hhhh suka sekali ma kata” ni kibumie bener” diktaktor sejati :-D..
    “selamat ulanf tahun sayang” ulalaaa ><…tu romantis sekaliiiii soriin beruntung sekali punya kibum..
    Namkorku jg soojin lee soojin lbh tepat'a..:-D #Abaikan
    puas puasssss meski soorin ggl jd diktaktor sehari

  12. saengil chukkae Park Soo Rin…
    meskipun keinginannya menjadi dictator seperti kibum gagal tapi tetep berhasil membuat kibum jadi lost control seperti itu 😀 duhh sootin berpengaruh banget sih tehadap kibum jadi iri aku 😀
    dan cerita ini berhasil membuat saya senyum – senyum gak jelas , sesak napas dan rasain ada kupu-kupu berterbangan diperutku akibat perlakuan kibum ke soorin 😀 duhh jatuh hati lagi deh sama kim kibum :* ❤

  13. akhh bikin cemburu mereka ini.. Dimana lagi bisa dapat namja kaya kibum hah? Aishh~ btw soo rin ga bisa jadi diktator, ditatap sama kibum aja dia udah memerah gimana bisa bersikap tegas coba? Hehehe

  14. Ini critanya sweet pake bangett😍😍
    Ini mah masa depan idaman saya.. huakaka
    ah, Saengil chukkae uri Soorin. Smoga makin sweet sm Kibum.. cepet pny momongan *eh fah pkonya yg bagus2 dah..

  15. Waaah BARU BACA. … WAH SAYANG SEKALI. Selalu seperti itu~ tiba-tiba sadar dan gak jadi. Boleh kali Kibum khilaf.. trs Soorin nya gak takut lg. :v #plakk

  16. Ya Alloh kapan aku punya Kim Ki Bum T.T , beruntung banget Soo Rin dapetin Ki Bum Oppa yang sayang dan Cinta banget T.T , Ki Bum Oppa keliatan menakutkan dan cuek tapi ternyata perhatian banget 😀 , uh so sweet banget mau nurutin kemauan Soo Rin buat pake seragam Sma 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s