Posted in Angst, Category Fiction, Chaptered, Family, Fiction, KiSoo FF "Two Person", PG-15, Romance

Two Person – Flashback

prev :: #1.Nerd and Innocent | #2.Aggressive | #3.Control | #4.Can (not) Stop | #5.Do (not) Stop#6.Start Again, Meet Again | #7.The Real Kim Ki Bum | #8.About Park Soo Rin | #9.Missing | #10.Chance | #112person_pt11

Genre :: School Romance

Rated :: PG-15

Length :: Series

||KiSoo||

Happy reading!! ^-^

ㅡㅡ

When he recounted their past…

ㅡㅡ

GADIS itu duduk bersandar di depan kap mobil seorang diri. Kepalanya tertunduk serta kedua tangan yang bermain-main saling bertautan. Ia baru saja ditinggal oleh pemilik mobil ini setelah memberhentikannya di dekat sebuah jembatan penyeberang Sungai Daejeon. Salah satu jembatan yang cukup lengang dan tenang yang ditemani semilir angin sungai. Jauh di sebelah kanan terlihat samar Jembatan Expo yang dikenal dengan Jembatan McDonald karena bentuk pilarnya yang melengkung seperti lambang McD. Sebuah pemandangan yang menarik.

EXPO Bridge in Daejeon

Entah sudah berapa kali ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Pikirannya tidak beraturan akibat segala macam pertanyaan yang bersarang di kepala. Dan itu mendorong sebuah keinginan untuk menanyakan semuanya pada lelaki itu.

“Minumlah.”

Gadis itu mendengak setelah mendapati sebuah tangan mengulurkan segelas minuman hangat, mengantarkan sepasang matanya untuk melihat pemilik tangan itu hingga akhirnya menancap pada wajah tegas yang menguarkan raut datar andalan. Kemudian kepalanya kembali menunduk, memandang gelas tersebut hingga akhirnya kedua tangannya bergerak meraihnya, merasakan kehangatan dari gelas tersebut yang segera menjalar ke telapak tangan. Lalu mengucapkan, “Terima kasih,” secara halus.

Lelaki itu tidak menjawab dan memilih untuk duduk di sebelah sang gadis, menyamankan diri dengan ikut bersandar pada kap mobilnya, lalu menyeruput minuman yang dibeli untuknya sendiri. Menciptakan keheningan yang begitu canggung. Membiarkan keduanya bergumul dengan pikiran masing-masing dalam waktu yang cukup lama.

“Maafkan aku…” gadis itu akhirnya membuka suara lebih dulu, setelah menghabiskan satu seruput dari minuman hangatnya. “Aku… sudah merasa takut padamu.”

Ki Bum hampir tersedak oleh minumannya akibat hendak tertawa. Apa gadis ini sedang bergurau? Kenapa alasan meminta maafnya lucu sekali? Dia pikir merasa takut itu merupakan sebuah kesalahan?

“Itu sudah sewajarnya. Karena semua orang juga seperti itu setiap melihatku sedang marah,” sahutnya kemudian. Berniat ingin menimpali dengan kata-kata ringan yang mungkin saja mampu membuat gadis ini sekedar terkekeh. Namun ternyata ia memilih jawaban yang salah. Gadis itu justru semakin menunduk—dapat ia lihat melalui sudut matanya.

Lalu keheningan kembali tercipta di antara mereka. Untuk beberapa saat.

“Kim Ki Bum…”

Hm?” Ki Bum merespon tanpa menoleh. Sudut matanya menangkap bahwa gadis di sebelahnya mulai menatapnya, itulah mengapa dia memilih untuk tidak balas menatap karena dia masih khawatir akan membuat gadis ini kembali takut padanya. Meski sebenarnya dia sudah yakin bahwa ekspresinya sudah kembali seperti semula.

“Bisakah kau menceritakan soal masa lalumu?”

Kini Ki Bum tidak bisa untuk tidak menoleh. Ditatapnya lekat wajah Soo Rin yang kini tengah mengumbar raut ingin tahu meski ada binar keraguan mengintip di balik iris kecoklatannya. Dia sedang tidak salah mendengar, bukan?

“Aku… ingin mengetahuinya langsung darimu. Bolehkah?”

“Kenapa kau ingin tahu?”

Soo Rin tidak langsung menjawab. Matanya serasa terkunci oleh tatapan lekat dari iris hitam yang tajam di hadapan. Samar-samar ia melihat kening lelaki itu berkerut, entah karena tidak suka dengan pertanyaannya atau tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Well, Soo Rin sangat sadar bahwa pertanyaan yang terlontar dari mulutnya itu sangatlah sensitif dan wajar saja jika lelaki ini membutuhkan alasan.

“Aku ingin tahu lebih jauh. Soal dirimu.”

Barulah Ki Bum mengerjapkan mata. Sedikit terpana dengan jawaban tanpa ragu itu meski dengan nada yang lirih. Ia juga membaca bagaimana besarnya keingintahuan gadis ini mengenai dirinya. Masa lalunya.

Ki Bum kembali menatap ke depan, menatap hamparan Sungai Daejeon yang membentang di hadapan. Permukaan air yang hampir tak beriak mendukungnya untuk merenung, meluncur ke dunianya. Ia kembali menyeruput minumannya. Sengaja membuat jeda yang jelas membuat gadis itu rela menunggu. Kemudian  menarik napas dalam sebelum menghembuskannya cukup panjang.

“Kau sudah tahu bahwa aku adalah anak berandalan yang sudah membuat banyak musuh di mana-mana.”

Soo Rin menatap Ki Bum lagi. Telinganya seperti menegak menandakan dirinya bersiap untuk menyimak. Ya, lelaki ini bersedia untuk bercerita.

Ki Bum meletakkan minumannya begitu saja di belakang. Ia berusaha untuk tidak membalas tatapan gadis di sebelahnya itu.

“Aku mulai seperti ini sejak keluargaku hancur akibat kasus perceraian kedua orang tuaku tujuh tahun lalu. Ayahku ternyata memiliki wanita simpanan sejak aku masih di dalam kandungan dan ibuku baru mengetahuinya setelah aku menginjak usia sebelas tahun. Tidakkah itu merupakan perbuatan yang sangat keji? Bahkan dia juga memiliki anak selain dari rahim ibuku.”

Soo Rin tidak mampu mengatupkan bibirnya. Mendengar pengakuan besar dari Kim Ki Bum sekaligus melihat bagaimana lelaki itu menjelaskannya dengan rahang mengeras—menandakan bahwa lelaki itu sudah tenggelam dalam ceritanya sendiri—mampu membuat Soo Rin terkejut bukan main.

Seperti itukah kondisi keluarga Kim Ki Bum?

“Sejak itu aku melihat betapa berbedanya pria itu setelah ibuku menjatuhkan gugatan. Aku tidak menyangka bahwa dia sangat bejat karena sudah menghamili wanita berusia jauh di bawahnya, melahirkan seorang anak seusia denganku di belakang kami. Sialnya, dia berhasil menyembunyikannya sebelas tahun lamanya.” Ki Bum melakukan jeda, mendengus cepat bersamaan dengan munculnya seringaian dalam waktu sejenak. Terbaca sekali bahwa dirinya tengah menertawakan masa lalunya tersebut.

“Aku begitu membenci mereka. Membenci pria yang sempat menjadi ayahku, membenci wanita simpanan itu, sekaligus membenci anak dari hasil cinta haram mereka,” ia menelan saliva, merasakan tenggorokannya mulai tercekat. “Tapi yang aku tidak mengerti, ibuku justru memerhatikan anak itu. Selalu menanyakan kabarnya dan menyayanginya seperti anak kandung sendiri. Apalagi aku sering bertemu dengannya karena—entah bagaimana caranya—dia selalu berada di sekolah yang sama denganku setelahnya. Mencari sekaligus membuat masalah denganku. Bahkan, dia menyandang nama yang hampir sama denganku. Itulah mengapa, aku begitu membencinya. Sekalipun ia terus berusaha mencari perhatian padaku, aku terus dan semakin membencinya. Dan itu semakin parah, kala dia justru membunuh ibuku.”

Mata Soo Rin membelalak. Ia berhasil mencerna cerita Ki Bum dengan baik dan segera menebaknya. Sebelah tangannya terangkat menutup mulutnya yang menganga. Samar-samar jemarinya tampak bergetar karena begitu terkejutnya mendapati kenyataan ini. “Seolma…geu saram-i… (Tidak mungkin… orang itu…)”

Ki Bum menoleh, menatap gadis yang telah menyadari siapa orang yang dia maksud, dan kedua tangannya segera mengepal kala ia berkata, “Ya. Orang itu. Orang yang selalu mendatangimu dan membongkar sebagian masa laluku. Lebih tepatnya, masa lalu kami.”

****

Sang Bum sudah berdiri sejak lama di sana. Menatap tampak depan sebuah rumah yang selama ini ingin sekali dia datangi. Dan baru hari ini dia memberanikan diri untuk mendatanginya. Ia mulai melangkah masuk, menapaki anak-anak tangga yang mengantarkannya pada teras rumah sekaligus menghadapkannya pada pintu utama. Sebelah tangannya terangkat ragu-ragu, cukup lama, hingga akhirnya berhasil menyentuh tombol di sebelah pintu tersebut lalu menekannya.

Ting tong

Butuh waktu cukup lama baginya untuk menunggu, hingga akhirnya pintu cokelat tak berukir itu terbuka, menampilkan sesosok pria berparas menawan yang kemudian menatap kaget dirinya. Terperangah.

“Sang Bum-ah…”

Sang Bum mengukir senyum tipis nan ramah. Mata menawannya terlihat ikut tersenyum. “Apa kabar, Hyung?

Hee Chul—pria itu berdiri kaku di ambang pintu. Mulutnya terbuka lebar begitu juga dengan matanya. Ia merasa takjub dan juga terheran. Karena dia sudah lama tidak melihat sosok Kim Sang Bum. Bahkan dia merasa hampir kehilangan suaranya karena saking terkejutnya. “Bagaimana kau tahu—”

Sang Bum tidak mendapati kelanjutan pertanyaannya. Melihat dengan jelas bahwa pria di hadapannya tampak tercekat, ia pun bersuara lagi, “Aku terus mencari keberadaan kalian,” dan ya, itu adalah jawaban yang paling jujur yang keluar dari mulutnya.

“Oh, astaga…” pria itu mendesah tak menyangka. Ia mengusap sebagian wajahnya karena begitu tercengangnya melihat kegigihan lelaki di hadapannya kini. Dan dia tahu pasti tujuan lelaki ini melakukan semuanya. “Tapi, jika kau mencari Kim Ki Bum, dia sedang tidak ada di rumah. Dia pergi, bahkan membawa mobilku.”

Sang Bum mengangguk mengerti. “Aku sudah bertemu dengannya tadi. Kukira dia membawanya kemari…”

“Membawa—siapa?” Hee Chul kemudian melotot. Oh, dia menangkap dengan cepat maksud dari perkataan Sang Bum. Apakah lelaki ini juga tahu hubungan adiknya dengan gadis manis itu? Tapi, astaga, adiknya yang satu itu… “Tunggu, dia datang ke sekolah?! Kau—kau bertemu dengannya di sana??”

“Ceritanya cukup panjang, Hyung,” Sang Bum menghela napas panjang. “Mungkin aku akan kemari lagi lain kali,” lanjutnya berpamitan sebelum berbalik badan, berniat melangkah pergi dari tempat ini.

Hee Chul tidak menyangka bahwa pertemuan mereka secepat ini. Bahkan lelaki di hadapannya itu rela pergi ke sekolah Ki Bum. Mencari keberadaan Ki Bum, hingga akhirnya menemukan rumah baru mereka ini. Namun, kini lelaki itu akan pergi begitu saja? Cepat-cepat ia menyambar demi menghentikan niat Sang Bum, “Kau tidak ingin masuk dulu?”

Sang Bum terkekeh pelan. “Aku khawatir Kim Ki Bum akan mengamuk jika mendapatiku berada di rumahnya kala dia pulang,” jawabnya santai.

Namun Hee Chul dapat menangkap nada kesedihan menyelip di sana. Apalagi melihat bagaimana punggung itu tampak mengendur kala berbalik badan lalu melangkah menjauh. Hee Chul mengerti dengan pasti. Sepasang matanya yang jernih nan tajam itu segera meredup.

“Sampai kapan kau akan terus seperti ini, Sang Bum-ah?”

Langkahnya terhenti begitu mendengar pertanyaan halus itu. Sejenak ia menahan napas karena dia sendiri cukup tertegun mendapatkan pertanyaan itu dari Hee Chul. Selama ini, dia cukup bersyukur karena Hee Chul adalah orang yang masih bersikap netral padanya. Hanya saja, dia memaklumi bahwa untuk masalah ini, Hee Chul lebih memilih berpihak pada adik kandungnya dan pergi menghilangkan diri.

Sekelebat bayangan masa lalu melintas di dalam kepalanya. Bayangan di mana terdapat sosok dirinya yang tengah menggenggam erat tangan seorang wanita paruh baya yang terbaring lemah di tempat tidur serba putih serta menatap penuh hangat dirinya, mengulas senyum padanya.

“Maafkan aku yang tidak bisa membujuknya. Tapi kumohon, janganlah kau membalas kebenciannya dengan berbalik ikut membencinya…”

Sang Bum menelengkan kepala, tidak sepenuhnya menghadap Hee Chul, namun masih mampu menangkap sosok pria yang masih mau menerima kedatangannya. Dan, ya, dia cukup mensyukurinya.

“Sampai Kim Ki Bum mau mendengarkanku,” jawabnya penuh keyakinan, meski dengan suara melirih.

&&&

Masih diingat bagaimana hubungan mereka yang begitu buruk—sangat buruk. Entah karena takdir yang tengah mempermainkan mereka atau alam yang mempermainkan mereka, tiga tahun setelah kasus perceraian itu, mereka dipertemukan dalam satu Sekolah Menengah Pertama dan mengibarkan bendera permusuhan satu sama lain. Tabiat mereka yang memang sudah buruk sejak lama semakin menjadi di sekolah tersebut. Saling menjatuhkan dengan menghalalkan cara apapun. Sekalipun dengan melakukan adu fisik.

Tidak jarang keduanya selalu mendapat panggilan dari Kepala Sekolah lalu dijatuhkan hukuman berupa skorsing dalam waktu yang cukup lama. Mereka bahkan hampir mendapat ancaman tidak naik kelas jika saja prestasi akademik sama buruknya dengan tabiat mereka. Itulah mengapa pihak sekolah selalu berusaha memisahkan keduanya sejauh mungkin dengan tidak membiarkan mereka berada dalam satu ruangan. Meski sebenarnya perbuatan mereka sia-sia karena keduanya dapat melakukan adu jotos di waktu sekaligus tempat lain.

Tidak ada yang tahu alasan mendasar keduanya saling menjatuhkan. Mereka berpikir karena keduanya menyandang nama yang hampir sama maka keduanya bersaing dengan cara apapun demi menunjukkan siapa yang lebih pantas. Tapi jika sudah dengan cara yang keterlaluan seperti itu, tidakkah itu berarti mereka memiliki alasan yang lebih besar dari sekedar reputasi?

Bahkan takdir bekerja sama dengan alam, dengan kembali mempermainkan mereka kala mereka sudah duduk di bangku Menengah Atas. Hubungan mereka semakin memburuk—bahkan lebih dari kata memburuk. Kala suatu tragedi mengenaskan menimpa salah satunya dan menimbulkan kebencian yang semakin mendalam menyarang di dalam diri yang lain. Melibatkan orang terkasih yang selama ini ia jaga meski sudah sering membuatnya kecewa akan tabiat buruknya, namun sangat menonjok kondisi psikis-nya yang masih tidak stabil kala nyawa orang terkasihnya terenggut hingga membangkitkan jiwa liarnya untuk membalas dendam.

Dia masih ingat bahwa ada satu pemberian mendiang ibunya dulu. Saat di mana dirinya begitu ingin melakukan hal tersebut dan sang ibu memberikannya sebagai hadiah ulang tahunnya. Namun keinginan itu lenyap tak bersisa setelah kasus kedua orang tuanya yang memilih untuk bercerai. Menyalahgunakan benda tersebut menjadi alat yang mematikan yang mampu mengancam nyawa setiap musuhnya.

Menyeretnya ke hadapan lelaki itu, dan dengan penuh dendam ia membantai lelaki itu dengan benda bernama tongkat baseball tersebut, pemberian mendiang ibunya karena keinginannya menjadi seorang pemukul baseball yang handal—namun berubah menjadi pemukul ampuh untuk melumpuhkan musuh-musuhnya bahkan mampu membunuh musuhnya. Bergulat layaknya perang dunia hingga hampir saling menghabisi nyawa masing-masing. Menghasilkan luka yang sangat parah di masing-masing tubuh mereka, bahkan menimbulkan trauma akibat cedera parah yang dialami.

 .

.

Lelaki itu menjatuhkan tongkat baseball-nya setelah berjuang keras untuk terus menggenggamnya, menimbulkan dentingan nyaring hingga menggema ke setiap sudut ruang kosong yang sudah tak terawat, di dalam sebuah gedung tua yang memang sudah tak berpenghuni. Napasnya terdengar begitu berat, kedua bahunya bahkan sudah naik-turun dengan sangat jelas. Mata hitamnya yang menggelap menyorot penuh bengis pada sosok yang tergeletak mengerang kesakitan setelah dirinya berhasil menyerang lengan pria itu dengan benda mematikannya tersebut.

Dengan wajah yang sudah babak belur di sana-sini—sama seperti lelaki yang terbaring di dekat kakinya itu, ia berbalik badan, melangkah tertatih menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya setelah pertarungan hebat yang dialami mereka. Meninggalkan lelaki tak berdaya itu begitu saja. Dia merasa sudah cukup puas meski sebenarnya masih ingin membantainya sampai lelaki itu mengalami kelumpuhan total, atau bahkan mungkin sampai mati.

“KI!!!”

Merasa itu merupakan sebuah panggilan untuknya, ia menghentikan langkah. Wajahnya kembali mengeras mendengar bagaimana lelaki itu masih memiliki nyali sekaligus tenaga untuk memanggilnya. Sebuah panggilan yang semakin membuatnya muak karena lelaki itu sudah seenaknya menciptakan sebuah panggilan akrab untuknya.

Terengah hebat, lelaki yang sempat terbaring kesakitan itu berjuang untuk kembali bangkit. Napasnya sudah tidak beraturan bahkan sampai terdengar, sampai-sampai ia juga membutuhkan bantuan kantung suaranya demi kelangsungan bernapasnya. Mengalun menusuk telinga lelaki bernama Ki itu yang jelas kembali memancing amarahnya.

“Kenapa… kenapa kau tidak membunuhku?” lelaki itu mengucapkannya terputus-putus. Bibirnya terasa ngilu akibat robekan di bagian sudutnya yang cukup parah. Matanya yang sebenarnya menyorot keteduhan itu kini hanya memancarkan sorot amarah, juga kesedihan yang mendalam. “Kenapa kau tidak membunuhku saja, huh?! KENAPA, KI!!”

Lelaki bernama Ki itu mengatup bibirnya rapat-rapat. Mata tajamnya semakin menusuk jika dia memilih untuk kembali menatap lelaki yang sudah kembali berdiri meski dengan goyah. Dan dapat dipastikan bahwa dia akan kembali membantai lelaki itu jika dirinya memilih untuk berbalik.

“Sekalipun aku membunuhmu, itu tidak akan menghapus rasa kebencianku terhadapmu, juga mengampuni dosa-dosamu,” jawab lelaki bernama Ki itu, tegas, dalam, dan dingin. Menunjukkan kebenciannya yang terasa begitu kental di setiap kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Lalu ia kembali melangkah, meninggalkan lelaki itu di belakang.

Memancing gejolak emosi lelaki itu untuk kembali menguasai dirinya. Matanya menajam memandang punggung yang bergerak menjauh itu. Kedua tangannya mengepal terlampau kuat karena saking menggelegaknya amarah. Kemudian mengambil tongkat baseball yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri, dengan sebelah tangannya yang masih mampu digerakkan, mengangkatnya dengan tenaga yang tersisa, lalu kembali menatap penuh kecewa- marah, sekaligus sedih pada punggung itu.

“Aku tidak berdosa… Aku tidak bersalah…” ia mengerahkan tenaganya untuk berlari. Dengan kilatan emosi yang semakin menyala di manik matanya, mengangkat tongkat baseball tesebut tinggi-tinggi, berteriak, “AKU TIDAK PERNAH BERDOSA PADAMU, KIM KI BUM!!!”

DUAGH

.

.

Mereka memang sudah tidak peduli akan kebutuhan mereka sebenarnya. Sebuah pengakuan dalam makna berbeda dan bertolak belakang itu telah menimbulkan kesalahpahaman yang semakin memperparah kondisi batin yang tidak pernah sembuh. Dan hanya ini yang ada di pikiran mereka, dengan menjatuhkan salah satunya, maka yang lain akan merasa diakui.

&&&

“Hee Chul Hyung menemukan kami yang sudah tidak sadarkan diri dan membawa kami ke rumah sakit terdekat. Dan, rumah sakit di mana kakakmu berada adalah rumah sakit yang bersedia menangani sekaligus merawat kami. Karena beberapa rumah sakit yang letaknya lebih dekat tidak bisa menampung kami dengan berbagai macam alasan, mungkin dikarenakan melihat kondisi sekaligus latar belakang kami yang cukup mengerikan. Aku sendiri tidak menyangka bahwa kelakuanku bisa membuatku dikenal luas hingga mereka tidak sudi untuk sekedar menampungku. Jika bukan karena kakakmu, aku pasti sudah tidak ada di sini, bahkan di dunia ini.”

Sebelah tangannya bergerak ke atas, menyentuh bahu lebarnya sekaligus meremasnya. Wajah tegasnya sudah meredup sejak awal mulai bercerita. Berkali-kali ia harus merasakan tenggorokannya tercekat hingga menimbulkan sakit yang menyiksa. Ia menggumam, “Dan cedera di bahuku adalah hasil yang masih membekas sampai sekarang ini. Bisa kambuh jika aku kembali bertarung, seperti yang terjadi di hari lalu kala menghadapi Kang In.”

Soo Rin merasakan matanya sudah berair. Tenggorokannya begitu sakit karena tercekat. Mulutnya yang mengatup rapat tak mampu untuk terbuka demi bersuara. Dia tidak menyangka… bahwa masa lalu lelaki ini begitu kelam. Berawal dari hubungan kedua orang tua yang kandas, sudah mengubah seorang Kim Ki Bum menjadi bringas dan tidak mengerti belas kasih. Membentuk pribadi yang begitu dibenci banyak orang akibat suatu bentuk kekecewaan dan kebencian yang begitu besar yang sulit untuk dimaafkan.

Ditambah, hubungan dua lelaki yang ternyata memiliki ikatan darah, membuat Ki Bum begitu membenci sosok Kim Sang Bum karena menurutnya dialah yang sudah membuat ayahnya berpaling. Dan semakin membenci Kim Sang Bum karena telah mencelakai ibunya. Bahkan mengambil nyawa sang ibu dari Kim Ki Bum. Soo Rin tidak pernah menyangka bahwa Kim Ki Bum memiliki beban hidup yang sangat berat. Dia bahkan memilih untuk menghilang dari Kim Sang Bum dan juga yang lain setelah ibunya pergi meninggalkan dunia ini serta berhasil membantai Kim Sang Bum.

“Lalu… apa kau menghilang karena kau ingin berubah?”

Tidak ada jawaban berarti yang segera Soo Rin dapat. Mampu mengutarakannya pun Soo Rin sudah cukup beruntung mengingat bagaimana sulitnya ia untuk berbicara setelah mendengar segala pengakuan Ki Bum. Ia memilih untuk menunggu dengan sabar, mengamati raut wajah yang sudah meredup diterpa semilir angin. Soo Rin mengerti—sangat mengerti… bahwa di balik ketegasan wajah Kim Ki Bum kini tengah menyimpan gejolak emosi yang pasti sudah mengguncang batin lelaki itu.

“Aku melakukannya hanya untuk memenuhi permintaan terakhir ibuku,” Ki Bum akhirnya menjawab setelah melakukan jeda sangat lama. “Beliau menginginkanku untuk berhenti berkelahi dan hidup dengan semestinya bersama kakakku. Tapi karena aku sadar bahwa aku tidak akan pernah bisa menghilangkannya jika Kim Sang Bum masih berada di dalam jarak pandangku, aku memilih untuk menghilang.”

Begitu… Soo Rin menggumam dalam hati, kepalanya menunduk dalam, menatap nanar permukaan gelas plastik yang masih menghantarkan sensasi hangat dari minuman yang masih tersisa di dalamnya. Sungguh, dia ikut terbawa suasana mendengar cerita Kim Ki Bum yang ia yakini tersimpan sangat dalam dan menyakitkan namun justru berani diutarakan. Sejenak dia merasa menyesal karena sudah membuat Kim Ki Bum kembali menunjukkan keterpurukannya di hadapannya, namun ia juga merasa bersyukur karena kini dia mengenal siapa Kim Ki Bum yang sebenarnya.

Lelaki ini—lelaki di sampingnya ini tidaklah seburuk yang orang-orang luar sana kira. Kim Ki Bum tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena tabiatnya yang sangat buruk kala itu. Semua ini tidak akan terjadi jika tidak ada sebab dan akibatnya, bukan?

Tidak ada asap jika tidak ada api. Dan tidak ada api jika sesuatu tidak mencoba untuk menyulutkannya.

Kim Ki Bum menjadi seperti ini karena lingkungan keluarganya yang hancur tiba-tiba. Perceraian kedua orang tuanya yang tidak diduga dan sangat sulit untuk diterima, apalagi ternyata semua akibat dari sang ayah yang bermain di belakang, Kim Ki Bum tidak akan seperti sekarang ini jika semua itu tidak terjadi. Dan tidak sepatutnya Kim Ki Bum disalahkan bahkan hingga dibenci oleh banyak orang. Seharusnya dia didekati dan dirangkul, dituntun untuk menghadapi kenyataan pahit dengan cara yang manusiawi. Bukan dikucilkan seperti sekarang ini.

“Sekarang kau mengerti kenapa aku terlihat begitu menyeramkan dan ditakuti oleh banyak orang, bukan?”

Soo Rin mendengak, kembali menatap Ki Bum yang ternyata juga tengah menatapnya. Soo Rin berusaha untuk tidak menjawab langsung, sekalipun dengan sebuah anggukan kepala. Ia mencoba untuk menjawab melalui tatapannya yang sudah mengembun. Apalagi melihat bagaimana menyedihkannya Kim Ki Bum saat ini, berhasil memancing batinnya untuk mencelos, sekaligus menggerakkan syarafnya untuk melakukan sesuatu.

Menggenggam sebelah tangan Kim Ki Bum sekaligus meremasnya. Mencoba memberikan kehangatan, ketenangan, juga kenyamanan, yang berhasil mengejutkan sang empu hingga melemparkan tatapan tidak mengerti padanya.

“Aku… juga mengalami hal yang sama denganmu. Aku juga kehilangan kedua orang tuaku. Ibuku meninggal setelah melahirkan Ji Min akibat kelainan paru-parunya yang semakin memburuk. Sedangkan ayahku meninggal setelah berjuang melawan kanker beberapa tahun lalu,” Soo Rin menunduk kala menjelaskan. Bayangannya kembali berputar ke masa lalu. Suaranya bahkan terdengar parau juga serak. Dan ia berjuang untuk menetralkannya sebelum melanjutkan. “Jika kau bisa menebak, keluargaku merupakan keluarga yang memiliki kelainan pada sistem pernapasan. Jung Soo Oppa mengidap penyakit asma meski tidak akut. Begitu juga dengan Ji Min yang mudah lelah karena napasnya yang selalu pendek.

Hanya saja, aku mengidap kelainan yang lebih parah dibandingkan lainnya—kelainan paru-paru yang menurun dari ibuku. Oppa mengatakan padaku bahwa saat mengandungku, kondisi fisik ibuku sangat memprihatinkan hingga berdampak pada kondisiku yang masih berada di dalam rahimnya. Ibuku sering kehabisan napas dan berakhir dibawanya beliau ke rumah sakit. Tapi aku rasa, dengan perginya ibuku setelah melahirkan Ji Min, itu merupakan hal terbaik agar ibuku tidak menderita lagi. Dan keberadaan ayah masih lebih dari cukup bagiku… sampai batas waktu di mana semua itu terjadi kala aku duduk di bangku Menengah Pertama… di mana ayahku akhirnya menyusul ibuku.”

Soo Rin mengangkat kepala, meski tidak langsung menatap lelaki di sampingnya kembali. Matanya sudah memerah karena terus menahan diri untuk tidak menumpahkannya. Ia melanjutkan lagi, “Aku juga merasa terpuruk. Berbulan-bulan aku jatuh sakit karena rasa tertekanku yang tidak kunjung pulih dan selalu berdampak pada nasib paru-paruku. Dan aku selalu keluar-masuk rumah sakit karena hal itu. Hingga akhirnya aku mendapat peringatan dari sekolah karena absensiku yang mengkhawatirkan, aku terancam tidak naik kelas jika aku tidak berusaha mengejar ketertinggalanku.”

Ia akhirnya memberanikan diri, menatap lekat mata hitam yang sudah sangat redup kala mendengar ceritanya, merasakan bagaimana lelaki ini juga memberikan kekuatan melalui genggaman tangan mereka yang masih belum terlepas. Menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan, menetralkan laju pernapasannya yang terasa sesak. Ia kemudian mengulas senyum—di balik iris kecoklatannya yang sudah berair, bahkan kini mencair hingga mengaliri kedua pipinya.

“Aku mengerti, Kim Ki Bum. Karena aku juga pernah merasakan namanya kehilangan. Dan karena kau sudah menceritakannya padaku, membuatku membuka mata sekaligus tersadar bahwa aku tidak boleh menutup diri apalagi menjaga jarak. Kau bukanlah orang yang patut untuk dijauhi apalagi ditakuti. Justru, kau harus memiliki seseorang yang bisa memberikan bahunya padamu, menjadi tempat keluh kesahmu jika kau tidak bisa mengatakannya pada kakakmu, sekaligus menjadi teman terdekatmu…” Soo Rin mengeratkan genggamannya, menatap begitu dalam ke manik mata hitam di hadapannya dengan kedua mata yang berair. Dan, ia mengutarakan, “Karena itu, biarkan aku menjadi orang itu untukmu.

Soo Rin berhasil membobol pertahanan terakhir Ki Bum. Lelaki itu merasakan bagaimana membuncahnya perasaannya saat mendengar bagaimana gadis ini begitu mengerti dirinya, menangis di hadapannya dengan mata yang memancarkan bagaimana dia begitu merasakan betapa sakitnya ia menahan beban ini sangat lama—sekaligus menunjukkan bahwa gadis ini memang memiliki sebuah rasa sakit yang sama, hingga bersedia menjadi temannya yang rela sebagai sandarannya jika ia kembali rubuh.

Sebelah tangannya bergerak menyentuh wajah Soo Rin dengan perlahan, menghapus air mata yang sudah mengaliri pipi merona itu dengan lembut sebelum beralih merengkuhnya. Menatap dalam dan penuh rasa ke dalam manik mata yang terasa tengah menghisapnya. Inilah yang sangat ingin dia lakukan.

“Kau tidak akan menyesal?”

Pertanyaan lirih itu berhasil mengerjapkan mata Soo Rin. Ia segera menggelengkan kepala, menjawab, “Tidak akan.”

Barulah Ki Bum bangkit dari kap mobil, berdiri tegak menghadap Soo Rin yang masih betah menggenggam sebelah tangannya. Hingga akhirnya kini giliran dirinya yang menggenggamnya, menariknya hingga Soo Rin ikut berdiri dan gadis itu terpaksa menjatuhkan minumannya akibat kejutannya yang merengkuh pinggang ramping itu hingga terjatuh ke dalam pelukannya.

“Kalau begitu, kuperingatkan padamu untuk tidak mundur lagi setelah ini,” gumam Ki Bum yang mirip dengan titahan halus. “Karena aku tidak akan menjadikanmu hanya sebagai orang itu, melainkan aku juga akan membuatmu tidak bisa lepas dariku lagi, terus berada dalam jarak pandangku, dan akan kupastikan bahwa kau selalu berada dalam lindunganku dari apapun, sekalipun dari diriku sendiri.

Tangannya bergerak ke atas meraih wajah manis yang mulai menunjukkan semburat kemerahannya, merengkuhnya dengan penuh rasa sebelum wajah tegasnya bergerak maju, ikut meraih wajah manis itu hingga bibir mereka bertemu. Memagutnya dengan perlahan yang seketika meledakkan sensasi mendebarkan di dalam benak mereka. Hingga perlahan namun pasti, keduanya menutup mata secara bergiliran.

Karena Soo Rin harus sempat merasakan namanya disengat listrik begitu lelaki itu berhasil menciumnya yang berakibat fatal dengan kinerja syarafnya. Matanya terbelalak dan tubuhnya menegang di dalam kungkungan tubuh lelaki ini. Jantungnya serasa memberontak ingin dikeluarkan dari tempatnya kala merasakan desiran yang sangat hebat merambat ke sekujur tubuh kemudian memicu rasa panas yang menjalar hingga ke wajahnya. Merasakan sensasi asing di bibirnya kala lelaki itu berhasil memagutnya.

Sangat aneh, menyesakkan, namun sekaligus menyenangkan karena begitu lembut dan… memabukkan.

Barulah Soo Rin menutup mata kala merasakan sebelah tangan besar itu menyusup ke balik rambutnya, bergerak menuju belakang telinganya yang menimbulkan rasa menggelitik, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk mengangkat kedua tangannya, bertengger di bagian pinggang serta meremas pakaian yang dikenakan oleh lelaki ini. Membuatnya mendapatkan respon berupa gerakan Ki Bum yang semakin merapatkan tubuh mereka.

Soo Rin berharap tubuhnya tidak rubuh karena ia mulai merasakan tungkai kakinya melemas seperti agar-agar!

Ki Bum sendiri berjuang untuk tidak melakukan hal lebih. Cukup dengan menyatukan tanpa bergerak, meski dia tahu bahwa dia sudah menekannya yang langsung mendapat respon berupa remasan kuat di bagian pinggang bajunya, ia tetap berjuang untuk tidak bertindak lebih. Karena, merasakan bagaimana kakunya gadis ini di dalam kungkungannya, bagaimana tegangnya gadis ini kala ia berhasil menciumnya, yang jika respon tersebut disimpulkan, Ki Bum mampu menebak bahwa… dia sudah mengambil ciuman pertama gadis ini.

Entah sudah berada dalam detik keberapa. Waktu serasa berhenti berputar hingga Ki Bum tidak ingin melepasnya, bahkan sangat tidak rela meski tahu ini hanya sekedar memagut. Namun ia menyadari bahwa gadis ini sangat membutuhkan udara cepat atau lambat, itulah mengapa ia mulai melepaskan diri, membuat sedikit jarak demi melihat wajah yang sudah merona padam akibat perbuatannya, dan ia tidak bisa merelakannya begitu saja dengan membiarkan kening mereka tetap menyatu.

Mengamati bagaimana kelopak indah itu mengatup menghalangi iris kecoklatan yang entah mengapa sangat ia harapkan untuk segera muncul dari baliknya. Sebelah tangannya yang sempat bertengger di balik telinga gadis ini mulai bergerak mundur, membiarkan ibu jarinya menyentuh sudut bibir yang sedikit mengilap akibat pagutannya yang memang tanpa pergerakan namun begitu dalam. Memberikan sensasi asing lainnya bagi gadis ini hingga tubuh rampingnya serasa bergetar.

Oh, astaga… ini adalah momen di mana mereka merasakan seperti apa tubuh mereka berdesir begitu hebatnya hingga seperti ada sesuatu yang meletup-letup tanpa dicegah di dalam tubuh mereka. Merasakan bagaimana jantung mereka bertalu-talu sangat di luar kendali mereka sendiri. Sekaligus merasakan bagaimana yang sering dilakukan pasangan kebanyakan kala ingin menyalurkan perasaan mereka melalui perilaku ini.

Sungguh. Mendebarkan.

“Kau sudah membuatku lepas kendali seperti ini,” suara parau yang sarat akan kefrustasian itu mengalun dari mulut Ki Bum. Ia berjuang untuk tidak menunjukkan geramannya dan berakhir dengan dirinya kembali menyatukan bibir mereka dan melakukannya secara bar-bar. Tidak, tidak. Membayangkannya saja sudah membuat Ki Bum merasa panas. “Kau berhasil, Park Soo Rin. Kau berhasil membuatku sepenuhnya menatapmu, bahkan tidak mampu mengalihkannya lagi. Kau dengar?”

Soo Rin menelan saliva lamat-lamat sebelum memberanikan diri membuka mata, namun ia harus merasakan jantungnya kembali bergemuruh kala melihat lelaki ini menatap penuh minat padanya dalam jarak yang hampir tak terkikis seperti ini, hingga terpaksa ia menundukkan pandangannya. Dan memilih untuk tetap diam. Mengatur napas sebaik mungkin. Oh, tidak lucu jika penyakitnya kambuh karena perilaku lelaki ini, bukan? Itu akan merusak momen langka mereka ini!

“Kau benar-benar tidak bisa mundur lagi…” gumam Ki Bum tertahan. Ia menjauhkan wajah mereka, menatap lebih leluasa wajah yang sedikit tertunduk dengan semburat merah menghiasi kedua pipinya. Menyentuh dagunya dengan jemarinya lalu mengangkatnya hingga ia berhasil mengunci iris kecoklatan itu oleh mata hitamnya. “Perlu kau ketahui bahwa sekalinya aku mengklaim sesuatu menjadi milikku, aku benar-benar tidak akan melepaskannya dan akan selalu berada dalam kuasaku. Dan kau… adalah gadis pertama yang mendapatkannya.”

Sial, sial, sial! Ki Bum benar-benar kewalahan menahan hasratnya untuk mendaratkan ciuman di bibir yang sedikit terbuka itu! Sadar tidak sadar ia kembali mendekati wajah gadis ini dan berhenti tepat di sudut bibirnya. Melontarkan sumpah serapah di dalam hati, merutuki kinerja tubuhnya yang sudah jauh dari kendalinya. Terpaksa ia memejamkan mata rapat-rapat, menghirup napas dalam di sana, dan memilih untuk kembali berkata…

Kau adalah milikku, Park Soo Rin. Mulai sekarang. Hingga nanti.

Dan Soo Rin harus merasakan sengatan listrik kembali menyerangnya kala lelaki ini mengucapkan kata-kata tersebut. Tepat di sudut bibirnya.

Ya. Soo Rin memang tidak bisa mundur lagi. Karena Ki Bum bersumpah untuk tidak akan melepaskannya. Entah sampai kapan. Berharap memang sampai nanti.

tp2


atuhlah, maafkan daku yang udah berani posting part ini hahahah

mohon untuk tidak baper setelah baca ini ya ;w; ngga lah ya.. aku sendiri ga yakin ini nge-feel atau ngga hihihihi >..<

Jadi, gimana? Udah ketebak siapa Kim Ki Bum – Kim Sang Bum? Pada awalnya aku emang milih Kim Bum karna dia punya nama sama kayak Ki Bum, beda di tengah doang Ki sama Sang kan kayak nama kakak-adek di sana gitu~ paras mereka juga ‘hampir’ sama jadi menurutku cocoklah jadi sodara wks XD

maksa ya? hwhw ㅠㅠ

oke! Terima kasih sudah mampir! ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

31 thoughts on “Two Person – Flashback

  1. apa aq yg pertama???:-D:-D
    aq suka bgt baca fanfic kiSoo soalny aq emg biasny kibum oppa,
    dan utk siska, semangat trs lnjutkn karya terbaikmu,, hehehehe…..

  2. kan kan kibum mah cool kan, jadi suka hehe.. suka bgt sama kisoo couple , tinggal nunggu kibum baikan deh sama sodaranya.. next chap kisoo romance moment ya min

  3. Mampus. Mampus.
    INI.PART.MENEGANGKAN!!!!
    APA INI ? APA INI ? MENGAPA JADI BEGINI?
    OH NO! Reaksi tubuhku sangat luar biasa.
    Kenapa perutku rasanya digelitik begini.
    Ahh… Dampaknya sangat besar, kakak.
    Kau selalu berhasil memberikan ‘Efek-Efek’ aneh.

    KIM KI BUM! KAU SANGAT GENTLE!
    Tapi kenapa kau kelihatan begitu AGRESIF.
    Tenang saja, Soo Rin bakal jadi milikmu selama kau hidup-You know I mean.
    Lindungilah dia, selagi lampu hijau masih menyala dari kakak ANGEL-ku. Dan tolong, dekatkan aku dengan JIMIN TvT .
    Satu saranku. Tak ada yang salah jika kita mendengarkan, Kim Ki Bum.
    Sangatlah baik jika kau mendengarkan penjelasan dari abang ganteng Kim Sang Bum.
    Seharusnya sesama orang ganteng, jangan saling mendahului -.-
    Berbaikanlah! Dengar?
    Karena bagaimanapun kalian itu Saudara.

    Dan Park Soo Rin, enak sekali jadi dirimu dikelilingi orang ganten. Ga abang, ga adek, ga gebetan, ga kenalan cakep semua. Daebak!
    Penyakit pernafasan kan? Kenapa dicium Ki Bum begitu tak sesak? Atau mungkin karena Ki Bum obatnya????
    Hoho. Selamat atas peresmian ‘Milik Kim Ki Bum’
    Akhirnya yah. Perjuanganmu menghasilkan ‘Buah’ juga.
    Congrat!!!

    Dan kakak yang ku sayangi #mampuslebaymodeon . Kenapa dan kenapa. Tulisanmu memabukkan. Aku juga pengen kayak gitu. Tulisanku selalu ‘Hancur’.
    Ajari adkmu ini kak. Darimana belajar bermain kata begini.
    Ah sudahlah. Komenanku panjang, tapi ga ada yang penting. Bhay!

  4. Huweeeeehhh mewek aku…..
    Mataku bnr” banjir ;( sdih bngt pas kibum menceritakan masalalunya……
    Ehh ujung”nya bikin tegang kkkkk # colek soo rin , cie cie yg dapt ciuman dari si jenius berotak mesum kkkk

    puas bngt bacanya apa lagi perasaan sorin sudah terbalas…
    Soorin siap” sja untuk dakdikduk hahaha…….
    Penasaran dlm hubungan kissu” konplik apa yg akn d dapat, apa sangbum yg brusaha meraih hati soorin….akh gk tau lah ditunggu aja lanjutan dari authornya…
    Gereget benr sama karya”mu

    salam dari song hajin

  5. Hewhew, suka banget sama part ini eonn.. Ah ani, suka sama semua kisukisu series buatanmu.. Ga bisa ketebak jalan ceritanya ><
    Selalu keren seperti biasa, ditunggu part selanjutnyaa ^^

  6. part awl smp prtengahan feel ny sdih bgt 😦
    smp aq ikt mewek…

    eh mndekati akhr mlah heboh sndri aq,smp guling2 dikasur smbl triak2 g jls gra2 imajinasi q yg mlai mnggila.ha3x… 😀
    dag dig dug rsa ny wkt kibum blg kl soorin tu mlik ny…
    aq jg mw jd mlik kibum #ditendangKyu 😛

    WOW BGT pkok ny 😉
    ditnggu slnjt ny 🙂

  7. Alhamdulillah akhirnya masa lalunya di publish juga … tapi masa lalu mereka serem banget apalagi pas adegan terkapar serasa nyata gitu … tapi belum puas ah min soalnya masih penasaran ama kelanjutan ceritanya sang bun ama ibunya kim bum kaya ada secret gitu … di tunggu yah nextnya min ..

  8. Dohhh~
    Aku tegang bacanya kak, juga senyum-senyum sendiri kyk orang gila dari tadi
    Mereka so sweeetttt bangettt, kapan aku punya pacar kyk si Genius berotak mesumm /? Dia romantis bangettt, bikin melelehhh~ #lebayy

    YOSH !!! Segitu aja, tetap semangat nulis kak siska, semoga lombanya di beri kelancaran, Aminnnnnn~

  9. ternyata ki bum sama sang bum saudara tirii. pantes ki bum benci bgt sama sang bum. tp mereka kayanya masih salah paham masak iya sang bum membunuh ibu ki bum. moga aja soo rin bisa menengahi sehingga mereka akur 😀 🙂

  10. Arghhh aku diubek2 di part ini, nangis T-T dan jg ngfly bacanya…😍😍😍

    Ki bum arghhhh greget bgt sa si abang ini, sukaaaaaa… manis bgt 😍😍😍

    Kibum dan Sang bum ternyata saudara tiri, gak nyangka… bgs sekali ceritanya gak kebaca alurnya DAEBAK lah pokoknya 👍

    Ditunggu cerita manis KiSoo lainnya 😘😘😘

  11. bener- bener diluar dugaan..
    ternyata ki bum ma kim bum satu ayah beda ibu… makin penasaran aja thor, author jago bikin penasaran.. keren pokok nya.. buat authornya tambah semangat ya…

  12. oh .. ohh apa ini part yang menegangkan sekaligus mendebarkannnnn >///< ..

    Sang Bum dan Ki Bum bersaudara ternyata. dilihat dari cerita Kibum aku bisa merasakan kebencian yg sangat besar. perkelahian mereka juga sangat menyeramkan sampai bisa menghilangkan nyawa duhhhhh syeram.

    Soorinnnn aku iri tauuuuuuu dapat kisseu dari Kibum aku juga mau *duaggggg mulai saat ini Soorin akan terperangkap di antara dua saudara Kim (?) yahh berharap masalah mereka berdua cepat selesai dan Kibum kuharap kau mau mendengarkan Sang Bum eohh

    part lanjutannya cepat di post ya Siskaaa penasaran binggo kkkkkk

  13. hah ternyata eh ternyata sangbum sodaranya kibum toh hohoho aku mau dong jadi soorin yg udah jadi hak milik kibum tanpa diganggu gugat wkwkwk

  14. 😮 fakta yang mencengangkan
    Rasanya aku belum liat Jimin kambuh *plakk

    kisukisu momentnya beneran buat aku baper >.<
    Feelnya dapet banget Eonni, sampe ikut berdebar ketika Kibum mencium Soorin *plaak

    Entahlah, aku suka Kibum yang lepas kendali…hihi…

    Next partnya ditunggu Eonni 😀 Dan makasih udah ditag di fb ^^

  15. Masa lalu mereka terungkap jelas disini >.<
    Ohh kim kibum, malangnya nasib mu nak *peluk cium kibum* #digetokSoorin XD
    Dan seperti biasa author selalu membawa pembaca ke alam (?) fanfictionnya ini. Good job authornim, fighting ne ^^
    Aku baca dan koment FF mu di event itu, moga aja ngebantu. Smoga brhasil untuk eventnya. Fighting!!!

  16. ಠ_ಠ
    yaah siskachii ko udahan siiiiihhh ;;;;
    aku udah kebawa nih x'(
    ya ampun aku sebenernya sempet ngerasa ganjil sama nama kibum-sangbum pas awal2 kimbum muncul.
    “Eh namanya hampir sama an ya. kayak kakak adek di korea gitu, haha haha HAH jangan2 mereka sodara! …. ah ga mungkin lah yaa, aku mikir apaseeh ~ (︶︹︺)”
    TAPI ya ampun disini aku kaget demi apa TwT
    malahan sampe rumit ke ibunya kibum yg dibunuh sangbum.
    nice nice!! siskachii ngebawainnya bagus banget. bikin pembaca ga nyangka dagdigdug dan aku selalu takut baca yg scene berkelahi hwhw TwT
    kim kibum sama soorin, emang bener ya, kadang orang yg senasib(?) sama kita itu bisa jadi orang yg paling nyaman buat dideketin :’)) /sotoy/
    ditunggu cangat ya next chapt nya~ ( ´∀`)♥
    eniwei, ga dosa kan baca kisseu scene nya (/.\)

  17. dan ternyata kibum dan sang bum sodaraan,sampai kepada cerita kelam mereka dan soo rin juga. feelnya berasa banget kak.•﹏• gak heran ceritanya mendebarkan dan bikin terhanyut hwhwhw(*¯︶¯*) suka banget

  18. hay, lama tak berkunjung kesini. bru punya kuota. kangen sama blog ini 🙂 aku ngebut baca two person dan baru komen di sini. mian. ohya, aku dri sang bum mulai muncul udh ngefeel klo mereka sodara loh tapi yg aku bingungkan wktu itu knp sodara kok saling membenci? ternyata di part ini jawabannya. entah aku yang cengeng atau apa tapi part ini bikin mataku berkaca-kaca masa huhuhu dan pas mereka kisseu ukh itu bikin greget tau ga!!? berdebar jantung ini hhh

  19. ngga nyangka kl masa lalu bakal kelam gini eon,awal2 terhanyut dalam cerita kim ki bum tp pas akhir kenapa kim ki bum yg cool bisa berubah jd sweet gitu dan ahh aku suka>< xD akhirnya dia bener2 udh jatuh dlm perangkap park soo rin atau malah soo rin yg jatuh dlm perangkap kim kibum? xD keren thor seriusan ga boong keren!!!! di tunggu kelanjutannya!! xD

  20. “karena itu, biarkan aku menjadi orang itu untukmuㅡㅡ” aish, kenapa disini mereka so sweet banget/?
    jadi ceritanya gitu, tapi eomma kibum ga nyuruh kibum buat mukul sangbum pake tongkat baseball kan…?? :3

  21. Omaygad First Kiss mereka di part ini otak volos aku terkontaminasi :v , Soo Rin biasanya polos berubah jadi dewasa manis banget ih ^^, menurut aku pasti Ki Bum salah paham sama Sang Bum , ternyata Masa lalu Ki Bum cukup menguras air mata aku T.T , pantesan Ki Bum sadis dan menakutkan ternyata dia anak BrokenHome T.T , akhirnya Ki Bum udah klaim Soo Rin miliknya aaaa so sweet banget deh Ki Bum ^^

  22. Ternyata masa lalu kibum benar-benar kelam. Keluarga yang hancur ketika masih berusia belia. Lalu kalau memang sangbum bersalah, kenapa sepertinya heechul terlihat sangat menyayangi sangbum layaknya kakak kepada adiknya. Akhirnya kibum benar-benar menyukai soorin, status mereka jadi lebih jelas. Tapi gimana dengan jungsoo?

  23. Kibum dan Sang Bum sodaraan ternyata, dan nggak nyangka kalau masa lalu mereka bisa sekelam itu.
    Dan.. Kibum romantis banget ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s