Posted in Category Fiction, Fluff, One Shot, PG-15, Romance, Special Fanfics

From Me To You

fmty

Genre :: Fluff, Romance

Rated :: PG-15

Length :: One Shot

Recommended Songs :: Super Junior D&E – GIFT, Acourve – Honey (The Girl Who Sees Smell OST), Baek Ji Young – Because of You (Hyde, Jekyll, Me OST), B1A4 – Sweet Girl, Super Junior D&E – Don’t Wake Me Up

||special Kim Ki Bum’s Birthday||

Happy reading!! ^^

ㅡㅡ

Sweet Girl, you’re filled with a sweet scent…

ㅡㅡ

BELAKANGAN ini Soo Rin dibuat bosan oleh kegiatannya yang terbilang tidak biasa. Terhitung hampir dua minggu ini dirinya kesepian karena merasa hidup seorang diri. Meski tetap disibukkan dengan kuliahnya yang hampir selesai itu, Soo Rin merasa jengah karena belakangan ini dirinya selalu mendapati apartemennya itu bak tanpa penghuni—kosong.

Pria itu selalu pulang larut malam. Sekalipun menjalani hari libur, pria itu akan berkencan dengan laptopnya seharian penuh. Soo Rin tidak habis pikir, memangnya apa yang dokter magang itu lakukan dengan laptopnya sampai-sampai Soo Rin seperti dicampakkan seperti sekarang ini?

Benar-benar membosankan. Dia sudah seperti angin lalu setiap pria itu berada di rumah mereka. Atau mungkin pria itu sendiri yang sudah seperti angin lalu? Berangkat bekerja di pagi hari dan pulang di saat Soo Rin sudah tertidur. Atau di saat giliran Soo Rin sedang menjalani hari libur, pria itu justru berada di rumah sakit. Ugh, menyebalkan!

Soo Rin juga ingin memiliki kegiatan kalau begitu. Toh, Soo Rin pernah diberi tawaran oleh Jong Woon alias Ye Sung—si penyanyi solo berbisnis café dan kacamata itu—untuk mengisi waktu luangnya dengan menjadi barista atau penjaga kasir di Mouse Rabbit Café. Pria bermata sipit itu pernah mengatakan bahwa kafenya itu sedang membutuhkan pekerja paruh waktu. Dan Soo Rin bisa melamarkan diri di sana.

Mengangguk-angguk, Soo Rin akhirnya memantapkan diri. Well, bagaimana pun, dia harus meminta izin pada pria-super-sibuk itu sebelum melamar pekerjaan di kafe tersebut. Beruntung hari ini adalah hari libur pria itu. Karenanya Soo Rin yang sedari tadi melamun di ruang tengah ditemani televisi yang menyala, beranjak menuju sebuah ruangan berukuran mungil yang bersebelahan dengan kamar mereka—sekaligus memilik connecting door menuju kamar mereka. Ruangan di mana pria itu hampir seharian ini mengurung diri di sana.

Heol, memikirkannya saja membuat Soo Rin kesal sendiri.

Mengendap-endap, Soo Rin membuka pintu ruang kerja itu perlahan, mengintip sejenak ke dalam lalu memberanikan diri untuk masuk. Sejenak batinnya menggerutu melihat betapa tidak pekanya pria itu akan kedatangannya yang bahkan kini sudah berdiri di depan meja pria itu. Apakah laptop hitam itu lebih menarik dibandingkan Soo Rin? Ish…

“Ada apa?”

Oh, ternyata salah. Pria itu, tanpa menoleh dan tanpa menghentikan kegiatan mengetik sesuatu yang Soo Rin sendiri tidak tahu apa, menyapa Soo Rin dengan suara halusnya itu. Yang entah diketahui oleh pria itu sendiri atau tidak bahwa efeknya cukup berpengaruh pada Soo Rin hingga gadis itu tampak gugup dan mulai berdebar-debar. Aneh sekali.

Eung… Kim Ki Bum, aku ingin bicara sesuatu padamu.”

“Katakan saja.”

Baiklah kalau begitu, “Aku ingin bekerja paruh waktu.”

Seketika jari-jemari besar milik pria itu berhenti menari di atas keyboard. Mendongakkan kepala dengan cepat yang sontak menyorotkan mata tajam di balik bingkai kacamata itu tepat sasaran ke dalam retina Soo Rin. Membuat Soo Rin spontan menelan saliva karena menyadari arti dari tatapan itu.

“Aku—ingin kerja paruh waktu di kafe Jong Woon Sunbae.

“Tidak boleh.”

Soo Rin mencelos saat itu juga. Mendapatkan jawaban singkat namun tegas itu berhasil mengendurkan kedua bahu kecilnya. “Kenapa?”

“Aku tidak mengizinkan,” jawab pria bernama Kim Ki Bum itu sekenanya. Ia kembali berkutat pada pekerjaannya.

“Tapi—” Soo Rin sedikit ragu ingin mengucapkannya, “tapi aku memiliki banyak waktu kosong di semester ini…” sebenarnya dia tidak yakin bahwa itu merupakan jawaban yang tepat. Karena…

“Ini baru masuk pertengahan semester, Soo Rin-ah. Kau mungkin merasa bahwa waktu luangmu sangat banyak tetapi kau akan kerepotan jika sudah menghadapi ujian akhir nanti. Kau tidak perlu melakukan kerja paruh waktu,” Ki Bum pasti akan menjawab seperti itu. Begitu realistis dan terpaksa Soo Rin benarkan.

“Tapi aku bosan, Kim Ki Bum,” tapi Soo Rin mencoba untuk bernegosiasi. “Aku ingin memiliki kegiatan selain berkuliah.”

“Kau bisa mencari kegiatan di kampusmu.”

Heol, kenapa pria ini mudah sekali memberikan usul? Soo Rin sedikit dibuat keki olehnya. “Aku tidak mau. Aku ingin bekerja paruh waktu di kafe Jong Woon Sunbae!

“Aku jawab tidak, tetap tidak, Park Soo Rin,” Ki Bum mengucapkannya penuh penekanan. Tanpa melirik gadis di hadapannya itu, dia sudah berhasil membuat gadis itu merasa dikalahkan.

Hanya saja Soo Rin juga merasa tidak terima dengan keputusan Kim Ki Bum. Memang apa salahnya jika dia kerja paruh waktu? Kenapa Kim Ki Bum tidak mengizinkannya? Hanya karena jadwal kuliahnya? Soo Rin bisa mengatur waktu, tentu saja dia sudah bisa mengatur waktu. Bekerja paruh waktu di kafe juga tidak ada yang salah, apalagi di tempat yang sudah sangat familiar bagi Soo Rin bahkan pemilik kafe itu sudah kenal dekat dengan Soo Rin. Lalu apa yang salah?

Memilih untuk tidak membantah lagi, Soo Rin akhirnya berbalik keluar dari ruangan itu. Menutup pintu ruangan sedikit kasar, yang sukses menarik perhatian Ki Bum dari pekerjaannya sejenak.

Mungkin untuk saat ini, gadis itu memang belum mengerti. Tetapi Kim Ki Bum sangat mengerti, itulah mengapa ia memilih untuk menolaknya.

Sedangkan Soo Rin sudah tersungut-sungut di ruang tengah. Wajah cantiknya tertekuk masam. Batinnya mendumal tidak jelas. Rasanya niatnya itu tidak salah. Toh dengan kerja paruh waktu dia bisa menghasilkan pendapatan yang lumayan untuk uang sakunya sendiri. Bahkan bisa meringankan pria itu untuk tidak mengirimkan hasil jerih payahnya ke dalam rekeningnya. Tapi kenapa pria itu melarangnya? Apa pria itu tidak berpikir hal-hal kecil seperti yang baru saja disebutkan?

Apalagi ini baru masuk awal Agustus. Akhir semester masih sangat jauh! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan—

Tunggu dulu.

Soo Rin menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja. Menatap layar sentuhnya itu dengan mata melotot. Mulutnya bahkan menganga kala menyadari sesuatu.

Hari ini, tanggal dua… Bulan Agustus…

Agustus.

AGUSTUS.

****

“Kau yakin ingin bekerja di sini?”

Soo Rin menatap Jong Jin yang baru saja mengajukan pertanyaan. Adik dari Kim Jong Woon itu sedikit sangsi dengan pelamaran Soo Rin untuk menjadi salah satu pekerja di kafe ini. Bukan karena kemampuan Soo Rin yang belum terlihat, tetapi karena baginya tindakan gadis itu bisa dikatakan sangat mendadak.

Ne, aku yakin!”

“Tapi—”

“Sudahlah, Jong Jin-ah. Beri kesempatan pada Soo Rin untuk menjadi anggota kita. Lagipula dia bisa melakukan proses training terlebih dulu, bukan?” Jong Woon membantu Soo Rin dengan membujuk adiknya itu. Ia berkata lagi, “Soo Rin juga sudah mengatakan alasannya. Jadi kita beri saja waktu untuknya bekerja di sini. Jika sampai di batas waktu nanti dia merasa nyaman dan kita merasa puas dengan hasil kerjanya, kita bisa memperpanjang kontrak-nya sesuai dengan kesanggupannya.”

Jong Jin mengangguk membenarkan masukan kakaknya itu. “Yah, benar juga. Lagipula kau melamar sebagai pekerja paruh waktu. Itu tidak masalah, sebenarnya.”

“Jadi?” Soo Rin berharap-harap cemas. Ia melihat kedua kakak-beradik itu saling melempar tatapan penuh arti, sekaligus mengulum senyum penuh arti juga.

“Kau diterima!” tukas Jong Jin tanpa ragu.

“Benarkah?” Soo Rin berbina-binar kala kedua pria di hadapannya mengangguk meyakinkan. Langsung saja ia berdiri dari duduknya demi membungkukkan badan. “Terima kasih banyak! Aku akan bekerja dengan baik!”

Well, selamat datang di dunia kerja Mouse Rabbit!” sambung Jong Woon seraya membuka kedua tangannya. Menyiratkan bahwa ia menerima Soo Rin dengan tangan terbuka.

Soo Rin yang sempat tenggelam dalam kesenangan segera menghentikannya. Ia kembali duduk, melipat kedua tangannya di atas meja seraya menatap serius dua pria yang mulai menatap bingung dirinya. “Tapi, bolehkah aku meminta satu hal lagi?”

Dua Kim Bersaudara itu mencondongkan tubuhnya bersamaan. Ikut melipat kedua tangan di atas meja, cukup tertarik dengan permintaan ragu-ragu dari gadis itu. Mereka bersuara bersamaan, “Apa?”

“Tolong—” Soo Rin sedikit takut sebenarnya, kedua tangannya tampak meremas-meremas udara, “tolong jangan beri tahu Kim Ki Bum bahwa aku bekerja paruh waktu, di sini. Ya? Kumohon…”

Kedua pria itu kembali saling melempar pandang. Dengan kening berkerut.

****

Tiga hari sudah berlalu. Soo Rin bekerja cukup baik di kafe milik Kim Bersaudara itu. Baginya bekerja menjadi seorang kasir tidaklah sulit. Hanya menunggu di depan counter, menyambut pelanggan dengan seulas senyum manis, menyampaikan pesanan pelanggan ke dapur, menyerahkan pesanan kepada pelanggan, menghitung harganya, sampai memberi laporan kepada sang Bos mengenai jumlah masukan di hari itu. Yah, meski Soo Rin tidak cepat tanggap dalam menghitung, setidaknya dia cukup teliti.

Karena itu, Jong Woon dan Jong Jin merasa cukup puas dengan cara kerja gadis itu. Mengingat ini adalah kali pertama setelah beberapa bulan terakhir mereka merekrut kembali pekerja perempuan, yaitu Park Soo Rin itu sendiri. Selama ini mereka merasa lebih nyaman merekrut pria muda untuk bekerja menjadi barista hingga bagian kasir. Pernah mereka merekrut beberapa wanita, hanya saja mereka harus berhenti karena ada yang akan menikah dengan kekasihnya, hingga bersekolah ke luar negeri.

“Park Soo Rin, bisakah kau mengantarkan ini ke meja nomor 16? Sepertinya yang lain sedang sibuk sekali.”

Ne!

Soo Rin menerima nampan berisi beberapa pesanan dari tangan Min Yoon Gi, salah satu koki dapur Mouse Rabbit. Pria itu sangat cekatan, kembali ke dapur dan segera membuat pesanan-pesanan lain. Sedangkan Soo Rin segera melesat ke meja tujuan.

Salah satu pekerjaan Soo Rin di saat dirinya sedang sedikit menganggur. Membantu mengantarkan pesanan pelanggan ke meja tujuan sesekali. Kondisi kafe hari ini memang cukup ramai mengingat hampir mendekati akhir pekan, juga waktu sudah menunjukkan pukul enam petang. Waktu di mana banyak karyawan maupun mahasiswa yang baru keluar dari sarang dunia mereka.

“Selamat menikmati!” ucap Soo Rin penuh keramahan disertai senyum menawan. Ia baru saja hendak berbalik kala satu dari kumpulan pemuda itu menginterupsi.

“Apakah kau karyawan baru? Rasanya baru kali ini aku melihatmu.”

Ne, saya pekerja paruh waktu di sini. Mulai bekerja beberapa hari lalu.”

“Benarkah?”

Mereka mulai berseru tidak jelas.

“Rasanya baru kali ini aku melihat karyawan wanita di sini.”

Yeppeune! (Cantik!)”

“Sudah memiliki kekasih?”

Soo Rin sedikit meringsek mundur mendapatkan serangan mendadak dari kumpulan pemuda itu. Mulai salah tingkah dan risih mendapati perhatian penuh dari mata-mata yang mulai mengerling genit itu.

“Park Soo Rin, kemari!”

Diam-diam Soo Rin mendesah lega mendapat panggilan nyaring dari mulut cempreng Kim Jong Woon. Ia segera memohon undur diri dari sana, lalu cepat-cepat berlari menghampiri Jong Woon yang sudah berkacak pinggang di depan counter.

“Sudah kubilang, tetaplah berjaga di sini! Kenapa kau mengantarkan pesanan, huh?” tegur Jong Woon dengan kening mengerut tak suka.

“Maaf. Kalian sangat sibuk, kebetulan aku sedang tidak melayani di kasir. Jadi…” Soo Rin tidak berani melanjutkan kilahannya, memilih untuk menunduk seraya mengusap tengkuknya salah tingkah.

Jong Woon menghela napas dengan cepat. Bukan karena Soo Rin sudah mengabaikan tugas utamanya. Hanya saja melihat bagaimana gadis ini digoda oleh gerombolan pria-pria yang tampak nakal itu membuatnya tidak tenang. Hei, jika terjadi apa-apa dengan gadis ini dan prianya tahu, Jong Woon maupun Jong Jin bisa menjadi tersangka utama yang dicari!

“Maaf, Hyung. Itu salahku. Aku menyuruhnya untuk mengantarkan pesanan tadi,” Yoon Gi mengaku diri. Pria berkulit pucat itu meringis di ambang pintu dapur. Yah, sebenarnya dia juga sempat melihat bagaimana gadis itu tengah digoda oleh para pelanggan di sana dan itu membuatnya agak panik di dapur. Apalagi setelahnya ia mendengar bahwa gadis itu ditegur oleh Bos mereka. Jelas Yoon Gi merasa bersalah.

Jong Woon berdecak seraya melotot sebagai peringatan untuk Yoon Gi. Sedangkan yang dipelototi segera kabur ke dalam dapur. Melanjutkan pekerjaannya.

“Ya sudah, kembalilah ke tempatmu!” titahnya pada Soo Rin. Memilih untuk menyelesaikan masalah ini.

Ne!” Soo Rin sedikit membungkuk sebelum beranjak ke balik meja kasir.

Hanya saja, Soo Rin yang baru akan siap berdiri di tempat kerjanya itu mendadak berjongkok setelah melihat pintu masuk kafe ini terbuka. Jantungnya serasa melompat-lompat di dalam rongga dadanya setelah sekilas sempat menangkap sosok itu hendak masuk ke dalam. Tak segan-segan Soo Rin merangkak masuk ke bawah meja counter demi menyembunyikan diri.

Astaga, kenapa Soo Rin tidak memiliki firasat apapun bahwa Kim Ki Bum akan datang kemari?!

Jong Woon sendiri ikut panik melihat kedatangan pria itu ke kafenya ini. Cepat-cepat ia menoleh ke balik counter namun tidak mendapati siapa-siapa di sana. Oh, mungkin Soo Rin sudah bersembunyi, itu sedikit melegakannya.

“Apa kabar, Hyung?” Ki Bum menyapa yang sontak menarik perhatian Jong Woon.

“Oh? Aah, Ki Bum-ah! Selamat datang! Seperti biasa, aku selalu merasa baik. Hahahaha!”

Ki Bum memicing melihat tingkah Jong Woon yang sedikit aneh. Atau pada kenyataannya selama ini memang aneh. “Kau justru terlihat tidak baik, Hyung,” sindirnya kemudian. Sedikit dirasakan efeknya oleh pria bermata sipit itu.

Yaishi! Kau ini benar-benar! Datang ke kafeku hanya untuk menyindirku, huh?

Memutar bola mata, Ki Bum memilih untuk tidak menghiraukan protesan pria yang beberapa tahun lebih tua darinya itu. “Tolong bungkuskan pesananku seperti biasa.”

“Oho! Ingin memberi oleh-oleh untuk gadismu, eh?” goda Jong Woon dengan kerlingan mata. Hanya mendapat tatapan datar dari pria itu, Jong Woon akhirnya mendecih lucu. Heol, pria milik Park Soo Rin ini benar-benar tidak memiliki selera humor.  Bagaimana bisa Park Soo Rin bertahan dengan pria ini? Benar-benar. “Baiklah. Tunggu sebentar!” ucap Jong Woon pada akhirnya.

Ki Bum mengangguk, ia baru saja ingin beranjak dari situ kala menyadari sesuatu. “Hyung.

Eo? Ada apa?”

“Kasir sedang kosong?”

Ugh, kenapa Kim Ki Bum menanyakan hal yang berhasil membuat Jong Woon maupun Soo Rin yang bersembunyi di bawah sana sedikit tersentak kaget? Heol, pria ini sedang berbasa-basi atau memang ingin tahu?

“Oh? Aah, itu… hari ini aku yang menjadi kasirnya! Yah, karyawanku sedang mengambil cuti, jadi aku yang menggantikan.” Jong Woon meringis lebar.

Beruntung Ki Bum tidak bertanya lebih jauh lagi, karena pria itu hanya mengangguk acuh lalu pergi dari situ. Melangkah mencari meja kosong untuk ia duduki selama menunggu. Sedangkan Jong Woon cepat-cepat ke balik counter dan menemukan gadis itu masih bertahan di bawah sana. Melirik keberadaan Ki Bum sejenak, Jong Woon kemudian berjongkok.

“Sepertinya kau harus pulang cepat hari ini. Priamu itu sedang dalam perjalanan pulang!” bisik Jong Woon, terdengar seperti menakut-nakuti.

Sialnya, itu sangat sukses membuat Soo Rin menelan saliva susah payah. Karena jelas ia semakin panik dibuatnya.

****

Pukul sembilan malam Ki Bum sudah sampai di apartemen. Tidak seperti biasanya dia pulang cepat mengingat sibuknya dia di rumah sakit. Dia bahkan membawakan makanan ringan yang sempat dibelinya di Mouse Rabbit Café tadi sebagai buah tangan akan kepulangannya ini.

Beruntungnya, begitu masuk Ki Bum disambut oleh Soo Rin yang berlari-lari menghampirinya dengan raut sumringah. “Kau pulang cepat!” adalah kata sambutan yang keluar dari mulut gadis itu.

Ki Bum mengangguk pelan serta bibir menyungging senyum penuh hangat, kemudian menarik gadis itu mendekat demi memberikan kecupan lembut tepat di kening berponinya. “Sudah makan malam?”

Soo Rin mengangguk cepat. Matanya melirik apa yang dibawa oleh pria itu.

Menyadari hal itu, Ki Bum menyerahkan buah tangannya itu dengan senang hati. “Camilan kesukaanmu,” ucapnya ringan. Ki Bum harus terpesona diam-diam melihat bagaimana reaksi gadisnya itu kala menerima bingkisannya. Begitu bahagia hingga wajah cantiknya mempertegas rona alaminya. Apalagi mendengar suara merdunya mengalun ucapan terima kasih, sungguh menyenangkan di telinga.

Hanya saja, akibat dari terlalu lekat menatap wajah cantik gadisnya, Ki Bum mengernyit samar begitu menyadari ada hal yang mengundangnya untuk segera merengkuh wajah itu. “Bagaimana dengan kuliahmu, hm?

Eo? Eung… berjalan dengan baik!”

“Benarkah?” well, Ki Bum sedikit tidak percaya dengan jawaban Soo Rin karena, “Kau terlihat sedikit pucat. Apa kau merasa lelah?”

Ne?” Soo Rin mengerjap cepat, berkali-kali. Ia memegang pipinya sendiri. “Aku—aku merasa baik-baik saja. Mungkin… ini karena aku belum membasuh wajah.”

“Begitu…” Ki Bum belum bisa memudarkan rasa ingin tahunya. Tapi, ia mencoba untuk mengerti. Mungkin karena gadisnya juga terlalu lama mendekam di rumah mengingat jadwal kuliahnya hanya ada di pagi hari, cukup berpengaruh pada kondisi paras wajahnya yang bisa saja dikarenakan rasa bosan.

Setidaknya Ki Bum merasa beruntung hari ini bisa pulang cepat. Bisa melihat kondisi gadisnya ini karena ia sadar bahwa belakangan ini hampir selalu mendapati gadisnya sudah terlelap tiap dirinya pulang.

“Kim Ki Bum, bersihkan dirimu! Setelah ini kita makan camilannya bersama-sama!” Soo Rin menyadarkan lamunan Ki Bum. Ia memeluk bingkisan pemberian pria itu seraya menariknya untuk segera masuk.

Dan, ya, Ki Bum menurutinya.

****

Awalnya Soo Rin mengira bahwa bekerja paruh waktu tidaklah masalah baginya. Tapi, Soo Rin baru saja ingat bahwa dia harus menghadapi ujian tengah semester kurang dari satu bulan lagi. Dan, tugas kuliahnya mulai menumpuk. Meski masih dikumpulkan pada pertemuan berikutnya atau minggu depan, Soo Rin sadar bahwa tugas kuliah tidak bisa dikerjakan di waktu mendekati deadline. Sehingga jadwal kegiatannya berubah menjadi padat.

Setiap pulang kuliah dia pasti menyempatkan diri untuk mampir ke perpustakaan kampus demi mengerjakan tugas sebelum kemudian meluncur ke kafe untuk melaksanakan kerja paruh waktunya. Pulang dari kafe, dia akan melanjutkan tugas kuliahnya hingga menjelang tengah malam. Setidaknya dia tidak ingin kesibukannya terlihat oleh Kim Ki Bum karena pria itu pasti tidak akan senang melihatnya masih terjaga dalam kondisi mengerjakan sesuatu di malam suntuk.

Soo Rin menjatuhkan tubuhnya pada sofa empuk di ruang tengah. Sudah pukul sepuluh malam ia baru saja pulang dari kerja paruh waktunya. Suasana apartemen masih sangat senyap. Dia tahu pasti bahwa Kim Ki Bum akan pulang tengah malam lagi.

Membaringkan tubuh lelahnya, Soo Rin memeriksa layar ponselnya. Ia tersadar bahwa sudah delapan hari dirinya bekerja paruh waktu di Mouse Rabbit Café. Meski menyenangkan, tetapi juga terasa melelahkannya. Sangat terasa. Ditambah kegiatan kuliahnya yang mendadak penuh tuntutan membuat Soo Rin merasa sedikit kewalahan. Hanya saja, Soo Rin ingin mendapatkan penghasilan meski menjadi pekerja paruh waktu. Dia juga cukup bersyukur karena kakak-beradik itu mau menerimanya meski hanya sementara, bahkan memberi peluang jika dirinya betah bekerja di sana.

“Sebelas hari lagi…” gumamnya lemah. Berbaring di sofa empuk ini membuat rasa kantuknya terundang. Matanya memberat sampai-sampai beberapa kali ia menutup kelopaknya. “Ugh, mungkin sebentar saja,” lirihnya hingga akhirnya tergoda untuk melelapkan diri di sana. Mencoba untuk mengistirahatkan diri beberapa menit sebelum membersihkan diri.

Lagipula, Kim Ki Bum masih pulang lama. Masih ada waktu.

Ya… itu menurutnya.

Karena ternyata pria itu terlihat baru saja keluar dari kamar. Dengan handuk mengalung di lehernya, melangkah mendekati gadis itu, lalu membungkukkan badan dengan bertumpu pada sandaran sofa, memandang wajah terlelap itu.

Ki Bum pulang cepat hari ini dan sampai rumah belum lama. Dia harus dibuat bingung karena apartemen mereka kosong, sukses membuatnya merasa heran mendapati gadis ini belum pulang di waktu yang seharusnya dia tahu kapan tepatnya. Ki Bum bahkan sempat mengira bahwa gadis ini sedang berbelanja. Karena setahu Ki Bum, jika gadis ini sibuk dikarenakan tugas, tetap akan pulang sebelum waktu petang dan memilih untuk mengerjakannya di rumah. Itulah mengapa dia memilih untuk membersihkan diri lebih dulu sebelum mencoba menghubungi gadis ini.

Tetapi, Ki Bum justru mendapatinya sudah dalam keadaan tergeletak di atas sofa. Batinnya bertanya-tanya, apa yang gadis ini lakukan hingga pulang larut malam seperti ini?

Melihat bagaimana raut lelah gadis ini dalam lelap yang selalu tertangkap oleh matanya setiap ia pulang, Ki Bum mulai berpikir, bahwa sepertinya Soo Rin sedang melakukan sesuatu yang belum dia ketahui.

Pria itu memilih untuk mengangkat tubuh Soo Rin, membawanya ke kamar perlahan-lahan, membaringkannya di atas ranjang mereka kemudian menyelimuti tubuh rampingnya. Memilih untuk tidak segera beranjak dengan mendudukkan diri di sisi ranjang, mengamati wajah terlelap yang terlihat sekali bahwa sang empunya begitu kelelahan. Ia menghela napas pelan sebelum akhirnya mencondongkan tubuhnya demi menatap lebih dekat. Mata teduhnya memancarkan sorot penuh tanya pada gadisnya.

“Apa yang sedang kau sembunyikan dariku?”

****

Jong Woon mengerutkan dahi melihat gadis itu tertunduk lesu di tempat. Ia segera menghampirinya dengan berdiri tepat di depan meja kasir, mengamati keadaan gadis itu hingga ia berdecak pelan karena tidak mendapatkan respon apapun. Sampai-sampai ia harus berdeham pelan, yang ternyata berhasil menarik perhatian gadis itu.

S-Sunbae…” Soo Rin salah tingkah mendapati Jong Woon sudah berdiri di hadapannya. Bodohnya, ia tidak tahu kapan pria itu sudah berada di sana. Soo Rin merutuk di dalam hati menyalahkan dirinya yang hampir hilang kesadaran tadi. Oh astaga, sepertinya dia begitu kelelahan hari ini. Mengingat begitu padatnya jadwal kuliah hari ini yang fulltime dari pagi hingga sore, cukup menguras otak dan tenaganya. Ditambah hari ini mata kuliah yang ia temui hampir semua diisi dengan sesi kuis atau ulangan harian. Otaknya sudah terasa mendidih hari ini.

Jong Woon melipat kedua tangannya di atas kasir. Menatap lurus pada gadis yang tengah menundukkan pandangan. “Kau lelah?”

Sontak Soo Rin menggeleng keras. “Ti-tidak! Aku tidak lelah!”

Ck, eii!” Jong Woon tidak bisa ditipu. “Hampir dua minggu kau bekerja di sini. Bagaimana aku tidak tahu karyawanku sendiri, huh?” cibirnya kemudian.

“M-maafkan aku, Sunbae…” Soo Rin memilih untuk mengakui kesalahannya. Ia mencubit kedua pipinya sendiri.

Membuat Jong Woon terkekeh pelan. “Sudahlah! Jika merasa lelah, kau bisa beristirahat. Jangan memaksakan dirimu, Park Soo Rin,” tegurnya pelan.

“Tidak,” Soo Rin menggeleng lemah. “Aku harus bekerja demi mendapatkan itu…” gumamnya seraya menunduk.

Aigoo… kau mulai keras kepala, eo,” Jong Woon mendesah heran. “Kim Ki Bum justru akan curiga jika mendapatimu yang seperti ini dibandingkan biasanya,” ujarnya memperingati. “Aku tahu bahwa ini adalah pertama kalinya kau ingin memberikan sesuatu dari hasil jerih payahmu sendiri. Tetapi aku cukup mengenalmu, Park Soo Rin, dan aku mengenal pasti priamu. Bagaimana pun aku tidak bisa membuatmu terlalu bekerja keras tanpa sepengetahuannya.”

Soo Rin merasa terenyuh mendengarnya. Ia bersyukur mengenal pria seperti Jong Woon yang selalu memperhatikan para karyawannya. Karena selama ini, tidak hanya dirinya, Yoon Gi yang berstatus sebagai mahasiswa program magister itu selalu diberi nasihat oleh Jong Woon. Meski pria itu belum menempuh jenjang pendidikan setinggi itu, tetapi pengalaman hidupnya lebih banyak dibandingkan Yoon Gi. Dan Soo Rin dapat melihat dengan jelas betapa segannya Min Yoon Gi terhadap Kim Jong Woon.

“Terima kasih, Sunbae. Tapi, sungguh, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit kelelahan.”

“Bukan sedikit, melainkan terlalu lelah. Apa kau tidak sadar?” Jong Woon mengedikkan dagu, menunjuk gadis itu sendiri. “Wajahmu tampak pucat. Lebih baik kau pulang saja. Aku juga tidak mau pelangganku lari ketakutan karena melihat wajahmu itu!” candanya yang direspon senyum malu-malu dari Soo Rin.

.

. 

Pada akhirnya Soo Rin tetap pulang di waktu biasa. Pukul sepuluh malam dia baru menginjakkan kaki di lantai apartemennya. Kondisi tubuh dan wajahnya tampak lusuh, menyeret kedua kakinya dengan malas melewati ruang tamu hingga ruang tengah yang gelap demi sampai kamar tidurnya. Ia merasa remuk dan lemas saat ini. Dan ingin segera merasakan empuknya ranjang demi melepas lelah dan penat.

Hanya saja Soo Rin harus dikejutkan dengan kondisi kamarnya yang sudah dalam kondisi lampu menyala begitu dibuka pintunya. Tidak ada hitungan detik jantungnya serasa terjun dari tempatnya hingga ia menahan napas sekaligus mematung di ambang pintu.

Dia tidak lagi merasakan kantuknya yang sempat mendera. Lenyap begitu saja.

Ki Bum yang tengah berkutat dengan laptop di atas ranjang, menoleh melemparkan tatapan datar pada Soo Rin yang tidak bergerak lagi setelah membuka pintu kamar. Ia menyingkirkan laptopnya dari pangkuan, turun dari ranjang lalu melangkah mendekati gadis itu, menariknya hingga pintu kamar mereka dapat ditutup. Barulah Ki Bum bersedekap tepat di hadapan Soo Rin. Menatap tajam gadis itu.

“Dari mana saja?”

Pertanyaan sederhana, namun sarat akan peringatan di balik suara berat nan datar itu, ditambah bagaimana tubuh tegap itu menghalau jarak pandang, sukses membuat Soo Rin merasa terintimidasi saat ini juga! Bibirnya kelu seketika, bahkan kerongkongannya yang kering karena haus kini semakin kering karena gugup setengah mati, dan sepasang matanya tidak berani ia angkat karena tahu pasti bahwa pria itu sedang menghunusnya.

“Aku tanya, dari mana saja, Park Soo Rin?” Ki Bum bersuara lagi. Sungguh, suara beratnya kali ini terdengar bagaikan hakim yang tengah menyidang Soo Rin. Dan itu menciutkan keberanian gadis di hadapannya itu.

“Aku… aku berkuliah…”

“Aku tahu pasti jadwal kuliahmu. Tidak ada jadwal kuliahmu yang memakan waktu hingga larut malam seperti ini.”

“Aku—mengerjakan tugas kuliahku di perpustakaan…”

“Kau pikir aku tidak tahu?” Ki Bum memiringkan kepala, mencari mata gadis itu yang tertunduk tersembunyi. “Kau tidak pernah pulang di atas pukul delapan. Sekalipun tugas kuliahmu menumpuk, aku sudah mewantimu untuk melanjutkannya di rumah, dan kau menjalankannya dengan baik,” gumamnya penuh arti. Keningnya mengerut tidak suka karena menyadari, “Kau melakukan sesuatu yang tidak aku tahu, bukan?”

Soo Rin tersentak mendapat pertanyaan tepat sasaran itu. Bahkan dari cara bicara Ki Bum, sangat diragukan bahwa pria itu mengajukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang jelas membuat Soo Rin terpojok. Tanpa sadar ia meringsek mundur mencoba membuat celah demi mampu menghirup udara. Tapi justru perbuatannya memudahkan Ki Bum untuk mengurungnya ke dalam kungkungan lengan kekarnya, hanya satu lengan namun sudah berhasil membuat Soo Rin tidak bisa bergerak. Memenjarakannya dari kebebasan yang ingin sekali ia gapai. Memaksakan Soo Rin untuk menunduk dalam karena pria itu juga tengah menundukkan kepala.

“Kenapa kau menyembunyikannya dariku?”

Soo Rin merasa otaknya kosong seketika. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dan kebisuannya memancing Ki Bum untuk menarik napas tertahan. Pria itu memejamkan mata sejenak. Menetralkan gejolak emosinya yang hampir terpancing sepenuhnya akibat kelakuan gadis ini.

Mencoba untuk mengerti.

Itulah mengapa Soo Rin segera merasakan sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya. Menghantarkan sengatan listrik ke sekujur tubuhnya yang kaku menjadi bergetar pelan hingga hampir melemaskan kedua kakinya. Kemudian mendengar pria itu berucap…

“Bersihkan dirimu, setelah itu istirahatlah.”

Soo Rin baru saja memberanikan diri untuk mendongak tepat saat pria itu berbalik meninggalkannya. Mengambil laptopnya dari atas ranjang sebelum kemudian beranjak menuju connecting door yang mengantarnya ke ruang kerja. Membiarkan Soo Rin yang masih mematung di tempat.

Ada rasa sesak berdenyut di dalam rongga dadanya melihat bagaimana pria itu hanya melewatinya, meninggalkannya begitu saja seolah dirinya sudah tidak terlihat lagi di tempat. Menimbulkan hembusan napas yang begitu berat dan panjang, menjalarkan rasa tidak menyenangkan itu hingga ke wajahnya, memicu rasa panas di kelopak matanya sampai kedua mata jernihnya mulai berkaca-kaca.

Bukan ini yang dia mau. Soo Rin tidak bermaksud untuk membuat Ki Bum marah padanya, tetapi Soo Rin juga tidak berani jujur. Dia tidak mau usahanya yang hampir membuahkan hasil itu terhenti begitu saja hanya karena dirinya memilih untuk membongkarnya. Soo Rin tahu bahwa perbuatannya sudah melanggar perintah pria itu, namun di sisi lain dia memiliki niat yang baik—yang mungkin bisa membahagiakan pria itu juga dirinya sendiri.

“Maafkan aku…” sungguh, Soo Rin menjadi serba salah sekarang.

****

“Hari terakhirmu bekerja, ya?”

Soo Rin yang tengah membersihkan salah satu meja pelanggan harus menoleh, mendapati adik dari Jong Woon itu berdiri di sebelahnya dengan seulas senyum hangat—Kim Jong Jin. Hari ini kafe masih tampak lengang. Itulah mengapa Soo Rin memiliki kesempatan untuk membantu merapikan meja-meja di sini.

“Begitulah…” Soo Rin menjawab disertai senyum hambar.

Jong Jin mengernyit bingung. “Ada apa? Bukankah seharusnya kau merasa senang? Yah, terlepas dari kau sudah mendapatkan gaji, setidaknya kau senang bahwa hari yang ditunggu-tunggu sudah datang.”

Ya. Sebenarnya batas waktu bekerja paruh waktu Soo Rin adalah dua hari lalu. Tepat dua minggu lamanya kontrak kerja Soo Rin. Hanya saja, Soo Rin tidak bisa melepas pekerjaannya ini begitu saja. Rasanya aneh sekali, pergi setelah mendapatkan gaji, bagaikan orang tidak tahu diri yang hanya datang di saat membutuhkan sesuatu dan pergi ketika sudah mendapatkan hasil. Itulah mengapa ia meminta kesempatan bekerja tiga hari lagi. Tidak masalah jika tidak mendapatkan upah tambahan. Toh Soo Rin mengerjakannya dengan senang hati karena sudah terlanjur nyaman bekerja di sini.

Soo Rin mengangguk pelan membenarkan. “Tapi, sepertinya caraku salah… Aku tetap melakukan ini meski sebenarnya Kim Ki Bum sudah melarangnya. Dan beberapa hari lalu…” ia menunduk sejenak, menetralkan raut wajahnya yang mulai terpengaruh dengan emosinya saat ini, “sepertinya dia marah padaku.”

Karena sejak kejadian itu, Ki Bum menjadi irit bicara padanya. Sudah bertemu hanya di pagi hari sebelum berangkat bekerja, kesempatan berbicara pun terasa seadanya saja. Membuat Soo Rin semakin merasa kesepian saja. Dan itu cukup menyiksanya hingga saat ini. Padahal dia sudah menunggu hari ini, tetapi melihat bagaimana sikap pria itu yang semakin dingin saja, Soo Rin menjadi ragu.

Jong Jin menatap prihatin gadis itu. Ia menepuk pelan sebelah pundak kecil Soo Rin, memberikan pengertian. “Kim Ki Bum pasti akan mengerti nantinya. Tenanglah!” melempar seulas senyum, melanjutkan, “Kau sudah bekerja keras selama dua minggu ini. Aku bahkan berpikir untuk merekrutmu menjadi karyawan tetap di sini. Hanya saja, sepertinya kami harus melewati restu dari priamu nanti.” Jong Jin terkekeh pelan.

Begitu juga dengan Soo Rin yang menanggapi candaan kecil Jong Jin. Ia berhasil menyunggingkan senyum lepasnya meski tipis. “Terima kasih atas segala bantuan Sunbae selama ini. Rasanya aku tidak bisa sampai seperti sekarang jika para Sunbae tidak memberiku kesempatan untuk merasakan menjadi karyawan di sini.”

Eii!” Jong Jin berdecak pelan. Sebelah tangannya mengusap kepala Soo Rin sekali, menunjukkan rasa sayangnya karena sudah menganggap gadis ini seperti adiknya sendiri. “Lowongan kerja di tempat kami terbuka lebar untukmu, jika kau ingin tahu itu,” lanjutnya seraya mengedipkan sebelah mata.

“Jangan seperti itu, Sunbae! Itu sama saja Sunbae menganak-tirikan calon pelamar kerja di sini!” balas Soo Rin dengan kening merengut tidak suka. Membuat pria itu akhirnya tertawa.

Yah, setidaknya Jong Jin berhasil membuat Soo Rin merasa tenang kembali.

“Ah, bagaimana dengan hadiahnya? Kau sudah membelinya?”

Soo Rin mengangguk cepat. “Aku baru saja membelinya tadi sepulang dari kampus,” jawabnya dengan raut sumringah.

“Benarkah?” mata Jong Jin berbinar. Ikut merasa senang. “Semoga dia menyukainya, eo!

Ne!

.

.

Soo Rin dianjurkan untuk pulang cepat oleh Jong Jin. Terlepas dari masa kerjanya yang memang sudah habis, Jong Jin tidak ingin membuat gadis itu pulang terlalu malam. Pria itu khawatir bahwa Soo Rin akan kepergok pulang terlambat lagi oleh Kim Ki Bum yang sangat rancu jadwal kepulangannya. Lagipula sudah ada Jong Woon yang akan menggantikan, bahkan seharusnya kedua pria itu sudah mengisi kekosongan posisi tersebut sejak kontrak kerja Soo Rin habis.

Gadis itu sudah berganti pakaian menjadi pakaiannya semula. Matanya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Dia masih memiliki cukup banyak waktu untuk mengajak pria itu berbicara.

Ya, Soo Rin tidak boleh melewatkan kesempatan di hari ini.

Ia meraih tas kuliahnya dengan segera. Namun tanpa disengaja perbuatannya menimbulkan sesuatu yang tak terduga, tas miliknya menyenggol sebuah paper bag yang memang tergeletak di dekatnya, hingga benda itu terjatuh membentur lantai ruang penyimpanan barang milik karyawan kafe ini. Gadis itu terkesiap untuk beberapa saat sebelum cepat-cepat berjongkok memeriksa.

Jantungnya berdebar kencang membuka paper bag yang berisi sebuah kotak mungil. Wajah cantiknya memucat seketika dan kedua tangannya tampak gemetar kala membuka kotak tersebut. Dan meringis tertahan kala melihat isinya. Mulai kalut.

“Bagaimana ini…”

****

Gadis itu melangkah gontai keluar dari ruangan. Kedua tangannya memeluk paper bag tersebut dengan kepala tertunduk. Wajahnya masih sepucat sebelumnya. Diam-diam kedua matanya memanas memikirkan nasib benda di pelukannya ini. Pikirannya mulai kacau karena membayangkan hal-hal yang mungkin saja akan terjadi ke depannya.

Gagal.

Pupus sudah.

Sia-sia…

Dan segala macam sugesti negatif yang bergentayangan di kepalanya.

Sampai akhirnya ia disadarkan oleh tabrakan mendadak akibat langkahnya yang tidak diperhatikan akibat pandangannya yang terus ke bawah. Mengejutkannya serta menimbulkan rasa panik baru di dalam benaknya karena dia sadar sudah menabrak seseorang.

“M-maafkan aku!” ucapnya tergagap disertai bungkukan dalam.

Eo? Kau si pelayan cantik itu?”

Mau tidak mau Soo Rin menegakkan tubuhnya, mengangkat pandangan demi melihat siapa yang mengajaknya bicara. Samar-samar matanya melebar melihat ternyata beberapa pria yang pernah menggodanya minggu lalu itu kini datang kembali kemari.

“Hei, Pelayan Cantik, sudah mau pulang?”

“Kenapa cepat sekali? Kami baru saja datang!”

Pelan-pelan Soo Rin meringsek mundur melihat bagaimana gerombolan berjumlah tiga orang itu melakukan aksi merayu padanya. “Pe-pekerjaanku memang sudah selesai…” jawabnya pelan. Diam-diam Soo Rin agak takut karena belum pernah merasa diserang seperti ini. Bahkan seperti tengah dikeroyok.

Eii, ini masih sore. Bukankah kau bekerja sampai malam, hm?

“T-tidak…”

“Tidak? Ayolah, Pelayan Cantik, layani kami terlebih dulu, eo?

Soo Rin menggeleng takut-takut. Matanya tidak berani mengedar. Ia sadar betul bahwa saat ini dirinya masih berada di luar teritori pengunjung kafe, melainkan di dekat ruang karyawan yang jaraknya tidak jauh dengan toilet pengunjung sekaligus tangga menuju lantai atas. Yang dipastikan saat ini hanya ada dirinya yang mondar-mandir di daerah ini. Juga ketiga pria tak dikenalnya ini!

“Omong-omong, kau belum menjawab pertanyaanku saat itu. Apa kau sudah memiliki kekasih?” salah satu dari pria itu mengerling nakal. Tangannya mulai ikut andil bergerak hendak menyentuh gadis itu. “Hei—”

Soo Rin hampir melompat mundur demi menghindari tangan tidak sopan itu, yang di waktu bersamaan ternyata ada yang mencekal tangan itu sebelum benar-benar menyentuhnya. Langsung saja batinnya merasakan kelegaan luar biasa sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya demi melihat siapa yang sudah menolongnya.

Kemudian jantungnya serasa terjun bebas dari tempatnya begitu melihat siapa yang sudah menolongnya.

Don’t touch my wife.

Dan terperangah hebat mendengar pria itu mengucapkan kalimat singkat dan padat itu, dengan suara beratnya yang sarat akan geraman tertahan, juga wajah tegasnya yang mengeras menatap sengit ketiga pria yang sudah berani mendekati Soo Rin.

Soo Rin mungkin bisa merasa bersyukur karena ia tertolong, hanya saja—Ya Tuhan… Soo Rin tidak bisa mempercayai kenyataan bahwa Kim Ki Bum yang akan menolongnya!

Bagaimana bisa Kim Ki Bum ada di hadapannya sekarang?!

Ki Bum menghentak kasar melepas tangan pria itu sebelum meraih tangan Soo Rin. Menarik gadis itu pergi dari sana meninggalkan gerombolan pria sialan itu. Tidak mau berlama-lama karena Ki Bum bisa saja meledak dan melayangkan kepalan tangan untuk mereka yang sudah berani mendekati sekaligus menggoda gadis di gandengannya kini.

Hyung, usir mereka dan jangan izinkan untuk datang lagi kemari,” tegasnya begitu bertemu kembali dengan Jong Woon di counter. Sangat cepat lalu melengos begitu saja keluar dari kafe.

Meninggalkan Jong Woon yang tidak sanggup membalas barang satu huruf pun ucapan pria yang pergi membawa gadisnya itu dari sini. Menimbulkan dumalan dari mulut Jong Woon melihat betapa diktatornya seorang Kim Ki Bum jika sudah menyangkut seorang Park Soo Rin.

Sedangkan di sisi lain, Jong Jin dengan raut masamnya melangkah cepat menuju tempat di mana kejadian baru saja itu berlangsung. Menghampiri ketiga pria yang sejak awal terus ia awasi karena ia pernah melihat hal yang serupa sebelumnya. Sebelumnya dia hampir mengusir mereka jika matanya tidak langsung menangkap Kim Ki Bum—yang entah datang sejak kapan—melangkah maju lebih dulu.

Jeogiyo! (Permisi)”

Mereka menoleh hampir bersamaan, lalu sedikit terkejut melihat kedatangan Jong Jin.

“Bisakah kalian tidak mengganggu karyawan kami? Kami menghargai akan kedatangan kalian kemari, tetapi jika niat kalian tidak beretika seperti yang terjadi baru saja, kami tidak akan segan-segan melaporkan kalian ke pihak berwajib atas dasar pelecehan.”

Seketika mereka mematung di tempat.

****

Gadis itu duduk tidak tenang di sofa ruang tengah. Ia sendirian, namun merasa was-was karena pria itu seolah mengintimidasinya dari kejauhan. Berkutat di dalam dapur yang entah kenapa tiap suara yang ditimbulkan dari kegiatannya di sana seperti sebuah lonceng peringatan baginya.

Selain itu, pikiran Soo Rin masih berkecamuk soal masalah barang yang sudah ia jatuhkan tanpa disengaja tadi. Dia merasa tertekan akan apa yang sudah terjadi. Barang yang dia beli dengan uang hasil kerjanya rusak akibat ulahnya yang ceroboh. Soo Rin benar-benar kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa. Jerih payahnya terasa sia-sia. Bagaikan sebuah karma karena sudah melanggar perintah.

Ya Tuhan, bagaimana Soo Rin mengatakannya pada Kim Ki Bum? Apakah Kim Ki Bum akan memarahinya karena sudah membantah perkataannya?

Belum selesai sampai situ, Soo Rin kembali dibuat tegang kala pria itu kembali dari dapur, membawa baskom kecil berisi air es serta selipat handuk kecil di genggaman, meletakkannya di atas meja sebelum mendudukkan diri di dekat Soo Rin. Gadis itu menunduk dalam-dalam kala sudut matanya menangkap pria itu tengah menatapnya. Jantungnya berdegup kencang menyadari sepasang mata itu menatap tajam dirinya.

“Kemari.”

Soo Rin tersentak kaget dengan suara halus namun datar itu. Mengangkat kepala dengan kaku. “N-ne?

Tidak ingin mengulang, Ki Bum memilih untuk bertindak secara nyata, menarik gadis itu hingga oleng, menuntunnya untuk merebahkan kepala gadis itu ke pangkuannya sebelum merendam handuk yang dibawa ke dalam baskom, kemudian memerasnya.

Sedangkan Soo Rin harus terbengong-bengong dengan perilaku pria ini. Ia menelan saliva lamat-lamat karena mulai gugup dengan posisinya saat ini. Ingin menyingkir pun tidak bisa karena gerak-gerik pria ini seolah memperingatinya. Mata jernih Soo Rin langsung bergerak gelisah begitu pria yang dengan sangat leluasa memandangnya dari atas kini benar-benar memandangnya.

Tanpa berkata, Ki Bum menyeka wajah Soo Rin perlahan, dengan telaten membersihkan wajah yang tampak penat secara menyeluruh—yang secara langsung memberikan kenyamanan pada sang empunya hingga memejamkan mata tanpa sadar. Melupakan rasa gugupnya begitu saja.

“Apa kau tidak sadar? Wajahmu tampak pucat dan lelah. Kau hampir jatuh pingsan.”

Sontak Soo Rin membuka mata lagi, lalu merutuki gerak refleknya karena langsung bertubrukan dengan mata hitam Ki Bum. “B-benarkah? Aku… aku merasa baik-baik saja…”

“Aku merasa sangsi dengan jawabanmu.”

Yeah, bahkan Soo Rin sendiri merasa sangsi. Karena pada nyatanya setiap hari Soo Rin merasa tubuhnya remuk karena terlalu lelah hingga beberapa kali wajahnya terlihat pucat. Beruntung hingga detik ini dia tidak mendapati darah rendahnya kambuh. Hanya merasa pusing secara berkala setiap dirinya terlalu lama berdiri.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”

E-eung?

“Bahwa kau bekerja paruh waktu.”

“I-itu…”

“Kenapa kau membantahku?”

Soo Rin menggigit bibir. “Maafkan aku…”

Ki Bum menghela napas cukup panjang. Tidak habis pikir dengan kelakuan Soo Rin yang berani melakukan hal yang sudah dilarangnya, diam-diam tanpa sepengetahuannya. Beruntung dirinya segera menyadari begitu pertama kali melihat gadis ini pulang larut dan tergeletak di sofa karena kelelahan tempo hari. Ia menghubungi Jong Woon dan menginterogasi pria itu. Benar saja, Jong Woon mengaku telah mempekerjakan Soo Rin di kafenya.

Hanya saja Ki Bum tidak segera menegur Soo Rin karena ia ingin tahu sejauh mana gadis ini bertahan. Jong Woon juga mengingatkannya untuk tidak segera melakukannya sekaligus menjamin keselamatan Soo Rin. Namun Ki Bum juga menyadari bahwa gadis ini memiliki darah rendah dan bisa kambuh jika terlalu tertekan dengan pekerjaan yang cukup melelahkan.

“Sebenarnya apa yang sedang kau inginkan, Soo Rin-ah?

Soo Rin merasakan tubuhnya berdesir mendengar pria ini memanggilnya. Ia membalas tatapan Ki Bum meski takut-takut. “Aku ingin membeli sesuatu,” jawabnya lirih.

“Jika kau ingin membeli sesuatu, kau bisa meminta padaku dan aku akan membelikannya untukmu.”

“Bukan begitu…” Soo Rin memberanikan diri untuk bangkit, mendudukkan diri menghadap Ki Bum meski dengan kepala tertunduk. “Aku ingin membeli sesuatu untukmu… se-sebagai hadiah ulang tahun,” lanjutnya memilih jujur, suaranya mengecil secara berkala  saat mengucapkan empat kata terakhirnya.

Jelas membuat Ki Bum terpana seketika. Diam-diam dirinya mencelos mendengar klarifikasi dari mulut gadisnya sendiri. Heol, dia bahkan sempat melupakan hari ulang tahunnya yang jatuh pada tanggal dua puluh satu di bulan ini. Yaitu—di hari ini?!

“Aku ingin membeli sesuatu dengan uangku sendiri. Karena itu aku bekerja paruh waktu di kafe Jong Woon Sunbae. Hanya saja…” Soo Rin menunduk semakin dalam. Kedua tangannya memilin sekaligus meremas ujung pakaiannya, “hanya saja aku merusak hadiahnya—karena kecerobohanku. Maafkan aku… mungkin itu akibat dari perbuatanku yang sudah membantahmu, bekerja diam-diam, tanpa kau tahu. Aku merasa bahwa usahaku sia-sia…” suaranya mulai bergetar, begitu juga dengan kedua tangannya yang beralih saling meremas. “Maafkan aku…”

Ki Bum tercenung untuk sesaat. Mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut Soo Rin memang tidaklah sulit, hanya saja menanggapinya itu terasa sulit sekali. Dia bahkan tidak memikirkan niat baik gadis ini yang melakukan hal itu untuknya karena ia berpikir gadis ini hanya ingin mengisi waktu luang yang sebenarnya bisa menjadi boomerang baginya sendiri. Ki Bum dapat merasakan benaknya bergemuruh tidak karuan saat ini. Menimbulkan gejolak yang bisa melepas kendalinya kapan saja.

Astaga, Park Soo Rin…

“Di mana barangnya?”

Soo Rin menggeleng lemah. “Itu sudah tidak layak pakai…”

“Aku ingin melihatnya.”

Mau tidak mau Soo Rin menunjukkan paper bag yang sempat tergeletak di dekat sofa. Sebenarnya Soo Rin ingin menolak permintaan Ki Bum tapi, dia sadar bahwa Ki Bum tidak mau dibantah. Dan membiarkan pria itu melihat wujud barang yang dibelinya dengan uangnya sendiri namun sudah rusak itu.

Tanpa gadis itu sadari, Ki Bum mendengus pelan disertai senyum yang tersungging di bibir penuhnya begitu melihat benda yang terbungkus dengan kotak berwarna biru itu. Sebuah mug bergambar Brown—salah satu karakter stiker di situs chat. Ki Bum ingat bahwa ia sempat membelikan mug bergambar Cony untuk Soo Rin beberapa bulan lalu, menyadarkannya bahwa gadisnya itu membelikan pasangannya. Hanya saja setelah dilihat-lihat, memang benar bahwa benda yang menjadi hadiah untuknya ini sudah rusak. Bukan, bukan rusak dalam arti pecah. Hanya sedikit retak di dekat gagangnya. Setidaknya kotak yang membungkus benda ini dilengkapi dengan styrofoam tebal sehingga mampu meredam benturan.

“Tapi ini masih bisa dipakai.”

Tanpa pria itu ketahui, Soo Rin cemberut. Masih bisa dipakai bagaimana? Itu memalukan! “Sudah kubilang itu sudah tidak layak pakai!”

Babo,” cibir Ki Bum dengan senyum yang semakin mengembang. “Ini hanya retak, Soo Rin-ah. Tentu saja masih bisa dipakai untuk minum.”

“Tidak. Itu sudah cacat. Lebih baik dibuang saja.”

“Kau bercanda?”

“Tidak. Aku tidak bercanda.”

“Baiklah jika itu maumu. Ini uangmu, bukan? Aku akan membuangnya sesuai keinginanmu.”

Ya. Buang saja. Meski sebenarnya Soo Rin harus mendesah kecewa di dalam hati mendengar konfirmasi dari mulut pria itu sendiri—sekaligus melirik gerak-gerik pria itu yang kembali memasukkan benda itu ke dalam kotak. Tentu saja Soo Rin menyesal karena pria itu benar-benar menuruti permintaannya yang sebenarnya tidak serius. Soo Rin tentunya masih berharap bahwa pria itu tetap akan menerimanya. Ugh, biar saja Soo Rin dikatakan labil. Pada kenyataannya dia sangat berharap meski mulut berkata lain.

Tiba-tiba ia merasakan tangan besar itu merengkuh wajahnya, mengangkatnya hingga bertatap muka dengan wajah tegas yang bergerak semakin mendekat. Sebelum kesadarannya terpenuhi, ia harus merasakan sesuatu yang lembut menyapu bibir kecilnya dengan gemas. Mengejutkan jantungnya dengan sengatan volt hasil dari sentuhan itu yang langsung memicu adrenalinnya untuk bergejolak di dalam tubuhnya.

“Sayangnya aku hanya bercanda,” gumam Ki Bum setelah menciptakan jarak di antara mereka. Menatap lekat mata jernih yang melebar akibat ulahnya yang memang tanpa aba-aba. Apalagi mulai terlihat rona kemerahan menghiasi kedua pipi itu, memancing Ki Bum untuk menyeringai akan keberhasilannya.

Dan seringaian itu berhasil menjungkir balikkan jantung Soo Rin akibat efek radiasinya. Sial sekali, pesona Kim Ki Bum sudah tidak ada tandingannya lagi jika bibir penuh itu melengkung seperti yang dilihatnya saat ini.

“Terima kasih. Aku bahkan hampir melupakan hari kelahiranku ini.”

“Y-ya… itu karena kau terlalu sibuk dengan urusan rumah sakitmu itu,” dumal Soo Rin sedikit tergagap. Dia masih terhanyut akan hasil perilaku pria ini tadi.

Ki Bum terkekeh pelan mendengarnya. Memanfaatkan posisinya yang masih merengkuh wajah cantik Soo Rin, ia mengecup ringan hidung bangir itu. “Kemari,” titahnya lembut seraya menuntun Soo Rin kembali merebahkan diri di pangkuannya.

Soo Rin memerhatikan prianya yang kembali merendam handuk ke dalam baskom berisi air es itu, memerasnya sebelum kemudian menyeka wajahnya lagi dengan telaten. Sungguh, ia merasa berdesir-desir di sekujur tubuh akibat perilaku yang terlampau perhatian dari Kim Ki Bum!

“Sebenarnya aku sedang disibukkan dengan tugas kuliahku.”

Ia melongo untuk beberapa saat. Sedikit lambat untuk mencerna kata-kata pengakuan Ki Bum. Hingga akhirnya melotot terperangah. Hampir saja dirinya kembali mendudukkan diri jika Ki Bum tidak segera menahan pergerakannya.

“K-kau bilang apa? Kuliah?”

Eum,” Ki Bum mengangguk samar. “Aah, aku belum memberi tahu padamu akan hal ini,” memasang ekspresi baru menyadari sesuatu, “Aku disekolahkan oleh pihak rumah sakit, di Universitas Inha. Mereka ingin aku menuntaskan Program Magister di bidang ahli bedah. Mereka menjaminku bahwa aku akan direkrut menjadi dokter tetap di sana jika aku mampu menyelesaikannya dengan hasil memuaskan. Itulah mengapa aku sangat disibukkan oleh tugas dari kampus, dan belakangan ini aku masih sangat dibutuhkan oleh rumah sakit.”

“Kau tidak memberi tahuku soal itu!”

“Sebagaimana denganmu yang tidak memberi tahuku soal kerja paruh waktumu itu.”

“Tapi kau menyembunyikannya lebih lama dariku! Tunggu, aku tidak pernah melihatmu berada di kampus.”

“Aku hanya berkunjung sesekali. Sisanya aku menghabiskan waktu di rumah sakit.” Ki Bum menghentikan kegiatannya, membiarkan handuk yang digenggamnya menempel tepat di kening gadisnya, menatap lekat dan dalam gadisnya yang kini tengah terbengong-bengong akibat penjelasannya. “Maafkan aku. Kau menjadi bosan dan nekat untuk bekerja paruh waktu,” ucapnya menyesali. Namun jari telunjuknya bermain menyentuh bibir yang terbuka itu, memberikan sengatan kecil hingga sang empu segera mengatupnya.

Cepat-cepat Soo Rin menggeleng, membantah kesimpulan Ki Bum yang sebenarnya benar. Tetapi itu adalah alasan awal dia ingin bekerja, selanjutnya, “Aku bekerja paruh waktu untuk membeli hadiah ulang tahunmu,” jawabnya cepat, terdengar polos sampai-sampai Ki Bum terkekeh pelan. Soo Rin cemberut.

“Aku tidak membutuhkan barang-barang itu, sebenarnya.”

“Tapi, aku ingin memberi sesuatu untukmu dari hasil pekerjaanku sendiri,” Soo Rin merengut memelas. “Jadi kau memang tidak ingin menerima hadiahku?”

“Bukan begitu, Sayang.” Ki Bum tampak gemas dibuatnya hingga tangannya tidak bisa diam—mencubit hidung gadis itu.

Sedangkan Soo Rin sendiri harus meringis sekaligus berdebar-debar berkat sebutan yang keluar dari mulut pria ini untuknya. Ugh, itu memang bukan yang pertama kali meski tidak setiap saat Kim Ki Bum mengutarakannya, tetapi karena tidak setiap saat itulah Soo Rin harus merasakan efek yang begitu besar terhadap jantungnya.

“Mungkin untuk selanjutnya kau tidak perlu merepotkan diri seperti ini. Aku tidak begitu membutuhkan hadiah-hadiah itu.”

“Lalu, kau membutuhkan apa untuk ulang tahunmu? Kue buatanku?”

“Tidak.”

“Kartu ucapan?”

“Tidak juga.”

“Lalu apa?”

“Kau.”

Soo Rin terdiam. Wajahnya semakin bersemu merah dengan cepat karena ia berhasil menangkap maksud dari jawaban Ki Bum.

“Jangan tanyakan kenapa. Pada dasarnya aku tidak membutuhkan hal yang lain sebagai hadiah untukku karena kau adalah yang paling aku butuhkan. Dan aku akan merasa senang jika kau adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Itu sudah cukup bagiku.”

Dan jangan tanyakan lagi bagaimana nasib jantung Soo Rin saat ini. Melihat bagaimana pria ini menatapnya dari atas begitu lekat hingga Soo Rin tak mampu berpaling lagi, seolah menyelami sepasang iris kecoklatannya dengan penuh rasa. Mengumbar pesona yang sulit untuk dielakkan berkat senyuman yang semakin mempertegas ketampanannya. Sungguh membuat kondisi Soo Rin semakin memprihatinkan sampai-sampai sulit untuk mengatur napas!

Menelan saliva susah payah, Soo Rin mencoba untuk mengerjap pelan, berkilah dari pesona pria yang tengah memangkunya. Soo Rin menyadari bahwa dia belum mengucapkan apapun untuk pria ini. Sejenak batinnya merutuk diri sendiri akibat kecerobohannya. Ia segera bangkit mendudukkan diri, menatap Ki Bum sesekali bersamaan kedua tangannya yang kembali meremas ujung pakaiannya.

“Apakah… aku masih memiliki kesempatan?”

Ki Bum mengangkat kedua alisnya sebagai respon. “Tentu saja.”

Gadis itu membenarkan posisi duduknya, menggeser tubuhnya hingga tepat berada di sisi pria itu, meraih sebelah lengan kekar itu demi tumpuannya, tanpa sadar meremasnya karena di saat bersamaan ia memberanikan  diri untuk mengecup sebelah pipi pria itu. Untuk beberapa detik.

Mengejutkan Ki Bum hingga serasa mematung di tempat. Apalagi melihat bagaimana kedua pipi gadis itu memerah semakin menjadi setelah melakukan aksinya, melihat dengan pasti iris kecoklatan itu bergerak gelisah karena menghindari tatapan-menuntut-penjelasannya saat ini. Dan harus dikejutkan lagi kala gadis itu langsung memeluknya.

“S-selamat ulang tahun…” Soo Rin mengucapkannya di dekat telinga pria ini. “Semoga kuliahmu lancar dan menjadi dokter tetap. Dan, semoga kau tidak bosan padaku dan… dan terus bersamaku sampai nanti…”

Seulas senyum akhirnya terbit di bibir penuh Ki Bum. Kedua tangannya bergerak melingkari tubuh gadis ini, begitu ketat dan hangat. Menyembunyikan sebagian wajahnya di balik rambut panjang gadis ini, menghirup aromanya, menghidu candunya.

“Terima kasih,” bisiknya halus—sangat halus.

“Aku juga… terima kasih,” terdengar malu-malu di balik bahu lebar pria itu. “Terima kasih sudah bertemu denganku, menjadi penggemar rahasiaku, menjadikanku sebagai kekasihmu dalam bentuk status bermacam-macam.”

Ki Bum terkekeh geli mendengar kata-kata terakhir itu. Astaga gadisnya ini…

“Dan, terima kasih sudah mengikatku dalam status milikmu yang sesungguhnya. Terima kasih sudah memilihku untuk menjadi tanggung jawabmu.”

Rasa bahagia membuncah di dalam benaknya. Mendengar bagaimana gadisnya berkata penuh ketulusan meski disertai nada malu-malu, sukses membuat sekujur tubuhnya berdesir hebat. Mungkin gadis ini terlalu spesifik dalam menjelaskan arti hubungan mereka, namun itulah yang membuatnya merasa bangga karena… ya, pada akhirnya dia bisa mengikat gadis ini ke dalam keseriusan di mana dia secara senang hati mau menjadi penanggung jawab sekaligus tempat bergantung gadis ini selama sisa hidupnya.

Sisa hidup mereka.

Ya… Ki Bum memang tidak salah memilih Soo Rin sebagai pendamping hidupnya.

Dan Soo Rin tidak salah memilih Ki Bum sebagai pendamping hidupnya.

“Terima kasih sudah menjadi Park Soo Rin,” hanya itu yang bisa Ki Bum katakan untuk saat ini. Sebuah ungkapan penuh makna yang hanya dimengerti olehnya, juga Soo Rin sendiri.

“Terima kasih sudah menjadi Kim Ki Bum,” balas Soo Rin.

In any day you are, in any time, with your usual smile, you waited for me. More than any word, more than any jewel, it’s an irreplaceable gift. Because you’re there, I can stay just the way I am. Just like what you’ve gave me, I will find something I can give to you in this lovely day. I wanna say I love you. I will always come back here. Color that suits you, I will send together with pretty ribbon. A gift that will reach that lovely smile. Thank you for the love…
(D&E – GIFT)

Cony-Brown

FIN


A/N :: PLEASE READ

Sebenarnya aku pengen posting ini tepat di hari-H, tapi apa daya aku ngga sanggup karna….tau berita mengenai kimkibum yang ternyata udah habis kontrak sama SM. Itu cukup bikin aku syok.

Padahal, jujur seharian itu aku semangat bikin cerita ini dengan deadline, tengah malam harus udah jadi dan langsung posting! Tapi, ternyata takdir berkata lain… aku belum tau soal kabar itu, makanya begitu aku on dan buka sosmed (lebih dulu), otakku blank seketika. Di sisi lain aku ngga nyangka banyak teman-teman yang seharian itu ngabarin aku, akunya bengong parah begitu baca kabar-kabar itu. Apalagi TL-ku langsung penuh dengan kabar kimkibum. Dan, niatku buat posting ff ini lenyap seketika. Aku nge-down ㅠㅡㅠ

Tapi aku berusaha untuk mengerti. Setidaknya kimkibum menjalankan kontraknya dengan baik—sampai selesai, dan keluar dari sana secara baik-baik. Dan hal yang sangat nyata di mana dia ternyata masih berkomunikasi dengan member lain dan mereka mendukung dia sepenuhnya, itu sedikit mengobati. Yah, pokoknya, doakan yang terbaik aja. Itu keputusannya, dan kita sebagai fans cukup mendukungnya aja. ^-^

Dan, masalah akunya sendiri. Ngga berniat buat berhenti bikin ff casted kimkibum kok. Bagaimana pun dia kan aset berharga, aku udah kontrak/?  dia sampai pembaca bosan sama dia wks~ pokoknya selama masih ada dari kalian yang mau baca, beri dukungan dan semangat, aku masih akan terus nulis. Meski tulisanku masih absurd, aku akan berusaha buat menyuguhkan yang terbaik. Selama masih ada yang bersedia memberi masukan, aku bakal baik-baik aja (?) heheheh ^^

Yaudah…

Selamat ulang tahun buat Kim Ki Bum! Semoga ngga tenggelam lagi, meski udah ngga di SM tetap nongol yaa~ entah kehidupan apa yang bakal dijalankan (asalkan itu yang baik dan yang terbaik) aku berharap masih bisa melihat wujudnya di media mana pun. Setidaknya dengan begitu kita semua masih percaya kalo Kim Ki Bum masih jadi Kim Ki Bum yang kita sayang #eaa >< Dan menjadi passion buatku untuk terus nulis heheheh

Yosh! Terima kasih buat pembaca yang udah bersedia membaca sampai sini kkk  udah bersedia mengikuti berbagai cerita absurd buatanku sekaligus memberi dukungan. Belakangan ini aku udah jarang balasin komen hwhwhw maafkan aku yang mulai sibuk/? Ini >< Trus terima kasih juga buat teman-teman yang selalu kasih kabar tiap kimkibum kenapa-kenapa wks~ aku suka kudet soalnya, jadi makasih banyaaaaaakk sekali!

Dan terima kasih udah mau mampir~ salam dari para cameo~

Kim Jong Woon
Kim Jong Woon
Kim Jong Jin
Kim Jong Jin
Min Yoon Gi a.k.a SUGA BTS
Min Yoon Gi a.k.a SUGA BTS

끝!!!

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

18 thoughts on “From Me To You

  1. aaa eonni, baca ini ff jadi gak rela kalo kibum harus out dari SM 😦
    sweet parah banget sih eonn, buat yang ngebaca sampe senyum senyum sendiri 😉
    “sikap diktator kim kibum jika sudah menyangkut park soorin”
    kalimat yang paling aku sukain ^_^
    baru sempet baca yang ini, two person sama with you belom kebaca
    #KeepWriting aja eonni 😉
    ditunggu karya yang selanjut nya 🙂

  2. Jangan lupakan bulan agustus soorin-ssi, bulan ini jong won sunbaenim juga ultah lho.. Jangan lupa kadoin dia mug kura-kura ya… Eh Thor, ultahku barengan sama bapaknya ddangkoma log wkwkwk *gakpenting* ^^. Ditunggu ff lainnya Shizuka-ssi.

  3. yah yah Happy Birthday Kibumie ^^ mengenai Kibum yang tidak memperpanjang kontrak dgn SM memang amat sangat mengejutkan, bertahun-tahun menunggu dan hasilnya benar-benar tak diduga TT__TT. Doakan yang terbaik buat Kibumie ^^

    Soorin langsung ga bisa berkutik kalo sudah ada Kibum. Dasar pria ditaktor wehhh XD tapi itulah sisi manisnya Kibum hihi. Caffe Jong Woon oppa karyawannya keren” ih * nunjuk Suga duhh pingin lamar kerja disana XDD

    Siskaa ditunggu lanjutannya Two Person yaa ^^ kkk Semangat buat mu ^^

  4. happy birthday kim kibum ^^
    meskipun agak gimana gitu soal kontraknya sama SM udah habis -_-
    ffnya bgus ^^ soorin beruntung bgt memilki kim kibum 😀
    ya ampun sifat malu”nya soorin bikin gemes juga hahahaha 😀
    ditunggu ff selanjutnya 🙂

  5. uwaaaa… so sweet bgt 🙂
    ikutan blushing aq:-D
    kisoo couple bnr2 keren, tp qm yg bwt crta ni lbih keren lg 😉
    pkok ny 10 jmpol bwt author 🙂

    smga stlh kluar dr SM, Kibum lbh brsnar lg.amin 😀

  6. Istri tercinta’a kyuhyun hadir moga komenan x ni bisa masuk :-D..usaha’a soorin gk sia” karnA kibum seneng hati nerima hadiah’a kkk
    feel’a dapet bgt apa lg pas sesi berduaan’a hhhh, “Don’t touch my wife.” wihhh kibumie keren amarah’a sdh di-ubun” pasti tuh tau milik’a lg digodain

  7. Wuihh bikin meleleh.. ikt senyum sendri pas bc.. DAEBAK p0k0k y..
    kalimat s0 rin yg terakir q sgt stj,apapun keptsan ki bum pasti yg terbaik buat dia sendr, “TERIMA KASIH SUDAH MENJADI KIM KI BUM” dan selamat ulang taun buat ki bum 🙂

  8. Seperti biasa aku suka dengan cerita yang kau buat kerennnn…

    Couple KiSoo selalu bikin aku senyum2 gaje, selalu manissss, suka dengan sifat diktator Kibum kalo udah menyangkut gadisnya…aku selalu dibuat gregetan sama sikapmu bang, dag dig dug nih ati…

    Benarkah Ki bum.oppa dah gak di sm lagi, aku baru tahu (kudet), tp kalo itu benar semoga aja abang keren ini mendapat apapun yang diinginkan, yang terbaik selalu menyertainya, saengil chukkae oppa, love you and we always together 😘😘😘

  9. Aku mah terharu sama tulisan pas di akhir yang author tulis huhuhu 😭
    Saengil Chukkae Hamnida Ki Bum Oppa .. Bang Toyib yg kini bukan bang toyib lagi kali yahh .. Soalnya udah gak bareng di SM .. Semoga oppa sehat terus,makin banyak yang mencintai,makin sukses dengan karirnya,makin ganteng, poko ya yang terbaik buat oppa ..

    Buat cerita ini mah .. Aku suka pisan .. Soo Rin berusaha banget biar dapet apa yang dia incer dari lama .. Ki Bum juga ngerti banget sama Soo Rin pas ketauan kerja .. Konflik ya bikin nyess gitu ..
    Yang jadi pertanyaan .. Kapan KiSoo punya baby ?? Hahahahahaha 😊😁😃

    Cepet dapet baby biar Soo Rin gak bosen lagi di rumah .. Biar ada maenan wkwkwk

  10. walaupun kibum udah out dari sm,,, tpi eonni nggak blh berhenti buat ff.y kibum. krn aku suka sma ff buatan eonni. dan ff eonni adalah ff yg cast.y kibum yg pertama aku baca dan aku suka sampai skarang.

    ngomong2 two person.y kapan dilanjut yah ?

  11. hyaaa kenapa tulisan mu selalu kerenn thor, gak bisa ngomong apalagi dahhh
    pokoknyaa the best buat authornyaa

    semangat nulisnya thor, jangan lupa two personnya yaaa ditunggu

  12. Walaupun kibum udah keluar dari SM, tapi kibum sama tulisan kakak yg selalu bercast kibum belum keluar dari hatiku. Mungkin gak akan pernah keluar^^ 😀

  13. Keren nih!! Aku sampe trharu pas baca wishesnya SooRin yg di akhir2 :’)
    pair ini slalu sweet bangettt. Mau dong pny laki ky Kibum nya unnie😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s