Posted in Category Fiction, Fantasy, Fiction, G, One Shot, Slice of Life, Special Fanfics

Time We Were Met

twwm

Genre :: (Absurd) FantasyLife

Rated :: General

Length :: One Shot

||for Ye Sung||

inspired by. Oh My Ghost (Drama), The Master’s Sun (Drama), and a fanfiction

Happy reading!

ㅡㅡ

“Mereka mengatakan bahwa aku mengalami koma selama empat puluh sembilan hari akibat kecelakaan tragis yang menimpaku. Aku hampir tidak mengenali orang-orang di sekelilingku, bahkan diriku sendiri. Aku bahkan hampir dibuat gila karena setiap aku memandang seseorang, aku melihat hal yang seharusnya tidak kulihat. Aku… dapat melihat benang merah…”—Kim Jong Woon

SLAP

Pria itu melemparkan tumpukan kertas yang sedari tadi dipegangnya ke atas meja, melepas kacamata yang sedari tadi bertengger di hidungnya lalu memijat keningnya yang terasa berdenyut sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran singgasana yang didudukinya. Memejamkan mata. Merasa lelah sekaligus mengantuk. Ya, pagi-pagi sekali dia harus pergi ke Busan untuk menemui client, lalu kembali ke perusahaan untuk melaksanakan rapat. Kemudian mengurung diri di ruang kerjanya demi berkutat dengan berbagai laporan mengenai proyeknya yang harus diperiksa dan diteliti―hingga menjelang sore ini.

Pria itu memutar singgasananya hingga menghadap pada jendela besar yang berdiri di sisi kanan meja kerjanya, yang menampakkan pemandangan kota tempat ia tinggali sekarang. Gedung-gedung mewah nan megah berdiri menghiasi kota metropolitan ini. Tidak kalah jauh dengan gedung miliknya ini. Tempat perusahaannya berdiri dan juga beroperasi hingga detik ini. Perusahaan yang diwariskan dari sang ayah semenjak beliau menghembuskan napas terakhir. Satu tahun lalu.

Mengingat akan hal itu, pria itu menoleh ke arah meja kerjanya. Menatap sebingkai foto yang menghiasi meja kerjanya. Diraihnya bingkai foto itu agar dirinya dapat memandang lebih dekat. Foto dirinya bersama sosok pria paruh baya yang merangkul bangga dirinya. Dia masih sangat ingat bahwa momen ini diabadikan kala dirinya lulus Program Sarjana dan mendapat cum laude. Pria itu tersenyum sendu.

“Aku merindukanmu, Ayah…”

BAM

Pintu ruangan tiba-tiba menjeblak terbuka. Menampakkan seorang pria berparas penuh pesona tengah mengumbar senyum lebar hingga mempertegas ketampanannya. Merentangkan kedua tangannya penuh percaya diri seraya berhambur masuk.

Hyuuuuuuung!!

“Astaga…” pria bermata sipit itu berdesis menahan rasa jengkelnya. Sebelah tangannya bergerak mengelus dada demi meredakan jantungnya yang terasa baru saja melompat akibat kejutan dari pria tak tahu sopan santun yang sudah berdiri di depan meja kebesarannya. “Kau ingin aku terkena serangan jantung, huh? Ketuk pintu terlebih dahulu!”

Pria berambut coklat legam itu memamerkan cengiran andalannya lebar-lebar. “Aku merindukanmu, Hyung!

“Kita baru bertemu kemarin! Jangan berlebihan!”

Wajah tampan itu perlahan berubah sendu, bibirnya yang tipis itu segera melengkung ke bawah bersamaan dengan matanya yang mulai meredup. Kedua bahu lebarnya mengendur bersamaan dengan kepala tertunduk. “Aku merindukan Jong Woon Hyung, tetapi Jong Woon Hyung tidak merindukanku. Apakah seperti ini yang namanya bertepuk sebelah tangan? Sungguh, ini begitu menyakitkan…”

Mulai lagi, batin Jong Woon mendumal seraya memutar bola matanya. “Berhenti membuat drama, Lee Dong Hae. Itu menggelikan!”

Pria bernama Lee Dong Hae itu akhirnya tertawa. Dia begitu senang menggoda pria yang dua tahun lebih tua darinya itu dengan kemampuan aktingnya dan kata-kata yang terdengar over. Karena pria itu pasti akan bergidik ngeri dan memilih untuk mengalah.

“Ada apa datang kemari?” ya, Dong Hae memang ada benarnya. Karena pada akhirnya Jong Woon memberikan perhatian padanya. Pria bermata sipit itu tampak meletakkan bingkai foto yang sempat dipegangnya itu ke tempat semula. Menatapnya sekali lagi dengan keteduhan sejenak sebelum melempar tatapan datar pada Dong Hae.

Dong Hae mendudukkan diri di hadapan Jong Woon. Matanya tampak berbinar-binar begitu juga dengan senyumnya yang begitu lepas dan menyiratkan begitu bahagianya dia. Jika saat ini ada satu saja perempuan berada di sekitar mereka, dia pasti akan histeris melihat begitu tampannya seorang Lee Dong Hae saat ini. “I got her, Hyung!

Jong Woon mengangkat kedua alisnya. Sedikit menangkap arah pembicaraan Dong Hae. “Jessica?”

Yup!” Dong Hae tampak sumringah begitu mendengar sebuah nama keluar dari mulut Jong Woon. “Dia menerimaku kemarin malam! Ah, kau tahu, Hyung? Aku mengungkapkan perasaanku padanya kala melaksanakan makan malam bersama. Aku memberikan sebuket bunga mawar padanya dan dia menerimaku! Aah, aku sangat bahagia jika mengingatnya!”

Jong Woon hanya mengangguk-angguk mendengarkan. Sudah tidak terkejut lagi jika Dong Hae kembali mendapatkan seorang gadis. Sebelumnya Dong Hae memang sudah menceritakan pada Jong Woon bahwa dia mengincar gadis cantik asal Amerika namun berwajah oriental bernama Jessica itu—sejak pria itu memutuskan kekasih terakhirnya beberapa bulan lalu. Oh, Jong Woon bahkan sudah tidak terkejut lagi jika Dong Hae mampu memikat gadis lagi dengan pesonanya yang terlampau menyilaukan itu. Jangankan gadis yang diincarnya, gadis-gadis yang hanya sekedar melihatnya di jalan pun sudah histeris berkat pesonanya. Hanya saja Jong Woon memberikan respon seperti sekarang ini karena dia tahu bahwa pria yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya itu tidak akan mendengarnya jika dia mulai memberi nasihat.

Jong Woon memilih untuk membiarkan waktu saja yang menasihati Dong Hae.

Hyung, kenapa tidak berkomentar?” Dong Hae mulai dibuat bingung kareng Jong Woon tidak bersuara lagi setelah dirinya bercerita.

“Memangnya kau ingin aku berkomentar seperti apa?” Jong Woon mendadak polos.

Aih, Hyuuuung!! Setidaknya ucapkan selamat padaku! Atau tidak, beri aku pujian karena sudah mendapatkan gadis yang sangat cantik—atau apalah! Jangan diam sajaaa!” sedangkan Dong Hae mendadak merajuk. Sudah tidak terlihat lagi wajah tampannya, hanya ada wajah cemberut yang sangat mirip seperti bocah usia 5 tahun yang tidak mendapatkan permen.

“Baiklah. Selamat kalau begitu,” ucap Jong Woon acuh tak acuh. Ia beralih mematikan laptopnya, membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja kerjanya lalu melipat laptopnya yang sudah turned off. Kemudian bangkit dari singgasana.

“Hanya itu?” Dong Hae melongo bodoh. Matanya mengikuti gerak-gerik Jong Woon yang melangkah melewatinya begitu saja. Memancingnya untuk segera bangkit dan mulai mengikuti ke mana pria itu pergi. “Hyung, eodi gaaa? (mau pergi ke mana?)”

“Makan siang.” Jong Woon menjawab singkat.

“Ini sudah sore, Hyung!” Dong Hae agak jengah mendengar jawaban pria itu. “Kalau begitu ayo kita makan di luar! Aku akan menraktirmu! Anggap saja sebagai perayaan keberhasilanku, Hyung!”

Jong Woon hanya bergumam sebagai jawabannya. Ia tidak menghiraukan Dong Hae yang sudah mengekorinya keluar dari ruangan. Lalu melangkah di sampingnya begitu melewati meja sekretaris. Ia melihat sekretarisnya berdiri menyambutnya, memberikan bungkukan hormat seraya melempar senyum ramah.

Langkahnya langsung terhenti kala matanya menangkap sesuatu. Mengerjap sekali dengan cepat demi memastikan bahwa dia memang tidak salah. Sebenarnya Jong Woon sudah beberapa kali melihat ini. Karena setiap kali melihat sekretarisnya, dia akan melihat sesuatu berpendar seperti kilauan cahaya yang berasal dari jari kelingking sekretaris bernama Kim Jae Kyung itu. Seperti seutas benang yang melilit dan menjuntai ke bawah hingga menyentuh lantai, menjalar sebagaimana dengan mata Jong Woon yang merambat mengikuti kilauan halus itu. Samar-samar dan tembus pandang. Dan Jong Woon harus mendesah panjang karena melihat ujung dari benang merah itu berada sekaligus melilit di jari kelingking pria bernama Lee Dong Hae.

Itulah mengapa Jong Woon tidak begitu tertarik dengan cerita Dong Hae karena dia akan melihat hal tersebut sebagai jawaban yang akan sulit untuk dijelaskan. Karena hanya dia yang mampu melihatnya.

“Ada apa, Hyung?” Dong Hae membuyarkan lamunan Jong Woon. Dia sudah berada di ambang pintu ruangan penerimaan tamu itu kala baru menyadari bahwa Jong Woon ternyata berhenti di sana.

Jong Woon menggeleng cepat. Mencoba untuk mengabaikan apa yang baru saja dilihatnya dan beralih, “Kim Jae Kyung, istirahatlah. Kau sudah bekerja keras hari ini,” titahnya.

Ye, Sajangnim,” Jae Kyung membungkuk santun. Sedikit bingung dengan perintah atasannya yang tergolong informal.

“Dong Hae-ya.

Mwoya, Hyung?” Dong Hae mulai bosan berdiri terus di ambang pintu sedangkan Jong Woon tidak juga beranjak.

“Hanya—” Jong Woon membuka langkah. Dengan sedikit nyaring ia melanjutkan, “aku berfirasat bahwa kau tidak akan bertahan lama dengan gadis bernama Jessica itu,” sambil melengos melewati Dong Hae begitu saja.

“APA?!” Dong Hae hampir berteriak. Dia menoleh ke belakang sejenak, menoleh pada Jae Kyung yang masih berdiri kaku di tempat. Entah apa tujuannya melakukan itu sebelum berlari menyusul Jong Woon. Mungkin sedikit merasa malu karena sekretaris itu pasti mendengar ocehan Jong Woon baru saja. “Ya, Hyung! Kenapa berkata seperti itu? Apa Hyung iri karena aku mendapatkan gadis terlampau cantik seperti Jessica?”

“Tidak. Aku hanya mengatakan apa yang menurutku itu akan terjadi.”

“Oh, ayolah, Hyung bukan peramal jadi bisakah tidak mendoakanku seperti itu?”

“Aku tidak mendoakanmu. Hanya mengutarakan firasatku.”

Hyuuung! Bisakah firasatmu tidak seburuk itu? Hyung! Hyuuuuungg!!

.

Itu terjadi sejak Jong Woon terbangun dari koma. Kecelakaan beruntun yang menimpa dirinya bersama ayahnya satu tahun lalu telah merenggut nyawa orang terkasihnya, tepat kala mereka dalam perjalanan pulang setelah perayaan kelulusannya. Ayahnya tidak terselamatkan bersama sang supir yang membawa mobil yang mereka tumpangi, sedangkan Jong Woon yang hampir tak tertolong harus tertidur panjang selama 49 hari.

Dia hampir tidak ingat apa yang sudah terjadi. Sampai-sampai ia disadarkan keberadaan ayahnya yang sudah tinggal nama. Dia bahkan tidak dapat menghadiri upacara pemakaman sang ayah, mengantar sang ayah ke tempat peristirahatan terakhir pun tidak karena dia masih terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Dia merasa hampa dan hancur. Mengingat selama hidupnya hanya memiliki sosok ayah yang menemani, kini dia harus mengikhlaskan ayahnya pergi ke pangkuan Sang Pencipta. Menyusul sang ibu yang sudah lebih dulu berpulang tepat setelah melahirkannya ke dunia 32 tahun lalu.

Terlepas dari dirinya yang menjadi ahli waris hingga kini dia berada di posisi pemimpin perusahaan menggantikan sang ayah, Jong Woon merasa sebatang kara. Terlepas dari para pelayan yang selalu menyambutnya pulang ke rumah dan melayaninya, maupun asisten sang ayah yang kini menjadi asistennya, Jong Woon tetap merasa dirinya sebatang kara. Dia sudah tidak memiliki teman berbagi, tidak lagi merasakan kasih sayang yang begitu menghangatkan dan menentramkan, kini hanyalah kehampaan yang begitu menggigil hingga mendinginkan jiwanya sampai sekarang.

Meski pun begitu, dia masih memiliki Lee Dong Hae. Pria yang selalu mengikutinya sejak masih duduk di bangku kuliah. Junior satu-satunya yang berani bersikap santai padanya, sok akrab padanya, terus terbawa hingga sekarang. Meski disibukkan dengan kuliahnya yang sebentar lagi rampung, Dong Hae selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengannya. Seperti yang baru saja terjadi. Menjadi teman bicara meski Dong Hae yang lebih banyak bicara. Menjadi teman yang selalu memerhatikannya. Dan menjadi teman yang peduli padanya. Dialah yang selalu menemani Jong Woon, dialah yang selalu menjenguk Jong Woon kala masih dirawat di rumah sakit. Itulah mengapa, Jong Woon merasa nyaman memiliki teman yang lebih mirip seperti seorang adik mengintili kakaknya.

Namun, ada yang membuat Jong Woon merasa aneh sejak kesadarannya dari koma. Dia mampu melihat apa yang tidak pernah dilihat olehnya selama ini. Bahkan dipastikan bahwa tidak semua manusia dapat melihatnya. Jong Woon seperti memiliki kemampuan magis. Dia mampu melihat benang merah yang melilit di jari kelingking seseorang yang ditemuinya. Awalnya dia mengira bahwa orang-orang di sekitarnya sedang kurang kerjaan karena melilitkan benang merah di jari kelingking, membiarkannya menjuntai memenuhi tempat mereka berpijak dan menyambungkannya ke jari kelingking orang lain. Tetapi Jong Woon mulai menyadari bahwa itu bukanlah kegiatan kurang kerjaan.

Pernah Jong Woon melihat seorang perawat datang untuk memeriksa. Dia melihat jari kelingking perawat itu terlilit benang merah yang terulur sangat panjang hingga keluar dari jendela kamar inapnya. Begitu Jong Woon periksa, benang merah itu berujung pada jari kelingking seorang dokter yang tengah bercengkerama dengan pasiennya di taman rumah sakit di bawah sana.

Atau, Jong Woon pernah melihat kala dirinya tengah berjalan santai di taman dekat rumah kala masa pemulihan. Sepasang kekasih yang tengah bercengkerama di salah satu bangku taman sambil berpelukan ternyata bukanlah pasangan yang akan berujung bahagia. Karena Jong Woon tidak sengaja melihat jari kelingking mereka tidak terlilit benang merah yang sama. Sungguh malang bagi mereka, menurut Jong Woon.

Jong Woon menyadari sepenuhnya bahwa apa yang dia lihat merupakan kelebihannya dalam melihat pasangan hidup setiap orang. Jong Woon akan melihatnya jika dia terlalu lama memerhatikan orang tersebut. Bukanlah hal yang mengejutkan baginya lagi jika melihat satu benang utuh seperti tergeletak bak tak tergulung di lantai jika ada dua insan berada dalam satu ruangan, menandakan bahwa kelak mereka akan menjadi pasangan hidup meski saat ini mereka seperti tidak saling mengenal. Sebagaimana dengan yang Jong Woon lihat di ruangan tadi. Di mana dia melihat hal yang sama pada Lee Dong Hae dan sekretarisnya—Kim Jae Kyung. Jong Woon sudah melihatnya beberapa kali tiap Dong Hae datang menemuinya. Dan Jong Woon memang tidak salah jika mengatakan bahwa Dong Hae tidak akan bertahan lama bersama gadis bernama Jessica itu.

Hanya saja, satu yang tidak dimengerti oleh Jong Woon…

Jong Woon tidak bisa melihat benang merah miliknya sendiri.

Entah sudah berapa kali Jong Woon mengamati kedua tangannya—lebih tepatnya kedua jari kelingkingnya, namun dia tidak melihat benang merah melilit di sana. Berkat kemampuan aneh yang dimiliki, Jong Woon menjadi penasaran dengan benang merah miliknya. Tetapi, dia benar-benar tidak menemukan tanda-tandanya.

“Mereka mengatakan bahwa aku mengalami koma selama empat puluh sembilan hari akibat kecelakaan tragis yang menimpaku. Kondisi fisikku mengalami penurunan begitu aku kembali sadar. Bahkan, sejak aku kembali membuka mata di hari itu, aku melihat hal yang tidak pernah kuinginkan untuk bisa dilihat oleh kedua mataku. Aku… dapat melihat hantu…”—Min Hyo Sun

Ya, Min Hyo Sun!!!”

Gadis itu tersentak kaget dan mulai panik begitu menyadari kesalahannya. Batinnya mendumal penuh serapah akan apa yang sudah ia lakukan baru saja. Lagi-lagi dia hilang kesadaran dan menjatuhkan piring dari pegangannya hingga pecah. Sukses membuat kedua matanya melek lebar-lebar.

“Astaga! Kenapa kau senang sekali tidur di tengah-tengah kegiatanmu, huh?! Lihat perbuatanmu! Sudah berapa piring yang kau pecahkan akibat keteledoranmu, Min Hyo Sun!!”

J-jwaeseonghamnida… (maafkan saya…)”

Haishi! Selalu itu yang kau ucapkan. Apa hanya itu yang bisa kau ucapkan, huh? Apa dengan meminta maafmu maka piring-piring itu akan kembali utuh? Ya! Apa kau tidak pernah tidur di malam hari sampai-sampai harus tidur di situasi seperti ini, hah?!”

Jwaeseonghamnida…” Hyo Sun menunduk sangat dalam. Kedua tangannya meremas kuat ujung seragam kerjanya, mencari kekuatan di sana. Sudah berkali-kali dia mendapatkan teguran keras seperti ini karena kecerobohannya yang terus diulangi. Hyo Sun tidak pernah ada niatan untuk melakukannya. Hanya saja, ada alasan mengapa dirinya menjadi seperti ini.

Ya, angkat kepalamu!”

Hyo Sun baru saja mengangkat kepalanya kala dirinya memilih untuk menunduk lagi. Jantungnya berdegup kencang kala melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat. Bukan, bukan karena seniornya yang tengah memarahinya tepat di depannya. Melainkan karena sosok makhluk yang berdiri melayang di belakang seniornya itu, dengan mata yang melotot dihiasi lingkaran hitam yang terlalu tebal—mengeluarkan cairan merah, mengaliri wajah pucat membirunya yang penuh luka sayatan di sana-sini bahkan hampir rusak, menyeringai lebar seolah tengah menertawakannya, ditambah dengan rambut panjangnya yang gembel sekaligus pakaian compang-camping, menambah intensitas keseramannya di mata Hyo Sun.

Ya Tuhan, Hyo Sun melihat hantu!

Senior bernama Shin Dong Hee itu berdecak keras melihat Hyo Sun tidak menuruti kata-katanya. Tangan besarnya yang berisi itu mulai ikut andil demi menoyor kening gadis itu, memaksanya untuk mendongak agar wajahnya terlihat. Sebenarnya, pria yang akrab dipanggil Shin Dong ini sedikit prihatin melihat kondisi wajah Hyo Sun yang sedikit mengenaskan. Lingkaran hitam di sekitar mata sekaligus wajah manisnya yang setiap hari tampak pucat itu sedikit membuatnya tidak tega. Tapi mau bagaimana lagi? Dia harus profesional karena ini adalah daerah teritori-nya, ini adalah dapurnya.

“Basuh wajahmu itu! Astaga, kau terlihat lebih menyeramkan dibandingkan hantu!” gerutu Shin Dong.

Ne, Sunbae-nim… jwaeseonghamnida…” Hyo Sun membungkuk sekali lagi sebelum berbalik. Melangkah menuju toilet dengan kepala tertunduk.

“Astaga, Hyung… kenapa kejam sekali pada Min Hyo Sun?” seorang pria yang tampak lebih muda dari Shin Dong menghampiri. Wajah menawannya merengut tidak suka kala menatap Shin Dong yang kini berdecak malas.

“Kau seperti sedang melakukan kekerasan secara mental, Hyung. Lihat saja wajah Min Hyo Sun tadi. Sungguh menyedihkan. Hyung tega sekali” satu lagi pria berparas lebih muda dan yang paling muda di antara mereka, menggeleng prihatin sekaligus penuh hakim pada Shin Dong.

Yaa, aku hanya melakukan apa yang sudah semestinya berlaku di dapur kita! Lihat dia, masih saja mengulangi kesalahan yang sama. Bagaimana bisa dia tertidur di tengah-tengah kesibukannya itu bahkan sampai memecahkan piring? Sudah berapa banyak piring yang dia pecahkan itu? Ough, jika aku bisa lebih kejam lagi, aku sudah memotong gajinya sebagai bentuk ganti rugi piring-piring itu!” cerocos Shin Dong penuh kekesalan. Wajah tembamnya tertekuk masam karena saking kesalnya.

Aigoo, Hyung… ingatlah bahwa Hyung bukan orang yang menggajinya!” nasihat pria berparas menawan itu, bernama Kim Ryeo Wook.

Hyung, Hyung…” decak pria bernama Henry Lau—si pemuda paling muda di antara mereka, “Sudahlah, Hyung. Kasihan Min Hyo Sun. Dia hidup sendirian sekarang. Tidak seharusnya kita menambah beban padanya dengan memarahinya setiap hari. Mungkin saja dia seperti itu karena dia kesepian hingga kesulitan untuk tidur nyenyak,” tuturnya seraya menggeleng prihatin, “Kudengar, dia pernah mengalami kecelakaan hebat hingga jatuh koma. Akibat dari kecelakaan itu, dia kehilangan keluarganya dan hanya dia yang selamat meski sekarat.”

Mendengar cerita Henry, keduanya menunduk termenung. Rasa simpati mulai bermunculan di benak mereka. Membayangkan bagaimana nasib gadis itu sekarang cukup membuat mereka merasa ngilu. Henry ada benarnya. Membentak gadis itu hanya akan menciptakan tekanan baru bagi gadis itu sendiri. Meski mereka harus profesional di dapur, mereka juga harus memerhatikan rekan kerja mereka, dan memberikan sedikit pengertian.

“Apa yang sedang kalian lakukan di sana?”

Ketiganya segera menoleh mendapati seorang pria baru saja masuk ke dapur seraya berkacak pinggang, melempar tatapan tajam sekaligus raut peringatan.

“Ini masih waktu kerja. Bergosipnya nanti saja! Lihat ini, pesanan para pelanggan sudah menumpuk. Cepat memasak!” seru pria bernama Lee Sung Min itu dengan tegas. Ia menunjuk-tunjuk kumpulan kertas pesanan yang menggantung mengantri di dekat dapur.

Ne!” dan mereka segera berpencar kembali ke tugas masing-masing.

.

Hyo Sun membasuh wajahnya di dalam toilet—berkali-kali. Ia sedikit mengangkat tubuhnya yang membungkuk dalam mendekat wastafel, mengusap wajahnya yang basah sebelum menghela napas panjang, membiarkan keran di hadapannya mengaliri air bersih tanpa ia sentuh kembali.

Ia menghela napas panjang, mulai tenggelam ke dalam renungannya yang tercipta. Matanya yang sayu semakin meredup kala kepalanya penuh dengan bayang-bayang masa lalu. Menimbulkan gejolak yang begitu perih di dalam benaknya hingga memanaskan mata sekaligus tenggorokannya serasa tercekat. Sudah hampir setahun ini dia hidup sendirian. Menghidupi diri dengan membanting tulang tanpa ada yang menemani. Tak ayal jika setiap hari dia merasakan kehampaan yang begitu menyiksa.

Dia merindukan keluarganya. Merindukan ayah dan ibunya yang sudah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta… sejak kecelakaan beruntun yang menimpa di tahun lalu.

Eomma, Appa… aku merindukan kalian…” lirihnya. Kedua tangannya bergerak menangkup seluruh wajahnya, mencoba meredam isakannya yang mulai keluar. Dia tidak boleh seperti ini. Jika ibu dan ayah melihatnya seperti ini, mereka pasti akan khawatir.

Ya… Hyo Sun tidak boleh berlarut-larut sedih. Itulah mengapa ia kembali membasuh wajahnya, lalu mematut dirinya pada cermin di hadapan yang memperlihatkan wujudnya yang tampak tirus, sekaligus menghembuskan napas panjang. Menguatkan dirinya kembali. Barulah ia mematikan keran airnya.

Hanya saja, tubuhnya yang hendak berbalik harus mematung begitu merasakan hembusan hawa dingin menerpa di belakang tubuhnya. Seperti ada sesuatu yang lewat di belakangnya dengan cepat. Hingga kemudian sudut matanya menangkap di pantulan cerminnya, sesosok makhluk menyeramkan—wanita berambut panjang yang hampir menutupi seluruh wajah—muncul dari balik tubuhnya, meraba bahunya dengan tangan dinginnya itu, mencuatkan ketegangan yang luar biasa pada Hyo Sun hingga ia meremas bajunya di depan dada, memejamkan kedua matanya rapat-rapat.

“Ya Tuhan… Tuhan di Surga… tolong selamatkan aku… tolong jauhkan aku dari makhluk yang berniat mencelakaiku…” merapalkan doa dengan suara yang bergetar, Hyo Sun mulai berkeringat dingin kala ia merasakan tengkuknya seperti tengah disentuh. Kedua tangannya menangkup saling bertaut di depan dada, “Tuhanku, tolong selamatkan aku dari makhluk yang tidak seharusnya berada di dunia ini. Tolong selamatkan aku…” ia meracau semakin cepat.

Ya, Min Hyo Sun!!”

Ia tersentak kaget, yang di waktu bersamaan makhluk itu menghilang seperti kepulan asap yang melebur dan lenyap. Memberikan efek berupa hembusan angin dingin yang membuat Hyo Sun bergidik sekali lagi. Dapat ia rasakan kelegaan yang luar biasa kala mendengar teriakan dari suara berat Shin Dong yang memanggilnya. Sejenak ia berterima kasih pada Shin Dong yang secara tidak langsung sudah menyelamatkannya. Mungkin pria gempal itu dibisikkan oleh malaikat utusan Tuhan untuk segera menyeret Hyo Sun dari sana melalui panggilan. Itulah mengapa Hyo Sun segera keluar dari toilet dan memenuhi panggilan pria itu.

Ne, Sunbae-nim!

.

Itu terjadi sejak Hyo Sun bangun dari koma. Ia terlibat dalam kecelakaan beruntun yang terjadi di tahun lalu. Saat ia bersama kedua orang tuanya hendak berwisata ke kampung halaman menemui sang kakek, di tengah perjalanan mobil yang mereka tumpangi terhantam oleh mobil yang sudah terguling tak terkendali berkat tabrakan hebat. Kedua orang tuanya tak terselamatkan karena terjepit oleh badan mobil mereka yang ringsek. Hyo Sun yang kala itu masih sempat diselamatkan oleh para warga, harus melihat dengan mata kepala sendiri mobil milik keluarganya meledak menghanguskan tubuh kedua orang tuanya. Hyo Sun histeris saat itu juga, hingga akhirnya kesadarannya hilang begitu saja, dan ia harus tertidur panjang selama 49 hari.

Begitu terbangun dari lelap panjangnya, Hyo Sun hanya mendapati sang kakek yang tengah menunggu kesadarannya. Hyo Sun sempat tidak mengingat kejadian terakhir yang menimpa, hingga kemudian setelah sang kakek menceritakan, Hyo Sun harus kembali melihat gambaran yang sukses membuatnya syok bukan main. Bersamaan dengan penglihatannya yang menjadi tak terarah karena ia seperti melihat gumpalan-gumpalan asap  putih di sekelilingnya, di mana gumpalan itu bergerak tak beraturan dan perlahan membentuk seperti wujud seseorang, hingga menampakkan raut tak layak sebagai raut manusia dan hendak menerkamnya sebelum akhirnya ia kembali berteriak histeris dan jatuh pingsan.

Hyo Sun menyadari, bahwa sejak terbangun dari koma, ia memiliki kemampuan melihat makhluk astral, sebagaimana dengan sedikit orang yang memiliki indera keenam. Hyo Sun mengira bahwa kecelakaan itu adalah sebab-akibat kondisinya hingga kini. Di mana dia memiliki penurunan kekebalan tubuh hingga dia mudah terserang penyakit darah rendah atau biasa disebut dengan anemia. Kondisi tubuhnya yang mudah melemah ini, entah bagaimana membuatnya mudah sekali melihat makhluk halus yang berkeliaran di sekitarnya. Seperti yang terjadi baru saja. Bahkan tak banyak dari mereka—makhluk-makhluk itu—mengikuti ke mana pun Hyo Sun pergi. Itulah mengapa dia juga mengalami insomnia tiap malam karena dia takut, jika dia terlelap, makhluk-makhluk itu akan merasuki tubuhnya dan memanfaatkan tubuhnya sesuka hati.

Hyo Sun sudah mencoba berbagai cara untuk mengusir para makhluk halus itu. Sampai-sampai dia memasang dupa di kamarnya pun, Hyo Sun tetap tidak tenang untuk tidur. Hyo Sun juga sudah mendatangi dukun meminta tolong untuk menutup indera keenamnya ini, namun dukun itu tidak berhasil melakukannya. Bahkan dukun itu mengatakan bahwa ia tidak mungkin menutupnya kembali. Bagaimana Hyo Sun tidak ketakutan?

Dia berharap—sangat berharap, bahwa ada orang yang mampu menyelamatkannya dari kemampuan anehnya yang sungguh menyiksa kehidupannya ini.

&&&

:: A Twosome Place – Seoul-shi, Seodaemun-gu, Changcheon-dong 30-8

image2_1

Mobil Civic hitam metalik itu memarkir di dekat sebuah kafe bergaya Eropa. Tak lama dua pria tampan itu keluar dari sana dan melangkah mendekati pintu masuk kafe tersebut. Salah satu pria bermata sipit itu mengernyit bingung karena pria yang lebih muda darinya itu ternyata membawanya kemari.

“Aku ingin makan nasi, bukan minum kopi,” pria bernama Jong Woon itu bersuara, menghentikan Dong Hae yang sudah melangkah lebih dulu dan membuatnya kembali menghampiri Jong Woon.

“Ayolah, sesekali Hyung harus mencoba makan di sini. Menu makan di sini tidak kalah mengenyangkan dibandingkan nasi!” Dong Hae menepuk-tepuk kedua bahu Jong Woon. “Tenang saja, Hyung. Aku akan menraktirmu sampai kenyang! Ayo masuk!” ajaknya serta menarik Jong Woon untuk segera masuk.

Pria itu memutar bola mata dengan malas serta mengikuti langkah Dong Hae dengan malas pula. Percuma juga dia menolak, toh pria bernama Lee Dong Hae itu tidak akan mendengarkan penolakannya. Sejenak dia merasa bingung, sebenarnya yang lebih tua itu siapa? Kenapa Jong Woon lebih menurut kepada Dong Hae dibandingkan sebaliknya? Aneh sekali.

Mereka duduk di salah satu meja yang kosong. Seseorang kemudian datang menghampiri mereka, melempar senyum manis—menampakkan lesung pipinya yang halus namun sudah cukup mempertegas kerupawanannya. Yang langsung disadari keduanya sekaligus membuat salah satunya bersuara.

“Oh, Jomimi!! Yaa, lama tidak berjumpa, eo?” Dong Hae berdiri dari duduknya.

Pria tampan yang dipanggil Jomimi—atau sebenarnya memiliki nama asli Zhou Mi itu tersenyum semakin lebar. Ia menyambut salam tangan Dong Hae serta pelukan yang memperlihatkan keakraban mereka. “Eii, kaunya saja yang jarang datang kemari. Apa kau sudah bosan makan di sini, huh? Aku sudah menyediakan menu baru untuk kau santap!” candanya yang segera membuat Dong Hae tertawa.

“Maafkan aku. Aku sibuk berburu gadis.” Dong Hae berlagak tengah berbisik pada Zhou Mi. Padahal tidak hanya Zhou Mi yang mendengar, Jong Woon pun juga mendengar.

“Dia bahkan sudah mendapatkan mangsa baru,” celetuk Jong Woon yang menarik perhatian keduanya.

Aih, Hyung! Jessica bukan mangsa! Aku bersungguh-sungguh padanya!” kilah Dong Hae cepat.

Aigoo, aku sedikit sangsi dengan kesungguhanmu itu, Dong Hae-ya.” Zhou Mi mulai berpihak pada Jong Woon. “Memang sejak kapan kau bersungguh-sungguh dengan satu gadis, eh?” ejeknya dengan raut menyebalkan di mata Dong Hae.

Yaa! Haishi, kalian ini! Apa kalian tidak merestuiku berhubungan dengannya? Bahkan Jong Woon Hyung sudah mengatakan bahwa aku tidak akan bertahan lama dengannya!” Dong Hae duduk menghempas dengan wajah cemberut.

Jong Woon mencoba untuk tidak peduli. Ia mengalihkan tatapannya pada Zhou Mi, “Bawakan aku makanan berat. Aku sangat lapar,” perintahnya.

Pria berdarah Tiongkok itu berdecak pelan. “Eii, Hyung, jika sangat lapar tidak seharusnya datang kemari. Sudah tahu ini kafe, bukan restoran nasi!”

“Jangan salahkan aku. Salahkan bocah itu yang memaksaku untuk datang kemari,” Jong Woon menunjuk Dong Hae dengan dagunya secara acuh. “Aku tidak mau tahu. Bawakan aku makanan yang mengenyangkan. Apa saja. Dong Hae yang akan membayarnya.”

“Benarkah?” Zhou Mi melirik Dong Hae.

“Benar! Aku sedang menraktirnya. Jadi bawakan saja, menu andalanmu!” Dong Hae kembali sumringah. Mengingat dirinya hendak menraktir Jong Woon dalam rangka keberhasilannya mendapatkan Jessica saja sudah membuatnya merasa berbunga-bunga kembali.

Zhou Mi menjentikkan jari. “Baiklah. Tunggu saja menu andalanku!” ia berbalik melangkah menuju dapur.

Jong Woon berdiri dari duduknya, menarik perhatian Dong Hae. “Aku ingin ke toilet,” ujarnya singkat yang hanya dibalas anggukan ringan dari Dong Hae.

.

.

Zhou Mi melangkah cepat ke dalam dapur, menghampiri para kokinya yang sibuk bekerja. Ia menepuk tangan dengan keras demi menarik perhatian para pekerjanya itu. “Baiklah semuanya, hari ini aku kedatangan dua tamu spesial secara mendadak. Mereka sangat lapar dan ingin mencoba suasana baru. Kalian sudah tahu menu apa yang kumaksud, bukan?”

Ne!

“Shin Dong Hyung, aku percayakan sandwich-nya padamu. Dan buat double portion.

“Siap!” Shin Dong mengacungkan jempolnya penuh percaya diri.

“Sung Min Hyung, mereka membutuhkan makanan penutup, jadi tolong buatkan dessert andalan kita.”

“Tiramisu Patbingsu? Baiklah. Mungkin aku akan membutuhkan Henry untuk membuatkan tiramisu-nya,” Sung Min mengumbar senyum pada pria berkulit pucat di dekatnya.

“Serahkan saja padaku, Hyung!” Henry melakukan pose hormatnya.

Zhou Mi tersenyum sumringah. “Aku mengandalkan kalian akan hal itu. Lalu, Ryeo Wook, apa coffe of the day hari ini?”

White Cloud Latte. Ditambah dengan Affogato. Kebanyakan pelanggan memesan Caramel Nut Affogato,” jawab Ryeo Wook dengan cepatnya.

“Baiklah, siapkan kedua menu minuman itu.”

Okay!

Good! Aku ingin teman spesialku ini merasa nyaman dan kenyang, jadi…” Zhou Mi tersenyum lebar seraya kembali bertepuk tangan, “mari kita bekerja!”

Yosh!” mereka mulai berkutat pada pekerjaannya.

“Ah, benar juga!” Zhou Mi teringat sesuatu. “Di mana Min Hyo Sun?”

Mereka berempat segera menghentikan aktivitasnya sesaat demi saling melempar pandang.

“Ah, dia sedang ke toilet. Tunggu sebentar.” Shin Dong menelengkan kepala, “Ya, Min Hyo Sun!!”

Tak lama Hyo Sun memunculkan diri. Ia tampak keteteran saat berlari. “Ne, Sunbae-nim!

Zhou Mi mendengus pelan melihat wajah gadis itu masih tampak basah. Sedikit menggelitik niatnya untuk menyemburkan tawa, namun ia berhasil menahannya. “Baiklah, Min Hyo Sun, aku punya tugas untukmu selain mencuci piring. Kau harus mengantarkan menu-menu yang akan mereka buat pada pelanggan di meja nomor 24. Mengerti?”

Y-ye, aku mengerti!” Hyo Sun mengangguk patuh.

“Aah, kita kekurangan roti!” Shin Dong berseru.

“Roti? Di gudang masih ada stok. Min Hyo Sun, tolong ambilkan rotinya di sana!” perintah Zhou Mi yang segera dituruti Hyo Sun.

Ye!” Hyo Sun segera keluar dari dapur.

Gadis itu tampak mencari-cari begitu sampai dalam gudang persediaan. Jari telunjuknya mengabsen berbagai karung yang tertumpuk rapi. Hingga kemudian sepasang matanya berbinar begitu menemukan setumpuk karung berisi roti yang dibutuhkan. Pelan-pelan ia mencoba mengambil karung seberat 5 kilogram itu, mendekapnya sebelum mencoba untuk membawanya keluar dari sana.

Sraak

Langkahnya harus terhenti begitu ia mendengar seperti gesekan plastik pada sesuatu di belakangnya. Diam-diam mulai menelan saliva begitu menyadari bahwa hanya ada dirinya di dalam sini. Apalagi bunyi gesekan itu tidak hanya sekali terdengar dan sukses membuat bulu kuduknya meremang.

“Tidak… aku tidak dengar… aku tidak dengar,” Hyo Sun menggeleng beberapa kali, mulai menyugesti diri seraya kembali melangkah menuju pintu gudang.

Dug!

Hyo Sun hampir memekik sekaligus melempar karung roti di dekapannya kala mendengar benturan keras seperti ada seseorang tengah menendang tembok di belakangnya. Cepat-cepat Hyo Sun berlari keluar dari sana. Dan begitu dirinya hendak menutup kembali pintu gudang, dia harus dikejutkan dengan kelebat bayangan hitam meluncur cepat ke arahnya hingga mau tidak mau Hyo Sun menendang pintu gudang. Menimbulkan suara debuman nyaring dan Hyo Sun segera berlari dengan raut ketakutannya. Dan tidak menyadari bahwa dirinya salah mengambil jalur.

.

Jong Woon baru saja keluar dari toilet kala mendengar debuman nyaring berasal dari sebelah kirinya. Keningnya berlipat sedikit kala menebak-tebak. Bukankah itu ruang terbuka kosong? Setahu Jong Woon, di sana terdapat gudang penyimpanan bahan makanan untuk kafe ini, juga tempat lengang yang bisa berfungsi sebagai jalan belakang menuju dapur kafe jika keluar dari sini. Well, Jong Woon sudah beberapa kali datang kemari mengingat teman dekat Dong Hae itu adalah pemilik kafe ini.

Baru saja Jong Woon ingin memeriksa suara seperti bantingan pintu tersebut, kala tiba-tiba muncul seseorang dari sana dan—

Bruk

Kejadiannya cukup cepat sampai-sampai Jong Woon sulit untuk mencerna. Seorang gadis muncul dari sana, berlari ketakutan dengan kepala tertunduk sekaligus meracau seperti tengah merapalkan doa. Dan tanpa ia duga gadis itu menabrak dirinya hingga gadis itu menjatuhkan sekarung berisi roti yang dibawa, menggelinding dan hampir menimpa kedua kakinya. Namun gerak reflek Jong Woon justru tertuju pada gadis yang sudah oleng dan hampir ikut terjatuh—ia menahan kedua lengan gadis itu cukup kuat.

Gadis itu menoleh ke belakang sesaat, kemudian kembali menunduk. Jong Woon dapat melihat begitu pucatnya wajah gadis itu, bahkan berkeringat dingin. Apakah dia sakit? Ataukah dia sedang dikejar sesuatu?

“Kau tidak apa-apa?” Jong Woon mencoba untuk bertanya. Namun tidak sengaja, ia menangkap sesuatu yang begitu menarik perhatian matanya.

Sedangkan gadis itu, Hyo Sun harus terperangah dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Dia seperti baru saja mendapatkan keajaiban karena sekilas melihat hantu yang sempat mengejarnya dari gudang tiba-tiba menghilang seperti asap hitam membumbung dengan cepatnya. Menyisakan suara yang cukup membuatnya bergidik mendengar seperti sebuah teriakan ketakutan. Ia terpaku untuk beberapa saat, mengamati tubuh bidang yang berdiri tepat berada di hadapannya, lalu menyadari sesuatu.

Perlahan ia mengangkat kepala, hingga sepasang mata sayunya mampu melihat rupa wajah pemilik tubuh tegap dan tinggi di hadapannya. Rahang yang tegas, mata yang sipit namun tampak begitu tajam, serta kulit putihnya yang begitu mempertegas paras wajah tampannya. Bukan, bukan itu yang membuat Hyo Sun terpana, apalagi kala tatapan milik pria itu merangkak naik dan bertemu dengan matanya… Hyo Sun melebarkan mata.

Pria di hadapannya ini… memiliki aura yang sangat positif menyelubungi. Bahkan Hyo Sun seolah mampu merasakan, dari bagaimana pria ini menahannya dengan mencekal kedua lengannya, aura positif itu mengalir seolah berbagi padanya. Ia bagaikan melihat pintu kebebasan di mata pria itu. Pintu kebebasan yang dapat mengantarnya menuju sebuah ketenangan yang nyata—yang sangat ia idam-idamkan.

Tidak mungkin… pria ini…

Kilauan merah terang berpendar di jari kelingking gadis itu, menjalar jatuh ke bawah seperti seutas benang yang sangat halus, begitu panjang seolah tak berujung, berserakan di lantai yang mereka pijaki. Matanya mencoba mengikuti ke mana benang itu menjalar, yang ternyata berujung pada salah satu jari kelingkingnya.

Jong Woon membuka tangannya, mata sipitnya melebar melihat apa yang selama ini ingin dia lihat. Dadanya bergemuruh sebagaimana dengan jantungnya yang berpacu sangat kencang begitu mengetahui kenyataan di mana ia mampu melihat apa yang selama ini ia lihat pada orang-orang di sekitarnya. Sampai-sampai matanya kembali merangkak naik menuju wajah manis di hadapannya, berhenti tepat di sepasang manik pekat nan jernih yang ternyata juga tengah tertuju padanya. Yang juga tengah memasang raut tercengang seolah melihat apa yang dia lihat.

Tidak mungkin… gadis ini…

.

.

“Pada akhirnya, aku melihat benang merah itu melilit di jari kelingkingku. Di mana saat itu juga aku melihat benang milikku berujung di kelingking seorang gadis yang sudah menabrakku dan tampak seperti ketakutan akan sesuatu. Tapi, aku tidak bisa berpikir jernih karena otakku segera mendoktrin bahwa… gadis ini… adalah gadisku kelak…”—Kim Jong Woon

“Pada akhirnya, aku menemukan seseorang yang memiliki ‘kekuatan’. Dia mampu mengusir hantu-hantu itu dari hadapanku. Dan dia mampu memberikan kenyamanan sekaligus ketenangan hanya dengan sebuah sentuhan tak disengaja ini. Apakah Tuhan sudah mengabulkan doaku? Dengan mengirim seorang pria yang mampu melindungiku dari hantu-hantu itu…”—Min Hyo Sun

.

.

FIN


ini apaaaaaaa?! yaampun… maaf ya ceritanya ngga jelas banget hahahah x’D gini nih, kalo bikin ff genre fantasy selalu begini….yagitudeh._. wks

sebenernya aku bikin ini buat ngerayain ultah abang esong kemarin.. eh tapi kuotanya ga ada hahahah jadinya baru sekarang bisa posting ><

aku bikin ini juga karna abis nonton drama Oh My Ghost hwhwhw trus keinget sama The Master’s Sun yg temanya juga sama hantu-hantu juga.. trus trus, aku baca ff karangan Ka Sangheera yang mengangkat tema benang merah—casted Luhan, dan, jadilah ff absurd ini -___,- #duaagh

ah sudahlah…

Happy Birthday buat Ye Sung Kim!! Abang yg satu ini udah 32—eh, 33 tahun di sana, tapi masih aja tampang macam anak 20 tahunan yaduuuhh.. aku kalah muda mukanya ini wkwk XD doanya…hm, semoga segera debut solo yaa~ nyusul Kyuhyun :3 heheheh

yosh! ada salam dari para cameos~ hohohoh di sini anak SJ hampir ngumpul semua loh XD

Dongeeeekk!!
Dongeeeekk!!
Shin Dong!
senior galak Shin Dong!
akhirnya nongol lagi si Ryeo Wook ㅋㅋㅋ
akhirnya nongol lagi si Ryeo Wook ㅋㅋㅋ
Koki Henllii~><
Koki Henllii~><
miniminimanimo Sung Min ^-^
minimanimo Sung Min ^-^
Jomimi!! >__<
Jomimi!! >__<

terakhir, visual dari tokoh utama absurd cerita ini~ heheheh

yesung tumblr_li8kslpHyp1qf87r6o1_400

Terima kasih sudah mau mampir! ^-^

//plsjanganmintasequel//?

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

14 thoughts on “Time We Were Met

  1. Alu suka koq, aku jg baru selesai nonton film oh my ghost…

    Imajinasinya terus berkembang, kerennnnn….bang Yeye saengil chukkae soga semua harapan dan impiannya terkabul dan sukses selalu 😘😘😘

    Ada lanjutannya kah, mereka kecelakaannya di waktu dan tempat yang sama kah? Duh maaf kan aku banyak tanya…😢😢😢

    Ditunggu kelanjutan ff two person nya, couple KiSoo yang selalu manis dan membuatku ikut berdebar sama Kim Kibum oppa yang kerennya minta ampun…

  2. Jong Woon adduuuuhhh degdegan aduuhh jantungku adduuuhh /bayse/

    Sukkaaaaaaa ini ff selain Ki Bum yang kakak posting yang aku suka wkwkwk ..

    Sama” punya kelebihan setelah koma .. Sama” kesepian .. Yang jelas sama” single wakwak kenapa gak langsung jadian aja aahh Jong Woon nih lemot wkwk

    Imajinasinya mulai menyebar bikin cerita yang bakalan banyak yang suka .. Salut sama kakak yang punya imajinasi keren jaya gini 😊

    Ditungguin terus lanjutannya kak .. Jangan lama aja di share wkwk

  3. ahhh seru seruuu .. Donghae di setiap ff selalu jadi cassanova ya ㅋㅋㅋㅋ memang pesona seorang Lee Donghae sangat mengagumkan hihi.

    Jadi Jongwoon dan Hyosun mengalami kecelakaan di tempat yg sama dan harus koma atau tertidur selama 49 hari. kalau untuk Jongwoon kelebihan melihat takdir benang merah tak terlalu menakutkan, lah Hyo Sun? aduhhh kasihan dia melihat hantu-hantu yang serem bikin ga bisa tidur. Menakutkan >○<

    endingnya gantung nih Siska, sekuel bisa kaliiii hehehehe. Tapi ceritanya keren neomu joha ^^

  4. Aaahh, biasku jadi main character jg..
    Ide nya yg benang merah itu keren bgt..
    Aku pikir yesung gak bakal bisa liat benangnya sampe akhir..
    Keren keren keren 🙌🙌🙌

  5. Yaaaaa Shizuka-ssi, kami butuh sequel!! Itu btw kenapa si ikan gemuk amat yak disitu???

    Kira-kira orang yang punya sixth sense bisa ngeliat benang merah begitu juga gak yak??

  6. omona omonaa… duh pas baca trus liat castnya ternyata suami tercinta yesung oppa #duaghh (❁´▽`❁), ceritanya keren kak mereka sama” mengalami kecelakaan dan koma selama 49hari juga bersamaan. duh.. yesung bisa liat benang merah aku pernah baca dikomik kkkk dan pasti benang merah yesung melilit menuju jariku ini wkwkw #abaikan keren kak keren jempol deh si kakak.

  7. Kerennn👏👏👏…. ada sequel ? Ada dongg😀😀.
    Ituuu. Cast nya min hyo sun. Slh satu ulzzang favorit sayaaa😄😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s