Posted in Category Fiction, Fluff, G, Vignette

Morning Candy

pkkbu

Genre :: Fluff

Rated :: G

Length :: Vignette

||KiSoo||

Inspired by… abis liat orang push up trus inget foto kimkibum yang lagi push up juga di drama ILI (?) jadi begini lah.__. sorry for this (maybe) cheesy story—again.. hwhwhw

Happy reading!

ㅡㅡ

SOORIN keluar dari kamarnya. Dengan masih mengenakan piyama panjang bermodelkan dress selutut, serta dengan mengucek sebelah matanya beberapa kali, bibir yang mengerucut lucu serta sepasang pipi merona alaminya yang tampak membengkak. Tampak tengah mencari-cari seperti orang kehilangan arah. Sepasang matanya yang masih setengah terbuka itu berusaha menelusuri tiap sudut apartemennya.

Ini masih sangat pagi untuk level hari libur. Dan Soo Rin sudah terbangun dari lelapnya karena ia tidak mendapati siapa pun di sebelahnya di atas tempat tidur. Orang yang selalu menemaninya tidur. Hingga ia rela bangun dan beranjak dari tempat tidur demi mencari orang itu.

Hingga dirinya sampai di ruang tengah, barulah langkahnya terhenti, mendapati orang yang dicarinya ternyata tengah mengisi ruang santai milik mereka itu. Melakukan aktivitas pagi yang—mungkin—hampir tidak pernah dilakukannya mengingat jadwal sibuknya selama ini. Dan, ya, dia tampak tengah memanfaatkan waktu akhir pekan ini dengan melakukan kegiatan sehat itu.

Soo Rin semakin mengerucutkan bibirnya. Dengan mata yang masih setengah terbuka, ia melangkah mendekati pria itu. Menyeret kakinya yang beralaskan sandal tidur berwarna pink itu dengan malas namun pasti. Hingga begitu dirinya sampai di belakang pria itu, ia menjatuhkan tubuhnya—hampir begitu saja.

.

.

Ki Bum tengah melakukan olahraga pagi di ruang tengah. Bermodalkan pakaian yang masih dikenakan semalaman, namun ia sudah menanggalkan atasannya hingga hanya menampakkan kaus singlet yang melekat di tubuh bagian atasnya. Ia merasa bahwa sudah lama sekali dirinya tidak melakukan kebugaran tubuh mengingat begitu padatnya jadwal pekerjaannya menjadi seorang dokter. Itulah mengapa ia sengaja bangun lebih pagi dan melakukan aktivitas menyehatkan tubuh sebagai awal kegiatan di akhir pekan ini.

Bukan olahraga yang berat. Hanya sekedar melakukan pemanasan sebelum melakukan beberapa gerakan stretching yang berlanjut melakukan sit up kemudian push up. Empat puluh menit sudah ia habiskan untuk melakukan olahraga ringan itu. Dan, ya, dia sudah cukup berkeringat kala dirinya masih melakukan push up.

Hingga dirinya harus dikejutkan dengan sesuatu yang jatuh menimpa punggungnya, merasakan sesuatu mengalung di lehernya yang sudah berkeringat, dan dia hampir hilang keseimbangan jika kedua tangannya yang hendak ditekuk tidak secara sigap kembali ditegakkan meski posisi kakinya sudah berubah menekuk bertumpu di atas lantai.

“Astaga, kau mengejutkanku.” Ki Bum bersuara dengan napas beratnya. Ia sedikit menelengkan kepala demi melihat sosok yang sudah berani tertidur tengkurap di atas punggungnya seperti tengah digendong olehnya. Mendengus cepat begitu mendapati wajah gadis itu bersandar di sebelah bahunya, serta memejamkan mata seolah sudah merasa nyaman menimpa dirinya.

“Sedang apa?” gadis itu akhirnya ikut bersuara dengan suara seraknya. Tanpa memedulikan raut protes yang kini tengah menatapnya karena jelas dia sendiri sedang tidak melihatnya.

“Meregangkan tubuh,” jawab Ki Bum singkat, namun kemudian ia berkata, “Soo Rin-ah, bangunlah. Aku sedang berkeringat.”

Soo Rin menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Kau bisa melanjutkan kegiatan meregangkan tubuhmu…”

Ki Bum hampir tertawa karena merasa geli dengan jawaban ringan dan malas itu. “Aku justru tidak bisa bergerak karena ada dirimu di atasku.”

“Kau bisa mencoba melakukan push up dengan aku berada di atasmu.”

Mendengus berat, Ki Bum membalas, “Mengujiku, hm?

Eung… mungkin…”

Pada kenyataannya, Soo Rin sudah terlanjur nyaman berada di atas punggung pria ini seraya memeluk leher pria ini. Lupakan soal Kim Ki Bum yang sudah berkeringat akibat dari olahraga paginya ini, Soo Rin tidak memedulikan itu. Meski kakinya yang menggantung harus ia tekuk demi merasa nyaman, dia justru menikmatinya.

Ki Bum hanya menggelengkan kepala, mengulas senyum miring sejenak sebelum membenarkan posisinya. Memposisikan kedua tangannya kembali melebar, meluruskan serta merapatkan kedua kakinya—membiarkan jari-jari kakinya menjadi tumpuannya. Menarik napas sebelum membuangnya teratur seraya menekuk bagian sikut tangannya hingga kedua bahunya bergerak turun secara perlahan, menciptakan sudut 90° pada kedua tangannya. Serta tubuh kekarnya menggantung membentuk garis lurus sejajar di atas datarnya lantai.

Soo Rin yang merasakan gerakan itu kini membuka mata. Kemudian mengerjap terperangah begitu pria ini kembali mengangkat tubuhnya yang otomatis juga mengangkat tubuh Soo Rin dengan perlahan. Mendengar erangan tertahan dari mulut pria ini kala mengangkat tubuh mereka, menandakan bahwa pria ini mengerahkan banyak tenaga untuk dapat melakukannya.

Ia pikir bahwa Kim Ki Bum hanya melakukannya sekali dan tidak kuasa melanjutkannya lagi. Namun ternyata, pria ini melakukannya lagi. Meski perlahan-lahan karena dipastikan beban yang bertambah akibat berat tubuhnya, Soo Rin sudah dibuat takjub melihat sekaligus merasakan sendiri bahwa pria ini bisa melakukannya lebih dari tiga kali.

“Bagaimana bisa—” Soo Rin menghentikan ucapannya, mengerjap beberapa kali yang tanpa ia sadari ternyata pertunjukan barusan sudah membuat kedua matanya terbuka sempurna.

“Menurutmu?” Ki Bum membalas dengan suara stertahan sekaligus terdengar berat. Deru napasnya juga lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

“Tubuhku berat…”

“Kau baru menyadarinya?”

Ish…” Soo Rin mengerucutkan bibir, merespon ejekan teramat halus dari Ki Bum. Kemudian ia mendengar pria ini terkekeh pelan sebelum bergerak kembali ke bawah, dan kini tubuh kekar yang ia timpa ini menjatuhkan diri hingga tengkurap di atas lantai. Menghela napas panjang sekaligus mengaturnya di sana. Dan, ya, Soo Rin menyadarinya. “Lelah?”

Eum. Terima kasih sudah membuatku berolahraga lebih cepat.”

“Apa alasan itu bisa disebut dengan pujian?”

Ki Bum tertawa pelan mendengar suara merdu itu terselip nada menggerutu. Ia akhirnya merasakan tubuh ramping itu lepas dari punggungnya hingga dirinya mampu berguling dan membiarkannya telentang di atas lantai. Ki Bum cukup bersyukur karena ia segera mendapati gadisnya itu duduk bersimpuh di sebelahnya, menatap dirinya dengan wajah masih setengah mengantuk.

“Biar kutebak, kau terbangun karena aku tidak ada di sampingmu.”

Soo Rin merengut lucu. Wajah meronanya semakin merona mendengar tebakan tepat sasaran dari Kim Ki Bum. Ia mengangguk sebagai jawaban jujurnya. Kemudian merasakan tubuhnya mulai berdesir-desir begitu melihat pria itu menerbitkan senyum manisnya.

Well, bagaimana Soo Rin tidak terpesona dengan pemandangan itu? Melihat bagaimana Kim Ki Bum tersenyum dengan kondisi berkeringat seperti itu, dengan rambut hitam pekatnya yang tampak lepek menjuntai menutupi dahinya bagai pagar bersela. Santapan pagi yang cukup mendebarkan bagi Soo Rin sendiri.

“Aku akan mengambilkan minum untukmu…” Soo Rin berkilah dari rasa gugupnya. Ia hendak bangkit dari duduknya kala pria itu justru membalas…

“Tidak perlu.”

Ne?

“Kemari.” Ki Bum menitah dengan halus. Mengulurkan sebelah tangannya, mengundang gadisnya untuk menyambutnya.

Soo Rin membalas uluran tangan itu dengan senang hati. Beranjak dari duduknya kala merasakan tangan itu menariknya, mengisyaratkannya dengan halus untuk bergerak mendekat. Dan ia cukup mengerti.

“Kuharap kau tidak protes mengingat kondisiku saat ini,” gumam Ki Bum seraya menyentak tarikannya hati-hati, namun masih membuat gadis itu tersentak hingga terjatuh meski dengan perlahan karena Ki Bum sekaligus menuntunnya.

Soo Rin kembali menimpa tubuh Ki Bum. Mata jernihnya mengerjap beberapa kali menandakan dirinya mulai gugup, namun juga merasa senang karena memang ini yang dia mau.

Ia menggeleng pelan sebagai jawaban dari ucapan Ki Bum barusan, kemudian ikut mengulas senyum manis untuk pria di hadapannya—tidak, di bawahnya kini. Melipat kedua tangannya di atas dada bidang pria ini, meletakkan dagunya di sana, menatap lekat prianya yang masih mengatur napas meski dengan raut wajah yang meneduhkan. Hingga dibuat berdebar-debar begitu merasakan kedua tangan besar itu memeluk dan saling bertaut di pinggangnya.

“Kau harus minum.”

“Nanti.”

“Kau tidak haus?”

“Tidak setelah memelukmu seperti ini.”

Soo Rin memberengut malu. “Kenapa kau selalu mengutarakan alasan itu setiap tidak ingin melakukan sesuatu?”

“Karena pada kenyataannya aku tidak membutuhkan apapun setiap aku berhasil mendapatkanmu seperti ini.”

Bolehkah Soo Rin merasa tersanjung? Dia sudah terlanjur merasakan wajahnya memanas hanya karena kata-kata sederhana yang keluar dari mulut Kim Ki Bum namun telak membuat sekujur tubuhnya berdesir tak menentu. Hingga akhirnya ia terpaksa menyembunyikan wajah memerahnya di atas lipatan tangan.

“Kau bisa melanjutkan tidurmu,” ucap Ki Bum seraya mengulum senyum menyadari reaksi menggemaskan itu. Menjangkau puncak kepala gadisnya lalu mendaratkan kecupan hangat di sana.

“Benarkah?”

Eum.”

“Di sini?”

“Jika kau mau.”

“Jika aku tidak mau?”

“Kembalilah ke kamar.”

Soo Rin mengerutkan bibirnya. “Kalau begitu tolong lepaskan aku.”

Menyeringai, Ki Bum justru mengeratkan pelukannya. “Sayangnya aku tidak mau.”

Menyebalkan, gerutu Soo Rin dalam hati. Jika tidak mau, seharusnya Kim Ki Bum tidak memberikan usul. Benar-benar, pria ini mempermainkannya.

Tapi dia menyukainya.

Akhirnya Soo Rin merebahkan kepala, menyamankan diri di sana, lalu memejamkan mata yang sebenarnya masih terasa berat. Diam-diam ia tersenyum merasakan wajahnya kembali menghangat mengingat perilaku pria ini sebelumnya, lalu berucap, “Selamat tidur.”

Ki Bum hampir tergelak mendengarnya. Astaga, jadi gadisnya ini benar-benar akan melanjutkan tidurnya di sini?

.

.

FIN


udah, gitu aja..

gajelas ya? Yamaklum ini cuma semacam cerita lepas aja heheheh sebelumnya aku juga bikin Morning Candy (sebutan buat sweet morning gitu.__. #ngarangsendiri) di fb. Karena itu singkat banget jadi ga kuposting di sini heheheh xD

yaudah.. maaf ya ngambang ;__; namanya juga imajinasi absurd ala saya #dessh

terima kasih sudah mau mampir!! ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

19 thoughts on “Morning Candy

  1. so sweet 🙂

    cm bsa senyum2 g jelas 😀

    10jmpol bwt author #pinjamJempolTetangga ha3x

    dtnggu yg slanjt ny 😉

  2. sweet morning yang amat sangat sweet hehe .. Kibum kuat banget ya kerennn deh pokoknya. Ga kebayang Kibum olahraga dengan pakai kaos singlet udah itu berkeringat krn olahraga pasti sexy banget *duagggg hahahaha

    Soorin benar” tukang tidur ya .. ya udah selamat tidur Soorin ^^

  3. wahh soo rin, kamu ditipu sama kim bum tuhh. kim bum gak mau minum karena emang dia puasa wkwkwk

    ahh, kisukisu emang keren dehhh
    semangat lanjutinnya kak, jangan lupa two personnya yaa wkwkwk

  4. Haaii haii..new reader ini here
    yeaahh mendapatkan ff dengan cash kim kibum..make me really missing him so much :”)

    Baru 1 cerita ini yg aku baca..selanjutnya akan mengubek2 blog ini..hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s