Posted in Category Fiction, Fiction, Fluff, G, One Shot

[SOORIN] I Miss U

SoorinGenre :: Fluff

Rated :: G

Length :: One Shot

Recommended Song :: Super Junior – Only U

||Soo Rin’Side||

prev – [Ki Bum’Side]

Happy reading! ^-^

ㅡㅡ

My heart only has you, your heart only has me…

ㅡㅡ

“SATU bulan?”

Ki Bum mengangguk tanpa menghentikan kegiatannya berkemas-kemas. Namun sudut matanya masih menangkap bagaimana ekspresi gadis yang berdiri di sampingnya itu, melongo dengan mulut menganga serta mata yang melebar.

Soo Rin—gadis itu terperangah mendengar pengumuman dari Ki Bum. Bahwa pria itu mendapatkan amanat dari rumah sakit untuk bertugas di Mokpo Hanguk Hospital—salah satu rumah sakit yang terletak di daerah Mokpo. Selama satu bulan ke depan.

Diulang, satu bulan, di Mokpo.

“Kenapa selama itu?” tanya Soo Rin, percayalah bahwa ada nada tidak setuju di balik ucapannya. Ditambah keningnya berkerut menandakan hal yang sama. Sekaligus wajahnya berangsur merengut masam.

Ki Bum menyelesaikan acara berkemas-kemasnya. Ia memutar tubuh menghadap Soo Rin, menatap gadis itu dengan teduh, kemudian mengedikkan bahu. “Profesor Jung yang menentukan selama itu,” jawabnya pelan.

“Apa kau begitu dibutuhkan? Tidak bisa digantikan kepada dokter lain? Misalnya Dokter Tan?”

Ki Bum tersenyum. Sebelah tangannya terulur mengusap sekaligus menepuk pelan puncak kepala Soo Rin. “Ini memang sudah kesempatanku untuk mendapatkannya. Kurasa itu masih termasuk sebentar dibandingkan mendapatkan waktu tugas satu tahun lamanya.”

“Tapi…” Soo Rin memajukan bibir bawahnya. Sejenak dirinya membenarkan ucapan Ki Bum di dalam hati. Satu bulan termasuk sangat singkat untuk ukuran pindah tugas seorang dokter. Entah apa yang sedang ada di dalam otak seorang Profesor bernama Jung Yun Ho itu sampai-sampai menunjuk Kim Ki Bum untuk turun tangan ke Mokpo Hanguk Hospital yang sedang membutuhkan tenaga Dokter Bedah di sana.

Ugh… bagaimana bisa sebuah rumah sakit kekurangan tenaga kerja seperti itu sampai harus memerintah dokter dari rumah sakit lain—yang letaknya sangat jauh—untuk datang ke sana? Pasti itu hanyalah akal-akalan rumah sakit yang ingin menguji apakah Kim Ki Bum mampu bekerja di pelosok alias ujung Korea Selatan itu, bukan? Menyebalkan!

“Aku akan segera kembali. Kau boleh menghitungnya di sini.” Ki Bum menyerahkan ponsel pintar milik Soo Rin. Entah sejak kapan Ki Bum sudah mendapatkan ponselnya yang sempat tergeletak di atas nakas. Ia bahkan sudah membuka fitur kalender di layar ponsel Soo Rin.

Ada tanda merah yang dibubuhi oleh Ki Bum tepat di tanggal 2 di bulan ini. Pria itu berkata, “Terhitung dari hari ini aku mulai pergi, dan aku akan kembali tepat di penghujung bulan ini.”

Soo Rin menerima ponselnya dengan malas. Wajah cantiknya semakin tampak cemberut melihat deretan angka yang berurutan itu. Yang berakhir di angka 31. Pria itu sudah mencoret hari pertama yang sebenarnya akan jatuh di esok hari. Itu artinya masih ada 29 angka lagi yang mengantri menunggu untuk dicoret oleh Soo Rin sendiri.

Gadis itu kembali mendengakkan kepala begitu mendengar pergerakan Ki Bum yang mulai mengangkat tas besarnya. Oh, perlu dijelaskan bahwa Ki Bum mendapatkan perintah yang sangat mendadak sehingga pria itu harus berangkat malam ini juga untuk mulai bertugas di esok hari. Bahkan pria itu harus pulang lebih cepat dari jadwal shift malamnya untuk beberes. Untungnya saja, Profesor Jung Yun Ho itu sudah berbaik hati dengan memesankan tiket pesawat untuk malam ini serta mem-booking satu kamar hotel untuknya selama satu bulan ke depan. Yeah, bukankah itu berarti Profesor itu sudah merencanakan ingin menunjuk Kim Ki Bum sebagai pilihannya itu?

“Kau akan pergi sekarang?”

Ki Bum memeriksa arlojinya, lalu mengangguk sebelum kembali menatap Soo Rin. “Eum. Jadwal penerbanganku satu setengah jam lagi. Sebentar lagi taksi pesananku juga akan sampai.”

Soo Rin akhirnya mengikuti Ki Bum yang sudah keluar dari kamar, melangkah menuju pintu utama, mengganti sandal rumahnya menjadi sepatu bepergiannya, lalu kembali berbalik menghadap Soo Rin yang sudah berdiri mematung.

Menghela napas sejenak, Ki Bum mengulas senyum hangatnya seraya meletakkan tas besarnya ke lantai. Meraih wajah cantik Soo Rin, menangkupnya, lalu memberikan ciuman lembut dan dalam di kening berponi Soo Rin. Sebagai bentuk pamitan sebelum dirinya pergi meninggalkan gadis ini dalam waktu cukup lama.

“Jangan berkeliaran ke tempat lain jika tidak bersama Henry maupun Sae Hee selama aku pergi. Mengerti?” Ki Bum melihat kedua pipi yang ditangkupnya itu mulai menunjukkan rona menggemaskan. Membuatnya tidak tahan untuk mengelusnya dengan kedua ibu jarinya. Apalagi sang empu langsung mengangguk patuh setelah mendengar titahan halusnya. Semakin membuatnya tidak tahan untuk memberikan jejak sekali lagi…

Tidak, melainkan tiga kali lagi. Karena Ki Bum mendaratkan satu kecupan ringan di hidung bangir Soo Rin, kemudian turun memberikan 2 kecupan ringan di bibir manis Soo Rin. Yang serta-merta membuat Soo Rin memejamkan mata sekaligus merasakan letupan-letupan menggelitik di dalam benaknya.

“Aku pergi,” pamit Ki Bum pada akhirnya. Meski terselip nada tidak rela karena akan meninggalkan gadisnya cukup lama, tapi ia harus kembali menenteng tas besarnya lalu berbalik. Membuka pintu utama apartemen mereka, dan menghilang di baliknya.

Menyisakan Soo Rin yang masih belum beranjak dari tempatnya dengan wajah yang merona. Juga dengan raut wajah yang meredup. Untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya ia tersadar dan segera menggelengkan kepala sekaligus menepuk kedua pipinya.

“Hanya satu bulan. Kim Ki Bum hanya pergi selama satu bulan,” gumamnya seraya mengangguk-angguk. “Benar. Satu bulan itu tidak masalah. Kim Ki Bum sudah pernah meninggalkanku lebih lama dari itu… tiga tahun! Jadi, satu bulan tidak masalah!” lanjutnya. Terdengar sekali sedang menyugestikan diri.

Soo Rin berbalik, melangkah kembali ke dalam kamar seraya terus menyugestikan diri di dalam hati. Mulut kecilnya tampak bergerak merapalkan sugestinya dengan suara yang lirih.

“Benar… hanya satu bulan. Itu tidak masalah, Soo Rin-ah…”

****

Keesokan harinya…

“Astaga, Park Soo Rin! Ada apa denganmu?!”

Soo Rin menoleh, memasang raut datar begitu melihat Kim Jong Woon sudah berdiri di dekatnya, menatap horor dirinya dengan wajah yang tampak seperti ingin ditampar oleh siapa saja. Beruntung Soo Rin sedang tidak memiliki minat untuk melakukan hal-hal yang berarti. Hanya duduk termenung di salah satu meja di kafe milik pria berparas-tak-pernah-tua itu dengan kondisi yang—bisa dikatakan cukup memprihatinkan.

Jong Woon akhirnya memilih untuk duduk di hadapan Soo Rin. Menatap tidak percaya akan sosok dengan kantung mata hitam bak panda dengan wajah pucat nan lesu. Kening Jong Woon harus merengut dengan sangat jelas melihat gadis di hadapannya saat ini.

“Kenapa kau terlihat… menyedihkan seperti ini, Park Soo Rin?” tanya Jong Woon dengan hati-hati. Beberapa detik kemudian Jong Woon langsung mendapatkan jawabannya. Ia kemudian mendesah heran. “Aah… jangan katakan bahwa kau seperti ini karena priamu itu,” tebaknya.

Tepat sasaran.

Dug!

Jong Woon hampir memekik kaget melihat gadis di hadapannya menyiksa diri. Menjatuhkan kepala ke atas meja dengan cukup keras hingga menimbulkan bunyi benturan yang nyaring. Jong Woon yakin sekali bahwa itu terasa sangat sakit, tapi entah kenapa dia tidak mendengar suara rintihan dari gadis di hadapannya ini.

“Rasanya aku tidak bisa…”

“Apa?” Jong Woon mengorek telinganya sejenak. Berharap dia sedang tidak salah dengar bahwa Soo Rin baru saja berbicara.

Kemudian Jong Woon dibuat terkejut kala Soo Rin kembali menegakkan kepala. Memperlihatkan raut wajahnya yang semakin terlihat menyedihkan. Bahkan kedua mata beriris kecoklatan itu sudah mulai berair. Menandakan bahwa Soo Rin akan menangis sebentar lagi.

“Aku tidak bisa ditinggal sendirian oleh Kim Ki Bum… hiks…” habis sudah pertahanan Soo Rin. Pada akhirnya dia menangis juga.

Jong Woon harus kelabakan melihat gadis di hadapannya mulai menangis. Mulai salah tingkah mengetahui beberapa pasang mata di kafe ini mulai melirik ke meja mereka. Merasa ingin tahu dengan memicingkan mata masing-masing.  Tanpa sadar Jong Woon menggaruk kepalanya dengan gusar. Ugh, dia tidak pernah bermaksud ingin membuat gadis orang lain menangis karenanya! Sungguh!

“Astaga, Hyung! Apa yang sudah Hyung lakukan pada noona-ku?!”

Jong Woon menoleh cepat, dan semakin salah tingkah melihat adik sepupu Soo Rin sudah datang dengan berkacak pinggang serta memasang raut wajah tidak suka yang jelas ditujukan padanya. “Aishi, aku tidak melakukan apapun! Aku justru sedang bertanya soal kondisinya hari ini. Lihat, dia terlihat tidak baik!”

Henry Lau—pria berparas tampan nan imut itu segera duduk di sebelah kakak sepupunya yang sudah menangis seperti anak kecil. Ia segera merengkuh wajah  itu demi menyeka air mata yang sudah mengalir di pipi pucat sang kakak. “Aih, Noona, ini bahkan masih hari pertama Ki Bum Hyung pergi. Tapi Noona sudah tampak menyedihkan seperti ini?” keluhnya seraya berdecak prihatin.

Ya, memangnya Ki Bum pergi ke mana, eo?” Jong Woon mulai penasaran. Well, sebenarnya ia hanya asal menebak tadi. Tapi tidak disangka bahwa Soo Rin seperti sekarang ini karena Ki Bum. Dan, ya, Jong Woon tidak tahu-menahu apa yang sedang terjadi pada pria gadis itu.

“Mokpo. Ki Bum Hyung dipindah-tugaskan ke rumah sakit di Mokpo selama satu bulan,” jelas Henry. Singkat, namun sangat dimengerti Jong Woon.

“Mokpo? Satu bulan?!” Jong Woon terperangah, melotot kaget. “Eii! Bagaimana bisa dia pergi begitu saja?! Ough, rasanya ini mendadak sekali,” dumalnya kemudian.

“Memang. Bahkan Ki Bum Hyung baru dikabari kemarin dan diperintahkan untuk berangkat tadi malam juga.” Henry ikut mendumal. Ia kemudian menatap penuh Soo Rin. “Kasihan sekali Noona…”

Jong Woon menyandarkan tubuhnya pada badan kursi. Menghela napas panjang, lalu menggeleng heran. “Jadi, kau menjadi seperti ini karena ditinggal Ki Bum?”

Soo Rin mengangguk polos. Terlampau jujur. Sampai-sampai Jong Woon hampir tertawa jika Henry tidak segera memelototinya. Dan memilih untuk berdeham menetralkan rasa gelinya.

“Baiklah, setidaknya masih ada kami yang akan menemanimu. Tenang saja, Park Soo Rin, kau tidak akan kesepian. Nah, bagaimana jika aku buatkan Choco Frappuccino kesukaanmu, eo?” tawar Jong Woon berbaik hati.

Dan, ya, tawaran Jong Woon disambut dengan baik oleh Soo Rin. Ia mengangguk setuju meski tampak pelan.

****

Soo Rin menjatuhkan tubuhnya tepat di atas ranjang. Melepas lelah sekaligus melepas rasa penat yang sudah menyarang di dalam otaknya seharian ini. Memejamkan matanya yang terasa perih dan berat mengingat semalam dirinya hampir tidak tertidur dan memilih untuk melamun menatap langit-langit kamar sampai pukul empat pagi.

Ugh…” Soo Rin memutar tubuh telentangnya menjadi tengkurap. Ia melenguh sedih, entah sudah yang keberapa kali. Merasa dirinya begitu hampa di dalam apartemennya sendiri.

Jong Woon memang mengatakan bahwa dia tidak akan kesepian, tapi itu hanya berlaku di luar, bukan di dalam apartemennya. Sekalipun Soo Rin sudah dihibur ke sana kemari oleh Jong Woon juga Henry, tetap saja dirinya akan kembali merasa kosong di apartemennya.

Soo Rin tidak menyangka bahwa dia akan kembali merasakan namanya ditinggal oleh Kim Ki Bum seperti beberapa tahun lalu. Meski tidak selama dulu—yaitu tiga tahun lamanya, tetap saja Soo Rin kembali merasakan namanya Kim Ki Bum tidak berada di sampingnya. Apalagi mengingat status mereka yang sudah sangat terikat dibandingkan status pertunangan di kala itu. Jelas Soo Rin merasa bahwa ketergantungannya akan Kim Ki Bum lebih besar dibandingkan dulu. Mengingat mereka yang sudah tinggal bersama, tidur bersama di atas satu ranjang, kehadiran satu sama lain pasti sangat berpengaruh dan akan terasa sekali kehilangannya jika ditinggal oleh pasangan.

Lihat saja Soo Rin, sudah tidak tidur dengan teratur, tidak makan teratur, sampai-sampai dia menangis karena Kim Ki Bum sudah pergi meninggalkannya selama satu hari. Dan masih ada waktu 29 hari lagi sebelum Kim Ki Bum kembali!

Soo Rin mengeluarkan ponsel pintarnya. Wajah cantiknya merengut masam melihat kondisi ponselnya yang terasa sepi. Kim Ki Bum belum menghubunginya. Terakhir kali pria itu hanya memberi pesan singkat melalui situs chat bahwa pria itu sudah sampai di Mokpo, menyuruhnya untuk segera beristirahat, sekaligus mengucapkan selamat malam. Setelah itu, sama sekali tidak ada tanda-tanda akan kembali menghubungi Soo Rin.

“Apa kau langsung menjadi dokter yang super sibuk di sana? Sampai-sampai sekedar memberi pesan padaku pun tidak,” gerutu Soo Rin dengan bibir bawah yang maju. Cemberut parah.

Melempar ponselnya hingga ke dekat bantal, Soo Rin kemudian bangkit dari tidurnya dengan malas. Berniat ingin beranjak ke kamar mandi demi membersihkan diri kala ia mendengar ponselnya bergetar hingga menghentikan gerak-geriknya. Lambat sekali Soo Rin mencerna karena butuh beberapa saat ia hanya menatap ponselnya yang terus menyala-nyala. Hingga akhirnya ia meraih benda persegi tipis berwarna putih itu setelah menghela napas lelah.

Namun rasa lelahnya menguap begitu saja dan berganti dengan antusias yang bercampur dengan haru begitu melihat layar ponselnya yang menerterakan nama Kim Ki Bum di sana. Ya, benar, pria yang sangat ditunggu-tunggu olehnya itu akhirnya meneleponnya!

Soo Rin segera menempelkan ponselnya ke depan telinga. Well, ponsel pintarnya sudah mampu membaca gerak sang pengguna hingga begitu bertemu dengan daun telinga, ponsel pintarnya akan berinteraksi dengan bagian auditory canal yang berfungsi sebagai jalur lewat gelombang suara hingga mampu menggetarkan gendang telinga—karena getaran pada ponsel tersebut—yang direspon baik oleh sensor ponselnya, dan secara otomatis ponsel tersebut akan menjawab panggilan yang masuk.

Begitu mendengar pria itu menyapa lebih dulu, seketika mata Soo Rin kembali memanas seraya merengek… “Kim Ki Bum… hiks…”

Terdengar suara dengusan halus di seberang sana. Soo Rin segera merengut masam mengetahui pria itu pasti sedang menertawakannya.

“Ada apa denganmu, hm?

“Kau bertanya ada apa? Kau pikir aku seperti ini karena siapa, huh?!” sewot Soo Rin seraya menyusutkan hidungnya. Ugh, padahal dia belum menangis tetapi sudah menjadi bocah ingusan seperti ini.

Suara berat Ki Bum mengalun kala tertawa kecil. Cukup membuat Soo Rin merasa berdesir meski dibarengi dengan rasa tidak terima karena pria itu semakin menertawakannya. Memangnya salah jika Soo Rin seperti sekarang? Ini ‘kan karena dokter menyebalkan yang sudah berani meninggalkannya itu!

“Merindukanku?”

Tepat sasaran, Soo Rin segera terdiam dan gugup. Ia menundukkan kepala, sebelah tangannya bergerak memilin ujung pakaiannya, lalu dengan malu-malu menjawab, “Eung.

“Aku juga merindukanmu.”

Dan, ya, Soo Rin semakin berdesir mendengar pengakuan halus nan lugas itu. Menyimpan makna yang sukses tersampaikan padanya sehingga wajah cantiknya ikut bereaksi dengan menampakkan rona menggemaskan di kedua pipinya.

“Bagaimana kabarmu hari ini?”

“Tidak baik…”

Soo Rin mendengar Ki Bum berdecak. “Jangan katakan bahwa kau tidak makan hari ini.”

“Sayangnya itu benar…” gerutu Soo Rin yang masih ditangkap oleh Ki Bum.

“Makan, Soo Rin-ah. Sekarang.”

Soo Rin mengerucutkan bibir mendengar titahan pria itu. Halus namun tak terbantahkan. Ia pun dengan malas bangkit dari tempat tidurnya. Melangkah keluar kamar menuju dapur. Namun ia berhenti di ambang pintu kamar.

“Kau akan menemaniku makan?”

Eo.

Soo Rin segera berlari ke dapur. Kemalasannya berganti menjadi bentuk antusias setelah mendengar konfirmasi dari pria itu di seberang sana. Perlu diulang, Kim Ki Bum akan menemaninya makan! Bukankah itu berarti dia bisa sepuasnya berbicara dengan pria itu selama dirinya makan? Oh, mungkin dia akan memperlambat kegiatan makannya nanti supaya dia bisa mendengar suara berat itu lebih lama lagi.

“Kau sudah tidak super sibuk lagi?” Soo Rin teringat sesuatu. Dan, dia menekankan kata ‘super’ demi menyindir pria yang baru menghubunginya di malam hari ini.

Tentunya, Ki Bum mengerti karena Soo Rin mendengar pria itu kembali terkekeh pelan. “Maafkan aku. Sebagai gantinya aku akan menemanimu sampai kau tertidur.”

Jinjja?!” mata kecoklatan Soo Rin berbinar-binar. Dan Soo Rin semakin merasa terbang kala pria itu menjawab dengan mantab.

Eo, jinjja.

Tanpa pria itu ketahui, Soo Rin berjingkrak kegirangan sebelum akhirnya mempersiapkan satu bungkus ramyeon untuk dimasak, dan mengatur ponselnya dengan menyentuh tanda loud speaker demi tetap berkomunikasi dengan pria itu meski dari jauh. Percayalah bahwa senyum cerahnya sudah merekah begitu lebar di bibir kecilnya itu.

Hanya dengan perhatian kecil dari Kim Ki Bum, sudah mampu mengobati rasa rindu Soo Rin yang keterlaluan menggelegak di hari pertama pria itu meninggalkannya.

****

Sudah dua minggu Soo Rin menjalankan kesendiriannya. Selama itu pula ia mengalami kemunduran dalam kondisi fisiknya. Dia tidak merasa semakin baik, tetapi sebaliknya, dia menjadi tampak tirus dan lesu.

Ia mengira bahwa Kim Ki Bum akan rutin menghubunginya meski itu di malam hari kala pria itu dipastikan sudah selesai bekerja. Tapi nyatanya pria itu hampir hilang kontak karena hanya sempat memberi pesan singkat melalui situs chat. Sekalipun meneleponnya, itu terjadi di saat Soo Rin sudah beranjak tidur, bahkan saat dirinya sudah meluncur ke alam mimpi, lalu kemudian ia melihat ada panggilan tak terjawab di layar ponselnya begitu pagi menjelang.

Soo Rin menjatuhkan kepalanya di atas meja kafe Mouse Rabbit. Kegiatan rutinnya setelah bekerja di salah satu Agensi Penulis Naskah yang lokasinya tidak jauh dari kafe milik Kim Bersaudara itu. Setelah lulus menjadi Sarjana Muda Fakultas Humaniora di bidang Bahasa, Budaya dan Linguistik, Soo Rin mendapatkan tawaran pekerjaan untuk menjadi editor naskah di sebuah agensi yang cukup dikenal akan penerbitan berbagai buku yang kerap kali mendapat gelar best seller. Berkat bantuan dari salah satu dosen yang acap kali melihat ketelitian sekaligus kerapihan Soo Rin dalam menulis—baik menulis makalah hingga menulis skripsi yang mampu membuat sang dosen merasa terpukau.

Meski pekerjaannya tidak sebanding dengan pekerjaan Kim Ki Bum, namun baginya pekerjaan yang selalu menatap layar komputer sekaligus mengabsen deretan puluhan ribu kalimat dalam kurun waktu 9 jam lamanya itu sudah mampu membuat Soo Rin merasa lelah. Bahkan Soo Rin beberapa kali mendapatkan job lembur hingga malam hari jika ada naskah yang sudah mendekati deadline penerbitan.

Seperti biasa pula, Jong Woon melayani gadis itu meski selama dua minggu ini dibarengi dengan raut prihatin akan kondisi gadis itu. Jong Woon sudah hapal menu pesanan Soo Rin. Sehingga begitu Soo Rin datang ke kafenya, Jong Woon segera membuatkan Choco Frappuccino kesukaan gadis itu yang kebetulan pantas untuk menyegarkan pikiran juga melepas dahaga mengingat saat ini sedang memasuki musim panas.

“Ingin makan sesuatu?” tawar Jong Woon hati-hati setelah mendudukkan diri di hadapan gadis yang menelungkup di atas meja itu.

Soo Rin menggeleng lemah. Membuat Jong Woon menghela napas berat. Pria itu mendorong pelan minuman yang dibawanya itu lebih dekat ke hadapan Soo Rin.

“Minumlah. Setidaknya kau harus membasahi tenggorokanmu, Park Soo Rin.”

“Aku tidak mau minum…”

Jong Woon mendesah pelan mendengar gumaman lirih itu. “Lalu kau mau apa, eo?”

“Aku mau Kim Ki Bum…”

Jong Woon mendengus geli. Gadis ini sepertinya mengalami korsleting di dalam otaknya sampai-sampai meminta sesuatu yang sangat konyol. Yah, meski sebenarnya Kim Ki Bum sudah menjadi milik Soo Rin tapi tetap saja itu terdengar konyol.

“Jika kau mau Kim Ki Bum, susul saja dia ke Mokpo!” Jong Woon sedikit terpancing untuk emosi. Ayolah, bagaimana Jong Woon ingin tetap bersabar jika melihat kondisi gadis di hadapannya ini sangat menyedihkan dan semakin menyedihkan kian hari? Hanya karena pria bernama Kim Ki Bum itu tidak ada di sampingnya?

Sebegitu besarkah pengaruh Kim Ki Bum bagi Park Soo Rin?

Ya, tentu saja, Kim Jong Woon. Apa kau tidak pernah merasakan hal itu kepada istrimu? Benar juga, Jong Woon belum pernah merasakan yang namanya terpisah jauh dalam kurun waktu lama dari kekasihnya. Karena saat itu Jong Woon masih melajang ketika dirinya menjalankan wajib militer dan hanya merasakan yang namanya merindukan keluarga dan peliharaan, bukan seorang gadis. -_-

Sunbae.

Eoh?” Jong Woon kembali dari lamunannya. Ia cukup terpana melihat gadis itu sudah menegakkan kepala sekaligus menatapnya.

“Maukah Sunbae mengantarku ke tempat Kim Ki Bum?”

“Astaga, Park Soo Rin…” Jong Woon mulai frustasi. “Apa kau ingin melihatku diamuk Ki Bum karena sudah berani membawamu ke sana?!”

Benar. Kim Ki Bum pasti tidak akan senang melihat Soo Rin nekad mendatanginya, apalagi jika hal itu disetujui oleh Jong Woon sekaligus diantar oleh Jong Woon. Pria itu pasti akan mengamuk karena Jong Woon sudah berani membawa Soo Rin pergi jauh.

Soo Rin kembali menjatuhkan kepalanya di atas meja. Kembali tenggelam ke dalam kesedihannya yang begitu menyiksa dirinya. “Dia bahkan tidak menghubungiku… Membalas pesanku saja tidak… ish! Kenapa Kim Ki Bum sangat menyebalkan?!”

Jong Woon mencondongkan tubuhnya. Dia tidak bisa terus seperti ini. Dia merasa tidak enak hati melihat gadis ini bersedih ria di tempat umum seperti ini. Kasihan Soo Rin yang selalu menjadi bahan lirikan pengunjung kafe ini karena Jong Woon yang selalu menemani gadis ini. Jong Woon sendiri tidak bisa membiarkan Soo Rin sendirian. Gadis ini sangat berharga untuk Kim Ki Bum, akan semakin runyam apabila Jong Woon bersifat acuh terhadap gadis yang sudah dititipkan oleh Kim Ki Bum kepadanya.

“Soo Rin-ah, ayo pulang. Aku akan mengantarmu,” hanya itu yang bisa Jong Woon berikan sebagai bentuk perhatian yang nyata. Ya, gadis ini harus beristirahat serta menenangkan diri di rumah. Bukan di tempat umum yang justru semakin membuatnya mendung seperti sekarang ini.

****

Soo Rin tidak bisa memejamkan mata di atas ranjangnya. Padahal matanya sudah memerah dan terasa begitu berat. Namun ia hanya menatap langit-langit dengan pandangan kosongnya. Ini sudah pukul satu lewat tengah malam. Dan ini sudah menginjak hari ke-15. Soo Rin semakin merasa sengsara saja.

Meraih ponsel pintarnya, Soo Rin membuka situs chat-nya yang masih saja sepi. Tidak ada tanda-tanda bahwa Kim Ki Bum akan mengabarinya. Yah, memang ini sudah sangat larut malam. Pria itu pasti sudah beristirahat. Tapi, apakah pria itu benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk menghubunginya meski barang sejenak saja?

Kim Ki Bum… Ja? (Kau tertidur?)

Soo Rin nekad mengirim pesan pada nomor kontak pria itu. Ia kemudian merasa bodoh karena pria itu pasti tidak akan membalas pesannya. Sampai-sampai ia harus meringis sedih seraya memukul kepalanya sendiri. Akhirnya diletakkan kembali ponselnya ke atas nakas di sampingnya. Menoleh ke sisi lain di mana ada ruang kosong di ranjangnya, tempat di mana pria itu selalu berbaring lelap di sebelahnya.

Ia mengambil bantal milik Kim Ki Bum, mendekapnya dengan begitu erat, menghirup aroma maskulin yang masih tertinggal di sana. Tanpa sadar, kedua matanya memanas. Lalu ia terisak pelan.

Soo Rin sudah terlalu merindukan pria itu…

Drrrtt… drrrtt…

Dengan malas Soo Rin meraih kembali ponselnya yang bergetar. Akibat dari kesedihannya yang terlanjur dalam, Soo Rin sudah tidak berpikir sekaligus menebak-tebak dan justru memilih untuk menggerutu di dalam hati karena seseorang sudah mengusik kegiatan melepas rindunya yang jelas tidak terobati. Soo Rin bahkan memilih untuk langsung menempelkan ponselnya ke depan telinga seraya menyapa dengan suara seraknya, “Yeoboseyo…

“Kupikir kau sudah tertidur.”

Soo Rin mengerjapkan mata beberapa kali. Ia menarik kembali ponselnya, melihat layar sentuhnya yang masih menyala menerterakan sebuah nama yang tengah meneleponnya. Jantungnya serasa mencelos melihat kenyataan bahwa Kim Ki Bum akhirnya meneleponnya. Akhirnya!

Ya! Kenapa kau baru menghubungiku?!” semprot Soo Rin seketika. Ia langsung mengatur ponselnya menjadi loud speaker hingga dirinya leluasa berbicara sekaligus mendengar pria itu berbicara kala ia memilih meletakkan ponselnya di dekat bantal. Memutar tubuhnya menjadi menyamping dan menghadap tepat pada ponselnya.

“Kau menangis?”

“Kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Akan kujawab setelah kau menjawab pertanyaanku.”

“Tapi aku yang bertanya lebih dulu, Kim Ki Bum!”

“Soo Rin-ah…

Wae?!

“Maafkan aku.”

Soo Rin terdiam. Lalu menyadari bahwa dirinya sudah sesenggukan dengan pipi yang basah karena air mata. Ugh, tanpa sadar dia sudah kembali cengeng di hadapan prianya sendiri. Soo Rin sendiri tidak menyangka bahwa pengaruh kehadiran seorang Kim Ki Bum bisa sehebat ini.

“Maaf karena tidak menghubungimu.”

Soo Rin menyusutkan hidungnya, bibirnya mengerucut sebal. “Kau sudah menyadari kesalahanmu, eo?”

“Aku selalu menyadarinya.”

“Tapi kau tidak pernah meminta maaf padaku!”

 Arasseo, aku akan meminta maaf padamu.”

“Sekarang?”

“Nanti.”

Ish!!” Soo Rin memberengut kesal. “Kalau begitu selamat malam!” ia membalikkan ponselnya, juga berbalik badan. Dia marah, sebal, juga jengkel pada pria itu. Apa pria itu sedang mempermainkannya? Kenapa tidak bilang saja jika pria itu tidak mau meminta maaf? Menyebalkan sekali!

“Soo Rin-ah…

Soo Rin hanya menyusut hidungnya sekaligus sesenggukan. Mencoba untuk tidak menghiraukan suara yang sedikit terpendam di belakangnya. Padahal dia sudah menunggu hal ini, tapi pria itu membuat mood-nya turun dengan sangat mudah! Biarkan saja jika pria itu menganggap dirinya kekanakan. Perasaan perempuan itu sangat sensitif dibandingkan laki-laki!

“Kau tidak ingin berbicara padaku lagi?”

Soo Rin tidak bergeming. Tanpa sadar ia mengeratkan pelukannya pada bantal yang masih betah di dalam dekapannya.

“Maafkan aku. Kau tidak bisa membayangkan betapa beratnya aku bekerja di sini. Sampai-sampai aku tidak memiliki kesempatan untuk sekedar membalas pesan singkatmu. Dan sungguh disayangkan bahwa aku baru memiliki waktu luang di malam hari seperti ini. Aku bahkan hanya memiliki waktu istirahat tidak lebih dari empat jam lamanya, kau tahu?”

Soo Rin membalikkan tubuhnya, menatap ponselnya yang masih tergeletak terbalik di sisi sana. Matanya yang berair mengerjap beberapa kali.

“Setiap kali aku menghubungimu, aku selalu tersadar bahwa aku mengambil waktu yang sangat tidak tepat. Kau pasti sudah terlelap di waktu seperti sekarang ini. Padahal hanya di waktu ini aku mampu memegang ponsel dan memiliki waktu bebas. Aku bahkan berpikir untuk menghabiskan waktu istirahatku hanya untuk berbicara padamu, Soo Rin-ah.

Soo Rin memajukan bibir bawahnya. Batinnya mencelos sekaligus menyesal mendengar pengakuan halus yang juga terselip nada sesal di setiap kalimatnya. Bagaimana Soo Rin bisa egois seperti ini? Bagaimana bisa Soo Rin menganggap bahwa Kim Ki Bum tidak peduli padanya? Padahal pria itu selalu berusaha untuk menghubunginya di waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat ini. Selalu memikirkannya tanpa memikirkan dirinya sendiri. Tidakkah itu menandakan bahwa pria itu terus berusaha untuk tetap peduli padanya?

“Baiklah. Kuharap kau tetap menjaga pola makanmu dan aku dapat melihatmu dalam keadaan baik-baik saja begitu aku kembali. Selamat malam.”

“Kim Ki Bum!” Soo Rin membalikkan ponselnya kembali, cepat-cepat. Jantungnya berdegup kencang karena takut—takut pria itu memutus teleponnya sekaligus marah padanya. Semakin takut karena ia tidak segera mendapatkan balasan di seberang sana. Meski sebenarnya masih tertera panggilan masih tersambung di layar sentuhnya yang menyala.

Soo Rin menelan saliva lamat-lamat. “Ma-maafkan aku…”

Hening masih menjadi jawaban dari ucapan Soo Rin. Ia kembali menelan saliva demi menetralkan suaranya yang serak dan bergetar.

“Aku… sudah keterlaluan padamu. Maafkan aku… tolong jangan marah padaku. Aku sungguh menyesal…” Soo Rin menggigit bibir bawahnya karena masih mendapatkan kondisi yang sama. “Karena merindukanmu, aku menjadi egois dan tidak memikirkan kondisimu juga. Kau—kau pasti sangat lelah. K-kalau begitu, kau tidak perlu menghubungiku di malam hari seperti ini. Cukup aku saja yang mengirim pesan padamu. Kau harus beristirahat supaya dapat bekerja dengan baik lagi. Aku—aku akan menunggu kepulanganmu dengan sabar.”

“Karena merindukanmu juga, aku menjadi egois dan tidak memikirkan diriku sendiri. Aku ingin mendengar suaramu meski hanya sebentar.”

Soo Rin merasakan jantungnya serasa melompat dari tempatnya begitu mendengar suara berat itu mengalun lagi. Dadanya berdesir-desir mendengar kalimat yang terlontar dan menusuk gendang telinganya dengan baik.

Seharusnya Soo Rin mengerti sejak awal. Seharusnya Soo Rin mengungkapkan perasaannya dengan baik. Seharusnya Soo Rin juga memberikan perhatiannya pada Kim Ki Bum. Dan, ya, Soo Rin akan melakukannya mulai dari sekarang.

“Aku merindukanmu, Kim Ki Bum…”

“Aku lebih merindukanmu, Soo Rin-ah…”

****

Terhitung sudah hari ke-25 Soo Rin menjalani kesendiriannya. Jatuh tepat di Hari Minggu di mana dirinya memiliki waktu santai hingga dirinya hampir mati kebosanan jika Henry dan Sae Hee tidak datang ke rumahnya demi menemaninya. Kedua insan itu berkunjung sejak pagi hingga menjelang larut malam. Makan siang juga malam di sana, membantu membersihkan apartemen kakak mereka itu, hingga menemani Soo Rin menonton film di ruang tengah.

Eonni, jika membutuhkan sesuatu, hubungi saja kami.” Sae Hee mengingatkan untuk yang kesekian kali. “Ki Bum Oppa sudah memberi amanat pada kami untuk siaga. Jadi jangan sungkan-sungkan, eo?”

Soo Rin menggaruk kepala salah tingkah. “Eii, kenapa pria itu berlebihan sekali?” gerutunya malu-malu. Bagaimana dia tidak salah tingkah mengetahui bahwa pria itu sudah mengirim dua utusan untuk membantunya selama pria itu pergi? Rasanya Soo Rin diperlakukan terlalu istimewa oleh dokter jenius itu.

Oh ayolah, Park Soo Rin, kenapa kau masih tidak mengerti juga? Priamu itu memang selalu memperlakukanmu terlampau istimewa tanpa kau ketahui. Bahkan Kim Jong Woon juga terkena imbasnya dengan membiarkan dirimu memakan apapun di kafenya karena priamu sendiri sudah membayar di muka! -__-

“Itu bukan berlebihan, Noona. Melainkan, Ki Bum Hyung adalah pria yang terlampau baik untuk Noona. Jadi syukurilah!” timpal Henry dengan bibir mengerucut. Jujur saja, dia iri dengan pria noona-nya ini yang sudah bisa melakukan ini-itu untuk sang noona. Dia juga ingin seperti itu untuk Sae Hee.

Seketika wajah cantik Soo Rin memerah mendengar tutur kata Henry. Rasanya ucapan adik sepupunya itu terlalu berlebihan karena bayangannya menjadi dipenuhi dengan Kim Ki Bum. Ugh, sial sekali. Rasanya panas sekali!

“Kalau begitu, kami harus keluar sekarang. Sae Hee harus sudah sampai rumah sebelum pukul sepuluh malam. Aku akan menghubungi Noona nanti.” Henry pamit seraya menggandeng tangan Sae Hee.

“Kami pulang dulu, Eonni. Hati-hati di rumah!” kini giliran Sae Hee yang pamit, melambaikan tangan seraya melangkah menuju pintu utama bersama Henry.

“Hati-hati di jalan!” Soo Rin ikut melambaikan tangan, mengantar mereka sampai ke dekat pintu.

Kemudian ia menghela napas panjang begitu mereka menghilang di balik pintu serta mendengar suara kunci otomatis kembali aktif. Berbalik badan, Soo Rin melangkah menuju kamarnya, mendudukkan diri di atas ranjang setelah meraih ponselnya dari atas nakas. Membuka fitur kalender lalu mencoret tanggal di hari ini. Senyum tipis terpatri di bibir kecilnya kala melihat sudah banyak tanggal yang dicoret olehnya. Tersisa lima tanggal lagi yang menunggu. Menandakan bahwa lima hari lagi Kim Ki Bum akan pulang.

“Kau bisa melewatinya dengan mudah. Hanya lima hari lagi,” gumamnya menyemangati diri sendiri.

Soo Rin membaringkan diri di ranjang empuknya. Menempatkan diri tepat di tengah ranjang mengingat dirinya merasa begitu hampa jika membiarkan salah satu sisinya kosong. Juga, mendapat kebiasaan baru dengan menyumpal kedua telinganya dengan headset dan membiarkan kumpulan musik kesukaannya menjadi lagu pengantar tidurnya. Tidak lupa dengan bantal milik prianya yang menjadi guling barunya, mencampakkan gulingnya yang sebenarnya begitu saja di salah satu pinggir ranjang.

Kim Ki Bum, seharian ini aku ditemani dengan Henry dan Sae Hee. Terima kasih sudah mengutus mereka untuk menemaniku seharian ini ^^ Dan kau, jangan melakukan apapun di waktu istirahat nanti. Kau harus beristirahat! Cepat kembali!

Sudah menjadi rutinitasnya untuk mengirim pesan pada Kim Ki Bum sebelum dirinya meluncur ke alam mimpi. Sesuai dengan permintaannya dulu, Kim Ki Bum menggunakan waktu istirahatnya dengan baik. Pria itu baru membalas pesannya ketika ia sudah kembali memegang ponsel yang di mana Soo Rin sudah terlelap. Terkadang pria itu juga mengirim pesan suara yang baru akan Soo Rin dengar di pagi hari setelah terbangun dari tidur. Dan Soo Rin akan membalasnya dengan pesan suara juga, yang entah kapan akan dibuka oleh pria itu.

Setidaknya Soo Rin sudah terbiasa dengan kegiatan baru ini. Terbiasa dengan Kim Ki Bum yang hanya dapat mengirim pesan singkat maupun pesan suara padanya. Terbiasa dengan kesendiriannya yang sesekali ditemani oleh Henry, Sae Hee, maupun Jong Woon. Dan Soo Rin sudah dapat mengerti keadaan yang hanya berlangsung singkat ini.

Ya, satu bulan tidak seperti di mana dirinya juga pernah ditinggal Kim Ki Bum tiga tahun lamanya. Di mana dirinya justru tidak mendapatkan kabar sama sekali dari pria itu hingga menyiksa batin dan juga fisiknya. Merindukan pria itu setengah mati, hingga dirinya hampir terasa gila dibuatnya. Di mana dirinya merasa kosong dan hampa yang sangat parah hingga berpengaruh pada kepribadiannya—menjadi pribadi yang dingin dan tertutup,

Setidaknya untuk yang ini, Soo Rin tahu dan yakin bahwa Kim Ki Bum akan pulang sebentar lagi. Itulah mengapa dia memilih untuk menjalankan kesehariannya seperti biasa.

Benar, Kim Ki Bum akan pulang sebentar lagi.

.

.

Soo Rin terusik dari tidurnya kala merasakan pergerakan di belakangnya. Keningnya berkerut samar dan menggerutu di dalam hati karena ia tertarik kembali dari alam bawah sadar. Baru saja dirinya ingin kembali melanjutkan tidurnya yang tertunda, ia merasakan sesuatu menyentuh sebelah telinganya yang memang terpampang, membuatnya cukup bergidik dan hampir memekik kaget jika syarafnya tidak langsung mengenal sentuhan itu.

Yang bergerak menarik headset dari telinganya dengan hati-hati, menimbulkan gesekan terlampau halus oleh kulit hangat itu hingga dalam waktu beberapa detik Soo Rin segera menyadari apa itu.

Kim Ki Bum?

Tidak. Tidak mungkin. Bukankah Kim Ki Bum baru akan kembali lima hari lagi? Aih, Soo Rin pasti sedang berhalusinasi.

Tapi, merasakan pergerakan yang begitu nyata di belakangnya, seolah ada seseorang yang ikut berbaring di belakangnya, juga merasakan kehampaan di sebelah telinganya karena benda itu tercabut dari sana, menyadarkan Soo Rin bahwa dirinya sedang tidak berhalusinasi.

Benarkah Kim Ki Bum sudah pulang? Rasanya Soo Rin ingin sekali berbalik tetapi ia merasa takut jika dugaannya salah. Ataukah… jangan-jangan sesuatu di belakangnya saat ini adalah hantu?!

I miss you…”

Jantungnya serasa terjatuh dari tempatnya begitu bisikan itu menusuk gendang telinganya. Merasakan sapuan halus yang begitu hangat membangkitkan gelenyar aneh ke sekujur tubuhnya. Memancing tubuhnya yang masih terasa kebas untuk mulai berdesir-desir tidak karuan akibat dari suara berat nan halus itu.

Ditambah merasakan sentuhan lain di bagian pinggangnya, menimbulkan beban baru di sana namun juga membuat dirinya serasa tersengat listrik begitu dengan cepatnya menebak apa itu. Berharap dirinya memang tidak bermimpi karena dia sudah berani merasakan hal-hal yang begitu dia rindukan ini.

Cepat-cepat Soo Rin berbalik, melepas bantal Kim Ki Bum dari pelukannya, tanpa membuka mata karena takut dirinya ternyata hanya sedang berhalusinasi—ya, Soo Rin masih di antara percaya dan tidak percaya. Hingga akhirnya dirinya berhasil menjangkau tubuh kekar itu, memeluknya dengan begitu eratnya, menyerukkan kepala ke dalam dekapan hangat yang begitu nyata itu, menghirup aroma maskulin yang begitu kuat menguar dari tubuh di pelukannya ini.

Oh, astaga, Soo Rin memang tidak bermimpi. Kim Ki Bum memang berada di sini!

I miss you too…” Soo Rin mencoba untuk membalas. Dengan suara seraknya mengingat belum lama dirinya tersadar dari lelapnya. Dan ia semakin menenggelamkan diri ke dalam tubuh kekar itu. Demi apapun, Soo Rin tidak ingin melepasnya lagi jika waktu benar-benar mengizinkannya.

“Kupikir kau sudah tertidur.”

Senyum manis mengembang di bibir Soo Rin mendengar suara berat itu kembali mengalun. Menikmati perlakuan Kim Ki Bum yang ikut memeluknya dengan begitu posesif sama seperti dirinya. Begitu menyenangkan sekaligus mendebarkan.

“Kau mengganggu tidurku,” gerutunya tidak serius. Mana mungkin dia merasa kesal jika pada akhirnya diberi kejutan seperti ini?

Ki Bum—pria itu mengulas senyum sebelum menenggelamkan bibir penuhnya pada puncak kepala Soo Rin, menghirup aroma shampoo yang menguar pada rambut panjang gadis ini, yang dalam sekejap menggantikan rasa penatnya menjadi rasa menenangkan.

“Kalau begitu kembalilah tidur.”

Soo Rin menggeleng cepat. “Aku tidak mau kau pergi lagi nantinya.”

Pria itu mendengus geli mendengar jawaban konyol itu. Benar-benar, memangnya Ki Bum akan pergi ke mana lagi?

“Kau pulang cepat…”

Eum.

“Sengaja tidak memberi tahuku bahwa kau pulang cepat?”

“Begitulah.”

Ish!

Ki Bum terkekeh pelan. “Untungnya aku mampu menyelesaikan tugasku lebih cepat dari waktu semestinya.”

“Kau pasti sangat lelah…”

“Tidak setelah kembali memelukmu seperti ini.”

Wajah Soo Rin segera memanas mendengar jawaban itu. Namun tidak dapat menampik bahwa ia tersenyum senang mendengarnya. Membuka mata, Soo Rin akhirnya mendengakkan kepala, menuntun sepasang iris kecoklatannya untuk melihat wajah tegas yang begitu tampan namun terlihat tampak lelah meski berusaha ditutupi dengan senyum yang menawan. Dan Soo Rin mencoba untuk menyembuhkannya dengan ikut mengulas senyum terbaiknya untuk pria ini.

“Terima kasih sudah kembali,” ucapnya sangat tulus. Membuatnya kini mendapatkan belaian lembut di sebelah pipinya dari tangan besar nan hangat itu. Membuainya untuk semakin merasa nyaman di dalam dekapan pria ini.

“Dan terima kasih sudah menungguku.” Ki Bum membalas tidak kalah tulus. Kemudian memberikan ciuman dalam di kening berponi gadisnya ini lamat-lamat. Menyalurkan rasa membuncahnya serta membaginya kepada gadisnya. Bahwa dia begitu mencintai gadis di pelukannya ini.

Actually you understand, right? Without you i can’t live, without me you can’t live. An almost torn heart, take a deep breath. Who said that hurt will slowly heal is empty words. I love you, I love you, I love you, even if you can’t hear. Sorry, Sorry, Sorry, I have regrets. F.O.R.E.V.E.R I will hold your hand tight. Just like when we first met, we will be back together…
(Super Junior – Only U)

.

.

“Soo Rin-ah.”

Eung?

“Bisakah kau melepaskanku? Aku harus mandi terlebih dulu.”

Shireo!

“Aku masih kotor, kau tahu?”

“Aku tidak peduli!”..

.

.

FIN


kepanjangan ya.. ikr~ >__<

hwaaaaaahh gatau deh sebenernya nulis apa.. cuma buat pelampiasan karna lagi kangen-kangennya sama itu holang.. //lirikbangtoyib// T^T hiks

maaf ya ngambang wks~ maaf juga belum bisa lanjutin Two Person karan entah kenapa aku lagi mampet banget buat cerita itu huweeeehh ;___;

yosh! salam dari cameo cameo kitah XD

Kim Jong Woon >_<
Kim Jong Woon >_<
Henry Lau ^^
Henry Lau ^^

Oke! Terima kasih sudah mau mampir~~ ^___^

maaf, sempat ada kesalahan nulis judul lagu T^T #dessh

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

16 thoughts on “[SOORIN] I Miss U

  1. Wkwk. Abang aku muncul lumayan byk :v
    Seneng dah dia :p

    Jujur ye, emg belum pernah aku nge rasa kangen kayak Soo Rin jadi ga tau gimana rasanya. Kkk…

    Benar kata Henry, Soo Rin sangat beruntung mendapatkan Kibum, Pria yang amat baik. #PriaIdaman

    Jadi ngayal gimana nanti aku kalau udah kayak Soo Rin dan Kibum. Bhuahaha….

    Two Person gimana kabarnya?
    Sehat ? Hoho.
    Semangat dah buat kakak yang ngelanjutin fanfictnya :). Kami menunggu xD

  2. sepertinya soo rin sudah ketergantungan dengan keberadaan ki bum. baru ditinggal sehari aja udah jadi zombie. padahal dulu pas ditinggal 3th tanpa kabar kayanya gak separah itu deh.
    kayanya soo rin harus ikut ki bum kemana aja deh biar dia gak jadi zombie lagi.

  3. How sweetttt~
    Baca kisukisu story bikin aku makin kangen sama bang toyib :”)
    Keep writing eonn, ditunggu karya selanjutnya.. Two Person juga jangan lupa dilanjut kkk~

  4. hyaaaaa ~ (>_<) ayolah kibum 1 bulan itu untuk soorin lama,karna dia sudah ditinggalkan olehmu selama 3tahun jadi dia tidak mau ditinggalkan olehmu lagi. ●﹏●
    duh ada yesung suamikuh tercinta ̄ω ̄ kkk~, setelah wamil dia mulai merindukan aku ini hihihi #apasihAbaikansajaKak. ini cerita bikin gemes aja deh,suka banget sama dua insan ini. hihihi intinya sih aku sukaaaa dan kereeen. #terimakasih ㄟ(≧◇≦)ㄏ

  5. manis bgt sich ni couple 🙂
    bs bkin diabetes kya ny.he3x 😀

    gpp kok kpnjangan,mlah kl bs lbh pnjang lg 😀

    aq suka bgt ma kisukisu,brharap dbwt novel atau dbwat flm ny.he3x
    entah kpn hrapan ni trwujud…

    good job author 🙂
    dtnggu yg slnjt ny 😉
    yg lbh pnjang lg 😀

  6. Huhuhu lalalala #nyanyi kkkk

    panjang tpi ingin lbh pnjang lgi :p

    maf thor kata “beberes” terasa kurang enak d bacanya thor,,hehe mianhae……

    d tunggu two personnya…;) :p

  7. tetep kurang panjang.. hehe
    kisukisu selalu ya, bikin gemeeeess..
    ditinggal 1 bulan aja kaya gitu apalagi ampe bertahun”, jangan ya bang kasian soorin, ane juga.. hehe

  8. Kasian SooRin-nya ditinggal KiBum lagi,, yaaahh,, meskipun cuma 1 bulan.. Tapi kayaknya SooRin trauma ya denger kata2 perpisahan,, jadi kebayang 3 tahun yg menyedihkan (T︵T)

  9. suitt suittt…soorin kyk orang gila gegara ditinggl kibum ckck kasian untung ja kibum cepet kmbali dari jadwal kepulangan’a…

  10. bingung mau ngomong apalagi, pokoknya de bes dahh buat eonni. aku bisa ngerasain gimana rindunha soo rin, ngefeel banget dahhhhh

    ohh iya jan lupa two personnya eonni, ditunggu semangatt eonniiiiiiiii 😀

  11. soo rin udh ketergantungan bgt sm ki bum kayanya jadi galau maksimal bgt garagara di tinggal xD eonni kenapa ki bum bisa se sweet itu?ah>< good job eonnie! 😀

  12. sial, ini manis banget ceritanya. Dan aku tak pernah bosan utk berkata “Aku begitu iri padamu Park Soorin.” huhu masih ada ga sih stock pria seperti Kim Kibum? kerasa banget kegalauan Soorin sama seperti ELF yg masih menunggu Kim Kibum sampai sekarang TT__TT

    intinya I miss you Kim Kibum ^^

  13. Soorin kesiksa lahir batin ditinggal kibum kkk lain kali bawa soorin aja kmana2 biar ga uring2an lagi wkwkwk tingkahnya soorin lucu menggemaskan hihi bikin kibum makin cinta..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s