Posted in Category Fiction, Family, Fiction, KiSoo FF "Two Person", PG, Romance, School Life

Two Person – In The Other Side

prev :: #1.Nerd and Innocent | #2.Aggressive | #3.Control | #4.Can (not) Stop | #5.Do (not) Stop#6.Start Again, Meet Again | #7.The Real Kim Ki Bum | #8.About Park Soo Rin | #9.Missing | #10.Chance | #11.Flashback | #12tp1

Genre :: School Romance

Rated :: PG

Length :: Series

||KiSoo||

Happy reading!! ^-^

ㅡㅡ

When sadness feels beneath happiness…

ㅡㅡ

SANGBUM terduduk merenung di atas motornya yang terparkir di sebuah pinggir jalan komplek. Sepasang matanya yang tajam nan menawan itu hanya menyorot kekosongan pada aspal jalanan di bawahnya. Tidak terlihat lagi aura positif yang menguar di sekelilingnya seperti biasa. Bagaikan dipayungi oleh awan mendung mengingat bagaimana menyedihkannya dirinya saat ini.

Rasanya sudah lama dirinya tidak bernostalgia akan masa lalunya yang begitu pahit. Menjadi anak haram dari sebuah hubungan gelap telah membuatnya begitu dibenci oleh orang yang seharusnya menjadi saudaranya meski tidak terikat darah sepenuhnya. Selama ini dia melakukan berbagai cara hanya demi menarik perhatian orang itu meski barang sejenak, tetapi hanyalah sebuah ketidak-sudian yang semakin menggunung yang didapat. Dia bahkan menghalalkan cara busuk dengan mencoba menjatuhkan orang itu sendiri hanya agar dirinya diakui keberadaannya. Mengibarkan bendera permusuhan dan berjuang mati-matian demi mendapatkan pengakuan dari orang itu.

Tetapi sebuah kesalahan yang berujung fatal telah berhasil membuat orang itu benar-benar tidak sudi hanya untuk sekedar meliriknya.

Sang Bum bahkan lebih memilih dibenci oleh banyak orang dibandingkan oleh lelaki itu. Menjadi orang berpredikat buruk seperti lelaki itu, menjadi saingan yang sepadan dengan lelaki itu, hanya demi mendapatkan lirikan dari lelaki itu. Namun yang Sang Bum dapat hanyalah sebuah kebencian yang semakin menohok batinnya. Melihat bagaimana muaknya lelaki itu setiap melihatnya, jelas sekali membuat Sang Bum hampir terjatuh jika dia tidak memiliki mental yang cukup kuat.

Seburuk itukah Sang Bum? Sehina itukah Sang Bum?

Semuak itukah Kim Ki Bum? Sampai-sampai lelaki itu tidak sudi melihatnya…

Apakah semua ini merupakan kesalahannya? Apakah kemunculannya di dunia ini akibat perilaku kedua orang tuanya itu merupakan sepenuhnya kesalahan besarnya?

Sungguh sempurna sekali penderitaannya ini, bukan?

Ia mencoba turun dari motornya, menarik napas dalam-dalam serta menghembuskannya dengan sangat berat. Mendengakkan kepala menatap keruhnya langit sore di pertengahan musim gugur, seolah langit tengah berpihak padanya sekaligus mendukungnya untuk tenggelam dalam kesedihan yang begitu dalam.

Dia berharap—sangat berharap, bahwa ia bisa mendapatkan sebuah kesempatan untuk memperbaiki kacaunya hubungan ini. Jujur, dia juga membenci kedua orang tuanya yang sudah melahirkannya dengan cara kotor. Bahkan dia tidak sudi berbicara dengan mereka dan memilih untuk tinggal sendiri setelah mengetahui kebusukan mereka. Memilih untuk hidup sendiri, menafkahi diri sendiri meski dia tahu bahwa selama ini diam-diam ibunya memberi uang kepadanya, dan ia memilih untuk tidak pernah menyentuhnya. Dia marah, dia menyesal, dan dia merasa kotor.

Ditambah mengetahui akan fakta bahwa saudara satu ayahnya itu begitu membencinya, bagaimana bisa Sang Bum tetap bertahan hingga sekarang jika dia tidak memiliki sebuah tekad bercampur mental kuat?

Sang Bum berbalik kala dirinya melihat dua orang itu berjalan beriringan di kejauhan. Sebenarnya, niat Sang Bum datang kemari adalah ingin mengunjungi gadis itu diam-diam dan menjelaskan sesuatu, karena Sang Bum yakin bahwa lelaki itu sudah menceritakan semuanya. Hanya saja, dia merasa perbuatannya ini sia-sia. Ditambah melihat bagaimana kedekatan mereka yang begitu jelas di mata kepala sendiri, berhasil membuat Sang Bum mencelos dan melemas. Ada perasaan asing yang berhasil mendominasi di dalam tubuhnya saat ini. Dan ia berharap untuk tidak berniat merebutnya.

Sial sekali hidupmu, Kim Sang Bum.

****

Keduanya melangkah beriringan di bahu jalan komplek yang lengang. Sengaja lelaki itu meninggalkan mobilnya di persimpangan komplek dan memilih berjalan kaki mengantar sang gadis ke rumahnya karena tidak mau menarik perhatian penghuni rumah sang gadis yang katanya bahwa adik gadis itu pasti sudah berada di rumah.

Tahukah bahwa terdapat perbedaan situasi di antara mereka saat ini? Ya. Mereka melangkah dengan begitu ringannya disertai dengan raut cerah pada wajah mereka. Bahkan, mereka seperti tidak terpisahkan dengan tangan saling bertautan, menggenggam memberikan kehangatan yang menggelitik tubuh mereka secara diam-diam. Mereka tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dan pengalaman baru ini memunculkan sebuah perasaan asing yang baru sekaligus menyenangkan di benak mereka.

“Ini rumahmu?”

Gadis itu mengangguk begitu mereka berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Senyumnya segera mengembang begitu mendengak menatap lelaki yang kini juga menatapnya seraya memerintah dengan halus.

“Masuklah,” kemudian ia melepas genggaman mereka, menghela sang gadis untuk segera masuk. Tanpa mereka sadari, bahwa mereka sedikit merasa kehilangan begitu tautan tangan mereka terlepas.

Um!” gadis itu berusaha tetap ceria. Setidaknya saat ini dia sudah membuat lelaki itu mau melakukan hal ini, bukan? Dia cukup merasa bahagia mendapat sebuah kenyataan di mana lelaki itu sudah menerimanya.

Tapi tunggu dulu.

Gadis itu segera berbalik kala sudah berdiri di depan gerbang, kembali menatap lelaki yang masih betah berdiri di tempat. “Kim Ki Bum.”

Hm?” Ki Bum mengangkat kedua alisnya samar. Sejenak ia terpesona dengan semburat kemerahan yang masih tampak di kedua pipi gadis itu dan berharap dirinya tidak lancang merengkuhnya dan berakhir kembali mencium gadis itu.

Hentikan, Kim Ki Bum, hentikan. Oh, sial, dia memang sudah dibuat tidak karuan oleh gadis bernama Park Soo Rin ini.

“Soal tadi, apakah itu berarti bahwa kita… sudah berpacaran?”

Bagus sekali, Park Soo Rin, kau berhasil membuat Kim Ki Bum terkekeh geli meski barang sejenak. Hanya karena pertanyaan konyolmu itu.

“Bukankah kita sudah berpacaran sejak lama? Kau yang mengajakku lebih dulu, bukan?”

Blush…

Semburat kemerahan di pipi Soo Rin semakin menjadi. Dia tidak menyangka bahwa ungkapan sederhana yang keluar dari mulut Kim Ki Bum telah berhasil memicu benaknya untuk kembali berdesir-desir. Benar juga, bukankah dia yang mengajak Kim Ki Bum untuk berpacaran lebih dulu saat itu? Tunggu, bukankah itu berarti bahwa lelaki ini sudah mengakuinya sejak lama?

“Oh, jadi kau sudah menerimaku sejak awal?” tanpa Soo Rin duga, pertanyaannya mampu membuat Ki Bum tersenyum lebih lebar sebelum akhirnya lelaki itu melangkah mendekatinya.

“Mungkin saja…” Ki Bum segera mendaratkan sebelah tangannya ke sebelah pipi merona itu sebelum sang empu menyemburkan protes—terlihat sekali dari raut wajah manisnya yang sedikit merengut karena tidak puas dengan jawabannya. Dan kini dia harus menggerutu di dalam hati karena ia tidak mengerti dengan kinerja tubuhnya yang selalu ingin menyentuh wajah gadis ini.

Well, sejak awal Soo Rin memang sudah berhasil memporak-porandakan hati kerasnya hingga berhasil membuatnya berujung memilih untuk menyerah akan kegigihan gadis ini untuk terus bersamanya. Dan ini, adalah kali pertama baginya merasa dikalahkan oleh seorang gadis.

Sial sekali, bukan?

Namun Ki Bum tidak menyesalinya. Sama sekali tidak.

“Masuklah. Ini hampir malam.”

Soo Rin mengangguk kala tubuhnya hampir melemas merasakan sentuhan hangat di pipinya. Kemudian mendesah lega diam-diam kala Ki Bum akhirnya melepas rengkuhannya. Ugh, dia tidak menyangka bahwa sentuhan sederhana itu berhasil membuat sebuah reaksi yang berlebihan seperti sekarang ini. Apakah ini karena efek dari apa yang sudah mereka lalui kala di dekat jembatan tadi? Oh, mengingatnya lagi saja sudah berhasil memicu jantung Soo Rin berdetak tidak karuan lagi. Karena… karena dia menyadari bahwa lelaki ini… sudah mengambil ciuman pertamanya.

Wahai jantung, bisakah kau bekerja sama sedikit? Soo Rin harus segera masuk jika dia tidak mau membuat Kim Ki Bum panik akibat tubuhnya yang bisa melemas kapan saja!

“Sampai jumpa besok. Aku akan ke rumahmu sepulang sekolah!”

Ki Bum merasa geli dibuatnya. Sepertinya gadis ini tidak pernah melupakan rutinitas barunya itu. Well, Ki Bum akan menunggu kedatangannya dengan senang hati. Dan mencoba untuk bersabar, karena kini dia menyadari bahwa tidak bertemu Soo Rin selama lebih dari setengah hari sudah berhasil membuatnya rindu setengah mati. Terdengar berlebihan, memang, tapi begitulah kenyataannya.

Melambaikan tangan, Soo Rin segera memasuki gerbang rumahnya, lalu berlanjut menghilangkan sosoknya ke balik pintu utama rumah tepat di depan mata Ki Bum. Tanpa diketahui oleh lelaki itu, Soo Rin segera membuka kedua alas kakinya secara serampangan, menggantinya dengan sandal rumah lalu melesat ke lantai atas menuju kamarnya, tanpa menghiraukan kehadiran Ji Min yang memang selalu menyambut kepulangannya itu.

Bahkan Ji Min harus dibuat melongo bingung melihat tingkah kakak perempuannya yang terus mengembangkan senyum sangat lebar dengan wajah yang merona hingga mempertegas paras cantiknya itu. Melihat bagaimana kakaknya itu berlari-lari kecil berirama menapaki anak-anak tangga yang mengantarnya ke lantai dua, memancing Ji Min untuk mengikuti kakaknya itu diam-diam.

Begitu memasuki kamar seraya menutup pintu, Soo Rin segera melepas tas punggungnya, meletakkannya sembarangan, lalu menjatuhkan diri di atas tempat tidur, barulah ia melepas perasaannya yang sudah membludak di benaknya dengan sebuah teriakan histeris dalam satu tarikan napas. Menghempas-hempaskan kedua kakinya di atas kasur sebelum mengguling-gulingkan tubuhnya dengan penuh antusias.

Tanpa menyadari adanya Ji Min yang tengah mengintip dari balik pintu kamarnya yang memang tidak terkunci. Melihat bagaimana tingkah konyol kakaknya saat ini di atas tempat tidur. Yang pasti hanya ada satu hal yang berhasil Ji Min tangkap, bahwa kakaknya itu sedang sangat, sangat, saaaangatt berbahagia.

“Sepertinya kabahagiaan itu sudah berhasil membuat Noona menjadi orang tidak waras,” decak Ji Min seraya menggeleng-gelengkan kepala.

“Oh, Ji Min-ah! Kemari, kemari!!” tanpa disangka bahwa Soo Rin akan menangkap basah dirinya dan ternyata justru menyuruhnya untuk masuk.

Ji Min akhirnya memasuki kamar Soo Rin setelah melihat gadis itu mendudukkan diri di tengah tempat tidur. Mata kecoklatannya itu berbinar-binar menyorot pada Ji Min hingga ia merasa silau. Ugh, sebahagia itukah noona-nya saat ini?

“Ada apa dengan Noona?” adalah kalimat pertama yang Ji Min lontarkan begitu berhasil mendudukkan diri di pinggir tempat tidur Soo Rin. Tanpa izin ia mengulurkan sebelah tangannya menuju kening berponi Soo Rin. “Noona masih baik-baik saja, bukan?”

Ish!” Soo Rin segera menepis tangan Ji Min. Wajah manisnya segera merengut meski masih dihiasi senyum menawannya yang belum berhasil ia lunturkan. Namun ia memilih untuk kembali memasang raut cerianya demi bercerita. “Kau tahu? Noona sudah diterima oleh lelaki yang Noona sukai!”

Ji Min mengerutkan kening. “Bukankah Noona sudah diterima sejak lama?”

“Hihi!” Soo Rin memamerkan cengiran lebarnya. “Eii, ini dalam arti lain. Dia sudah menerimaku untuk menjadi kekasihnya!”

Mwo?!” Ji Min melotot parah. Oh, bagaimana dia tidak terkejut jika noona-nya akhirnya berpacaran? Ditekankan, BERPACARAN?! Karena selama ini Ji Min tidak pernah melihat kakaknya ini berani menjalin hubungan hingga sejauh itu dengan seorang lelaki. Dan mengingat bagaimana orang-orang kebanyakan jika sudah berpacaran…

Cepat-cepat Ji Min meraih kedua bahu Soo Rin, menatap lekat kakaknya yang kini tampak kebingungan akibat tingkah anehnya. Dengan ekspresi dibuat-buat, Ji Min menelan saliva sebelum bersuara, “Noona…”

Soo Rin mengerjapkan mata beberapa kali.

“Apakah dia sudah mencium Noona?”

Skak mat!

Soo Rin benar-benar terkejut dengan pertanyaan tepat sasaran Ji Min. Wajah manisnya segera berubah menjadi seperti kepiting rebus yang baru saja matang dan segera ditangkap oleh retina Ji Min.

Ji Min terkejut bukan main. Hingga dia menarik napas dalam-dalam…

GYAAAAAAA!! NOONA-KU SUDAH TIDAK SUCI LAGIII!!!”

“A-apa? ­Y-yaa!! Kau ini bicara apa?!”

“DIA SUDAH MENODAI NOONA-KU!! GYAAAAAAAAA!!!

“J-JI MIN—”

“BERANINYA DIA MENODAI NOONA-KU!! AKAN KUHAJAR DIA!!! DI MANA ORANG ITU SEKARANG?!”

YA, PARK JI MIN! JAGA BICARAMU DAN BERHENTI BERTERIAK!!”

Noona juga berteriak.”

Sial! Park Ji Min selalu saja berhasil memutar balikkan suasana hati Soo Rin. Lihat saja, wajah manisnya sudah berubah drastis karena perbuatan adiknya yang sewenang-wenang asal menuduh. Bagaimana dia tidak berteriak jika Ji Min juga berteriak dan hampir menarik perhatian tetangga sekitar untuk datang berbondong-bondong kemari akibat ulah Ji Min yang sudah mengalahkan lengkingan perempuan!

“Kau ini benar-benar menyebalkan!” Soo Rin memukul Ji Min tanpa ampun hingga adiknya meringis.

Kemudian Ji Min tekekeh lucu. “Aku tidak menyangka bahwa Noona sudah berani sejauh itu.”

Lihat, dia mulai lagi. Jelas saja Soo Rin semakin salah tingkah dibuatnya. Wajahnya yang kembali merona itu merengut masam. “Aku tidak melakukannya! Kim Ki Bum yang memulai lebih dulu!”

Ugh, bahkan tanpa sadar Soo Rin sudah berani membongkar identitas lelaki itu di depan Ji Min!

“Hoo, jadi namanya Kim Ki Bum…” gumam Ji Min seraya menyeringai dengan jemari mengusap dagunya layaknya detektif amatiran. Terlihat menyebalkan di mata Soo Rin.

Bug!

Soo Rin melempar bantal kecilnya tepat ke wajah Ji Min. Membuat pemuda itu mengerang tidak terima akan perilakunya. Soo Rin sendiri memilih untuk bersedekap. Hanya sesaat karena kemudian ia segera mengingat sesuatu. Langsung saja Soo Rin menerjang adiknya dengan merangkul leher pemuda itu, mendekapnya begitu erat hingga sang empu sedikit kewalahan.

“Ji Min-ah, bisakah kau tidak memberi tahu hal ini pada Jung Soo Oppa?”

Ji Min yang tengah memberontak segera berhenti. Keningnya membentuk lipatan kerutan. “Kenapa? Bukankah Noona justru sering bercerita akan hal ini pada Jung Soo Hyung?”

Soo Rin menggigit bibir bawahnya. Mendengar jawaban Ji Min menyadarkannya bahwa adiknya ini memang tidak tahu akan perdebatannya dengan Jung Soo kala di ruang tamu dua hari lalu. Ia pun beralih memeluk lengan Ji Min begitu erat. “Hanya, aku tidak mau Oppa terkejut bahwa aku sudah berpacaran. Jadi, maukah kau menjaga rahasia Noona? Hanya kau dan Noona yang tahu, eo?”

Mendengar kakaknya seperti tengah memohon, Ji Min akhirnya mengangguk menyetujui. Ia menepuk dadanya seraya mengangkat dagu. “Noona bisa percayakan hal itu padaku. Aku pasti akan menjaga rahasia ini!”

Soo Rin mendecih lucu melihat bagaimana Ji Min begitu membanggakan diri. Ia segera memeluk adiknya dengan gemas. “Gomawo, nae dongsaeng!

Nado saranghae, Noona!

Yaa!!

“Hihihi!”

****

Esok harinya, Soo Rin sudah berdiri di halte bus tak jauh dari rumah. Waktu masih terlalu pagi untuknya pergi ke sekolah.`Tapi karena perasaannya yang sedang berbunga-bunga, membuatnya bangun lebih awal dan memilih untuk segera berangkat ke sekolah.

Bahkan tingkahnya ini mengundang Jung Soo untuk mengerutkan kening karena bingung. Jung Soo yang biasanya akan mendapati adiknya tengah sibuk di dapur, kini harus dibuat terperangah kala dirinya turun dari kamar setelah bersiap-siap dan mendapati adiknya sudah bersiap hendak keluar rumah.

Berbeda dengan Ji Min yang hanya mengedikkan bahu kala kakak sulungnya itu menatap bingung ke arah dirinya, Ji Min memilih untuk mengulum senyum diam-diam mengetahui penyebab kakak perempuannya bertingkah seperti sekarang ini. Well, dia masih ingat perjanjiannya dengan Soo Rin hari lalu. Setidaknya Ji Min bisa bernapas lega mendapati kakak perempuannya benar-benar sehat dan sangat antusias untuk bersekolah. Itu sudah cukup baginya.

Jatuh cinta itu memang membingungkan.

Kau bisa melihat orang yang sedang jatuh cinta bertingkah tidak seperti biasanya. Mendorong orang itu untuk rajin pergi bersekolah di waktu sepagi ini. Melakukan hal-hal aneh lainnya yang hampir tidak pernah dia lakukan hanya karena perasaan yang berbunga-bunga.

Sekalipun terasa begitu lama menunggu subway datang, tidak melunturkan senyum cerah merekah di bibir Soo Rin. Pikirannya hanya tertuju pada satu sosok yang ingin segera ia temui dengan segera pergi ke sekolah, menyelesaikan kegiatan belajar-mengajar sebaik mungkin, lalu meluncur ke rumah Kim Ki Bum secepatnya. Ya, seperti itulah rencananya hari ini. Dan tentunya, dia akan menjalani hari ini tanpa mengeluh karena dirinya pasti bertemu dengan Kim Ki Bum.

Ia segera menegakkan tubuhnya begitu melihat di kejauhan, sebuah subway muncul melaju ke arahnya, mendekati halte. Bersiap-siap untuk menyambut kedatangannya tanpa menyadari ada sebuah motor meliuk mendahului subway tersebut dengan kecepatan tinggi lalu berhenti tepat di hadapannya dalam waktu sekejap. Barulah Soo Rin merasa tertarik dengan orang yang tengah menunggangi motor tersebut.

Lalu terkejut bukan main begitu mendapati wajah di balik helm tersebut, mata kecoklatannya melebar hingga melotot melihat orang itu ternyata yang menunggangi motor besar keluaran dalam negeri bermerk Hyosung GT250 dengan paduan warna putih dan merah. Bahkan tanpa sadar ia mundur selangkah kala merasakan tubuhnya hampir terjungkal karena saking terkejutnya.

New-Hyosung-GT250

“Naiklah!” titah orang itu seraya mengedikkan kepala ke belakang, menunjuk jok belakang yang kosong.

Singkat, padat, namun lambat untuk dicerna oleh Soo Rin. Oh, bagaimana gadis itu tidak terkejut jika melihat seorang Kim Ki Bum menunggangi motor besar di hadapannya saat ini?!

Berdecak keras, Ki Bum dibuat jengah dengan lamunan parah di wajah manis itu hingga dengan gemasnya ia meraih gadis itu untuk mendekat. Memasangkan helm yang memang dia bawa untuk gadis ini, perlahan namun cekatan, lalu bersuara, “Naik, Park Soo Rin. Melamunnya nanti saja setelah kau naik!”

Mengerjap cepat, setengah sadar Soo Rin menaiki motor tersebut, di mana jok belakang tampak paling tinggi letaknya hingga ia kesulitan untuk menggapainya. Sampai-sampai ia sedikit dikejutkan dengan tangan besar itu yang merengkuh pinggangnya, membantunya untuk naik hingga ia harus melihat lelaki itu sudah memutar tubuh menghadapnya, memasang wajah datar yang anehnya masih bisa membuat Soo Rin menelan saliva karena gugup.

Bahkan dengan wajah yang terbungkus helm itu masih bisa membuat Soo Rin berdebar-debar tanpa kendali. Menyebalkan sekali, bukan?

Ki Bum segera menarik gas begitu mendengar suara klakson dari subway yang sudah datang. Memeringatinya untuk segera menyingkir karena motor besarnya sudah mengambil tempat pemberhentian subway. Tanpa ia rencanakan untuk mengejutkan gadis di belakangnya karena ia merasakan sepasang tangan itu langsung mencengkeram bagian pinggang jaketnya begitu motor besarnya melaju cepat dalam sekali tarikan.

Untuk saat ini, Ki Bum memang tidak ingin menjelaskan apa yang dipastikan tengah bersarang di otak gadis di boncengannya. Karena tujuan utamanya untuk saat ini, dia ingin mengantar gadis ini ke tempat tujuan.

Sedangkan Soo Rin, masih dalam keadaan sama. Melamun menatap kosong pada punggung Kim Ki Bum yang saat ini tengah melajukan motor besar yang ditumpanginya ini dengan begitu lihai layaknya pembalap motor kelas atas. Dia memang pernah merasakan ini kala dirinya dibonceng oleh Kim Sang Bum dalam level yang hampir sama. Hanya saja, dia tidak merasakan perasaan ini kala dirinya tengah dibonceng Kim Sang Bum. Terlepas dari kebingungannya akan bagaimana Kim Ki Bum bisa mengendarai sekaligus memiliki motor yang—menurut Soo Rin—cukup menyebalkan karena memiliki jok penumpang yang lebih tinggi dibandingkan jok pengendaranya sendiri, Soo Rin merasa membuncah hanya dengan fakta bahwa punggung di hadapannya ini adalah punggung milik Kim Ki Bum.

.

.

Hanya dengan menempuh waktu 20 menit lamanya untuk sampai ke tujuan—Sekolah Daejeon Gwanjeo. Kondisi lingkungan sekolah yang masih sepi mengingat waktu memang masih terlalu pagi memudahkan Ki Bum untuk menghentikan motornya tepat di seberang gerbang utama sekolah. Cepat-cepat Soo Rin turun dari motor hingga mengundang lelaki itu untuk mengabaikan kegiatannya yang ingin melepas helm dan reflek membantunya untuk turun.

“Kenapa kau—” Soo Rin kehilangan kata-kata seketika, kala matanya harus melihat bagaimana lelaki itu melepas helm-nya, menggelengkan kepala hingga rambut hitamnya yang tampak kempis setelah memakai helm menjadi tak beraturan, apalagi sebelah tangannya ikut andil mengacak-acaknya, yang sialnya berhasil membuat Soo Rin menelan saliva kembali karena… ugh, tiba-tiba saja tangannya menjadi gatal ingin menyentuh helai demi helai rambut hitam menawan itu!

Astaga, apa yang sedang kau lakukan bersama rambutmu itu, Kim Ki Bum? Kenapa Soo Rin menjadi terpesona seperti sekarang ini?!

Ki Bum segera menoleh, ia hampir menyemburkan tawa melihat bagaimana ekspresi Soo Rin saat ini. Wajah manisnya sudah merona dengan mata beriris kecoklatannya itu menatap penuh minat dirinya. Jika saja dirinya tidak mengingat di mana mereka saat ini, mungkin Ki Bum sudah menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan menciumnya. Sayangnya, dia masih ingat bahwa perbuatan itu sangatlah kurang ajar untuk gadis sepolos Park Soo Rin.

Akhirnya ia memilih untuk menoyor pelan kening berponi itu setelah dirinya turun dari motor dan bersandar pada badan motor besarnya tersebut, menyadarkan empunya kembali, dan ia berusaha untuk memertahankan wajah datarnya di hadapan gadis ini. “Sampai kapan kau akan seperti itu, huh?

Soo Rin mengusap keningnya, ia salah tingkah sampai-sampai wajah manisnya semakin merona tak terkendali. Batinnya merutuki perbuatannya yang sudah terang-terangan menatap penuh lelaki ini. Ugh, mau ditaruh di mana wajah malunya sekarang? Kenapa dia sampai berpikir aneh-aneh seperti tadi? Ya ampun, Soo Rin tidak menyangka bahwa Kim Ki Bum mampu membuat dirinya bertindak sejauh ini.

Ki Bum akhirnya mendengus geli. Ia meletakkan helm-nya di hadapan sebelum tangannya meraih wajah Soo Rin, berniat melepas kaitan yang melingkar di bawah dagunya sebelum melepas helm tersebut dari kepala gadis itu. Sebelah tangannya dengan hati-hati merapikan rambut Soo Rin yang sedikit berantakan. Membuat gadis itu segera menunduk karena malu.

Juga merasa tersentuh dengan perhatian kecil yang diberikan oleh Kim Ki Bum. Ia harus merasakan wajahnya semakin memanas saja akibat segala perbuatan lelaki di hadapannya terhadap dirinya. Sekaligus merasakan jantungnya bergemuruh semakin tidak karuan di dalam rongga dadanya. Berharap kakinya yang terasa gemetar mampu menopang berat tubuhnya hingga nanti. Karena dia mulai merasa lemas dibuatnya.

“Kau tahu, ini masih sangat pagi. Tetapi kau sudah berdiri di halte seperti tadi,” ucap Ki Bum, mata tajamnya tidak pernah beralih dari wajah yang sudah didapatinya sejak awal. “Kau memiliki jadwal piket?”

Soo Rin menggeleng cepat. Ia mengulum senyum malu-malunya sebelum mendengak lalu menjawab, “Hanya, aku ingin datang lebih awal hari ini. Aku sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Hehehe!”

Ki Bum terkekeh pelan melihat bagaimana menggemaskannya Soo Rin kala sedang memamerkan cengirannya itu. Tidak ia pikirkan lagi usaha untuk tetap tenang di hadapan Soo Rin, karena jelas bahwa gadis itu selalu bisa menghancurkan pertahanannya dengan begitu mudah seperti sekarang ini. Apalagi memikirkan alasan mengapa Soo Rin sedang dalam suasana hati yang sangat baik. “Apa itu ada hubungannya denganku?” guraunya sedikit percaya diri.

Tidak disangka bahwa Soo Rin akan mengangguk cepat, menjawab dengan sangat jujur yang semakin menampakkan paras lugunya kala cengirannya semakin lebar dengan kedua pipi yang semerah tomat. Memancing keinginan Ki Bum untuk mencubit kedua pipi itu dengan kedua tangannya yang sudah mulai gatal. Oh, tidak, Ki Bum harus bisa menahannya. Harus!

“Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kau tiba-tiba…” Soo Rin bingung menjelaskan pertanyaannya. Selain karena salah tingkah untuk bertanya, dia juga salah tingkah akibat lelaki di hadapannya ini.

Beruntung Ki Bum mengerti arah tujuan pertanyaan tak terselesaikan itu. Ia menjawab, “Aku berniat untuk menjemputmu. Yah, sebenarnya aku ingin menunggumu lebih dulu di sana, tapi tidak disangka kau sudah berada di sana lebih dulu,” terdengar begitu ringan di mulut Ki Bum.

“Kenapa kau ingin menjemputku?” Soo Rin bertanya dengan mata mengerjap lucu. Membuat Ki Bum akhirnya tidak tahan untuk melakukan sesuatu.

Mengusap gemas puncak kepala gadis itu. Biarkan saja dirinya dikatakan lancang. Salahkan Park Soo Rin yang sudah berani memancingnya untuk melakukan ini!

“Kurasa itu hal yang wajar dilakukan seorang lelaki untuk kekasihnya.”

Bagus. Jawaban yang bagus sekali, Kim Ki Bum. Lihat, Soo Rin tersipu-sipu dibuatnya. Sekarang siapa yang salah jika Soo Rin semakin terlihat menggemaskan saat ini?

“Kalau begitu, apa kau akan terus menjemputku dan pergi ke sekolah bersama-sama?”

“Tergantung padamu yang ingin kuantar-jemput atau tidak.”

Soo Rin tampak tengah berpikir. Bibir bawahnya sedikit maju dengan raut wajah berseri-seri. Mata kecoklatannya melirik lelaki yang tengah mengangkat sebelah alis menunggu jawabannya. Hingga kemudian ia kembali memamerkan cengiran polosnya lalu menjawab, “Mungkin untuk yang ini aku harus memikirkannya lebih dulu.”

Mau tidak mau Ki Bum tertawa mendengar jawaban menggantung itu. Sial! Apa gadis ini sedang mempermainkannya? Well, gadis ini pasti tidak menyadarinya tapi sungguh, Kim Ki Bum sudah merasa dipermainkan oleh gadis yang selalu menjawab asal namun telak memojok dirinya. Awas saja kalau begitu. “Jadi kau ingin membuatku menunggu jawabannya sampai kapan?”

Soo Rin menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal. Bibirnya mengerucut lucu sebelum menggerutu, “Salahkan dirimu yang memiliki motor besar itu. Aku tidak mengerti kenapa semua lelaki menyukai motor yang justru menyusahkan penumpang yang diboncenginya,” ia mengedikkan dagu dengan berani, menunjuk jok belakang motor besar Ki Bum. “Itu terlalu tinggi, kau tahu itu!”

Tawa lepas itu semakin tak terkendali hingga Ki Bum sendiri kewalahan menahannya. Astaga, dia tidak ingat kapan dirinya bisa tertawa seperti ini hanya karena kata-kata terlampau jujur yang keluar dari mulut Soo Rin. Dia sadar betul bahwa tawanya sudah membuat Soo Rin merengut masam hingga bibir kecilnya itu ikut merengut. Sayangnya, Ki Bum tidak bisa menghentikannya dengan segera.

Ish! Aku sedang tidak melucu. Aku ini sedang bicara serius, Kim Ki Bum! Setidaknya dengarkan aku dan—”

Terpaksa Soo Rin menelan protesnya kembali kala lelaki di hadapannya menarik sebelah tangannya, merengkuh pinggangnya lalu memeluknya hingga wajahnya terantuk dengan bahu lebar itu. Otaknya terlambat mencerna hingga ia terpaksa mengerjap beberapa kali. Yang dia tangkap hanyalah suara deru mesin mobil sempat melintas di belakangnya, lalu keadaan kembali hening di sekelilingnya.

Ki Bum hampir mengutuk dirinya sendiri jika gerak refleknya tidak bekerja dengan baik. Hampir saja dia tenggelam pada tawa lepasnya jika sudut matanya tidak menangkap sebuah mobil hendak melintas melewatinya dan hampir menyenggol tubuh gadis ini yang sudah berdiri terlalu jauh dari bahu jalan. Bodohnya Ki Bum, kenapa dia membiarkan gadis ini terus berdiri di tempat berbahaya seperti baru saja?

“Jangan salahkan aku yang terus tertawa di hadapanmu. Karena pada kenyataannya hanya kau yang selalu berhasil membuatku tertawa tanpa peduli seperti apa keadaannya, Park Soo Rin.”

Jantung Soo Rin yang sudah berulah sejak perilaku lelaki ini yang tiba-tiba memeluknya, semakin menjadi begitu merasakan sapuan halus di sebelah telinganya, mendengar suara berat itu mengalun menusuk gendang telinganya, mengucapkan kata-kata sekaligus mengeja namanya yang berhasil membuat tubuhnya serasa terbang hingga merasa tidak menapak di dalam pelukan hangat ini.

Dengan terpaksa Ki Bum memilih untuk melepas pelukannya, membantu gadis ini kembali berdiri tegak, dan membiarkan matanya menangkap lebih jelas wajah manis merona itu, sekaligus lebih dekat lagi—mengingat jarak mereka yang tidak ada sejengkal. Kemudian tanpa dikendalikan lagi, tangan besarnya merangkak naik merengkuh wajah manis itu dengan hati-hati, menghantarkan sengatan halus yang menyenangkan merambat ke sekujur tubuh.

“Jadi, tidak seharusnya kau merasa kesal maupun menyesal. Apa yang terjadi padaku ketika bersamamu, itu semua adalah karenamu,” lanjut Ki Bum dengan lugasnya, mengulas senyum menawan yang sukses membuat wajah Soo Rin serasa terbakar akibat efek radiasinya sekaligus sentuhan yang masih betah bertengger di sebelah pipinya.

Karena Soo Rin benar-benar telah berhasil merubuhkan benteng pertahanan Ki Bum yang sudah mengeras sejak dulu. Menuntunnya untuk merasakan seperti apa rasanya tersenyum, tertawa, gemas, kesal, hingga merasakan seperti apa rasanya ingin memiliki sekaligus melindungi. Sebuah perasaan di mana hampir tidak pernah ia temui kala dirinya masih hidup tidak terarah, hidup dengan penuh kebencian bahkan hidup dengan dipandang sebelah mata. Kini ia mendapatkannya, semua yang telah disebutkan itu, dan semua itu berasal dari gadis serampangan ini.

“Terima kasih,” ucap Ki Bum dengan mulus, halus, dan tulus. Menciptakan sebuah desiran halus nan menggelitik di dalam benak keduanya, merasakan makna yang terkandung dalam ucapan sederhana itu hingga mengundang sebuah senyum menawan menghiasi wajah masing-masing.

“Aku juga, terima kasih,” balas Soo Rin, terdengar malu-malu namun terasa ketulusannya. Hingga akhirnya ia memilih untuk menunjukkan cengiran polosnya demi menyembunyikan kegugupannya yang semakin tampak baginya.

Cepat-cepat Ki Bum melepas rengkuhannya. Percayalah bahwa saat ini batinnya tengah berdebat untuk melakukan sesuatu terhadap gadis ini. Karena dia tahu bahwa itu merupakan hal yang tidak benar, dia memilih untuk mundur secara teratur. Lagipula, sudut matanya menangkap beberapa pejalan kaki yang memakai seragam sama seperti gadis ini, menandakan bahwa mereka adalah murid Daejeon Gwanjeo yang baru saja datang.

Benar saja, beberapa murid yang baru saja datang itu menatap penuh ingin tahu ke arah keduanya, ada raut terkejut terpatri di wajah mereka begitu menyadari siapa lelaki yang tengah bersandar di badan motor besar itu. Mereka yang seangkatan dengan keduanya, tentu saja mengenal pasangan yang heboh dijadikan buah bibir akibat kasus pertarungan melawan Kang In tempo lalu. Dan, ya, tentunya mereka terkejut dengan kedatangan Kim Ki Bum bersama Park Soo Rin.

“Apakah lelaki itu mengantar Park Soo Rin kemari?”

“Apa dia benar-benar Kim Ki Bum? Penampilannya berbeda sekali.”

“Oh, astaga, Kim Ki Bum mengendarai motor besar?!”

Dan segala macam bisik-bisik yang mulai meramaikan suasana depan sekolah saat ini. Setelah hampir tiga minggu lamanya mereka tidak melihat sosok Kim Ki Bum karena masa skorsing, mereka cukup terperangah dengan kedatangan Kim Ki Bum di depan gerbang sekolah. Dengan pakaian casual yang dibalut dengan jaket hitam, menunggangi motor besar, dan kini tengah bersama Park Soo Rin, bagaimana mereka tidak bersikap untuk tidak tertarik? Seorang siswa yang selama ini ditindas karena penampilan culunnya, kini tidak ada lagi kesan culun yang melekat di diri seorang Kim Ki Bum.

Sepertinya setelah ini akan ada topik pembicaraan yang hangat menyebar ke seluruh penjuru murid tingkat kedua di Daejeon Gwanjeo!

“Masuklah. Sepertinya sekolah mulai ramai,” titah Ki Bum pada akhirnya.

Soo Rin sendiri memilih untuk tidak peduli dengan desas-desus yang mulai menusuk gendang telinganya. Ia mengangguk menuruti perintah halus Ki Bum lalu berbalik badan setelah berpamitan, menyeberang menuju gerbang sekolah, dan melangkah tanpa beban memasuki area sekolah. Seperti biasa, ia tidak peduli dengan keadaan sekitar yang—memang—saat ini tengah membicarakan dirinya.

Juga Kim Ki Bum.

Lelaki itu segera mengenakan kembali helm-nya, menunggangi motornya setelah menyimpan helm milik gadis itu, lalu melajukan motornya menjauh dari sekolah. Meninggalkan mereka yang terbengong-bengong melihat kedatangannya yang tergolong berani.

Juga meninggalkan sosok yang diam-diam mengawasi mereka. Dari balik sebuah pohon yang bertengger di pinggir jalan tak jauh dari gerbang sekolah, mengenakan pakaian casual yang dibalut jaket berbahan jeans, serta topi hitam yang menghalangi sebagian wajahnya, menatap kejadian itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

Menunduk seraya menghembuskan napas panjang, Sang Bum menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, menelan saliva dengan susah payah, serta sepasang mata menawannya yang berangsur terganti—menjadi tampak sayu sekaligus kosong.

****

Aku menunggu di halte.

Senyum manis terbit seketika di bibir kecil Soo Rin, wajahnya terlihat merona dengan cepatnya kala membaca isi pesan singkat tersebut. Sebelumnya ia hampir memekik kegirangan karena saking terkejutnya mendapati ponselnya bergetar singkat sekaligus menerterakan nama Kim Ki Bum lah yang mengirim sebuah pesan untuknya.

Ya. Kim Ki Bum mengirim pesan singkat. Untuk kali pertama!

Waktu belajar mengajar memang sudah berakhir. Para murid Daejeon Gwangjeo berhamburan keluar dari gedung sekolah memadati jalanan area sekolah. Dan Soo Rin cepat-cepat membereskan peralatan sekolahnya kemudian berlari setelah menyimpan obat semprotnya ke dalam loker kelas. Menuruni tangga dengan tergesa, mengarungi pelataran sekolah yang luas dengan senyum merekah begitu cerahnya.

Hei, bagaimana dia tidak merasa begitu bahagia jika mengetahui bahwa Kim Ki Bum menunggunya? Diulang, Kim Ki Bum menunggunya! Yah, meski lelaki itu menunggu di sana—halte bus—mengingat kondisi sekarang ini di mana Kim Ki Bum tidak diperbolehkan untuk menampakkan diri di area sekolah, tapi sudah membuat Soo Rin girang bukan main sampai-sampai tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Soo Rin sudah mencoba mencubit kedua pipinya, bahkan sampai menamparnya karena ia masih tidak menyangka dan menganggap semua ini adalah mimpi. Tapi dia sadar sepenuhnya bahwa ini bukanlah mimpi karena dia merasa sakit setelah melakukan hal-hal bodoh tersebut.

Bahkan Soo Rin masih belum percaya bahwa Kim Ki Bum melakukan ini padanya. Memberikan suatu perhatian yang jelas membuat Soo Rin serasa terbang juga merasa berdesir-desir. Mengontrol dirinya untuk tidak berhenti tersenyum di setiap langkah cepatnya yang terasa begitu ringan.

Hingga ia berhasil melewati gerbang utama sekolah, berlari-lari kecil menelusuri bahu jalan, semua itu berangsur lenyap kala indera pendengarannya menangkap sebuah panggilan familiar yang berasal dari seberang jalan.

“Park Soo Rin.”

Ia menghentikan langkah, sekaligus menoleh ke sumber panggilan, senyum lebarnya memudar seketika begitu mendapati sosok Kim Sang Bum berdiri tepat di seberangnya, menatap lekat dirinya dari jauh, sebelum kemudian membuka langkah besarnya untuk menyeberangi jalan, menghampiri.

Serta merta Soo Rin membuka langkah kembali. Membuang wajah menghindari tatapan itu dan berniat untuk pergi dari sana secepat mungkin. Namun gerakannya belum bisa mengalahkan gerakan Sang Bum yang sudah lebih dulu sampai di dekatnya dan langsung menahannya dengan meraih sebelah lengannya. Jelas saja menimbulkan suatu penolakan dari Soo Rin. Gadis itu mulai meronta.

“Lepaskan aku! Jangan mendekatiku lagi!!”

Sebuah tamparan telak yang berhasil mengenai diri Sang Bum kala mendengar seruan gadis ini. Membuatnya hampir mengendurkan tahanannya jika dirinya tidak memiliki mental yang mencukupi. Melihat bagaimana gadis ini menolak dirinya dengan keras, berusaha untuk tidak membalas tatapannya, sekaligus memasang raut wajah yang jelas menggambarkan begitu tidak terimanya gadis ini terhadap kehadirannya.

Rasanya begitu menyakitkan di dalam benak Sang Bum.

“Park Soo Rin, dengar—”

“Aku tidak mau mendengarmu!” Soo Rin berseru cukup tegas. “Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu, bahwa kau adalah orang jahat! Kau penipu! Dan kau sudah menipuku!!”

Kini, Sang Bum harus merasakan seperti apa rasanya tertohok. Namun ia semakin mengetatkan tahanannya. Tidak peduli dengan penolakan mentah-mentah dari Soo Rin, tidak peduli juga dengan keadaan sekitar yang masih dikelilingi oleh banyak murid yang berlalu-lalang, memerhatikan mereka dengan raut ingin tahu. Karena yang dia pedulikan hanyalah gadis ini. Hanya Park Soo Rin.

“Apa kau pernah dengar bahwa tidak seharusnya kau percaya satu informasi dari satu orang saja?”

Soo Rin menghentikan pemberontakannya. Ia mengerjap tidak mengerti meski masih berusaha untuk tidak menatap lelaki itu. Diam-diam otaknya mencerna maksud dari ucapan Sang Bum yang… memang masuk akal.

Sang Bum sendiri memilih untuk mengendurkan pegangannya setelah memastikan gadis ini sedikit mereda—sedikit memberi kelonggaran untuknya. Ia memang tidak akan mengatakannya sekarang, tapi setidaknya, ia harus bisa meyakinkan gadis ini kembali.

Bahwa dia juga memiliki cerita.

“Mungkin, kau harus mendengarkan cerita yang sama, tetapi dalam sudut pandang yang berbeda, Park Soo Rin.”

Barulah Soo Rin memberanikan diri untuk menatap Sang Bum. Di situlah ia baru menyadari bahwa, Sang Bum bukanlah orang yang seperti di bayangannya. Mata sipit nan menawan itu, memancarkan suatu suasana hati lelaki ini sendiri saat ini. Dan Soo Rin tahu suasana apa itu.

Mendung, murung, sekaligus penuh harap. Tidak ada niat jahat yang mengintip di balik iris hitam yang hampir tampak kosong itu. Tidak ada tipuan yang mengintip di balik ekspresinya yang begitu kacau—yang juga baru Soo Rin sadari. Sebuah ekspresi yang pernah Kim Ki Bum tunjukkan padanya kemarin.

Sang Bum melepas pegangannya dari lengan Soo Rin. Bersyukur bahwa prediksi akan gadis ini tidak akan pergi meninggalkannya memang akurat. Ia mencoba untuk mengulas senyum—sebuah senyum yang menurutnya akan terlihat ramah namun sebenarnya terlihat sangat hambar.

“Ada sesuatu… yang tidak diketahui oleh Kim Ki Bum dan hanya aku yang tahu. Dan itu adalah hal yang sudah menciptakan suatu kesalahpahaman di antara kami, hingga saat ini. Itulah mengapa, aku ingin memberi tahu sesuatu itu padamu.”

Soo Rin mengerutkan keningnya sangat jelas. Ia mengerjap tidak mengerti. Karena… “Kenapa kau ingin memberi tahu sesuatu itu padaku?”

Sang Bum mengulas senyum hambarnya lebih lebar lagi, matanya semakin meredup kala menatap penuh lekat pada wajah manis Soo Rin. Ada debaran aneh yang menyiksa di dalam rongga dadanya dan itu membuatnya ingin melakukan sesuatu. Sesuatu yang bisa dikatakan lancang karena jelas dia tidak memiliki hak untuk melakukannya.

“Karena kau sudah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam lingkaran kami, Park Soo Rin…”

Soo Rin tercenung mendengar jawaban yang tergolong lirih itu. Matanya mengerjap cepat kala ia melihat Sang Bum justru menundukkan kepala. Memutus kontak mata mereka secara sepihak. Lalu mendengar lelaki di hadapannya ini menghela napas cepat namun begitu berat. Seolah menggambarkan bahwa lelaki ini… memang sedang memikul beban yang sangat berat.

“Kau sudah ikut campur dalam urusan kami. Itulah mengapa aku akan memberi tahu hal ini padamu,” Sang Bum kembali menatap Soo Rin. Melakukan jeda sejenak. Diam-diam ia menelan saliva sebelum melanjutkan, “mengenai masa lalu di mana Kim Ki Bum semakin membenciku, dari sudut pandangku sendiri.”

Ya. Soo Rin memang sudah masuk ke dalam ruang lingkup paling kelam milik kedua lelaki itu. Dan ia memang tidak bisa keluar begitu saja dari ruangan tersebut. Justru dia harus semakin mengorek lebih dalam kekelaman itu, mencari jalan keluar dari setiap kenangan buruk yang terus berdatangan, dan seharusnya… mengambil jalan tengah di mana dirinya bisa mengambil kesimpulan yang tepat.

Kesimpulan akan keadaan Kim Ki Bum dan Kim Sang Bum yang sebenarnya, dan yang semestinya.

.

.


Maaf update-nya lamaaaaaa!!! T/\T

sibuk sama urusan di dunia real jadi terbengkalai ini huweeeeeeeehh maafkan sayaa~>< maklum dari menjelang lebaran sampai setelah lebaran aku disibukkan sama urusan ini-itu.. ya begitulah…. udah dapet job edit cerpen sampai akunya kehilangan kata-kata pas mau lanjutin ini ff—karna cerpen2 yg kuedit itu cerpen anak-anak semua jadi gimana gitu efeknya hwhwhw trus ditambah sama urusan halal bihalal, pergi ke sana kemari seharian penuh sampe ga sempet nyentuh laptop… dududuuuhh maafkan saya sekali lagi ><

Sampe ada yang ngimpiin kimkibum yang marah-marahin aku karna dia ga suka sama karakternya di cerita ini dan akunya cuma speechless….itu pertanda apa ya? Apa karna akunya kelamaan update atau itu pertanda aku gaboleh lanjutin ff ini? hahahahahah T^T wahai teman, terima kasih sekali udah mimpikan aku dengan kimkibum #duaagh

Dan….entahlah, aku gatau part ini nge-feel atau ngga.. aku udah mencoba untuk kembali melanjutkannya dengan baik.. maaf cuma dapet segitu;; tapi emang part ini selesainya harus di situ sih heheheh

Yaudah, salam ya dari Ji Min~ akhirnya dia nongol lagi ya di sini.. hayoo siapa yg kemarin nanyain Ji Min say Halo to Ji Miiiin~~~><park_jimin

Oh ya, Selamat Hari Raya Idul Fitri~ Mohon maaf lahir dan batin untuk semua pembaca yang sudah bersedia menyasarkan diri kemari^^ Mohon maafkan kesalahanku baik yang disengaja maupun tidak.. maafkan aku yang belum bisa menyuguhkan cerita terbaik untuk pembaca blog ini.. semoga kita dipertemukan di bulan Ramadhan tahun depan ya ^-^

Yosh! Terima kasih sudah mau mampir yaaa~ ^___^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

24 thoughts on “Two Person – In The Other Side

  1. Atuh laaahhhhh seruuuuu malah kepotong 😢
    Udah lama gak update yahh pas buka fb eehh di tag kakak author .. Maacih kakak 😊

    Mau komen apa yahh aku jadi lupa saking serunya hhe

  2. Cuma bisa komen ditunggu part selanjutnya. Untuk mengetahui gimana sih cerita versi Kim sang bum? Apa lebih menyakitkan dari cerita versi Kim Ki bum!

    Ngomong2 Ki bum sama soo rin udah mulai nunjukin perasaan mereka masing2 tanpa malu2.

  3. sebelumnya maap lahir batin yaa kakk

    wuaahh makin seru aja nihh, kira-kira sang bum mau ceritaain ke soo rin gak yaa

    banyakin part kisu-kisunya dong kak hehehe
    ditunggu selalu kelanjutannya kak, semangatt 😀

  4. oh tidakk lagi seru”nya eh tbc lagi huhu

    Awal baca langsung merasakan kesedihan Sang Bum. ㅠㅠ yang ternyata menyayangi Kibum seperti Saudara tapi krn Kibum udah terlanjur benci jadi tercipta permusuhan. andaikan Kibum mau mendengarkan Sang Bum pasti Kibum mau menerima Sang Bum sebagai sodara.. ㅠㅠ

    Cieee ada yang lagi bahagia Soorin jangan lupa traktirannya ya ㅋㅋㅋ. ingin ketawa pas Jimin heboh sendiri dasarr chim chim kkkk Jungsoo oppa belum tahu kalo Soorin dan Kibum berpacaran. kalo tau bakal marah atau justru restuin ya?? yahh intinya next lah Siska penasaran nihhh hehe

  5. Puas bacanya, tapi blm puas bnran sh kkkkkkk

    akhhh kim kibum kau naek motor..?
    Klw kibum masuk sklah lgi kira” penampilanya berubah gk ea..?

    Ahhh kimbum kasian sekali kau sini biar ku peluk….
    Hae=> song hajin kau cari mati hah..?
    Hajin=>anio oppa, untuk apa mati d cari, nanti juga datang sendiri klw udh tiba waktunya :p#d tampar bibir hae kkkkkk

    kajja lanjut, d tunggu, jangan terlalu lama ya hehe

  6. huweeee… akhirnya updet juga. telah sekian lama aku menunggu lanjutan kisah kim kibum dan park soorin. #plakabaikan (─‿─) kekeke duh pas baca si jimin teriak itu lucu banget kak, ya ampun aku yg baca sampe cengir cengiran sediri. wkekekeeek (*´▽`)ノノ aku merasa udah dapet banget feelnya hohoho ditunggu part selanjutnya. yosh semangat \(^O^)/

  7. Hello Jimin 😀
    Ketika JiMin muncul, aku kehilangan Jung Soo…
    Tapi kalo ada Jung Soo rasanya menegangkan…

    Aaaa…baper baper >.<
    Mau juga dibonceng Ki Bum pake moge.. lol

    KiSoo momentnya…nggak nggak kuat *kumat

    Entahlah kenapa saat BumSoo moment aku sedih ya, u.u

    Next part malmingkah Eonni? *ngarep
    Aku ngerasa kalo ff ini update seringnya malming, hihi…

    See you next part Eonni 😀

  8. sekali lg mkasih dah di tag 🙂

    prasaan q cmpr aduk bca part ni…
    di awal dibwt galau ma sang bum,tp di prtengahan smp akhr dibwt cengar cengir g karuan ma kisoo couple 😉
    bnr2 dech feel ny WOW bgt 🙂

    bgian yg mnyebal kan tu,setiap kali da yg sru ato da hal pnting yg mw diungkpkan selalu selesai ato Tbc…
    kya ny ni hobby author ny dech bkin org pnasaran 😛

    pkok ny ttp 1 kta KEREN 😀

    next part ny lbh cpt ya 🙂
    keep writing n fighting

  9. Di daerahku udh hampir jam 2 pagi wita dan selesai bca ini berhasl bikin kantuk ilang ga berenti senyum gaje gegara kisukisu kopel hihihi aduh2 kim kibum udh jatuh pd pesona menggemaskan seorang park soo rin sampe harus nahan diri untuk tdk berbuat sesuatu ketika mrk sdg berduaan wkwk dan untuk kim sang bum, ikut simpati ke dia. Kasian gada orng yg peduli. Berharap nanti soorin bsa jadi perantara spy kibum dan sangbum bisa berhubungan baik layaknya sodara. Dtunggu lanjutannya^^

  10. KAK!
    Setelah sekian lama menunggu…
    Akhir-nya menetas juga ini lanjutan fanfict.

    Park Soo Rin, turut bahagia ya…
    Udah resmi aja 😀
    Hoho, status sudah ganti ya. Kekasih Kim Ki Bum. Sungguh manis ^^
    Belum lagi Ki Bum yang anter dia ke sekolah, bikin iri se-jagat raya. Pake berubah segala lagi fashionnya >3<. Aku berdoa demi kelangsungan hubungan kalian, haha.
    Dan juga, dengarkan pendapat dari pihak yang satu lagi, eoh ? Dia baik kok, udah jinak xD

    Kim Ki Bum, entahlah ga tau mau komentar apa mengenai 'anak' ini. Terlalu 'perfect'. Jangan kau sakiti Soo Rin, okey! Nanti My Angel marah, haha.
    Dan… Berdamailah dengan saudaramu/waks/

    Chim-chim. You're comeback xD
    Jaga rahasia kakakmu, eoh?
    Dan hiduplah bahagia, haha –''

    Kim Bum, sabar ya bang.
    Semua indah pada waktunya :p

    Kak Siska, Kenapa waktu Kim Bum mau ngomong kata katanya ilang ya T_T
    Bantu aku untuaj menemukannya segera, kak π_π
    Keep Writing, kakak Cantik xD

  11. hallu eonnie^^sebelum nya makasii bgt karna udh di tag 😀 dan maaf baru komen karna baru sempet baca jg xD

    ngga nyangka ternyata dari sisi sang bum jg punya cerita masa lalu yg kelam.Salut sm sang bum yg masih tetep bertahan walaupun dengan caranya sendiri dan ngga pernah dapet respon positif yg berarti dari ki bum.Untuk kisu couple eonniee kenapamereka disini lucuu dan cute sekaliiii!! xD bikin baper tau lol dan selamat buat penerimaan ki bum atas soo rin!aku turut berbahagia dan senyum2 sendiri baca nya xD selamat bertemu di part selanjutnya eonnie!! salam kisi kisu couple xD

    oiya minal aidin wal faidzin jg eon!^^

  12. Ia min minal aidzin wal faidzin juga …

    Huuaaa cuma ff kisoo couple yg bisa buat aku ngefeel banget, ngerasa jadi soo rin …

  13. Ternyata Sang Bum paling miris dan menyedihkan hidupnya T.T kasian banget dibenci sama Ki Bum bahkan disiksa waktu adu jotos T.T , tuh kan pasti Ki Bum salah paham sama Sang Bum dimasa lalu , Soo Rin terlalu polos jadi omongannya keterlaluan sampe menohok hati Sang Bum ;( , omaygad Ki Bum naek Moge pasti kerennya bikin sesek nafas cewek cewek ^^

  14. Sepertinya sangbum juga menyukai soorin. Setelah status hubungan kibum dan soorin semakin jelas, semakin membuat iri dengan perlakuan kibum terhadap soorin. Sebenarnya ada benarnya ucapan sangbum, bahwa jika ingin mengambill kesimpulan dari suatu keadaan, kita harus mendengarkan cerita dari kedua belah pihak. Lalu bagaimana cerita versi sangbum?

  15. Seperti ikut merasakan kesedihannya Kim Sang Bum, karena kesalahpahaman dia harus dibenci saudaranya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s