Posted in Category Fiction, Fiction, Fluff, One Shot, PG-15, Romance

Save Her

saveher

Genre :: Absurd! Romance, Fluff

Rated :: PG-15

Length :: One Shot

||KiSoo||

Inspired by. Yong Pal Yi (The Gang Doctor), more prominent in their BGM.

Recommended Song :: Super Junior – MAGIC

Happy reading! ^-^

ㅡㅡ

“Itu memang sudah menjadi tugasku untuk melindungimu.”

ㅡㅡ

SRAAAKK

Para penghuni di ruang gawat darurat merusuh. Banyak yang histeris dan mulai berlarian mencari sudut ruangan teraman. Suasana tampak begitu kacau berkat salah seorang yang baru datang karena terluka itu kini baru saja memporak-porandakan berbagai alat medis yang ada di dekatnya, kemudian menodongkan sebilah pisau milik rumah sakit yang berhasil dia dapat.

“Jangan mendekat! Jangan mendekat!!”

Adalah seorang pria mengayun-ayunkan pisau di tangannya dengan kalap. Matanya melotot sebagai bentuk gertakan. Napasnya yang memburu telah memicu keringat dingin mengucur di sisi wajah tegasnya yang memucat.

“Tuan, tolong tenangkan diri anda dan letakkan pisaunya,” salah satu dokter di sana berusaha mengajak pria yang tak lain merupakan pasien itu bicara dengan hati-hati.

“Tidak, tidak akan! Kalian pasti akan menyakitiku dan mengurungku!! Menjauh dariku!!”

“Tuan, kami hanya ingin mengobati anda. Anda terluka, Tuan,” dokter itu melirik pinggang sebelah kiri pasien tersebut yang tercetak warna merah darah di sana.

“KUBILANG, JANGAN MENDEKAT!!” teriak pria itu kala melihat sang dokter menyeret langkahnya maju, ia menodongkan pisaunya. “Berani mendekat, aku akan membunuhmu!!”

Beberapa perawat mulai mengamankan pasien lainnya untuk keluar. Mengantar mereka untuk berbondong-bondong berpindah yang serta merta menarik perhatian para pengunjung di luar sana.

“Ada apa ini?” pria bernama Tan Han Kyung itu mulai bertanya pada salah satu perawat yang ditemuinya. Ia baru saja ingin beranjak ke ruangan sana kala melihat banyak pasien berhambur lari keluar dari tempat tujuannya.

“Ada satu pasien mengamuk di sana, Dokter,” perawat itu menjawab dengan panik.

Langsung saja Han Kyung memerintah perawat itu untuk melanjutkan tugasnya. Sedangkan ia segera berlari menuju ke ruangan tersebut. Hanya saja, ia harus dikejutkan dengan munculnya pria mengamuk itu dari dalam sana, masih dengan menodongkan pisaunya ke sana kemari dan ia ikut menjadi sasarannya.

“Jangan mendekat!!!”

Han Kyung mengangkat kedua tangannya. Matanya melirik pinggang pasien itu yang terluka, mengeluarkan banyak darah yang menodai pakaiannya yang koyak. Pikirannya berspekulasi bahwa pria itu terkena luka tusukan.

Dan, melihat dari gelagatnya, sepertinya pria itu telah melukai dirinya sendiri.

Soo Rin baru menyelesaikan pekerjaannya dan seperti biasa menyempatkan diri untuk berkunjung. Ia baru saja memasuki lobby rumah sakit kala menyadari begitu ramainya kondisi ruangan nan luas ini. Melihat suasana yang ada, Soo Rin merasa bahwa para pengunjung di sini tengah dirundung oleh sesuatu. Ia tengah melanjutkan langkahnya menuju lift kala mendengar teriakan nyaring.

“Tuan, jangan berlari! Anda sedang terluka!”

“Hentikan orang itu!!”

Dan suasana semakin pelik begitu melihat pria mengamuk itu berlari-larian mengayun-ayunkan pisau di tangannya. Semua pengunjung ikut berlarian berusaha menghindari orang itu. Teriakan kepanikan menggema ruangan tersebut. Juga mengejutkan Soo Rin yang dari arah berlawanan melihat orang itu berlari ke arahnya. Melihat wujud dan gelagatnya hingga buru-buru Soo Rin menghindar.

Namun jauh dari ekpektasinya, hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya terjadi. Pria itu menjangkau menarik dirinya dan mencengkeram kuat merangkulnya. Tubuhnya serta merta menegang begitu merasakan sesuatu yang tajam mencoba menekan kulit lehernya. Otaknya segera berhenti bekerja, dan ia hanya mampu mendengar pekikan histeris dari sekitarnya.

“Menjauh dariku! Atau aku akan membunuhnya!!”

Han Kyung terkejut bukan main. Ia yang juga mengejar pria mengamuk itu harus terkesiap melihat gadis yang cukup dikenalnya sudah berada di dalam tawanan orang itu. Meneguk saliva, diam-diam dirinya mulai panik.

“Tuan, tolong jauhkan pisaunya!” seru salah satu perawat.

“DIAM!!!”

Soo Rin meneguk saliva kala merasakan rangkulan pria tak dikenalnya ini semakin menjadi, ditambah dengan sebilah pisau tajam mengancamnya di depan lehernya. Tangan-tangannya mulai gemetar, mencoba menarik tangan yang menawan dirinya namun ia tidak bisa karena tangan besar itu menyentak tubuhnya untuk semakin merapat.

“Pria itu benar-benar gila,” gumam salah satu dokter yang berdiri tidak jauh di dekat Han Kyung.

“Dia pasienmu?”

“Bukan. Dia pasien yang dikatakan ingin bunuh diri dengan menusuk dirinya sendiri. Beruntung orang-orang di sekitarnya segera menghentikannya dan membawanya kemari. Tetapi, sepertinya dia juga mengalami gangguan mental.”

Han Kyung berdecak kalut setelah mendengar jawabannya. Ia menatap kembali pria itu, lebih tepatnya gadis yang sudah menunjukkan raut ketakutan di wajahnya yang memucat di dalam jeratan si pria tersebut.

“Sudah memanggil keamanan?”

“Sedang menuju kemari.”

“Seharusnya sejak awal,” gerutu Han Kyung. Perlahan ia merogoh saku jubahnya, meraih ponselnya dan mulai mengutak-atiknya. Ia mencoba menghubungi seseorang.

.

Perhatiannya teralihkan begitu merasakan sesuatu bergetar di saku jubahnya. Segera saja ia merogohnya yang secara tidak langsung menarik perhatian wanita yang tengah ikut bekerja dengannya. Lalu mengernyit samar begitu melihat nomor kontak bernama Tan Han Kyung ternyata tengah melakukan panggilan.

Yeoboseyo?

“Ki Bum-ah, cepat turun ke lobby. Ada kekacauan di sini.”

Ki Bum semakin mengerutkan keningnya. Batinnya mulai bertanya-tanya. “Ada apa?”

“Cepat turun! Gadismu disandera!”

.

“Apa yang kau lakukan?!”

Han Kyung terpaksa menjauhkan ponselnya, begitu melihat pria itu berteriak sekaligus menodongkan pisau padanya.

“Jangan mencoba untuk menghubungi orang lain! Buang itu atau aku akan membunuhnya!!” dan pria itu kembali menekan pisaunya pada leher Soo Rin. Membuat gadis itu memekik tertahan juga kembali menahan napas.

Mau tidak mau Han Kyung menjatuhkan ponselnya. Mengabulkan permintaan pria itu dengan merelakan benda pentingnya untuk membentur lantai. Yang saat itu juga, di tempat lain, Ki Bum segera berlari dari tempatnya.

“Dokter Kim!” Jae Kyung yang tampak kebingungan segera menyusul pria itu. Meninggalkan laporan yang tengah mereka garap di meja.

Mengingat dirinya berada di lantai tiga, Ki Bum memilih tangga darurat untuk menuju ke lantai dasar. Menunggu datangnya lift benar-benar menghabiskan tingkat kesabarannya. Setelah mendengar dari temannya itu—sekaligus mendengar teriakan asing di seberang sana, juga mengingat pukul berapa saat ini, Ki Bum mulai dibuat kalang kabut begitu mengingat waktu rutinnya yang selalu didatangi oleh gadisnya itu.

Sedangkan Jae Kyung, dia langsung masuk ke dalam lift yang kebetulan terbuka. Menutup pintu besi tersebut dan segera menekan tombol lantai dasar. Setelah mendengar kasak-kusuk dari perawat lain yang mengatakan bahwa lobby rumah sakit memang tengah kacau balau.

.

J-jeogiyo…

“Diam!”

Soo Rin meneguk saliva lagi setelah mendengar suara berat itu mengalun mengancam dirinya. Ia mulai merasa perih di bagian lehernya. Merasakan bagaimana benda tajam itu semakin menekan kulit lehernya.

“A-aku tidak tahu apa yang terjadi… t-tapi, kau terluka,” ujarnya tersendat. Soo Rin sempat melihat bagaimana pria yang tengah menjeratnya ini mengeluarkan darah.

“Mereka semua akan mengurungku. Mereka semua akan menyiksaku. Mereka semua penjahat!”

Soo Rin dapat mendengar bagaimana suara pria itu bergetar hebat. Bagaimana ia bernapas memburu dan ketakutan. Dan bagaimana tangan yang menggenggam kuat sebilah pisau itu juga tampak gemetaran.

“M-mereka bukan orang jahat. Mereka justru ingin menyembuhkanmu.”

“Jangan berbohong!!!” teriak pria itu tepat di dekat telinga Soo Rin. “Orang-orang di sekitarku selalu mengintimidasiku. Mereka selalu mengurungku dan menyiksaku! Dan orang-orang seperti mereka!” ia menodongkan pisaunya, bergerak-gerak menunjuk semua orang di hadapannya yang tidak lain adalah para dokter dan perawat, “Orang-orang seperti mereka yang selalu menyiksaku!!”

“K-kau salah…” Soo Rin mencoba melonggarkan cengkeraman pria itu, ia mulai merasa sesak, “Mereka berbeda. Mereka adalah orang-orang baik. Mereka tidak pernah mengurung apalagi menyiksa orang-orang sepertimu. Mereka—”

“Kubilang diam!!!”

Ugh…

Pisau itu telah membuat goresan yang sukses mengeluarkan darah di sana. Soo Rin harus meringis perih merasakan bagaimana bagian tajam dari benda itu sempat menyayat kulit lehernya sesaat. Memicu sesuatu ingin menyeruak di pelupuk matanya, memanas di sana sekaligus mengembunkan pandangannya. Kala ia melihat seseorang datang di depan sana. Dan di saat itu juga ia merasakan tubuhnya diseret mundur karena pria yang menawannya ini merangsek mundur hendak melarikan diri.

“Padamkan lampunya.”

Han Kyung menoleh kebingungan. “Apa?”

“Padamkan lampunya dan nyalakan alarm kebakaran. Tiga puluh—tidak, lima belas detik. Aku akan menyelamatkannya,” Ki Bum tidak mengalihkan pandangannya sejak mendapati gadis itu ditawan di sana. Wajahnya mengeras seketika, bersamaan dengan kedua tangannya yang terkepal kuat di sisi-sisi tubuhnya.

Oh, astaga, bagaimana bisa gadisnya yang menjadi korban kejadian ini?!

“Itu berbahaya!” sergah Han Kyung cepat.

“Lebih berbahaya jika aku membiarkannya keluar dari sini,” balasnya tak kalah cepat. Sungguh, Kim Ki Bum kalut setengah mati melihat pemandangan di depan sana! “Matikan lampunya sekarang!”

“Biar aku yang lakukan,” Jae Kyung yang sudah tiba akhirnya beranjak mundur. “Dokter Lee, tolong bantu aku,” lanjutnya mengajak salah satu dokter di dekatnya yang langsung dituruti.

“Baiklah. Kalau begitu biarkan aku membantumu, Dokter Kim.” Han Kyung akhirnya menawarkan diri. “Lampu cadangan akan menyala setelahnya. Aku akan menahannya dan kau bisa menarik gadismu menjauh.”

“K-Kim Ki Bum…” Soo Rin ingin menangis melihat pria itu berdiri tegang di sana. Apalagi ia tidak dapat melihat sosoknya lagi kala pria yang menawannya berbalik badan hingga tubuhnya ikut terseret memutar.

“Jangan ada yang mendekat!!” pria itu kembali berteriak melihat jalannya dikepung oleh banyak petugas keamanan. “Menyingkir!! Atau aku akan membunuhnya!!” serunya dengan ancaman yang sama. Menodongkan pisaunya pada leher Soo Rin, menjadikan gadis di dalam tawanannya sebagai tameng untuk melarikan diri.

Han Kyung memungut kembali ponselnya—dengan hati-hati, ia tidak berdiri lagi, justru mengambil ancang-ancang begitu mengantungi kembali ponselnya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan.

Jae Kyung membuka saklar-saklar listrik. Ia menganggukkan kepala memberi isyarat pada pria bernama Dokter Lee itu untuk menekan tombol merah besar di sisi lain. Sebelum kemudian disusul olehnya yang menurunkan saklar listrik di lantai ini.

KRIIIIIIIIIIIING

Alarm kebakaran mulai berbunyi, disusul lampu di lantai ini padam total yang mengundang penghuni di sana banyak berteriak kaget serta berhamburan panik. Begitu juga dengan pria yang menyandera gadis itu, tampak kalut di tempatnya. Tangannya mulai bergerak tak tentu arah, mengayunkan pisaunya sekaligus berseru penuh kalap karena tidak bisa melihat.

Hingga kemudian lampu darurat hijau remang menyala otomatis. Yang saat itu juga membantu pandangan mereka untuk segera bertindak.

“Sekarang!”

Dua pria itu berlari maju, menerjang pria itu dari belakang yang ternyata disadarinya hingga mengayunkan pisaunya ke belakang. Sontak saja Ki Bum menangkapnya yang naas ia harus tersayat oleh benda tajam itu pada telapak tangannya, menimbulkan rasa sakit luar biasa yang harus dia tahan. Tangan lainnya segera mencengkeram tangan pria itu demi merebut benda berbahaya itu lalu membuangnya ke sembarang arah.

Di waktu bersamaan, Han Kyung menangkapnya, mengunci tubuh yang mulai meronta-ronta itu dengan ilmu bela dirinya dan berhasil menjauhkannya dari gadis yang langsung ditarik oleh Ki Bum. Mendorongnya cukup keras hingga pria itu jatuh tersungkur dengan dirinya yang langsung menahan punggungnya dengan satu lutut, mengikat kuat kedua tangan yang menggeliat itu dengan tangan-tangan besarnya.

Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Begitu lampu kembali dinyalakan, mereka sudah melihat Han Kyung yang menindih tubuh tengkurap pria mengamuk itu di lantai, mengunci kedua tangannya. Dan pihak keamanan segera menghampirinya sekaligus mengamankan pria itu.

Jae Kyung melakukan tugasnya dengan baik. Kini ia berlari-lari menghampiri mereka yang mulai dikerubungi petugas. Kekhawatirannya mulai mencuat melihat kondisi keduanya yang tidak bergerak setelah kejadian barusan mereda.

“Dokter Kim, kau tidak apa-apa?”

Ki Bum hanya mengangguk. Tangan-tangannya tidak lepas dari tubuh yang sudah berada di pelukannya, menindihnya hingga ia hanya mampu terbaring di lantai lobby. Sebelah tangannya yang masih bersih kini mengusap kepala gadis itu, menepuknya perlahan.

“Aku sudah mendapatkanmu. Semuanya baik-baik saja sekarang.”

Sedangkan Soo Rin memeluk terlalu erat tubuh di bawahnya. Menenggelamkan wajahnya yang sudah basah oleh keringat maupun air mata ke dada bidang pria itu. Melepas rasa takutnya dalam bentuk isakan yang memicu tubuhnya untuk bergetar hebat di dalam kungkungan prianya.

****

“Sepertinya dia trauma karena keluarganya pernah membawa dirinya ke rumah sakit jiwa. Dia melarikan diri dari rumah dan ingin membunuh dirinya sendiri.”

Jae Kyung menceritakan apa yang dia dengar dari dokter lain seraya mengobati Soo Rin. Gadis itu terkena luka gores di bagian kiri lehernya, tepat di bagian denyut nadinya. Untungnya saja luka goresannya tidaklah dalam dan hanya perlu dibubuhi obat antibiotic sebelum diplester. Jae Kyung menatap penuh gadis itu begitu menyelesaikan tugasnya.

Ada rasa khawatir melihat bagaimana gadis di hadapannya tampak murung. Kejadian tadi bisa saja mengganggu kondisi psikis-nya dan membuatnya trauma. Jae Kyung bisa merasakan bagaimana takutnya Soo Rin karena ditawan seperti tadi.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?”

Soo Rin mendongak perlahan. “Aku tidak apa-apa. Hanya terkejut.”

Jae Kyung mengulas senyum manisnya. Ia meraih sebelah pundak Soo Rin, mengusapnya mencoba menyalurkan kenyamanan padanya. “Jangan lakukan apapun hari ini. Beristirahat bisa membantumu untuk memulihkan perasaanmu, eo?”

Soo Rin mengangguk pelan. Ikut tersenyum. “Terima kasih, Dokter Jae Kyung.”

.

Ia melangkah mendekati salah satu bilik di mana muncul seorang pria dari dalam sana. Pria itu mengulas senyum ramah seraya mendekatinya.

“Kau baik-baik saja?” Han Kyung dapat melihat gadis itu mengangguk lemah. Setidaknya ia cukup merasa lega melihat gadis itu tersenyum meski samar. Ia melanjutkan, “Dia baru saja kuobati. Kau boleh menjenguknya.”

“Terima kasih, Dokter Tan,” ucap Soo Rin. Ia melihat pria itu mengulurkan tangannya demi menepuk pundaknya perlahan sebelum melewatinya dan pergi. Memberinya kesempatan untuk memasuki bilik tersebut.

Dapat dilihat pria itu duduk di sisi tempat tidur, menyambutnya dengan seulas senyum yang meneduhkan, yang justru membuatnya semakin merasa bersalah. Apalagi ia melihat tangan kanan pria itu diperban di bagian telapaknya, berkat kejadian tadi di mana pria itu berusaha menyelamatkannya.

“Bagaimana kabarmu sekarang?” Ki Bum bertanya dengan halus. Namun yang dia dapat adalah gadis itu semakin menundukkan kepala di hadapannya. Membuatnya mengernyit akan respon gadis itu. Tangan kirinya yang tidak terluka bergerak meraih dagu gadis itu dan mengangkatnya. “Wae geurae, hm?

Pada akhirnya, Soo Rin tidak bisa membendung lebih lama lagi. Ia terisak pelan yang sukses memanaskan matanya hingga kembali berkaca-kaca. “Maafkan aku…”

Ki Bum mendengus pelan. “Kenapa kau meminta maaf?”

Dan pertanyaan Ki Bum justru mampu memancing Soo Rin untuk menangis sesenggukan. “Ini semua karenaku. Maafkan aku,” lanjutnya tersendat.

Langsung saja Ki Bum mengusap sebelah kepala Soo Rin, ia mendesis pelan bermaksud menitah Soo Rin untuk berhenti. “Aku tidak apa-apa, Soo Rin-ah. Itu memang sudah menjadi tugasku untuk melindungimu. Kau mengerti?”

“Tapi… tapi…” Soo Rin semakin menjadi begitu melihat kembali tangan kanan Ki Bum yang diperban itu. Air matanya mengalir deras akibat rasa bersalahnya. Dan ia tidak mampu berkata lagi.

Mata Ki Bum menangkap bagaimana bagian leher gadis itu diplester. Senyum teduhnya semakin mengembang kala tangan kirinya beralih menarik tubuh Soo Rin untuk mendekat.

“Kemarilah,” titahnya halus, menuntun gadisnya untuk duduk di pangkuannya hingga mampu mengurangi intensitas tangisan gadisnya. Kemudian menggerakkan kedua tangannya untuk melingkari tubuh ramping gadisnya, bersamaan dengan dirinya menyandarkan kepalanya pada pundak kecil gadisnya, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher yang dibubuhi oleh plester tersebut, lalu bergumam, “Setidaknya aku sudah mendapatkanmu kembali. Jadi, sekarang sudah baik-baik saja.”

Dan Soo Rin membenarkan ucapan Ki Bum—dengan memeluk leher pria itu, membiarkan tubuhnya beralih gemetar karena desiran halus yang menyengat berkat perilaku pria yang tengah memangkunya ini.

****

“Aaaa…”

Ki Bum mengangkat kedua alisnya, melihat bagaimana Soo Rin kini tengah menyodorkan sesendok bibimbab padanya. Dan, dia tidak berniat untuk merespon perlakuan gadis itu—untuk saat ini.

“Kim Ki Bum, buka mulutmu!” Soo Rin mulai memberengut. Tangannya yang memegang sendok tersebut berayun-ayun memberi isyarat.

Tapi Ki Bum justru menggelengkan kepala sebelum berucap, “Aku bisa makan sendiri.”

“Tidak, kau tidak bisa makan sendiri!” Soo Rin mengedikkan dagunya menunjuk tangan kanan Ki Bum. “Tanganmu terluka, sedangkan kau bukan kidal. Jadi, biarkan aku menyuapimu, eo?”

Keduanya tengah duduk santai di ruang tengah apartemen mereka. Soo Rin yang baru saja membuatkan makan malam, membawakan satu mangkuk bibimbab ke ruang tengah dan bermaksud menyuapi Ki Bum mengingat kejadian yang baru saja menimpa mereka tadi sore. Well, bukankah niat Soo Rin sangatlah baik?

“Aku masih bisa makan sendiri, Soo Rin-ah. Kita makan bersama saja di ruang makan, eo?”

Soo Rin menundukkan kepala, serta merta menurunkan mangkuk di pegangannya ke pangkuan. Wajah cantiknya berubah murung. “Setidaknya dengan begini aku bisa membalas kebaikanmu. Kau sudah menjadi seperti sekarang karenaku. Kau sudah melindungiku dan kau sudah menyelamatkanku. Aku… aku—”

Terpaksa Soo Rin menghentikan ucapannya kala merasakan tangan besar itu meraih dagunya, mengangkatnya hingga pandangannya kembali bertemu dengan manik hitam itu sebelum merasakan sengatan kejutan berupa kecupan lembut di hidung bangirnya. Membuat mata jernihnya yang meredup kembali melebar.

Arasseo. Aku akan makan dengan bantuanmu,” tukas Ki Bum pada akhirnya. Oh, dia tentunya tidak tahan melihat gadisnya terus merasa bersalah hanya karena tangannya yang terluka berkat menolongnya.

Hei, itu ‘kan sudah sewajarnya Ki Bum melakukan itu. Melindungi gadisnya dari marabahaya. Benar, bukan? Lagipula luka di tangannya itu belum seberapa dibandingkan rasa paniknya yang luar biasa karena melihat bagaimana gadisnya ini disandera seperti sore tadi.

Tapi setidaknya tindakan mengalahnya sudah bisa membuat wajah cantik di hadapannya cerah kembali. Dengan kedua pipi yang mulai bersemu merah, Ki Bum sudah dibuat terpesona dan dirundung kelegaan. Ya, setidaknya gadisnya ini sudah membaik pasca kejadian tadi.

“Aaa…”

Dan Ki Bum mengabulkannya dengan membuka mulutnya, mengizinkan Soo Rin untuk menyuapinya dengan sesendok bibimbab buatannya sendiri.

“Enak?”

Ki Bum mengangguk di tengah-tengah mengunyahnya. Ia kembali membuka mulut setelah menelannya, dan disambut antusias oleh gadisnya itu dengan kembali menyuapinya. Oh, ya ampun, bagaimana Ki Bum tidak bahagia melihat Park Soo Rin tersenyum cerah hanya karena menyuapinya? Bagaimana dia tidak merasa bangga memiliki Park Soo Rin yang penuh perhatian seperti sekarang ini? Dan bagaimana dia tidak semakin mencintai Park Soo Rin yang sudah menjadi miliknya seperti sekarang ini?

“Ah, tunggu sebentar!”

Soo Rin berlari-lari ke dalam kamar setelah menyelesaikan acara menyuapi Kim Ki Bum. Membiarkan pria itu kini meneguk minumannya serta menunggu dirinya di sana. Hingga tak lama kemudian ia kembali ke ruang tengah dan duduk di samping Ki Bum, menunjukkan sesuatu yang dia bawa dari kamar mereka sekaligus memamerkan cengiran polosnya yang sukses membuat Ki Bum mengerutkan kening.

“Untuk apa itu?” tentunya Ki Bum penasaran dengan benda yang dibawa oleh Soo Rin.

“Kemarikan tanganmu,” titah Soo Rin dengan ringannya. Ia membuka tutup spidol itu sebelum menarik perlahan tangan Ki Bum. Kemudian ia mulai membubuhi sesuatu di sana dengan spidol berwarna biru itu.

Ki Bum mulai mengerti. Mendengus geli melihat bagaimana gadisnya itu mulai serius menulis sesuatu di atas perban yang melilit telapak tangannya, dengan teliti dan hati-hati. Sesekali ia mengintip apa yang tengah ditulis oleh Soo Rin. Karena gadisnya itu berusaha menutupinya.

Cah! Sudah selesai! Hehehe.”

Menariknya demi memeriksa, Ki Bum hampir dibuat tertawa melihat apa yang sudah ditulis oleh Soo Rin di telapak tangannya.

Cepat sembuh, Ki Bum Oppa ^^

Heol, kau berani menulisnya tetapi tidak berani mengucapkannya,” cibir Ki Bum dengan bumbu menggoda. Langsung saja ia melihat semburat merah itu kembali menghiasi wajah cantik Soo Rin.

“S-setidaknya aku sudah mengutarakannya di sana,” jawab Soo Rin sedikit gugup. Ia mengalihkan pandangannya seraya menutup kembali spidolnya. Ia mendengar pria itu terkekeh pelan.

“Setidaknya aku ingin mendengarnya meski hanya sekali.”

Soo Rin menundukkan kepala, merenunginya sesaat sebelum kemudian, “Cepat sembuh, Oppa,” mengucapkannya dengan lirih. Terlampau lirih.

“Aku tidak mendengarnya.”

Bibirnya mulai mengerucut karena salah tingkah. Ugh, menyebut kata itu sangatlah sulit baginya! Tapi dengan menyebalkannya Kim Ki Bum tidak mendengarnya. Seharusnya pria itu memasang telinganya baik-baik karena Soo Rin hanya mampu mengucapkannya sekali!

Belum selesai menggerutu di dalam hati, Soo Rin harus dikejutkan dengan tangan besar itu merengkuh pinggangnya, menariknya untuk mendekat pada pria itu sekaligus mengundangnya untuk segera menoleh. Yang di saat itu juga ia menahan napas begitu pria itu menyerukkan wajahnya pada lehernya, menempelkan bibir penuhnya di atas luka goresannya yang terbalut plester, menekan hidungnya di sana sebelum kemudian menghidunya untuk beberapa saat.

“Kau juga, cepat sembuh, Chagiya.”

Jantung Soo Rin berdentum hilang kendali di dalam rongga dadanya. Mendengar gumaman halus yang sedikit teredam di ceruk lehernya—begitu berat, halus, dan dalam. Apalagi mendengar sebutan itu keluar dari mulut seorang Kim Ki Bum, mampu membuat tubuhnya berdesir-desir di dalam dekapan yang menggetarkan ini.

“Aah, aku lupa satu hal,” Ki Bum membuat jarak, menatap lekat wajah cantik di hadapannya kini yang sudah merona, senyum penuh artinya tersungging, “Bukan Chagi, melainkan… Yeobo?

Oh, bagus sekali, Kim Ki Bum. Lihatlah, wajah Soo Rin memerah seperti kepiting rebus. Sedangkan kau justru tertawa geli karena puas melihat reaksi itu.

Aigo, kenapa wajahmu menjadi seperti ini?” tanyanya seraya menangkup wajah Soo Rin, senyum gelinya terkulum sebelum ia mendaratkan kecupan lembut di sebelah pipi merona Soo Rin. Lalu kembali tersenyum melihat reaksi yang semakin menjadi itu, hingga kembali mendaratkan kecupannya di sebelah pipi yang lain.

Justru perlakuannya membuat dirinya tidak tahan sendiri berkat reaksi yang semakin dan semakin menjadi. Hingga akhirnya ia mendaratkan ciuman lembut di bibir kecil gadisnya, melumatnya penuh gemas yang sukses membuat sang empu memejamkan mata, membiarkan dirinya mengecap candunya, menguasai sekaligus mendominasi untuk beberapa saat ke depan.

Wajah Soo Rin semakin memanas begitu pria itu mengecupnya untuk yang terakhir kali sebelum melepas sepenuhnya. Membuat jarak yang saat itu juga dirinya memberanikan diri untuk membuka mata, melihat begitu tampannya pria yang ada di hadapannya saat ini, tersenyum teramat manis sampai-sampai ia hampir jatuh pingsan akibat efek radiasinya.

“Kenapa gadisku benar-benar menggemaskan, hm?” dan pertanyaan penuh menggoda dari Kim Ki Bum sukses membuat Soo Rin tidak bisa bertahan lagi.

“Hentikan…” pada akhirnya Soo Rin menjatuhkan diri ke pelukan prianya, menyembunyikan wajahnya yang sudah mendidih itu ke dalam dekapan yang langsung ia rasakan balasannya. Bagaimana dia bisa tetap tegak jika terus-terusan diserang oleh pesona prianya yang sangat kurang ajar efeknya itu?

Ya Tuhan, Soo Rin memang beruntung memiliki pria seperti Kim Ki Bum!

I’m getting turned on. Girl, you’re all the audience I need. You lead me, you trap me inside your name. Slow mo… now try to escape, try to escape me tonight. It won’t be easy. All around the world, I’m addicted to you… (Super Junior – Magic)

.

.

FIN!


Dan aku merasa iri melihat kelakuan mereka //gigitbantal// aaaaaaaargh!! >////<

Yaampun yaampun yaampuuuunn, ini gajelas banget. Idenya nongol kemarin siang dan langsung kutulis hingga jadilah seperti ini hahahah! efek dari habis nonton drama Yong Pal yaduuuuhh aku lagi tergila-gila banget sama drama itu sampe nonton lagi dan lagi asdfghjkl >,<

trus terinspirasi buat bikin cerita yang ada unsur tegang-tegangnya gitu bahahahah yah gatau sih ya yang di atas itu udah tegang atau belum. Maksa soalnya….hiks…tapi gapapa yang penting aku seneng liat kimkibum yang—mungkin karna habis kena musibah tangannya—jadi makin manis sampe akunya diabetes sendiri #duaagh

Bagi yang belum nonton Yong Pal, kudu-wajib-ain nonton (?) Drama itu kerennyaa bikin nagih sampe-sampe aku kesel liat Joo Won yang bisa bedah sana-sini karna aku ngilu sendiri liatnya bahahah tapi serius deh, jalan ceritanya yang kompleks, rumit, padat tapi cepat itu bikin kitanya kudu mikir keras. Dari situ juga aku mulai sedikit ngerti dunia kedokteran dan rumah sakit tuh kayak apa hwhw lumayan buat referensi kimkibum #ga

Yaudah, salam dari para cameo~

Dokter Tan >_<
Dokter Tan >_<
Dokter Jae Kyung ^^
Dokter Jae Kyung ^^

Mohon maaf bila masih ada typos dan… Terima kasih sudah mau mampir! ^_____^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

38 thoughts on “Save Her

  1. Tegang bgt bacanya. Untung soo rin gak kenapa-napa meski harus ki bum yg terluka sih. Tp seneng dari kejadian itu mereka jd punya moment sweet bgt. Ki bum tu emang sengaja. Udah tau soo rin kalo digoda suka salah tingkah dan memerah tp tetep aja ki bum goda dan pd akhirnya dia sendiri yg kerepotan krn gemes sendiri liat soo rin.hehr

  2. udah deg2an aja bacanya tpi untungnya kim bum cpt dteng n nolong sorin jdi sorin bs selamat wlpun sorin terluka kim bum jg terluka mlah lebih parah dri soo rin tpi untungnya ga kenapa,suka bgt ma pasangan nh sllu aja romantis.

  3. Wuaaa… Pg pg dibikin senyum aja ma kisoo couple…

    Ki bum manisnya keterlaluan mpe bikin diabetes.. . Boleh bawa pulang gk ki bum y bentar ja… Buat pemanis hidupku.. . Hahahaha

    Pokok y kali ini menu komplit judul y.. Tegang.. Trus kebayar ma sweettttt moment…. 😍😍😍😍😍

  4. Tuh kan jadi senyum2 lagi, soo rin bikin iri deh bisa diperlakuin manis sama kibum,,
    Setidaknya cerita ini bisa mengobati kegalauan aku gara-gara belom bisa buka pw two person part end, sedih deh….

  5. Wow adegan prtama udah langsung bkin greget,liat kibum panik gitu liat soo rin kok aku malah ska ya hihihihi,syukurnya soo rin gk knapa2 aduh adegan terakhir mau dong d perlakukan romantis sma kibum ngiri bner sma soo rin

  6. OMG aq iri pk bgt… XD
    mkin lma mkin so sweet ja mereka 😀
    good job author 🙂
    100 jmpol bwt qm.he3x
    dtnggu krya slnjt ny 😉

  7. Ukhuk aku diabetes masa wkwk ..
    Ki Bum nih jd dokter tapi malah bikin pasien a.k.a readers nya malah jd diabetes ?? Dokter ganteng macam apa dia ?? /macam malaikat/ /ini apa/ :’v

    Tegang nya dapet banget laahh apalagi pas matiin lampu itu aduhh dagdigdug seeerrr gitu bacanya wkwk ..

    Ciieee yang manis ciiieeee aku kalah manis wakwak xD
    Ki Bum sama Soo Rin nih bikin gemes deh ..

    1. yaampun Agniiii dirimu baru saja bikin aku mikir buat nyebut readers di sini sebagai “pasien” bahahahah XD
      ciee yang diabetes ciee //sama// #dessh T////T
      makasih banyak atuh udah mau baca hwhwhw

  8. Heoll aku iri sama sorin, knapa nasib sorin beruntung sekali..?
    Suami tampan, penuh perhatian lagi,, akhhhh aku mau suami kaya kim kibum…

    Nyak beh aku mau suami kaya kim kibun tolong belikan ya..!

    #EMANGADA..?

  9. Menegangkan banget waktu soorin disandera, untung mereka berdua ga kenapa napa, lukanya juga ga terlalu serius, so sweet bgt deh kibum nyelamatin soorin 😘😘😘
    Ditunggu ff yg sweet lainnya yaa😀😀

  10. wahhh, aku juga udah seleses nonton yong pal emang seru menegangkan

    tapi ini gak kalah menegangkan, so sweet banget kisu kisu
    bikin iri

    ditunggu cerita kisukisu selanjutnyaa, semangattt thor

  11. Itu lirik lagunya diambil pas bagiannya si monyet mesum wahahahaha.. Btw aku ingat episode Yong Pal yang ngegambarin cerita disini wkwkwk..
    Shizuka-ssi, gimana rasanya ngeliat palanya so unyuk botak sekarang?? Aku kepo sama tampangnya si ikan Mokpo dengan kepala botak wkwkwk.

    1. iyahahahahah XD tau aja //iyalah-_-// nah, nah! nonton juga ternyata wks lampu darurat warna hijau pun ngambil dari episode situ hahahah bagian itu paling rame soalnya jadi masih nancep di otak xD
      awal liat kepala Eunhyuk plontos gitu aku antara mau ketawa dan nangis.. dia tetep aja lucu dengan gaya begitu T^T sayangnya ikan mokpo cuma dicepak ya hihihi

      1. Taulah kan saya juga pendengar lagunya bapak-bapak suju wkwkwk.. Itu agak kurang greget tau pas si Nona yeong Aenya ternyata bukan orang tapi patung wkwk..
        Aku ketawa ngakak liatnya pas si unyuk botak wkwkwk yang sabar ya jewelf wks. Aku belom liat palanya donghae wkwkwk, baguslah kagak di botak. Kasian nanti fansnya ilang pas liat dia botak wkwkwk.

  12. ahh untunglah Soorin selamat dan lukanya tidak parah. kejadian di loby rumah sakit menegangkan banget >.<

    lucu deh, jelas" Soorin ga bersalah, tapi dia malah minta maaf. Kim Kibum kan suamimu tentulah di berkewajiban melindungimu Soorin *gemes sama Soorin

    hihi masih belum terbiasa manggil oppa ke Kibum. aw~aw~aw so sweet banget ini couple. kkkk

  13. kak kasih clue tambahannya dong two person part end nyaa 😦

    sampe sekarang belum nemu juga soaalnyaa, hampir putus asaa hikss hikss

    respon ya kak, makasihh

  14. aigooo, memang dasar pasangan paling so sweett~~~~~ bikin envy aja :v
    suka bangettttt deh sama kopel 1 ini, ceritanya selalu kerennnn, apalagi yg ada heroik actionnya begini >3<

  15. menegangkan, romantis, gemes, bikin ketawa gaje, pokoknya kecampur aduk bagus banget. itu scene menegangkannya terinspirasi dr yongpal ya? Pasten pas baca scenenya rada familiar hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s