Posted in Angst, Category Fiction, Chaptered, Family, KiSoo FF "Two Person", PG, Romance

Two Person – Leave

prev :: #1.Nerd and Innocent | #2.Aggressive | #3.Control | #4.Can (not) Stop | #5.Do (not) Stop | #6.Start Again, Meet Again | #7.The Real Kim Ki Bum | #8.About Park Soo Rin | #9.Missing | #10.Chance | #11.Flashback | #12.In The Other Side | #13.First Date | #14.Ki and Sang | #15.Moment of Farewell | #162saram

Genre :: School Romance, Family, Angst

Rated :: PG

Length :: Series

||KiSoo||

Recommended Songs :: VixxLR (Leo Solo) – Words to Say (할 말), Kim Sung Gyu – I Need You

Happy reading!

ㅡㅡ

When he chose to leave…

ㅡㅡ

DI sana, Ki Bum sudah membaringkan gadis itu, tangan-tangan besarnya bergerak merangkum wajah itu—merengkuh rahangnya hingga naik sekaligus mencubit hidungnya, sebelum kemudian menyalurkan udara melalui mulut ke mulut, memberikan napas buatan sebanyak mungkin. Lalu beralih menekan bagian atas perutnya berkali-kali.

“Kumohon, bernapaslah…”

Sang Bum dapat mendengar dengan jelas bahwa Ki Bum tengah memohon. Napas beratnya terengah-engah mengikuti irama tekanannya pada bagian perut gadis itu. Kemudian Ki Bum melakukannya lagi karena tidak mendapatkan tanda-tanda apapun, memberikan napas buatan lagi pada gadis itu sebelum kembali menekan bagian perutnya.

Jebal…

Sang Bum melihat lelaki itu hampir putus asa. Sudah ketiga kalinya ia memberikan napas buatan namun hasilnya tetap sama. Bahkan ia mampu mendengar lelaki itu seperti ingin menangis karena terisak tertahan.

Tubuhnya yang terasa nyeri harus merinding melihat bagaimana Kim Ki Bum panik bukan main hingga mengejutkannya dengan sebuah teriakan yang sukses menohok jantungnya.

“BANGUN, PARK SOO RIN!!!”

Dan keajaiban itu terjadi.

Gadis itu tersentak kuat dalam satu tarikan napas dalam. Mulutnya terbuka seperti meraup rakus udara di sekitarnya. Dadanya mulai naik-turun dengan cepat nan berat. Bahkan terdengar suara mengi di sela-sela bernapasnya yang cukup melegakan mereka.

Terutama Kim Ki Bum.

Lelaki itu sudah tidak bisa membendung kelegaan yang luar biasa, menarik gadis itu ke dalam kungkungannya dan mendekapnya begitu erat. Mengejutkannya lagi, lelaki itu akhirnya membebaskan isakannya keluar dari mulutnya, meski meredamnya di puncak kepala gadis itu yang sekaligus menciumnya, menangis diam-diam karena sungguh dia masih merasakan takut yang merayapi sekujur tubuhnya. Tangan-tangannya bahkan tampak gemetar meski sudah merasakan gadis ini bernapas di pelukannya.

Derap langkah terlampau cepat itu perlahan terdengar jelas di luar sana. Menggema samar-samar di sekeliling ruangan kosong tersebut. Mendekat dan semakin mendekat. Hingga akhirnya menampakkan wujudnya tepat di ambang pintu masuk. Terengah hebat di sana, menatap penuh terkejut pemandangan di hadapannya.

“Hee Chul Hyung…” gumam Sang Bum. Antara merasa heran dengan kedatangannya yang tiba-tiba, namun juga merasa lega karena datang pertolongan.

“Ki Bum-ah…” Hee Chul tidak memiliki ide, apa lagi yang harus dia ucapkan selain memanggil nama adik kandungnya itu.

Ki Bum menoleh pelan. Menunjukkan sepasang matanya yang sudah berair bahkan mengaliri isinya. Menunjukkan betapa rapuhnya lelaki itu saat ini, dengan suka cita pada Hee Chul. Dan dia tidak peduli akan apa yang ada di pikiran kakaknya mengenai betapa pengecutnya dia saat ini.

Hyung… tolong… tolong selamatkan dia… Tolong selamatkan Soo Rin…”

Ki Bum benar-benar sudah meruntuhkan tabiat kerasnya. Di depan Hee Chul… bahkan di depan Sang Bum.

Sang Bum merasa kebas melihat bagaimana Kim Ki Bum begitu takut kehilangan gadis di pelukannya. Bagaimana seorang Kim Ki Bum rela menangis meski gadis itu sudah berhasil diselamatkan. Bagaimana seorang Kim Ki Bum yang dikenal sebagai anak berandal kini berubah menjadi lelaki lemah karena mendapati gadis di pelukannya hampir pergi meninggalkannya.

Ya Tuhan, Sang Bum dapat melihat betapa berartinya gadis itu bagi seorang Kim Ki Bum.

&&&

Ji Min berlari-lari di sepanjang lorong rumah sakit. Napasnya yang sebenarnya pendek tampak memburu. Dia bahkan mengabaikan seruan Jung Soo untuk tidak berlari serta membuat kegaduhan, meninggalkan Jung Soo yang menggeleng-geleng heran di belakang sana.

Seragam sekolahnya masih menjadi kostum yang melekat di tubuhnya. Wajah menawannya tampak dipenuhi raut haru meski dihiasi dengan bulir-bulir keringat yang mulai bermunculan. Hentakan kakinya yang cepat dan keras menggema di sepanjang lorong yang dilewatinya. Tidak peduli dengan tatapan heran para penghuni rumah sakit akan kelakuan terlampau bersemangatnya itu.

Hingga mendekati sebuah pintu kamar yang dikenalinya, Ji Min mempercepat larinya, meraih gagang pintu tersebut lalu menggesernya tidak sabaran, barulah ia menghentikan larinya, berdiri tepat di ambang pintu, mengatur napasnya yang terengah-engah hebat. Dengan mata yang menyorot penuh minat pada sosok yang tengah terduduk di atas tempat tidur nyamannya, tengah ditemani oleh orang-orang yang cukup dikenalnya.

“Ji Min-ah!” Soo Rin menyambut pemuda itu penuh sumringah.  Wajah manisnya begitu cerah menandakan dirinya tampak sangat baik hari ini.

Sampai-sampai Ji Min mendesah penuh lega melihat kondisi kakaknya yang sudah membuka mata, bahkan sudah tidak mengenakan masker sungkup dan berganti dengan selang oksigen yang lebih simple.

NOONA!!!” Ji Min berhambur masuk, menghampiri kakaknya dengan kedua tangan terentang, mengancang-ancang sebelum akhirnya berhasil meraih sang kakak dan memeluknya sangat erat. Melepas rasa bahagianya yang kelewat menggelegak di pundak sang kakak. “Akhirnya Noona terbangun juga! Aku sangat merindukan Noona!” serunya seperti bocah yang tengah berbahagia setelah diberi permen.

Y-yaa, apa-apaan kau ini?!” Soo Rin merengut kesal namun juga dihiasi dengan senyum geli. Merasakan begitu eratnya Ji Min memeluknya, menunjukkan betapa senangnya Ji Min melihatnya sudah bisa duduk di tempat tidurnya. Pada akhirnya Soo Rin membalas pelukan adik bungsunya ini dengan senang hati.

“Apa Noona tahu bagaimana cemasnya aku? Aku bahkan sudah menangisi Noona karena Noona tidak kunjung bangun, tahu!”

Mwoyaa, Noona ‘kan hanya tertidur!”

“Tidur yang sangat panjang!”

“Sangat panjang, katamu? Eii, Noona hanya tertidur sehari penuh. Mungkin karena Noona sangat kelelahan kemarin. Hehehe!”

Ish!” Ji Min akhirnya melepas pelukannya, duduk di sisi tempat tidur Soo Rin, melemparkan tatapan memicing dengan wajah cemberutnya yang terlihat menggemaskan di mata Soo Rin. “Noona tidak tahu? Aku bahkan membolos sekolah kemarin hanya demi menunggu Noona terbangun!”

“Benarkah? Tetapi Noona justru tidak melihatmu kala Noona terbangun,” cibir Soo Rin dengan senyum terkulum, menggoda adiknya.

Noonaa!!” Ji Min terpancing. “Bagaimana pun aku sangat mengkhawatirkan Noona!!

Soo Rin terkikik geli. Sebelah tangannya terulur mengusap kepala Ji Min penuh gemas hingga adiknya itu mengerang tidak terima. Kemudian memamerkan cengiran polosnya untuk sang adik.

Gomawo, nae dongsaeng! Jangan mengkhawatirkan Noona lagi karena sekarang Noona sudah sehat kembali, eo?”

Ji Min mengulas senyum. Sejenak batinnya mengelak perintah tersebut karena ia ragu jika noona-nya sudah sehat sepenuhnya. Hei, Ji Min masih bisa melihat bagaimana selang oksigen itu menancap di hidung sang kakak dengan tekanan udara sedang yang menandakan bahwa napasnya masih belum bisa bekerja sendiri. Ji Min pernah merasakannya dengan tekanan udara yang sama dan itu membuat rongga hidungnya terasa sakit. Pasti noona-nya juga merasakan hal sama namun mampu disembunyikan oleh sifat periangnya. Dengan sangat baik.

Jung Soo menyusul masuk ke dalam ruangan. Senyum hangatnya mengembang melihat Soo Rin yang menyambutnya dengan mata berbinar. Sebelah tangannya yang sedari tadi menenteng sesuatu diangkatnya, menunjukkan pada Soo Rin bahwa dirinya membawa buah tangan untuk adiknya itu. Jung Soo menjemput Ji Min dari sekolahnya, kemudian membeli buah-buahan sebelum kembali ke rumah sakit. Sedangkan Soo Rin mendapatkan pengawasan dari Lee Dong Hae selama Jung Soo pergi. Sekaligus ditemani dengan dokter muda yang bekerja di sekolah Soo Rin, berkunjung menjenguknya, Goo Hye Sun.

“Apa Oppa pergi terlalu lama?”

Soo Rin menggeleng ringan akan pertanyaan Jung Soo, mengulas senyum renyahnya. “Oppa justru pergi sangat cepat. Padahal aku sedang asyik mengobrol dengan Hye Sun Saem.

Mata teduh Jung Soo memicing. “Kalian sedang tidak membicarakanku di belakangku, bukan?”

Aigo, mulai lagi percaya diri tingginya,” cibir Hye Sun ikut memicing pada Jung Soo. “Tenang saja. Selama tidak ada berita skandal mengenai dirimu di media, kami tidak akan pernah tertarik untuk membicarakanmu, ara?

Mwo? Ya, apa aku harus menjadi idol dulu supaya kau tertarik padaku?”

Hye Sun mengedikkan bahunya begitu acuh. “Menjadi setara dengan Lee Min Ho terlebih dulu, mungkin?”

Ya!

Mereka tertawa geli melihat bagaimana Jung Soo tersungut-sungut berkat ejekan Hye Sun. Wanita itu justru mengembangkan senyum simpulnya yang terlihat menyebalkan di mata Jung Soo.

“Ayolah, Hyung. Mungkin Hye Sun Noona benar-benar serius mengenai hal itu. Berusahalah sedikit! Siapa tahu saja Hye Sun Noona benar-benar akan tertarik padamu,” goda Dong Hae yang segera disusul dengan kikikan lainnya.

Jung Soo mencebik jengah.

Hyung, mungkin memang sudah waktunya Hyung untuk berkencan!” celetuk Ji Min, sedikit melenceng dari topik sampai-sampai kakak tertuanya itu memelototinya.

“Benar. Kau semakin tua saja, Hyung. Kenapa tidak kencani saja Hye Sun Noona?” Dong Hae justru menimpali.

Hye Sun mengibas-kibaskan tangan, berdecak jengah namun tetap santai. “Jangankan aku, wanita lain pun tidak ada yang menarik di matanya. Dia lebih tertarik memomongi adik-adik tercintanya ketimbang mencari pasangan. Apalagi dia memiliki adik perempuan yang butuh perhatian penuh darinya,” ujarnya seraya melirik gadis di atas tempat tidur itu.

Saem!” Soo Rin mulai salah tingkah dibuatnya. Eii, kenapa dirinya dibawa-bawa ke dalam ruang lingkup orang dewasa ini?

“Dan sangat disayangkan bahwa Park Jung Soo memang sangat perhatian pada adik perempuannya itu,” timpal Dong Hae lagi.

“Dia bahkan tidak mempercayaiku untuk menjaga Noona, hanya karena aku masih anak-anak,” sahut Ji Min berpura-pura sedih. Kepalanya mendongak ke atas, berlakon layaknya orang tengah menerawang, “Aah, padahal aku ingin sekali memiliki kakak ipar,” kemudian ia menatap hyung­-nya penuh arti, “Hyung, cepatlah menikah!”

“Kau ini!!”

Jung Soo mulai geram dibuatnya. Ia pun menerjang Ji Min dengan merangkul adik bungsunya itu, mengacak-acak rambut adiknya kelewat gemas sampai-sampai empunya mengerang kewalahan. Memancing yang lainnya untuk kembali menyemburkan tawa melihat kelakuan kakak-beradik itu. Menciptakan suasana yang semakin melegakan di dalam ruangan sana.

Apalagi Soo Rin terlihat sangat senang melihat pemandangan jenaka di depannya, begitu menghiburnya hingga melupakan rasa sesak yang sebenarnya masih sedikit mendera rongga dadanya, karena kondisi paru-parunya yang belum memulih.

****

Entah sudah yang keberapa kali Ji Min menghela napas seraya menggeleng pelan. Kakak perempuannya ini sejak tadi tidak pernah melepas ponsel pintarnya, tepat setelah Jung Soo keluar dari ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai dokter rumah sakit ini di bidang yang berbeda. Sedangkan Dong Hae tengah menangani pasien yang lainnya. Dan Hye Sun sudah pulang dari rumah sakit. Hanya menyisakan Ji Min yang kini berperan menemani Soo Rin, mengupas buah apel kesukaan noona-nya setelah baru saja ia menyuapi sang noona untuk makan sore.

Well, Soo Rin membutuhkan banyak asupan dan itu harus dituruti.

“Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?” gumam Soo Rin, terdengar menggerutu. Entah sudah berapa kali ia mengeluh dengan kalimat yang sama. Mengutak-atik ponsel pintarnya dengan kening mengerut sangat jelas.

“Mungkin dia sedang sibuk,” celetuk Ji Min pada akhirnya. Terdengar acuh tak acuh. Ia memotong buah apel tersebut kala dirinya tidak menyadari bahwa Soo Rin tengah meliriknya dengan bibir mengerucut.

Ugh… ini tidak biasanya Kim Ki Bum tidak menjawab panggilanku, bahkan pesan singkatku,” ujarnya pelan. Tanpa ia sadari telah berani menyebut nama itu di depan Ji Min.

Tangan-tangan Ji Min segera berhenti berkerja. Wajah menawannya yang masih tampak muda termangu sebelum mendengak demi menatap kakak perempuannya yang masih sibuk menekuri layar sentuh ponsel tersebut. Ternyata, hal yang sebenarnya sejak tadi sudah ia wanti-wanti memang tengah dilakukan oleh sang kakak saat ini.

“Apakah dia baik-baik saja? Dia ‘kan sedang terluka. Apa dia sudah mendapatkan pengobatan?” Soo Rin bermonolog. Kemudian sepasang mata jernihnya melebar kala otaknya menangkap sebuah spekulasi baru. “Jangan-jangan dia sedang sekarat?!”

Ji Min mendesah berat. “Noona, jangan khawatirkan hal itu. Ki Bum Hyung pasti baik-baik saja.”

Eo? Sejak kapan kau berani memanggil Kim Ki Bum seperti itu?” Soo Rin mengerjap takjub.

Sedangkan Ji Min harus berdeham salah tingkah. Ugh, dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia sudah bertemu dengan lelaki itu, bukan?

“Hanya… dia ‘kan lebih tua dariku. Memangnya Noona mau jika aku menyebutnya hanya dengan nama Kim Ki Bum?”

“Benar juga…” gumam Soo Rin mengangguk-angguk membenarkan.

Ji Min berdeham lagi. “Lagipula dia bahkan masih mampu membawa Noona kemari kemarin.”

“Benarkah? Kalau begitu, bukankah itu berarti Kim Ki Bum ada di sini?” Soo Rin mendadak antusias, menegakkan tubuhnya yang setengah berbaring. “Apa Kim Ki Bum juga dirawat di sini?”

Ji Min menelan saliva. Oh, astaga… Ji Min sudah kelepas bicara. Tidak seharusnya dia mengatakan hal itu. Aih, ini karena kegugupannya yang takut jika kakak perempuannya ini tahu, tapi justru membuatnya tidak dapat mengontrol diri.

“A-aku tidak tahu, Noona. Dia… dia menghilang begitu saja setelah mengantarkan Noona kemari,” jawabnya, tergagap.

“Tidak mungkin…” kedua bahu Soo Rin merosot lemas. Kemudian ia menyibak selimutnya, menggerakkan kedua kakinya demi turun dari tempat tidur. Serta merta membuat Ji Min beranjak dari duduk demi menghentikannya.

“Apa yang sedang Noona lakukan? Belum saatnya Noona untuk bangun!” cegah Ji Min.

“Aku harus mencari tahu di mana Kim Ki Bum. Mungkin saja dia dirawat di sini. Aku masih ingat dia babak belur sangat parah. Dia seharusnya sedang dirawat, bukan?” ujar Soo Rin, merasa yakin hingga segera saja ia menapakkan kakinya pada lantai ruangan ini. Sayangnya Soo Rin hampir jatuh berdebam karena kinerja tubuhnya masih melemah. Jika saja Ji Min tidak segera menangkap dirinya.

Noona, jangan gegabah seperti ini! Noona harus perhatikan kondisi Noona juga!” Ji Min tampak begitu cemas saat ini. Apalagi melihat gadis di pelukannya kini mulai terengah-engah mengingat kondisi paru-parunya yang belum pulih benar.

“Tapi, aku harus mengetahui kondisi Kim Ki Bum.” Soo Rin mulai menampakkan sifat keras kepalanya. “Aku akan bertanya pada Dokter Lee. Siapa tahu saja dia melihat Kim Ki Bum.”

Tidak bisa. Noona-nya tidak boleh dibiarkan begitu saja. Ji Min harus melakukan sesuatu agar Soo Rin mau kembali ke tempat tidur. “Baiklah! Biar aku yang mencari tahu keberadaan Ki Bum Hyung. Noona tunggu di sini saja, eo? Aku akan mengabari Noona nanti. Pasti!”

Soo Rin menatap adiknya cukup lekat. Melihat adanya kesungguhan di sana, akhirnya Soo Rin menyerah juga. Memilih untuk menuruti kata-kata adiknya. “Baiklah…”

.

Ji Min mulai gusar begitu keluar dari ruangan Soo Rin. Ia segera berlari ke lantai bawah. Lebih tepatnya ke dua lantai di bawah lantai tempat ruangan Soo Rin berada. Menuju kamar rawat inap lelaki itu yang masih Ji Min ingat letaknya.

Begitu sampai di sana, Ji Min harus mengatur napas terlebih dulu sebelum membuka pintu kamar tersebut. Lalu Ji Min harus dibuat bingung kala mendapati lelaki itu… sudah melepas pakaian pasiennya.

“K-Ki Bum Hyung…

Ki Bum yang sejak tadi hanya terpaku oleh ponsel pintarnya kini mendengak begitu mendengar panggilan pelan itu. Matanya mengerjap sekali sebagai bentuk responnya terhadap pemuda yang kini sudah melangkah masuk. Berdiri tepat di hadapannya yang hanya duduk termangu di salah satu sofa. Menatap penuh tanda tanya dirinya.

Ji Min melirik sejenak ponsel lelaki itu. Masih dalam keadaan menyala. Mengingatkannya akan sesuatu. “Kenapa Hyung tidak menjawab panggilan dari Soo Rin Noona?”

Ki Bum mengulas senyum. Percayalah bahwa itu bukan sebuah senyum yang pantas untuk disebut sebagai senyuman. “Jadi dia sudah tersadar… syukurlah kalau begitu.”

Ji Min mendengus jengah, sekaligus miris. “Apa itu bisa dikatakan sebagai bentuk respon yang melegakan? Soo Rin Noona sudah siuman sejak tadi malam, bahkan terus menanyakan keberadaanmu sejak dirinya tersadar!” ya, Ji Min yakin sekali bahwa noona­-nya itu pasti menanyakan lelaki ini sejak dirinya membuka mata. “Dan lagi, kenapa Hyung duduk di sini? Hyung belum sembuh total, bukan? Lihat, lebam-lebam di wajahmu bahkan belum mengering!”

“Aku akan pergi.”

Ji Min merasakan tenggorokannya tercekat. Mata sipitnya melebar karena terkejut. “A-apa? Pergi? M-maksud—mu?”

“Aku akan pergi… menjauh.”

Andwaeyo!! (Tidak boleh!)”

Ki Bum mendengus pelan, tersenyum miring. “Kenapa?”

Hyung bertanya kenapa? Bagaimana dengan Soo Rin Noona? Hyung bahkan belum menemuinya pasca Noona siuman!”

“Kau lupa dengan perkataan hyung­-mu sendiri? Aku sudah dilarang untuk menampakkan diri di hadapan noona-mu.”

Terlihat kedua bahu Ji Min mulai naik-turun kembali. Matanya berubah menyorot nyalang lelaki di hadapannya. “Lalu kau menurutinya begitu saja?”

Ki Bum sedikit tertegun mendengar bagaimana Ji Min mengubah cara bicaranya menjadi informal. Begitu juga dengan intonasinya.

“Kau lebih mengikuti perkataan Jung Soo Hyung dibandingkan keinginanmu sendiri? Kau lebih memilih untuk mundur sedangkan kau ingin sekali menemui Soo Rin Noona?”

Ji Min mengepalkan kedua tangannya. Tanpa sadar, ia sudah terpengaruh berkat kelakuan lelaki di hadapannya. Karena, Ji Min terlalu memikirkan kakak perempuannya.

“Atau sebenarnya kau tidak memiliki rasa yang sama sebagaimana Soo Rin Noona yang begitu menyukaimu? Apa kau sudah tidak peduli dengan Soo Rin Noona yang sampai sekarang menanyakan keberadaanmu? Dia bahkan lebih memikirkan dirimu dibandingkan dirinya sendiri yang sudah sangat menyedihkan saat ini. Dia lebih memikirkan wajah babak belurmu dibandingkan paru-parunya yang sudah rusak! Dan kau masih lebih memilih mengikuti Jung Soo Hyung dibandingkan Soo Rin Noona?! Sadarkah kau bahwa kau sudah menjadi pecundang saat ini!!”

Ki Bum membuang pandangannya dari tatapan Ji Min yang sudah menajam. Batinnya seperti tertohok benda keras kala mendengar bagaimana seorang Park Ji Min berteriak padanya. Mengeluarkan amarah yang hampir tidak ia bayangkan mengingat bagaimana polosnya seorang Park Ji Min.

Lagi-lagi, Ki Bum merasa betapa bodohnya dia saat ini.

Pintu kamar tersebut terbuka. Menampakkan Kim Hee Chul berdiri di ambang sana dan segera masuk dengan langkah lebarnya. Wajah menawannya tampak mengeras sekaligus menatap tajam pemuda yang berdiri di hadapan adiknya itu. Menyentuh sebelah pundak pemuda itu lalu menyentaknya cukup kasar. Dia tentunya mendengar apa yang baru saja terjadi di dalam ruangan ini.

“Jika kau hanya ingin meneriakinya, lebih baik kau keluar. Kau memang tidak ada bedanya dengan hyung­-mu itu,” tandas Hee Chul dingin penuh sarkastis. Mengusir Ji Min tanpa basa-basi lagi.

Ji Min sendiri baru menyadari perbuatannya. Dia terbawa oleh emosinya sendiri hingga tanpa kendali meneriaki lelaki yang sebaya dengan kakak perempuannya. Ji Min menarik napas dalam, menghembuskannya panjang.

“Maafkan aku. Tetapi, aku bersungguh-sungguh.” Ji Min kembali menatap lelaki itu. “Seharusnya kau melakukan sesuatu jika kau memang serius terhadap noona-ku, bukan menghindar seperti ini hanya karena hyung-ku. Jika kau memang menyerah, setidaknya katakan selamat tinggal pada noona-ku,” barulah ia beranjak dari sana. Meninggalkan mereka di dalam sana, melangkah cepat untuk kembali ke kamar noona-nya.

Ki Bum menatap kosong layar ponselnya. Ia masih melihat, layar sentuh tersebut menampilkan belasan panggilan tak terjawab dari satu nomor kontak. Dia melakukan hal sama ketika ponselnya bergetar kala nomor kontak itu memanggilnya. Menatap kosong tanpa berniat untuk menjawabnya. Atau lebih tepatnya, tidak berani untuk menjawabnya.

Pada nyatanya, Kim Ki Bum memang sudah berubah menjadi lelaki pengecut saat ini.

****

Sudah dua hari semenjak Soo Rin siuman dari masa kritisnya. Gadis itu semakin menunjukkan kepulihannya. Hasil pemeriksaan juga menunjukkan bahwa paru-paru kecilnya mulai bekerja normal seperti biasanya. Selang oksigennya sudah boleh dilepas meski ia masih harus memakainya kala hendak beristirahat. Bahkan ia sudah bisa turun dari tempat tidurnya dan diizinkan untuk menghirup udara segar di luar rumah sakit sebagai terapi paru-parunya. Meski masih menggunakan kursi roda yang tentunya harus dibimbing oleh sang wali.

Ugh, aku ‘kan bisa berjalan sendiri. Kenapa harus menaiki ini?” gerutu Soo Rin kala dituntun untuk berpindah ke kursi roda.

Jung Soo terkekeh pelan mendengarnya. “Oppa tidak yakin kau akan kuat turun ke sana,” ucapnya penuh arti. Ia dapat melihat wajah manis adiknya cemberut lucu setelahnya.

Sesuai dengan prosedur dari Lee Dong Hae, Soo Rin belum bisa berjalan banyak apalagi harus turun ke luar gedung. Meski tujuannya untuk terapi paru-paru, Soo Rin belum bisa bergerak leluasa terlebih dahulu. Mengajaknya keluar pun agar dirinya tidak bosan sekaligus merasakan udara di siang hari di musim gugur yang masih terasa hangat. Bahkan gadis itu tidak bisa sembarangan dibawa keluar. Itulah mengapa kursi roda adalah transportasi terbaik, karena juga disertakan infuse stand di belakangnya agar gadis itu tetap mendapatkan asupan cairan infuse.

Cah! Sekarang kau bisa berjalan-jalan!” ucap Jung Soo renyah. Ia melangkah ke belakang, bersiap untuk mendorong kursi roda tersebut.

Kajaa!!” seru Soo Rin penuh semangat. Ia merasa seperti anak kecil yang begitu berbahagia kala merasakan kursi didudukinya mulai melaju. Well, ternyata tidak buruk juga menaiki benda ini.

Tentunya Jung Soo merasa senang melihat bagaimana adiknya begitu bersemangat saat ini. Itulah mengapa ia merelakan waktu istirahatnya dengan menemani adiknya ini untuk berkelana mengelilingi rumah sakit ini.

.

.

Soo Rin tengah menikmati udara kebebasannya seorang diri. Taman milik rumah sakit ini begitu hijau dengan pohon-pohon tumbuh berderet menyejukkan suasana. Sayangnya Jung Soo tidak dapat berlama-lama menemaninya mengingat waktu istirahatnya yang tidak lama dan harus kembali bekerja. Sedangkan Soo Rin masih ingin menikmati kesejukan dari taman rumah sakit ini. Ji Min masih bersekolah dan baru akan berkunjung nanti sore setelah Jung Soo menjemputnya. Dan Jung Soo memilih Lee Dong Hae yang akan menjemput juga mengantar Soo Rin kembali ke kamar nanti.

Sudut mata Soo Rin menangkap pergerakan seseorang, sedang melangkah mendekat ke arahnya. Langsung saja Soo Rin menoleh sebelum akhirnya tertegun, mata jernihnya melebar sejenak sebelum kembali normal lalu mengulas senyum tipis menyambut orang itu.

“Apa kabar, Kim Sang Bum?”

Sang Bum sendiri sedikit takjup dengan sapaan bersahabat itu. Ia yang tadinya tidak yakin melangkah mendekat kini justru semakin ragu karena gadis itu sendiri. Bukankah seharusnya gadis itu mengusirnya? Tapi kenapa gadis itu justru menyambut kedatangannya seperti itu?

“Kenapa kau berdiri saja di situ?” Soo Rin mengernyit bingung sejenak. Sebelah tangannya mulai bergerak memberikan isyarat pada lelaki itu untuk mendekat lagi. “Kemari! Kebetulan sekali aku sedang kesepian dan membutuhkan teman untuk mengobrol. Hehe!”

Pada akhirnya Sang Bum melanjutkan langkah tertundanya. Membawa dirinya tepat di hadapan Soo Rin, menundukkan kepala demi melihat gadis yang kini hanya mampu terduduk di kursi roda itu. Percaya atau tidak, Sang Bum bukan merasa senang melihat gadis ini sudah membuka mata dan mengulas senyum hangat seperti saat ini. Ia justru semakin merasa bersalah karena gadis ini bahkan tidak mampu untuk berdiri dengan sendirinya.

“Maafkan aku.”

Soo Rin terpaksa melenyapkan senyumnya begitu mendengar ungkapan itu. Hanya sesaat karena ia kemudian terkekeh pelan seraya mengibaskan sebelah tangannya.

“Kenapa kau meminta maaf? Eii! Apa kau datang hanya untuk mengatakan itu, eo?” cibirnya ringan. Terdengar tidak serius.

“Kau menjadi seperti ini karena aku, kau lupa?”

Soo Rin tersenyum. Ia menggeleng pelan. “Ini bukan salahmu. Aku memang sangat lemah. Justru aku yang meminta maaf padamu. Aku pasti sudah merepotkanmu saat itu.”

Sang Bum semakin merasa bersalah saja. Gadis ini kenapa berpikir seperti itu mengenai dirinya? Apa gadis ini memang sudah lupa dengan apa yang sudah dilakukannya di malam itu?

“Mengenai kejadian itu… aku mengerti… kau melakukan itu karena kau terdesak dengan perasaanmu yang kembali datang setelah berhasil menceritakan semuanya padaku. Aku tidak menyangka bahwa kau menanggung beban seberat itu. Dan aku memaklumi. Karena aku juga pernah merasakan bagaimana sakitnya ditinggal oleh orang terkasih. Apalagi kau juga dihadapi dengan bagaimana rasanya dibenci oleh saudaramu sendiri karena sebuah kesalahpahaman. Aku mencoba untuk mengerti.”

Soo Rin menatap penuh pengertian pada lelaki di hadapannya saat ini. Senyumnya terlihat begitu manis karena begitu tulusnya dirinya saat ini.

“Aku justru mengkhawatirkanmu yang hampir dihabisi oleh Kim Ki Bum.”

Sang Bum merasakan batinnya bergemuruh saat ini juga. Mendapatkan ungkapan sekaligus senyum yang meneduhkan itu benar-benar menggerakkan hatinya. Ya Tuhan, apakah dia pantas merasakan ini setelah apa yang sudah ia perbuat terhadap gadis ini?

“Seberapa besar kau mengkhawatirkanku saat itu?”

Eung… sebesar ini?” Soo Ring merentangkan kedua tangannya. Raut wajahnya berubah polos yang seketika membuat Sang Bum tertawa meski perlahan. Dan itu memancing Soo Rin untuk ikut tertawa hingga memamerkan deretan giginya. Terlihat begitu manis di mata Sang Bum.

“Setidaknya itu belum melebihi perasaanmu terhadap Kim Ki Bum, bukan?”

Langsung saja senyum manis itu lenyap di wajah Soo Rin. Gadis itu segera menunduk bersamaan dengan kedua tangannya yang kembali ke pangkuannya. Menatap punggung tangannya yang terinfus itu. Merenung di sana.

“Aku tidak mengerti kenapa Kim Ki Bum terlihat tengah menghindariku. Dia tidak menjawab semua panggilan teleponku, membalas pesan-pesanku… bahkan, aku belum melihatnya setelah aku tersadar. Padahal aku ingin tahu keadaannya. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia sudah pulih? Dan… di mana dia sekarang?”

Sang Bum menatap nanar gadis yang tengah menunduk di hadapannya. Ia merasa sesak, menarik napas pun terasa sulit, hanya karena melihat gadis ini tampak mendung setelah dirinya berani menyebut nama Kim Ki Bum. Apalagi mendengar segala keluhan gadis ini yang menandakan tidak tahu-menahunya gadis ini mengenai kejadian kala itu.

Kejadian di mana Jung Soo yang sudah mengusir lelaki itu dari hadapan Soo Rin.

“Kim Sang Bum, apa kau tahu di mana Kim Ki Bum sekarang?”

Sang Bum menelan saliva susah payah. Ia merasa tercekat begitu Soo Rin kembali menatap dirinya. Penuh harap dan ingin tahu. Di sisi lain ia merasa tidak tega melihat gadis ini mencari keberadaan lelaki itu, tetapi di sisi lainnya lagi ia merasa batinnya berdenyut sakit mendapati kenyataan bahwa… Park Soo Rin masih menaruh perhatian penuh pada Kim Ki Bum.

Meluruhkan tubuhnya, Sang Bum berjongkok hingga kini giliran Soo Rin yang tampak lebih tinggi darinya. Membuatnya menjadi lebih leluasa mengamati wajah murung gadis itu. Sang Bum berusaha untuk tersenyum.

“Bolehkah aku bertanya satu hal padamu?”

Soo Rin mengerjap perlahan. “Apa?”

“Seburuk apapun Kim Ki Bum… apa kau akan tetap menyukainya—jika suatu saat nanti dia akan membuatmu kembali seperti ini?”

Hening segera menyelimuti mereka. Sang Bum tidak segera mendapatkan jawaban dari Soo Rin. Gadis itu tampak termangu berkat pertanyaan yang dilontarkannya. Keheningan itu bertahan sepuluh detik lamanya, yang entah mengapa terasa begitu lama bagi Sang Bum, namun cukup membuatnya mampu mengamati raut wajah yang tidak akan pernah bisa dia sentuh.

“Selama ini aku tidak pernah menyalahkan Kim Ki Bum atas jatuh sakitnya aku hingga seperti sekarang ini.”

Sang Bum tersenyum. Antara merasa lega, juga mencelos atas jawaban Soo Rin.

Bukankah jawaban gadis itu sudah sangat jelas bagi Kim Sang Bum?

****

Soo Rin duduk terdiam dengan mata mengarah pada jendela kamar perawatannya. Memandangi pemandangan luar dengan raut termangu. Ia seorang diri sekarang. Berada kembali di atas tempat tidur dengan selang oksigen yang kembali membantu pernapasannya. Sekitar sepuluh menit yang lalu Lee Dong Hae keluar dari ruangan ini setelah mengantarnya kembali kemari.

Pikirannya melayang, memutar kembali kala pertemuannya bersama Kim Sang Bum kala di taman rumah sakit tadi. Segala percakapannya dengan lelaki itu masih terngiang-ngiang di dalam kepalanya. Memancingnya untuk menghela napas panjang, entah sudah keberapa kali.

Ia merasa beruntung karena saat ini masih bisa bernapas dengan baik berkat bantuan dari selang oksigen ini. Karena selama Kim Sang Bum bercerita, ia seperti kehilangan kemampuan untuk menghirup udara seperti biasa. Bahkan membuat Dokter Lee itu sedikit mengkhawatirkannya karena melihat wajahnya kembali pucat hingga cepat-cepat membawanya kembali ke ruangan ini.

Memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, Soo Rin harus kepayahan untuk sekadar menelan saliva.

Pintu ruangan terbuka. Soo Rin menoleh dan mendapati Jung Soo ternyata mengunjunginya. Senyum manisnya coba ia kuarkan karena kakaknya itu ikut mengumbar senyum padanya. Jas putihnya masih melekat di tubuhnya. Sepertinya pria itu menemui Soo Rin di tengah-tengah pekerjaannya.

“Kenapa Oppa datang? Apakah Oppa sedang tidak sibuk?”

Jung Soo yang sudah duduk di sisi tempat tidur Soo Rin, mulai bergerak mengusap pelan kepala adik perempuannya itu. “Oppa ingin melihat keadaanmu. Kenapa? Kau merasa terganggu?”

Soo Rin menggeleng ringan. “Aniya. Hanya saja aku khawatir Oppa justru sengaja mengabaikan pekerjaan hanya untuk melihatku.”

Jung Soo terkekeh pelan. “Oppa lebih tahu kapan saja Oppa memiliki waktu luang,” ujarnya penuh yakin. Mengundang adiknya untuk tersenyum lebih lebar lagi. “Ah, bagaimana dengan jalan-jalannya tadi? Maaf, Oppa tidak dapat menemanimu lebih lama.” Jung Soo sedikit menguarkan raut menyesalnya.

Soo Rin menggeleng lagi. “Aku menikmatinya. Aku bahkan bertemu dengan temanku dan mengobrol lama dengannya.”

“Benarkah?” Jung Soo sedikit bingung. Soo Rin bertemu dengan teman? Teman sekolah? “Siapa?”

“Kim Sang Bum. Dia salah satu orang yang membawaku kemari saat aku sekarat kemarin.”

Senyum di bibir Jung Soo memudar. Raut wajahnya pun mulai berubah. Dan Soo Rin menyadari akan reaksi tersebut.

Oppa, aku tahu bahwa pastinya Oppa tidak suka jika aku berteman dengan orang seperti Kim Sang Bum. Aku mengerti bahwa niat Oppa selama ini adalah ingin memastikan bahwa diriku selalu baik-baik saja. Tapi, aku merasa nyaman bisa bertemu—bahkan berteman dengan mereka.”

“Soo Rin-ah—

“Aku yang lebih tahu bagaimana dan seperti apa kehidupan mereka sebenarnya. Mereka tidak ada bedanya dengan kita, mereka juga memiliki masa lalu yang tidak jauh berbeda seperti kita, hanya saja mereka memiliki masa lalu yang lebih kelam. Itulah mengapa mereka menjadi seperti sekarang ini.” Soo Rin menatap penuh lekat sang kakak. Melakukan jeda demi melihat ekspresi sang kakak. “Tidak seharusnya kita menjauhi mereka hanya karena tabiat buruk mereka. Aku tahu bahwa tabiat itu bisa saja membahayakanku, tetapi aku tidak menyesal bisa mengenal mereka. Terutama Kim Ki Bum…”

Jung Soo menelan saliva kepayahan. Ada rasa khawatir yang berlebihan berdatangan di dalam benaknya. Entah kenapa mendengar penjelasan Soo Rin seperti mendengar peringatan akan terbongkarnya perilaku dirinya yang sudah berbuat kasar terhadap lelaki itu. Apakah… Soo Rin memang sudah tahu? Dari lelaki bernama Kim Sang Bum itu?

Oppa…” Soo Rin memanggil dengan suara mulai mengecil. Ia merasakan kedua matanya memanas hingga perih, pandangannya mulai berkabut, dan ia merasa tercekat. “Kim Ki Bum adalah satu orang lainnya yang mengetahui kelemahanku. Selama ini dia yang bertindak cepat jika aku kambuh. Dia bahkan menyelamatkanku di saat aku kehabisan napas beberapa hari lalu. Dia juga yang membawaku kemari bersama saudaranya. Dan dia yang paling mengkhawatirkanku dibandingkan yang lainnya kala itu. Karena dia melihat sendiri bagaimana sekaratnya aku… di hadapannya…” Soo Rin menarik napas dalam-dalam. “Dia… dia tahu bagaimana caranya menjagaku dengan baik, Oppa…

Tangannya yang sudah bergetar bergerak menyentuh tangan besar Jung Soo. Menggenggamnya hingga Jung Soo terenyuh karena merasakan gemetar tangannya. Dan pria itu meneguk salivanya.

“Karena itu… tidak seharusnya Oppa menyalahkan Kim Ki Bum akan sekaratnya aku. Kejadian itu… sebenarnya tidak perlu terjadi jika saja aku tidak memiliki kelainan seperti ini. Seharusnya saat itu aku bisa melerai mereka dan mendamaikan mereka, tetapi karena kelainanku, aku justru sudah membuat mereka bersalah. Bahkan membuat Kim Ki Bum harus pergi karena takut menyakitiku lagi.”

Jung Soo mencelos melihat bagaimana mata jernih itu memerah dan menumpahkan cairannya, membasahi kedua pipi yang kemerahan itu serta membasahi selang oksigen yang melingkari wajah manis tersebut, menancap di hidung menyalurkan udara ke dalam. Setelah mengucapkan kalimat terakhir yang jelas memojokkan Jung Soo, meski dengan cara yang halus.

Oppa seharusnya menyalahkanku karena sudah merepotkan orang lain. Karena aku, Kim Ki Bum harus menanggung semua ini sendirian. Menumpuk rasa bersalah yang tidak seharusnya dia rasakan. Oppa… seharusnya memarahiku… bukan Kim Ki Bum…”

Jung Soo meraih adiknya, membawanya ke dalam pelukannya dan membiarkannya terisak di dadanya. Tempat di mana dirinya merasakan sesak luar biasa karena melihat adiknya menangisi orang lain. Dan orang lain itu adalah orang yang sudah ia usir dari kehidupan adiknya ini.

Ternyata niat baiknya yang ingin menjaga adiknya justru berbuah menjadi dirinya yang justru mengekang kebahagiaan adiknya sendiri.

Ya Tuhan, kenapa Jung Soo begitu jahat kepada adiknya ini?

“Maafkan Oppa…” dan Jung Soo harus meringis perih merasakan adiknya semakin tersedu-sedu di dalam pelukannya.

Jung Soo tidak kuasa lagi melihat adiknya seperti ini.

.

.


A/N :: MOHON DIBACA

Maaf, ternyata masih ada satu part lagi sebelum ff ini berakhir.

Tadinya mau aku gabungin, tapi setelah kukira-kira, ini kayaknya bakal panjang banget, jadinya kupotong sampai sini dulu. Setidaknya dituntaskan dulu sedih-sedihnya sebelum berlanjut ke ending heheheh

Mengenai part sebelumnya, ternyata banyak yang kesulitan sama password-nya. Sebenarnya jebakannya cuma di judul lagu, tinggal masukin judul hangul-nya aja. Sampe-sampe banyak yang ngeluh dan akunya repot sendiri. Cuma, gimana ya? Aku agak sedih juga. Kok kesannya percuma juga aku kasih clue kalo pada akhirnya banyak yang nanya password ke aku? Apa segitu susahnya ya cari password? Lalu gimana denganku yang siang-malam pusing nyari ide buat bikin cerita ini? Jujur, aku kecewa. Karena kebanyakan yang nanya tuh yang sebelumnya ga pernah ngasih feedback buat ceritaku ini. Kok kesannya mereka datang cuma pas ada maunya ya? Aku sedih, tapi ga enak hati juga kalo aku diemin. Pada akhirnya aku kasih tau juga meski kudu nahan diri.

Aku bikin clue bukan berarti aku membatasi. Aku melakukan itu supaya pembaca sedikit menghargai aku dengan ikut berusaha sebelum membaca. Pada akhirnya pembaca tetap bisa membaca ceritaku kok. Dan kalo males ngasih feedback, yaudah silahkan pergi setelah baca. Aku ngga marah soal itu, aku marah karena aku tahu kalo kebanyakan dari kalian baru hubungin aku di kala membutuhkan, begitu dapat, apa? Kalian pergi lagi. Yah bayangkan saja, perbandingan dari sekian banyak yang hubungin aku, yang ngasih feedback 1-2 orang aja, pun itu yang udah sering nongol. Ini ngga cuma di part kemarin, yang sebelum dari itu pun juga sama. Serius deh, lebih baik aku ga tau siapa aja yang jadi siders di sini ketimbang kayak gini. Jujur aku kecewa banget. Makanya aku jadi mager menyelesaikan cerita ini.

Maaf ya kalo jadi begini. Aku mau lanjutin cerita ini, tapi aku juga pengen ngeluarin unek-unekku. Pembacaku emang ngga seberapa. Ngga ada sampe 30 orang. Dan aku sadar kalo unek-unekku bisa aja bikin kalian ilfeel. Tapi mau bagaimana lagi? Aku merasa ngga dihargai. Dan itu bikin semangat menulisku turun drastis. Aku harus nyalahin siapa? Mau nyalahin pembaca, ngga bisa, kalian udah mau baca aku udah bersyukur dan berterima kasih. Tapi, kok begini jadinya? Aku mau nangis jadinya—lebay ya…tapi ini serius. Masalahnya, aku ngga cuma dihadapin sama soal ini, tapi soal lainnya yang bikin aku pusing. Tambah lagi sama ini. Bahkan temenku ada yang udah ingetin aku buat jangan terlalu tertekan. Tapi gimana supaya ngga terlalu tertekan karena akunya terlalu perasa dan terlalu memikirkan? Sampe-sampe mulai kena gejala Writer Block begini. Tapi… duh, banyak tapinya kan?

Aku ngga bermaksud minta belas kasih. Cuma minta pengertian dari para pembaca aja. Nulis cerita ini lebih sulit dibandingkan nyari password. Jadi tolong usahanya dulu. Aku ngga maksa kalian buat selalu bubuhin komentar di tiap postinganku. Aku cuma butuh kalian mau berusaha sedikit aja sebelum membaca. Ngga lebih. Daripada benar-benar kuproteksi dan aku cuma kasih akses buat kalian yang sering kasih komen aja, gimana? Apa itu ngga lebih jahat lagi? Karena aku merasa perbuatanku ini udah termasuk jelek, marah-marahin kalian. Tapi yah, gimana? Akunya jadi serba salah.

Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf atas kelakuanku ini. Aku pasti udah menyinggung perasaan kalian. Tapi kuharap kalian mengerti. Aku mau kita sama-sama bisa saling menguntungkan. Ngga hanya satu pihak aja yang merasa untung. Di sini, aku sengaja ngga proteksi karena ceritanya pendek dan malah lebih panjang unek-unekku ini. Percuma juga kalo kuproteksi, pasti banyak lagi yang gabisa buka dan semua ini bakal jadi percuma.

Untuk part terakhir nanti, doakan aja supaya aku bisa menyelesaikan dengan baik. Jikalau kalian masih mau kasih semangat, aku bakal berterima kasih sekali. ^^

Jadi, terima kasih atas perhatiannya…

Elvabari

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

32 thoughts on “Two Person – Leave

  1. haduuhhh kim kibum kenapa jadi pengecut,,, perjuangin dong soorin. Masa kalah sama jungsoo oppa.. :-(:-(.
    Keep writing eonni :-). Semangat buat part akhirny. aq tunggu karya karya nya. 🙂 🙂

  2. Perjuangan banget yah cinta mereka 😥 di part ini gw sampe ngeluarin air mata 😥 gak sabar nunggu endingnya >< Duuh pasti setiap author ada kisah begitunya kok rasanya nyesekk siih digituin tapi kita bisa buat apa ? Aku sebagai reader cuna bisa nyemangatin kamu ^^ SEMANGAT YAH BUAT KAMU BUATLAH KARYA-KARYA YANG SEMAKIN BAIK LAGI ^^ KEEP FIGHTING EOH^^

  3. 😥 … 😥 … 😥 …
    sedih kan aq bca ny 🙂
    pgn dech ikat kim kibum biar dia g prgi…

    sumpah keren bgt… bnr2 bs kbwa ma crta ny…
    Good job bwt author ny 🙂
    ttep smangat n sbar ya…
    smua pasti da hikmah ny 🙂
    keep writing ya 😉

  4. Ughhh fighting kak !! It’s okay aku juga baru bisa buka part sebelumnya jd nimbrung komen disini sekalian yaaa,,
    Haha curiga kalau kibum nya udah pergi TT Mudah”an jungsoo bakal luluh ya dengan yg dibilang soorin huhuhu

  5. nyes banget ni ati 😥 part ini nguras air mata ku thor 😥
    buat jung soo luluh thor dan ngijinin soorin ketemu ama kim ki bum ^^
    good job thor (y) faithing thor (y) 🙂

  6. Kibum, sebenarnya dia pergi kemana? kuharap dia benar-benar perkataan Ji Min. Tentang keadaan Soorin, itu memang bukan salahmu. Sudah sejak kecil Soorin mengalaminya. Hiks ㅠㅠ

    sedih pas scene Soorin dan Jungsoo. kuharap setelah ini Jungsoo ga akan melarang Kibum bertemu Soorin. aku setuju dengan perkataan Soorin setuju banget ㅠㅠ. akhh ga tau nih mau ngomong apa ㅠㅠ part ini nyesek wehhh

    Siskaaa maaf aku hanya bisa memberi kamu semangat ㅠㅠ tanpa bisa memberi solusi akan masalah kamu ㅠㅠ
    siska kau author favorit aku lho >3<

    semangat siska..
    semangat siska.. ^○^

  7. Kibum, sebenarnya dia pergi kemana? kuharap dia benar-benar mendengarkan perkataan Ji Min. Tentang keadaan Soorin, itu memang bukan salahmu. Sudah sejak kecil Soorin mengalaminya. Hiks ㅠㅠ

    sedih pas scene Soorin dan Jungsoo. kuharap setelah ini Jungsoo ga akan melarang Kibum bertemu Soorin. aku setuju dengan perkataan Soorin setuju banget ㅠㅠ. akhh ga tau nih mau ngomong apa ㅠㅠ part ini nyesek wehhh

    Siskaaa maaf aku hanya bisa memberi kamu semangat ㅠㅠ tanpa bisa memberi solusi akan masalah kamu ㅠㅠ
    siska kau author favorit aku lho >3<

    semangat siska..
    semangat siska.. ^○^

  8. Kibum, sebenarnya dia pergi kemana? kuharap dia benar-benar mendengarkan perkataan Ji Min. Tentang keadaan Soorin, itu memang bukan salahmu. Sudah sejak kecil Soorin mengalaminya. Hiks ㅠㅠ

    sedih pas scene Soorin dan Jungsoo. kuharap setelah ini Jungsoo ga akan melarang Kibum bertemu Soorin. aku setuju dengan perkataan Soorin setuju banget ㅠㅠ. akhh ga tau nih mau ngomong apa ㅠㅠ part ini nyesek wehhh

    Siskaaa maaf aku hanya bisa memberi kamu semangat ㅠㅠ tanpa bisa memberi solusi akan masalah kamu ㅠㅠ
    siska kau author favorit aku lho >3<

    semangat siska..
    semangat siska.. ^○^

  9. Kibumie ;-(,,ngilang kmn kau bang ?? Ya ampun sedih bgt liat kibum setres bgtu waktu berusaha nyelametin soorin,syukurlah soorin sdh sadar jungsoo salah paham :-(…mpe ngusir kibum pergi..

    Tu termasuk q apa yh :-D,kkkk sabar saja gk usah gmn” author diblog mnpun jg pasti kesel jd bt q sdh gk heran sh bc unek” bgtu kkkk jd menurutku lakukN saja apa yg menurutmu baik jangan mikirin orang lain ni kan hakmu ini tulisanmu dan ini kepunyaanmu jangan takut sibilang sombong pembaca yg baik tau bgmn cara menghargai karya author faforit’a 😀

  10. part ini masih bersedih-sedih ria 😥 😥 😥
    jimin kalo marah mengerikan juga ya, ki bum aja sampai shock.
    ki bum kenapa km menurut begitu saja sih biasanyakan km keras kepala. temuin soorin dan cari jalan keluar bersama-sama.
    semoga setelah soorin ngomong kaya gitu jung soo oppa merubah pikirannya dan menemui ki bum agar tidak menjauhi soorin 😀 😉 #ngarep

  11. Ki bum jngan prgi ksian soo rin nya,mudah2an aja hti jung soo lulu ya.
    Di part sblumnya aku sampe nangis skrang nangis lgi 😥
    aku jga minta maaf ya author,aku sering ngrepotin tp bner deh sblum aku mnta bntuan author aku udah nyba pwnya mngkin lgi ada gangguan & akunya yg ga sabaran jdi lngsung mnta bntuan author,skali lg maaf ya.
    Te2p smangat ya author,smoga karya2 mu mkin bgus & keren FIGHTING ^^

  12. Pas buka hot choco luv eh udh d lanjut ternyata,,,,, pas kemaren” buka ahh blm d lanjut,, untung nunggunya gk sampai lumutan kkkkk,,
    sperti biasa aku mh, klw ceritanya sedih pasti aku mewek #cengeng.
    Klw ceritanya romantis pasti senyum” sendiri kaya orang gila,,,ckck

    ki bum pergi kemna..? #celingukan

    mudah”n jung soo luluh # amin

    mudah”n yg bikin ff nya ttp semangt # aminkan chingu deull

    sabar ea,, setiap author pasti merasakan apa yg dirasakn author siska,,, teruslah keluarkan unek”mu, agar pembaca sadar,,#sadar apa..? Sadar betapa susahnya menbuat cerita,,,apalagi mencari kosa katanya, pasti author banyak mikirr,” ini jelas gk ea, atau kira” ini enak d baca gk ea sama pembaca” iya kan..?
    Hehe so tau si miun….
    Kelanjutan ff mu selalu bikin penasaran,,d tunggu ea..!
    Semangt semanget,,

  13. Iniiiii,, gak tau lagi hrs comment apa..
    Sedihnya itu bener2 bikin meneteskan air mata 😭😭😭
    Mudah2an JungSoo bakal bantuin SooRin sama KiBum balikan lagi.. Gak terima kalo pasangan ini bubar..

  14. semangat semangat semangat siska ^_^
    aku tau banget gimana perasaanmu~
    aku juga pernah merasakannya~
    makanya sekarang aku jadi males nulis~ *malah curhat*
    baiklah, keep writting siska-ssi ^-^ fighting ^v^)9

  15. pas scene akhir2 aku terharu sampe nangis, pas Soo rin bicara sama Jung soo T_T
    Ki bum oppa beneran jadi pergi hiks…hiks…hiks…perjuangan KiSoo benar2 keren..aku suka sama ini ff…romancenya ada, kasih sayang sesama saudaranya kental sekali disini ❤
    Ki bum oppa kemana, moga aja gak sad ending dan mereka cepat ketemu lagi..

    buat author yang sabar yah, moga aja mereka yg gak ninggalin jejak berubah dan berusaha menghargai semua karyamu…keep writing and fighting ❤

  16. Sebenernya baca part ini rada bingungsoalnya belum baca part sebelumnya hhe .. Tapi sangat amailt menikmati walau singkat /apa sih/

    Aku bingung mau komen apa soal ceritanya .. Aku malah mau minta maaf karna aku banyak nanya soal pw ke kakak .. Aku juga pas mau nanya malah banyak mikir takut kakak ngerasa keganggu pas aku tanya ..apalagi aku suka nanya diwaktu yang gak pas alias subuh” ..
    Maaf ya kak ..

    Tapi kakak harus tetep semangat .. Masih banyak readers yg sangat menghargai karya kakak .. Jangan putus asa atau sedih terus karna beberpa readers yg cuma dateng pas butuh aja .. Anggep aja angin kak .. Hhe
    Emang susah tapi kalo kakak cuek soal mereka yg gak ngerti mau kakak ntr juga mereka pergi sendiri diganti sama readers yg mau ngasih kritik atau saran yg bisa bikin kakak semangat lagi nulisnya hhe ..

  17. Sebelum y makasih ya authornim dah bersedia follback insta___ dan salam kenal

    Bc part ni bikin dag dig dug.. Karena ngira bakal ada yg sad ending..
    Tp pas bc message y q lebih DAG DIG DUG DUEERRR… Q mikir ‘jgn jgn kim ki bum selesai sampai disini karena author y dah patah arang… Wuahhh jgn sampai terjadi.. Udah gk bsa liat KI bareng ma SJ, masa iya harus nyusul dgn gk bc KI SI JENIUS di blog ini.. . ANDWEEEE!!! ”

    Bca tulisanmu ini bsa jd pengobat ampuh di kala mood lg down.. Itu wajar karena u bsa bikin cerita yang menarik dgn penggammbaran yg detail sehigga terasa seperti liat movie y kim ki bum secara live

    Jd cuma bsa bilang keep smile ya.. . Masalah password sebener y q gk terlalu bermasalah selama masih dikasih clue mah.. ^_itu semakin bikin sensasi pgn bc jd tinggi.. . Karena rasa penasaran y berlipat ganda sealain nebak cerita y bkl ky apa tp jg hrs nebak password y…

    Semangat ya.. . Banyak kok yg masih mau bc dan ninggalin jejak disini… Meski cm bilang semangat ky diriku ini. 🙂 😁 semangat 👌 😉 .

  18. tiap baca part two person bikin syeeeddiihh 😥 suka banget sifat soorin ❤

    Hak author memberi pswd 🙂 sebenarnya pswdny cukup mudah kl ngikutin ceritanya dari awal dan minta bantuan sm mbah gugel ttg lirik lagu 😀

    Hwaiting ^^ ( sy sll mendukung mu thor 🙂 )

  19. hueee kok aku mewek ya baca cerita di part ini..sampe bingung mau komen apa ><……
    Mianhae eonni, aku udah nyusahin gara2 banyak nanya soal password di inbox fb.. Bukan ga maksud ga mau nyari, tapi cuma mau mastiin aja kalo perkiraan aku bener hehe..
    Aku pasti usahakan selalu komen di tiap ff eonni. kalopun belum komen abis bacaa, pasti bakalan nyusul komenannya. Abis ffnya keren eonni, jadi banyak yg bisa dijadiin komenan haha.. Jangan lupa tag aku di next chap ataupun next ff ya eon ^^ *delvinia*

  20. Kibum, kau dimana? Masa iya kamu prg gitu aja? Sedih banget ih.. Air mata udh mau tumpah pas scene soorin sama oppanya. Berharap stlh ini jung soo bisa luluh. Kasian kisu TT,TT

  21. Buat awal part ini, jujur, aku nebak buat part sebelumnya.

    Entah karena aku kelewat bodoh atau begimana, aku udah coba masukin PW yang emang menurutku benar-nyatanya enggak.

    Aku udah coba searching, tapi entah kenapa ga nemu.
    Aku tanya ke kakak, juga ga nemu.
    Aku sampai tanya ke temenku-yang VIP, juga PW nya ga cocok.

    Yah udah, aku nyerah.
    Dan, ma’af kak, bukannya aku ga berusaha sebelumnya buat nyari, aku tanya karena aku udah t’lanjur nyerah. Otakku lambat menerima-mungkin.

    Jadi maaf, kalau aku ga kasih komentar di part sebelumnya T.T .

    Dan, mungkin kakak kecewa lihat readers yang kayak aku-yang hanya bisa b’tanya, tapi bukan maksud ‘apa-apa’, aku hanya pengen baca cerita kakak, tapi sayang aku tak mampu menebak.

    Yauwes, aku nge-bahas cerita ini ajalah.
    Kim Kibum, kamu kemana ?
    Ngilang kok ga kasih kabar ke Soo Rin ?-nah, lo.

    Jimin bijak juga ternyata, ga heran dah. Abang Jung Soo si bijak, gimana ga ketularan, haha.
    Btw, disini keliatan nih kalau Chimchim sayang beud sama kakak’e Soo Rin xD.
    Jadi pengen punya saudara kayak Chimchim xD.

    Heechul, nih orang muncul jarang, tapi omongannya eiy. Pedas!!!.
    Kurang apa coba ?!

    Jung Soo ?? Ngalah, bang! Ngalah!! Ki Bum perfect, juga! Ga perlu nge halangin hubungan mereka-lah, haha.
    Cari pendamping, gih. Hehe.

    Donghae!!!! Aku padamu xD.

    Btw, abang ane, Yesung ga datang nge jenguk Soorin yah ? Haha.

    Part terakhir, kan yah ???
    Semangat dah buat kakak ^-^
    Maaf sekali lagi, kak. Aku bener-bener ga maksud buat kakak kecewa. Sungguh.

    Makasih buat nge hadirin cerita ini. Keep Writing, Boss ^^

    Nb. Kalau ada kata yang ga jelas, bisa kontak saya. Hehe….

  22. eonni,, aq gak bisa ngoment apa apa buat ceritanya..
    pokoknya daebbakk daebbakk jinjja daebbak..
    eonn,, buat pw terakhir aq gak bisa pecahin.. 😦 😦
    tolongg,, kasih tahuu. Hehehe..
    eonn pleasse 🙂

  23. Yaalloh sampe nangis pas Soo Rin bela Ki Bum dihadapan Jung Soo Oppa T.T cewek polos dan lugu bisa seDewasa gitu pemikirannya , Ki Bum punya niat baik gak mau nyakitin Soo Rin tapi kalo dia mau ninggalin Soo Rin itu lebih menyakitkan apa Ki Bum gak tau ya T.T , Ayolah Jung Soo Oppa restui mereka kasian kan mereka tersiksa T.T , Sang Bum gak punya pasangan sini biar sama aku aja aku gak bakalan nyakitin kamu Sang Bum :* , Cinta cewek polos ternyata tulus banget Ki Bum beruntung aned 😀

    tadinya aku mau minta pw 14-15 sama Eonni berhubung gak sabar nunggu aku tapa sambil bayangin Cho Ky dan untungnya ketemu tuh Pw 😀 , Eonni maaf kalo aku punya kata”yang menyinggung atau Komentan aku nyepam , FF keren banget pertama tau FF Eonni dari FF Sunbae keren banget bikin baper (?) *Kepanjangan:D

  24. Keluarga park sangat hangat, apalagi waktu jimin menggoda jungsoo untuk cepat menikah. Kenapa kibum menjauh? Alasan jungsoo membenci kibum juga kurang diterima. Apakah jungsoo akan menerima kibum setelah mendengar perkataan soorin?

  25. lega karena Soorin akhirnya sadar.
    Tapi pas baca bagian waktu Soorin ngebelain Kibum dihadapan Jungsoo, nggak kerasa air mata meleleh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s