Posted in Category Fiction, Chaptered, Family, KiSoo FF "Two Person", PG, Romance, School Life

Two Person – Chance

Prev :: #1.Nerd and Innocent | #2.Aggressive | #3.Control | #4.Can (not) Stop | #5.Do (not) Stop | #6.Start Again, Meet Again | #7.The Real Kim Ki Bum | #8.About Park Soo Rin | #9.Missing | #102person-pt10

Genre :: School Romance

Rated :: PG

Length :: Series

||KiSoo||

Happy reading, Yoo~!! ^^

ㅡㅡ

When he got a chance…

ㅡㅡ

JUNGSOO membenarkan selimut yang dikenakan Soo Rin hingga menutupi batas dada. Sepasang matanya menatap sendu sang adik yang sudah terlelap dengan tenangnya setelah kejadian yang menimpa satu jam lalu. Masih terbayang bagaimana paniknya Jung Soo melihat adiknya tidak berdaya setelah dirinya membentak sekaligus meneriakinya.

Jung Soo tidak pernah berniat untuk membuat adiknya ini kambuh akibat ulahnya.

Karena rasa khawatirnya yang terlalu berlebih, ditambah dengan Soo Rin yang membantahnya, telah memancing Jung Soo untuk mengeluarkan amarahnya yang telah membutakan sifat hangatnya. Dia hanya ingin adiknya menurutinya karena menurutnya itulah yang terbaik. Namun dia tidak menyadari bahwa kelakuannya yang terbilang kasar membuat adiknya kesakitan.

Jung Soo tidak pernah semarah ini. Jung Soo tidak pernah seemosi ini. Hanya karena adiknya membantahnya. Jung Soo sudah berkali-kali dihadapi sifat Soo Rin yang selalu merengek jika keinginannya tidak terpenuhi. Jung Soo juga sudah berkali-kali dihadapi oleh sifat nakal Ji Min. Tetapi Jung Soo tidak pernah terpancing hingga sejauh ini. Memarahi adiknya seperti orang kesetanan dan hampir merusak pintu kamar adiknya.

Menghela napas panjang nan berat, sebelah tangannya bergerak mengusap penuh kasih sayang puncak kepala Soo Rin. Menatap sedih adiknya yang kini sudah bernapas teratur meski bertempo sedikit cepat di dalam tidurnya. Matanya yang semakin meredup tampak berkaca-kaca di dalam ruangan yang sudah remang ini. Sungguh, Jung Soo merasa sangat bersalah kali ini.

“Maafkan Oppa…”

Entah sudah yang keberapa kali Jung Soo mengucapkan itu. Jung Soo hanya berharap adiknya setelah ini tidak takut padanya, apalagi membencinya akibat kejadian tadi. Jung Soo terlalu menyayangi adiknya ini. Dan Jung Soo tidak peduli jika ucapannya tidak terespon mengingat sang adik sedang terlelap saat ini. Membungkukkan tubuhnya, Jung Soo mendaratkan kecupan sayang di kening berponi Soo Rin. Cukup lama.

Matanya kemudian menatap benda yang tergeletak di atas nakas ketika hendak bangkit dari pinggir tempat tidur. Ia ingat sempat membereskan isi tas adiknya yang berserakan di atas lantai dan meletakkan benda itu ke atas sana. Diraihnya benda tersebut setelah melirik sejenak kondisi adiknya yang masih tenang di dalam lelap, barulah ia menyalakan benda tersebut.

Jung Soo mulai mengutak-atik ponsel milik Soo Rin.

****

Gadis itu mulai menggeliat di tempat tidurnya, pupil di balik kelopak matanya bergerak-gerak sebelum akhirnya terbuka perlahan. Matanya langsung dihadapkan dengan jendela kamar yang masih terhalang tirai, menampakkan semburat bias terang di balik sana seolah menunggu untuk masuk. Menyadarkannya untuk segera mendudukkan diri.

Segera saja matanya bergerak mencari-cari kemudian meraih ponsel—benda yang dicarinya—dari atas nakas, menyalakan layarnya hingga matanya melebar begitu melihat waktu yang tertera di sana.

Oh, astaga, Soo Rin terlambat ke sekolah!

Pintu kamar segera terbuka kala Soo Rin sudah menyibak selimut tebalnya, menurunkan kedua kakinya dan menginjak dinginnya lantai. Niatnya untuk segera ke kamar mandi harus tertahan begitu melihat Jung Soo ternyata masuk ke kamarnya dalam keadaan sudah rapih. Tersenyum canggung padanya.

“Kau sudah bangun, ternyata,” gumam Jung Soo seraya melangkah mendekati Soo Rin.

Gadis itu menunduk kala Jung Soo sudah mendudukkan diri di sebelahnya. “O-oppa, kenapa tidak membangunkanku? Aku terlambat…” entah ini bisa disebut sebagai bentuk protes atau tidak. Karena Soo Rin juga mulai merasa canggung di hadapan kakaknya ini. Sekaligus merutuk di dalam hati karena baru menyadari bahwa dirinya bahkan masih mengenakan seragam sekolah untuk kemarin. Hanya blazer seragamnya yang sudah tanggal entah ke mana.

Oppa memang sengaja tidak membangunkanmu,” Jung Soo melihat adiknya akhirnya mendengakkan kepala, menatap bingung kepadanya sekaligus menunjukkan bentuk protes di kedua irisnya. Jung Soo akhirnya mengulas senyum lepas sebelum memberanikan diri mengusap belakang kepala sang adik, “Oppa ingin kau bersitirahat di rumah hari ini.”

Oppaa,” terdengar Soo Rin mulai merengek. Tanpa sadar ia sudah menggenggam bagian pinggang kemeja Jung Soo, menarik-tariknya seperti anak kecil. “Aku ingin sekolah!”

Jung Soo tersenyum semakin lebar lalu menggeleng. “Hanya sehari, Soo Rin-ah. Oppa hanya ingin kau kembali sehat.”

“Aku sudah merasa sehat!” Soo Rin mengembungkan kedua pipinya. Membuat kakaknya itu terkekeh geli. Well, sepertinya Soo Rin sudah tidak mempermasalahkan hal yang sempat terjadi di antara mereka.

“Untuk kali ini saja, jangan membantah Oppa, hm?”

Soo Rin tercenung di tempat. Matanya yang masih mengantuk kini mengerjap mencerna. Ada yang aneh dengan kalimat Jung Soo. Bukan karena nada bicaranya yang lembut, melainkan makna dari perkataannya.

Kenapa Jung Soo memerintah seperti itu?

Bukankah semalam Jung Soo begitu marah karena Soo Rin membantahnya? Tapi kenapa Jung Soo menginginkan Soo Rin untuk tidak membantah satu kali?

Lalu bagaimana dengan kemarin?

****

Ki Bum yang merasa bosan karena masih belum diperbolehkan untuk sekolah, hanya mendesah panjang di atas tempat tidur. Padahal waktu masih pagi dan biasanya dia lebih memilih untuk menghabiskan waktu hukumannya dengan tidur panjang sekaligus bermalas-malasan. Namun sekarang, dia ingin sekali melakukan kebiasaan di waktu dirinya sudah sampai di depan gerbang sekolah lalu disambut oleh Soo Rin.

Ugh, sampai kapan dia akan merasa begitu hampa seperti sekarang ini?

Astaga, padahal baru kemarin dirinya bertemu dengan Soo Rin. Bahkan sampai menjelang malam dia terus dibuat kewalahan oleh gadis itu di rumah sendiri. Tapi kenapa dia ingin direpotkan oleh gadis serampangan itu lagi? Kenapa dia ingin bertemu dengan Soo Rin lagi? Oh, dan ini masih pagi. Dia baru berpisah dengan gadis itu 12 jam lamanya!

Aishi!!” Ki Bum bangkit dari tidurnya, mengacak-acak rambutnya seperti orang frustasi—yah, sebenarnya dia memang sedang frustasi karena dia tidak mengerti kenapa dia merasa tersiksa seperti ini hanya karena tidak melihat gadis itu. Bukankah sebelum-sebelumnya dia biasa saja tidak melihat gadis itu seharian penuh? Bahkan lebih dari sehari.

Drrrtt… drrrtt…

Ki Bum berhenti menyiksa diri lalu menoleh cepat ke belakang. Melihat ponselnya yang tergeletak di sebelah bantal kini tengah bergetar menandakan ada panggilan masuk. Segera ia sambar benda tersebut demi melihat siapa yang sudah meneleponnya sepagi ini. Barulah keningnya mengerut membentuk beberapa lipatan, melihat nomor kontak yang tertera di layar sentuhnya.

Menggeser tanda jawab, Ki Bum menempelkan ponselnya ke sebelah telinga, dan menyapa, “Halo?”

“Ini aku.”

Mata tajam Ki Bum melebar.

****

Terlihat Soo Rin hanya mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur. Ia sudah berganti pakaian menjadi pakaian rumah, juga sudah menyantap sarapan yang ditinggal oleh Jung Soo di meja makan, dan kini Soo Rin merasa bosan karena Jung Soo sudah memeringatinya untuk tidak keluar rumah serta beristirahat di kamar. Dia bahkan seorang diri di rumah. Ji Min tentu saja sedang bersekolah. Sedangkan Jung Soo sudah berangkat ke rumah sakit.

“Oppa usahakan untuk pulang cepat hari ini,” itu adalah pesan terakhir Jung Soo sebelum keluar dari rumah meninggalkannya.

Soo Rin mendesah panjang kala tubuhnya kini berhenti bergerak dan membiarkannya telentang di tengah tempat tidur, memeluk erat gulingnya seraya menatap hampa langit-langit kamar berwarna putih gading. Sebenarnya ia ingin sekali menghubungi Kim Ki Bum dan mengeluh bahwa hari ini dia tidak masuk. Tapi jika lelaki itu meminta penjelasan, Soo Rin tidak tahu harus menjawab bagaimana. Lelaki itu pasti sudah tahu penyebabnya, hanya saja jika ditanyakan alasannya, apakah Soo Rin harus menjawab jujur bahwa itu karena dia berdebat dengan Jung Soo mengenai lelaki itu?

Yang ada Kim Ki Bum kembali merasa bersalah padanya.

Soo Rin juga sadar bahwa kejadian kemarin—sekaligus dengan topiknya itu tidak boleh dia ceritakan pada Kim Ki Bum. Itu topik yang sangat sensitif dan bisa berdampak dengan hubungan mereka yang sudah semakin dekat…

Err, mengingat status mereka yang semakin dekat, tiba-tiba saja Soo Rin mengulas senyum konyol hingga kedua pipinya muncul semburat kemerahan. Pikirannya sudah teralih pada kedekatan mereka yang semakin tampak. Apalagi mengingat bagaimana Kim Ki Bum sudah mulai memerhatikannya, tersenyum padanya, bahkan sering mengusap gemas puncak kepalanya. Oh, tidakkah itu terlihat bahwa Kim Ki Bum semakin terbuka padanya? Apalagi Kim Ki Bum juga pernah memeluknya…

“Hihihi!” Soo Rin terkikik geli mengingatnya, kedua tangannya sudah menangkup wajahnya yang mulai terasa panas. Lihat saja, wajah manisnya itu semakin merona saja. Apalagi ia juga merasakan benaknya berdesir-desir tak karuan. Oh, ya ampun, sepertinya Soo Rin mulai tidak waras—lagi. Dia pun kembali mengguling-gulingkan tubuhnya ke sana kemari. Seperti anak kecil.

Jatuh cinta memang mengerikan. -_-

Drrrtt… drrrrtt…

Soo Rin segera menghentikan aksi konyolnya kala mendengar ponselnya bergetar di atas nakas. Sebelah tangannya terulur demi meraih benda tersebut lalu melihat layar sentuhnya. Langsung saja tubuhnya bangkit hingga terduduk dengan tegaknya begitu melihat siapa yang tengah melakukan panggilan untuknya.

Berharap Soo Rin sedang tidak bermimpi mendapati nama Kim Ki Bum tertera di layar ponselnya dan tengah melakukan panggilan padanya. Soo Rin bahkan harus menampar sebelah pipinya hingga akhirnya meringis sendiri. Well, dia memang tidak bermimpi. Kim Ki Bum memang tengah meneleponnya untuk yang kedua kali!

Ibu jarinya sedikit bergetar kala menggeser tanda jawab. Jantungnya mulai berdebar gugup kala menempelkan ponselnya ke sebelah telinga, lalu menyapa, “Yeoboseyo?”

“Kau di rumah?”

Soo Rin merasa senang dapat mendengar suara berat itu lagi, namun di sisi lain ia harus kebingungan mendapatkan pertanyaan tiba-tiba dan tak terduga dari seberang telepon sana. Mata jernihnya bahkan harus mengerjap berkali-kali sebelum menyahut, “Ne?”

“Kudengar kau tidak masuk sekolah hari ini.”

E-eo? Dari mana kau tahu?” Soo Rin mulai mengernyit bingung. Rasanya dia belum mengabari apapun pada Kim Ki Bum. Dia sendiri juga tidak mengabari ke sekolah karena Jung Soo yang mewakilinya melapor diri ke sekolah. Dan setahu dia tidak mungkin pihak sekolah memberi kabar ketidakhadirannya kepada Kim Ki Bum. Heol, memangnya penting sekali?

“Oppa-mu mengabariku.”

NE?!” Soo Rin hampir berteriak saking terkejutnya. “Ba-bagaimana bisa… O-oppa mengabarimu?”

“Dia meneleponku.”

Soo Rin tercenung sesaat. “Apa?”

“Kau memberi tahu nomor ponselku padanya?”

“Ti-tidak!” Soo Rin menggeleng cepat tanpa sadar. “Aku tidak pernah membagi nomor ponselmu pada oppa-ku!” kemudian Soo Rin tampak berpikir. “Tapi… untuk apa oppa-ku mengabarimu?”

“Menemanimu.”

Ne?”

“Aku diperintahkan untuk menemanimu yang sedang sendirian di rumah.”

“M-maksudmu… kau ingin datang ke rumahku?” mata Soo Rin mulai berbinar-binar.

“Tidak.”

Seketika wajah Soo Rin tertekuk, cemberut. Ia bahkan mendesis lucu.

Tanpa sepengetahuan Soo Rin, Ki Bum sudah tersenyum geli mendengar desisan yang tertangkap telinganya. Dia menjadi tidak yakin bahwa gadis itu sedang sakit saat ini karena… seperti biasa Ki Bum mendengar suara merdu itu penuh antusias. Well, seandainya dia tahu alamat rumah gadis itu, mungkin Ki Bum sudah nekad pergi ke sana. Persetan dengan kakak sang gadis yang bisa saja mengamuk jika melihatnya berani menginjakkan kaki di sana. Tapi setidaknya dengan ketidaktahuannya ini, dia bisa menahan diri untuk tidak keluar rumah dan melakukan aksi di bayangannya saat ini.

“Kau kenapa? Kambuh lagi, hm?” Ki Bum akhirnya bertanya, dengan halus.

Eum… tadi malam. Sebenarnya aku sudah merasa baik, tetapi Oppa menyuruhku untuk istirahat penuh hari ini.”

“Begitu…” gumamnya seraya mengulas senyum tipis. Setidaknya sekarang ia bisa bernapas lega karena jawaban itu terdengar ringan dan lepas. Percayalah bahwa dia sempat panik kala mendengar dari Jung Soo bahwa gadis itu baru saja kambuh semalam dan saat ini tidak masuk sekolah.

“Semalam terjadi sesuatu di antara kami hingga berakhir dengan dirinya kambuh. Kami berdebat mengenai dirimu. Adikku terus membelamu dengan terus menentangku. Dan aku tidak bisa membiarkannya terus membantahku seperti itu,” masih terngiang penjelasan Jung Soo kala pria itu meneleponnya. Mengeluhkan ketidaksukaannya dengan nada yang dingin dan sangat jelas menyimpan rasa tidak suka sebelum akhirnya menyampaikan sesuatu padanya.

Bagaimana Ki Bum tidak merasa bersalah karena Soo Rin lebih memilih dirinya dibandingkan kakaknya itu? Bukankah itu tidak ada bedanya dengan dirinya yang berhasil menghasut gadis penurut seperti Park Soo Rin sampai-sampai dia dibela oleh gadis itu dan memilih melawan kakaknya sendiri?

“Tapi, Kim Ki Bum, apakah oppa-ku hanya berkata mengenai kondisiku padamu?”

Ki Bum harus sedikit tersentak sebelum kembali merenung. Dia tidak mungkin mengatakan semuanya jika dia tidak ingin membuat gadis itu khawatir, bukan? “Eo, dia hanya mengatakan hal itu padaku.”

“Apakah oppa-ku mengatakan hal lain? Seperti… bagaimana bisa aku kambuh?”

“Dia berkata bahwa kau terlalu lelah semalam.”

Ada jeda sesaat sebelum gadis itu kembali bersuara, “Aneh…”

Eo, memang aneh,” gumam Ki Bum mencoba sesantai mungkin. Karena dia memang sedang berbohong saat ini.

Tentu saja aneh jika Jung Soo yang tidak suka pada Ki Bum, menghubungi Ki Bum dan hanya mengatakan untuk menemani Soo Rin. Bahkan Soo Rin harus mengerutkan kening di atas tempat tidur serta melakukan jeda kembali untuk merenunginya. Sebelum akhirnya Ki Bum kembali bersuara di seberang telepon…

“Setidaknya aku akan menjadi teman bicaramu hari ini.”

Ya. Setidaknya untuk saat ini Ki Bum mampu bernapas lega karena kakak dari Soo Rin memberinya sebuah kesempatan. Bahkan pria itu mengizinkannya untuk menghubungi sekaligus menemani gadis itu. Lupakan soal penjelasan mengenai sebab-akibat Soo Rin menjadi seperti sekarang dan berakhir dengan Ki Bum yang sempat mengutuk diri sendiri. Setidaknya dia bisa menebus kesalahannya dengan melakukan ini.

Memperlakukan Soo Rin dengan lebih baik lagi.

Senyum manis segera terbit di bibir kecil Soo Rin. Sudah tidak dihiraukan lagi keanehan Jung Soo di pikirannya. Kini berganti dengan rasa senang yang tak terbendung kala mendengar ucapan lelaki itu yang memberinya kebebasan untuk terus bisa mendengar suara berat tersebut.

Entah karena mereka memiliki ikatan batin yang kuat atau karena waktu yang memang sudah mengaturnya, keduanya bersamaan menjatuhkan diri di atas tempat tidur, mengulas senyum manis yang tidak akan terlihat oleh lawan bicara, dengan memegang ponsel yang menempel di sebelah telinga, mereka mulai larut dalam komunikasi dua arah tersebut. Menghabiskan waktu yang cukup panjang dengan berbicara tanpa batas, saling melepas rindu secara tersirat.

****

Jung Soo baru saja memarkirkan mobilnya di lapangan parkir rumah sakit. Ia tidak segera keluar dan memilih untuk merenung di kursi kemudinya. Memikirkan apa yang sudah ia lakukan tadi.

Semalam ia mengutak-atik ponsel milik adiknya dan menemukan nomor kontak Kim Ki Bum di sana. Tanpa berpikir dua kali, Jung Soo menyalin nomor tersebut lalu menyimpannya dalam kontak ponselnya. Hingga akhirnya, ia berani menghubungi nomor tersebut setelah melaporkan diri ke sekolah Soo Rin bahwa adiknya itu tidak bisa hadir.

Jung Soo tidak bisa terus-terusan mengekang kemauan Soo Rin yang ingin tetap bersama lelaki itu. Sudah cukup dirinya membuat adiknya yang tidak bisa tertekan terpaksa merasakannya akibat ulahnya yang terlalu mengkhawatirkan sang adik. Jung Soo sendiri tidak mengerti kenapa dirinya mengabari Kim Ki Bum mengenai kondisi adiknya saat ini. Setelah perdebatan yang mengakibatkan adiknya kembali kambuh, Jung Soo merasa tidak tenang hingga tanpa sadar dia meminta tolong pada lelaki itu.

“Melihat bagaimana adikku tidak mau kehilanganmu, aku mungkin harus memberimu sebuah kesempatan,” masih diingatnya percakapan bernuansa canggung nan dingin itu saat ia memilih untuk melakukannya dalam perjalanan menuju tempat kerjanya. Dan ia serasa mempertaruhkan harga dirinya sendiri kala mengucapkan kalimat itu.

Semua itu demi adik perempuan satu-satunya.

Menghela napas panjang, kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangan, barulah Jung Soo keluar dari mobilnya—setelah mengambil tas kerja yang tergeletak di bangku penumpang di sebelahnya. Melangkah memasuki gedung rumah sakit tempat dirinya bekerja.

Semoga pilihannya untuk memberi sedikit kelonggaran itu tidaklah salah.

****

“Kim Ki Bum.”

Hm?

Soo Rin membenarkan gulingnya yang masih betah menjadi objek pelukannya. Wajahnya tampak tengah menimang-nimang seraya menatap langit-langit kamar. Masih dengan sebelah tangan menahan ponselnya untuk tetap di depan telinga, ia akhirnya bertanya, “Apa kau pernah bertemu Jung Soo Oppa sebelumnya?”

Di seberang sana, Ki Bum tertegun sejenak. Ia bahkan menelan saliva terlebih dahulu sebelum akhirnya menjawab, “Eum.”

“Kapan?”

“Saat aku dilarikan ke rumah sakit tempat oppa-mu berada.”

Soo Rin mengerjap bingung. “Kau pernah masuk rumah sakit?”

Eo.

“Karena apa?”

“Aku terluka parah—” Ki Bum menggantungkan ucapannya sejenak. Ia sedikit tercekat, “setelah bertarung hebat.”

Mata Soo Rin membesar. Dia mulai membayangkan seperti apa bertarung hebat yang Ki Bum maksud. Karena menurutnya apa yang dia lihat kala lelaki itu bertarung dengan Kang In sudah termasuk hebat hingga membuat lelaki itu babak belur bahkan membuat Kang In dilarikan ke rumah sakit. Bukankah itu berarti yang Ki Bum maksud seharusnya bukan hebat lagi, melainkan dahsyat?

“Apakah masih terasa sakit?”

Ki Bum tersenyum mendengar pertanyaan konyol itu. Sebelah tangannya yang bebas terangkat lalu terjatuh di atas keningnya, mengistirahatkannya di sana. “Sedikit,” jawabnya kemudian.

“Apa itu terasa karena kau bertarung lagi dengan Kim Young Woon?”

Eum.

Euh… tunggu dulu. Apa itu istilahnya?”

Ki Bum sedikit mengerutkan kening mendengar suara merdu itu berdengung tidak jelas, seperti sang empunya sedang berpikir hingga menggumam asal.

“Ah! Cedera! Kau memiliki cedera?”

Lalu harus dibuat hampir menyemburkan tawa mendengar suara itu kembali antusias. Jadi gadis itu sedari tadi sedang memikirkan istilah yang sebenarnya sangat umum diucapkan? Lucu sekali.

“Ya. Seperti itu,” sahut Ki Bum seraya mengulum senyum geli.

Ugh, kau sudah seperti pemain profesional yang memiliki riwayat cedera.”

Menyebalkan! Kenapa ucapan sederhana itu mampu membuat Ki Bum terkekeh-kekeh seperti sekarang ini? Apa karena cara pengucapannya yang dibumbui dengan gerutuan menggemaskan itu? Oh, jika memang sang pemilik suara itu berada di hadapannya, mungkin Ki Bum akan memeluknya dengan erat karena saking gemasnya.

“Aku memang pemain profesional dulunya.”

“Ya. Seorang petarung yang profesional… Jadi benar kau suka bertarung dulu?”

Ki Bum mengerjap kaget mendengar sahutan yang disusul dengan sebuah pertanyaan yang jelas masih tertangkap oleh telinganya. Tunggu, kenapa pertanyaan Soo Rin menunjukkan bahwa gadis itu sudah—

Senyum merekahnya segera memudar.

“Kau pernah membuat seseorang jatuh koma setelah bertarung denganmu?”

Jantung Ki Bum seperti meloncat terjun dari tempatnya. Mulutnya terbuka hendak bersuara namun ia merasa kelu. Tubuhnya yang terbaring di tempat tidur segera bangkit hingga terduduk, mendadak kaku. Dan ia terpaksa menciptakan jeda yang cukup lama.

Oh, astaga, dari mana Soo Rin tahu akan fakta itu?!

Sedangkan Soo Rin langsung menampar mulutnya sendiri begitu menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Astaga, Soo Rin sudah kelepasan bicara! Seharusnya dia tidak pernah mengatakan hal ini dan menunjukkan bahwa dia sudah tahu masa lalu seperti apa yang dijalani oleh Kim Ki Bum!

Bodoh, bodoh, bodoh! Park Soo Rin bodoh! Soo Rin mengetuk-ketuk kepalanya sendiri. Tubuhnya bahkan sudah berubah posisi menjadi terduduk tegang serta memeluk semakin erat gulingnya. Panik bukan main. Tidak seharusnya dia mengungkapkan apa yang sudah dia tahu. Ini sama saja dia membongkar dari mana dia tahu!

“Dari mana kau tahu itu?”

Eoh?” Soo Rin hampir berjengit kaget kala mendengar suara berat itu mengalun lagi. Dan ia mulai merasakan bahwa nada bicara Kim Ki Bum sedikit mengalami perubahan. Berat dan… dingin. “A-aniya! Aku hanya asal bicara. M-memangnya… kau seperti itu?” ugh, Soo Rin sudah tidak mampu berbohong lagi.

Habislah sudah.

Tanpa diketahui oleh Soo Rin, Ki Bum sudah membeku di tempat tidurnya. Pupil matanya membesar setelah berhasil menebak segala pertanyaan yang tiba-tiba bermunculan akibat ucapan Soo Rin. Memancing dirinya untuk mengeraskan rahang hingga mengepalkan tangannya yang bebas.

Kau benar-benar bodoh, Kim Ki Bum!

****

Keesokan harinya, Soo Rin kembali menjalani aktivitas sekolah seperti biasa. Sendirian. Hanya sebatas mengobrol seputar mata pelajaran bersama teman-teman sekelas. Selama ini Soo Rin bahkan lebih memilih untuk melarikan diri ke Ruang Kesehatan dan menghabiskan waktu istirahat dengan mengobrol dengan Goo Hye Sun. Bahkan dokter muda itu rela memesankan makanan untuk diantar ke ruangan demi memastikan bahwa Soo Rin mengisi perutnya meski hanya sedikit. Karena, yah, Hye Sun masih ingat permintaan Jung Soo untuk mengawasi adik pria itu.

Kebiasaan itu menjadi mengakar sejak Kim Ki Bum tidak hadir ke sekolah karena masa hukumannya. Terhitung sudah 17 hari lamanya Ki Bum menjalani skorsing, masih ada sekitar 11 hari lagi sampai lelaki itu kembali masuk sekolah. Sedangkan Soo Rin sudah jenuh karena ditinggal oleh lelaki itu.

Yeah, begitulah anggapan Soo Rin.

Namun semangatnya akan bermunculan kala waktu belajar-mengajar hampir berakhir. Ia bahkan akan segera membereskan buku dan alat tulisnya begitu bel tanda pulang sekolah berbunyi lalu segera melesat keluar kelas setelah menyimpan obatnya seperti biasa. Kebiasaan baru yang satu ini, sudah melekat pada jadwal Soo Rin. Yaitu mampir ke rumah Kim Ki Bum.

Hanya saja, niat untuk segera menghampiri rumah Ki Bum harus ia tahan kala berhasil keluar dari gerbang sekolah. Soo Rin dibuat terkejut kala tiba-tiba Kim Sang Bum muncul di hadapannya dengan raut wajah yang sulit untuk ditebak. Dia bahkan hampir terjungkal jika saja lelaki itu tidak tengah memegang sebelah bahunya.

“Kenapa aku tidak melihatmu kemarin? Kau tidak masuk sekolah?”

Ne?” Soo Rin mengalami keterlambatan mencerna. Dia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan mendadak dari Sang Bum tanpa embel-embel sapaan maupun basa-basi lainnya. Matanya mengerjap beberapa kali, membuat Sang Bum sedikit gemas.

“Aku menunggumu tapi kau tidak kunjung keluar. Kau tidak masuk sekolah kemarin?”

Soo Rin membuka mulut, mencoba untuk berbicara. “Aku—aku memang tidak masuk sekolah kemarin…”

Sang Bum melebarkan mata. Tanpa sadar ia meraih pundak Soo Rin yang lain. Matanya menatap lekat gadis di hadapannya. “Kau sakit?”

Soo Rin mengangguk ragu-ragu. Kening di balik poninya mulai membentuk lipatan. Kenapa lelaki ini tampak khawatir? Oh, tidak mungkin, ‘kan… Kim Sang Bum mengkhawatirkannya? Untuk apa?

“Kau kambuh?”

Dan pertanyaan itu membuat Soo Rin terhenyak. “Kau… tahu?”

Langsung saja Sang Bum merutuki perbuatannya yang sudah gegabah. Sial, kenapa dia lepas kendali seperti ini? “Aku hanya menebak,” Sang Bum berharap jawabannya mampu diterima Soo Rin, ia bahkan menimpali, “Memangnya kau memiliki penyakit?”

Soo Rin mengerjap bodoh. “Aah, hanya sakit biasa. Tidak serius. Hehehe,” ia terkekeh hambar mencoba menetralkan rasa gugupnya sebelum kembali kebingungan. “Tapi kenapa kau menungguku kemarin?”

Sang Bum menghembuskan napas perlahan. “Aku ingin bertemu denganmu.”

“Apa?” Soo Rin melongo bodoh.

Sang Bum sendiri merasa begitu bodoh karena berani mengatakan hal itu. Tidak seharusnya dia mengungkapkannya secara gamblang. Dia bahkan baru menyadari bahwa dirinya sempat khawatir mengetahui gadis ini tidak hadir ke sekolah. Karena sakit. Oh, ya ampun, Sang Bum sedang tidak merasakan sesuatu bukan?

“Hanya… aku ingin mengetahui soal Kim Ki Bum darimu. Kau tahu, bukan? Kami sudah tidak akur dan aku ingin tahu kabarnya karena kau sering bertemu dengannya,” Sang Bum akhirnya mendapatkan alasan yang bisa dikatakan masuk akal. Dan ia dapat melihat gadis ini mengangguk mengerti. Membuat dirinya merasa lega.

Hanya sesaat.

“Kau hanya perlu bertemu denganku jika memang ingin tahu kabarku.”

Sontak keduanya menoleh pada sumber sahutan itu. Soo Rin lah yang bereaksi lebih dulu, melebarkan mata serta mulutnya menganga, memasang raut tercengang kala melihat orang itu sudah berdiri di dekat mereka dengan raut dingin serta wajah yang mengeras, bersamaan dengan tatapan yang menghunus tajam pada lelaki yang masih berada di hadapan.

Tunggu, ini masih di area sekolah. Kenapa Kim Ki Bum datang kemari? Bagaimana jika pihak sekolah tahu dan menambah waktu hukumannya? Apa yang sedang lelaki itu pikirkan?!

Tidak peduli dengan reaksi Soo Rin, Ki Bum melangkah cepat dengan mata menatap penuh pada Sang Bum yang sudah mengumbar raut datar. Batinnya mengeluarkan sumpah serapah karena sempat melihat lelaki itu menyentuh bahkan menatap lekat gadis yang masih terpaku itu.

“Alasanmu justru menggambarkan bagaimana pengecutnya dirimu,” sindir Ki Bum setelah sampai tepat di hadapan Sang Bum. “Jika kau memang ingin bertemu denganku, temui aku, bukan menemuinya. Kau pikir dia adalah perantaramu denganku?” lanjutnya mendesis tajam, menciptakan suara gemelutuk pada gigi-giginya yang mengatup.

Tanpa berkata lagi, Ki Bum meraih sebelah tangan Soo Rin, menarik gadis itu untuk beranjak lalu menggeretnya pergi dari sana. Soo Rin terpaksa berlari-lari kecil demi mengimbangi langkah Ki Bum yang lebar dan cepat. Sebelumnya ia menyempatkan diri menoleh ke belakang, meminta maaf pada Kim Sang Bum tanpa alasan pasti.

Sedangkan Sang Bum hanya mengantar kepergian mereka dengan raut yang belum berubah. Hanya saja, rahangnya kini ikut mengeras mengingat kembali kata-kata pedas yang keluar dari mulut Ki Bum. Well, dia sedikit terpengaruh dengan sindiran itu, namun ada hal lain yang membuat benaknya berangsur memanas. Dia masih tidak terima dengan tatapan muak yang terpancar di sepasang iris hitam itu untuknya. Juga… sedikit mencelos melihat gadis itu dibawa pergi tepat di depan mata.

Sang Bum tidak mengerti kenapa perasaannya menjadi campur aduk seperti sekarang ini.

“Ki-Kim Ki Bum—” Soo Rin ragu-ragu ingin menyapa. Ia sedikit meringis merasakan genggaman di pergelangannya cukup ketat sekaligus menariknya kuat. Dia tidak mengerti kenapa lelaki ini terlihat begitu marah. Apakah karena melihat Kim Sang Bum? Kalau begitu, apakah lelaki ini begitu membenci Kim Sang Bum sampai-sampai melihat sejenak pun dia seperti orang kesetanan seperti ini?

Ia dibuat terperangah kala lelaki ini membawanya hingga ke dekat mobil yang terparkir di pinggir jalan. Jaraknya sekitar 50 meter dari pintu gerbang sekolah. Apalagi ia sempat melihat lelaki yang menariknya ini mengulurkan tangan bebasnya yang ternyata menggenggam sebuah kunci otomatis lalu menekan tombolnya hingga ia mendengar bunyi pip sebanyak dua kali berasal dari KIA Cadenza berwarna hitam keluaran tahun lalu tersebut.

cadenza-hero2-kia

Tunggu, Kim Ki Bum membawa mobil?

Belum selesai kebingungan, Soo Rin sudah dihela masuk ke dalam kursi penumpang setelah Ki Bum membuka pintunya. Lalu berjengit kaget kala lelaki itu membanting keras pintu yang berada tepat di sampingnya tersebut. Soo Rin mulai was-was lalu menangkap situasi bahwa… lelaki itu sedang marah besar.

Tanpa memberi kesempatan bagi Soo Rin untuk bersiap, Ki Bum yang sudah ikut masuk menyalakan mesin mobilnya dan menginjak dalam-dalam pedal gas melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi secara singkat. Mengejutkan Soo Rin hingga tubuh rampingnya terhempas pada sandaran kursi penumpang akibat tarikan pada laju mobil yang begitu besar. Ia mulai menahan napas kala melihat begitu cepatnya benda yang ditumpanginya ini. Matanya bahkan tak sanggup berkedip serta kedua tangannya mencengkeram pinggiran kursi yang didudukinya. Batinnya merapal doa agar ia masih bisa bernapas dengan normal sampai mobil ini berhenti.

Oh, astaga, Soo Rin tidak mengerti kenapa Kim Ki Bum terlihat hendak mengamuk sampai harus melampiaskannya pada mobil ini serta berdampak pada keselamatannya. Soo Rin bahkan semakin mencengkeram kuat pegangannya kala Ki Bum memutar setir begitu tajam hingga mobil ini berbelok keluar menuju jalan raya besar dan menimbulkan decitan nyaring pada ban belakang yang bergesekan dengan aspal jalanan.

“K-Kim Ki Bum…” Soo Rin mencoba memanggil lelaki itu. Lalu tenggorokannya harus tercekat kala matanya melirik dan melihat begitu menyeramkannya raut tegas itu saat ini.

Kenapa situasi menjadi begitu tegang seperti ini?

Ki Bum harus mengumpat kasar kala menyadari kesalahan yang sudah diperbuatnya. Saking marahnya dia bahkan tidak memberi kesempatan pada mereka untuk mengenakan sabuk keselamatan. Dia bahkan sempat melihat gadis di sebelahnya mulai pucat menyaksikan bagaimana ia membawa mobil ini layaknya pebalap liar. Jelas sekali bahwa dia ingin mencari mati untuk diri sendiri sekaligus gadis ini!

Dengan cekatan Ki Bum membanting setir menuntun mobilnya untuk menepi, menginjak rem beserta koplingnya beraturan meski tergesa, dan demi berjaga-jaga, sebelah tangannya mengulur ke hadapan Soo Rin, menjadikannya sebagai sabuk pengaman gadis itu sebelum akhirnya merasakan begitu kasarnya mobil ini berhenti di tepian jalan akibat ulahnya. Menyentak gadis itu ke depan dan akan membentur dashboard jika dia tidak melakukan ini.

Keadaan menjadi hening untuk sesaat. Hanya deru halus mesin yang menggema menusuk gendang telinga mereka. Namun tidak untuk Ki Bum yang segera memutar tubuh menghadap Soo Rin, menatap tajam gadis yang masih terpaku, dan dengan rasa kesal yang tidak bisa lagi dibendung Ki Bum menarik tubuh gadis itu untuk ikut menghadapnya.

“Sejak kapan kau menjadi dekat dengannya, huh?”

Soo Rin menelan saliva susah payah. Dia berharap kelainannya tidak kambuh karena melihat sekaligus mendengar lelaki ini marah padanya. Bahkan untuk kedua kalinya dia tidak berani membalas tatapan yang menghunus dari lelaki ini.

“Sejak kapan dia mendekatimu? Sudah sampai mana dia membongkar hal ini padamu? Eo?! Sudah sampai mana?!”

“I-itu…” Soo Rin mulai dirundung rasa takut. Suaranya seperti terenggut hingga ia hanya mampu menyebut satu kata bahkan hampir tidak terdengar. Matanya bergerak gelisah. Dan dadanya mulai jelas tampak naik-turun. Kedua tangannya dengan gemetar meremas ujung blazer-nya demi mencari kekuatan.

“Kenapa kau bisa bersamanya?! Apakah selama ini dia yang mengantarmu ke rumahku? Eo?!” Ki Bum sudah lepas kendali. Tanpa sadar ia mencengkeram kuat bahu gadis di hadapannya dan semakin tajam menatap. “Kenapa kau membiarkannya terus berada di dekatmu?!! JAWAB!!”

Sungguh, Soo Rin ingin menjawab meski hanya dengan gerakan kepala, hanya saja mendengar desakan Ki Bum yang semakin meninggi bahkan sudah masuk ke dalam tahap bentakan itu telah menciutkan keberaniannya. Dan ia hanya mampu mengeluarkan keringat dingin yang semakin memucatkan wajah manisnya.

Barulah Ki Bum menyadari reaksi diam-diam itu. Batinnya langsung mencelos melihat bagaimana takutnya Soo Rin akibat perilakunya yang sudah di luar kendali seperti sekarang ini. Melihat bagaimana gadis ini berjuang untuk tetap bernapas di sela-sela rasa tertekannya yang berakibat sangat rentan dengan kondisi tubuhnya, membuat Ki Bum mengumpat di dalam hati.

Apa yang sudah kau lakukan, Brengsek?!

Kedua tangannya yang mencengkeram Soo Rin segera mengendur sebelum melepaskan diri. Ia bahkan tercengang akan apa yang sudah diperbuatnya. Dan harus merasa tertohok kala Soo Rin langsung meringsek mundur lalu menyudutkan tubuhnya di antara jok dan pintu mobil. Sangat jelas bahwa gadis itu ketakutan—takut padanya.

Ya Tuhan, Ki Bum tidak pernah berniat untuk membuat Soo Rin takut padanya. Sekalipun dulu ia selalu berpikir untuk membuat gadis ini menjauh darinya, tetap tidak pernah terlintas di pikirannya untuk membuat gadis ini takut. Dan sekarang, dia sudah melakukannya. Bahkan ini yang kedua kali dia membuat gadis ini ketakutan.

Mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan, Ki Bum menarik napas dalam demi meredakan emosinya yang dengan kurang ajar menggelegak. Sungguh, Ki Bum sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa lepas kendali seperti ini. Dia begitu marah kala menyadari bahwa gadis ini mengetahui masa lalunya dari orang yang dibencinya. Dan dia baru merasa kelimpungan kala menyadari bahwa bisa saja selama dirinya menjalani masa hukuman, lelaki itu selalu menemui gadis ini. Benar saja, ternyata, apa yang dia tebak kemarin memang benar. Ki Bum bahkan dirundung rasa tidak tenang sejak kemarin sampai-sampai merencanakan untuk menemui gadis ini sepulang sekolah sekaligus memastikan. Hingga kemudian emosinya meledak seketika kala melihat lelaki itu dengan kurang ajarnya mendekati gadis ini.

Jika saja Soo Rin tidak kelepasan bicara kala di telepon kemarin, Ki Bum pasti sudah menjadi orang bodoh karena telah melepas pandangannya dari gadis ini hampir sepenuhnya. Ki Bum bahkan menyadari bahwa Kim Sang Bum sudah berhasil membuat Soo Rin mau menerima kehadirannya dan berani membongkar masa lalunya pada gadis ini.

Ini yang dia takutkan. Sampai-sampai dia melampiaskan ketakutannya dengan membentak gadis yang seharusnya tidak boleh dia salahkan!

Perlahan ia mencoba meraih tangan yang tampak gemetar meremas seragamnya. Hingga batinnya kembali mencelos kala merasakan begitu kagetnya gadis ini akan sentuhannya hingga tangan yang sudah digenggamnya ini tersentak. Pelan namun pasti, dengan mengerahkan sedikit tenaga, Ki Bum menarik Soo Rin hingga jatuh ke dalam dekapannya. Mengikat tubuh ramping Soo Rin ke dalam kungkungannya. Dan ia berusaha untuk tidak menekan atau bahkan menenggelamkannya. Dia cukup bersyukur bahwa gadis ini tidak memberontak atau memakinya.

“Bernapaslah,” Ki Bum menitah dengan halus. Matanya terpejam demi menetralkan gejolak tubuhnya yang masih terasa kacau. Dia tidak ingin gadis ini ketakutan apalagi di dalam dekapannya. “Maafkan aku. Bernapaslah.”

Soo Rin meresponnya dengan cukup baik. Ada gelenyar aneh yang merayapi tubuhnya dan bereaksi seolah menekan rasa sesak di dadanya, napasnya berangsur stabil, tubuhnya yang menegang segera melemas di dalam dekapan yang terasa hangat ini. Apalagi ia juga merasakan sentuhan lembut di belakang kepala, menepuk sekaligus mengusap perlahan. Menenangkan dirinya.

Barulah kemudian ia merutuki diri sendiri karena sudah bertingkah menjauhi lelaki ini.

.

.


Maaf update-nya lama ><

Kehabisan kuota jadi begini….nyari-nyari koneksi dan akhirnya nemu adekku punya.. huweeeeehh maafkan jika masih ditemukan typo dan, ceritanya makin tak beraturan (_ _)

Ini udah agak panjang loh.. jadi, mohon jangan protes kalo ceritanya kependekan hahahah karna aku udah setting part ini selesai sampai situ ;w;

Yosh! Karna akunya juga buru-buru gegara laptopnya mau dibawa kabur kakak, jadi terima kasih untuk kalian yang sudah bersedia membaca sekaligus setia menunggu kelanjutan cerita absurd ini heheheh >,<

selamat berpuasa bagi yang menjalankan! ^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

52 thoughts on “Two Person – Chance

  1. Ohoooohhhooohhohoho .. Ternyata eh ternyata hehehehe ..
    Soo Rin asal nebak tapi tepat sasaran /dor/ wkwkwk
    Lucu yahh .. Kalo jadi Ki Bum juga pasti senyum” sendiri lah kelakuan Soo Rin mah ngegemesin wkwkwk ..
    Ki Bum juga langsung diem pas Soo Rin nebak wkwk .. Aaahh seru pokonya ..

    Pas mau akhir itu rada tegang .. Ngebayangin gemana pucetnya muka Soo Rin pas dibentak kaya gitu sama Ki Bum .. Aduh mas jangan galak galak .. Nanti cakepnya ilang lho /eh? hehehehe ..

    1. iya.. dor! banget wkwk XD minta dicubit #bye
      aduh, kimkibum mau mukanya kayak gimana, mau garang pun juga ga masalah.. gabakal luntur (?) hahahah x’D
      makasih udah mau bacaa~><

  2. Kenapa saya yang ketar ketir, author ? :3 feelnya kerasa banget banget banget :3 nyampe lubuk hati yang paling dalam(?) author keren seperti biasa(?) 😀 keep writing authooorrr !!

  3. Akhirnya updateee 😀

    Jiminnya kemana Eon? tuan park yang ini nggak muncul u.u

    Wewww, disini keliatan banget Ki Bum cemburu…hihi…

    Emm, mungkinkah Kim Bum menyukai Soo Rin?? *mikirkeras

    Makasih Eonni atas tagnya di fb 🙂
    Restian

    Ditunggu next partnya Eonni 🙂
    #KisukisuJjang 😀

    1. eh iya.. Jimin-nya bakal kukurung dulu buat beberapa part hihihi nanti muncul lagi kok dia :3
      heheh sama-sama~ makasih juga udah selalu kasih masukan di sini ^-^ makasih juga buat dukungannya ><

  4. akhirnya Jung Soo oppa memberi kesempatan untuk Kibum walaupun sedikit. Penyakit Soorin ga bisa disembuhkan ya? pasti tersiksa bangetTT__TT. Kim Sang Bum ga punya perasaan ke Soorin kan? iya kan? kalau iya wahhhhh bisa ketebak apa yg akan terjadi Kibum dan Sang Bum.
    aihhh Kibummm jangan galak sama Soorin apalagi sampai membentak. Kalau ketahuan Jung Soo oppa kau bisa dihajarnya krn sudah menyakiti adikknya yg paling disayang .. TT__TT

    1. Udah kelainan, susah sembuhnya.. paling tidak bisa diredakan (?) hehet ;w;
      kalo Sangbum beneran suka Soorin? emang Kibum bakal ngapain coba #ditendang XD
      udah tabiatnya dia galak jadi susak kontrol.. ah aku juga miris liatnya #apa-_- wks
      makasih udah mau bacaa~><

  5. Makin tegang suasananya.
    Bikin jedag jedug, juga ini masa lalu ki bum belum dikupas scara tntas. SEMANGAT nunggu bwt next part ! Wkwk

  6. akhirnya ki bum diberi kesempatan buat deket sama soo rin.
    wah mereka berdua udah makin deket aja ni. bahkan ki bum sampai kalang kabut hanya karna merindukan soo rin.hehehe
    dan untuk sang bum belum menyadari kalo dia sebenarnya udah mulai suka sama soo rin. bahkan dia cemburu liat soo rin pulang dengan ki bum.

    ceritanya makin seru aja. ditunggu part selanjutnya. kalo bisa jangan lama2 ya.hehehe #ngarepbgt

  7. yei… akhr ny kibum cmburu jg 🙂

    ikt deg2an aq bca ny…
    bru ja da moment yg dkit romantis,eh udah slsai…
    gregetan jd ny 😛

    mga2 di part slnjt ny kibum n soorin lbh romantis lg 😉
    cpt dishare ya 🙂

  8. yaampun eonni maafin aku baru bisa komen dipart ini:( janji deh part selanjutnya aku bakal rajin komen hehe:D dari awal baca aku udah suka sama karakter kibum di sini, apalagi karakter soorin yg periang disini..

  9. omonaa… akhirnya jungsoo oppa kasih kelonggaran sama kibum untuk dekat sama soorin ^^,tapi kenapa dengan sang bum? apa yang terjadi? apa sangbum suka sama soorin>,<

  10. Annyeong eonni yaa, ini comment aku yang pertama lho *abaikan bakal rajin deh comment nya eonn
    suka banget deh sama ni ff, keep writing ya eonni ^^

  11. Demi apa, ini cerita makin membuatku tenggelam di dalam Kibum *eh ceritanya.
    Sudah ku duga, Jung Soo memang ‘Angel’.
    Sifat ‘Angel’ nya itu tak kan pernah hilang.
    Kau memang yang terbaik, JS Oppa….

    Kim Sang Bum, durasimu muncul di part ini bahkan tak sampai 30 detik, tapi kemampuanmu membuat emosi Kibum meledak memang luar biasa. Kembangkan bakatmu lebih lagi ._.

    Park Soo Rin, cie yang ditelepon ama Kibum, cie yang dipeluk sama Kibum. Jadi Jealous kan hayati ._.
    Hayo Soo Rin semangat. Kalahkan penyakitmu. Kalo ga kuat, lambaikan bendera putih. Biar aku menggantikan peranmu. Wkwkwk.

    Kakak penulis tercinta. Sering sering buat cerita begini, dan membuatku semakin ingin menelan hp ini ketika baca ceritamu-yg sering berakhir dgn ‘cuap cuapmu’.
    Saran kak Sis*apaini, munculin aku diceritamu kak, sebagai cameo aja(ini bukan saran, tpi permintaan, hayati ._.)

    Wookie lah. Adek selalu menunggu ceritamu, kakak 🙂

    1. tenggelam….kelelep dong?! ㅋㅋㅋ
      PJS itu emang kakak idaman~ hihihi Sangbum juga #eh dia punya pesona yg kuat, emang cocok buat jadi saingan kimkibum #halah xD
      wks~ diusahakan deh ya.. tergantung mood juga :3 euh….munculin di bagian mana ya? Dikasih nama siapa? Namamu siapa? Aku siapa? #ditendang x’D
      kalo ada peluang, mungkin di cerita lainnya kali yah biar dirimu bisa jadi cameo (?) heheheh
      yaudah, makasih udah mau bacaaa!! ><

  12. Yaaaahhhhh saking asiknya baca sampai bagian ini jga aku baca ” selamat berpuasa bagi yg menjalankan”

    akuhhh sangat tegang pas baca bagian akhir, waktu d depan sekolah,,,,hahh tiba” ki bum ada aura dinginnya itu tuh bikis saiya tegang….

    Bagus thor, feelnya jga dapt….

    Lanjutnya jangan lama” ea hehe

  13. Duh kayaknya bakal ada cinta segi3 nih, Ki bum cemburukah tahu Soo rin dideketin sama Sang bum orang yg dibencinya…
    Pucat plus kaget tuh pastinya Soo rin dibentak sama Ki bum untung aja gak sampe kambuh penyakitnya…
    Ditunggu lanjutannya dan selamat berpuasa buat yg menjalankannya 😘😘😘

  14. huahhhh, makin kesini makin tegang
    author sukses bikin tegangnya, ngefeel bangett top lah pokoknyaa

    wah semoga soo rin gak kambuh gegara dibentak ki bum, ki bum cemburunya kelihatan bangett

    seruu, semangat lanjutinnya thorr

  15. Masih penasaran sama percakapannya jung soo oppa sama ki bum juga penasaran sma cerita detail masa lalunya ki bum sama sung bum …
    Moment terakhirnya bikin ser seran .. aahhh mimin daebak …
    Next dont lila lila ..

  16. Huaahhhh… tegang~ tegang~ /.\
    Kim sam bung cari ksempatan mulu nih.
    Tapi akhirnya kibum jealous jg, wkwkwk *tosbarengJimin*
    Ditunggu next story-nya yakk. Gak sabar pengen baca lagi yg slanjutnya ^^

  17. kimkibum :'(( kamu jahara cekalii hueeeee :'((
    demi apa aku bacanya kesel sendiri pas kibum bentak2 soorin di mobil, kan soorin ga ngerti apa2 hukss :”
    kalo aku jadi soorin/ngarep/ aku bakalan jambak itu rambutnya kibum sampe botak/? duh gimana ya aku kesian sama soorin, dia kan imut2 baik tapi disakitin berkali2 Σ( ° △ °|||)︴
    /okeinimulaisinetron/
    sesekali bikin kibum yg galau dong siskachii :’33
    oke maaf kalo review an ini ga penting dan isinya gajelas :’D
    update soon yaaa (≧▽≦)/~┴┴

    1. lah.. aku yg bikin juga kesel liat kimkibum marahin soorin hahahah TwT wkwk aduuh, bahasanya iya sinetron #ditendang x’D tapi aku senaaang~ makasih Poku-nyaaan~
      part selanjutnya dia full bergalau ria kok =w= hohoho

  18. Klau udah jatuh cinta di larang pun gk akan d dengar soo rin bnar2 jatuh cinta bgt sma kibum walau pun di larang pun sma leeteuk,tpi syukur leeteuk udah mulai menerima kibum ya walau blum spenuhnya mungkin

  19. hiiiii~~~~ baru lanjut baca lagi..
    nyesek jadi soorin, sentak sana sini ㅜ.ㅜ
    Yang bikin greget dri awal pertemuan pertama kali ama sang bum itu, kibum punya masalah apa sama sang bum dan jungsoo ㅡㅡㅡ

  20. Huaa keren keren makin keren jalan ceritanya hahaha…

    Okey sepertinya emang masa lalu ki bum dan sang bum cukup berat… Hahha seneng jung soo mau ngasih kesempatan ke ki bum…

  21. Soo Rin terlalu polos jadi gak tau apa yang dia lakuin itu bahaya apa engga nyakitin Ki Bum apa engga , Oh no jangan bilang Sang Bum suka sama Soo Rin no no no jangan sampe, Soo Rin hanya untuk Ki Bum bukan Sang Bum 😀 , Ki Bum harus bisa ngontrol emosi kalo engga bisa nyakitin Soo Rin dan gak dapet kesempatan dari Jung Soo Oppa deh

  22. Cukup terkejut begitu mengetahui bahwa jungsoo ternyata menghubungi kibum demi meminta kibum untuk menemani soorin yang sedang istirahat sendirian di rumah. Semoga perlahan-lahan jungsoo bisa merestui hubungan mereka. Sebenarnya hubungan kibum dengan sangbum bagaimana? Kenapa sepertinya kibum sangat benci kepada sangbum?

  23. Jungsoo menghubungi Kibum dan minta dia buat nemenin Soorin yang sendirian dirumah/?
    Sepertinya Jungsoo mulai luluh dan semoga dia bisa merestui hubungan Kibum dan Soorin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s