Posted in Category Fiction, Chaptered, Family, Fiction, KiSoo FF "Two Person", PG, Romance, School Life

Two Person – Missing

Prev :: #1.Nerd and Innocent | #2.Aggressive | #3.Control | #4.Can (not) Stop | #5.Do (not) Stop | #6.Start Again, Meet Again | #7.The Real Kim Ki Bum | #8.About Park Soo Rin | #92person-pt9

Genre :: School Romance

Rated :: PG

Length :: Mini Series (?)

||KiSoo||

Happy reading! ^^

ㅡㅡ

When he wasn’t at her side…

ㅡㅡ

SUDAH menginjak hari ketiga Soo Rin tidak bertemu dengan Ki Bum. Beberapa kali ia mendesah jenuh karena tidak melakukan hal-hal yang biasa dilakukannya jika lelaki itu ada. Dia sudah mencoba untuk menanyakan alamat rumah lelaki itu pada wali kelasnya, namun Guru Choi itu justru menasihatinya.

“Aku tahu bahwa kau merupakan teman dekat Kim Ki Bum, tapi mengertilah bahwa dia sedang menjalankan masa di mana dia harus merenungkan diri atas perbuatannya. Bahkan dia sudah membahayakan dirimu, kau tahu itu, bukan?”

Soo Rin harus mendumal tidak jelas begitu keluar dari ruang guru. Bagaimana dia tidak kesal jika wali kelasnya tidak mengizinkannya untuk menjenguk Kim Ki Bum, meski dengan cara yang halus seperti itu?

Waktu belajar mengajar telah berakhir. Soo Rin mendesah panjang mengingat masih ada 3 minggu empat hari lagi dirinya bisa bertemu dengan Kim Ki Bum. Rasanya waktu berjalan begitu lambat sejak dirinya tidak melihat lelaki itu di sekitarnya. Berjalan menuju halte sendirian, meski sebenarnya baru beberapa hari dirinya akhirnya bisa pulang bersama lelaki itu, namun entah bagaimana itu menjadi sesuatu yang harus terjadi. Jika tidak, dia pasti menjadi seperti sekarang ini.

Rasanya dia sudah kehilangan semangat bersekolahnya karena tidak bertemu lelaki itu berturut-turut. Yah, boleh dikatakan bahwa lelaki itu merupakan sumber semangatnya untuk terus bersekolah. Sejak dirinya mengenal lelaki itu di awal semester tahun ini.

Dia merindukan masa di mana dirinya berjalan bersama lelaki itu menuju jalan besar. Meski dirinya yang lebih banyak mengoceh dibandingkan lelaki itu, dia merindukan masa di mana dirinya berada di samping lelaki itu. Bukankah berjalan berdampingan sepanjang 200 meter adalah sesuatu yang berharga? Tentu saja. Baginya itu merupakan momen yang berharga.

“Park Soo Rin-sshi!”

Soo Rin mengangkat kepala, dia baru menyadari bahwa dirinya sudah keluar dari gerbang sekolah. Kepalanya bergerak mencari si pemilik suara yang sudah memanggil namanya. Barulah ia melebarkan mata begitu melihat seseorang di seberang gerbang tengah melambai ke arahnya. Berdiri di samping motor yang dipastikan adalah milik orang itu. Dia masih ingat dengan wajah yang sedikit terhalangi oleh topi hitam tersebut.

“Kim Sang Bum-sshi?”

Sang Bum, lelaki bertopi itu merekahkan senyumnya sebelum melangkah menyeberangi jalan, menghampiri gadis yang kini sudah tersenyum menyambutnya. “Sudah mau pulang?” ia melihat gadis di hadapannya mengangguk ringan. Hanya saja, ada yang janggal dan dia tahu apa. “Sendirian?”

Soo Rin mengangguk lagi. Tanpa menyadari arti dari pertanyaan itu.

Well, Sang Bum sangat tahu bahwa gadis ini selalu pulang bersama Ki Bum. Tidak perlu ditanya bagaimana dia bisa tahu. Dia sudah seperti seorang stalker semenjak dirinya berkenalan dengan gadis ini. Dan mendekati gadis ini di waktu sekarang adalah keputusan yang tepat karena, dia juga tahu ke mana Kim Ki Bum saat ini.

“Kulihat biasanya kau pergi bersama Kim Ki Bum.”

Eo?” Soo Rin mulai dirundung bingung. “Bagaimana kau tahu?”

Sang Bum mengulas senyum manisnya. “Aku selalu tidak sengaja melihatmu bersamanya,” akunya tidak benar. Tentu saja dia sedang berbohong. Selalu tidak sengaja? Sepertinya itu sulit dipercaya.

Hanya saja mengingat Soo Rin yang tidak peka, Sang Bum tidak mengkhawatirkan hal itu karena jelas gadis itu tidak menghiraukan dan memilih untuk bertanya hal lain. “Kau mengenal Kim Ki Bum?”

Tepat sasaran!

Inilah yang Sang Bum inginkan. Ia langsung membungkukkan badan demi mensejajarkan tingginya dengan tinggi gadis itu. Kemudian berkata, “Ingin jalan bersamaku? Aku akan memberi tahumu sesuatu mengenai Kim Ki Bum.”

Dan Soo Rin mulai tergiur dengan tawaran lelaki di hadapannya.

****

“Jadi kau teman lama Kim Ki Bum?”

Sang Bum mengulas senyum seraya mengangguk ringan. Saat ini dirinya sudah duduk di sebuah kafe bersama Soo Rin. Lokasinya tidak jauh dari tempat pertemuan mereka. Dan dia harus merasa tergelitik melihat ekspresi Soo Rin yang tengah melongo bodoh seperti baru saja mendapat kabar bahwa Kim Ki Bum sudah menjadi artis pendatang baru.

“Tapi kenapa Kim Ki Bum tidak menyapamu saat kau datang mengembalikan gelangku?”

Sang Bum mengedikkan bahu. “Sebenarnya kami sedang bermusuhan saat dia akhirnya memilih untuk pindah sekolah.”

Soo Rin tertegun. “Benarkah? Apakah karena hal itu Kim Ki Bum pindah sekolah?”

“Mungkin saja,” Sang Bum terlihat tengah menerawang. “Aku bahkan harus mencari-cari keberadaannya supaya dapat kembali bertemu dengannya. Ada sesuatu yang harus kubicarakan padanya, hanya saja, sepertinya dia sudah tidak mau mendengarkanku.”

“Apakah itu sesuatu yang sudah membuat kalian bermusuhan?” Soo Rin bertanya dengan hati-hati. Kemudian ia melihat lelaki di hadapannya menghela napas pelan namun panjang. Sebelum akhirnya kembali mengulas senyum.

“Ya. Tapi sepertinya akan terasa sulit untuk menjelaskannya mengingat kondisi kami yang sudah seperti sekarang ini.”

Soo Rin menunduk termenung, memikirkan Kim Ki Bum yang ternyata memiliki kehidupan misterius juga cukup rumit sepertinya. Jika seorang lelaki memusuhi teman lelakinya, bukankah itu merupakan masalah yang tergolong sangat serius? Karena setahunya, lelaki tidak sama seperti perempuan yang hanya karena masalah sepele bisa langsung memusuhi masalah tersebut.

Ia menghela napas panjang, “Dia bahkan sekarang mendapat skorsing karena bertengkar dengan teman sekolah,” gumamnya pelan.

“Benarkah?!” Sang Bum tampak terkejut, oh, sebenarnya dia tidak sekaget itu mengingat seperti apa tabiat Kim Ki Bum yang sebenarnya. Ditambah dia sudah melihat sendiri penyebabnya.  “Aah, kupikir dia sudah berubah. Ternyata dia masih melakukannya.”

Soo Rin mengerjap bingung. Rasa ingin tahunya semakin terpancing hingga kini ia melipat kedua tangannya di atas meja serta menatap Sang Bum dengan serius. “Kim Sang Bum-sshi, kau pasti tahu mengenai siapa Kim Ki Bum yang sebenarnya, bukan?”

Tanpa Soo Rin sadari, Sang Bum mengulas senyum penuh arti sejenak, sebelum mulai bercerita.

****

Hari keempat, Soo Rin masih belum bisa bertemu dengan Ki Bum. Dia bahkan tidak mendapatkan panggilan dari lelaki itu untuk yang kedua kali. Dia pikir lelaki itu sudah terbuka dengannya hingga mau meneleponnya, tapi sepertinya Soo Rin harus memusnahkan spekulasi tersebut karena Kim Ki Bum kembali seperti semula. Tidak pernah membalas pesan-pesannya.

Juga, ada sesuatu yang mengganggunya setelah apa yang dia dapat dari Sang Bum. Mengenai siapa Kim Ki Bum sebenarnya, juga  apa yang terjadi dengan keduanya. Soo Rin masih belum menerima kenyataan bahwa sebenarnya Kim Ki Bum adalah anak berandalan sebelum pindah ke sekolah ini. Lelaki itu bertabiat sama seperti Kang In, dan… dia lebih parah dari Kang In.

Ki Bum senang bertarung dengan lawannya. Baik dari sekolah yang sama maupun dari sekolah lain. Tidak heran jika lelaki itu sering dipanggil oleh Kepala Sekolah dan selalu mendapat detensi atau hukuman. Ki Bum bahkan hampir dikeluarkan karena sudah membuat seseorang jatuh koma setelah bertarung dengannya. Untungnya saja pihak sekolah dari musuhnya sudah meminta maaf lebih dulu karena sebenarnya orang itulah yang sudah mencari masalah sejak awal dan Ki Bum hanya ingin membela diri. Hanya saja, Ki Bum melakukan cara yang sangat tidak benar.

Tapi yang tidak Soo Rin mengerti, Ki Bum begitu membenci Sang Bum—menurut cerita dari Sang Bum kemarin. Ditambah terakhir kali, Sang Bum melakukan sebuah kesalahan yang semakin membuat Ki Bum tidak sudi untuk melihatnya. Hanya saja Soo Rin tidak mendapatkan informasi mengenai kesalahan apa yang sudah Sang Bum perbuat sampai-sampai Ki Bum tidak mau menemuinya hingga bahkan pindah dari sekolah. Sang Bum tidak menceritakan perihal itu secara mendetil.

Sang Bum hanya mengatakan bahwa mereka tidak pernah akur di sekolah dulu. Kim Ki Bum merupakan pribadi yang sangat dingin dan ditakuti hampir semua murid di sekolah dulu. Namun juga dikagumi oleh banyak gadis yang penasaran padanya. Hanya saja karena sifatnya yang begitu keras, Kim Ki Bum lebih sering berbuat kasar pada gadis-gadis yang berani mendekatinya.

Hal yang membuat Soo Rin bingung adalah, jika Ki Bum pindah ke sekolah ini karena Sang Bum, apakah Ki Bum harus berubah drastis menjadi seperti yang selalu Soo Rin lihat selama ini? Untuk yang ini, Soo Rin masih tidak mengerti. Sang Bum sendiri juga tidak mengerti. Lelaki itu bahkan merasa takjub melihat perubahan Kim Ki Bum yang begitu drastis. Bukankah itu berarti ada masalah lain yang membuat Ki Bum rela menjadi siswa terbelakang di sini?

Entah kenapa Soo Rin ingin mengorek lebih dalam lagi soal Kim Ki Bum.

.

.

Sang Bum melihat gadis itu keluar dari gerbang sekolah. Ia segera turun dari motornya dan berlari menyeberang jalan demi menghampiri gadis yang tengah menunduk itu. “Park Soo Rin!”

Well, Sang Bum sudah berani memanggil Soo Rin dengan santai. Dia bahkan sudah berhasil membuat Soo Rin mau ikut bersamanya kemarin dengan menaiki motornya. Meski dia harus dibuat geli dengan tingkah gadis itu yang sangat polos kala hendak menaiki motornya yang tergolong motor besar.

Ugh, kenapa jok-nya tinggi sekali?” sungguh, Sang Bum ingin tertawa keras mendengar gerutuan Soo Rin yang nampak spontan kemarin. Sebelum akhirnya ia berinisiatif membantu gadis itu untuk menaiki motornya.

Soo Rin sontak menoleh dan terkesima melihat Sang Bum sudah berdiri di belakangnya. “Kim Sang Bum-sshi? Kau di sini lagi? Sedang apa?” berbeda dengan Soo Rin yang masih berbicara sopan padanya.

Diam-diam Sang Bum merasa tergelitik dengan sifat lugu Soo Rin yang natural. Itu memanglah hal yang wajar mengingat mereka hanya sebatas teman bertemu tanpa sengaja. Hanya saja Sang Bum ingin sekali mendengar gadis ini berbicara santai padanya.

“Aku lupa bertanya padamu, berapa lama Ki Bum menjalankan masa skorsing-nya?” sebenarnya dia tidak begitu peduli selama apa Ki Bum menjalankan masa hukumannya. Karena dia hanya ingin bertemu dengan gadis ini.

Untuk hari ini. Dia ingin egois sejenak.

“Empat minggu,” jawab Soo Rin lesu. Sebenarnya dia tidak ingin mengingat hal ini tapi, lelaki ini bertanya hal itu padanya. “Masih ada tiga minggu tiga hari lagi sebelum dia kembali masuk,” lanjutnya pelan.

Sang Bum memasang raut prihatinnya. “Apa kau sudah menjenguknya?”

Soo Rin menggeleng pelan. “Aku tidak tahu alamat rumahnya. Wali kelasku juga tidak mengizinkanku untuk mendapatkan alamat rumahnya.”

“Kau sekelas dengan Ki Bum?”

Soo Rin mengangguk.

Diam-diam Sang Bum berdecak kagum. Sebuah informasi baru yang dia dapat tanpa sengaja. Dia tidak pernah berpikir untuk menanyakan hal ini namun dia mendapatkannya dengan mudah. Meski sebenarnya dia harus merasa sedikit aneh dengan batinnya yang sempat mencelos mengetahui kenyataan bahwa mereka berada di kelas yang sama.

“Apa kau ingin menjenguknya?”

Soo Rin mengangguk lagi. Membuat Sang Bum mengulas senyum penuh arti. Ia membungkukkan tubuhnya hingga sejajar dengan Soo Rin, lalu bergumam.

“Mau kuantar ke rumahnya?”

Langsung saja mata Soo Rin berbinar-binar. “Kau tahu rumahnya?” ia melihat lelaki di hadapannya mengangguk. Kemudian wajahnya kembali merengut kala mengingat sesuatu. “Tapi apa aku harus pergi dengan motormu?”

Sang Bum akhirnya tertawa, menyadari maksud dari gadis ini. Apakah gadis ini tidak menyukai motor besarnya itu? Yah, motor ninja 250cc keluaran Kawasaki beredisi spesial itu memang tergolong motor besar mengingat body-nya yang juga besar. Sepertinya lain kali Sang Bum harus membawa mobil saja.

“Jika kau ingin aku meninggalkannya di sini tanpa penjagaan yang aman dan memilih mengantarmu dengan naik subway, aku rasa aku terpaksa mengikutimu.”

Dan pernyataan Sang Bum berhasil membuat Soo Rin meringis pelan. Dia bukanlah gadis yang setega itu, bukan?

****

Hee Chul melangkah malas menuju ruang tamu setelah mendengar suara bel pintu berbunyi. Sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal, ia membuka pintu  utama rumah hingga akhirnya ia melotot kaget.

Bagaimana dia tidak bereaksi seperti itu jika ia mendapati seorang gadis manis sudah berdiri di depan pintunya. Tersenyum canggung sekaligus ragu-ragu. Tanpa sadar Hee Chul menelanjangi gadis di depannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Membuat sang empu sedikit risih melihat matanya yang masih betah melotot itu. Dan yang ia tangkap hanyalah bahwa gadis ini berseragam sekolah seperti milik adiknya?

Eh? Tunggu? Berseragam Sekolah Daejeon Gwanjeo?

Eung… a-annyeonghaseyo. Aku mencari temanku yang bernama Kim Ki Bum… Apakah, ini rumahnya?”

Hee Chul terpaksa mengerjapkan mata berkali-kali.

.

.

BAM

Ki Bum yang tengah beristirahat terpaksa merasa terusik mendengar pintu kamarnya dibuka dengan kasar. Dan harus mengerang kesal karena Hee Chul tiba-tiba naik ke atas kasurnya sekaligus mengguncangkan tubuhnya tanpa ampun.

Ya, ya, ya! Cepat bangun!!”

Aih, Hyung! Aku belum sembuh total jadi biarkan aku beristirahat!”

PLAK

Argh!!” Ki Bum harus berteriak kesakitan begitu mendapatkan tamparan keras di pipinya. Sialan! Kim Hee Chul memang tidak pernah menghilangkan sifat menyebalkannya ini yang selalu gemar menampar bagian tubuhnya jika sedang malas bangun. Apalagi saat ini wajahnya belum sembuh total. Oh, sepertinya Hee Chul baru saja menimbulkan lebam yang baru di wajahnya. “Sakit, Hyung!!”

“Bangun, Bodoh!! Ada yang datang mencarimu!”

Ki Bum akhirnya mengernyit bingung, sedikit tertarik. “Siapa?”

Hee Chul berbisik gemas, mengejakan nama yang sempat ia lihat di name tag seragam gadis itu, “Park-Soo-Rin!”

Hingga seketika Ki Bum melotot terperangah dan langsung bangkit dari tidurnya. Menatap horror kakaknya itu. “MWO?!”

.

.

Soo Rin duduk tidak tenang di ruang tamu itu. Matanya bergerak menyapu tiap sisi ruangan tersebut. Sebenarnya bukan karena suasana ruangannya yang begitu sunyi dan tidak seluas ruang tamu di rumahnya, hanya saja dia sedang berpikir keras bagaimana menyapa lelaki itu jika seandainya berhasil bertemu. Jujur saja, dia sangat gugup saat ini. Tangannya bahkan sudah bertautan dan saling meremas demi meredakan rasa gugupnya yang tak kunjung mereda.

Dia juga memikirkan nasihat dari Sang Bum untuk tidak memberitahu hal ini. Soo Rin berhasil menginjakkan kaki kemari berkat bantuan dari Sang Bum. Entah dari mana Sang Bum mengetahui keberadaan rumah Ki Bum, mungkin karena usahanya yang terus mencari-cari lelaki itu. Mengingat hubungan keduanya, Soo Rin sedikit maklum bahwa Sang Bum hanya mengantarnya tepat di pertigaan yang tak jauh dari letak rumah Ki Bum dan memberi tahu bahwa letak rumahnya ada di urutan ketiga di sebelah kiri dari pertigaan tadi. Lalu, voila! Soo Rin berhasil menginjakkan kakinya di sini.

Indera pendengarannya segera menangkap suara derap kaki yang berasal dari lantai atas, seperti orang yang tengah berlari menuruni tangga dan tengah menuju kemari. Benar saja, matanya segera menangkap sosok orang itu muncul dari tangga dan terperangah mendapatinya. Langsung saja Soo Rin bangkit dari duduknya, mengangkat sebelah tangannya, lalu bersuara…

A-annyeong, Kim Ki Bum!”

Ki Bum harus ternganga melihat gadis itu mengulas senyum konyol seraya melambaikan tangan padanya. Seketika memunculkan sebuah niat untuk mencubit pipi gadis itu karena sudah berani menginjakkan kaki kemari dengan tampang polosnya itu, namun juga memunculkan sebuah niat untuk menarik gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya setelah empat hari lamanya tidak melihat wujud dan parasnya. Oh, sayangnya Ki Bum harus menahan keinginan gilanya itu untuk saat ini. Karena dia juga terkejut melihat gadis itu sudah berada di dalam rumahnya!

Eung… maaf, aku tidak sempat membawa sesuatu untukmu. Ini karena aku datang mendadak sekali,” Soo Rin meringis pelan.

Ya, ini sangat mendadak sampai-sampai Ki Bum seperti tengah bermimpi. Tapi… “Bagaimana kau bisa tahu rumahku?” Ki Bum akhirnya bersuara.

Membuat Soo Rin semakin gugup karena dia bingung menjelaskannya. Dia masih sangat ingat nasihat dari Kim Sang Bum. “Itu… aku mendapatkan alamat rumahmu dari Choi Seonsaengnim,” bohong Soo Rin akhirnya.

Ki Bum mengernyit curiga. Setahunya saat masih di sekolah dulu, Ki Bum mendapat kabar bahwa teman-temannya dilarang menemuinya oleh pihak sekolah, yang belum tahu alamat rumahnya pun tidak diberi tahu oleh wali kelas. Apakah sekolah yang ini tidak ada larangan seperti itu?

Ah, sudahlah. Ki Bum sedang tidak ingin banyak berpikir. Yang dia inginkan saat ini adalah mendekati gadis di hadapannya, mengamati lebih lekat wajah manis yang sudah tidak dia lihat selama empat—tidak, lima hari belakangan ini. Sampai-sampai Ki Bum baru menyadari bahwa, tidak hanya ocehan gadis ini, dia juga merindukan wajah manis ini. Merindukan wujud dari gadis ini.

“Aku merindukanmu.”

Oh, bagus! Ki Bum kalah cepat dari Soo Rin. Gadis itu justru mengucapkan kata yang sudah berada di ujung lidahnya lebih dulu dan sukses membuat jantungnya meloncat mendengarnya. Kenapa seorang Park Soo Rin selalu bisa membuat Ki Bum terkejut seperti ini hanya karena sebuah perilaku maupun ucapan sederhana?!

Mendengus geli, Ki Bum akhirnya memilih untuk mengusap gemas puncak kepala Soo Rin. “Kau benar-benar gadis yang tidak sopan!” sangat tidak sopan dibandingkan gadis-gadis dulu, lanjut Ki Bum di dalam hati.

Sedangkan Soo Rin hanya memamerkan cengiran polosnya, sekaligus menampakkan semburat rona kemerahan di kedua pipinya, begitu menggemaskan di mata Kim Ki Bum.

Soo Rin memang gadis yang sangat tidak sopan, tapi Ki Bum menyukainya.

****

Kim Sang Bum merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasanya begitu melelahkan setelah mengendarai motor hampir 3 jam lamanya dari Daejeon menuju Gwangju. Dia bahkan rela membolos sekolah beberapa hari ini hanya demi melakukan hal ini. Dan selalu kembali ke rumah di waktu larut seperti sekarang.

Demi memastikan keberadaan Kim Ki Bum, juga mendekati Park Soo Rin.

Well, setelah melihat kehidupan baru lelaki itu, Sang Bum mendapatkan hal baru pula dari lelaki itu. Meski Kim Ki Bum tidak pernah lepas dari tabiat buruknya, ada satu yang sepertinya mampu memengaruhi tabiat buruk Kim Ki Bum.

Park Soo Rin. Gadis itu bisa dikatakan sebuah kunci baru akan kemunculan jiwa lama Ki Bum. Lelaki itu bahkan mengamuk hanya karena melihat Soo Rin yang terlibat, dan mereda setelah berhasil meraih gadis itu lagi. Ditambah di waktu-waktu sebelum kejadian tersebut, ia selalu mendapati bahwa gadis itu selalu berada di samping Ki Bum. Selalu menunggu kedatangan Ki Bum di pagi hari, juga pulang bersama. Dan terakhir kali melihat kejadian itu, Sang Bum mampu menyimpulkan bahwa gadis itu memiliki makna yang berarti bagi seorang Kim Ki Bum.

Sebenarnya, ini di luar dari rencana. Sang Bum sendiri tidak mengerti kenapa melakukan itu. Mengantar gadis itu ke rumah Kim Ki Bum. Logikanya mengatakan bahwa dia harus melakukannya karena dia tahu. Dia memang tahu tempat tinggal Kim Ki Bum yang baru. Setelah dirinya bertemu kembali dengan lelaki itu, dia diam-diam mengikuti lelaki itu saat pulang sekolah. Yang mengharuskannya ikut melihat kedekatan lelaki itu dengan Park Soo Rin.

Mereka terlihat semakin dekat. Dan Sang Bum merasa geli melihat bagaimana kakunya seorang Kim Ki Bum kala menghadapi Soo Rin. Sang Bum menganalisa bahwa gadis itu sepertinya yang memulai hubungan mereka lebih dulu. Entah bagaimana caranya, sampai-sampai seorang Kim Ki Bum membiarkan gadis seperti Park Soo Rin berada di sisinya… bahkan membiarkannya untuk menjadi sebuah kontrol jiwa seorang Kim Ki Bum tanpa disadari lelaki itu sendiri.

Hanya saja, Sang Bum hampir dibuat tertawa mengetahui bahwa gadis itu sangatlah polos meski serampangan sampai-sampai Sang Bum mudah sekali membuat gadis itu menerima kehadirannya. Dan mudah sekali mendekatinya.

Ditambah melihat seperti apa hubungan mereka saat ini, Sang Bum semakin membulatkan sebuah rencana yang sudah mampir di otaknya semenjak melihat gadis itu.

Apalagi saat ini Kim Ki Bum sedang tidak ada di sekitar Soo Rin. Bukankah kesempatannya sangat besar untuk melakukannya?

Membuat Kim Ki Bum mau bertemu dengannya.

“Park Soo Rin…” Sang Bum menggumamkan nama itu. Senyum misteriusnya mengembang. Sebelah lengannya terangkat menutup kedua matanya yang mulai lelah. Lalu melanjutkan gumamannya, “begitu menarik.”

****

Beberapa hari setelah menemukan alamat rumah Ki Bum, setiap pulang sekolah Soo Rin selalu mampir ke sana meski sekedar memberikan buku catatannya agar disalin oleh Ki Bum. Sampai-sampai Hee Chul dibuat geli melihat kelakuan gadis itu yang sudah seperti tamu tetap yang setiap hari pasti menekan bel rumahnya setiap pukul 5 sore. Bahkan gadis itu sudah membuat Hee Chul tercengang karena sudah berani menyentuh dapurnya dan membuatkan makanan untuk Kim Ki Bum.

Telur dadar gulung dan gimbab. Adalah makanan yang selalu dibuat Soo Rin di dapurnya. Gadis itu bercerita bahwa dua menu itu merupakan makanan kesukaan Ki Bum di sekolah dan dia selalu membawakannya untuk Ki Bum.

“Aku tidak pernah berkata seperti itu!!” Ki Bum membantah setengah mati melihat Hee Chul menyemburkan tawa sampai mulut besarnya itu terbuka lebar. Ki Bum bahkan harus memelototi Soo Rin yang sudah seenaknya bicara di depan kakaknya sampai sang kakak tertawa terpingkal-pingkal seperti sekarang ini. Heol, apakah itu terdengar sangat lucu?

Ya, jadi… jadi kau selalu membuatkan bekal untuk lelaki semacam dia, huh?” Hee Chul berjuang keras untuk bicara di sela-sela tertawanya. Namun semakin menjadi melihat bagaimana cara gadis itu menjawab pertanyaannya.

Soo Rin mengangguk cepat tanpa beban. Mata jernihnya terbuka lebar dan jelas sekali tengah berbinar-binar. “Dia selalu berkomentar mengenai masakanku itu, jadi aku harus membuatnya sampai dia tidak berkomentar lagi,” lalu ia menunjukkan senyum konyolnya.

“Bukan berarti kau menyimpulkan bahwa aku menyukainya!” Ki Bum sudah dibuat gemas oleh tingkah sewenang-wenang gadis ini. Bagaimana bisa gadis ini mengambil kesimpulan yang sangat aneh seperti itu hanya karena Ki Bum selalu berkomentar mengenai masakannya?!

Menyebalkannya lagi, Soo Rin seperti tuli karena dia langsung menjejalkan sepotong gimbab ke dalam mulut Ki Bum. Jelas saja Ki Bum semakin melotot sampai matanya itu terasa perih.

“Bagaimana? Apakah dagingnya kurang matang lagi?”

Pada kenyataannya Ki Bum selalu ingin mengomentari masakan Soo Rin yang selalu saja ditemukan kekurangan. Entah itu karena terlalu banyak bumbu penyedap, kekurangan garam, hingga kurang matangnya daging. Ki Bum tidak habis pikir kenapa gadis ini selalu melakukan kesalahan yang sebenarnya sudah dia lakukan dengan benar sebelumnya? Seperti, jika sebelumnya Ki Bum berkomentar bahwa telurnya terlalu manis, Soo Rin akan memperbaikinya, hanya saja kadar keasinan yang seharusnya pas justru menjadi tidak terasa setelah dia berhasil memperbaiki kemanisannya.

Ya, kau bahkan tidak memasukkan dagingnya!”

Lihat? Soo Rin melakukan kesalahan lagi.

Hee Chul kembali tertawa melihat wajah adiknya tertekuk akibat tingkah laku gadis itu. Astaga, rasanya dia tidak pernah segeli ini melihat adiknya begitu kewalahan, apalagi kewalahan karena  menghadapi gadis sekonyol Soo Rin.

Park Soo Rin memang sesuatu sekali untuk Kim Ki Bum, di mata Kim Hee Chul.

****

Jung Soo tampak mondar-mandir di ruang tamu. Hampir setiap menit ia memeriksa jam dinding di dekatnya dan semakin gusar dengan sebelah tangannya menggenggam erat ponsel pintarnya. Hingga di waktu sekarang ini adiknya belum juga pulang. Dia sudah menghubungi ponsel adiknya beberapa kali, namun hanya nada sambung yang didapatnya, bukan jawaban berupa suara adiknya.

Ini sudah pukul sembilan malam dan adiknya belum juga menampakkan batang hidungnya di rumah. Padahal Jung Soo akan selalu mendapati adiknya yang menyambutnya pulang di pukul tujuh, tapi Jung Soo harus mendapati adik bungsunya—Ji Min yang menyambutnya dan melapor padanya bahwa Soo Rin belum juga pulang.

Apakah Soo Rin sedang melakukan tugas kelompok di rumah temannya? Tapi biasanya Soo Rin akan menghubunginya jika pulang terlambat, atau bahkan akan meminta tolong padanya untuk menjemput Soo Rin di halte. Tapi sekarang, mengabari pun tidak, dihubungi lebih dulu pun tidak pernah disahut. Ke mana adiknya itu sekarang?

“Aku pulang!”

Jung Soo langsung menoleh begitu mendengar suara pintu utama terbuka sekaligus seruan familiar. Tanpa memberi kesempatan adiknya untuk sekedar melepas sepatu lebih dulu, Jung Soo segera merengkuh kedua bahu kecil adiknya dan menatapnya penuh cemas. “Soo Rin-ah, ke mana saja, eo? Kenapa tidak mengabari Oppa sama sekali?”

Soo Rin tampak salah tingkah, merasa bersalah. Selama ini ia menyimpan ponselnya di dalam tas dan tidak dikeluarkan lagi sampai ia menginjakkan kaki di sini. Dan dia melupakan keharusannya untuk menghubungi sang kakak mengenai kabarnya.

“Aku dari rumah Kim Ki bum. Maaf, Oppa, aku membiarkan ponselku dalam mode getar di dalam tas.”

Seketika jawaban jujur adiknya memancing Jung Soo untuk terperangah, tiba-tiba saja sebuah emosi asing tersulut di dalam benaknya hingga tanpa sadar tatapan teduhnya berubah menajam. “Kau dari rumah Kim Ki Bum? Apa yang kau lakukan di sana, huh? Dia sedang menjalankan masa hukumannya, Soo Rin-ah!”

Soo Rin mengerjap bingung. Bingung dengan perubahan ekspresi juga nada bicara Jung Soo. “Karena dia sedang menjalankan masa hukumannya, aku bermaksud meminjamkan buku catatanku padanya, Oppa.”

“Dan baru pulang semalam ini?” Jung Soo langsung menyambar. “Apa saja yang kau lakukan di sana?!”

Soo Rin mulai merasa was-was. Kenapa kakaknya terlihat marah? Apa karena dia terlalu lama mampir ke rumah Ki Bum hingga lupa mengabari sang kakak terlebih dulu? “Aku—aku membuatkan makan malam untuk Kim Ki Bum…”

“Makan malam?” Jung Soo mendesis tajam. Dia tidak menyangka dengan jawaban adiknya yang terlampau jujur ini. “Kenapa kau lakukan itu? Untuk apa kau melakukan itu, huh? Untuk apa kau meladeni lelaki itu?!”

Soo Rin kini merasa takut. Kenapa kakaknya terlihat sangat marah? Apakah kesalahannya begitu besar sampai kakaknya semarah ini? Memangnya kenapa jika dia meladeni Kim Ki Bum? Apakah itu salah?

Wae—waeyo, Oppa…

Jung Soo melepas pegangannya di bahu Soo Rin setelah mendengar jawaban melirih itu, mengusap kasar wajahnya dengan gusar. Inilah yang dia khawatirkan. Adiknya sudah terlalu menyukai lelaki itu hingga rela melakukan ini-itu untuk lelaki itu. Setiap pagi dirinya selalu melihat adiknya ini sibuk di dapur hanya untuk membuatkan bekal, dan sekarang, adiknya bahkan rela pulang sangat terlambat hanya demi membuatkan makan malam untuk lelaki itu!

O-oppa, memangnya kenapa?” Soo Rin bertanya lagi, kini dengan sangat hati-hati.

Jung Soo segera menatap Soo Rin kembali. Dihelanya napas dengan berat sebelum akhirnya berkata, “Soo Rin-ah, jauhi Kim Ki Bum mulai dari sekarang.”

Bagaikan mendengar petir, Soo Rin terkejut bukan main mendengar perintah kakaknya yang terdengar datar namun tidak terbantahkan. Kedua tangannya langsung mengepal di kedua sisi tubuhnya, merasakan detak jantungnya mulai berdebar tak terkendali hingga berdampak pada paru-parunya. Ia menggigit bibir sejenak sebelum membalas, “Kenapa, Oppa?”

“Cukup dengarkan dan ikuti kata-kata Oppa. Jauhi Kim Ki Bum. Mulai dari sekarang.”

“Aku butuh alasannya, Oppa!” nada bicara Soo Rin mulai meninggi. “Kenapa tiba-tiba Oppa berkata seperti itu? Bukankah selama ini Oppa selalu mendukungku untuk terus mendekati Kim Ki Bum? Kenapa sekarang Oppa justru menyuruhku untuk menjauhi Kim Ki Bum?!”

“Itu karena Oppa belum mengetahui siapa Kim Ki Bum yang kau maksud!” Jung Soo menatap tajam adiknya yang mulai tegang. Oh, astaga, dia bahkan merasakan telinganya memanas mendengar adiknya terus menyebut nama lelaki itu. “Dia bukan orang baik-baik, Soo Rin-ah. Oppa pernah bertemu dengannya dulu dan dia merupakan anak berandal!”

“Lalu apa masalahnya jika dia anak berandal? Kim Ki Bum tidak berbahaya untukku, Oppa!”

“Sudah jelas bahwa dia berbahaya untukmu, Soo Rin-ah! Dia berbahaya untuk semua orang, termasuk dirimu!!” Jung Soo semakin meninggikan suaranya. Saking emosinya, dia tidak memedulikan raut wajah adiknya yang sudah dihiasi dengan mata memerah.

Soo Rin merasakan dadanya naik-turun. Wajah manisnya mulai memucat. Baru kali ini ia melihat Jung Soo membentaknya, tepat di depannya. Dan itu cukup mengejutkannya.

“Kenapa? Memangnya kenapa jika Kim Ki Bum berbahaya?! Memangnya kenapa jika Kim Ki Bum bukan orang baik-baik?! Bukankah semua orang juga begitu? Bukankah semua orang juga memiliki sifat buruk seperti Kim Ki Bum? Bukankah manusia tidak ada yang sempurna? Manusia memang tidak ada yang baik sepenuhnya seperti malaikat, Oppa! Kim Ki Bum juga pasti memiliki sifat buruk! Sebagaimana dengan orang lain, Ji Min, aku, bahkan Oppa sendiri!”

“Hentikan, Park Soo Rin!!!”

Bentakan keras yang lebih mirip teriakan itu berhasil menonjok dada Soo Rin. Mulutnya segera mengatup dan merasakan keringat dingin mengalir deras di tiap sisi wajahnya. Matanya segera memanas melihat bagaimana seorang Park Jung Soo sangat marah padanya. Dia tidak mengerti, sungguh tidak mengerti, kenapa kakaknya berubah drastis hanya karena mengetahui bahwa Kim Ki Bum adalah yang seperti sekarang ini. Dia tidak mengerti kenapa kakaknya memandang Kim Ki Bum sebelah mata seperti sekarang ini. Padahal Soo Rin lebih tahu. Padahal Soo Rin yang lebih mengenal Kim Ki Bum dibandingkan kakaknya sendiri. Padahal Soo Rin begitu menyukai Kim Ki Bum bagaimana pun kondisinya!

“Aku tidak mau. Aku tidak mau mengikuti kata-kata Oppa. Aku tidak mau menjauhi Kim Ki Bum!” Soo Rin langsung berlari masuk, melewati Jung Soo yang sedikit lengah—dengan mudah—dan segera menaiki tangga. Dia tidak menghiraukan panggilan Jung Soo dan mempercepat larinya begitu merasakan Jung Soo mengejarnya. Bahkan tidak memedulikan kondisi kakinya yang masih beralaskan sepatu sekolah. Soo Rin segera mengunci pintu kamarnya setelah berhasil masuk dan melihat sekilas bahwa Jung Soo hampir menjangkau pintu kamarnya. Dia bahkan membanting pintu kamarnya sendiri.

“Soo Rin-ah! Buka pintunya!”

“Tidak mau!!”

“Soo Rin-ah, dengarkan Oppa!!”

“AKU TIDAK MAU DENGAR!” Soo Rin menutup kedua telinganya rapat-rapat setelah menjauh dari pintu. Ia berjongkok di dekat tempat tidurnya. Napasnya sudah memburu tak beraturan.

“Soo Rin-ah, Oppa perintahkan untuk buka pintunya!! BUKA!!!”

Soo Rin menggeleng cepat. Gedoran bertubi-tubi di pintu kamarnya seperti dentuman keras yang menyerang tepat ke jantungnya. Menyesakkan dadanya hingga memicu penyakitnya yang sangat rentan untuk kambuh. Wajahnya semakin pucat dan teriakan di luar kamar seperti sebuah dorongan keras bagi kinerja tubuhnya untuk mengeluarkan banyak keringat dingin.

Ya Tuhan, kenapa Soo Rin harus memiliki kelainan yang sangat mudah melemahkan tubuhnya seperti ini?!

Hyung, hentikan!” Ji Min yang mendengar teriakan kakaknya itu segera keluar dari kamar dan menghampiri sang kakak seraya menarik tubuh kakaknya untuk menjauh dari pintu. “Hyung, jangan lakukan lagi! Justru Hyung membuat Noona kambuh!!”

Jung Soo menyadari kesalahannya. Astaga, dia seperti baru saja kerasukan sampai tidak menyadari kondisi adiknya! Ya Tuhan, apa yang sudah dia lakukan? Apakah amarahnya begitu hebat sampai membutakan situasi di hadapannya sendiri?

Dia bahkan baru menyadari bahwa dirinya memiliki kunci duplikat yang sudah disiapkan seandainya adiknya itu terkurung di dalam kamar. Segera ia menghampiri laci yang tak jauh dari kamar adiknya berada, mengambil sebuah kunci lalu membuka kamar adiknya dengan kunci tersebut. Pintu segera menjeblak terbuka karena saking paniknya Jung Soo.

Benar saja, ia melihat adiknya sudah terduduk lemas di samping tempat tidur dengan tangan berusaha keras membuka sebotol obat yang dipastikan diambil dari tas sekolahnya. Tas tersebut sudah terbuka, bahkan isinya sudah berserakan di lantai karena begitu paniknya Soo Rin mencari obatnya.

“SOO RIN-AH!!” Jung Soo segera menghampiri adiknya. Merebut obat tersebut dan dengan cekatan mengambil obat semprot yang tersimpan di laci nakas tak jauh dari tempatnya berada, memilih untuk mengobati adiknya dengan obat hirup itu dibandingkan obat tablet yang begitu menyiksa mengingat dosisnya yang terlalu tinggi. Kemudian membantu adiknya menggunakan obat tersebut, menyemprotkannya ke dalam mulut sang adik.

Langsung saja Soo Rin menelan semua obat tersebut sekaligus menarik napas dengan rakus. Berjuang mengatur napas senormal mungkin meski jatuhnya masih saja tak beraturan. Tapi setidaknya kinerja obatnya langsung bekerja hingga rasa sakit di dadanya berangsur menghilang. Barulah Soo Rin merasakan tubuhnya didekap juga disandarkan pada dada bidang Jung Soo. Tubuhnya benar-benar melemas hingga sekedar menggerakkan kedua tangannya pun tak sanggup. Batinnya masih tertekan antara takut dengan sang kakak, namun ia juga membutuhkan sang kakak sebagai sandarannya. Dan akhirnya, dia hanya mampu mengalirkan air mata. Menangis di dalam pelukan sang kakak yang semakin erat.

“Maaf. Tidak seharusnya Oppa membentakmu seperti tadi. Oppa benar-benar bersalah. Maafkan Oppa…”

Ji Min mampu melihat begitu menyesalnya Jung Soo setelah membuat Soo Rin seperti sekarang ini. Hanya saja, dia tidak mengerti apa yang sudah dilakukan Jung Soo pada noona-nya ini. Karena Ji Min hanya mendengar teriakan Jung Soo di lantai bawah tadi lalu berlanjut dengan teriakan Jung Soo yang terus memanggil noona-nya sampai menggedor pintu kamar noona-nya.

.

.


dohh kapan sih selesainya #dessh

ada yang bosan dengan ceritanya? hwhw maaf ya, aku merasa kalo cerita ini rada bertele-tele.. tapi akunya juga gabisa kalo mempersingkat cerita biar cepet selesai. Aku jadi makin ragu kalo ini merupakan mini series hahahah x’D

rasanya di part ini hampir semua tokoh bermunculan ya.. cuma Kangin aja yg ga nongol karna masuk rumah sakit dan ga ada yg peduli #ditendang XD entah dia bakal muncul lagi atau ngga, karna ke depannya aku bakal lebih fokus ke Kibum-Soorin-Sangbum jadi yah…ditunggu saja //kaloadayangmaununggu// ;__;

yosh! segitu aja.. ada yg mau nerima salam? Dari…. hm… Heenim sama Jimin kali ya? heheheh

Heenim-atsukira
Heenim!
b215b4347c54a8fc84a0b6ca83caa8ed
Ji Min~><

Terima kasih sudah mau mampir yaa^^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

19 thoughts on “Two Person – Missing

  1. soo rin betapa polosnya dirimu ini. sampe2 tidak bisa bea in yg tulus sama dia atau yg mempunyai maksud lain.
    jung soo oppa jangan ngejud ki bum seperti itu. soo rin aja bisa nerima kok. beri kesempatan pada ki bum buat dia berubah agar lebih baik lagi.

  2. duhhh masih penasaran nih thor sama kim
    sang bum dia mau apa dari kibum? tetep di lanjut thor bikin penasaran terus nihh jangan lama lama ya thor ngepost part selanjutnya

  3. duyyy, penasarann banget sama apa yang mau dilakuin kim sang bum ke soo rin
    gak papa thor, mau mini series kek mau long series kek pasti tetap ditungguin kelanjutan ceritanyaa. semangat lanjutinnyaa

  4. Kim Sang Bum apa yang kau rencanakan huh? kau begitu mencurigakan. memanfaatkan kepolosan Soo Rin. Jung Soo oppa jangan begitu, apa yang dikatakan Soo Rin benar. kasih kesempatan pada Ki Bum.
    walau ini masih panjang ceritanya tetap ditunggu kok author nim ^^

  5. Sang bum sepertinya terrarik sama pribadinya Soo rin, sebenarnya masalah apa yg terjadi diantara KI bum dan SAng bum …selanjutnya…KI BUM KALAH start sama SOo rin kalau udah nyangkut perasaan kkkkk….
    Ditunggu aja deh cerita selanjutnya😘
    Ceritanya makin membuat penasaran, gak ngebosenin koq 😉😉😉

  6. Keren seperti biasa thorr !! Penasaran sama apa yang direncain sang bum ke soo rin.. Next thor, selalu di tunggu kelanjutannya 😉

  7. Wayo loh, makin ribet.
    Begimana ceritanya ini coba.
    Tiba tiba nih cerita kepotong -_-//
    Di scroll ke bawah ga nemu lanjutan’a.
    Disembunyi’in ama Jimin ya… \-_-!\

    Demi Kim Ki Bum, AYO SEMANGAT PARK SOO RIN o>__<o~
    Menertawakan adikmu, seperti sifatku T_T

    Kakak penulis, Lanjutin nih cerita gih sono –"
    (Pembca tak tau diri)
    Aku tunggu loh… Fighting!!! ^_^)Y

  8. Wayo Loh….
    h, makin ribet.
    Begimana ceritanya ini coba.
    Tiba tiba nih cerita kepotong -_-//
    Di scroll ke bawah ga nemu lanjutan’a.
    Disembunyi’in ama Jimin ya… \-_-!\

    Demi Kim Ki Bum, AYO SEMANGAT PARK SOO RIN o>__<o~
    Menertawakan adikmu, seperti sifatku T_T

    Kakak penulis, Lanjutin nih cerita gih sono –"
    (Pembca tak tau diri)
    Aku tunggu loh… Fighting!!! ^_^)Y

  9. Soo Rin kelewat polosnya minta ampun 😀 , Pengen liat perjuangan Ki Bum buat dapetin Soo Rin semangat Ki Bum ^^ , astaga penasaran banget sama Sang Bum punya masalah apa sih sampe musuhan gitu , Jung Soo Oppa jahat banget Soo Rin sampe kambuh gitu T.T

  10. Heechul benar-benar kakak yang kejam, geli sendiri ngebayangin kehidupan sehari-hari kim bersaudara. Apakah sifat heechul sama dengan kibum? Agak misterius gitu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi di masa lalu, kenapa jungsoo benar-benar benci kepada kibum? Apakah ada kesalahan yang sudah dilakukan kibum di masa lalu? Lalu, siapa sebenarnya sangbum? Apa yang sedang direncanakan oleh sangbum terhadap soorin?

  11. Sang Bum punya maksud lain kayaknya dengan ngedeketin Soorin, dan sepertinya juga ada hubungannya dengan Kibum.
    Heechul mah jadi kakak tega bener, orang Kibum lagi bonyok(?) gitu mukanya, malah maen tampol aja ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s