Posted in Category Fiction, Chaptered, KiSoo FF "Two Person", PG, Romance

Two Person – First Date

prev :: #1.Nerd and Innocent | #2.Aggressive | #3.Control | #4.Can (not) Stop | #5.Do (not) Stop#6.Start Again, Meet Again | #7.The Real Kim Ki Bum | #8.About Park Soo Rin | #9.Missing | #10.Chance | #11.Flashback#12.In The Other Side | #13

tp1

Genre :: School Romance

Rated :: PG

Length :: Series

||KiSoo||

almost 7k words

Happy reading!! ^-^

ㅡㅡ

When they spent their weekend with the first dating…

ㅡㅡ

TERLIHAT Ki Bum bersandar pada sisi dinding halte. Membiarkan motor besarnya itu terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Sudah dipastikan bahwa lelaki itu tengah menunggu seseorang. Wajah tegasnya memang hanya menguarkan raut datar, namun pancaran matanya berkata lain. Sesekali ia menundukkan kepala demi memeriksa layar ponselnya.

Terakhir, ia mendapat balasan dari pesan singkatnya itu. Pesan yang untuk kali pertama ia kirim pada Park Soo Rin. Jika ada yang penasaran bagaimana rasanya kala dirinya akhirnya memilih untuk mengirim pesan, percayalah, bahwa Kim Ki Bum—sedikit—merasa gugup. Padahal sebelumnya dia justru memilih untuk menelepon langsung gadis itu, tetapi, hanya sekadar mengirim pesan sudah membuat benaknya tidak karuan.

Kidaryeo! Na kanda! ^-^(Tunggu saja! Aku pergi!)

Adalah balasan dari pesan singkatnya itu, dikirim oleh gadis serampangan bernama Park Soo Rin. Hanya tiga kata ditambah satu emoticon, sudah membuat Ki Bum rela untuk menjadi tidak waras seperti ini. Bisa dibayangkan, bukan, bagaimana pengaruhnya gadis itu untuknya? Ki Bum sendiri masih tidak percaya bahwa gadis seperti Soo Rin mampu membuat dirinya seperti sekarang ini.

Tersenyum seorang diri, selalu memikirkan keadaan gadis itu, merindukan gadis itu, hingga mengalami yang namanya ingin segera bertemu dengan gadis itu, ditambah… sebuah rasa di mana dirinya ingin terus membawa gadis itu untuk selalu berada dalam jangkauannya.

Tidakkah rasa suka itu cukup hebat efeknya? Mengubah seorang Kim Ki Bum yang berhati keras menjadi lelaki yang lemah jika sudah menyangkut soal Park Soo Rin. Dan ia menyadari sepenuhnya bahwa dia membutuhkan kehadiran gadis itu sekarang. Bagaimana pun situasi dan kondisinya, Ki Bum selalu ingin melihat gadis itu—lagi dan lagi.

“Kim Ki Bum!”

Mendengakkan kepala, senyum manisnya mengembang seketika kala melihat sosok yang ditunggu-tunggunya sudah berdiri sekitar 10 meter di hadapannya, melambaikan tangan seraya mengulas senyum manis yang mempesona, sebelum akhirnya melangkah mendekat, mengikis jarak 10 meter dalam tiap langkah ringan dan cepatnya, hingga kini hanya tersisa jarak setengah meter di antara mereka.

“Sudah menunggu lama?” tanya Soo Rin renyah. Mata kecoklatannya tampak berbinar dengan kedua pipi yang sedikit merona. Begitu menggemaskan di mata Ki Bum.

Lelaki itu memeriksa ponselnya, kemudian kembali menatap gadis di hadapannya, mencoba untuk memudarkan senyumnya. “Menurutmu, apakah lima belas menit itu lama? Aku tidak suka menunggu, perlu kau ketahui itu,” ujarnya dengan nada datar. Menguji kepekaan gadis ini.

Tapi ternyata gadis itu menjawab dengan gelengan ringan. “Kurasa itu tidak lama. Bukankah kau berkata ingin menungguku?”

Telak. Jawaban Soo Rin yang terdengar polos itu berhasil membuat Ki Bum hampir tersedak hingga ia terpaksa mendengus geli. Sial sekali, bukan? Park Soo Rin selalu berhasil mengalahkannya dengan mudah tanpa gadis itu sendiri ketahui. Mau tidak mau Ki Bum membuang gengsi-nya itu dan berganti dengan ulasan senyum merekah di bibirnya. Tubuhnya sedikit bergerak ke depan demi menjangkau gadis itu, mengusap puncak kepala gadis itu dengan gemasnya, yang semakin membuatnya tidak tahan karena melihat bagaimana cerahnya wajah manis itu karena kini dihiasi dengan cengiran lugu beserta semburat kemerahan di kedua pipinya.

Membuat Ki Bum harus segera menyimpan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya jika tidak mau melakukan hal lain yang akan menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Seperti, menarik gadis ini ke dalam pelukannya, atau mungkin sampai mencium gadis ini? Heol, Ki Bum sendiri tidak menyangka khayalan itu sudah dengan leluasa berkeliaran di kepalanya. Kurang ajar sekali, bukan?

“Jadi kau menerima tawaranku, hm?” tanya Ki Bum pada akhirnya.

Soo Rin mengangguk cepat. “Bukankah sudah sepantasnya pasangan kekasih pulang bersama?”

Lihat, Ki Bum dibuat geli lagi akibat ulah Soo Rin. “Kalau begitu, kau juga menerima resikonya,” sahutnya seraya mengedikkan kepala, menunjuk motor besarnya itu. Sejenak ia dibuat terpesona dengan raut menggemaskan gadis di hadapannya karena wajah manis itu tampak mengerut kecut.

Ugh, setidaknya aku bisa memeluk punggungmu, itu tidak masalah!”

Habis sudah pertahanan Ki Bum, ia akhirnya menyemburkan tawa setelah mendengar balasan spontan dari mulut Soo Rin. Batinnya bahkan sudah mengumpat karena saking geramnya dia terhadap kepolosan gadis ini. Oh, astaga, kenapa Ki Bum bisa menyukai gadis seperti Soo Rin, sih? Kenapa dia mampu dibuat goyah oleh gadis seperti Soo Rin ini? Bahkan dibuat kalah telak seperti sekarang ini?!

Begitu sukanyakah Soo Rin terhadap punggungnya? Sampai-sampai gadis ini rela menunggangi motor besarnya yang sebenarnya tidak begitu disukainya? Aigo…

Sebenarnya, Ki Bum ingin sekali menggunakan mobil, tapi apa daya bila mobil bukanlah miliknya melainkan milik Kim Hee Chul. Itu pun kemarin ia berani membawa mobil kakaknya itu karena sang kakak sedang berada di rumah. Tapi, jika gadis ini sudah mengatakan hal tak terduga itu, mungkin Ki Bum sudah berubah pikiran sekarang.

Dia akan membawa motor besarnya dengan senang hati.

“Kalau begitu, ayo pulang,” ajak Ki Bum dengan halusnya. Membuat senyum gadis itu semakin merekah dan tampak silau di mata Ki Bum. Ia baru saja bergerak selangkah kala tiba-tiba sebelah tangannya tertahan oleh sebuah genggaman lembut.

“Kim Ki Bum…”

Panggilan merdu itu berhasil menolehkan kepala Ki Bum dengan mudahnya, menatap lekat wajah manis yang juga tengah menatapnya dengan sepasang mata kecoklatan yang begitu jernih, dan Ki Bum mengangkat kedua alisnya demi menjawab panggilan gadis itu.

“Ayo kita berkencan!”

Bisa dibayangkan bagaimana rasanya jika sebuah lonceng besar berdentang tepat di depan telinga? Seperti itulah reaksi Ki Bum saat ini. Merasakan jantungnya berjungkir balik dan matanya mengerjap cepat, mencerna ajakan yang keluar dari mulut Soo Rin dengan cepat pula. Berharap telinganya memang tidak salah dengar karena gadis ini… mengajaknya untuk berkencan.

Diulang, berkencan!

Euh… maksudku, berkencan… di akhir pekan nanti. Hehehe!” Soo Rin meralat, disusul dengan kekehan lucu. Wajahnya semakin merona karena sebenarnya dia merasa malu mengajak soal ini. Hei, ini adalah kali pertama Soo Rin berani mengajak seorang lelaki berkencan dengannya!

Begitu juga dengan Ki Bum…

Sial! Lagi-lagi Ki Bum kalah start dari Soo Rin! Lihat sendiri, bukan, betapa agresif serta tidak sopannya seorang Park Soo Rin terhadap Kim Ki Bum? Sudah menembak Ki Bum lebih dulu, mengajak Ki Bum untuk berpacaran lebih dulu, sekarang mengajak kencan lebih dulu dari Ki Bum!

Membuat Ki Bum merutuki diri sendiri karena begitu lambat dalam urusan seperti ini. Jelas saja, Ki Bum tidak pernah mengalami hal ini. Berhubungan dengan seorang gadis saja tidak pernah apalagi berkencan dengan seorang gadis? Mengingat bagaimana tabiat Ki Bum yang dulunya sangat kasar terhadap para gadis, sekalipun sudah banyak dari mereka yang selalu mendekatinya, tetap saja belum ada yang berani mengajaknya untuk berkencan atau bahkan berpacaran seperti yang sudah dilakukan oleh Park Soo Rin!

Eodi? (Di mana?)”

Soo Rin cukup terperangah mendengar jawaban itu. Matanya berbinar-binar setelah mencerna bahwa lelaki ini menerima ajakannya. Diulang, menerima ajakannya, untuk berkencan di akhir pekan nanti!

“Di—mana saja… kau mau?” sedikit ragu Soo Rin bertanya. Sebelah tangannya bergerak menggaruk pipinya yang terlihat sudah merona berlebihan. Ia sendiri memilih untuk menurunkan pandangannya karena tahu bahwa dirinya terlihat memalukan saat ini, sebenarnya.

Yang akhirnya menggerakkan lelaki itu dengan leluasa untuk mengulas senyum sekali lagi, sebelum akhirnya bersuara, “Call!

Segera saja Soo Rin kembali mendengak, matanya yang sudah melebar tampak mengerjap terperangah. “Call?

Eum, Call!” Ki Bum mengangguk menyetujui. “Cukup beri tahu aku di mana kita akan bertemu, setelah itu kita akan pergi ke mana pun kau mau.”

Ada getaran yang membuncah di dalam benak Soo Rin setelah mendengar jawaban Ki Bum. Wajahnya terasa panas mendapati fakta bahwa lelaki ini menerima tawarannya dan mau mengikuti keinginannya. Dadanya berdesir hebat, begitu juga dengan jantungnya yang sejak awal sudah berdetak di atas normal menjadi bertalu-talu tak terkendali. Ia mengangguk cepat penuh antusias, sebuah isyarat bahwa ia mengunci ucapan Ki Bum sebagai sebuah janji.

“Aku akan memberi tahumu nanti!”

Ya. Dan tentunya, Ki Bum akan menunggu keputusan gadis ini, sekaligus mengosongkan jadwalnya di akhir pekan… hanya untuk gadis ini.

Bukankah rasa suka itu sederhana? Walaupun terlihat harus melakukan ini dan itu terlebih dahulu?

“Siap untuk pulang?” tanya Ki Bum kemudian. Suaranya terdengar lebih halus dibandingkan sebelumnya, apalagi disertai dengan seulas senyum teduh yang hanya ditujukan pada Soo Rin, membuat gadis itu merona semakin menjadi.

Gadis itu akhirnya mengangguk kikuk. Menggerakkan Ki Bum untuk menarik gadis itu menuju motornya. Meraih salah satu helm kemudian mengenakannya pada kepala gadis itu, dengan hati-hati. Lalu giliran dirinya seraya bergerak menunggangi motornya. Hingga membantu gadis itu untuk naik ke belakang.

Dengan perlakuan yang merupakan perhatian kecil itu berhasil membuat Soo Rin berdesir-desir sekaligus merasa senang. Wajah manisnya memanas hingga kedua pipinya merona semakin parah. Beruntung bahwa dirinya sudah terduduk manis di belakang lelaki ini. Dan berharap bahwa lelaki ini tidak melihat reaksinya yang berlebihan karena terlalu senang.

Kemudian memeluk pinggang lelaki itu begitu motor besar ini melaju kencang dengan mulusnya. Meliuk halus di tengah keramaian jalan raya dengan lincahnya. Memicu jantungnya untuk bertalu-talu lebih cepat lagi karena… untuk pertama kalinya dia berani memeluk punggung seorang lelaki. Yaitu lelaki ini.

****

Di Minggu pagi yang masih dikatakan sangat pagi untuk level akhir pekan, Ji Min keluar dari kamar kala melihat sang kakak juga keluar dari kamar dalam keadaan sudah rapih. Sangat rapih. Dengan Coat hooded dresses style berwarna hitam yang membalut kaus white full sleeve-nya, dipadu dengan legging panjang yang lebih gelap sangat pas membungkus kaki jenjangnya, juga sebuah bando berbentuk pita yang cukup mencolok menghiasi rambut panjangnya yang tergerai teratur.

Coat-Hooded-Dresses-Style

Mengundang Ji Min untuk melebarkan mata yang masih setengah terbuka karena kantuk seraya memandang heran sang kakak. “Noona ingin pergi?”

Soo Rin yang hendak menuruni tangga terpaksa menoleh, melempar cengiran lebar pada adiknya yang terlihat sekali baru bangun tidur. Ia berbalik demi menghampiri, mencondongkan tubuhnya demi berbisik, “Noona akan berkencan hari ini!” penuh antusias.

“Apa?!” Ji Min melotot sempurna. Rasa kantuknya yang masih terasa kini lenyap tak bersisa mendengar konfirmasi sang kakak. Mengulang, “Berkencan?!”

Ssh!” Soo Rin menempelkan telunjuknya di permukaan bibir kecilnya. Ia melirik ke lantai bawah yang dipastikan ada kakak tertua mereka di sana. Siapa lagi jika bukan Jung Soo? Beruntung Ji Min segera mengerti dengan menepuk mulutnya. “Jangan beri tahu hal ini pada Jung Soo Oppa, eo?

“Tapi…” Ji Min melirik jam dinding tak jauh dari tempat mereka berdiri. “Noona akan berangkat sepagi ini?”

Soo Rin terkekeh polos sebelum mengangguk cepat. “Noona harus segera pergi. Dan kau! Jaga rahasia ini, mengerti?”

Ji Min memutar bola matanya. Memasang wajah penuh percaya diri yang memang dapat dipercaya oleh Soo Rin. “Tenang saja, Noona. Pergilah! Selamat bersenang-senang dengan kekasih baru!”

Soo Rin tersenyum sumringah mendengar ejekan halus itu. Sebelum akhirnya melesat turun ke lantai bawah lalu bertemu dengan Jung Soo. Well, bagaimana pun dia harus tetap pamit pada kakaknya itu, bukan?

“Kenapa kau terlihat sangat rapih pagi ini?” adalah kalimat pertama yang keluar dari Jung Soo begitu melihat adik perempuannya datang menghampiri. Saat ini dirinya tengah menyiapkan sarapan. Mengingat saat ini adalah hari liburnya, Jung Soo memilih untuk membuat sarapan untuknya bersama para adiknya sedikit terlambat karena ia mengira mereka akan bangun terlambat pula. Tetapi tidak disangka bahwa Soo Rin sudah turun ke ruang makan, bahkan sudah berpenampilan cantik. Lebih cantik dibandingkan biasanya.

Eung… aku ada urusan dengan teman sekolahku, Oppa. Aku harus segera pergi.”

Jung Soo mengerutkan kening. “Sepagi ini?” melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi.

Eung!” Soo Rin mengangguk cepat. Kemudian memeluk sang kakak sebagai bentuk pamitannya. “Aku harus segera pergi.”

“Tidak sarapan lebih dulu?”

Soo Rin menggeleng cepat.

Jung Soo menghela napas, mengalah. “Baiklah, pukul berapa kau akan pulang? Biar Oppa menjemputmu di halte nanti.”

Soo Rin menggeleng lagi setelah melepas pelukannya, mengulas senyum manisnya untuk sang kakak. “Tidak perlu. Aku akan pulang sore nanti.”

Jung Soo ikut mengulas senyum. Tangannya bergerak mengusap poni adiknya dengan sayang. Batinnya merasa aneh karena, kenapa adiknya terlihat begitu cantik hari ini? Apakah adiknya ini ingin bertemu dengan seseorang yang spesial? Atau jangan-jangan…

Tidak, tidak. Jung Soo tidak boleh merusak kesenangan adiknya ini. Jika memang dugaannya adalah benar, mungkin setidaknya untuk kali ini dia mengizinkan adiknya untuk bertemu dengan lelaki itu. Lagipula, jika terjadi sesuatu pada adiknya nanti, dia bisa segera menghubungi lelaki itu, bukan? Dan, setidaknya dia harus percaya bahwa lelaki itu akan menjaga adiknya ini.

Untuk kali ini, Jung Soo ingin menaruh kepercayaan padanya.

“Baiklah. Kabari Oppa jika terjadi sesuatu, mengerti?” Jung Soo melihat adiknya mengangguk patuh. Mengulas senyum hangat, melanjutkan, “Hati-hati. Selamat bersenang-senang!”

Ne!” Soo Rin akhirnya melesat ke pintu utama rumah. Memasang flat shoes kesukaannya sebelum berseru, “Aku pergi dulu!” lalu keluar dari rumahnya.

Ji Min yang sudah memijakkan kaki di lantai dasar, menggeleng heran melihat tingkah kakak perempuannya yang sangat aktif itu. Ia baru saja duduk di salah satu kursi dan menyuap jatah sarapannya yang sudah disediakan kala sudut matanya menangkap Jung Soo juga duduk di hadapan.

“Ji Min-ah.”

Ne, Hyung?” mendengakkan kepala, melihat Jung Soo yang tengah meliriknya sejenak karena tengah menyeruput kopi seduhnya. Lalu harus mengerjap bingung kala kemudian sang kakak menatap penuh dirinya sekaligus mengulum senyum.

Noona-mu pasti sudah bercerita banyak padamu.” Jung Soo kemudian menyantap roti panggang buatannya sendiri.

Tidak menghiraukan Ji Min yang sedikit tegang di tempat duduknya, meneguk salivanya lamat-lamat sebelum akhirnya menunduk kaku.

Skak.

****

Ki Bum keluar dari mobil setelah memarkirkannya di dekat pintu masuk sebuah taman. Well, dia cukup beruntung karena hari ini mobil milik kakaknya itu sedang menganggur dan memberinya kesempatan untuk memakainya. Dia sendiri juga sadar bahwa motor besarnya tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai sarana transportasi perjalanan kencan pertama mereka ini. Yah, setidaknya dia sudah mengantungi SIM belum lama ini sehingga dia dapat berkendara penuh percaya diri.

Mata tajamnya menyapu sekitar dalam taman yang berlokasi tak jauh dari halte terdekat rumah gadis itu. Tidak membutuhkan waktu lama karena ia segera menangkap sosok yang terus berputar di otaknya sejak semalam. Senyum tipisnya mengembang kala langkah lebarnya mengantarnya untuk segera menghampiri sosok tersebut.

“Menunggu lama?”

Gadis itu langsung mendengak seraya bangkit dari duduknya di salah satu bangku taman, begitu mendapati Ki Bum sudah berdiri di hadapannya. Berpenampilan casual yang tampak nyaman di tubuh tegapnya dan—sialnya semakin membuatnya tampan. Kaus putih gading yang dibalut dengan paduan cardigan dan sweater yang dibiarkan terbuka kancingnya, serta celana panjang berbahan katun merah kecoklatan yang diimbangi dengan kets hitam. Apalagi rambutnya yang tampak rapih sebagaimana dengan penampilannya saat ini, sungguh menyilaukan mata.

152319_P

Menggeleng cepat, memamerkan senyum sumringah, wajah manisnya mulai menunjukkan rona kemerahan karena dirinya mulai merasa gugup. Ia menunjukkan ponselnya, “Kau datang terlalu tepat waktu.”

Ki Bum terkekeh pelan. Yah, menurut perjanjian, mereka akan bertemu di pukul sepuluh pagi. Tetapi dia datang sepuluh menit lebih cepat. Heol, jangankan dirinya, gadis ini bahkan datang lebih cepat darinya. Entah sejak kapan. Pasti sudah cukup lama karena ia melihat bibir yang sedikit dipoles lip balm natural itu mulai mengering.

Soo Rin melihat lelaki itu menangkup kedua tangannya, meniupkan udara ke dalamnya, menggosoknya, lalu mengikis jarak mereka lebih dekat lagi hingga mampu menangkup wajahnya. Jantungnya serasa dibangunkan dari tidur tenangnya dengan paksa hingga berjengit dari tempatnya lalu bermarathon, merasakan sengatan statis akibat gesekan kulit tangan besar itu dengan kulit wajahnya, menghantarkan rasa panas yang mendebarkan ke sekujur tubuh dan hampir melemaskan tungkai kakinya.

“Ini sudah pertengahan musim gugur. Kau bisa membeku jika terus berada di tempat terbuka seperti ini.” Ki Bum bersuara dengan lembutnya. Menasihati gadis di tangkupannya ini dengan penuh rasa. Membiarkan dirinya diserang oleh pesona menggemaskan akibat semburat kemerahan itu mulai menjadi-jadi di depan matanya. Apalagi kini gadis itu tersenyum lebar padanya…

“Tidak apa-apa… jika setelahnya kau akan menghangatkanku seperti ini. Hehe…”

Sial!

Lihat sendiri, bukan? Bagaimana Soo Rin membuatnya merasa lemah tanpa dia sendiri sadari? Hanya dengan jawaban spontan itu sudah telak membuat batin Ki Bum mengumpat geram karena merasa diserang.

Menyebalkan sekali, bukan? Gadisnya ini benar-benar menguji pertahanannya.

Ya… gadisnya ini.

dadeutta

****

:: National Science Museum – Daejeon, Yuseong-gu, Daedeok-daero 481

.

Daejeon tidak seperti kota metropolitan lainnya di Korea Selatan, tidak sebagaimana dengan Kota Seoul yang dipenuhi tempat rekreasi mewah dan glamour. Tetapi Daejeon memiliki banyak sarana rekreasi berunsur teknologi yang terbilang maju sebagai sentuhannya, memberikan kelebihan akan fungsinya sebagai sarana edukatif dalam waktu bersamaan. Itulah mengapa Kota Daejeon dikenal dengan sebutan Kota Riset dan Teknologi oleh orang kebanyakan.

Begitu pula dengan cara kedua insan itu menghabiskan waktu kencan pertama ini. Mendatangi salah satu museum yang terletak di tengah kota, salah satu sarana berwisata yang terletak di Yuseong-gu, berdekatan dengan eks lokasi World Expo atau kini dikenal sebagai Expo Park. Museum Sains yang terkenal di kota Daejeon.

1092923

Soo Rin menarik sebelah tangan Ki Bum penuh antusias. Berlari mendekati pintu masuk area museum yang di mana sebelum itu berdiri dua patung tokoh legendaris dunia sains—beserta penemuannya—bak penyambut para pengunjung.

“Kim Ki Bum, lihat! Jang Young Sil dan Nyuton!”

Lelaki itu harus memutar bola mata mendengar bagaimana Soo Rin menyebut salah satu tokoh yang berasal dari Inggris itu. “Newton. Isaac Newton. Apa Bahasa Inggris-mu seburuk itu?”

Ish! Aku mengucapkannya sesuai dengan tulisan hangul-nya!” Soo Rin mencoba berkilah, menampik kelemahannya itu.

Well, sebenarnya Ki Bum cukup tahu bahwa selama ini Soo Rin selalu lemah jika dihadapkan sesuatu berbau English. Gadis itu selalu mendapatkan nilai ujian yang sangat pas-pasan untuk mata pelajaran jenis tersebut.

“Nilai Sastra Korea-ku saja masih belum sempurna, sudah diharuskan pintar berbahasa Inggris!” begitulah keluhan Soo Rin yang pernah ia dengar setelah Guru Hwang—Guru Bahasa Inggris tingkat kedua—mengeluhkan rata-rata nilai ujian mata pelajaran tersebut yang masih sangat standar di kelas mereka.

“Kim Ki Bum, menurutmu siapa yang paling keren di antara mereka?”

Ki Bum mengangkat sebelah alis mendapati pertanyaan Soo Rin. Gadis itu berdiri di antara kedua patung tersebut. Mengamati wujudnya secara bergantian dengan cukup serius diikuti jemari  mengusap dagu layaknya detektif yang tengah menyelidiki suatu kasus.

“Kurasa Jang Young Sil adalah yang paling keren. Dia menemukan jam matahari yang sangat menginspirasi hingga berkembang menjadi jam kebanyakan seperti sekarang ini.” Soo Rin menunjukkan jam tangan kesayangannya yang terpasang manis di pergelangan tangan kirinya. “Dia juga seorang ahli astronomi di masa Dinasti Joseon. Mampu melihat waktu dengan mengamati kedudukan matahari, bulan, dan bintang. Kurasa karena itulah dia mendapat ide untuk menciptakan jam matahari,” lanjutnya.

“Kurasa itu Isaac Newton. Kau tidak akan tahu bahwa alasan mengapa kita menapak bumi seperti sekarang ini adalah karena sebuah gaya tarik yang sangat kuat bernama gravitasi.” Ki Bum menjawab acuh tak acuh, mengedikkan bahu. “Dia bahkan mencetuskan teori dari hukum alam yang tidak terpikirkan oleh banyak orang di zaman dulu. Bahkan sangat sukses memengaruhi sekaligus mengubah pandangan banyak orang terhadap hukum fisika alam hingga menjadi dasar dari ilmu pengetahuan di masa kini.”

Soo Rin menatap takjub lelaki di hadapannya kini. Dilihat dari cara menjelaskannya yang sederhana namun tepat sasaran, sepertinya Kim Ki Bum adalah lelaki berwawasan luas. Mengagumkan.

“Kau benar! Istilah gravitasi itu terdengar sangat keren, ditambah lagi dengan teorinya. Ough, kapan aku menemukan sebuah teori dari sesuatu yang sangat mudah? Seperti Nyuton yang hanya dengan melihat apel jatuh dari pohon di hadapannya itu.”

Ki Bum tersenyum melihat bagaimana gadis itu tampak berbinar-binar, menatap penuh kagum pada dua pelopor yang masih terus diingat oleh generasi ke generasi hingga kini. Ia meraih sebelah tangan gadis itu, menggenggamnya penuh hangat, lalu berkata, “Intinya mereka adalah sedikit dari banyak tokoh yang paling berpengaruh pada perkembangan teknologi hingga sekarang.”

Soo Rin mengangguk setuju. Memandang dua patung yang bersanding itu sekali lagi sebelum kemudian menoleh seraya memeluk sebelah lengan lelaki di sampingnya itu. “Kim Ki Bum, maukah kau menjadi pemanduku?”

“Apa?” Ki Bum hampir berjengit mendengar permintaan Soo Rin yang tergolong aneh di telinganya. Bahkan jika bisa dia ingin mengorek telinganya terlebih dahulu.

“Pemandu! Sepertinya kau memiliki banyak pengetahuan mengenai dunia sains!”

Lelaki itu terpaksa mengerjap bodoh di hadapan gadis yang kini tengah memasang raut wajah memohon yang menggemaskan—sekaligus menyebalkan.

.

.

1092913

“Kim Ki Bum, lihat itu! Ada kerangka gajah yang mirip dengan tokoh Manny di Ice Age!”

Gadis itu menunjuk ke kejauhan begitu mereka memasuki ruang masa purba. Sebelah tangannya yang lain menggoyang-goyangkan lengan Ki Bum seperti anak kecil. Mata ovalnya tampak melebar penuh takjub.

“Itu Mammoth. Genus gajah purba yang hidup kisaran dua juta tahun hingga sepuluh ribu tahun lalu. Tokoh Manny dalam Ice Age adalah wujud dari salah satu spesiesnya, Woolly Mammoth.”

“Benarkah?” Soo Rin kembali menatap replika kerangka gajah dengan sepasang gading melengkung runcing yang sangat mencolok itu. “Aku penasaran dengan wujud asli dari Mammoth itu.”

“Dia lebih seram dibandingkan tokoh Manny di Ice Age.”

“Tidak mungkin!”

“Lihat saja sendiri.”

Soo Rin mengeluarkan ponsel pintarnya, membuka fitur aplikasi browsing kemudian mengetik sebuah nama di kolom pencarian. Sedangkan Ki Bum hanya melirik benda di genggaman gadis itu.

“Kau benar…” Soo Rin menunjukkan layar ponselnya yang telah menerterakan sebuah gambar hasil cariannya. “Manny terlihat menyeramkan di zaman purba yang sebenarnya!”

woolly-mammoth

Lelaki itu mendengus geli melihat gambar hasil temuan gadis di sampingnya ini, sekaligus tingkah kekanakannya.

.

.

“Aku penasaran dengan Andromeda.”

Ki Bum menoleh pada Soo Rin yang tengah termangu di sebelahnya. Saat ini mereka berada di sebuah ruangan yang dikelilingi layar berteknologi modern, bagian langit-langitnya dihiasi dengan bintang-bintang yang tampak hidup layaknya langit malam, serta tepat di tengah ruangan berdiri miniatur bola matahari yang dikelilingi layar-layar kecil. Suasana ruangan itu sangat remang, seolah mengajak para pengunjung merasakan bagaimana suasana luar angkasa yang sebenarnya. Dan kini mereka tengah menyimak salah satu layar yang menampilkan susunan rasi bintang secara teratur.

1092830

“Dia terlihat sangat besar. Dan yang kudengar dia terkenal dengan galaksinya yang juga besar, bahkan lebih besar dibanding galaksi tempat kita tinggal.”

“Lalu?”

“Bentuknya. Bintang-bintang yang membentuk Andromeda menggambarkan bahwa Andromeda adalah gadis yang dirantai.” Soo Rin mengernyit bingung. “Aku belum pernah mendengar kisah sepenuhnya yang masuk dalam jajaran Mitologi Yunani itu. Andromeda dikorbankan oleh orang tuanya sebagai bentuk ampunan kepada Poseidon dan menjadikannya sebagai santapan monster laut. Memangnya apa yang sudah orang tua Andromeda lakukan?”

“Menurut Mitologi, Cassiopeia, ibu Andromeda terlalu membanggakan putrinya yang terbilang sangat cantik di Kerajaan Ethiopia. Cassiopeia bahkan membandingkan kecantikan Andromeda dengan luasnya lautan. Sehingga Poseidon, sang dewa laut murka lalu mengirim monster laut bernama Cetus untuk menenggelamkan Kerajaan Ethiopia.”

Ugh, apakah Andromeda tidak secantik itu sampai-sampai Poseidon marah karena kerajaan lautnya dibanding-bandingkan dengan anak manusia?”

“Tidak juga. Tetapi Poseidon tidak suka mengetahui begitu congkaknya Cassiopeia sampai merendahkan kerajaan lautnya yang tidak terhitung luasnya.”

“Jadi, apakah itu alasan Andromeda diserahkan pada monster laut?”

“Ayahnya yang merupakan Raja Ethiopia bernama Cepheus tidak kuasa melihat kerajaannya hancur. Itulah mengapa ia memohon ampun kepada Poseidon. Dengan mengorbankan Andromeda kepada Cetus sebagai tebusannya.”

Soo Rin merengut tidak suka. “Ugh, ayah macam apa itu? Kenapa dia mau mengorbankan anaknya sendiri?”

“Karena Andromeda adalah asal-muasal dari munculnya masalah ini. Di sisi lain, Cepheus tidak memiliki pilihan lain, seorang raja tidak mungkin mengorbankan rakyatnya hanya karena satu nyawa. Itulah mengapa ia merelakan putrinya sendiri untuk dikorbankan.”

“Jadi, Andromeda mati?” Soo Rin melihat Ki Bum menggeleng ringan. Kening di balik poninya mengerut semakin jelas. “Bagaimana bisa?”

“Dia diselamatkan oleh Perseus kala sudah diikat di atas batu karang. Saat itu Perseus sedang dalam perjalanan untuk menemui Athena, lalu menyelamatkan Andromeda dengan menghadang monster itu menggunakan kepala Medusa yang sudah ia penggal.” Ki Bum menatap gadis yang tengah menyimak ceritanya dengan serius. “Kau tahu Medusa?”

Eung! Dia adalah wanita yang dikutuk oleh Athena menjadi manusia berambut ular, bahkan tubuhnya juga menyerupai tubuh ular. Itu karena dia sudah menggoda Poseidon.” Soo Rin menggerakkan kedua tangannya di sekitar kepala, meragakan bagaimana ular menggeliat. Raut wajahnya terlihat serius sekali. “Dan siapa saja yang melihat mata Medusa, dia akan berubah menjadi batu. Pasti monster laut itu melihat matanya.”

Ki Bum menjentikkan jari di depan wajah Soo Rin, mengulum senyum penuh arti. “Bingo!

Soo Rin terlihat begitu cerah dibandingkan beberapa waktu sebelumnya. Seperti baru saja mendapatkan harta karun yang selama ini selalu ia cari. Senyum manisnya mengembang semakin lebar. Apalagi melihat paras tegas di hadapannya yang bertambah berkali-kali lipat ketampanannya di matanya, setelah mendengar bagaimana sang empunya bercerita seperti sedang berdongeng.

“Kau ternyata sangat pintar, Kim Ki Bum!” pujinya kemudian.

Berdecak kecil, Ki Bum hampir dibuat salah tingkah akibat pernyataan mulus dan terdengar polos itu. Entah sudah yang keberapa kali Ki Bum mempertanyakan hal yang sama, bagaimana bisa dia menyukai gadis lugu seperti Park Soo Rin ini mengingat bagaimana bringasnya dirinya sendiri? Benar-benar.

“Kau pasti gemar membaca buku!”

Cukup membuat Ki Bum merasa tertohok karena entah bagaimana otaknya kembali berputar ke masa lalu. Diam-diam ia menelan saliva susah payah, menghembuskan napas berat perlahan.

“Dulu. Karena ibuku juga gemar membaca. Terutama soal Rasi Bintang beserta Mitologinya.”

Seketika rasa antusias Soo Rin memudar. Lengkungan manis di bibirnya perlahan lenyap kala melihat bagaimana Kim Ki Bum mengalihkan tatapan darinya dan memilih memandangi gugus bintang yang melayang-layar di dalam layar di hadapan. Memicu rasa tidak enak hati karena tanpa sadar dirinya sudah menarik lelaki itu kembali ke masa lalu.

“Itu berarti… ibumu juga pasti berwawasan luas seperti dirimu.”

Ki Bum mendapati gadis itu memberikan senyum penuh pengertian padanya. Ditambah juga merasakan tangan hangat itu menuyusup ke telapak tangannya, menggenggamnya seolah tengah memberikan kekuatan padanya.

“Aku berani bertaruh bahwa beliau lebih pintar dibandingkan dirimu. Hehe!”

Pada akhirnya, Ki Bum mampu dibuat tersenyum kembali oleh gadis ini. Melihat bagaimana wajah manis itu terhiasi oleh cengiran yang entah bagaimana mampu menegaskan rona kemerahan di kedua pipinya. Begitu menggemaskan di matanya. Sampai-sampai ia tergerak untuk menarik sang gadis agar lebih dekat dengannya, menautkan jari-jemari mereka begitu erat, seolah menunjukkan bahwa dia tidak akan melepas tangan ini lagi.

“Tanpa bertaruh, jawabanmu memang sudah benar adanya,” adalah respon Ki Bum yang mampu menerbitkan raut cerah itu kembali di paras wajah Soo Rin.

“Ayo ke tempat lain! Ah, di sebelah sana ada miniatur pesawat antariksa. Ayo kita ke sana!” Soo Rin pun menarik genggaman mereka untuk berpindah ke ruang lain.

Ki Bum tersenyum diam-diam melihat tingkah gadis ini. Sebenarnya dia terheran akan pola pikir gadis ini yang justru ingin pergi ke tempat edukatif seperti ini sebagai destinasi berkencan mereka. Padahal setahu dirinya, taman bermain seperti Kumdori Land atau Yurim Park yang lebih terasa suasana romantismenya merupakan tempat yang cocok, bukan?

“Kau pernah kemari sebelumnya?” Ki Bum mencoba untuk membuat topik di sela-sela perjalanan mereka ini. Dan tidak disangka bahwa Soo Rin akan menjawab dengan sebuah gelengan santai.

“Sebenarnya aku tidak begitu menyukai sains. Tapi setelah melihat tempat ini di televisi, aku berpikir untuk mendatanginya suatu saat nanti bersama pasanganku. Mungkin saja itu akan menyenangkan, apalagi jika pasanganku cukup mengerti soal sains dibandingkan diriku. Tidak kusangka hari ini akan tiba. Dan ternyata memang menyenangkan. Hehehe!”

Astaga, jawaban macam apa itu? Ki Bum hampir terbahak mendengarnya. Kenapa gadis ini bisa berpikir terlampau konyol seperti baru saja? Benar-benar!

“Dan menjadikan tempat ini sebagai destinasi untuk berkencan,” timpalnya dengan bumbu cibiran. Menyindir Soo Rin secara halus.

Eo! Belum pernah ada, bukan, pasangan yang berkencan di museum?” Soo Rin bertanya penuh bangga. Seolah dirinya baru saja melakukan sesuatu yang mungkin bisa tercatat dalam Guiness Book of Record.

“Menurutmu?”

“Belum ada.”

“Menurutku sudah ada.”

“Belum!”

“Sudah.”

“Belum, Kim Ki Bum! Lihat saja!” Soo Rin tersungut-sungut. Tangannya yang bebas mulai menunjuk-tunjuk ke segala penjuru ruang yang tertangkap retina. “Hanya ada orang tua dan anak-anak. Tidak ada pasangan yang sedang berkencan di sini!”

Lelaki itu hanya mengangguk acuh bersamaan bibir yang terkulum penuh arti. “Begitu?”

Eo!” sedangkan gadis itu tampak keukeuh dengan kesimpulannya sendiri.

“Lalu bagaimana dengan kita sendiri?”

“Apa?”

“Jadi kita bukan pasangan yang sedang berkencan di museum?”

Gadis itu melongo seketika. Mencerna cukup lama pertanyaan lelaki di sampingnya yang kini mengacungkan tautan tangan mereka beserta sebelah alis terangkat meminta jawaban. Sampai-sampai dibuat gemas dan akhirnya lelaki itu kembali menariknya untuk membuka langkah mereka yang sempat tertunda hanya akibat dari perdebatan yang sebenarnya cukup kekanakan ini.

Barulah Soo Rin mengerti. Wajah manisnya mulai tersipu-sipu, begitu juga dengan bibir kecilnya yang kembali menerbitkan lengkungan ke atas secara malu-malu. Astaga, ke mana saja dirimu, Park Soo Rin? Kenapa otakmu begitu lambat mengurai kata-kata ambigu Kim Ki Bum yang sebenarnya sangat mudah untuk ditebak maknanya?

Ternyata terasa begitu menyenangkan mendapati kenyataan bahwa mereka memang tengah berkencan di dalam museum. Hei, bukankah itu terdengar aneh mendengar kenyataan bahwa mereka menghabiskan waktu kencan mereka di museum? Bahkan bagi mereka sendiri itu terdengar aneh sebenarnya.

Tapi Soo Rin menyukainya. Begitu juga dengan Ki Bum.

Mereka menyukainya.

.

.

:: Daejeon Expo Park – Daejeon, Yuseong-gu, Daedeok-daero 4801094239

Keluar dari Museum Sains, keduanya melanjutkan perjalanan santai ke sebuah eks lokasi World Expo. Awalnya tempat ini dibangun untuk Taejeon International Expo di tahun 1993 yang sebenarnya sudah cukup terlupakan di masa kini. Sebuah proyek mengenai Sustainable and Green Development yang berlangsung selama 3 bulan di masa itu. Setelah proyek Expo tersebut berakhir, tempat ini berubah menjadi theme park hingga saat ini yang dikenal dengan Expo Park.

Theme Park ini diklaim sebagai tempat rekreasi di pusat kota Daejeon yang mempromosikan ilmu pengetahuan sains dan teknologi. Berbagai fasilitas yang penuh edukatif tersedia di sana. Dari bermacam jenis teater seperti teater 3D hingga I-Max Theater, themed pavilions, hingga sarana kelas dan program yang tetap didominasi dengan aktivitas rekreasi. Tidak hanya itu, Expo Park menyediakan taman bermain juga taman bersantai yang dilengkapi food court terbuka.

Keduanya berdiri di pelataran Expo Park. Di mana simbol dari theme park tersebut berdiri, berbentuk kerangka piramida dengan lingkaran besar seperti cincin menyelubung di dekat puncaknya, serta menggantung di dalam kungkungan besar itu—sebuah miniatur bumi yang sungguh mengagumkan untuk dipandang. Apalagi disentuh hamparan bunga berwarna-warni yang tertata rapih begitu memanjakan mata para pengunjungnya.

“Rasanya aku ingin pergi ke O-World.”

Ki Bum yang tengah menikmati keindahan hamparan bunga di pelataran ini terpaksa menoleh sekaligus mengerutkan dahi, kala mendengar gadis di sebelahnya membuka suara. Sedangkan Soo Rin memamerkan cengirannya setelah menyantap sedikit es krim di genggaman.

“O-World. Taman rekreasi yang sangat lengkap menurut banyak orang.”

“Kenapa begitu?”

“Karena di sana terdapat tiga jenis tempat rekreasi!” Soo Rin mengacungkan tiga jarinya. “Ada kebun binatang, taman bermain, juga taman bunga. Kau tahu? Taman bunga di sana seperti kebun teh. Jumlahnya ada ribuan, bahkan bermacam-macam jenis. Dari bunga tulip sampai bunga sakura pun ada di sana!”

“Benarkah?” Ki Bum menunjukkan rasa ingin tahunya dengan senang hati. Melihat bagaimana cara Soo Rin menjelaskan hal tersebut layaknya anak kecil yang baru saja melihat sesuatu menakjubkan yang baru saja dilihatnya. Terbaca sekali pada sepasang iris kecoklatannya yang tampak berkilau memancarkan antusiasme yang begitu nyata. Memancingnya untuk berinisiatif menawarkan diri. “Ingin pergi ke sana?”

Namun Soo Rin merespon dengan helaan napas panjang beserta bibir bawah dimajukan. “Tidak juga. Lagipula tempatnya cukup jauh. Di ujung selatan kota. Tepatnya di Jung-gu.”

“Tidak masalah jika kau mau.”

Melirik lelaki di sebelahnya, Soo Rin dibuat tersipu akan kesediaan lelaki itu yang memang bisa mengantarnya. Tapi Soo Rin memilih untuk menolak dengan gelengan kepala seraya tersenyum malu-malu. “Tidak perlu. Di sini saja sudah banyak tempat-tempat yang bisa kita singgahi dibandingkan O-World,” detik kemudian ia harus terkejut merasakan sensasi dingin menjalar ke sela jemarinya, ia melebarkan mata. “Omo! Es krimnya mencair!”

Lagi, Ki Bum dibuat geli akan tingkah laku Soo Rin, entah sudah yang keberapa di hari ini. Memperhatikan gadis itu menjilat lelehan krim yang mengalir ke tangannya. Merasa tidak habis pikir kenapa dirinya mau saja membelikan es krim untuk gadis itu. Padahal saat ini sedang pertengahan musim gugur—yah, meski sebenarnya udara siang ini memang cukup hangat karena cuaca sedang terik.

Dan hampir menyemburkan tawa kala melihat bagaimana gadis itu terkena gumpalan es krim hingga menodai ujung hidungnya akibat dari kegiatan menjilat tangannya itu. Apalagi sang empu sepertinya tidak menyadari berkat fokusnya yang mungkin sepenuhnya tertuju pada tangan belepotannya yang belum bersih tuntas.

Sampai akhirnya Soo Rin harus dikejutkan dengan Kim Ki Bum yang sudah berdiri dalam jarak sejengkal di hadapannya. Mengalihkan perhatiannya dari kegiatan semula, menuju wajah tegas yang kini sudah sejajar dengan wajahnya, bergerak mendekat yang seketika membuatnya menelan saliva diam-diam, memicu kinerja tubuhnya untuk bekerja di atas normal—memompa jantungnya agar berpacu lebih jauh di atas batas normal. Dan reflek memejamkan mata begitu merasakan hembusan napas hangat mulai menerpa wajah memerahnya, sekaligus merasakan tubuhnya mendadak kaku di tempat. Mendapati kenyataan bahwa lelaki yang terus mengikis jarak di antara mereka seperti hendak… menciumnya.

Terpaksa Ki Bum menghentikan niat kurang ajarnya begitu hanya dua sentimeter yang tersisa di antara mereka. Melihat bagaimana gadis ini merespon perlakuannya tercipta tanpa ia sendiri sadari sepenuhnya. Memancing hasrat ingin terkekeh sebagai bentuk perasaannya saat ini; tergelitik sekaligus bersalah.

Tergelitik akan respon gadis ini, juga merasa bersalah karena pada nyatanya Ki Bum memang sempat berniat ingin mencium hidung bangir yang dinodai krim cokelat itu.

Pada akhirnya Ki Bum memilih untuk mencoleknya dengan telunjuk. Membuat sang empu kembali membuka mata lalu mengerjap bodoh tepat di depan wajahnya. Memancingnya untuk menyeringai jahil. “Apa yang sedang kau harapkan, hm?

Seketika wajah merona Soo Rin memadam juga memberengut kecut. Menyadari lelaki di hadapannya hanya sedang mempermainkannya. Apalagi lelaki bernama Kim Ki Bum itu langsung berbalik meninggalkannya. Benar-benar… “Berandal menyebalkan…” desisnya.

Tanpa Soo Rin ketahui, Ki Bum mengulum telunjuknya seraya tersenyum puas. Merasakan manisnya krim coklat yang hampir mencair sepenuhnya itu, juga mengingat bagaimana menggemaskannya gadis itu dengan raut masamnya tadi akibat ulahnya. Sengaja meninggalkan gadis itu hanya demi menanti reaksi apa lagi yang akan dia dapat.

Plok!

Well, Ki Bum sudah mendapatkan jawabannya. Dengan tidak berperasaan Soo Rin menjejalkan es krim miliknya hingga menodai mulut merambat ke hidung lelaki itu. Tidak peduli jika dampaknya terjadi pada camilannya yang sudah berubah menjadi absurd bentuknya itu.

“Rasakan pembalasanku!!” serunya dengan menjulurkan lidah penuh mengejek bercampur kesal. Sebelum akhirnya melarikan diri dari lelaki yang kini hanya berdiri mematung di tempat.

Menyentuh hidungnya, dapat Ki Bum lihat krim coklat itu berpindah ke jemarinya, mendengus cepat sebelum menatap tajam gadis yang menjadi penyebabnya, dan, “Ya!!!” berteriak dengan gemasnya sekaligus mengejar gadisnya itu.

.

.

1201245

Setelah mengisi perut di salah satu tempat yang tersedia di dalam Expo Park, mereka melanjutkan kegiatan santai menelusuri salah satu tempat pelepas lelah sambil bergandengan tangan. Menikmati keindahan alam buatan yang memang sengaja dibangun. Pepohonan yang hijau memayungi perjalanan tenang mereka, menyejukkan suasana dengan semilir angin musim gugur yang cukup terasa di waktu menjelang sore ini.

“Kim Ki Bum, kau menyukainya?” Soo Rin akhirnya membuka mulut, mengajukan pertanyaan yang segera direspon oleh lelaki itu dengan menatap manik matanya.

“Setidaknya dengan begini aku tahu bahwa Daejeon sangat menyenangkan,” adalah jawaban yang keluar dari mulut Ki Bum. Mengulas senyum teduh yang berdampak pada pancaran mata hitamnya yang begitu meneduhkan diri Soo Rin.

“Benarkah? Jadi selama ini kau belum pernah berkeliling kota Daejeon?”

“Selama ini aku tidak punya waktu sejak pindah kemari.” Ki Bum mengedikkan bahu. Sudut matanya menangkap gadis itu mengangguk-angguk paham.

“Ah, benar juga! Bagaimana dengan tempat rekreasi di Gwangju?”

“Tidak ada yang menarik menurutku. Mungkin taman makam pahlawan.”

Ish, tidak mungkin!” Soo Rin memicingkan mata pada wajah tegas yang mengumbar raut tidak peduli kala menjelaskan tempat tinggal terdahulunya itu. Kemudian memilih untuk kembali menghadap ke depan menatap jalan yang ditelusurinya.

Lupakan soal tempat tinggal Ki Bum terdahulu. Saat ini dirinya ingin merasakan sensasi di mana dirinya berada sangat dekat dengan Ki Bum, menggenggam tangan besarnya, melangkah bersama, menghabiskan waktu akhir pekan bersama. Jujur saja sebelumnya Soo Rin tidak pernah menyangka bahwa dia bisa sejauh ini bersama Ki Bum. Mengingat bagaimana dulu dirinya begitu gencar mengejar lelaki di sampingnya ini, mengajaknya untuk berpacaran, Soo Rin tidak pernah membayangkan jika dia akan menghabiskan banyak waktu di satu hari bersama lelaki ini. Seperti sekarang ini.

Terlepas dari bagaimana kehidupan Ki Bum yang begitu kelam—lebih kelam dibandingkan masa lalunya sendiri, memiliki tabiat yang keras dibandingkan kebanyakan orang termasuk dirinya, Soo Rin tidak menampik bahwa ia tidak peduli dan justru memilih untuk menjadi orang yang rela memberikan bahunya. Karena dia sadar… bahwa Kim Ki Bum tidak sekuat yang pernah ia lihat kala lelaki itu mengalahkan Kang In.

“Kim Ki Bum.”

Hm?

Langkah mereka terhenti, memudahkan Soo Rin untuk menghadap langsung pada Ki Bum. Melepas tautan tangan mereka, lalu beralih mengalungkan kedua tangannya pada leher lelaki itu, memeluk tubuh tegap itu hingga sepasang kakinya berjinjit. Mengejutkan sang empunya hingga mendadak kaku di tempatnya berdiri.

Karena perilaku yang terlalu tiba-tiba dan tergolong berani untuk level seorang Park Soo Rin sangat sukses melompatkan jantungnya dari ketenangan. Menghancurkan pintu ketentraman batin yang seketika melonjakkan adrenalinnya untuk bergemuruh, menjalar ke sekujur tubuhnya.

“Terima kasih sudah bersedia menemaniku hari ini.”

Binar keterkejutan itu perlahan mereda, diiringi dengan terbitnya sebuah senyum manis di bibir penuhnya, menegaskan raut wajahnya yang teduh. Menggerakkan kedua tangannya untuk melingkari tubuh ramping itu, mengikatnya ke dalam kungkungannya, serta memberikan sensasi menggelitik dengan menyusupkan sebelah tangannya ke balik rambut panjang yang tergerai itu, merengkuh tengkuknya penuh rasa.

“Bukankah hari ini adalah waktu berkencan kita?”

Soo Rin meringis, terkekeh pelan di atas bahu lebar lelaki itu. Menyandarkan dagunya sekaligus menyamankan diri di sana. Tubuhnya meremang merasakan bagaimana lelaki ini membalas pelukannya dengan penuh rasa. Merasakan bagaimana sepasang tangan besar nan kekar itu mengikat tubuhnya begitu pas dan tepat, seolah tangan-tangan itu memang diciptakan untuk melindungi dirinya. Memikirkan hal itu saja sudah membuat debaran jantung Soo Rin menggila di dalam dada. Sampai-sampai wajah manisnya semakin memperlihatkan rona kemerahannya.

“Kalau begitu, terima kasih sudah mau berkencan denganku.”

Ki Bum memejamkan mata menikmati suara kecil nan merdu itu mengalun di sebelah telinganya. Yang tanpa sadar menuntunnya untuk menunduk hingga bibir penuhnya mengarah ke depan telinga yang dihalangi helai demi helai rambut hitam panjang itu, yang tanpa sadar pula memicu umpatan di dalam hati karena merutuki kinerja syarafnya selalu lepas kendali jika gadis ini sudah berada di dalam kuasanya seperti ini.

“Aku juga. Terima kasih,” ucapnya lirih, hampir menyamai bisikan, namun terasa ketulusannya hingga mampu membuat tubuh di dalam rengkuhannya meremang karena bahagia.

Hal yang kecil, tapi mampu membuat mereka merasa begitu gembira. Bukankah kasih sayang itu menakjubkan hanya dengan sebuah kesederhanaan?

Euh, benar juga…”

“Apa?”

“Kita belum berfoto bersama. Kim Ki Bum, ayo kita selca!

Habis sudah pertahanan Ki Bum untuk tidak tertawa.

Astaga, gadisnya ini benar-benar menggemaskan!

****

Mobil Ki Bum berhenti tepat menghadap persimpangan komplek perumahan. Memarkirnya di dekat bahu jalan sebelum dirinya keluar dari kursi kemudi. Begitu juga dengan Soo Rin yang keluar dari kursi penumpangnya, menyambut Ki Bum yang sudah berdiri di dekatnya dengan memberikan seulas senyum.

“Jangan katakan bahwa kau tidak memberi tahu oppa-mu,” tebak Ki Bum seraya memicing curiga. Karena gadis itu menyuruhnya untuk mengantarnya hanya sampai sini, bukan sampai depan rumah.

Soo Rin meringis lebar. “Aku tidak mungkin memberi tahu Jung Soo Oppa bahwa aku pergi berkencan denganmu.”

Babo!” Ki Bum menoyor pelan kening berponi Soo Rin. “Itu sama saja menjadikanku sebagai penculikmu, kau tahu?”

“Tidak masalah. Setidaknya aku rela jika kau sendiri yang menculikku.”

“Kau ini benar-benar!” Ya Tuhan, Ki Bum benar-benar dibuat geram oleh pola berpikir gadis ini. Begitu polos namun konyol. Ditambah gadis itu tampak begitu santai mengungkapkannya seolah itu hanyalah ungkapan kosong. Padahal diam-diam Ki Bum merasa jantungnya berdentum keras berkat kata-kata aneh gadis itu.

Menyebalkan sekali, bukan?

“Kim Ki Bum, jika aku adalah Andromeda, apakah kau mau menjadi Perseus?”

Ki Bum mengerjap kaget mendengar Soo Rin tiba-tiba mengubah topik. Bahkan topik yang diangkat adalah topik yang sangat aneh dan… sedikit tidak tepat untuk saat ini—baginya.

“Apa maksudmu?”

“Hanya, aku sedang mengandai-andai. Jika aku menjadi Andromeda yang dirantai dan hendak diserang Cetus, apakah kau bisa menjadi Perseus yang menyelamatkannya dengan menunggangi kuda Pegasus serta kepala Medusa sebagai senjatanya?”

Tunggu. Rasanya Ki Bum tidak menceritakan Perseus yang menunggangi kuda terbang bernama Pegasus itu. Bagaimana Soo Rin mengetahui hal detil itu? Apakah Soo Rin sempat membaca cerita detilnya di sebuah situs tadi? Tapi rasanya Ki Bum tidak pernah mengalihkan perhatiannya dari Soo Rin sepanjang waktu berkencan mereka.

Ataukah… Soo Rin memang sudah tahu?

“Kenapa kau ingin menjadi Andromeda?”

Soo Rin tampak berpikir sejenak. Senyum tipisnya tidak pernah menghilang meski bibir kecil itu beberapa kali berubah. “Karena dia bertemu dengan Perseus secara tidak terduga, yang dalam pertemuan itu Perseus langsung menjadi penyelamat hidupnya.”

Memandang penuh tanya, otaknya mencerna mencoba menganalisa maksud dan tujuan pertanyaan gadis itu. Ia tidak memiliki ide mengapa Soo Rin tiba-tiba menanyakan sesuatu dengan sebuah pengandaian yang terdengar ambigu dan hampir rancu. Ia tidak memiliki ide apa yang tengah dipikirkan Soo Rin sehingga gadis itu berandai-andai seperti sekarang ini.

Tiba-tiba Soo Rin tertawa salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menunjukkan bahwa dirinya sedikit malu akan apa yang sudah dia ucapkan. Yang justru semakin membuat Ki Bum terheran-heran. Kebingungan.

“Tidak perlu dipikirkan. Aku tidak terlalu serius menanyakannya. Hehehe!”

Tapi Ki Bum masih belum bisa melepas kebingungannya akan tingkah gadis ini. Otaknya tidak bisa berhenti untuk mencari tahu. Sampai-sampai dia harus disadarkan kembali ke bumi dengan kibasan tangan Soo Rin di depan wajahnya, memberikan tatapan teduh yang sarat akan keluguan padanya.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Eii, jangan menganggap serius pertanyaanku! Cepatlah pulang, ini sudah sore. Lihat, langit mulai petang!”

Mengalah, Ki Bum menghela napas perlahan sebelum mencoba mengulas senyum untuk Soo Rin. Sebelah tangannya mengusap poni gadis itu. “Seharusnya aku yang mengatakan itu.”

“Rumahkau sudah dekat. Sedangkan kau harus menempuh jarak lima puluh kilometer lagi untuk pulang!” cerca Soo Rin yang sukses mengundang tawa lelaki itu. Bagaimana Ki Bum tidak tergelitik dengan ucapan Soo Rin yang sedikit berlebihan itu? Hei, rumah Ki Bum tidak sejauh itu dari sini!

“Baiklah, baiklah. Aku pulang. Sampai jumpa lagi,” mengulas senyum sebagai bentuk pamit, Ki Bum akhirnya berbalik menuju pintu kemudi. Menyisakan Soo Rin yang berdiri di bahu jalan memperhatikannya yang masuk ke dalam mobil. Melambaikan tangan kala mobil lelaki itu melaju menjauh hingga berbelok di persimpangan selanjutnya.

Tepat setelah kendaraan hitam metalik beroda empat itu menghilang, sebuah kendaraan yang sama yang terparkir tak jauh dari tempat Soo Rin berdiri terbuka pada bagian pintu kemudi. Menampakkan seseorang turun dari dalam sana yang segera tertangkap oleh retinanya. Membuka langkah lebarnya menuju ke arahnya kemudian berhenti sekitar setengah meter di hadapannya.

Dan, Soo Rin menyambutnya dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.

Kim Sang Bum menyapa dengan seulas senyum tipis. Sepasang mata teduhnya menatap wajah manis yang tengah membalasnya. Diam-diam ia menelan saliva sebelum akhirnya membuka suara, “Lelah?”

Menarik napas dalam, Soo Rin menjawab dengan sebuah gelengan kepala.

“Kau yakin?”

Soo Rin mengangguk sekali. “Eung…

Dan Sang Bum ikut mengangguk, mencoba untuk memahami. “Kalau begitu, siap untuk pergi?”

Soo Rin mencoba untuk meyakinkan diri. Sejak awal, dia memang sudah menginginkan hal ini, membuat perjanjian bersama Kim Sang Bum di pagi hari sebelum bertemu dengan Kim Ki Bum, demi mengetahui hal yang hanya diketahui oleh lelaki di hadapannya ini.

Itulah mengapa, ia kembali menganggukkan kepala—penuh yakin.

“Ayo pergi!”

.

.

ㅡspoiler pt.14ㅡ

“Di mana adikku?”

“Soo Rin belum pulang?”

“Jangan pura-pura tidak tahu, Berandal!”

“Kau tidak berbohong, bukan?”

“Aku bersumpah bahwa aku mengatakan yang sesungguhnya, Park Soo Rin.”

“Ke mana kau membawanya?”

“Berjanjilah bahwa kau akan datang setelah ini.”

“Ke mana kau membawanya, Brengsek?!”

“Apa yang ingin kau lakukan dengan benda itu?! Ya, Kim Ki Bum!!”

“Tolong… tolong jangan pukul dia lagi…”

“Kim Sang Bum tidak bersalah…”

“Bernapaslah. Kumohon bernapaslah…”

“Bangun, Park Soo Rin!!!”


MAAF BARU UPDATE

rasanya aku lagi kena gejala writer block jadi nulisnya angut-angutan TT maafkan aku… aku udah berusaha buat lanjutin cerita ini lagi. Syukurlah kemarin si abang toyib update tweet lagi jadi akunya semangat buat nulis seharian (?) hahahah

tapi aku tetap meminta maaf karna rasanya aku mengalami kemunduran di sini #dessh T___T maaf ya kalo ceritanya jadi monoton.. dan sebenernya itu spoiler masih beneran spoiler, akunya belum sempat bikin, tapi emang susunannya udah begitu di imajinasi heheheh

Jujur aja, mungkin ini juga efek dari krisis kepercayaan diriku yang terganggu lagi. Gimana ya jelasinnya? Yah, makanya aku berpikir untuk bakal memproteksi cerita ini di part terakhirnya, atau bahkan di 2 part terakhir, atau mungkin mulai dari next part nanti.

Lagi mau dihargai aja sama readers. Hope you understand ya dear~

Karena itu mohon beri aku semangat yaa~ aku sangat berterima kasih pada readers yang bersedia memberi apresiasi sekaligus semangat buat cerita ini;; karna tanpa reader yang meninggalkan jejak, aku merasa kalo tulisanku cuma sekedar angin lalu….. #sedihh

Yaudah gitu aja. Terima kasih sudah mau mampir~^^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

29 thoughts on “Two Person – First Date

  1. Semangatttt Semangattttt Semangaaaatttttt kak siskaaaaaaa~
    Wkwkwkwkwkwk :v

    Dohh~ Soo Rin mau kemana sama Kim Sang Bum ?? Apa dia mendua ? Dia menduakan Kim Ki bum ?
    Yakkk !!! Satu saja sudah cukup buatmuuu, lempar salah satunya padaku :v huhuhuhu

    Semangat terus kakaaa~
    Reader setiamu banyak kok
    Aku salah satunya 😀
    Ditunggu Noxt chapternya kak
    Keep Writing kakaaaa~

  2. pasangan yang romantis. berkencan di museum.

    pas awal baca sih agak ragu kok sama part sebelumnya agak gak nyambung yah, eehhh pas akhir baru ngehhh ternyata emang soo rin mau bicara sama sang bum setelah dia pergi kencan. aku penasaran sama perumpamaan soo rin apa itu perandaian dia, ki bum, dan sang bum? aduh rencana apa yg di rencanakan soo rin sama sang bum?

  3. Ada beberapa bagian yang bikin aku gemes sama Soo Rin .. Polosnya itu lebih dari anak umur 5 tahun .. Gereget gitu hehehehehe

    Ki Bum juga kayanya ngeladenin polosnya Soo Rin sama kejeniusannya dia .. Yaa itung” lagi ngajarin Soo Rin ilmu wkwkwkkwk

    Kencan di Musium yahh ?? Nanti aku nyobain aaahhh wkwkwkwkw /gak deng/

    Kakak ayo naikin lagi mood nulisnya .. Harus percaya diri sama percaya kalo tulisan kakak menghibur banyak Readers yang baca karya kakak .. Terus kalo mau di protec boleh tapi aku nantiminta Pw nya ya kak hehehehehe .. Semangat kakak .. Jangan nyerah gara” siders atau makhluk yang gak meninggalkan jejak .. Banyak readers yang bakalan ninggalin jejak buat kakak .. Semoga bikin mood nulis kakak sama kepercayaan diri atas tulisannya balik hehehehe .. Semangka SEMANGAT KAKAK ({}) 😊😃😁

  4. I miss U Kakak, kangen bgt aku, part ini sweet, tp kayaknya next part bkal tegang. Can’t wait to next part. 🙂 Fighting kakak !

  5. salam reader baru min. 🙂 🙂
    aq baru commentny sekarang.. habisnya gak sanggup buat kata kata.
    eonni ff nya daebbak.. neomu daebak (y)
    Semangat ya eonni buat nerusin ff ya..
    salam kenal…:-) 🙂

  6. Jiaah romantis bgti sh :-D…
    Soorin lugu bgt sh , abis pergi ma kibumie trus pergi ma sang bum ? Ada apa lg ni ? Bikin deg”an aja

  7. sekali lg mksh dah di tag 🙂
    bnr2 TOP bgt dech,slain crta ny kren,ddlm ny jg da pngetahuan ny.jd tmbh kren lg 🙂
    jd mkin suka aq ma ff qm n kisoo couple 😀
    next part ny bkin pnasaran dech.
    cptan di share ya 😉

  8. Hwoaaa, jarang2 ada ff yang ngedate di museum~
    Selalu penasaran sama next partnya, ditunggu kelanjutannya eonn~
    jangan lupa tag aku lagi ne.. Hehe ^^

  9. ciee yang ngedate untuk pertama kalinyaa sweet banget sampe melting. wahh keknya part selanjutnya seru dehh, semangat kak ngelanjutinnya. aku selalu nungguin kelanjutan kisah merekaaa lohh

    jadi jangan lupa kalo ada yg selalu nungguin cerita kk yahh, semangattt

    ditunggu kak kelanjutannyaaaa :))

  10. Oh oh oh aq suka bgt sm critanya makin pnasarannn … Eh apa tu kok sorin prgi sma sang bum ??
    Smangat ya bwt lnjutt ceritanya 😀

  11. Cieeeeee yg date untuk prtama kalinya. *colek KiSoo 😀
    Haduhhh part ini bkin gemes yah baca tingkah Soorin yg polos bgt >//<
    Tp aku beneran penasaran sama next partnya. Cpetan dilanjut yah authornim ^_^

  12. Omggg suka suka mesem mesem romance nya lucu TT
    btw penasaran sama yg diujung itu, apaan yg dibilang sagbum sama soorin, terus jgn bilang kalau jungsoo salah paham sama kibum, duh banyak amat misteri di pasrt selanjutnya..
    Ditunggu ya thor, fighting !!!

  13. Semangat Siska ^^ .. well welcome back sudah lama aku menunggu lanjutan cerita Two Person. Menurutku ini ga membosankan kok, sangat romantis. Kim Ki Bum lagi-lagi telat satu langkah dari Soorin hahahaha. Disini Kibum lucu, seperti pertama kali berkencan (*memang begitu kan) hehe. Tapi aku tak tahu kalau Soorin juga ada janji dengan Sang Bum. Berkencan kah? atau apa? ahh molla.. Aku tunggu part lanjutannya yahh kalaupun di protect it’s ok aku mah kkkkk

    Semangattt Siska Semangattt ^^

  14. Pertama, makasih loh kak udah ditag, kalau ini fanfict udah dipost. Kalau tak, mungkin aku ga tau ini –”

    Kedua, setelah baca ini part, aku sadar betapa ‘buruk’nya pengetahuanku mengenai sains yang begini –“. Dan untung baca, jadi dapat informasi, hehe.

    Ketiga, kakak tau bagaimana aku, tak bisa memberi komentar yang baik, aku hanya kasih tahu gimana perasaan aku setelah aku baca/bhaq/ . Aku juga tak cocok kasih komentar berupa kritik gitu, haha. Aku baru sadar kalau penggunaan tanda bacaku tak tepat selama ini –”

    Keempat, pengen dah dapet pasangan kayak Ki Bum. Lebih-lebih segalanya. Aku juga pengen diajarin, Huah!!!

    Kelima, kakak bilang mau diprotect kah? Ga apa dah, aku tunggu. Asal kakak kasih tau PW-nya, haha. Dan soal writer’s block, aku juga ngalami, jadi ceritaku terkesan maksa/nangis/

    Keenam, jangan peduli’in poin-poin diatas kak, ga penting –‘ Dan tenang kak, aku akan selalu memberikan semangat untukmu.
    Semangat kakak :D. Keep Writing. GBU

  15. Duh kencan yang manis…tapi Soo rin mau kemana tuh sama Sang bum, hal apa yang akan diberitahu Sang bum pada Soo rin…

    potongan2 buat part 14 sukses bikin aku penasaran…duh ditunggu pisan next partnya…

    couple KiSoo selalu bikin aku senyum2 gaje kkkkk…Soo rin selalu mengalahkan Ki bum dengan sifat polosnya…

  16. Duh kencan yang manis…tapi Soo rin mau kemana tuh sama Sang bum, hal apa yang akan diberitahu Sang bum pada Soo rin…

    potongan2 buat part 14 sukses bikin aku penasaran…duh ditunggu pisan next partnya…

  17. full kisoo moment^^
    soorin kadang2 ngeluarin pernyataan yang buat kibum mati kutu hahaha jadi pen kencan juga, tapi Onew lagi sibuk *ngimpi XD

    itu lanjutannya bikin tegang ya ada actionnya jg dh kayanya*sotoy.. dtunggu lanjutannya ya. ga cpt jg gpp, ga ush dpaksain 🙂 FIGHTINGG!! 😀

  18. Kalo Jung Soo tau Mereka kencan ke Museum pasti dia bangga apalagi liat kejeniusan Ki Bum , kencan nya manis banget ^^ , yaampun mau dibawa kemana itu Soo Rin sama Sang Bum T.T , please Ki Bum jangan berantem lagi sayangkan kepercayaan Jung Soo kalo hilang T.T

  19. Sepertinya mereka berdua menikmati waktu kencan pertama mereka yang unik. Sangbum mengajak soorin pergi kemana? Sepertinya akan ada konflik yang cukup serius yang akan terjadi di part selanjutnya.

  20. manis banget mereka ><
    tapi kenapa Soorin ketemu sama Sang Bum lagi, dan Sang Bum mau ngajak Soorin pergi kemana itu/?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s